Anda di halaman 1dari 23

MINI RISET

PENGEMBANGAN POTENSI PARIWISATA


(STUDI KASUS : PEMANDIAN AIR PANAS SIPAHOLON KEC.SIPAHOLON,
PEMANDIAN AIR SODA KEC. TARUTUNG, AIR TERJUN DAMPARAN
KEC.SAIPAR DOLOK HOLE)

Disusun Oleh:
Asri Patiar Br Siregar : 3173331003
Fransasto Pardede :3173331016
Susi Panjaitan :3173131034

Kelas C 2017

DOSEN PEMBIMBING:
Dr. Sugiarto M.Si

PENDIDIKAN GEOGRAFI
FAKULTAS ILMU SOSIAL
UNIVERSITAS NEGERI MEDAN
2019
BAB I
PENDAHULUAN

      1.1    Latar Belakang Masalah


Berdasarkan UU No.9 Tahun 1990 dijelaskan bahwa pengertian kawasan wisata
adalah suatu kawasan yang mempunyai luas tertentu yang dibangun dan disediakan untuk
kegiatan pariwisata. Apabila dikaitkan dengan pariwisata air, pengertian tersebut berarti
suatu kawasan yang disediakan untuk kegiatan pariwisata dengan mengandalkan obyek
atau daya tarik kawasan perairan. Pengertian kawasan pariwisata ini juga diungkapkan
oleh seorang ahli yaitu Inskeep (1991:77) sebagai area yang dikembangkan dengan
penyediaan fasilitas dan pelayanan lengkap (untuk rekreasi/relaksasi, pendalaman suatu
pengalaman/kesehatan).
Destinasi Pariwisata adalah area atau kawasan geografis yang berbeda dalam
suatu atau lebih wilayah administratif yang di dalamnya terdapat unsur: daya Tarik
wisata, fasilitas pariwisata, aksesibilitas, masyarakat serta wisatawan yang saling terkait
dan melengkapi untuk terwujudnya kegiatan kepariwisataan. Daya tarik yang tidak atau
belum dikembangankan merupakan sumber daya potensial dan belum dapat disebut daya
tarik wisata, sampai adanya suatu jenis pengembangan tertentu. Objek dan daya tarik
wisata merupakan dasar bagi kepariwisataan. Tanpa adanya daya tarik di suatu daerah
atau tempat tertentu kepariwisataan sulit untuk dikembangkan.
Dalam literatur kepariwisataan luar negeri tidak dijumpai istilah objek wisata
seperti yang biasa dikenal di Indonesia. Untuk pengertian objek wisata biasanya lebih
banyak menggunakan istilah “tuorist attractions”, yaitu segala sesuatu yang menjadi
daya tarik bagi orang untuk mengunjungi suatu daerah tertentu. Seperti yang telah
dikemukakan sebelumnya, wisata merupakan perjalanan yang dilakukan seseorang atau
sekelompok orang dan menetap untuk sementara di tempat lain selain tempat tinggalnya,
untuk salah satu atau beberapa alasan, selain mencari pekerjaan. Perjalanan wisata ini
memerlukan suatu tujuan, diantaranya adalah menikmati objek wisata atau daya tarik
wisata. Dalam hal ini, daya tarik wisata merupakan sasaran dari wisatawan untuk
melakukan kegiatan kepariwisatanya.Daya Tarik Wisata sejatinya merupakan kata lain
dari obyek wisata namun sesuai peraturan pemerintah Indonesia tahun 2009 kata obyek
wisata sudah tidak relevan lagi untuk  menyebutkan suatu daerah tujuan wisatawan maka
digunakanlah kata “ Daya Tarik Wisata”
Di Indonesia sendiri banyak sekali terdapat objek wisata sebagai alat menarik
wisatawan untuk dapat berkunjung serta dapat menambah devisa Negara.namun masih
banyak lokasi yang berpotensi untuk dijadikan sebagai objek wisata alam namun masih
sangat kurang perhatian baik dari masyarakat maupun pemerintah setempat maka dari
penjelasan di atas kami mengangkat penelitian kami tentang “pengembangan
pengembangan potensi pariwisata (Studi Kasus: Pemandian Air Panas Sipaholon Kec.
Sipaholon, Pemandian Air Soda Kec. Tarutung, Air Terjun Damparan Kec. Saipar Dolok
Hole).
1.2  Rumusan Masalah
1. Bagaimana pengembangan wisata pemandian air soda di Kec. Tarutung
2. Bagaimana pengembangan wisata pemandian air panas sipaholon di Kec. Sipaholon
3. Bagaimana pengembangan wisata Air terjun Damparan di Kec. Saipar Dolok Hole

      1.3  Tujuan Penelitian


Setiap penulisan sesuatu pasti mempunyai tujuan tertentu, dengan demikian
juga penulisan laporan ini penulis mempunyai tujuan :
1. Meningkatkan pengetahuan penulis mengenai objek wisata pemandian air panas,
pemandian air soda serta air terjun damparan.
2. Mengetahui lebih dalam bagaimana pengembangan wisata pemandian air panas,
pemandian air soda serta air terjun damparan.
3. Mengetahui potensi-potensi wisata yang dapat di kembangkan dari pemandian air panas,
pemandian air soda serta air terjun damparan.

1.4   Manfaat Penulisan
1. Bagi Penulis
a.     Mengukur pengetahuan penulis mengenai obyek wisata.
b.     Sebagai sarana untuk memperdalam ilmu pengetahuan.
c.     Dapat mengetahui potensi serta pengembangan wisata pemandian air panas, pemandian
air soda serta air terjun damparan
2.  Bagi Masyarakat
Agar dapat mengetahui lebih mendalam mengenai obyek wisata pemandian air
panas tarutung, pemandian air soda sipaholon serta air terjun damparan sehingga dapat
mengembangkan potensi-potensi yang ada untuk dijadikan sebagai objek wisata serta
menambah perekonomian serta jiwa pariwisata masyarakat setempat
3. Bagi pemerintah
a. Mengetahui potensi wisata yang ada di wilayahnya
b. Agar pemerintah dapat mengembangankan potensi yang ada
c. Dapat menarik para investor serta wisatawan untuk menambah pendapatan

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Pengertian Pariwisata
Pengertian pariwisata menurut A.J Burkat dalam Damanik (2006),parwisata
adalah perpindahan orang untuk sementara dan dalam jangka waktu pendek ke
tujuan-tujuan diluar tempat dimana mereka biasa hidup dan bekerja dan juga
kegiatan-kegiatan mereka selama tinggal di suatu tempat tujuan.
Menurut mathieson & Wall dalam Pitana dan Gyatri (2005), bahwa pariwisata
adalah kegiatan perpindahan orang untuk sementara waktu ke destinasi diluar tempat
tinggal dan tempat bekerjanya dan melaksanakan kegiatan selama di destinasi dan
juga penyiapan-penyiapan fasilitas untuk memenuhi kebutuhan mereka.
Menurut pendapat yang dikemukakan oleh Youti, (1991:103). Pariwisata
berasal dari dua kata yaitu Pari dan Wisata. Pari dapat diartikan sebagai banyak,
berkali-kali,berputar-putar atau lengkap. Sedangkan Wisata dapat diartikan sebagi
perjalanan atau bepergian yang dalam hal ini sinonim dengan kata “reavel” dalam
bahasa Inggris. Atas dasar itu maka kata “pariwisata” dapat juga diartikan sebagai
perjalanan yang dilakukan berkali-kali atau berputar-putar dari suatun tempat
ketempat yang lain yang dalam bahsa Inggris didebut juga dengan istilah “Tour”
Menurut Mill dan Morisson (1985). Ada bebrapa variabul sosio ekonomi yang
mempengaruhi permintaan pariwisata, yaitu :
a. Umur
Hubungan antara pariwisata dan juga umur mempunyai dua komponen yaitu :
besarnya waktu luang dan aktifitas yang berhubungan dengan tingkatan umur tersebut.
Terdapat juga beberapa perbedaan pola konsumsi antara kelompok yang lebih tua dengan
kelompok yang lebih muda.
b. Pendapatan
Pendapatan merupakan faktor terpenting dalam membentuk permintaan untuk
mengadakan sebuah perjalanan wisata. Bukan hanya perjalanan itu sendir yang memakan
biaya wistawan juga harus mengeluarkan uang untuk jasa yang terdapat pada tujuan
wisata dan juga di semua aktifitas selama mengadakan perjalanan.
c. Pendidikan

Tingkat pendidikan mempengaruhi tipe dari waktu yang luang untuk digunakan
dalam perjalanan yang dipilih.
Sedangkan berdasarkan undang-undang no 10 Tahun 2009 tentang kepariwisataan,
bahwa keadaan alam, flora, dan fauna sebagai karunia tuhan yang maha esa, serta
peninggalan sejarah, seni, dan juga budaya yang dimiliki bangsa Indonesia merupakan
sumber daya dan modal pembangunan kepariwisataan untuk peningkatan kemakmuran
dan kesejahteraan rakyat sebagiman terkandung dalam Pancasila dan Pembukaan Undang-
Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.
Definisi pariwisat memang tidak pernah persis diantara para ahli. Pada dasarnya
pariwisata merupakan perjalanan dengan tujuan untuk menghibur yang dilakukan diluar
kegiatan sehari-hari yang dilakukan guna untuk memberikan keuntungan yang bersifat
permanen ataupun sementara. Tetapi apabila dilihat dari segi ko0nteks pariwisata
bertujuan untuk menghibur dan juga mendidik.
Berdasarkan definisa pariwisata diatasa maka disimpulkan bahwa kegiatan
pariwisata mempunyai cirri-ciri sebagai berikut :
1. Terdapat dua lokasi yang saling terkait yaitu daerah asal dan juga daerah
tujuan (destinasi).
2. Sebagai daerah tujuan pasti memiliki objek dan juga daya tarik wisata.
3. Sebagai daerah tujuan pasti memiliki sarana dan prasarana pariwisata.
4. Pelaksana perjalananan ke daerah tujuan dilakukan dalam waktu sementara.
5. Terdapat dampak yang ditimbulkan,khususnya daerah tujuan segi sosiala
budaya,ekonomi dan lingkungan.

2.2 Kebijakan Pengembangan Pariwisata


2.2.1 Kebijakan Pokok
a. Mewadahi, membangun dan juga mengembangkan manfaat potensi pariwisata
sebagai kegiatan ekonomi yang bisa menciptakan lapangan kerja.
b. Meningkatkan kemampuan dan juga keterampilan apartur serta pemberdayaan
tugas dan fungsi organisasi daripada sebagai fasilitator regulator yang bisa
menjadi pengembangan pariwisata.
c. Meningkatkan kesempatan berusaha dan keterlibatan seorang dalam
mengembangkan kawasan wisata.
d. Mengantarakan kerjasama pariwisata antar daerah dan juga dunia usaha.

2.2.2 Kebijakan Spasial (keruangan) Pariwisata


a. Memberikan arahan yang jelas agar bisa menjadi pengembangan pariwisata
berdasarkan Karakteristik keruangana melalui zonasi pengembangan.
b. Untuk kemudahan pembanguanan dan pengolahan yang perlu dilakuakan adalah
pengelompokan obyek daya tarik wisata pada Satuan Kawasan Wisata(SKW).
Satuan-satuan kawasan wisata tesebut merupakan kawasan yang memiliki pusat-
pusat kegiatan wisatawan agar mempunyai keterkaitan sirkuit atau jalur wisata.
c. Melakukan urutan proiritas pengembangan satuan kawasan wisata dengan
memperhatikan dampknya terhadap perkembangan obyek dan juga daya tarik
wisata.
2.2.3 Kebijakan Pengembangan Obyek dan Daya Tarik Wisata
a. Pengembangan obyek dan daya tarik wisata menyangkut aspek pemanfaatan
dan penegndalian yang satu dengan yang lainnya merupakan satu kesatuan
yang terintegrasi oleh karenanya pembangunan obyek dan daya tarik wisata
harus sesuai dengan dasar-dasar pada sistem perencanaan.
b. Pengembangan obyek dan daya tarik wisata dilakukan dengan dasar
pendekatan pembangunan Satuan Kawaan Wisata dengan nuansa nilai agama,
budaya estetika dan moral yang dianut oleh masyarakat.
c. Penegmbangan obyek dan daya tarik wisata dilakukan sesuai dengan
mekanisme pasar dan meliputi wisata alam, wisata budaya, wisata minat khusu,
wisata pantai dan juga wisata petualanagan.

2.2.4 Kebijakan Pengembangan Sarana dan Prasarana Wisata


a. Menyiapkan sistem perencanaan Tata Ruang Kawasan Wisata.
b. Meningkatkan aksesibilitas ke kawasan wisata
c. Pemenuhan fasilitas standar (fasilitas kesehatan, keamanan, kebersihan, komunikasi)
di kawasan wisata sesuai dengan kebutuhan.
d. Menarik investor untuk membangun akomodasi dan juga fasilitas penunjang lainnya.

2.3 Sarana dan Prasarana Pariwisata


Sarana dan prasarana pariwisata merupakan salah satu indicator perkembangan
pariwisata. Sarana atau prasarana dapat diartikan sebagai proses tanpa hambatan dari
pengadaan dan juga peningkatan hotel, retoran, tempat hiburan dan sebagainya serta
prasarana jalan dan transportasi yang lancer dan juga bisa terjangkau oleh wisatawan.
Tim Peneliti PMB-LIPI (2006:339)
2.3.1 Prasarana Kepariwisataan
Prasarana(infrastructures) adalah semua fasilitas yang dapat memungkinkan
proses perekonomian bisa berjalan dengan lancar aedemikian rupa, sehingga dapat
memudahkan manusia untuk dapat memenuhi kebutuhannya sendiri. Prasarana
pariwisata adalah sebuah sumber daya alam dan juga sumberb daya manusia yang bisa
mutlak dibutuhkan oleh wisatawan dalam perjalananya di daerah tujuan wisata, seperti
jalan, listrik, air, telekomunikasi, terminal, jembatan, dan lain sebagainya. Suwantoro
(2004:21).
Lothar A. Kreck dalam bukunya Internasional Turism dalam Yoeti
(1996:186). Prasarana kepariwisataan diantarnya adalah :
a. Receptive Tourist Plan
Receptive Tourist Plan adalah segala sesuatu tentang bentuk badan usaha tani
atau organisasi yang kegiatannya khusus untuk mempersiapkan kedatangan para
wisatawan pada suatu daerah wisata.
b. Recidental tourist plan
Recidental tourist plan adalah semua fasilitas yang dapat menampung
kedatangan para wisatawan untuk menginap dan tinggal di daerah tujuan wisata
untuk sementara waktu.
c. Recreative and sportive plan
Recreative and sportive plan adalah semua fasilitas yang dapat digunakan
untuk tujuan rekreasi dan olahraga.
2.3.2 Sarana Kepariwisataan
Sarana kepariwisataan (tourism infrastructure). Adalah semua fasilitas yang
memungkinkan agar prasarana kepariwisataan dapat hidup dan juga berkembang
serta dapat memberikan pelayanan kepada para wisatawan yang berkinjung ke
tempat wisata dan juga memehi kebutuhan mereka yang beraneka ragam.
Sarana pariwisata merupakan kelengkapan daerah tujuan wisata yang di
perlukan untuk melayani kebutuhan wisatwan dalam menikmati perjalanan
wisatanya. Suwantoro (2004:22)
a. Pembangunan sarana wisata didalam daerah tujuan wisata maupun objek
wisata tertentu harus disesuaikan dengan kebutuhan wisata baik itu secara
kuantitatif maupun kualitatif. Sarana pariwisata secara kualitatif menunjukan
pada jumlah sarana wisata yang harus disediakan, dan secara kuantitatif yang
menunjukan pada mutu pelayanan yang telah diberikan dan yang tercermin
pada kepuasan wisatawan yang memperoleh pelayanan. Dalam hubungannya
dengan jenis pelayanan sarana wisata di daerah tujuan wisata telah disusun
pada suatu standar wisata yang baku, baik itu secara nasional dan juga secara
internasional, sehingga penyediaan sarana pariwisata tinggal memilih atau
menentukan jenis dan juga kualitas yang akan disediakan. Menurut Lothar A.
Kreck dalm(Yoeti, 1996:197) Sarana produk kepariwisataan yaitu semua
bentuk perusahaan yang dapat memberikan pelayanan kepada wisatawan.
Misalnya : Dibidang usaha jasa pariwisata, seperti: biro perjalanan wisata,
agen perjalanan wisata, pramuwisata, konvensi, perjalanan intensif dan
pameran, konsultan pariwisata, informasi pariwisata
b. Dibidang usaha sarana pariwisata yang terdiri dari: akomondasi, rumah
makan, bar, angkutan wisata dan sebagainya.

2.4 Tujuan dan Manfaat Kepariwisataan


Kepariwisataan merupakan sebuah kegiatan usaha dalam melayani kebutuhan
atau memenuhi jeinginan seorang wisatawan yang akan memulai atau sedang dalam
melakukan sebuah perjalanan wisata. Menurut Oka A. Youti dalam bukunya “
Pengantar Ilmu Kepariwistaan “ yang menyatakan bahwa: “ Pariwsata adalah suatau
perjalanan yang dilakukan untuk sementara waktu yang di selenggarakan dari suatu
tempat ke tempat yang lain dengan maksud bukan untuk berusaha ataupun untuk
mencari nafkah di tempat yang dikunjungi tetapi semata-mata hanya untuk menikmati
perjalanan bertamasya dan berekreasi atau memenuhi keinginan yang beraneka
ragam.”
Setelah kita mengetahui berbagai macam pengertian mengenai “Kepariwistaan”
dari berbagai macam sumber yang telah memudahkan kita semua dalam memhami
apa itu kepariwistaan secara baik tanpa merasa ragu untuk mengaplikasijkannya
dalam kehidupan bermasyarakat.
Selain itu penegertian dari kepariwistaan masih ada tujuan serta manfaatnay
sesuai dengan intruksi presiden nomor 9 tahun 1969 yang dikutip dari buku
“perencanaan penegenbanagan pariwisata” pleh Oka A. Youti (1997:halaman 35)
dikatakan bahwa tujuan dari penegmbangan kepariwistaan adalah sebagai berikut:
a. Meningkatkan pendapatan devisa pada khususnya dan pendapatan Negara serta
masyarakat pada umumnya. Memperluas kesempatan serta lapangan kerja dan
mendorong kegiatan-kegiatan industri penunjang dan industri sampingan
lainnya.
b. Memperkenalkan keindahan alam dan kebudayaan Indonesia.
c. Meningkatkan persaudaraan atau persahabatan nasional dan internasional.
Selain itu manfaat yang didapat dari bidang kepariwistaan yang mencakup dalam
berbagai bidang yaitu ekonomi budaya politik, lingkungan hidup, nilai pergaulan dan
ilmu penegtahuan peluang dan juga kesempatan kerja.

BAB III
DESKRIPSI WILAYAH
3.1 Gambaran Umum Kabupaten Tapanuli Utara
Kabupaten Tapanuli Utara merupakan salah satu Kabupaten di Provinsi
Sumatera Utara yang terletak di wilayah dataran tinggi Sumatera Utara dan berada
pada ketinggian antara 150-1.700 meter di atas permukaan laut. Secara astronomis
Kabupaten Tapanuli Utara berada pada posisi 1°20′ – 2°41′ LU dan 98°05“ – 99°16“
BT. Luas wilayah daratan Kabupaten Tapanuli Utara sekitar 3.793,71 km 2 dan luas
perpemandianan Danau Toba 6,60 km2. Kabupaten Tapanuli Utara terdiri dari 15
kecamatan, yaitu: Parmonangan, Adiankoting, Sipoholon, Tarutung, Siatas Barita,
Pahae Julu, Pahae Jae, Purbatua, Simangumban, Pangaribuan, Garoga, Sipahutar,
Siborongborong, Pagaran dan Muara. Dari 15 kecamatan yang ada, kecamatan yang
paling luas di Kabupaten Tapanuli Utara adalah Kecamatan Garoga sekitar 567,58
km2 atau 14,96 persen dari luas Kabupaten, dan kecamatan yang terkecil luasnya
yaitu Kecamatan Muara sekitar 79,75 km2 atau 2,10 persen.
Secara administratif Kabupaten Tapanuli Utara diapit atau berbatasan langsung
dengan 5 kabupaten, yaitu :
Sebelah Utara : Kabupaten Toba Samosir
Sebelah Selatan : Kabupaten Tapanuli Selatan
Sebelah Barat : Kabupaten Humbang Hasundutan dan Tapanuli Tengah
Sebelah Timur : Kabupaten Labuhanbatu Utara
3.1.1 Letak dan Luas Wilayah Pemandian Air Panas Sipaholon
Air panas Sipoholon adalah salah satu tempat wisata pemandian air panas yang
terletak tidak jauh dari kota Tarutung tepatnya di Kelurahan Situmeang Habinsaran
Kecamatan Sipoholon Kabupaten Tapanuli Utara. Menurut masyarakat setempat,
pemandian air panas ini merupakan air panas yang keluar dari perut bumi.Pemandian
ini juga sudah menjadi ikon tersendiri bagi daerah Sipoholon.Air panas yang meluap
keluar dari dalam tanah menjadikan kita tertarik untuk melihatnya secara langsung
tentunya. Untuk itu wisatawan akan bisa melihat lokasi-lokasi tempat keluarnya air
panas tersebut. Sumber air panas itu sendiri merupakan tanah milik masyarakat
Kelurahan Situmeang Habinsaran. Namun tempat pemandian air panas itu di buka
oleh perorangan, ada yang milik pribadi dan ada juga yang menyewa. Luas wilayah
Kelurahan Situmeang Habinsaran 17,49Km2 dengan batas wilayah sebagai berikut:
- Sebelah Utara :Desa Sipahutar Kecamatan Sipoholon

- Sebelah Selatan : Desa Hutauruk Kecamatan Sipoholon

- Sebelah Timur :Kecamatan Tarutung

- Sebelah Barat : Desa Simanungkali


3.1.2 Keadaan Iklim
Di daerah Kelurahan Situmeang Habinsaran ini dikenal hanya dua musim yaitu: musim
hujan dan musim kemarau. Musim hujan terjadi pada bulan Oktober hingga April dan
musim kemarau terjadi pada bulan April hingga Oktober. Hal ini dipengaruhi oleh letak
wilayah Indonesia yang terletak antara dua benua dan dua samudera yang mengakibatkan
pergantian arah angin setiap enam bulan sekali, yakni angin musom barat dan angin musom
timur.
3.1.3 Jumlah dan Kepadatan Penduduk
Tingkat perkembangan dan potensi suatu daerah dapat di ketahui dari komposisi
penduduk berdasarkan umur dan untuk mengetahui ratio atau perbandingan antara
penduduk laki-laki dan penduduk perempuan.
Tabel I Distribusi Penduduk Berdasarkan Jenis Kelamin

No Jenis Kelamin Jumlah

1 Laki-laki 1415

2 Perempuan 1359

Jumlah 2774

Sumber: Kantor Kelurahan Situmeang Habinsaran Tahun 2003


Berdasarkan dari Kantor Lurah jumlah kepadatan penduduk Kelurahan
Situmeang Habinsaran tahun 2003 adalah 2774 orang dengan jumlah kepala keluarga
sebesar 639 KK. Jumlah penduduk laki-laki 1415 jiwa dan jumlah penduduk
perempuan sebesar1359 jiwa. Dari data diatas dapat diketahui bahwa jumlah
penduduk laki-laki lebih besar dibandingkan jumlah perempuan.
3.1.4 Komposisi Penduduk Berdasarkan Agama
Indonesia adalah negara yang menjamin kebebassan beragama dan
menjalankan ibadah agama dan kepercayaan masing-masing. Untuk mengetahui
komposisi penduduk menurut agama di Kelurahan Situmeang habinsaran dapat di
lihat pada tabel berikut:
Tabel III Distribusi Penduduk Menurut Agama Yang dianut
No Agama yang diantut Jumlah

1 Islam -

2 Kristen protestan 2567 orang

3 Kristen katolik 207 orang

4 Hindu -

5 Budha -

Sumber: Kantor Kelurahan Situmeang Habinsaran Tahun 2003


Penduduk di Kelurahan Situmeang Habinsaran secara umum menganut agama
Kristen Protestan yakni Kristen Protestan sebanyak 2567 jiwa dan sebanyak 207 jiwa
yang beragama Khatolik.

3.1.5 Sistem Mata Pencaharian


Kelurahan Situmeang Habinsaran identik bertani seperti padi, sayuran, dan
palawija. Disamping sebagai petani masyarakat juga sebagai penambang batu kapur
dan belerang. Dalam bidang pertanian, mereka memfokuskan pada bidang
penanaman padi. Akan tetapi setelah terbuka gerbang pariwisata ke daerah ini, secara
perlahan mereka mulai mengubah pola mata pencaharian mereka, dari pertanian ke
perdagangan. Masyarakat Situmeang habinsaran membuka usaha sendiri seperti kios-
kios, restoran, rumah makan, penjualan souvenir-souvenir, termasuk usaha membuka
pemandian air panas dan kolam renang. Sementara peternakan pada umumnya
merupakan usaha sampingan untuk dijual hasilnya ke wisata pemandian air panas
Sipoholon.Semakin berkembang usaha masyarakat maka pendapatan pun semakin
bertambah. Potensi-potensi objek wisata semakin diperbaharui dan dilestarikan serta
kebersihan ditingkatkan supaya pengunjung merasa lebih nyaman. Mata pencaharian
adalah jenis pekerjaan yang sedang atau pernah dilakukan oleh orang-orang yang
mencirikan pekerjaan.
Menurut data yang ada mayoritas penduduk dikelurahan Situmeang
Habinsaran ini adalah berwirausaha/pedagang,bertani,PNS,dan buruh.Berdasarkan
Sumber: Kantor Kelurahan Situmeang Habinsaran Tahun 2003 dapat disimpulkan
bahwa masyarakat wisata objek pemandian air panas Sipoholon dominan bertani,
hingga mencapai 693 orang. Dan setelah dominan bertani adalah PNS sekitar 113
orang.
3.2 Deskripsi Wilayah Pemandian Air Soda, Tarutung
3.2.1 Letak dan Batas Wilayah
Pemandian Alam Air Soda merupakan salah satu ikon wisata yang terdapat
diKecamatan Tarutung Kabupaten Tapanuli Utara. Menurut masyarakat Desa Parbubu
Iair soda ini sudah ada sejak ratusan tahun lalu. Selain keunikan air sodanya,
keasrianalamnya juga merupakan daya tarik bagi wisatawan yang berkunjung karena
letak airsoda tersebut berada di tengah persawahan dengan pemandangan lembah
Silindung.Lokasi pemandian alam air soda ini merupakan tanah millik Minar Sihite
danmerupakan tanah warisan dari mertuanya yang berada di Desa Parbubu I.
Dalampengelolaan Pemandian Alam Air Soda Minar Sihite mengelolanya bersama anak-
anaknya. Adapun luas total wilayah Desa Parbubu I adalah 1.200 Ha yang dibagidalam 5
dusun yaitu Dusun Lumban Gorat, Dusun Tor Banua Raja, Dusun SihujurMula-mula,
Dusun Lumban Tonga-tonga, dan Dusun Dolok Naopat.
Adapun batas-batas wilayah Desa Parbubu I sebagai berikut :1. Sebelah Utara
berbatasan dengan Desa Aek Siansimun2 Sebelah Selatan berbatasan dengan Desa
Parbubu II3 Sebelah Timur Berbatasan dengan Desa Saitnihuta4 Sebelah Barat
berbatasan dengan Desa Parbubu Dolok
3.2.2 Keadaan Iklim
Iklim adalah keadaan rata-rata cuaca pada suatu daerah yang luas dan
ditentukanberdasarkan perhitungan dalam waktu yang lama (kurang dari 30 tahun).unsur-
unsuriklim terbagi atas 6 unsur yakni suhu, udara, tekanan udara, kelembapan udara,
awan,angin, dan hujan. Keadaan iklim suatu daerah sangat berpengaruh terhadap
polahidup masyarakat. Salah satunya adalah pada sektor pertanian.Desa Parbubu I
sebagaimana desa lainnya di wilayah Indonesia hanyamempunyai dua musim yaitu
musim penghujan dan musim kemarau.
Hal tersebut mempunyai pengaruh langsung terhadap pola tanaman pada lahan
pertanian yang adadi Desa Parbubu I Kecamatan Tarutung. Desa Parbubu I berada pada
daerahpegunungan dengan memiliki topografi berbukit-bukit dengan kemiringan rata-
rata30 derajat, berada pada ketinggian rata-rata 2500 dpl. Jenis tanah yang pada dasarnya
adalah berbatu. Karena letaknya perbukitan Desa Parbubu I termasuk beriklim
dingindengan kelembapan rata-rata 20 serta curah hujan yang cukup tinggi mencapai
3000-3500 mm/tahun.
3.2.3 Kondisi Penduduk
Penduduk adalah modal penting dalam pembangunan nasional. Sehinggakondisi
penduduk sangat berpengaruh terhadap perkembangan suatu daerah.Penduduk Desa
Parbubu I berasal dari berbagai daerah yanng berbeda-beda, dimanamayoritas penduduk
yang paling dominan adalah etnis Toba sehingga tradisi-tradisimusyawarah untuk
mufakat, gotong royong dan kearifan lokal lain yang sudahdilakukan oleh masyarakat
sejak adanya Desa Parbubu I.
Hal tersebut secara efektifdapat menghindari adanya benturan-benturan antara
kelompok masyarakat.Desa Parbubu I merupakan tanah bermarga Lumban Tobing
sehingga desatersebut didominasi oleh marga Lumban Tobing yang merupakan marga
asli daerahtersebut. Adapun marga lain di desa Parbubu I itu merupakan marga pendatang
yangberasal dari daerah-daerah sekitar Tarutung, Muara, Siborong-Borong, Sipoholon
danSibolga. Masyarakat di Desa Parbubu I masih memegang erat adat istiadat etnik
Tobaseperti halnya dalam pemilihan kepala desa, karena pemilik tanah adalah marga
Lumban Tobing maka yang menjadi kepala desa adalah marga tersebut. Selain ituDesa
Parbubu I merupakan tanah Adat. Jumlah dan kepadatan penduduk akan mempengaruhi
dinamika kehidupan masyarakatnya, sehingga tingkat perkembangandan potensi suatu
daerah dapat di ketahui dari komposisi penduduk berdasarkan umurdan untuk mengetahui
ratio atau perbandingan antara penduduk laki-laki danpenduduk perempuan.

Berdasarkan tabel diatas dapat dilihat pada tahun 2000 jumlah penduduk
DesaParbubu I sebanyak 1.102 jiwa, yang terdiri dari jumlah laki-laki 418 jiwa,
danjumlah perempuan 674 jiwa dengan jumlah kepala keluarga sebesar 244 KK
yangterdiri dalam 5 (lima) dusun, adapun jumlah penduduk Dusun I sebanyak 202
jiwayang terdiri dari 90 jiwa laki-laki dan 112 jiwa perempuan, Dusun II sebanyak
312jiwa penduduk yang terdiri dari 107 jiwa laki-laki dan 195 jiwa perempuan, Dusun III
sebanyak 156 jiwa terdiri dari 61 jiwa laki-laki dan 95 jiwa perempuan, Dusun
IVsebanyak 212 jiwa yang terdiri dari 80 jiwa laki-laki dan 132 jiwa perempuan
danterakhir Dusun V sebanyak 220 jiwa yang terdiri dari 80 jiwa laki-laki dan 140
jiwaperempuan. Jika dilihat dari tabel di atas dapat disimpulkan jumlah
pendudukperempuan lebih besar.
3.2.4 Komposisi Penduduk
Berdasarkan AgamaKebebasan beragama di Indonesia sudah diatur dalam UUD
1945 setiap orangbebas memeluk agama dan beribadat menurut agamanya. untuk
mengetahuikomposisi penduduk menurut agama di Desa Parbubu I adalah sebagai
berikut

Berdasarkan tabel di atas dapat dilihat bahwa penduduk Desa Parbbubu I,


100%menganut agama Protestan. Kalau dilihat dari sejarahnya Penduduk
KabupatenTapanuli Utara mayoritas beragama protestan. Selain itu, Desa Parbubu I
merupakandesa yang bersifat homogen dimana masyarakatnya tinggal di pedesaan dan
matapencaharian pendudukya mayoritas bertani dan secara dominan terdiri dari orang-
orang yang memiliki etnisitas, bahasa, dan tradisi kultural yang sama.
3.2.5 Mata Pencaharian
Mata pencaharian didefinisikan sebagai aktivitas manusia untuk memperolehtaraf
hidup yang layak dimana antara daerah yang satu dengan daerah lainnya berbedasesuai
dengan taraf kemampuan penduduk dan keadaan demografinya Matapencaharian dapat
dibedakan menjadi dua jenis yaitu mata pencaharian pokok danmata pencaharian
sampingan. Mata pencaharian pokok adalah keseluruhan kegiatanuntuk memanfaatkan
sumber daya yang ada yang dilakukan sehari-hari danmerupakan mata pencaharian utama
untuk memenuhi kebutuhan hidup.Tidak dapat dipungkiri bahwa perkembangan sebuah
daerah ataupun wilayahtergantung pada tingkat pendapatan sebuah daerah tersebut serta
jumlah matapencaharian yang terdapat di dalamnya.
Seperti halnya yang terjadi di Desa Parbubu Imayoritas penduduknya adalah
bermata pencaharian sebagai petani, selain itu adajuga yang berprofesi sebagai pedagang
yang memiliki kios-kios kecil di depan rumahmaupun yang berdagang di pasar
tradisional, selain itu ada juga yang bekerja sebagaiPegawai Negeri Sipil (PNS) yang
mengabdi di beberapa instansi-instasi milikpemerintah, dan ada juga yang bekerja
sebagai buruh baik itu buruh tani maupun buruh bangunan.

Dari tabel diatas dapat dilihat penduduk yang berprofesi sebagai petanisebanyak
614 orang, sebagai buruh sebanyak 268 orang, pedangan 170 orang, PNSsebanyak 60
orang, peternak sebanyak 4 Sorang dan swasta sebanyak 2 orang,sehingga disimpulkan
bahwa mayoritas penduduk Desa Parbubu I bermatapencaharian sebagai petani disusul
dengan jumlah penduduk yang bermatapencaharian sebagai buruh, pedagang, PNS,
peternak, dan swasta.

3.3 Deskripsi Wilayah Air Terjun Damparan ,Tapsel


Damparan Haunatas adalah salah satu desa yang berada di Kecamatan Saipar Dolok
Hole, Kabupaten Tapanuli Selatan, Provinsi Sumatra Utara, Indonesia. Desa ini dibentuk pada
tahun 2008 sebagai hasil penggabungan desa Damparan, Galanggang, Haunatas, dan Lumban
Hariara. Pusat pemerintahan desa ini berada di dusun Lumban Hariara.
Gambar. Peta Lokasi Damparan

BAB IV
PEMBAHASAN
4.1 Pemandian Air Panas Sipaholon,Kec. Sipaholon
Wisata Pemandian Air Panas Sipoholon merupakan wisata pemandian yang berada
di Jalan Situmeang Hasundutan, desa Sipoholon, Tarutung. Wisata ini terdiri dari beberapa
wisata pemandian dengan jenis yang sama yang dimiliki dan dikelola oleh masyarakat
atau keluarga yang berbeda. Terdiri dari 14 tempat, pemandian-pemandian Air Panas di
Sipoholon ini berada pada satu lokasi yang sama dan terletak berdampingan sepanjang
kurang lebih 500 meter. Berikut merupakan hasil tinjauan lapangan terhadap kondisi
umum inventarisasi wisata Pemandian Air Panas Sipoholon dengan pendekatan 4A.
Tabel 6. Inventaris Pemandian Air Panas Sipoholon

Ada /

No Kriteria/Indikator Keterangan
Tidak Ada
Pemandangan alam berupa bukit
1 Pemandangan Alam Ada kapur
dan pegunungan
2 Manfaat kesehatan Ada Menyembuhkan penyakit kulit dan
membuat relaks
3 Spot Foto Ada Bukit kapur
Restoran/Warung Fasilitas restoran memadai dan jenis
4 makan/Rumah makan Ada makanan beragam
Pakaian renang dan perlengkapan
mandi, pakaian dengan motif khas
5 Cendramata/souvenir Ada Batak, aksesoris
Penginapan berada disekitar lokasi
Penginapan/Hotel/Hom wisata dengan harga Rp 100.000 – Rp
6 e stay Ada 200.000 per malam
Luas cukup memadai dengan harga
7 Lahan parkir Ada parkir antara Rp 5.000 – Rp 10.000
Memadai dengan jumlah toilet ± 10
dan tidak dipungut biaya untuk
8 Toilet Ada menggunakan toilet
9 Tempat sampah Ada Hanya terdapat ± 2 tempat sampah
disekitar kolam pemandian
Rambu-rambu
10 keamanan Tidak Ada -
Mobil, sepeda motor dan becak,
11 Sarana transportasi Ada angkutan umum, bus wisata
Petunjuk jalan sudah tersedia dan
12 Penunjuk jalan Ada memadai
Tersedia ATM tidak jauh dari lokasi
13 Bank/ATM Tidak Ada wisata namun belum memadai
14 Pengawas wisata Ada -

Gambar 1. Keadaan Pemandian Air Panas Sipoholon


Gambar 5 diatas merupakan wisata air panas yang sudah olah namun masih tetap
memiliki kekurangan seperti kebersihan yang masih minim mulai dari kamar mandi serta
sekeliling kolam pemandian air panas tersebut dan juga seperti pemaparan table diatas
juga masih banyak fasilitas yang kurang memadai.
Gambar 2. Sumber Air Panas
Sumber air panas ini yang menjadi focus penelitian dari kelompok kami , dimana
memiliki potensi yang sangat tinggi dengan pemandangan yang demikian indah dan
fantastis.Namun dari hasil pengamatan yang kami lakukan dengan mengobservasi lapangan
memang sangat dibutuhkan partisipasi dari pemerintah dan masyarakat untuk pengembangan
daerah wisata tersebut.

a) Mengarah Pada Permukiman Sipaholon b) Mengarah Pada Sumber Air Panas

Gambar 3. Pemandangan dari Sumber Air Panas a) Mengarah Pada Permukiman


Sipaholon, b) Mengarah Pada Sumber Air Panas
Hal-hal yang harus diperhatikan untuk pengembangan daerah wisata pemandian Air
Panas Di Kecamatan Sipaholon ini ialah :
a. Sarana dan Prasarana
Sarana dan prasarana merupakan aspek yang sangat penting untuk mendukung
pengembngan suatu derah terkhusus daerah wisata. Di sumber pemandian Air Panas
Sipaholon ini saran dan prasarana masih sangat buruk padahal memilki potensi yang
sangat tinggi yakni dari pemandangannya.
a) b) c)

Gambar 3 Jalan Menuju Sumber Air Panas a,b,c

b. Kebersihan
Seperti yang telah dideskripsikan masih kurangnya kebersihan di Pemandian Air
Panas yakni banyaknya sampah-sampah yang bertaburan disekitaran jalan untuk
menuju sumber air panas tersebut.
4.2 Pemandian Air Soda, Kec. Tarutung
Wisata Pemandian Air Soda merupakan wisata pemandian yang berada di kaki
bukit daerah Tarutung di desa Parbubu I, Kecamatan Tarutung. Wisata ini berada
sekitar satu kilometer dari pusat kota Tarutung dan dikelola oleh sebuah keluarga
yang tinggal di sekitar wisata tersebut. Dinilai sebagai pemandian yang unik karena
memiliki warna air yang nyaris merah, mengeluarkan busa dan terasa asin serta
memiliki manfaat kesehatan, membawa wisata ini menjadi pemandian yang selalu
ramai dikunjungi.

Gambar 6. Keadaan Pemandian Air Soda


Berikut merupakan hasil tinjauan lapangan terhadap kondisi umum inventarisasi
wisata Pemandian Air Soda dengan pendekatan 4A.
Tabel 7. Inventaris Pemandian Air Soda

No Kriteria/Indikator Ada/Tidak Keterangan


Ada
Pemandangan alam berupa
1 Pemandangan Alam Ada persawahan
dan pegunungan
2 Manfaat kesehatan Ada Menyembuhkan penyakit kulit

Berupa pemandangan dan kolam


3 Spot Foto Ada yang
berwarna merah
4 Restoran/Warung Ada Restoran/ warung makan sudah
makan/Rumah makan memadai dengan jumlah warung ± 3
dan variasi makanan yang beragam
5 Cendramata/souvenir Ada Pakaian renang dan perlengkapan
mandi, pakaian dengan motif khas
pakaian Batak, aksesoris
6 Penginapan/Hotel/Home Tidak Ada -
stay
7 Lahan parkir Ada Luas lahan parkir kurang memadai
8 Toilet Ada Tersedia 4 kamar mandi dan 1 toilet
dengan fasilitas dan kebersihan yang
sangat tidak memadai
9 Tempat sampah Ada Tempat sampah hanya 2 buah
berukuran kecil
10 Rambu-rambu keamanan Tidak Ada -
11 Sarana transportasi Ada Mobil, sepeda motor dan becak dan
angkutan umum
12 Penunjuk jalan Ada Penunjuk jalan memadai
13 Bank/ATM Tidak Ada -
14 Pengawas wisata Tidak Ada -
BAB V
PENUTUP
A. Kesimpulan

B. Saran