Anda di halaman 1dari 10

PENDIDIKAN AGAMA

INTEGRASI & KETERKAITAN IMAN, ISLAM DAN IHSAN

Disusun Oleh:

Norma Elita (03422119210)


Wahyu Cahyani (03422119319)

AKADEMI FARMASI IKIFA


JAKARTA
2019
A. PENGERTIAN IMAN, ISLAM DAN IHSAN

1. Iman

Dasar pemikiran bagi perjalanan dan kehidupan praktis umat manusia seperti itulah yang
menurut istilah Al Quran disebut iman. Kata iman itu sendiri terdiri dari tiga huruf asal: Hamzah,
Mim, dan Nun, yang merupakan kata kerja dari mashdar al-amn (keamanan) lawan kata dari
alkhauf (ketakutan). Iman mengandung arti ketentraman dan kedamaian kalbu, yang dari kata itu
pula muncul kata al-amanah (amanah, bisa dipercaya) lawan kata al-khiyanah (khianat, ingkar).

Sedangkan secara bahasa iman merupakan pengakuan hati. Sedangkan secara syara’
tertuang dalam sabda Rasulullah SAW, yang artinya: “Iman itu bukanlah dengan angan-angan,
tetapi apa yang telah mantap di dalam hati dan dibuktikan kebenerannya dengan amalan”. Dalam
hadis lain juga disebutkan bahwa “ Iman adalah pengakuan hati, pengucapan dengan lidah, dan
pengamalan dengan anggota”.

Kedua hadis di atas mengemukakan bahwa keimanan itu bermula dari pengakuan hati,
baru diiringi dengan pengucapan secara lisan kemudian diamalkan dengan seluruh anggota
badan.

Jadi jelas bahwa iman merupakan pengakuan hati, pengucapan lidah, dan pengamalan
anggota badan. Hal tersebut merupakan suatu kesatuan proses yang tidak dapat dipisah-pisahkan.

2. Islam

Secara etimologi, Islam berasal dari Bahasa Arab, terambil dari kosakata salima yang
berarti selamat sentosa. Dari kata ini kemudian dibentuk menjadi kata aslama yang berarti
memeliharakan dalam keadaan selamat, sentosa, dan berarti pula berserah diri, patuh, tunduk,
dan taat. Dari kata aslama ini dibentuk kata Islam (aslama yuslimu islaaman) yang mengandung
arti sebagaimana terkandung dalam arti pokoknya, yaitu selamat, aman, damai, patuh, berserah
diri, dan taat. Orang yang sudah masuk Islam dinamakan muslim, yaitu orang yang menyatakan
dirinya telah taat, menyerahkan diri, dan patuh kepada Allah SWT., dengan melakukan aslama
orang ini akan terjamin keselamatannya di dunia dan di akhirat. Selain itu ada pula yang
berpendapat bahwa Islam berarti alistislam, yakni mencari keselamatan atau berserah diri.
Pengertian yang demikian itu sejalan dengan firman Allah SWT., antara lain:
Dari keterangan singkat tersebut dapat disimpulkan bahwa dari segi bahasa Islam adalah
berserah diri, patuh, dan tunduk kepada Allah SWT. dalam rangka mencapai kebahagiaan hidup
di dunia dan di akhirat.

Pengertian agama Islam dari segi istilah terdapat beberapa hal sebagai berikut :

1. Islam adalah agama yang didasarkan pada wahyu yang berasal dari Allah SWT.
2. Islam adalah agama yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW.
3. Islam adalah agama yang bukan hanya dibawa oelh Nabi Muhammad melainkan agama
yang dibawa oleh nabi sebelumnya, namun agama yang dibawa Nabi Muhammad jauh
lebih sempurna dibandingkan dengan agama yang dibawa oleh nabi sebelumnya.
4. Islam adalah agama yang ditujukan hanya untuk kelompok masyarakat pada zaman
tertentu, melainkan agama yang diperuntukkan bagi seluruh kelompok masyarakat pada
setiap zaman.
5. Islam adalah agama yang ajaran-ajarannya mencakup seluruh aspek kehidupan manusia.
6. Islam adalah agama yang didasarkan pada lima pilar utama, yaitu mengucapkan dua
kalimat syahadat, mendirikan shalat, menunaikan zakat, berpuasa di bulan Ramadhan,
dan melaksanakan ibadah haji bagi yang mampu.

Dengan demikian pengertian Islam baik dari segi bahasa maupun istilah menggambarkan
bahwa Islam adalah agama yang mengemban misi keselamatan dunia dan akhirat,
kesejahteraan, dan kemakmuran lahir bathin bagi seluruh umat manusia dengan cara
menunjukkan kepatuhan, ketundukan, dan kepasrahan kepada Tuhan, dengan melakukan
segala perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Misi Islam yang demikian ini sudah dibawa
oleh para nabi terdahulu walaupun agama yang dibawa nabi sebelum Nabi Muhammad SAW
itu bukan Islam. Baru pada zaman Nabi Muhammad SAW itulah agama ini bernama Islam
sekaligus mengemban misinya ini.

3. Ihsan

Ihsan berasal dari kata hasana yuhsinu, yang artinya adalah berbuat baik, sedangkan
bentuk masdarnya adalah ihsanan, yang artinya kebaikan. Allah swt. berfirman dalam Al-
Qur`an mengenai hal ini.

Ibnu Katsir mengomentari ayat di atas dengan mengatakan bahwa kebaikan yang
dimaksud dalam ayat tersebut adalah kebaikan kepada seluruh makhluk Allah.

Berikut ini adalah mereka yang berhak mendapatkan ihsan tersebut:

1) Ihsan kepada orang tua


Al-Qur’an Surat Al-Isra’ Al-Qur’an Surat Al-Qashash Allah menjelaskan dalam
Al-Qur’an surat Al-Isra’ ayat 23-24 “Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya
kamu tidak menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu
bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang diantara keduanya atau kedua-
duanya berumr lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu
mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah kamu membentak
mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia. Dan rendahkanlah
dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah: “Wahai
Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua mendidik aku
diwaktu kecil.” (QS. Al-Israa’: 23-24). Ayat tersebut menjelaskan kepada kita bahwa
ihsan kepada orang tua itu sejajar dengan ibadah kepada Allah.Dalam sebuah hadist
riwayat Turmuzdi, dari Ibnu Amru bin Ash, Rasulullah saw. bersabda, “Keridhaan
Allah berada pada keridhaan orang tua, dan kemurkaan Allah berada pada kemurkaan
orang tua.” Dalil di atas menjelaskan bahwa ibadah kita kepada Allah tidak akan
diterima, jika tidak disertai dengan berbuat baik kepada kedua orang tua. Apabila kita
tidak memiliki kebaikan ini, maka bersamaan dengannya akan hilang ketakwaan,
keimanan, dan keislaman.
2) Ihsan kepada kerabat karib
Ihsan kepada kerabat adalah dengan jalan membangun hubungan yang baik
dengan mereka, bahkan Allah swt. menyamakan seseorang yang memutuskan
hubungan silatuhrahmi dengan perusak di muka bumi. Allah berfirman, “Maka
apakah kiranya jika kamu berkuasa kamu akan membuat kerusakan dimuka bumi dan
memutuskan hubungan kekeluargaan?” (QS. Muhammad: 22). Silaturahmi adalah
kunci untuk mendapatkan keridhaan Allah. Hal ini dikarenakan sebab paling utama
terputusnya hubungan seorang hamba dengan Tuhannya adalah karena terputusnya
hubungan silaturahmi. Dalam sebuah hadits qudsi, Allah berfirman, “Aku adalah
Allah, Aku adalah Rahman, dan Aku telah menciptakan rahim yang Kuberi nama
bagian dari nama-Ku. Maka, barangsiapa yang menyambungnya, akan Ku
sambungkan pula baginya dan barangsiapa yang memutuskannya, akan Ku putuskan
hubunganku dengannya.” (HR. Turmudzi). Dalam hadits lain, Rasulullah bersabda,
“Tidak akan masuk surga, orang yang memutuskan tali silaturahmi.” (HR. Syaikahni
dan Abu Dawud).
3) Ihsan kepada anak yatim dan fakir miskin
Diriwayatkan oleh Bukhari, Abu Dawud, dan Turmuzdi, bahwa Rasulullah saw.
bersabda, “Aku dan orang yang memelihara anak yatim di surga kelak akan seperti
ini(seraya menunjukkan jari telunjuk jari tengahnya).” Dan Diriwayatkan oleh
Turmudzi, Nabi saw. bersabda, “Barangsiapa —dari Kaum Muslimin— yang
memelihara anak yatim dengan memberi makan dan minumnya, maka Allah akan
memasukkannya ke dalam surga selamanya, selama ia tidak melakukan dosa yang
tidak terampuni.”
4) Ihsan kepada tetangga dekat, tengga jauh, serta teman sejawat
Ihsan kepada tetangga dekat meliputi tetangga dekat dari kerabat atau tetangga
yang berada di dekat rumah, serta tetangga jauh, baik jauh karena nasab maupun yang
berada jauh dari rumah. Adapun yang dimaksud teman sejawat adalah yang
berkumpul dengan kita atas dasar pekerjaan, pertemanan, teman sekolah atau kampus,
perjalanan, ma’had, dan sebagainya. Mereka semua masuk ke dalam katagori
tetangga. Seorang tetangga kafir mempunyai hak sebagai tetangga saja, tetapi
tetangga muslim mempunyai dua hak, yaitu sebagai tetangga dan sebagai muslim;
sedang tetangga muslim dan kerabat mempunyai tiga hak, yaitu sebagai tetangga,
sebagai muslim dan sebagai kerabat. Rasulullah saw. menjelaskan hal ini dalam
sabdanya, “Demi Allah, tidak beriman, demi Allah, tidak beriman.” Para sahabat
bertanya, “Siapakah yang tidak beriman, ya Rasulullah?” Beliau menjawab,
“Seseorang yang tidak aman tetangganya dari gangguannya.” (HR. Syaikhani). Pada
hadits yang lain, Rasulullah bersabda, “Tidak beriman kepadaku barangsiapa yang
kenyang pada suatu malam, sedangkan tetangganya kelaparan, padahal ia
megetahuinya.”(HR. Ath-Thabrani).
5) Ihsan kepada ibnu sabil dan hamba sahaya
Ihsan terhadap ibnu sabil adalah dengan cara memenuhi kebutuhannya, menjaga
hartanya, memelihara kehormatannya, menunjukinya jalan jika ia meminta, dan
memberinya pelayanan. Adapun muamalah terhadap pembantu atau karyawan
dilakukan dengan membayar gajinya sebelum keringatnya kering, tidak
membebaninya dengan sesuatu yang ia tidak sanggup melakukannya, menjaga
kehormatannya, dan menghargai pribadinya. Jika ia pembantu rumah tangga, maka
hendaklah ia diberi makan dari apa yang kita makan, dan diberi pakaian dari apa yang
kita pakai. Pada akhir pembahasan mengenai bab muamalah ini, Allah swt.
menutupnya firman-Nya yang berbunyi, “Sesungguhnya Allah tidak menyukai tiap-
tiap orang yang berkhianat lagi mengingkari nikmat.” (QS. Al-Hajj: 38). Ayat
tersebut merupakan isyarat yang sangat jelas kepada siapa saja yang tidak berlaku
ihsan. Bahkan, hal itu adalah pertanda bahwa dalam dirinya ada kecongkakan dan
kesombongan, dua sifat yang sangat dibenci oleh Allah swt.
6) Ihsan dengan perlakuan dan ucapan baik kepada manusia
Rasulullah saw. bersabda, “Barangsiapa beriman kepada Allah dan Hari Kiamat,
hendaklah ia berkata yang baik atau diam.” (HR. Bukhari dan Muslim). Masih
riwayat dari Bukhari dan Muslim, Rasulullah bersabda, “Ucapan yang baik adalah
sedekah.” Bagi manusia secara umum, hendaklah kita melembutkan ucapan, saling
menghargai dalam pergaulan, menyuruh kepada yang makruf dan mencegahnya dari
kemungkaran, menunjukinya jalan jika ia tersesat, mengajari mereka yang bodoh,
mengakui hak-hak mereka, dan tidak mengganggu mereka dengan tidak melakukan
hal-hal dapat mengusik serta melukai mereka.
7) Ihsan dengan berlaku baik kepada binatang
Berbuat ihsan terhadap binatang adalah dengan memberinya makan jika ia lapar,
mengobatinya jika ia sakit, tidak membebaninya diluar kemampuannya, tidak
menyiksanya jika ia bekerja, dan mengistirahatkannya jika ia lelah. Bahkan, pada saat
menyembelih, hendaklah dengan menyembelihnya dengan cara yang baik, tidak
menyiksanya, serta menggunakan pisau yang tajam.

Kesimpulannya, ihsan adalah puncak prestasi dalam ibadah, muamalah, dan akhlak. Oleh
karena itu, semua orang yang menyadari akan hal ini tentu akan berusaha dengan seluruh potensi
diri yang dimilikinya agar sampai pada tingkat tersebut. Siapapun kita, apapun profesi kita, di
mata Allah tidak ada yang lebih mulia dari yang lain, kecuali mereka yang telah naik ketingkat
ihsan dalam seluruh sisi dan nilai hidupnya
B. INTEGRASI DAN KETERKAITAN IMAN, ISLAM DAN IHSAN

Iman, Islam dan Ihsan merupakan inti pokok ajaran Islam. Ketiganya sangat berhubungan
erat dan saling mengisi, bahkan satu dengan yang lainnya tidak bias dipisahkan. Walaupun
memiliki definisi dan istilah yang berbeda, namun semuanya berada dalam satu napas.

Ketiga istilah tersebut dalam praktiknya menjadi satu. Dalam praktiknya kata-kata iman
misalnya dihubungkan dengan larangan menghina orang lain, saling mencela dan memberi
julukan yang negative. Iman juga dihubungkan dengan larangan berburuk sangka, saling
mengintip dan saling mengumpat. Hal ini dapat kita lihat pada ayat-ayat berikut ini :

Artinya : “Hai orang-orang yang beriman janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain
(karena) boleh jadi mereka (yang diolokolok) lebih baik dari mereka (yang mengolok-olok) dan
jangan pula wanita-wanita (mengolok-olok) wanita-wanita lain (karena) boleh jadi wanita-wanita
(yang diperolok-olokkan) lebih baik dari wanita (yang mengolok-olok) dan janganlah kamu
mencela dirimu sendiri dan janganlah kamu panggil memanggil dengan gelar-gelar yang buruk.
Seburuk-buruk panggilan ialah (panggilan) yang buruk sesudah iman dan barang siapa yang
tidak bertobat, maka mereka itulah orang-orang yang dzalim.”(Q.S. Alhujarat ;11)
Dari ayat-ayat tersebut di atas dapat dipetik suatu kesimpulan bahwa rukun Islam yang
diimplementasikan dalam praktik ibadah selalu dihubungkan dengan akhlaku karimah (Ihsan),
atau perbuatan-perbuatan yang bernilai kebaikan, seperti shalat dikaitkan dengan menghindarkan
diri dari perbuatan keji dan mungkar, puasa dikaitakan dengan ketakwaan, haji dikaitkan dengan
tidak boleh berkata kotor, dusta, dan sebagainya, begitu pun juga dengan zakat dikaitkan dengan
penyucian jiwa atau harta.

Iman yang pada awalnya sebuah ikrar, akan mendorong manusia untuk bergerak dengan
kesungguhan hati untuk mempraktikkan atau mengamalkan apa yang dipereintahkan dari apa
yang diyakininya yang melahirkan ketaatan atau kepatuhan dalam menjalani hidup dan
kehidupan sehari-hari. Dengan kata lain, Ihsan lahir dari kesempurnaan keimanan dan keislaman
seseorang, atau kesempurnaan keimanan dan keislaman seseorang akan Nampak pada sikap atau
tingkah lakunya baik perkataan, perbuatan, atau pun pikiranya.

Iman merupakan pengakuan hati, pengucapan lidah, dan pengamalan anggota badan,
Islam adalah agama yang mengemban misi keselamatan dunia dan akhirat, kesejahteraan, dan
kemakmuran lahir bathin bagi seluruh umat manusia dengan cara menunjukkan kepatuhan,
ketundukan, dan kepasrahan kepada Tuhan, dengan melakukan segala perintah-Nya dan
menjauhi larangan-Nya, Ihsan adalah puncak prestasi dalam ibadah, muamalah, dan akhlak. Oleh
karena itu, semua orang yang menyadari akan hal ini tentu akan berusaha dengan seluruh potensi
diri yang dimilikinya agar sampai pada tingkat tersebut.

Iman, Islam dan Ihsan merupakan inti pokok ajaran Islam. Ketiganya sangat berhubungan
erat dan saling mengisi, bahkan satu dengan yang lainnya tidak bias dipisahkan. Walaupun
memiliki definisi dan istilah yang berbeda, namun semuanya berada dalam satu napas.

Ketiga istilah tersebut dalam praktiknya menjadi satu. Dalam praktiknya kata-kata iman
misalnya dihubungkan dengan larangan menghina orang lain, saling mencela dan memberi
julukan yang negative. Iman juga dihubungkan dengan larangan berburuk sangka, saling
mengintip dan saling mengumpat.

Iman yang pada awalnya sebuah ikrar, akan mendorong manusia untuk bergerak dengan
kesungguhan hati untuk mempraktikkan atau mengamalkan apa yang dipereintahkan dari apa
yang diyakininya yang melahirkan ketaatan atau kepatuhan dalam menjalani hidup dan
kehidupan sehari-hari. Dengan kata lain, Ihsan lahir dari kesempurnaan keimanan dan keislaman
seseorang, atau kesempurnaan keimanan dan keislaman seseorang akan nampak pada sikap atau
tingkah lakunya baik perkataan, perbuatan, atau pun pikirannya.

Iman, Islam dan Ihsan haruslah dilaksanakan secara beriringan agar menjadi insan kamil
(manusia sempurna).

Anda mungkin juga menyukai