Anda di halaman 1dari 54

ASUHAN KEPERAWATAN KELUARGA PADA REMAJA

Disusun Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Keperawatan Keluarga

DOSEN PENGAMPU:

Ani Auli Ilmi, S. Kep., Ns., M. Kep., Sp. Kep. Kom.


Eny Sutria S. Kep., Ns., M. Kes.
Hasnah, S. Kep., Ns., M. Kes.
Rasdiyanah S.Kep.,Ns.,M.Kep.,Sp.Kep.Kom
A. Tenri Ola Rivai, M. Kes.

Oleh:

KEPERAWATAN B

KELOMPOK IV

1. Ayu Satriana 70300117067


2. Uswatun Hasanah 70300117050
3. Sally Purwanti 70300117048
4. Israwati 70300117084
5. Indah Pebrianti 70300117055

PROGRAM STUDI KEPERAWATAN

FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI ALAUDDIN MAKASSAR

2020

1
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kami haturkan ke Hadirat Tuhan Yang Maha Esa, yang telah
memberikan Rahmat dan karuniaNya, sehingga kami dapat menyelesaikan makalah
ini dengan judul “Asuhan Keperawatan Keluarga Pada Remaja”. Penulisan
makalah ini dimaksudkan untuk memenuhi persyaratan mata kuliah Keperawatan
Keluarga.
Kami menyadari keterbatasan pengetahuan dan kemampuan yang dimiliki,
oleh karena itu kami sangat mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun
dari pembaca untuk kesempurnaan makalah ini.
Akhirnya kami berharap semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi pembaca
khususnya dan tenaga keperawatan pada umumnya.

Samata, 01 Mei 2020

Kelompok IV

1
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR 2

DAFTAR ISI 3

BAB I PENDAHULUAN 4

A. Latar Belakang 4
B. Rumusan Masalah 4
C. Tujuan 5

BAB II TINJAUAN PUSTAKA 6


A. Definisi Remaja 6
B. Tahap Perkembangan Remaja 6
C. Karakteristik Perkembangan Remaja 7
D. Tugas Perkembangan Pada Masa Remaja 11
E. Keluarga 13
F. Tugas Perkembangan Keluarga Dengan Anak Remaja 14
G. Masalah-Masalah Yang Terjadi Pada Keluarga Dengan
Tahap Perkembangan Anak Usia Remaja 14
BAB III ASUHAN KEPERAWATAN 17

BAB IV PENUTUP 54

A. Kesimpulan 54
B. Saran 54

DAFTAR PUSTAKA 55

1
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Remaja merupakan salah satu tahap perkembangan manusia yang memiliki
karakteristik yang berbeda bila dibandingkan dengan tahap perkembangan lainnya,
karena pada tahap ini seseorang mengalami peralihan dari masa anak-anak ke
dewasa. Masa remaja adalah masa dimana terjadinya krisis identitas atau pencarian
identitas diri. Karakteristik psikososial remaja yang sedang berproses untuk
mencari identitas diri ini sering menimbulkan banyak masalah pada diri remaja.
Transisi dari masa anak-anak dimana selain mneingkatnya kesadaran diri (self
consciousness) terjadi juga perubahan secara fisik, kognitif, sosial maupun
emosional pada remaja sehingga remaja cenderung mengalami perubahan emosi ke
arah yang negatif menjadi mudah marah, tersinggung bahkan agresif. Perubahan-
perubahan karakteristik pada masa remaja tersebut, ditambah dengan faktor-faktor
eksternal seperti kemiskinan, pola asuh yang tidak efektif dan gangguan mental
pada orang tua diprediksi sebagai penyebab timbulnya masalah-masalah remaja
(Pianta, 2005 dalam Santrock, 2007).
Laporan situasi Kependudukan Dunia Tahun 2012 pada peluncurannya,
disebutkan bahwa jumlah penduduk dunia terus tumbuh dan telah mencapai 7
miliar. Sebanyak 1,2 miliar penduduk dunia atau hampir 1 dari 5 orang di dunia
berusia 10-19 tahun. Adapun 900 juta orang di antaranya tinggal di negara
berkembang. Negara Indonesia sendiri, hasil sensus penduduk tahun 2010
menunjukkan 1 dari 4 orang penduduk Indonesia merupakan kaum muda berusia
10-24 tahun, dari 240 juta penduduk Indonesia, jumlah remaja terbilang besar,
mencapai 63,4 juta atau sekitar 26,7 % dari total penduduk (BKKBN, 2012).
Peran perawat dalam asuhan keperawatan keluarga dengan tahap anak usia
remaja adalah membantu keluarga untuk menyelesaikan masalah kesehatan dengan
cara meningkatkan kesanggupan keluarga melakukan fungsi dan tugas perawatan
kesehatan keluarga, sehingga keluarga dapat melakukan program asuhan kesehatan
secara mandiri, dan masalah yang timbul bisa teratasi.
B. Rumusan Masalah
1. Apa definisi remaja ?
2. Bagaimana tahap perkembangan remaja ?

1
3. Bagaimana karakteristik perkembangan remaja ?
4. Bagaimana tugas perkembangan pada masa remaja ?
5. Apa itu keluarga ?
6. Bagaimana tugas perkembangan keluarga dengan anak remaja ?
7. Apa saja masalah-masalah yang terjadi pada keluarga dengan tahap
perkembangan anak usia remaja ?
8. Asuhan keperawatan keluarga pada remaja ?
C. Tujuan
1. Untuk mengetahui definisi remaja
2. Untuk mengetahui tahap perkembangan remaja
3. Untuk mengetahui karakteristik perkembangan remaja
4. Untuk mengetahui tugas perkembangan pada masa remaja
5. Untuk mengetahui keluarga
6. Untuk mengetahui tugas perkembangan keluarga dengan anak remaja
7. Untuk mengetahui masalah-masalah yang terjadi pada keluarga dengan
tahap perkembangan anak usia remaja
8. Untuk mengetahui asuhan keperawatan keluarga pada remaja

1
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Definisi Remaja
Istilah adolescence atau remaja berasal dari kata latin adolescence (kata
bendanya adolescenta yang berarti remaja) yang berarti tumbuh menjadi dewasa.
Adolescence artinya berangsur-angsur menuju kematangan secara fisik, akal,
kejiwaan dan sosial serta emosional. Hal ini mengisyaratkan kepada hakikat umum,
yaitu bahwa pertumbuhan tidak berpindah dari satu fase ke fase lainya secara tiba-
tiba, tetapi pertumbuhan itu berlangsung setahap demi setahap (Al-Mighwar,
2006).
B. Tahap Perkembangan Remaja
Menurut Sarwono (2006) ada 3 tahap perkembangan remaja dalam proses
penyesuaian diri menuju dewasa :
a) Remaja Awal (Early Adolescence)
Seorang remaja pada tahap ini berusia 10-12 tahun masih terheran–heran
akan perubahan-perubahan yang terjadi pada tubuhnya sendiri dan dorongan-
dorongan yang menyertai perubahan-perubahan itu. Mereka mengembangkan
pikiran-pikiran baru, cepat tertarik pada lawan jenis, dan mudah terangsang
secara erotis. Dengan dipegang bahunya saja oleh lawan jenis, ia sudah
berfantasi erotik. Kepekaan yang berlebih-lebihan ini ditambah dengan
berkurangnya kendali terhadap “ego”. Hal ini menyebabkan para remaja awal
sulit dimengerti orang dewasa.
b) Remaja Madya (Middle Adolescence)
Tahap ini berusia 13-15 tahun. Pada tahap ini remaja sangat membutuhkan
kawan-kawan. Ia senag kalau banyak teman yang menyukainya. Ada
kecenderungan “narastic”, yaitu mencintai diri sendiri, dengan menyukai
teman-teman yang mempunyai sifat-sifat yang sama dengan dirinya. Selain itu,
ia berada dalam kondisi kebingungan karena ia tidak tahu harus memilih yang
mana: peka atau tidak peduli, ramai-ramai atau sendiri, optimis atau pesimis,
idealis atau meterialis, dan sebagainya. Remaja pria harus membebaskan diri
dari Oedipoes Complex (perasaan cinta pada ibu sendiri pada masa kanak-
kanak) dengan mempererat hubungan dengan kawan-kawan dari lawan jenis.
c) Remaja Akhir (Late Adolescence)

1
Tahap ini (16-19 tahun) adalah masa konsolidasi menuju periode dewasa
dan ditandai dengan pencapaian lima hal dibawah ini.
1) Minat yang makin mantap terhadap fungsi-fungsi intelek.
2) Egonya mencari kesempatan untuk bersatu dengan orang-orang lain dan
dalam pengalaman-pengalaman baru.
3) Terbentuk identitas seksual yang tidak akan berubah lagi.
4) Egosentrisme (terlalu memusatkan perhatian pada diri sendiri) diganti
dengan keseimbangan antara kepentingan diri sendiri dengan orang lain.
5) Tumbuh “dinding” yang memisahkan diri pribadinya (private self) dan
masyarakat umum (the public).
C. Karakteristik Perkembangan Remaja
Menurut Wong (2009), karakteristik perkembangan remaja dapat dibedakan
menjadi :
a) Perkembangan Psikososial
Teori perkembangan psikososial menurut Erikson dalam Wong (2009),
menganggap bahwa krisis perkembangan pada masa remaja menghasilkan
terbentuknya identitas. Periode remaja awal dimulai dengan awitan pubertas
dan berkembangnya stabilitas emosional dan fisik yang relatif pada saat atau
ketika hampir lulus dari SMU. Pada saat ini, remaja dihadapkan pada krisis
identitas kelompok versus pengasingan diri.
Pada periode selanjutnya, individu berharap untuk mencegah otonomi dari
keluarga dan mengembangkan identitas diri sebagai lawan terhadap difusi
peran. Identitas kelompok menjadi sangat penting untuk permulaan
pembentukan identitas pribadi. Remaja pada tahap awal harus mampu
memecahkan masalah tentang hubungan dengan teman sebaya sebelum mereka
mampu menjawab pertanyaan tentang siapa diri mereka dalam kaitannya
dengan keluarga dan masyarakat.
1) Identitas kelompok
Selama tahap remaja awal, tekanan untuk memiliki suatu kelompok
semakin kuat. Remaja menganggap bahwa memiliki kelompok adalah hal
yang penting karena mereka merasa menjadi bagian dari kelompok dan
kelompok dapat memberi mereka status. Ketika remaja mulai mencocokkan
cara dan minat berpenampilan, gaya mereka segera berubah. Bukti
penyesuaian diri remaja terhadap kelompok teman sebaya dan

1
ketidakcocokkan dengan kelompok orang dewasa memberi kerangka
pilihan bagi remaja sehingga mereka dapat memerankan penonjolan diri
mereka sendiri sementara menolak identitas dari generasi orang tuanya.
Menjadi individu yang berbeda mengakibatkan remaja tidak diterima dan
diasingkan dari kelompok.
2) Identitas Individual
Pada tahap pencarian ini, remaja mempertimbangkan hubungan
yang mereka kembangkan antara diri mereka sendiri dengan orang lain di
masa lalu, seperti halnya arah dan tujuan yang mereka harap mampu
dilakukan di masa yang akan datang. Proses perkembangan identitas pribadi
merupakan proses yang memakan waktu dan penuh dengan periode
kebingungan, depresi dan keputusasaan. Penentuan identitas dan bagiannya
di dunia merupakan hal yang penting dan sesuatu yang menakutkan bagi
remaja. Namun demikian, jika setahap demi setahap digantikan dan
diletakkan pada tempat yang sesuai, identitas yang positif pada akhirnya
akan muncul dari kebingungan. Difusi peran terjadi jika individu tidak
mampu memformulasikan kepuasan identitas dari berbagai aspirasi, peran
dan identifikasi.
3) Identitas peran seksual
Masa remaja merupakan waktu untuk konsolidasi identitas peran
seksual. Selama masa remaja awal, kelompok teman sebaya mulai
mengomunikasikan beberapa pengharapan terhadap hubungan
heterokseksual dan bersamaan dengan kemajuan perkembangan, remaja
dihadapkan pada pengharapan terhadap perilaku peran seksual yang matang
yang baik dari teman sebaya maupun orang dewasa. Pengharapan seperti ini
berbeda pada setiap budaya, antara daerah geografis, dan diantara kelompok
sosioekonomis.
4) Emosionalitas
Remaja lebih mampu mengendalikan emosinya pada masa remaja
akhir. Mereka mampu menghadapi masalah dengan tenang dan rasional,
dan walaupun masih mengalami periode depresi, perasaan mereka lebih
kuat dan mulai menunjukkan emosi yang lebih matang pada masa remaja
akhir. Sementara remaja awal bereaksi cepat dan emosional, remaja akhir
dapat mengendalikan emosinya sampai waktu dan tempat untuk

1
mengendalikan emosinya sampai waktu dan tempat untuk mengekspresikan
dirinya dapat diterima masyarakat. Mereka masih tetap mengalami
peningkatan emosi, dan jika emosi itu diperlihatkan, perilaku mereka
menggambarkan perasaan tidak aman, ketegangan, dan kebimbangan.
b) Perkembangan Kognitif
Teori perkembangan kognitif menurut Piaget dalam Wong (2009), remaja
tidak lagi dibatasi dengan kenyataan dan aktual, yang merupakan ciri periode
berpikir konkret; mereka juga memerhatikan terhadap kemungkinan yang akan
terjadi. Pada saat ini mereka lebih jauh ke depan. Tanpa memusatkan perhatian
pada situasi saat ini, mereka dapat membayangkan suatu rangkaian peristiwa
yang mungkin terjadi, seperti kemungkinan kuliah dan bekerja; memikirkan
bagaimana segala sesuatu mungkin dapat berubah di masa depan, seperti
hubungan dengan orang tua, dan akibat dari tindakan mereka, misalnya
dikeluarkan dari sekolah. Remaja secara mental mampu memanipulasi lebih
dari dua kategori variabel pada waktu yang bersamaan. Misalnya, mereka dapat
mempertimbangkan hubungan antara kecepatan, jarak dan waktu dalam
membuat rencana perjalanan wisata. Mereka dapat mendeteksi konsistensi atau
inkonsistensi logis dalam sekelompok pernyataan dan mengevaluasi sistem,
atau serangkaian nilai-nilai dalam perilaku yang lebih dapat dianalisis.
c) Perkembangan Moral
Teori perkembangan moral menurut Kohlberg dalam Wong (2009), masa
remaja akhir dicirikan dengan suatu pertanyaan serius mengenai nilai moral dan
individu. Remaja dapat dengan mudah mengambil peran lain. Mereka
memahami tugas dan kewajiban berdasarkan hak timbal balik dengan orang
lain, dan juga memahami konsep peradilan yang tampak dalam penetapan
hukuman terhadap kesalahan dan perbaikan atau penggantian apa yang telah
dirusak akibat tindakan yang salah. Namun demikian, mereka mempertanyakan
peraturan-peraturan moral yang telah ditetapkan, sering sebagai akibat dari
observasi remaja bahwa suatu peraturan secara verbal berasal dari orang
dewasa tetapi mereka tidak mematuhi peraturan tersebut.
d) Perkembangan Spiritual
Pada saat remaja mulai mandiri dari orang tua atau otoritas yang lain,
beberapa diantaranya mulai mempertanyakan nilai dan ideal keluarga mereka.
Sementara itu, remaja lain tetap berpegang teguh pada nilai-nilai ini sebagai

1
elemen yang stabil dalam hidupnya seperti ketika mereka berjuang melawan
konflik pada periode pergolakan ini. Remaja mungkin menolak aktivitas ibadah
yang formal tetapi melakukan ibadah secara individual dengan privasi dalam
kamar mereka sendiri. Mereka mungkin memerlukan eksplorasi terhadap
konsep keberadaan Tuhan. Membandingkan agama mereka dengan orang lain
dapat menyebabkan mereka mempertanyakan kepercayaan mereka sendiri
tetapi pada akhirnya menghasilkan perumusan dan penguatan spiritualitas
mereka.
e) Perkembangan Sosial
Untuk memperoleh kematangan penuh, remaja harus membebaskan diri
mereka dari dominasi keluarga dan menetapkan sebuah identitas yang mandiri
dari wewenang orang tua. Namun, proses ini penuh dengan ambivalensi baik
dari remaja maupun orang tua. Remaja ingin dewasa dan ingin bebas dari
kendali orang tua, tetapi mereka takut ketika mereka mencoba untuk
memahami tanggung jawab yang terkait dengan kemandirian.
1) Hubungan dengan orang tua
Selama masa remaja, hubungan orang tua-anak berubah dari
menyayangi dan persamaan hak. Proses mencapai kemandirian sering kali
melibatkan kekacauan dan ambigulitas karena baik orang tua maupun
remaja berajar untuk menampilkan peran yang baru dan menjalankannya
sampai selesai, sementara pada saat bersamaan, penyelesaian sering kali
merupakan rangkaian kerenggangan yang menyakitkan, yang penting untuk
menetapkan hubungan akhir. Pada saat remaja menuntut hak mereka untuk
mengembangkan hak-hak istimewanya, mereka sering kali menciptakan
ketegangan di dalam rumah. Mereka menentang kendali orang tua, dan
konflik dapat muncul pada hampir semua situasi atau masalah.
2) Hubungan dengan teman sebaya
Walaupun orang tua tetap memberi pengaruh utama dalam sebagian
besar kehidupan, bagi sebagian besar remaja, teman sebaya dianggap lebih
berperan penting ketika masa remaja dibandingkan masa kanak-kanak.
Kelompok teman sebaya memberikan remaja perasaan kekuatan dan
kekuasaan.
a) Kelompok teman sebaya

1
Remaja biasanya berpikiran sosial, suka berteman, dan suka
berkelompok. Dengan demikian kelompok teman sebaya memiliki
evaluasi diri dan perilaku remaja. Untuk memperoleh penerimaan
kelompok, remaja awal berusaha untuk menyesuaikan diri secara total
dalam berbagai hal seperti model berpakaian, gaya rambut, selera
musik, dan tata bahasa, sering kali mengorbankan individualitas dan
tuntutan diri. Segala sesuatu pada remaja diukur oleh reaksi teman
sebayanya.
b) Sahabat
Hubungan personal antara satu orang dengan orang lain yang
berbeda biasanya terbentuk antara remaja sesama jenis. Hubungan ini
lebih dekat dan lebih stabil daripada hubungan yang dibentuk pada
masa kanak-kanak pertengahan, dan penting untuk pencarian identitas.
Seorang sahabat merupakan pendengar terbaik, yaitu tempat remaja
mencoba kemungkinan peran-peran dan suatu peran bersamaan, mereka
saling memberikan dukungan satu sama lain.
D. Tugas Perkembangan Pada Masa Remaja
Tugas-tugas perkembangan pada masa remaja menurut (Hurlock, 2001)
antara lain :
a) Mencapai hubungan baru dan yang lebih matang dengan teman sebaya baik
pria maupun wanita
Tugas perkembangan pada masa remaja menuntut perubahan besar dalam
sikap dan perilaku anak. Akibatnya, hanya sedikit anak laki-laki dan anak
perempuan yang dapat diharapkan untuk menguasai tugastugas tersebut selama
awal masa remaja, apalagi mereka yang matangnya terlambat. Kebanyakan
harapan ditumpukkan pada hal ini adalah bahwa remaja muda akan meletakkan
dasar-dasar bagi pembentukan sikap dan pola perilaku.
b) Mencapai peran sosial pria, dan wanita
Perkembangan masa remaja yang penting akan menggambarkan seberapa
jauh perubahan yang harus dilakukan dan masalah yang timbul dari perubahan
itu sendiri. Pada dasarnya, pentingnya menguasai tugas-tugas perkembangan
dalam waktu yang relatif singkat sebagai akibat perubahan usia kematangan
yang menjadi delapan belas tahun, menyebabkan banyak tekanan yang
menganggu para remaja.

1
c) Menerima keadaan fisiknya dan menggunakan tubuhnya secara efektif
Seringkali sulit bagi para remaja untuk menerima keadaan fisiknya bila
sejak kanak-kanak mereka telah mengagungkan konsep mereka tentang
penampilan diri pada waktu dewasa nantinya. Diperlukan waktu untuk
memperbaiki konsep ini dan untuk mempelajari cara-cara memperbaiki
penampilan diri sehingga lebih sesuai dengan apa yang dicita-citakan.
d) Mengharapkan dan mencapai perilaku sosial yang bertanggung jawab
Menerima peran seks dewasa yang diakui masyarakat tidaklah mempunyai
banyak kesulitan bagi laki-laki; mereka telah didorong dan diarahkan sejak
awal masa kanak-kanak. Tetapi halnya berbeda bagi anak perempuan. Sebagai
anak-anak, mereka diperbolehkan bahkan didorong untuk memainkan peran
sederajat, sehingga usaha untuk mempelajari peran feminin dewasa yang diakui
masyarakat dan menerima peran tersebut, seringkali merupakan tugas pokok
yang memerlukan penyesuaian diri selama bertahun-tahun. Karena adanya
pertentangan dengan lawan jenis yang sering berkembang selama akhir masa
kanak-kanak dan masa puber, makan mempelajari hubungan baru dengan
lawan jenis berarti harus mulai dari nol dengan tujuan untuk mengetahui lawan
jenis dan bagaimana harus bergaul dengan mereka. Sedangkan pengembangan
hubungan baru yang lebih matang dengan teman sebaya sesama jenis juga tidak
mudah.
e) Mencapai kemandirian emosional dari orang tua dan orang-orang dewasa
lainnya
Bagi remaja yang sangat mendambakan kemandirian, usaha untuk mandiri
secara emosional dari orang tua dan orang-orang dewasa lain merupakan tugas
perkembangan yang mudah. Namun, kemandirian emosi tidaklah sama dengan
kemandirian perilaku. Banyak remaja yang ingin mandiri, juga ingin dan
membutuhkan rasa aman yang diperoleh dari ketergantungan emosi pada orang
tua atau orang-orang dewasa lain. Hal ini menonjol pada remaja yang statusnya
dalam kelompok sebaya tidak meyakinkan atau yang kurang memiliki
hubungan yang akrab dengan anggota kelompok.
f) Mempersiapkan karier ekonomi
Kemandirian ekonomi tidak dapat dicapai sebelum remaja memilih
pekerjaan dan mempersiapkan diri untuk bekerja. Kalau remaja memilih
pekerjaan yang memerlukan periode pelatihan yang lama, tidak ada jaminan

1
untuk memperoleh kemandirian ekonomi bilamana mereka secara resmi
menjadi dewasa nantinya. Secara ekonomi mereka masih harus tergantung
selama beberapa tahun sampai pelatihan yang diperlukan untuk bekerja selesai
dijalani.
g) Mempersiapkan perkawinan dan keluarga
Kecenderungan perkawinan muda menyebabkan persiapan perkawinan
merupakan tugas perkembangan yang paling penting dalam tahuntahun remaja.
Meskipun tabu sosial mengenai perilaku seksual yang berangsur-ansur
mengendur dapat mempermudah persiapan perkawinan dalam aspek seksual,
tetapi aspek perkawinan yang lain hanya sedikit yang dipersiapkan. Kurangnya
persiapan ini merupakan salah satu penyebab dari masalah yang tidak
terselesaikan, yang oleh remaja dibawa ke masa remaja.
h) Memperoleh perangkat nilai dan sistem etis sebagai pegangan untuk
berperilaku mengembangkan ideologi
Sekolah dan pendidikan tinggi mencoba untuk membentuk nilai-nilai yang
sesuai dengan nilai dewasa, orang tua berperan banyak dalam perkembangan
ini. Namun bila nilai-nilai dewasa bertentangan dengan teman sebaya, masa
remaja harus memilih yang terakhir bila mengharap dukungan teman-teman
yang menentukan kehidupan sosial mereka. Sebagian remaja ingin diterima
oleh teman-temannya, tetapi hal ini seringkali diperoleh dengan perilaku yang
oleh orang dewasa dianggap tidak bertanggung jawab.
E. Keluarga
Keluarga merupakan lembaga pertama dalam kehidupan anak tempat anak
belajar dan mengatakan sebagai makhluk sosial. Dalam keluarga umumnya anak
melakukan interaksi yang intim. Menurut Slameto (2006) keluarga adalah lembaga
pendidikan yang yang pertama dan utama bagi anak-anaknya baik pendidikan
bangsa, dunia, dan negara sehingga cara orang tua mendidik anak-anaknya akan
berpengaruh terhadap belajar. Sedangkan menurut Mubarak, dkk (2009) keluarga
adalah perkumpulan dua orang atau lebih yang diikat oleh hubungan darah,
perkawinan atau adopsi, dan tiap-tiap anggota keluarga selalu berinteraksi satu
dengan yang lain.
Berdasarkan keanggotaannya, keluarga dapat dibagi dalam 3 jenis (Duval,
1972 dalam Setiadi 2008), yaitu :

1
a) Nuclear family, sering disebut dengan keluarga inti, yaitu keluarga yang
anggotanya terdiri dari ayah, ibu dan anak yang belum menikah.
b) Extended family, atau keluarga besar, yaitu keluarga yang anggotanya terdiri
dari ayah, ibu, serta family dari kedua belah pihak.
c) Horizontal extended family, yaitu keluarga yang anggotanya terdiri dari ayah,
ibu dan anak yang telah menikah dan masih menumpang pada orang tuanya.
F. Tugas Perkembangan Keluarga dengan Anak Usia Remaja
Dimulai pada saat anak pertama meninggalkan rumah dan berakhir pada
saat anakterakhir meninggalkan rumah.Lamanya tahapan ini tergantung jumlah
anak dan adaatau tidaknya anak yang belum berkeluarga dan tetap tinggal bersama
orang tua.Tugas perkembangan :
1) Memperluas keluarga inti menjadi keluarga besar.
2) Mempertahankan keintiman pasangan.
3) Membantu orang tua memasuki masa tua.
4) Membantu anak untuk mandiri di masyarakat.
5) Penataan kembali peran dan kegiatan rumah tangga.
G. Masalah-Masalah yang Terjadi Pada Keluarga dengan Tahap Perkembangan
Anak Usia Remaja
Ketidakmatangan dalam hubungan keluarga seperti yang ditunjukkan oleh
adanya pertengkaran dengan anggota-anggota keluarga,terus menerus mengritik
atau buat komentar-komentar yang merendahkan tentang penampilan atau perilaku
anggota keluarga, sering terjadi selama tahun-tahun awal masa remaja. Pada saat
ini hubungan keluarga biasanya berada pada titik rendah.
Hubungan keluarga yang buruk merupakan bahaya psikologis pada setiap usia,
terlebih selama masa remaja karena pada saat ini anak laki-laki dan perempuan
sangat tidak percaya pada diri sendiri dan bergantung pada keluarga untuk
memperoleh rasa aman. Yang lebih penting lagi, mereka memerlukan bimbingan
atau bantuan dalam menguasai tugas perkembangan masa remaja. Kalau hubungan-
hubungan keluarga ditandai dengan pertentangan, perasaan-perasaan tidak aman
berlangsung lama, dan remaja kurang memiliki kesempatan untuk mengembangkan
pola perilaku yang tenang dan lebih matang. Remaja yang hubungan keluarganya
kurang baik juga dapat mengembangkan hubungan yang buruk dengan orang-orang
diluar rumah. Meskipun semua hubungan, baik dalam masa dewasa atau dalam
masa kanak-kanak, kadang-kadang tegang namun orang ang selalu mengalami

1
kesulitan dalam bergaul dengan orang lain dianggap tidak matang dan kurang
menyenangkan. Hal ini menghambat penyesuaian sosial yang baik.
Masa remaja dikenal banyak orang sebagai masa yang indah dan penuh
romantika, padahal sebenarnya masa ini merupakan masa yang penuh dengan
kesukaran. Bukan hanya bagi dirinya tetapi bagi keluarga dan lingkungan sosial.
Masa ini akan membuat remaja mengalami kebingungan disatu pihak masih anak-
anak, tetapi dilain pihak harus bertingkah laku seperti orang dewasa. Situasi ini
membuat mereka dalam kondisi konflik, sehingga akan terlihat bertingkah laku
aneh, canggung dan kalau tidak dikontrol dengan baik dapat menyebabkan
kenakalan. Dalam usahanya mencari identitas diri, mereka sering membantah orang
tuanya, karena memulai mempunyai pendapat sendiri, cita-cita dan nilai-nilai
sendiri yang berbeda dengan orang tuanya.
Pendapat orang tua tidak lagi dapat dijadikan pegangan, meskipun sebenarnya
mereka juga belum memiliki dasar pegangan yang kuat. Orang yang dianggap
penting dalam masa ini adalah teman sebaya. Mereka berusaha untuk mengikitu
pendapat dan gaya teman-temannya karena dianggap memiliki kesamaan dengan
dirinya. Karenanya sering kali remaja terlibat dalam geng-geng, dengan menjadi
anggota geng mereka akan saling memberi dan mendapat dukungan mental.
Beberapa kasus terakhir seperti geng-geng motor yang terlibat kegiatan
merupakan bentuk dari kecenderungan tersebut. Mereka akan berani melakukan
tindakan-tindakan kejahatan ketika dilakukan dalam kelompok dan tidak akan
berani melakukannya secara individual. Masalah lain yang sering mengganggu
anak remaja adalah masalah yang berkaitan dengan organ reproduksi (seksual).
Satu sisi mereka sudah mencapai kematangan seksual, yang menyebabkan mereka
memiliki dorongan untuk pemuasan tetapi disisi lain kebudayaan dan norma sosial
melarang pemuasan kebutuhan seksual diluar pernikahan. Padahal untuk menikah
banyak persyaratan yang harus dipenuhi, bukan hanya kemampuan dalam
melakukan hubungan seksual, tetapi diperlukan ekonomi, kematangan psikologi,
dan sebagainya.syarat-syarat ini sangat berat dan mungkin belum dicapai pada usia
remaja. Oleh karena itu, para remaja mencari kepuasan dalam bentuk khayalan,
membaca buku atau menonton film porno. Meskipun tingkah laku ini sebenarnya
tetap melanggar norma masyarakat, tetapi mereka melakukannya dengan
sembunyi-sembunyi.

1
Untuk menghadapi situasi ini orang tua harus lebih bijaksana dalam
menyikapi, cara yang tepat dilakukan adalah dengan mengurangi control secara
bertahap terhadap anaknya, sehingga mereka dapat tumbuh menjadi diri sendiri
secara bertahap sampai akhirnya dewasa.
MASALAH-MASALAH KESEHATAN
Pada tahap ini kesehatan fisik anggota keluarga biasanya baik. Tapi promosi
kesehatan tetap menjadi hal yang penting. Faktor-faktor resiko harus diidentifikasi
dan dibicarakan dengan keluarga, seperti pentingnya gaya hidup keluarga yang
sehat mulai dari usia 35 tahun, resiko penyakit jantung koroner meningkat
dikalangan pria dan pada usia ini anggota keluarga yang dewasa mulai merasa
lebih rentan terhadap penyakit sebagai bagian dari perubahan-perubahan
perkembangan dan biasanya mereka ini lebih menerima strategi promosi kesehatan.
Sedangkan pada remaja, kecelakaan terutama kecelakaan mobil merupakan bahaya
yang amat besar, dan patah tulang dan cedera karena atletik juga umum terjadi .
Penyalahguanaan obat-obatan dan alkohol, keluarga berencana, kehamilan
yang tidak dikehendaki, dan pendidikan dan konseling seks merupakan bidang
perhatian yang relevan. Dalam mendiskusikan topik ini dengan keluarga, perawat
dapat terjebak dalam perselisihan atau masalah antara orang tua dan kaum muda,
remaja biasanya mencari pelayanan kesehatan mencakup uji kehamilan,
menggunakan obat-obatan, uji AIDS, keluarga berencana, dan aborsi, diagnosis
dan perawatan penyakit kelamin. Agaknya telah menjadi trend yang sah bagi
remaja untuk menerima perawatan kesehatan tanpa ijin orang tua. Bila orang tua
diikutsertakan maka dilakukan wawancara terpisah sebelum mereka dikumpulkan.
Kebutuhan kesehatan yantg lain adalah dalam bidang hubungan dan bantuan
untuk memperkokoh hubungan perkawinan dan hubungan remaja dengan orang
tua. Konseling langsung yang bersifat menunjang atau mulai rujukan ke sumber-
sumber dalam komunitas untuk konseling, dan juga pendidikan yang bersifat
rekreasional, dan pelayanan lainnya mungkin diperlukan, pendidikan promosi
kesehatan umum juga diindikasikan.

1
BAB III
ASUHAN KEPERAWATAN

A. Gambaran Kasus
Pengkajian dilakukan pada tanggal 16 Mei 2013 jam 10.00 WIB pada
keluarga Bp. R (38 tahun). Bp. R merupakan kepala keluarga dari Ibu R (30 tahun),
An. H (14 tahun), An. F (12 tahun), An. L (9 tahun) dan Nenek. R (61 tahun).
Pendidikan terakhir Bp. R adalah SMP. Pekerjaan sehari-hari sebagai buruh di
pabrik dan MC (pembawa acara) di acara-acara pernikahan. Alamat tinggal
sekarang ini di RT 02 RW 02 Kelurahan Cisalak Pasar Kecamatan Cimanggis Kota
Depok. Keluarga Bp. R merupakan keluarga extended family (keluarga luas/besar)
yang terdiri dari keluarga inti dan orang tua dari Bp.R yaitu Nenek. R. Diamana
keluarga Bp. R merupakan keluarga yang didalamnya masih terdapat hubungan
darah, perkawinan dan saling berinteraksi satu dengan yang lain, mempunyai peran
masing-masing, karena didalam satu rumah di keluarga Bp. R terdiri dari 6 orang
yang hidup bersama, segala kebutuhan dicukupi oleh kepala keluarga. Keluarga
Bp. R mengatakan bersuku Betawi. Keluarga Bp. R mempunyai kebiasaan jika ada
anggota keluarga yang sakit dibelikan obat warung terlebih dahulu untuk
pertolongan pertamanya. Ibu. R mengatakan keluarga beragama Islam. Kegiatan
ibadah keagamaan keluarga Bp. R yaitu sholat 5 waktu dan bepuasa. Di keluarga
Bp. R pencari nafkah utama adalah Bp. R yang bekerja sebagai buruh, selain itu
Bp. R juga masih aktif sebagai pembawa acara/MC di acara-acara pernikahan,
maka dari itu Bp. R terlihat jarang ada dirumah. Ibu. R mengatakan bahwa dirinya
merasa cukup dengan penghasilan suaminya saat ini. Ibu. R mengatakan tidak
memiliki jadwal khusus untuk rekreasi keluarga, hanya sesekali anaknya mengajak
berwisata. An. H mengatakan jika banyak kegiatan dan dirinya stress maka dia
akan main keluar dengan teman-temannya, biasanya nongkrong sambil mengobrol
tidak jelas, main ke warnet atau rental PS dan menonton balapan motor. An. H
juga mengatakan sering main dengan teman-temannya hingga malam hari.
Riwayat dan tahap perkembangan keluarga Bp. R berada dalam tahap
perkembangan keluarga dengan anak remaja dimana tugas perkembangan keluarga
dengan remaja yaitu: Memberikan kebebasan yang seimbang dengan tanggung
jawab remaja mengingat remaja yang sudah bertambah dewasa, mempertahankan
hubungan yang intim dalam keluarga, mempertahankan komunikasi terbuka antara

1
anak dan orang tua, hindari perdebatan Ibu. R mengatakan bahwa An. H adalah
anak pendiam dan jarang berbicara jika tidak ditanya. Terutama saat memasuki
usia remja An. H sudah jarang berkumpul dengan keluarga, jika berada dirumah
An. H banyak menghabiskan waktu di dalam kamarnya. An. H mengatakan jarang
berbicara dengan Bp. R karena menurut An. H bapaknya itu galak dan kalau
menyuruh sesuatu, misalkan belajar, Bp. R sering marah-marah sehingga An. H
malas untuk menanggapinya. Ibu. R mengatakan sebenanrnya Bp. R baik, tetapi
memang agak keras untuk mendidik anak-anaknya. Ibu. R juga mengatakan bahwa
An. H sulit diatur semenjak memasuki SMP. An. H mengtakan tidak mengetahui
tugas perkembangan maupun tanggung jawabnya sebagai remaja., karena
sebelumnya tidak pernah mendapatkan informasi mengenai tugas perkembangan
maupun tanggung jawabnya sebagai remaja.
Rumah yang ditinggali Bp. R sekeluarga adalah rumah permanen
peninggalan orang tua Bp. R yang berukuran 70 m 2. Desain interior rumah terbagi
menjadi 6 ruangan. Terdapat 2 jendela yang kurang lebih yang berukuran 1,5 x 1
meter di depan samping pintu masuk. Namun, jendela yang selalu terlihat terbuka
ini jarang dibersihkan. Anak-anak Bp. R tidak ada yang aktif mengikuti kegiatan
kemasyarakatan di daerah setempat RW 02. An. H mengatakan sudah jarang (suka
membolos) dalam mengikuti pengajian. An. H berteman dengan beberapa teman
seusianya, sering nongkrong di pos hansip dekat rumahnya, bermain ke warnet dan
rental PS dan jalan-jalan dengan menggunakan motor. Ibu. R mengatakan bahwa
komunikasi pada keluarganya menekankan keterbukaan. Namun, An. H
mengatakan lebih suka menceritakan masalahnya kepada teman-temannya
dibandingkan kepada orang tua atau pun keluarganya yang lain. Bp. R sibuk
bekerja dan jarang menyempatkan berbicara kepada anaknya. Ibu. R juga
mengatakan di rumahnya tidak ada peraturan yang jelas tentang apa saja tugas
setiap anggota keluarga. Ibu. R mengatakan urusan anaknya lebih banyak
diserahkan kepada ibuya. An. H mengatakan malas belajar dan jarang mengerjakan
tugas sekolahnya. Ibu. R mengatakan bahwa anaknya jarang belajar dan nilainya
pas-pasan. Ibu. R mengatakan tidak pernah memantau aktivitas belajar anakya di
rumah.
Ibu. R mengatakan bahwa setiap anggota keluarga dalam rumah dapat
saling terbuka dalam menyampaikan pendapat walaupun An. H termasuk anak
yang pendiam dan jarang menyampaikan pendapatnya. Hubungan antar anggota

1
keluarga dalam rumah berjalan degan baik. Ibu. R mengatakan bahwa ketika ada
anggota yang sakit, maka yang sakit akan langsung diberikan obat dari warung
atau dari apotik. Keluarga Ibu. R juga sering memanfaatkan pelayanan kesehatan di
RS, tetapi jika sudah sembuh dengan mengkonsumsi obat warung maka hanya
diobati di rumah saja. Keluarga Bp. R mencemaskan pergaulan An. H yang sudah
memasuki masa remaja. An. H sudah mulai ditawari untuk mencoba merokok
oleh teman-temannya, baik teman di sekolah maupun teman di lingkungan
rumahnya. An. H juga sering nongkrong tidak jelas dengan teman sekoah maupun
teman di sekitar rumahnya tersebut. An. H juga mengatakan pernah ikut-ikutan
tawuran dengan teman-teman sekolahnya. An. H mengatakan sudah memiliki
teman dekat wanita (pacar).
1. Pengkajian
a. Data Umum
1. Nama Keluarga (KK) : Bp. R
2. Jenis Kelamin : Laki-laki
3. Pendidikan Terakhir : SMP
4. Usia : 38 tahun
5. Pekerjaan : Buruh
6. Alamat : RT 02 RW Kelurahan Cisalak Pasar Kec.
Cimanggis
7. Komposisi Keluarga :
Jenis Hubungan
No Nama Usia Pendidikan
Kelamin dg KK
1 Ibu R Perempuan Istri 30 thn SMP
2 An. H Laki-laki Anak 1 14 thn SMP kls 2
3 An. F Perempuan Anak 2 12 thn SD kls 6
4 An. L Perempuan Anak 3 9 thn SD kls 3
5 Nenek R Perempuan Ibu 61 thn SD

Genogram :
Nenek R
61 thn

1
Ibu R
Bp. R
30 thn
38 thn

An. H An. F An. L


14 thn 11 thn 9 thn

1
Keterangan :
: Laki-laki

: Perempuan

: Remaja / Pasien

: Cerai

: Tinggal dalam satu rumah


8. Tipe Keluarga :
Keluarga Bp. R termasusk tipe keluarga extended family (keluarga
luas/besar). Keluarga Bp. R (38 thn) terdiri dari Bp. R, Ibu R, ketiga
anaknya dan ibu dari Bp. R yaitu nenek R (61 thn).
9. Suku Bangsa :
Bp. R berasal dari Jakarta (Betawi) dan istrinya, Ibu R juga berasal
dari Jakarta (Betawi). Bahasa dominan yang mereka gunakan sehari-hari di
rumah adalah Bahasa Indonesia dalam percakapan. Ibu R mengatakan
keluarganya tidak memiliki kebiasaan khusus yang mempengaruhi status
kesehatan keluarga yang diajarkan turun-temurun.
10. Agama :
Seluruh keluarga Bp. R beragama Islam. Kegiatan ibadah
keagamaan keluarga Bp. R yaitu sholat 5 waktu dan puasa dilakukan.
Menurut keluarga Bp. R, agama berperan penting dalam kehidupan mereka,
bahkan dalam hal kesehatan. Ketika ada anggota keluarga yang sedang
sakit, keluarga uga selalu mendoakan untuk kesembuhan anggota keluarga
yang sedang sakit tersebut.
11. Status Sosial Ekonomi Keluarga
Di keuarga Bp. R pencari nafkah utama di keluarga adalah Bp. R
yang bekerja sebagai buruh dengan penghasilan 2.000.000 – 2.500.000
setiap bulan. Selain itu Bp. R juga masih aktif menjadi pembawa acara/MC
di acara-acara pernikahan, maka dari itu Bp. R terlihat jarang ada di rumah.
Ibu R sehari-hari membuka warung yang menjual kebutuhan sehari-hari dan
makanan ringan di rumahnya dengan penghasilan perhari 50.000-an.

1
Keperluan keluarga sehari-hari adalah untuk makan dan jajan An. H, An. F
dan An. L. Ibu R mengatakan bahwa dirinya merasa cukup dengan
penghasilan suaminya saat ini. Bp. R saat ini memiliki tabungan atau dana
kesehatan dari tempatnya bekerja.
12. Aktivitas Rekreasi Keluarga
Keluarga Bp. R tidak memiliki jadwal khusus untuk rekreasi
keluarga, hanya sesekali anaknya mengajak berwisata. Waktu liburan
biasanya disesuaikan dengan jadwal libur kerja dan libur anak sekolah,
tetapi sekarang jarang dilakukan., hanya jika ada waktu saja keluarga pergi
rekreasi. Ibu R juga mengatakan biasanya dirinya berkunjung ke rumah
kerabat yang letak rumahnya berdekatan dengan rumah keluarga Bp. R. Di
rumah Ibu R mengatakan keluarganya dapat menikmatihiburan melalui TV
dan radio yang tersedia di rumahnya. An. H mengatakan jika banyak
kegiatan dan membuat dirinya stress maka dia akan main keluar dengan
teman-temannya, biasanya nongkrong sambil mengobrol tidak jelas, main
ke warnet atau rental PS dan menonton balapan motor. An. H juga
mengatakan sering main dengan teman-temannya hingga malam hari.
b. Riwayat dan Tahap Perkembangan Keluarga
1) Tahap Perkembangan Keluarga Saat Ini :
Termasuk keluarga dengan remaja. Tugas perkembangan keluarga
dengan anak remaja yang dilakukan oleh keluarga antara lain :
a) Menyeimbangkan kebebasan dengan tanggung jawab ketika remaja
menjadi dewasa dan mandiri.
Keluarga sudah memberikan kesempatan bagi An. H untuk memilih
apa yang ingin dilakukan. An. H mengatakan tanggung jawabnya adalah
belajar dan membantu orang tua, itupun jarang dilakukan atas
kemauannya sendiri. An. H sudah memiliki cita-cita, yaitu menjadi
seorang pemain bola, tetapi hanya sebatas harapan dan tidak tahu
bagaimana mencapai tujuannya.
b) Memfokuskan kembali hubungan perkawinan.
Pernikahan Bp. R dan Ibu R saat ini sudah berlangsung selama 15
tahu, anaknya yang paling kecil sudah memasuki usia sekolah. Saat ini,
Ibu R dan Bp. R mengatakan untuk berusaha membesarkan ketiga
anaknya dengan memenuhi segala kebutuhan mereka.

1
2) Tahap Perkembangan Keluarga yang Belum Terpenuhi :
a) Berkomunikasi secara terbuka dengan anak-anak.
Ibu R mengatakan bahwa An. H adalah anak yang pendiam dan
jarang berbicara jika tidak ditanya. Terutama saat memasuki usia
remaja, An. H sudah mulai jarang berkumpul dengan keluarga, jika
berada di rumah An. H banyak menghabiskan waktunya di dalam
kamarnya. An. H mengatakan jarang berbicara dengan Bp. R karena
menurut An. H bapaknya itu galak dan kalau menyuruh sesuatu
misalnya belajar, Bp. R sering marah-marah sehingga An. H malas
untuk menanggapinya. Ibu R mengatakan sebenarnya Bp. R baik, tetapi
memang agak keras untuk mendidik anak-anaknya. Ibu R juga
mengatakan bahwa An. H sulit untuk diatur semenjak memasuki SMP.
An. H mengatakan tugas perkembangan maupun tanggung jawabnya
sebagai remaja, karena sebelumnya tidak pernah mendapatkan
informasi mengenai tugas perkembangan maupun tanggung jawabnya
sebagai remaja.
3) Riwayat Keluarga Inti :
Bp. R dan Ibu R menikah pada tahun 1998, dan anak pertamanya
lahir setahun kemudian. Ibu R dan Bp. R baru memutuskan memakai
kontrasepsi setelah kelahiran anak ke-3. Jenis kontrasepsi yang dipih adalah
pil KB.
4) Riwayat Keluarga Sebelumnya :
Tidak ada riwayat penyakit keluarga yang menurun. Bila sakit,
keluarga Bp. R pergi ke dokter swasta langganan keluarga. Tidak ada pola
makan atau jenis makanan yang dibatasi.
c. Lingkungan
1) Karakteristik Rumah :
Rumah yang ditinggali Bp. R sekeluarga adalah rumah permanen
peninggalan orang tua Bp. R yang berukuran 70 m 2. Desain interior rumah
terbagi menjadi 6 ruangan, yang paling depan adalah ruang tamu. Lalu, 3
ruang tidur dan yang paling belakang adalah dapur dan kamar mandi.
Kamar tidur 1 digunakan oleh Bp. R dan Ibu R, sedangkan 2 kamar tidur
lainnya digunakan oleh anak-anak dan Nenek R yang tinggal bersama Bp.
R dan Ibu R. Lantai rumah terbuat dari kerami. Terdapat 2 jendela yang

1
kurang lebih berukuran 1,5 x 1 meter di depan samping pintu masuk.
Namun, jendela yang terlihat selalu terbuka ini jarang dibersihkan. Warna
dinding rumah adalah putih yang kondisinya cukup bersih. Kondisi rumah
tampak rapi dan bersih dan terdapat beberapa perabot rumah yang sesuai.
Sumber air yang digunakan oleh keluarga berasal dari tanah (sanyo)
sehingga airnya tidak berasa, tidak berwarna dan tidak berbau. Pada saat
hari mulai gelap pencahayaan lampu dalam rumah Bp. R terbilang terang.
Denah Rumah

Kamar Dapur
Mandi

T
Ruang Ruang e
Tudur Keluarga r 10 m
a
s
Ruang Ruang Warung

Tidur Tamu

Teras

7 m
2) Karakteristik Tetangga dan Komunitas RW :
Bp. R jarang berkumpul dengan tentangga karen akesibukannya,
namun Ibu R aktif di arisan PKK dan pengajian yang ada di lingkungan
rumah. Ibu R sendiri tidak bekerja hanya menjadi ibu rumah tangga saja
dan mengurus warung yang ada di rumah. Keluarga Bp. R tinggal di RT 02
RW 02, di sisi kanan rumah Bp. R yaitu rumah saudaranya dan sebelah kiri

1
adalah rumah tetangganya, di belakang rumah ada tanah kosong dan jalan.
Kehidupan bertetangga terlihat rukun dan harmonis.
3) Mobilitas Geografis Keluarga :
Saat ini keluarga Bp. R sudah tinggal menetap di rumah yang
sekarang selama 15 tahun dan tidak berniat untuk pindah. Bp.R sendiri
sudah tinggal di rumah tersebut sejak Bp. R lahir, karena Bp. R adalah anak
tunggal dari kedua orang tuanya yang telah bercerai maka di rumah tersebut
ditinggali keluarga Bp. R dan ibunya. Rumah Bp. R dibangun di atas tanah
milik orang tuanya, kepemilikan tanah masih milik ibunya Bp. R.
4) Perkumpulan Keluarga dan Interaksi dengan Masyarakat :
Bp. R selalu menekankan pada Ibu R supaya mengikuti acara yang
diadakan oleh RT/RW, misalnya pengajian, arisan RT dan kegiatan lainnya.
Apabila ada waktu luang Ibu R mengajak anaknya bermain ke tetangga.
Hubungan anggota keluarga terlihat rukun, tidak ada konflik antara satu
dengan yang lain (terlihat harmonis).
Anak-anak Bp. R tidak ada yang aktif mengikuti kegiatan
kemasyarakatan di daerah setempat RT 02. An. H mengatakan sudah jarang
(suka membolos) dalam mengikuti pengajian. Bp. R sendiri sering diminta
untuk menjadi pembawa acara/MC di acara-acara pernikahan ataupun acara
yang diadakan RT/RW. Ibu R juga bersosialisasi dengan tetangga di kanan,
kiri dan depan rumahnya. Saudara Ibu R tinggal tidak jauh dari rumah Ibu
R, setiap hari selalu bertemu. An. H berteman dengan beberapa teman
seusianya, sering nongkrong di pos hansip dekat rumahnya, bermain ke
warnet dan rental PS dan jalan-jalan dengan menggunakan motor.
5) Sistem Pendukung Keluarga :
Bila ada masalah dalam keluarga, keluarga lebih senang
menyelesaikan dengan anggota keluarga. Kadang juga melibatkan orang
tua, karena dengan orang tua tinggal bersama dan berdekatan. Hal yang
dirasakan sebagai pendukung keluarga adalah keluarga yang tinggal tidak
jauh dari rumah yang memperhatikan bila ada anggota keluarga yang sakit
dan tetangga yang idup saling menghormati serta menghargai. Disamping
itu adanya fasilitas dana kesehatan dari tempat kerja Bp. R untuk anggota
keluarga yang sakit menurut Ibu R sangat membantu keluarga.

1
d. Struktur Keluarga
1) Pola Komunikasi Keluarga :
Ibu R mengatakan bahwa komunikasi dengan keluarganya
menekankan keterbukaan. Bila ada masalah dalam keluarga, Ibu R
mendiskusikan bersama Bp. R, terkadang meminta bantuan nasihat dari
orang tu. Waktu yang biasanya digunakan untuk komunikasi pada saat
santai yaitu malam hari dan waktu makan bersama dengan anggota
keluarga. Namun An. H mengatakan lebih suka menceritakan masalahnya
kepada teman-temannya dibandingkan kepada orang tua ataupun
keluarganya yang lain. Bp. R sibuk bekerja dan jarang menyempatkan
berbicara kepada anaknya.
2) Struktur Kekuatan Keluarga :
Pemegang keputusan di keluarga adalah Bp. R sebagai kepala
keluarga, tetapi tidak menutup kemungkinan suatu ketika Ibu R punya
pendapat sendiri dan membuat keputusan sendiri, misalnya pada saat
membeli keperluan rumah tangga dan mengatur posisi perabotan rumah
tangga. Terkadang Ibu R juga berinisiatif sendiri untuk membawa anaknya
ke pelayanan kesehatan, bila ada yang sakit dan tidak bisa sembuh dengan
mengkonsumsi obat warung.
3) Struktur Peran :
a) Bp. R
Sebagai kepala keluarga, bertanggung jawab dalam mencari nafkah
untuk kebutuhan sehari-hari dalam rumah tangga.
b) Ibu R
Ibu R mengatakan urusan anaknya lebih banyak diserahkan kepada
ibunya. Sebagai istri Bp. R, sebagai ibu rumah tangga dan juga
membuka usaha warung di rumah.
c) An. H
An. H mengatakan malas belajar dan jarang mengerjakan tugas
sekolahnya. Ibu R mengatakan bahwa anaknya jarang belajar dan
nilainya pas-pasan. Ibu R mengatakan tidak pernah membantu aktivitas
belajar anaknya di rumah.
d) An. F

1
Sebagai anak ke dua Bp. R dan Ibu R yang pada tahun ini akan
memasuki SMP. An. F juga berperan sebagai adik dari An. H dan kakak
dari An. L.
e) An. L
Sebagai anak ke tiga Bp. R dan Ibu R juga berperan sebagai adik dari
kedua orang kakaknya yaitu An. H dan An. F.
f) Nenek R
Sebagai ibu dari Bp. R dan nenek dari ketiga cucunya yaitu An. H, An.
F dan An. L.
Ibu R juga mengatakan di rumahnya tidak ada peraturan yang jelas
tentang apa saja tugas setiap anggota keluarga.
4) Nilai dan Norma Keluarga :
Nilai dan norma yang dipegang oleh Bp. R adalah sesuai dengan
nilai-nilai ajaran Islam dan tidak terpengaru oleh norma budaya.
Penerimaan keluarga terhadap perawat sangat baik, setiap masalah yang ada
diutarakan dan menerima kehadiran perawat.
e. Fungsi keluarga
1) Fungsi Efektif :
Ibu R mengatakan bahwa setiap anggota keluarga dalam rumah
dapat saling terbuka dalam menyampaikan pendapat walaupun An. H
termasuk anak yang pendiam dan jarang menyampaikan pendapat.
2) Fungsi Sosialisasi :
Hubungan antar anggota keluarga dalam rumah berjalan dengan
baik. Hubungan anggota keluarga dengan tetangga juga baik apalagi
keluarga Bp. R tergolong paling lama tinggal di wilayah tersebut.
3) Fungsi Perawatan Keluarga :
Ibu R mengatakan bahwa ketika ada anggota keluarga yang sakit,
maka yang sakit akan langsung diberikan obat dari warung atau dari apotek.
Keluarga Ibu R juga sering memanfaatkan pelayanan kesehatan di RS,
tetapi jika sudah sembuh dengan mengkonsumsi obat warung maka hanya
diobati di rumah saja. Bp. R mengatakan bahwa dirinya tidak memiliki
keluhan fisik dan tidak merokok hanya saja jika sedang banyak pekerjaan
yang harus diselesaikannya biasanya Bp. R mengeluhkan pegal-pegal pada
badannya.

1
f. Stress dan Koping Keluarga
1) Stressor Jangka Pendek :
Keluarga Bp. R mencemaskan pergaulan An. H yang sudah memasuki
masa remaja. An. H sudah mulai ditawari untuk mencoba merokok oleh
teman-temannya, baik teman di sekolah maupun teman di lingkungan
rumahnya. An. H juga sering nongkrong tidak jelas dengan teman sekolah
maupun teman di lingkungannya tersebut. An. H juga mengatakan pernah
ikut-ikutan tawuran dengan teman-teman sekolahnya. An. H mengatakan
sudah memiliki teman dekat wanita (pacar).
2) Stressor Jangka Panjang :
Ibu R mengeluhkan biaya sekolah ketiga anaknya yang semakin mahal,
terlebih lagi tahun ini anak keduanya yaitu An. F akan lulus dari SD dan
akan memasuki SMP.
3) Kemampuan Keluarga Berespon Terhadap Masalah :
Jika ada masalah, keluarga berupaya untuk mencari jalan keluar dari
masalah tersebut dengan jalan musyawarah. Keluarga meyakini kalau setiap
masalah ada jalan keluarnya, misalnya dengan meminta bantuan dari orang
tua dan tetangga yang terdekat.
4) Strategi Koping yang Digunakan :
Ibu R mengatakan selalu menyerahkan semua masalah yang terjadi
kepada Allah SWT tetapi tetap berusaha untuk mengatasi masalah yang
ada.
5) Strategi Adaptasi Disfungsional :
Tidak ada.
g. Harapan Keluarga
Keluarga berharap dengan kedatangan perawat berkunjung ke rumahnya
adalah keluarga dapat mengetahui status kesehatan keluarga. Dengan demikian
keluarga berharap akan selalu berada dalam kondisi sehat lahir dan batin.
Mereka juga berharap akan banyak mendapatkan banyak pengetahuan tentang
berbagai macam jenis penyakit dan cara perawatannya

1
h. Pemeriksaan Fisik
TD Nadi RR Suhu BB TB
No Nama
(mmHg) (x/menit) (x/menit) (0C) (Kg) (cm)
1 Bp. R
130/90 86 21 36,7 68 172
(38 tahun)
Keluhan/RPS Tidak memiliki keluhan fisik
Riwayat Bp. R mengatakan
penyakit
dahulu
Pemeriksaan Kepala :
Fisik Bentuk kepala dan muka simetris, klien dapat merasakan
benda tumpul dan tajam, gerakan pipi, rahang, dan alis
simetris.
Mata :
Isokor, bola mata dapat mengikuti arah gerakan tangan
pemeriksa, tidak ada nyeri tekan, diameter pupil ± 2 mm,
reaksi cahaya +/+, konjungtiva tidak anemis, kornea tidak
ikterik, memakai kacamata jika membaca.
Mulut dan Hidung :
Bibir simetris, mukosa lembab, lidah simetris, dapat
bergerak ke kiri dan ke kanan, tidak pucat, lidah dapat
merasakan asam, asin, manis dengan baik.
Bentuk hidung simetris, warna kulit sama dengan kulit
sekitarnya, tidak terdapat lesi atau cairan, mukosa hidung
lembab, terdapat bulu hidung, uji penciuman baik.
Telinga :
Daun telinga simetris kiri dan kanan, bersih, tidak ada
benjolan, tidak bengkak, tidak ada nyeri tekan, tidak ada
serumen. Klien tampak mendengar dengan baik.
Leher :
Bentuk simetris, warna sama dengan kulit, tidak terdapat
pembesaran JPV dan tiroid. Tidak terdapat massa. Dapat
bergerak proporsional ke kiri, kanan, atas, dan bawah tanpa
ada nyeri.
Jantung :
Tidak terdapat tonjolan dan massa pada dada, tidak ada
retraksi intercostae, terdengar dullness pada perkusi batas

1
jantung, BJ 1 dan BJ 2 terauskultasi normal, serta tidak
terdapat mur-mur dan gallop.
Paru-paru :
Pengembangan simetris, warna dada sama dengan kulit
lainnya (tidak terdapat lebam, kebiruan), tidak terdapat
tonjolan abnormal, pernafasan 21 x/menit, tactil fremitus
sama kiri dan kanan, bunyi nafas terauskultasi vesikuler, dan
tidak terdapat suara tambahan.
Abdomen :
Perut terlihat datar dan warnanya sama dengan kulit lainnya
(tidak ada lebam dan kemerahan), perut teraba lemas, tidak
terdapat nyeri tekan, tidak teraba massa, hepar tidak teraba,
bising usus terdengar 10x/menit.
Ekstremitas :
Terlihat bahu simetris, warna sama dengan kulit, tidak
terdapat tonjolan, dapat mengangkat dan menahan beban
dengan baik, refleks brachioradialis normal kiri dan kanan,
refleks platela normal kiri dan kanan, kekuatan otot : 5 5
5 5
Kulit :
Kulit terlihat bersih, tidak bau, warna sawo matang, tidak
ada lesi, sensitifitas terhadap benda tumpul dan tajam baik.
TD Nadi RR Suhu BB TB
No Nama 0
(mmHg) (x/menit) (x/menit) ( C) (Kg) (cm)
2 Ibu. R
110/70 82 19 36,8 48 154
(30 tahun)
Pemeriksaan Kepala :
Fisik Bentuk kepala dan muka simetris, klien dapat merasakan
benda tumpul dan tajam, gerakan pipi, rahang, dan alis
simetris.
Mata :
Isokor, bola mata dapat mengikuti arah gerakan tangan
pemeriksa, tidak ada nyeri tekan, diameter pupil ± 2 mm,
reaksi cahaya +/+, konjungtiva tidak anemis, kornea tidak
ikterik.
Mulut dan Hidung :
Bibir simetris, mukosa lembab, lidah simetris, dapat

1
bergerak ke kiri dan ke kanan, tidak pucat, lidah dapat
merasakan asam, asin, manis dengan baik.
Bentuk hidung simetris, warna kulit sama dengan kulit
sekitarnya, tidak terdapat lesi atau cairan, mukosa hidung
lembab, terdapat bulu hidung, uji penciuman baik.
Telinga :
Daun telinga simetris kiri dan kanan, bersih, tidak ada
benjolan, tidak bengkak, tidak ada nyeri tekan, tidak ada
serumen. Klien tampak mendengar dengan baik.
Leher :
Bentuk simetris, warna sama dengan kulit, tidak terdapat
pembesaran JPV dan tiroid. Tidak terdapat massa. Dapat
bergerak proporsional ke kiri, kanan, atas, dan bawah tanpa
ada nyeri.
Jantung :
Tidak terdapat tonjolan dan massa pada dada, tidak ada
retraksi intercostae, terdengar dullness pada perkusi batas
jantung, BJ 1 dan BJ 2 terauskultasi normal, serta tidak
terdapat mur-mur dan gallop.
Paru-paru :
Pengembangan simetris, warna dada sama dengan kulit
lainnya (tidak terdapat lebam, kebiruan), tidak terdapat
tonjolan abnormal (juga pada payudara), pernafasan 19
x/menit, tactil fremitus sama kiri dan kanan, bunyi nafas
terauskultasi vesikuler dan tidak terdapat suara tambahan.
Abdomen :
Perut terlihat bulat dan warnanya sama dengan kulit lainnya
(tidak ada lebam dan kemerahan), perut teraba lemas, tidak
terdapat nyeri tekan, tidak teraba massa, hepar tidak teraba,
bising usus terdengar 9x/menit.
Ekstremitas :
Terlihat bahu simetris, warna sama dengan kulit, tidak
terdapat tonjolan, dapat mengangkat dan menahan beban
dengan baik, refleks brachioradialis normal kiri dan kanan,
refleks platela normal kiri dan kanan, kekuatan otot : 5 5

1
5 5
Kulit :
Kulit terlihat bersih, tidak bau, warna sawo matang, elastis,
tidak ada lesi, sensitifitas terhadap benda tumpul dan tajam
baik.
TD Nadi RR Suhu BB TB
No Nama
(mmHg) (x/menit) (x/menit) (0C) (Kg) (cm)
3 An. H
120/80 88 20 36,5 51 156
(14 tahun)
Pemeriksaan Kepala :
Fisik Bentuk kepala dan muka simetris, klien dapat merasakan
benda tumpul dan tajam, gerakan pipi, rahang, dan alis
simetris.
Mata :
Isokor, bola mata dapat mengikuti arah gerakan tangan
pemeriksa, tidak ada nyeri tekan, diameter pupil ± 2 mm,
reaksi cahaya +/+, konjungtiva tidak anemis, kornea tidak
ikterik.
Mulut dan Hidung :
Bibir simetris, mukosa lembab, lidah simetris, dapat
bergerak ke kiri dan ke kanan, tidak pucat, lidah dapat
merasakan asam, asin, manis dengan baik.
Bentuk hidung simetris, warna kulit sama dengan kulit
sekitarnya, tidak terdapat lesi atau cairan, mukosa hidung
lembab, terdapat bulu hidung, uji penciuman baik.
Telinga :
Daun telinga simetris kiri dan kanan, bersih, tidak ada
benjolan, tidak bengkak, tidak ada nyeri tekan, tidak ada
serumen. Klien tampak mendengar dengan baik.
Leher :
Bentuk simetris, warna sama dengan kulit, tidak terdapat
pembesaran JPV dan tiroid. Tidak terdapat massa. Dapat
bergerak proporsional ke kiri, kanan, atas, dan bawah tanpa
ada nyeri.
Jantung :
Tidak terdapat tonjolan dan massa pada dada, tidak ada
retraksi intercostae, terdengar dullness pada perkusi batas

1
jantung, BJ 1 dan BJ 2 terauskultasi normal, serta tidak
terdapat mur-mur dan gallop.
Paru-paru :
Pengembangan simetris, warna dada sama dengan kulit
lainnya (tidak terdapat lebam, kebiruan), tidak terdapat
tonjolan abnormal, pernafasan 20 x/menit, tactil fremitus
sama kiri dan kanan, bunyi nafas terauskultasi vesikuler dan
tidak terdapat suara tambahan.
Abdomen :
Perut terlihat bulat dan warnanya sama dengan kulit lainnya
(tidak ada lebam dan kemerahan), perut teraba lemas, tidak
terdapat nyeri tekan, tidak teraba massa, hepar tidak teraba,
bising usus terdengar 9x/menit.
Ekstremitas :
Terlihat bahu simetris, warna sama dengan kulit, tidak
terdapat tonjolan, dapat mengangkat dan menahan beban
dengan baik, refleks brachioradialis normal kiri dan kanan,
refleks platela normal kiri dan kanan, kekuatan otot : 5 5
5 5
Kulit :
Kulit terlihat bersih, tidak bau, warna gelap, elastis, tidak ada
lesi, sensitifitas terhadap benda tumpul dan tajam baik.
TD Nadi RR Suhu BB TB
No Nama 0
(mmHg) (x/menit) (x/menit) ( C) (Kg) (cm)
4 An. F
110/80 91 21 36,8 36 139
(12 tahun)
Pemeriksaan Kepala :
Fisik Bentuk kepala dan muka simetris, klien dapat merasakan
benda tumpul dan tajam, gerakan pipi, rahang, dan alis
simetris.
Mata :
Isokor, bola mata dapat mengikuti arah gerakan tangan
pemeriksa, tidak ada nyeri tekan, diameter pupil ± 2 mm,
reaksi cahaya +/+, konjungtiva tidak anemis, kornea tidak
ikterik.
Mulut dan Hidung :
Bibir simetris, mukosa lembab, lidah simetris, dapat

1
bergerak ke kiri dan ke kanan, tidak pucat, lidah dapat
merasakan asam, asin, manis dengan baik.
Bentuk hidung simetris, warna kulit sama dengan kulit
sekitarnya, tidak terdapat lesi atau cairan, mukosa hidung
lembab, terdapat bulu hidung, uji penciuman baik.
Telinga :
Daun telinga simetris kiri dan kanan, bersih, tidak ada
benjolan, tidak bengkak, tidak ada nyeri tekan, tidak ada
serumen. Klien tampak mendengar dengan baik.
Leher :
Bentuk simetris, warna sama dengan kulit, tidak terdapat
pembesaran JPV dan tiroid. Tidak terdapat massa. Dapat
bergerak proporsional ke kiri, kanan, atas, dan bawah tanpa
ada nyeri.
Jantung :
Tidak terdapat tonjolan dan massa pada dada, tidak ada
retraksi intercostae, terdengar dullness pada perkusi batas
jantung, BJ 1 dan BJ 2 terauskultasi normal, serta tidak
terdapat mur-mur dan gallop.
Paru-paru :
Pengembangan simetris, warna dada sama dengan kulit
lainnya (tidak terdapat lebam, kebiruan), tidak terdapat
tonjolan abnormal (juga pada payudara), pernafasan 21
x/menit, tactil fremitus sama kiri dan kanan, bunyi nafas
terauskultasi vesikuler dan tidak terdapat suara tambahan.
Abdomen :
Perut terlihat bulat dan warnanya sama dengan kulit lainnya
(tidak ada lebam dan kemerahan), perut teraba lemas, tidak
terdapat nyeri tekan, tidak teraba massa, hepar tidak teraba,
bising usus terdengar 8x/menit.
Ekstremitas :
Terlihat bahu simetris, warna sama dengan kulit, tidak
terdapat tonjolan, dapat mengangkat dan menahan beban
dengan baik, refleks brachioradialis normal kiri dan kanan,
refleks platela normal kiri dan kanan, kekuatan otot : 5 5

1
5 5
Kulit :
Kulit terlihat bersih, tidak bau, warna sawo matang, elastis,
tidak ada lesi, sensitifitas terhadap benda tumpul dan tajam
baik.
TD Nadi RR Suhu BB TB
No Nama
(mmHg) (x/menit) (x/menit) (0C) (Kg) (cm)
5 An. L
110/70 92 22 36,9 31 134
(9 tahun)
Pemeriksaan Kepala :
Fisik Bentuk kepala dan muka simetris, klien dapat merasakan
benda tumpul dan tajam, gerakan pipi, rahang, dan alis
simetris.
Mata :
Isokor, bola mata dapat mengikuti arah gerakan tangan
pemeriksa, tidak ada nyeri tekan, diameter pupil ± 2 mm,
reaksi cahaya +/+, konjungtiva tidak anemis, kornea tidak
ikterik.
Mulut dan Hidung :
Bibir simetris, mukosa lembab, lidah simetris, dapat
bergerak ke kiri dan ke kanan, tidak pucat, lidah dapat
merasakan asam, asin, manis dengan baik.
Bentuk hidung simetris, warna kulit sama dengan kulit
sekitarnya, tidak terdapat lesi atau cairan, mukosa hidung
lembab, terdapat bulu hidung, uji penciuman baik.
Telinga :
Daun telinga simetris kiri dan kanan, bersih, tidak ada
benjolan, tidak bengkak, tidak ada nyeri tekan, tidak ada
serumen. Klien tampak mendengar dengan baik.
Leher :
Bentuk simetris, warna sama dengan kulit, tidak terdapat
pembesaran JPV dan tiroid. Tidak terdapat massa. Dapat
bergerak proporsional ke kiri, kanan, atas, dan bawah tanpa
ada nyeri.
Jantung :
Tidak terdapat tonjolan dan massa pada dada, tidak ada
retraksi intercostae, terdengar dullness pada perkusi batas

1
jantung, BJ 1 dan BJ 2 terauskultasi normal, serta tidak
terdapat mur-mur dan gallop.
Paru-paru :
Pengembangan simetris, warna dada sama dengan kulit
lainnya (tidak terdapat lebam, kebiruan), tidak terdapat
tonjolan abnormal (juga pada payudara), pernafasan 22
x/menit, tactil fremitus sama kiri dan kanan, bunyi nafas
terauskultasi vesikuler dan tidak terdapat suara tambahan.
Abdomen :
Perut terlihat bulat dan warnanya sama dengan kulit lainnya
(tidak ada lebam dan kemerahan), perut teraba lemas, tidak
terdapat nyeri tekan, tidak teraba massa, hepar tidak teraba,
bising usus terdengar 8x/menit.
Ekstremitas :
Terlihat bahu simetris, warna sama dengan kulit, tidak
terdapat tonjolan, dapat mengangkat dan menahan beban
dengan baik, refleks brachioradialis normal kiri dan kanan,
refleks platela normal kiri dan kanan, kekuatan otot : 5 5
5 5
Kulit :
Kulit terlihat bersih, tidak bau, warna gelap, elastis, tidak ada
lesi, sensitifitas terhadap benda tumpul dan tajam baik.
TD Nadi RR Suhu BB TB
No Nama 0
(mmHg) (x/menit) (x/menit) ( C) (Kg) (cm)
6 Nenek. R
140/90 90 23 37 52 155
(61 tahun)
Pemeriksaan Kepala :
Fisik Bentuk kepala dan muka simetris, klien dapat merasakan
benda tumpul dan tajam, gerakan pipi, rahang, dan alis
simetris.
Mata :
Isokor, bola mata dapat mengikuti arah gerakan tangan
pemeriksa, tidak ada nyeri tekan, diameter pupil ± 2 mm,
reaksi cahaya +/+, konjungtiva tidak anemis, kornea tidak
ikterik.
Mulut dan Hidung :
Bibir simetris, mukosa lembab, lidah simetris, dapat

1
bergerak ke kiri dan ke kanan, tidak pucat, lidah dapat
merasakan asam, asin, manis dengan baik.
Bentuk hidung simetris, warna kulit sama dengan kulit
sekitarnya, tidak terdapat lesi atau cairan, mukosa hidung
lembab, terdapat bulu hidung, uji penciuman baik.
Telinga :
Daun telinga simetris kiri dan kanan, bersih, tidak ada
benjolan, tidak bengkak, tidak ada nyeri tekan, tidak ada
serumen. Klien tampak mendengar dengan baik.
Leher :
Bentuk simetris, warna sama dengan kulit, tidak terdapat
pembesaran JPV dan tiroid. Tidak terdapat massa. Dapat
bergerak proporsional ke kiri, kanan, atas, dan bawah tanpa
ada nyeri.
Jantung :
Tidak terdapat tonjolan dan massa pada dada, tidak ada
retraksi intercostae, terdengar dullness pada perkusi batas
jantung, BJ 1 dan BJ 2 terauskultasi normal, serta tidak
terdapat mur-mur dan gallop.
Paru-paru :
Pengembangan simetris, warna dada sama dengan kulit
lainnya (tidak terdapat lebam, kebiruan), tidak terdapat
tonjolan abnormal (juga pada payudara), pernafasan 23
x/menit, tactil fremitus sama kiri dan kanan, bunyi nafas
terauskultasi vesikuler dan tidak terdapat suara tambahan.
Abdomen :
Perut terlihat bulat dan warnanya sama dengan kulit lainnya
(tidak ada lebam dan kemerahan), perut teraba lemas, tidak
terdapat nyeri tekan, tidak teraba massa, hepar tidak teraba,
bising usus terdengar 8x/menit.
Ekstremitas :
Terlihat bahu simetris, warna sama dengan kulit, tidak
terdapat tonjolan, dapat mengangkat dan menahan beban
dengan baik, refleks brachioradialis normal kiri dan kanan,
refleks platela normal kiri dan kanan, kekuatan otot : 5 5

1
5 5
Kulit :
Kulit terlihat bersih, tidak bau, warna sawo matang, elastis,
tidak ada lesi, sensitifitas terhadap benda tumpul dan tajam
baik.

Kesimpulan hasil pemeriksaan fisik :


Bp. R :
Keadaan umum baik, kesadaran composmentis, tidak memiliki kelainan pada
pemerikasaan fisiknya, Bp. R tidak mengeluhkan keadaan fisiknya, tidak merokok,
aktif berkegiatan, tidak ada riwayat penyakit keturunan.
Ibu R :
Keadaan umum baik, kesadaran composmentis, tidak memiliki kelainan pada
pemerikasaan fisiknya, Ibu R tidak mengeluhkan keadaan fisiknya, tidak merokok,
aktif berkegiatan, tidak ada riwayat penyakit keturunan.
An. H
Keadaan umum baik, kesadaran composmentis, memiliki postur tubuh seimbang,
tidak meiliki keluhan fisik, tidak ada riwayat pengobatan dalam 3 bulan.
An. F
Keadaan umum baik, kesadaran composmentis, memiliki postur tubuh seimbang,
tidak meiliki keluhan penyakit, tidak ada riwayat pengobatan dalam 3 bulan.
An. L
Keadaan umum baik, kesadaran composmentis, memiliki postur tubuh kurus, tidak
meiliki keluhan fisik, tidak ada riwayat pengobatan dalam 3 bulan.
Nenek R
Keadaan umum baik, kesadaran composmentis, merokok, tidak meiliki keluhan
fisik, penglihatan mulai berkurang, tidak ada riwayat pengobatan dalam 3 bulan.
2. Analisa Data
No. Data Etiologi Problem
1. DS : Ketidak mampuan Penampilan peran
- Ibu. R mengatakan dirumahnya keluarga mengenal tidak efektif pada
tidak ada peraturan yang jelas masalah tentang remaja An. H
tentang apa saja tugas setiap tugas dan fungsi keluarga Bp. R
anggota keluarga. perkembangan

1
- An. H mengatakan tidak keluarga dengan
mengetahui tugas anak
perkembangan maupun remaja/Harapan
tanggung jawabnya sebagai peran tidak realistis
remaja.
- An. H mengatakan sebelumnya
tidak pernah mendapatkan
informasi mengenai tugas
perkembangan maupun
tanggung jawabnya sebagai
remaja.
- Ibu. R mengatakan urusan
anaknya lebih banyak
diserahkan kepada ibunya
DO :
- An. H marupakan anak pertama
dalam keluarga.
- An. H berusia 14 tahun, berada
pada masa remaja awal.
- Dirumahnya tidak ada yang
mengajarkan peran dan
tanggung jawab kepada remaja
(An. H)
2. DS : Ketidak mampuan Gangguan interaksi
- Ibu. R mengatakan urusan keluarga mengenal sosial keluarga Bp.
anaknya lebih banyak masalah tentang R
diserahkan kepada ibunya pentingnya
- Ibu. R mengatakan An. H lebih komunikasi efektif
suka menghabiskan waktunya antara orang tua
didalam kamar dan jarang dan
belajar sehingga nilai yang remaja/Hubungan
didapat disekolah pas-pasan orang tua-anak
dari pada berkumpul dengan tidak memuaskan
keluarga

1
- Ibu. R mengatakan Bp. R
memang agak keras untuk
mendidik anak-anaknya
- An. H mengakui tidak pernah
menceritakan masalah yang
dihadapinya pada orang tua
- An. H mengatakan kadang
percakapan dengan orang tua
akan berakhir dengan
ketegangan
- An. H mengatakan lebih suka
menceritakan masalahnya
kepada teman-temannya
debandingkan kepada orang tua
ataupun keluarganya yang lain.
DO :
- Bp. R sibuk bekerja dan jarang
menyempatkan berbicara
kepada anaknya.

3. Diagnosa Keperawatan
1. Penampilan peran tidak efektif pada remaja An. H keluarga Bp. R
2. Gangguan interaksi sosial keluarga Bp. R
4. Scoring/ Pembobotan dan Penentuan Prioritas Masalah
1. Penampilan peran tidak efektif pada remaja An. H keluarga Bp. R

Kriteria BOBOT TOTAL Pembenaran


SIFAT MASALAH Saat ini An. H masih
- - Keadaan sejahtera (3) 1 3/3 x 1 = 1 dalam tahap
- Defisit kesehatan (3) perkembangan remaja
- Ancaman kesehatan yang membutuhkan
(2) perhatian dan
- Krisis yang dialami komunikasi yang efektif
(1) dalam mengungkapkan
masalahnya. Orang tua

1
biasanya hanya
menanyakan kemana
An. H pergi dan kadang
memarahi jika ada
masalah dengan sekolah.
KEMUNGKINAN An. H masih dapat
MASALAH DAPAT diajak
DIUBAH berkomunikasi dan
- Mudah (2) 2 2/2 x 2 = 2 menurut pada orang
- Sebagian (1) tuanya, melalui
- Tidak dapat (0) pendekatan komunikasi
yang efektif akan
pengenalan peran dan
tanggung jawab remaja
maka penerapan peran
pada remaja di keluarga
Bp. R akan efektif.
POTENSIAL Adanya perhatian yang
MASALAH DAPAT baik dari orang tua dan
DICEGAH saudara An. H akan
- Tinggi (3) 1 1/3 x 1 = 1/3 perkembangan peran dan
- Cukup (2) tanggung jawabnya.
- Rendah (1)
MENONJOLKAN Keluarga mengatakan
MASALAH ada masalah dan segera
- Masalah berat, harus 1 2/2 x 1 = 1 perlu ditangani karena
segera diatasi (2) mereka takut anaknya
- Tidak membutuhkan tidak bisa penerapkan
perhatian dan tidak peran dan tanggung
segera diatasi (1) jawab remaja di
- Tidak dirasakan keluarga.
sebagai masalah atau
kondisi yang
membutuhkan

1
perubahan (0)
Total 4 1/3
2. Gangguan interaksi sosial keluarga Bp.R
Kriteria SKOR Hasil Pembenaran
SIFAT MASALAH Timbul mekanisme
- - Keadaan sejahtera 1 3/3 x 1 = 1 koping negatif baik pada
(3) orangtua, keluarga
- Defisit kesehatan (3) maupun remaja karena
- Ancaman kurangnya kualitas
kesehatan(2) komunikasi antara
Krisis yang dialami (1) mereka.
KEMUNGKINAN Pola komunikasi antara
MASALAH DAPAT 2 2/2 x 2 = 2 remaja dan orang tua
DIUBAH merupakan suatu proses
- Mudah (2) yang harus dimulai dan
- Sebagian (1) dijaga
Tidak dapat (0) keberlangsungannya,
keluarga sudah
memberikan respon
positif dengan bertanya
cara komunikasi yang
baik dengan remaja.
POTENSIAL Keluarga sudah
MASALAH DAPAT 1 3/3 x 1 = 1 mengetahui stressor dan
DICEGAH cara mencegahnya.
- Tinggi (3)
- Cukup (2)
- Rendah (1)
MENONJOLKAN Keluarga menganggap
MASALAH 1 1/2 x 1 = 1/2 masalah terjadi tetapi
- Masalah berat, harus tidak menjadikan
segera diatasi (2) masalah ini prioritas
- Tidak membutuhkan utama.
perhatian dan tidak
segera diatasi (1)

1
Tidak dirasakan
sebagai masalah atau
kondisi yang
membutuhkan
perubahan (0)
Total 4 1/2
5. Prioritas Diagnosa Keperawatan
1. Penampilan peran tidak efektif pada remaja An. H keluarga Bp. R
2. Gangguan interaksi sosial keluarga Bp.R
6. Intervensi

1
Diagnosa SLKI SIKI
N ANALISA Keperawatan
Kode Diagnosa Kode Kriteria hasil Kode Intervensi
O DATA
1 DS : Penampila TUK : 1 TUK :
. - Ibu. R n peran Setelah Keluarga mampu
mengatakan tidak 13119 dilakukan mengenal masalah
dirumahnya 00055 efektif intervensi 13478 kesehatan anggota
tidak ada pada keluarga keluarga.
peraturan remaja 05037 mampu Inervensi :
yang jelas An. H mengenal Dukungan
tentang apa keluarga masalah, penampilan Peran
saja tugas Bp. R 13114 dengan kriteria - Observasi
setiap hasil : 1.Identifi
anggota 1. Penampilan kasi
keluarga. 13115 peran berbagai
- An. H membaik peran dan
mengatakan 2. Adaptasi periode
tidak disabilitas transisi
mengetahui meningkat sesuai
tugas 3. Fungsi tingkat
perkembang keluarga perkemba
an maupun membaik ngan
tanggung 4. Interaksi 2.
jawabnya sosial ingkat Identifika
sebagai si peran
remaja. yang ada
- An. H dalam
mengatakan keluarga
sebelumnya - Terapeuti
tidak pernah k
mendapatka 1.Fasilitas
n informasi i adaptasi
mengenai peran
tugas keluarga

1
perkembang terhadap
an maupun perubaha
tanggung n peran
jawabnya yang
sebagai tidak
remaja. diinginka
- Ibu. R n
mengatakan 2.Fasilitas
urusan i diskusi
anaknya harapan
lebih dengan
banyak keluarga
diserahkan dalam
kepada peran
ibunya timbal
DO : balik
- An. H - Edukasi
marupakan 1.Diskusi
anak kan
pertama perilaku
dalam yang
keluarga. dibutuhka
- An. H n untuk
berusia 14 pengemba
tahun, ngan
berada pada peran
masa 2.Diskusi
remaja kan
awal. perubaha
Dirumahnya n peran
tidak ada yang dalam
mengajarkan menerima
peran dan ketergant
tanggung ungan

1
jawab kepada orangtua
remaja (An. H) - Kolaboras
i
1. Rujuk
dalam
kelompok
untuk
mempelaj
ari peran
baru
2 DS : Gangguan TUK : TUK :
. - Ibu. R interaksi Setelah Intervensi :
mengatakan sosial 13115 dilakukan Terapi Keluarga
urusan 0118 keluarga intervensi 09322 - Observasi
anaknya Bp.R 13113 keluarga 1. Identifikasi pola
lebih mampu komunikasi
banyak 09074 mengenal keluarga
diserahkan masalah, 2. Identifikasi cara
kepada 09073 dengan kriteria keluarga
ibunya hasil : memecahkan
- Ibu. R 13116 1. Interaksi masalah
mengatakan sosial 3. Identifikasi
An. H lebih meningkat hubungan
suka 2. Dukungan hierarkis anggota
menghabisk sosial keluarga
an meningkat` - Terapeutik
waktunya 3. Ketahanan 1. Fasilitasi
didalam keluarga diskusi keluarga
kamar dari meningkat 2. Disfusikan cara
pada 4. ketahanan terbaik dalam
‘berkumpul personal menangani
dengan meningkat disfungsi perilaku
keluarga 5. Keterlibatan dalam keluarga
- Ibu. R sosial 3. Diskusikan

1
mengatakan meningkat strategi
Bp. R penyelesaian
memang masalah yang
agak keras kontruktif
untuk - Edukasi
mendidik 1. Anjurkan
anak- anggota
anaknya memprioritaskan
- An. H dan memilih
mengakui masalah keluarga
tidak pernah 2. Anjurkan
menceritaka berkomunikasi
n masalah lebih efektif
yang 3. Anjurkan semua
dihadapinya anggota keluarga
pada orang berpartisipasi
tua dalam pekerjaan
- An. H rumah tangga
mengatakan bersama-sama
kadang (mis. makan
percakapan bersama)
dengan
orang tua
akan
berakhir
dengan
ketegangan
- An. H
mengatakan
lebih suka
menceritaka
n
masalahnya
kepada

1
teman-
temannya
debandingk
an kepada
orang tua
ataupun
keluarganya
yang lain.
DO :
- Bp. R sibuk
bekerja dan
jarang
menyempat
kan
berbicara
kepada
anaknya.

7. Implementasi dan Evaluasi

1
No Diagnosa Hari Implementasi Evaluasi Paraf
Keperawatan Tanggal (SOAP)
Waktu
1. Penampilan Selasa, 27 TUK I : Subjektif :
peran tidak April 2020 Keluarga 1. An. H
efektif pada 10:00- mampu mengatakan
remaja An. H 10:30 mengenal mengerti dengan
keluarga Bp. masalah informasi yang
R penampilan diberikan terkait
peran pada An. peran sebagai anak
H yang dirasakan
1.Menentukan 2. An. H
kesiapan pada menyatakan sudah
An. H keluarga mengetahui
Bp. R untuk Pertanggung
menerima jawabannya sebagai
informasi peran remaja
2. Memilih 3. An. H paham
metode dan akan ketergantungan
strategi pada ibunya itu
pembelajran membuat perannya
yang tepat sebagai remaja tidak
3.Menyiapkan efektif
lingkungan Objektif :
yang kondusif Assesment :
untuk TUK 1 tercapai,
menerima dimana keluarga
informasi mampu mengetahui
4.Menentukan masalah peran
kemampuan masing-masing
An. H untuk antar keluarga
menerima Planning :
informasi
mengenai peran Lanjutkan pada

1
dalam keluarga perencanaan di TUK
5.Mengevaluasi 2 tentang cara
pencapaian keluarga mengambil
proses keputusan yang
pembelajaran tepat
6. Memberikan
waktu untuk
bertanya dan
berdiskusi
tentang peran
masing dalam
keluarga
7. melibatkan
keluarga jika
dibutuhkan
2. Gangguan Rabu, 28 TUK 1 : Subjektif :
interaksi April 2020 Keluarga 1. Bp. R dan Ibu. R
sosial 10:00- mampu mengatakan sudah
keluarga Bp.R 10:30 mengenal memahami masalah
masalah interaksi sosial yang
gangguan terjadi dalam
interaksi sosial keluarga
yang terjadi 2. Anak. H
dalam keluarga menyatakan tela
mengetahui banyak
1. Menetukan hal mengenai
kesiapan pentingnya
keluarga Bp. komunikasi antar
untuk keluarga
menerima 3. Bp. R
informasi menyatakan akan
2. Menentukan menyeimbangkan
kemampuan antara pekerjaan dan
keluarga Bp. R komunikasi yang

1
untuk efektif pada istri dan
menerima anak
informasi yang Objektif :
spesifik terkait 1. 1.Bp. R sudah
interaksi sosial mengetahui peran
3. Memilih sebagai
metode dan pertanggungjawaba
strategi n dalam keluarga
pembelajaran 2. Interaksi sosial
yang tepat antar orangtua-anak
4. Menyiapkan sudah membaik
lingkungan 3. anak. H sudah
ynag kondusif mulai menceritakan
untuk masalahnya pada
menerima orangtuanya
informasi 4. Bp. R sudah
5.Mengevaluasi mampu
pencapaian mepertimbangkan
proses pekerjaan dan peran
pembelajaran sebagai ayah untuk
6. Memberikan anak dan istrinya
pembenaran Assesment :
apabilan TUK 1 tercapai,
kelompok dimana keluarga
keluarga mampu berinteraksi
mengalami sosial dalam
kurang berbagai masalah
pemahaman Planning :
tentang Lanjutkan pada
interaksi sosial perencanaan di TUK
antar keluarga 2 tentang cara
7. Memberikan keluarga mengambil
waktu untuk keputusan yang
bertanya dan tepat

1
berdiskusi
tentang
terjadinya
gangguan
interaksi sosial
antara
orangtua-anak

BAB IV
PENUTUP
A. Kesimpulan

1
Perkembangan keluarga merupakan proses perubahan yang terjadi pada
sistem keluarga meliputi; perubahan pola interaksi dan hubungan antar anggota
keluarga disepanjang waktu. Perubahan ini terjadi melalui beberapa tahapan atau
kurun waktu tertentu.Pada setiap tahapan mempunyai tugas perkembangan yang
harus dipenuhi agar tahapan tersebut dapat dilalui dengan sukses.
Keluarga adalah sekumpulan orang dengan ikatan perkawinan, kelahiran, dan
adopsi yang bertujuan untuk menciptakan, mempertahankan budaya, dan
meningkatkan perkembangan fisik, mental, emosional, serta sosial dari tiap
anggota keluarga.
Peranan keluarga menggambarkan seperangkat perilaku interpersonal, sifat,
kegiatan, yang berhubungan dengan individu dalam posisi dan situasi tertentu.
Peranan individu dalam keluarga didasari oleh harapan dan pola perilaku dari
keluarga, kelompok dan masyarakat
B. Saran
Upaya untuk meningkatkan pengetahuan tentang kesehatan keluarga melalui
penyuluhan mengenai peran anggota keluarga dan perkembangan keluarga sesuai
jenjang merupakan langkah yang tepat dilakukan guna mencapai kebutuhan
kesehatan keluarga yang optimal. Upaya ini perlu dikembangkan dan ditingkatkan,
untuk itu perlu dukungan oleh pihak-pihak yang peduli terhadap kesehatan
keluarga.

1
DAFTAR PUSTAKA

BKKBN. 2012. Laporan situasi kependudukan dunia tahun 2012. Jakarta

Santrock, J. W. 2007. Perkembangan anak edisi kesebelas jilid 2. Jakarta: Erlangga

Setiadi. 2008. Konsep dan proses keperawatan keluarga edisi pertama. Yogyakarta:
Graha Ilmu

Slameto. 2006. Belajar dan faktor-faktor yang mempengaruhinya. Jakarta: Rineka


Cipta

Mubarak, dkk. 2009. Ilmu keperawatan komunitas: konsep dan aplikasi. Jakarta:
Salemba Medika

Al-Mighwar, M. 2006. Psikologi Remaja. Bandung: CV Pustaka Setia

Wong, D. L. 2008. Buku Ajar Keperawatan Pediatrik. Jakarta: EGC

Sarwono. 2011. Psikologi Remaja. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada

ners.unair.ac.id/materikuliah/askep%20remaja%20new.pdf

PPNI (2018). Standar Intervensi Keperawatan Indonesia: Defenisi dan Tindakan


Keperawatan, Edisi 1. Jakarta: DPP PPNI.
PPNI (2018). Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia: Defenisi dan Indikator
Diagnostik, Edisi 1. Jakarta: DPP PPNI.