Anda di halaman 1dari 28

1

ABAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Candida albicans merupakan salah satu genus jamur golongan
khamir (yeast like coloni) yang berperan sebagai flora normal vagina,
rongga mulut dan saluran pencernaan.(1) Candida bersifat oportunistik
karena dapat berkembang menjadi pathogen dan menyebabkan infeksi bila
terjadi perubahan pada individu (host) yang memungkinkan untuk
pertumbuhannya. Beberapa penyakit yang diakibatkan oleh Candida
albicans diantaranya keputihan (flour albus) dan kandidiasis oral.
Keputihan (flour albus) adalah cairan yang keluar berlebihan dari
vagina bukan merupakan darah. Menurut World Healt Organisation (WHO)
masalah kesehatan reproduksi perempuan yang buruk telah mencapai 33%
dari jumlah total beban penyakit yang diderita para perempuan di dunia
salah satunya adalah keputihan dan sekitar 75% wanita didunia pasti akan
mengalami keputihan paling tidak sekali seumur hidup dan sebanyak 45%
wanita mengalami keputihan dua kali atau lebih.(2)
Kandidiasis oral merupakan infeksi oportunis dalam rongga mulut.(3)
World Health Organization (WHO) melaporkan pada tahun 2007 frekuensi
kejadian Candidiasis oral terdapat sekitar 98,3%, dan Prevalensi Candidiasis
oral di Indonesia mencapai 84% di tahun 2009, yang disebabkan oleh jamur
Candida albicans.(4)
Terapi yang digunakan untuk mengobati keputihan dan
kandidiasis oral yang disebabkan oleh Candida albicans yaitu dengan
menggunakan obat antijamur. Salah satu golongan obat antijamur yang
ditujukan untuk Candida albicans adalah golongan azol, beberapa contoh
dari golongan tersebut yaitu Imidazol, Ketokonazol, Flukonazol,
Itrakonazol, Posakonazol, dan Vorikonazol.(5) Flukonazol menjadi standar
terapi pada pasien yang tidak mempunyai riwayat pemakaian obat
golongan azol, sebelumnya mempunyai penyakit dengan tingkat
keparahan ringan sampai sedang.(6)
1
2

Maka dari itu dibutuhkan penggunaan pengobatan alternatif dengan


pengobatan herbal. Penggunaan herbal di Indonesia merupakan bagian dari
budaya bangsa dan telah dimanfaatkan oleh masyarakat sejak berabad-abad
yang lalu dan cenderung meningkat. World Health Organization (WHO)
menyebutkan bahwa hingga 65% dari penduduk di negara maju telah
menggunakan pengobatan tradisional dimana didalamnya termasuk
penggunaan obat-obat bahan alam.(7,8)
Salah satu tumbuhan yang telah lama dimanfaatkan sebagai obat
tradisional oleh masyarakat adalah bawang dayak (Eleutherine palmifolia L.
Merr). merupakan tumbuhan yang dapat digunakan sebagai obat tradisional
yang berasal dari daerah Kalimantan Tengah. Kandungan kimia yang
terdapat pada bawang dayak (Eleutherine palmifolia L. Merr) adalah
senyawa metabolit sekunder golongan naftokuinon yang dikenal sebagai
antimikroba, antifungal, antiviral dan antiparasitik. Selain itu juga
mengandung flavanoid, fenol, tanin dan saponin. Sebagian besar masyarakat
masih mempercayai pengobatan tradisional, namun sejauh ini belum ada uji
prekliniknya sehingga penting untuk mengetahui dosis yang tepat untuk
pemakaiannya.(9,10)
Pada penelitian sebelumnya yang telah dilakukan oleh tazkiyatul
firdaus tahun 2014 menyatakan bahwa ekstrak bawang dayak menggunakan
pelarut etanol 96%, dengan konsentrasi 40% dapat menghambat
pertumbuhan bakteri Staphylococcus aureus.
Berdasarkan uraian di atas, peneliti tertarik untuk melakukan
penelitian tentang uji daya hambat minyak atsiri ekstrak bawang dayak
(Eleutherine palmifolia L. Merr) dalam menghambat pertumbuhan jamur
Candida albicans secara in vitro.
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang telah dipaparkan di atas, maka
didapatkan rumusan masalah yaitu bagaimana efektifitas minyak atsiri
ekstrak bawang dayak (Eleutherine palmifolia L. Merr) dalam menghambat
pertumbuhan jamur Candida albicans secara in vitro.
3

1.3 Tujuan Penelitian


1.3.1 Tujuan Umum
Mengetahui efektifitas minyak atsiri ekstrak bawang dayak
(Eleutherine palmifolia L. Merr) mempunyai daya hambat terhadap
pertumbuhan jamur Candida albicans secara in vitro.
1.3.2 Tujuan Khusus
1. Mengetahui efektifitas Minyak Atsiri bawang dayak (Eleutherine
palmifolia L. Merr) dalam menghambat pertumbuhan jamur Candida
albicans secara in vitro.
2. Mengetahui konsentrasi efektif ekstrak bawang dayak (Eleutherine
palmifolia L. Merr) dalam menghambat pertumbuhan jamur Candida
albicans secara in vitro.

1.4 Manfaat Penelitian


1.4.1 Manfaat untuk ilmu pengetahuan
Hasil penelitian ini diharafkan dapat memberikan ilmu
pengetahuan mengenai ekstrak bawang dayak (Eleutherine palmifolia
L. Merr) dalam menghambat pertumbuhan jamur Candida albicans.
1.4.2 Manfaat untuk masyarakat
Penelitian ini diharapkan dapat digunakan oleh masyarakat sebagai
informasi tentang pengobatan alternatif kandidiasis yang disebabkan
oleh Candida albicans.
1.4.3 Manfaat untuk pelayanan kesehatan
Manfaat di bidang pelayanan kesehatan adalah dapat digunakannya
sebagai pertimbangan untuk memilih pengobatan alternatif bawang
dayak (Eleutherine palmifolia L. Merr) dalam mengobati kandidiasis
yang disebabkan oleh Candida albicans.
1.4.4 Manfaat untuk peneliti Lain
Penelitian ini diharapkan dapat menambah wawasan bagi
peneliti peneliti lain mengenai efektifitas minyak atsiri bawang dayak
4

(Eleutherine palmifolia L. Merr) dalam menghambat pertumbuhan


jamur Candida albicans.
1.5 Orisinalitas Penelitian
Tabel 1.1 Orisinalitas Penelitian
Penelitian (Tahun) Judul Metode Hasil
Tazkiyatul Firdaus. (2014). Eksperimen Hasil penelitian bahwa ekstrak
Efektifitas ekstrak bawang bawang dayak (Eleutherine
dayak (Eleutherine palmifolia) palmifolia) dengan pelarut etanol
dalam menghambat 96% dapat menghambat
pertumbuhan bakteri pertumbuhan bakteri
Staphylococcus aureus. (11) Staphylococcus aureus dan dapat
disimpulkan bahwa ekstrak
bawang dayak konsentrasi 40
mg/ml memiliki aktifitas
antibakteri yang paling baik.
Woris Christoper, dkk (2017). Eksperimen Hasil penelitian konsentrasi
Uji Aktivitas Antijamur Ekstrak Ekstrak etanol umbi bawang
Etanol Umbi Bawang Dayak dayak yang menghasilkan zona
(Eleutherine americana (Aubl.) hambat paling besar adalah
Merr. Ex K. Heyne.) terhadap konsentrasi 60% namun pada
Trichophyton mentagrophytes konsentrasi 15% sudah
secara In Vitro.(12) merupakan konsentrasi yang
efektif dalam menghambat
pertumbuhan Trichophyton
mentagrophytes.
Armanda, F. dkk.(2017). Eksperimen Ekstrak bawang dayak dengan
Efektivitas daya hambat bakteri konsentrasi 20mg/ml memiliki
ekstrak bawang dayak zona hambat sebesar 12,384mm,
(Eleutherine palmifolia L. Merr) 40mg/ml sebesar 15,098mm,
terstandarisasi flavonoid 60mg/ml sebesar 19,374mm,
terhadap Enterococcus faecalis 80mg/ml sebesar 21,314mm,
(in vitro).(13) etanol 96% sebesar 0mm dan
NaCl 5,25% sebesar 24,416mm.
semakin tinggi konsentrasi maka
semakin luas zona daya
hambatnya.
Ririn, P. dkk. (2015). Eksperimen Ekstrak etanol bawang dayak
Khasiat bawang dayak dapat menghambat mikroba
(Eleutherine palmifolia L. Satphylococcus aureus dengan
Merr.) sebagai herbal diameter hambat
antimikroba kulit.(14) (14,49±0,51mm) dan untuk
Trichophyton rubrum adalah 15%
dengan diameter hambat
(15,06±0,4163mm).
5

Persamaan dan perbedaan yang dilakukan oleh penulis dengan penelitian


sebelumnya:
1. Tazkiyatul Firdaus, dkk (2014) Efektifitas ekstrak bawang dayak
(Eleutherine palmifolia) dalam menghambat pertumbuhan bakteri
Staphylococcus aureus. Persamaan yang dilakukan oleh penulis dengan
penelitian sebelumnya adalah ekstrak bawang dayak. Sedangkan pada
penelitian ini menggunakan ekstrak bawang dayak terhadap jamur
Candida albicans.
2. Woris Christoper, dkk (2017) Uji Aktivitas Antijamur Ekstrak Etanol
Umbi Bawang Dayak (Eleutherine americana (Aubl.) Merr. Ex K. Heyne.)
terhadap Trichophyton mentagrophytes secara In Vitro. Persamaan yang
dilakukan oleh penulis dengan penelitian sebelumnya adalah ekstrak
bawang dayak. Sedangkan pada penelitian ini menggunakan ekstrak
bawang dayak terhadap jamur Candida albicans.
3. Armanda, F. dkk (2017) Efektivitas daya hambat bakteri ekstrak bawang
dayak (Eleutherine palmifolia L. Merr) terstandarisasi flavonoid terhadap
Enterococcus faecalis (in vitro). Persamaan yang dilakukan oleh penulis
dengan penelitian sebelumnya adalah ekstrak bawang dayak. Sedangkan
pada penelitian ini menggunakan ekstrak bawang dayak terhadap jamur
Candida albicans.
4. Ririn, P. dkk. (2015) Khasiat bawang dayak (Eleutherine palmifolia L.
Merr.) sebagai herbal antimikroba kulit. Persamaan yang dilakukan oleh
penulis dengan penelitian sebelumnya adalah ekstrak bawang dayak.
Sedangkan pada penelitian ini menggunakan ekstrak bawang dayak
terhadap jamur Candida albicans.
6

BAB II
LANDASAN TEORI
2.1 Landasan Teori
2.1.1 Candida albicans

Gambar 2.1 Candida albicans.(15)


2.1.1.1 Taksonomi
Kingdom : Fungi
Filum : Ascomycota
Subfilum : Saccharomycotina
Kelas : Saccharomycetes
Ordo : Saccharomycetales
Familia : Saccharomycetaceae
Genus : Candida
Spesies : Candida albicans (16)
2.1.1.2 Morfologi
Candida albicans tumbuh sebagai sel ragi berbentuk
oval dan bertunas (ukuran 3-6 µm). Candida albicans
7

membentuk pseudohifa ketika tunas-tunasnya terus tumbuh,


tetapi gagal meepaskan diri sehingga menghasilkan rantai-rantai
sel panjang yang bertakik atau menyempit pada lokasi
penyekatan diantara sel. Tidak seperti sel yang lain, Candida
albicans bersifat dimorfik selain ragi dan pseudohifa, Candida
albicans juga dapat menghasilkan hifa sejati. Di medium agar
atau dalam 24 jam di suhu 37° C atau suhu ruang, Candida
albicans membentuk koloni lunak berwarna krem dengan bau
beragi. Pseudohifa tampak sebagai sebentuk pertumbuhan di
bawah permukaan agar. Ada dua uji morfologi sederhana yang
dapat membedakan Candida albicans, patogen yang paling
umum, dengan spesies Candida yang lain. Setelah diinkubasi
di dalam serum sekitar 90 menit pada suhu 37°C, sel ragi
Candida albicans akan mulai membentuk hifa sejati atau tabung-
tabung tunas, dan di atas medium yang kurang bernutrisi,
Candida albicans menghasilkan klamidospora bulat berukuran
besar.(17)
2.1.1.3 Patofisiologi
Menempelnya mikroorganisme dalam jaringan sel host
menjadi syarat mutlak untuk berkembangnya infeksi. Secara
umum diketahui bahwa interaksi antara mikroorganisme dan sel
pejamu diperantarai oleh komponen spesifik dari dinding sel
mikroorganisme, adhesin dan reseptor. Makanan dan protein
merupakan molekul-molekul Candida albicans yang
mempunyai aktifitas adhesif. Khitin, komponen kecil yang
terdapat pada dinding sel Candida albicans juga berperan dalam
aktifitas adhesif. Setelah terjadi proses penempelan, Candida
albicans berpenetrasi ke dalam sel epitel mukosa. Enzim yang
berperan adalah aminopeptidase dan asam fosfatase, yang terjadi
setelah proses penetrasi tergantung dari keadaan imun dari host.(18)
2.1.1.4 Gambaran Klinik
8

2.1.1.4.1 Genetalia Wanita


Flour albus merupakan infeksi primer atau
sekunder oleh genus Candida yang umumnya disebabkan
oleh Candida albicans yaitu 80-90%. Gambaran klinik
sangat bervariasi mulai dari bentuk eksematoid dengan
hiperemi ringan sampai gejala klinik berat yang berupa
ekskoriasi dan ulkus pada labia minor, introitus
vagina, dan dinding vagina. Keluhan lain berupa rasa
gatal, pedih disertai keluarnya cairan putih seperti krim
susu. Gejala-gejala di atas oleh masyarakat dikenal
dengan terjadinya penyakit keputihan.(17)
2.1.1.4.2 Mulut
Infeksi mulut (sariawan) terutama pada bayi,
terjadi pada selaput mukosa pipi dan tampak sebagai
bercak-bercak putih yang sebagian besar terdiri atas
pseudomiselium dan epitel yang berkelupas, dan
terdapat erosi yang minimal pada selaput.
Pertumbuhan Candida albicans di dalam mulut akan
lebih subur bila disertai kortikosteroid, antibiotika,
kadar glukosa tinggi dan imunodefisiensi.(17)
2.1.1.4.3 Kulit
Jamur ini sering ditemukan di daerah lipatan,
misalnya ketiak, lipatan di bawah payudara, lipat paha,
lipat pantat dan sela jari kaki. Kulit yang terinfeksi
tampak kemerahan, agak basah, bersisik halus dan
berbatas tegas. Gejala utamanya adalah rasa gatal dan
rasa nyeri bila terjadi maserasi atau infeksi sekunder oleh
kuman.(17)
2.1.1.4.4 Kuku
Kuku yang terinfeksi tampak tidak mengkilat,
berwarna seperti susu, kehijauan atau kecoklatan.
9

Kadang-kadang permukaan kuku menimbul dan tidak


rata. Di bawah permukaan kuku yang keras terdapat
bahan rapuh yang mengandung jamur. Kelainan ini dapat
mengenai satu atau beberapa atau seluruh jari tangan dan
kaki.(17)

2.1.1.4.5 Saluran Pencernaan


Stomatitis dapat terjadi bila Candida albicans
menginfeksi rongga mulut. Gambaran klinis khasnya
berupa bercak-bercak putih kekuningan, yang menimbul
pada dasar selaput lendir yang merah. Hampir seluruh
selaput lendir mulut, termasuk lidah dapat terkena. Gejala
yang ditimbulkannya adalah rasa nyeri, terutama bila
tersentuh makanan.(17)
2.1.1.5 Terapi
Obat-obatan yang digunakan dalam mengatasi keputihan
biasanya berasal dari golongan azol. Flukonazol oral efektif
untuk menghilangkan gejala dan mengeradikasi patogen.(19)
Mekanisme kerja obat ini adalah menghambat biosintesis lipid
jamur, terutama ergosterol pada membran sel. Efek ini
diakibatkan oleh penghambatan enzim cytochrome P-450
dependent. Pengurangan ergosterol menyebabkan terjadinya
perubahan fungsi membran sel, membran sel menjadi tidak stabil
dan setelah beberapa lama akan rusak kemudian sel jamur akan
mati.(5)
Flukonazol larut dalam air dan mudah untuk diabsorbsi
dari saluran pencernaan karena tidak dipengaruhi oleh adanya
makanan ataupun keasaman lambung. Setelah pemberian peroral
Flukonazol, kadar plasma hampir sama tinggi dengan setelah
pemberian intravena. Flukonazol didistribusikan secara luas di
10

jaringan dan cairan tubuh, termasuk cairan serebrospinalis,


dimana kadarnya mencapai 50-80% kadar dalam serum. Obat ini
diekskresikan terutama melalui urin. Waktu paruh Flukonazol
lebih kurang 30 jam dan sangat diperpanjang pada pasien dengan
insufisiensi ginjal.(20)

2.1.2 Bawang dayak (Eleutherine palmifolia L. Merr)

Gambar 2.2 Bawang dayak (Eleutherine palmifolia L. Merr)(dokumentasi


Probadi)

2.1.2.1 Taksonomi
Divisi : Magnoliophyta
Class : Liliopsida
Ordo : Liliales
Family : Iridaceae
Genus : Eleutherine
Spesies : Eleutherine palmifolia L. Merr (11)

2.1.2.2 Morfologi
Bawang dayak (Eleutherine palmifolia L. Merr) adalah
tanaman khas Kalimantan Tengah yang telah digunakan oleh
masyarakat suku Dayak secara turun temurun sebagai obat.
Tumbuhan ini memiliki tinggi sekitar 30-40 cm. Bentuk umbi
pada bawang dayak (Eleutherine palmifolia L. Merr) berwarna
11

merah berlapis menyerupai bawang merah yang biasa dipakai


sebagai bumbu masakan, berdaun tunggal seperti pita dengan
ujung dan pangkal runcing, tepi rata atau tidak bergerigi berwarna
hijau. Memiliki bunga majemuk yang tumbuh di ujung batang
berwarna putih dengan putik berbentuk jarum berukuran kurang
lebih 4 mm berwarna putih kekuningan dan memiliki akar serabut
berwarna cokelat muda.(11)
2.1.2.3 Kandungan Zat Kimia
Umbi Bawang dayak (Eleutherine palmifolia L. Merr)
mengandung senyawa naphtoquinones dan turunannya seperti
elecanacine, eleutherine, eleutherol, eleuthernone.
Naphtoquinones dikenal sebagai antimikroba, antifungal, antiviral
dan antiparasitik serta memiliki bioaktivitas sebagai antikanker
dan antioksidan yang biasanya terdapat di dalam sel vakuola
dalam bentuk glikosida. Selain itu terdapat juga senyawa-senyawa
turunan anthrakinon yang mempunyai daya pencahar dan
senyawa bioaktif yang terdapat dalam umbi terdiri dari senyawa
flavanoid, fenol, tanin, saponin dan Naftokuinon.(13)
Mekanisme kerja flavonoid sebagai antimikroba dapat
dibagi menjadi 3 yaitu menghambat sintesis asam nukleat,
menghambat fungsi membran sel dan menghambat metabolisme
energi. Senyawa flavonoid memiliki mekanisme antijamur
dengan mengganggu homeostasis mitokondria dan juga dengan
mengganggu integritas membran sel jamur. (21)
Sedangkan senyawa fenol efek antijamurnya dikarenakan
dapat membuat terhentinya siklus sel pada jamur yaitu pada fase
replikasi, hal ini dapat mengakibatkan terganggunya proses
pembelahan sel yang akan menghambat pertumbuhan dari sel
jamur. Fenol mempunyai efek antijamur dengan cara
menyebabkan kerusakan pada mitokondria yang akan
menyebabkan penimbunan ROS, mekanisme antijamur lain
12

dari fenol adalah bekerja dengan menghambat sintesis kitin yang


penting untuk pembenntukan dinding sel.(21)
Tanin memiliki aktivitas antijamur dengan cara
menghambat sintesis kitin yang digunakan untuk pembentukan
dinding sel pada jamur dan merusak membran sel sehingga
pertumbuhan jamur terhambat.
Mekanisme kerja saponin termasuk dalam senyawa
golongan terpen, berikatan dengan kolesterol senyawa lipofilik
dari saponin akan berikatan dengan bagian lipofilik dari membran
sel yang akan mengakibatkan rusaknya struktur fosfolipid dari
membran sel. (21)
Naftokuinon yang merupakan senyawa golongan kuinon
diduga merupakan kompenen antijamur utama dalam ektrak
etanol umbi bawang dayak. Senyawa golongan naftokuinon telah
dilaporkan memiliki efek antijamur terhadap beberapa jamur
seperti Trichophyton rubrum dan Candida albicans. Mekanisme
kerja dari naftokuinon adalah dengan cara mengganggu
permeabilitas membran dari sel jamur, permeabiltas yang
terganggu ini mengakibatkan terjadinya kebocoran ion K+ dari
dalam sel jamur dan juga mengakibatkan terjadinya kebocoran
pada substansia intraseluler yang penting bagi pertumbuhan sel
jamur.(21)
2.1.3 Metode Pengujian Anti Jamur
2.1.3.1 Metode Delusi
Penggunaan metode delusi untuk menentukan konsentrasi
hambat minimum (KHM) antimikroorganisme terhadap
mikroorganisme. Dilakukan dengan membuat seri pengenceran
antimikroorganismepada medium cair dan ditambah
mikroorganisme. Dikatakan sebagai KHM jika pada larutan
antimikroorganisme pada kadar terkecil terlihat jernih tanpa
pertumbuhan mikroorganisme. Kemudian larutan di kultur ulang
13

tanpa penambahan mikroorganisme dan antimikroorganisme,


selama 18-24 jam diinkubasi. Setelah 24 jam dikatakan KHM jika
larutan tadi tetap jernih.(14)

2.1.3.2 Metode Difusi


Pada metode difusi ini terdapat beberapa metode yaitu:
a. Metode disc diffusion (tes Kirby dan Bauer)
Penggunaan metode ini bertujuan untuk menentukan
aktivitas dari antimikroba. Dilakukan pada media agar yang sudah
ditanam mikroorganisme dengan cara meletakkan piringan (blance
disc) yang sudah terisi antimikroba. Jika terdapat area jernih
menandakan adanya penghambatan pertumbuhan mikroba.(14)
Pada penelitian ini, penulis menggunakan metode disc
diffusion (tes Kirby dan Bauer). Penggunaan metode ini bertujuan
untuk menentukan efektivitas ekstrak minyak atsiri bawang dayak
(Eleutherine palmifolia L. Merr) dalam menghambat pertumbuhan
jamur Candida albicans pada media agar. Jika pada media agar
terdapat area jernih yang merupakan zona hambat, maka itu
menandakan adanya efektivitas ekstrak minyak atsiri bawang
dayak (Eleutherine palmifolia L. Merr).
14

2.2 Kerangka Teori

Bawang dayak

Minyak atsiri
bawang dayak

Flavanoid Fenol Tanin Naftokuinon Saponin

Farmakoterapi
Antifungal

Pertumbuhan
Flukonazol 25
Candida albicans

Gambar 2.3. Kerangka Teori

2.3 Kerangka Konsep

Minyak atsiri Bawang Pertumbuhan jamur


dayak (Eleutherine Candida albicans
palmifolia L. Merr).

Gambar 2.4. Kerangka Konsep


2.4 Hipotesis
1. Minyak atsiri bawang dayak (Eleutherine palmifolia L. Merr) dapat
menghambat pertumbuhan Candida albicans.
15

2. Pertumbuhan Candida albicans dapat dihambat dengan konsentrasi 0,5%


ekstrak minyak atsiri bawang dayak (Eleutherine palmifolia L. Merr).

BAB III
METODE PENELITIAN
3.1 Ruang Lingkup Penelitian
Ruang lingkup penelitian ini mencangkup bidang ilmu Farmakologi,
Herbal dan Mikrobiologi.
3.2 Tempat dan Waktu Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Mikrobiologi Fakultas
Kedokteran Universitas Swadaya Gunung Jati Cirebon pada bulan Desember
2018 sampai Februari 2019.
3.3 Jenis Penelitian dan Rancangan Penelitian
Penelitian ini merupakan penelitian experimental dengan rancangan
penelitian post-test control group design menggunakan jamur sebagai subjek
penelitian. Terdapat 7 kelompok perlakuan yaitu 5 kelompok perlakuan
pemberian ekstrak minyak atsiri bawang dayak (Eleutherine palmifolia L.
Merr) dengan konsentrasi bertingkat. Terdapat 2 kelompok kontrol yaitu
kontrol positif menggunakan flukonazol dan kontrol negatif menggunakan
dimetil sulfoksida (DMSO). Secara bersamaan kelompok perlakuan diberikan
intervensi kemudian dilakukan post-test.
3.4 Populasi dan Sampel
3.4.1. Populasi Target
Populasi yang digunakan adalah jamur Candida albicans.
3.4.2 Populasi Terjangkau
Populasi terjangkau yang digunakan pada penelitian ini adalah
jamur Candida albicans dari Laboratorium Mikrobiologi Fakultas
Kedokteran Universitas Swadaya Gunung Jati Cirebon.

3.4.3 Sampel
16

Sampel yang digunakan adalah isolat murni jamur Candida


albicans yang dibiakkan di Laboratorium Mikrobiologi FK Unswagati.

3.4.3.1 Kriteria Inklusi


1. Jamur Candida albicans yang diperoleh dari Fakultas
Kedokteran Universitas15Swadaya Gunung Jati Cirebon.
2. Minyak atsiri Bawang dayak (Eleutherine palmifolia L. Merr)
yang diperoleh dari Laboratorium Lansida Herbal Yogyakarta.
3.4.3.2 Kriteria Eksklusi
Koloni jamur yang terkontaminasi mikroorganisme lain.
3.4.4 Cara Sampling
Cara sampling yang digunakan adalah pengambilan sampel
secara acak sederhana Simpel Random Sampling. Teknik pengambilan
sampel secara acak sederhana ini menggunakan tabel bilangan atau
angka acak random number.
3.4.5 Besar Sampel
Pada penelitian ini sampel dibagi menjadi 7 kelompok. Jumlah
pengulangan ditentukan menggunakan rumus Federer berikut:

(n – 1) (t – 1) > 15

Keterangan: n: Jumlah pengulangan sampel setiap kelompok


t: Jumlah kelompok
Jumlah pengulangan dapat dilakukan sebagai berikut:
(n – 1)(t – 1) > 15
(n – 1)(7 – 1) > 15
(n-1) 6 ≥ 15
6n-6 ≥ 15
6n ≥ 15 + 6
6n ≥ 21
n ≥ 21/6
17

n ≥ 3,5
Dari hasil perhitungan menggunakan rumus Frederer yaitu
didapatkan hasil n ≥ 3,5 dan dapat disimpulkan jumlah pengulangan
yang akan dilakukan adalah 4 kali pengulangan. Setiap kelompok ada 4
sampel atau pengulangan ditambah proporsi drop out atau hilang untuk
mengantisipasi hilangnya unit eksperimen dengan rumus berikut:
N = n/(1-f)
Keterangan: N = Besar sampel koreksi
n = Besar sampel awal
f = Perkiraan proporsi drop out sebesar 10%
N = 4/(1-10%)
N = 4,44
N=5
Dari perhitungan dengan rumus di atas didapatkan total jumlah
sampel minimal setiap kelompok adalah 5 kali pengulangan.
3.5. Variabel Penelitian
3.5.1 Variabel Bebas
Ekstrak Minyak atsiri Bawang dayak (Eleutherine palmifolia L. Merr).
3.5.2 Variabel Terikat
Diameter daerah pertumbuhan Candida albicans.
3.6. Definisi Operasional
Tabel 3.1 Definisi Operasional
No Nama variable Definisi Alat ukur Satuan Skala
operasional ukur
1. Ekstrak bawang Zat yang Timbangan Konsentras Nominal
dayak dihasilkan dari dan gelas i
(Eleutherine ekstraksi bawang ukur.
palmifolia L. dayak
Merr). Konsentrasi 15%,
7,5%, 3,5%,1,5%,
dan 0,5%
2. Variabel terikat: Zona radikal atau Penggaris Milimeter Rasio
Diameter daerah zona bening
pertumbuhan disekitar
Jamur Candida sumuran.
albicans
18

3.7. Cara Pengumpulan Data


3.7.1 Alat dan Bahan
3.7.1.1 Alat
Alat yang digunakan pada penelitian ini antara lain:
Tabung reaksi, rak tabung reaksi, cawan petri, gelas ukur, pipet
ukur, cakram, otoklaf, oven (lemari pengering), inkubator, pipet
steril, lampu spiritus, korek api, ose, kertas tempelan, lidi, kapas
steril, penggaris, labu erlenmeyer, mikropipet.
3.7.1.2 Bahan
Bahan yang digunakan dalam penelitian ini antara lain
biakan Candida albicans, minyak atsiri bawang dayak
(Eleutherine palmifolia L. Merr) yang berasal dari kota Nanga
Pinoh provinsi Kalimantan Barat.
Bahan lainnya yang digunakan penelitian ini yaitu DMSO
(Dimetil sulfoksida) 10%, Flukonazol 25 µg, media agar SDA
(Sabouraud Dextrosa Agar), Kloramfenikol, NaCl dan akuades.
3.7.2 Prosedur Penelitian
3.7.2.1 Sterilisasi Alat
Sterilisasi harus dilakukan pada semua alat yang akan
digunakan. Alat yang berbahan kaca dicuci terlebih dahulu baru
dikeringkan. Sterilisasi dengan menggunakan autoklaf yang diatur
dengan suhu 121°C selama 15 menit, alat yang berbahan plastik
disterilkan menggunakan alkohol. Jarum ose disterilisasi dengan
api bunsen dan di dinginkan sebelum akan digunakan.(25)
3.7.2.2 Pembuatan Media Sabouraud Dextrose Agar (SDA)
Bahan pembuatannya yaitu 40 gr Dextrosa, 10 gr pepton,
20 gr agar dan 1000 ml akuades. Semua bahan dicampur menjadi
19

satu hingga larut dan dipanaskan, kemudian diangkat, selanjutnya


disterilkan dengan temperatur 110º C pada tekanan 1 atm selama
15-20 menit dalam autoclave. Untuk isolasi jamur. Untuk isolasi
jamur ditambahkan 250 mg Kloramfenikol dalam media SDA
pada suhu ± 50ºC.(26)
3.7.2.3 Pembuatan NaCl
Pembuatan NaCl sebagai suspensi jamur uji. Membuat
larutan NaCl 1.000 ml yaitu timbang NaCl 8,5 g larutan dengan
aquadest steril.
3.7.2.4 Pembuatan Suspensi McFarland 0,5
1) Sebanyak 0,5 ml larutan barium klorida 0,048 M (BaCl2 H2O
1,175%).
2) Dicampurkan dengan 9,5 ml larutan asam sulfat 0,18 M (H 2SO4
1% b/v) dalam labu takar dan dihomogenkan.
3) Suspensi ini digunakan sebagai larutan standar pembanding
kekeruhan suspensi jamur uji.(27)
3.7.2.5 Pembuatan Pengembangbiakkan Jamur
Isolat pada biakan murni jamur Malassezia furfur diambil
satu mata ose, dipindahkan ke dalam tabung reaksi dan
ditambahkan NaCl 0,9% hingga kekeruhannya sama dengan
standar Mc Farland 0,5 (konsentrasi jamur 108 CFU/mL).
3.7.2.5 Persiapan Preparat Flukonazol
Persiapan Preparat Flukonazol
1. Preparat Flukonazol yang dipakai adalah Diflucan. Satu
kapsul Diflucan mengandung 50 mg Flukonazol.
2. Satu kapsul Flukonazol 50 mg dilarutkan dengan 100 ml
aquades. Pengenceran ini adalah pengenceran pertama.
50 mg dalam 100 ml = 500 µg/1 ml
3. Kemudian dengan rumus berikut:
N1·V1 = N2·V2
500·5 = N2·100
20

N2 = 25 µg

Pada pengenceran kedua 5 ml dari hasil pengenceran


pertama dimasukkan ke dalam 100 ml aquades, sehigga
didapatkan normalitas Flukonazol setelah pengenceran sebesar 25
µg. Zona sensitivitas Flukonazol 25 µg berdasarkan standar
yang adalah sebagai berikut:(23)
Flukonazol : ≥ 20 mm = susceptible
: 15 – 19 mm = intermediate
: ≤ 14 = resistent
3.7.2.6 Pembuatan Minyak astiri Bawang Dayak (Eleutherine
palmifolia L. Merr)
Pada penelitian ini, untuk membuat minyak atsiri yaitu
menggunakan metode destilasi uap. Mula-mula Bawang Dayak
(Eleutherine palmifolia L. Merr) dibuat menjadi serbuk
(simplisia) dengan cara sebanyak 1 kg Bawang Dayak
(Eleutherine palmifolia L. Merr) dicuci di bawah air mengalir,
lalu dipotong-potong hingga kecil. Selanjutnya dihaluskan
menggunakan penggiling. Langkah selanjutnya yaitu:
1) Menimbang masa labu destilasi kosong dan menimbang masa
labu destilasi yang berisi Bawang dayak (Eleutherine
palmifolia L. Merr).
2) Memasang rangkaian alat distilasi.
3) Mengisi labu distilasi dengan air.
4) Memanaskan labu distilasi sampai air mendidih.
5) Catat suhu ketika tetesan pertama dan tetesan terakhir ekstrak
Bawang dayak (Eleutherine palmifolia L. Merr).
6) Mengamati proses pemurnian yang terjadi pada Bawang dayak
(Eleutherine palmifolia L. Merr).
7) Ukur dengan gelas ukur ekstrak Bawang dayak (Eleutherine
palmifolia L. Merr) yang dihasilkan.
21

3.7.2.7 Pengenceran Minyak Atsiri


Penelitian ini menggunakan 7 kelompok perlakuan yang
terdiri dari 1 kelompok kontrol positif (Flukonazol), 1 kelompok
kontrol negatif (DMSO 10%), 5 kelompok minyak atsiri Bawang
dayak (Eleutherine palmifolia L. Merr) dengan konsentrasi 15%,
7,5%, 3,5%, 1,5%, dan 0,5%. Pengenceran bertujuan untuk
menghasilkan beberapa konsentrasi yang akan digunakan dari
konsentrasi minyak atsiri Bawang dayak (Eleutherine palmifolia
L. Merr) yang mempunyai aktivitas anti jamur Candida albicans.
Konsentrasi awal dari minyak atsiri Bawang dayak
(Eleutherine palmifolia L. Merr) adalah 100%. Masing-masing
diencerkan menjadi konsentrasi yang diinginkan sebanyak 1 ml
menggunakan pelarut DMSO 10%.
Berikut Rumus pengenceran: N1·V1 = N2·V2
Keterangan : N1 = Normalitas sebelum pengenceran

V1 = Volume sebelum pengenceran

N2 = Normalitas setelah pengenceran

V2 = Volume setelah pengenceran

Pengenceran dibuat dalam konsentrasi sebagai berikut:

1. Perlakuan 1 konsentrasi ekstrak 15% adalah 0,15 ml minyak


atsiri Bawang dayak (Eleutherine palmifolia L. Merr)
dicampur 0,85 ml DMSO 10% sampai volume 1 ml.
2. Perlakuan 2 konsentrasi ekstrak 7,5% adalah 0,075 ml minyak
atsiri Bawang dayak (Eleutherine palmifolia L. Merr)
dicampur 0,925 ml DMSO 10% sampai volume 1 ml.
3. Perlakuan 3 konsentrasi ekstrak 3,5% adalah 0,035 ml minyak
atsiri Bawang dayak (Eleutherine palmifolia L. Merr)
dicampur 0,965 ml DMSO 10% sampai volume 1 ml.
22

4. Perlakuan 4 konsentrasi ekstrak 1,5% adalah 0,015 ml minyak


atsiri Bawang dayak (Eleutherine palmifolia L. Merr)
dicampur 0,985 ml DMSO 10% sampai volume 1 ml.
5. Perlakuan 5 konsentrasi ekstrak 0,5% adalah 0,005 ml minyak
atsiri Bawang dayak (Eleutherine palmifolia L. Merr)
dicampur 0,995 ml DMSO 10% sampai volume 1 ml.
6. Kontrol positif adalah 1 ml Flukonazol 25 µg.
7. Kontrol negatif adalah 1 ml DMSO 10 %.
3.7.2.8 Uji Daya Hambat
Penentuan zona hambat pada penelitian ini yaitu dengan
metode sumuran. Masing-masing sumuran kemudian ditetesi
dengan ekstrak bawang dayak (Eleutherine palmifolia L. Merr)
yang sudah diencerkan menjadi 15%, 7,5%, 3,5%, 1,5%, dan
0,5%. Selanjutnya hasil diamati, potensi antijamur ditandai
dengan adanya zona bening disekitar sumuran dan diukur
dengan mengukur diameter dari zona hambat. Zona hambat
adalah suatu daerah di sekitar sumuran, dimana sama sekali
tidak ditemukan pertumbuhan jamur.

Diameter zona hambat dikategorikan berdasarkan


kekuatan daya antijamur. Kriteria diameter yang diukur antara
lain:(24)

1) Diameter zona bening atau zona hambat > 20 mm atau lebih


berarti mempunyai daya hambat yang sangat kuat.
2) Diameter zona bening atau zona hambat 11-20 mm berarti
mempunyai daya hambat kuat.
3) Diameter zona bening atau zona hambat 5-10 mm berarti
mempunyai daya hambat sedang.
4) Diameter zona bening atau zona hambat 0-4 mm berarti
mempunyai daya hambat lemah.
23

3.8 Alur Penelitian


Pada penelitian ini tedapat beberapa langkah penelitian yang akan dilakukan
yaitu:
1. Penyiapan alat yang telah disterilisasi.
2. Penyiapan bahan-bahan seperti ekstrak minyak atsiri bawang dayak
(Eleutherine palmifolia L. Merr) yang telah dilakukan pengenceran
menggunakan DSMO sehingga dihasilkan beberapa konsentrasi dan
jamur Candida albicans yang telah dilakukan peremajaan.
3. Pembuatan media agar SDA, 40 gr Dextrosa, 10 gr pepton, 20 gr agar
dan 1000cc akuades dicampur menjadi satu lalu dipanaskan, kemudian
angkat, disterilkan dengan temperatur 110º C pada tekanan 1 atm selama
15-20 menit dalam autoclave.
4. Pembuatan NaCl untuk suspensi jamur Candida albicans.
5. Pembuatan suspensi McFarland 0,5 yang akan digunakan sebagai larutan
standar pembanding kekeruhan suspensi jamur uji.
6. Pembuatan kontrol (+) menggunakan Flukonazol 25 µg dan kontrol (-)
menggunakan DSMO.
7. Pembuatan sumuran pada media agar SDA yang telah tertanam suspensi
jamur yang homogen. Melubangi bagian tengah media agar di cawan
petri menggunakan cork borer/ pipet berdiameter 6 mm. Kemudian isi
sumuran dengan sampel, lalu inkubasi dengan suhu 37oC selama 3x24
jam.
8. Setelah itu amati ada atau tidak penghambatan pada sumuran tersebut.
Jika terdapat penghambatan ukur menggunakan penggaris.
9. Lakukan pengumpulan data hasil penelitian.
10. Kemudian lakukan pengolahan data dan kesimpulan dari penelitian.

Persiapan Pembuatan Pembuatan Kontrol positif


alat dan suspensi jamur suspensi dan kontrol
bahan dan media McFarland negatif
agar SDA 0,5
24

Pembuatan sumuran pada media SDA


menggunakan pipet dengan ukuran 6 mm

Teteskan larutan uji dan kontrol pada


sumuran media SDA lalu diinkubasi
dengan suhu 37oC selama 3x24 jam

K1 K2 P1 P2 P3 P4 P5

Keterangan: Mengamati dan mengukur


K1: Kontrol – (DSMO)
diameter zona hambat
K2 : Kontrol + (Flukonazol)
P1: Konsentrasi 15% Pengumpulan data hasil
P2: Konsentrasi 7,5% penelitian
P3: Konsentrasi 3,5%
P4: Konsentrasi 1,5% Pengolahan data
P5: Konsentrasi 0,5%
Gambar 3.1. Alur Penelitian
3.9 Analisis Data
Data yang diperoleh akan diinput dalam komputer, kemudian
dianalisis secara statistik dengan uji normalitas untuk melihat variasi data
normal atau tidak, menggunakan metode analitik dengan parameter uji
saphiro wilk karena sampel yang digunakan tidak lebih dari 50 sampel, dan
diikuti data yang didapat normal yaitu signifikan p>0,05. Uji satistik untuk
membandingkan larutan uji dengan kontrol dalam menghambat jamur
Candida albicans adalah uji one way anova kemudian dilakukan uji post hoc
bonferrroni. Jika hasil data tidak normal dilakukan transformasi untuk
menormalkan data dengan menggunakan fungsi log, akar, kuadran dan
metode lain. Jika setelah dilakukan transformasi data tidak terdistribusi secara
25

normal, maka digunakan uji kruskal wallis dan uji statistik untuk
perbandingan rata-rata dua kelompok dari setiap masing-masing kelompok
dengan menggunakan uji post hoc mann whitney

3.10 Etika Penelitian


Penelitian ini menggunakan jamur Candida albicans sebagai bahan uji
coba. Penulis akan memperoleh ethical clearence dari Komite Etika
Penelitian Fakultas Kedokteran Universitas Swadaya Gunung Jati Cirebon.
Kemudian penulis juga akan memperoleh surat persetujuan peminjaman
Laboratorium Mikrobiologi dari Kepala Biomedis Laboratorium
Mikrobiologi Fakultas Kedokteran Universitas Swadaya Gunung Jati
Cirebon.

3.11 Jadwal Penelitian


Tabel 3.2 Jadwal Penelitian

Bulan
No Kegiatan Agus Sept Okt Nov Des Jan Feb Mar Apr
2018 2018 2018 2018 2018 2018 2018 2018 2018
1. Penyusunan
Proposal
2. Ujian Proposal
3. Persiapan Perijinan
4. Persiapan
Penelitian
5. Pelaksanaan
Penelitian
6. Analisis Data
7. Penyusunan Karya
Tulis Ilmiah
8. Pengesahan Karya
Tulis Ilmiah
9. Sidang Karya Tulis
Ilmiah
26

DAFTAR PUSTAKA
1. Hakim L, Ramadhian R. Kandidiasis Oral. Major Postgr Med J.
2015.
2. Wawan, Gambaran Tingkat Kecemasan Wanita Usia Subur 20-45 Tahun
Yang Mengalami Keputihan Di Rw 01 Kelurahan Setiajaya Kecamatan
Cibeureum Kota Tasikmalaya. Tasikmalaya: STIKes BTH Tasikmalaya.
2017.
3. Nuraeni, Nanan. Profil oral candidiasis di bagian ilmu penyakit mulut
RSHS. Bandung: FK Unpad. 2016.
4. Ramdhan, G. Perbandingan Daya Hambat Flukonazol Dengan Mikonazol
Terhadap Jamur Candida Albicans Secara In Vitro. Semarang: UMS.
2017.
5. Katzung BG. Farmakologi Dasar & Klinik. (Katzung BG, ed.).
Jakarta: EGC. 2014.
6. Sudoyo AW. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. Jakarta: Interna
Publishing; 2014.
7. DEPKES RI. Kebijakan Obat Tradisional Nasional. Keputusan Menteri
Kesehatan Republik Indonesia. 2012.
8. World Health Organization. Global Status Report on Noncommunicable
Diseases 2010. 2011.
9. Sabularse VC. Antioxidan activity, phenolic and flavonoid content of
some Philippine fruits and vegetables. University of the Philippine at Los
Benos (Philippine) UPLB; Juni 2009.
10. Hidayah AS, Mulkiya K, Purwanti L. Uji Aktivitas Antioksidan Umbi
Bawang Dayak (Eleutherin bulbosa Merr). Pros Penelit SPeISA Unisba
[Internet]. 2015:397-404.
11. Firdaus T. Efektivitas Ekstrak Bawang Dayak (Eleutherine palmifolia L.
Merr) dalam Menghambat Pertumbuhan Bakteri Staphylococcus aureus.
Skripsi. Jakarta: Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah; 2014.
12. Cristoper W. Uji Aktivitas Antijamur Ekstrak Etanol Umbi Bawang Dayak

26
27

(Eleutherine americana (Aubl.) Merr. Ex K. Heyne.) terhadap


Trichophyton mentagrophytes secara In Vitro. Fakultas Kedokteran
Universitas Tanjungpura.
13. Armanda F, N MYI, Budiarty LY, et al. Efektivitas Daya Hambat Bakteri
Ekstrak Bawang Dayak Terstandarisasi Flavonoid Terhadap Enterococcus
faecalis ( In vitro ). Dentino. 2017;2:183-187.
14. Puspadewi R, Adirestuti P, Menawati R. Khasiat Umbi Bawang Dayak
(Eleutherine palmifolia (L.) Merr.) Sebagai Herbal Antimikroba Kulit. J
Ilm Farm. 2013;1(1):31-37.
15. Keumala, V. Pemeriksaan Mikrobiologi pada Candida albicans. Aceh: FK
Universitas Kuala. 2016.
16. Gunawan S. Mekanisme Daya Hambat Kombinasi Ekstrak Daun Sirih
Hijau (Piper betle Linn) dan Ekstrak Daun Sirih Merah (Piper crocatum)
terhadap Pertumbuhan Candida albicans. 2010.
17. Brooks, Geo F D. Jawetz, Melnick, Adelberg : Mikrobiologi
Kedokteran. Jakarta: EGC. 2014.
18. Djuanda A, Hamzah M, Aisah S. Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin. 3rd ed.
Jakarta: Balai Penerbit FKUI; 2012.
19. Greenberg MI. Teks Atlas Kedokteran Kedaruratan Greenberg Jilid 2.
Jakarta: Penerbit Erlangga; 2010.
20. Rianto S. Farmakologi dan Terapi. 5th ed. Jakarta: Balai Penerbit FKUI;
2007.
21. Rijayanti R. Uji Aktivitas Antibakteri Ekstrak Etanol Daun Mangga
Bacang (Mangifera foetida L.) Terhadap Staphylococcus aureus Secara In
Vitro. J Naskah Publ Mhs PSPD FK Univ Tanjung Pura. 2014:13-14.
22. Karou D, Savadogo A, Canini A, et al. Antibacterial activity of alkaloids
from Sida acuta. African J Biotechnol. 2006;5(2):195-200.
23. Paramita NLP V. Uji Kepekaan Antifungi Fluconazole dan Nistatin
terhadap Metode Difusi Disk. 2016;5(1):8-11.
28

24. Kandoli F, Abijulu J, and Leman M. Uji Daya Hambat Ekstrak


Daun Durian (Durio zybethinus) terhadap Pertumbuhan Candida albicans
secara in vitro. Univ Sam Ratulangi. 2016;5(1).