Anda di halaman 1dari 15

LAPORAN HASIL AUDIT MANAJEMEN PT INDOJEWEL

Medan, 16 Mei 2020

No : 01/KAP/V/2020
Lampiran : 3 eksemplar
Perihal : Laporan Hasil Audit Manajemen

Kepada
Yth, Direktur PT Indojewel
Di Medan

Kami telah melakukan audit atas Program Pelatihan Karyawan yang telah dilakukan PT
Indojewel untuk periode tahun 2007/2008. Audit kami tidak dimaksudkan untuk memberikan
pendapat atas kewajaran laporan keuangan perusahaan dan oleh karenanya kami tidak
memberikan pendapat atas laporan keuangan tersebut. Audit kami hanya mencakup bidang
Program Pelatihan Karyawan yang dilakukan oleh PT Indojewel. Audit tersebut dimaksudkan
untuk menilai ekonomis (kehematan), efisiensi (daya guna), dan efektivitas (hasil guna).
Program pelatihan karyawan yang dilakukan dan memberikan saran perbaikan atas
ketidakmampuan program tersebut di dalam meningkatkan keterampilan karyawan yang
menyebabkan terjadinya kegagalan produksi dan kelemahan program tersebut, sehingga
diharapkan di masa yang akan datang perusahaan dapat dicapai perbaikan atas kekurangan
tersebut dan perusahaan dapat beroperasi dengan lebih ekonomis, efisien, dan lebih efektif
dalam mencapai tujuannya.
Hasil audit kami sajikan dalam bentuk laporan audit yang meliputi :
Bab I : Informasi Latar Belakang
Bab II : Kesimpulan Audit yang Didukung dengan Temuan Audit
Bab III : Rekomendasi
Bab IV : Ruang Lingkup Audit
Dalam melaksanakan audit kami telah memperoleh banyak bantuan, dukungan, dan
kerja sama dari berbagai pihak baik jajaran direksi maupun staf yang berhubungan dengan

1
pelaksanaan audit ini. Untuk itu kami mengucapkan terima kasih atas kerja sama yang telah
terjalin dengan baik ini.

Kantor Akuntan Publik


Kris Palguna dan Rekan

Tn.Kris Palguna

2
BAB I
INFORMASI LATAR BELAKANG

PT Indojewel berlokasi di Jl. Putri Hijau No. 04 Medan, didirikan tanggal 14 April 1995
oleh para pendiri yang terdiri atas :
1. Tn. Kevin Suparno
2. Tn. Cecep Mulyadi
3. Nn. Sandra Gultom
4. Tn. Steve Handayana
5. Tn. Syam Nugroho

PT. Indojewel bergerak dibidang produksi perhiasan berbahan dasar mutiara dan
emas.Mutiara yang digunakan adalah hasil pembudidayaan sendiri yang terintegrasi dalam
rencana bisnis perusahaan, sedangkan emas diperoleh dari pasar dalam negeri. Perusahaan
mempekerjakan 1.500 karyawan tetap dan sekitar 750 karyawan kontrak yang dipekerjakan
terutama sebagai staf produksi di divisi budidaya mutiara dan cleaning service diseluruh
divisi perusahaan, dengan penghasilan rata-rata sebesar 250% dari UMK yang ditetapkan
pemerintah. Menerapkan teknologi maju dalam produksi perhiasan dengan investasi sebesar
Rp 1,75 triliun untuk membeli peranti keras dan Rp 500 miliar untuk membeli peranti lunak
termasuk sistem informasi yang mengintegrasikan seluruh divisi kedalam satu rangkaian
oprasi dan sistem pelaporan. Pelatihan karyawan yang dilakukan PT. Indojewel bersifat
situasional, sesuai dengan permintaan manajer lini dan sesuai dengan anggaran yang tersedia.

Susunan direksi Perusahaan adalah sebagai berikut :


1. Direktur Utama : Tn. Kevin Suparno
2. Direktur Akuntansi dan Keuangan : Tn. Cecep Mulyadi
3. Direktur Pemasaran : Nn. Sandra Gultom
4. Direktur Produksi : Tn. Steve Handayana
5. Manajer Sumber Daya Manusia : Tn. Syam Nugroho

Sedangkan tujuan dilakukannya audit adalah untuk :


1. Menilai tingkat kegagalan produksi disebabkan oleh kurang terampilnya karyawan
dalam mengoperasikan mesin baru.

3
2. Menilai program pelatihan karyawan yang dilaksanakan belum mampu meningkatkan
keterampilan karyawan dalam mengoperasikan mesin baru.
3. Memberikan berbagai saran perbaikan atas kelemahan dari Program Pelatihan
Karyawan yang ditemukan oleh auditor.

4
BAB II
KESIMPULAN AUDIT

Berdasarkan temuan (bukti) yang kami peroleh selama audit yang kami lakukan, kami dapat
menyimpulkan sebagai berikut :

Kondisi:

1. Mesin baru yang digunakan perusahaan telah dilengkapi manual penggunaannya,


tetapi untuk memahami manual tersebut dan mampu menggunakannya sesuai dengan
standar manual tersebut perlu dilakukan pelatihan intensif, dengan mempraktikkannya
dilokasi mesin tersebut dioperasikan. Sementara pelatihan yang dilakukan adalah
pelatihan klasikal di kelas untuk memahami petunjuk tersebut. Konfirmasi kepada
manajer SDM diperoleh informasi tidak tersedia cukup dana untuk melanjutkan
pelatihan sampai pada praktik lapangan.

2. Perusahaan tidak memiliki rencana pelatihan periodik dan menentukan program


pelatihan berdasarkan permintaan manajer lini yang harus terealisasi dalam waktu
singkat tanpa melalui suatu identifikasi untuk menentukan pelatihan apa yang
sesungguhnya dibutuhkan karyawan.

3. Perusahaan hanya menganggarkan biaya pelatihan sebesar 0,25% selama satu tahun
dari laba bersih setelah pajak tahun sebelumnya. Untuk tahun 2008 biaya pelatihan
didasarkan pada laba bersih setelah pajak tahun 2007 yang mencapai sebesar 650,75
miliar.

4. Tidak ada penilaian keberhasilan pelatihan secara formal sehingga tidak ada dokumen
atau catatan yang bisa dipertanggungjawabkan atas penilaian hasil pelatihan yang
telah dilakukan.

5. Dari hasil kuesioner yang disebarkan kepada karyawan yang telah mengikuti pelatihan
tahun 2008 diperoleh temuan sebagai berikut:

a. Sebesar 35% dari peserta menjawab bahwa materi pelatihan sesuai dengan
kebutuhannya untuk meningkatkan keterampilan.

b. Sebesar 12,5% peserta menjawab metode pelatihan sesuai dengan materi


pelatihan yang diberikan.

5
c. Hanya sebesar 35% menjawab keterampilannya meningkat setelah mengikuti
pelatihan.

d. Sebesar 80% peserta menjawab bahwa waktu pelatihan terlalu singkat dan
tidak cukup waktu bagi mereka untuk memahami materi yang diberikan dalam
pelatihan tersebut.

6. Sebanyak 40% kegagalan produk terjadi dalam proses produksi, 35% pada proses
pengepakan, dan 25% pada proses penggudangan dari keseluruhan biaya kegagalan
produk yang terjadi pada tahun 2008 sebesar Rp 825,25 juta.

7. Pengembalian produk oleh pelanggan yang terjadi selama tahun 2008 sebesar 7,5%
dari total penjualan Rp 7,5 triliun.

Kriteria:

1. Tujuan pelatihan dan pengembangan karyawan harus dirumuskan dengan jelas dan
disosialisasikan ke seluruh manajer lini. Tujuan pelatihan adalah untuk :

a) Meningkatkan keterampilan karyawan.

b) Menurunkan kegagalan produk sampai pada tingkat 2,5%.

c) Menurunkan pemborosan penggunaan sumber daya.

d) Menurunkan kecelakaan kerja karyawan serta meningkatkan motivasi kerja


dan kebanggaan karyawan terhadap pekerjaannya.

2. Rencana pelatihan dan pengembangan karyawan harus disusun secara periodik


bersama dengan penyusunan anggaran perusahaan.

3. Program pelatihan dirumuskan berdasarkan hasil identifikasi terhadap kebutuhan


pelatihan sebelum program ditetapkan. Identifikasi meliputi :

a) Penentuan jenis dan bentuk keterampilan yang dibutuhkan karyawan sehingga


mampu berkontribusi maksimal kepada perusahaan.

b) Melakukan penilaian secara periodik untuk mengidentifikasi topik pelatihan


yang tepat.

6
c) Melakukan penilaian terhadap pelatihan yang telah dilakukan untuk
mendapatkan umpan balik bagi perbaikan pelatihan berikutnya.

d) Melakukan benchmarking pada industri yang sama yang lebih berhasil dalam
mengelola program pelatihan dan pengembangan. 

4. Pengelolaan pelatihan karyawan harus didukung anggaran yang memadai.

5. Laporan biaya kualitas harus terdokumentasi untukk menyediakan informasi sebagai


umpan balik dalam meningkatkan kualitas proses dan produk yang dihasilkan.

Penyebab:

1. Rencana pelatihan baru dibuat setelah ada bagian yang membutuhkan pelatihan
sehingga diketahui bahwa perusahaan tidak memiliki rencana pelatihan periodik dan
menentukan program pelatihan berdasarkan permintaan manajer lini yang harus
terealisasi dalam waktu singkat tanpa melalui identifikasi untuk menentukan
identifikasi untuk menentukan pelatihan apa yang sesungguhnya dibutuhkan oleh para
karyawan.

2. Program pelatihan disusun berdasarkan permintaan dari departemen yang


membutuhkan pelatihan tersebut dan disesuaikan dengan besarnya anggaran yang
disetujui oleh Direktur Akuntansi dan Keuangan.

3. Belum tersedia suatu sistem review dan pelaporan yang terdokumentasi tentang
penilaian efektivitas dan efisiensi pelaksanaan pelatihan.

4. Pelatihan yang dilakukan hanyalah bersifat pelatihan klasikal di  kelas pelatihan.


Setelah dilakukan konfirmasi kepada manajer SDM, diperoleh informasi bahwa tidak
tersedia cukup dana untuk melanjutkan pelatihan sampai pada praktik lapangan sebab
pada kenyataannya, perusahaan hanya menganggarkan biaya pelatihan sebesar 0,25%
selama satu tahun dari laba bersih setelah pajak tahun sebelumnya.

7
Akibat:

1. Ketidaktuntasan program pengelolaan pelatihan karyawan hingga tahap akhir yang


mengarah pada ketidaksempurnaan keterampilan dan kemahiran karyawan dalam
mengoperasikan mesin baru

2. Banyaknya produk gagal dalam proses produksi sehingga volume atau output
produksi menjadi lebih kecil yang mengarah pada kenaikan harga pokok produksi
tanpa peningkatan kualitas terhadap produk yang dihasilkan

3. Tidak ada informasi sebagai umpan balik dalam peningkatkan kualitas produk yang
dihasilkan atas pelatihan keterampilan karyawan

4. Menurunnya volume penjualan akibat besarnya pengembalian produk oleh pelanggan

Pejabat yang bertanggungjawab:

1. Direktur Akuntansi dan Keuangan

2. Direktur Produksi

3. Manajer SDM

8
DAFTAR RINGKASAN TEMUAN AUDIT

No Kondisi Kriteria Penyebab Akibat


1. Karyawan tidak Tujuan pelatihan perusahaan tidak Banyaknya produk gagal
memiliki kemampuan dan pengembangan memiliki rencana dalam proses produksi
yang memadai untuk karyawan harus pelatihan periodik dan sehingga volume atau
mengoperasikan mesin dirumuskan dengan menentukan program output produksi menjadi
baru. jelas dan pelatihan berdasarkan lebih kecil yang
disosialisasikan permintaan manajer lini mengarah pada kenaikan
keseluruh manajer yang harus terealisasi harga pokok produksi
lini. Tujuan dalam waktu singkat tanpa peningkatan
pelatihan adalah tanpa melalui identifikasi kualitas terhadap produk
untuk: untuk menentukan yang dihasilkan
a. meningkatk identifikasi untuk
an menentukan pelatihan
keterampila apa yang sesungguhnya
n karyawan. dibutuhkan oleh para
b. Menurunka karyawan.
n kegagalan
produk
sampai
pada tingkat
2,5 %
c. Menurunka
n
pemborosan
penggunaan
sumber
daya.
2. Perusahaan hanya Pengelolaan Program pelatihan Ketidaktuntasan program
menganggarkan biaya pelatihan karyawan disusun berdasarkan pengelolaan pelatihan
pelatihan sebesar harus didukung permintaan dari karyawan hingga tahap
0,25% selama satu anggaran yang departemen yang akhir yang mengarah
tahun dari laba bersih memadai. membutuhkan pelatihan pada ketidaksempurnaan

9
setelah pajak tahun tersebut dan disesuaikan keterampilan dan
sebelumnya. dengan besarnya kemahiran karyawan
anggaran yang disetujui dalam mengoperasikan
oleh Direktur Akuntansi mesin baru.
dan Keuangan.

3. Dana tidak mencukupi Pengelolaan Program pelatihan yang Tidak tersedia cukup
untuk melakukan pelatihan karyawan dilakukan disesuaikan dana untuk melanjutkan
program Pelatihan harus didukung dengan besarnya pelatihansampai pada
Karyawan dengan anggaran anggaran yang disetujui praktik pelatihan
yang memadai oleh Direktur Akuntansi sehingga pelatihan yang
dan Keuangan dilakukan hanya
merupakan pelatihan
klasikal di kelas

4. Pertanggungjawaban Laporan biaya Belum tersedia suatu Tidak ada informasi


atas Program Pelatihan kualitas harus sistem review dan sebagai umpan balik
Karyawan tidak dapat terdokumentasi pelaporan yang dalam peningkatkan
dilakukan untuk menyediakan terdokumentasi tentang kualitas produk yang
informasi sebagai penilaian efektivitas dan dihasilkan atas pelatihan
umpan balik dalam efisiensi pelaksanaan keterampilan karyawan
meningkatkan pelatihan
kualitas proses dan
produk yang
dihasilkan
5. Biaya kegagalan Tujuan pelatihan Perusahaan tidak Banyaknya produk gagal
produk yang terjadi dan pengembangan memiliki rencana dalam proses produksi
pada tahun 2008 karyawan harus pelatihan periodik dan sehingga volume atau
Mencapai Rp 825,25 dirumuskan dengan menentukan program output produksi menjadi
juta. jelas dan pelatihan berdasarkan lebih kecil yang
disosialisasikan ke permintaan manajer lini mengarah pada kenaikan
seluruh manajer yang harus terealisasi harga pokok produksi
lini untuk dalam waktu singkat tanpa peningkatan
Menurunkan tanpa melalui identifikasi kualitas terhadap produk

10
kegagalan produk untuk menentukan yang dihasilkan
identifikasi untuk
menentukan pelatihan
apa yang sesungguhnya
dibutuhkan oleh para
karyawan.
6. Pengembalian produk Tujuan pelatihan perusahaan tidak Menurunnya volume
oleh pelanggan yang dan pengembangan memiliki rencana penjualan akibat besarnya
terjadi selama tahun karyawan harus pelatihan periodik dan pengembalian produk
2008 sebesar 7,5% dirumuskan dengan menentukan program oleh pelanggan
jelas dan pelatihan berdasarkan
disosialisasikan ke permintaan manajer lini
seluruh manajer yang harus terealisasi
lini untuk dalam waktu singkat
Menurunkan tanpa melalui identifikasi
kegagalan produk untuk menentukan
identifikasi untuk
menentukan pelatihan
apa yang sesungguhnya
dibutuhkan oleh para
karyawan.
7. Mesin baru yang Pengelolaan Perusahaan hanya Dari hasil kuesioner yang
digunakan perusahaan pelatihan karyawan menganggarkan biaya disebarkan kepada
telah dilengkapi harus didukung pelatihan sebesar 0,25% karyawan yang telah
manual anggaran yang selama satu tahun dari mengikuti pelatihan tahun
penggunaannya, tetapi memadai. laba bersih setelah pajak 2008 diperoleh temuan
untuk memahami tahun sebelumnya. Untuk sebagai berikut:
manual tersebut dan tahun 2008 biaya
a. Sebesar 35% dari
mampu menggunakan pelatihan didasarkan
peserta menjawab
sesuai dengan standar pada laba bersih setelah
bahwa materi
manual tersebut perlu pajak tahun 2007 yang
pelatihan sesuai
dilakukan pelatihan mencapai Rp. 650,75
dengan kebutuhan
intensif, dengan miliar.
untuk
mempraktikannya di
meningkatka

11
lokasi mesin tersebut keterampilan.
dioperasikan.
b. Sebesar 12,5%
Sementara pelatihan
peserta menjawab
yang telah dilakukan
metode pelatihan
adalah pelatihan
sesuai dengan
klasikal di kelas untuk
materi pelatihan
memahami petunjuk
yang diberikan.
(manual) tersebut.
Konfirmasi kepada c. Hanya sebesar
manajer SDM 35% menjawab
diperoleh informasi keterampilannya
tidak tersedia cukup meningkat setelah
dana untuk mengikuti
melanjutkan pelatihan pelatihan.
sampai pada praktik
lapangan.

8. Penurunan produk Tujuan pelatihan Kurang terampilnya Pengembalian produk


gagal menjadi 18% dan pengembangan karyawan dalam oleh pelanggan yang
karyawan harus mengoperasikan mesin terjadi selama tahun 2008
dirumuskan dengan baru (Sebesar 80% sebesar 7,5% dari total
jelas dan peserta menjawab waktu penjualan Rp. 7,5 triliun.
disosialisasikan pelatihan terlalu singkat
keseluruh manajer dan tidak cukup waktu
lini. Tujuan bagi mereka untuk
pelatihan adalah memahami materi yang
untuk: diberikan dalam
a. meningkatk pelatihan tersebut).
an
keterampila
n karyawan.
b. Menurunka
n kegagalan

12
produk
sampai
pada tingkat
2,5 %
c. Menurunka
n
pemborosan
penggunaan
sumber
daya.
Menurunkan
kecelakaan kerja
karyawan serta
meningkakan
motivasi kerja dan
kebanggan
karyawan terhadap
pekerjaan.

BAB III
REKOMENDASI

13
Hasil audit yang dilakukan menemukan beberapa kelemahan yang harus menjadi
perhatian manajemen di masa yang akan datang. Kelemahan ini dikelompokkan menjadi 2
(dua), yaitu :

1. Kelemahan yang terjadi karena program pelatihan karyawan belum mampu


meningkatkan keterampilan karyawan di dalam memproduksi barang

2. .Kelemahan atas kurangnya evaluasi atas peningkatan hasil program pelatihan


karyawan guna kepentingan peningkatan kualitas produk yang dihasilkan

Atas keseluruhan kelemahan yang terjadi, maka diberikan rekomendasi sebagai koreksi atau
langkah perbaikan yang dapat diambil oleh manajemen untuk memperbaiki kelemahan
tersebut.

Rekomendasi :

1. Perusahaan harus memberikan anggaran yang memadai untuk program pelatihan


karyawan agar program tersebut terlaksana hingga tuntas sehingga peningkatan
keterampilan karyawan atas pengoperasian mesin baru sesuai dengan yang
diharapkan.

2. Perusahaan harus menyusun rencana pelatihan dan pengembangan karyawan secara


periodik bersama dengan penyusunan anggaran perusahaan.

3. Perusahaan harus membuat penilaian keberhasilan atas Program Pelatihan Karyawan


sebagai evaluasi bagi Perusahaan itu sendiri.

4. Rencana pelatihan dan pengembangan karyawan harus disusun secara periodik


bersama dengan penyusunan anggaran perusahaan.

5. Laporan biaya kualitas harus terdokumentasi sebagai umpan balik atas peningkatan


kualitas dan produk yang dihasilkan supaya terjadi penurunan yang signifikan atas
kegagalan produk dan pengembalian produk oleh pelanggan

Keputusan untuk melakukan perbaikan atas kelemahan ini sepenuhnya ada pada manajemen,
tetapi jika kelemahan ini tidak segera diperbaiki kami mengkhawatirkan terjadi akibat yang
lebih buruk pada Produksi Perusahaan di masa yang akan datang.

14
BAB IV

RUANG LINGKUP AUDIT

Sesuai dengan penugasan yang kami terima, audit yang kami lakukan hanya meliputi
masalah Program Pelatihan Karyawan PT Indojewel untuk periode tahun 2007/2008. Audit
kami mencakup penilaian atas kecukupan sistem pengendalian manajemen Program Pelatihan
Karyawan yang telah dilaksanakan oleh perusahaan, dan aktivitas yang dilakukan oleh
karyawan itu sendiri di dalam memproduksi barang produksi perusahaan.

15