Anda di halaman 1dari 9

LAPORAN INDIVIDU

LAPORAN PENDAHULUAN PADA TN “K” DENGAN

DIAGNOSA HEMOROID DI RUANG POLI BEDAH

RSUD HAJI MAKASSAR

Oleh :
Meysie Priskila Pajula S.Kep
NS0619098

CI Lahan CI Institusi

(..……………………………) (……………………………...)

PROGRAM STUDI NERS


SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN (STIKES)
NANI HASANUDDIN MAKASSAR
2020
1.1 Laporan Pendahuluan
1.1.1 Konsep penyakit/Kasus
1.1.2 Definisi kasus
Hemoroid merupakan pelebaran dan inflamasi pembuluh darah
vena di daerah anus yang berasal dari plexus hemorrhoidalis. Hemoroid
eksternal adalah pelebaran vena yang berada di bawah kulit (subkutan) di
bawah atau di luar linea dentate. Hemoroid interna adalah pelebaran vena
yang berada dibawah mukosa (submukosa) di atas atau di dalam linea
dentate (Nuratif & Kusuma, 2015).
Hemoroid adalah pelebaran pembuluh darah vena pada tunika
mukosa dan tunika submukosa dari pleksus hemoroidalis internal dan
pleksus hemoroidalis eksternal. Hemorrhoid dari kata ''haima'' dan
''rheo''. Dalam medis, berarti pelebaran pembuluh darah vena (pembuluh
darah balik). Hemoroid bukan sekedar pelebaran vena hemoroidalis,
tetapi bersifat lebih kompleks yakni melibatkan beberapa unsur berupa
pembuluh darah, jaringan lunak dan otot di sekitar anorektal.1 Hemoroid
dapat disebabkan karena bendungan sentral seperti bendungan susunan
portal pada sirosis hepatic, herediter atau penyakit jantung koroner, serta
pembesaran kelenjar prostate pada pria tua, atau tumor pada
rektum2(Ayomi & Kurniawaty, 2019)
1.1.3 Patofisiologi
Patofisiologi yang tepat dari hemoroid kurang di pahami. Wasir
disebabkan oleh varises anus. Wasir berkembang ketika jaringan
pendukung bantal anal hancur dan memburuk. Ada 3 bantalan besar
pada anal, terletak di anterior kanan, posterior kanan dan sebelah lateral
kiri dari lubang anus, dan berbagai jumlah bantalan kecil yang terletak di
antara keduanya. Perubahan ini meliputi dilatasi vena yang abnormal,
thrombosis pembuluh darah, proses degeneratif pada saat serat kolagen
dan jaringan fibroelastik, distorsi dan pecahnya otot subepitel anal.
Reaksi inflamasi yang melibatkan dinding pembuluh darah dan jaringan
ikat sekitarnya telah di buktikan dalam specimen hemoroid dengan
terkait ulserasi mukosa, iskemia dan thrombosis. Umumnya perdarahan
merupakan tanda pertama dari hemoroid interna akibat trauma oleh feses
yang keras. Darah yang keluar berwarna merah segar tidak tercampur
dengan feses. Hemoroid yang membesar secara perlahan-lahan akhirnya
dapat menonjol keluar menyebabkan prolaps. Pada tahap awal
penonjolan ini hanya terjadi pada waktu defekasi. Pada stadium lebih
lanjut, hemoroid interna ini pelru didorong kembali ke dalam anus. Pada
akhirnya hemoroid dapat berlanjut menjadi bentuk yang mengalami
prolaps menetap dan tidak bias di dorong masuk lagi (Sudarsono, 2015).
1.1.4 Pemeriksaan penunjang
1. Pemeriksaan colok dubur.
Diperlukannya untuk menyingkirkan kemungkinan karsinoma
rectum. Pada hemoroid interna tidak dapat diraba sebab tekanan vena
di dalamnya tidak cukup tinggi dan biasanya tidak nyeri.
2. Anoskopi.
Diperlukannya untuk melihat hemoroid interna yang tidak menonjol
keluar.
3. Proktosigmoidoskopi.
Untuk memastikan bahwa keluhan bukan disebabkan oleh proses
radang atau proses keganasan di tingkat yang lebih tinggi (Nuratif &
Kusuma, 2015).
1.1.5 Penatalaksanaan medis.
1. Penatalaksanaan konservatif
a. Koreksi konstipasi jika ada, meningkatkan konsumsi serat,
laksatif, dan menghindari obat-obat yang dapat menyebabkan
konstipasi seperti kodein.
b. Perubahan gaya hidup lainnya seperti meningkatkan konsumsi
cairan, menghindari konstipasi dan mengurangi mengejan saat
buang air besar.
c. Kombinasi antara anestesi lokal, kortikosteroid, dan antiseptic
dapat mengurangi gejala gatal-gatal dan rasa tak nyaman pada
hemoroid. Penggunaan steroid yang berlama-lama harus di
hindari untuk mengurangi efek samping. Selain itu, suplemen
flavonoid dapat membantu mengurangi tonus vena, mengurangi
hiperpermeabilitas serta efek anti inflamasi meskipun belum di
ketahui bagaimana mekanismenya.
2. Pembedahan
Apabila hemoroid internal derajat 1 yang tidak membaik dengan
penatalaksanaan konservatif maka dapat dilakukan tindakan
pembedahan. HIST (Hemorrhoid Institute Of South Texas)
menetapkan indikasi tatalaksana pembedahan hemoroid antara lain:
a. Hemoroid internal derajat II berulang.
b. Hemoroid derajat III dan IV dengan gejala.
c. Mukosa rectum menonjol keluar anus.
d. Hemoroid derajat I dan II dengan penyakit penyerta seperti
fisura.
e. Kegagalan penatalaksanaan konservatif.
f. Permintaan pasien.
Pembedahan yang sering dilakukan yaitu:
a. Skleroterapi.
b. Rubber band ligation.
c. Infrared thermocoagulation.
d. Bipolar diathermy.
e. Laser haemorrhoidectomy.
f. Doppler ultrasound guided haemorrhoid artery ligation.
g. Cryotherapy.
h. Stappled Hemorrhoidopexy.
(Nuratif & Kusuma, 2015).
1.1.6 Konsep tindakan keperawatan yang diberikan.

Rencana Tindakan Keperawatan


No Diagnosa Keperawatan
Tujuan dan Kriteria Hasil Intervensi

1 Nyeri akut b.d agen pencera  Keluhan nyeri 3 (sedang) 1. Identifikasi


fisik ( misalnya prosedur menurun ke 5 (menurun) lokasi,karakteristik,dur
operasi)  Meringis ekspektasi 3 (sedang) asi,frekuensi,kualitas
menurun ke 5 (menurun) dan intensitas nyeri
 Gelisah ekspektasi 3 (sedang) 2. Ajarkan teknik
menurun ke 5 (menurun) nonfarmakologis untuk
Kesulitan tidur ekspektasi 3 mengurangi rasa nyeri
(sedang) menurun ke 5 3. Identifikasi skala nyeri
(menurun) Jelaskan tujuan dan
manfaat teknik napas
dalam
2 Resiko infeksi b.d organisme  Demam ekspektasi 3 (sedang) 1. Jelakan tanda dan
purulent menurun ke 5 (menurun) gejala infeksi
 Kemerahan ekspektasi 3 2. Ajarkan cara mencuci
(sedang) menurun ke 5 tangan dengan benar
(menurun) 3. Pertahankan teknik
 Nyeri ekspektasi 3 (sedang) aseptik
menurun ke 5 (menurun) 4. Monitor tanda dan
 Bengkak ekspektasi 3 (sedang) gejala infeksi
menurun ke 5 (menurun)
3 Ansietas b.d kurang terpapar  Verbalisasi kebingungan 1. Monitor tanda-tanda
informasi meningkat-menurun. ansietas.
 Verbalisasi khawatir akibat 2. Gunakan pendekatan
kondisi yang di hadapi yang tenang dan
meningkat-menurun. meyakinkan .
 Perilaku gelisah meningkat- 3. Anjurkan keluarga
menurun. untuk tetap bersama
 Perilaku tegang meningkat- pasien.
menurun. 4. Latih teknik relaksasi.
 Konsentrasi membaik.

4 Intoleransi Aktivitas b.d  Kemudahan dalam melakukan 1. Monitor lokasi dan


kelemahan aktifitas sehari-hari. ketidaknyamanan
 Kecepatan berjalan meningkat. selama melakukan
 Kekuatan tubuh bagian atas aktifitas.
meningkat. 2. Berikan aktifitas
 Perasaan lemah menurun. distraksi yang
 Tekanan darah membaik menenangkan.
3. Anjurkan melakukan
aktivitas secara
bertahap.
4. Kolaborasi dengan
ahli gizi tentang cara
meningkatkan asupan
makanan

Sumber : (Tim Pokja SDKI SLKI SIKI DPP PPNI, 2018)

1.2 Pengkajian

a. Data umum pasien


Nama,Umur,Jenis Kelamin,Agama,Suku,Pendidikan,Pekerjaan,Status
Pernikahan,Alamat, No. Medical Record ,Diagnosa Medis,Tanggal
Pengkajian ,Tanggal Masuk RS.
b. Informan keluarga
Nama,Umur,Jenis Kelamin,Hubungan dengan Pasien .
c. Genogram
d. Riwayat kesehatan
Keluhan utama,Riwayat keluhat utama,riwayat penyakit, riwayat opname,
riwayat kesehatan sekarang, riwayat alrgi,riwayat medikasi,kesdaran
e. Pemeriksaan fisik (Head to toe)
f. Kebutuhan dasar
g. Pengkajian resiko jatuh
h. Data focus
i. Pemeriksaan diagnostic
j. Psikososial
k. Patofisiologi keperawatan
l. Analisa data

1.3 Diagnosa Keperawatan


1. Nyeri akut b.d agen pencera fisik ( misalnya prosedur operasi)
2. Resiko infeksi b.d organisme purulent
3. Ansietas b.d kurang terpapar informasi
4. Intoleransi Aktivitas b.d kelemahan
1.4 Rencana Asuhan Keperawatan

Rencana Tindakan Keperawatan


No Diagnosa Keperawatan
Tujuan dan Kriteria Hasil Intervensi

1 Nyeri akut b.d agen pencera  Keluhan nyeri 3 (sedang) 4. Identifikasi


fisik ( misalnya prosedur menurun ke 5 (menurun) lokasi,karakteristik,dur
operasi)  Meringis ekspektasi 3 (sedang) asi,frekuensi,kualitas
menurun ke 5 (menurun) dan intensitas nyeri
 Gelisah ekspektasi 3 (sedang) 5. Ajarkan teknik
menurun ke 5 (menurun) nonfarmakologis untuk
Kesulitan tidur ekspektasi 3 mengurangi rasa nyeri
(sedang) menurun ke 5 6. Identifikasi skala nyeri
(menurun) Jelaskan tujuan dan
manfaat teknik napas
dalam
2 Resiko infeksi b.d organisme  Demam ekspektasi 3 (sedang) 5. Jelakan tanda dan
purulent menurun ke 5 (menurun) gejala infeksi
 Kemerahan ekspektasi 3 6. Ajarkan cara mencuci
(sedang) menurun ke 5 tangan dengan benar
(menurun) 7. Pertahankan teknik
 Nyeri ekspektasi 3 (sedang) aseptik
menurun ke 5 (menurun) 8. Monitor tanda dan
 Bengkak ekspektasi 3 (sedang) gejala infeksi
menurun ke 5 (menurun)
3 Ansietas b.d kurang terpapar  Verbalisasi kebingungan 5. Monitor tanda-tanda
informasi meningkat-menurun. ansietas.
 Verbalisasi khawatir akibat 6. Gunakan pendekatan
kondisi yang di hadapi yang tenang dan
meningkat-menurun. meyakinkan .
 Perilaku gelisah meningkat- 7. Anjurkan keluarga
menurun. untuk tetap bersama
 Perilaku tegang meningkat- pasien.
menurun. 8. Latih teknik relaksasi.
 Konsentrasi membaik.

4 Intoleransi Aktivitas b.d  Kemudahan dalam melakukan 5. Monitor lokasi dan


kelemahan aktifitas sehari-hari. ketidaknyamanan
 Kecepatan berjalan meningkat. selama melakukan
 Kekuatan tubuh bagian atas aktifitas.
meningkat. 6. Berikan aktifitas
 Perasaan lemah menurun. distraksi yang
 Tekanan darah membaik menenangkan.
7. Anjurkan melakukan
aktivitas secara
bertahap.
8. Kolaborasi dengan
ahli gizi tentang cara
meningkatkan asupan
makanan

Sumber : (Tim Pokja SDKI SLKI SIKI DPP PPNI, 2018)

1.5 Implementasi keperawatan


Implementasi merupakan tindakan yang sudah direncanakan dalam
rencana keperawatan. Tindakan keperawatan mencakup tindakan mandiri
(independen) dan tindakan kolaborasi. Tindakan mandiri (independen) adalah
aktivitas perawat yang didasarkan pada kesimpulan atau keputusan sendiri dan
bukan merupakan petunjuk atau perintah dari petugas kesehatan lain (Tarwoto &
Wartonah, 2015)

1.6 Evaluasi keperawatan


Evaluasi merupakan tahap akhir dalam proses keperawatan untuk dapat
menentukan keberhasilan dalam asuhan keperawatan membandingkan status
keadaan kesehatan pasien dengan tujuan atau kriteria hasil ditetapkan (Tarwoto
& Wartonah, 2015)

1.7 Program perencanaan pulang / Discaharge planning dan melaksanakan


pendidikan kesehatan yang terkait dengan perencanaan tersebut
1. Olahraga secara teratur
2. Berhenti merokok
3. Jika mengalami penurunan berat badan, berikan tambahan atau ekstra kalori
atau protein ke dalam diet untuk meningkatkan kembali berat badan
4. Jaga agar kalsium tercukupi
(Nuratif & Kusuma, 2015).
DAFTAR PUSTAKA

Ayomi, A. F. M., & Kurniawaty, E. (2019). Efektivitas Penatalaksanaan Tindakan


Invasif Minimal Pada Hemoroid : Rubber Band Ligation The Effectiveness Of
Rubber Band Ligation As A Minimum Invasive Management In Haemorrhoid.
9(41).

Nuratif, A. H., & Kusuma, H. (2015). Aplikasi Asuhan Keperawatan Berdasarkan


Diagnosa Medis & Nanda Nic-Noc (Edisi 2). Yogyakarta: MediAction.

Sudarsono, D. F. (2015). Diagnosis Dan Penanganan Hemoroid. J Majority, 4(6).

Tarwoto, & Wartonah. (2015). Kebutuhan Dasar Manusia Dan Proses Kperawatan.
Jakarta: Salemba Medika.

Tim Pokja SDKI DPP PPNI. (2018a). Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia:
Defenisi dan Indikator Diagnostik (1st ed.). Jakarta: DPP PPNI.

Tim Pokja SDKI DPP PPNI. (2018b). Standar Intervensi Keperawatan Indonesia (1st
ed.). Jakarta: DPP PPNI.

Tim Pokja SDKI DPP PPNI. (2018c). Standar Luaran Keperawatan Indonesia :
Defenisi dan Kriteria Hasil Keperwatan (1st ed.). Jakarta: DPP PPNI.