Anda di halaman 1dari 11

KANDIDIASIS KUTIS

A. DEFINISI
Kandidiasis atau kandidosis merupakan infeksi kulit yang disebabkan
oleh jamur genus Candida, paling sering oleh Candida albicans. Infeksi oleh
kandida dapat mengenai bagian tubuh mana saja, namun umumnya di kulit,
mukosa, kuku, atau saluran cerna serta dapat menyebabkan penyakit
sistemik.1,2
Kandidiasis kutis ini mengenai kulit, daerah intertriginosa yang lembab
seperti infra mamae, lipat ketiak, lipat paha, intergluteal, antar jari, sekitar
kuku, dan juga dapat meluas ke bagian tubuh lainnya.1,2

B. ETIOLOGI
Jamur Candida memiiliki lebih dari 200 spesies, namun hanya 15 spesies
yang menjadi patogen pada manusia dan Candida albicans adalah spesies
yang paling sering menyebabkan kandidiasis.3 Spesies Candida lainnya yaitu
Candida glabrata, Candida parapsilosis, Candida tropicalis, Candida krusei,
Candida dubliniensis, Candida guilliermondii, Candida famata.1,4,8
Candida albicans bertanggung jawab atas sekitar 80-90% dari semua
infeksi kulit yang disebabkan oleh spesies Candida. Candida albicans ini
adalah ragi dimorfik berbentuk oval dengan diameter 2–6 × 3–9 μm yang
dapat menghasilkan budding cell, pseudohifa, dan hifa sejati.8

C. PATOFISIOLOGI
Jamur Candida merupakan organisme komensal yang biasa hidup sebagai
flora normal di kulit, membran mukosa, saluran cerna, genital, atau kavum
oral. Candida albicans merupakan spesies yang paling sering menyebabkan
kandidiasis.1,3
Kemampuan Candida albicans dapat menginfeksi host tergantung oleh
berbagai faktor termasuk faktor virulensi. C. albicans memiliki faktor
virulensi untuk merubah bentuk dari ragi menjadi hifa, ekspresi adhesin dan
invasin pada permukaan sel, thigmotropism, pembentukan biofilm, dan sekresi
enzim hidrolitik.7
C. albicans adalah jamur polimorfik, dapat berbentuk struktur spora
berdinding tebal atau klamidospora yang merupakan fase istirahat juga bisa
tumbuh baik sebagai ragi berbentuk elips memanjang bersekat (pseudohifa)
atau sebagai hifa sejati. Dalam bentuk ragi pseudohifa dan hifa merupakan
bentuk yang penting dalam infeksi.7
Karena epidermis kulit terdiri dari lapisan epitelium berkornifikasi dan
memiliki lapisan keratinosit yang menjadi barier maka untuk menerobos barier
tersebut jamur harus mengadakan penetrasi aktif.5 Candida albicans dalam
bentuk ragi atau yeast akan menempel pada permukaan sel host dengan
mengekspresikan adhesin. Pada bentuk ragi C. albicans merupakan organisme
komensal. Kontak dengan sel host akan memicu perubahan ragi menjadi hifa
dan memicu pertumbuhan melalui thigmotropisme. Ekspresi invasin akan
menyebabkan aktivasi endositosis sehingga hifa akan masuk ke sel. Adhesi,
kekuatan fisik jamur, dan sekresi enzim aspartic ptrotease (Saps) untuk
menghancurkan barier kulit telah diketahui menjadi mekanisme lain dalam
melakukan invasi.7

D. FAKTOR PREDISPOSISI
Penentu utama dari kolonisasi jamur non-patogen dengan jamur yang
patogen adalah keseimbangan antara proliferasi jamur dan sistem imun host.
Keseimbangan ini akan terganggu dalam jika terdapat berbagai faktor
predisposisi yang mendukung berkembangnya jamur Candida. Jamur Candida
akan menyebabkan infeksi jika terdapat faktor predisposisi baik endogen
maupun eksogen.2,8
1. Perubahan fisiologik
a. Kehamilan
b. Menstruasi
c. pH vagina rendah
d. Debilitas
e. Umur: orang tua dan bayi lebih berisiko karena status
imunologiknya tidak sempurna
2. Imunodefisiensi: penyakit genetik, infeksi HIV, defisiensi
myeloperoksidase, neutropenia, sindrom hiper IgE, penyakkit
imunosupresif lainnya
3. Dermatosis: psoriasis, dermatitis kontak
4. Penyakit endokrin: DM, cushing disease, hipoparatiroidisme,
hipoadrenalisme, hipotiroidisme
5. Iatrogenik: kateter dan IV line, agen imunosupresif, antibiotik broad
spectrum, kontrasepsi oral dengan esterogen, terapi radiasi,
glukokortikoid
6. Penyakit sistemik: down sindrom, uremia, acrodermatitis
enteropathica, Sjögren sindrom
7. Mekanikal dan lingkungan: trauma (luka bakar, abrasi), oklusi,
lembab, maserasi, gigi palsu, pakaian oklusif, obesitas
8. Nutrisi: defisiensi vitamin, defisiensi besi, malnutrisi, tinggi
karbohidrat
9. Perspirasi meningkat akibat iklim, panas, dan kelembapan
10. Kebersihan kulit yang buruk
11. Kebiasaan berendam dalam air yang terlalu lama menimbulkan
maserasi dan memudahkan masuknya jamur
12. Kontak dengan penderita, misal pada thrush dan balanopostittis

E. KLASIFIKASI
1. Kandidiasis Lokalisata
a. Kandidiasis Intertriginosa
Terjadi di daerah lipatan seperti lipatan ketiak, lipat paha,
intergluteal, lipat payudara, lipatan antar jari, glans penis dan
umbilikus yang merupakan tempat predileksi Candida albicans karena
daerah tersebut lebih lembab dan hangat.2
Erupsi kulit gatal dengan lesi berupa bercak eritematosa, berbatas
tegas, bersisik, dan basah. Lesi tersebut dikelilingi lesi-lesi satelit
berupa papul, vesikel, dan pustul kecil. Pustul dapat membesar dan
pecah yang menjadi kolaret dengan dasar eritem dan sisik yang mudah
dilepas dan dapat berlanjut menjadi maserasi dan fisur.1,2
Keadaan seperti obesitas, diabetes mellitus, memakai baju dengan
bahan yang oklusif, dan faktor pekerjaan, hiperhidrosis, lembab,
penggunaan antibiotik dapat meningkatkan kandidiasis
intertriginosa.1,8
Kandidiasis intertriginosa juga sering menyerang sela-sela jari
tangan maupun kaki yang disebut kandidiasis interdigitalis.
Kandidiasis interdigital terutama sering terjadi disela jari ke 3 dan 4 di
mana kondisi yang lembab antar jari dianggap menjadi penyebabnya.
Gambaran klinis akan tampak erosi kemerahan dengan fisura
berwarna keputihan ditengahnya.1

Gambar 1. Kandidiasis intertriginosa pada lipatan payudara


Gambar 2. Kandidiasis interdigitalis atau Erosio interdigitalis
blastomycetica

b. Kandidiasis Perianal
Kandidiasi yang terjadi di daerah perianal dengan lesi berupa
maserasi seperti infeksi dermatofit tipe basah dan menimbulkan
pruritus ani.2
Infeksi kandidiasis pada bayi di daerah perianal dikenal dengan
kandidiasis popok atau diaper rash atau candidal diaper dermatitis.
Kandidiasis popok terjadi karena kolonisasi jamur di saluran cerna dan
oklusi kronik popok yang basah yang tidak segera diganti. Awal
erupsi akan tampak kemerahan di regio perianal meluas ke perineum
dan lipat inguinal.1 Lesi berupa patch eritem dikelilingi lesi satelit
pustul eritem multipel dengan deskuamasi.8
Kandidiasis popok sering terjadi sebagai infeksi sekunder pada
dermatitis popok. Normalnya jumlah jamur kandidia di area popok
sangat sedikit dan berasal dari flora normal di saluran cerna. Namun
pada dermatitis popok, jumlah jamur kandida dapat meningkat tajam
sehingga menyebabkan kanididiasis. Hal tersebut terjadi akibat feses
dan urin pada popok yang lama tidak diganti akan menyebabkan iritasi
pada kulit dan pada feses terdapat enzim proteinase dan lipase yang
dapat merusak barier kulit.5,6
2. Kandidiasis Generalisata
Merupakan bentuk yang jarang terjadi pada kandidiasis kutis. Lesi
terdapat pada kulit glabrosa, dapat terjadakibat perluasan kanididiasis
intertriginosa. Manifestasi klinis berupa erupsi yang menyebar diawali
adanya vesikel dan pustul yang menyebar konfluen membentuk plak
dikelilingi lesi satelit dan dapat disertai skuama atau sisik pada area dada,
badan, dan ekstremitas.1,2
3. Paronikia Kandidia dan Onikomikosis
Infeksi kandida di kuku dan kulit sekitar lipatan kuku sering terjadi
pada orang dengan diabetes mellitus dan pekerjaan yang berhubungan
dengan air seperti asisten rumah tangga, pemancing, bartender, pembuat
roti. Pada paronikia lesi berupa kemerahan, pembengkakan yang tidak
bernanah dan nyeri disertai retraksi kultikula ke arah lipat kuku
proksimal.1,2
Pada onikomikosis kandida kelainan kuku berupa onikolisis,
terdapat penebalan kuku, mengeras, lekukan transversal, tidak rapuh, tetap
berkilat, tidak terdapat debris di bawah kuku dan berwarna kecoklatan.1,2

4. Kandidiasis Kutis Granulomatosa


Penyakit ini sering menyerang anak-anak. Lesi berupa papul
kemerahan tertutup krusta tebal berwarna kuning kecoklatan dan melekat
pada dasarnya. Krusta dapat menimbul seperti tanduk sepanjang 2 cm,
lokalisasinya sering terdapat di muka, kepala, kuku, badan, tungkai, dan
faring.2

F. DIAGNOSIS BANDING
1. Kandidias lokalisata dengan:
a. Dermatitis Kontak Iritan
Reaksi peradangan kulit nonimunologik yang terjadi langsung
tanpa didahului proses sensitasi. Kelainan kulit akibat kerusakan sel
disebabkan oleh bahan iritan fisik atau kimiawi. Gambaran klinis
bergantung pada jenis iritan dan pola pajanan dapat berupa eritem,
skuama, vesikel, pustul, dan erosi. Pemeriksaan menggunakan uji
tempel dengan bahan yang dicurigai, respon iritan akan cenderung
menurun (decrescendo) pada pembacaan kedua.2
b. Dermatofitosis
Penyakit pada jaringan yang mengandung zat tanduk yang disebabkan
oleh jamur dermatofita. Kelainan kulit bermacam-macam, bagian tepi
lesi lebih aktif daripada bagian tengah (centra healing). Penderita
merasa gatal dan kelainan berbatas tegas. Pada pemerikssan sediaan
basah dengan KOH tampak hifa panjang bersekat & bercabang
(Bamboo-like hifa) dan spora berderet (arthrospora).1,2
c. Psoriasis
Penyakit autoimun bersifat kronik dengan gambaran bercak eritema
berbatas tegas dengan skuama kasar berlapis-lapis dan transparan,
disertai fenomena tetesan lilin, Auspitz sign dan fenomena koebner.
Pada psoriasis inversa (psoriasis flekxural) tempat predileksi pada
daerah intertriginosa dengan lesi minimal skuama dan berwarna merah
merona, mengkilap dan berbatas tegas.1,2
d. Eritrasma:
Infeksi kulit akibat bakteri Corynebacterium minutissimum dengan
lesi berupa makula atau patch eritematosa hingga coklat, berbatas tegas,
dengan skuama halus di atasnya. Tempat predileksinya di daerah lipatan
yang tertutup seperti inguinal, aksila, intergluteal, infa mamae,
umbilikus, dan sela-sela jari. Lesi biasanya asimtomatik, kecuali di
daerah selangkangan yang biasanya terasa gatal dan menyengat.
Pemeriksaan dilakukan dengan lampu wood dan sediaan langsung.
Lampu wood akan terlihat fluoresensi berwarna merah coral (coral-
red). Pada sediaan langsung kerokan kulit dengan pewarnaan gram akan
terlihat bakteri basil kecil, halus, bercabang dan mudah putus. 2,9
e. Dermatitis Seboroik
Kelainan kulit papuloskuamosa dengan predileksi di kulit kepala,
telinga, wajah, dada, dan intertriginosa (inguinal, inframamae, aksila).
Penyebab belum diketahui, biasanya berhubungan dengann jamur
Mallassezia furfur, gangguan imunologis, dan aktivitas glandula
sebasea. Pada bayi sering terjadi di kulit kepala atau disebut cradle cap,
lesi berupa plak berskuama kekuningan dan berminyak, umumnya tidak
gatal. Pada anak dan dewasa biasanya keluhan berupa plak eritematosa
superfisial dengan skuama halus.1,2
2. Kandidiasis kuku dengan:
a. Tinea Unguium
Merupakan kelainan kuku yang disebabkan oleh jamur dermatofita.
Memiliki 3 bentuk klinis yaitu subungual distalis, leukonikia trikofita,
dan subungual proksimalis.2

G. PEMERIKSAAN
1. Pemeriksaan Langsung
Pemeriksaan langsung dengan mikroskop merupakan cara yang
paling mudah dan murah. Pemeriksaan dengan kerokan kulit atau usapan
mukokutan diperiksa dengan larutan KOH 10% atau dengan pewarnaan
gram metilen-blue. KOH digunakan untuk melarutkan sel kulit tanpa
merusak sel Candida. Terlihat spora bulat (blastospora), pseudohifa, atau
hifa bersepta.1,2,11
Gambar 3. Gambaran blastospora dan pseudohifa pada preparat Candida
dengan KOH

2. Pemeriksaan Biakan
Bahan yang akan diperiksa ditanam dalam agar dekstrosa glukosa
Sabouraud, dapat juga ditambahkan antibiotik (kloramfenikol) untuk
mencegah pertumbuhan bakteri. Perbenihan disimpan dalam suhu kamar
atau lemari suhu 37ᴼ C, koloni akan tumbuh selama 24-48 jam berupa
yeast-like colony. Identifikasi Candida albicans dilakukan dengan
membiakkan tumbuhan tersebut pada corn meal agar.2

H. TATALAKSANA
1. Topikal 2,12
a. Golongan imidazol selama 2-4 minggu
 Mikonazol 2% krim atau bedak
 Klotrimazol 1% krim, bedak atau larutan
 Ketokonazol 1-2% krim
b. Nistatin 100,000 U/g berupa krim, salep, emulsi
c. Larutan ungu gentian ½ - 1% untuk mukosa, 1-2% untuk kulit
dioleskan 2-3x/hari
2. Sistemik11
a. Flukonazol 50 mg/hari atau 150 mg/minggu selama 2-4 minggu
b. Terbinafin 500 mg/hari selama 4 minggu
c. Ketokonazol 200 mg/hari selama 2-4 minggu
d. Itrakonazol 100-200 mg/hari 12

I. PROGNOSIS
Prognosis bergantung pada keparahan penyakit dan ada tidakya penyakit
sistemik yang mendasari. Prognosis secara umum baik, namun relaps dapat
terjadi pada kepatuhan berobat yang buruk, faktor risiko yang tidak diatasi dan
adanya faktor predisposisi.13
Quo ad vitam : bonam
Quo ad functionam : dubia ad bonam
Quo ad sanactionam : dubia ad bonam

DAFTAR PUSTAKA

1. Kundu RV, Garg A. Candidiasis. Dalam : Fitzpatrick. Dermatology in


General Medicine. Ed 8th. New york. McGraw Hill Company. 2012. p: 2298-
307.
2. Kuswadji. Kandidosis. Dalam : Djuanda A., Hamzah  M., Aishah S., Ilmu
Penyakit Kulit dan Kelamin. Edisi V, Balai Penerbit Fakultas Kedokteran
Universitas Indonesia, Jakarta, 2009. Pp:106-109
3. Palese E, Nudo M, Zino G, et al. Cutaneous candidiasis caused by Candida
albicans in a young non-immunosuppressed patient: an unusual
presentation. Int J Immunopathol Pharmacol. 2018;32:2058738418781368.
4. Raz-Pasteur A, Ullmann Y, Berdicevsky I. The pathogenesis of Candida
infections in a human skin model: scanning electron microscope
observations. ISRN Dermatol. 2011;2011:150642.
5. Kühbacher A, Burger-Kentischer A, Rupp S. Interaction of Candida Species
with the Skin. Microorganisms. 2017;5(2):32. 
6. Bonifaz A, Rojas R, Tirado-Sánchez A, et al. Superficial Mycoses Associated
with Diaper Dermatitis. Mycopathologia. 2016;181(9-10):671‐679.
7. Mayer FL, Wilson D, Hube B. Candida albicans pathogenicity
mechanisms. Virulence. 2013;4(2):119‐128. 
8. Metin A, Dilek N, Bilgili SG. Recurrent candidal intertrigo: challenges and
solutions. Clin Cosmet Investig Dermatol. 2018;11:175‐185.
9. Kalra MG, Higgins KE, Kinney BS. Intertrigo and secondary skin
infections. Am Fam Physician. 2014;89(7):569‐573.
10. Hani, U., Shivakumar, H., Vaghela, R., M. Osmani, R., & Shrivastava,
A. Candidiasis: A Fungal Infection- Current Challenges and Progress in
Prevention and Treatment. Infectious Disorders - Drug Targets. 2015. 15(1),
42–52.
11. Taudorf EH, Jemec GBE, Hay RJ, Saunte DML. Cutaneous candidiasis - an
evidence-based review of topical and systemic treatments to inform clinical
practice. J Eur Acad Dermatol Venereol. 2019;33(10):1863‐1873.
12. High WA, Fitzpatrick JE. Topical Antifungal Agents. Dalam : Fitzpatrick.
Dermatology in General Medicine. Ed 8th. New york. McGraw Hill
Company. 2012. p: 2677-84
13. Perdoski. Panduan praktik klinis bagi dokter spesialis kulit dan kelamin di
Indonesia. Jakarta: Perdoski. 2017. pp 70-73