Anda di halaman 1dari 18

Untaian Tasbih

Mobil travel perlahan berhenti di pintu ruang tunggu bandara Cengkareng. Para calon
TKI segera turun, mereka ada 12 orang, orang-orang yang akan pergi ke Saudi Arabia,
semua menjinjing tas ransel atau koper, tujuan pasti mereka adalah sebuah pabrik
semen di Saudi Arabia, tak ada yang tau nasib apa yang menanti di sana, yang terang
semua mengharapkan perubahan setelah bekerja di Saudi Arabia, mengingat betapa
sulitnya bekerja di negeri sendiri, mungkin memilih bekerja di Saudi Arabia adalah
suatu pilihan yang paling akhir dari keterdesakan ekonomi, yang tak pernah menuju
ke arah perbaikan dan semua TKI pasti mempunyai alasan sendiri, sekalipun itu bisa
di buat-buat, yang jelas jika di suruh jujur, tak ada orang yang mau bekerja jauh
dari keluarga.

Pemuda yang terakhir turun dari travel, bernama Boni. Matanya menyapu depan bandara
kemudian bergegas mengejar temannya yang sudah lebih dulu memasuki ruang tunggu,
dia kaget ketika pintu bandara terbuka sendiri, Boni mundur lalu maju untuk masuk,
ia benar-benar heran, yah namanya orang udik.

Pemuda umur 25 tahun itu melangkah kederetan kursi yang sudah di penuhi teman-
temannya. Dia berdiri saja melihat orang yang lalu lalang, ada lelaki bule menyeret
tas panjang, di belakangnya perempuan bule membawa ransel di punggungnya. Orang
lalu lalang tiada henti, tapi keadaan serasa begitu sunyi tak ada penjual makanan
yang menawarkan dagangannya seperti di stasiun, atau terminal.

Pandangan Boni tertuju ke kursi-kursi sederetan dengan kursi tempat teman-temannya


duduk, banyak wanita yang berseragam ada yang duduk ada yang berdiri, ada juga yang
menggelonjor di ubin, nampak juga ransel dan koper berserakan di samping mereka,
pastilah mereka para TKW, yang akan bekerja di Arab Saudi, ada yang wajahnya
murung, tapi ada juga yang wajahnya ketawa ketiwi, tak taulah mungkin mereka ada
yang sudah pernah berangkat ke Saudi atau ada yang sama sekali belum pernah
berangkat.

Boni jadi ingat ketika di penampungan, ketika malam yang larut jam telah
menunjukkan 24 lebih dan dia tak bisa tidur lalu pergi ke pos satpam. Di sana masih
ada satpam yang jaga malam. Boni pun duduk ngobrol, belum sampai lima menit ngobrol
dengan satpam, ada mobil dari bandara yang mengantarkan seorang TKW, menjerit,
berontak, mau kabur, dengan di pegangi tiga orang. Perempuan itu di seret ke
penampungan perempuan yang ada di belakang.

Sementara satpam ikut memegangi, dan Boni pun duduk di kursi semula, timbul
berbagai macam dugaan dalam pikirannya, sampai perempuan berontak seperti itu, tapi
pikiran-pikiran kotor yang terlintas segera ia tepis jauh-jauh. Pintu penampungan
terbuka, dan nampak keluar tiga orang pengantar di iring bapak satpam. Ketiga orang
itupun pergi, dan satpam kembali duduk di kursi dekat Boni, tanpa di minta satpam
itupun bercerita panjang lebar, menurut ceritanya gadis yang berumur 21 tahun itu,
sebenarnya baru berangkat ke Saudi 1 bulan tapi sungguh malang, dia mendapatkan
majikan yang buruk, ia di perkosa oleh majikan, anaknya, saudaranya, pokoknya yang
memperkosanya ada lima orang, ia selalu di sekap di dalam kamar, sampai minggu yang
lalu baru bisa kabur.

Tiba-tiba terdengar suara memanggil dari dalam penampungan perempuan, "bapak satpam
tolong pak si lin nangis terus kepalanya di tatap-tatapkan ke tembok, sampai
berdarah." satpam segera lari kedalam sebelumnya memesan supaya menjaga gerbang
utama, namun belum sampai 5 menit satpam masuk tiba-tiba dari dalam berlari
perempuan tadi sambil menangis.

Boni segera menghadangnya, dan memang perempuan itu kepalanya berdarah, dia terus
menangis, minta di bukakan pintu gerbang, satpam segera muncul tergopoh-gopoh, dan
memaksanya masuk ke dalam lagi, tapi Boni tau keadaan maka dia menghibur perempuan
yang patah arang itu sambil menyalurkan tenaga prana lewat telapak tangannya
sehingga perempuan itu menjadi tenang dan mau di ajak masuk ke dalam.

Boni menarik napas lega, karena masalah telah teratasi, pasti akan sulit
menghilangkan trauma di perempuan itu, mungkin seumur hidupnya akan selalu
menghantui kejadian pemerkosaan yang menimpa dirinya, sungguh betapa berat hidup
yang sementara ini harus terlewati. Boni membayangkan betapa sulitnya pergi ke
Saudi Arabia, berbelit-belitnya proses keberangkatan, permainan para seponsor, yang
menghalalkan segala cara, belom lagi ulah calo-calo yang mencari keuntungan,
petugas PJTKI yang mengambil untung berlipat-lipat, sementara para pencari kerja,
ini adalah pilihan terakhir karena keterdesakan ekonomi, harga untuk makan, sekedar
isi perut semua mahal.

Lari ke Saudi diporoti sana sini ngurus surat di kelurahan di kecamatan, semua
minta bagian, dan setelah jadi berangkat, nasib di sini tak menentu, tanpa
perlindungan sama sekali pemerintah tak perduli, semua hanya mau mengambil untung
saja. Ini seperti orang yang mau bepergian dengan uang ngutang, lalu bertemu banyak
orang dengan alasan menolong dan meringankan beban perjalanannya tapi memorotinya
sampai orang itu telanjang tak punya apa-apa lalu di lepas begitu saja.

Boni melangkah menuju antrian teman-temannya yang telah berjejer memeriksakan


bawaanya, giliran Boni di periksa. Petugas menanyakan namanya, pertanyaan yang
simpel-simpel aja tentang nama, nama orang tua, tujuan perjalanan, cuma waktu
menanya namanya petugas wanita itu, mengulang tanyanya, hanya Boni saja? Boni jadi
merenung, memang selama ini dia tak pernah memikirkan arti akan namanya yang
pendek. Kenapa dia di beri nama sependek itu, padahal sepengetahuannya nama itu
adalah harapan dan doa, atau mungkin karena orang tuanya yang jualan warung
kelontong, dan saat mengandungnya lagi banyak hutangnya sehingga namanya BON
mungkin artinya hutang, untuk mengenang banyak hutang, ah tak taulah.

Setelah melewati deretan pemeriksaan. Dari di minta mematikan hp. Membuang air
mineral, tak boleh membawa segala yang berbau cair, dari sabun, sampo, pasta gigi,
juga di larang membawa sesuatu yang berbau tajam. Kalau terpaksa membawa maka harus
menyimpannya dalam satu tas dan menaruhnya di bagasi. Sampai sudah di bagian akhir
pemberangkatan, orang sudah penuh, banyak yang duduk di lantai, Ada beberapa orang
Arab, dan kebanyakan penumpang adalah TKW mungkin kalau di hitung persen, 99 persen
TKW, selebihnya tki dan penumpang biasa.

Boni duduk di kursi pesawat Aaudi airlines, setelah mencari-cari no. kursi tiket
yang di pegang, dia menemukan tempat duduknya. Yang ternyata di kanan kirinya
ternyata perempuan semua, Bagaimanapun juga Ia merasa risih, dan kagok, ah akhirnya
takdirnya membawa kesini juga, walau hal ini tak pernah ia inginkan. Karena selama
ini dalam dirinya telah terpaku keyakinan, lebih baik kerja di negara sendiri,
walao mulai dari nol berusaha sendiri lalu di pupuk secara perlahan kontinyu,
nantinya juga akan berhasil, daripada pergi bekerja ke luarnegeri, pulang dengan
uang banyak, tapi bingung mau usaha apa, kemudian modal habis, lalu pergi ke luar
negeri lagi, begitu seterus nya.

Tapi takdir berbicara lain. Jika di tengok ke belakang betapa Boni merasa hidupnya
penuh warna warni. Dia yang tiga bersaudara. Kakaknya Abdullah, yang kini jadi
pengusaha sukses di Jakarta, dan adiknya Atika, yang selalu hidup di pesantren.
Terbayang orang tuanya yang selalu hidup paspasan, cuma punya warung kelontong,
namun sejak kecil Boni telah di didik untuk hidup mandiri, tanpa mesti tergantung
orang tua, dan jadi benalu keluarga.

Sejak lulus SD Boni telah menentukan jalannya sendiri, dengan ketrampilan yang dia
miliki, yaitu menulis kaligrafi, Boni mulai memasuki dunianya sendiri, pertama ia
masuki pondok pesantren sarang rembang Jawa Tengah yang di asuh kyai Maimun Zubair.
Di pondok Al anwar itu, Boni mulai menggembleng diri, segala materi untuk hidup di
pesantren dia usahakan sendiri dengan membuat kaligrafi di kaca lalu di saat
luangnya dia akan berjalan menyusuri kampung-kampung nelayan, menawarkan kaligrafi
bikinannya, kadang kaligrafi banyak yang membeli, tapi juga tak laku sama sekali,
dengan sabar dan telaten masa-masa sulit pun terlewati, sampai tiga tahun sudah dia
di pondok Sarang.

Kemudian Boni pindah ke pondok lain, pilihannya jatuh ke pondok Babat Lamongan,
pondok Ihya asuhan kyai Fahrurrozi, mengingat kalau di pondok Sarang terus,
pendapatan untuk sekedar makan aja udah tak ada karena sudah banyak penduduk yang
telah membeli kaligrafinya, disini Boni menemukan cara yang lebih efisien dalam
menjual kaligrafi dengan menitipkan pada toko di pasar Babat, di samping karena
peraturan pondok yang ketat, yaitu santri cuma boleh keluar pondok seminggu sekali.
Akhirnya Boni cuma bisa bertahan beberapa bulan lalu pindah ke pondok Langitan,
yang di asuh kyai Fakih.

Lama-lama di pikir, Boni tak punya apa-apa kalau kelamaan di pondok, mungkin akan
banyak waktu terbuang. Boni pulang ke rumah, burung terbang, akhirnya kembali
kesarangnya. Kakaknya yang bernama Abdullah mulai merajuknya untuk pergi ke Saudi,
sampai kakaknya berkata, setiap hari mutar tasbih, baca qur'an, tak akan menjadikan
kau kaya. Boni heran dengan kakaknya itu, padahal kakaknya itu jebolan pesantren
Lerboyo, tapi sekarang memang telah menjadi seorang pengusaha di Jakarta. Kakaknya
itu juga mempunyai PJTKI, tapi mengapa semua orang mengukur keberhasilan dengan
harta, kalau banyak hartanya di bilang sukses kalau tak punya apa-apa di bilang
gagal, apa nabi kita Muhammad itu nabi yang gagal, cuma karena miskin.

Untung saat itu ada satu pesantren di daerah Bonang Demak yang membutuhkan seorang
pengajar, dan Boni mendapatkan tawaran, tanpa pikir-pikir lagi dia pun menerima,
maka berangkatlah dia ke Demak. Di pesantren itu Boni berjanji, untuk benar-benar
memperjuangkan Islam semampunya, dan di pesantren itu Boni mulai mengajar. Dia
mulai menunjukkan, seorang pengajar, seorang ustad yang ilmunya mumpuni, dari
pengajaran nahwu, tajwid, fiqih, hadis, tasawuf, dia ajarkan.

Dan Boni mulai di kenal, karena penyampaiannya yang lembut, dapat di pahami, selalu
menyela-nyelai humor yang mendidik, sehingga banyaklah murid santri yang menyukai,
sehingga apabila santri pulang, selalu membawa teman santri baru saat kembali,
dalam masa dua tahun, pesantren yang awalnya cuma berisi 100 santri itu, telah
membludak hampir 500 santri. Sang kyai sangat senang akan perkembangan itu, maka
dalam pikiran kyai Fauzi, Boni haruslah menjadi menantunya, sang kyai mempunyai
anak empat, satu lelaki bernama Imam, dan tiga perempuan.Asiah, Hanifah, Azyah.

Tapi Boni benar-benar telah di mabuk ilmu, karena makan dan kebutuhannya telah di
penuhi maka Boni setiap hari hanya mengajar, para putri kyai yang berlomba ingin
memilikinya Boni tak perduli, waktu berjalan teramat cepat, tiga tahun sudah Boni
menjadi ustad. Sekarang mushola pesantren telah tak muat, apabila Boni menjadi imam
jamaah sholat, belum lagi orang desa sekitar yang sengaja datang untuk ikut sholat
bersama Boni, kalau Boni membaca Ayat-ayat Alquran suaranya, sebenarnya tak begitu
merdu, tapi ada yang lain, yang membuat mata tak bisa untuk tak menangis. Bahkan
tak jarang jamaah sholat, karena tak kuatnya akhirnya menjerit dan pingsan.

Sebenarnya Boni membacanya biasa-biasa, tapi bacaan itu setiap mengalir dari setiap
tempat keluarnya suara ia hayati kandungannya, dia masukkan ke dalam hati, dan
setiap teguran dari Alloh, maka dia merasa dialah yang di tegur, di ancam dengan
neraka, dan siap di masukkan, karena terlampau banyaknya dosa. Sehingga teramat
takutnya dia, dan mungkin yang di rasakan oleh Boni itu menyentuh hati orang yang
mendengar sehingga hati mereka juga seperti di iris-iris.

Pagi itu habis menjalankan sholat subuh, seperti biasa Boni membacakan kitab ibnu
akil kepada santrinya, tiba-tiba bacaanya terhenti, dan Boni memandang kearah
santri,
"kemana Rusdi, sudah beberapa hari ini, aku tak melihat dia ikut mengaji?"

"dia tidur ustad."

"dia mengamalkan ilmu rogo sukmo ustad." suara santri ramai saut menyahut menjawab.

"oh ya sudah, sudah." Boni memutuskan untuk mencari tau sendiri, melihat santri
mulai ribut. Dia melanjutkan mengajar.

Setelah mengajar, Boni memutuskan untuk mendatangi sendiri kamar Rusdi, para santri
semua menjalankan kegiatan pagi, sehingga lorong-lorong kamar sepi, ada yang
mencuci pakaian, ada yang sedang sarapan, ada yang memasak ada yang menyapu
halaman. Sebagai ketua pesantren Boni tau betul kamar-kamar di mana santrinya
tinggal, maka tanpa ragu Boni melangkah ke kamar Rusdi. Sampai di dekat kamar
Rusdi, Boni heran karena mendengar suara anak kecil bersenandung. Segera dia
mengucap salam, di dalam kamar Boni melihat cuma ada Rusdi, yang sedang mencoret-
coret buku tulis. Dan menjawab salamnya dengan suara anak kecil.

Ah tentu Rusdi bercanda, "hei rus, jangan bercanda."

"Aku bukan kang Rusdi."

"Lalu kamu siapa?" tanya Boni, karena dalam hatinya mungkin Rusdi ini manusia
berkepribadian ganda seperti dalam filem jadi Boni mengikuti saja.

"aku Maman, tadi aja aku baru pulang sekolah, lalu kang Rusdi memintaku untuk
menggantikannya di pesantren."

"Lalu kang Rusdinya kemana?"

"kang Rus di memakai tubuhku, mau pulang ke rumah, mau melihat kerbaunya, kamu
siapa sih, kok banyak nanya-nanya?"

"oo, aku temannya kang Rusdi."

"em main bola yok?" Rusdi dengan suara kecil itu berlari-lari ke lapangan depan
pesantren. Ah tak taulah, Boni menggeleng-geleng melihat tingkah Rusdi.

Rusdi adalah pemuda umur dua puluh tahun, berperawakan depal, tinggi sedang,
tubuhnya berotot karena tiap harinya selama di ogan kumuning hilir tempat
tinggalnya, kerjanya mencari kayu di hutan, di kumpulkan untuk di jual di pasar.
Sekarang ini Boni harus menghadapi tingkah aneh Rusdi, sebagai seorang yang
memimpin pesantren, kebijaksanaan dan kesabarannya teruji. Boni memandang dari jauh
Rusdi yang bermain bola dengan lincah.

Hari berlalu, baru tiga hari, Rusdi kembali ke sikap semula, dan cara bicara
seperti sebelum suaranya menjadi suara anak kecil, setelah Boni di kasih tau santri
kalau keadaan Rusdi telah normal seperti sediakala, maka Boni pun Bergegas ke kamar
Rusdi. Ketika sampai di kamar Rusdi kebetulan pemuda itu ada dan sedang menyapu
kamar, Boni segera meminta Rusdi menghentikan menyapu dan mengajaknya bicara.

"Rus sini duduk, aku mau tau penjelasanmu, tentang tingkahmu selama dua hari ini
sungguh membuat gerah pesantren ini, apa penjelasanmu?" lalu Rusdi menjawab dengan
kepala tertunduk.

"maaf ustad, bukan maksud saya membuat resah pesantren ini, tapi saya kangen rumah,
maka saya pulang."
"Pulang bagaimana?, wong kamu jelas-jelas masih di pondok ini.!"

"ma-af ustad saya menggunakan ilmu rogo sukmo, jadi bertukaran tubuh dengan maman."
Boni termenung.

Dia berpikir apa memang ada ilmu seperti itu, bukannya ada dalam cerita-cerita
saja, tapi Boni ingin mengetahui, dan menelusuri kebenaran cerita Rusdi.

"ilmu rogo sukmo katamu?" Rusdi manggut mengiyakan.

"benar katamu itu?, bagaimana kau membuktikan kalau kau punya ilmu rogo sukmo?"

"kalau ustad mau saya akan membuktikan di depan ustad" kata Boni dengan mimik
serius.

"begini saja, kalau memakai ilmu rogo sukmo, berapa waktu di butuhkan perjalanan
dari sini ke rumahmu?"

"pulang pergi setengah jam, ustad."

"kalau begitu, kamu punya apa di rumah?"

"ada keris, pisang."

"baik sekarang bisa kau ambilkan kedua barang tersebut?"

"baik ustad.

Rusdi segera mengambil posisi, dia membentangkan tikar di lantai, karena memang
para santri tidur tanpa menggunakan ranjang tapi cukup lantai tekel, dan untuk
mengusir dingin maka di gunakan tikar, setelah tikar di bentang Rusdi segera
mengambil posisi tidur terlentang, Boni memperhatikan dengan serius, setiap gerak-
gerik Rusdi. Pemuda itu memejamkan matanya dan, layaknya seperti orang tidur, Boni
mendekati Rusdi, kalau memang tidur tentu pemuda ini tidurnya nyenyak sekali,
ketika Boni mencoba menggoyang-goyang tubuh Rusdi, dia tak bergerak sama sekali,
begitu juga saat Boni menempelkan jari telunjuknya ke mata Rusdi, kalau pura-pura
tidur. Pastilah mata itu berkedip, tapi mata Rusdi sama sekali tak berkedip, maka
Boni memutuskan menunggu sampai setengah jam di kamar Rusdi.

Setengah jam kemudian, nampak tubuh Rusdi bergerak-gerak, dan Pemuda itu membuka
matanya, lalu bangun, memandang Boni, kemudian tangannya di selipkan ke balik baju,
dikeluarkanlah keris dan sebuah pisang, di berikan pada Boni,

"benar ini dari rumahmu?" tanya Boni, dan Rusdi mengangguk. Tapi sekalipun itu
nyata, dan ilmu raga sukma itu ada, apa juga manfaatnya, Boni yang selama ini hanya
mempelajari kitab kuning, tentu tak semudah itu percaya. Tapi Boni akan mengikuti
perkembangan yang akan terjadi.

"dari mana ilmu raga sukma itu kamu dapat rus?" tanya Boni pelan. Rusdi menerawang,
matanya menatap ke langit-langit kamar yang banyak sarang laba-laba, seakan masa
lalunya terjaring oleh salah satu sarang itu, sementara mulutnya mencang-mencong
seperti mengeluarkan slilit yang tertinggal.

Pagi itu, matahari telah beranjak dari peraduan, namun sinarnya yang lemah belum
mampu mengusir halimun yang menyelimuti pinggiran hutan bakau, udara masih dingin
namun tiga bocah lelaki nampak berlompatan di atas bebatuan yang menonjol di sungai
pinggir hutan, air sungai teramat jernih, airnya seperti kaca yang bergerak,
sehingga bebatuan dan kerikil dalam sungai jelas terlihat, serta ikan-ikan yang
berenang kesana kemari, mengikuti irama air mengalir. Sebenarnya aliran air itu
bersumber dari celah bebatuan, dan tak pernah habis atau berhenti karena kemarau
panjang sekalipun.

Tiga orang pemuda itu yang depan Rusdi, membawa buntalan bekal di pundaknya, di
pinggangnya terselip gobang, dan tangan kanannya menggenggam kapak pendek, yang
kedua bernama Maman, tubuhnya ceking kecil namun nampak kuat, bocah ini memang baru
kelas lima SD, di lehernya menggantung dua buah botol aqua bekas yang di isi air,
dan di ikat dengan tambang, di pinggangnya golok terselip, anak yang ketiga bernama
Ali tubuhnya tinggi kurus namun angkal berotot di pundaknya terselempang sarung
berisi bekal makanan, sementara kapak besar panjang di panggulnya, hari ini hari
minggu, anak anak ini biasanya mencari kayu bakar ke hutan siang hari, tapi karena
ini hari libur sekolah jadi mereka berangkat ke hutan pagi hari.

Ketiga anak itu segera masuk ke dalam hutan yang lebat, dan segera mencari kayu dan
di kumpulkan, kayu-kayu itu di ikat jadi dua kemudian di ikatkan kekayu pikulan,
agar mudah membawa pulang, setelah agak siang mereka pun beristirahat, untuk
membuka perbekalan, Rusdi segera minta botol aqua yang di bawa maman, dan
menenggaknya, tiba-tiba tenggakannya dihentikan.

"sst...! Kalian mendengar suara gak?" tanya Rusdi sambil mengacungkang jari
telunjuknya ke hidung.

Ali yang sedang membuka bungkusannya segera berhenti, begitu juga Maman yang sedang
membersihkan sandal karet ban mobilnya dari tanah. Mereka diam menyimak, dan memang
terdengar suara rintihan.

"eh jangan-jangan suara hantu?" kata Maman dengan suara kawatir.

"ah apa ada hantu di siang bolong begini, kali aja ada orang membutuhkan
pertolongan, ayo kita samperi..!" kata Rusdi seraya berdiri.

Mereka bertiga segera beranjak perlahan menuju sumber suara. Dada mereka berdegup
kencang. Sampai di tempat suara betapa terkejutnya mereka karena nanpak seorang
kakek tua renta tengah tergeletak tanpa daya.

"aduuh tolong kakek nak, sudah beberapa hari aku tak makan, lapar...!" suara kakek
itu mengiba.

Ketiga pemuda itupun tanpa ragu memberikan bekal mereka kepada kakek itu, dan di
lahap habis semua. Maman menowel-nowel Rusdi melihat makanan bekalnya di habis
ludeskan sang kakek. Tapi Rusdi menyuruh Maman diam.

Ketiga bocah remaja itu diam melihat kakek yang menghabiskan bekal mereka bertiga,
kakek itu mengambil kayu kecil, lalu sibuk mengeluarkan bekas makanan yang tersisa
di sela-sela gigi, tanpa memperdulikan pada ketiga manusia di depannya.

"kakek sialan..! Udah makan bekal kami tapi tak mau berterima kasih...!" Maman tak
tahan lagi, kakek itu terkekeh.

"hehe.. enak sekali masakan mamak kalian..em." kakek itu masih membersihkan giginya
sambil tiduran di atas rumput.

"ah bener-bener sial," Ali juga mulai menggerutu.

"ah ini karena kang Rusdi ngajak nolong kakek ini, kita jadi yang kelaparan, apa
kita kuat mengangkat kayu kita, untuk dibawa pulang?.." Maman sudah kelihatan mau
nangis, matanya sudah memerah.

"eh- eh-eh, jadi kalian tak ikhlas, memberi makanan padaku?.., boleh.. boleh kalian
ambil lagi, tapi dua jam, tiga jam, nanti ku usahakan, supaya dapat ku keluarkan,
kalian ambil sekalian bunganya juga gak papa." suara kakek itu cuek.

"ah sudahlah kek, tentu saja kami ikhlas, kalau kami tak ikhlas apa juga perlunya.
makanan kami sudah di perut kakek." kata Rusdi.

"ayo kita pergi...!" tangan Rusdi menarik pergelangan Maman. Maman yang cemberut
itu pun ikut beranjak pergi. Mereka bergegas meninggalkan kakek itu kembali ke
tempat di mana kayu-kayu bakar yang mereka kumpulkan tadi di tinggal. Tapi alangkah
terkejutnya tiga remaja itu, karena kakek itu telah ada disitu, sedang enak enakan
duduk di atas kayu bakarnya Maman.

"hei kek mengapa kau duduki kayuku?, kau telah menghabiskan bekalku, dan tak
berterimakasih sama sekali, sekarang pasti menginginkan kayuku." kata Maman
nyerocos, karena memang kayunya yang telah di duduki kakek itu.

"he,he,he jangan salah sangka, aku bukan orang yang tak punya terima kasih, tapi
apa lebihnya kalau aku berterima kasih dengan mulut saja, maka aku akan berterima
kasih dengan perbuatan, aku akan menurunkan satu ilmu kepada kalian bertiga,
bagaimana?"

"ah ilmu apa? Kalau ilmu cuma minta makan orang lain, tak usahlah, kami tanpa ilmu,
sudah tiap hari minta makan pada mamak kami.."

"he,heh anak kecil bawel amat.." setelah berkata tiba-tiba tubuh kakek itu hilang
entah kemana. Ketiga remaja itu tengok sana, tengok sini, mencari tapi tak ada.

"hii...jangan-jangan kakek itu hantu, hi." dia begidik ngeri, membayangkan nanti
kayunya di pikul, tau-tau kakek itu nongkrong di atas ikatan kayunya.

"ayo kang cepat pulang, tapi kang Rusdi bawa kayuku, dan biar kayunya kang Rusdi
aku yang bawakan."

"eh kayuku kan lebih berat dari kayumu man, kau tak akan kuat." kata Rusdi heran.
Tiba-tiba terdengar suara kekeh tawa kakek itu menggema.

"kalian tak melihatku kan? Kikikik, lihat ketatas!" serentak ketiga remaja itu
mendongak ke atas.

Terlihat kakek itu bergelantungan di atas mereka, kakinya di belitkan di ranting


sebesar jari, tapi tak jatuh. Kalau memang kakek ini jin, siluman, atau setan
kenapa doyan nasi, tapi kalau memang manusia pastilah ilmunya teramat tinggi.

"awas aku mau turun!!" tiba-tiba kakek itu meluncur turun, dengan kepala di bawah,
tangan bersedekap, kaki di lipat, tapi begitu kepalanya tinggal sejengkal, tubuhnya
segera membalik, sehingga kakinya menginjak tanah.

"gimana kalian mau ku turuni ilmu?" wajah ketiga remaja itu masih bengong
menyaksikan segala gerakan kakek itu.

"mau, mau," maman menjawab duluan. Lalu kakek itu meminta kepada ketiga remaja itu
membuka bajunya, dan kakek itu menjarat-jaret tubuh ketiga remaja itu, menuliskan
sesuatu ketubuh ketiga pemuda itu, kemudian membisikkan cara menggunakan ilmu.

"Besok kalian datang lagi, dan jangan lupa bawakan aku makanan yang banyak...!"
kakek tua itu pun melesat pergi. Tinggal ketiga remaja itu, terlongo-longo. Kini
ketiga remaja itu meninggalkan hutan bakau, sesampai di sungai pinggir hutan,
mereka tak lupa mandi, sekalian menghilangkan rasa lapar karena dari pagi perut tak
terisi,
"Rus, apakah menurut kamu, ilmu dari kakek itu benar adanya?" tanya Ali sambil
mempermainkan air dengan jarinya di genggam di renggangkan sehingga air muncrat
dari lubang genggamannya.

"ya benarlah, kau melihat sendiri kan betapa hebatnya kakek itu." jawab Rusdi, yang
sedang mengusap-usapkan air di mukanya.

"eh kalau hebat kenapa dia minta makan dari kita?" tanya Maman yang sedang
menggosok-gosokkan batu kali ke tubuhnya.

"ya sekalipun sakti, masak yang enak tetap belum tentu bisa."

Besoknya ketiga pemuda ini datang lagi ke hutan. Dan ketiganya oleh kakek itu di
suruh mempraktekan ilmu yang telah di berikan. Yang ternyata ilmu itu adalah ilmu
raga sukma. Mereka bertiga di suruh saling menukar badan wadag. Begitulah mereka
mendapatkan ilmu raga sukma.

"ustad apakah menurut ustad, ilmu ini baik?" tanya Rusdi.

Boni yang sedang merenung tentang ilmu yang di dapat Rusdi itu terkejud.

"entahlah, aku tak melihat ada manfaatnya ilmu tersebut, yang jelas menurut
pemikiranku, ilmu raga sukma ini menyalahi, tak taulah, aku terlalu buta tentang
ilmu kesaktian."

Boni berjalan meninggalkan kamar Rusdi, jidatnya mengerut. Pertanda dia tengah
berpikir keras, dia dulu mengira, bahwa ilmu gaib itu hanyalah cerita, sesuatu yang
tak nyata, hanya hayalan-hayalan seseorang kemudian di tuang ke dalam buku, dan
dibaca sebagai pengantar tidur. Tapi setelah melihat kenyataan, seakan sulit
mengesampingkan anggapan yang telah menjadi keyakinan. Tapi ah pasti punya efek
samping, ya bagaimana tidak ilmu seperti itu tak mungkin kalau bisa di jalankan
sendiri. Pasti ada yang membawa terbang sukma, setidaknya jin atau malah setan
sendiri. Boni begidik.

Malam itu habis mengajar santri, seperti biasa Boni melatih hafalan Alqurannya.
Baru saja menginjak surah ali imron, Boni mendengar pintu kamarnya di ketuk orang,
dia regera beranjak membuka pintu, ternyata dua orang santri.

"ada apa?" tanyanya melihat dua santri menghadapnya wajahnya tegang dan resah.
"ayo bilang ada apa?"

"anu ustad, Rusdi kerasukan." jawab kedua santri itu hampir serempak.

"kerasukan gimana maksud kalian."

"kerasukan ya kerasukan, ustad ini bagaimana sih? Begitu aja tak tau."

"ya udahlah, lalu di mana dia sekarang? Ayo dilihat."

Kedua santri itu, berjalan cepat mendahului Boni, menunjukkan dimana Rusdi
kerasukan. Terlihat Rusdi di kerubuti para santri, beberapa orang santri mencoba
memegangi, namun semua di mentalkan, lalu Pemuda itu lari ke dapur. Mengambil
parang dan mengamuk, para santri tak berani mendekat. Tapi aneh Rusdi mengamuk pada
diri sendiri, parang yang di pegangnya di tebaskan ke lehernya, lalu kepalanya
menghindar, kemudian di tebaskan kepahanya sendiri, paha itu juga seperti paha
orang lain saja, berusaha menghindarkan tebasan. Dia bergulingan di tanah, tangan
kiri dan kanan saling memperebutkan parang. Dan saling berusaha melukai dan
melindungi tubuhnya sendiri. Suara yang keluar dari mulutnya berubah-ubah kadang
beringas, seram mengancam, kadang suara Rusdi menyuruh pergi.

Boni melihat bengong, tak tau apa yang harus ia lakukan. Sementara Rusdi masih
bergulat dengan maut, semua santri melihat dengan pandangan ngeri. Ketika Rusdi
parangnya menghantam keras pohon mangga dan menancap teramat dalam sehingga susah
di cabut, tanpa pikir panjang lagi Boni segera menubruknya dari belakang,
menguncinya dengan pitingan.

Melihat itu santri yang lain pun menyerbu. Dengan susah payah maka Rusdi kena di
ringkus, lalu tubuhnya di ikat ke pohon jambu air yang ada di depan pondok, tambang
sepanjang duapuluh lima meteran dipakai habis untuk mengikat Rusdi, pemuda itu
mengaung-ngaung, menirukan suara srigala, kadang tertawa-tawa sendiri.

Boni mengusap peluh di jidatnya yang mengalir deras. Ah kenapa kejadian seperti ini
tak pernah terpikirkan olehnya? Kenapa dia tak pernah tau dan belajar ilmu menolong
orang kerasukan. Jadi kalau ada kejadian seperti ini dia tak tau jalan keluarnya.

Boni beranjak ke kamarnya, dan melepas pakaian yang di kenakan karena kotor oleh
debu dan keringatnya. Lalu mengganti dengan pakaiannya yang bersih. Belum selesai
ia mengancingkan baju, terdengar kamarnya di ketuk.

"ada apa?" melihat seorang santri ngos-ngosan napasnya, berdiri di depan pintu.

"anu...pak ustad...Rusdi.." kata santri itu, putus-putus.

"Rusdi kenapa?" tanya Boni tak sabar.

"lepas lagi...."

"lepas gimana? Kan dah di ikat erat, gimana bisa lepas?"

Boni segera berlari keluar dan memang Rusdi sudah tak ada di situ, tinggal
tambangnya saja yang tergeletak di bawah pohon jambu air, seperti barang yang tak
berharga. Tapi semua santri juga sepi tak ada. Terdengar suara ribut dari belakang
pesantren, di belakang pesantren putra ada pesantren putri, yang di batas tembok
setinggi tiga meter dan di atas tembok di beri pecahan kaca dan botol.

Boni bergegas melangkah kebelakang pesantren. Dan tentu saja akan melewati depan
rumah kyai Umar. Pas kyai Umar keluar dari pintu.

"ada apa bon?, kok ribut dari tadi?" tanya kyai umar kepada Boni yang segera
berhenti.

"itu kyai, ada santri yang kerasukan....."

"cepat di bereskan, jangan di biarkan ribut." kata kyai umar. Mbesengut.

Kyai umar sebenarnya bukan kyai, cuma karena tanahnya di pakai pesantren jadi
orang-orang menyebutnya kyai. Kyai umar juga tak pernah memikirkan santri, juga tak
pernah mengajar. Dia akan sangat senang kalau ada santri yang sowan dan membawa
makanan atau memberikan salam tempel, tapi akan di tinggal kalau yang sowan tak
memberikan apa-apa. Kalau tampangnya, tubuhnya sedang, perut gendut, wajah memerah
karena sering marah, dan matanya mencereng menakutkan.

Entah telah berapa kali, Boni di usir oleh kyai umar. Katanya menyaingi dirinya. Ah
menyaingi dalam hal apa, memang kadang-kadang para santri atau orang tua santri
kalau mau menitipkan anaknya maka yang di sowani adalah Boni, tapi tentu saja jika
mereka membawa apa-apa, makanan atau apa, pasti oleh Boni akan di antar langsung ke
rumah kyai Umar.
Nah kalau sudah Boni di usir dari pondok dan di suruh pulang, kemudian satu persatu
santri pun boyongan, karena tak ada yang mengajar. Setelah santri sepi, maka Boni
pun di panggil lagi, berjuang dari awal, setelah santri berdatangan maka terjadi
pengusiran lagi. Begitu berulang-ulang, Boni tak sakit hati, karena keikhlasannya
berjuang. Nabi aja terusir dari Makkah. Apalagi ini bukan pesantrennya.

Kenapa ada orang-orang seperti kyai umar? Yah karena Allah menguji kepada orang-
orang yang berjuang di jalannya, sejauh mana daya tahannya. Sehingga tersortir mana
orang pilihan? Mana orang yang gampang tumbang.

Boni melangkah ke tempat santri yang ramai mengerubuti Rusdi. Rusdi terdengar
menggereng-gereng. Beringas, ketika Boni sampai, tak di sangka-sangka. Rusdi
berlari ke arah tembok, kakinya menjejak tanah, tubuhnya ringan menjejak tembok dan
meloncati pagar tiga meter dan melewatinya dengan begitu mudahnya. Semua santri
termasuk Boni, hanya menatap bengong, tak mampu mengejar.

Terdengar jerit santri putri. Boni tak bisa berbuat apa-apa, karena ini sudah di
luar jangkauannya, hanya bisa menyangka-nyangka apa yang di lakukan Rusdi yang
sedang kerasukan di pesantren putri. Dan berdoa semoga Rusdi tak melakukan yang
tidak-tidak.

Boni kemudian memerintahkan santri putra berjaga-jaga saja. Terdengar suara kok-
kok, diatas genteng santri putri ah ternyata Rusdi ada di atas genteng santri
putri. Syukurlah kalau tidak mengganggu santri putri.
Malam itu rupanya Rusdi tidur di atas genteng santri putri. Besoknya Boni kena
damprat habis-habisan oleh kyai Umar. Karena Boni telah menyangka akan terjadi
seperti itu, maka dia tak kaget.

Dan apa yang menimpa Rusdi tentang kerasukan ini adalah awalnya, malam malam
berikutnya akan terasa panjang oleh Boni, karena kerasukannya Rusdi dari waktu
isyak sampai waktu pagi. Dan setelah di cerna maka di ambil kesimpulan sebenarnya
kerasukan Rusdi ini karena ilmu raga sukma, yang di pelajari, tanpa menggunakan
benteng dan pondasi diri yang kuat.

Maka ketika Rusdi meninggalkan tubuhnya, tubuh tanpa pagar itu tentu dengan mudah
akan di rasuki. Karena telah di rasuki maka akan tercipta lubang untuk jin-jin itu
merasuki Rusdi. Itu menurut pendapat akal-akalan Boni, kebenarannya? ya entah.

Ini entah malam yang ke berapa Rusdi kerasukan. Telah berbagai cara di coba, dari
mengikat di pohon, mengunci dalam kamar, sampai mengikat di wuwungan rumah di
antara blandar, tapi tetap saja pemuda itu dapat melepaskan diri.

Namun karena sudah biasa kerasukan, jadi sebelum waktu kerasukan datang maka santri
sudah mengatisipasi, walau selama ini hasilnya nol besar. Hal ini sama sekali tidak
melemahkan hati Boni, tadi siang dia pergi ke toko kitab dan mencari kitab atau
buku-buku yang akan di coba mempraktekkannya dalam menanggulangi kerasukan Rusdi.

Dia membeli buku tentang jin, cara paranormal mengusir jin. Dan buku silahul
mukmin. Yang setelah di buka-buka ada cara-cara untuk menolong orang kerasukan.

Salah satu cara akan di uji coba malam ini. Boni segera mengumpulkan para santri
untuk di beri tahu cara yang akan di terapkan. Harapan Boni, semoga usahanya tidak
sia-sia, sebab kerusakan yang di timbulkan karena kerasukan Rusdi ini sudah teramat
banyak.

Mungkin jin yang merasuk ini, tak suka terang, sehingga yang selalu di serang
adalah lampu, entah berapa banyal lampu yang pecah di banting, travo yang di ambil
kemudian di sembunyikan, atau bahkan di banting pecah, pernah juga kabel besar PLN
yang telanjan ada di atas pondok itu di putus, yang terang saja membuat petugas PLN
memakai alat saja sulit menyambungkan. Tapi Rusdi mudah saja memutuskan tanpa
tersetrum.

Kali ini yang akan di lakukan untuk menanggulangi Rusdi yaitu dengan cara
meletakkan Rusdi dalam lingkaran santri yang dalam keadaan suci dari hadas, sambung
menyambung, saling berpegang tangan erat. Sambil tak henti membaca Ayat Kursi.
Sementara Boni sendiri, menyediakan air di bacakan ayat Kursi tanpa napas, juga
dibacakan ayat pertama dari surat jin tanpa napas, kemudian di tiupkan ke air, dan
air ini. Yang nantinya di gunakan mengguyur tubuh Rusdi yang kerasukan.

Persiapan segera di buat. Boni sebelumnya memesan pada santri supaya jangan takut.
Dan Rusdi pun telah di kurung di tengah sekitar dua belas santri yang duduk
bersila. Saling berpegangan tangan. Suasana teramat hening, santri yang membuat
lingkaran, menunggu cemas, semua terbawa oleh perasaan masing-masing, tegang,
takut, ngeri, sekaligus ingin tahu apa yang akan terjadi. Rusdi duduk diam bersila
di tengah lingkaran, jam menunjukkan setengah delapan malam, lampu juga sudah di
matikan, sehingga kengerian datang berlipat-lipat ganda.

Tiba-tiba Rusdi mengaung wajahnya beringas, menggeram-geram, serempak semua santri


membaca Ayat Kursi, suara mereka bagaikan kor paduan suara. Boni juga telah
menyiapkan airnya yang nanti akan di siramkan ke arah tubuh Rusdi.

Jin yang masuk ke tubuh Rurdi memandang liar, seperti anjing terjebak dalam
kurungan, panik, menjerit-jerit kepanasan. Mengaung, mengamuk mencoba menyerang
orang yang duduk membaca ayat Kursi itu. Tangannya memukul kearah satu santri,
santri itu kaget tapi tak sempat menghindar, tapi satu jengkal bogem itu akan
menyentuh wajah santri itu, kepalan tangan itu mental seperti menghantam kekuatan
gaib yang tak tampak. Dan Rusdi pun terjengkang kebelakang. Dia makin marah
kemudian mencoba menyerang ke santri lain, dengan cakaran, tendangan, tapi aneh
sejengkal sebelum menyentuh sasaran Rusdi kembali terjengkang, hal ini makin
membuat semakin tebal keyakinan para santri, dan telah hilang rasa takut entah
kemana, dan di pihak Jin tentu makin takut, terpojok marah.

Jin itu merasa usahanya untuk lepas dari kepungan sia-sia belaka, maka sekarang dia
mencoba lepas dari kepungan dengan cara melompati, santri yang duduk bersila. Rusdi
yang di rasuki jin itu pun menggenjot tubuhnya.

Melompati para santri yang duduk. Tapi sungguh aneh tubuh Rusdi mental kembali
terbanting ketengah arena, loncatannya seperti membentur tembok tebal dari baja.
Dan itu di ulang ulang hasilnya sama, tubuhnya terbanting mental kembali tak bisa
menembus santri yang duduk melingkar.

Jin itu menggerung marah. Menjerit-jerit, sementara Boni yang telah siap dengan air
yang di isi, pun di siramkan. Dan Rusdi yang menggerung-gerung seketika tak sadar.
Meringkuk, pertanda jin telah keluar.
Santri yang duduk melingkarpun, bernapas lega, ketegangan yang dari tadi membelit-
belit perasaan mereka sejenak sirna, Rusdi masih menggeletak pingsan, santri yang
mau sholat segera di ganti santri lain duduk bersila membuat lingkaran. Dan sekitar
seperempat jam kemudian, Rusdi kerasukan lagi. Dan seperti kejadian yang pertama,
hal itu berulang sampai waktu subuh datang.

Memang yang merasuki tubuh Rusdi terdengar suara yang berbeda-beda, kadang suara
jinnya kecil melengking tinggi, kadang berat mendirikan bulu roma.

Hal itu berulang-ulang sampai satu bulan lamanya. Tiap malam, memang apa yang di
lakukan itu efektif untuk mencegah Rusdi tidak kabur kemana-mana, apalagi ke
kampung di sekitar pondok, yang nantinya akan membuat gempar. Walau apa yang di
lakukan ini dapat mengurung Rusdi tidak bisa kemana-mana, tapi di sisi lain para
santri yang maunya datang ke pondok dengan niat mencari ilmu jadi terganggu.

Maka Boni pun memutuskan untuk memanggil pemburu hantu dari Semarang, jadi Rusdi
mau di serahkan pada yang lebih ahli, agar para santri dapat mengaji lagi.

Setelah dimusyawarahkan maka, pemburu hantu itu pun di panggil, ada empat orang
muda, yang datang ke pesantren, mereka tampak meyakinkan, para pemburu hantu inipun
di temui Boni di ruang tamu, setelah basa-basi para pemburu hantu ini menanyakan
tentang Rusdi yang kerasukan dan bagaimana awal mulanya terjadi kerasukan.

Boni pun menjelaskan sedetail-detailnya, empat orang itu mendengar penjelasan Boni
dengan serius. Dan setelah selesai Boni menjelaskan maka keempat orang itu berembuk
bagaimana nantinya menghadapi, sementara Boni meninggalkan keempat orang itu.

Jam masih menunjukkan jam empat sore, panasnya siang masih terasa, tanah yang
pecah-pecah karena kemarau. Retakan tanah makin lebar saja, dan tanah yang kering
mengeras seakan telah menjadi batu padas, memantulkan panas dari matahari. Perlahan
waktu bergulir kearah senja, dan matahari cahayanya makin redup, seakan mengantuk
ingin ke peraduan.

Waktu magrib cepat berlalu, nampak para pemburu hantu mempersiapkan diri, dua orang
berseragam hitam-hitam, dan dua orang lagi berseragam putih-putih, Rusdi duduk
bersila di tanah di pelataran pesantren, empat orang itu mengurung Rusdi dari empat
penjuru. Suasana teramat tegang. Nampak beberapa botol di persiapkan.

Para penduduk banyak berdiri di luar pagar pesantren, para santri melihat dari
jauh. Mereka sebelumnya sebagai pemain membaca ayat Kursi, kini menonton sungguh
berbeda. Biasanya ketegangan menjalari dada, sekarang rasanya tak sabar menunggu
permainan di mulai.

Adzan isha telah selesai berkumandang di masjid yang berjarak seratus meteran dari
pesantren. Masih belum terjadi apa-apa, semua orang terdiam, kalaupun harus
berbicara, maka akan dilakukan dengan berbisik-bisik seakan takut mengganggu bayi
yang sedang tidur. Dan takut bayi itu terbangun lalu menangis.

Tiba-tiba Rusdi menggereng, pertanda bahwa dia mulai kerasukan. Para pemburu hantu
pun mulai mengatur jurus, berjalan melingkar, di ikuti tatapan mata merah menyala
milik Rusdi yang telah kerasukan. Tiba Rusdi menerkam salah satu pemburu hantu yang
berpakaian hitam, serangan yang di lakukan Rusdi sungguh cara aneh, tubuhnya
meluncur lerus kedepan. Tangan kanannya mencakar dan tangan kirinya, mengayunkan ke
titik berhaya di tubuh pemburu hantu berbaju hitam tersebut.

Rupanya pemburu hantu berseragam hitam ini mahir juga ilmu silatnya, serangan Rusdi
kearah wajah dia elakkan dengan miring dan menarik wajah kebelakang, dan serangan
ke bawah ia tangkis dengan tangannya, dan dia masih mampu menyerang balik,
menendang perut Rusdi yang melayang, tapi tendangan itu oleh Rusdi di tangkis
dengan tangan kiri dan meminjam tenaga tendangan itu melenting di atas kepala, dan
menghantamkan bogem ke arah batok kepala, pemburu hantu kaget segera menjatuhkan
diri berguling, ketika Rusdi yang turun ujung kakinya menotol ke arah tubuhnya.

Dari beberapa gebrakan menunjukkan Rusdi lebih unggul setingkat dari pada pemburu
hantu baju hitam, melihat temannya terdesak, ketiga temannya segera mengeroyok
Rusdi,

Maka terjadilah suara bergedebukan yang ramai sekali. pertempuran untuk menaklukkan
jin yang ada di tubuh Rusdi makin seru saja, dari keempat penyerang hanya pemuda
yang dipanggil Gus Rohman saja yang membuat Rusdi keteter. Dan kualahan. Lelaki
muda ini selama ini selalu di hormati oleh ketiga orang pemburu hantu mungkin
pemimpinnya. Ketika sorban yang di pakai Gus Rohman menderu, menotok seperti kayu,
kadang lemas seperti ular yang meliuk-liuk,

Ctar..!,ctar.! Bet...bet.,wuut..wutt .,bet..ctar.! Suara itu memburu kemanapun


Rusdi bergerak, dan terdesak, pernah dia mencoba menangkis hantaman surban yang
mengeras seperti kayu, mengemplang pundaknya. Dugh..! Suara benturan sorban dengan
tangannya, ia merasakan sorban laksana besi keras dan Rusdi melompat mundur, ia
meringis menahan sakit, maka setiap sorban itu menderu memburunya Rusdi tak berani
memaki, tau kelihaian penyerangnya.

"mundur.!!" terdengar bentakan dari Gus Rohman, serentak pengeroyok pun meloncat
mundur.

"biar aku hadapi sendiri.!" memang kalau di pikir-pikir ketiga pemburu hantu itu
mempersulit Gus Rohman sendiri dalam menundukkan Rusdi, dimana bila Rusdi telah
terdesak, dan ketiga pemburu hantu itu maju, maka di pergunakan oleh Rusdi untuk
celah menghindar, jadi tak selesai-selesai nanti pertarungan, Boni yang tak
mengerti ilmu silat saja tau kalau ketiga orang itu hanya memperlambat peringkusan.
ketiga orang telah mundur tapi masih mengepung. Menjaga agar Rusdi jangan lari.

Gus Rohman berdiri tegak, sorban di tangannya tegak keras berbentuk pedang,
pertanda tenaga dalam telah di salurkan ke surban itu. Sementara Rusdi juga telah
memancang kuda-kuda, walau di matanya membayangkan miris tapi ia tetap saja bersiap
menghadapi.

"menyerahlah kau jin fasik..!" bentak Gus Rohman, dengan suara keras berwibawa.

"hik...hik...ckikikik, kalian hanya membuang waktu saja, hik...hik.,walau kalian


bisa menangkapku, semua jin dari lebak setra Gondo mayit. Akan menjadikan tempat
ini jadi karang abang..hik kakakakaka..." kata jin yang merasuki Rusdi,
memperpanjang tertawanya tapi segera berhenti ketika surban Gus Rohman telah
menderu kearahnya...wut..wut,,bet bet...bet.! Dan tubuh Rusdi menghindari kilatan-
kilatan surban yang menderu tiada hentinya.

Belum sampai lima menit Rusdi telah terdesak demikian hebatnya. Kemanapun dia
bergerak sorban itu telah memapaki. Sampai satu saat surban itu menghantam
perutnya. Dan dia melenguh, tangan kirinya mencoba menangkap surban, tapi malah
terbelit, tangan kanannya mencoba melayangkan pukulan ke arah muka Gus Rohman. Tapi
surban yang membelit tangan kiri begitu saja meliuk membelit tangan kanan Rusdi,
dan seakan surban itu memanjang dan kaki Rusdi juga tiba-tiba telah terikat oleh
surban. Rusdi pun terjengkang ke belakang, tiga orang pemburu hantu yang tadi
berdiri menonton pun segera meringkus Rusdi.

Gus Rohman maju mendekat dan jongkok di depan Rusdi yang duduk di piting dua orang
pemburu hantu.

"nah sekarang kau sudah teringkus, aku hanya memberi pilihan kepadamu, kau memilih
kembali pada kelompokmu dan berjanji tak akan mengganggu pemuda ini, atau kau
memaksaku mengeluarkanmu dan mengurungmu dalam botol?"

"buah ...siapa yang takut padamu, biar kau kurung aku hik...hik...semua temanku
penghuni lebak setra Gondo Mayit, akan tetap merasuki tubuh pemuda ini, sampai dia
mati....huahaha."

"hei kenapa begitu mendendamnya kelompokmu terhadap pemuda ini?"

"bagaimana kami tak dendam? Ilmu raga sukma dia dari kami, apabila dia merapal
mantra kami yang membawa sukmanya tapi apa balasannya, hik...hik... Setiap kami
selesai mengantar, dan pulang lalu sakit dan mati...."
"jadi kau tak mau meninggalkan pemuda ini?!" tanya Gus Rohman dengan nada tinggi.

"huahaahaha, biar aku meninggalkan pemuda ini, teman-temanku juga telah menunggu
memasuki tubuh pemuda ini...agar pemuda ini sukmanya klambrangan, dan mati
penasaran...hahahaha.."

Gus Rohman segera berdiri tangannya di tempel ke kepala Rusdi dan di tarik
menggenggam. Sementara satu orang pemburu hantu yang tak ikut memegangi Rusdi sudah
menyiapkan botol, tangan Gus Rohman yang menggenggam segera, seperti memasukkan
sesuatu pada botol. Dan menutupnya.

Sedangkan si Rusdi telah lemas. Pertanda bahwa jin yang merasukinya telah keluar.
Namun hal itu tidaklah lama seperempat jam kemudian, tubuh Rusdi telah kerasukan
lagi, karena telah mengatisipasi, dan tau dari cerita Boni, maka setiap Rusdi
kerasukan, Gus Rohman segera mengeluarkan jin yang masuk dan mengurungnya dalam
botol. Begitu terus terjadi sampai pagi menjelang Boni sudah tak kerasukan lagi.
Ada sebanyak enampuluh tiga botol yang telah terisi jin. Dan atas saran Gus Rohman,
Rusdi di bawa ketempat pemburu hantu untuk pengobatan selanjutnya.

Tentu saja itu melegakan Boni. Karena masalah Rusdi nantinya tak mengganggu
ketenangan pondok lagi. Memang sepeninggal Rusdi, keadaan pondok pesantren tenang
kembali kegiatan santri mengaji berjalan lagi seperti semula, dan selang dua tiga
hari kejadian yang menimpa Rusdi sudah tak ada yang membicarakan.

Siang itu hujan pertama kali turun setelah sekian lama kemarau panjang memupuk
sumpah serapah para petani, bau khas tanah yang tersiram air hujan, seakan-akan
sesuatu yang teramat di rindukan. Hujan teramat derasnya hingga tanah yang
sebelumnya bengkah, retak pecah-pecah kini tertutup lagi. Angin segar memenuhi
udara, menimbulkan harapan petani yang selama ini telah kehilangan semangat tuk
meneruskan hidup lagi, derita kelaparan yang mulai mengancam keluarga, makan gaplek
dan singkong rebus saja, paling tidak untuk tiga bulan kedepan bisa makan nasi.

Lalu bagaimanakah keadaan Rusdi? Dia dibawa ke padepokan jari Alif pembangun roso.
Sebuah padepokan penggembleng pemuda-pemuda di daerah Ungaran. Rusdi di obati tiap
malam, jin yang merasukinya di ambil dan di masukkan kedalam botol, sudah tak
terhitung botol yang di isi jin memenuhi gudang dan tertumpuk rapi, yang nantinya
akan di larung ke laut selatan. Ancaman jin yang dulu merasuki Rusdi memang bukan
ancaman kosong. Sudah seminggu jin memasuki tubuh Rusdi di ambil dan di masukkan
botol tapi ternyata tak habis-habis juga.

Ini malam yang ketujuh dari mulai Rusdi di obati di padepokan jari Alif. Malam itu
seperti biasa Rusdi duduk ditengah ruangan latihan, dan para murid Gus Rohman
melingkar di pinggir arena, semua berseragam hitam-hitam, rupanya tingkat dasar
berseragam hitam-hitam, dan tingkat diatasnya berseragam putih-putih.

Para murid yang berseragam hitam, yang kebanyakan masih remaja umur tujubelasan
tahun sampai duapuluh tujuh tahun, duduk rapi dipinggir arena, ada sekitar
tigapuluh orang. Dan murid berseragam putih, yang kebanyakan berumur setengah baya,
ada sekitar duabelasan orang berdiri tegak mengapit Gus Rohman yang duduk di apit
dua kakek yang duduk di kanan kirinya.

Kakek yang sebelah kiri bertubuh kurus, kumisnya putih tebal melintang, wajahnya
angker, sinar matanya tajam seperti elang dia sering di sebut kakek japrang. Entah
karena kumisnya yang jerpapang atau itu memang sudah namanya.

Umur kakek ini sekitar enampuluh lima tahun. Sementara kakek di sebelah kanan Gus
Rohman, wajahnya lembut. Gemuk, plontos tak ada kumisnya, wajahnya santai, dan
kelihatan suka bercanda, dari wajahnya seperti tak ada beban hidup, kakek ini
bernama kakek Dullah, umurnya enampuluh tahun tapi kelihatan masih muda. Kedua
kakek ini adalah penasehat dari padepokan jari Alif, mereka di undang Gus Rohman.
Karena masalah Rusdi ini berkembang kearah yang mengkawatirkan.

Menurut jin yang kemaren di tangkap terakhir, mengancam bahwa datuk penguasa lebak
setra Gondo Mayit, malam ini akan datang dan mengobrak abrik padepokan jari Alif.

Tentu saja itu membuat Gus Rohman gentar, menghadapi anah buahnya aja sebegitu
beratnya. Apalagi menghadapi datuknya. Maka di panggilah penasehat sekaligus
pendiri perguruan yaitu kakek japrang dan kakek Dullah.

Rusdi duduk bersila di tengah ruangan. Di sekitar dia duduk telah di taburkan garam
yang telah di isi kekuatan pagar gaib, di harapkan walau Rusdi dalam keadaan
kerasukan, maka tak bisa melewati pagar garam. Selama seminggu ini hal itu
berhasil, dengan memuaskan.

Kumandang adzan sholat isyak telah lama berlalu. Tapi belum terjadi apa-apa pada
Rusdi, sampai jam menunjukkan jam sembilan malam, tapi belum terjadi apa-apa,
sampai orang yang berseragam putih yang dari tadi duduk mematung, lama-lama kaki
mereka semuten. Dan satu persatu mulai duduk menggelosor.

Tiba-tiba tercium bau menyan yang menyengat hidung, semua yang hadir sontak tegang,
orang-orang yang berseragam putih pun telah berdiri lagi. Ki japrang dan ki Dullah
pun matanya terpejam menyatukan rasa membuka mata batin, atas akan datangnya musuh
ya teramat sakti.

Gus Rohman masih duduk di kursi matanya tak lepas dari tubuh Rusdi, Seketika angin
keras menerjang masuk, begitu kerasnya sampai murid yang kepandaiannya masih rendah
bergulingan, seperti daun kering yang di terjang sapu lidi. Sementara baju Gus
Rohman dan kedua kakek itu berkibaran, dan dua belas murid yang berpakaian putih,
berusaha mempertahankan pijakan kakinya.

"huahahaha...orang-orang kroco mau melawan aku datuk Lebak Setra gondo mayit.
Huahahaha..." terlihat Rusdi berdiri, dengan suara orang tua yang suaranya laksana
petir memekakkan telinga. Sampai-sampai murid yang berseragam hitam, banyak yang
tersungkur pingsan. Gus Rohman pun meloncat maju.

"kyai ..jangan salahkan kami, kalau kami melawan kyai dan seluruh penghuni lebak
setra, karena kyai beserta penghuni lebak telah berbuat angkara."

"puih....najis...cueleng., asu tak tau diri , angkara huahaha...angkara cap


tuerong. Bocah kemaren sore mau mengajari aku yang telah hidup tiga ratus tahun
tentang benar salah, cuih najis huahaha."

"kalau begitu kami akan menggunakan kekerasan, untuk menangkap kyai." kata Gus
Rohman melolos surbannya.

"hah kekerasan? Huahaha, tai kucing, kalian bisa apa, hayo maju semua, kubuat
tempat ini banjir darah,huahaha...."

Segera Gus Rohman menerjang dengan surban di tangannya menderu, membabat, menotok
kearah bagian tubuh yang berbahaya, aneh serayang itu sama sekali tak di tangkis,
dan buk..! Plak...ctar.! Semua serangan yang tepat mengenai sasaran itu tak membuat
tubuh Rusdi bergeming.

Padahal serangan hantaman surban itu kalau terkena batu pun akan hancur. Tapi ini
sama sekali tak membuat tubuh Rusdi bergerak sama sekali.

"huahahaha...enak juga di pijiti seperti ini ckikik...geli." suara kakek yang di


tubuh Rusdi membuat Gus Rohman makin beringas menyerang. Lama-lama kakek itu bosen
juga, maka dia menggerakkan tangannya memapaki serangan, serangkum angin panas
menderu. Wuuuet...bleg...hgeegh.! Serangan surban membalik dan pukulan kakek itu
tepat mengenai dada Gus Rohman, tubuhnya pun seperti daun yang di terbangkan angin
melayang kearah dua kakek yang tadi menonton tegang. Segera dua kakek itu menangkap
tubuh Gus Rohman dan mendudukkannya di tanah. Muntah darah pertanda luka dalam
teramat parah. Kedua belas orang murid seragam putih pun segera maju mengepung. dua
belas orang yang mengeroyok itu seperti daun kering yang di taburkan di kipas
angim, setiap tangan Rusdi yang kerasukan Datuk lebak setra gondo mayit itu
digerakkan maka akan terdengar jerit kesakitan dan tubuh orang mental terbanting
lalu muntah darah, juga pingsan karena luka dalam yang berat, tak sampai lima menit
kedua belas orang itu telah bergelimpangan di sana sini.

Melihat itu ki japrang dan ki Dullah segera meloncat menerjang, tubuh mereka berdua
melesat teramat cepat. Ki japrang menyerang dengan ikat kepalanya, suaranya
menderu-deru bagaikan angin badai, Sementara ki dullah bersenjatakan sebuah keris
kecil yang mengeluarkan cahaya biru, keris itu mengeluarkan cahaya seperti ada
lampunya saja.

Pertarungan tiga orang itu teramat seru. Walau sekarang tubuh Rusdi yang kerasukan
itu berkelebat kesana kemari menghindari keris ki Dullah yang mengeluarkan hawa
teramat dingin, juga samplokan ikat kepala ki japrang yang berhawa panas. Namun
kedua senjata itu masih belum bisa menyentuh tubuh Rusdi.

Seratus jurus telah lewat, napas kedua kakek itu telah ngos-ngosan, keringat telah
membuat baju mereka seperti habis di celupkan air lalu di pakai. Mendadak
pertempuran itu berhenti, kedua kakek itu meloncat mundur, lalu berdiri dua meter
di kiri kanan Rusdi, napas mereka kembang kempis.

"hahaha...kenapa kalian berhenti?, ayo akan ku layani sampai napas kalian putus
hahaha..." kata Datuk lebak setra.

Kedua kakek itu hampir bersamaan menggereng kemudian meloncat lagi menyerang, dan
keris di tangan ki Dullah menusuk mata, sementara ikat kepala ki japrang menusuk
pusar. Duar...!duar..!! Dua ledakan dasyat mengguncang tempat itu ketika dua
kekuatan saling bertemu, dan kedua kakek itu terlempar lalu terbanting di lantai
muntah darah.

"huahaha...kroco-kroco mau melawanku, mau ku jadikan karang abang tempat


ini....huahahaha" tiba-tiba tangan Rusdi yang di rasuki jin sakti datuk penguasa
lebak setra gondo mayet itu menyala, lalu dari tangan itu keluar cahaya sebesar
bola volly melayang di atas tangannya yang terpentang jari-jarinya, tempat itu yang
sebelumnya gelap karena lampu penerangan mati akibat deru angin pukulan, kini
terang benderang oleh bola yang berputar putar di atas tangan Rusdi dan wuuut...!
Tangan Rusdi di kibaskan, bola itu seketika menderu kearah gudang penyimpanan
botol-botol tempat para jin di tawan. dinding kayu jebol berhamburan, tercipta
garis lingkar limapuluh centi. Dan suara ribut terdengar karena botol berhamburan.
Gus Rohman yang telah pulih kekuatannya begidik, cepat-cepat dia melocat bersimpuh
di depan Rusdi.

Sementara tempat latihan silat itu mendadak udara terasa pengap, yah itulah karena
jin yang sebelumnya di kurung dalam botol sekarang lepas semua, dan tak bisa di
bayangkan kalau mereka mengamuk.

"ampun kyai...maafkan kalau kami tak tau dengan siapa kami berhadapan.." Gus Rohman
menyembah-nyembah melihat gelagat yang tak akan menguntungkan.

"puuih....kau yang menangkapi rakyatku sekarang mau minta ampun...rasudi..!"

"tapi kyai, kami hanya mau mengobati saudara Rusdi yang sakit, bukan maksud untuk
melawan kyai..."

"baik aku akan mengampunimu, tapi sediakan syaratnya..."

"aku ingin kau sediakan darah tuju ekor kambing dan darah tuju ekor ayam, kau
siramkan di pelataran tempat ini, jika besok malam tak kau sediakan jangan salahkan
kalau tempatmu ini ku jadikan karang abang."

"baik kyai besok akan kami usahakan..."

Tiba-tiba tubuh Rusdi lemas dan pingsan. Akibat amukan dari Datuk penguasa lebak
setra gondo mayit ini benar-benar luar biasa. Tak ada orang yang di situ yang tak
terluka.

Untung bagi murid-murid seragam hitam lukanya tak terlalu parah, karena sudah
pingsan duluan. Besoknya Gus Rohman segera menyuruh murid-muridnya untuk mencari
tuju ekor kambing dan tuju ekor ayam setelah dapat, kemudian di sembelih dan
darahnya di siramkan kesekitar halaman padepokan jari Alif. dan Rusdi di antar
kembali kepesantren Annur.

"maaf kang Boni, kami tak sanggup menyembuhkan Rusdi, karena lawan yang kami hadapi
terlalu berat, harap di maklumi." kata Gus Rohman di depan Boni.

"oh jadi belum sembuh?" Boni kaget dan ada keprihatinan menyumpal dadanya.
Bagaimana nantinya, pondok ini akan mengalami huru hara yang tak ada habisnya lagi.

"iya kang..." kata Gus Rohman.

"mungkin di carikan orang yang lebih tinggi ilmunya, tapi saya sendiri ragu apa
Rusdi ini bisa di sembuhkan.]"

"wah...wah..kok begitu, jadi nanti kesurupan tiap malam, walah bisa repot ini."
Setelah di rasa cukup maka Gus Rohman dan rombongannya mohon diri.

Beban berat seperti menggelayut di pundak Boni, seperti berkarung-karung ketidak


bergunaan kalau tak berpikir pasti ada rahasia hikmah di balik kejadian ini,
rasanya terlalu malas mengurusi. Hikmah memang kadang datang di ujung sekali dari
kesabaran manusia. Makanya Allah selalu menekankan, bahwa Dia selalu menyertai
orang-orang yang sabar. Kesabaran yang di kehendaki Alloh itulah yang kadang tak
kuat di tanggung oleh nafsu manusia. Dan mungkin Boni ini termasuk yang tak sabar?
Hanya Alloh yang tau. Boni telah menghubungi Ayah Rusdi supaya menjemput anaknya
pulang ke rumah.

Malam itu, ketika sedang membacakan kitab fathul muin, seorang santri melaporkan
bahwa Rusdi kerasukan lagi, ah biarlah, Boni meneruskan mengajar. Dan menyuruh
santri untuk tenang.

Sementara Boni yang sedang kerasukan mencak-mencak di tegel keramik rumah Kyai
Umar, kakinya yang nyeker, habis menginjak tanah yang becek karena air hujan naik
ke keramik, sehingga keramik kotor tak karuan, kyai Umar keluar, melihat keramiknya
di acak-acak, kyai itu marah dan menyumpah-nyumpah.

"santri uedan, tak tau diri, keramik muahal di kotori, perlu di kasih hajaran..!"
kyai Umar maju melayangkan tendangan kepada Rusdi, tapi Rusdi ini sedang kerasukan,
kaki kyai itupun di tangkap, dan di tarik, bruuk..nguegh..! Tubuh gendut Kyai Umar
seketika jatuh terjengkang, tapi Rusdi masih menyeretnya turun ke halaman yang tak
berplester, dan penuh batu dan kerikil juga kubangan air hujan. Kyai Umar
menyumpah, menangis, dan mengaduh. Sementara Rusdi tetap menyeretnya.
"kang Boni, tolongin Abah di seret-seret Rusdi..." suara Hani putri kyai Umar
mengagetkan Boni yang sedang mengajar, Boni segera berlari ke arah halaman rumah
kyai Umar di ikuti semua santri. Melihat kedatangan orang banyak Rusdi segera
melepas kaki Kyai Umar dan lari melompati pagar tembok pondok putri.

"tangkap santri gila itu..! wadow pantatku hancur huuu.,huuu...tangkap dia huu...."
kyai Umar menangis. Boni segera berlari di ikuti para pengurus pondok ke pondok
putri. Melewati pintu tembus yang ada di dalam rumah kyai umar.

Boni melihat Rusdi telah berdiri di atas pagar tingkat atas, mau melompat, Boni
segera memburu, suara jerit santri putri ramai sekali.

"hei hentikan...jangan meloncat...!" teriak Boni ketika sampai di bawah Rusdi.

"aku harus membunuhnya, karena dia telah membunuh suamiku..." terdengar suara
wanita dari mulut Rusdi, rupanya kali ini yang merasukinya adalah jin wanita. Belum
lagi Boni berkata lagi tubuh Rusdi telah meloncat, maka tanpa pikir panjang lagi
Boni pun merenggut kaki Rusdi yang baru meloncat dua jengkal dari pagar. Dia
menarik sekuat tenaganya. Maka tubuh Rusdi melayang kedalam. Dan jatuh berdebun di
keramik, sampai tiga keramik pecah. Untung yang merasuki sekarang adalah jin
wanita. Boni menindih tubuh Rusdi.

"ini adalah batas akhir kesabaranku, kalaupun kau bisa membunuh Rusdi hukum Alloh
akan memburu di manapun kalian berada. Di lubang semut sekalipun, kalian tak akan
lepas. Dan aku bersumpah demi dzat yang maha perkasa, aku akan setiap hari membaca
doa kanzul arsy dan aku berdoa untuk kehancuran bangsamu. Kita lihat apakah kau dan
bangsamu lebih kuat dari Alloh, sekarang mau keluar tidak?!"

"iya aku keluar..." kata suara wanita dalam tubuh Rusdi dengan nada takut,

"dan suruh semua bangsamu jangan mengganggu pemuda ini..,,!"

"iya..." sebentar Rusdi lemas kemudian terdengar suara dari mulutnya, sementara
Boni masih menindih.

"ini aku Ustadz..." suara Rusdi terdengar, asli. Maka Boni pun melepaskan.

Alhamdulillah sejak malam itu Rusdi tak lagi kerasukan, dan ketika ayahnya
menjemput, Boni pun melepas Rusdi pergi, seperti melepas beban seberat gunung
anakan. Semoga dia tak kerasukan lagi.