Anda di halaman 1dari 5

Jangan buang waktu, tenaga dan biaya anda sia-sia….

Solusi mencari KTI Kebidanan tercepat dan terlengkap di internet hanya di


http://kti-skripsi.com/

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Salah satu kekaguman kita tentang Cinta Tuhan kepada umat-Nya dapat

kita lihat ketika ibu mulai menyusui bayinya dengan ASI (Air Susu Ibu). Proses

ini merupakan mukjizat yang harus disyukuri dan dimanfaatkan seoptimal

mungkin. ASI dikatakan mukjizat, hal ini dapat kita pahami dari hasil penelitian

yang menunjukan bahwa tidak ada makanan di dunia ini yang sesempurna ASI.

ASI adalah salah satu jenis makanan yang mencukupi seluruh unsur kebutuhan

bayi baik fisik, psikologis, sosial maupun spiritual. (Hubertin, 2003)

Menyusui merupakan suatu proses alamiah. Berjuta-juta ibu di seluruh

dunia berhasil menyusui bayinya tanpa pernah membaca buku tentang ASI.

Seiring dengan perkembangan zaman, terjadi pula peningkatan ilmu pengetahuan

dan teknologi yang semakin pesat sehingga pengetahuan lama yang mendasar

seperti menyusui justru kadang terlupakan. Menyusui adalah suatu pengetahuan

yang selama berjuta-juta tahun mempunyai peran yang penting dalam

mempertahankan kehidupan manusia.

Pada tahun 1999 UNICEF (United Nations International Children’s

Emergency Found) memberikan klasifikasi tentang jangka waktu pemberian ASI

eksklusif. Rekomendasi UNICEF bersama World Health Assembly (WHA) dan

banyak negara lainya adalah menetapkan jangka waktu pemberian ASI eksklusif

selama 6 bulan. (Roesli, 2000)

1
2

ASI eksklusif adalah pemberian ASI (Air Susu Ibu) sedini mungkin

setelah persalinan, diberikan tanpa jadwal dan tidak diberikan makanan lain,

walaupun hanya air putih, sampai bayi berumur 6 bulan. Setelah 6 bulan bayi

mulai dikenalkan dengan makanan lain dan tetap diberikan ASI sampai berumur 2

tahun. (Hubertin, 2004)

Berdasarkan hasil perhitungan jumlah bayi yang mendapat ASI eksklusif

di seluruh propinsi di Indonesia sebanyak 3.213.860 bayi. Bayi yang diberikan

ASI eksklusif adalah 1.339.298 bayi (41,67%), sedangkan 1.874.562 bayi

(58,33%) tidak diberi ASI eksklusif. Di Lampung 3.114 jumlah bayi yang sudah

di beri ASI eksklusif adalah 2.190 (70,33%) bayi dan 914 (29,67%) bayi tidak

diberi ASI eksklusif. (Dinkes Lampung, 2004).

Dari hasil pengamatan pada praktek lapangan, bayi yang mendapat ASI

eksklusif selama 6 bulan frekwensi terkena diare sangat kecil bahkan mulai

minggu ke-4 sampai bulan ke-6 bayi jarang defekasi dan sering menjadi keluhan

ibu yang datang ke klinik karena bayinya tidak defekasi lebih dari 3 hari. Keadaan

ini menunjukan seluruh produk ASI dapat terserap oleh sistem pencernaan bayi.

Kelompok bayi yang mendapat susu tambahan (ASS) lebih sering terkena diare.

(Hubertin,2004)

Melihat begitu unggulnya Air Susu Ibu (ASI), maka sangat disayangkan

pada kenyataannya masih banyak ibu-ibu yang tidak langsung memberikan

ASInya pada 30 menit sampai 1 hari post partum. Masih banyak juga ditemukan

masalah pada post partum seperti puting susu terbenam atau datar, saluran susu

tersumbat, puting susu nyeri atau puting susu lecet dan payudara bengkak. Hal ini
3

merupakan masalah bagi ibu yang menyusui bayinya dan mengurangi produksi

ASI, sehingga dapat mempengaruhi pemenuhan kebutuhan air susu untuk

bayinya.

Saat persalinan tiba, ibu harus memahami apa yang terjadi dan

kemungkinan yang membahayakan. Saat persalinan merupakan waktu penentu

bagi bayi untuk mendapatkan ASI yang optimal sebagai nutrisi yang mampu

memenuhi seluruh unsur gizi untuk perkembangan bayi menjadi anak sehat dan

cerdas. (Hubertin, 2004).

Namun pada kenyataannya masih terdapat ibu-ibu yang mengalami

gangguan atau masalah dalam melaksanakan manajemen laktasi. Seperti yang

penulis temukan di RS Ibu dan Anak Mutiara Hati Gadingrejo berdasarkan data

persalinan normal pada bulan Juli-desember 2006.

Tabel 1. Jumlah ibu nifas 1 – 7 hari dengan masalah terhadap manajemen


laktasi pada periode postnatal dari bulan Juli-Desember 2006.

Jumlah Ibu Nifas dengan


Jumlah Ibu pasca Prosentase
Bulan masalah Manajemen
Bersalin Normal %
Laktasi
Juli 13 6 5,6
Agustus 23 7 6,5
September 19 5 4,6
Oktober 20 7 6,5
November 17 3 2,8
Desember 16 4 3,7
Jumlah 108 32 29,7
Sumber: RSIA Mutiara Hati tahun 2006
4

Dari data diatas didapatkan kesimpulan bahwa terdapat 29,7 % (32 orang)

ibu pasca bersalin yang mengalami masalah terhadap manajemen laktasi pada

Periode Postnatal terutama tentang teknik menyusui dan perawatan payudara yang

benar setelah bersalin. Oleh karena itu penulis tertarik untuk melakukan penelitian

tentang “Gambaran Pengetahuan Ibu Menyusui Tentang Manajemen Laktasi pada

Periode Postnatal di RSIA Mutiara Hati Tanggamus”

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang, maka rumusan masalah yang penulis

simpulkan adalah ”Bagaimana pengetahuan ibu menyusui tentang manajemen

laktasi pada periode postnatal ?”.

C. Ruang Lingkup Penelitian

1. Jenis Penelitian : Deskriptif

2. Subjek Penelitian : Ibu bersalin normal hari pertama sampai hari ketujuh

3. Objek Penelitian : Pelaksanaan Manajemen Laktasi Periode Postnatal

4. Lokasi Penelitian : RSIA Mutiara Hati gadingrejo, Tanggamus

5. Waktu Penelitian : 1 Juni s/d 11 Juni 2007

D. Tujuan Penelitian

Penulisan karya tulis ini bertujuan untuk:

1. Tujuan Umum

Untuk mengetahui pengetahuan ibu menyusui tentang manajemen laktasi

pada periode postnatal.


5

2. Tujuan Khusus

a. Diketahui pengetahuan ibu menyusui tentang tehnik menyusui yang

benar

b. Diketahui pengetahuan ibu menyusui tentang cara perawatan payudara

yang benar setelah persalinan.

E. Manfaat Penelitian

1. Untuk Peneliti

Menambah wawasan dan pengetahuan untuk meningkatkan upaya dalam

melaksanakan pelayanan terhadap ibu bersalin.

2. Untuk Ibu Menyusui Periode Postnatal

Mencegah terjadinya masalah pada masa laktasi dan membantu para ibu

agar dapat melaksanakan peran dan fungsinya sebagai ibu dalam proses

menyusui.

3. Untuk Institusi Program Studi Kebidanan Metro

Untuk menambah sumber bacaan di Perpustakaan.

4. Untuk RSIA Mutiara Hati

Sebagai bahan masukan bidan atau tenaga kesehatan agar dapat

memotivasi masyarakat dan memberikan informasi kepada masyarakat tentang

manajemen laktasi.

Anda mungkin juga menyukai