Anda di halaman 1dari 209

KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, atas berkat
karunia-Nya kami dapatb menyelesaikan penulisan buku Antologi Cerpen. Dalam
penyusunan buku Antologi Cerpen ini penulis telah berusaha semaksimal
mungkin sesuai dengan kemampuan penulis. Sebagai manusia biasa, penulis tidak
luput dari kesalahan dan kekhilafan baik dari segi penulisan dan tata bahasa.

Kami mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang terlibat,


sehingga kami bisa menyelesaikan buku Antologi Cerpen ini. Semoga buku ini
mampu untuk membangkitkan kembali minat baca sebagai motivasi dalam
berkarya, khususnya karya tulis.

Demikian, semoga karya-karya yang ada di dalam buku ini bermanfaat


bagi kita semua, khususnya bagi penulis.
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR

DAFTAR ISI

KUMPULAN CERPEN

Air Mata Cinta

Air Mata yang Diam

Bahagia yang Telah Kutemukan

Berdarah Lagi

Bukan Khayalan Semata

Cinta Pertama Berujung Luka

Cinta Sepanjang Jalan Tol Suramadu

Cinta yang Hilang

Coretan Hidupku

Di Balik Senja Kelabu

Fatamorgana Cinta

First Girlfriend but Not First Love

Friendly Love

Hatimu Diciptakan untuk Siapa?

Hujan Terakhir

I Love You Dad

I’m Fine Thank You

Kamu

Kenan

Kenangan Bus Desa


Keterasingan Rasa yang Terselip dari Melati

Ketika Cinta Bertasbih di Pesantren

Kucuri Itu Bulan

Lily

Love is (Not) Obsession

Mencintaimu Karena Allah

My First Love

Nabastala Senja

Pada Gulita yang Merentas Buta

Penantian Halal

Percayakah Cinta?

Perjuangan Terakhir

Petualangan Cinta Fina

Pujangga yang Ingin Menerbangkan Nama

Selintas Doa

Stay Me Over

Sticky Note

Tak Harus Memiliki

Tentang Kita

Terlanjur Kau Pergi

Usaha dalam Doa

KONTRIBUTOR
Air Mata Cinta

Lina Triwahyuni

“Tuhan, aku belum bisa menerima realita ini. Aku tidak tahu lagi
bagaimana melanjutkan kehidupan, aku tidak mampu.”

Rintih seorang wanita berhidung mancung mengenakan mukena putih


yang membanjiri sajadahnya dengan air mata. Tangan dan wajahnya menengadah
ke atas. Sorotan tajam matanya yang berkaca-kaca menembus atap rumah
bertingkat dua yang dipenuhi dengan ukiran-ukiran relief yang mewah.
Bersemayam di dalam rumah yang besar bak istana, baginya harta bukan lagi hal
yang sulit ia cari. Namun bukan itu yang membuatnya nestapa beberapa bulan
belakangan ini. Ia memiliki cerita patah yang tanpa putus asa untuk disatukannya
kembali. Tetapi, apa yang mau diucap kehendak yang kuasa tidak ada yang
mampu merubahnya. Alunan kesedihan yang ia rasakan sekarang ini, tidak
mampu menahan perihnya hati tersayat yang membuatnya sesenggukan saat
bercerita kepada Tuhan.

Ia adalah Ririn anak seorang konglomerat kaya raya yang jatuh cinta
kepada Rangga, anak saudagar kaya yang tajir. Mereka sudah menjalin cinta dua
tahun terakhir. Keduanya sepakat untuk membawa cintanya hingga ke pelaminan.
Namun, harapan yang sudah digambarkan dalam kanvas kehidupan Ririn
terpecah. Ia jatuh hingga terluka karena harapannya melebur bersama debu yang
terbang hilang tanpa kendali ditiup angin yang mengusirnya jauh. Rangga adalah
bingkai hati Ririn yang sangat dicintainya. Tidak ada satu pun yang mampu
menggugurkan cintanya. Tetapi Rangga, orang yang sangat dicintainya itulah
yang berhasil memupuskan segalanya.

“Rangga apa maksud kamu?” teriak Ririn setelah mendengar pernyataan


bahwa kekasihnya akan menikah dengan gadis lain. Matanya tidak sanggup
membendung deraian yang sangat deras. Cairan bening dan hangat tertumpah
membasahi tanah.
“Ririn, maafin aku. Tidak ada yang bisa menjamin bagaimana kehidupan
kita kedepannya, bukan? Dan sekarang inilah yang kurasakan Rin,” jelas Rangga
menenangkan Ririn, wanita yang pernah menjadi pujaannya.

“Kamu lebih memilih orang baru, ketimbang aku yang berusaha


memahami dan mengerti kamu jutaan detik. Kamu tidak menghargai itu?” cetus
Ririn dengan suara parau. Kini ia tidak lagi bisa menopang berat badannya. Ia
jatuh terkulai di atas tanah yang basah karena air mata. Rangga memilih pergi
setelah Ririn mengusirnya dengan amarah. Kini Ririn hanyalah seonggok derita
yang tertimbun reruntuhan menara harapan.

Hari-harinya tidak lagi bewarna, hanya air mata yang kerap berkiprah di
atas lembaran cerita.

Diary Ririn, 19 November 2001

“Tuhan, jika realita terlalu kejam untukku izinkan aku hidup dalam bait rindu
yang disematkan di malam-malamku. Aku tahu ini akan menjadi penyiksa dalam
hidupku. Tetapi hanya ini yang kumampu. Aku tidak tahu sampai kapan bertahan
dengan kelemahan dan juga penderitaan karena cinta. Aku tidak ingin merusak
nama cinta yang seharusnya bahagia. Tuhan, izinkan aku untuk terus hidup
dalam bait puisi. Karena hanya inilah yang dapat memberikanku intuisi. Dengan
kata-kata ini aku mampu menjalani hari, barisan kata ini yang meniupkan energi
kepadaku untuk kembali melangkah. Walau tidak sejauh yang pernah kurasa
tetapi aku yakin di suatu masa aku akan beranjak melupakan cinta yang
menyakitkan ini. Tuhan, maafkan aku karena telah salah memaknai cinta. Tidak
ada tempat berharap yang paling indah selain kepada-Mu. Biarkan kusulap
kisahku menjadi bait prosa yang akan abadi dalam kitab cinta. Akan kujaga
sisanya. Akan kubawakan kepada yang lebih pantas menerima. Jika separuh
hatiku ini hilang bersama pengkhianatan, izinkanlah ia kembali lagi bersama
kebahagiaan”.
Air Mata yang Diam

Nurhayati Rochmah

Teth… Teth… Teth... Teth… Teth... Bel berbunyi lima kali menandakan
waktu pulang sekolah telah tiba.

"Enaknya ke mana nih?" ujar Vio

"Gue lupa, Ehsan memberiku brosur perlombaan Balap Motorcross


Nasional. Tentu empat sekawan itu akan mengikutinya.”

"Bagaimana jika kita bergabung dengan mereka? Lumayan, jika menang


mendapatkan uang tunai 80 juta rupiah, gila gila gila."

"Baiklah, mari kita latihan sekarang," ucap Rengita.

Sekitar dua jam latihan, mereka bergegas ke rumah Ehsan.

Brummm… Brummm… Brummm… Suara motor itu telah memasuki depan


rumah Ehsan, Pak Bejo langsung membuka gerbang. Kemudian mereka langsung
bersih-bersih dan menuju ke ruang tamu untuk melanjutkan obrolan.

"Pertandingannya kapan?" ucap Rengita.


"Tiga hari lagi."
"Yakin kita ikut lomba nih?" kata Vio kepada Rio.
"Tenang saja. Gue pasti menang,” jawab Rio sedikit tertawa dan
tangannya mengusap rambut Vio .

"Silakan makan!" tuntas Ehsan.

Selesai makan mereka pulang kerumahnya masing-masing. Jam dinding


sudah menunjukkan pukul 09.00 malam. Namun, itu sudah hal biasa bagi mereka.

Hari demi hari waktu telah berlalu, saatnya tiba hari pelaksanaan
sayembara yang ditunggu-tunggu. Setelah tiga hari mereka berlatih dengan cukup
keras, akhirnya mereka akan benar-benar bertarung.
"Saatnya kita menjemput kemenangan," ucap Ehsan.

“Kita pasti bisa."

Mereka sudah siap mengalahkan musuh mereka. Di depan sudah ada


perempuan cantik yang membawa bendera hitam putih dengan pakaian rapi rok
mini dan berdandan anggun.

"Satu, dua, tiga."

Pertandingan sudah dimulai. Ehsan langsung memimpin, disusul teman-


temannya. Kian jauh roda-roda motor itu menapaki bukit demi bukit.

Kedubrakkkkk!! Semua mata tertuju pada motor berwarna hitam hijau. Itu
adalah motor Rio. Dia jatuh dari bukit yang cukup tinggi. Tim medis telah
mendekati Rio yang sudah tidak sadarkan diri. Rengita juga mendekat. Sedangkan
Ehsan, sudah jauh di depan dan kemungkinan ia tidak lagi melihat Rio.

"Rio, Bangun!" teriak Vio yang ternyata air matanya telah menghujani pipi
mulusnya. Tim medis langsung memasukkan Rio ke ambulans. Sirine berbunyi,
Rengita dan Vio langsung mengikuti ambulans ke rumah sakit terdekat.

Setelah sampai di rumah sakit. Rio langsung dibawa ke UGD. Terpaksa


Rengita dan Vio harus menunggu di luar.

"Halo tante Francis," Vio yang menghubungi mamanya Rio yang


sebenarnya masih ada di Amerika.

"Tante, Rio ada di rumah sakit. Dia kecelakaan."

"Dari dulu Tante sudah bilang, jangan ajak Rio balapan motor. Stupid!
Cukup, mulai sekarang jangan berteman dengan Rio."

Tuth… Tuth... Tuth... Vio semakin rapuh akan keadaannya. Sedangkan


Rengita hanya bisa mencoba menenangkan Vio. Sebenarnya di dalam hati yang
paling dalam Vio memendam rasa yang lebih dari sekedar sahabat. Ia mencintai
Rio, wajar kalau Vio khawatir.
Tidak lama kemudian, Ehsan datang membawa kabar bahagia. Dia
menjadi pemenang dan mendapatkan uang 20 juta rupiah. Namun,
kemenangannya itu terasa pahit melihat keadaan Rio yang terbaring lemah dan
tidak tahu lagi bagaimana keadaannya.

"Keluarga Rio?" ucap dokter yang keluar dari ruangan, yang memecah
isak tangis.

"Kami Pak," jawab Vio singkat.

"Maaf, pasien mengalami lumpuh sementara. Pasien bisa sembuh dengan


terapi.”

Tubuh Vio serasa lemas dan hampir pingsan. Tidak lama kemudian, orang
suruhan mama Rio datang dan mengurus semua administrasi dan kebutuhan Rio.

"Apakah kalian teman Rio?” tanya lelaki berdandan rapi itu.

"Iya Pak."

"Silakan menjenguk Rio, karena besok dia akan saya bawa ke Singapura
untuk terapi."

Vio membisu bagai patung yang terbakar. Setelah mereka menjenguk Rio,
mereka langsung pulang dengan rasa khawatir mengawalnya. Setelah semalam
tidak bisa tidur, Vio masih tetap memikirkan Rio. Ia mencoba menghubungi
namun nihil. Gawai Rio tidak aktif, entah rusak ataupun lowbat. Gundah gulana,
ia menjalani hari di sekolah tanpa semangat. Meskipun masih ada Rengita dan
Ehsan, bagi Vio rasa iri benar-benar hilang.

.....

Tuhan, sembuhkan Rio, maka lindungilah. Tuhan sampaikan rasaku padanya.


Aku sangat mencintainya dan beri pengertian kepada mamanya. Jika memang
kau takdirkan untukku, jaga hatinya dan semoga mamanya bisa memahaminya.
Rio aku sayang sama kamu.
Hari-hari doa itu menyelimuti Vio. Tangis-tangis yang mengalir di lubuk
hatinya. Dia rela mengirim ratusan e-mail kepada Rio meskipun tidak pernah
dibalas. Ia juga rela mengirim puluhan surat kepada Rio meskipun tidak dibalas
juga. Hingga rasa itu hampir pudar.

Kring... Kring... Kring... Suara deringan gawai yang memecah lamunan


Vio di balik jendela. Dalam hatinya yang selalu merindukan kabar tentang Rio
dan selalu menginginkan pesan dari Rio.

"Halo." Dan ternyata penantian tiga puluh hari lebih itu membuahkan
hasil. Itu adalah suara Rio.

"Rio, kenapa kamu tidak memberi kabar? Kamu marah sama aku? Kamu
apa kabar? Kapan pulang? Rio I miss you."

"Gue sudah sembuh, hari ini gue pulang."

"Gue sudah tahu semua cerita kamu dari Rengita. Mulai dari perasaan
kamu sampai tentang omelan mama. Sebenarnya gue jauh lebih sayang sama
kamu sejak pertama kamu gabung dengan tim kami. Dan untuk mama , dia sudah
memberi restu. Gue sudah jelasi semuanya dan syukurlah dia mengerti.

"Oke sekarang jika kamu mau, kamu keluar."

Dan ternyata Rio sudah ada di depan rumah, bersama Rengita dan Ehsan.
Dengan bungan mawar yang ia tujukan kepada Vio. Dan Vio langsung memeluk
Rio.

"Terima kasih atas e-mail dan suratmu. Aku sudah tahu semua, aku sayang
sama kamu," bisik Rio di telinga Vio.”

Semuanya terbalas, perjuangan air mata Vio tidak sia-sia, bermula dari
sahabat gila hingga menjalin kasih. Dengan pengorbanan mendapatkan restu.
Dengan ribuan doa kini akhirnya mereka benar-benar menemukan Rasa.
Bahagia yang Telah Kutemukan

Muti’atun Himmatul Khoiriyah

Tidak pernah sedikit pun terlintas dalam benakku akan bersekolah di


tempat ini, apalagi menuliskannya dalam agenda mimpiku. Rasa sakit itu masih
terus membekas dalam diriku. Namun aku bisa apa? Aku bukan siapa-siapa jika
harus berontak. Poin-poin peraturan itu sudah jelas tertulis. Aku hanya bisa
mengikuti alurnya tanpa dapat berbelok seperti apa yang aku inginkan.

Mengapa semesta begitu tidak adil? Mengapa semesta tidak


menganggapku ada? Atau inikah yang dinamakan takdir? Sungguh, aku belum
dapat menerimanya. Air mata itu terus dan terus membasahi pipi yang tidak
berdosa ini. Iri, benci, menjadi santapan rasa sehari-hari. Aku menjerit, dadaku
sesak, namun juga tidak ada yang memahami.

Sayap-sayap mimpiku rapuh, kepercayanku mulai memudar, deretan


mimpiku hilang begitu saja. Sungguh, aku merasakan perihnya kehidupan.
Melihat mereka yang tersenyum bangga dengan almamaternya, membuatku terus
menerus menyalahkan takdir.

“Kintan, kamu dipanggil sama Bapak Kepala Sekolah, ditunggu di


ruangan beliau.” Tiba-tiba ibu-ibu paruh baya yang mengenakan baju berwarna
hijau tua dan kerudung yang senada membuyarkan lamunanku. Beliau adalah Bu
Ita, guru Bahasa Indonesia di sekolahku.

“Terima kasih, Bu,” jawabku singkat. Namun kuusahakan ucapan dan


sikapku santun dihadapan beliau. Karena takdzim kepada beliau adalah tugasku.

Dengan langkah yang sedikit tergesa aku melewati koridor menuju ruang
kepala sekolah. Di benakku telah muncul satu per satu pertanyaan yang aku
sendiri tidak tahu jawabannya. Intropeksi diri telah kulakukan, namun aku merasa
tidak melakukan kesalahan apa-apa. Sekarang harus aku lakukan adalah
menenangkan diri. Toh, aku tidak melakukan hal yang tidak senonoh sampai
harus dipanggil Kepala Sekolah.

“Assalamu’alaikum,” kuketuk dua kali pintu ruangan dengan lembut


karena itu merupakan sopan santun memasuki ruangan.

Terdengar jawaban salam yang tegas namun tidak menghilangkan sifat


kewibawaan yang kemudian mempersilakan aku masuk. Pandanganku terus
kebawah dan dingin tiba-tiba menyergapku. Aku tidak tahu apakah karena efek
AC atau aku yang gugup. Akupun duduk setelah bapak Kepala Sekolah
mempersilakan.

“Jadi seperti ini Kintan, saya tidak bisa mengonfirmasi keinginan kamu
untuk membuat ekstrakurikuler karya tulis. Karena di sekolah ini sudah ada Karya
Ilmiah Remaja (KIR). Jika kamu suka menulis, kamu bisa bergabung di
ekstrakurikuler tersebut,” penjelasan dari Bapak Kepala Sekolah sangat
membuatku tercengang. Bagaimana bisa, aku hanya ingin di sekolahku ini ada
ekstrakurikuler menulis, itu saja.

“Tetapi Pak, ekstrakurikuler KIR dengan ekstrakurikuler menulis seperti


menulis artikel, cerpen, dan puisi, itu berbeda. Saya ingin mengembangkan hobi
saya. Karena harapan saya dan masa depan saya ada disitu Pak,” jelasku seraya
memohon agar Pak Dirga berubah pikiran.

Percuma saja. Apapun yang aku katakan tidak akan dipertimbangkan oleh
Pak Dirga. Padahal aku sangat mengharapkan agar permohonanku dapat disetujui.
Aku keluar ruangan dengan sedih, kecewa, kesal, campur aduk.

Bagaimana aku tidak terus-menerus membandingkan sekolahku ini dengan


sekolah lain, jika di sini aku tidak dapat apa-apa. Aku ingin mengisi waktuku
untuk mengembangkan bakatku. Itu saja. Aku menangis sejadi-jadinya.
Meluapkan semua yang aku rasakan. Aku tidak dapat berbuat apa-apa. Jika harus
keluar, lalu bagaimana reaksi kedua orang tuaku? Hatiku pedih, jiwaku lemah.

“Kintan, kenapa kamu menangis? Mag kamu kambuh?” tidak kupedulikan


deretan pertanyaan dari Ina dan langsung kupeluk erat-erat dia.
“Ina, aku capek sekolah di sini. Aku terbelenggu Na. Aku tidak bisa
melakukan apa-apa. Aku takut semua mimpi yang udah aku tata rapi hancur
begitu saja. Aku capek Na. Bantu aku.”

“Kenapa? Argumenmu ditolak? Kintan, dengar aku. Seribu orang menolak


uluran tanganmu, jangan pedulikan selagi kamu sudah memintanya. Kamu bisa
cari alternatif, cari jalan lain menuju mimpimu. Banyak belokan satu tujuan
Kintan. Kamu bisa berjalan sendiri tanpa bantuan. Kamu tahu, Allah ingin
menguatkan hatimu. Allah persiapkan hatimu karena di luar sana keras Kintan.
Banyak yang juga puya mimpi sepertimu. Banyak yang juga bersaing sama kamu.
Bersyukurlah Allah beri kamu kesempatan ini. Coba jika semua orang bantu
kamu. Pasti kamu jadi manja. Kemudian, jika suatu hari nanti karyamu ditolak
banyak penerbit, itu tidak menutup kemungkinan membuatmu putus asa bukan?”

“Tetapi Na, seandainya aku sekolah di SMA itu. Pasti sekarang bakatku
berkembang. Aku bisa bersaing dengan mudah dengan modal yang cukup juga.
Kalau di sini?” kataku putus asa

“Kintan, dengar aku baik-baik. Ini kesempatan untuk kamu bisa


membuktikan kepada dunia, kepada murid-murid SMA itu, dan terutama kepada
orang yang telah menolak tanganmu.”

Aku menarik napas panjang. Benar kata Ina, aku pasti bisa berjalan sendiri
tanpa uluran dari orang lain. Aku pasti bisa membuktikan, aku bisa. Seperti Bill
Gates, J.K. Rowling, dan Thomas Alfa Edison. Aku harus percaya dengan
kemampuanku.

Hari ini aku memutuskan untuk langsung pulang ke rumah. Aku ingin
menjelajahi internet mencari lomba-lomba online yang dapat aku ikuti.

Tanpa sadar, kemana saja aku dari dulu. Aku telah menyia-nyiakan begitu
banyaknya sayembara di internet. Bahkan hadiahnya pun lumayan. Namun, bukan
hadiah yang aku inginkan, melainkan pengalaman untuk bekalku melangkah
menuju masa depan. Aku harus mencobanya.
Kucoba semua perlombaan yang ada. Tidak peduli nasibku bagaimana,
yang penting yang kukejar adalah sebuah pengalaman.

Hari-hari pengumuman lomba terus berlangsung. Namun belum ada satu


lomba pun yang menyatakan bahwa aku menang. Atau minimal mendapatkan
peringkat ketiga. Apalagi cobaan ini ya Rabb? Sia-sia waktu dan pikiran yang
aku gunakan untuk menciptakan karya-karya itu. Sejelek itukah tulisanku? Atau
bagaikan sampah karya-karyaku?

Astaghfirullahal’adzim, apa yang ada dalam pikiranmu Kintan. Ingat, ini


awal kamu menuju tangga kesuksesanmu. Aku seharusnya malu dengan mereka
yang memiliki keterbatasan. Sedangkan aku, aku diberikan kelebihan yang begitu
banyak oleh Allah namun tidak kugunakan maksimal. Masih banyak jalan menuju
Roma. Aku bisa mengirimkan karyaku ke koran atau majalah cetak lainnya. Aku
juga bisa membuat cerita di media online. Aku tidak ingin mimpiku menjelajah
dunia terhapus begitu saja karena keputusasaanku hanya karena hal sepele ini.

Terkadang, rasa jenuh menghampiriku setiap kali aku membuat karya.


Namun aku harus bisa memotivasi diriku. Aku harus bisa bangkit, tidak peduli
dengan kata yang membuatku lemah. Tidak peduli dengan tolakan-tolakan itu.
Kuhabiskan waktuku untuk menulis, menulis dan menulis.

“Assalamu’alaikum putri Ibu yang cantik,” tiba-tiba salam manis


terdengar dari balik pintu.

“Wa’alaikumsalam Ibunya Kintan yang cantik juga. Lihat Bu, Kintan


sedang membuat cerita di media online,” aduku manja.

“Mari Ibu lihat, sudah berapa yang membaca tulisan Kintan?”

“Masih sedikit yang baca Bu. Mengapa seperti ini? Atau Kintan memang
tidak berbakat dalam hal menulis?”

“Kintan jangan putus asa. Besok Ibu antar ke penerbit mau?”


Aku sangat senang mendengar tawaran dari Ibu. Aku harus membaca
ulang ceritaku agar aku bisa memperbaiki kesalahan yang ada. Minimal tidak
memalukan Ibu.

Empat penerbit telah kami jelajahi. Tetap saja tidak ada yang mau
menerima ceritaku. Pikiranku kini terpusat dengan anak-anak yang mengamen di
jalan. Beribu pertanyaan menyergapku. Apakah mereka sekolah? Namun anak-
anak seperti mereka sebagian besar tidak peduli dengan dunia pendidikan.
Bagaimana nasib Negeri ini?

“Kak, seikhlasnya,” Pinta seorang anak berbaju merah kumal dan


bercelana sobek di bagian belakang yang tanpa alas kaki yang memainkan musik
menggunakan tutup botol yang diikat kawat. Ia juga menyodorkan kaleng bekas
yang berisi uang recehan.

Kusodorkan dua lembar uang senilai Rp5000,00 untuknya. Tidak tega


melihat anak sekecil ini harus mengamen di jalan yang seharusnya waktunya
dihabiskan untuk belajar dan bermain, bukan bekerja. Sebenarnya, mengapa dia
seperti ini? Karena lingkungannya, temannya, atau keadaan yang memaksanya?

Ketika aku ingin menyodorkan beberapa pertanyaan yang sudah tertulis


dalam benakku, sosok mungil itu telah hilang. Masih terlihat punggung bergambar
burung garuda, kuputuskan untuk mengajak Ibu mengikutinya dari belakang.

“Kakak sedang apa disini?” tanyanya setelah menoleh kebelakang dan


mendapati aku dan Ibu mengikutinya.

“Kakak hanya ingin berkenalan denganmu,” kataku gugup tanpa


sedikitpun berani menatap matanya.

“Namaku Ali. Nama kakak siapa?” tanyanya polos

Kuperkenalkan aku dan Ibu padanya. Terlihat sepertinya dia sangat senang
mempuyai kenalan baru.

“Menapa Ali mengamen seperti ini?”


Tiba-tiba air itu menetes membasahi pipi gembilnya. Aku jadi merasa
bersalah telah menanyakan hal yang seharusnya tidak kutanyakan kepadanya.

“Ali mengamen sudah hampir dua tahun Kak. Sekarang usia Ali sembilan
tahun. Ali begini karena tidak ada yang mencari nafkah untuk Ibu. Ali anak satu-
satunya. Ibu sedang sakit dan ayah Ali sudah meninggal ketika Ali berusia dua
tahun.”

Ya Allah, bagai tersambar petir mendengar Ali yang polos tidak tahu apa-
apa dengan dunia luar dan harus menafkahi ibunya. Apakah salah aku bertanya
seperti ini? Dia juga bercerita bahwa dia dulu sekolah, namun harus berhenti
karena harus bekerja. Sama juga dengan teman-temannya yang lain.

“Jika Ali belajar lagi mau? Tidak usah membayar. Soalnya kakak yang
mengajari Ali. Ali boleh mengajak teman-teman yang lain,” ajakku karena aku
sangat prihatin dengan keadaannya.

“Ali mau Kak. Tetapi, apakah tidak merepotkan Kak? Terus di mana kita
belajar?”

“Nanti kita belajarnya di gubuk itu saja,” kataku dengan menunjuk gubuk
tua yang sudah tidak digunakan untuk meronda lagi.

Satu bulan telah kulalui belajar bersama Ali dan teman-temannya. Baru
kali ini aku merasakan kebahagiaan yang luar biasa. Melihat binar matanya yang
mengatakan hamdalah karena sudah lancar membaca dan menulis, sungguh
anugerah terindah yang Allah berikan. Sekarang aku sadar, bahagiaku bukan
hanya ketika semua mimpiku terwujud. Namun bahagiaku juga ketika dapat
melihat orang di sekitarku tersenyum karenaku. Dan ternyata ini yang selama ini
aku cari.

Suatu hari nanti mimpiku untuk dapat membangun sekolah gratis dan
perpustakaan di beberapa tempat, pasti akan terwujud. Ini semua aku dedikasikan
karena cintaku kepada orang di sekitarku, orang yang belum kukenal, dan teruntuk
negeri seribu budaya. Indonesia.
“Teruntuk aku di luar sana. Percayalah, mimpi kalian tidak akan hancur
karena satu bintang yang tidak mampu digapai. Namun bersyukurlah karena kaki
masih menginjak bumi.”
Berdarah Lagi

Aris Setiyanto

Uni terjaga, mencium aroma kimia yang memenuhi ruangan. Ia merasakan


kepalanya begitu berat masih menyisai nyeri. Di samping tempat tidurnya ada
seorang perempuan yang terlihat lelah sedang tertidur lelap.

"Aku ada di mana?" tanya Uni.

"Rumah sakit, bagaimana bisa?" tanya Uni lagi.

Perempuan yang tertidur tadi mendengar suara dari arah Uni, ia segera
bangkit dan berjalan mendekati Uni, "Apakah kamu baik-baik saja?" tanya
perempuan itu. Uni mengangguk, "Tadi kamu pingsan di taman, terus saya lihat
kamu, jadi saya bawa kamu ke rumah sakit ini," tutur perempuan itu. "Terima
kasih," ucap Uni.

"Tadi saya juga melihat seorang lelaki memakai kemeja hijau ada di dekat kamu
ketika kamu pingsan. Namun lelaki itu mendiamkan kamu saja, saya sempat
menumpahkan emosi kepadanya karena tidak mempunyai rasa empati."

"Mentang-mentang tidak kenal, malah dibiarkan saja," kata perempuan itu lagi.

"Kemeja hijau? Tio? Kenapa?" tanya Uni setengah menggumam.

Satu dua air mata mengaliri wajah Uni, sementara perempuan di


sebelahnya bingung apa yang terjadi. "Apakah ada yang salah dengan
perkataanku?" tanyanya dalam hati.

Uni pun mengingat kejadian beberapa jam yang lalu...

Semilir angin malam itu membuat kota Jakarta menjadi dingin, entah
mengapa Tio yang suka keramaian malah memilih duduk di luar restoran.
Kemudian Uni sang pacar pun datang, ia datang membawa senyuman teranum
setiap kali bertemu kekasihnya itu. Tio membalas senyuman kekasihnya dengan
senyuman pula, meski sekuat tenaga ia melukiskan di wajahnya.

"Tumben duduk di luar?" tanya Uni.

Tio melihat lekat-lekat pada kekasihnya, "Semua manusia pasti berubah," jawab
Tio.

Uni merasa kekasihnya hari ini berlaku aneh, meski seperti itu ia
menghiraukannya.

"Sudah pesan makanan?" tanya Uni lagi.

"Belum," jawab Tio singkat.

"Aku akan memesan makanan dulu," ucap Uni sebelum bangkit berdiri.

"Tidak perlu," sergah Tio.

Sontak Uni kembali duduk, "Kenapa?" tanyanya.

"Aku ingin berbicara sesuatu sama kamu sebentar," jawab Tio.

"Silakan."

Angin kembali menyapa tubuh mereka yang mulai menggil kedinginan,


namun tetap tidak mampu mengalahkan dinginnya sifat Tio malam ini. Uni
menunggu kata yang hendak diucapkan Tio dengan degup jantung yang tidak
beraturan, napasnya memburu dan ia tidak tahu mengapa seperti itu.

"Kamu mau menyampaikan apa?" tanya Uni akhirnya memberanikan diri.

Tio yang hanyut akan lamunan langsung berbicara, "Aku ingin putus."

"Putus?" tanya Uni terbata.

"Iya," tukas Tio.

"Kenapa?"

"Aku sudah tidak ingin menjadi pacar kamu lagi. Itu saja." tegas Tio.
Jawaban Tio membuat Uni terpegan, ia tidak menyangka bila hubungan
dengan kekasihnya akan berakhir secepat itu. Karena kesal, Uni pun akhirnya
melayangkan pukulan di wajah Tio. Tio jatuh tersungkur dan memekik kesakitan,
ia bahkan berkata kasar setelahnya.

"Kamu jahat Tio," ujar Uni sebelum akhirnya pergi meninggalkan Tio.

Sementara itu Tio yang tersungkur mencoba bangkit meski kepayahan.


Ingin sekali ia mengejar Uni dan menjelaskan apa yang membuatnya mengambil
keputusan itu, namun ia tidak bisa, Uni telah jauh pergi berlari. Tio melakukan
semua secara terpaksa. Ibunya, mengancam akan membuat hidup Uni menderita
jika ia tidak menikah dengan wanita pilihan ibunya. Ibunda Tio keluar dari tempat
persembunyiannya ketika Uni telah benar-benar pergi, "Bagus," gumamnya.

Uni duduk di taman kota, matanya memerah setelah sedari tadi menangis
tersedu. Tidak sekali pun ia berniat untuk beranjak dari bangku tempatnya
menyandarkan kesedihan, sekali pun rerintik hujan mulai berdatangan. Ia tidak
menyangka bila kisah cinta yang kedua ini akan sama, kandas dan teranggas. Ia
tidak menyangka bila akan berdarah lagi dan merasakan kesakitan paling
menyakitkan.

Jam pertama Uni duduk di bangku itu bersama hujan, terlahirkan gigil
kedinginan menyerang seluruh badan. Jam berikutnya Uni mulai merasa
kesadarannya perlahan sirna. Kepalanya berdenyut-denyut, yang semakin lama
denyutan itu kian menyakitkan. Terakhir kali yang diingat oleh Uni adalah ia
jatuh, penglihatannya memudar dan tidak sadarkan diri.
Bukan Khayalan Semata

Nur Laili Febrianti

Ucapan Sheva terus terngiang di telingaku, gambaran wajahnya terlukis


jelas di benakku. Hanya sebuah pujian saja, Sheva mampu membuatku seperti
orang gila. Tepat dua jam yang lalu kami bertemu di kafe yang kebetulan memang
tempat favorit kami. Bukan aku yang mengajak, melainkan dia sendiri yang
meminta untuk bertemu di sana. Awalnya hanya mengobrol biasa sekilas masalah
sekolah, tetapi entah siapa yang memulai terlebih dahulu, obrolan kami sedikit
menyinggung soal perasaan. Benar-benar di luar dugaan.

Aku dan Sheva adalah teman sekelas, sekarang kami duduk di kelas XII
SMA Maja. Memasuki masa-masa akhir di sekolah, hubunganku dengan Sheva
bertambah akrab. Jangan salah dulu, kami bukanlah sepasang kekasih, kami
berteman mulai dari zaman duduk di bangku SD hingga SMA ini. Jadi wajar saja
jika kami mengenal satu sama lain. Bertambah hari, bertambah dewasa hidup ini,
Aku mulai merasa ada yang tidak beres dengan hatiku yang terus berdesir senang
ketika bersama Sheva. Jika biasanya responsku biasa saja ketika dipuji Sheva
akan suatu hal, tidak untuk saat ini, hatiku bersorak bahagia sekali. Jika Sheva
tidak mengirimkan pesan singkat sehari saja, entah mengapa diriku bertanya-
tanya. Jika gadis bergingsul itu sedang bercanda dengan teman laki-laki lainnya,
entah mengapa hatiku berontak, emosiku memuncak. Sebenarnya ada apa dengan
diriku? Apakah yang dikatakan orang-orang itu benar perihal dua orang yang
berbeda lawan jenis bersahabat maka salah satu diantara mereka akan tumbuh
benih-benih cinta?

Masuk akal atau tidak tetapi aku merasakannya. Jika seperti ini, aku
bingung harus bagaimana.

“Stevan, hari ini kamu keren banget dengan jaket itu. Aku suka melihatnya,”
kalimat itulah yang meluncur dari bibir Sheva yang mampu membuatku melayang
jauh ke angkasa. Mereka bisa berkata lebay atau berlebihan, tetapi mereka juga
harus tahu kadang yang namanya cinta dapat membutakan para manusia, termasuk
diriku yang tidak lebih dari manusia yang baru saja menemukan cinta pertama.

“Stevan,” panggil Kak Steven dari lantai bawah membuatku mendengus


kesal karena dia berhasil mengacaukan imajinasi indahku.

“Apa?” ucapku dengan melongok ke lantai bawah, di sana terlihat Kak


Steven melongok ke atas dengan menyengir kuda.

“Ada apa? Kamu mengganggu aku yang sedang berimajinasi. Dasar kadal
Mesir,” umpatku yang dibalas pelototan tajam.

“Ikut bersamaku!”

“Kemana?” ucapku dengan mencondongkan badanku ke depan hingga


melewati batas besi ukiran.

“Sudah ikut saja, gue bayarin semua urusan makanan.” Kak Steven berlalu
pergi meninggalkanku yang masih melongo dibuatnya.

Aku mendesis kesal, meskipun cowok, aku juga butuh waktu lama untuk
dandan agar tampil keren setiap berpergian. Apalagi untuk saat ini, entah mau
dibawa ke mana adik yang tak berdosa ini. Setelah bersiap dengan kaos polos
warna navy dan celana jeans hitam dan tidak lupa sweater yang menjadi
pelengkap nantinya. Meskipun tidak kupakai sekarang, tapi sweater itu akan
berguna demi menambah ketampananku hingga mengalahkan Kak Steven, si
buaya itu.

“Lama banget,” ucapnya dengan melirik sinis.

Laki-laki itu melajukan mobil dengan menge-play musik favoritnya.


Nada-nada melow akhirnya berdendang, dan parahnya lagi aku yang dari tadi
sibuk memperhatikan jalanan samping kiri teringat akan gadisku, Sheva. “Sedang
apa dia sekarang? Apa gue chat saja?” batinku berperang dengan logika.
“Van, kek cewek lo! Denger lagu melow ngikut melow hati lo, dasar
bucin,” desisnya kemudian membuatku tidak terima dan menghadiahkan tatapan
tajam ke arah Kak Steven.

“Lo tuh yang kayak cewek, suka lagu melow-melow seperti ini,”
sanggahku dengan sewot.

“Turun! Udah sampai.”

Benar saja, mobil kami berhenti tepat di depan rumah megah bercat biru
langit. Tunggu, sepertinya aku tahu ini rumah siapa. Jantungku berdegup cepat,
dan makin cepat ketika Kak Steven mengetuk kaca mobil dari luar menyuruhku
agar segera turun. Keringat dingin mulai membanjiri tanganku. Untuk apa Kak
Steven mengajakku ke sini? Sungguh ini benar-benar gila.

Beberapa kali Kak Steven menekan bel yang terpampang di depan rumah
pintu itu. Hatiku makin gelisah tidak karuan. Belum lagi, aku tidak tahu maksud
Kak Steven ke rumah ini. Dari luar terdengar derap langkah seseorang yang makin
mendekat. Tidak lama, pintu terbuka dan terlihatlah seorang wanita paruh baya
menyambut kami ramah. Ibu Salama mempersilakan kami untuk duduk di dalam.
Sepertinya Kak Steven sudah akrab dengan orang tersebut.

Seorang wanita sepantaran dengan Kak Steven tiba-tiba muncul membawa


nampan berisi minuman dan beberapa makanan ringan. Aku tahu wanita itu, dia
bernama Shalma, kakak perempuan dari Sheva. Benar, ini memang rumah Sheva.
Entah ada perlu apa makhluk di sebelahku ini bertamu ke sini. Hatiku ingin sekali
bertanya kepada tuan rumah di mana Sheva, sahabatku sekaligus gadis yang
mampu membuat hatiku senam tidak karuan. Kak Shalma duduk di sebelah Ibu
Salama. Aku baru sadar jika keduanya juga mempunyai gingsul. Sama seperti
Sheva, tetapi Sheva adalah paket komplit dengan lesung pipit di pipi kirinya.
Mengapa di pikiranku selalu saja ada nama Sheva.

Kini hanya tinggal kami bertiga, aku, Kak Steven dan Kak Shalma. Ibu
Salama izin masuk ke dalam entah urusan apa karena sejak tadi aku hanya fokus
melamun tentang Sheva. Gadis itu membawa pengaruh besar dalam hidupku.
Karena suntuk, Aku memilih bermain game di gawaiku. Kak Shalma dan Kak
Steven berbincang ringan, tidak ada hal yang menandakan jika mereka ada
hubungan khusus. Syukurlah jika seperti itu, jadi peluangku untuk mendapatkan
Sheva masih ada walaupun kecil. Kak Shalma mengajak kami untuk makan
malam bersama, itu artinya sebentar lagi aku akan bertemu Sheva. Jantungku
kembali meloncat-loncat.

Sesampainya di ruang makan yang sepertinya sengaja mereka siapkan


sebelumnya. Berbagai hidangan sudah tersaji di hadapanku. Terlihat sangat
menggiurkan, tetapi nafsu makanku terlakalahkan dengan rasa gelisah ini. Jujur
saja, aku belum siap harus makan malam bersama keluarga Sheva. Bukan hal
biasa, pasti ada sesuatu yang penting hingga ada acara seperti ini yang memang
terlihat sudah direncanakan matang. Kegelisahanku makin bertambah ketika Ayah
Sheva menegur ramah Kak Steven. Apakah putri mereka adalah kekasih
Kakakku? Astaga, bagaimana ini? Ingin sekali aku menanyakan ini pada Kak
Steven, tetapi mulutku terasa berat untuk mengucap sepatah kata saja.

“Stevan, bagaimana kabar keluarga?” ucapan Ayah Sheva membuatku


makin tak tenang.

Perbincangan kali ini sudah masuk perihal keluarga dan entah topik
apalagi untuk nantinya. Aku benar-benar seperti patung disini, pandanganku
menyapu seluruh ruangan ini. Belum ada tanda-tanda gadis bergingsul itu, dimana
dia? Hingga derap langkah terdengar dari tangga. Tingkat kegrogianku bertambah.
Napasku tiba-tiba saja tersengal padahal pasokan udara di sini banyak. Seketika
itu pandangan kami bertemu, wajahnya jelas sekali terkejut akan kehadiranku saat
ini sebelum akhirnya ia melempar senyum yang mampu membuat kaum adam
terpikat dengan sekali melihatnya. Sheva melangkah dan mengambil posisi di
hadapanku tepatnya di sebelah Kak Shalma. Tidak berselang lama, Ibu Salama
hadir membawa makanan yang kuyakini sebagai hidangan penutup.

“Stevan mengapa diam saja?” tutur Kak Shalma berhasil membuatku


terhenyak dan kembali sadar.
“Stevan sudah kenal belum sama Sheva? Sheva ini adiknya Shalma, kelas
XII SMA Maja. Stevan sekolah dimana?” tanya Ayah Sheva.

Hatiku merasa geli ketika Ayah Sheva bertanya seperti itu, kira-kira
bagaimana reaksi orang-orang di sini jika mereka tahu aku dan Sheva adalah
teman sekelas bahkan aku menyukai putri mereka.

“Sudah kenal Pak, kami teman satu kelas, hehe,” jawabku dengan
tersenyum malu.

“Loh, jadi kalian sudah kenal toh? Tidak perlu basa-basi lagi jika seperti
itu. Benarkan Bun?”

“Hehe iya Yah, mending langsung ke intinya saja.”

Kulihat Sheva mengkerutkan dahi, tanda dia juga bingung seperti diriku.
Orang-orang di sini pasti sudah merencanakan sesuatu. Aku tidak berani menatap
lama pada gadis itu, takut jika seseorang di sini memergokiku dan
mencomblangkanku habis-habisan. Akhirnya kualihkan pandangan ke Kak Steven
yang dibalas dengan senyum miring dan mengejek.

“Jadi seperti ini Stevan, kami sengaja mengundang kamu dan kakak kamu
kemari untuk membahas perihal perjodohan.“

“Apa? Perjodohan? Siapa yang dijodohkan? Kak Shalma?” potong Sheva


membuat Ibu Salama memberi kode agar Sheva diam.

“Biar Ayah jelaskan dulu sayang. Ini sama sekali bukan perjodohan Kak
Shalma dengan Steven, tetapi ini adalah perjodohan kamu dengan Steven.
Berhubung orang tua Stevan, keduanya sedang bertugas di luar negeri, jadi Ayah
mengundang Steven untuk membahas persoalan ini.”

Bukan main terkejutnya aku dengan informasi yang baru kudengar. Entah
aku harus senang, sedih, susah, bahagia atau apa. Ini benar-benar di luar akal
pikiranku. Apakah Papa dan Mama tahu tentang ini?
“Saya Pak?”

“Iya Stevan, Papa dan Mamamu adalah sahabat baik saya sejak Sekolah
Dasar. Kami memiliki perjanjian untuk menjodohkan anak nomor dua dari
keluarga masing-masing dengan catatan jika lawan jenis. Kebetulan kalian lawan
jenis dan keberuntungan bagi kami jika kalian sudah mengenal satu sama lain, jadi
tidak akan susah untuk menjalin hubungan yang baik.”

Ternyata dunia begitu sempit. Aku sangat bersyukur dan dengan segera
aku menjawab dengan mantap perihal perjodohan ini. Kini tekadku sudah bulat
dan alhamdulillah gadisku juga menerima dengan terharu perjodohan kami.
“Terimakasih ya Rabb,” batinku.
Cinta Pertama Berujung Luka

Julia Santi

Namaku Clara Trisanti, biasa dikenal dengan sebutan Santi. Aku duduk di
kelas VIII SMP, mempunyai seorang teman laki-laki dan perempuan. Sebut saja,
Andika dan Ratna. Ratna orangnya pendiam tetapi asik untuk menjadi teman
curhat, meski kami berbeda kelas. Namun, dia selalu ada ketika aku
membutuhkannya. Bagiku, dia bukan sekedar seorang teman tetapi juga saudara.
Andika adalah orang yang menjadi alasan tumbuhnya benih cinta antara aku dan
Dany. Sifat humorisnya yang membuat Dany salah tingkah kepadaku, kebetulan
kami bertiga satu kelas.

Teeeett… Teeeett bel istirahat berbunyi. Saat itu, aku tidak keluar dari
kelas, karena sibuk menulis ringkasan yang belum usai. Tiba-tiba, Andika
menghampiri Dany yang tengah asik membaca buku.

“Dany, ada titipan salam dari seseorang,” ujar Andika.

“Dari siapa?” tanya Dany dengan singkat

“Dari gadis yang ada di sana,” ujar Andika sambil menoleh ke arahku. Aku
mendengar pembicaraannya, langsung memandang ke arah Dany dan Andika.
Dany pun membalas pandanganku dengan senyuman.

“Oh dari gadis yang ada di sana,” ujar Dany sambil tersenyum malu. Ketika itu,
hati kecilku menggerutu dan langsung menghampiri Andika.

“Bisa-bisanya kamu mengatakan seperti itu kepada Dany. Padahal, aku tidak
pernah mengatakan menitip salam untuk Dany,” cetusku dengan nada tinggi.

“Iya maaf, aku tidak ada maksud apa-apa. Dany juga biasa-biasa saja,” jawab
Andika tanpa merasa bersalah. Aku masih sangat kesal atas perbuatan Andika
yang membuat Dany menjadi salah tingkah kepadaku.
Sejak kejadian itu, Dany selalu berusaha mendekatiku. Entah apa
maksudnya, aku tidak tahu. Meski orangnya cuek dan pemalu, namun Dany tidak
pernah menyerah untuk mendapatkan simpati dariku. Hingga akhirnya, dia
mampu memikat hatiku. Tepat pada tanggal 10 September, kami mulai menjalin
hubungan. Saat itu kami berbeda kelas, aku kelas IX 1 sedangkan dia kelas IX 8.
Berbeda kelas tidak membuat kami merasa berjauhan, kami masih bisa bertemu di
sekolah yang sama. Suatu ketika, dia mengirim pesan yang berisi bahwa dia ingin
bertemu denganku di sebuah tempat. Entah apa yang harus aku lakukan, rasanya
begitu berat karena aku tidak pernah melakukan itu sebelumnya. Namun, aku
mengiyakan pesan darinya.

Seketika pulang sekolah, aku langsung menuju ke tempat yang telah


dijanjikan. Sesampainya di tempat itu, aku melihat Dany yang beranjak pergi.
Mungkin dia sudah terlalu lama menunggu. Entah ada apa denganku, yang hanya
diam membisu. Dany yang tidak melihatku, bergegas pergi. Ini salahku, mengapa
aku tidak menyapanya ketika dia hendak pergi. Kecewa? Sudah pasti itu yang
dirasakan oleh Dany. Aku berusaha meminta maaf kepadanya, namun tidak satu
pun pesan yang kukirim, terbalas. Bahkan tiga hari berlalu, dia tidak
mengabariku. “Ada apa?” benakku bertanya-tanya. “Sebesar itukah marahnya
kepadaku?” Ini sangat mengganggu pikiranku.

Pagi itu, seluruh siswa melakukan senam pagi di lapangan sekolah. Aku di
barisan yang paling depan melihatnya dari kejauhan, dengan sorot matanya yang
tajam, dia memandangku. Aku pun membalas pandangannya dengan senyuman.
Dan saat itu juga, kami mulai berkomunikasi lagi. Mungkin dia telah
memaafkanku atas kejadian sebelumnya. Namun lagi dan lagi, aku menunjukkan
sikap yang salah kepadanya, dia selalu memberikan perhatiannya kepadaku tetapi
aku membalasnya dengan cuek. Dany cukup sabar menghadapi sikapku. Lambat
laun monthsary-ku yang kedua tiba, aku berharap hubungan ini akan terus
berlanjut, tetapi tujuh hari berlalu dan dia tidak pernah mengabariku, aku mulai
khawatir dan menemui teman dekatnya.
“Hai Soni, kamu tahu kenapa beberapa hari ini Dany tidak mengabariku?”

“Aku kurang tahu mengapa dia tidak mengabarimu, tetapi satu hal yang pernah
dia lontarkan kepadaku ‘untuk apa aku mempertahankannya, bila dia tidak peduli
denganku’,” jawab Soni.

Aku terdiam mendengar perkataan itu, dan bergegas pergi. Hatiku terasa
teriris, semudah itukah Dany mengambil kesimpulan? Aku berusaha untuk
memperbaiki hubungan ini dan mencari tahu tentang alasan Dany yang tidak jelas
itu.

Siang itu, aku bertemu Dany yang tidak sengaja berpapasan tepat di
hadapanku. “Dany,” panggilku dengan suara lirih, tetapi Dany tidak
menghiraukanku. Entah siapa yang harus disalahkan dalam kisah ini, dia tiba-tiba
menghilang tanpa mengucapkan kata perpisahan. Aku mencoba menerima realita
yang ada, namun aku terluka. Bahkan, aku seperti orang yang tidak tahu arah
dengan sejuta pertanyaan yang mengganggu pikiranku. Namun, Ratna selalu ada
untukku, selalu siap mendengarkan celotehku. Ratna menguatkanku, dia
membuatku tegar dari luka ini.

Dua minggu berlalu, aku berhenti mencari tahu mengapa Dany melakukan
semua ini. “Santi, hubungan kamu dengan Dany sudah berakhir ya?” tiba-tiba
datang suara yang mengejutkanku dengan pertanyaannya. Tanpa memikirkan hal
apapun, aku langsung menjawab pertanyaannya. “Iya,” jawabku dengan singkat.

“Wajar saja, kemarin aku melihatnya pulang bersama wanita lain dan di salah satu
akun media sosialnya, dia mencatumkan bahwa dirinya menjalin hubungan
dengan wanita lain,” ujarnya. Dug..Dug..Dug.. jantungku berdetak, apa arti semua
ini? Inikah alasan, mengapa Dany menjauh dariku? Hatiku hancur, tidak percaya
dengan semua realita yang ada. Kepergiannya tanpa kata perpisahan membuatku
sadar, bahwa dia tidak menginginkanku di hidupnya. Perpisahan tanpa alasan
yang jelas dan kisah yang belum usai. Seperti inilah kisah antara aku dan dia.
Cinta Sepanjang Jalan Tol Suramadu

Fitri Arista

Berandai-andai dalam pikiran, suatu saat nanti mereka berdua akan


membawa kekasihnya pergi untuk jalan-jalan. Mereka berdua sudah dikatakan
saudara karena mereka selalu bersama. Mereka dapat dikatakan senasib karena
sama-sama ditinggal kedua orang tuanya . Tetapi mereka sangatlah bahagia meski
tanpa keluarga, mereka berdua bernama Ferdi dan Ali. Mereka mempunyai
keahlian dan bakat dibidang masing-masing. Suatu ketika, Ali mendapatkan
seseorang yang menurutnya telah menaklukkan hati Ferdi. Wanita mungil itu
bernama Aristi Ferdini, hubungan mereka sangat harmonis dan banyak pula yang
iri melihat mereka bahagia. Hubungan mereka pun banyak sekali mendapat
gangguan dari pihak luar yang ingin menghancurkan, tetapi mereka tetap saja
kokoh dan mereka tidak khawatir karena Ali telah mendapat restu dari orang tua
Risti. Mereka tidak dapat dipisahkan meski mereka berdua dibenci banyak orang
karena hubungan mereka tetap bertahan.

Di suatu waktu, Ferdi mendekati seorang wanita. Dari sekian lama Ferdi
akhirnya bangun dari traumanya di masa lalu, tetapi dia dengan beribu-ribu kali
berpikir untuk mendekati wanita itu. Sekian lama Ferdi tidak ingin menyemikan
perasaannya untuk seorang wanita, tetapi setelah Ferdi mengenal wanita itu Ferdi
pun mempunyai keyakinan bahwa wanita itu sangat layak untuk ia dapatkan.
Dengan tekad dan keberaniannya Ferdi menyatakan perasaannya kepada wanita
berambut panjang itu. Namun tanggapan wanita itu hanya tersenyum karena
wanita itu hanya menganggap Ferdi tidak lebih hanya sebatas teman terbaiknya,
dan faktanya sang wanita berambut panjang itu masih sangat mencintai mantan
kekasihnya. Tetapi Ferdi tidak menyerah, dia selalu saja mempertanyakan
jawaban wanita itu atas ungkapan perasaan Ferdi kemarin. Berhari-hari Ferdi
tidak mendapatkan sebuah kepastian darinya karena wanita tersebut masih belum
bisa move on dari mantan kekasihnya. Ferdi tidak memedulikan alasan wanita
berambut panjang itu, Ferdi hanya berharap wanita itu menerima cintanya.
Ferdi selalu bercerita kepada Ali, dan Ali berusaha membantu Ferdi untuk
mendapatkan cinta wanita berambut panjang itu. Ali meyankinkan wanita tersebut
bahwa Ferdi sangat mencintainya. Walaupun berkali-kali Ali meyakinkan bahwa
Ferdi sangat mencintai wanita itu, tetapi Ferdi mendapatkan respon yang tidak ada
ujung kepastian.

Arista Ferdina Anggraini nama wanita itu, ia kerap dipanggil Arista, ia


mengajak Ferdi untuk bertemu di tempat yang Arista rencanakan dengan Ferdi.
Mereka berdua merencanakan pada jam 09.00 untuk bertemu dan Arista pun
menuju tempat yang direncanakan. Setibanya di sana, ternyata ada Ali, ia seorang
diri dengan termenung .

“Ali, apa yang kau lakukan di sini?”

“Aku hanya mencari ketenangan, lalu apa yang kau lakukan di sini?”

“Aku menunggu Ferdi, kami berjanji untuk bertemu di tempat ini.”

“Tunggu saja, sebentar lagi pasti dia akan datang.”

“Baiklah,” jawab Arista

Detik demi detik berlalu, jarum jam menunjukkan pukul 11.00, Ferdi pun
belum datang juga, dan Arista gelisah karena Ferdi berjanji akan datang jam
09.00. Tidak lama kemudian gawai Arista berbunyi, ternyata pesan masuk dari
Ferdi.

“Maaf Arista, aku baru pulang kerja. Jika tidak keberatan, bisa
menungguku sebentar?”

“Iya akan kutunggu,” balasnya.

Arista tetap saja menunggu dan tidak lama kemudian Ferdi datang dengan
wajah merasa bersalah karena telah membuat Arista menunggu.

“Maaf, aku telat datang. Apa yang ingin kau bicarakan kepadaku?” tanya
Ferdi dengan wajah penasaran.
“Fer, aku tidak bisa menerimamu. Bukan berarti aku tidak mau
bersamamu. Aku tidak ingin menyakitimu.”

“Mengapa kau takut menyakitiku?”

“Entahlah Fer, sepertinya aku tidak bisa. Lagi pula aku masih teringat
dengan mantan kekasihku meski aku juga ada rasa kepadamu.”

“Kita jalani dahulu, mudah-mudahan kamu segera melupakannya.”

“Entahlah, aku bisa atau tidak,” jawabnya begitu singkat.

Kemudian Arista pergi tanpa menghiraukannya, Ferdi terlihat tidak punya


harapan. Ia hanya termenung, dan Ali memberikan semangat untuk Ferdi agar dia
tetap semangat. Tetapi berhari-hari Ferdi tetap saja merenung meski mereka tetap
menjalin komunikasi melalui media sosial.

Seminggu telah berlalu, Ferdi mempertanyakannya kembali kepada Arista.


Tanpa disangka, Arista menerima Ferdi. Dengan senanga ia memberitahu
sahabatnya, yaitu Ali bahwa ia dengan Arista telah berpacaran.

Tidak diduga, ternyata Ali, Ferdi, Risti dan Arista adalah satu kantor yang
jarang bertemu. Mulai saat itu Ali, Risti dan Arista sering bertemu. Mereka sering
berbincang-bincang mengenai hubungan mereka, sedangkan Ferdi saat itu sedang
bertugas ke luar kota selama tiga bulan lamanya.

Di bawah pohon cemara tempat mereka bertiga berkumpul ketika jam


istirahat, tidak lupa Arista menghubungin Ferdi untuk mengingatkan jam makan
siang, mereka berempat sudah menganggap layaknya sebuah keluarga. Ketika
salah satu mempunyai masalah maka mereka saling membantu satu sama lain.

Suatu ketika Arista menceritakan isi hatinya tentang Ferdi kepada Ali
melalui media sosial dengan panjang lebar, Arista mengatakan bahwa ia mencintai
Ferdi hanya 35%, tetapi Ali memakluminya karena pada dasarnya Arista belum
bisa melupakan mantan kekasihnya.
Tiba saatnya Ferdi kembali dari luar kota. Ferdi berencana mengisi hari
liburnya bersama Ali, Risti dan Arista untuk pergi jalan-jalan. Mereka berembuk
menentukan arah tujuan dan kegiatan yang akan mereka lalui bersama. Mereka
membuat kue brownies untuk disantap bersama-sama. Sejenak mereka
beristirahat, tanpa sengaja Ferdi membuka gawai Ali dan membaca pesan dari
Arista.

“Arista, aku tahu cintamu masih 35% kepadaku, aku ingin kau
mencintaiku dengan tulus. Aku menanti jawabanmu. Jika besok kau tidak sanggup
mencintaiku 100%, maaf, aku akan meninggalkanmu.”

Keesokan harinya mereka berempat pergi untuk jalan-jalan, Ferdi


mengajak mereka ke kota Bangkalan untuk menikmati suasana gua Jaddhi. Tetapi
sesampainya di kota bangkalan mereka melanjutkan perjalanan menuju ke
Surabaya. 5 Km sebelum jembatan Suramadu, Ferdi berteriak bahagia.

“Akhirnya keinginanku tercapai. Kita berhasil pergi bersama dengan orang


yang kita cintai”

“Iya Fer, kita bersama dengan orang yang kita cintai,” dengan
melentangkan tangan kirinya .

Tidak lama kemudian mereka sampai di gerbong Suramadu, mereka


berhenti sejenak untuk mengabadikan momen. Setelah itu mereka melanjutkan
perjalanan, tepat di jembatan Suramadu Arista berkata, “Aku mencintaimu 100%
Fer,” sambil berbisik. Meski suara angin yang berisik membuat suara Arista sulit
di dengar, hati Ferdi sangatlah bersemangat mendengar bisikan halus dari Arista.

Waktu demi waktu telah berlalu, selesai makan mereka pun pulang sambil
menikmati malam di perjalanan. Tidak terduga dan tidak di sangka-sangka, di
perjalanan pulang Ferdi dan Arista mengalami kecelakaan. Arista terluka sangat
parah sedangkan Ferdi tidak berdaya di tengah jalan sambil memeluk Arista yang
berlumuran darah. Ferdi tidak memikirkan dirinya meski ia juga terluka, yang ia
pikirkan hanya kekasihnya yaitu Arista. “Aku tidak mau orang yang aku sayang
terluka,” ujarnya sambil meteskan air mata. Ferdi, Ali dan Risti segera membawa
Arista ke puskesmas terdekat. Setibanya di sana, Ferdi meminta penanganan yang
terbaik untuk Arista meski ia tahu dirinya juga terluka. Ia lebih mementingkan
Arista karena Arista menurut Ferdi adalah wanita yang sangat berharga untuknya.
Ferdi menggenggam tangan Arista yang berlumur darah sambil berkata,
“Tenanglah, jangan takut. Aku di sini menemanimu.” Sedangkan Ali dan Risti
pergi ke apotek untuk menebus obat.

Semenjak kejadian itu Arista sadar bahwa ada orang yang sangat
mencintainya melebihi apapun, dan ferdi sangat memprioritaskan Arista meski
terkadang Arista acuh tak acuh terhadap perhatian yang Ferdi berikan. Jalan hidup
mereka begitu sulit, ada saja yang membuat mereka tertimpa masalah, tetapi
mereka tetap tegar dan sabar menghadapinya bersama. Menurut mereka bersama
lebih bermakna dan berempat lebih sempurna. Ketika Arista mulai berpikir bahwa
Ferdi adalah sosok laki-laki yang baik, tetapi wktu itu juga Arista membatasi
hubungan mereka.

“Apa kamu tidak ingin mengucapkan sesuatu kepadaku?”

“Ucapan apa?” ujar Arista

“Aku sudah menemukan wanita yang bisa aku ajak tunangan dan dia
bernama Devita Agustin. Aku minta maaf tidak bisa bersamamu, aku tidak bisa
memilihmu. Dan aku sudah memberikan cincin itu kepadanya.”

“Selamat ya Fer,” ujar Arista dengan penuh rasa kecewa.

Sejak itu Arista mulai kecewa kepada Ferdi dan pada akhirnya Arista
berpikir lagi bahwa mantan kekasihnya itu lebih berarti baginya dibandingkan
Ferdi. Karena Ferdi meninggalkan Arista ketika saat kondisi Arista tidak
membaik. Arista memutuskan untuk kembali ke masa lalunya. Sedangkan Ali
bertunangan dengan Risti.
Cinta yang Hilang

Siti Nur Amaliyah

Citra Anggraeni, itulah namanya. Dia bersekolah di SMA Nusa Bakti dan
duduk di kelas X. Dia mempunyai sikap baik dan mudah bergaul dengan semua
orang, termasuk dengan kakak kelasnya.
Suatu ketika dia sedang mengunjungi perpustakaan untuk meminjam
buku, tetapi karena pada saat itu perkunjungan perpustakaan penuh sehingga dia
harus berdesakan dan menungu antrean. Tiba-tiba ada seorang kakak kelas yang
bernama Dika Prasetyo yang menghampirinya dan bertanya “Maaf mengganggu,
sekarang jam berapa?” tanya Dika. “Jam 10.00 Kak,” jawab Citra. “Terima
kasih,” ucapnya sambil tersenyum. “Iya Kak sama-sama.” Sambil membalas
senyuman. Dari pertanyaan itu mereka semakin dekat. Hingga pada akhirnya
mereka menjalin hubungan kakak adik. Kedekatan mereka diketahui oleh banyak
orang sehingga teman-temannya pun tidak aneh lagi jika mereka mengobrol
berdua.
Setelah beberapa lama kemudian, Dika merasa ada hal aneh pada dirinya,
dia menyayangi Citra lebih dari seorang adik, tetapi dia menyimpan rasa itu. Citra
selalu bercerita tentang kehidupannya kepada sahabat terbaiknya, yaitu Dela.
Setiap dia mempunyai masalah pasti dia ceritakan kepada sahabatnya.
Pada suatu hari sebelum kelas XII menjalankan UN, Dika tidak melihat
Citra di sekolah. Dia khawatir terhadapnya dan pada malam harinya dia
menunggu pesan dari Citra. Hampir setiap malam Citra selalu mengirim pesan
kepada Dika, hanya pada malam itu saja Dika tidak mendapat balasan pesan dari
Citra. Dika menunggu hingga tertidur pulas. Setelah bangun pagi dia langsung
mencari gawainya seraya mengharapkan pesan dari Citra, tetapi perkiraan dia
salah. Citra tidak membalas pesan dari Dika.
Sekarang hari pertama UN kelas XII dan Dika tidak ada harapan untuk
bertemu dengan Citra karena sekolah libur selama empat hari. Setelah beberapa
hari kemudian UN pun selesai dan Dika sudah lima hari tidak mendapat kabar
dari Citra sedikit pun. Dika langsung bergegas berangkat sekolah, sekarang dia
memutuskan untuk menghampiri Citra di kelasnya. Setelah sampai di sekolah, dia
tidak melihat motor Citra, biasanya jam 7 kurang 15 menit Citra sudah ada di
sekolah. Dika langsung menuju ke kelasnya, tetapi setelah dia sampai di kelas
Citra, tidak ada seorang pun yang tahu tentang keberadaan Citra termasuk
sahabatnya. Dika bingung, dia langsung menuju ke kelasnya sendiri. Dia harus
bersemangat karena pelajaran pertama adalah Bahasa Indonesia, pelajaran
kesukaannya. Setelah jam pelajaran selesai, Dika mendapat tugas dari gurunya
untuk mengerjakan soal-soal. Ketika sedang mengerjakan tugas, tiba-tiba
beberapa anggota OSIS masuk ke kelas dengan membawa sebuah kotak. Dika
berpikir itu adalah untuk sumbangan bencana, tetapi ternyata salah. Anggota OSIS
itu pun meminta izin untuk memberikan pengumuman dan diantara mereka ada
yang menjelaskan apa maksud kedatangannya ke kelas.
“Assalamu’alaikum wr. Wb. mohon maaf apabila kedatangan kami
mengganggu aktivitas belajar rekan-rekan sekalian, innalillahi wainnalillahi
rojiun telah meninggal dunia adinda Citra Anggraeni dari kelas X IPS 2, untuk itu
mari kita doakan beliau agar mendapatkan tempat yang layak di sisi Allah Swt.”
Setelah mendengar berita itu Dika pun kaget dan dia langsung meminta
izin pada gurunya untuk ikut ziarah ke rumah Citra.
Setelah dirumah Citra, sudah banyak sekali orang yang berziarah. Dia
langsung mendekat berada di samping jenazah Citra. Air matanya tidak tertahan,
dia terus menangis di samping jenazah Citra, dia tidak tahu sedikitpun apa
penyebabnya karena sudah lima hari dia tidak memberi kabar kepadanya. Dia
bertanya pada dirinya, “Kenapa Citra cepat sekali meninggalkanku? Apa
penyebabnya? Citra, sungguh aku tidak tahu apa penyebab kematianmu, kenangan
kita sudah banyak dan sulit untuk aku lupakan begitu saja.” Air mata Dika terus
membasahi pipinya, hingga terdengar suara yang menenangkan di belakangnya,
yaitu ibunda Citra. “Sudahlah Dika, jangan menangis. Ibu juga sedih karena
kejadian ini,” lirih ibu. “Iya Bu,” jawab Dika. Tiba-tiba ada yang memanggil Dika
di samping. Dela, sahabat Citra. “Kak Dika,” ucap Dela. “Iya Del, ada apa?”
tanya Dika. “Aku tahu kronologi tentang penyebab kematian Citra,” katanya.
“Apa Del? Coba jelaskan sama kakak!” pinta Dika untuk menjelaskan kepadanya.
“Citra meninggal karena koma satu hari sebelum UN kelas XII. Dia melihat kak
Dika jalan bareng sama perempuan lain, Citra mengira bahwa kakak sudah tidak
peduli lagi kepadanya, dia langsung pulang menuju ke rumah papanya di
Surabaya dengan mengendarai sepeda motor dan menggunakan kecepatan 80
km/jam. Pada akhirnya dia mengalami kecelakaan. Kepala Citra terbentur batu
dengan keras sehingga selama kelas XII UN Citra harus menjalani perawatan di
rumah sakit karena koma. Dia tidak sadarkan diri dan dia pun tidak kuat lagi dan
meninggal,” jawab dela dengan jelas.
Setelah mendengar penjelasan dari Dela, Dika langsung menangis lagi.
Ternyata Citra salah paham, dia tidak jalan dengan perempuan lain melainkan dia
hanya mengantar kakak perempuannya ke toko buku. Sungguh Dika merasa
bersalah sekali, Citra meninggal gara-gara dirinya, ternyata dialah penyebabnya.
Dika langsung memeluk jenazah Citra, dia tidak henti menangis.
“Citra, maafkan aku, maaf aku sudah membuatmu tiada. Sungguh
ketiadaanmu ini membuatku hilang semangat. Kamu adalah penyemangatku,
senyummu adalah keceriaanku, dan sekarang aku tidak dapat melihat senyummu
lagi. Aku hanya ingin kamu tahu, bahwa aku menyayangimu lebih dari seorang
adik, kini aku akan tetap menyayangimu. Sekarang, dan selamanya. Sampai aku
menyusulmu di sana.”
Coretan Hidupku
Rahma Yani

Dering jam alarm membuatku terbangun dari tidur malamku. Kulihat jam
sudah menunjukan pukul enam pagi, disertai suara kokokan ayam dan gemercik
hujan. Segera kuberanjak dari tempat tidur. Tidak lupa kubereskan tempat tidurku,
agar tidak kudengar ocehan merdu dari Ibu. Setelah membereskan tempat tidur,
segera aku mandi dan bersiap-siap untuk berangkat ke sekolah. Kebetulan hari itu
adalah hari senin, sehingga aku harus datang lebih awal agar tidak terlambat
mengikuti upacara bendera. Namun, ada rutinitas yang tidak boleh aku tinggalkan,
yaitu sarapan. Keluarga kami, sebelum memulai aktivitas sehari-hari harus
sarapan terlebih dahulu. Terlihat Ayah dan adikku sudah menungguku dengan
tidak sabar untuk menyantap telur dadar dan sayur asam, buatan tangan ajaib Ibu.

Kunikmati sarapan dengan santai sambil menunggu sahabatku datang.


Hampir saja aku lupa untuk memperkenalkan diri. Namaku Rianti Dewi, biasa
dipanggil Rianti. Umurku 17 tahun dan aku bersekolah di salah satu SMA yang
ada di Jakarta. Ibuku bernama Utami, ia seorang ibu rumah tangga yang mengurus
dan menyayangiku dengan luar biasa. Ayahku, namanya Budi. Ia bekerja di salah
satu perusahaan di Jakarta dan menjabat sebagai Manajer. Dan terakhir yaitu
adikku. Namanya Arif Winara, dia sangat usil dan nakal, walau kami tidak pernah
akur tetapi aku sangat menyayanginya. Dan tidak lupa juga, aku mempunyai
sahabat, Winda Utari namanya. Kami sangat akrab, karena sudah berteman sedari
SD dan rumah kami yang sangat dekat hanya berselang beberapa rumah saja.
Mungkin bisa dibilang kami adalah pinang dibelah dua, karena ke mana pun kami
pergi, kami selalu bersama-sama seperti lagu “Persahabatan bagai Kepompong”.

Di sekolah, aku termasuk murid yang bisa dibilang berotak encer, karena
dari kelas X sampai XII aku selalu masuk dalam peringkat lima besar. Berbanding
terbalik dengan Winda, dia anak yang tidak suka dengan pelajaran, karena
hobinya yang selalu suka dandan di kelas sehingga dia selalu mendapat peringkat
bawah. Berbicara urusan asmara, aku sudah memiliki pacar. Namanya Rio, Rio
Anggara. Dia adalah ketua kelas kami. Dia menjadi murid yang diidam-idamkan
oleh anak kelas lain. Dia selalu mendapat juara satu di kelas. Ditambah lagi, aku
satu kelas dengannya, maka lengkaplah sudah kebahagiaanku. Tidak jarang kami
sering belajar kelompok bersama, bahkan terkadang berangkat sekolah bersama.
Dia termasuk lelaki yang romantis, terbukti di saat hari valentine dia memberiku
sebuah kado berupa bunga dan coklat. Melelehlah sudah hatiku. Awal
perkenalanku dengan Rio cukup unik, yaitu pada saat masa MOS aku tidak
sengaja bertemu dan satu kelompok dengannya. Mulai dari situ, timbul benih-
benih cinta diantara kami berdua, hingga berlanjutkan hubungan pacaran. Aku
sangat mengagumi dan menyayangi dirinya, melebihi diriku mengagumi salah
satu boyband asal Korea yang menjadi favoritku. Selain dia tampan dan pintar, dia
juga tidak sombong dan mau membantu mengajari temannya yang kesusahan
dalam belajar.

Bisa dibilang di masa-masa SMA ini aku sangat bahagia. Aku mempunyai
kehidupan di dalam keluarga yang harmonis, sekolahku juga berjalan dengan
mulus serta kehidupan asmara yang romantis. Hari-hari berlalu dengan sangat
cepat, hingga tibalah hari kelulusan, kami akan mulai memikirkan hal apa yang
akan kami lakukan setelah lulus untuk melanjutkan cerita hidup. Aku dengan Rio
sudah memikirkan kampus mana yang akan kami pilih untuk melanjutkan
pendidikan. Yaitu, salah satu kampus terkenal di Yogyakarta. kebetulan kami
memutuskan untuk kuliah di kampus yang sama. Namun, aku juga merasa sedih
karena sahabatku Winda memilih untuk kuliah di Bandung. Walaupun demikian,
kita berjanji untuk saling mengabari dan memberi pesan mengenai keadaan
masing-masing.

Setelah mendaftar, aku dan Rio menunggu pengumuman penerimaan


mahasiswa baru, dan bersyukur kami lolos. Dia di Jurusan Perbankan sedangkan
aku di Jurusan Pendidikan. Senang rasanya, akhirnya jalan kehidupanku diberi
kemudahan layaknya sinetron di tv. Disaat tiga hari menjelang keberangkatanku
untuk kuliah, tiba-tiba berita sedih menghampiriku. Ayahku terkena PHK dari
perusahaan tempatnya bekerja, sehingga karena beban pikiran tersebut Ayah jatuh
sakit dan tidak kunjung sembuh. Melihat dan mendengar hal tersebut, diriku
seperti disambar petir berkali-kali, “sudah jatuh tertimpa tangga pula” itulah
pribahasa yang mampu mendeskripsikan keadaanku sekarang. Aku sangat sedih,
bahkan aku serasa tidak ingin mempercayai hal tersebut. Kuceritakan semua yang
terjadi pada Rio, kekasihku. Dia dengan sabar memberikan aku dukungan dan
senantiasa mau mendengarkan semua keluh kesahku. Aku mulai berpikir seratus
bahkan seribu kali, apakah aku harus melepaskan impianku untuk menjadi guru
dan lebih memilih bekerja untuk membantu keluargaku? Atau aku harus
menggunakan egoku untuk tetap menggapai cita-citaku? Semalaman itu, aku tidak
bisa tidur. Dengan matang kupikirkan dan akhirnya kuputuskan untuk tidak
melanjutkan kuliah dan bekerja membantu Ibuku untuk mencari nafkah keluarga.
Berat memang, tetapi ini adalah jalan terbaik yang aku ambil.

Menjelang keberangkatan Rio ke Yogyakarta, aku mengantar dirinya ke


bandara dengan rasa sedih dan tidak rela melepas kepergiannya, kupegang erat
tangannya dan kupeluk erat dirinya hingga air mataku mulai menetes. Dia
meyakinkanku untuk menunggunya dan dia berjanji akan selalu memberi kabar
pesan. Hari berganti hari, Rio pun menepati janjinya, dia selalu mengabariku
tentang keadaan dan kesehariannya. Aku merasa lega dan senang. Pagi harinya,
aku mendapat pesan dari teman semasa SMA-ku, yaitu Yuni. Aku memang tidak
terlalu akrab dengannya, namun dia orang yang baik. Karena sudah mendengar
kabar mengenai keadaanku, dia mengajakku untuk bekerja di salah satu restoran.
Jaraknya lumayan jauh, yaitu satu jam dari rumahku. Tanpa pikir panjang,
akhirnya kuterima tawaran pekerjaan tersebut. Di sana aku bekerja sebagai
pelayan, agak miris memang namun aku jalani dengan lapang dada.

Minggu berganti dengan bulan, masih dengan rutinitasku sebagai pelayan


restoran yang datang pagi dan pulang malam hari, aku selalu meyempatkan diri
untuk mengabari Rio. Namun semakin lama, semakin jarang dia memberiku
kabar. Aku berusaha untuk tetap berpikir positif, mungkin dia sedang sibuk
dengan tugas kuliahnya. Namun ada hal yang menjanggal, sepertinya dia mulai
menjauhiku dan mencoba untuk memutuskan hubungan denganku. Hal itu dapat
kurasakan, dari dia yang tidak pernah membalas pesanku, menolak panggilanku
dan bahkan memblokir semua pertemanan di akun media sosial. Aku sangat sedih,
sempat terlintas di pikiranku, “Apakah Rio menjauhiku karena aku hanya seorang
pelayan dan dia seorang anak kuliahan?” Aku tidak menyerah, aku masih tetap
menunggu dirinya, namun berat rasanya. Karena dia juga tidak pernah kembali ke
Jakarta.

Setelah empat tahun berlalu, dia tidak pernah muncul di hadapanku dan
malah yang lebih menyakitkan lagi kudengar dia sudah bertunangan dengan orang
lain. Menangislah aku sejadi-jadinya mendengar kabar tersebut. Kuhubungi
semua teman-temannya dan kudapatkan jawaban yang sama bahwa dia sudah
bertunangan. Ingin rasanya diriku menemui dan marah semarah-marahnya di
hadapan dia, tetapi apa daya. Mungkin nasi sudah menjadi bubur, dia sudah
dengan jalan kehidupan yang baru, begitu pula aku. Mulai dari itu, aku
memutuskan untuk hanya fokus bekerja dan menutup diri untuk dekat dengan
lelaki lain.

Hingga pada suatu hari, saat sedang bekerja aku tidak sengaja menemukan
dompet milik pelanggan. Segera kucari siapa pemiliknya, namun tidak kujumpai
orang tersebut. Sehingga kulaporkan kepada manajer restoran mengenai kejadian
tersebut. Selang dua hari kemudian, aku di panggil manajer untuk menemuinya,
tanpa pikir panjang aku mengetuk pintu ruangannya. Dan kulihat sudah ada
seorang laki-laki yang masih muda dan tampan di depanku. Ternyata dia adalah
orang yang tidak sengaja menjatuhkan dompetnya Ia mengucapkan terima kasih
dan memberi uang sebagai balasannya. Aku menolaknya dengan berkata bahwa
aku menolong bukan dengan niat untuk diberi imbalan atau hadiah, namun hanya
niat ikhlas membantu orang lain. Sejak itu, aku tanpa sadar bertukar nomor
dengan lelaki itu. Hasrun namanya, dia adalah duda anak satu. Meskipun duda,
dia masih sangat muda dan tampan. Dia menyandang status duda tersebut, karena
istrinya yang meninggal saat melahirkan anak pertamanya. Aku pun merasa
bangga kepada dirinya, karena dia mampu mengurus anaknya sendiri. Tanpa
kusadari aku jatuh hati padanya, tanpa berlama-lama dia pun mengutarakan niat
baik untuk segera mempersunting diriku. Takjub rasanya, dengan segala
kekurangan yang kumiliki, dia dengan tersenyum mau menerimanya dengan
ikhlas.
Apakah ini jalan akhir cintaku, setelah aku dicampakkan Rio? Bertemu
dengan seorang duda yang bahkan tidak pernah kupikirkan sebelumnya. “Apakah
aku nanti mampu untuk mengurus anaknya?” pikirku dengan sungguh-sungguh.
Malam itu, setelah aku mendapat nasihat dari Ibu, aku semakin yakin dan mantap
bahwa Hasrun adalah jodoh yang diberikan Allah Swt. untukku. Akhirnya setelah
kurang lebih tiga bulan masa perkenalan dan pendekatan, dia datang ke rumahku
untuk meminta izin meminangku. Setelah menikah dengan Hasrun, aku keluar
dari pekerjaan dan memutuskan untuk fokus terhadap keluarga kecilku. Aku
sangat menyayangi keluargaku, kukerahkan semua kemampuan untuk
membahagiakan orang terkasihku. Dan untuk Rio, mungkin dia adalah salah satu
jalan percintaanku yang akan menjadi coretan kasih di hidupku. Mungkin ini
adalah sebuah kisah cinta yang tidak terlalu menarik bagi orang lain, namun akan
menjadi sebuah pelengkap jalan kehidupanku.
Di Balik Senja Kelabu
Nurliana

Sore itu adalah senja di hari sabtu. Masih sehari lagi aku di sini,
kampungku tercinta. Memang bukan libur akhir semester, aku pulang ke kampung
hanya tiga hari saja. Hitung-hitung memanfaatkan libur tanggal merah untuk
menenangkan diri. Entah itu dari hiruk-pikuk kota atau dari perasaan yang tengah
menyerangku. Sambil bersantai minum teh susu di teras belakang. Memandang ke
hamparan rumput di belakang rumah dan pikiranku melayang entah kemana.

“Sya,” terdengar suara panggilan dari dalam rumah. Aku pun refleks
menoleh dengan pandangan tajam.

“Ada apa?” jawabku jutek.

“Syaa,” panggil mama dari dalam rumah. Aku baru sadar bahwa aku
sedang melamunkan mimpiku pada malam itu. Aku tidak tahu mengapa masih
saja terngiang di pikiranku.

“Sudahlah,” pikirku. Aku beranjak dari tempatku dan menyambut


panggilan mama.

“ Ada apa Ma?” jawabku kemudian.

“Tidak siap-siap?” tanya mama.

“Astaghfirullah, aku lupa Ma kalau kita harus ke rumah Bibi.”

Hari itu kami diundang bibi kerumahnya dalam rangka syukuran kecil-
kecilan atas kelahiran cucu pertamanya.

Mama memandangku sambil menggelengkan kepala. “Silakan siap-siap.


Mama mau ke dapur bentar, menyiapkan kue yang akan kita bawa ke rumah
Bibi,” kata Mama kemudian.

Dan akhirnya aku dan Mama sudah sampai di rumah Bibi. Aku
membuntuti Mama ke dalam menuju ruang tengah melewati kaum adam yang
sudah ramai di ruang depan. Acara pun berjalan dengan lancar. Dan malam pun
kian larut. Mama melihatku sudah gerusak-gerusuk dan dengan mata yang
mengantuk. “Syaa kantuk? Minta tolong sama Azril untuk mengantarkanmu
pulang. Mama bantu Bibi sebentar,” kata Mama. “Iya,” jawabku. Kemudian aku
pamit dengan Bibi.

Dengan mata yang sudah sangat mengantuk, aku pun melangkah malas
keluar rumah mencari bocah itu. Saat ekor mataku sudah menangkap bocah itu,
namun ada sosok yang berusaha mengalihkan perhatianku.

Sontak terkejut aku sambil mengusap mataku yang tidak percaya. Lalu aku
berusaha memastikan. Dan bener itu dia. Dia yang selalu hadir dalam mimpiku
akhir-akhir ini. Hatiku pun mulai berkecamuk. Aku segera melangkah menuju
Azril dan mengajaknya segera mengantar aku pulang. Jarak dari Azril ke sosok itu
memang agak sedikit jauh. Dan membelakangi kami. Sehingga iya tidak sempat
untuk melihatku. Sepanjang jalan aku terdiam.

Setibanya aku di rumah, aku langsung menuju kamar. Bapak masih


menonton TV di ruang depan. Aku menutup pintu kamar rapat-rapat dan
menguncinya. Sambil duduk di kasur empukku dan memeluk boneka
kesayanganku. Tidak terasa air mataku pun mengalir. Aku bingung dengan
perasaanku, sebenarnya aku ini sedang membenci atau merindukan dia. Pikiranku
berkelana kembali saat terakhir kali kita bertemu dan berkomunikasi.

Saat itu awal masuk semester enam. Masih seminggu lagi kita masuk
kuliah. Namun aku lebih dulu berangkat ke Jambi karena harus membayar UKT
semester ini. Setiap malam selama libur memang aku selalu berkomunikasi
dengan dia. Sehari tidak ada kabar darinya. Serasa ada yang kurang dalam hati ini.
Kami sebenarnya tidak pacaran. Namun entahlah kenapa bisa-bisanya hati ini
seperti melanggar aturan syariat Islam. Kami pun tidak menginginkan hal itu.
Kami berdua sebenarnya sedang berkomitmen, jika kita memang berjodoh kami
akan melangsungkan pernikahan setelah aku lulus kuliah nanti. Dan selama dia
menantiku, dia merencanakan untuk bekerja menambahkan uang resepsi
pernikahan kami nanti. Dia saat ini sudah semester akhi, tinggal menunggu jadwal
sidang. Dia juga pernah mengajak untuk menabung bersama. Namun aku masih
mikir-mikir terlebih dahulu karena aku sampai saat ini masih bergantung dengan
orang tuaku. Dia berasal dari keluarga yang terbilang lebih dari cukup. Sedangkan
aku hanya hidup dengan kecukupan. Tetapi untuk kebutuhan yang kurang penting
dan tidak mendesak aku masih berpikir dua kali. Orang tuaku yang sudah tua dan
tidak kuat bekerja berat-berat lagi. Walaupun abangku bekerja di kantor
kabupaten. Namun gajinya tidak bisa diandalkan sebagai seorang pegawai honorer
yang tidak seberapa.

Suatu malam dia memintaku untuk berjanji. Kalau sudah ke Jambi, kita
keluar sebentar. Selama kami kenal belum pernah bertemu secara langsung.
Terkadang kami hanya berpapasan sekilas dan dari jarak yang jauh.

“Kamu maukan?” tanyanya.

“Aku belum bisa menjawab. Orang tua kita juga belum tahu tentang
hubungan kita,” jawabku sedikit ragu.

“Baiklah, aku paham.”

“Terima kasih,” balasku kemudian sambil senyum.

Dan pembicaraan kami malam itu cukup sampai di sana. Sampai tiba aku
harus berangkat ke Jambi pada sore minggu.

Setelah aku tiba di Jambi, istirahat untuk malam itu sejenak sebelum
berhadapan dengan hari besok.

Besoknya aku sibuk mengurus pembayaran UKT. Saat semua urusanku


selesai, aku melihat gawaiku. Ternyata ada pesan dari dia.

“Sya, kamu di mana? Masih di kampus?” tulisnya di pesan itu.

“Tidak. Aku sudah di jalan pulang ke kost,” balasku.


“Sya ada waktu tidak? Kita keluar hari ini.”

“Baiklah. Nanti jemput aku di kost!” kataku setuju.

“Iya,” balasnya singkat sambil disertai emot senyum.

Setengah jam kemudian setelah aku tiba di kost, dia menghubungiku


bahwa dia sudah di depan. Aku segera ke depan dan berangkat, entah ke mana
tujuan kami pergi.

Sekitaran satu jam berkeliling dan mampir makan sebentar, kami pun
pulang. Tetapi ada yang aneh dengan dirinya. Sepanjang jalan terdiam. Berbeda
saat kita berangkat tadi. Aku juga tidak berani untuk memulai percakapan. Saat
tiba di depan kostku. Aku mencoba menghangatkan suasana.

“Langsung mau pulang?” tanyaku sambil menatapnya.

“Iya aku pulang.”

“Hati-hati di jalan.”

Entah dia masih mendengar ucapan terakhirku saat itu atau hanya terbawa
angin seiring ia beralu. Mulai saat itu tidak ada kabar sedikit pun darinya. Berkali-
kali aku kirimkan pesan, tetapi tidak dibalas. Hancur, benar-benar hancur
perasaanku saat itu. Senjaku dulu yang selalu indah pun mulai kelabu. Aku tidak
tahu harus bagaimana.

Apakah ini awal untuk berpisah agar kami fitnah dunia? Namun
pertanyaan itu seakan tidak memiliki jawaban. Aku pun tertidur.

Besok harinya aku berangkat ke Jambi. Waktu pun bergulir tanpa kata.
Terkadang aku berpikir, mungkin memang benar ini adalah bagian dari
komitmennya. Dan juga mungkin dia ingin fokus untuk menyelesaikan tugas
akhirnya untuk menghadapi siding nanti. Aku selalu mencoba berpikir positif agar
hati ini tidak terlalu tersakiti.
Sebulan dua bulan pun berlalu. Semuanya tetap saja sama. Tiba-tiba
malam itu abangku menghubungiku.

“Assalamualaikum Syaa.”

“Waalaikumussalam Bang. Ada apa?”

“Syaa, tadi ada rombongan Zam datang kerumah melamarmu. Katanya


kalian sudah saling mengenal. Jadi abang tidak perlu menjelaskan panjang lebar
lagi. Kita sekeluarga sepakat akan melangsungkan pernikahanmu selepas kamu
PPL. Terhitung masih beberapa bulan lagi dari sekarang,” jelas abangku.

“Iya Bang” jawabku kemudian sambil terisak. Aku yang mendengar itu
menangis haru bahagia.

Inilah jawaban di balik senja kelabuku selama ini. Senjaku kembali


menampakkan keindahannya. Takdir Allah yang telah tertulis antara aku dan
Zam. Dan semoga kami berjodoh sampai surga-Nya kelak. Aku percaya skenario
Allah begitu indah. Bahwa jodoh akan pasti bertemu.
Fatamorgana Cinta

Muhammad Ghofar Ashodiq

Aku terbangun saat malam masih gelap. Ingin rasanya aku terus berbaring
diranjang empuk ini. Ditambah hawa dingin yang menusuk tulang semakin
menambahkan rasa malas tubuh ini untuk bangun dari tidur. Aku tahu sekarang
sudah hampir memasuki waktu subuh. Lantunan ayat suci al-Quran dari musala
sudah mulai terdengar. Dengan terpaksa aku akhirnya memilih untuk bangun. Aku
tidak ingin salat subuhku terlewat lagi seperti yang sudah-sudah. Segera aku
menuju ke kamar mandi. Buang air kecil  setelah itu langsung mengambil air
wudu. Selesai berwudu aku menuju ke kamar memakai kain sarung dan
mengganti baju dengan kemeja. Siap aku menuju ke musala terdekat.

Lima belas menit lagi sekolah akan masuk. Segera aku mengeluarkan
motor. Sementara seragam dan tas sudah aku pakai. Aku langsung naik ke motor,
tidak lupa aku juga mengenakan pelindung kepala. Aku menyalakan motor dan
langsung mengendarainya menuju sekolah. Aku sekolah di SMA BINA
BANGSA. Sekarang aku sudah kelas XI.

Sampai di sekolah, terlihat satpam sekolah sudah berjaga di depan


gerbang. Sepertinya sebentar lagi akan ditutup. Segera aku masuk ke dalam
sekolah, menuju tempat parkir. Terlihat teman-temanku mayoritas sudah
berangkat. Aku menyapa teman sebangkuku, Ardi namanya. Dia sedang duduk
asik dengan gawainya. Entah apa yang sedang dilakukannya. Beberapa saat
kemudian guru datang dengan membawa setumpuk buku. Dia guru matematika,
namanya Bu Siti. Itu buku-buku yang dikumpulkan kemarin, tugas matematika.

“Assalmualaikum warahmatullahi wabarakatuh,” Bu Siti mengucapkan


salam.

“Waalaikummussalam warrahmatullahi wabarakatuh,” para murid


menjawab salam dari Bu Siti.
“Sebelumnya Ibu minta maaf. Ini tugas yang dikumpulkan kemarin, belum
sempat Ibu Nilai karena ada urusan. Jadi kita koreksi bersama biar cepat,” jelas
Ibu Siti.

“Rizal, tolong ini bukunya dibagikan ke teman-temanmu!” lanjut ibu siti


memberikan perintah kepada Rizal.

“Iya Bu,” jawab Rizal singkat.

Rizal berdiri mengambil tumpukan buku di meja guru. Dia memutari


kelas, membagikan buku-buku di tiap meja. Sampai akhirnya tiba di mejaku. Dia
memberikan dengan cepat buku bersampul plastik. Aku lihat sampul depan buku
ini untuk mencari siapa pemiliknya.  Nabila Farida, aku mengucapkan pelan nama
yang tertera di buku ini. Aku mengucapkan sambil kuhayati, dan kuresapi. Entah
mengapa sampai ke hati aku mengucapkan nama ini. Aneh memang, perasaan apa
yang aku rasakan ini. Perasaan cintakah? Aku tidak tahu, aku belum paham
pengertian cinta kepada kaum hawa. Aku buka buku Bila, begitu kami akrab
memanggilnya. Cobaku pendam dalam getaran dihati cuma karena menyebut
nama Nabilla Farida.

Bu Siti sudah menerangkan, dan menuliskan jawabanya di papan tulis.


Aku fokus mengoreksi buku Bila. Cuma salah satu, Bila memang salah satu murid
yang pintar. Dia sering menjadi juru kunci teman-teman satu kelas saat ada tugas
yang sulit dikerjkan. Akhirnya selesai sudah mengoreksi bersama.

“Sekarang kembalikan bukunya!” perintah Bu Siti.

Para murid lansung mengembalikan buku yang dikoreksi kepada


pemiliknya. Tibalah saatnya aku mengembalikan buku Bila. Tempat duduk Bila
cukup jauh dari tempat dudukku. Aku beranjak dari tempat duduk untuk menemui
Bila.

“Bila, ini bukumu,” sambil aku menyodorkan buku tersebut.

“Terima kasih,” balasnya.


Aku mengangguk dan langsung kembali ke tempat dudukku. Tidak ingin
mata ini memandang senyumnya terlalu lama, pipi yang chuby, dengan warna
kulit coklat cerah. Senyum Bila mungkin biasa saja, mengingat dia orang yang
ramah kepada teman-temannya. Tetapi bisa aku menyalahartikan dengan perasaan
di balik hati ini. Ibu Siti melanjutkan pembelajaran sampai waktu istirahat tiba.
Setelah bel istirahat berbunyi Ibu Siti mengucapkan salam dan pergi
meninggalkan kelas.

Saat jam pulang sekolah, aku mencari Ardi untuk mengajak pulang
bersama. Kami memang membawa motor masing-masing, tetapi arah rumah kami
sama. Di parkiran aku melihat Ardi dan Zulfa sedang mengobrol. Aneh, kenapa
mereka cuma berdua.

“Ardi, ayo pulang!” ajakku.

“Aku sedang ada acara dengan Zulfa” Ardi menolak ajakanku.

“Mau ke mana? Kenapa tidak mengajak aku?”

“Inikan waktu spesial untuk kami”

“Kalian menjalin hubungan?”

“Heheheh cepat-cepat cari jodoh deh kamu. Biar tidak jomblo,” Ardi
mengejekku.

“Sudahlah. Pergi sana! Hati-hati di jalan,” ucapku sebal lalu pergi


meninggalkan Ardi dan Zulfa.

Aku pernah berpikir untuk pacaran. Ingin rasanya aku mencari pasangan
hidup untuk menemaniku. Pergi jalan-jalan bersama, berbagi kasih.

Mentari terus bergerak seolah mengitari bumi. Siang yang terang di


Pekalongan perlahan berganti ke daerah lain di seberang sana. Terus bergerak
hingga kembali ke langit Pekalongan.

Kembali aku mengendarai motor menuju ke sekolah. Kali ini aku


berangkat lebih awal. Jam 07.30 aku sudah sampai di sekolah. Aku berjalan dari
parkiran menuju kelas. Sesampainya di depan pintu kelas, aku melihat Bila di
kelas. Hanya ada Bila dan tiga orang lainya. Cukup lama Netra ini memotret
wajah indah Bila. Wajah yang teduh, anggun. Banyak perempuan yang cantik,
banyak wanita yang anggun. Tetapi cuma Bila yang bisa menggetarkan hatiku
saat menatapnya. Aku masuk ke kelas. Meletakkan tas di mejaku. Lalu
menghampiri Bila. Aku duduk di sampingnya.

“Bila, ada tugas?” aku bertanya untuk mencari topik pembicaraan.

“Hari ini tidak ada tugas apa pun,” jawab Bila dengan senyum yang selalu
menghiasi wajahnya.

“Tetapi bagiku ada tugas Bil, tugas menaklukkan hatimu.” Tentu saja aku
mengucapkan ini hanya di dalam hati

“Tidak ada? Senangnya,” jawabku yang sebenarnya.

“Senang banget tidak ada tugas?”

“Kalau ada tugas itu pusing Bil.”

“Justru jika ada tugas itu kita belajar, hidup itu harus pusing. Kalau tidak
mau pusing jangan hidup. Tetapi kita sudah terlanjur hidup, jadi harus siap
untukpusing,” jelasnya sambil tertawa kecil.

“Iya sih. Memang akunya yang malas,“ jawabku simpel.

Tanpa terasa waktu berjalan begitu cepat. Bel masuk sudah  berbunyi. Aku
merasa pendekatan kali ini sudah cukup berhasil. Dia sudah banyak bicara
denganku, aku juga berhasil membuat dia cerita masalah hidupnya.

Aku pulang dengan perasaan senang. Dalam beberapa hari kedepan aku
akan mengakhiri masa jomblo.

Malam ini ada pengajian rutin di masjid desa. Pengajian ini dilaksanakan
setelah salat maghrib sampai isya. Aku sebenarnya jarang ikut pengajian ini.
Kebanyakan orang-orang tua yang mengikuti. Tetapi kali ini aku memutuskan
untuk datang. Beberapa menit setelah salat dan dzikir, pengajian di mulai.
“Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh,” salam ustaz yang akan
mengisi pengajian malam ini.

“Apa kabar bapak dan ibu, serta seluruh jamaah yang hadir pada
kesempatan yang mulia ini? Kali ini tema pengajian kita adalah “Zina”.” Ustaz
memulai ceramahnya. Aku mendongak mendengar kata zina. Ada yang
mengganjal di hati.

“Saya melihat banyak perbuatan zina yang terjadi di masyarakat. Salah


satunya adalah pacaran. Banyak anak muda yang terjerumus kedalam aktivitas
pacaran. Pacaran jelas merupakan zina. Pacaran sudah pasti haram. Bagaimana
tidak, di dalam aktivitas pacaran laki-laki dan perempuan dewasa yang bukan
mahram dianggap wajar untuk menebar rasa kasih, rasa sayang. Bahkan
berpegangan tangan, pelukan, sampai ciuman dianggap wajar dalam pacaran.
Tanpa adanya hubungan yang halal sebagai suami istri. Inikan sudah jelas
aktivitas zina.” Ustad terus melanjutkan penjelasannya.

Hatiku bergejolak mendengar ini semua. Kenapa aku harus mendengar ini
semua di saat aku sedang berniat untuk pacaran. Meski penjelasan ini bukan kali
pertama aku dengar.

“Bahkan di sebuah hadis dijelaskan: Ditusuknya kepala seseorang dengan


pasak besi, sungguh lebih baik daripada menyentuh orang yang bukan mahramnya
(HR. Thabrani). Anak muda jangan pacaran, anak muda harus belajar, anak muda
harus berusaha. Menciptakan Indonesia yang sejahtera. Karena anak mudalah
yang akan menjadi pemimpin di masa depan.“

Aku kembali tersadar akan buruknya pacaran. Pacaran memang baik.


Tetapi itu hanya sementara. Pacaran adalah fatamorgana cinta. Pacaran cuma tipu
daya setan. Jangan katakan pacaran sebagai dalih mencari jodoh. Islam sudah
mengajarkan cara mencari pasangan hidup yang benar, yaitu ta’aruf, khitbah,
kemudian menikah.
First Girlfriend but Not First Love
Muhamad Budiman

Seakan tidak percaya aku menampar pipiku sendiri karena aku dibilang
sebagai “anak gadis”, tetapi karena sifat kekanak-kanakanku, belum pantas
rasanya aku menjadi seorang gadis.
Hari ini seperti biasa, kuawali pagi dengan senyuman, hari ini hari pertama
aku melaksanakan MOS setelah berunding panjang lebar bersama Ayah dan
Kakek untuk meneruskan sekolah di kampung halamanku.

“SELAMAT DATANG PARA PESERTA MASA ORIENTASI


PESERTA DIDIK BARU TAHUN 2010/2011”

Tulisan itu sangat jelas tertampang di gerbang utama sekolah baruku,


tepatnya SMP Negeri 4 Cipatujah. Tidak banyak orang yang kukenal saat itu,
hanya beberapa orang saja, itupun teman teman satu sekolahku di SD dulu.
Memang hari pertama ospek bagi anak baru seperti kami adalah hari yang
sangat menegangkan, tetapi untung saja kakak pembimbingnya tidak terlalu galak
kepada kami.
Dari hari ke hari semakin banyak orang yang kukenal, memang
menyenangkan mempunyai banyak teman, dan tidak terasa empat hari kami
menjalani masa ospek yang sangat menyenangkan dan mengesankan. Banyak
yang aku dapat di sekolah baru ini. Mulai dari hal biasa sampai hal yang luar
biasa, yang paling menyebalkan adalah ketika aku meminta tanda tangan salah
seorang dari kakak ospek yang saat itu nampaknya dia sedang duduk manis di
kantin sekolah yang di depannya terdapat segelas jus. Sialnya dia malah
menyuruhku untuk bernyanyi di tengah-tengah lapangan basket. Mengenaskan,
mungkin itu pantas untuk menyebutnya sebagai hal yang paling mengenaskan.
Mau tdak mau aku terpaksa bernyanyi demi mendapatkan tanda tangannya. Tidak
tahu siapa namanya, apa lagi asal usulnya. Tetapi yang jelas dia mempunyai ciri
berbadan tinggi dan tegap, agak kurus dan sedikit manis, hanya sedikit saja, tidak
banyak. Dari sekian banyak kakak ospek hanya dia yang memberikan hukuman
aneh kepada kami. Saat aku bernyanyi dan suaraku tidak begitu jelas dan dia
berteriak.
“Kurang keras,” tegasnya.
Membuatku sedikit takut, dan tidak tanggung-tanggung aku bernyanyi
sampai rasanya suaraku habis pada ketinggian itu. Pada saat itu juga semua mata
langsung tertuju padaku.
“Menyebalkan.” Aku hanya bisa protes dalam hati tanpa bisa kuucapkan.
Kakak yang satu ini memang membuatku malu di depan semua orang. Setelah
susah payah aku mengeluarkan suaraku, akhirnya mendapatkan tanda tangannya.
“Mau tanda tangan aja repot.” Gerutuku dalam hati.
Tetapi setelah itu,csemua berjalan lancar seperti jalan tol yang licin tanpa
ada hambatan seikitcpun.
Trittttt...Trittttt…Suara gawaiku bordering.
“Selamat malam.” Isi pesan itu membuatku miris, aku tidak tahu siapa
yang mengirimkan pesan itu, karena nomor itu tanpa nama. Tetapi aku penasaran
dan membalas pesan dari orang itu,
“Ini siapa?”
“Aku Yusuf.”
“Yusuf siapa? Aku tidak kenal.”
“Aku Yusuf dari kelas IX-B yang dulu sering memberi salam ke kamu.”
Ternyata ia adalah kakak kelasku yang sekarang menduduki kelas IX-B,
aku tahu apa tujuan dia menghubungiku. Pasti dia akan menagih janji kepadaku,
janji yang sempat aku katakan waktu itu, waktu aku masih duduk di kelas VI SD.
Dahulu, Yusuf sering menitip salam untukku. Aku tidak tahu dari mana
dia mengenalku. Aku juga tidak mengetahui dari mana dia mendapatkan
nomorku, karena aku merasa belum terlalu banyak orang yang mengetahuinya.
Entahlah, aku tidak tahu dari mana dia mendapatkan informasi tentangku, tetapi
yang pasti malam ini dia mengatakan cinta kepadaku. Aku bingung harus
mengucapkan apa, saat ini aku masih polos tentang cinta, aku takut, aku resah,
rasanya hatiku berdetak 250/menit.
“Tuhan, bantu aku!” ucapku dalam hati. Dan akhirnya dengan sedikit
bingung akupun menerimanya.
“Bodohnya aku, untuk apa aku berpacaran dengan orang yang bahkan
belum aku kenal?” gerutuku dalam hati sambil menggaruk garuk kepala yang
bahkan sama sekali tidak gatal. Hati ini rasanya tidak tenang, hati ini rasanya tidak
bebas seakan ada sebuah truk yang menghalang di hatiku, berat rasanya menerima
kenyataan ini. Kepada siapa aku mengadu? Aku bingung. Aku hanya bisa
memarahi diriku yang bodoh ini.
Hari demi hari aku jalani dengan normal, walaupun aku sedikit berbeda.
Ada sedikit perubahan dalam diriku, aku jadi lebih sering memegang gawai,
karena mungkin”Yusuf” alasannya. Dia membuatku sedikit repot, setiap hari aku
harus membeli pulsa untuk menghubunginya. Ternyata pacaran itu tidak dapat
membuat hidupku lebih baik, malah semakin rumit. Pertama kalinya aku
berpacaran yaitu dengan Yusuf. Dia sangat baik, tetapi kata orang lain dia
termasuk kategori siswa yang playboy di sekolah kami. Aku tidak terlalu
memperdalam cinta monyet ini, karena aku belum tahu pasti tentang perasaan dan
cinta, aku masih terlalu bodoh akan hal ini.
Sampai suatu hari dia tidak pernah lagi mengabariku lagi, aku sempat
menghubunginya tetapi tidak pernah dibalas. Saat itu hubungan kami genap dua
minggu, aku masih berpikir positif tentangnya. Tetapi sudah dua minggu ini aku
menunggu kabar darinya. Dia tidak pernah menghubungiku, atau hanya sekedar
mengabari pun dia tidak pernah. Aku mulai curiga kepadanya. Akhirnya aku
memutuskan untuk mengakhiri hubungan ini
“Kak, kita akhiri saja hubungan ini jika kakak merasa tidak nyaman lagi
denganku.” Kata-kata itu kukirimkan kepadanya, walaupun terasa berat.
Walaupun sesungguhnya Yusuf tidak mau menerima keputusanku, tetapi aku
cukup egois untuk membuat dia pasrah. 1001 kata yang diucapkan, bualan-bualan
buaya darat yang jadi jurus andalannya kini keluar bagaikan bendungan air yang
jebol.
Dia memang pacar pertamaku, tetapi dia bukan cinta pertamaku. Mungkin
itu panggilanku untuknya karena walaupun dia laki-laki yang pertama sekali
mendapatkan hatiku, tetapi dia tidak bisa membuatku untuk mencintainya.
“Cinta sejati bukan hanya orang yang menjadi pacar kita, bukan hanya
orang yang menjadi kekasih kita, tetapi dia yang mampu membuaat kita untuk
mencintainya lebih dari apa pun.” Mungkin bagiku itulah yang namanya cinta
sejati.
Friendly Love

Tania Luthfi Chintiani

Kesal. Perasaan apa ini? Sangat mengganggu. Sudah 16 tahun kami


bersahabat. Ilona, dia sahabatku sekaligus tetanggaku. Orang tua kami juga
bersahabat, kami sangat dekat seperti keluarga. Aku kakaknya dan dia adiknya.
Menurutku dia cengeng, manja, selalu mau menang sendiri dan keras kepala.
Tetapi aku menyukainya. Aku bingung mengapa ini bisa terjadi? Mengapa bukan
wanita lain? Mengapa harus dia yang aku suka? Apakah perasaan ini berlebihan?
Kurang wajar? Aku ini pria normal. Aku juga bisa merasakan jatuh cinta, walau
aku belum benar-benar yakin pada hal ini. Perasaanku goyah tiap melihat dia
tersenyum. Aneh, aku sudah sering melihatnya, namun akhir-akhir ini seperti
itulah faktanya. Rasa kesal yang begitu janggal sangat membuatku bingung. Apa
aku harus berkata di depannya secara langsung? Mengungkapkan perasaan aneh
ini yang telah hinggap setahun lebih di hatiku. Ini benar-benar membuatku gila.
Di satu sisi aku ingin mengatakannya agar perasaanku sedikit tenang. Aku ingin
tahu perasaannya kepadaku, apapun itu. Tetapi di sisi lainnya, aku takut
pernyataanku ini hanya menghancurkan persahabatan yang sudah lama kami jalin.
Aku berpikir berkali-kali, dan untuk saat ini aku membiarkan perasaan ini
mengalir.

Sepulang sekolah Ilona mengajakku membeli es krim di tempat kang Adi.


Padahal biasanya dia akan pulang, ganti baju baru pergi. Aku merasa ada yang
aneh.

"Rendra aku mau ngomong sama kamu." Seperti biasa, dia tak
memanggilku dengan embel-embel “kak” padahal aku lebih tua setahun darinya.
Aku hanya mengangguk singkat sembari terus memakan es krimku.

"Kamu kenal dengan Kenan? Dia pria yang sangat menggemaskan,"


ujarnya memulai pembicaraan yang serius.

"Kenan? Kenan mana?"


"Teman sekelasku. Masa kamu tidak tahu? Dia ketua OSIS."

"Terus?"

"Aku menyukainya," sahutnya yang sontak membuatku kaget.

"Benarkah? Kamu menyukainya? Aku jadi penasaran seperti apa


rupanya." Jawabku seenaknya. Walau sebenarnya hati ini terasa sesak.

Petikan gitar menemaniku malam ini. Aku terus bersenandung, aku tidak
peduli suaraku terdengar seperti apa. Saat ini yang ada dipikiranku hanyalah
tentang Ilona.

Dia pergi bersama teman-temannya. Aku khawatir dengannya karena ia


pergi bersama Kenan. Wala ada Kak Dito dan Kak Tina yang juga ikut pergi
bersama mereka, tetapi tetap saja aku gundah.

"Kenapa aku tidak diajak?" Gumamku.

Entahlah mungkin Ilona tidak ingin aku mengganggunya, lagi pula


tugasku menumpuk setinggi gunung Everest. Aku sampai bingung harus
mengerjakan yang mana terlebih dahulu.

"Lebih baik aku tidur saja," ucapku seraya bangkit dan segera menuju ke
kasurku.

Brakk... Aku terpelonjat kaget ketika seseorang mendobrak pintu dengan


keras. Dia itu wanita atau pria? Tenaganya kuat sekali.

"Ilona apa kamu tidak bisa lebih lembut? Kamu seperti bukan perempuan."
Ujarku masih dengan mata setengah terpejam.

"Rendra bangun! Aku mau cerita," ucapnya sembari mengguncangkan


tubuhku pelan.

Aku menggangguk singkat, "Kemarilah," ucapku mencoba membuka


mataku lalu berjalan pelan menuju balkon tempat favorit kami.

"Kamu tahu Rendra?"


"Tidak," ucapku cepat. Tiba-tiba perasaanku menjadi tidak enak.

"Aku belum selesai bicara," ucapnya sembari memukul bahuku pelan. Aku
hanya mengangguk singkat mempersilakan dia melanjutkan kalimatnya.

"Aku ditembak Kenan. Kenyataan ini seperti mimpi," ucapnya dengan


gembira.

"Kok bisa?" Tanyaku memecah keheningan yang tiba-tiba terjadi.

"Bisalah. Aku tidak terlalu jelek bukan?"

"Kenapa kamu menjawab seperti itu? Aku bertanya kenapa bisa setelah
ditembak kamu masih hidup?" aku memasang senyum sekilas di wajahku. Lalu
aku meninggalkannya yang masih setengah tidak percaya. Taman bunga terbuat di
hatinya, namun hujan badai telah mencabik-cabik hatiku. Aku berjalan goyah
menuju ke suatu tempat. Aku mencari Kak Dito, aku masih sukar untuk menerima
keadaanku. Aku menyesal, aku terdahului dan aku kalah oleh Kenan.

"Rendra ketahuilah, persahabatan itu lebih indah dan berarti daripada


cinta," ucap Kak Dito menasehatiku. Benar, tetapi rasanya batinku sesak. Aku
sulit mendefinisikannya karena aku benar-benar menyesal.

"Ada kalanya cinta dan benci manusia itu mengerikan Rendra, jangan
dibutakan oleh mereka," imbuh Kak Dito sembari tersenyum. Aku mengangguk
lemas dan tiba-tiba aku merasa pusing, denyut-denyut itu muncul kembali. Seperti
tiga tahun yang lalu. Tidak. Jangan muncul lagi, aku belum siap. Rasanya sakit,
tentu saja. Denyutan di dadaku itu seperti jarum beracun, menghantam sekaligus.
Aliran darahku seperti membeku. Aku sulit membuka mataku. Kututupi wajahku
dengan kedua tanganku, aku menunduk. Aku meringis, tangan kananku
mencekram bajuku tepat di sebelah kiri. Sementara tangan kiriku masih menutupi
wajah. Dapat kurasakan tanganku mendingin disertai dengan bulir keringat.

"Rendra... Rendra... Kau baik-baik saja?" Hanya kata-kata itu yang


terakhir aku dengar dari suara Kak Dito. "Kak," gumamku pelan sampai aku tidak
ingat apa-apa lagi.
Tiba-tiba saja Renda terjatuh tidak sadarkan diri di rumah Kak Dito.
Tangannya gemetar, "Apa yang harus aku lakukan?" ujar Dito panik. Dengan
perasaan kaget, khawatir dan bingung, Dito membawa Rendra ke rumah sakit.
Sebelum itu Dito mendapat selembar kertas yang jatuh tepat di samping Rendra.
Dia membawanya, namun dia belum membacanya. Sekarang Dito hanya fokus
pada Rendra yang terbaring lemah tidak berdaya.

Setibanya di rumah sakit, Rendra segera ditangani. Ada apa dengan


adiknya? Apa hanya karena patah hati jadi seperti itu? Tidak mungkin, segera aku
mengabari Ibu dan Ayah Rendra dan tentu saja Ilona.

"Kenapa Rendra?" Sebuah suara terdengar jelas. Dito masih mematung,


dia berusaha merangkai kata untuk berbicara dengan Ilona.

"Rendra," tukas Ilona sedikit teriak.

"Ini aku bukan Rendra," ucap Dito setelah tersadar dari lamunannya.

"Kenapa? Ini siapa?" Tanya Ilona heran.

"Ini aku Kak Dito. Aku bingung menjelasknnya. Sebaiknya kau kemari
saja! Rumah sakit harapan, kau tahu kan?"

"Memangnya dia kenapa?" Telepon terputus, Ilona masih berpikir, siapa


yang sakit? Rendra sakit?

Ilona segera pergi ke rumah sakit, setibanya di sana terlihat Kak Dito yang
bolak-balik panik. Ilona pun menghampirinya.

"Kenapa?" Tanya Ilona.

"Di mana orang tuanya?" Jawab Dito yang malah balik bertanya.

"Rendra kenapa?" Ilona panik.

"Itu aku tidak tahu kenapa? Tiba-tiba saja dia jatuh pingsan. Dia terlihat
parah, dia mengidap penyakit?" Tanya Dito
"Aku tidak tahu," jawab Ilona yang mulai berjalan mendekati ruangan di
mana Rendra berada.

"Hanya yang aku tahu jatungnya lemah," ucap Ilona. Rendra tidak
percaya.

"Namun itu dahulu. Aku kira sudah sembuh," tambahnya.

Tidak lama kemudian keluarlah dokter dari ruangan itu. "Di sini siapa
keluarganya?" tanya dokter memandang Ilona dan Dito bergantian.

"Aku kakaknya, bagaimana keadaanya?" jawab Dito.

"Saya tidak yakin dia bertahan, keadaannya sangat kritis. Kenapa ia


membiarkan penyakitnya sampai seperti ini?"

Tanpa membuang waktu Ilona segera memasuki ruangan Rendra, "Aku


tidak percaya, apa maksudmu Rendra? Kenapa kamu mendiamkan penyakit ini?
Ini bukan main-main. Kamu masih muda. Bangunlah," ucap Ilona sembari
mengguncang-guncangkan Rendra yang tidak sadarkan diri.

"Kau itu sahabatku, sahabat yang paling aku sayangi." Ilona menangis.
Tanpa ia sadari Dito masuk dan memberikan selembar kertas pada Ilona, kertas
yang ditemukannya tadi.

"Aku mencintaimu... Sulitkah aku berkata seperti itu? Aku tidak bisa
mencintaimu... Karna aku sahabatmu. Aku bilang, aku sangat mencintaimu,
sahabatku"

Tanpa sadar air mata Ilona terus-menerus mengalir, Ilona pun tidak berniat
menghapusnya. Biarlah Rendra melihatnya, bahwa Ilona tidak mungkin bisa
hidup tanpanya.

Hari ini pemakaman Rendra, hari yang tidak pernah Ilona bayangkan.
Ketika satu per satu orang pergi meninggalkan makam, Ilona masih menatap batu
nisan itu dengan nanar.
Satu tetes air mata berhasil lolos dari mata Ilona. "Kau itu kenapa? Kenapa
kau menipu dirimu sendiri? Aku juga menyukaimu. Kau tahu, pada saat itu, pada
saat Kenan menembakku demi kau, aku menolaknya. Aku memilihmu daripada
Kenan, tetapi kenapa kau pergi? Kenapa secepat itu? Kau belum mengatakan
perasaanmu kepadaku secara langsung. Aku ingin mendengarnya Rendra...
Kumohon... Aku ingin mendengarnya langsung."

"Kumohon Rendra kembalilah!" lanjutnya.

Bumi seakan ikut merasakan apa yang Ilona rasakan. Terbukti dia
menurunkan hujan dengan sangat deras demi mencoba menyamarkan kesedihan
Ilona. Namun tetap saja buliran air mata itu tetap mengalir dengan derasnya.
Mungkin suatu saat ia akan bertemu dengan orang lain dan bahagia. Tetapi
Kenangan tentang Rendra akan selalu hidup di hatinya.
Hatimu Diciptakan untuk Siapa?

Siti Roudlotul Janah

Di musim semi bulan itu, Kania putri dari seorang pejabat pergi untuk
berlibur ke sebuah desa kecil. Ia menemukan banyak kehidupan yang tidak layak
di sana. Perempuan aktivis ini sangat iba melihat para anak kecil yang tidak
mendapat pendidikan dan hanya mampu mengamen di jalanan. Apalagi mereka
harus pergi pagi-pagi buta untuk menuju kota dekat desa kecil itu.

“Kak,” kata bocah kecil

“Iya Dek?” Jawab Kania

“Kak tolong foto kami ya, kami tidak pernah di foto.” Ucap bocah perempuan
pembawa gitar

“Iya dek. Pada baris yang bagus ya, senyum juga.” Ucap Kania

Kania yang sengaja membawa kameranya untuk memotret alam hijau pun
kini digunakan untuk memotret anak-anak kecil ini. Mereka sangat antusias dan
gembira. Bahagia rasanya melihat senyum mereka diantara lelah keringat yang
bercucuran di wajah mereka.

“Kak, terima kasih ya. Ini cukup buat kami bahagia. Kami pergi dulu Kak.” Ucap
bocah kecil itu. Kania hanya mengangguk dengan pegangan tangan bocah kecil
tidak berdosa itu. Hatinya menjerit, bahkan ia tidak bisa membayangkan jika ia
hidup di posisi mereka.

Hari demi hari, karena liburan selesai masih seminggu lagi, Kania berpikir
keras bagaimana caranya membuat anak-anak kecil ini bisa belajar sama seperti
mereka yang ada di kota. Kania bisa saja meminta Ayahnya untuk mendirikan
sekolah di sini, sebab Ayahnya adalah pengusaha sukses dan untuk mendirikan
sekolah adalah hal kecil bagi Ayah Kania. Namun sekali lagi, Kania adalah
perempuan mandiri dan kuat. Ia tidak mau melibatkan Ayahnya, ia ingin bekerja
keras. Dari tekad itulah, Kania kembali ke rumah. Ia mengajak teman-temannya
untuk menjadi pengajar anak-anak ini. Dan teman-temnnya pun mengiyakan
ajakan Kania.

Sore harinya Kania dan teman-temannya pergi ke desa itu dan mendirikan
sebuah sekolah yang berdinding kayu dan berukuran kecil.

“Untung kita punya Yoga, yang pinter soal urusan bangun-membangun.” Ucap
Fara

“Ah bisa aja, aku bisanya cuma bangun rumah kecil ini.” Jawab Yoga

“Kalau bangun rumah tangga?” tanya Fara iseng

“Insyaallah akan kubangunkan rumah untuk makmumku nanti di Surga.” Ucapnya

Candaan kecil itu membuat lelahnya terbayarkan melihat bangunan kecil


di depan matanya, bangunan yang akan menjadi sekolah anak-anak yang
mengamen itu. Setelah selesai membangun rumah, Kania pergi meninggalkan
teman-temannya tanpa makan terlebih dahulu. Beberapa menit perjalanan, ia
melihat bocah kecil yang kemarin memintanya untuk di foto.

“Dek,” panggil Kania. Anak kecil itu hanya menoleh dan tersenyum, namun ia
tetap berjalan.

“Dek,” panggil Kania lagi, kali ini dengan suara yang lebih keras. Anak kecil itu
menoleh dan tersenyum namun langkahnya semakin cepat.

“Dek berhenti!” ucap Kania yang tidak sanggup lagi berlari. Anak itu akhirnya
berhenti sampai Kania mendatanginya.

“Dek, kenapa kamu tadi tetap jalan pas kakak panggil?” ucap Kania.

“Aku tidak tahu kalau kakak menyuruh aku berhenti.” Ucapnya.

“Sini duduk.” Kania menggandeng tangan bocah kecil itu dan membawanya ke
sebuah gubuk kecil di samping sawah.

“Nama kamu siapa Dek?” tanya Kania.


“Aira Kak.” Ucapnya pelan.

“Kok pelan banget suara kamu?”

“Aku belum makan Kak.”

“Mari ikut Kakak sebentar.” Ucap Kania.

Mereka pun berjalan menuju tempat penginapan Kania dan teman-


temannya. Di sana teman-teman Kania masih sibuk dengan makanan mereka.

“Siapa dia?” ucap Fara.

“Ini Aira, yang aku ceritakan.”

“Sini ada makanan banyak Ra. Mau tempe? Atau ayam? Atau tahu?” ucap Yoga.
Aira hanya menggeleng-gelengkan kepalanya.

“Kenapa Ra? Tadi kamu bilang lapar.” Tanya Kania.

“Aku tidak pernah makan seperti ini Kak,” ucapnya.

“Sudah, makan saja.” Ucap Yoga.

Akhirnya malam itu Aira makan bersama Kania di tempat penginapan,


Aira banyak bercerita mengenai bagaimana kehidupannya bersama teman-teman
di Desa ini. Sampai akhirnya suaranya memelan dan matanya tertutup. Kania terus
memandangi Aira yang begitu lusuh karena keringat dan debu kendaraan.
Keesokan harinya, Aira mengumpulkan teman-temannya di sekolah kecil Kania.
Sekitar 10 anak berkumpul di depan sekolah ini.

“Halo adik-adik, sudah siap belajarnya?” ucap Kania.

“Siap Kak.” Jawab mereka serempak.

Setelah pembelajaran selesai mereka kembali mengamen seperti biasa.


Kania tampak tenang, setidaknya dia punya alasan untuk hidup di dunia.

Setelah pembelajaran hari itu, pembelajaran hari-hari berikutnya berjalan


dengan lancar. Hingga saat kepergiannya tiba, dan ia harus melihat tangisan-
tangisan bocah-bocah yang ia temui di tepi jalan dua minggu yang lalu. Ia harus
kembali menjalani perkuliahannya. Akhirnya dengan berat hati Kania
meninggalkan murid-muridnya, ia memberi banyak buku bacaan dan pendidikan
di sekolah yang ia namai “Sekolah Aira”.

Banyak kenangan yang pastinya masih tertinggal, namun ia juga harus


menjalani kewajibannya sebagai mahasiswa kedokteran. Sesampainya di kampus,
Kania langsung menjalani perkuliahan tanpa rasa lelah, ia menikmati proses yang
diberikan Tuhan ini. Perempuan berjilbab ini adalah mahasiswi kedokteran S2 di
salah satu Universitas unggulan. Sebenarnya banyak tawaran pernikahan untuk
Kania, namun Kania ingin menikah setelah S2-nya selesai, dan itu pun kalau ada
yang meminangnya. Karena sudah banyak keluarga laki-laki yang datang ke
rumah Kania dan Kania menolaknya. Ini merupakan hal biasa dalam hidup Kania,
banyak laki-laki yang mengejarnya tetapi Kania punya mimpi untuk berkeluarga
hanya dengan pilihan Ayahnya, ia ingin kelak suaminya seperti Ayah Kania.

Setahun berjalan, Kania masih sibuk dengan skripsi yang dijalani. Ia


termasuk mahasiswi berprestasi dan sangat jenius. Ia merupakan kebanggaan
kampus tersebut. Hingga saat wisuda tiba, para dosen menangis melihat
selempang bertulis “Cumlaude” menyelempang di badan dokter cantik ini. Para
dosennya tahu Kania adalah sosok pejuang dan dokter yang berkemampuan luar
biasa. Dia tidak pernah lelah menolong orang-orang meski tanpa bayaran
sepesersen pun. Karena Ayahnya mengajarinya bahwa kehidupan orang lain itu
lebih bermakna dari pada gudang uang. Dan menyelamatkan orang lain
merupakan cita-cita Kania dari dahulu. Dan kini telah terwujud, bahkan
melampaui rencana-rencana yang dibuatnya.

Seminggu setelah kepulangannya, Kania dikejutkan dengan kedatangan


seorang pemuda yang tidak lain adalah Yoga, teman seperjuangannya yang
sekarang menjadi arsitektur terkenal.

“Assalamualaikum Pak.” Ucap Yoga.

“Waalaikumussalam.” Jawab Ayah Kania.


“Kedatangan saya ke sini ingin bertaaruf dengan anak bapak, Kania.”

Ayah Kania hanya diam, dan menoleh pada Ibu Kania. Di belakang
jendela Ayah dan Ibu Kania berdiskusi masalah ini, sementara Kania duduk di
kamarnya.

“Nak, saya terima niat baikmu, jika jodoh maka Allah akan memberi jalan untuk
kalian menikah.” Ucap Ayah Kania.

Setelah perjumpaan Yoga dengan Ayahnya, setiap hari Yoga dan Kania
lalui dengan berdoa kepada sang Maha Cinta, ia meminta jawaban atas segala
pertanyaan-pertanyaan yang mengganjal. Suatu ketika Kania bertemu sahabat
lamanya yang juga pernah datang ke rumahnya untuk melamar Kania namun
ditolak.

“Ka, kamu di sini?” Ucap Feri.

“Iya.” Ucap Kania

Perjumpaan itu begitu singkat namun membawa bekas bagi Feri. Hingga
suatu ketika, di perayaan pernikahan teman Kania. Feri dan Kania dipertemukan
lagi, dan saat itu juga Feri mengungkapkan apa yang ada dihatinya.

“Ka, bolehkah aku menjadi imammu?”

Kania tidak langsung menjawab, ia mengambil air putih dan


meminumnya. Kemudian ia menjawab perkataan Feri tadi.

“Fer, kamu tahu hatimu diciptakan untuk siapa?” ucap Kania.

“Tidak.”

“Maka cari tahu dulu, baru aku bisa menjawab pertanyaanmu.” Ucap Kania.

Setelah perjumpaan itu Kania dan Feri tidak pernah bertemu lagi, Feri pun
masih mencari apa yang dimaksud Kania itu.

Dua tahun berlalu, Kania sudah sangat dewasa namun ia juga belum
menikah. Taaruf Yoga dan Kania tidak berjalan menuju pernikahan, dalam sholat
Kania ia menemukan seseorang yang lain, bukan Yoga sebagai imamnya. Begitu
juga Yoga, ia menemukan seseorang yang lain yang bukan Kania sebagai
makmumnya. Meski Yoga adalah pemuda yang sangat baik, namun Allah tidak
menakdirkan dia untuk Kania. Hingga tahun 2015 Yoga resmi menikah dengan
Fara yang ternyata adalah jawaban dari setiap doa-doanya. Acara pernikahan
mereka digelar sederhana namun meriah. Kala itu Kania dipertemukan lagi
dengan Feri. Dan Feri mengucap salam pada Kania.

“Assalamualaikum.” Ucapnya.

“Waalaikumsalam.”

Ucapan itu menandai kepergian Feri. Namun Kania tidak mampu berkata
apapun, ia hanya diam.

Tiba dirumah, ia dikejutkan dengan Feri yang sudah duduk di ruang tamu.

“Nak kemarilah.” Ucap Ayahnya.

“Pemuda ini melamarmu.”

Kania hanya diam dan meminum segelas air putih yang ada di meja.

“Ayah, aku tidak bisa menjawabnya karena dia tidak tahu jawaban atas
pertanyaanku.” Jawab Kania.

“Aku tahu.” Ucap Feri.

Kania tetap diam dan mendengarkan ucapan Feri baik-baik.

“Hatimu diciptakan untuk siapa? Sebenarnya pertanyaan ini sulit untuk kujawab,
hingga suatu ketika aku dipertemukan dengan seorang gadis bernama Aira, ia
mengajarkanku bagaimna manusia hidup dan menjalani hidup, gadis itu hanya
membawa sebuah gitar, namun saat aku bertanya kenapa kamu tidak mencari
pekerjaan selain mengamen? Dia hanya menjawab karena hatiku, hatiku yang
diberikan oleh Allah untuk merasakan cinta-Nya, bukan aku tidak mau berusaha,
namun aku hanya ingin meneruskan sebagai pengajar bocah di sekolah ini.
Sekolah yang di dirikan oleh seorang dokter muda. Ini hanya penampilanku,
pekerjaanku, namun hatiku berada di sekolah ini, yang terdapat cinta. Dan setelah
dua tahun aku menemukan jawaban dari pertanyaan itu. Hatiku diciptakan hanya
untuk Allah, untuk mencintai Allah.”

Suasana hening, dan tiba-tiba air mata Kania terjatuh. Namun sesegera
mungkin ia menghapusnya. Kemudian Ayah Kania bertanya pada anak semata
wayangnya ini.

“Ka, apakah kamu mau bertaaruf dengan pemuda ini?”

“Insyaallah, Ayah.” Ucap Kania.

Wajah Feri berseri menemukan jawaban itu, dan kini ia berusaha untuk
menemukan bagaimana Allah membawa hatinya. Siapakah yang diciptakan untuk
mendampinginya? Dan siapakah yang menjadi bidadari surganya?
Hujan Terakhir
Octavianney

“Kenapa kamu suka hujan?” tanya gadis di sampingku. Aku berpikir


sejenak. Memikirkan jawaban paling logis agar tidak terkesan aneh.

“Mungkin karena hujan membuatku jadi lebih sehat?” Malah jawaban itu
yang terlontar. Terdengar suara kikikan di sampingku. Mungkin jawabanku tidak
bisa masuk ke akalnya. Dan pikirku juga seperti itu. Entahlah, aku sendiri juga
bingung alasan aku suka hujan. Aku menatap gadis yang masih belum berhenti
tertawa dengan wajah yang seram. Gadis manis itu hanya menyengir kuda
menghentikan tawanya. Masih terpampang jelas jika ia sedang menahan tawanya.

“Kalau kamu?” tanyaku setelahnya.

“Kalau aku karena suka.” Jawabnya membuatku bingung. Terlihat


perubahan ekspresi di wajahnya seketika.

“Maksudnya?”

“Jika membenci berarti tidak suka dong?” jawabnya semakin melantur.


Aku hanya memutar kedua bola mataku mendengar jawaban aneh yang sudah
biasa kudengar dari mulutnya.

“Main kejar-kejaran yuk!” ajaknya.

“Seperti anak kecil saja.”

“Ayolah. Sebentar saja. Kita ulang masa lalu. Pasti seru.” Rengeknya.

Aku hanya bisa pasrah. Tidak pernah sekali pun aku menolak
permintaannya. Aku tidak bisa. Hatiku berkata untuk selalu membuatnya bahagia.
Aku sangat menyayanginya. Mungkin rasaku lebih dari sekedar teman masa
kecilnya. Meski dia tidak tahu. Dan aku lebih memilih memendam rasaku
daripada mengungkapkan yang mungkin akan mengakhiri persahabatan ini.
Seperti ini pun sudah cukup bagiku. Melihatnya terus tersenyum. Aku takut jika
suatu saat aku mengungkapkannya, rasa kami berbeda. Aku tidak ingin semua ini
berakhir begitu saja. Dan aku lebih memilih memendamnya sampai sekarang.

Hari ini, aku bertemu lagi dengannya. Teman masa kecil yang terpisah
tujuh tahun lamanya. Aku pindah ke luar kota mengikuti Ayah yang berpindah
tugas ke sana. Sedangkan dia masih di tempat kelahirannya dan tentunya diriku
juga.

“Main kejar-kejaran yuk!” ajakku

“Kamu yang mengejar aku ya?” pintaku lagi.

“Kenapa seperti itu?” Seperti ada protes dari nada bicaranya.

“Karena memsng cowok yang harus mengejar cewek.” Upss.. bicara apa
aku? Dia hanya menghela napas lagi. Aku rasa dia tidak terpengaruh oleh kata-
kataku barusan. Mungkin rasaku tidak bisa lagi terbendung. Rasaku kepadanya
yang tidak pernah kusingkap. Aku malu, aku belum siap, dan aku takut jika
ternyata dia menyukai orang lain. Biarlah rasaku tertanam begitu subur. Aku
yakin, suatu saat dia akan mengerti.

“Rana, kau hitung dulu sampai lima! Biar aku lari dahulu.” Aku memberi
perintah seperti biasa.

“Satu.” Terdengar suara Rana yang mulai menghitung. Aku mulai berlari.

“Dua.”

“Tiga.”

Meski hujan sedikit menghalangi jarak pandangku, aku berlari dengan


begitu cepat. Menjauh dari Rana mengelilingi taman yang memang sudah sepi
sejak hujan turun sore itu.

“Empat.”

“Lima.”
Rana mulai datang mengejarku. Langkah kakinya yang tidak seperti dulu
membuatnya cepat menyusulku. Dia secara keseluruhan memang sudah berubah.
Hanya bola mata dan senyum yang masih sama. Aku sangat merindukannya. Dan
waktu, dengan baiknya mempertemukan dia denganku lagi secara tidak sengaja di
sebuah taman kecil tempat aku dan dia sering bermain. Aku mengejarnya.
Mungkin memang itulah kenyataannya. Aku ingin menyamakan langkahnya yang
sudah begitu jauh di depanku. Tanpa dia tahu, aku terus mengejarnya sedari dulu.
Gadis yang menjadi cinta pertamaku yang sudah kukenal sejak kecil saat menjadi
cinta monyetku hingga sekarang.

Namanya Inara Rainandini. Bagus bukan? Nara cara aku memanggilnya.


Selain karena nama kami yang mirip, aku juga sangat berharap dia adalah jodoh di
masa depanku kelak. Aku terus mengejarnya. Tertawa di bawah derasnya hujan
bersama. Kami begitu menikmatinya. Aku berhenti sejenak. Menatap Nara yang
masih berusaha menjauh agar tidak tertangkap olehku. Kulihat dia menjulurkan
lidahnya kepadaku. Aku hanya tersenyum melihat tingkahnya yang masih belum
berubah. Aku sengaja berhenti supaya adegan kejar-kejaran ini tidak cepat usai.
Aku terus menatapnya yang berlari semakin jauh. Napasku tiba-tiba tercekat.
Pikiranku kosong. Tubuhku menegang seketika. Nara tergeletak begitu saja di
jalan setelah aku lihat dia terpeleset yang menghuyungkan tubuhnya ke luar
taman. Dan tubuhnya tersambar sepeda motor yang sedang melaju kencang detik
itu juga. Darah menggenang di sekitar tubuh yang terlihat begitu lemas itu. Aku
segera berlari ke arahnya. Dan pengendara motor itu entah sudah ada di mana.
Pastinya lari dari tanggung jawab sebelum ada saksi melihatnya. Aku terduduk.
Memangku Nara yang sedang kesakitan.

“Nara, bangun! Sadarlah,” teriakku panik.

Aku melihat dia masih tersadar. Tangannya yang kulihat begitu


dipaksakan menyentuh wajahku. Tanganku langsung meraihnya. Mendekapnya
dan kemudian menciuminya. Bayangan mengerikan terus berputar di otakku.
“Ra.. ran.a..,” panggilnya terbata-bata. Hatiku terasa seperti terhunus belati
melihatnya kesakitan seperti ini. Air mataku yang sedari tadi tidak bisa
kubendung, sudah mengalir bersama derasnya hujan yang semakin melebat.

“A.. aku.. me.n.. cintai..mu Ra.na..” ungkapnya. Tubuhku bergetar hebat.


Tangisku pecah begitu derasnya.

“Aku juga mencintaimu Nara. Tetaplah di sini bersamaku. Jangan


tinggalkan aku! Aku janji, aku akan selalu membuatmu bahagia. Aku janji Nara.”
Begitu sakit mengungkapkan semua itu. Aku memejamkan mata. Menahan semua
luka dan derita yang sudah menggantikan bahagia. Memori masa kecil dan
kejadian tadi terus berputar di otaknya. Membuatnya jauh lebih sakit rasa yang di
dapat. Kulihat Nara yang tergeletak lemah di pangkuanku. Matanya terpejam
untuk selamanya. Ingin sekali kuberteriak. Mengungkap semua beban hati yang
menumpuk begitu saja.

Di samping rumah baru Nara, aku terduduk. Menangis dalam diam.


Sengaja aku mengakhiri diri untuk beranjak dari sini. Aku ingin bersama Nara
lebih lama lagi. Belum lama aku mendapatkan cintanya. Kini sudah lenyap
dengan begitu cepat dan hanya menyisakan hati yang sudah hancur tidak
berbentuk. Aku menyesal. Jika saja tadi aku menolak permintaannya waktu itu.
Jika saja aku tidak membiarkannya berlari lebih jauh. Jika saja aku terus berlari
dan menangkapnya. Mungkin semua ini tidak akan terjadi. Memang sebuah
penyesalan selalu datang setelahnya. Membawa kejutan tidak terduga yang
membuat hati dan pikiran sulit menerimanya. Begitu berat. Tiba-tiba saja semua
itu sirna. Seperti fatamorgana yang hanya menjadikan ilusi bagai nyata. Aku
menyesal. Tidak seharusnya aku membiarkannya menunggu terlalu lama. Bahkan
sampai napas terakhirnya, aku baru mengungkapkannya. Kuingat kembali, gelagat
anehnya saat mengatakan “suka”, dia menambahkan kata kamu tanpa suara. Aku
yakin itu. Aku tidak mendengarnya, tetapi aku melihatnya sekilas. Aku mulai
memahaminya sekarang.

Ya, aku tahu satu hal sekarang. Aku menyukai hujan karena aku menikmatinya
bersamamu. Dan kini, aku membencinya karena aku tidak bisa merasakannya
denganmu lagi. Hujan membawamu pergi mengalir dari hidupku. Aku sangat
membencinya. Aku masih mencintaimu Nara.
I Love You Dad

Priska Rahman

Seperti biasa, secangkir kopi hitam pekat tanpa gula itu tidak pernah cukup
baginya. Lelaki tua di sudut kedai itu benar-benar menyebalkan. Aku mulai risih,
muak dengan keadaan ini. Menjengkelkan, dia masih saja memasang wajah yang
tidak berdosanya. Dia menatap tajam ke arahku menunjuk dengan tatapan yang
sama seperti cangkir yang telah ia teguk habis dengan nafsu. Dia minta tambah,
seperti yang biasa ia lakaukan semenjak beberapa minggu terakhir. Aku pikir ini
tidak akan berjalan sampai dua bulan bukan? Dia hanya seorang lelaki tua yang
kutemui di sudut kota kala sore itu. Langkahnya terseok-seok, keringat memenuhi
sekujur tubuh rentannya. Rambutnya memutih hampir seluruhnya, hanya beberapa
helai rambut hitam yang tersisa. Pertemuan pertamaku dengan lelaki tua itu benar-
benar berkesan bukan? Aku iba melihat keadaannya sore itu. Aku mengajaknya
mampir di kedaiku dan menawarinya secangkir kopi dengan rasa dan aroma yang
sama seperti yang akan kusajikan kepadanya hari ini, bahkan ini untuk yang kedua
kalinya. Hari itu, saat dia menarik diri hendak berpamitan denganku, aku
memintanya untuk kembali mampir keesokan harinya dan dia mengangguk
mengiyakan ajakan basa-basiku saat itu. Aku baik bukan? Untuk sesorang lelaki
tua yang sebatang kara mungkin? Tetapi belakangan ini aku menyadari ajakan itu
salah besar.

Saat itu, entah kenapa keesokan hari setelah pertemuan dengan sang kakek
aku begitu menantikannya kembali ke kedaiku. Dan untuk pertama kalinya aku
merasa damai saat aku melihatnya memasuki kedaiku. Ada yang sematkan
semesta di wajah keriputnya pada setiap kedatangannya. Aku menyambut
kedatangannya dengan hangat sore itu dan dia melempar senyum yang begitu
menawan dan dalam. Entahlah, siapa kakek ini, aku juga tidak tahu.Tetapi aku
tahu betul ada pesan tersirat yang ia sematkan pada seonggok senyuman menawan
di wajah keriputnya. Semenjak hari itu, dia selalu datang ke kedaiku, setiap hari
dan inilah yang terjadi sekarang, aku mulai muak dengan kehadirannya. Situasi
bebeda sekarang. Minggu ketiga dia meminta ditambahkan secangkir kopi, yang
masih ia lanjutkan sampai hari ini. Aroma kopi membumbung lagi di langit-langit
kedaiku, ini masih untuk si Pak tua sialan itu. Aku memasang wajah secemberut
mungkin, berharap dia menangkap maksudku.

“Mulai besok dan seterusnya aku tidak akan datang lagi.” Pak tua
bergumam pelan dan hampir tidak terdengar. Seolah dia menangkap seratus
persen maksud wajah masamku tadi. Aku tersentak dan hati kecilku membenarkan
kalau aku keberatan dengan niat Pak tua ini. Tetapi akal sehatku tidak tinggal
diam, aku menarik seulas senyum, mengangguk kemudian berlalu.

Mengetahui kenyataan kamu baik-baik saja sejauh ini adalah kebahagiaan


terbesar dalam hidupku, terima kasih untuk cangkir kesekian yang kunikmati
dengan gratis di kedaimu. Pak tua di sudut kedai.

Kira-kira demikian isi pesan singkat yang ditulis oleh tangan rentan milik
Pak tua. Dia meninggalkan sepucuk surat untukku.

Belakangan ini pikiranku di bayang-bayang oleh sosok Pak tua. Aku kerap
membayangkan dirinya di pojok sana sambil menikmati secangkir kopi yang
kuseduh. Di bayang-bayang oleh wajah tua rentan itu benar-benar tidak
mengenakkan. Aku memutuskan untuk mencari dan menemukannya.
Mengajaknya untuk kembali sekali lagi saja dengan hidangan secangkir kopi di
kedaiku. Kali ini aku berjanji akan menyajikannya dengan penuh kasih seperti
saat awal aku menyajikan kopi untuknya. Dan aku ingin bercerita banyak hal
dengannya.

“Rumahnya di persimpangan sana Neng.”

“Terimakasih Bang.”

Aku mengetuk pintu rumah klasik itu dengan sedikit ragu, sekali lagi dan
seseorang membukakan pintu setelahnya. Seseorang dari balik daun pintu itu
menatapku dalam. Dia pak tua di sudut kedaiku, aku membiarkan momen ini
mengalir begitu saja, membiarkan semesta membawanya ke mana ia mau.
Matanya bekaca dan dia memelukku. Aku kaku dalam pelukannya, tetapi tidak
dengan hatiku. Hatiku membalas hangat pelukannya dan untuk waktu yang cukup
lama kami tenggelam dalam euphoria ini. Dia bercerita banyak hal kepadaku.

Aku juga dengan rasa bersalah dan wajah besemu merah meminta maaf
kepadanya soal Pak tua di sudut kedai yang beberapa minggu belakangan
kuumpat seenaknya. Ayah terkekeh pelan, ”Kau tidak banyak berubah, selalu
seperti yang ayah kenal.”

“Maaf tidak bisa mengenalimu ayah,” aku berkat lirih, ada kehangatan yang
menjalar di seluruh hatiku, juga yang mengalir dari kedua sudut mataku.

Ayah sekali lagi membawaku kedalam dekapannya, dekapan yang hanya


mampu kumiliki dalam mimpi selama ini, dekapan yang kusematkan pada setiap
ujung sujudku, berharap.

“Itu bukan salahmu, kau masih terlalu kecil saat itu, kau gadis kecilku yang
berusia enam tahun, masih berkucir kuda, kau ingat itu?” Aku
tersenyum,mengangguk. Aku mendengarkannya dengan berbagai rasa yang
bercampur menjadi satu.

Tetapi lebih dari itu aku sama sekali tidak membencinya, juga tidak
menyalahkannya, aku damai, benar-benar damai dan aku bersyukur dia menepati
janjinya, mempertemukan aku kembali dengan ayah dan ibu. Aku punya banyak
waktu untuk berdamai dengan diriku sekarang, berdamai dengan masa laluku,
becerita kepada pusara ibu tentang banyak hal dan aku damai detik ini, benar-
benar damai. Aku juga menangis untuk segala yang tidak sempat kulewati
bersama kedua malaikatku, tetapi apa kamu tahu, sepanjang perjalanan panjang
hidupku, dia selalu datang setiap malam, membisikkan kepadaku bahwa ia tidak
lupa janjinya, dan aku percaya kepadanya. Aku benar-benar mempercayainya dan
dia menepati janjinya dengan manis.

“Ayah percaya hari ini akan datang, dia datang pada setiap malam.” Aku menoleh
kepada ayah, tersenyum dalam dan menyiratkan bahwa aku mengalami hal yang
sama.
Setidaknya kita pernah duduk melingkar bersama sambil menikmati
secangkir teh hangat yang diseduh Ibu, tetapi kali ini biarlah aku dan Ayah, duduk
berhadapan sambil menikmati kopi hitam pekat.
I’m Fine Thank You

Syura Arnis

Rintik-rintik masih terdengar di luar sana, jendela kamar sengaja kubuka


lebar-lebar agar aku bisa melihat hujan. Menurutku saat hujan turun adalah hal
yang aku nanti-nantikan karena menurutku saat hujan turun aku bisa merasakan
ketenangan yang bahkan aku sendiri tidak tahu mengapa aku sangat tenang jika
melihat hujan, mendengar suara hujan, bahkan mencium bau tanah yang khas
ketika hujan turun. Mungkin aku merasakan aroma terapi yang bisa menenangkan
tubuhku kembali, lucu memang. Aku tidak ingat kapan terakhir kali hujan
kembali membasahi bumi, enam bulan yang lalu? Atau bahkan lebih? Aku tidak
ingat, yang paling penting aku sangat senang saat hujan kembali turun.

Aku bangkit dari dudukku dan menuju balkon kamarku, dengan secangkir
kopi di tangan aku kembali menyeduh kopi hangatku. Aku masih termenung
menatap pemandangan alam luar yang ada di hadapanku. Aku kembali mengingat
kejadian enam bulan yang lalu, kejadian yang sampai saat ini masih menghiasi
ruang kenangan di memori kepalaku. Seperti hari-hari yang mampu aku lalui, air
mataku kembali menetes, aku tidak pernah memiliki alasan yang kuat untuk
menangis. Hanya saja, semua ingatan tentang dia selalu memanggil sungai kecil
ini. Aku kembali membuka buku yang di dalamnya tertulis rapi kisahku dengan
dia, Alvin Aldiran.

Namaku Alena Mahara, aku anak tunggal dari keluarga yang sederhana.
Aku bersekolah di SMA Modal Bangsa, sekolah kami sekolah berasarama dan
anak-anak di sini sangat pandai-pandai. Papa dan Mama mengantarku di sini
dengan alasan agar aku tidak terlalu bebas jika bersekolah di sini, karena sekolah
ini berasrama. Jadi aku tidak bisa kelayapan di luar seperti anak-anak yang lain.
Orang tuaku sangat khawatir akan keselamatanku. Aku tidak membantah
keputusan orangtuaku. Karena Papa dan Mama akan sibuk bekerja. Aku juga tidak
seperti anak tunggal yang lainnya, Papa dan Mama tidak pernah memanjakanku.
Tetapi aku tahu mereka sangat menyayangiku walaupun dengan kata kasar
mereka membuangku di sini.

Kembali aku teringat ketika pertama kalinya aku berjumpa dengan Kak
Alvin, dia kakak kelasku di sekolah. Awal perjumpaan kami dikarenakan aku dan
dia telat pergi ke sekolah dan kami berdua di hukum. Perjumpaan yang sangat
lucu, pertama kali aku melihatnya sepertinya aku langsung mencintainya, lebih
tepatnya lagi jatuh cinta untuk pertama kalinya. Setahuku Kak Alvin adalah
Ketua Bidang Kesenian dan Olahraga.

Perjumpaan pertamaku dengan Kak Alvin tidak berhenti hanya di situ saja,
karena di hari itu Kak Alvin meminta nomor Whatsappku. Dan perkenalanku
dengan Kak Alvin di mulai dari situ. Kak Alvin sering menghubungiku dan
menemaniku pergi ke perpustakaan kota. Kedekatanku dengan Kak Alvin juga di
bantu oleh sahabatnya Kak Alvin yang bernama Kak Andreas, dan juga ketiga
sahabatku yang bernama Clarita, Krystal dan Audrey.

Ketiga sahabatku juga sangat mendukung kedekatanku dengan Kak Alvin,


karena kata mereka Kak Alvin itu adalah lelaki tangguh yang tidak pernah
mengeluh dan lelaki yang sangat berpendidikan.

Aku tertawa renyah ketika membaca buku itu, aku ingat betapa lugunya
aku dulu. Semua kejadian yang terjadi kuukir dengan sangat indah di buku itu,
foto kami juga tidak lupa kuhias dan aku tempel di dalamnya dengan kata-kata
indah yang kurangkai di samping gambar itu. Bahkan barang yang Kak Alvin beri
seperti coklat atau permen, kertasnya aku abadikan juga di buku ini. Aku kira ini
sangat unik. Ketiga sahabatku sampai tertawa melihat tingkahku yang begitu
aneh. Tetapi bagiku ini begitu unik dan menarik, aku suka dengan kehidupanku
yang terkadang orang menganggapnya aneh.

Air mataku kembali mengalir ketika melihat foto gantungan yang Kak
Alvin berikan kepadaku dahulu. Gantungan itu dibeli ketika dia pergi ke luar kota
karena ada urusan dengan anggota OSIS yang lain. Aku tidak pernah mengira Kak
Alvin menganggapku spesial ketika memberikan gantungan itu kepadaku, aku
masih mengingat jelas kata-kata yang diucapkan ketika akan memberikan
gantungan itu, “Alena, ini gantungan imut untuk kamu si pesek yang ngangenin.“
Ucapnya sambil tersenyum menggodaku. Dia memanggilku dengan sebutan pesek
karena memang hidungku tergolong pesek, berbeda dengan hidung Kak Alvin
yang mancung dan berdiri kokoh di mukanya. Dan satu lagi, dia juga
memanggilku dengan sebutan vampire, karena katanya aku mirip dengan Bella di
film Twilight. Katanya aku sangat cocok menyandang sebutan itu, dengan
mukaku yang putih, bibir merah dan mata besar aku sangat mirip seperti vampir
ucapnya sambil menyamakan mukaku dengan Bella di film Twilight. Kak Alvin
juga pernah mengatakan, “Al, kamu tahu kalau di film Twilight Bella berpasangan
dengan Edward?” tanyanya sambil melihat ke atasku. Aku hanya mengangguk.
“Tetapi di dunia nyata Bella tidak berpasangan dengan Edward, tetapi dengan
Jacob, kakak tidak cocok jadi Edward karena kulit kakak cokelat.“ Ucapnya
sambil tertawa. “Dasar serigala,“ ucapku juga sambil tertawa keras.

Terkadang aku bingung dengan hubunganku dengan Kak Alvin, kedekatan


kami tidak terikat dengan hubungan apapun. Tetapi jika orang melihat
kedekatanku dengan Kak Alvin mereka semua mengira bahwa aku dan Kak Alvin
itu berpacaran. Sebenarnya aku takut dengan kedekatan kami sekarang, aku takut
Kak Alvin tidak merasakan seperti yang aku rasakan. Aku takut jika nanti
kedepannya tidak seperti yang kuharapkan. Setiap hari aku berdoa untuk kebaikan
kedekatanku dan Kak Alvin, agar aku tidak terlalu berharap dengannya.

Aku tidak mengerti dengan perasaanku sendiri, apa aku harus memercayai
Kak Alvin atau tidak? Ketiga sahabatku dan Kak Adrian selalu meyakinkanku
bahwa Kak Alvin tidak akan menyakitiku. Aku kembali pergi dari rasa
keraguanku, aku kembali yakin bahwa Kak Alvin tidak mungkin menyakitiku.
Tetapi tiba-tiba Kak Alvin berubah, dia tidak seperti Kak Alvin yang aku kenal.
Aku tidak mengenalinya lagi, dia bahkan tidak lagi menghubungiku,
menggangguku lewat pesan singkat dan tidak lagi menyapaku ketika di sekolah.
Awalnya aku mengira Kak Alvin sedang sangat sibuk dengan tugas sekolahnya,
tetapi benteng kepercayaanku runtuh ketika aku mendengar kabar jika Kak Alvin
dan Audrey berpacaran. Iya Audrey sahabatku sendiri, orang yang selama ini aku
percaya dan tempatku berkeluh-kesah bahkan dia selalu mendengar ceritaku
dengan Kak Alvin. Aku sungguh tidak percaya, aku sungguh hancur, hatiku
sangat sakit, udara di sampingku seperti habis begitu saja. Aku duduk di sudut
kamar sambil memeluk lututku, badanku bergetar sangat hebat. Aku tidak pernah
merasakan sakit hati yang teramat sangat seperti ini. Clarita dan Krystal sangat
prihatin dengan keadaanku saat itu, mereka merasa sangat benci kepada Audrey
dan juga Kak Alvin, sama sepertiku. Kak Adrian yang juga merasa bersalah terus
menghubungiku, awalnya aku tidak ingin menjawabnya tetapi karena ada sangkut
paut dengan kak Alvin, dengan berat hati aku menjawabnya.

Kak Adrian bercerita dengan panjang lebar, Kak Adrian bilang bahwa Kak
Alvin sudah lama suka sama Audrey. Masa itu Kak Alvin merasakan sakit hati
ketika mengetahui Audrey berpacaran dengan teman kelasnya Kak Alvin. Lama
Kak Alvin menjalani harinya yang rapuh karena belum bisa melupakan Audrey.
Tetapi semenjak berjumpa denganku, Kak Alvin langsung berubah total, Kak
Alvin bisa melupakan Audrey ketika bersamaku. Tetapi tiba-tiba disaat Kak Alvin
sedang dekat denganku, Audrey menghubungi Kak Alvin tanpa sepengetahuanku
dan meminta maaf jika dulu dia tidak memilih Kak Alvin. Audrey langsung
mengambil kesempatan itu, seperti itulah yang Kak Adrian ceritakan kepadaku.
Belum lama Kak Alvin menjalani hubungan dengan Audrey, Audrey kembali
mematahkan hati Kak Alvin. Dia kembali dengan mantannya dan meningalkan
Kak Alvin. Audrey sempat meminta maaf kepadaku sambil menangis, dia
mengaku bersalah atas sikapnya. Jadi keputusan Audrey untuk kembali ke
mantannya dan meninggalkan Kak Alvin. Kak Alvin sangat menyesal sudah
meninggalkanku, Kak Adrian membantu Kak Alvin untuk kembali mendekatiku.
Tetapi aku masih belum sanggup, hatiku belum pulih karena luka yang di
ciptakannya. Aku hanya menuliskan sedikit surat untuk Kak Alvin dan
menitipkannya kepada Kak Adrian, intinya aku masih sangat menyayangi dan
mencintai Kak Alvin sampai kapan pun, tetapi keputusanku sudah bulat. Aku
belum bisa menerima Kak Alvin kembali.

Aku kembali tersadar dari bayangan masa laluku. Tetapi sekarang aku
baik-baik saja, karena bagiku dia adalah orang istimewa sehingga aku akan selalu
mengenang, menyayangi bahkan mencintainya. Aku selalu melihatnya hidup
dengan baik. Setiap hari, dia tertawa, berbincang, berjalan dengan begitu baik.
Namun, akhir-akhir ini aku melihat dia sebagai sosok yang begitu sensitif.
Mungkin kurang istirahat. Entah, cara bicaranya sedikit berbeda. Menjadi lebih
kasar.

Dia hidup dengan baik, dengan segala kesibukan yang begitu ia cintai.
Aku yakin, dibalik sosok tegar yang selalu ia perlihatkan, masih ada lubang kecil.
Aku terlalu mengenalnya, sial. Aku bisa mengetahui apapun yang ia rasakan tanpa
perlu ia katakan. Yang aku lakukan sekarang adalah, aku tidak pernah berhenti
mendoakan kebahagiaanmu dan aku juga berdoa jika kelak nanti kita bisa bersatu
kembali seperti dahulu jika Tuhan menghendaki dan ketika aku sudah siap
membuka hatiku kembali. Aku tidak ingin kau mengetahuinya, yang terpenting
kau bahagia. “My warewolf,” ucapku dalam hati sambil menutup diary
kenanganku dan memeluknya di dalam pelukanku.
Kamu
Widi Dwi Haspiani

Pagi itu terasa berbeda dari pagi tahun lalu, ia membawa angin yang terasa
sedikit hangat masuk menerobos kulitku dengan lembut, aku hanya bisa
merasakan sentuhan lembut angin itu, berharap ia tidak akan pernah pergi dari
hari-hariku. Hari berlalu sangat terasa bagiku, hidup itu sebuah kejutan, tidak bisa
diperkirakan, seperti hati, ia tidak bisa memilih kepada siapa ia akan terjatuh.

Saat itu aku tengah duduk bersama angin, berbincang dengan hati yang
kutulis dalam selembar bait puisi. Namun, tiba-tiba cahaya itu membuyarkan
puzzle imajinasiku yang telah kususun rapi, aku hanya diam membiarkan cahaya
itu masuk dan mengambil alih pikiranku, walau ia tidak berniat untuk singgah di
mana pun tempat yang telah kusediakan dengan tulus. Aku sangat mencintai
cahaya itu, dia adalah Ray sahabatku, dia satu-satunya lelaki yang mampu
mengambil alih seluruh sel saraf dalam otakku, dia yang mampu merubah
pandangan sahabat menjadi sebuah pandangan cinta, aku mencintainya, namun
aku sadar dia hanya menganggapku tidak lebih dari sekedar sahabat, andai dia
tahu bahwa aku sangat mencintainya, Ray... tolong lihat mataku. Kamu akan
melihat begitu banyak cinta untukmu, walau aku tahu kamu tidak akan bisa
membalasnya. Aku teringat suatu hari ia pernah berkata kepadaku bahwa ia sangat
mengagumi matahari, dengan alasan matahari mampu membantu bulan bersinar,
dan dia pun berkata bahwa dia ingin menjadi matahari bagiku, membuatku
bersinar walau dalam jarak jauh. Kata-katanya salalu mampu membuatku
ketagihan, ingin terus mendengarkan semua ocehannya.

Hampir tiga tahun kami bersahabat, hubungan kami memang sudah sangat
dekat walau banyak orang yang iri dan bilang bahwa aku tidak pantas berteman
dengan Ray, cowok tampan di sekolah. Aku tidak memperdulikan itu, yang aku
ingin hanya terus dekat dengannya walau hanya dengan kata persahabatan. Kami
bahagia dengan persahabatan yang kami mulai tanpa sengaja, dia selalu mampu
membuatku tersenyum saat aku sedang benar-benar terpuruk, berbagai cara dia
lakukan hanya untuk membuatku tersenyum. Entah apa alasan dia mau bersahabat
denganku dan mengisi hari-hariku dengan gombalan recehnya, apa benar dia
hanya menganggapku sekedar sahabat saja? Atau lebih? Pertanyaan-pertanyaan
itu sempat menghajarku, namun aku telan mentah-mentah pertanyaan itu, karena
aku tidak melihat ada cinta di matanya untukku.

Hari-hariku berjalan indah bersamanya, namun hal indah itu berhenti saat
kami kedatangan orang baru yang merubah segalanya. Naya, ia adalah perempuan
terkenal dan eksis di sekolah. Tentu dia sangat cantik, seluruh penduduk sekolah
selalu menjodoh-jodohkan dia dengan Rayku, karena Naya yang cantik sangat
cocok berdampingan dengan Ray yang super tampan itu.

"Aku tidak cantik, namun aku tulus Ray.” Kalimat itu yang selalu
terucapkan dalam hatiku, tentu aku sangat sakit hati saat hubungan mereka karena
perjodohan itu, mereka menjadi semakin dekat. Namun, aku tetap bersyukur,
setidaknya aku masih dapat melihat Ray tersenyum bersamanya, senyumnya yang
indah walau itu bukan untukku.

"Agis, aku punya kabar gembira untukmu," ucap Ray sumringah.

"Apa?" jawabku.

"Aku jadian sama Naya."

Seketika aku mengendalikan pikiranku dan berkata aku akan baik-baik


saja, aku tidak akan terluka sama sekali karena dia hanya sekedar sahabatku,
walau dia telah mengambil tempat di hatiku, namun aku tidak bisa bertahan lama
dengan pikiran itu, hatiku seketika benar-benar remuk tidak berbentuk, namun aku
berusaha untuk tidak menunjukannya, aku pun memaksakan untuk memamerkan
semua deratan gigiku dan membuat senyum yang indah untuk Ray.

"Selamat ya, jaga hatinya, Naya cewek baik, jangan kamu patahin
hatinya," ucapku.

"Seperti kamu patahin hati aku," lanjut hatiku.

"Siap bebs," ucapnya antusias.


Hari-hari aku lalui sangat terasa berat bagiku, melihat hubungan mereka
semakin mesra, tidak tahu apa yang sedang hatiku rasakan, cemburu? mungkin
iya, namun aku tersadar, seorang Agis, perempuan cupu yang tidak terkenal, tidak
eksis sepertiku ini bisa mendapatkan hati seorang laki-laki tampan seperti Ray,
kurasa tidak mungkin. Satu bulan berlalu, aku memutuskan untuk pergi dari
Sekolah dan Rayku. Aku memutuskan untuk pindah sekolah dan tinggal bersama
ayahku di Jakarta, karena ayahku dipindahtugaskan di sana, dunia seperti
memaksaku untuk benar-benar mengikhlaskan Ray, dan dunia seperti ingin
menjaga hatiku yang nyaris remuk oleh keadaan, saat aku memutuskan untuk
pergi tanpa memberitahu Ray, aku dikejutkan dengan kedatangan Ray bersama
Naya ke rumah saat aku hendak memasuki mobil untuk pergi ke Jakarta.

"Kamu mau kemana? Kenapa kamu pergi?" Ucap Ray dengan seketika
menggenggam tanganku menahanku untuk pergi.

"Aku harus ikut bersama ayahku ke Jakarta, aku akan sekolah di sana."

"Kamu mau meninggali aku? Siapa nanti yang akan menggangguku?"


Rintihnya, buliran air bening mulai membasahi pipinya, untuk yang pertama
kalinya aku melihatnya menangis, dan itu karena aku. Aku tidak menyangka.

"Sudah cukup aku mengganggumu, ada Naya yang akan mengganggumu


nanti."

"Tidak, bagaimana dengan persahabatan kita?"

"Aku harus pergi Ray."

Kalau tidak aku akan selalu merasa sakit, karena aku tidak bisa terus-
terusan melihat kalian bersama.

"Pergilah!" Dengan kasar Ray menghapus air matanya.

Aku hanya diam, sebenarnya aku tidak bisa jauh dari Rayku, mataku
beralih pada Naya yang dari tadi diam tanpa bersuara, Naya hanya terus
memandang mataku, mungkin ia melihat begitu banyak cinta yang terlukis jelas di
mataku untuk Ray.
"Kamu benar-benar akan pergi? Aku akan merindukanmu Agis." Rintih
Ray.

"Aku juga Ray."

Aku pun beralih menatap Naya kembali, mendalamkan pandanganku


kepada matanya, seolah mataku mewakili untuk mengatakan "Jaga Rayku Nay, ia
cahayaku, dan sekarang ia akan menerangimu". Naya yang juga menatap lekat
mataku seperti mengerti dengan apa yang aku coba katakan melalui mataku, dan
ia pun mengangguk antusias, mata Naya menggambarkan bahwa ia kasihan
kepadaku. Bukankah cinta itu mengikhlaskan dan melepaskan ia menemukan
kebahagiaannya? Dan itu yang sedang aku lakukan, dengan pergi menjauh dari
kalian.

"Aku pergi Ray." Ucapku

"Aku harap kita bisa bertemu lagi nanti."

Aku hanya menjawab dengan menganggukan kepalaku, pertanda aku tidak


yakin akan hal itu, karena aku mencoba untuk mengubur semua rasa yang tumbuh
di hati tanpa berkompromi dengan akalku. Aku menatap lekat mata elang Ray,
ada rasa tidak rela di matanya, dan linangan air bening itu. Aku melihat ada rasa
sayang yang begitu besar kepadaku, aku bahagia melihatnya, kucoba mencari apa
yang ingin kulihat di matanya, kucoba cari sedikit rasa cinta di matanya namun
aku tidak menemukannya. Aku mengerti dan itu sangat wajar, cinta tidak harus
berbalas, aku mencintainya dengan tulus itu sudah lebih dari cukup.

"Aku ingin cahayaku tetap menyinarimu Agis." Ucap Ray

"Tidak, cahaya itu sudah padam, kamu harus menyinari Naya, itu tugasmu
sekarang."

Tanpa menoleh Ray, aku pun bergegas masuk ke mobil dan pergi
menjauh, walau terdengar teriakan Ray memanggilku untuk meminta penjelasan
dari kalimat terakhirku, aku coba menahan untuk tidak menoleh dan menatap
matanya lagi, agar aku tidak terus mencari cinta di matanya walau sudah jelas aku
tahu bahwa memang tidak ada cinta untukku. Aku mencintaimu Ray, kuharap
kamu tidak akan pernah tahu tentang rasa ini, aku takut cahayamu meredup.

Tempat baru, sekolah baru, aku harus berusaha bersenggama dengan suasana
asing tanpa Ray di sisiku. Aku menjalani hariku dengan mencoba membuatnya
indah tanpa cahaya, aku mencoba membuat cahayaku sendiri, di sini aku mulai
menemukan kehidupan baru walau tidak seperti dulu, kehidupan seperti
membawaku untuk naik dari dasar jurang yang menyakitkan dan bisa membuatku
terus terpuruk tanpa mampu berjalan. Aku berusaha tidak membuang waktuku
dengan terus menuruti hatiku, aku melihat jam tanganku, jam tangan pemberian
Ray, sengaja aku terus memakainya karena dengan itu aku merasa Ray terus ada
bersamaku, dulu saat ia memberiku jam tangan ini, ia berkata "Agis, aku
memberimu jam tangan ini agar kamu mengerti bahwa setiap waktumu harus
kamu jadikan seberharga mungkin". Itu kalimat Ray yang selalu aku ingat, dan
tidak akan pernah aku melupakannya, walau sekarang aku jauh darinya, aku tidak
berusaha melupakannya, melupakan kenangan bersamanya, melupakan
persahabatan yang indah itu, tidak. Bukan itu maksudku, aku menjauh darinya
karena aku mencoba memulihkan hatiku yang terus menerus menuntut balasan
cintanya.

Satu tahun berlalu aku melewati masa panjang dan perjuangan yang
melelahkan namun terbalas dengan kabar bahwa aku lulus dengan nilai ujian
tertinggi. Hari ini adalah hari kelulusanku, semua orang berias mempercantik
dirinya agar terlihat indah untuk mewakili perasaan mereka karena kabar
kelulusan dan sebagai kenangan terakhir masa SMA. Aku memakai dress panjang
berwarna merah dengan rias wajah yang terlihat natural, aku membiarkan
rambutku tergerai sempurna, aku berjalan membelah lapangan, semua pasang
mata menatapku dengan tatapan aneh seperti tidak percaya. Tentu saja karena ini
kali pertama aku memakai bedak, rias wajah, dan membiarkan rambut yang biasa
aku ikat itu tergerai. Aku berjalan percaya diri membelah kerumunan orang yang
terus menatapku, aku terus melangkahkan kakiku menuju ke atas panggung untuk
membawa pialaku, sebagai sebuah penghargaan untukku. Aku pun bergegas
berkumpul dengan teman-temanku untuk melaksanakan perpisahan karena setelah
ini kami mungkin tidak akan berkumpul lagi. Saat aku berjalan menuju
kerumunan teman kelasku, tiba-tiba sebuah tangan kekar memegang erat tanganku
dari belakang, aku pun menoleh untuk mengetahui siapa pemilik tangan itu.

"Congratulation cantik, bulanku, cahayamu telah kembali," ucapnya


dengan senyum mempesona, sangat indah. Aku tertegun. Dia? Ada di sini?
Kenan

Junita Maulida

Kenan Aditya adalah seseorang yang tengah kukagumi saat ini. Apalagi
dia berstatus sebagai sahabatku. Aku dengan Kenan bersahabat sejak lama,
meskipun kini kami tidak lagi satu sekolah sejak lulus dari sekolah dasar. Kenan
adalah tipikal orang yang bertampang dingin, otomatis sikapnya sedikit
menyebalkan. Kalau ketemu dia harus senyum sapa terlebih dahulu, soalnya dia
itu orangnya susah ditebak. Tetapi, pada kenyataannya hal itu tidak mengenaiku.
Mungkin aku terlalu spesial untuk dijauhi dan tidak dikenali. Itu terlihat disaat
aku kembali dipertemukan dengannya. Kenan menunjukkan wajah yang
sumringah bahkan tidak ayal dia selalu mengejekku dengan berbagai guyonannya.
Namanya juga sahabat meskipun sudah lama tidak bertemu. Dia sekolah di
sekolah swasta milik orang tuanya.

Kenalin namaku Kinan Agrivina. Panggil saja Ina. Aku adalah salah satu
murid dari salah satu SMA di kota Marabahan, Kalimantan Selatan. Aku hanyalah
seorang perempuan yang hanya bisa terdiam dan menyendiri untuk menutupi
kesedihan dan juga perasaan gugupku ketika berdekatan dengan seseorang yang
kukagumi. Namun, ketika aku berdekatan dengan Kenan hal itu malah tidak
timbul. Mungkin karena aku bersahabat dengannya sehingga tidak terasa lagi
kegugupannya. Umurku sekarang 18 tahun, cukup tua bagiku untuk duduk di
kelas 11. Seharusnya saat ini aku kelas 12 namun karena suatu masalah maka aku
pun harus stay satu tahun disaat aku mau memasuki SMP. Tidak terlalu penting
juga membahas itu semua.

Kini aku tengah bersiap-siap untuk berangkat sekolah. Jam sudah


menunjukkan pukul 07.00 dan itu tertera di arlojiku. Seraya membenahi
kerudung, aku pun Video Call-an dengan Kenan lewat aplikasi Whatsapp. Terlihat
di layar gawaiku dia begitu tampak rapi meskipun rambutnya belum tertata. Dan
ini kesempatanku untuk mengejeknya.
“Kenan, di kepala kamu itu rambut apa rumput? ” Ejekku kepada Kenan.

“Semak-semak, Ina. Nih, baru mau aku rapikan.” Tukas Kenan kepadaku seraya
meyunggingkan bibirnya yang tipis itu.

“Kebiasaan banget, sih. Katanya mau jadi tentara, tetapi masih saja lupa sama
kerapiannya.” Ucapku kepadanya.

“Maka dari itu dengan adanya kamu, aku jadi orang yang tidak lupa. Aku jadi
tentara juga bukan hanya untuk menjaga Negara. Tetapi sekalian untuk menjaga
hati kamu.” Tutur Kenan.

“Sudah lewat 15 menit, nih. Waktunya aku berangkat sekolah.


Assalamualaikum.” Pamitku kepadanya.

“Iya, Wa’alaikummusalam. Hati-hati di jalan.” Ucap Kenan kepadaku.

Seperti itulah kebiasaan yang setiap hari kulakukan. Chatting-an dengan


Kenan itu tidak terhitung ratusan kali dalam sehari. Itulah hal yang bisa kami
lakukan disaat jarak kami dekat tetapi terasa jauh. Karena jarang sekali kami
bertemu secara langsung.

Hari-hari pun berlalu, entah mengapa sejak kemarin tidak ada sama sekali
pesan dari Kenan. Aku pun bingung tiba-tiba saja Kenan berubah 180 derajat dan
sama sekali tidak merespons pesan dariku meskipun sudah di read-nya. Aku pun
terus bertanya-tanya ada apa dengan Kenan. Apakah aku tengah melakukan
kesalahan kepadanya sehingga dia tidak merespons pesan dariku. Aku pun
langsung bergegas menemui Kenan ke tempat tongkrongannya. Dengan
mengayuh sepedaku, aku pun bergegas mendatanginya. Sesampainya aku di
tempat tongkrongan Kenan tampak terlihat kebingungan ketika aku
menghampirinya, sedangkan sahabat-sahabatnya malah tersenyum aneh pada saat
itu.

“Kenan, kamu kenapa sih?” Tanyaku kepada Kenan dengan kosa kata yang
tentunya berbeda dengan tanpa adanya mereka.

“Gua tidak kenapa-kenapa, Kinan.” Jawabnya dengan nada dingin.


Aku pun langsung menarik tangan Kenan lalu membawanya menjauh dari
pendengaran para sahabatnya. Dan kami pun duduk di bangku taman yang ada
didekat kami. Aku langsung menghujamnya dengan begitu banyak pertanyaan.
Tetapi, respons yang di lontarkan Kenan hanyalah mengangguk, menggeleng dan
mengiyakan. Sungguh menyebalkan ketika aku harus berhadapan dengan orang
yang bertipikal seperti ini.

“Kamu kenapa? Seandainya aku ada salah, aku minta maaf. Please, Kenan jangan
seperti ini.” Tuturku kepadanya seraya menatapnya yang sendari hanya tertunduk.

“Seharusnya kamu tahu kenapa aku bisa jadi seperti ini.” Ucap Kenan kepadaku.

“Aku tidak tahu apa yang menyebabkan kamu bisa seperti ini.” Ucapku kepada
Kenan seraya menutup wajahku dengan kedua telapak tanganku.

Entah sejak kapan ada keberanian dari Kenan, ia pun langsung


merengkuhku dalam pelukannya. Aku hanya bisa meneteskan air mata akan
perlakuan dinginnya kepadaku. Meluapkan kerinduanku yang beberapa hari ini
tidak terluapkan.

“Aku minta maaf.” Ucap Kenan kepadaku seraya mengeratkan pelukannya.

“Mungkin ini karena egoku yang terlalu melebihi batas. Aku terlalu cemburu
dengan seseorang yang tengah mendekati kamu.” Tutur Kenan meluapkan
jawaban yang kupertanyakan.

Aku pun langsung melepaskan diri dari pelukan Kenan lalu menatapnya.
Menatap kedua bola matanya yang sangat tersirat kesedihan. Kami hanya bisa
saling menatap tidak bergeming untuk beberapa saat. Aku kembali mencerna
jawaban dari Kenan tadi. Dia begitu cemburu ketika aku dekat dengan laki-laki
lain. Padahal aku dengan seseorang itu hanyalah berstatus teman sekelas, tidak
lebih. Dan aku pun jalan berdua dengannya karena tugas kelompok sehingga aku
harus mematikan gawaiku untuk fokus ke tugas itu. Rupanya tidak sengaja aku
berpapasan dengan Kenan di jalan. Tetapi, dia tidak merespons sapaan dariku.
Kenan hanya menunjukkan tampang dingin. Aku pun berpikiran bahwa dia tidak
mengenali atau mendengarkan sapaan dariku.
Rupanya disaat itu Kenan tengah cemburu melihat kedekatanku dengan
teman sekelasku itu. Aku pun menjelaskan hal yang sebenarnya. Meski pada
awalnya dia seperti acuh tidak mau mendengar alasanku. Namun, setelah
mencapai titik akhir dari penjelasanku, dia pun mulai memahami bahwa
perasaanku hanya tercipta untuknya.

“Aku tahu kamu perlu jawaban tentang perasaan kamu ke aku. Tetapi, aku juga
punya alasan mengapa aku tidak melakuan hal itu. Setiap orang punya cara untuk
mengungkapkan perasaan sukanya. Buktinya aku terus saja men-chatting dan
mencoba menghubungi kamu disaat kamu cemburu dengan teman sekelasku itu.”
Tuturku kepada Kenan seraya menggenggam kedua tangannya.

Kenan hanya bisa terdiam dan terus saja menelisik sesuatu di kedua bola
mataku. Sepertinya ia masih tidak percaya bahwa aku juga menyukainya. Aku pun
hanya bisa tersenyum simpul melihat raut wajahnya yang tampak bingung dan
terus bertanya-tanya. Mungkin ini hanya prank untuknya padahal begitulah pada
kenyataannya.

“Tidak perlu bingung. Kamu menginginkan hal inikan?” Tanyaku kepadanya.

“Ternyata kamu juga suka sama aku. Padahal kamu lebih sering dekat dengan
teman sekelas kamu itu. Aku minta maaf sudah berpikiran yang tidak-tidak
tentang kamu, padahal kamu selama ini juga menjaga hati kamu untukku. Namun,
pada kenyataannya sekarang aku sudah sama orang lain. Mungkin, ini
konsekuensi dari pemikiranku yang tidak-tidak itu. Namun, kamu tetap sahabat
yang paling spesial bagiku. Meski sekarang aku sudah dimiliki oleh orang lain.
Mungkin Tuhan punya rencana yang terbaik untuk kita berdua.” Tutur Kenan
kepadaku yang membuatku terdiam dan kecewa akan penjelasannya itu.

Aku pun berusaha menahan rasa sakit itu di hadapannya. Tetapi, pada
kenyataannya kedua kelopak mataku mengucurkan air mata. Mungkin hatiku
tidak tahan untuk menerima hal itu. Tetapi, begitulah konsekuensi yang harus
kuterima karena tidak pernah mengungkapkan perasaanku kepadanya.
Di hari itu pula terakhir pertemuanku dengannya, karena Kenan akan
kembali ke tanah kelahirannya, Lombok. Bertemu dengan seseorang yang kini
menjadi penyelimut hatinya. Aku hanya bisa tersenyum miris ketika sesuatu yang
kuharapkan tidak menjadi kenyataan. Mungkin kamu bisa menahan untuk tidak
mengungkapakannya. Tetapi, kamu juga harus menerima konsekuensi dari apa
yang telah kamu pilih tentunya. Dan sekian tentang kisah cintaku yang berujung
jurang karena tidak bertemu kebahagiaan seperti imajinasi yang telah kucipta.
Kenangan Bus Desa

Asriyati Sarifah Fajrina

Pagi yang damai di sebuah desa bernama Makmur Sentosa, langit biru
cerah tanpa awan, burung-burung berkicau bersahut-sahutan, ditambah udara yang
cukup dingin membuat orang-orang yang tinggal di sana harus memakai jaket
atau sweater.

Sebuah mobil berwarna putih melintas pelan, “Mari Pak” sapa seorang
perempuan yang mengendarai mobil tadi pada seorang bapak-bapak yang
berpapasan dengannya, bapak-bapak tadi hanya menganggukkan kepala sambil
tersenyum ramah, perempuan itu kembali mempercepat laju mobilnya hingga ia
tiba di sebuah rumah model joglo. “Putuku sudah datang,” sapa seorang
perempuan tua menyambut kedatangan perempuan itu. “Kakek di mana Nek?”
tanyanya setelah mencium tangan neneknya. “Sudah ke sawah. Ayo masuk, nenek
sudah buatin bubur kacang hijau,” ucap nenek sambil menuntun cucu
kesayangannya itu masuk ke rumah. “Enak sekali bubur kacang buatan nenek,
rasanya dari dahulu tidak berubah.” Ucap perempuan itu sambil melahap bubur
kacang hijau di mangkuknya. “Jelas dong, masakan mama kamu kalah sama
masakan nenek,” nenek kemudian terkekeh. “Besok temenin nenek ke pasar ya,
sekalian kamu jalan-jalan, kamukan sudah lama tidak ke sini, pasti kangen sama
suasana desa,” ajak nenek disela-sela senda gurau kami. “ Iya nanti aku temenin,”
jawab perempuan itu antusias. “Loh… Maya?” sontak perempuan tadi dan
neneknya terkejut. “Gusti…Ilaa…Ila.. kamu ini ngagetin orang tua saja,” nenek
mengomeli perempuan yang bernama Ila tadi. Sementara orang yang diomeli
malah pringas-pringis. “Maaf Mbah, aku juga kaget Maya ada di sini. Ini sayuran
dari bunda, katanya sayurnya kebanyakan, tidak habis. Jadi aku disuruh memberi
ini Mbah.” Jelas Ila seraya menyodorkan sayuran yang ia bawa. “Matur suwun,
sana kangen-kangenan sama Maya,” kata nenek kemudian pergi ke dapur untuk
meletakkan sayuran yang diberikan Ila, sementara Ila dan Maya bercerita kesana-
kesini menceritakan kisah lama mereka saat masih SMA, Ila adalah tetangganya.
Rumahnya di depan rumah nenek Maya, mereka beda sekolah, Ila memilih
sekolah yang dekat yang bisa ditempuh dengan sepeda ontel, sedangkan Maya
memilih sekolah yang agak jauh karena memang akreditasinya masih bagusan
sekolah Maya, mereka suka berbagi pelajaran dan main bareng.

Seharian Maya hanya menghabiskan waktu hanya di dalam rumah, ia tidak


ada niat untuk keluar sekedar jalan-jalan, entahlah ia hanya tidak tertarik dan
malas saja. “Maya kamu tidak tidur? Sekarang sudah malam, besok kita harus
bangun pagi untuk pergi ke pasar, kamukan sudah janji akan menemani nenek ke
pasar.” Kata nenek menyuruh Maya untuk segera tidur. “Iya Nek.” Maya nurut
saja, ia tidak mau neneknya khawatir, di kamar Maya tidak bisa tidur. Jam 8
malam itu belum terlalu malam bagi Maya untuk tidur. Jadi ia memilih untuk
membaca novelnya, kemudian tidak lama matanya mulai ia mengantuk dan tanpa
sadar ia sudah berada di alam mimpi.

Di pagi yang dingin, gelap, dan sepi, jam di pergelangan tangan Maya masih
menunjukkan pukul 4 pagi, ia lupa jika ingin pergi ke pasar maka harus berangkat
lebih pagi karna jarak dari rumah ke pasar jauh. Mereka harus menaiki bus untuk
kesana. “Maya ayoo! Nanti ketinggalan bus,” panggil neneknya. “Iya Nek,” sahut
Maya. Ia kemudian segera mengambil tasnya dan keluar, neneknya sudah
menunggunya di luar, “Kamu ini dandan lama banget, kamu itu sudah cantik,
walau masih cantikan nenek,” canda nenek. Tidak lama bus pun datang, Maya
melambaikan tangan menyuruh bus untuk berhenti, Maya dan nenek pun naik
setelah bus berhenti, hari masih sangat pagi namun penumpang bus hari ini
banyak juga, kebanyakan tujuan mereka juga ke pasar, ada yang memang jualan
di sana dan ada juga yang berstatus pembeli seperti Maya. Tidak lama setelah
kami naik, bus berhenti, naiklah seorang siswa SMA ke bus itu. Ingatan Maya
kembali menerawang di pikirannya. Ia mengingat kejadian saat ia masih sekolah
di sana, seperti ada yang menekan tombol play, kenangan yang sudah lama ia
lupakan itu kembali.

“Pak tolong sekali saja pak, izinkan saya masuk, saya janji besok-besok tidak
akan telat lagi.” Pinta seorang perempuan bertubuh mungil yang tidak lain adalah
Maya ketika ia masih SMA, tangannya memegang pagar sekolah yang sudah
ditutup oleh satpam sekolah. “Janji ya, besok jangan telat lagi, kalau bisa subuh
sudah berangkat biar tidak telat,” kata Pak satpam menasihati. “Iya Pak,” jawab
Maya kemudian ia menunjukkan kelingkingnya tanda ia sudah berjanji. “Silakan
masuk,” kata Pak satpam sambil membukakan pagar sekolah. “Terima kasih Pak,”
teriak Maya kegirangan. Besoknya ia menyuruh neneknya untuk
membangunkannya jam 4 pagi. “Kamu ke mana? Kok mau bangun jam 4 pagi?”
tanya neneknya ketika ia diminta cucunya untuk membangunkannya jam 4 pagi.
“Aku kalau berangkat jam 5 masih terlambat Nek, Pak satpamnya sudah ganti,
bukan yang dulu lagi, untung kemarin dia mau membuka pagar.” Jelas Maya
panjang lebar.

Besoknya Maya berangkat jam 4 pagi, semua penumpang bus dipenuhi


barang dagangan milik ibu-ibu yang hendak ke pasar. “Kamu SMA mana?” tanya
seorang laki-laki yang berdiri di sampingnya. “SMA 1,” jawabnya singkat tanpa
menatap lawan bicaranya. “Kamu baru pertama naik bus jam 4 pagi ya?” tanyanya
lagi. Maya pun menatapnya bingung, “Soalnya aku hapal semua penumpang yang
naik bus ini, sudah seperti penumpang setia.” Jelasnya seperti tahu maksud
tatapan Maya tadi. Pertemuan kedua mereka pun tanpa perkenalan satu sama lain
karena mereka tidak sempat memperkenalkan diri di awal. Sejak saat itu mereka
sering bertemu di bus karena memang mereka selalu naik di bus yang sama. Tidak
terasa sudah seminggu mereka kenal dan semakin akrab, entahlah tetapi Maya
menyukai cowok itu, Ardi namanya. Satu angkatan dengan Maya, kelas 12 SMA,
namun ia beda sekolah dengan Maya, setiap pagi ia selalu menunggu Ardi naik ke
bus kemudian menyapanya seperti biasa dan dilanjutkan dengan gurauan receh
masing-masing hingga berpisah ketika Maya lebih dahulu sampai di sekolahnya.
Hingga suatu hari orang yang selalu ia tunggu-tunggu kehadirannya itu tidak
menampakkan batang hidungnya, ia berpikir mungkin laki-laki itu kesiangan, hari
kedua masih sama, laki-laki itu sudah tidak naik bus dengannya lagi. Galau?
Tentu saja, ketika kamu tidak bisa melihat orang yang kamu sukai lagi, pasti
merasa galau. Kecewa, karena sudah dua minggu ia tidak bertemu lagi dengan
laki-laki itu. “Kamu di mana? Aku ingin melihatmu lagi untuk yang terakhir kali
sebelum aku kembali ke kota untuk melanjutkan pendidikan di sana dengan orang
tuaku.” tulisnya di buku diary yang selalu ia bawa. Maya dari awal memang
memutuskan untuk sekolah SMA di desa dan tinggal bersama neneknya,
sayangnya hingga ia kembali ke kota ia tetap tidak bertemu lagi dengan laki-laki
yang ia sukai itu hingga sekarang.

“Heh… kenapa melamun?” ucap nenek membuyarkan lamunannya yang


menyetel kejadian masa lalu. “Saaarrr… pasar pasar pasaaaarrrr,” teriak
kondektur memberi tahu bahwa bus sudah tiba di pasar yang kami tuju, setelah
bus berhenti, para penumpang turun dengan tertib dan menurunkan barang
bawaan mereka.

Setelah belanjaan sudah dirasa cukup, Maya dan neneknya memutuskan untuk
pulang, setelah lama menunggu bus yang tidak kunjung datang, akhirnya bus pun
datang juga, mereka naik ke dalam bus, kali ini bus lebih sepi. Banyak kursi yang
kosong, neneknya memilih duduk di belakang supir, sedangkan ia memilih duduk
di kursi kosong dekat jendela, bus kembali berhenti seseorang masuk dan duduk
di sebelah Maya. Maya menengok sebentar untuk melihat siapa yang duduk di
sampingnya. “Maya?” ucap penumpang di sampingnya itu. “Ardi?”ucapnya lirih.
Ia masih tidak percaya dengan apa yang dilihatnya saat ini. “Apa kabar?” tanya
laki-laki itu sambil menyunggingkan senyum ramahnya. “Kamu ke mana saja?
Kenapa kamu tiba-tiba menghilang?” tanya Maya tanpa mengindahkan
pertanyaan Ardi tadi. Laki-laki itu tahu maksud pertanyaan Maya tadi. “Maaf,
aku sudah pergi tanpa pamit. Waktu itu tiba-tiba ayahku satu-satunya yang aku
punya setelah ibuku tiada, ia menyusul ibu, aku tidak tahu harus apa waktu itu,
jadi aku berhenti sekolah kemudian menjadi sopir pribadi menggantikan ayahku,
aku tidak tahu harus kerja apa, jadi aku memilih menggantikan ayah.” Jelasnya
panjang lebar. Hening, Maya hanya diam. Hatinya ikut sedih, ia kini tahu alasan
laki-laki itu menghilang, ia tidak mau membiarkan kesempatan ini. “Maya,
mumpung kamu masih di sini untuk sekarang ini, aku mau berbicara sesuatu,
mungkin kamu sudah ada orang lain di sana,” kata Ardi memecah kebimbangan di
benaknya. “Kiri Pak!” kata neneknya. Mereka sudah tiba di rumah, sementara
Maya dan Ardi masih saling menatap. “Maya, ayo turun!” ajak neneknya setelah
membayar bus. “Iya Nek,” jawab Maya lirih, ia kemudian bangkit pelan, karena
sebenarnya ia masih menunggu apa yang akan dikatakan Ardi. Ketika Maya
hendak melangkah turun, lengannya ditahan Ardi, “Aku suka sama kamu,” ucap
Ardi lirih sambil menatap tajam mata Maya, setelah turun ia menatap ke arah
jendela Ardi yang sedang menatapnya juga, dengan cepat ia mengisyaratkan
dengan gerakan tangan, membentuk kata “I love you too”. Ardi tersenyum, Maya
menatap bus itu hingga hilang dari pandangannya.
Keterasingan Rasa yang Terselip dari Melati

Herni Widiastuti Yanuarsasi

Kucampakkan jepit ungu berbentuk bunga yang sengaja kubeli untuk


menghiasi rambut ikalku dengan rasa sebal dan cemberut. Kupelototi wajah
bening yang terpantul di cermin itu. Kuamati dengan seksama, mulai dari mulut,
hidung, sampai ke mata. Sungguh tidak ada yang menarik. Tidak ada yang
istimewa, aku tidak cantik. Semua orang yang bertemu pandang denganku,
pastilah berpendapat seperti itu, meski tanpa sengaja orang lain lewat di depanku.
Bahkan terlebih lagi bila kulihat fisikku yang agak berbeda dengan yang lainnya.
Keadaan diriku yang mengalami polio sejak lahir. Tentulah timbul ada perasaan
minder dan malu yang menyerang ganas batinku, bila aku harus berhadapan
dengan seseorang Irwan Jody, mengapa?

Mengertikah engkau, terkadang sebuah hati bagaikan anak sungai


bebatuan yang penuh berkelok-kelok membingungkan. Sangat sulit untuk
diselami, banyak kontradiksi di dalamnya yang belum atau yang tidak dimengerti,
bahkan tidak juga oleh pemiliknya sendiri. Sepanjang tatapan mata di sore itu,
Melati merasa pikirannya selalu berada diombang-ambingkan oleh sesuatu yang
dia sendiri tidak tahu. Dia hanya merasa semacam ketakutan yang muncul diam-
diam, tetapi apa? Dia sendiri tidak tahu. Dipalingkannya wajah bening itu
menghadap suasana kampus yang lenggang saat jam istirahat. Sementara tatapan
sepasang mata sendu, melayang pandang lurus ke Musala samping kantin
kampusnya, dan Irwan Jody ada di situ. Tiba-tiba dia merasa dadanya sakit.
Entahlah, dia telah berusaha sembunyikan rasa keterasingan ini, dan telah merasa
berdosa kepada orang yang selama ini sangat baik.

Seperti biasanya, Melati pergi ke lantai dua lewati ujung jalan kampusnya.
Sendiri duduk, menatap risau pucuk-pucuk dedaunan cemara berdesau-desau
dipermainkan angin yang menyapa sepi. Sejak kehadiran Irwan Jody, hatinya
kembali merisaukan semua ini. "Apakah aku ini cantik?" desisku lirih. Entah
untuk keberapa kali juga aku mengeluh karena wajahku ini. Sebenarnya aku
sudah tidak lagi peduli. Aku selalu tampil sederhana, tanpa model rambut yang
warna-warni, atau memakai baju model ala kebaratan. Karena aku punya prinsip,
untuk apa berwajah cantik jika hatinya tidak cantik? Rasanya, aku tidak cantik dan
juga tidak menarik. Jadi, bagaimana mungkin Irwan Jody akan tertarik kepadaku?
Dengan malas, aku beranjak dari tempat duduk itu, pergi turun ke lantai bawah
menuju musala di samping kantin kampusnya.

Di sana terlihat sosok Irwan Jody yang tiba-tiba menghampiriku, dan


seketika aku merasa seluruh rongga dada ini sesak yang kian tersiksa. Walaupun
begitu aku tetap duduk manis di tempat sambil berusaha menyembunyikan butiran
air mata ini agar tidak meretak jatuh. Itulah yang terbaik, yang dapat kulakukan di
hadapannya.

Gadis itu memaksakan diri untuk tersenyum, agar tidak curiga di depan
Irwan Jody yang sedang berusaha menghangatkan suasana dengan sedikit
perhatiannya itu. "Saya mencarimu, saya tahu kalau kamu ada masalah," ucap
Irwan yang kelihatan mengkhawatirkanku. "Ada apa Mel? Mungkin saya bisa
membantu kamu?" tatapan tajam Irwan yang penuh selidik, karena penasaran
ingin mendekati Melati. "Benar, tetapi terima kasih atas segala perhatianmu," kata
singkatku. "Kamu kelihatan sedikit lain sikapnya. Apa yang sedang kamu
pikirkan?" sambung Irwan yang kian gelisah. Aku berusaha menyembunyikan
gejolak ragu untuk bisa tersenyum, meski hati mabukku kian sakit, terluka dan
pedih melanda. "Tidak mengapa, ini hanya masalah pribadiku sendiri, bukan hal
yang menyangkut tentang dirimu," celotehku yang semrawutan. "Saya tadi
diberitahu oleh temanmu, kalau kamu kelihatan akhir-akhir ini lagi suntuk,
katanya ini gara-gara saya, apa itu benar Melati?" sambung Irwan dengan nada
seriusnya. "Tidak, itu tidak benar. Dan kamu tidak punya salah dalam hal ini,"
sahutku yang kian kisruh. "Mungkin selama ini kalau ada perlakuan sikap yang
buruk tanpa sengaja atau yang sengaja saya lakukan. Maukah kamu memaafkan
saya? Terkadang saya untuk mengoreksi diri juga, tetapi kenapa kamu sampai
terlihat ..." ungkap Irwan yang belum menyelelesaikan kata. Langsung saja
kupotong omongannya itu tanpa permisi, "Sudahlah mas Irwan, kamu tidak lagi
perlu berbicara seperti itu, aku tidak mengerti bagaimana perasaanmu itu," sambil
mencoba menghibur dirinya. Padahal hatiku telah berusaha menyembunyikan
dengan susah payah agar tetap tegar di depan Irwan, tetapi gagal juga nyatanya.

Sosok Irwan Jody pun telah sanggup memporak-porandakan suasana hati


perawannya yang hampir terlelap damai tanpa beban. Entah mengapa, aku tidak
berani bercerita banyak seperti biasanya dalam kebersamaan kami selama ini.
"Kenapa dia mengatakan hal itu? Apa maksudnya?" ungkap Melati berdesah
dalam kecamukan hati yang tersamar. Andaikan saja dia tahu tentang rasa
keterasingan sebuah hati perawan yang bertahta mesra. Tiba-tiba suasana kampus
jadi hening saat adzan Maghrib bergema syahdu menyapa lorong jiwa yang rindu
berpeluk mesra pada kesucian-Nya. Tidak banyak yang kami obrolkan
dikesempatan singkat itu, karena aku sendiri dalam suasana yang suntuk, tidak
bisa lagi memahami geliat keterasingan rasa ini. Entahlah, kami pun bermunajat
damai dalam naungan Illahi.

Sekilas gadis sederhana itu menatap lekat laki-laki bermata elang yang
hampir membuat keretakan hatinya kembali berkelana dalam lamunan itu kian
melayang jauh. Entah apa yang bergejolak di benaknya. Terlihat jelas bahwa
diantara mereka ada sesuatu geliat hati yang sedang terjadi. Meski tanpa
disadarinya, diam-diam Melati berdesah dalam napas tertahan dan mencoba
bertanya kepada laki-laki di sampingnya yang lagi bengong tidak mengerti bahasa
manis senyuman dari gadisnya.

"Apakah selama ini kamu tidak merasa malu jika harus berteman dan
berdekatan dengan aku? Terkadang aku sendiri merasa takut kepadamu, entah apa
sebabnya aku tidak tahu," ungkap Melati yang tanpa henti menatap lekat laki-laki
di sampingnya. Seolah dia ingin tahu bahwa laki-laki yang di kenalnya itu
bukanlah seorang laki-laki yang suka mempermainkan dan menyakiti hati setiap
perempuan yang di dekatinya.

"Melati, dengarkan aku, terus terang saja aku tidak ada niatan
memperlakukan buruk kepadamu. Aku rasa setiap kedudukan manusia itu sama di
mata Allah SWT, dan aku tidak bermaksud buruk terhadapmu untuk menghina
atau memperolok-olok dirimu. Jika hal itu aku lakukan tentunya sama saja juga
aku menghina atas ciptaan-Nya yang indah, yang telah memberimu hidup seperti
ini. Jadi tidak ada alasan lagi bila aku tidak merasa malu berdekatan sama kamu,
karena aku sayang kamu bukan sekedar sahabat, tapi lebih dari itu dan aku sangat
mencintaimu, karena aku memandangmu dari kebaikan hatimu juga kejujuran
sikapmu selama ini, itulah yang jadi kelebihanmu bukan dari kekuranganmu,"
begitu ungkapan hati Irwan yang sedang berusaha menghangatkan suasana hati
perawannya.

Ternyata dia memang benar laki-laki yang baik dan pengertian, meski
sikap cueknya itu pernah tertangkap sedetik saja dari tatapan malu-malu yang kian
tersiksa oleh kediaman hatinya sendiri. Kenapa juga aku terus-terusan mikirin dia,
yang mungkin saja dia cuma hanya menghiburku dengan sedikit perhatiannya
seperti itu. Mengapa dengan rasa keterasingan ini begitu rumit dicerna? Dan,
Irwan pun pulang dengan santainya tanpa pamitan lagi sama aku, kampus kembali
jadi sunyi. Dalam resapan lagu tembang kenangan yang terdengar sayup-sayup di
sepanjang langkah kaki mungilku menunggu jemputan angkot, dan tiba-tiba ada
desiran lembut kata hatiku bersorak bahwa aku pun sayang dan cinta kepada
seorang Irwan Jody yang telah menyadarkan keterasingan rinduku pada tatapan
sepasang mata elangnya.

"Halo Melati, ini ada titipan dari laki-laki ganteng untuk kamu," cuapan si
Nadila dengan sedikit menggodaku. Dia karib kecilku sejak sekolah pertama
sampai sekarang ini di bangku kuliah. Kembali aku melepas kepenatan rasa ini di
ujung jalan kantin menuju lantai dua melewati kampus yang lenggang saat jam
istirahat. Tulisan itu seakan menyapa hati mabukku dalam keasyikan yang
bergejolak, tapi entahlah gerangan apa yang terjadi ketika aku mendapatkan
sepucuk kabar dari si mata elang itu, di pojok kanan bawah ada yang tercantum
sebuah nama salam rindu berpeluk mesra dari Irwan Jody.

“Dear Melati, maaf kalau kamu tidak lagi melihatku beberapa hari ini, karena
saat kamu baca surat ini, dan aku telah menunggumu di taman kota, pukul 19.00
WIB. Kalau kamu benar adanya punya rasa keterasingan ini yang sama di
hatiku."
Apa ini? Dentuman hati yang kian tersiksa oleh kediaman rasa telah
membawanya keluar dari terminal hatiku.

Depan pintu masuk taman kota itu ada sosok Irwan Jody yang sedang
menunggu jemputan cintanya dari si gadis sederhana yang bertahta mesra sejak
pertama kali jumpa di acara pameran buku di kampusnya. "Hai, kamu cantik
malam ini," ungkap Irwan yang kelihatan terpesona sesaat melihat gaun yang
dipakai oleh Melati. "Biasa saja, aku jadi malu kalau berdekatan sama kamu,"
bisikan lembut Melati yang tersipu malu pun kian tergambar merah merona pipit
lesungnya. Suasana taman kota itu seakan mengerti bahasa manis dalam keasikan
kami berdua, diselimuti malam yang berkelip warna-warni bunga di sepanjang
taman, menambah suasana hati kami berdua bagaikan anak kecil berhamburan
keluar dari bilik pohon akasia. Ingin hati berteriak tetapi kesepian ini telah juga
mematahkan hidupku di sudut pembaringan senja semakin syahdu. Kami pun
pulang dengan nada risau. Laki-laki bermata elang itu menyapa lembut wajah
bening milik Melati. "Aku cinta kamu, aku sayang kamu, aku rindu belaian
kasihmu, aku sangat inginkan kamu sepanjang sisa napas hidupku, apakah kamu
juga merasakan kehadiran tentang rasa keterasingan ini di ujung pertemuan kita?
Jawablah Melati!" ucap Irwan penuh harap yang tidak beranjak dari tempat
duduknya. Tanpa disadarinya pintu hatiku perlahan senyap tetapi bersorak riang
bahwa aku pun mencintainya. "Ini untuk kamu, ayo kita pulang, bacanya tunggu
sampai rumah ya," ucap Irwan penuh gembira dengan senyum simpulnya pada
seorang Melati. Keresahan malam ini begitu rumit dicerna tetapi ada geliat hati
yang tersamar sedang menghangat dalam rindu berpeluk kasih, dan sepucuk surat
itu pun dibuka dengan sedikit hati yang berdebar aneh tetapi lembut dirasakan
oleh kediaman hatinya Melati. Ternyata itu tulisan tangan tentang puisinya yang
indah dari sosok Irwan Jody yang bertahta di pangkuan hatinya. Sesuatu yang
tidak pernah tertangkap dari keberadaannya. Puisi itu menyapa "Sekuntum Melati
di Teras Hati" dari Irwan Jody penuh cinta.

Lembut, kukecup melati kekasihku, kuresapi harumnya, kuhayati putihnya, agar


pasti aku ada rindu mengukir cintamu, menimbun kebaikan budi, mengucap
kebenaran sejati. Biarkan hatiku berkata dengan nuraninya, biarkan kakiku
berjalan dengan langkahnya, biarkan aku berucap apa adanya, tentang dunia
yang menangis pilu atau pun tertawa lepas. Lembut, kukecup melati kekasihku.
Kini aku merasa pasti, harummu adalah kebaikan, putihmu adalah kebenaran,
kubiarkan kau tetap di teras hatiku, kupersunting kau buat pengantar tidurku,
agar pasti aku merasakan kesucian mahkotamu.

Ungkapan rasa keterasingan rinduku terjawablah sudah dari sosok Irwan


Jody yang telah membawa jiwa bertahta hening dalam makna yang tersembunyi di
hatinya.
Ketika Cinta Bertasbih di Pesantren
Muhammad Iqbal

Cinta merupakan anugerah yang diberikan oleh Tuhan untuk dua insan di
dunia. Cinta merupakan anugerah terindah yang selalu menjadi kenangan dan obat
penawar dikala suka maupun duka. Cinta bagaikan emas permata yang sangat
berharga dan bermakna. Cinta laksana setetes embun yang turun dari langit,
bersih, dan suci.
Cerita ini mengisahkan tentang cinta sepasang kekasih yang penuh kasih.
Sepasang kekasih yang memadu kasih dengan penuh setia, mengorbankan cinta
dengan perjuangan semata. Cinta yang sederhana, tetapi penuh makna. Banyak
iktibar dan nasihat yang dapat kita petik darinya. Murzi, seorang lelaki yang
sangat sederhana. Ia memiliki sifat pendiam, baik, dan saleh. Banyak wanita yang
jatuh cinta kepadanya. Namun, hatinya selalu terpaut dengan seorang wanita
sederhana bernama Liza, sang bidadari dari kayangan yang membuat dirinya
tergila-gila. Lantaran sifat Liza yang lemah-lembut, manis, dan saleh.
Bermula, kisah cinta dua kekasih yang terjadi di pondok pesantren. Ketika
Liza pertama kali menginjakkan kakinya di Pesantren Darul Ma'arif. Ketika itu
Murzi yang malu-malu kucing, merasa jatuh cinta kepadanya. Perasaan Murzi
semakin menggebu, untuk mengungkapkan isi hati. Ia ingin mengungkapkan
maksud hatinya selama ini. Suatu ketika, Murzi disuruh oleh ustaz untuk pergi ke
qabilah Rauzatul Jinan. Ia berangkat bersama Naldi, sang sahabat karib semenjak
duduk di bangku SD. Sesampainya di sana, Murzi mengucapkan salam. Seluruh
santriwati di qabilah Rauzatul Jinan membalas salamnya. 
Murzi berkata, "Amanah dari pimpinan pesantren Darul Ma'arif, besok pagi harap
ke pesantren dalam rangka gotong-royong."
Salah satu santriwati merespons, "Pukul berapa?"
"Pukul 08.00 WIB," balas Murzi.
Setelah menyampaikan amanah tersebut, ia langsung kembali ke
qabilahnya. Betapa senang hatinya, karena bisa berjumpa dengan pujaan hatinya,
walau hanya sesaat. Ingin rasanya untuk bersama, namun waktulah yang
memisahkannya. Namun, perjalanan cinta selalu mendapat rintangan dan cobaan.
Walau demikian, kita harus ikhlas menerimanya. Mulailah Murzi meminta nomor
telepon kepada temannya. Ketika itu, Naldi mengirim pesan untuk Liza. Naldi
membalas pesan Liza dengan menulis kata "sayang". Betapa terkejutnya hati
Murzi, ketika pesan yang terlayangkan adalah kata “saying”. Memang nasi telah
menjadi bubur. Kejadian yang sudah terjadi, tidak dapat terulang kembali.
Beberapa hari kemudian, mulailah Murzi mencari identitas kekasihnya. Ia
melayangkan pesan untuk Liza. Uniknya, ia tidak pernah menelpon kekasihnya
lewat telepon. Ia selalu menghubungi kekasihnya melalui pesan.
"Siapa namamu?"
"Aku Liza, kamu siapa?"
"Namaku Murzi, kamu orang mana?"
"Samuti Aman, kalau kamu?"
"Aku orang Samuti Makmur."
"Liza, semenjak aku bertemu denganmu, aku mulai jatuh cinta kepadamu. Aku
selalu mengingat namamu disetiap saat. Saat aku tidur, wajahmu yang elok dan
permai, selalu terbayang dalam mimpi indahku."
"Berarti sama. Memang butir-butir cinta selalu menghampiri. Insyaallah, aku
selalu setia dalam menjalani cinta ini," balas Liza. Malam harinya, Murzi datang
lebih awal ke pondok pesantren. Entah kenapa ia datang lebih awal, mungkin ada
sesuatu yang membuat dirinya bahagia. Ketika itu, ia berjumpa dengan ustaz
Ahmad.
Ustaz Ahmad berkata, "Tumben, kamu datang lebih awal Murzi. Biasanya kamu
telat."
Murzi menjawab, "Hari inikan harus lebih baik dari hari kemarin. Apalagi saya
sangat menyesal dan merasa bersalah jika selalu datang terlambat. Lagi pula, saya
wakil dari qabilah Nurussalam."
"Oh seperti itu. Tidak ada maksud lainkan?" tanya Ustaz Ahmad.
"Tidak ada Ustaz," balas Murzi.
Sehabis salat, Murzi langsung masuk ke qabilah Nurussalam. Ia
mengabsen para santriwan di qabilah tersebut. Beberapa saat kemudian, datanglah
Ustaz Ahmad. Ustaz Ahmad mengucapkan salam, dan seluruh santriwan
membalasnya. Setelah duduk, Ustaz Ahmad membuka kitab Bidayah. Kemudian,
Ustaz Ahmad berkata, "Malam ini pelajaran kitab Bidayah. Mohon buka di bab
Taharah." Ustaz Ahmad menjelaskan tentang taharah secara rinci. Semua
santriwan mendengarkan dengan baik. Tidak juga dengan Murzi yang asyik
melamun terus-menerus.
Ustaz Ahmad berkata, "Murzi, ustaz perhatikan,  kamu melamun ya?"
"Tidak ustaz," jawab Murzi.
"Kamu tidak usah bohong. Ustaz tahu dari ekspresi wajahmu. Karena wajah
seseorang merupakan cerminan kepribadian seseorang," ujar Ustaz Ahmad.
Murzi hanya diam seribu bahasa. Ia tidak dapat berkata-kata lagi. Dugaan
Ustaz Ahmad memang benar.
Kemudian, Murzi berkata, "Maaf, Ustaz. Memang saya sedang melamun."
"Jangan suka melamun. Melamun itu tiada gunanya," balas Ustaz Ahmad. Setelah
pengajian, semua santri kembali ke bilik masing-masing. Murzi di panggil oleh
Ustaz Ahmad.
"Murzi sini dahulu!" panggil Ustaz Ahmad.
"Ada apa Ustaz?" balas Murzi.
"Kamu jawab dengan jujur. Belakangan ini ustaz perhatikan, kamu sering
melamun. Apakah kamu mulai jatuh cinta dengan Liza, santriwati di qabilah
Rauzatul Jinan?"
Murzi sangat kaget mendengar perkataan Ustaz Ahmad. Ia tidak habis
pikir dengan dugaan ustaznya itu. Memang dugaan Ustaz Ahmad sangatlah benar.
"Iya ustaz. Saya mulai jatuh cinta dengan Liza. Inilah yang membuat saya selalu
melamun, lantaran memikirkan Liza setiap hari dan malam. Sekali saja tidak
melihat wajahnya, seperti setahun tidak berjumpa."
"Memang setiap insan diciptakan oleh Allah selalu berpasang-pasangan. Setiap
insan selalu jatuh cinta terhadap lawan jenisnya. Memang, kalian berdua ibarat
pinang dibelah dua. Namun dalam islam, cinta itu ada batasannya."
"Terima kasih atas nasihatnya ustaz. Insyaallah, saya akan selalu mengingat
nasihat ustaz," balas Murzi.
Setelah kejadian itu, Murzi semakin giat belajar ilmu agama. Ia semakin
yakin dalam mengaji dan menghapal pelajaran. Ia selalu meminta bimbingan dari
ustaz dalam belajar ilmu agama. Rupanya, ia semakin pandai dalam menghapal
ilmu agama. Semua ustaz kagum terhadapnya. Ia dinobatkan sebagai santri
terfavorit di pesantren tersebut. Singkat cerita, sudah setahun Murzi menjalin
hubungan asmara dengan kekasihnya. Banyak kenangan terindah yang
dijalaninya, baik suka maupun duka. Murzi selalu memberikan yang terbaik untuk
kekasih tercintanya. Pernah suatu ketika, Murzi menghubungi kekasihnya.
"Sudah salat sayangku?"
"Sudah sayangku. Sayang jangan lupa mengaji dan makan ya!"
"Iyaa sayangku," balas Murzi.
"Sayang, semoga hubungan kita berjalan dengan baik dan lancar. Semoga kita
dapat duduk bersanding di atas pelaminan. Semoga kita menjadi pasangan yang
setia, jujur, dan takwa."
"Aamiin. Semoga Allah memberikan yang terbaik untuk kita berdua. Ada satu
pesan yang harus sayang ingat."
"Apa itu saying?" balas Murzi.
"Cintai aku karena Allah. Jangan mencintai diriku karena kecantikan, harta, atau
jabatan. Karena cinta seperti itu, membuat seseorang menderita. Jika mencintai
diriku karena Allah, pasti hidupmu akan bahagia."
"Alhamdulillah, terima kasih sayangku atas nasihatnya. Insyaallah, saya akan
mengingat dengan baik nasihat dari sayangku," balas Murzi.
Murzi terharu dengan ungkapan kekasihnya itu. Ia sangat bahagia jika
Allah menakdirkan dirinya untuk menikah dengan kekasihnya itu. Ia ingin
membina bahtera rumah tangga menuju rumah tangga yang sakinah, mawaddah,
dan warahmah.
Itulah seberkas cinta sederhana yang penuh makna. Karena ketulusan cinta
yang akan mengantarkan kita menuju kebahagiaan dunia dan akhirat.
Kucuri Itu Bulan

Sarma Ida Aulia

Ditemani oleh kejora dan rembulan, aku berdiri di depan pintu mobilku,
menunggu Syerina. Aku melihat jam yang ada di tanganku. "Lama sekali,
sebenarnya apa yang dia lakukan?" tanyaku karena ia tidak kunjung keluar. Aku
mengangkat kepala dan melihat sosok wanita yang berjalan ke arahku dengan
anggunnya memakai gaun yang glamor, bak ratu dari Inggris. "Maaf aku lama."
Ucap wanita itu sambil tersenyum simpul. Yang tidak lain dan tidak bukan adalah
Syerina. Aku membalas senyumnya. "Jangankan menunggumu keluar dari rumah,
menunggumu untuk siap ke pelaminan pun akan kulakukan." Jawabku sambil
tertawa kecil. Syerina memukul pelan bahuku dengan wajah yang menjadi merah
jambu. "Jangan seperti itu, aku malu." cercanya dengan memalingkan wajahnya
dariku. "Ayo kita sekarang berangkat," ucapku sambil membukakan pintu mobil
menyuruhnya masuk. Syerina masuk dan aku mengitari mobil untuk masuk dari
pintu sebelahnya. Aku masuk dan menyalakan mesin mobilku dan melajukan
mobilku dengan kecepatan sedang.

Aku dan Syerina duduk di kursi yang ada di sebuah restoran mewah.
Mataku tidak bisa berhenti untuk memandangi Syerina yang terlihat sangat cantik.
Syerina menyerngitkan dahinya. "Kamu kenapa Bintang?" ucapnya heran melihat
diriku yang selalu memandanginya. "Kamu sangat cantik malam ini, hingga aku
tidak bisa untuk berhenti melihatmu." Jawabku menatap mata Syerina dalam.
"Benarkah?" tanya Syerina dengan wajah yang kembali memerah.

Syerina memalingkan wajahnya dan menatap langit hitam yang ada di atas
sana, ia tersenyum simpul dengan apa yang dilihatnya. Aku mengikuti arah
kepalanya dan menuju kepada benda bulat besar yang bersinar di langit kelabu.
"Aku selalu senang ketika melihat bulan, rasanya aku ingin sekali memilikinya."
Ucapnya sambil terus memandangi bulan. "Buat apa kamu butuh bulan? Kalau
kamu sudah memiliki bintang." Ucapku sambil memainkan alis. Syerina tertawa
kecil mendengar ucapanku. "Tetapi langit akan terasa kosong tanpa adanya bulan
dan bintang pasti juga akan merasa kesepian." Ucap Syerina dan itu sungguh
membuat kepalaku pusing. "Apa kau menginginkan bulan?" tanyaku sedikit ragu.
"Sungguh aku sangat menginginkannya, aku ingin memilikinya, aku ingin
menjaga dan merawatnya." Jawab Syerina dengan kedua sudut bibir yang
terangkat.

Waktu berjalan begitu cepat, kini malam itu sudah menjadi malam
kemarin, dan menambah coretan tinta sejarah di hidupku. Aku memandang bulan
dari balkon kamarku. "Kenapa Syerina sangat menyukai bulan? Apa istimewanya
bulan? Kenapa dia tidak menyukai bintang saja?" dengan berjuta pertanyaan
dalam otakku. "Dia bilang dia ingin sekali memiliki bulan."

Kuangkat tanganku mencoba meraih dan kuambil bulan yang ada di langit
dengan tanganku, kupegang erat bulan itu, aku masuk ke dalam kamar dan
mencari kotak untuk letakkan bulan itu di dalamnya. Aku kembali ke balkon
kamarku, kini malam menjadi kelabu hanya dihias bintang yang sayu, seperti
meminta mengembalikan bulan yang ada bersamaku. Dapat kulihat banyak orang
keluar dari rumahnya menuju ke jalan, melihat bulan yang kini menghilang dari
angkasa bagai ditelan masa yang lenyap begitu saja. Sungguh ingin rasanya aku
mengembalikan bulan itu, tetapi aku ingin menghadiahkan ini untuk kekasihku.
Kucoba acuh, dengan memasang wajah tidak berdosa. Aku turun dan keluar dari
rumahku, melakukan seperti orang lakukan, memandangi kepergian bulan yang
entah kemana. "Kenapa?" tanyaku kepada salah seorang dari mereka. "Bulan telah
hilang, entah siapa yang mencurinya," jawab orang itu dan aku hanya
mengangguk paham.

Polisi mulai berdatangan dan mulai menyelidiki apa yang menyebabkan


kehilangan bulan. Sungguh kalau aku sampai ketahuan, maka aku akan ditangkap
oleh pihak kepolisian. Aku mulai khawatir dengan nasibku sendiri, aku bimbang
apakah aku harus mengembalikan bulan kembali ke tempatnya lagi atau aku akan
tetap menghadiahkan bulan ini kepada Syerina. Aku melangkah masuk ke dalam
rumah dan mengurung diriku di dalam kamar.
Kini hari sudah malam lagi, aku sudah ada di depan pintu rumah Syerina
untuk memberikan bulan yang telah aku ambil malam kemarin. "Pasti dia akan
menyukai hadiah dariku ini." Aku menekan bel rumahnya, tidak lama setelah itu
Syerina datang dan membuka pintu, dia tetap terlihat cantik walau tidak memakai
riasan wajah. "Ada bintang? Tidak biasanya kamu datang tidak memberi tahu
terlebih dahulu." ucapnya heran. "Ayo masuk." Sambungnya lagi. "Tidak, di sini
saja, aku hanya ingin memberi sesuatu untukmu." Ucapku. Aku mengeluarkan
kotak kecil dari punggungku, ia tampak sangat bahagia. Aku memberikan kado itu
kepadanya. "Ini untuk kamu semoga kamu menyukainya," ucapku sambil
tersenyum kepada Syerina. Syerina menerima hadiah itu dengan bibir yang tidak
hentinya terangkat. "Aku buka, boleh?" tanyanya, aku hanya menjawabnya
dengan gerak tangan kalau dia boleh membukanya. Syerina membuka hadiah itu,
dan seketika senyumnya hilang begitu saja, seperti kecewa dengan apa yang aku
berikan kepadanya. Ia menutup kembali hadiahnya dan memberikannya kembali
kepadaku. "Maaf aku tidak bisa menerima bulan ini." Ucapnya dengan sendu.
"Kenapa? Bukankah kamu sangat menyukai bulan?" tanyaku dengan perasaan
kecewa. "Apa kau tahu? Di luar sana juga banyak orang yang menginginkan
bulan. Saat aku mendengar berita kalau bulan telah hilang, hatiku rasanya sangat
sakit." Ucapnya tertunduk dalam. "Tetapi kini kau telah memiliki bulan, sekarang
bulan telah menjadi milikmu." Ujarnya. "Tidak, bulan tidak akan pernah menjadi
milikku." Jawabnya tegas. Aku sedikit terkejut mendengar ucapannya. "Kenapa
kamu menolaknya? Bukankah kamu sangat menginginkan bulan?" tanyaku
lembut. Ia mengangkat kepalanya dan menunjuk ke arah langit hitam. "Coba
kamu lihat langit di atas sana." Aku pun mengikuti perintahnya. "Kini langit itu
menjadi kelabu, dan penuh kekosongan, walaupun masih banyak bintang di atas
sana, tetapi kepergian bulan yang satu saja sudah membuat perbedaan yang jauh
dengan saat ia masih ada," ucapnya sambil tersenyum simpul kepadaku.

"Aku tidak memerlukan bulan, memiliki bintang sudah lebih dari cukup," ucapnya
yang membuatku tersipu malu.

"Lebih baik kamu kembalikan bulan ini ke tempatnya, karena di luar sana banyak
orang yang lebih menginginkan dibandingkan aku."
"Benarkah?" tanyaku tidak percaya.

"Iya." Jawabnya.

"Apa kamu yakin?" tanyaku sekali lagi dan ia mengangguk cepat.

Aku tatap kotak yang ada di tanganku, aku buka kotak itu dan aku ambil
bulan yang ada di dalamnya dengan tanganku. Aku letakkan kembali bulan itu di
langit kelabu yang di atas sana. Kini langit tidak gelap lagi, bintang pun tidak sayu
lagi, kini cahayanya kembali menerangi bumi dan mengembalikan wajah ceria
orang yang ada di sini.

Syerina memegang tanganku dan membuatku tersentak kaget, ia


tersenyum simpul kepadaku. "Lihatlah orang-orang yang keluar dari rumahnya
hanya untuk melihat kembalinya bulan, lihatlah senyum di wajah mereka."

"Sungguh aku sangat berdosa telah mengambil bulan dari tempatnya," ucapku
merasa bersalah.

"Sudah jangan dipikirkan lagi, yang penting kamu telah melakukan hal yang
benar dengan mengembalikan bulan ditempat yang semestinya ia berada.

Aku mengeratkan genggaman tanganku kepada Syerina, kami berdua


tersenyum bahagia melihat orang-orang yang ceria dengan kembalinya bulan di
atas sana.
Lily

Ferina Windi Setiani

Gadis kecil bersurai hitam terurai itu berlari riang di atas rumput hijau
yang lapang. Sumringah mengejar kupu-kupu di atas bunga-bunga yang sedang
bermekaran. Sepasang suami-istri yang duduk di bangku besi di seberang
memandangi putri kecilnya dari kejauhan, ikut tersenyum setiap melihat putrinya
tertawa lepas dan berlari kesana kemari. Brukk.. “Aaww sakit.”

“Maafkan aku, tadi aku tidak sengaja.” Sambil membantu gadis yang iya
tabrak sampai terjatuh. Gadis itu berdiri meringis sambil memegangi lututnya
yang lebam. “Vanya kau tidak apa-apa, Nak?” Gadis itu menggeleng pada ibunya,
dan beralih menoleh ke arah seorang anak laki-laki yang lebih tinggi 5 cm darinya
memberikan senyum manis yang mengartikan aku tidak apa-apa. “Maafkan saya
tante, saya sungguh tidak sengaja.” Pintanya. “Iya, Nak tidak apa-apa.” Gadis itu
berjalan pergi dan menoleh ke belakang ke arah anak laki laki tadi sambil
tersenyum.

10 tahun kemudian

Tett.. Tett.. bel sekolah untuk hari pertam sekolah Vanya sudah
dibunyikan, dia sedikit berlari dari arah gerbang memakai setelan seragam putih
abu-abu rapi. Menghela napas lega setelah berhasil berkumpul dengan teman-
teman barunya di lapangan basket. Beberapa kegiatan hari ini satu per satu selesai
dan kini sudah masuk jam istirahat, sebagian siswa di sekolah itu seperti biasa
berhambur ke kantin untuk mengisi perut mereka. Dari pojok kantin terlihat
sekumpulan cowok-cowok senior kelas 11 berkumpul di tempat yang sama setiap
harinya. Mereka cukup terkenal dengan kekerenan dan ketampanan mereka,
ketampanan mereka sederajat namun ada satu dari keenam sahabat itu yang lebih
banyak memiliki fans wanita. Namun dia juga seseorang yang tidak mudah
ditebak. Dan tidak terlalu membuka privasi hidupnya, kecuali kepada teman-
teman dekatnya. Sorot matanya tidak lepas terus menatap langkah seseorang dari
arah masuk kantin. Dia sedikit menyunggingkan senyumnya kala melihat gadis itu
tertawa bersama teman-teman barunya. “Apa itu dia, Lex?” tanya teman yang
menyenggol lengan Alex. Alex mengangguk pelan tanpa berpaling menatap ke
arah gadis itu. Kini semua teman di sampingnya mengikuti arah pandangan Alex
dan ikut tersenyum lega. Mereka memang sudah sangat dekat seperti saudara
sendiri, mereka sangat percaya bila mengenai privasi dari masing-masing, selama
ini bila mereka bermasalah satu sama lain mereka berusaha selalu cepat
menyelesaikannya.

Hari demi hari berlalu dan kini sudah genap dua bulan Vanya bersekolah
di sekolah itu, namun tetap saja hari demi hari itu juga Vanya tidak nyaman.
Kerena dia selalu mendapat tatapan misterius dari seorang cowok terkenal dan
sialnya setiap Vanya melihatnya ada segelintir perasaan aneh di hatinya. Selama
ini dia sudah merasakan kalau dia selalu diawasi oleh cowok itu. Yang
membuatnya tidak nyaman lagi dia selalu mendapat cacian atau tatapan benci dari
fans-fans cowok itu. Padahal dia tidak merasa melakukan kesalahan apapun,
kecuali gosip kalau Alex tengah menyukainya. Meskipun tidak pernah ada kontak
saling sapa diantara mereka berdua namun orang-orang di sekitarnya yang malah
heboh tidak jelas.

Sudah cukup hari ini, Vanya akan menghilangkan ketidaknyamanannya


selama ini. Saat ini adalah jam istirahat, seperti biasa cowok-cowok yang menjadi
tujuan Vanya hari ini berkumpul bermain basket di lapangan. Dia melihat sosok
itu yang tengah duduk termenung di samping lapangan. “Nya, kamu mau ke
mana?” Sebuah tarikan di lengan Vanya dari Sinta sahabatnya. “Gue mau selesain
masalah sama dia Sin.” “Apa? Dengeri gue jangan buat masalah Vanya.” Nasihat
Sinta. “Kamu tenang saja Sin, di sini yang buat masalah bukan gue, tetapi cowok
sialan itu. Kamu tetap di sini dan doain gua.” Vanya sudah tidak menggubris
larangan Sinta. Dia melangkah dengan mantap menatap mata Alex yang juga
melihatnya dengan seringaian yang terbit di bibir cowok itu. Sejenak Vanya ingin
mundur kerena mendapat seringaian itu, tetapi sudah tanggung api di otak Vanya
memberi alarm untuk maju pantang mundur. Setelah sampai berdiri di hadapan
Alex yang tengah duduk santai sambil mendongak menatap wajah Vanya. Ada
perasaan aneh dihati Vanya. Beberapa teman Alex melihat itu satu diantaranya
bersiul-siul menggoda, “Akhirnya hari ini tiba, terima kasih Tuhan,” teriak salah
satunya sambil menengadah kepala melihat langit biru cerah hari ini. Vanya
merasa aneh dan bingung dengan semua itu. Dia memusatkan perhatiannya
kepada Alex lagi, dia menarik napas dalam-dalam. “Kak maaf sebelumnya, apa
masalah kakak sebenarnya sama gue? Apa gue pernah buat salah sama kamu?
Bahkan gue sama sekali tidak mengenalmu, tetapi kenapa kamu selalu menatap
gue dengan tatapan yang aneh itu?” Vanya menghembuskan napas dan menutup
matanya. Saat dia membuka mata dunia seperti berhenti berputar karena Alex
tiba-tiba memeluknya dengan erat dan berbisik “I Really miss you Lily”. Jantung
Vanya berdetak tidak karuan.

Setelah Vanya sadar dari lamunan masa lalunya, dia menatap mata tidak
asing itu, dan menitikkan sebutir bening dari matanya. Dia berhambur kepelukan
Alex tanpa peduli tepuk tangan serta cacian di sekitarnya. Dia juga merasakan
rasa itu, rasa yang tidak bisa digambarkan oleh apa pun di kertas.

“Gue sudah menunggu kamu selama ini, jangan pergi lagi Lily, I LOVE
YOU.” Bisik Alex tepat di telinga Vanya. Vanya menangis tersegukkan dan
mengangguk pelan. Merasakan hal yang sama seperti yang dirasakan Alex selama
ini, hingga saat ini dia hanya bermimpi dan berharap untuk bisa melihat senyum
dan binar mata anak laki-laki itu. Dan kini seperti ada sebuah sihir di hidupnya,
ini semua seperti mimpi yang tidak ingin terbangun dari tidur ini. Tanpa disadari
Alex pun ikut meneteskan air mata bahagia.
Love is (Not) Obsession

Kumala Lesifani

"Bayu."

Panggilku berhasil menghentikan langkah Bayu. Dia menoleh yang


membuat senyuman terbit di wajahku. Aku segera merapikan rambut dan
seragamku sebelum melangkah mendekatinya.

"Ada apa Cinta?"

"Cinta? Jadi kau sudah mencintaiku?"

Aku bisa melihat dia memutar bola mata setelah aku mengatakan hal itu.
Tidak apa, karena aku memang sengaja mengatakan itu.

"Itu adalah namamu, bukan sebuah perasaan."

Aku tahu itu, dan entah motivasi dari mana orang tuaku memberikan nama
'Cinta' untukku. Mungkin mereka ingin aku dicintai kapan pun dan di mana pun
aku berada.

"Mau ke kantin?" tanyaku kemudian.

Ia mengangguk. Tanpa aba-aba, aku menggandeng tangannya, dan


menyeretnya menuju ke kantin. Tentu saja ia memberontak, namun tidak akan
kubiarkan dia berhasil lepas dariku. Aku tidak peduli ini membuat dia risi atau
semacamnya, yang terpenting adalah, dia tetap bersamaku.

"Lepaskan!"

Aku menghiraukan perintah Bayu, biar saja seperti ini, aku menyukai
keadaan ini. “Tidak akan kulepaskan, biar saja seperti ini,” ucapku mengeratkan
pegangan, sekarang, aku sudah seperti anak kecil yang takut kehilangan ibunya.
Bayu menghembuskan napasnya kasar, sepertinya ia sudah menyerah.
“Carilah tempat, aku akan memesan makanan,” ucap Bayu setelah kami
tiba di kantin.

Aku melepaskan tangannya, mengangguk, lalu mengerlingkan sebelah


mataku. “Apa saja akan kulakukan, untukmu.”

Bisa aku lihat Bayu bergidik ngeri sebelum meninggalkanku dengan


menggaruk tengkuknya. Asal kau tahu Bayu, kau itu sangat lucu dan
menggemaskan. Aku mengayunkan kakiku dengan sesekali bersiul, hingga
akhirnya sampailah aku. Kududukkan diriku di salah satu kursi lalu mengeluarkan
gawai dan bermain sembari menunggu Bayu datang dengan membawakan
makanan.

“Makananmu.”
Aku tersentak kemudian mendongak. Rupanya Bayu sudah datang,
mungkin aku terlalu sibuk dengan gawaiku hingga tidak menyadari
kedatangannya. Bayu mengulurkan sepiring nasi goreng, dengan senang hati aku
menerima dan memakannya tanpa menunggu Bayu, biar saja, cacing di perutku
sudah berdisko sejak tadi.

“Gratis?” tanyaku menatap Bayu.

“Apa?”

“Maksudku, kau memberikan ini secara gratis?”

Bayu mengangguk, lalu meneruskan makannya. Aku pun demikian.


Hingga tercipta keheningan diantara kami, hanya ada dentingan sendok yang
beradu dengan piring. Kumasukkan sesendok nasi ke dalam mulutku,
mengunyahnya perlahan sembari melihat ke arah Bayu.

Bayu, pria yang berbeda dari pria pada umumnya. Dia pandai, tampan dan
yang paling penting ialah, dia menghargai seorang wanita. Andai saja dia juga
mencintaiku, pasti aku akan menjadi gadis paling bahagia di dunia.

Sayangnya, dia sama sekali tidak mencintaiku, melirikku saja sepertinya


dia enggan. Seperti saat ini contohnya, ketika kami sedang berdua dan tidak
sengaja bertatapan mata, dia pasti langsung memutuskannya dengan memalingkan
wajah.

Berbagai cara juga sudah kulakukan agar ia mau melihatku, seperti


berdandan misalnya. Namun, hal itu sia-sia jika di tujukan untuk Bayu. Padahal,
banyak siswa laki-laki yang mendekatiku setelah aku mengubah penampilan.
Sudah ratusan kali juga aku mengiriminya pesan, namun tidak satu pun yang ia
balas. Sekalinya membalas, itupun berisi ancaman bahwa ia akan memblokirku
jika aku spam chat kepadanya. “Apa perlu operasi plastik?” ucapku refleks. Bayu
menghentikan kunyahannya, lalu menatapku dengan kerutan di dahinya, “Siapa?”
“Aku, apa perlu operasi plastik agar kau mencintaiku?” Bayu menggeleng, lalu
memasukkan suap nasi terakhir ke mulutnya. “Tipe wanita seperti apa yang kau
cari?” tanyaku menatapnya intens. “Aku tidak mempunyai tipe tertentu dalam
memilih pasangan”

Aku bernapas lega mendengar jawabannya. “Lalu mengapa kau tidak


mencintaiku? Padahal aku sudah mencoba berbagai cara agar kau mencintaiku.”
Sepertinya Bayu menghiraukan perkataanku. “Seperti mengubah penampilan,
misalnya.” Bayu memperbaiki letak duduknya. “Aku tidak mencintai seseorang
karena penampilannya.” Aku memutar bola mata malas. “Lalu apa?” “Tidak ada.”

Sekali lagi, aku memutar bola mata. “Jika begitu, mengapa kau tidak
mencintaiku? Padahal kau hanya harus menyatakan bahwa kau mencintaiku.”

Bayu tersenyum, memandang kosong sembari berucap, “Karena cinta


datang soal terbiasa, bukan karena memaksa.”

“Apa selama ini aku memaksamu? Tidakkan? Aku hanya menyuruhmu


untuk membalas perasaanku, itu saja.” Jawabku, enak saja dia berkata seperti itu,
akukan tidak memaksanya, aku hanya menyuruhnya untuk membalas perasaanku.

“Mungkin, dan asal kau tahu, perasaan seseorang pasti akan tumbuh
seiring dengan berjalannya waktu”

Aku mengerucutkan bibirku sebal. “Jika begitu, mengapa kau tidak


mencintaiku? padahal aku sudah mendekatimu selama sebulan lebih.”
“Wanita hanya memiliki dua hak, yaitu menunggu dan memilih. Bukan
mencari, apalagi mengejar. Biarlah waktu yang akan mempertemukanmu dengan
seseorang yang benar-benar tulus mencintaimu.”

Aku memutar bola mata jengah mendengar perkataanya, dasar Bayu sok
puitis. “Baiklah, baiklah, terserah kau saja. Nanti malam ada pesta di rumah
Chindy, kau datangkan?” Bayu menggeleng.

Sudah kuduga Bayu pasti akan menolak, dia tidak menyukai keramaian.
Untuk membujuknya datang, aku memasang wajah paling melas, mungkin saja ia
akan berubah pikiran. “Datang ya? Kumohon,” pintaku memasang puppy eyes.

Bayu memutar bola mata malas, sepertinya dia akan berubah pikiran.
“Baiklah,” jawabnya yang membuatku bersorak kegirangan, hampir saja aku
memeluknya jika tangannya tidak menahanku. “Sekarang masuklah ke kelasmu,”
ucapnya lalu meninggalkanku. Aku tersenyum lebar, meskipun dia tidak
melihatnya. “Baiklah.” Setelah mengatakan hal itu aku berjalan menuju kelas.
Kuakui, ini adalah pertama kalinya aku masuk kelas setelah beberapa hari
membolos, hanya karena Bayu yang memintaku, jika bukan, mungkin hari ini aku
akan membolos lagi.

Aku mengedipkan sebelah mataku ke arah cermin. Merasa lebih cantik


dengan penampilanku sekarang. Kupastikan seribu persen Bayu pasti akan
memujiku nanti. Tunggu saja.

Setelah mengecek semuanya, aku mengambil slingbag dan melangkah


keluar rumah untuk mencari taksi.

Lima belas menit berlalu akhirnya aku sampai di rumah Chindy.


Tampaknya, pesta ini didominasi oleh kaum Adam. Kuarahkan pandanganku
untuk mencari Chindy, hingga akhirnya aku menemukan Chindy tengah
berbincang dengan seorang pria. Aku menghampirinya, mengucapkan selamat
ulang tahun dan berbincang sebentar dengan pria yang sedang bersama Chindy,
kemudian aku pergi dan menghampiri yang lain.
Aku mengambil segelas jus dan meminumnya, namun seseorang mencekal
tanganku hingga jus itu tumpah ke tanah. Untung saja tidak mengenai gaunku.
Dasar. Kudongakkan kepalaku untuk melihat siapa pelakunya, mengejutkan.
Bayu?

“Ada apa?” tanyaku meletakkan gelas kosong itu ke tempatnya.

Bayu menghiraukan pertanyaanku, ia menarik tanganku dan membawanya


pergi, ada apa dengan Bayu sebenarnya?

“Duduklah,” ucapnya tegas.

Apa Bayu marah kepadaku? Tetapi kenapa? Apa aku melakukan sesuatu
yang memicu kemarahannya?

“Kenapa?” tanyanya kemudian yang membuatku mengerutkan kening.

“Apa?”

Bayu menghembuskan napasnya kasar, lalu berjongkok di depanku. Tidak


pernah kusangka sebelumnya bahwa dia akan melepaskan high heels yang
kukenakan. Setelah itu, ia melepaskan jas yang dikenakannya. Apa ia akan
melakukan? Tidak, Bayu bukan tipe pria seperti itu.

Terlalu lama dalam lamunanku, aku tidak menyadari bahwa jas yang dia
pakai sekarang ini sudah bertengger manis di pundakku.

“Kenapa?” tanyanya lagi, kemudian duduk di sampingku.

“Apa?”

Bayu memejamkan mata lalu mendongak ke atas. “Kenapa kau berpakaian


seperti itu?”

Aku menunduk memperhatikan penampilanku, apa ada yang salah? Aku


hanya memakai gaun 15 cm diatas lutut tanpa lengan dan high heels setinggi 10
cm yang senada dengan warna gaunku. Tidak ada yang salah bukan?
“Apa yang ingin kau tunjukkan?” ucap Bayu, kali ini ia memalingkan
wajahnya dariku.

“Bayu ....” panggilku pelan, kuulurkan tanganku untuk menggapai


bahunya. Bayu menepis tanganku. Masih tidak mau menatapku.

Aku menggigit bibir bawahku, untuk mencegah air mata yang tidak
kuinginkan agar tidak keluar. “Apa aku melakukan kesalahan?” tanyaku hati-hati.

“Sudah puaskah kau sekarang?”

“Apa maksudmu?” tanyaku, aku benar-benar tidak mengerti mengapa dia


mengatakan hal itu kepadaku.

Bayu membalikkan badannya dan menunjukkan senyum smirknya. “Sudah


puaskah kau menunjukkan tubuhmu kepada pria yang bahkan tidak kau kenal?”
tutur Bayu lalu berdiri hendak meninggalkanku, namun sebelum itu, aku sudah
menahan tangannya.

“Apa kau cemburu?” tanyaku pelan, hampir tidak terdengar.

“Jangan harap.”

“Lalu mengapa kau marah saat ada pria lain yang sedang bersamaku?”

“Kau mengingatnya Cinta? Pernyataanmu siang lalu, kau memintaku


untuk membalas cintamu”

“Tentu, apa kau akan membalasnya sekarang?”

“Tidak.” Aku menunduk, samar-samar aku melihatnya duduk kembali.

“Kau tahu mengapa?” tanyanya membuatku mendongak.

“Mengapa?”

“Karena kau tidak benar-benar mencintaiku”


Aku menatapnya, lalu menggeleng kuat. “Aku bersungguh-sungguh
mencintaimu, buktinya aku mau mengubah penampilanku agar kau mencintaiku,
seperti malam ini, aku berpakaian seperti ini agar kau senang lalu memujiku.”

Bayu tersenyum lalu menangkup wajahku. “Tatap mataku, Cinta”

Aku mengangguk pelan, untuk pertama kalinya, aku dan Bayu saling
bertatap dengan jarak sedekat ini.

“Apa yang kau rasakan?” Aku menggeleng. Karena aku tidak merasakan
apa-apa.

“Sudah kuduga. Kau tahu sesuatu Cinta? Saat kau menatapku, kau bahkan
tidak merasakan jantungmu berdetak dua kali lebih cepat. Itu artinya kau tidak
mencintaiku, kau hanya terobsesi kepadaku. Kau bahkan rela mengubah dirimu
menjadi seperti ini hanya karena kau ingin aku mencintaimu. Cinta, aku pernah
berkata kepadamu, bahwa aku tidak mencintai seseorang dari wajah, atau
penampilannya. Senyum dan kehadiranmu saja sudah cukup bagiku.”

Setetes air mata jatuh dari ujung mataku, Bayu menghapusnya dengan
pelan sembari berucap, “Maafkan aku Cinta, aku tidak bermaksud membuatmu
menangis.” Aku memeluk Bayu dan menumpahkan semua air mataku, tidak
peduli jika ia akan membenciku setelah hal ini.

Malam ini aku menyadari, bahwa tidak perlu terlihat mewah agar dicintai.
Karena yang cinta butuhkan adalah perasaan dan ketulusan dari hati, bukan rupa,
apalagi raga.
Mencintaimu Karena Allah

Kharisma Auliya Firdaus

“Astaga De, kenapa kamu tidak bilang sama Mas?” tanya Adrian sambil
menyodorkan segelas air mineral kepada istrinya yang kini tengah terduduk
lemas di atas kasur. Adrian benar-benar khawatir. Pasalnya, ia baru tahu istrinya
masuk rumah sakit hari ini. Padahal ibunya bilang, Adena istri Adrian masuk
rumah sakit dari hari kamis, berarti selama Adrian ke luar kota selama empat hari,
Adena sudah di rumah sakit.

“Maaf Mas, soalnya Adena tidak mau membuat Mas khawatir.” Jelas Adena
santai, senyum manis terukir di bibirnya. Seolah ingin menunjukkan bahwa ia
baik-baik saja.

“Tetapikan Mas bisa pulang lebih cepat.” Adrian mengelus pucuk kepala istrinya
lembut, dan mencium keningnya dengan rasa bersalah.

Adena hanya tersenyum bahagia melihat perlakuan suaminya yang begitu


perhatian. Ia sangat bersyukur mendapatkan pasangan hidup seperti Adrian, dan ia
berharap semoga cinta suaminya tidak pernah luntur meski jaman dan dirinya
semakin menua.

Seminggu berlalu dan Adena masih berada di rumah sakit, keadaanya


membaik secara berangsur-angsur. Tetapi entah kenapa Adena merasakan sesuatu
yang tidak mengenakkan hatinya. Ketika melihat Adrian berdiam diri dengan
wajah suntuk. Adrian masih setia menemaninya di rumah sakit, bahkan Adrian
tidak mau pergi jauh-jauh dari sana. Takut terjadi apa-apa, katanya. Tetapi hal
tersebut malah membuat Adena merasa tidak enak, ia merasa dirinya hanyalah
beban yang bisanya hanya merepotkan. Biasanya orang lain bepergian ke tempat
wisata, mengunjungi pusat kota untuk merayakan pergantian tahun bersama-sama.
Entah itu bersama keluarga atau teman. Yang penting di sana mereka bisa bahagia
dan besenang-senang. Tetapi lihat apa yang dilakukan Adrian sekarang?
Menunggunya sampai mengantuk, mengantarnya ke kamar mandi, mengupaskan
buah-buahan, menonton tv, main gadget, dan membaca koran. Pasti ia bosan
setengah mati, hanya terkurung dalam ruangan putih dengan aroma obat
menyerebak di mana-mana.

“Mas,”

“Ya De, ada apa?” tanya Adrian sambil menghampiri Adena agak rusuh, membuat
Adena tertawa kecil. Adena menggeleng dan mengusap pipi suaminya lembut.

“Tidak ada apa-apa Mas, Adena cuma pengen Mas jalan-jalan keluar.”
Mendengar ucapan Adena sontak membuat kening Adrian mengkerut, Adrian
tidak paham maksud ucapan istrinya.

“Memangnya Adena pengen Mas beliin sesuatu?” tanya Adrian, mengingat di


pinggir jalan bertebaran lapak pedagang. Lagi-lagi Adena menggeleng, dan kini
pandangannya tertunduk.

“Lalu?” tanya Adrian lagi.

“Mas sudah menemani Adena dari tadi, kenapa tidak keluar mencari angin?”

“Adena mengusir Mas gitu?” tanya Adrian dengan nada agak ketus.

Adena meremas kuat selimutnya, pandangannya semakin tertunduk.


Sebenarnya bukan itu yang ingin ia sampaikan. Ia hanya tidak ingin membuat
Adrian bosan dengannya, ia tidak bermaksud mengusir. Helaan napas berat
terdengar di telinga Adena.

“Mas tau apa yang kamu pikirin,” ucap Adrian sambil mendudukan diri di
samping Adena.

“Kamu pasti berpikir cuma jadi beban buat Maskan?” Kedua pipi Adena kini
basah dengan air mata, entah kenapa dadanya terasa sesak.

“Asal kamu tahu, Mas bersyukur kamu sakit.” Adena menatap suaminya marah,
meski dengan air mata yang masih mengalir.
“Maksud Mas?”

“Karena sakit Adena sekarang Mas bisa ada di sini, bisa jagain, bisa member
makan, bisa memperhatikan istri Mas tercinta.”

Adena terdiam, mengingat masa-masa ia sendirian di rumah menunggu


Adrian pulang. Menunggu hingga terlelap di atas sofa dan akhirnya lehernya
sakit. Bahkan makanan yang susah-susah ia buat tidak termakan sama sekali.

Mendadak suara kembang api terdengar dari luar jendela, otomatis kedua
insan yang berada di sana menghadapkan pandangannya keluar jendela.

"Adena," panggil Adrian lembut. Refleks Adena menoleh, menatap Adrian


dengan raut penuh tanya. Adena bisa merasakan, kini dadanya berdegup dengan
tempo yang tidak wajar.

“Mas berharap dari mulai tahun baru sekarang, Mas bisa bareng Adena terus, bisa
jagain Adena terus, dan bisa mencintai Adena dengan sangat tulus."

Kecupan penuh kasih sayang mendarat di kening Adena, senyum


manisnya kini tidak bisa ia hilangkan dari bibirnya. Kekuatan cinta Adrian yang
kini Adena rasakan menyeruak menggetarkan hatinya. Membuat air mata
kebahagiaan tidak henti-hentinya mengalir membasahi kedua pipinya. Kini Adena
menyelundupkan wajahnya dalam dekapan Adrian, malu. Adrian tersenyum
dibuatnya.

"Mas licik," teriak Adena tiba-tiba, membuat Adrian yang mendengarnya kaget
bukan main.

"Di mana liciknya?"

"Mas jago banget bikin Adena jatuh cinta berkali-kali sama Mas. Bagaimana
caranya?" tukas Adena sambil memukul bahu pria tercintanya.

Adrian tertawa keras, mendengar penjelasan istrinya yang lucu itu benar-
benar membuatnya tidak tahan untuk tertawa hingga perutnya terasa sakit. Hal itu
malah membuat Adena tambah kesal, ia mencebikkan bibirnya, tangannya juga
disedekapkan. Pandangannya dipalingkan ke arah lain.

"Adena," usai tertawa lagi-lagi Adrian memanggil Adena dengan suara khas, dan
untuk kedua kalinya Adena menoleh dengan dada berdegup tidak karuan.

Perlahan, Adrian menipiskan jaraknya dengan Adena. Ia mendekatkan


wajahnya, menatap lekat manik biru langit itu dengan manik hitam miliknya.

"Mas mencintaimu karena Allah, itu kuncinya."


My First Love
Elysa Saraswaty Kusumah

Persis seperti permainan “Ular Naga” dalam masa kecil penuh tawa, tetapi
mengantri tidak seasyik permainan tradisional yang keseruannya telah tergantikan
oleh sebatang gadget di era milenial ini. Meski queuing system belum mulai
beroperasi, tetapi ratusan pasien sudah berbaris di loket pendaftaran rumah sakit
Pertamina Cirebon. Tubuh mungil ini turut berdesakkan untuk mendaftarkan
ayah control kesehatan jantung, sementara ayahku dipersilakan duduk di lobi
sambil menyantap serabi telur ‘Mbak Ratih’ dan sebotol air mineral. Usai
menjalani opname Desember tahun lalu, ayah harus rutin melakukan control
setiap pekannya.

Sebagai wanita, cinta pertamaku jatuh kepada sosok ayah. Hal yang
membuatku rela meninggalkan aktivitas apapun demi mengutamakannya. Ayah
bukanlah pahlawan NKRI, namun perjuangannya sebagai single parent yang
membesarkan tiga orang anak sungguh luar biasa. Lima belas tahun lalu, pada saat
yang sama ayah merintis bisnis baru, ibu meninggal dunia akibat diabetes mellitus
yang dideritanya. Sepuluh tahun usiaku saat itu, melihat ayah begitu tegar
menerima kenyataan pahit ini, meski kerap kalimatnya berkaca-kaca tatkala si
bungsu Shella terbangun di tengah malam dan menangis menjerit memanggil ibu.

Ayah adalah Super father. Pekerja keras dan sangat penyayang, bahkan
aku menemukan sosok ibu pada diri ayah.

Tentang mengapa ayah tidak mencarikan sosok pengganti ibu untuk kami,
tidak lain karena ayah sangat mencintai ibu. Adalah harapan bagi ayah akan
kembali dipertemukan dengan ibu di surge kelak. Seringkali ayah menceritakan
segala hal tentang ibu.

“Dulu, kami tidak pacaran. Hanya bermodalkan lima juta rupiah, ayah
memberanikan diri melamar ibumu di usia belia, karena takut didahului pria lain.
Maklum saja, ibumu dulu kembang desa, Nak. Hari pernikahan kami menjadi hari
patah hati para pria desa. Dulu, bisnis ayah tidak semaju sekarang, tetapi ibumu
dengan sabar mendampingi ayah di saat semua wirausahawan tahu bahwa
memulai sesuatu dari nol tentu tidak mudah. Kesuksesan ayah sekarang pun
berkat doa dan semangat dari ibumu. Banyak yang bertanya tentang mengapa
ayah tidak mencari pengganti ibumu. Untuk apa ayah mencari pengganti
sedangkan cinta ibu tidak pernah pergi. Selalu tinggal di sini, dalam hati ayah.”

Sepulang mengajar, ingin rasanya segera merebahkan tubuh. Namun


seketika aku dibuat terkejut dengan keberadaan lelaki berkemeja putih duduk di
sofa bersama ayah.

“Bryan?”

Rasanya ingin sekali aku memakinya, meremas dan melemparkan


wajahnya. Namun iman yang masih terjaga mendorongku untuk segera masuk ke
dalam kamar untuk meredamkan amarah yang kian membara.

Hati seperti kaca yang mudah retak, namun sulit menjadi utuh kembali.
Tulus cinta yang kuberi, dibalas pengkhianatan yang tidak bertepi. Hatiku dibuat
mati, dengan kepergiannya yang tanpa basa-basi. Lalu untuk apa dia datang
kembali?

Tidak lama setelah Bryan pamit pulang, ayah mengetuk pintu kamarku.
Aku beranjak membukakan pintu dan mempersilakan ayah masuk. Ayah menatap
mataku dalam-dalam, dan menemukan air mata di sana.

"Berdamailah dengan keadaan dan belajarlah memaafkan agar hatimu


tidak banyak terluka. Sudah lama ayah tidak melihat putri sulung ayah tersenyum
lepas, ayah rindu Rainy yang dulu."

Keesokan hari, Bryan kembali berusaha menemuiku di sekolah tempatku


mengajar, saat semua murid telah pulang.

"Tunggu. Izinkan aku memberikan ini." Bryan menyodorkan sebuah


cincin.
"Apa ini? Permohonan maaf? Pergilah! Hatiku telah patah dan aku tidak
menginginkan kamu memperbaikinya."

"Kutahu, aku tidak akan mampu memperbaikinya, tetapi izinkan aku


mencintai setiap patahan-patahannya." Jawab Bryan.

"Maafkan aku, meninggalkanmu tanpa alasan yang jelas. Lima tahun yang
lalu, aku mengejar impianku untuk melanjutkan pendidikan di Al-Azhar Kairo,
Mesir. Saat itu aku tidak memiliki cukup nyali untuk mengatakan sesuatu yang
dapat mengecewakanmu. Hingga aku membiarkanmu membenciku, dan
membiarkan hatiku merindukanmu seorang diri. Hari-hariku dalam lima tahun
dipenuhi dengan penyesalan dan ketakutan. Aku takut seseorang beruntung
mendapatkan hatimu. Sampai akhirnya kini kudapatimu masih seorang diri,
berharap ini adalah petunjuk dari Allah bahwa kamulah jodohku." Cakap Bryan.

"Maafkan aku Bryan, aku telah memenuhi hatiku dengan kebencian


terhadapmu." Tidak terasa air mata membanjiri pipi ini. Aku terisak, bahagia,
rasaku bercampur aduk. Tetapi aku menyadari bahwa kebencianku selama ini
karena aku masih sangat mencintainya.

"Ana uhibbuki fillah, Rainy."

“Ahabbakalladzii Ahbabtanii Lah, Bryan.”

Kami pun menikah. Rumah tangga kami dipenuhi cinta dan kebahagiaan.
Bryan membuatku merasakan betapa bahagianya dicintai dan mencintai seperti
cinta ayah dan ibu. Pesan ayah yang selalu kuingat, "Cintailah Allah dengan
sepenuh hatimu, maka kamu akan mencintai suamimu karena-Nya."
Nabastala Senja

Mila Santika

Kabut menghalangi pandangan dengan hujan yang menemaniku di


penghujung hari, tidak ada warna cerah senja, namun ketenangan hadir di sana.
Semilir angin merajuk menelusuk anganku tentang hari yang telah berlalu, aku
diam sejenak merenung dalam kedamaian.

Senja telah habis ditelan malam, kurasa cukup untuk hari ini aku ingin
mengistirahatkan tubuh juga pikiranku dari kesibukan. Satu buah buku untuk
mengantarkanku pada rasa kantuk. Tetapi sialnya konsentrasiku terganggu,
seorang wanita yang entah siapa tiba-tiba menabrakku dengan berurai air mata,
aku bingung apa yang harus aku lakukan saat itu. Jadi kubiarkan dia duduk di
sampingku sampai tangisannya reda. Aku belum mau menyapanya sampai ia
benar-benar tenang. Tanpa ditanya pun dia menceritakan siapa dirinya dan
mengapa ia menangis. Dia menangis hanya karena putus cinta. Aku tidak
mengerti mengapa banyak orang menangis karena cinta, padahal cinta itu bisa
melembutkan hati yang keras. Menurutku untuk apa jatuh cinta bila tidak ingin
merasa sakit, apa tidak lebih baik bangun cinta saja? Setidaknya dengan
membangun seseorang tidak akan terluka lagi. Mengingat cerita tadi membuatku
mengantuk, mataku juga tidak bisa berkompromi lagi, kupejamkan mata hingga
sampai ke alam mimpi.

Mentari pagi menyambutku dengan hangat. Rencananya weekend ini akan


kuhabiskan di rumah saja dengan beberapa buku, tetapi entah mengapa hati
kecilku mengajak untuk pergi keluar. Kuputuskan untuk pergi, tetapi aku sendiri
pun tidak tahu akan ke mana.

Aku terus berjalan tanpa tujuan, kembali seseorang menabrakku dari


samping. Setelah kuperhatikan, ternyata dia orang yang menabrakku kemarin.

“Kamu yang kemarin itukan?” dia mulai bicara.


“Iya,” jawabku singkat.

“Aku tidak menyangka kita bertemu lagi,” katanya semangat. “Kamu mau
ke mana?” dia bertanya lagi.

“Jalan-jalan saja,” kataku sedikit acuh.

“Kamu sudah sarapan? Kita sarapan bareng yuk?” tanyanya. Aku berpikir
sejenak, lalu kuputuskan untuk menerima ajakannya.

Aku berjalan di sampingnya, dia mengajakku sarapan di salah satu kedai


makan, aku hanya mengikutinya tanpa berkomentar. Selama di jalan dia tidak
henti-hentinya mengoceh, aku sendiri heran kenapa dia selalu banyak bicara.

“Bang, biasa ya dua porsi,” dia memesan makanan lalu duduk di salah satu
meja, dan lagi aku seperti orang dungu yang terus mengikuti apa yang dia
lakukan.

Setelah pesanan datang, aku langsung mengambil bagianku dan


memakannya. Sedangkan dia masih saja berceloteh. Apa dia tidak bisa diam
sebentar, atau mungkin dia hanya diam ketika tidur saja.

“Apa kau tidak bisa diam? Dari tadi kau terus bicara, bahkan saat makan
pun kau masih bicara,” aku terlalu kesal hingga aku berkata demikian.

Dia sedikit terkejut dengan ucapanku, “Apa kau terganggu? Maafkan aku,
baiklah aku diam sekarang,” dia lantas tidak mengatakan apa-apa lagi, hening.
Benar-benar hening. Kulihat matanya yang agak sendu, dia berbeda dari
sebelumnya, orang yang baru kukenal dan sangat cerewet itu tiba-tiba menjadi
tenang hanya dengan tiga kalimat yang kulontarkan.

“Aku sudah selesai,” kataku disela-sela hening. “Permisi.” Aku beranjak


dari tempat dudukku, dia hanya memandangku dan masih belum mengatakan apa-
apa. Aneh memang, tetapi aku tidak peduli, lalu aku keluar setelah membayar
makananku dan makanannya.
“Tunggu!” dia memanggilku dengan jarak yang cukup jauh, dia berjalan
ke arahku, setelah dirasa dekat dia berkata, “Terima kasih telah bersedia
mendengarkanku, dan maaf jika aku telah mengganggumu.”

Aku terdiam, mencerna setiap kata yang dia ucapkan, ada kesedihan yang
mendalam kulihat di mata sendunya. Dia berlalu, aku tidak tahu harus mengatakan
apa. Aku masih terpaku di tempatku, sampai siluet tubuhnya benar-benar tak
terlihat lagi. Senja nampak seperti kemarin, tanpa warna. Masih dengan kabut dan
rinai hujan, ditambah dengan kilat yang terus menyambar.

Satu bulan telah berlalu, seakan ada yang hilang dalam hidupku. Aku
masih ingat sekali pertama aku mendengar ceritanya tentang cinta yang
menghancurkannya hingga lebur bersama kepingan-kepingan hatinya. Wanita itu,
aku masih belum bisa menemukannya, aku berharap untuk bisa berjumpa lagi
dengannya.

Minggu pagi, seperti biasa aku pergi ke taman. Aku duduk di bawah
pohon rindang, tanpa sengaja mataku melihat si pemilik mata sendu yang pernah
kukenal itu. Aku beranjak dan langsung menghampirinya, “Apakah kamu masih
ingat aku?” dia menatapku lalu tersenyum, kami berbicara di bawah pohon
rindang yang tadi kutempati. Aku mulai bisa mencairkan suasana, sikapku sudah
tidak kaku seperti saat pertama kali bertemu dengannya. Dan sekarang aku mulai
terbiasa dengan celotehannya yang dulu sangat menggangguku.

Aku bertemu dengan senja yang baru, senja yang berbeda dari terakhir kali
aku melihatnya. Senja yang penuh warna, jauh lebih menenangkan dibanding
dengan senja yang tertutup kabut dan hujan.

Pada akhirnya aku bersahabat dengannya, sering kami bercerita tentang


masalah-masalah yang ada, aku selalu memberinya solusi dan nasihat, begitu juga
sebaliknya, dia selalu memberiku nasihat dan solusi yang dapat kuterima dengan
baik.
Selalu ada rasa yang berbeda saat berada di dekatnya, mungkinkah aku
jatuh hati kepadanya? Aku tidak boleh jatuh cinta, itu bukan diriku, lagi pula dia
sahabatku.

Benih yang kutanam kini telah tumbuh subur hingga berbunga, semerbak
harum menjalar ke setiap sudut taman, namun aku tidak tahu harus merawatnya
atau kubiarkan saja.

Hari minggu, seperti biasa aku pasti menemuinya di taman ini, seolah
tidak ada tempat lain yang lebih indah dari ini. Aku melihatnya datang sambil
tersenyum bak bunga yang baru saja mekar, indah dan mempesona.

“Maaf ya kelamaan menunggu.”

“Tidak, aku juga baru sampai,” padahal sudah hampir setengah jam aku di
sini.

“Aku tidak bisa lama-lama. Aku hanya ingin memberikan ini,” katanya
sambil menyodorkan sebuah kartu undangan, dan nama yang tertera di sana
adalah “Nabastala Senja dan Arkan Yaziz”. Aku diam tidak bergeming seolah
seluruh duniaku hancur saat itu juga, bunga yang baru saja mekar telah dipetik
oleh orang asing, “Kamu tidak apa-apa?” tanyanya, aku tersenyum simpul, dia
tidak pernah mengatakan hal ini kepadaku sebelumnya.

Dia akan menikah, dengan orang yang sama sekali tidak kukenal. Senja,
tidak tahukah kau ada hati yang terluka di sini?

Senja tidak akan selamanya terlihat indah, adakalanya ia dijemput sang


malam, tanpa tahu akan kembali lagi atau tidak.
Pada Gulita yang Merentas Buta

Yeni Chan Niswa

Dalam keheningan malam yang anggun merengkuh mimpi para pujangga,


Raka masih duduk dengan begitu tenang di atas gelaran sajadah berwarna biru tua
di lantai kamarnya. Dia tentu saja tengah menjalankan Qiyamul lail. Raka
memang sedang beristiqomah menjalankan sholat malam dengan tujuan akan
bertemu dengan wanita yang sering datang dalam mimpinya ketika malam. Raka
bukan anak nakal tentu saja, namun dia adalah seperti kebanyakan remaja saat ini
yang tengah bertanya-tanya akan jati diri yang ada dalam hatinya.

Seorang wanita bercadar yang sering sekali datang dikala dia terlelap dan
khilaf. Selalu saja sekelebat bayangannya terlintas dipikiran Raka. “Apa mungkin
dia adalah wanita yang ditakdirkan oleh Allah menjadi jodohku?” tanyanya dalam
hati setiap kali pikirannya teringat akan wanita misterius itu. Entahlah, yang jelas,
mulai saat ini Raka ingin sekali berdoa kepada Tuhan agar segera dipertemukan
dengan wanita yang ada dalam mimpinya itu.

Setiap pagi, Raka menjalani rutinitasnya sebagai seorang arsitek muda.


Usianya baru saja menginjak 27 tahun. Pekerjaannya hanya berdiam diri di rumah
dan merancang bangunan yang ada dalam daftar pekerjaannya. Jika penat dan
bosan melanda, dia tinggal pergi keluar rumah dan jalan-jalan. Dan entah
mengapa hari ini, Raka ingin sekali mengunjungi taman kota yang ada di dekat
rumahnya. Langsung saja, dia mengemudi mobilnya dan melajukannya menuju
taman kota yang ada dalam pikirannya.

Sampai dia di taman ketika senja mulai berselimut jingga. Raka duduk di
kursi panjang yang ada di bawah pohon dekat dengan kolam. Beberapa menit
berlalu dia masih menatap senja itu sendiri. Menikmati suasana sore hari dengan
banyak orang yang ada di sekelilingnya. Namun entah kenapa, dia merasa sangat
sepi. Raka mengambil secarik kertas dari dalam tas kecilnya. Dia mengeluarkan
pena kesayangan yang selalu dibawanya ke mana-mana. Selain menggambar,
Raka juga hobi dalam menulis puisi. Dia sering menggunakan waktu bosannya
menggambar bangunan untuk menghasilkan karya puisi yang kemudian banyak
dimuat dalam majalah atau koran-koran nasional. Raka menuliskan sebuah judul
di kertas kosong itu.

PADA GULITA YANG MERENTAS BUTA

Selimut gundah yang terus melekat

Gelisah juga yang terus mengikat

Kini tak kunjung mangkat

Kini tak jua mendapat sepakat

Aku yang terus kau hantui

Merasa takut akan pertemuan yang bisu

Lalu karam dalam hujan yang memusuhi

Juga terbawa arus rindu yang menderu

Sukmaku kau bawa melayang di atas kabut

Jiwaku kau sebut kala aku dalam khilaf

Sementara ragaku masihlah dalam sujud

Memuja asma-Nya yang paling agung

Dalam gulita, aku masih mampu melihatmu

Aku tak pernah merasa buta

Dalam gulita, pancaran matamu yang nyata

Akan kusongsong relung pekat itu

Dengan doa yang ku panjatkan

Setiap pagi dan petang serta tengah malam


Dengan syair yang kutulis dengan tangan

Untuk hati yang berharap segera dipertemukan

Raka, 1-3-2019

Selesai menulisnya, kertas penuh tulisan itu tertiup angin dan jatuh entah
ke mana. Raka begitu ingin mengutuki dirinya sendiri. Dia menghela napas
panjang dan kembali duduk dengan tenang, membiarkan kertasnya hilang entah
siapa yang akan menemukan atau malah terinjak kaki jalang yang lalu lalang.
Namun mungkin inilah yang disebut takdir, Tuhan sungguh tidak tidur. Tuhan itu
Maha Adil dan bijaksana.

Di sampingnya, duduk seorang wanita bercadar yang kemungkinan besar


datang dalam setiap mimpinya. Mengembalikan secarik kertas yang tadi sudah
direlakan pergi. Ternyata nasibnya tidak semalang binatang jalang itu. Kertas itu
ditemukan. Seperti Raka yang merasa telah menemukan wanitanya.

“Ini milikmu ya?” ucap wanita bercadar itu dengan sopan sambil menyodorkan
secarik kertas puisi milik Raka yang tadi terbang. Raka menghela napas panjang
sebelum mengambil kertas itu.

Dia menjawab singkat “Iya.”

Lalu kemudian, “Dari mana?”

“Dari sana.” Wanita itu menunjuk sebuah tempat tidak jauh dari tempat Raka
duduk sekarang. Di pinggir kolam tepatnya.

Kenapa Raka tidak melihat wanita bercadar itu tadi, padahal jaraknya
begitu dekat. Dia malah asyik menulis puisi. Tetapi juga karena puisi itulah, Raka
bertemu dengan wanita bercadar ini.

“Nama kamu siapa?” tanya Raka lagi berusaha mencairkan suasana.

“Arhima,” jawabnya singkat dan jelas.

“Aku Raka,” jawab Raka memperkenalkan dirinya.


“Kamu seorang penulis ya? Puisinya bagus.” Ucap wanita yang kini Raka ketahui
namanya sebagai Arhima itu mengomentari puisi yang beberapa detik yang lalu
ditulisnya.

“Arhima, maafkan kalau aku terlalu aneh. Tetapi kamu selalu ada dalam mimpiku.
Wanita bercadar yang selalu menasihatiku, dan aku yakin itu adalah kamu.” Ucap
Raka tiba-tiba mengeluarkan isi hatinya tanpa rem. Arhima begitu terkejut, namun
jawabannya begitu diluar dugaan.

“Raka, Tuhan tidak pernah menakdirkan sesuatu yang salah. Kamu juga selalu ada
dalam mimpiku. Dan aku berpikir bahwa mungkin kamulah jodohku. Tetapi aku
juga tidak pernah menduga kalau aku akan dipertemukan denganmu hari ini di
sini.” Jelas Arhima panjang lebar yang membuat hati Raka mencelos.

“Aku juga berpikir seperti itu.” Jawab Raka sedikit bingung meneruskan
pembicaraannya.

“Maukah kamu jadi istriku, Arhima?” tanya Raka tiba-tiba yang membuat Arhima
nampak terkejut dengan pertanyaan itu serta bingung mencari jawabannya.

Namun setelah hening sejenak melanda mereka, Arhima dengan begitu mantap
menjawab “Iya, aku mau.”

Semua terjadi begitu cepat. Mungkin inilah yang disebut takdir Tuhan, jika
Tuhan sudah berkehendak maka apa saja bisa terjadi. Seperti halnya Raka dan
Arhima, mereka saling menemukan dalam doa. Doa seorang pujangga yang
dilengkapi oleh pasangannya. Berawal dari mimpi yang kini menjelma nyata.
Semua yang terjadi tidak pernah kebetulan, namun atas dasar takdir Tuhan. Walau
dalam gulita sekali pun, mereka yang telah ditakdirkan bersama akan saling
menemukan tanpa terhalang buta satu sama lain.
Penantian Halal
Guspina

Diumur yang terbilang masih muda, yaitu 17 tahun. Pasti tidak asing bagi
kalian, masa ini adalah masa-masanya jatuh cinta, itulah yang dialami Arha
rasyifa  sekarang, diam-diam memendam rasa kepada seorang kakak kelasnya
yang bernama Adi Rahandra Maheswari kelas XII IPA 1. Arha adalah sosok gadis
yang puitis dan suka membaca novel, komik, serta cerpen. Dia mempunyai  tiga
sahabat yaitu Raining, Azizi dan Liana, dari ketiga sahabatnya Raininglah sahabat
yang selalu mendengarkan isi hati Arha, mendengarkan keluh-kesah dan segala
masalahnya. Arha sangat merahasiakan perasaannya kepada Adi terutama ia tidak
menceritakannya kepada Raining. Hanya dia dan Allah yang tahu tentang
semuanya.
Hari ini kelas XI IPA 1 tepatnya kelas Arha, jam pertama adalah
matematika yang diajarkan oleh Ibu Indah. Sebelum itu, Arha disuruh untuk
mengambil buku paket yang terletak di atas meja ruang Bu Indah. Sesampainya di
sana Arha langsung mengambil buku itu. Bruggggh… Tiba-tiba ia menabrak
seseorang di belakang yang membuat semua buku terjatuh tepat di kaki Arha
"Aww," ringis Arha
"Kamu tidak apa-apa?" ucap seseorang yang ditabraknya.
Arha sontak kaget melihat sosok orang yang ditabraknya adalah orang
yang selama ini ia kagumi dan tepat berada di hadapannya.
"Kamu tidak apa-apa?" tanyanya lagi sambil membantu menyusun buku yang
terjatuh.
"Tidak apa-apa. Terima kasih," singkat Arha memaksa berdiri dengan kaki yang
masih sakit lalu mengambil buku dari Adi, dari pada ia harus berurusan dengan
cowok ini, Arha langsung menundukan pandanganya berlalu meninggalkan Adi.
Terukir senyuman di bibir adi ketika melihat punggung Arha yang kian menjauh.
Seketika Arha ingin menceritakan semua ini kepada Raining, tetapi  perasaan ragu
menghampirinya untuk membicarakan semua. Tetapi Raining teman
kepercayaannya sekaligus teman curhatnya, walau terkadang mengesalkan.
"Cerita nggak ya?" gumam Arha sambil memperhatikan Raining yang sangat
serius menyimak pelajaran Bu Indah. Raining pun sadar bahwa ia diperhatikan
oleh Arha sedari tadinya.
"Gue tahu gue cantik, jangan gitu juga keles ngeliatinnya," ujar Raining yang
super duper pedenya sambil menangkupkan sebelah tangannya ke pipi kiri dengan
kedua alis yangg terangkat-angkat menghadap Arha.
"Pede amat sih, mmm.. Aku mau cerita," bisik Arha pada Raining. Mulailah aksi
Arha menceritakan semuanya kepada Raining.
"Seperti itu ceritanya Ning." 
“Jadi selama ini kamu keluar kelas malu-malu, nggak mau kuajak ke kantin,
banyak alasan saat kuajak ke perpus, jadi ini masalahnya ngehindarin dia gitu..."
jelas Raining panjang lebar.
"Hussshh pelan-pelan bicaranya," bisik Arha kepada Raining. 
"Siapa sih cowok yang beruntung itu?" tanya Raining lagi.
"Namanya Adi Randra Maheswari kelas XII IPA 1," mendengar apa yangg  Arha
bicarakan Raining tertawa geli.
"Ii nggak lucu Ning," ujar Arha
"Cerita apa sih, kok nggak ngajak kita?" sambung Azizi yang berada di belakang
dan di sambung Linia juga, "Iya nih nggak ngajak kita."
"Itu..," balas Raining lalu menoleh ke belakang Linia dan Azizi. Segera Arha
mencubit lengan Raining.
"Aww," teriak Raining keras membuat semua mata tertuju kepada Raining.
"Raining Ibu perhatikan kamu ngobrol terus dari tadi," tegas Bu Indah.
"Maaf, Bu," lirih Raining. Melihat itu Arha langsung tertawa geli.
"Nanti kita lanjutin ya." Raining kembali bersuara.
Kringg.. Kriing... bel berbunyi pertanda istirahat.
"Jadi ini yang kamu sembunyikan dari aku?. Arhaku sayangku cintaku, lo tenang
saja ada Raining di sini. Kalau pun kalian berjodoh pasti Allah akan pertemukan
kalian dalam ikatan yang halal nantinya, jika nanti kalian tidak berjodoh, pasti
Allah sudah memilihkan jodoh yang terbaik untuk lo dan mungkin  orang itu
belum tepat dan juga lo harus berdoa, minta petunjuk kepada Allah," jelas Raining
panjang lebar.
"Kamu memang temen yang pengertian. Setidaknya aku sudah tenangan sedikit,"
ucap Arha langsung memeluk Raining. Raining hanya mengangguk sambil
mengusap bahu Arha dan sesekali tertawa geli.
"Kenapa sih Ning tertawa terus?" Arha melepaskan pelukannya.
"Lucu saja," singkat Raining.
Arha sadar selama ini yang ia lakukan itu kesalahan besar berharap selain
pada Allah dan memikirkan orang yang belum halal bagi dirinya. Dengan 
semampunya, Arha mencoba melupakan perasaannya kepada Adi, menjauh setiap
ada Adi di hadapannya  dan ketika ke kantin Arha rela menahan lapar agar tidak
berhadapan dengan Adi. 
"Maafkan aku, tetapi apa dayaku, aku tidak ingin hanyut dalam perasaan cinta
yang belum halal  ini," ucap Arha sembari  melihat punggung Adi yang kian
menjauh.
Bel berbunyi pertanda berakhirnya jam sekolah. Sebelum pulang, Arha
seperti biasa salat dzuhur terlebih dahulu. Namun sebelum itu ia sebagai ketua
kelas harus mengembalikan buku ke ruang Bu Indah bersama dengan Raining
yang selalu menemaninya, sedangkan Linia dan Azizi sudah pulang. Setelah
mereka ke ruang Bu Indah, mereka pun langsung masuk ke musala, sebelum itu
mereka wudu terlebih dahulu lalu mengenakan mukena dan memulai salatnya.
"Assalamu'alaikum," ucap Arha di akhir salatnya.
Selesai sudah mereka salat, mereka langsung melepas mukena dan
menyimpannya di tempat biasa. Langkah demi langkah mereka mulai keluar dari
musala. Langkah Arha terhenti ketika  mendengar sayup-sayup suara merdu
seseorang  melantunkan surah ar-Rahman yang berasal dari dalam musala.
"Ning kamu duluan saja, nanti tunggu aku di garasi!" titah Arha kepada Raining
yang dibalas dengan anggukan. Arha pun berbalik arah karena penasaran lalu
menuju  arah sumber suara tersebut dan betapa terkejutnya Arha karena orang itu
adalah Adi Rahandra Maheswari.
"Masyaallah," ucap Arha tidak sadar sehingga membuat  Adi mendengar
ucapannya dan menoleh ke arah Arha yang sedang mengintip di balik jendela
musala, Adi hanya tersenyum. Adi menoleh ke arah Arha, ia pun langsung
bergegas menemui Raining yang sudah menunggu di garasi.
"Ya Allah bantulah hamba," batin Adi.
"Ayo cepat Ning kita pulang." Arha langsung duduk di belakang  Raining yang
sudah menaiki motor.
"Ayo cepat jalan," sambil menepuk bahu Raining.
Setahun berlalu kini Arha sudah kelas XII, menurut kabar yang ia dengar,
Adi melanjutkan kuliah ke Yogyakarta. Inilah mungkin cara Allah untuk
membantu Arha supaya melupakan Adi. Sudah lama ia tidak mendengar kabar
Adi, membuat Arha merasa rindu. Segera ia menepis pikiran  aneh yang
menghantuinya. Entah bagaimana keadaannya sekarang, yang paling terpenting
adalah ia harus fokus untuk Ujian Nasional yang akan berakhir hari ini.
Sehabis ke perpus membaca buku, Arha berjalan menuju kelas. Tidak
sengaja ia mendengar obrolan dua siswi yang ada didepannya.
"Gue dengar Kak Adi mau nikah," ucap salah satu siswi antusias.
"Serius? Beruntung sekali cewek yang mau dinikahinnya itu, kenapa nggak gue
sih yang jadi cewek itu?" balas siswi satunya lagi.
"Mimpi." 
Mendengar ucapan mereka, Arha sontak kaget, ada  juga perasaan sedih
dan kecewa yang diwakili oleh mimik wajahnya yang berubah total sekarang.
Karena doa yang selama ini ia panjatkan tidak akan menjadi kenyataan.
"Ning, kenapa Arha diam saja dari tadi?" tanya Liana. Raining pun mengangkat
kedua bahunya pertanda tidak tahu.
"Arha, ada apa?" bisik Raining hanya dibalas gelengan oleh Arha.
"Zi, ikut gue!" titah Raining kepada Azizi dan Liana. Mereka pun meninggalkan
Arha di kelas. Raining  menarik Azizi dan Liana sampai ke bangku taman di
sekolah.
"Ada apa sih Ning ngajak kita kesini?" Azizi membuka suara.
"Kalian harus bantu gue bikin rencana yang besar!" jawab Raining.
Tibalah saatnya pengumuman kelulusan, alhamdulillah kelas XII IPA 1
semuanya lulus. Mereka sangat bersorak ria dan kegirangan mendengar kelulusan,
setelah itu mereka akhiri dengan salam perpisahan. Sepulangnya, Arha langsung
menghempaskan diri ke kasur empuknya.
  Suara pintu di buka. Arha langsung melihat ke arah pintu yang
menampilkan orang yang disebutnya Umi dan Abi itu.
"Umi? Abi?" ucap Arha mendongakkan kepalanya dan membenarkan posisinya
menjadi duduk.
"Arha, Umi sama Abi mau bicara," ucap umi.
"Mau bicara apa emangnya Abi ,Umi?" tanya Arha penasaran.
"Arha, Abi dan Umi sepakat mau menikahi kamu sama anak teman Umi,"
sambung abi.
"Kenapa Abi sama Umi tidak berbicara ke Arha terlebih dahulu?" 
"Ini juga mendadak karena mereka datang tadi pagi. Kami yakin dia cocok untuk
kamu, Ha. Kami juga sudah sepakat bahwa pernikahanmu seminggu lagi," jelas
umi.
"Arha tidak mau Umi, Abi. Masih banyak impian yang belum Arha capai. Arha
ingin membahagiakan Umi dan Abi." Jelas Arha 
"Dengan kamu menikah, kamu sudah bahagiain kita, Ha," sambung abi.
"Jika kamu menolak berarti kamu tidak mau melihat kami bahagia," lirih umi.
"Umi kok ngomong gitu?" 
Arha pun  menerima perjodohan itu karena Arha tidak tega melihat kedua
orang tuanya sedih. Arha yakin jika pilihan kedua orang tuanya pasti yang terbaik.
Setelah membicarakan semuanya, umi dan abi pun  keluar dari kamar dan tidak
lupa menutup pintu. Abi dan umi langsung mengangkat jempol yang mengarah di
balik tirai kemudian mereka membalas  juga dengan mengangkat jempol mereka.
Ternyata di balik tirai adalah tempat persembunyian teman-teman Arha dari tadi.
Merasa keadaan aman dan kondusif  mereka pun keluar dari tempat
persembunyian itu.
"Tinggal satu langkah lagi rencana kita. Pasti berhasil," ujar Raining dengan
semangatnya dan semua yang ada di sana tersenyum senang.
Arha kini berada di kamarnya, dari pada ia harus memikirkan segala
permasalahannya lebih baik ia salat dan mengaji karena dengan itu semua, hati
menjadi tenang dan tentram.
"Mungkin Allah tidak menakdirkan aku dan Adi  untuk bersama," ucap Arha dan
langsung melepas mukenanya selesai salat.
Tetapi ia tidak dapat menyembunyikan kesedihannya. Ketika penantian
halal impiannya tidak dengan orang yang selama ini ia kagumi, melainkan orang
lain. Hanya kata-kata puitis yang ia curahkan ke dalam buku khusus milik Arha
yang selama ini ia simpan di laci kamarnya yang di dalamnya terdapat quotes dan
kata-kata puitis buatan Arha sendiri. Sudah banyak quotes dan kata-kata puitis
yang ia buat di buku itu.
Tibalah hari pernikahan Arha dan pria yang tidak ia kenal sama sekali.
Pernikahannya sangat sederhana, pernikahan ini hanya dihadiri orang-orang
terdekat Arha. Kini Arha  berada di kamarnya bersama dengan ketiga teman-
temannya sambil duduk di kursi tempat ia berdandan dan menunggu calon
suaminya selesai mengucapkan ijab qabul. Dandanan yang natural melekat di
wajahnya, gamis putih dan jilbab senada yang sederhana ia pakai.
"Cie... Teman aku bentar lagi jadi istri," goda Linia.
"Kenapa mukanya cemberut dari tadi? Senyum dong, sudah cantik juga," goda
Azizi.
"Ini sudah senyum," balas Arha dengan senyum terpaksa.
Pintu dibuka menampilkan seorang pria yang berbaju putih dan berpeci
hitam itu  perlahan masuk ke kamar Arha.
"Suamimu datang Ha, senyum dong. Kamu harus ikhlasi atas semuanya," bisik
Raining.
"Raining jangan tinggalin aku," ucap Arha sambil menarik tangan Raining. 
"Ayo keluar!" ajak Linia kepada Azizi. Sedangkan Raining mengiring langkah
Arha yang sedari tadi menundukkan pandangannya menemui sang suami. Raining
pun mengiring langkah Arha hingga berada tepat  di hadapan suami Arha
sekarang, seketika Raining menepuk bahu pria d ihadapan  Arha dan memberi
kode dengan mengangkat jempol dan dibalas pria itu dengan mengangkat
jempolnya juga. Raining pun sontak menutup pintu lalu menguncinya. Sekarang
hanya ada  Arha dan suaminya yang ada di kamar.
"Bolehkah aku memanggilmu umi? Dan kamu sebaliknya," izinnya kepada Arha.
"Terserah," jawab Arha singkat.
"Tidak pegal apa nunduk mulu dari tadi? Kita ini sudah halal." Ucapnya terkekeh
geli. Seketika wajahnya berubah karena melihat air mata Arha yang berjatuhan
membasahi gamis Arha. Pria itu pun mengangkat dagu Arha dengan jari
telunjuknya .
"Jangan pernah meneteskan air mata ini karena aku," ucapnya lagi. Dan betapa
terkejutnya Arha ternyata suaminya adalah orang yang ia kagumi selama ini.
"Ini bukan mimpikan?" Arha menepuk kedua pipinya. 
"Bukan," balas Adi sambil mencubit pipi tembem Arha.
 "Akhirnya Allah mempertemukan aku dengan idolaku dan sekaligus fansku,"
goda Adi kepada Arha.
Ternyata selama ini Adi juga memendam rasa kepada Arha, Raining 
memberitahu bahwa Arha juga mempunyai perasaan kepada Adi. Mendengar itu
Adi semakin semangat untuk berjuang mendapatkan Arha dari menemui umi dan
abi Arha, sampai-sampai ia rela harus bolak-balik dari Yogja dan itu sangat
didukung oleh  Raining sebagai sepupunya sehingga terlintas di pikiran Raining
untuk membuat rencana. Rencana Raining pun disetujui umi dan abi.
Malam harinya aku dan Adi melaksanakan salat maghrib bersama dan
inilah salat pertama yang tidak akan pernah aku lupakan sampai kapan pun karena
diimami oleh orang yang dahulu kukagumi dan sekarang sudah menjadi suamiku.
Seusai salat kucium punggung tangannya dan dia pun mencium puncak kepalaku.
Setelah mereka salat bersama, mereka pun mengaji bersama untuk pertama
kalinya.
"Umi kok salah mulu sih bacanya?" ucap Adi sembari mencubit pipi Arha.
"Aduh sakit Abi. Umi canggung  karena baru pertama kali dekat dengan laki-laki."
Mendengar jawaban Arha seketika membuat Adi terkekeh geli.
"Kalau salah lagi, nanti Abi cium," goda Adi.
"Iya deh, Umi tidak akan salah lagi bacanya," balas Arha
"Salah lagi," ucap Adi 
"Aaaaaa," teriak Arha langsung berlari.
"Curang…." teriak Adi langsung mengejar Arha. 
Tidak dipungkiri ketika Arha sudah dichadapan pintu, Adi langsung
menarik tangan Arha dan Arha pun jatuh ke pelukan Adi.
"Umi curang, ayo mau lari ke mana? Sudah ketangkap." 
"Iii Abi... lepasin nggak," rengek Arha.
Sebuah ciuman mendarat di pipi tembem Arha yang kian membuat Arha
terdiam sejenak dan kini pipi Arha sudah merah merona menahan malu.
"Itu hukuman untuk Umi," ujar Adi sembari  melepaskan pelukannya.
"Iii Abi curang," ucap Arha sambil memukul dada bidang Adi.
Setelah mengaji bersama, kami harus terpisah karena Adi harus berangkat
ke Yogja menyelesaikan kuliahnya. Kami sama-sama mengejar impian kami
masing-masing. Tidak lupa komunikasi harus kami utamakan, setelah kuliah
selesai kami akan bersama-sama lagi menjalani kehidupan rumah tangga pada
umumnya.
Percayakah Cinta?
Mining

Nurnila itu namaku, gadis remaja yang tidak lagi meneruskan kuliahnya
karena tidak memiliki biaya. Aku tinggal seorang diri tanpa ayah tanpa ibu dan
tanpa saudaraku. Sehingga suatu kejadian yang menyakitkan menimpaku karena
memilih jalan yang tidak selalu kuinginkan.
 "Nur, buruan! Mau dimulai." Itulah percakapan terakhir sahabatku
menghubungiku melalui gawai.
"Lama sekali kamu Nur. Sudah cepat pakai helm dan ambil posisi yang nyaman
karena balapan akan segera dimulai." Tegur Rani sahabatnya, yang selalu
mengajak Nur ke mana pun ia pergi. Nur sama sekali tidak pernah membantah apa
yang dikatakan sahabatnya itu. Karena baginya dia selalu percaya kepadanya.
   Nur segera memakai helm dan mengambil posisi paling depan, dan kain
telah dikibarkan pertanda balapan sudah berlangsung. 30 menit ia menduduki
posisi paling atas, semuanya terkendali  dan baik-baik saja hingga sedetik
sesudahnya motor yang dikemudi oleh Nur oleng dan tidak terkendali lagi
sehingga akhirnya motor yang tengah ia kendalikan keluar lapangan dengan
kondisi rusak dan ia yang sedikit terluka di bagian lutut sehingga mengeluarkan
cairan merah pekat.
"Kamu bagaimana sih sampai jatuh seperti ini? Sekarang motor sudah rusak dan
kita harus di balapan kali ini." Ucap Rina marah karena tidak terima harus kalah.
Namun ia juga tidak memperhatikan keadaan Nur sahabatnya yang kini juga
merasa kecewa dan bahkan harus menahan sakit di bagian lututnya.
"Iya maaf Rin. Sepertinya aku tidak fokus," sahut Nur lemah dan tidak ingin
membantah perkataan  sahabatnya itu walau kadang menyakitkan.
"Mari pulang! Kapan-kapan kalau ada pertandingan aku hubungi lagi." Ujar Rina
dengan wajah yang sangat jengkel.
Nur pergi dan menjauh dari arena balapannya. Segera ia berjalan ke arah
jalan besar untuk menyegat angkot dengan jalan yang tertatih-tatih.
"Aw…" Ringisnya yang merasakan pedih di bagian lututnya.
"Mbak kenapa?" Tanya pria yang berada di sampingnya namun sama sekali tidak
dihiraukannya bahkan untuk dilihat ke arah suara itu saja tidak.
Pria itu pun masuk ke dalam angkot untuk menuju kantornya karna ia
tidak membawa mobilnya dan bersamaan dengan Nur yang juga masuk ke dalam
angkot. Mereka duduk bersebelahan namun mata Nur yang selalu melihat ke arah
samping yaitu tepatnya kaca jendela angkot dengan wajah tanpa senyum sedikit
pun. Tidak lama kemudian tibalah mereka pada tujuannya masing-masing. Pria itu
menuju kantor dan Nur menuju rumah kontrakannya, tidak ingin berlama-lama
berjalan segera Nur menelusuri  gang perumahan dan masuk ke dalam rumahnya
lalu menuju ranjang untuk istirahat.
        Jam menunjukan 05:25 sore dan Nur sudah bangun dari mimpinya kerena
perutnya sudah terasa lapar, ia bergegas menuju kamar mandi untuk mandi,
setelah itu ia berjalan keluar untuk membeli makanan. Sesampainya di sebuah
warung makan yang ia akui sangat enak bagi lidahnya. Segera ia masuk dan
memesan makanan terlebih dahulu lalu langsung duduk di meja makan yang di
sediakan. Tidak lama setelahnya datanglah seorang pria dan wanita yaitu adiknya
sendiri karena ia belum makan siang, jadi ia mampir untuk mengisi perut
kosongnya, Hazrul itu namanya pemuda yang tengah menempuh kesuksesannya
dan sedang memegang sebuah perusahaan terbesar.
"Bukannya itu cewek tadi siang?" Batinnya yang menyadari keberadaan Nur.
"Bang ternyata enak juga makanan di sini." Sahut Dinda adik Hazrul.
"Iya, nanti kita bungkus untuk mama dan papa." Ucap Hazrul.
"Iya pasti mereka suka, tetapi aku tidak pulang. Aku mau ke apartemen saja." Ujar
Dinda.
"Kenapa tidak mau pulang sebentar ke rumah?" Tanya Hazrul.
"Bukan tidak mau bang, tetapi nanti saja aku main ke rumah." Seru Dinda.
Mereka pun makan dengan lahap dan setelah makan mereka mengambil
pesanan dan pulang.
"Bang anter Dinda ke masjid ya soalnya ada pengajian di sana, nanti mobil biar
abang yang bawa saja. Dinda biar pulang sama teman." Jelasnya kepada abangnya
"Baiklah. Pulangnya jangan terlalu malam ya," seru Hazrul.
"Siap abangku," ujar Dinda dengan cepat.
Malam pun datang dengan bintang yang bertaburan sehingga membuatnya 
indah dengan berkelap-kelip di atas sana dengan ditemani sang bulan yang jauh
membuatnya lebih indah dari sebelumnya. Dret... Dret... bunyi panggilan dari
Rina yang sedari tadi menghubinginya.
"Halo," kata Nur kepada panggilan yang masuk.
"Nur kamu di mana? Cepat ke sini ya di tempat biasa arena balapan, kutunggu
kamu jangan sampai tidak datang." Timpal Rina kepada Nur.
"Ada apa? Mau balapan lagi?" Tanyanya kepada Rina.
"Sudah pokoknya datang saja," balasnya lagi  dan segera mangakhiri
panggilannya.
Nur pun bersiap untuk pergi dengan jeketnya yang menempel di tubuhnya.
Ia berjalan keluar dari gang rumahnya dan mencegat angkot di pinggir jalan besar,
tidak butuh waktu lama untuk duduk di dalam angkot karena kini angkotnya
sudah sampai tepat pada tujuan Nur, ia pun segera mencari keberadaan Rina.
"Rina," teriaknya.
"Kenapa lama sekali?" Tanyanya.
"Untuk apa kamu mengajak aku ke sini? Balapan lagi?" Nur yang berbalik tanya
kepada rina.
"Bukan, nanti kamu juga akan tahu," sahutnya.
"Nur kamu tahu, itu namanya Sadam dia baru menang balapan, " tunjuknya
kepada seseorang, yaitu Sadam.
"Terus apa hubungannya sama aku?" ujar Nur.
"Ada hubungannya, dia mau mengajak kamu makan malam setelah ini,"
sergapnya.
"Kenapa harus aku? Aku tidak mau," sergap Nur. 
"Ayolah Nur lumayan duitnya 5 juta, bisa bagi 2 kita, lagi pula cuma nemenin dia
makan malam doang." Bujuk Rina.
"Bener ya cuma makan malam doang?" tanyanya sekali lagi. Dan saat mereka
tengah membicarakan Sadam, datanglah orang yang mereka omongin sedari tadi.
"Hai Rin," sapanya kepada Rina.
"Hai Dam, soal tawaran kamu tadi Nur bersedia makan malam bersama kamu,"
jelasnya.
“Baiklah, sekarang saja,” ajaknya tidak sabar.
Mereka pun pergi berdua tanpa Rina, namun Sadam bukan mengajaknya
untuk makan malam namun untuk memuaskan nafsunya.
"Loh kita mau kemana? Tadi katanya mau makan malam," tanya Nur.
"Iya makan malam di apartemen aku saja," balas Sadam. Mereka pun sampai di
lift menuju apartemen Sadam.
Kini mereka telah berada di depan pintu kamar Sadam perlahan saat pintu
sudah sedikit terbuka Nur ingin berbalik pergi namun tangannya sudah dahulu
dicekal oleh Sadam.
"Aku tidak jadi deh, aku mau pulang saja," ujarnya terus terang, namun tangannya
ditarik oleh Sadam.
"Tunggu dong cantik, aku belum merasakan tubuhmu, jadi kamu tidak boleh
pergi," ucap Sadam.
"Apa maksudmu? Kau mau apa kepadaku? Lepaskan aku!" jawab Nur dengan
nada ketakutan, tangannya sudah ditarik oleh Sadam untuk masuk, Nur tidak bisa
melawan karena tenaganya sangat lemah.
"Lepaskan aku! Kau mau apa? Tolong lepaskan!" serunya dengan tangisannya.
Namun sama sekali tidak dihiraukan Sadam, malah ia menggendong Nur paksa
untuk menuju ranjangnya. Dan di situlah Nur semakin menjadi terpuruk akan
hidupnya.
"Kenapa kau tega sekali? Apa salahku? Kenapa kau lakukan ini?" tanyanya
dengan tangisan sejadi-jadinya.
"Tenanglah, kalau mau tahu tanya sama sahabatmu saja, apa mau ditambah lagi
uangnya?" ujarnya balik.
"Apa? Uang? Jadi dia menukarku dengan uang? Kalian sungguh tega." Jawabnya
dan langsung menuju kamar mandi dan setelah itu pergi keluar untuk kabur dari
sana. Di tengah jalan Nur bertemu Dinda, dengan keadaannya yang
memprihatinkan membuat hati Dinda tersentuh untuk membantu dan membawa
Nur ke rumahnya.
"Maaf Mbak ini tengah malam kenapa di luar sendirian?" tanya Dinda keluar dari
mobil temannya, karena kini ia tidak membawa mobil.
"Bawalah aku sesukamu, aku tidak ingin di tempat ini," jawabnya dengan isakan
dan pasrahnya. Karena mungkin kini ia sangat terpukul. Dinda membawa Nur ke
rumahnya, dia membiarkan Nur untuk tinggal di rumahnya. 
Sudah seminggu sejak kejadian itu Nur masih terdiam tidak pernah
berbicara sama siapa pun, dan kini Dinda memberanikan diri untuk bertanya.
"Mbak bisakah Mbak cerita apa yang terjadi? Saya tidak mengerti dengan kondisi
Mbak saat ini," tanya Dinda dengan hati-hati. Nur pun menceritakan kejadian
yang sebenarnya.
"Astagfirullah Mbak, tega benar teman Mbak, Mbak sabar ya, kalau Mbak masih
belum bisa untuk kembali ke rumah Mbak, Mbak bisa tinggal di sini sama saya,"
tawarnya kepada Nur.
"Kenapa kamu baik sama aku? Sahabatku sendiri saja tega sama aku, kenapa
kamu sebaliknya?" tanya Nur.
"Anggap saja saya adik Mbak sendiri dan saya anggap Mbak kakak saya sendiri.
Besok saya cariin Mbak kerjaan ya supaya Mbak tidak stres di rumah dan dengan
masalah Mbak," sergap Dinda. Nur pun hanya terdiam sudah beberapa hari
semenjak kejadian itu ia tidak keluar rumah sama sekali.
Besoknya Dinda mengantarkan Nur ke kantor abangnya yaitu Hazrul
karna ia berencana untuk membujuk abangnya agar Nur bisa kerja di sini.
"Assalamualaikum Bang," ucapnya memasuki ruangan abangnya.
"Waalaikumssalam. Kok kamu ke sini? Itu siapa?" tanyanya pada Dinda.
"Iya Bang aku ke sini untuk meminta supaya abang mau menerima Mbak Nur
kerja di sini, dia temen aku Bang dan sudah kuanggap kakakku sendiri.”
"Baiklah jika seperti itu. Abang bisa menerimanya," jawab Hazrul dengan senyum
di bibirnya.
"Terima kasih Abangku," ucapnya gembira.
Sudah sebulan Nur bekerja di kantor Hazrul dan Nur Sudah menerima apa
yang menimpanya waktu itu, bahkan kini ia sudah mulai untuk mengenakan hijab
dan sifatnya jauh berubah dari yang dahulu, kini ia sudah berani banyak
mengeluarkan suaranya. Nur berjalan menuju ruangan Hazrul untuk memberikan
berkas-berkas kantor.
"Ini Pak berkas yang harus di tandatangani," ucap Nur sopan.
"Sudah berapa kali saya bilang Nur jangan panggil saya pak? Panggil saja pakai
nama," balasnya dengan membuka berkas-berkas yang diserahkan tadi.
"Maaf Pak tidak enak kalau panggil nama, lagian bapakkan bos aku di sini, apa
kata orang kantor nanti?" jelasnya menanggapi.
"Baiklah terserah kamu saja. Nur aku mau ngomong serius sama kamu boleh?"
"Ngomong saja Pak kenapa harus bilang," balasnya.
"Maukah kamu menjadi istriku Nur?" tanyanya di hadapan Nur dengan serius.
Nur hanya terdiam membisu ia tidak tahu harus jawab apa.
"Maaf Pak saya tidak bisa," sergapnya 
"Kenapa Nur? Kenapa tidak bisa? Aku sayang kamu Nur, aku cinta sama kamu,
aku mau memiliki kamu Nur," jawabnya sambil memegang tangan Nur.
"Kenapa harus saya Pak? Di luar sana banyak wanita lain Pak, saya tidak pantas
untuk Bapak." Serunya.
"Bukan itu yang ingin saya dengar Nur. Apa alasannya kamu menolak saya? Saya
hanya ingin kamu Nur."
"Di luar sana masih banyak wanita yang bisa menjaga kehormatannya dengan
baik, bukan seperti saya," ucapnya masih dengan tangisannya.
"Maksud kamu apa Nur?" tanya Hazrul namun tidak dihiraukan Nur.
"Bapak tanya saja sama Dinda adik Bapak, saya permisi Pak," sahutnya langsung
bergegas pergi.
Hazrul pun menghubungi adiknya yaitu Dinda dan mengajaknya
ketemuan, sementara Nur sudah pergi dari kantor itu dan bergegas untuk
menenangkan dirinya.
"Jelaskan apa yang terjadi sama Nur, kenapa dia tidak mau jadi istri Abang?
Padahal Abang sangat sayang sama dia," sahutnya dengan nada sedih.
"Apa Abang mau melamar Mbak Nur? Setuju aku Bang, kasihan Mbak Nur tidak
punya siapa-siapa lagi." Ucapnya dan menjelaskan apa yang terjadi kepada Nur.
"Jadi itu alasan dia tidak mau menerima Abang? Karena ia takut Abang kecewa?"
ucapnya.
"Silakan Abang cari saja Mbak Nur dan jelasi apa yang Abang mau jelasi." Dinda
yang turut menyemangati abangnya.
Hazrul pun pergi mencari keberadaan Nur karena di kantor pun sudah
tidak ada dan entah ke mana, di rumah Dinda pun juga tidak ada, di perjalanan
menuju kontrakan lamanya ia melihat sosok perempuan seperti Nur yang berada
di tengah taman. Dilihatnya dari dekat dan ternyata itu benar Nur yang sedang
menangis.
"Nur maafkan saya jika saya yang membuat kamu menangis," ucapnya dari
samping Nur. Hazrul pun duduk di sebelah Nur. 
"Bapak kenapa bisa di sini? Saya mau berhenti kerja di kantor Bapak. Saya mau
mencari kerja lain saja." Ucapnya dengan tangan yang menghapus air matanya.
"Kenapa harus berhenti? Kamu sebentar lagi akan menjadi istri saya," serunya
dengan senyum.
"Maksud Bapak apa? Aku tidak bisa jadi istri Bapak, saya tidak pantas untuk
bapak," sahutnya dengan kepala menunduk.
"Saya terima kamu Nur, saya sudah tahu apa yang terjadi sama kamu beberapa
bulan yang lalu, saya tidak kecewa kok karena kamu dijebak bukan atas
kemauanmu sendiri, saya sangat sayang kamu Nur," ujarnya menatap mata Nur.
"Tetapi Pak ...," belum selesai Nur berbicara sudah dipotong oleh Hazrul.
"Maukah kamu menjadi istriku Nur?" tuturnya sekali lagi setelah tadi ditolak.
"Iya Pak saya mau, terima kasih sudah mau menerima kekurangan saya," ucapnya
sambil menangis terharu, dan segera dihapus oleh tangan Hazrul. Mereka pun
berpelukan, dan di situlah Nur merasakan bahwa ia memang benar nyaman
bersama Hazrul, sebentar lagi mereka akan menikah dan akan tinggal di rumah
Hazrul bersama mama dan papanya Hazrul dan juga Dinda wanita yang telah
menumbuhkan semangat Nur lagi selain Hazrul.
Perjuangan Terakhir
Ratna Ayu Ningsih

Aku melirik jam tangan yang sudah menujukkan pukul 01.35 WIB. “Panas
sekali hari ini ya ampun,” gumamku dengan mengibaskan telapak tanganku.

Aku sangat suka mendengarkan musik, rock, jazz, pop bahkan dangdut. Aku
menyalakan musik dengan suara sedang dan kembali melanjutkan aktivitas
menulisku. Aku tidak bermaksud beranjak sedikit pun dari tempat dudukku.
Nyaman. Itu yang aku rasakan saat ini. Mataku sayu dan aku mulai terlelap tidur.

Kriiiiing… Jam alarmku berbunyi hingga membuatku terperanjak kaget.


Aku menolah ke kanan dan ke kiri. Memerhatikan seluruh ruangan yang sunyi.
Sayu aku mendengar teriakkan perempuan.

"Raaa. Bangun sudah sore. Lihat jam. Sudah jam tiga sore. Apa kamu tidak
ingin beranjak dan membersihkan badanmu?" Teriaknya membuat seisi rumah
bergema. Aku hanya menjawabnya malas, "Iya Ma, bentar lagi."

Iya, namaku Rara Adilla. Aku anak satu-satunya. Orang tuaku sering pergi
ke luar kota untuk bekerja. Aku hanya akan berdiam diri sendiri di rumah, atau
terkadang pembantu panggilan mamaku datang untuk menemani. Hanya sekedar
menemani. Aku terbiasa dengan kesunyian dan kesendirian di rumah.

"Hey...," suara sayu seseorang membuatku merinding mendengarnya. Aku


melirik, dan benar saja. Seorang lelaki berbadan tinggi dengan wajah manis dan
sangat pucat sudah duduk di atas ranjangku. Lancang sekali dia. "Apa sih panggil-
panggil? Pergi sana! Aku tidak ingin melihatmu sekarang," jawabku dengan
mengibaskan tanganku mengusirnya.

"Lancang sekali kamu mengusir saya. Mau saya makan?" jawabnya sok-
sokan sangar. Padahal tidak sama sekali.

"Tidak ada sejarahnya hantu makan manusia. Pergi! Hush hush," ketusku.
Iya memang aku sudah mengenalnya sejak kecil. Bahkan dari kecil sampai
sekarang dia masih seperti itu. Tidak pernah menua bahkan mati. Aku pikir dia itu
sama sepertiku. Manusia biasa. Dan aku juga memanggilnya abang. Karena
usianya jauh di atasku saat itu. Aku baru sadar dia berbeda pada saat umurku
menginjak 8 tahun.

Waktu itu aku sedang bermain dengannya, mamaku yang sedari tadi
memerhatikanku bingung melihatku berbincang sendiri. Aku menceritakan bahwa
aku memiliki abang yang selalu menemaniku bermain. Mamaku tidak percaya
dengan itu, karena memang hanya ada aku dan mamaku yang berada di sana.

Orang tuaku tidak memercayaiku kalau aku bisa melihat makhluk lain.
Mereka bilang itu hanyalah ilusi. Dan sejak saat itu aku tidak pernah bercerita
tentang kejadian aneh lain yang aku alami.

"Hantu-hantu. Aku itu bukan hantu. Aku abangmu, bersikap sopanlah


sedikit." Dia melirikku dengan tangan yang terlipat di dadanya.

Kalian tahu? Wajah dia sangat pucat. Terkadang kalau dia marah kepadaku,
dia memerlihatkan sosok aslinya yang sangat menyeramkan. Sadis.

Namanya Rizky, cukup bagus bukan untuk seorang hantu seperti dia. Dia
meninggal bersama kedua orang tuanya dan dua orang adik perempuannya, sekitar
kurang lebih 50 tahun yang lalu. Keluarganya dibantai dengan sadis oleh tentara
Belanda yang saat itu masih ingin menguasai Negara ini. Ayah dan ibunya
ditembak. Dan kedua adik perempuannya dipaksa untuk melayani nafsu mereka
kemudian dibunuh dengan sadis. Sedangkan dia sendiri dibunuh dengan satu
tebasan yang membuat lehernya hampir putus. Aku sangat ngeri melihat kejadian
itu. Karena sudah beberapa kali dia memerlihatkan kejadian masa kelamnya itu.
Dia ingin sekali bertemu ayah, ibu dan kedua adiknya. Tapi keadaan dulu dan
sekarang berbeda.

Aku menyeka keringatku dan bergegas memasuki kamar mandiku. Tanpa


mengindahkan kata-kata hantu itu. Aku membersihkan badanku. Setelah selesai
aku memakai pakaian yang menurutku itu sangat bagus. Aku berdandan layaknya
cewek remaja seusiaku. Hari ini hari spesial. Karena aku akan bertemu dengan
pacarku. Iya aku meliliki pacar. Namanya Panji Rahmono, dia baik, dia manis,
perhatian, dan romantic, meski dia terkadang cuek. Tetapi aku sangat
menyayanginya dan aku rasa juga dia juga menyayangiku.

"Aku tidak suka kamu dekat sama dia." Tiba-tiba saja sudah berdiri
makhluk pucat itu di sampingku. Dasar hantu.

"Apa sih bang? Dia itu pacar aku. Dia baik dan aku yakin dia tidak akan
mungkin menyakiti aku. You know?" jawabku enteng.

"Jika itu yang kamu pikir benar, aku akan kembali mati. Pergilah jika kamu
ingin merasakan sakit." Aku sama sekali tidak mendengarkan itu. Menurutku dia
terlalu lebay. Dasar setan alay.

Aku berjalan keluar kamar, mendapati mama dan papaku yang sedang
bertengkar. Sudah sering aku mendengarkannya. Bahkan sudah setiap saat.
Tadinya aku ingin meminta izin, tetapi mungkin mereka tidak akan memedulikan.

Aku keluar rumah dan melihat pacarku yang sudah berdiri tegap dengan
senyuman manis di wajahnya. Itu membuatku bahagia. "Sore sayang. Kamu
cantik banget." Aku tersenyum mendengarnya, manis sekali.

"Kamu juga ganteng," jawabku seraya menggandeng tangannya.

Kita bergegas pergi untuk makan malam. Setelah sampai di tempat yang di
tuju, aku duduk di hadapannya. Memerhatikannya memesan makanan. Tidak
harus menunggu lama. Pesanan datang dan kita menyantapnya lahap.

"Hai Bang," sapa seorang cewek kepada Panji, aku tidak tahu siapa dia.
Panji menoleh dan langsung menyambutnya hangat. "Eh Ara, sedang apa di sini?
Lagi jalan juga sama pacar? Atau sengaja dateng ke sini buat ketemu gue?"
jawabnya dengan senyuman yang masih sama. Aku hanya memerhatikannya
dengan perasaan bercampur. Mereka berbincang tanpa memedulikan aku. Aku
menunduk dengan mengaduk-aduk minuman di depanku. “Harusnya aku pulang
saja kaloau seperti ini. Aku tahu dia punya banyak teman, tetapi hargailah sedikit
perasaanku,” gumamku dalam hati.
"Dia pacarmu Bang? Selamat ya." Dia menyapaku dengan senyum
palsunya. Aku membalasnya dengan senyuman dan anggukan kecil. Dan mereka
kembali larut dalam perbincangan hangat.

"Aku pulang ya," kataku kepada Panji. Tetapi dia tidak menoleh sedikit pun.
Apa dia tidak mendengarkanku? Aku mengambil tasku dan berjalan menjauh dari
mereka. Hatiku berkecamuk, dan ingin rasanya meluapkan amarah. Tetapi itu sia-
sia, karena dia pasti akan kembali memarahiku. Aku memerhatikan sekelilingku
dan itu sangat menyeramkan. Ada satu sosok aneh melihatku lekat, matanya yang
merah, pakaian yang lusuh dan kaki yang di seret membuatku merinding.

"Hai Ra. Kenapa sendirian malam-malam seperti ini? Habis dari mana?
Tidak takut?" sapa seorang cowok yang aku tahu benar dia temannya Panji.
Mengagetkan saja. "Jangan ganggu aku tolong."

"Kamu cantik banget, kok bisa sih kamu pacaran sama Panji?"

"Kamu dengar kata-kata akukan? Jangan ganggu aku! Aku tidak mau pacar
aku salah paham sama kamu."

"Raraaa." Panji mendekat, aku tahu dia marah.

"Ngapain lo godai cewek gue?"

"Gue tidak godai dia Bang." Panji menatapnya tajam. Aku paham nyalinya
sudah menciut melihat Panji.

"Pergi atau gue tonjok muka lo?" Tanpa pikir panjang dia langsung pergi.

"Kamu kenapa pergi begitu saja? Kamu tidak menghargai aku. Malu-maluin
saja." Kata-kata itu membuatku meneteskan air mata. Sakit rasanya mendengar
itu. "Aku minta maaf sayang. Aku tidak bermaksud malu-maluin kamu. Maafin
aku."

"Kenapa nangis sih? Lebay banget. Sekarang pulang sana sudah malam."
Aku hanya mengangguk dengan menyeka air mata yang masih tersisa di pipi.
Aku pulang dan merebahkan badanku di atas ranjang. Menoleh gawaiku,
siapa tahu pacarku mengabariku. Aku memeriksa gawaiku terus sampai aku tidak
menyadari mataku terlelap teridur.

Kriiiiing… Seperti biasa jam alarm membangunkanku. Aku melihat


gawaiku masih jam 04.30, dan aku melihat pesan masuk di sana. Ternyata dari
pacarku.

Aku menemuinya pagi ini, dia menjemputku untuk berangkat sekolah


bareng. Sampai di sekolah aku masih tersenyum melihatnya. Tetapi, wajahnya
cemberut.

"Kamu kenapa? Dari tadi diam saja. Aku ada salah sama kamu? Aku minta
maaf jika aku ada salah."

"Tidak."

"Jangan marah dong. Maafin yah."

"Gue minta kita putus."

"Maksud kamu?"

"Kita itu sudah tidak cocok. Kita sudahan saja. Maafin gue."

"Tetapi salah aku apa? maafin aku." Air mata itu meluncur.

"Tidak usah menangis. Gue yakin jika kita jodoh kita akan bersama lagi."
Dia pergi berlalu tanpa memedulikanku yang menangis. Perasaanku hancur. Apa
itu balasan dia selama ini? Jahat sekali.

"Tidak usah menangis. Aku tidak suka sama itu orang." Bang Iki si hantu
tengil yang tiba-tiba saja sudah berada di sampingku. Dasar setan.

Aku pergi berlalu dengan hentakan kaki dan menyeka air mataku. Bang Iki
hanya diam dan menemani Rara jalan. Susah memang menyadarkan seseorang
dari cinta yang salah.
Setelah beberapa lama Rara sampai di kelasnya dan duduk merenung di
kursinya. Pikirannya menerawang jauh. Kenapa dia bisa menaruh hati pada orang
yang jelas-jelas tidak memedulikannya?

Pelajaran berlalu sampai bel pulang sekolah berbunyi. Aku masih kacau,
pikiranku kosong, sedih, kecewa, marah dan sayang. Dia tidak bisa memaksa
seseorang untuk menyayanginya dan menetap.

Aku berjalan berniat untuk menyebrang jalan. Pelan sangat pelan jalanku,
hingga tanpa aku sadar truk yang melaju kencang, susah mengerem dan akhirnya
menabrak tubuhku dan membuat tubuhku terpental sangat jauh. Semua orang
berteriak termasuk hantu itu, Rizky. Panji juga berlari mendekatiku. Apa dia
masih peduli terhadapku? Aku sangat bahagia dan tersenyum samar. Pandanganku
kabur dan semuanya hitam gelap. Aku sudah tidak bisa merasakan apapun lagi.

“Aku menyayangimu.”

Perjuangan terakhir tentang sebuah rasa yang tidak akan mungkin berakhir.
Petualangan Cinta Fina
Tetty Septiyani

Aku berjalan beriringan dengan Doni yang sibuk menuntun sepedanya,


agar ia tetap bisa berdampingan denganku.
"Bagaimana Dek? Kamu menerima cintaku?" tanya Doni.
"Jujur Kak, aku memang suka sama kamu. Tetapi aku takut kamu hanya
mempermainkan aku. Kamu tahu sendiri, aku ini tomboi, mana mungkin lelaki
sepertimu mau denganku."
"Justru karena kamu berbeda, itu yang membuat kamu terlihat istimewa,"
ucap Doni.
Malam itu aku dan Doni pun resmi jadian. Menyandang gelar pacaran,
dengan kakak kelas waktu sekolah dasar. Di balik suksesnya, Doni mengutarakan
cintanya kepadaku, ada Revanza yang sebelumnya menyampaikan, bahwa Doni
sudah lama menyukai aku. Setelah beberapa hari aku resmi menjadi pacar Doni,
Revanza pergi entah ke mana. Saat ia sudah pulang, Revanza langsung menemui
aku dan Doni, tepat di belakang rumahku.
"Kak Re, kamu ini ke mana saja sih? Aku mencari kamu," ujarku.
"Iya Fina, maaf ya. Kemarin itu Kak Re ada pesantren kilat," ucap
Revanza.
"Sebenernya Fina juga sudah tahu."
"Terus kalau sudah tahu kenapa bertanya?" ejek Revanza.
"Fina juga baru tahu dari Kak Doni."
"Iya Re, jadi kemarin itu aku bertanya sama ayah kamu, kenapa beberapa
hari ini tidak ada kabar, kata beliau kamu lagi ada tugas dari sekolah, pesantren
beberapa hari," tutur Doni.
"Iya Kak, cuma sebentar sih. Tidak sempat mengabari teman-teman. Btw,
kalian menunggu apa lagi? Kenapa tidak jadian?"
Aku tertawa kecil dan berkata, "Kak Re, aku ini sudah jadian sama Kak
Doni."
"Syukurlah," sahut Revanza.
Revanza adalah termasuk dalam daftar sahabat, sekolahnya dua tingkat di
atasku, sekaligus teman curhat tentang Doni, awalnya aku malas berhubungan
dengannya. Namun, ketika ia berkata akan membantuku untuk mendekatkan
dengan Doni, kami pun lebih sering mengobrol bersama, dan kebetulan mantan
Revanza termasuk mantan Doni juga, jadi obrolan kami lebih asyik, bukan hanya
menceritakan tentang Doni, namun juga menceritakan tentang Cantika, mantan
Revanza sekaligus mantan dari Doni.
Semakin hari hubunganku dengan Doni tidak beraturan, Doni sangat
pencemburu. Bahkan ia cemburu juga kepada Revanza. Di sisi lain, kedua orang
tuaku bersikeras melarang hubungan ini. Karena mama selalu berkata bahwa
keluargaku dengan keluarga Doni tidak sepadan.
Akhirnya hubunganku dengan Doni berakhir. Padahal aku tidak sampai
mencintainya, karena aku sedang menyukai lelaki bernama Karisma.
Karisma adalah teman satu grup dengan Puput, Doni, Putra, Rifin juga
Revanza. Mereka semua adalah sahabatku, Rifin dan Putra adalah lelaki yang
katanya menyukai aku. Tetapi aku tidak peduli. Karena aku hanya menyukai
Karisma.
Malam ini Karisma memanggilku, kami pun bertemu di rumah Puput yang
letaknya tepat di belakang rumahku.
"Ada apa kamu memanggil aku, Ma ?" tanyaku.
"Seperti ini Fina, aku ini bingung sama kamu. Kenapa kamu jadi cewek
tidak peka banget?" tutur Karisma. Aku terdiam heran.
“Langsung intinya saja ya, Fina. Kamu itu sekarang lagi di jadikan ajang
perebutan sama temen-temen kamu sendiri," tutur Karisma.
"Ngomong yang jelas, kamu pikir aku piala bergilir apa di jadikan bahan
rebutan."
"Memang kamu itu tidak peka."
Aku terdiam, dalam hati berkata, "Yang tidak peka itu kamu, Ma.
Buktinya tidak tahu kalau aku suka sama kamu," ujarku dalam hati.
"Fina, banyak cowok yang sekarang suka dan pengen jadi pacar kamu.
Termasuk teman-teman dekat kamu." Tutur Karisma.
"Sudah basi kalau berita itu. Aku tahu, palingan si Putra, Rifin sama Kak
Donikan?"
"Bukan. Beda orang."
"Sudah Ma, kamu langsung aja jujur. Siapa?”
"Tetapi kamu janji mau menerima dia?"
Karena rasa penasaran. Aku pun menjawab "Iya" dan Karisma
memberitahuku bahwa lelaki tersebut adalah Revanza. Sungguh aku terkejut,
rasanya tidak mungkin dia yang menyukai aku. Bagaimana bisa orang yang
selama ini menceritakan sosok mantan yang selalu ia sayang, ternyata menyukai
aku.

"Jadi, sebenarnya Re itu sudah lama suka sama kamu Fin. Dari sebelum
kamu jadian sama Doni. Dia itu sengaja deketin kamu sama Doni, biar bisa deket
sama kamu, pokoknya aku tidak mau tahu. Kamu harus terima cintanya Re. Besok
pulang mengaji, aku tunggu kamu lewat ke rumah," ucap Karisma.

Karena terlanjur berkata iya kepada Karisma, keesokan harinya aku pun
menerima cinta Revanza. Sungguh sulit rasanya menerima kenyataan ini, sehari
dua hari aku bertahan dengannya. Seminggu kemudian aku pun memutuskan
Revanza. Aku terlalu menyayangi Karisma hingga aku tidak melihat betapa
besarnya pengorbanan Revanza demi mendapatkan aku.
Sebulan berlalu, hubunganku dengan Revanza kembali membaik, kami
berdua seperti tidak pernah ada masalah atau hubungan apa pun selain berteman.
Sosoknya sangat dewasa, hingga aku lebih memilih dia untuk aku jadikan seorang
kakak, karena aku anak tunggal. Hari ini malam tahun baru, biasanya aku
ditemani Gading, sahabatku, tetapi malam ini Revanza datang ke rumah.
"Kamu bawa apa itu?" tanya Revanza.
"Ini buku tulisanku Kak. Aku suka menulis."
"Boleh kubaca?" kata Revanza.
Dan aku menjawab, "Jangan Kak.”
Setelah aku masuk mengambilkan minum untuk Revanza, terlihat dia
sedang membaca buku diaryku.

"Kamu masih suka sama Karisma?" tanya Revanza.


"Aku sudah bilang, kak Re jangan lihat."
"Tidak akan Kak Re buang," ujarnya.
"Bukan seperti itu Kak. Aku hanya malu."
"Fin, kamu tahu? Aku ini masih sayang sama kamu. Kelak, ketika aku
memiliki istri atau kamu memilki suami. Aku tidak akan bisa melupakan kamu.
Walau aku sudah menikah, tetapi hati kecilku akan selalu menyayangi kamu,"
tutur Revanza.
"Apa sih Kak? Sudah kak, lupain saja, anggap saja kita tidak pernah
pacaran. Lagian kita pacaran hanya seminggu."
Harapanku menjadi pacar Karisma terwujud juga. Dan lagi-lagi
hubunganku tidak bertahan lama, kami putus tanpa ada kejelasan setelah Karisma
pergi ke luar kota tanpa kabar.
Dua bulan setelah aku memutuskan Revanza, Puput mengabarkan bahwa
Revanza pergi jauh. Mendengar kabar tersebut aku merasa bahwa aku kehilangan
Revanza, entah apa yang membuat aku ingin bertemu dengannya. Aku meminta
Puput supaya Revanza pulang dan menemui aku.
2 Februari itu, Revanza mengatakan lagi bahwa ia sangat menyayangiku.
Aku pun menerima cintanya. Rasanya berbeda, sungguh aku sangat bahagia. Hari
demi hari kulalui penuh perjuangan. Aku si gadis tomboi, dituntut untuk berubah
menjadi gadis yang anggun, berdandan layaknya perempuan feminim dan juga
menutup aurat. Revanza mengajari aku banyak hal. Hingga aku bisa berubah,
meninggalkan gaya penampilanku yang seperti laki-laki menjadi wanita anggun
yang mau menutup auratnya.
"Jika kamu seperti ini, Kak Re makin sayang sama Fina," ujar Revanza.
"Jangan malu, Fina cantik pakai kerudung. Kak Re suka,” imbuhnya.
Enam bulan berlalu, hubunganku dengan Revanza berjalan baik-baik saja,
sampai tiba hari di mana orang tuaku mengetahui bahwa aku menjalin hubungan
dengan Revanza yang tidak lain adalah tetanggaku.
"Ayah tidak melarang kamu pacaran. Ayah hanya tidak mau jika anak
ayah pacaran sama orang cacat. Dan kalau kamu masih ngotot pacaran sama dia,
Papa tidak akan menguliahkan kamu," kalimat itu yang selalu Ayah katakan.
Revanza memiliki keterbatasan fisik. Diantara keluarganya, ia terlahir
menjadi anak "istimewa". Kakinya tidak seperti kita, hingga ketika berjalan, orang
lain yang pertama melihat akan menatapnya tajam. Aku tidak peduli dengan
keadaannya, walau orang berkata dia tidak sempurna, namun bagiku lebih dari
sempurna. Orang berkomentar bahwa aku adalah anugrah untuknya, tetapi
untukku, dia adalah musibah. Namun pada kenyataannya tidak seperti itu,
sungguh aku tulus mencintainya.
Hubunganku dengan Revanza terpaksa kurahasiakan, sampai aku
memasuki kuliah. Aku masih bertahan mencintainya. Di tahun keempat hubungan
ini, aku sudah tidak menjalin status pacaran dengannya, bukan karena sudah tidak
sayang, tetapi aku memilih hijrah untuk tidak mau lagi pacaran, dan Revanza
menerima keputusanku. Di tahun keenam, aku memiliki sosok lain yang
kukagumi. Namun Revanza masih mau bertahan mencintaiku, sejujurnya walau
aku mengagumi laki-laki lain, aku masih merasa nyaman bersamanya. Namun aku
memilih jauh, karena aku tidak mau mengecewakan kedua orang tuaku yang
sudah jelas tidak menginginkan aku bersamanya.
Di tahun ketujuh setelah hari di mana Revanza menyatakan cintanya, aku
mengorbankan perasaanku demi lelaki baru yang kukagumi, namanya Agus. Agus
melamarku, dan aku memutuskan hubunganku selamanya dengan Revanza.
Bukan karena aku tidak sayang, namun aku ingin mencari keberkahan dari kedua
orang tuaku. Seteah tiga bulan Agus melamarku, aku mengetahui bahwa ia
memilki pacar di belakangku. Padahal, walau bulan depan kami menikah, aku
sama sekali tidak menjalin status pacaran dengannya. Aku sadar, mungkin ini
adalah karma untukku, aku tidak pernah merasakan sakit hati yang amat dahsyat.

Aku kembali mengingat Revanza, berharap ia bisa memaafkan segala


kesalahanku dan aku sangat hargai segala pengorbanan yang telah ia lakukan.
Namun, ternyata Revanza bukanlah yang terbaik, orang tuaku tetap saja bersikeras
melarang hubunganku dengan Revanza. Pada akhirnya, kuserahkan semuanya
hanya kepada Allah. Beberapa saat setelah patah hatiku karena Agus, Allah
mempertemukan aku dengan sosok jodoh yang sesungguhnya, yaitu Rayyan.
Rayyan suamiku, si hafidz muda pecinta al-Qur'an.
Terkadang, untuk mendapatkan sesuatu yang lebih indah, aku harus rela
mengorbankan hal terindah yang kumiliki. Walau di awal rasanya sulit, aku
percaya. Pada akhirnya semua akan terasa lebih dari sekedar indah. Petualangan
cintaku selama ini ternyata berakhir kepada Rayyan yang tidak pernah ada di
masa laluku. Revanza dan Agus yang kusangka adalah jodoh untukku, hanya
menjadi masa lalu yang setiap saat kuceritakan kepada Rayyan, suamiku.
Pujangga yang Ingin Menerbangkan Nama

Nadyla Wavira

Namanya Tyas Adelweina, gadis cantik asal Indonesia yang kini menetap
di Syndey. Kesibukannya setiap hari adalah berdiri di antara peralatan lighting
bergaram rupa, juga berpose di belakang deretan banyak kamera. Sudah hampir
dua tahun ia tekun dalam dunia modeling, namun tetap saja setiap kali pemotretan
dimulai maka wajahnya akan selalu gugup, bahkan kukunya yang penuh oleh
polesan pewarna menyala itu akan selalu tergigit olehnya. Segala macam gaya
Tyas perankan, namun kegugupan masih setia menguasainya. Tetapi, gadis itu
tidak ingin kalah ... tak ingin sosok pria yang mengamatinya dari jarak cukup jauh
itu tertawa karena merasa menang. Jika sosok itu sudah menang maka ibunya pun
akan merasakan hal yang sama.

Menang di atas derita Tyas. Ya, Tyas tidak boleh seperti ini. Dagunya
harus selalu terangkat tinggi dan ia akan selalu dihormati.

Ibumu adalah malaikat yang tidak akan menyakitimu. Wanita terhebat yang
selalu menginginkan yang terbaik untukmu.

Sayang, seberapa kali pun Tyas menanamkan kepada dirinya mengenai


kalimat itu, tetap saja hatinya tidak ingin menerima. Karena bagi Tyas, Ibunya
tidaklah demikian. Ibunya terlalu jauh dari definisi malaikat tanpa sayap. Ibunya
hanyalah wanita yang melahirkannya, namun bukanlah wanita yang
menyayanginya atau pun senantiasa melindunginya.

Ibu tidak ingin kamu tampil tidak menarik, nanti bayaranmu turun, ibu yang rugi.

Tyas selalu ingat perkataan itu. Ibunya memang menganggap anaknya


sebagai pabrik uang, bukan berlian yang harus ia jaga sedemikian rupa, atau harta
satu-satunya yang paling berharga. Bagi Ibunya, Tyas tidak lebih dari manusia
yang tidak sengaja berparas menawan hingga akhirnya diandalkan untuk
mendapat kemewahan.
Ya, hidup Tyas memang semiris itu. Tetapi, tolong jangan
mengasihaninya, karena ia tetap bisa berdiri kokoh, bagaimana pun keadaannya.
“Berhentilah, Tyas. Lakukan hal yang kau senangi, berhentilah untuk diperbudak
seperti ini.” Batin Tyas kembali berteriak. Tyas menggeleng. Sebab, hal itu tidak
boleh ia lakukan meski sebenarnya ia ingin. Tetapi menuruti keinginannya sendiri
berarti mengakui bahwa dirinya kalah, dan Tyas tidak ingin hal demikian.

“Kau tidak lelah?” Suara itu terdengar di keheningan malam Sydney. Tyas
membeku, ia tidak ingin menoleh, sebab kanvas lebih menarik dibanding pria di
sampingnya saat ini.

“Kau tidak suka duniamu yang sekarang, bukan? Aku ingin menyelamatkanmu,
tetapi mengapa kau tidak pernah ingin melirikku?” tanya pria itu, masih setia
meneliti Tyas dari samping. Menikmati pahatan wajah yang hampir sempurna dari
gadis itu. Tyas pun menoleh, merasa jijik jika terus mendengar ucapan pria itu.

“Aku bahkan lebih membencimu dari pada semua hal yang membuat aku tertekan
sekarang. Jadi, berhenti selalu hadir di depanku, James!” James tertawa, tawanya
beriringan dengan tepukan tangan yang seolah meledek Tyas.

“Padahal kau tidak akan rugi jika hanya menikah denganku, Tyas. Justru kau akan
bahagia, ibumu akan berhenti menjadikanmu budak, lalu kita hidup bahagia
bersama. Kau bisa jadi pelukis, dan kau juga bisa jadi penulis."

“Aku tidak sudi.” Tyas pergi.

Di belakang, James berteriak, “Kalau begitu, silakan nikmati terus semua hal yang
diinginkan ibumu.”

Tyas termenung di kamarnya. Ia merasa seperti sedang berada di ambang


kematian. Sebab, segala pertanyaan bercampur di atas kepalanya namun tidak satu
pun yang bisa ia beri jawaban, dan itu membuatnya ingin mati penasaran.
Kenapa? Kenapa ibunya memberikan ia pilihan yang begitu rumit? Menjadi istri
James atau tetap menjadi model? Hahaha, dua hal itu bukanlah keinginan Tyas. Ia
hanya gadis kecil yang ingin hidup normal dan bahagia seperti orang-orang
seusianya. Bercanda dengan orang tua, bersekolah, belajar, memiliki banyak
teman, melukis, dan berimajinasi lalu menuangkan dalam kertas. Tyas tidak ingin
menikmati jepretan kamera dan mendapat paksaan menikah di usia muda. Apa
begitu sulit? Lalu, mengapa ayahnya pergi dan tidak pernah kembali lagi?

Setiap hari Tyas berkelahi dengan batin dan pikirannya sendiri, bahwa
ayahnya pasti akan kembali dan menjadi malaikat penolongnya lagi. Tetapi apa?
Ayahnya pergi tanpa meninggalkan jejak sama sekali. Yang Tyas sesalkan,
kenapa ayahnya pergi tanpa membawanya untuk ikut serta?

“Mana? Di mana anakku?” Tiba-tiba suara teriakan dari depan pintu kamarnya
menggema. Tyas terkejut, sebab suara itu adalah suara pria yang sangat
dirindukannya.

Tyas segera berlari membuka pintu kamar, seketika ibu dan ayahnya yang
saling melempar tatapan kemarahan itu menyambutnya.

“Tyas,” panggil Ayahnya. Maka luruhlah air mata di pipi gadis itu. Ia segera
berlari memeluk pria yang ia yakini tidak akan menyakitinya.

“Ayah, Tyas rindu.”

Tyas merasakan elusan kepada kepalanya, “Tenang, Nak. Ayah di sini.”

“Tyas, kemari kau! Ibu yang membesarkanmu, kau jadi bintang karena Ibu.
Kemari!” Teriakan Ibunya tidak diindahkan oleh Tyas. Ayahnya pun mengulas
senyum pahit.

“Aku akan membawa Tyas pulang. Kami akan ke Indonesia. Aku tidak sudi
anakku hidup dengan wanita pemuja uang sepertimu.”

“Apa katamu?” Ibu Tyas maju, hendak menampar mantan suaminya. Tetapi ayah
Tyas yang kuat, justru dengan mudah menahan pergelangan tangan wanita itu.

“Sadarlah, anakmu masih begitu muda dan kau memaksanya untuk menikah
dengan pria yang memiliki usia jauh di atasnya?”

“Kau itu tidak tahu apa-apa. Bertahun-tahun kau pergi, lalu datang membawa
kesoktahuan seperti ini?” Ibu Tyas menjeda dengan tawa. “Lucu sekali kau!”
“Ibu, aku ingin bersama ayahku. Aku lelah menuruti keinginan Ibu. Aku lelah,
Bu. Lelah fisik dan juga batinku.” Tyas menangis.

“Berhenti, Bu. Berhenti menjadikanku robotmu, berhenti menyiksaku. Mungkin


dengan kepergianku bersama ayah, ibu jadi paham apa itu kehilangan karena
keegoisan.” Ibunya sungguh kehilangan kata-kata.

Tyas pun tersenyum, “Ibu tetaplah orang yang sangat berjasa dalam hidupku.
Sebesar apa pun aku berkelahi dengan batinku agar membenci Ibu, tetap saja aku
tidak bisa. Tetapi dengan kehadiran Ayah kembali, aku jadi berpikir bahwa aku
juga perlu bahagia, Bu. Doaku selama ini terkabul. Aku ingin ayah datang dan
mendukungku menjadi pelukis dan juga penulis hebat.” Ayah begitu bangga
melihat putrinya. Ia tersenyum dan memeluk anaknya itu.

“Biarkan kami pergi, kami akan memberikan kamu ruang untuk berpikir dan
memperbaiki diri,” ucap ayah kepada ibu.

“Kau tahu? Aku masih selalu mencintaimu, aku hanya tidak bisa hidup dengan
wanita yang begitu memuja uang dibanding memuja Tuhannya.” Ayah tersenyum.

“Jadi, perbaikilah dirimu. Kami pergi.” Ayah pun membawa Tyas. Meninggalkan
ibu yang sudah menangis sendirian.

"Tyas, jangan tinggalkan ibu!" teriak ibu Tyas di tengah tangisan hebatnya.
"Kemari, Nak! Jadilah penulis dan pelukis, tidak perlu jadi model lagi. Tidak apa-
apa." Tyas ikut menangis.

Sekarang Tyas hanya perlu pergi, bukan meninggalkan wanita yang


melahirkannya itu, melainkan memberikan ruang untuk membuat ibu sadar akan
arti kehilangan. Dengan berhenti menjadi budak, Tyas tidaklah kalah, melainkan
ini adalah langkah awal untuk memperbaiki semuanya. Tyas percaya, bahwa
naskah hidupnya yang ada pada Tuhan telah diatur dengan begitu indah. Tyas pun
percaya, doanya akan Tuhan ijabah. Tyas akan menerbangkan namanya sebagai
penulis hebat dan pelukis terkenal selagi ia terus berusaha. Tyas berharap, semoga
karyanya bisa bermanfaat. Sebab menebar paha di depan kamera tidaklah ada
manfaatnya, dan tentu akan membuat Tuhan murka.
Selintas Doa
Cinthya wardani

Suara adzan subuh terdengar dari langgar terdekat. Ana menggeliat di atas
ranjang kecil miliknya.

"Nduk, ayo bangun," suara emak panggilan Ana kepada ibunya terdengar dari
balik kamarnya, ia sudah bangun sejak pukul tiga dini hari tadi.

Ana bergegas bangun dari tempat tidurnya dan segera mengambil air
wudu. Dilihatnya emak sudah tidak ada lagi di dapur, mungkin emak sudah
berangkat ke langgar. Ana mempercepat langkahnya agar tidak ketinggalan sholat
subuh berjamaah.

Ana jalan bersama emak pulang ke rumah. Mengaitkan tangannya dengan


tangan emaknya. Udara subuh memang menyenangkan. Udara masih sejuk dan
belum ada polusi yang harus ia hirup. Lampu-lampu temaram rumah-rumah
menghiasi jalanan. Suara jangkrik begitu bersahutan di ujung pagi ini. Ana
tersenyum gembira sembari menenteng sajadah lusuhnya.

"Emak, lihat rumah itu, nanti kalau Ana sudah besar jadi orang sukses, Ana mau
bangun rumah yang besar buat Emak," celoteh Ana sembari memandangi rumah
di ujung desa yang terlihat megah dibanding rumah-rumah yang lainnya.

"Iya, makanya kamu sekolah yang pintar, biar bisa bangun rumah untuk Emak,"
tanggap emak dengan tersenyum.

"Siap." Jawab Ana antusias.

Sesampainya dirumah Ana bergegas menyiapkan seragam sekolahnya.


Dan menyapu membantu tugas rumah emaknya. Asap mengepul dari balik dapur
rumahnya. Tercium aroma sedap yang timbul dari masakan emaknya. Ana
tersenyum girang, ia tahu apa yang dimasak emaknya. Makanan kesukaannya,
nasi goreng dan semur tahu tempe. Bagi Ana masakan emaknya selalu enak
dibanding makanan di luar yang tidak sehat.
Tidak sengaja Ana menyenggol poto yang terpajang di bilik kayu
rumahnya. Diambilnya poto itu. Diamatinya, terlihat senyum sumringah di balik
pigura poto itu. Senyum yang mengembang sangat khas. Poto dirinya bersama
poto kedua orang tuanya. Kini ia hanya bisa melihat senyum letih dan sumringah
di wajah emaknya. Tidak lagi ia bisa menemui senyum letih dan sumringah di
wajah abahnya. Abahnya telah meninggalkan ia dan emaknya untuk selamanya.

"Nduk, buruan makan!" seru emaknya dari dapur.

"Iya, Mak." Ana tersadar dari lamunannya. Dan bergegas menuju ke dapur.

Dinikmatinya makanan kesukaannya dengan lahap. Ia mengamati lamat-


lamat keriput di wajah emaknya. Dia sadar usia emaknya tidak lagi muda.
Diperhatikannya tangan-tangan kasar emaknya yang lihai mengaduk adonan roti
yang setiap hari ia jual.

Ana sudah kelas 12, tinggal beberapa bulan lagi ia akan lulus sekolah, dan
mulai mengenyam bangku perkuliahan. Sejak dulu Ana ingin sekali menjadi
seorang sastrawan layaknya Chairil Anwar dan Taufiq Ismail. Dua sastrawan
besar Indonesia dan juga sastrawan kesukaannya. Jika setiap malam tidak ada
tugas sekolah, ia menyempatkan diri untuk membuat puisi kemudian ditempel di
dinding kayu kamarnya.

"Nduk, buruan makannya nanti telat," perintah emaknya, membuyarkan lamunan


Ana.

Ana bergegas membersihkan diri dan berangkat ke sekolah. Tidak lupa ia


berpamitan kepada emaknya, "Assalamualaikum," pamitnya sambil mencium
telapak tangan emaknya.

"Waalaikumsalam," jawab emaknya.

Ana mengayuh sepeda yang telah menjadi temannya sejak enam tahun
terakhir. Ke mana-mana, mau hujan sampai terik panas sekali pun hanya sepeda
kesayangannya inilah yang menemaninya.
Di sekolah Ana belajar dengan serius. Memperhatikan menit demi menit
yang terlewat. Saat istirahat, ketika semua teman-temannya pergi ke kantin ia
memilih di dalam kelas membuka bekal yang telah emak siapkan untuknya.
Terkadang saat bosan ketika jam kosong ia menyibukkan diri menulis puisi atau
mengarang cerpen. Begitu waktu pulang ia bergegas pulang ke rumah.

"Ana ayo main," ajak salah satu teman sekelasnya.

"Maaf, aku tidak bisa. Ana mau bantu emak di rumah," tolak Ana lembut.

Tidak ada waktu main baginya. Sekalipun ia main, tidak akan pulang
hingga larut. Ana mengayuh sepedanya dengan mantap menuju rumahnya. Meski
angin berhembus hingga terasa berat pedalnya, ia tetap bersemangat. Bahkan
sesekali ia menyapa orang-orang yang berlalu lalang.

Malam ini Ana menikmati suasana malam di desanya. Ana duduk santai di
teras rumahnya. Sambil menatap langit dengan hamparan bintang yang berkedip-
kedip manja. Angin malam terasa semilir menusuk pori-pori kulit Ana. Kerlap-
kerlip kunang-kunang menghiasi halaman rumahnya. Benar-benar suasana desa
yang sangat menakjubkan.

"Nduk, sudah malam. Apa kamu tidak kedinginan?" tanya emaknya dari balik
ambang pintu.

"Ana mau di sini dulu, Mak. Menikmati suasana malam," jawab Ana tanpa
memalingkan tatapannya dari gemerlap langit.

"Yasudah, emak mau tidur dulu, Nduk. Emak sudah mengantuk," ucap emaknya
sambil berjalan masuk ke dalam rumah.

"Selamat malam, Mak," ucap Ana.

Ana memandangi langit-langit malam yang temaram. Suasana begitu


hening dan sepi. Hanya terdengar suara-suara jangkrik yang bersahutan. Dia
menatap langit penuh harap. Emak dan abah adalah selarik doa yang selalu dia
lafalkan. Kini hanya ada satu senyum yang selalu dia lihat setiap pagi dan
malamnya. Senyum emaknya.
Bila malam telah datang

Maka, bintang akan bergelayutan

Berkelap-kelip menghiasi langit malam

Teringat lagu semasa kecil

Lagu bintang kecil

Diajari emak sewaktu itu

Bernyanyi penuh merdu

Dengan mata yang sayu-sayu

Lamat-lamat menghapal lagu

Dulu hingga kini

Doaku masih tetap sama

Berharap kebahagiaan untuk emak dan abah

Sampai mereka mendengar kesuksesan

Dari anak semata wayangnya

Selarik doa yang selalu Ana ucapkan di penghujung malam. Dan sebuah
puisi indah yang ia ciptakan untuk emak dan abahnya. Doa dari pujangga
kesayangannya.
Stay Me Over

Santi Febriana

Setiap wanita selalu berusaha tampil sesempurna mungkin di depan pria


yang dicintai.

“Cantik banget sih?” Mata Azka berbinar, memandang wanitanya penuh makna.

Apa yang bisa dilakukan wanita sehabis dibilang cantik kalau tidak tersipu
malu? Lana tersipu malu, ada perasaan bahagia yang menyelubungi hatinya. Dan,
semakin bahagia saat kekasihnya itu meraih jari-jari lentiknya ke dalam
genggaman yang hangatnya sampai ke hati.

“Kalau jalan lihat ke depan! Jangan lihat ke aku mulu, nanti ketabrak lagi.”

“Ih, apa sih? Pede banget kamu,” Lana bisa memungkiri, tetapi tidak dengan
senyumannya.

"Harus pede dong, biar bisa gandeng kamu terus sampai ...,” omongan Azka
tersendat.

"Sampai?"

‘'Sampai pelaminan.” Semoga bukan hanya kata. Lana senyum-senyum sendiri.

Bioskop, alternatif para muda-mudi buat berkencan. Nonton drama Korea


romantis, bareng pasangan.

“Lan, kita nonton film action saja ya?” Tanya Azka sebelum memutuskan untuk
membeli tiket.

“Boleh.” Lana mengangguk pelan.

“Mbak, 2 tiket ya”

“Baik, tunggu sebentar ya, Kak.”


Alita The Battle Angel, film action yang masih anget banget. Sebenernya,
Lana kurang suka dengan film action. Mengandung kekerasan.

“Lan, kamu tahu tidak, kenapa aku mengajak kamu nonton film action?” Tanya
Azka, memecah konsentrasi Lana menonton film.

“Tidak,” jawab Lana singkat.

“Padahal, tadi ada drama Korea kesukaan kamu.”

“Memang kenapa, Ka?”

“Aku mengajak nonton film action, biar kita mengerti tentang berjuang dan
memperjuangkan,” kerlingan mata Azka mempermanis ucapannya.

”Memang berjuang itu seperti apa?”

“Berjuang menghalalin kamu, misalnya,” Azka memang ahli bikin Lana jatuh
cinta lagi dan lagi. Tatapan matanya begitu sendu, penuh makna, begitu tajamnya
hingga menyentuh hati Lana.

“Azka, sudah ah! Lihat filmnya aja, jangan lihatin aku terus!” Groginya Lana
mulai kecium.

“Habisnya aku senang banget lihat kamu yang lagi grogi tersipu-sipu.”

“Kesal. Untung aku sayang.” Lana geregetan sampai mencubit lengan Azka.

“Aduh. Yang dicubit lengan, tetapi kenapa yang cenat-cenut hati aku ya?”

“Iiih, Azka.” Perasaan Lana melayang-layang, ”Cubit lagi nih?” tanganya sudah
siap-siap untuk menyubit.

“Ampun, ampun.” Dari pada kena cubit lagi, Azka cepat-cepat menggenggam
tangan Lana.

“I love you,” sambungnya.


Saat kita bahagia, kita terlihat begitu sempurna. Begitu pun senyuman
Lana. Betapa sempurnanya. Genggaman tangan Azka membuatnya merasa begitu
berarti. Sesederhana itu, namun sungguh terasa hingga ke hati.

“Setelah ini kita makan ice cream ya?”

Bulan sabit mulai meronda, sinarnya kalem, menambah melow suasana.


Jalanan masih ramai kendaraan berlalu-lalang. Entah apa yang di pikiran Azka, dia
lebih memilih mengajak Lana untuk duduk di trotoar menikmati ice cream
ketimbang nongkrong santai di kafe ber-AC.

“Kenapa kamu suka ice cream?” tanya Lana penasaran.

“Tidak tahu," singkat sekali jawaban Azka.

“Kenapa kamu suka aku?” Lana semakin penasaran.

“Tidak tahu.”

“Kenapa tidak tahu? Pasti ada alasannya.”

“Aku tidak mau punya alasan,” Azka sangat menikmati ice cream coklatnya.

“Aneh banget,” Lana sedikit kesal, karena tidak kunjung mendapat jawaban yang
dia inginkan.

“Aneh kamu bilang? Aku tidak butuh alasan untuk suka sama kamu, karena aku
juga tidak ingin banyak alasan untuk meninggalkan kamu.”

Bisa senyum sekarang, habis mendengar kalimat penyejuk batin. Azka


tidak seromantis Dilan, tetapi dia paling bisa bikin gempa pribadi di hati Lana.

“Mau cobain ice cream aku tidak?” Lana langsung membuka mulutnya.

“Iih, Azka. Kesal.”

Jahil memang si Azka, ice creamnya seharusnya disuapin ke mulut Lana,


tetapi isengnya kumat, pipi manis Lana semakin manis terkena ice cream.
“Kamu ngeselin.” Lana mendorong-dorong bahu Azka yang lagi asyik dengan
tawanya.

”Bersihin!”

“Sini-sini, aku bersihin.”

Sontak terkejut Lana melongok, ternyata Azka membersihkan ice cream di


pipinya dengan bibir lembutnya. Something banget.

"Biasa saja dong! Melongok, nanti ada lalat masuk.”

Lana tersentak, “Habis kamu ngeselin”

“Ngeselin, apa suka?”

“Suka.”

Tidak ada waktu dan tempat untuk cinta sejati, semua terjadi tanpa sengaja,
dalam satu detak jantung, dalam sekejap, menghasilkan momen yang
mendebarkan.

“Ka, kamu serius nggak sih sama aku?”

“Masih kurang sayang aku ke kamu?”

“Buktinya apa kalau kamu sayang sama aku?”

Azka menggenggam tangan Lana, “Kita masih berdetak seirama Lan, dan aku
masih di sini sama kamu.”

“Kita sudah setahun lebih pacaran, apa hubungan kita bakal stuck di sini saja?”
raut wajah Lana terlihat cemas.

“Apa aku hanya akan menjadi mantan?”

“Aku sudah nyaman banget sama kamu, aku bercita-cita memajang foto kamu di
buku nikahku nanti.”

“Jangan menghilang, aku sudah nyaman.”


“Tunggu aku ya, aku pasti akan melamarmu Lana!” Azka mengecup kening Lana.
Lembut, begitu mesranya.

Dan malam pun semakin membisu, hanya suara desiran angin. Andai
waktu bisa membeku, betapa ingin Lana tetap berada pada malam ini. Malam yang
indah ini.

“Pulang! Sudah malam.” wanitanya tidak boleh terlalu larut di luar rumah, meski
sebenarnya dia betah di samping Lana.

Rumah Lana hanya 10 menit berjalan kaki dari bioskop tempat mereka
nonton.

“Istirahat ya, terima kasih untuk malam ini,” kening Lana selalu menggoda, serasa
Azka ingin mengecupnya lagi dan lagi.

Lana memejamkan mata, menikmati kecupan lembut yang begitu hangat di


keningnya.

Langkah kaki Lana terhenti seketika. Kaget, siapa yang tiba-tiba memeluk dari
belakang?

“Azka.”

Begitu erat, begitu lekat, hangat menyentuh tubuh, caranya memeluk Lana.
Tidak perlu banyak tanya, Lana menikmati pelukan Azka. Pelukan yang
menenangkan jiwanya, pelukan beraroma tubuh Azka.

“I love you Lana.”

"I love you too Azka. Hari ini, besok dan selamanya.”

Sunny Sunday. Lana terbangun dengan perasaan penuh gairah, sisa-sisa


kebahagiaan semalam masih dirasakannya. Biasanya pagi-pagi ada pesan dari
Azka yang menjadi penyemangatnya.

Astaga. Paniknya bukan kepalang. Tiba-tiba darah Lana seakan mendidih.


Panik, sangat panik. Kenapa? Apa yang membuatnya sekacau ini? Semua akses
Lana diblok oleh Azka, dari instan massanging sampai sosial media. Kenapa? Apa
yang terjadi? Emosi Lana meluap, air matanya mengalir deras seiring dengan
suara tangisnya yang meledak. Bingung, marah, sesak, sakit. Azka, kamu dimana?
Ada apa? Apa yang terjadi? Mengapa mendadak seperti ini? Lana hancur, benar-
benar hancur.

Hari demi hari, seminggu, bahkan sudah sampai sebulan lamanya. Tidak
akan ada jawaban dari semua pertanyaanmu, Lana. Azka berhenti menghubungi,
dia hilang dan seolah tidak pernah ada di kehidupan Lana.

“Kenapa kamu pergi? Bagaimana dengan waktu itu? Bagaimana dengan


genggaman tanganmu? Bagaimana dengan pedulimu yang banyak? Bagaimana
dengan janjimu untuk melamarku? Kamu datang membuatku nyaman, membuatku
takut kehilangan, lalu kamu pergi tanpa keputusan, seolah hati kamu yang ciptakan
dan kau mainkan, lalu siapa yang akan bertanggung jawab dengan hati ini yang
berantakan?” hatinya begitu kacau.

Apa yang bisa Lana lakukan selain menangis? Menangisi waktu yang tidak
berlaku adil kepadanya, menangisi Azka yang tanpa sebab meninggalkannya.
Menangis, sampai banyak waktu yang ia lewatkan.

“Azka, aku kangen, aku rindu, aku hancur tanpamu, aku terlalu cinta untuk
melupakan kebersamaan kita, kembalilah bawa janji itu untuku,” hatinya terus
berbisik, berharap Azka mendengarnya.

Andai Lana tahu, Azka akan pergi seperti ini, dia tidak mungkin
melepaskan genggaman tangannya sedetik saja. Mungkin, dia tidak akan pernah
tidur, jika dia harus bangun dan kehilangan segalanya. Lana sangat mencintai
lelaki itu, bahkan setelah hatinya dipatahkan, rasanya tetap sama. Hatinya begitu
yakin, Azka akan kembali, dia pasti kembali. Merekatkan hati Lana yang pecah
berantakan.

“Aku menunggumu, Azka.”


Sticky Note

Nurmala

Niken, itulah namaku. Aku duduk di kelas 12 SMA Negeri di kota Jakarta.
Di setiap sekolah pasti selalu ada yang namanya geng. Seperti di sekolahku,
terdapat sekumpulan laki-laki yang dicap berandalan. Karena sifat dan perilaku
mereka yang kasar terhadap siapa pun. Namun, ada satu laki-laki yang menarik
perhatian para wanita di sekolah, dia adalah Rangga.

Selain wajahnya yang tampan, Rangga juga memiliki sifat yang baik
dibandingkan dengan anggota lainnya. Ia tahu bagaimana caranya bersikap baik
dan memperlakukan wanita dengan benar. Sehingga tidak heran, jika Rangga
lebih banyak disukai dibanding anggota lainnya. Termasuk aku yang juga
menyukai sifat baiknya itu.

Aku harus berangkat pagi karena aku ada jadwal piket hari ini. Seperti
biasa, disaat aku membuka lokerku, terdapat beberapa sticky note yang tertempel
di dalam dinding loker. Sudah beberapa minggu ini aku selalu mendapatkan sticky
note, dengan kata yang berbeda-beda. Seperti semangat untuk hari ini, jangan lupa
makan, jangan lupa senyum. Seperti itulah isi dari kertas yang ditempel ini.

“Sticky note lagi?” suara seorang wanita yang mengagetkanku disaat aku sedang
menatap kertas itu.

“Iya.” Aku hanya menganggukkan kepalaku.

“Kau masih belum tahu siapa pengirimnya?”

“Kalau aku tahu, aku pasti sudah memberi tahumu,” ucapku dengan wajah yang
malas.

“Lihatlah wajah menyebalkanmu itu! Membuatku lapar saja, ayo kita ke kantin.
Siapa tau Dewi Fortuna sedang memihak kita,” ucapnya dengan riang.
“Kau ke kantin pagi-pagi seperti ini karena ingin bertemu dengan Ranggakan?”
aku menatap curiga Rini.

“Tahu saja kamu,” ujarnya dengan cengengesan.

“Tetapi aku belum piket.”

“Nanti aku bantui. Ayo, yang penting hari ini mataku mendapatkan asupan nutrisi
dari wajahnya Rangga,” ajaknya dengan menarik tanganku untuk segera keluar
dari kelas.

Aku hanya bisa menghela nafas panjang dan menuruti perintahnya. Di


sepanjang koridor aku hanya bisa menatap Rini yang berjalan dengan riang. Rini
adalah sahabatku dari kecil, dan entah kenapa sampai sekarang pun kami masih
bersama, mungkin sampai kuliah nanti pun akan terus bersama. Hingga tanpa
sadar aku hampir saja bertabrakan dengan seorang laki-laki yang tingginya
melebihi batas kemampuanku, Rangga.

Tinggi Rangga yang 180 cm itu hampir mencapai sempurna, sedangkan


aku hanya 155 cm saja. Aku mendongakkan kepalaku karena dia sangat tinggi.

“Kau tidak apa-apa?” dia menatapku dengan sedikit membungkukkan badannya.

“Aku tidak apa-apa,” ucapku dengan sedikit gelagapan.

“Syukurlah kalau kau tidak apa-apa, lain kali jangan suka melamun di koridor
seperti ini. Untung saja yang kau tabrak itu aku, bukan yang lain,” ucapnya
dengan senyuman yang manis.

“Lain kali hati-hati ya, gadis kecil.” Lanjutnya sambil mengusap kepalaku dan
berlalu meninggalkanku.

Tunggu, barusan dia bilang apa? Gadis kecil, astaga karena badanku lebih
kecil darinya, jadi dia seenaknya memanggilku seperti itu.

“Niken, kau masih sadarkan? Kau tidak kesurupankan?” Rini yang tiba-tiba saja
menghampiriku dan menyentuh seluruh wajahku dengan kedua tangannya.
“Kau ini kenapa sih?,” ucapku yang langsung menyingkirkan kedua tangannya
dari wajahku.

“Syukurlah kalau kau masih hidup dan bisa bernapas, kalau aku mungkin sudah
pingsan di tempat. Senangnya jadi dirimu yang bisa berhadapan langsung dengan
Rangga.” Rini menopang wajahnya dengan kedua tangannya.

“Sebenarnya apa yang kau bayangkan, sudahlah ayo cepat kita ke kantin. Aku
harus piket hari ini.” Aku mendorongnya agar cepat menuju kantin.

“Lain kali aku yang di belakang ya, siapa tau nasibku sepertimu,” celetuknya yang
membuatku ingin muntah.

Akhirnya bel pulang pun berbunyi, disaat aku sedang membuka lokerku,
seseorang menghampiriku dengan melipat kedua tangannya di dadanya yang
bidang, dan aku tahu siapa dia.

“Besok kau harus piket lagi, lain kali kalau kau ada jadwal piket itu jangan
keluyuran. Piket yang benar dan jangan minta bantuan orang lain,” ucapnya
dengan tatapan yang tajam dan pergi meninggalkanku/

Harris, dia adalah ketua kelasku. Dia memang sangat disiplin dan juga
tegas, maka tidak heran jika ia dipilih menjadi ketua kelas.

“Niken, maafkan aku ya. Aku lupa kalau di kelas kita ketua kelasnya si harimau
buluk itu, tolong maafkan aku.” Rini menggenggam tanganku dengan erat.

“Sudahlah, aku harus segera pulang, kakakku pasti sudah menunggu di depan,”
ucapku yang melepaskan genggaman tangan Rini

Melihat wajahnya yang memelas itu, aku hanya bisa tersenyum. Aku pun
merangkulnya dan dia kembali tersenyum.

Keesokan harinya, aku harus kembali berangkat pagi untuk melaksanakan


piket keduaku. Namun, seseorang berhasil membuatku berhenti melangkahkan
kaki, seorang laki-laki yang sedang berdiri di depan lokerku yang terbuka lebar.

“Rangga?” perlahan aku menghampirinya dan menatapnya heran.


“Oh, kau.. “ dia tidak melanjutkan ucapannya, seperti orang kebingungan.

“Sedang apa kau di kelasku? Dan apa yang kau lakukan di depan lokerku?”

Rangga tidak menjawab pertanyaanku, hingga aku pun menoleh ke arah


loker yang terbuka. Betapa terkejutnya aku disaat aku melihat banyak sticky note
di dalam sana, aku memandang wajah Rangga yang masih menundukkan
kepalanya.

“Kau yang menaruh semua ini? Untuk apa?” aku benar-benar tidak mengerti
dengan semua ini.

“Itu karena aku menyukaimu,” ucapannya yang membuat jantungku berdebar


dengan keras dan membuatku salah tingkah.

“Apa?” aku tidak percaya dengan apa yang kudengar ini.

Ia menganggukkan kepalanya. “Iya, aku menyukaimu sudah sangat lama, bahkan


aku selalu memperhatikanmu dari jauh sampai kita menginjak kelas dua. Namun,
saat aku melihatmu dengan kakak kelas saat itu, kupikir aku sudah tidak punya
harapan. Kurubah persepsiku tentang cinta dan sepertinya memang benar, kalau
cinta itu tidak harus memiliki.”

“Aku benar-benar tidak tahu soal itu.” Aku hanya bisa menundukkan kepala.

“Dari situ aku menyerah, aku mencoba untuk tidak peduli lagi tentang apa yang
bersangkutan denganmu. Tetapi semakin aku mencoba untuk melupakanmu, tanpa
sadar aku malah semakin sering memikirkanmu dan itu menyiksaku. Namun, Saat
aku tahu bahwa hubunganmu dengan kakak kelas itu berakhir, rasanya aku seperti
kembali bernapas. Aku masih punya harapan, tetapi tetap saja aku masih belum
berani mengatakannya kepadamu. Hingga saat ini pun aku masih menyimpan rasa
itu,” jelasnya lagi.

“Kau..“

“Aku tahu kau ingin bilang apa, aku ini preman yang tidak punya nyali. Bahkan
menyatakan perasaan kepadamu saja harus diam-diam seperti ini, aku ini pengecut
dan aku ini pecundang. Memendam perasaan selama tiga tahun kepadamu, aku
benar-benar payah.” Dia memotong pembicaraanku dan bertingkah seperti orang
yang kehilangan arah.

“Aku bingung harus bicara apa.” Aku benar-benar tidak bisa bicara apa pun lagi.

“Tetapi setidaknya aku lega, akhirnya perasaanku kepadamu telah tersampaikan.


Dan kau tidak perlu menjawabnya, aku tahu kau belum move on,” ledeknya.

“Sok tahu,” aku menatapnya dengan wajah yang cemberut.

Tiba-tiba saja Rini datang dengan mata yang membulat, seperti akan
keluar dari tempatnya.

“Rangga? Niken? Apa yang kalian lakukan berdua di kelas ini? Jangan bilang
kalian pacaran?” ucapan Rini tentu saja membuatku terkejut.

“Bukan seperti itu, percayalah ini bukan seperti apa yang kau pikirkan.” Aku tidak
mau jika Rini tahu semuanya soal ucapan yang dikatakan oleh Rangga kepadaku.

“Bilang saja kalau kalian punya hubungan, lagi pula kau juga menyukai Rangga
sejak lamakan?” ucapan Rini membuat wajahku merah seketika.

“Apa katamu? Dia menyukaiku?” tanya Rangga yang langsung melipatkan kedua
tangannya di dada.

“Iya, Niken bisa move on dari Kak Dion itu karena kau, dia menyukaimu sejak
kelas dua,” ucapnya dengan senang.

“Rini, bukankah kau juga menyukainya?”

“Aku hanya sebatas mengaguminya, karena sifatnya yang lembut kepada setiap
wanita, bukan seperti kau yang menyukainya, mencintainya.. “ sebelum dia
mengatakan semua, aku menutup mulut Rini dengan kedua tanganku.

Rini menepis kedua tanganku, dan malah menjulurkan lidahnya kepadaku.


Rangga yang menatap kami hanya tersenyum, aku hanya bisa menundukkan
kepalaku karena malu.
“Jadi, kalau aku dan Niken pacaran? Kau setuju?” Rangga yang sontak bicara
seperti itu membuatku terkejut.

“Kenapa tidak? Aku malah mendukung kalian, tetapi ada syaratnya. Kau harus
mencomblangkan aku dengan Reino,” ucapnya.

“Itu mudah, tetapi hanya jika Niken menjawab iya,” ucapnya yang menatapku
dengan senyum manisnya itu.

“Niken, ayo jawab iya, kalau tidak aku akan menghantuimu,” ancamnya.

Belum sempat aku menjawab tiba-tiba saja Rangga mencium pipi


kananku, tindakannya yang spontan itu tentu saja membuat ku membelalakkan
mataku, begitu pula dengan Rini yang melihat kejadian ini secara langsung.

“Aku tahu kau akan jawab iya, kita bertemu lagi selepas istirahat nanti,” ucapnya
dan meninggalkanku yang masih tidak percaya dengan kejadian yang baru saja
terjadi.

Sesuai janjinya, di saat istirahat Rangga kembali menghampiriku. Dia


menarik tanganku keluar kelas, sontak itu membuatku kembali dibuat terkejut.
Bahkan bukan hanya aku, seisi kelas pun dibuat kaget dengan tindakan Rangga
kepadaku.

“Mulai sekarang, aku akan selalu menggenggam tanganmu dan tidak akan pernah
kulepaskan,” ucapnya dengan senyuman yang tersirat di wajahnya.

“Rangga, jaga Niken dari serangan para selirmu yang bertebaran di sekitar
sekolah ini,” ucap Rini. Ia pun berlari meninggalkanku dan Rangga.

“Tentu saja, aku pasti akan menjaganya,” gumamnya sambil menatapku, yang
tentu saja gumamannya masih bisa kudengar.

Aku tidak bisa menyangkal perasaanku kepada Rangga, aku memang


menyukainya. Aku bisa melupakan Kak Dion karena dia, dan tidak kusangka
seorang Rangga yang terkenal sangar, mampu meluluhkan hatiku. Bahkan kini
aku benar-benar tidak percaya, jika pangeran sekolah yang banyak pengagumnya
karena sikapnya yang baik dan terkesan dingin ini, malah menyukai perempuan
seperti aku. Dan kuharap, janjinya yang akan selalu menggenggam tanganku ini
bisa ia buktikan di kemudian hari. Dan ini, bukan hanya sekedar kisah cinta
remaja biasa yang bisa berakhir kapan saja.
Tak Harus Memiliki

Emilia Nur Maghfiroh

Pria itu menatap lembaran puisi yang baru saja ia ciptakan saat hatinya
sedang terluka, karena cintanya yang teramat pilu. Sajak lusuh itu seakan menjadi
saksi bisu perihnya kalbu. Rein, pria miskin yang tinggal di pedesaan, dan
mendapat beasiswa untuk kembali meneruskan pendidikan.

Dia datang ke kota sendirian, dengan bekal yang ia bawa seadanya dari
rumah, doa yang selalu terucapkan sudah menjadi bekal yang amat berharga
baginya. Hidupnya sederhana. Dulu sebelum ia kuliah di kota ia sering membantu
ibunya untuk menjadi kuli panggul di pasar. Walaupun upahnya tidak seberapa,
tetapi lumayanlah untuk sekedar membantu ibunya.

Di sela-sela kegiatannya, dia selalu menyempatkan untuk menulis sajak


yang sangat indah, baginya bersajak dapat meluapkan segala emosinya. Sudah
banyak sajak yang ia ciptakan untuk sekedar mengisi waktunya yang senggang,
dan tema puisi terbanyak yang ia tulis adalah patah hati. Jangan tanya kenapa,
karena menurutnya puisi yang bertema tentang hati membuat pembaca lebih
mengena.

Rein, sudah menyukai sastra sejak ia masa SMP. Dimulai dari Bahasa
Indonesia yang sangat ia gemari, karena dari situ dia akan mempelajari tentang
mengarang indah dan menciptakan sajak. Dia juga pernah mendapatkan juara
umum lomba cipta puisi tingkat kabupaten di daerahnya. Bangga, hanya itulah
yang ada dalam benak Rein dan kedua orang tuanya. Bagaimana tidak, dia yang
serba kurang hidupnya. Mengalahkan mereka yang hidup serba kecukupan.

Lagi-lagi angannya melayang, memori di otaknya membawa ia kembali


kepada kenangan indah di pedesaan. Dia merindukan ibu dan ayahnya yang
sedang berjuang di tempat kelahirannya, dia tidak akan habis pikir bagaimana
kehidupannya tanpa ada orang tuanya.
“Mikirin apa sih?” sapa Jingga.

“Eh, Jingga. Aku tidak apa-apa kok, hanya sedang lagi rindu ibu dan ayah saja,”
jawab Rein.

“Aku bawa roti untuk kamu aja ya, aku tahu kamu belum makan,” kata Jingga
sambil memberi sepotong roti.

Jingga, anak pemasok dana terbesar di yayasan pendidikan yang menaungi


kampus tempatnya mencari ilmu itu diam-diam sudah menarik hatinya,
membuatnya kembali merasakan apa yang lama sekali tidak lagi menempati ruang
hatinya, ia jatuh cinta. Senyum dan perhatian yang Jingga berikan sudah menarik
hati Rein sejak lama.

Berhari-hari mereka bersama, berbagi cerita, dan berbagi rasa tentunya


membuat Rein semakin memantapkan niatnya untuk menyatakan perasaannya
pada Jingga. Maka di balik indahnya sinar kemerahan pada senja kali ini, Rein
mengajak Jingga untuk sekadar berjalan-jalan di taman pinggir kampusnya.
Sekedar melepas penat setelah sepanjang siang didera tugas dan makalah.

“Jingga, aku mau berbicara sama kamu,” ucap Rein malu-malu.

“Serius banget, silakan cerita,” jawab Jingga sambil bercanda.

“Maukah kamu menjadi bagian penting dalam setiap sajak kehidupanku?” tanya
Rein.

“Maksud kamu?” Jingga balik bertanya.

“Aku mencintaimu, aku mau kamu jadi teman hidupku. Maaf aku tidak
mengajakmu berpacaran, cincin ini aku dapatkan dari uang hasil tabungan aku
selama aku bekerja,” ucap Rein sambil memasangkan cincin itu di jari manis
Jingga.

Iya, sebelum Rein menjadi seorang mahasiswa sastra di kampus itu, dan
mendapat beasiswa. Ia juga bekerja untuk membantu kehidupan orang tuanya.
Jangan ditanya dia bekerja apa, mulai dari sol sepatu, hingga kuli panggul semua
ia lakukan untuk meringankan beban orang tuanya. Tidak ada rasa malu sedikit
pun yang melingkupi ruang hatinya. Karena ia tahu, masa depan ketiga adiknya
ada di tangannya.

Hubungan mereka berjalan dengan amat mesra, banyak teman yang kagum
dengan hubungan mereka, hingga tiba waktunya Jingga membawa Rein bertemu
dengan orang tua Jingga, untuk membicarakan kelanjutan hubungan mereka ke
jenjang pernikahan tentunya.

“Jadi orang tua kamu kerja apa?” tanya ayah Jingga.

“Ayah saya seorang petani Pak, ibu saya buruh cuci yang kadang ikut membantu
ayah jika tidak ada tetangga yang memanggil ibu untuk mencuci pakaian,” ucap
Rein.

Wajah ayah Jingga memerah saat itu juga, dia membentak Rein dengan segala
umpatan dan celanya, “Mau kamu kasih makan apa anak saya kalau dia menikah
dengan kamu? Dasar miskin. Pergi dari sini!”

Perih merasuki dada, ternyata Jingga yang dulu teramat dicintainya, tidak
akan pernah menjadi miliknya serta menjadi bagian dari sajak-sajak
kehidupannya. Tiada yang bisa diperjuangkan lagi saat ini, karena Jingga sudah
dipindahkan kuliahnya oleh sang ayah.

Lemah, itu saja yang dapat menggambarkan perasaannya saat ini, tiada hal
lain yang bisa ia lakukan selain menumpahkan kecewanya dalam lembaran kertas
notebooknya, ia susun kata demi kata yang sangat mengiris hatinya. Namun
semuanya sudah terlambat, tiada lagi yang dapat ia lakukan untuk mencegah
perjodohan Jingga dengan lelaki pilihan ayahnya. Air mata yang selalu mengalir
perih di pipi juga doa yang selalu ia panjatkan di sepertiga malam terakhirnya.

Ia tidak pernah lelah untuk menaruh harapnya kepada Sang Kuasa, patah
hatinya membuat ia sulit untuk kembali bangkit dengan mimpi yang pernah ia
bangun sebelumnya. Meminang gadis yang amat dicintainya untuk hidup
bersama. Membangun bahtera rumah tangga dengan bahagia. Hancur seketika
karena kasta yang berbeda, tetapi bukankah semua makhluk itu sama di sisi Allah
dan hanya tingkat ketakwaannya saja yang membedakan?

Tiada lagi senyum yang terpancar di wajah teduhnya. Kini air mata hangat
itu menjadi teman dalam hari sendunya, waktunya habis dengan kertas dan pena
yang ia punya ia tumpahkan semua rasa kecewa dalam bait-bait doa dan sajak
puisinya. Iya, dia selalu saja menyebutkan nama Jingga dalam doa lirihnya. Tidak
peduli seperih apa pun kenyataan yang terjadi. Sesakit apa pun penolakan yang ia
terima, doanya tetap sama, memohon yang terbaik untuk kehidupan Jingga, gadis
yang teramat disayanginya.

Ini adalah patah hati terpahit yang dia rasakan, saat kenyataan memaksa
dia untuk berpisah dengan gadis yang teramat ia kagumi, hatinya kembali jatuh
berceceran. Serpihan luka yang disisakan berusaha ia bawa walaupun hatinya
sedang tidak karuan. Tidak cukupkah Allah mengujinya dengan ujian yang ia
terima saat ia masih di desa, hidup diantara kemiskinan yang teramat menyiksa.
Kini ia kembali diuji, dan harus berpisah dengan seseorang yang amat dicintainya.

Perih ini, seakan membekas kuat di dalam hatinya, apalagi ketika Jingga
datang kembali dan membawa undangan berwana merah jambu, yang segera
diberikan kepada Rein kala itu.

“Rein, tunggu!” teriak Jingga sambil berlari.

Sejak kejadian itu ia selalu saja menghindar dari Jingga, ia tidak ingin
hatinya terluka lebih lama saat memandang indah senyum perempuan yang sudah
dikaguminya sejak lama.

“Datang ya, maaf aku tidak bisa lagi menolak perjodohan papa untukku,” ucap
Jingga

“Pasti,” jawab Rein sambil tersenyum walaupun akhirnya air bening dari matanya
itu menetes kembali. Luka apalagi ini? Haruskah ia menerima kenyataan perih
untuk kesekian kali? Air mata sebanyak apa lagi yang harus ia keluarkan untuk
menyuarakan kecewa hatinya kali ini?
Kini, tiada lagi yang dapat ia lakukan, telah sirna semua harapan. Perih
hatinya tiada terobati. Saat Jingga kekasih hatinya yang ia cintai duduk berdua
mengucap janji suci. Kenyataan perih itu membuatnya terbangun dari mimpi, dan
mencintai tidak harus memiliki. Hanya doa yang menjadi penenang hati. Semoga
Allah memiliki hal yang terbaik untuk kehidupannya suatu saat nanti.
Tentang Kita

MilakArt

Cinta, cinta dan cinta. Sebuah kata yang tidak asing lagi. Layaknya organ
tubuh cinta selalu dibutuhkan. Pengertian cinta memang tidak bisa diungkap
dengan untain kata. Cinta bisa membuat orang lemah menjadi kuat, begitu juga
sebaliknya.

Kata cinta yang membuatku semakin bersemangat menjalani hidup.


Menikmati hari dengan penuh rasa. Menyeimbangkan waktu hanya untuk cinta.
Menyuguhkan hidup indah bagai drama Korea.

Yusuf Effendi, laki-laki yang membuatku berani menjatuhkan hati kembali.


Sebelumnya, aku pernah putus asa mengenai cinta. Terutama soal kata "pacaran".
Namun, dia hadir dan meyakinkan separuh jiwaku.

"Hari ini mau ke mana?" Ucapnya.

Dengan polosnya aku menjawab, "Terserah."

"Kita makan nasi padang yuk!"

"Terserah, tetapi aku tidak mau makan nasi"

"Terus apa dong?" Tanyanya dengan nada bingung.

"Terserah." Jawabku sembari mengangkat kedua bahu.

"Ya ampun, terserah kamulah. Aku ikut saja," ucapnya dengan begitu sabar.

"Ke mana ya? Terserah deh."

Kali ini aku menatapnya sembari mengedipkan kedua mata.

"Kamu, dari tadi terserah, terserah, terserah. Aku ajak makan nasi padang
jawabnya tidak mau makan nasi." Ucapnya dengan nada sedikit kesal.

"Ya maaf." Ucapku, menunduk.


"Ya sudah, kita makan bakso. Mau?"

Aku hanya mengangguk, dan menaiki motornya. Di perjalanan, lenganku


tidak henti-henti memeluk tubuhnya.

"Ay, inget tidak hari ini tanggal berapa?" Ucapku, memiringkan kepala ke arah
wajahnya.

"Tanggal berapa ya?"

"Lupa?" Ucapku cemberut.

"Aku tidak lupa kok. Hari ini tanggal sembilankan?"

"Iya, hari inikan hari spesial kita."

"Kita?"

"Ish, kamu" Ucapku, sembari mencubit kulitnya.

"Aw aw, iya iya iya sayang. Hari ini tanggal sembilan bulan Agustus tahun 2018
adalah hari jadian kita."

"Happy anniversary........." teriaknya sembari terus melajukan motor. Aku hanya


tersenyum dan kembali memeluknya.

Aku mengingat kejadian dulu. Ketika itu kami dipertemukan. Di salah satu
air terjun daerah kami. Ketika perjalanan pulang, aku bersama teman-temanku
tersesat. Dan, saat yang bersamaan, dia dan teman-temannya pun tersesat pula.
Tersesat? Ya, karena sebelum memasuki wisata air terjun itu, para pengunjung
harus melewati beberapa jalur. Pedesaan, sawah, sungai, dan hutan. Ketika kami
sibuk mencari-cari jalan keluar dari sana, dia bertanya kepadaku.

"Sekolah di mana?"

Aku tidak menggubris pertanyaannya. Aku berpura-pura sibuk melihat jam


tangan. Salah satu temanku yang menjawab pertanyaannya. Dan setelah kami
menemukan jalan keluar, kelompokku dan kelompoknya terpisah jalan. Karena
beda jalur.
Sepulang dari sana, langsung kuupload foto kebersamaanku dan teman-
teman di air terjun tadi. Selang beberapa hari, seorang lelaki mengirim pesan
kepadaku. Ternyata dia adalah orang yang saat ini bersamaku.

Tidak ada yang spesial dalam pertemuan kami bukan? Iya memang. Bahkan,
saat dia menyatakan cinta pun hanya lewat panggilan dari gawai. Karena dia harus
bekerja di kota metropolitan.

"Mil, kita cukup lama kenal. Meskipun obrolan kita sehari-harinya hanya melalui
pesan. Dan pertemuan kita hanya sekali saja. Tetapi, Kakak ada perasaan lebih
sama kamu."

"Lalu?" Ucapku gugup, sembari tersenyum merekah.

"Kamu mau tidak jadi pacar Kakak?" Lanjutnya.

Dengan gugup aku menerimanya. Aku menerimanya karena aku cukup


nyaman dengannya. Walaupun pertemuan kami hanya sekali itu saja.

Dan setelah dia menyatakan cinta, lima bulan kemudian barulah kita
bertemu. Itu pun hanya sebentar. Karena dia harus kembali bekerja. Untuk
pertemuan kami dalam satu tahun ini, bisa dihitung pakai jari. Tidak bertemu
beberapa bulan pun rasanya seperti berabad-abad.

Tidak terasa, aku dan dia telah satu tahun berhubungan. Meskipun jarak yang
menjadi faktor utama pertemuan kita, namun kita masih saling percaya. Tidak
masalah hanya jarak yang menjadi pemisah, asal jangan orang ketiga yang
menjadi sumber masalah.

Kami tidak seromantis pasangan lainnya. Jika yang lain memakai baju serba
couple. Kami menganggap semua itu alay. Jika pasangan lainnya makan di
restoran mewah, kami cukup makan di pinggiran jalan saja. Menurut kami, hal
seperti itu sangat indah. Dan, jika pasangan lainnya setiap malam minggu
berkencan, kami cukup puas dengan obrolan melalui gawai. Meski tidak bertemu
secara langsung, tetapi itu semua cukup mengobati rindu yang bertumpuk.
Sesederhana itukah cinta? Iya, itulah kisah kami.
Terlanjur Kau Pergi

Nita Verani Affandi

Hubungan itu telah berjalan cukup lama, hampir satu tahun. Tetapi tetap
saja mereka seperti orang asing. Entah karena LDR atau karena sikap cuek Gio
kepada Nandita yang sepertinya sudah semakin keterlaluan. Nandita selalu
berusaha mencari cara agar mereka bisa bercanda. Tetapi tetap saja, Gio selalu
menanggapinya dengan cuek. Ia juga selalu memberi perhatian penuh kepada Gio,
tetapi selalu diabaikan. Entah hubungan macam apa yang sedang mereka jalani.

"Dit, aku sakit." Isi pesan singkat yang dikirim Gio malam itu. Membaca pesan
itu, Nandita segera membalasnya dengan penuh kekhawatiran.

"Sakit apa, Gi? Kamu sudah minum obat? Parah tidak? Ke dokter sana, aku tidak
mau kamu kenapa-kenapa."

"Demam, sudah kok."

"Diminum rutin obatnya. Makan yang banyak, jangan telat. Banyakin istirahat
juga. Harus cepat sembuh pokoknya. Semangat saying."

"Iya, terima kasih ya." Jawab Gio singkat.

Wajah Nandita berubah masam ketika membaca pesan singkat itu. Ia


berpikir bahwa Gio akan senang dengan perhatian yang ia berikan. Tetapi masih
saja, seperti biasa, sikap dingin dan acuh yang ia terima.

Hari-hari berikutnya pun berlalu dengan keadaan yang sama. Walaupun itu
membosankan, tetap saja Nandita selalu sabar menghadapi sikap dingin Gio. Ia
tidak peduli sesering apa ia diabaikan. Namun suatu hari, kehadiran seseorang
tiba-tib a saja mulai mengubah hari-hari membosankan Nandita. Ia bertemu
dengan seseorang itu ketika ia berbelanja di mall.

"Dita, apa kabar? Masih ingat aku?"


"Kamu Willykan? Temennya Arga, mantan aku."

"Benar. Berarti ingatan kamu masih normal."

"Memang aku sudah kelihatan tua?"

"Kalau boleh jujur, iya sih." Ledek Willy.

"Wah parah. Ini anak masih saja nyebelin. Sama seperti dulu. Baru ketemu sudah
ngajak berantem."

"Nanti dulu deh berantemnya. Makan dulu yuk. Biar kamu kuat mukul aku.”
Ledek Willy. Nandita langsung memukul lengan Willy.

“Aku mau makan di tempat makan yang ada di pinggir jalan saja. Kamu sudah
biasa makan di restoran mewahkan?" Lanjut Willy.

Nandita pun menyetujui ajakannya. Di sana mereka asyik mengobrol.


Sesekali Willy membahas tentang masa-masa pacaran Nandita dengan Arga. Ia
terus saja meledek Nandita. Walaupun makan di tempat sederhana, tetapi Nandita
merasa senang. Akhirnya ia memiliki seseorang yang bisa ia ajak bercanda dan
berbagi cerita. Mereka pun saling bertukar kontak whatsapp sebelum Nandita
pulang.

Semenjak hari itu, Nandita dan Willy selalu berkomunikasi. Bahkan setiap
malam lelaki humoris itu selalu menghubungi Nandita. Ada saja candaannya yang
membuat Nandita terus tertawa. Ketika mau tidur pun Willy selalu menyanyikan
lagu untuk Nandita hingga Nandita tertidur. Semua perhatian yang tidak bisa ia
dapatkan dari kekasihnya itu, kini Willy telah memberikan semuanya. Willy juga
sering mengajaknya pergi bersama, entah itu menonton bola, makan, atau
bersepeda bersama. Sepertinya Willy paham betul apa saja hobi Nandita, bahkan
juga makanan kesukaan Nandita.

Malam itu, di kamar yang sunyi dengan cahaya redup lampu, Nandita
merenung seorang diri.
"Kok dia berbeda dengan Gio? Pacar aku itu Gio, tetapi yang merhatiin aku setiap
hari, menghibur aku, selalu cari cara buat bikin aku ketawa itu Willy." Kata
Nandita kepada dirinya sendiri.

Tiba-tiba ada panggilan masuk. Ya, orang yang baru saja dipikirkannya
ternyata yang menghubunginya.

"Dit, btw kita sudah sering jalan bareng tetapi kamu belum pernah mengajak pacar
kamu. Ayo dong kapan-kapan ajak, kenalin ke aku. Sebagai sahabat kamu aku
harus tahu dong pacar kamu."

"Sahabat?" Gumam Nandita.

"Kapan-kapan kalau dia ke sini aku kenalin. Aku sudah cerita kalau aku sama dia
LDR. Tunggu saja." Jawabnya.

Pembicaraan mereka saat itu tidak seperti biasanya. Nandita bersikap lebih
cuek. Entah kenapa ia tidak suka ketika Willy menobatkan diri sebagai
sahabatnya. Mungkinkah karena ia telah jatuh cinta kepada Willy?

Beberapa minggu telah berlalu. Gio datang menemui Nandita karena


sedang cuti. Gio memberinya sebuah boneka besar dan langsung mengajaknya
pergi jalan-jalan. Nandita hanya tersenyum tipis ketika menerima boneka itu.
Nandita pikir kali ini Gio bisa lebih romantis atau setidaknya lebih perhatian
kepadanya karena sudah lama mereka tidak bertemu. Ternyata ia salah.
Kebersamaannya dengan Gio justru terasa membosankan. Gio tetap dengan sikap
cueknya. Bahkan saat hampir dua jam mereka duduk berdua, hanya sesekali saja
lelaki cuek itu mengajaknya berbicara. Merasa kecewa dengan sikap kekasihnya,
Nandita teringat kepada Willy. Ia ingat bagaimana ia selalu bisa tertawa lepas
ketika bersama Willy, bagaimana Willy yang bahkan tidak pernah
mendiamkannya lebih dari satu menit. Selalu saja ada hal lucu yang Willy
ceritakan untuk membuatnya tertawa.

Hari terus berlalu. Nandita semakin bimbang. Di satu sisi, ia merasa


nyaman dengan Willy. Ia sadar betapa dia sangat bahagia setiap menghabiskan
waktu bersama Willy dan betapa dia sangat bosan setiap bersama Gio. Apa lagi
semakin hari sikap dingin Gio semakin keterlaluan. Ia semakin merasa seperti
orang asing.

"Aku tidak bisa lagi, Gi." Pikirnya saat itu.

Ia pun memutuskan untuk menghubungi Gio. Saat itu ia jujur tentang


semuanya.

"Sampai kapan kamu seperti ini, Gi? Aku sudah berusaha selalu perhatian sama
kamu, tetapi kamu tidak pernah menghargai perhatian aku. Aku selalu berusaha
membuat kamu tertawa, tetapi tetap kamu cuek. Bahkan kamu juga tidak pernah
sedikit pun bertanya tentang aku, kamu tidak pernah ada waktu buat dengerin
cerita aku, masalah aku. Kita itu seperti orang asing. Jujur aja, bahkan makanan
kesukaan aku atau hobi aku, kamu juga tidak tahukan?"

"Kamu ngomong apa sih, Di?. Aku pikir selama ini kamu bahagia."

"Bahagia? Dengan barang-barang mahal yang kamu beri? Dengan mengajak aku
makan di restoran mewah, sampai di sana kamu diemin aku? Bahkan saat seharian
kita jalan bareng, kita punya banyak waktu buat ngobrol, buat saling mengenal,
tetapi ternyata aku cuma seperti patung buat kamu."

Gio hanya terdiam. Walaupun terdengar suara Nandita yang menangis, ia


tidak mengeluarkan sepatah kata pun. Acuh dan tidak peduli seperti biasanya.

"Diam? Selalu seperti inikan? Aku cuma mau bilang, aku tidak butuh semua itu.
Kamu tidak perlu mengajak aku jalan-jalan keliling dunia, kamu tidak perlu
memberi aku barang-barang mahal, cukup beri perhatian kamu ke aku, kamu bisa
lebih peduli sama aku, itu lebih aku harapkan dari kamu. Sudah, percuma, kamu
juga tidak akan pedulikan? Maaf."

Nandita langsung menutup teleponnya. Gio benar-benar bingung. Ia tidak


tahu apa maksud ungkapan maaf itu. Apakah Nandita ingin mengakhiri
hubungannya?

Tidak lama setelah menutup panggilan, Willy menghubungi Nandita.


Mendengar suara Nandita yang sepertinya sedang sedih, Willy pun berusaha
menghiburnya. Nandita merasa sedikit lebih baik. Ia bahkan bisa tertawa lagi,
seakan lupa dengan rasa sakitnya.

Belum usai percakapan Nandita dan Willy, tiba-tiba saja panggilan


terputus. Nandita berpikir, mungkin saja hanya karena jaringan sedang buruk.
Tetapi setelah hampir setengah jam ia menunggu, Willy tidak menghubunginya
lagi. Ia mencoba mengirim pesan beberapa kali, tetapi nomornya masih saja tidak
aktif. Ia mulai khawatir, tetapi ia tetap mencoba berpikir positif, mungkin saja
Willy sedang sibuk. Ia pun mulai mengantuk dan akhirnya tertidur. Sementara
tangannya masih memegang gawai, menunggu kabar dari Willy.

Ketika hari mulai pagi, Nandita terbangun. Ia langsung melihat gawainya.


Ternyata masih tidak ada notifikasi dari Willy. Ia mencoba menghubunginya,
nomornya masih tidak aktif. Ada apa dengan Willy?

Nandita memutuskan untuk datang langsung ke rumah Willy. Begitu


sampai di sana, ia kaget melihat ada bendera kuning di depan rumah. Ia segera
berlari masuk. Melihat Nandita datang, orang tua Willy mengatakan bahwa Willy
meninggal tengah malam tadi dan telah dimakamkan. Kematian itu terjadi karena
penyakit jantung yang telah lama di deritanya. Betapa terkejutnya Nandita.
Tangisannya langsung pecah. Siapa yang menyangka bahwa malam itu adalah
terakhir kali ia bisa mendengar suara Willy. Di akhir hidupnya ternyata Willy
masih sempat untuk membuatnya tertawa. Sedangkan ia, bahkan ia tidak bisa
menemani dan mengantar Willy ke peristirahatan terakhirnya.
Sambil menangis, Nandita berlari menuju makam Willy. Di sana ia
menangis sejadi-jadinya. Ia terus memanggil nama Willy sambil mengajaknya
mengobrol seperti saat Willy masih hidup. Ia mengingat bagaimana Willy selalu
bertingkah konyol demi membuatnya tertawa dan selalu menyanyikan lagu setiap
dia akan tidur. Seperti orang gila, ia tertawa sambil menangis saat mengingat
semua momen kebersamaannya dengan Willy. Ia kini tahu betapa tulusnya cinta
Willy, tanpa mengharap balasan, bahkan tanpa memedulikan keadaannya sendiri
yang setiap hari semakin dekat dengan kematian. Willy telah berhasil
membahagiakan Nandita di sisa-sisa hidupnya.
Di depan makam Willy, Nandita mengatakan bahwa ia akan memutuskan
hubungannya dengan Gio. Ia berjanji akan selalu mencintai Willy sampai suatu
saat nanti datang laki-laki yang melamarnya. Ia tidak ingin menjalin hubungan
dengan siapa pun. Selama masa itu belum tiba, hanya Willy laki-laki yang akan
dicintainya walaupun kini Willy tidak ada di sisinya lagi.
“Andai aku masih punya waktu untuk membalas cinta kamu. Kenanganmu akan
selalu hidup di hatiku, Wil. I love you.” Kini Nandita hanya bisa memeluk batu
nisan Willy.
Usaha dalam Doa

Nursyamsi Kitta

Doaku. Kuucapkan dengan sangat jelas. Namun, sulit untuk kuwujudkan.


Aku ingin berubah. Aku ingin meninggalkan hal-hal yang membuatku rugi, hal-
hal yang tidak bermanfaat. Tetapi, kenapa sulit sekali bagiku. Aku ingin
meninggalkan dunia K-pop, aku ingin menjalankan perintahah-perintah Tuhan,
aku ingin menjadi orang yang berguna bukan menjadi manusia yang selalu
melanggar akan perintah-perintah Tuhan, bukan sebagai parasit di lingkungan
keluarga. Kenapa semua sangat sulit kulakukan?

Pagi ini, aku membuka mataku, setelah terlelap dari tidur panjangku
semalam. Hal pertama yang kulakukan adalah membuka gawai untuk melanjutkan
aktivitasku semalam. Hari ini libur, kugunakan waktuku untuk menonton para
Oppa-oppa yang sangat aku gemari. Hal itu, adalah salah satu hal yang tidak bisa
kutinggalkan. Oppa ganteng, keren, berbakat. Aku menyukai semua dari mereka.
Terus, bagaimana dengan Tuhanku? Entah, aku pun tidak tahu. Mungkin, Allah
telah menutup hati dan penglihatanku.

Saat ini, aku hanya menonton di balik layar gawai, aku terlalu malas
keluar kamar atau pun melakukan hal-hal lain. Bagiku, tidak ada hal yang menarik
selain melihat para pria-priaku yang berada di balik layar. Sungguh konyol.

Hingga suara pintu terbuka, dan menampilkan sosok Pemuda yang tidak
jauh umurnya denganku. Aku pun langsung mem-pause gawaiku dan duduk di
pinggir ranjang.

“Syamsi, tidak bisakah kau tinggalkan sebentar acara menontonmu itu? Hari ini
kau libur, harusnya ini kesempatanmu untuk membantu ibu, bukan malah
bermalas-malasan dengan aktivitasmu yang tidak berguna itu,” ucapnya. Dia
kakakku bernama Syukri.

“Kak, apa kau tidak bosan menceramahiku setiap pagi?” desisku.


“Kakak tidak akan menceramahimu jika saja hal yang kau lakukan itu baik,” tukas
Kak Syukri.

“Apa salah jika aku menonton?”

“Syamsi, apa kau sadar? Waktumu lebih banyak kau habiskan dalam hal-hal tidak
berguna, banyak waktumu kau buang cuma-cuma, hanya untuk melihat idola-
idolamu yang sangat kau banggakan itu. Jadi, masih pantaskah kau bertanya
tentang salahmu menonoton?”

“Kak, aku ini masih muda. Jadi, tidak masalah kalau aku habisin waktu aku
dengan hobiku sendri”

“Jadi, kalau kau masih muda, kau bebas melakukan hal-hal tidak bermanfaat? Kau
tahu berapa lama kau hidup?”

“Kak. Apa salah jika aku menyukai mereka? Kenapa kalian membenci hal yang
kusuka. Kenapa?” ucapku, menahan tangis.

“Caramu menyukai mereka salah, Syamsi. Kau terlalu berlebihan dalam


menggemari mereka,” sahutnya. “Kakak tanya, apa tadi kau Sholat subuh? Pasti
tidak. Kau melakukan hal-hal dari bisikan iblis dan kau mengabaikan panggilan
dari Tuhanmu sendiri,” sambung, Kak Syukri.

Sungguh perkataan itu seperti beribu duri yang menusukku secara bertubi-
tubi. Sungguh sakit. Perkataan kakakku benar. Aku selalu mengabaikan panggilan
Tuhanku, aku bahkan tidak peduli dengan suara-suara yang kelak akan
menolongku di akhirat nanti. Aku mengabaikannya. Aku hanya bisa tertunduk
menagis. Aku memikirkan hal yang selama ini kujalani. Jujur, aku belum sanggup
untuk meninggalkan dunia-dunia fana yang selama ini selalu aku ikuti.

“Kakak tidak memaksamu meninggalkan hal-hal itu sekarang. Tetapi, kakak


mohon, perlahan-lahan berusahalah agar kau bisa meninggalkan hal-hal yang
tidak baik itu. Sadarlah, Syamsi. Bukan mereka yang akan menolongmu di akhirat
kelak,” ucap Kak Syukri.
“ Jujur Kak, itu sangat sulit bagiku,” ucapku menangis.

“Perlahan-lahan, Syamsi. Ada Allah yang membantumu. Jika kau bersungguh-


sungguh ingin berubah, Allah tidak mungkin tidak membantumu selagi kau benar-
benar ingin berubah,” ucapnya.

“Bagaimana jika aku tidak bisa, Kak?”

“Kau pasti bisa, kakak yakin itu. Step by step Syamsi,” ucap Kak Syukri
menyakinkanku.

“Akan kucoba Kak, walaupun sulit,” sahutku. Kak Syukri pun menghampiriku
dan memelukku.

“Kau adik kakak. Kakak tidak ingin kau terjerumus dalam kesalahan yang akan
membuatmu menyesal kelak. Doamu untuk masa mudamu ini, adalah perubahan.
Berubalah jadi orang yang berguna Syamsi, jauhi hal-hal yang merugikan dirimu
sendiri.”

Aku membalas pelukan kakakku, dengan deras air mata yang tidak kunjung
berhenti “Terima kasih Kak sudah mengingatkanku akan hal-hal yang tidak baik
kulakukan,” ucapku.

“Usahamu ada dalam doamu, Syamsi. Berdoa dan yakinlah jika kau bisa
melakukannya.”

Aku pun mengangguk dalam pelukan kakakku. Aku ingin berubah. Itu
keyakinanku dan doaku.
KONTRIBUTOR

Namaku adalah Nurhayati Rochmah. Aku tinggal di Karanganyar, Jateng. Anda


bisa menghubungiku melalui:
Email: rochmahn43@gmail.com
Facebook: nurhayati rochmah
Instagram: @rochmahnurhayati
Usiaku 17 tahun, sekarang aku masih kelas 11 SMA dan aku suka menulis.
Sekarang aku juga senang dalam ikut serta dalam event literasi.

Namaku Muti’atun Himmatul Khoiriyah. Aku beralamat di desa Tulusrejo RT 01


RW 02, kecamatan Grabag, Kabupaten Purworejo. Usiaku 16 tahun. Aku
bersekolah di MAN Purworejo. Aku bercita-cita menjadi seorang penulis.
Aris Setiyanto lahir dan tinggal di kota kecil namun indah bernama Temanggung
di Jawa Tengah. Saat ini masih aktif menulis di blog pribadinya
arisnohara.wordpress.com.

Nur Laili Febrianti gadis kelahiran Pasuruan, 15 Februari 2001 yang akrab disapa
Febri oleh orang sekitar. Merupakan anak nomor 2 dari 3 bersaudara. Menyukai
dunia kepenulisan sejak duduk di bangku SD terutama membaca.Terjun untuk
menulis baru Ia mulai ketika duduk di kelas 2 SMK awal semester ganjil hingga
sekarang. You can find her on:

Instagram : @nurlaili_febrianti

Facebook : Febri

Namaku Julia Santi, putri bungsu dari tiga bersaudara. Biasa dikenal sebagai gadis
sederhana, yang mencoba mengekspresikan diri dalam dunia sastra. Dan
menempuh pendidikan di STKIP PGRI Lubuklinggau dengan program studi
Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia.
Hai perkenalkan namaku Tania Luthfi Chintiani biasa dipanggil Tania, Nia, Yaya.
Hobi stalking tetapi tidak suka stalking mantan. Pecinta Blackpink tetapi tidak
suka Korea. Salam kenal.

Namaku Octavianney. Usiaku 18 tahun. Lahir di Cilacap, 27 Oktober 2000. Anak


pertama dari Sarno Hadi Handoyo dan Tursini. Baru lulus sekolah tahun 2018 dan
baru belajar menulis.

Nama saya Syura Arnis, anak ke-2 dari empat bersaudara yang dilahirkan 18
tahun yang lalu, tepatnya pada tanggal 06 oktober 2000 di Lhokseumawe, Aceh.
Ini untuk pertama kalinya saya kembali memulai menulis lagi, saya harap naskah
saya kali ini dapat menjadi langkah awal untuk mengasah kemampuan saya dalam
bidang menulis dan dalam dekade berikutnya saya harap agar bisa lebih mahir
dalam hal menulis.

Nama lengkapku Asriyati sarifah Fajrina, lahir di Kendal 18 Juni 2000,


dibesarkan di Sragen, suka menulis cerpen dan mendengarkan musik.

Herni Widiastuti Yanuarsasi, namaku sejak kecil, dan biasa di panggil si Widi
Cepret, karena aku terlahir bulan Januari, tanggal 14, tahun 1975, di kota kecil
Pasuruan Jawa Timur. Motivasiku, biarkan cacat tubuhku, tetapi utuh karyaku,
membuat senang hati orang lain itu adalah seni yang maju, dan tetap semangat
berjuang demi impian cita-citaku, meski tanpa henti menatap risau dalam diamku,
berkerja, berkarya, dan berdoa mohon keberkahan dari Allah SWT.

Email : yunusalansori@gmail.com
Akun FB : Widi Astuti

Perkenalkan nama saya Sarma Ida Aulia, anak sulung dari 2 bersaudara, lahir di
Banjarmasin, 14 Januari 2004, saya sekolah di SMKN 4 Banjarmasin dengan
bidang keahlian Tata Boga. Saya baru saja menekuni dunia sastra setelah saya
masuk sekolah SMK. Judul cerita yang saya buat adalah 'Kucuri Itu Bulan' yang
saya buat sendiri.

Halo! Salam kenal dari cewek stalker. Perkenalkan namaku Kumala Lesifani,
biasa dipanggil Fani, Kum, dan Kumala. Hobi membaca, menulis dan juga
stalking. Ig : @kumalafani_ wp : @kumalafani fb : @kumala fani, jangan lupa
follow nanti ku follback. Oke, see you!

Kharisma Auliya Firdaus. Seorang amatir yang butuh asupan tentang kepenulisan.

Nama Lengkap : Elysa Saraswaty Kusumah

Tempat tanggal lahir : 21 Desember 1998

Instansi : IAIN Syekh Nurjati Cirebon, jurusan PAI SMT VI.

Nomor HP : 0895 1800 0270 (Whatsapp)

Alamat Email : elisacute68@gmail.com

Akun Media Sosial : elysa_kusumah (ig)

Elysa Saraswaty Kusumah (fb)

Kamila Aisha adalah nama pena dari pemilik nama asli Mila Santika. Lahir di
Bandung, 16 Juni 2002. Tempat tinggal saat ini Soreang kabupaten Bandung.
Bercita-cita sebagai penulis, karena kecintaannya terhadap sastra. Menurutnya
menulis adalah cara komunikasi terbaik, dengannya ia bisa menyampaikan apa
yang ingin ia sampaikan. Karya pertamanya berjudul “Tersesat dalam Dosa”
mampu meraih juara 3 di salah satu Event menulis. Ia mempunyai moto hidup
“Berdakwah melalui tulisan”. Sahabat yang ingin bersilaturahmi dengannya dapat
melalui e-mail kamila.aisha02@gmail.com atau WA 085838981295.

Penulis dengan nama pena Yeni Chan Niswa ini lahir di kota angin Nganjuk pada
08 April 2000. Dia mempunyai nama lengkap Yeni Sri Purwati. Alamat rumahnya
ada di Dusun Gayu Desa Mlilir kecamatan Berbek Kabupaten Nganjuk. Penulis
bisa dihubungi melalui, (Facebook) Yeni Chan Niswa II, (Instagram)
@yeniniswa8, (Surat elektronik) yeniniswasharma@gmail.com.

Namaku Guspina, lahir di Tebas Sungai, 26-01-2002. Saya termotivasi karena


banyak  cerpen, novel, dan komik yang saya baca dan itu juga merupakan hobi
saya. Jadi, saya tertarik juga untuk membuat karya seperti mereka.

Namaku Mining lahir di Blora, 28 Mei 2000. Saya terinspirasi oleh karya-karya
orang yang sangat menyentuh hati saya, jadi saya mencoba bagaimana rasa
menjadi seorang penulis dan saya tahu bahwa menjadi seorang penulis tidak
mudah harus memperhatikan dalam merangkai kata yang ingin di tulis.

Nama Tetty Septiyani. lahir di kota Cirebon, September 1996. Lulus akademi
kebidanan dan meraih gelar Amd.Keb di usia ke 20 tahun. Karyanya pernah lolos
dibukukan oleh salah satu penerbit mayor, dan menjadi buku antologi pertamanya.
Pernah meraih juara menulis di beberapa event.

Nama Nadyla Wavira, gadis pemimpi yang lahir pada 18 mei 2002. Mencintai
sastra semenjak SMP namun tekun ketika duduk pada bangku SMA. Gadis ini
masih perlu banyak belajar dan bimbingan, sebab sampai detik ini, ia belum bisa
menjadi penulis yang membanggakan meski beberapa kali mendapat predikat
juara satu cipta cerpen. Gadis ini sangat mencintai warna kuning dan pelangi,
begitu senang menikmati kopi susu hangat dan makanan pedas, dan memiliki
impian menjadi penulis hebat yang bisa bermanfaat. Mari berkenalan di akun
wattpadnya : @Nadyldil dan Ig : @nadyla_waviraa

Cinthya Wardani gadis remaja yang lahir di sebuah kota kecil Jawa Timur, Ngawi
pada tanggal 14 April 2001. Gadis yang duduk dikelas XII di SMKN 1 Ngawi ini
mempunyai hobi menonton drama Korea, membaca buku dan tentunya berkhayal.
Dan menemukan banyak inspirasi dari kegiatan tersebut. Ia dapat dihubungi
melalui Instagram: @cinthya.wardani dan Facebook: Cinthya Aprilia

Nama : Santi Febriana


TTL : Grobogan, 08 Januari 1995
Alamat : Purwodadi, Grobogan, Jawa Tengah
Sosmed : Santi Febryanna
Telp. : 087722155816
Email : santife866@gmail.com

Nama : Nurmala

Tempat, tgl lahir : Sumedang, 05 November 1998

Alamat : kp. Naringgul 02/04 desa Sawahdadap (Sumedang-Bandung Barat)

Sosmed :Ig : nurm1105

Fb : Nurmala

Line : nuryuki

Emilia Nur Maghfiroh beralamatkan di jalan Ki Hajar Dewantara RT 02 RW 01


Ledok Kulon Bojonegoro, fb: Emilia Nur Maghfiroh email:
enurmaghfiroh@gmail.comnomor yang bisadihubungi: 089542332661

MilakArt, gadis kelahiran 20 November 2000. Si penyayang hewan terutama


kucing ini mempunyai banyak hobi diantaranya; menulis, membaca,
menggambar, memasak,memanjat, menyanyi (namun suaranya jauh dari
ekspektasi), dan masih banyak hobi lainnya. Dia terlihat kaku dan jutek namun
sebenarnya hangat. Sehangat senja.

Nama : Nursyamsi Kitta


Umur : 17 Tahun

Jenis Kelamin : Perempuan

Akun Ig : Syamsi_Kitta19

Akun Fb : Nur Syamsi Kitta

Akun Wattpad : Nursyamsi_Kitta0606

SINOPSIS
Cinta. Siapa yang tahu dia akan datang dan pergi? Tanpa tanda dan tanpa
syarat. Kadang perasaan tersebut membuncah muncul dari dalam hati. Baik itu
karena pandangan pertama, sentuhan yang lama, atau karena merasa memiliki
perasaan yang sama. Namun, terkadang kita sulit membedakan apakah itu benar-
benar cinta atau hanya ketertarikan semata.

Benarkah jika seseorang yang berani mencintai harus siap tersakiti?

Ini adalah sebuah buku kumpulan cerpen tentang lika-liku cinta, menerka
rasa, dan meluapkan emosi sebab cinta yang hilang tiba-tiba dan pergi tanpa
pamit.