Anda di halaman 1dari 15
PROGRAM KREATIVITAS MAHASISWA JUDUL PROGRAM POTENSI ECENG GONDOK ( Eichhoornia crassipes ) SEBAGAI SUBSTRAT JAMUR

PROGRAM KREATIVITAS MAHASISWA JUDUL PROGRAM POTENSI ECENG GONDOK (Eichhoornia crassipes) SEBAGAI SUBSTRAT JAMUR PENGHASIL AGEN Bleaching Pulp YANG RAMAH LINGKUNGAN

BIDANG KEGIATAN :

PKM Gagasan Tertulis (PKM-GT)

Diusulkan oleh:

Akhmad Mubarok C.P.

080810749

Angkatan 2008

(Ketua Kelompok)

Ni Made Pertiwi Jaya

080810757

Angkatan 2008

(Anggota)

Ario Mukti W. Y. S.

080710379

Angkatan 2007

(Anggota)

UNIVERSITAS AIRLANGGA SURABAYA

2010

HALAMAN PENGESAHAN USUL PKM-GT

1. Judul Kegiatan

2. Bidang Kegiatan

: Potensi Eceng Gondok (Eichhoornia crassipes) Sebagai Substrat Jamur Penghasil Agen Bleaching Pulp yang Ramah Lingkungan

: ( ) PKM-AI

() PKM-GT

3. Ketua Pelaksana Kegiatan

a. Nama Lengkap

b. NIM

c. Jurusan

d. Universitas/Institut/Politeknik

e. Alamat Rumah dan No. Tel./HP : Jl. Tugulangsi 706 RT 02 RW 01

Sukorejo tambakrejo Bojonegoro HP 085648041855 : imbarcbjn@yahoo.com

f. Alamat email

: Akhmad Mubarok Cahyo Purnomo : 080810749 : Ilmu dan Teknologi Lingkungan : Universitas Airlangga

4. Anggota Pelaksana Kegiatan/Penulis : 2 orang

5. Dosen Pendamping

a. Nama Lengkap dan Gelar

b. NIP

c. Alamat Rumah dan No. Tel./HP : Perumdos ITS Jl. Humaniora Blok B-8 Keputih Surabaya HP 08123123094

: Nita Citrasari S.Si, M.T. : 198208022008122002

Menyetujui, Wakil Dekan I Fakultas Sains dan Teknologi

Surabaya, 10 Maret 2010

Ketua Pelaksana Kegiatan

(Prof. Drs. Win Darmanto, M.Si, PhD) NIP. 19610616 198701 1 001

Direktur Kemahasiswaan Universitas Airlangga

(Prof. Dr. Imam Mustofa, Drh., M.Kes.) NIP. 19600427 198701 1 001

(Akhmad Mubarok) NIM. 080810749

Dosen Pendamping

(Nita Citrasari S.Si, M.T.) NIP. 19820802 200812 2 002

KATA PENGANTAR

Segala puji syukur penulis panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa

berkat karunia-Nya, penulis dapat menyelesaikan karya tulis Program Kreatifitas Mahasiswa-Gagasan Tertulis (PKM-GT) yang berjudul “Potensi Eceng Gondok (Eichhoornia crassipes) Sebagai Substrat Jamur Penghasil Agen Bleaching Pulp yang Ramah Lingkungan” ini dengan baik. Tulisan ini dapat selesai dengan baik berkat bantuan dari berbagai pihak. Oleh karena itu tidak lupa penulis mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang turut membantu dalam menyelesaikan karya tulis ini, yang terhormat:

1. Prof. Dr. Agoes Soegianto, DEA selaku Ketua Program Studi Ilmu dan Teknologi Lingkungan Fakultas Sains dan Teknologi Universitas Airlannga yang telah mendukung penulis.

2. Ibu Nita Citrasari S.Si, M.T. selaku dosen pembimbing yang telah memberikan saran dan bimbingan untuk menyelesaikan karya tulis ini.

3. Bapak dan ibu dosen Departemen Biologi Fakultas Sains dan Teknologi Universitas Airlangga yang telah memberi dukungan dan semangat kepada penulis untuk menyususn karya tuls ini.

4. Kedua orang tua yang selalu memberikan doa, motivasi dan dukungan kepada penulis dalam pembuatan karya tulis ini.

5. Saudaraku Heri Agung Susanto yang telah turut membantu dalam penyelesaian karya tulis ini.

6. Teman-teman seperjuangan dan kakak-kakak angkatan di Departemen Biologi Fakultas Sains dan Teknologi Universitas Airlangga yang selalu memberikan semangat dalam penyelesaian.

7. Semua pihak yang tidak dapat penulis sebutkan satu persatu.

Akhirnya penulis menyadari bahwa karya tulis ini jauh dari sempurna. Oleh sebab itu, segala kritik dan saran dari pembaca yang dapat membangun sangat penulis harapkan. Semoga karya tulis ini dapat memberikan manfaat bagi semua pihak serta perkembangan ilmu pengetahuan.

Surabaya, 10 Maret 2010 Penulis

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL

i

HALAMAN PENGESAHAN USUL PKM-GT

ii

KATA PENGANTAR

iii

DAFTAR ISI

iv

RINGKASAN

v

PENDAHULUAN

1

Latar Belakang

1

Tujuan dan Manfaat yang Ingin Dicapai

2

GAGASAN

2

Pencemaran Lingkungan yang Disebabkan Produksi Pulp dan Kertas

2

Upaya Pengelolaan Limbah Pencemar dari Produksi Pulp dan Kertas

3

Penggunaan Eceng Gondok Sebagai Substrat Jamur P. chrysosporium Penghasil Agen Bleaching Pulp yang Ramah Lingkungan

4

Kontribusi Industri dalam Produksi Pulp dan Kertas yang Ramah Lingkungan

5

Produksi Biomassa Jamur P. chrysosporium dengan Menggunakan Substrat Eceng Gondok

6

KESIMPULAN

7

Gagasan

7

Teknik Implementasi Gagasan

7

Manfaat dan Dampak Gagasan

7

DAFTAR PUSTAKA DAFTAR RIWAYAT HIDUP

8

Tabel 1.

DAFTAR TABEL

Pertumbuhan P. chrysosporium pada Densitas Inokulum, Konsentrasi Air Substrat, Densitas Inokulum dan Waktu Inkubasi Berbeda

7

RINGKASAN

Titik berat permasalahan lingkungan dalam industri bubur kertas (pulp) dan kertas berada pada proses pemutihan (bleaching) yang masih menggunakan klorin. Pasalnya, apabila klorin bereaksi dengan senyawa organik dalam kayu, dapat membentuk senyawa toksik yang berbahaya bagi lingkungan hidup. Diperlukan metode alternatif yang ramah lingkungan untuk mengatasi problem ini, salah satunya adalah dikembangkan proses bleaching dengan menggunakan enzim xylanase atau dikenal dengan enzim bleaching. Enzim xylanase dapat dihasilkan oleh jamur Phanerochaete chrysosporium, jamur ini tumbuh pada suatu media yang memiliki kandungan lignoselulosa. Berdasarkan kandungan tersebut, eceng gondok (Eichorrnia crassipes) dapat digunakan sebagai substrat. Tujuan dan manfaat yang ingin dicapai dari penulisan ini adalah untuk mengetahui kemampuan lignoselulosa eceng gondok sebagai substrat jamur P. chrysosporium, produksi biomassa jamur P. chrysosporium dengan menggunakan substrat eceng gondok, dan mengetahui kemampuan jamur P. chrysosporium pada substrat eceng gondok dalam menghasilkan enzim xylanase. Metode penulisan yang digunakan adalah metode induktif, yaitu merangkum fakta-fakta umum melalui studi pustaka kemudian dianalisis dan diambil kesimpulan untuk memecahkan masalah yang ada. Pencemaran lingkungan yang disebabkan industri pulp dan kertas, antara lain membunuh invertebrata akuatik, memasukkan zat kimia karsinogen ke lingkungan, menghabiskan jutaan liter air tawar, dan menimbulkan risiko terganggunya kesehatan. Dalam menangani limbah pencemar dari industri pulp dan kertas, beberapa upaya telah dilakukan, namun hanya pada sebagian kecil industri, hal ini disebabkan oleh kendala biaya yang tinggi. Proses enzim bleaching terbukti efektif, berdasarkan hasil penelitian, proses ini dapat mengurangi 70% kebutuhan klorin dalam proses bleaching tanpa merusak selulosa. Dengan penggunaan eceng gondok sebagai substrat maka akan memperkecil biaya dalam instalasinya dan sekaligus mengurangi populasi gulma air tersebut. Secara sederhana, enzim xylanase diperoleh dengan menumbuhkan P. chrysosporium pada substrat berlignoselulosa, dalam hal ini eceng gondok. Enzim yang dihasilkan kemudian digunakan dalam proses bleaching dengan mencampurkannya pada pulp untuk dibentuk kertas. Produksi biomassa terbesar P. chrysosporium akan dihasilkan dengan kondisi yang sesuai, yakni densitas inokulum sebesar 10% atau 20%, konsentrasi air substrat 60%, dan waktu inkubasi 20 hari. Dari uraian gagasan maka dapat diambil kesimpulan, bahwa eceng gondok dapat digunakan sebagai substrat untuk pertumbuhan jamur P. chrysosporium karena memiliki kandungan lignoselulosa yang mampu mendukung pertumbuhan dan kerja optimum jamur tersebut, P. chrysosporium ditumbuhkan pada substrat eceng gondok untuk menghasilkan enzim xylanase dimana biomassa terbesar diperoleh dengan menerapkan kondisi yang sesuai, dan jamur P. chrysosporium mampu menghasilkan agen bleaching berupa enzim xylanase untuk mensusbtitusi klorin sehingga tercipta proses produksi yang ramah lingkungan.

PENDAHULUAN

Latar Belakang

Industri kertas merupakan salah satu jenis industri terbesar di dunia dengan menghasilkan 178 juta ton bubur kertas (pulp), 278 juta ton kertas dan karton, dan menghabiskan 670 juta ton kayu. Pertumbuhannya dalam dekade berikutnya diperkirakan antara 2% hingga 3,5% per tahun, sehingga membutuhkan kenaikan kayu log yang dihasilkan dari lahan hutan seluas 1 sampai 2 juta hektar setiap tahun (Rini, 2002). Di Indonesia khususnya, produksi kertas juga terus mengalami peningkatan seiring dengan aktivitas masyarakat yang tidak dapat terlepas daripenggunaan kertas. Beberapa industri kertas berdiri guna memenuhi kebutuhan masyarakat akan kertas tersebut. Dalam proses pembuatan kertas, khususnya proses pemutihan (bleaching) pulp sebagai bahan baku kertas, masih banyak menggunakan bahan kimia berbahaya yakni klorin. Penggunaan klorin sebagai pemutih menghasilkan limbah beracun berupa dioksin yang tidak lain adalah senyawa organik yang sukar terdegradasi dan konsentrasinya akan berlipat ganda jika masuk ke dalam rantai makanan karena adanya proses biomagnifikasi, sehingga menyebabkan menyebabkan terjadinya pencemaran lingkungan (Rini, 2002). Namun, sebagian besar industri pulp dan kertas menolak untuk menerapkan proses bleaching tanpa menggunakan klorin sebab dianggap paling efektif untuk saat ini. Untuk itu, diperlukan metode alternatif yang ramah lingkungan untuk mengatasi problem tersebut, salah satunya adalah proses bleaching dengan menggunakan enzim atau dikenal dengan enzim bleaching. Xylanase adalah enzim yang dihasilkan oleh mikroba tertentu yang dapat digunakan dalam proses tersebut. Enzim ini mampu mendegradasi lignin tanpa merusak serat selulosa sebagai bahan dasar utama pembuatan kertas. Penambahan enzim xylanase terbukti efektif untuk menurunkan penggunaan klorin sebesar 70% (Arif dan Winarto, 2009). Secara sederhana enzim xylanase dapat diproduksi dengan cara menanam jamur pada suatu media (Anonim, 2009). Berdasarkan penelitian, terdapat beberapa jenis jamur lokal yang dapat menghasilkan enzim xylanase secara optimal, salah satunya adalah jamur Phanerochaete chrysosporium. Sebagai media atau substrat untuk pertumbuhan jamur penghasil enzim xylanase diperlukan bahan yang memiliki kandungan lignoselulosa (Ibrahim, 2001). Dalam hal ini, tentunya bahan digunakan sebagai substrat harus memiliki keunggulan seperti biaya untuk memperolehnya rendah dan mudah didapat. Melihat keberadaan gulma air eceng gondok yang mengalami ledakan pertumbuhan (blooming) di hampir semua perairan Indonesia, membuat masyarakat terus berupaya memberantas tanaman pengganggu ini walaupun sangat sulit karena pertumbuhannya yang sangat cepat. Sesungguhnya, eceng gondok memiliki kandungan lignoselulosa (Enny dan Fadilah, 2006). Dengan kandungan tersebut maka besar kemungkinan untuk menggunakan eceng gondok sebagai substrat pertumbuhan jamur P. chrysosporium. Oleh karena itu, hal ini

perlu untuk ditinjau lebih lanjut untuk kemudian dikembangkan sehingga akan dihasilkan agen bleaching pulp yang ramah lingkungan.

Tujuan dan Manfaat yang Ingin Dicapai

1. Untuk mengetahui kemampuan lignoselulosa eceng gondok sebagai substrat jamur P. chrysosporium. 2. Untuk mengetahui produksi biomassa jamur P. chrysosporium dengan menggunakan substrat eceng gondok. 3. Untuk mengetahui kemampuan jamur P. chrysosporium pada substrat eceng gondok dalam menghasilkan enzim xylanase untuk digunakan pada proses bleaching pulp.

GAGASAN

Pencemaran Lingkungan yang Disebabkan Produksi Pulp dan Kertas

Pulp atau bubur kertas dibuat secara mekanis maupun kimia dengan memisahkan serat kayu atau selulosa dari bahan lain. Dalam proses kraft pulping, larutan campuran antara sodium hidroksida dan sodium sulfida digunakan untuk melarutkan bahan tidak berserat, pulp kemudian diputihkan untuk menghasilkan kertas yang putih, beberapa zat kimia digunakan dalam proses pemutihan (bleaching) antara lain gas klorin, sodium hidroksida, kalsium hipoklorit, klorin dioksida, hidrogen peroksida dan sodium peroksida (L. Jimenez et al., 1996). Setelah penambahan filter dan pewarna, bubur kertas dibuat menjadi kertas. Beberapa jenis pelapis juga digunakan dalam tahap penyelesaian. Sebagian besar industri kertas menggunakan pemutih yang mengandung klorin. Klorin akan bereaksi dengan senyawa organik dalam kayu membentuk senyawa toksik seperti dioksin. Dioksin ditemukan dalam proses pembuatan kertas, air limbah (efluen), bahkan di dalam produk kertas yang dihasilkan (Anonim, 2009). Industri kertas menggunakan air dalam jumlah yang sangat besar untuk membilas zat kimia dan senyawa yang tidak diinginkan dari pulp.Oleh karenanya air yang telah digunakan mengandung berbagai jenis zat kimia berbahaya termasuk dioksin. Meskipun konsentrasi dioksin sangat kecil di dalam air limbah, tetapi pabrik terus beroperasi dan terus menghasilkan dioksin sehingga konsentrasinya dalam air akan terus bertambah. Dioksin adalah senyawa organik yang sukar terdegradasi dan konsentrasinya akan berlipat ganda jika masuk ke dalam rantai makanan karena adanya proses biomagnifikasi (Anonim, 2009). Hal ini menyebabkan konsentrasi dioksin di dalam jaringan tubuh hewan air menjadi ratusan kali lebih besar dibandingkan di dalam air tempat hidupnya.

EPA memperkirakan sekitar sepertiga dari dioksin yang terbentuk terserap oleh produk kertas yang dihasilkan termasuk kertas penyaring kopi, kertas tisu, popok bayi, dan piring kertas serta produk lain seperti tisu makan, kertas toilet, karton pembungkus susu, kertas kantor dan pembalut wanita (Rini, 2002). Dioksin dapat bertahan di lingkungan dalam waktu yang lama (persisten) sehingga akan terakumulasi dalam tanah dan hewan termasuk manusia (bioakumulasi). Limbah cair industri pulp dan kertas tersebar ke seluruh ekosistem di sekitarnya. Dalam percobaan laboratorium, efluen industri kertas menyebabkan penyimpangan reproduktif pada zooplankton dan invertebrata yang merupakan makanan dari ikan serta kerusakan genetik dan reaksi sistem kekebalan tubuh pada ikan (Easton, 1997). Hal ini menyebabkan penurunan keanekaragaman hayati sungai dan berkurangnya sumber pangan hewani masyarakat di sekitar sungai. Adapun pencemaran lingkungan yang disebabkan industri pulp dan kertas antara lain:

1. Membunuh ikan, kerang dan invertebrata akuatik lainnya.

2. Memasukkan zat kimia karsinogen dan zat pengganggu aktivitas hormon ke dalam lingkungan.

3. Menghabiskan jutaan liter air bersih.

4. Menimbulkan risiko terpaparnya masyarakat oleh buangan zat kimia berbahaya dari limbah industri yang mencemari lingkungan. (Rini, 2002).

Upaya Pengelolaan Limbah Pencemar dari Produksi Pulp dan Kertas

Dalam menangani limbah pencemar dari hasil produksi industri pulp dan kertas, beberapa upaya telah dilakukan, namun hanya pada sebagian kecil industri. Hal ini disebabkan oleh kendala biaya yang dirasakan berat. Begitu pun dalam hal pengolahan limbah dengan mengurangi penggunaan klorin, sebab klorin merupakan bahan pemutih yang selama ini dianggap paling efektif untuk digunakan dalam proses bleaching pembuatan pulp dan kertas. Upaya yang telah dilakukan oleh industri pulp dan kertas selama ini, diantaranya:

1. Perubahan dalam proses produksi mencakup pengawasan proses produksi yang lebih ketat dan modifikasi peralatan.

2. Pemeliharaan peralatan dan lingkungan pabrik, pemilihan peralatan yang sesuai dengan proses produksi kertas yang diinginkan dan pengoperasian peralatan dengan benar juga ikut mengurangi limbah dari sumbernya.

3. Perubahan dalam proses bleaching, yakni memperbaiki keseragaman ukuran serpihan kayu, delignifikasi dengan oksigen (diterapkan oleh pabrik kertas Scandinavian Mills), delignifikasi dengan ozon (di pabrik kertas Union Camp, Amerika Serikat), enzim bleaching, dan penggunaan katalis dalam delignifikasi. (Rini, 2002).

Penggunaan Eceng Gondok Sebagai Substrat Jamur P. chrysosporium Penghasil Agen Bleaching Pulp yang Ramah Lingkungan

Salah satu upaya efektif yang belum banyak diterapkan oleh industri pulp dan kertas dalam pengelolaan limbah produksi pulp dan kertas adalah menggunakan agen bleaching berupa enzim. Enzim tertentu digunakan oleh serangga pemakan kayu dan bakteri untuk memecah ikatan lignin atau untuk menghilangkan lignin dalam bubur kayu. Xylanase adalah enzim yang dihasilkan oleh mikroba tertentu yang dapat digunakan untuk menghilangkan lignin dalam industri kertas. Beberapa industri kertas telah mencoba menerapkannya dan berhasil mengurangi 50% kebutuhan klorin dalam prosoes pemutihan tanpa merusak selulosa (Arif dan Winarto, 2009). Bahkan, berdasarkan hasil penelitian dari Arief Widjaja, peneliti bidang reaksi enzimatik dari Universitas Osaka, Jepang, untuk mereduksi penggunaan klorin hingga mencapai 70 persen, dapat digunakan dosis sekitar 500 unit enzim xylanase per gram bubur kertas. Takaran 500 unit enzim itu sama dengan sekitar 50 mililiter larutan enzim (Anonim, 2009). Enzim xylanase dari jamur P. chrysosporium diperoleh dengan menanamnya pada substrat eceng gondok. Agar jamur dapat tumbuh subur, maka perlu ditambahkan nutrisi. Jamur kemudian dibiarkan tumbuh selama empat hingga lima hari agar dapat memproduksi enzim secara alamiah. Jamur P. chrysosporium memiliki beberapa karakteristik baik fisika maupun kimia yang menjadikannya sangat berguna, diantaranya jamur P. chrysosporium tidak merusak selulosa pada serat kayu sehingga dari segi teknis, xylanase dapat meningkatkan kualitas bubur kertas dan memiliki temperatur optimum sangat tinggi (sekitar 40 o C) sehingga memiliki peran dalam bioteknologi seperti halnya enzim bleaching (Anonim, 1997). Kandungan kayu habitat jamur P. chrysosporium yang merupakan jamur pelapuk atau busuk putih adalah lignoselulosa (Jill G. et a.l, 2009). Lignoselulosa terutama tersusun atas lignin, selulosa, dan hemiselulosa, kandungannya bervariasi tergantung pada jenis dan umur tanaman (Isroi, 2008). Untuk dapat meningkatkan penghasilan enzim xylanase, menurut Ibrahim (2001) dapat dilakukan secara fermentasi baik dalam keadaan kering maupun berupa cairan menggunakan jamur basidiomycetes penyebab penyakit busuk putih pada tumbuhan yaitu jamur Phanerochaete chrysosporium, jamur ini dapat tumbuh pada bahan yang memiliki kandungan lignoselulosa. Kandungan lignoselulosa yang tinggi dimiliki oleh tumbuhan yang selama ini dianggap sebagai tanaman penganggu oleh masyarakat, yakni eceng gondok (Enny dan Fadilah, 2006). Lignoselulosa terutama tersusun atas lignin, selulosa, dan hemiselulosa (Isroi, 2008). Dari penelitian yang telah dilakukan, diketahui bahwa kandungan lignoselulosa eceng gondok, terdiri dari 15,61% lignin, 64,51% selulosa, dan 7,85% hemiselulosa (Joedodibroto, 1983). Kemudian, dari proses biokonversi lignoselulosa eceng gondok oleh P. chrysosporium untuk menghasilkan gula pereduksi, ditemukan penurunan kadar lignin hingga 75%, selulosa dan hemiselulosa hingga 50% yang disertai dengan kenaikan kadar gula pereduksi sebagai hasil konversi (Diah dkk., 2005). Hal ini menunjukkan bahwa P. chrysosporium bekerja dengan baik pada subtrat eceng gondok, tentunya melalui penambahan nutrisi yang diperlukan sesuai tujuan pengembangbiakan.

Di samping itu, pertumbuhan eceng gondok juga begitu cepat, terutama disebabkan oleh air yang mengandung nutrien yang tinggi, terutama yang kaya akan nitrogen, fosfat dan potasium (Enny dan Fadillah, 2006). Eceng gondok tumbuh di kolam-kolam dangkal, tanah basah dan rawa, aliran air yang lambat, danau, tempat penampungan air dan sungai. Tumbuhan ini dapat mentolerir perubahan yang ekstrim dari ketinggian air, laju air, dan perubahan ketersediaan nutrien, pH, temperatur dan racun-racun dalam air (Anonim, 1997). Dengan demikian, eceng gondok dapat digunakan sebagai substrat pertumbuhan P. chrysosporium untuk menghasilkan enzim xylanase. Penggunaan enzim xylanase dalam proses bleaching pembuatan pulp dan kertas merupakan bentuk penerapan enzim bleaching. Penggunaannya cukup sederhana yaitu setelah pencucian brownstock, enzim xylanase direaksikan dengan pulp pada tangki penyimpanan berkerapatan tinggi. Xylanase bekerja dengan baik pada tangki berkerapatan tinggi dan membutuhkan waktu reaksi antara 30 dan 180 menit (Anonim, 2009). Tahap ini kemudian diikuti dengan pencucian pulp. Kelebihan dari penggunaan eceng gondok sebagai substrat jamur P. chrysosporium untuk menghasilkan enzim xylanase dinilai efektif, sebab eceng gondok mudah diperoleh dan keberadaannya melimpah. Di samping itu, hal ini akan mengurangi jumlah eceng gondok yang pertumbuhannya sangat cepat dan mengganggu lingkungan perairan.

Kontribusi

Industri

dalam

Produksi

Pulp

dan

Kertas

yang

Ramah

Lingkungan

Kebanyakan industri pulp dan kertas memang masih keberatan untuk menerapkan proses produksi total chlorine free (TCF)/ closed loop untuk mengurangi limbah pencemar. Padahal, pencegahan pencemaran akan memberikan penghematan dan kemudahan pada jangka waktu berikutnya, peningkatan kesehatan karyawan, perlindungan kesehatan masyarakat dan perbaikan kualitas lingkungan. Hal ini tentunya perlu didukung pula oleh kebijakan pemerintah untuk menegaskan masalah limbah pencemar yang dihasilkan oleh industri pulp dan kertas.Kemudian, masyarakat sebagai pemakai kertas dan mungkin juga menjadi korban bioakumulasi limbah pencemar industri kertas, hendaknya tidak mendukung industri pulp dan kertas yang tidak ramah lingkungan.Misalnya, dengan tidak menggunakan produk dari industri tersebut atau melakukan protes kertas terhadap industri yang limbahnya telah mencemari lingkungan. Untuk itu, industri pulp dan kertas harus terus berupaya mengembangkan produksi yang ramah lingkungan, sebab apabila limbah pencemar yang dihasilkan terus bertambah maka pada akhirnya akan merugikan industri itu sendiri sebab biaya pengolahan yang diperlukan nantinya akan semakin tinggi. Enzim bleaching yang diketahui tidak membutuhkan biaya tinggi dapat menjadi pilihan untuk diterapkan. Produksi enzim bahkan memanfaatkan jamur penyebab penyakit pada kayu dengan substrat eceng gondok yang mudah diperoleh, di sekitar lingkungan industri sekalipun.

Produksi Biomassa Jamur P. chrysosporium dengan Menggunakan Substrat Eceng Gondok

Langkah strategis yang dapat dilakukan dalam upaya pengelolaan limbah yang dihasilkan oleh industri pulp dan kertas yakni dengan mengembangbiakkan jamur P. chrysosporium yang menghasilkan enzim xylnase sebagai agen bleaching dengan substrat eceng gondok. Hal ini mengingat bahwa, titik berat permasalahan lingkungan dalam industri pulp dan kertas berada pada proses bleaching yang masih menggunakan klorin. Pasalnya, apabila klorin bereaksi dengan senyawa organik dalam kayu maka dapat membentuk senyawa toksik yang berbahaya bagi lingkungan hidup (Anonim, 2009). Tahap awal dari proses ini adalah penyiapan inokulum yakni jamur P. chrysosporium (Diah, dkk., 2004). Kemudian, dilakukan penyiapan substrat eceng gondok dimana yang diambil adalah batang eceng gondok dari tanaman yang sedang berbunga, batang eceng gondok tersebut dipotong dan dikeringkan (Chartchalerm et al., 2007). Setelah itu, inokulum diinokulasikan ke dalam substrat eceng gondok dengan konsentrasi air substrat tertentu (Diah dkk., 2004). Adapun bahan atau nutrisi yag perlu ditambahkan, diantaranya asid para- kloromerkurik benzoik, yaitu sejenis penghambat protease thiol yang digunakan untuk menghambat penguraian enzim xylanase oleh enzim protease neutral yang juga dihasilkan oleh jamur P.chrysosporium, serta karbon dan nitrogen yang bersumber dari ammonium klorida (Ibrahim, 2001). Inisiasi pertumbuhan P. chrysosporium dicirikan dengan adanya warna putih pada butiran inokulum yang merupakan perkecambahan hifa atau spora. Pada konsentrasi air substrat kurang dari 50%, inisiasi terjadi lebih lambat sementara pada konsentrasi yang lebih tinggi dari 50% (60%), inisiasi pertumbuhan terjadi lebih cepat (Diah dkk., 2005). Hal ini sesuai dengan yang dinyatakan oleh Raimbault (1998) bahwa penurunan air substrat akan memperpanjang fase lag, menurunkan kecepatan pertumbuhan spesifik dan menghasilkan biomassa yang rendah (Diah dkk., 2005). Dimana, konsentrasi air substrat yang optimal untuk pertumbuhan jamur P. chrysosporium berkisar antara 50%-70% (Pandji et al., 1996). Kaitan antara konsentrasi air substrat, densitas inokulum dan waktu inkubasi selengkapnya ditunjukkan dalam Tabel 1.

Tabel 1. Pertumbuhan P. chrysosporium pada Densitas Inokulum, Konsentrasi Air Substrat, dan Waktu Inkubasi Berbeda

Densitas inokulum dan konsentrasi air substrat

 

Waktu inkubasi (hari ke-)

 

0

5

 

10

20

30

10%, 40%

-

- -

 

+ +

+ +

10%, 60%

-

- +

 

+

+ + +

+ + +

20%, 80%

-

- +

 

+ +

+ +

20%, 40%

-

- +

+ + +

+ + +

20%, 60%

-

- +

 

+

+ + +

+ + +

20%, 80%

-

- +

 

+ +

+ +

Keterangan: - = belum ada pertumbuhan, + = penyebaran rendah, ++ = penyebaran sedang, +++ = penyebaran luas (Sumber: Diah dkk., 2005)

Dengan demikian, untuk menghasilkan biomassa jamur P. chrysosporium terbesar sehingga diperoleh enzim xylanase yang optimum, maka digunakan densitas inokulum P. chrysosporium sebesar 10% atau 20%, konsentrasi air substrat 60%. Setelah proses enzimatik berlangsung, barulah dilakukan bleaching menggunakan enzim tersebut. Enzim ditambahkan pada pulp, dicampur air, dan diaduk merata dengan metode sentrifugasi (Anonim, 2009). Hasil pencampuran kemudian didiamkan beberapa lama untuk memisahkan antara lignin dan pulp. Pulp yang sudah diputihkan kemudian dibawa ke mesin pembuat kertas untuk dibentuk lembaran. Untuk mengoptimalkan proses enzim bleaching ini dapat didesain sebuah bioreaktor yang efektif untuk aktivitas jamur P. chrysosporium dalam menghasilkan enzim xylanase.

KESIMPULAN

Gagasan

Eceng gondok dapat digunakan sebagai substrat untuk pertumbuhan jamur Phanerochaete chrysosporium penghasil enzim xylanase karena memiliki kandungan lignoselulosa yang mampu mendukung pertumbuhan dan kerja optimum jamur tersebut

Teknik Implementasi Gagasan

Implementasi pemanfaatan eceng gondok sebagai substrat penghasil agen bleaching pulp adalah dengan menumbuhkan jamur Phanerochaete chrysosporium pada batang eceng gondok sebagai substrat untuk memproduksi enzim xylanase secara alamiah dimana biomassa P. chrysosporium terbesar diperoleh dengan densitas inokulum sebesar 10% atau 20% dan konsentrasi air substrat 60% pada waktu inkubasi 20 hari.

Manfaat dan Dampak Gagasan

Jamur Phanerochaete chrysosporium mampu menghasilkan agen bleaching pulp berupa enzim xylanase yang bermanfaat sebagai pengganti klorin penggunaannya dalam produksi pulp dan kertas dapat menghasilkan limbah beracun berupa dioksin, sehingga diperoleh dampak postif berupa terciptanya proses produksi pulp dan kertas yang ramah lingkungan.

DAFTAR PUSTAKA

Anonim. 1997. Phanerochaete chrysosporium. The Regents of the University of California, U.S. http://genome.jgi-psf.org Anonim. 2009. Pemutih Kertas dari Enzim Xylanase. http://www.treehugger.com Arif dan Winarto. 2009. Aplikasi Enzim Xylanase pada Proses Biobleaching. Tesis Program Studi Teknik Kimia Institut Teknologi Sepuluh November (ITS). Surabaya: ITS Library. Chartchalerm, Tanawut, Thikamporn K., Ponpitak, Virapong P.2007. Appropriate Technology for the Bioconversion of Water Hyacinth (Eichhornia crassipes) to Liquid Ethanol: Future Prospects for Community Strengthening and Sustainable Development. Jurnal EXCLI, Volume 6, halaman 167-176 Diah, Suranto, Ari S. 2005. Biokonversi Kompleks Lignoselulosa Eceng Gondok (Eichorrnia crassipes (Martz) Solms) Menjadi Gula Pereduksi oleh Phanerochaete chrysosporium). BioSMART, Volume 7, Nomor 1 April,

halaman17-22.

Easton. 1997.Genetic Toxicity of Pulp Mill Effluent on Juvenile Chinook Salmon (Onchorhynchus shawytscha) Using Flow Cytometry. Elsevier Science Ltd. Vol. 35, halaman 2-3. Enny dan Fadilah. 2006. Delignifikasi Enceng Gondok dengan Proses Organosolv. Sistem Informasi Riset dan Pengambdian LPPM UNS. Ibrahim, Darah. 2001. Peningkatan Penghasilan Enzim Xilanase Oleh Kulat Basidiomycetes Phanerochaete chrysosporium ME 446 Secara Fermentasi Kultur Tenggelam dan Keadaan Pepejal Menggunakan Sisa Pertanian Tempatan Sebagai Substrat. Malaysia: Laporan Akhir Projek Penyelidikan Irpa. Isroi. 2008. Karakteristik Lignoselulosa. http://isroi.wordpress.com Jill G., Mike Mozuch, Phil Kersten, Grzegorz Sabat, Diego Martinez, dan Dan Cullen. 2009. Transcriptome and Secretome Analyses of Phanerochaete chrysosporium Reveal Complex Patterns of Gene Expression. American Society for Microbiology, Volume 75, No. 12, halaman 4058-4068 Joedodibroto, R. 1983. Prospek Pemanfaatan Eceng Gondok dalam Industri Pulp dan Kertas. Berita Selulosa 29 (1), halaman 3-7. L. Jimenez, C. Lopez. 1996. Biobleaching of Pulp from Agricultural Residues with Enzymes. Bioprocess Enginering, Volume 14, halaman 261-262 Pandji, T., H. Tahang., H. Yusuf, dan D.H. Goenadi. 1996. Optimasi pH, Kadar Air dan Suhu pada Biodelignifikasi In Vitro Tandan Kosong Kelapa Sawit. Menara Perkebunan 64 (2), halaman 79-91. Rini, Daru S. 2002. Minimasi limbah dalam industry pulpdan paper.Lembaga Kajian Ekologi dan konservasi Lahan Basah. http://terranet.com

DAFTAR RIWAYAT HIDUP

Ketua Pelaksana Kegiatan

a. Nama Lengkap

b. Tempat, Tanggal Lahir

c. Karya Ilmiah yang Pernah Dibuat

d. Penghargaan Ilmiah yang Pernah Diraih : -

-

: Akhmad Mubarok Cahyo P. : Bojonegoro, 9 April 1990 :

Anggota

a. Nama Lengkap

b. Tempat, Tanggal Lahir

c. Karya Ilmiah yang Pernah Dibuat

: Ni Made Pertiwi Jaya : Singaraja, 16 Juni 1990 :

1. Pemanfaatan Eceng Gondok (Eichhoornia Crassipes) Sebagai Bahan Alternatif Pembuatan Kertas Pembungkus Makanan Ramah Lingkungan

(2009)

2. PKM Kewirausahaan: SiKuit (Biskuit Rumput Laut) Sebagai Camilan

Bergizi bagi Anak dengan Variasi Bentuk Hewan Laut (2009)

d. Penghargaan Ilmiah yang Pernah Diraih : -

Anggota

a. Nama Lengkap

b. Tempat, Tanggal Lahir

c. Karya Ilmiah yang Pernah Dibuat

: Ario Mukti Wibowo Y.S. : Banjarmasin, 6 Desember 1989 :

1. Studi Zonasi dan Kerapatan Mangrove di Taman Nasional Baluran Jawa Timur (2008)

2. Potensi Constructed Wetlands Sebagai Solusi Pencemaran Air di Surabaya (2009)

d. Penghargaan Ilmiah yang Pernah Diraih :

1. Juara III LKHP Bio Spectacular IKAHIMBI

2. Juara I ODSS 2009 BEM FSAINTEK UNAIR

3. Juara III ODSS 2009 BEM FSAINTEK UNAIR