Anda di halaman 1dari 13

LAPORAN INDIVIDU

LAPORAN PENDAHULUAN PADA NY “J” DENGAN

DIAGNOSA ASMA DI RUANG RINRA SAYANG II

RSUD HAJI MAKASSAR

Oleh :
Meysie Priskila Pajula S.Kep
NS0619098

CI Lahan CI Institusi

(..……………………………) (……………………………...)

PROGRAM STUDI NERS


SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN (STIKES)
NANI HASANUDDIN MAKASSAR
2020
LAPORAN PENDAHULUAN ASUHAN KEPERAWATAN

1.1 Laporan Pendahuluan


1.1.1 Konsep penyakit/ Kasus
1.1.2 Definisi Kasus
Asma merupakan gangguan inflamasi kronik pada saluran nafas
yang melibatkan banyak sel-sel inflamasi seperti eosinofil, sel mast,
leukotrin dan lain-lain. Inflamasi kronik ini berhubungan dengan
hiperresponsif jalan nafas yang menimbulkan episode berulang dari
mengi (wheezing), sesak nafas, dada terasa berat dan batuk terutama
pada malam dan pagi dini hari. Kejadian ini biasanya ditandai dengan
obstruksi jalan napas yang bersifat reversibel baik secara spontan atau
dengan pengobatan(Wijaya & Toyib, 2018)
Asma adalah suatu keadaan dimana saluran nafas mengalami
penyempitan karena hiperaktivitas terhadap rangsangan tertentu yang
menyebabkan peradangan. Penyempitan ini bersifat berulang namun
reversible, dan di antar episode penyempitan bronkus tersebut terdapat
keadaan ventilasi (Nuratif & Kusuma, 2015)
1.1.3 Patofisiologi
Asma akibat alergi bergantung pada respon IgE yang
dikendalikan oleh limfosit T dan B. Asma diaktifkan oleh interaksi
antara antigen dengan molekul IgE yang berkaitan dengan sel mast.
Sebagian besar alergen yang menimbulkan asma bersifat airbone.
Alergen tersebut harus tersedia dalam jumlah banyak dalam periode
waktu tertentuagar mampu menimbulkan gejala asma. Namun di lain
kasus terdapat pasien yang sangat responsif, sehingga sejumlah kecil
alergen masuk ke dalam tubuh sudah dapat mengakibatkan eksaserbasi
penyakit yang jelas.
Obat yang paling sering berhubungan dengan induksi fase akut
asma adalah aspirin, bahan pewarna seperti tartazim, antagonis beta-
adrenergik, dan bahan sulfat. Sindrom khusus pada system pernapasan
yang sensitif terhadap aspirin terjadi pada orang dewasa, namun dapat
pula dilihat pada masa kanak-kanak. Masalah ini biasanya berawal dari
rhinitis vasomotor perennial lalu menjadi rhinosinusitis hiperplastik
dengan polip nasal dan akhirnya diikuti oleh munculnya asma progresif.
Pasien yang sensitif terhadap aspirin dapat dikurangi gejalanya dengan
pemberian obat setiap hari. Setelah menjalani bentuk terapi ini, toleransi
silang akan berbentuk terhadap agen anti inflamasi nonsteroid.
Mekanisme terjadinya bronkospasme oleh aspirin ataupun obat lainnya
belum diketahui, tetapi mungkin berkaitan dengan pembentukan
leukotrien yang di induksi secara khusus oleh aspirin.
Antagonis beta-adrenergik merupakan hal yang biasanya
menyebabkan obstruksi jalan napas pada pasien asma, demikian juga
dengan pasien lain dengan peningkatan reaktivitas jalan napas. Oleh
karena itu, antagonis beta-adrenergik harus dihindarkan pada pasien
tersebut. Senyawa sulfat yang secara luas digunakan sebagai agen
sanitasi dan pengawet dalam industri makanan dan farmasi juga dapat
menimbulkan obstruksi jalan napas akut pada pasien yang sensitive.
Senyawa sulfat tersebut adalah kalium metabisulfit, kalium dan natrium,
bisulfit, natrium sulfit, dan sulfat klorida. Pada umumnya tubuh akan
terpapar setelah menelan makanan atau cairan yang mengandung
senyawa tersebut seperti salad, buah segar, kentang, dan anggur.
Faktor penyebab yang telah disebutkan diatas ditambah dengan
sebab internal pasien akan mengakibatkan timbulnya reaksi antigen dan
antibody. Reaksi tersebut mengakibatkan dikeluarkannya subtansi pereda
alergi yang sebetulnya merupakan mekanisme tubuh dalam menghadapi
serangan (Utama, 2018).
1.1.4 Pemeriksaan Penunjang
- Pemeriksaan laboratorium darah.
- Spirometer : Dilakukan sebelum dan sesudah bronkodilator hirup
(nebulizer/inhaler), positif jika peningkatan VEP/KVP >20%.
- Sputum : eosinofil meningkat.
- Rontgen Dada yaitu patologis paru/komplikasi asma.
- AGD: Terjadi pada asma berat pada fase awal terjadi hipoksemia dan
hipokapnia (PCO2 turun) kemudian fase lanjut norokapnia dan
hiperkapnia (PCO2 naik).
- Foto dada AP dan lateral. Hiperinflasi paru, diameter anteroposterior
membesar pada foto lateral, dapat terlihat becak konsolidasi yang
tersebar (Nuratif & Kusuma, 2015).
1.1.5 Penatalaksanaan Medis Terbaru
Tujuan utama penatalaksanaan asma adalah untuk meningkatkan dan
mempertahankan kualitas hidup agar penderita asma dapat hidup normal
tanpa hambatan dalam melakukan aktifitas sehari-hari. Program
penatalaksanaan meliputi 7 komponen yaitu: (Nuratif & Kusuma, 2015)
1. Edukasi
Edukasi yang baik akan menurunkan morbidity dan mortality.
Edukasi tidak hanya ditunjukkan untuk penderita dan keluarga tetapi
juga pihak lain yang membutuhkan energi pemegang keputusan,
pembuat perencanaan bidang kesehatan/asma, profesi kesehatan.
2. Menilai dan monitor berat asma secara berkala.
Penilaian klinis berkala 1-6 bulan dan monitoring asma oleh
penderita sendiri mutlak dilakukan pada penatalaksanaan asma. Hal
tersebut disebabkan berbagai faktor antara lain;
a. Gejala dan berat asma berubah, sehingga membutuhkan
perubahan terapi.
b. Pajanan pencetus menyebabkan penderita mengalami perubahan
pada asmanya.
c. Daya ingat (memori) dan motivasi penderita yang perlu di
review, sehingga membantu penanganan asma terutama asma
mandiri.
3. Identifikasi dan mengendalikan faktor pencetus.
4. Merencanakan dan memberikan pengobatan jangka panjang.
Penatalaksanaan asma bertujuan untuk mengontrol penyakit, disebut
sebagai asma terkontrol. Terdapat 3 faktor yang perlu
dipertimbangkan;
a. Medikasi asma ditujukan untuk mengatasi dan mencegah gejala
obstruksi jalan napas, terdiri atas pengontrol dan pelega.
b. Tahapan pengobatan
1) Asma intermiten, medikasi pengontrol harian tidak perlu
sedangkan alternative lainnya tidak ada.
2) Asma presisten ringan, medikasi pengontrol harian diberikan
Glukokortikosteroid inhalasi (200-400 ug Bd/hari atau
ekivalenya), untuk alternatifnya diberikan Teofilin lepas
lambat, kromolin dan leukotriene modifiers.
3) Asma persisten sedang, medikasi pengontrol harian diberikan
kombinasi inhalasi glukokortikosteroid (400-800 ug Bd/hari
atau ekivalennya), untuk alternatifnya diberikan
glukokortikosteroid inhalasi (400-800 ug Bd atau
ekivalennya) ditambah Teofilin dan di tambah antagonis-beta
2 kerja lama oral, atau Teofilin lepas lambat.
4) Asma persisten berat, medikasi pengontrol harian diberikan
inhalasi glukokortikosteroid (>800 ug Bd atau ekivalennya)
dan antagonis-beta 2 kerja lama, ditambah 1 antara lain:
Teofilin lepas lambat, Leukotriene, Modifiers,
Glukokortikosteroid oral. Untuk alternative lainnya
Prednisolo/ metilprednisolon oral selang sehari 10 mg
ditambah antagonis-beta 2 kerja lama oral, di tambah Teofilin
lepas lambat.
c. Penanganan asma mandiri (pelangi asma)
Hubungan penderita dokter yang baik adalah dasar yang kuat
untuk terjadi kepatuhan dan efektif penatalaksanaan asma.
Rencanakan pengobatan asma jangka panjang sesuai kondisi
penderita, realistic/memungkinkan bagi penderita dengan maksud
mengontrol asma.
5. Menetapkan pengobatan pada serangan akut.
Pengobatan pada serangan akut antara lain: Nebulizer antagonis beta
2 tiap 4 jam, alternatifnya antagonis beta 2 subcutan, Aminofilin IV,
Adrenalin 1/1000 0,3 ml SK, dan oksigen bila mungkin
Kortikosteroid sistemik.
6. Kontrol secara teratur.
Pada penatalaksanaan jangka panjang terdapat 2 hal yang penting
diperhatikan oleh dokter yaitu:
a. Tindak lanjut (follow-up) teratur.
b. Rujuk ke ahli paru untuk konsultasi atas penanganan lanjut bila
diperlukan.
7. Pola hidup sehat.
a. Meningkatkan kebugaran fisik
Olahraga menghasilkan kebugaran fisik secara umum. Walaupun
terdapat salah satu bentuk asma yang timbul serangan sesudah
exercise, akan tetapi tidak berarti penderita EIA dilarang
melakukan olahraga. Senam asma Indonesia (SAI) adalah salah
satu bentuk olahraga yang dianjurkan karena melatih dan
menguatkan otot-otot pernapasan khususnya, selain manfaat lain
pada olahraga umumnya.
b. Berhenti atau tidak pernah merokok
c. Lingkungan kerja
Kenali lingkungan kerja yang berpotensi dapat menimbulkan
asma (Nuratif & Kusuma, 2015).
1.1.6 Konsep tindakan keperawatan yang diberikan

Diagnosa
No Kriteria Hasil Intervensi
Keperawatan
1. Bersihan jalan nafas - Frekuensi napas Observasi
berhubungan dengan membaik. - Monitor pola napas
hipersekresi jalan - Pola napas Terapeutik
napas. membaik. - Posisikan semi-
Definisi : - Produksi fowler atau fowler.
Ketidakmampuan sputum - Berikan minum
membersihkan sekret meningkat hangat.
atau obstruksi jalan menjadi - Berikan oksigen,
napas untuk menurun. jika perlu
mempertahankan jalan - Mengi Edukasi
napas tetap paten. meningkat - Ajarkan teknik
(PPNI, 2017). menjadi batuk efektif (PPNI,
menurun. 2018).
- Wheezing
meningkat
menjadi
menurun.
- Dispnea
menurun.
- Gelisah
menurun (PPNI,
2019).

2. Gangguan pertukaran - Dispnea Observasi


gas berhubungan meningkat - Monitor kecepatan
dengan menjadi menurun. aliran oksigen.
ketidakseimbangan - Bunyi napas Terapeutik
ventilasi-perfusi. tambahan - Bersihkan sekret pada
Definisi : kelebihan meningkat mulut, hidung, trakea,
atau kekurangan menjadi menurun. jika perlu
oksigenasi dan/atau - Pusing meningkat - Pertahankan
eliminasi menjadi menurun. kepatenan jalan napas
karbondioksida pada - Napas cuping Kolaborasi
membrane alveolus- hidung meningkat -Kolaborasi penentuan
kapiler (PPNI, 2017). menjadi menurun. dosis oksigen (PPNI,
- Pola napas 2018).
membaik.
- PCO2 membaik
(PPNI, 2019).

3. Gangguan pola tidur - Keluhan sulit tidur Observasi


berhubungan dengan menurun. - Identifikasi pola
proses penyakit. - Keluhan pola tidur aktivitas dan tidur.
Definisi : gangguan membaik. Terapeutik
kualitas dan kuantitas - Keluhan istirahat - Modifikasi
waktu tidur akibat membaik. lingkungan (mis.
faktor eksternal(PPNI, - Kemampuan Pencahayaan,
2017). beraktifitas kebisingan, suhu,
meningkat (PPNI, matras, dan tempat
2019). tidur).
Edukasi
- Jelaskan pentingnya
tidur cukup selama
sakit.
- Ajarkan relaksasi
otot autogenic atau
cara nonfarmakologi.

1.2 Pengkajian
a. Data umum pasien
Nama,Umur,Jenis Kelamin,Agama,Suku,Pendidikan,Pekerjaan,Status
Pernikahan,Alamat, No. Medical Record ,Diagnosa Medis,Tanggal
Pengkajian ,Tanggal Masuk RS.
b. Informan keluarga
Nama,Umur,Jenis Kelamin,Hubungan dengan Pasien .
c. Genogram
d. Riwayat kesehatan
Keluhan utama,Riwayat keluhat utama,riwayat penyakit, riwayat opname,
riwayat kesehatan sekarang, riwayat alrgi,riwayat medikasi,kesdaran
e. Pemeriksaan fisik (Head to toe)
f. Kebutuhan dasar
g. Pengkajian resiko jatuh
h. Data focus
i. Pemeriksaan diagnostic
j. Psikososial
k. Patofisiologi keperawatan
l. Analisa data
1.3 Diagnosis keperawatan
1. Bersihan jalan nafas berhubungan dengan hipersekresi jalan napas.
2. Gangguan perukaran gas berhubungan dengan ketidakseimbangan
ventilasi-perfusi
3. Gangguan pola tidur berhubungan dengan proses penyakit.
1.4 Rencana asuhan keperawatan

Diagnosa
No Kriteria Hasil Intervensi
Keperawatan
1. Bersihan jalan nafas - Frekuensi napas Observasi
berhubungan dengan membaik. - Monitor pola napas
hipersekresi jalan - Pola napas Terapeutik
napas. membaik. - Posisikan semi-
Definisi : - Produksi fowler atau fowler.
Ketidakmampuan sputum - Berikan minum
membersihkan sekret meningkat hangat.
atau obstruksi jalan menjadi - Berikan oksigen,
napas untuk menurun. jika perlu
mempertahankan jalan - Mengi Edukasi
napas tetap paten. meningkat - Ajarkan teknik
(PPNI, 2017). menjadi batuk efektif (PPNI,
menurun. 2018).
- Wheezing
meningkat
menjadi
menurun.
- Dispnea
menurun.
- Gelisah
menurun (PPNI,
2019).

2. Gangguan pertukaran - Dispnea Observasi


gas berhubungan meningkat - Monitor kecepatan
dengan menjadi menurun. aliran oksigen.
ketidakseimbangan - Bunyi napas Terapeutik
ventilasi-perfusi. tambahan - Bersihkan sekret pada
Definisi : kelebihan meningkat mulut, hidung, trakea,
atau kekurangan menjadi menurun. jika perlu
oksigenasi dan/atau - Pusing meningkat - Pertahankan
eliminasi menjadi menurun. kepatenan jalan napas
karbondioksida pada - Napas cuping Kolaborasi
membrane alveolus- hidung meningkat -Kolaborasi penentuan
kapiler (PPNI, 2017). menjadi menurun. dosis oksigen (PPNI,
- Pola napas 2018).
membaik.
- PCO2 membaik
(PPNI, 2019).

3. Gangguan pola tidur - Keluhan sulit tidur Observasi


berhubungan dengan menurun. - Identifikasi pola
proses penyakit. - Keluhan pola tidur aktivitas dan tidur.
Definisi : gangguan membaik. Terapeutik
kualitas dan kuantitas - Keluhan istirahat - Modifikasi
waktu tidur akibat membaik. lingkungan (mis.
faktor eksternal(PPNI, - Kemampuan Pencahayaan,
2017). beraktifitas kebisingan, suhu,
meningkat (PPNI, matras, dan tempat
2019). tidur).
Edukasi
- Jelaskan pentingnya
tidur cukup selama
sakit.
- Ajarkan relaksasi
otot autogenic atau
cara nonfarmakologi.

1.5 Implementasi keperawatan


Implementasi adalah tahap keempat dari proses keperawatan, tahap ini
muncul jika perencanaan yang dibuat di aplikasikan pada klien. Implementasi
terdiri atas melakukan dan mendokumentasikan yang merupakan tindakan
keperawatan khusus yang digunakan untuk melaksanakan intervensi (Debora,
2017).
1.6 Evaluasi
Evaluasi adalah tahap kelima dari proses keperawatan, pada tahap ini
perawat membandingkan hasil tindakan yang telah dilakukan dengan kriteria
hasil yang sudah ditetapkan serta menilai apakah masalah yang terjadi sudah
teratasi seluruhnya, hanya sebagian, atau bahkan belum teratasi semuanya
(Debora, 2017).
1.7 Program perencanaan pulang/ discharge planning
a. Kenali allergen yang akan muncul yang dapat menimbulkan asma.
b. Pelajari cara penanganan pertama pada asma dan cara menggunakan obat-
obat asma (inhalasi).
c. Hindari faktor pemicu : kebersihan lantai rumah, debu-debu, karpet, bulu
binatang.
d. Keluarga perlu memahami tentang pengobatan, nama obat, dosis, efek
samping, dan waktu pemberian.
e. Lakukan istirahat yang cukup dan latihan, termasuk latihan nafas.
f. Bersihkan rumah sekurang-kurangnya sekali seminggu.
g. Gunakan obat asma secara teratur.
h. Hubungi dokter jika serangan asma masih timbul sesudah diobati dengan
kortikosteroid oral atau inhalasi (Nuratif & Kusuma, 2015).

DAFTAR PUSTAKA

Debora. (2017). Proses Keperawatan dan Pemeriksaan Fisik. Jakarta: Salemba Medika.
Nuratif, A. H., & Kusuma, H. (2015). Aplikasi Asuhan Keperawatan Berdasarkan
Diagnosa Medis & Nanda Nic-Noc (Edisi 2). Yogyakarta: MediAction.

PPNI, T. P. S. D. (2017). Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia Definisi dan


Indikator Diagnostik (Edisi 1). Jakarta Selatan: DPP PPNI.

PPNI, T. P. S. D. (2018). Standart Intervensi Keperawatan Indonesia Definisi dan


Tindakan Keperawatan (Edisi 1). Jakarta Selatan: DPP PPNI.

PPNI, T. P. S. D. (2019). Standar Luaran Keperawatan Indonesia Definisi dan Kriteria


Hasil Keperawatan. Jakarta Selatan: DPP PPNI.

Utama, S. Y. A. (2018). Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah Sistem Respirasi (Edisi
1). Yogyakarta: Deepublish.

Wijaya, A., & Toyib, R. (2018). SISTEM PAKAR DIAGNOSIS PENYAKIT ASMA
ALGORITME GENETIK(Studi Kasus RSUD Kabupaten Kepahiang). V, 1–11.