Anda di halaman 1dari 4

Gelombang Cahaya

2.1 Kompetensi Dasar

Mendeskripsikan gejala dan ciri-ciri gelombang cahaya serta menerapkan konsep dan prinsip
gelombang cahaya dalam teknologi

2.2 Indikator Hasil Belajar

1. Menjelaskan konsep gelombang elektromagentik


2. Mengidentifikasi perkembangan teori tentang cahaya
3. Menjelaskan konsep gelombang elektromagentik
4. Mengidentifikasi perkembangan teori tentang cahaya
5. Mendeskripsikan gejala dan ciri gelombang cahaya
6. Mengidentifikasi konsep dan sifat atau gejala gelombang pada cahaya, sifat-sifat
gelombang pada cahaya
7. Menjelaskan pengertian daya urai lensa.
8. Menjelaskan peristiwa dispersi cahaya dengan prisma
9. Menjelaskan pengertian interferensi cahaya .
10. Menjelaskan interferensi dua celah sempit (percobaan Young) dan
11. Melakukan pengamatan terjadinya interferensi pada lapisan tipis dan
12. Menjelaskan pengertian difraksi.
13. Menjelaskan difraksi pada celah sempit.
14. Menjelaskan suatu peralatan berteknologi yang berkaitan dengan sifat gelombang
cahaya.
15. Menerapkan konsep dan prinsip gelombang cahaya dalam teknologi

Pendahuluan
Dalam kehidupan sehari-hari sering Anda mengamati pelangi. Apa yang Anda ketahui tentang
pelangi? Mengapa pelangi terjadi pada saat gerimis atau setelah hujan turun dan matahari tetap
bersinar? Apakah cahaya merupakan suatu gelombang?

Terhadap permasalahan-permasalahan tersebut, kita sering berpikir bahwa pelangi adalah warna-
warni cahaya yang nampak indah.

Dispersi (Disperce Light Wave)


Gelombang dan sifat-sifatnya sebagian sudah dikenal pada waktu membahas getaran dan
gelombang. Pada bagian ini, kita akan membahas gelombang cahaya. Cahaya merupakan radiasi
gelombang elektromagnetik yang dapat dideteksi mata manusia. Cahaya selain memiliki sifat-
sifat gelombang secara umum misal dispersi, interferensi, difraksi, dan polarisasi, juga memiliki
sifat-sifat gelombang elektromagnetik, yaitu dapat merambat melalui ruang hampa.
Gejala dispersi cahaya adalah gejala peruraian cahaya putih (polikromatik) menjadi cahaya
berwarna-warni (monokromatik). Cahaya putih merupakan cahaya polikromatik, artinya cahaya
yang terdiri atas banyak warna dan panjang gelombang. Jika cahaya putih diarahkan ke prisma,
maka cahaya putih akan terurai menjadi cahaya merah, jingga, kuning, hijau, biru, nila, dan
ungu. Cahaya-cahaya ini memiliki panjang gelombang yang berbeda. Setiap panjang gelombang
memiliki indeks bias yang berbeda. Semakin kecil panjang gelombangnya semakin besar indeks
biasnya. Disperi pada prisma terjadi karena adanya perbedaan indeks bias kaca setiap warna
cahaya. Perhatikan Gambar 2.1.

Gambar 2.1. Dispersi cahaya pada prisma

Seberkas cahaya polikromatik diarahkan ke prisma. Cahaya tersebut kemudian terurai menjadi
cahaya merah, jingga, kuning, hijau, biru, nila, dan ungu. Tiap-tiap cahaya mempunyai sudut
deviasi yang berbeda. Selisih antara sudut deviasi untuk cahaya ungu dan merah disebut sudut
dispersi. Besar sudut dispersi dapat dituliskan sebagai berikut:

Φ = δu - δm = (nu – nm) β .......................................2.1

Keterangan:

Φ = sudut dispersi

nu = indeks bias sinar ungu

nm = indeks bias sinar merah

δu = deviasi sinar ungu

δm=deviasi sinar merah

Penerapan Dispersi:

Contoh peristiwa dispersi pada kehidupan sehari-hari adalah pelangi. Pelangi hanya dapat kita
lihat apbila kita membelakangi matahari dan hujan terjadi di depan kita. Jika seberkas cahaya
matahari mengenai titik-titik air yang besar, maka sinar itu dibiaskan oleh bagian depan
permukaan air. Pada saat sinar memasuki titik air, sebagian sinar akan dipantulkan oleh bagian
belakang permukaan air, kemudian mengenai permukaan depan, dan akhirnya dibiaskan oleh
permukaan depan. Karena dibiaskan, maka sinar ini pun diuraikan menjadi pektrum
matahari.Peristiwa inilah yang kita lihat di langit dan disebut pelangi. Bagan terjadinya proses
pelangi dapat dilihat pada Gambar 2.2.

Gambar 2.2. Proses terjadi pelangi

Interferensi Cahaya

Pada bab 1(gelombang mekanik), Anda telah ketahui bahwa dua gelombang dapat melalui satu
titik yang sama tanpa saling mempengaruhi. Kedua gelombang gelombang itu memiliki efek
gabungan yang diperoleh dengan menjumlahkan simpangannya. Interferensi adalah paduan dua
gelombang atau lebih menjadi satu gelombang baru. Jika kedua gelombang yang terpadu sefase,
maka terjadi interferensi konstruktif (saling menguatkan). Gelombang resultan memiliki
amplitudo maksimum.

Jika kedua gelombang yang terpadu berlawanan fase, maka terjadi interferensi destruktif (saling
melemahkan). Gelombang resultan memiliki amplitudo nol. Setiap orang dengan menggunakan
sebuah baskom air dapat melihat bagaimana interferensi antara dua gelombang permukaan air
dapat menghasilkan pola-pola bervariasi yang dapat dilihat dengan jelas. Dua orang yang
bersenandung dengan nada-nada dasar yang frekuensinya berbeda sedikit akan mendengar
layangan (penguatan dan pelemahan bunyi) sebagai hasi interferensi (akan dibahas pada Bab 3).

Warna-warni pelangi menunjukkan bahwa sinar matahari adalah gabungan dari berbagai macam
warna dari spektrum kasat mata. Di lain fihak, warna pada gelombang sabun, lapisan minyak,
warna bulu burung merah, dan burung kalibri bukan disebabkan oleh pembiasan. Hal ini terjadi
karena interferensi konstruktif dan destruktif dari sinar yang dipantulkan oleh suatu lapisan tipis.
Adanya gejala interferensi ini bukti yang paling menyakinkan bahwa cahaya itu adalah
gelombang. Interferensi cahaya bisa terjadi jika ada dua atau lebih berkas sinar yang bergabung.
Jika cahayanya tidak berupa berkas sinar, maka interferensinya sulit diamati. Interferensi cahaya
sulit diamati karena dua alasan:

(1) Panjang gelombang cahaya sangat pendek, kira-kira 1% dari lebar rambut.

(2) Setiap sumber alamiah cahaya memancarkan gelombang cahaya yang fasenya sembarang
(random) sehingga interferensi yang terjadi hanya dalam waktu sangat singkat.

Jadi, interferensi cahaya tidaklah senyata seperti interferensi pada gelombang air atau gelombang
bunyi. Interferensi terjadi jika terpenuhi dua syarat berikut ini:

(1) Kedua gelombang cahaya harus koheren, dalam arti bahwa kedua gelombang cahaya harus
memiliki beda fase yang selalu tetap, oleh sebab itu keduanya harus memiliki frekuensi yang
sama.

(2) Kedua gelombang cahaya harus memiliki amplitude yang hampir sama.

Terjadi dan tidak terjadinya interferensi dapat digambarkan seperti pada Gambar 2.3.

Gambar 2.3. (a) tidak terjadi interferensi, (b) terjadi interferensi

Untuk menghasilkan pasangan sumber cahaya kohern sehingga dapat menghasilkan pola
interferensi adalah :

(1) sinari dua (atau lebih) celah sempit dengan cahaya yang berasal dari celah tunggal (satu
celah). Hal ini dilakukan oleh Thomas Young.

(2) dapatkan sumber-sumber kohern maya dari sebuah sumber cahaya dengan pemantulan saja.
Hal ini dilakukian oleh Fresnel. Hal ini juga terjadi pada pemantulan dan pembiasan (pada
interferensi lapisan tipis).

(3) Gunakan sinar laser sebagai penghasil sinar laser sebagai penghasil cahaya kohern.