Anda di halaman 1dari 103

LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER

DINAS KESEHATAN KOTA BANDUNG DAN


UPTD PUSKESMAS PASUNDAN
MARET 2020

Disusun oleh :
HENDRIK BONA TOGI
191FF05059

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN PROFESI APOTEKER


FAKULTAS FARMASI
UNIVERSITAS BHAKTI KENCANA
BANDUNG
2020
KATA PENGANTAR

Segala Puji dan syukur penulis ucapkan kepada Tuhan Yang Maha Esa atas rahmat
dan karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan laporan Praktek Kerja
Profesi Apoteker (PKPA) di Dinas Kesehatan Kota Bandung dan UPT Puskesmas
Pasundan tepat pada waktunya.

Penyusunan laporan ini tidak terlepas dari dorongan dan bantuan berbagai pihak.
Oleh karena itu, penulis ingin menyampaikan ucapan terima kasih kepada :

1. Bapak Dr.Entris Sutrisno, MH.Kes, Apt. selaku Rektor Universitas Bhakti


Kencana Bandung
2. Ibu R. Herni Kusriani, M.Si., Apt, selaku Ketua Program Studi Profesi
Apoteker Fakultas Farmasi Bandung.
3. Ibu Widhya Aligita, M.Si., Apt selaku pembimbing Praktik Kerja Profesi
Apoteker dari Universitas Bhakti Kencana Bandung
4. Bapak Asep Kamal Sahroni, S. Farm., Apt., M.H selaku pembimbing di Dinas
Kesehatan Kota Bandung atas bimbingan dalam proses penulisan Laporan
Praktek Kerja Profesi Apoteker serta bimbingan selama melaksanakan Praktek
Kerja Profesi Apoteker.
5. Ibu Sani Nuraeni, S.Farm., Apt. selaku pembimbing di UPT Puskesmas
Pasundan, atas bimbingan dalam proses penulisan Laporan Praktek Kerja
Profesi Apoteker serta bimbingan selama melaksanakan Praktek Kerja Profesi
Apoteker.
6. Seluruh Tenaga Teknis Kefarmasian bagian Farmasi UPT Puskesmas
Pasundan atas dukungan dan kerjasamanya selama pelaksanaan Praktek Kerja
Profesi Apoteker.
7. Teman-teman Profesi Apoteker serta semua pihak yang telah membantu dalam
penyelesaian Laporan Praktik Kerja Profesi Apoteker.
Penulis menyadari bahwa masih terdapat kekurangan dan ketidaksempurnaan di
dalam laporan ini.Oleh karena itu, penulis terbuka untuk menerima saran dan kritik
yang membangun untuk memperbaiki penulisan laporan penulis ke depannya.
Semoga laporan ini dapat bermanfaat, baik bagi diri penulis maupun pihak lain yang
terlibat dan membaca laporan ini.

Bandung, Maret 2020

Penulis
SUMPAH APOTEKER
SAYA BERSUMPAH / BERJANJI AKAN MEMBAKTIKAN HIDUP SAYA
GUNA KEPENTINGAN PERIKEMANUASIAAN TERUTAMA DALAM
BIDANG KESEHATAN.

SAYA AKAN MERAHASIAKAN SEGALA SESUATU YANG SAYA


KETAHUI KARENA PEKERJAAN SAYA DAN KEILMUAN SAYA
SEBAGAI APOTEKER.

SEKALIPUN DIANCAM, SAYA TIDAK AKAN MEMPERGUNAKAN


PENGETAHUAN KEFARMASIAN SAYA UNTUK SESUATU YANG
BERTENTANGAN DENGAN HUKUM PERIKEMANUSIAAN.

SAYA AKAN MENJALANKAN TUGAS SAYA DENGAN SEBAIK -


BAIKNYA SESUAI DENGAN MARTABAT DAN TRADISI LUHUR
JABATAN KEFARMASIAN.

DALAM MENUNAIKAN KEWAJIBAN SAYA, SAYA AKAN BERIKHTIAR


DENGAN SUNGGUH - SUNGGUH SUPAYA TIDAK TERPENGARUH
OLEH PERTIMBANGAN KEAGAMAAN, KEBANGSAAN, KESUKUAN,
KEPARTAIAN, ATAU KEDUDUKAN SOSIAL.

SAYA IKRAR SUMPAH / JANJI INI DENGAN SUNGGUH-SUNGGUH


DENGAN PENUH KEINSYAFAN
KODE ETIK APOTEKER

MUKADIMAH
Bahwasanya seorang Apoteker di dalam menjalankan tugas kewajibannya serta
dalam mengamalkan keahliannya harus senantiasa mengharapkan bimbingan dan
keridhaan Tuhan Yang Maha Esa. Apoteker di dalam pengabdiannya serta dalam
mengamalkan keahliannya selalu berpegang teguh kepada sumpah/janji Apoteker.
Menyadari akan hal tersebut Apoteker di dalam pengabdian profesinya berpedoman
pada satu ikatan moral yaitu :

BAB I - KEWAJIBAN UMUM


Pasal 1 Seorang Apoteker harus menjunjung tinggi, menghayati dan mengamalkan
Sumpah / Janji Apoteker.
Pasal 2
Seorang Apoteker harus berusaha dengan sungguh-sungguh menghayati dan
mengamalkan Kode Etik Apoteker Indonesia.
Pasal 3
Seorang Apoteker harus senantiasa menjalankan profesinya sesuai kompetensi
Apoteker Indonesia serta selalu mengutamakan dan berpegang teguh pada prinsip
kemanusiaan dalam melaksanakan kewajibannya.
Pasal 4 Seorang Apoteker harus selalu aktif mengikuti perkembangan di bidang
kesehatan pada umumnya dan di bidang farmasi pada khususnya.
Pasal 5
Di dalam menjalankan tugasnya Seorang Apoteker harus menjauhkan diri dari
usaha mencari keuntungan diri semata yang bertentangan dengan martabat dan
tradisi luhur jabatan kefarmasian.
Pasal 6
Seorang Apoteker harus berbudi luhur dan menjadi contoh yang baik bagi orang
lain.
Pasal 7
Seorang Apoteker harus menjadi sumber informasi sesuai dengan profesinya.
Pasal 8
Seorang Apoteker harus aktif mengikuti perkembangan peraturan perundang-
undangan di bidang kesehatan pada umumnya dan di bidang farmasi pada
khususnya.

BAB II - KEWAJIBAN APOTEKER TERHADAP PASIEN


Pasal 9
Seorang Apoteker dalam melakukan praktik kefarmasian harus mengutamakan
kepentingan masyarakat. menghormati hak azasi pasien dan melindungi makhluk
hidup insani.

BAB III - KEWAJIBAN APOTEKER TERHADAP TEMAN SEJAWAT


Pasal 10
Seorang Apoteker harus memperlakukan teman Sejawatnya sebagaimana ia
sendiri ingin diperlakukan.
Pasal 11
Sesama Apoteker harus selalu saling mengingatkan dan saling menasehati untuk
mematuhi ketentuan-ketentuan kode Etik.
Pasal 12
Seorang Apoteker harus mempergunakan setiap kesempatan untuk meningkatkan
kerjasama yang baik sesama Apoteker di dalam memelihara keluhuran martabat
jabatan kefarmasian, serta mempertebal rasa saling mempercayai di dalam
menunaikan tugasnya.

BAB IV - KEWAJIBAN APOTEKER TERHADAP SEJAWAT PETUGAS


KESEHATAN LAIN
Pasal 13
Seorang Apoteker harus mempergunakan setiap kesempatan untuk membangun dan
meningkatkan hubungan profesi, saling mempercayai, menghargai dan
menghormati sejawat petugas kesehatan lain
Pasal 14
Seorang Apoteker hendaknya menjauhkan diri dari tindakan atau perbuatan yang
dapat mengakibatkan berkurangnya atau hilangnya kepercayaan masyarakat kepada
sejawat petugas kesehatan lain.

BAB V – PENUTUP
Pasal 15
Seorang Apoteker bersungguh-sungguh menghayati dan mengamalkan kode
etik Apoteker Indonesia dalam menjalankan tugas kefarmasiannya sehari-hari. Jika
seorang Apoteker baik dengan sengaja maupun tak sengaja melanggar atau tidak
mematuhi kode etik Apoteker Indonesia, maka dia wajib mengakui dan menerima
sanksi dari pemerintah, ikatan/organisasi profesi farmasi yang menanganinya (IAI)
dan mempertanggungjawabkannya kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Ditetapkan di : Jakarta
Pada tanggal : 08 Desember 2009
PEDOMAN DISIPLIN APOTEKER INDONESIA
BAB I
PENDAHULUAN
Apoteker Indonesia merupakan bagian dari masyarakat Indonesia yang dianugerahi
bekal ilmu pengetahuan dan teknologi serta keahlian di bidang kefarmasian, yang
dapat dimanfaatkan sebesar-besarnya bagi kemanusiaan, peningkatan
kesejahteraan rakyat dan pengembangan pribadi warga negara Republik Indonesia,
untuk mewujudkan masyarakat yang adil dan makmur, berazaskan Pancasila dan
Undang-undang Dasar 1945.

Disiplin Apoteker merupakan tampilan kesanggupan Apoteker untuk menaati


kewajiban dan menghindari larangan sesuai dengan yang ditetapkan dalam
peraturan perundang- undangan dan/atau peraturan praktik yang apabila tidak
ditaati atau dilanggar dapat dijatuhi hukuman disiplin.

Pelanggaran disiplin adalah pelanggaran terhadap aturan-aturan dan/atau ketentuan


penerapan keilmuan, yang pada hakikatnya dapat dikelompokkan dalam tiga hal,
yaitu:

1. Melaksanakan praktik Apoteker dengan tidak kompeten.


2. Tugas dan tanggungjawab profesional pada pasien tidak dilaksanakan dengan
baik.
3. Berperilaku tercela yang merusak martabat dan kehormatan Apoteker.
Pelanggaran disiplin berupa setiap ucapan, tulisan, atau perbuatan Apoteker
yang tidak menaati kewajiban dan/atau melanggar larangan ketentuan disiplin
Apoteker.
BAB II
TINJAUAN UMUM
1. Disiplin Apoteker adalah kesanggupan Apoteker untuk menaati kewajiban dan
menghindari larangan yang ditentukan dalam peraturan perundang-undangan
dan/atau peraturan praktik yang apabila tidak ditaati atau dilanggar dijatuhi
hukuman disiplin.
2. Penegakan Disiplin adalah penegakan aturan-aturan dan/atau ketentuan
penerapan keilmuan dalam pelaksanaan pelayanan yang harus diikuti oleh
Apoteker.
3. Majelis Etik dan Disiplin Apoteker Indonesia yang disingkat MEDAI, adalah
organ organisasi profesi Ikatan Apoteker Indonesia yang bertugas membina,
mengawasi dan menilai pelaksanaan Kode Etik Apoteker Indonesia oleh
Anggota maupun oleh Pengurus, dan menjaga, meningkatkan dan menegakkan
disiplin apoteker Indonesia.
4. Apoteker adalah sarjana farmasi yang telah lulus sebagai Apoteker dan telah
mengucapkan sumpah jabatan Apoteker.
5. Praktik kefarmasiaan yang meliputi pembuatan termasuk pengendalian mutu
sediaan farmasi, pengamanan, pengadaan, penyimpanan dan pendistribusian
obat, pelayanan obat atas resep dokter, pelayanan informasi obat serta
pengembangan obat, bahan obat dan obat tradisional, harus dilakukan oleh
tenaga kesehatan yang mempunyai keahlian dan kewenangan sesuai dengan
ketentuan peraturan perundang-undangan.
6. Tenaga kefarmasian adalah tenaga kesehatan yang melakukan pekerjaan
kefarmasian, yang terdiri atas Apoteker dan Tenaga Teknis Kefarmasian.
7. Tenaga Teknis Kefarmasian adalah tenaga kesehatan yang membantu Apoteker
dalam menjalankan pekerjaan kefarmasian, terdiri atas Sarjana Farmasi, Ahli
Madya Farmasi, Analis Farmasi dan Tenaga Menengah Farmasi/ Asisten
Apoteker.
8. Standar Pendidikan Apoteker Indonesia, yang selanjutnya disingkat SPAI
adalah pendidikan akademik dan pendidikan profesional yang diarahkan guna
mencapai kriteria minimal sistem pendidikan, penelitian, dan pengabdian
kepada masyarakat, di seluruh wilayah hukum Negara Kesatuan Republik
Indonesia.
9. Kode Etik adalah Kode Etik Apoteker Indonesia yang menjadi landasan etik
Apoteker Indonesia.
10. Kompetensi adalah seperangkat kemampuan profesional yang meliputi
penguasaan ilmu pengetahuan, ketrampilan dan nilai-nilai (knowledge, skill dan
attitude), dalam melaksanakan tugas profesionalnya.
11. Standar Kompetensi adalah seperangkat tindakan cerdas dan bertanggungjawab
yang dimiliki oleh seorang Apoteker sebagai syarat untuk dinyatakan mampu
oleh masyarakat dalam melaksanakan profesinya.
12. Sertifikat kompetensi profesi adalah surat tanda pengakuan terhadap
kompetensi seorang Apoteker untuk dapat menjalankan pekerjaan/praktik
profesinya di seluruh Indonesia setelah lulus uji kompetensi.
13. Registrasi adalah pencatatan resmi terhadap tenaga kefarmasian yang telah
memiliki sertifikat kompetensi dan telah mempunyai kualifikasi tertentu serta
diakui secara hukum untuk menjalankan pekerjaan/praktik profesinya.
14. Surat Tanda Registrasi Apoteker, yang selanjutnya disingkat STRA adalah
bukti tertulis yang diberikan oleh Menteri kepada Apoteker yang telah
diregistrasi.
15. Praktik Apoteker adalah upaya untuk pemeliharaan kesehatan, pencegahan
penyakit, peningkatan kesehatan, pengobatan penyakit dan pemulihan
kesehatan.
16. Standar Praktik Apoteker adalah pedoman bagi Apoteker dalam menjalankan
praktiknya yang berisi prosedur-prosedur yang dilaksanakan apoteker dalam
upaya untuk pemeliharaan kesehatan, pencegahan penyakit, peningkatan
kesehatan, pengobatan penyakit dan pemulihan kesehatan.
17. Surat Izin Praktik Apoteker, yang selanjutnya disingkat SIPA adalah surat izin
yang diberikan kepada Apoteker untuk dapat melaksanakan praktik
kefarmasian pada fasilitas pelayanan kefarmasian.
18. Standar Prosedur Operasional, yang selanjutnya disingkat SPO adalah
serangkaian instruksi tertulis yang dibakukan mengenai berbagai proses
penyelenggaraan aktivitas organisasi, bagaimana dan kapan harus dilakukan,
dimana dan oleh siapa dilakukan.
19. Surat Izin Kerja Apoteker, yang selanjutnya disebut SIKA adalah surat izin
praktik yang diberikan kepada Apoteker untuk dapat melaksanakan pekerjaan
kefarmasian pada fasilitas produksi atau fasilitas distribusi atau penyaluran.
20. Organisasi profesi adalah organisasi tempat berhimpun para Apoteker di
Indonesia.

BAB III
LANDASAN FORMAL
1. Undang-Undang Nomor 419 Tahun 1949 tentang Obat Keras.
2. Undang-Undang tentang Nomor 5 Tahun 1997 tentang Psikotropika.
3. Undang-Undang tentang Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika.
4. Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan.
5. Undang-Undang Nomor 44 Tahun 2009 tentang Rumah Sakit.
6. Peraturan Pemerintah Nomor 20 Tahun 1962 tentang Sumpah Apoteker.
7. Peraturan Pemerintah Nomor 72 Tahun 1998 tentang Pengamanan Sediaan
Farmasi dan Bahan medis habis pakai.
8. Peraturan Pemerintah Nomor 51 Tahun 2009 tentang Pekerjaan Kefarmasian.
9. Peraturan Menteri Kesehatan, Peraturan Menteri Kesehatan, dan peraturan
turunannya. 10.Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga Ikatan Apoteker
Indonesia (IAI), Kode Etik Apoteker Indonesia, serta peraturan-peraturan
organisasi lainnya yang dikeluarkan oleh IAI.

BAB IV
BENTUK PELANGGARAN DISIPLIN APOTEKER
1. Melakukan praktik kefarmasian dengan tidak kompeten. Penjelasan: Melakukan
Praktek kefarmasian tidak dengan standar praktek Profesi/standar kompetensi
yang benar, sehingga berpotensi menimbulkan/ mengakibatkan kerusakan,
kerugian pasien atau masyarakat.
2. Membiarkan berlangsungnya praktek kefarmasian yang menjadi tanggung
jawabnya, tanpa kehadirannya, ataupun tanpa Apoteker pengganti dan/ atau
Apoteker pendamping yang sah.
3. Mendelegasikan pekerjaan kepada tenaga kesehatan tertentu dan/ atau tenaga-
tenaga lainnya yang tidak memiliki kompetensi untuk melaksanakan pekerjaan
tersebut.
4. Membuat keputusan profesional yang tidak berpihak kepada kepentingan pasien/
masyarakat.
5. Tidak memberikan informasi yang sesuai, relevan dan “up to date” dengan cara
yang mudah dimengerti oleh pasien/masyarakat, sehingga berpotensi
menimbulkan kerusakan dan/ atau kerugian pasien.
6. Tidak membuat dan/atau tidak melaksanakan Standar Prosedur Operasional
sebagai Pedoman Kerja bagi seluruh personil di sarana pekerjaan/pelayanan
kefarmasian, sesuai dengan kewenangannya.
7. Memberikan sediaan farmasi yang tidak terjamin „mutu‟, ‟keamanan‟, dan
‟khasiat/ manfaat‟ kepada pasien.
8. Melakukan pengadaan (termasuk produksi dan distribusi) obat dan/atau bahan
baku obat, tanpa prosedur yang berlaku, sehingga berpotensi menimbulkan
tidak terjaminnya mutu, khasiat obat.
9. Tidak menghitung dengan benar dosis obat, sehingga dapat menimbulkan
kerusakan atau kerugian kepada pasien.
10. Melakukan penataan, penyimpanan obat tidak sesuai standar, sehingga
berpotensi menimbulkan penurunan kualitas obat.
11. Menjalankan praktik kefarmasian dalam kondisi tingkat kesehatan fisik ataupun
mental yang sedang terganggu sehingga merugikan kualitas pelayanan profesi.
12. Dalam penatalaksanaan praktik kefarmasian, melakukan yang seharusnya tidak
dilakukan atau tidak melakukan yang seharusnya dilakukan, sesuai dengan
tanggung jawab profesionalnya, tanpa alasan pembenar yang sah, sehingga
dapat membahayakan pasien.
13. Melakukan pemeriksaan atau pengobatan dalam pelaksanaan praktik swa-
medikasi (self medication) yang tidak sesuai dengan kaidah pelayanan
kefarmasian.
14. Memberikan penjelasan yang tidak jujur, dan/ atau tidak etis, dan/atau tidak
objektif kepada yang membutuhkan.
15. Menolak atau menghentikan pelayanan kefarmasian terhadap pasien tanpa
alasan yang layak dan sah.
16. Membuka rahasia kefarmasian kepada yang tidak berhak.
17. Menyalahgunakan kompetensi Apotekernya.
18. Membuat catatan dan/atau pelaporan sediaan farmasi yang tidak baik dan tidak
benar.
19. Berpraktik dengan menggunakan Surat Tanda Registrasi Apoteker (STRA) atau
Surat Izin Praktik Apoteker/Surat Izin kerja Apoteker (SIPA/SIKA) dan/atau
sertifikat kompetensi yang tidak sah.
20. Tidak memberikan informasi, dokumen dan alat bukti lainnya yang diperlukan
MEDAI untuk pemeriksaan atas pengaduan dugaan pelanggaran disiplin.
21. Mengiklankan kemampuan/pelayanan atau kelebihan kemampuan/pelayanan
yang dimiliki, baik lisan ataupun tulisan, yang tidak benar atau menyesatkan.
22. Membuat keterangan farmasi yang tidak didasarkan kepada hasil pekerjaan
yang diketahuinya secara benar dan patut.

BAB V
SANKSI DISIPLIN
Sanksi disiplin yang dapat dikenakan oleh MEDAI berdasarkan Peraturan per-
Undang- Undangan yang berlaku adalah:
1. Pemberian peringatan tertulis
2. Rekomendasi pembekuan dan/atau pencabutan Surat Tanda Registrasi
Apoteker, atau Surat Izin Praktik Apoteker, atau Surat Izin Kerja Apoteker;
dan/atau
3. Kewajiban mengikuti pendidikan atau pelatihan di institusi pendidikan
apoteker.

Rekomendasi pencabutan Surat Tanda Registrasi atau Surat Izin Praktik yang
dimaksud dapat berupa:
1. Rekomendasi pencabutan Surat Tanda Registrasi atau Surat Izin Praktik
sementara selama-lamanya 1 (satu) tahun, atau
2. Rekomendasi pencabutan Surat Tanda Registrasi atau Surat Izin Praktik tetap
atau selamanya;

Kewajiban mengikuti pendidikan atau pelatihan di institusi pendidikan apoteker


yang dimaksud dapat berupa:
a. Pendidikan formal; atau
b. Pelatihan dalam pengetahuan dan atau ketrampilan, magang di institusi
pendidikan atau sarana pelayanan kesehatan jejaringnya atau sarana pelayanan
kesehatan yang ditunjuk, sekurang-kurangnya 3 (tiga) bulan dan paling lama1
(satu) tahun.

BAB VI
PENUTUP
PEDOMAN DISIPLIN APOTEKER INDONESIA ini disusun untuk menjadi
pedoman bagi Majelis Etik dan Disiplin Apoteker Indonesia (MEDAI) dalam
menetapkan ada/atau tidak adanya pelanggaran disiplin oleh para praktisi dibidang
farmasi, serta menjadi rambu-rambu yang tidak boleh dilanggar oleh para praktisi
tersebut agar dapatmenjalankan praktik kefarmasian secara profesional.
Dengan ditegakkannya disiplin kefarmasian diharapkan pasien akan terlindungi
dari pelayanan kefarmasian yang kurang bermutu; dan meningkatnya mutu
pelayanan apoteker; serta terpeliharanya martabat dan kehormatan profesi
kefarmasian.

Jakarta, 15 Juni 2014

Ketua Majelis Etik dan Disiplin Apoteker Indonesia (MEDAI)


STANDAR KOMPETENSI APOTEKER INDONESIA
Standar Kompetensi
1. Praktik kefarmasian secara profesional dan etik
2. Optimalisasi penggunaan sediaan farmasi
3. Dispensing sediaan farmasi dan bahan medis habis pakai
4. Pemberian informasi sediaan farmasi dan bahan medis habis pakai
5. Formulasi dan produksi sediaan farmasi
6. Upaya preventif dan promotif kesehatan masyarakat
7. Pengelolaan sediaan farmasi dan bahan medis habis pakai
8. Komunikasi efektif
9. Ketrampilan organisasi dan hubungan interpersonal
10. Peningkatan kompetensi diri
BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar belakang


Berdasarkan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 36 Tahun 2009 tentang
kesehatan Penyelenggaraan upaya kesehatan didukung oleh sumber daya kesehatan
yang terdiri atas tenaga kesehatan, sarana kesehatan, perbekalan kesehatan,
pengelolaan kesehatan, serta penelitian dan pengembangan kesehatan.
Dalam hal mendukung kesehatan yang optimal diperlukan suatu sarana pelayanan
kefarmasian. Pelayanan Kefarmasian merupakan suatu pelayanan langsung dan
bertanggung jawab kepada pasien yang berkaitan dengan Sediaan Farmasi dengan
maksud mencapai hasil yang pasti untuk meningkatkan mutu kehidupan pasien.
Tuntutan pasien akan peningkatan mutu Pelayanan Kefarmasian, mengharuskan
adanya perluasan dari paradigma lama yang berorientasi kepada produk (drug
oriented) menjadi paradigma baru yang berorientasi pada pasien (patient oriented)
dengan filosofi Pelayanan Kefarmasian (pharmaceutical care).
Salah satu jenis pelayanan kefarmasian yang diselenggarakan oleh pemerintah
melalui Dinas Kesehatan adalah Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas).
Puskesmas merupakan fasilitas pelayanan kesehatan dasar yang menyelenggarakan
upaya kesehatan pemeliharaan, peningkatan kesehatan (promotif), pencegahan
penyakit (preventif), penyembuhan penyakit (kuratif), dan pemulihan kesehatan
(rehabilitatif), yang dilaksanakan secara menyeluruh, terpadu, dan
berkesinambungan. Konsep kesatuan upaya kesehatan ini menjadi pedoman dan
pegangan bagi semua fasilitas pelayanan kesehatan di Indonesia termasuk
puskesmas.
Puskesmas sebagai unit pelayanan kesehatan memiliki peran yaitu menyediakan
data informasi obat dan pengelolaan obat, seperti kegiatan perencanaan,
penerimaan, penyimpanan dan distribusi, pencatatan dan pelaporan, serta evaluasi.
Obat dan perbekalan kesehatan hendaknya dikelola secara optimal untuk menjamin
tercapainya tepat jumlah, tepat jenis, tepat penyimpanan, tepat waktu
pendistribusian, tepat penggunaan dan tepat mutunya di tiap unit pelayanan
kesehatan.

1
Sehubungan dengan itu, maka Program Pendidikan Profesi Apoteker Universitas
Bhakti Kencana bekerja sama dengan Dinas Kesehatan Kota Bandung dan UPT
Puskesmas untuk memberikan sarana pembelajaran di kepada calon apoteker untuk
melaksanakan Praktik Kerja Profesi Apoteker (PKPA) di tempat tersebut. Hal ini
bertujuan agar calon apoteker mendapatkan pengalaman kerja, pengetahuan,
gambaran, dan pemahaman yang lebih mendalam tentang peran apoteker di lingkup
pelayanan kesehatan masyarakat.

1.2 Tujuan Praktek Kerja Profesi Apoteker


Tujuan dari Praktek Kerja Profesi Apoteker di Dinas Kesehatan Kota Bandung
antara lain, yaitu:
1. Mengetahui peran, fungsi dan tanggung jawab Apoteker dalam praktek
kefarmasian di Bidang Pemerintahan.
2. Melihat dan mempelajari strategi dan pengembangan praktek profesi Apoteker
di Bidang Pemerintahan.
3. Mempelajari pelayanan kefarmasian (manajemen pengelolaan obat, pelayanan
farmasi klinik) dipusat kesehatan masyarakat (puskesmas) sesuai dengan etika
dan peraturan yang berlaku di dalam sistem pelayanan kesehatan.

1.3 Waktu dan Tempat Praktek Kerja Apoteker (PKPA)


Praktek Kerja Profesi Apoteker ini dilaksanakan di UPT Puskesmas Pasundan Jl.
Pasundan No.99, Kecamatan Regol, Kota Bandung dan Dinas Kesehatan Kota
Bandung Jl. Supratman No. 73 Bandung pada periode bulan Maret 2020

2
BAB II TINJAUAN UMUM DINAS KESEHATAN/PUSKESMAS

2.1 Gambaran Umum Dinas Kesehatan Kota Bandung

2.1.1 Sejarah Dinas Kesehatan Kota Bandung


Dinas Kesehatan Kota Bandung adalah salah satu instansi pemerintah yang sudah
ada sejak zaman kependudukan Belanda. Pada Tahun 1946-1949 Dinas Kesehatan
disebut “Plaatselijke gezond Heidsdienst Bandung” yang berkantor di Gemeente
Bandung, kemudian berubah nama pada tahun 1990 menjadi Jawatan Kesehatan
Kota Besar Bandung. Dinas Kesehatan Kota Bandung selalu mengalami pindah-
pindah tempat, pada tahun 1960 pindah ke jalan Badak Singa No.10 Bandung,
menempati sebagian dari kantor Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) sampai
tanggal 9 Oktober 1965. Pada tanggal 10 Oktober 1965 Dinas Kesehatan pindah
lagi ke jalan Supratman No.73 hingga sekarang. Pada tahun 1950, jawatan
kesehatan kota besar Bandung baru dikepalai sepuluh buah balai pengobatan. Pada
tahun 1972 berkembang lagi menjadi empat pusat kesehatan yang terdiri dari:
1. 1 Pusat Kesehatan
2. 18 Balai Khusus
3. 18 Balai Kesehatan Ibu dan Anak
4. 6 Buah Klinik Bersalin
Berdasarkan Surat Keputusan No.50 tahun 1952 tentang pelaksanaannya yaitu
penyerahan sebagai pemerintah pusat mengenai kesehatan kepada daerah-daerah di
kota besar maupun kecil, pelaksanaan pegawai Dinas Kesehatan Berangsur-angsur
diserahkan kepada pemda Kotamadya Bandung dan status pegawainya terdiri dari:
1. Pegawai Medis Teknis
2. Pegawai Tata Usaha
3. Pegawai Pemberantas Penyakit Cacat dan Mata

3
Dinas Kesehatan Kota bandung didirikan berdasarkan Peraturan Daerah No.5 tahun
2001 dan disahkan oleh Kepala Daerah Tingkat I Jawa Barat.

2.1.2 Profil Dinas Kesehatan Kota Bandung


Dinas Kesehatan Kota Bandung terletak di jalan Supratman No.73 Bandung. Dinas
Kesehatan Kota Bandung adalah instansi kesehatan tertinggi dalam satu wilayah
administrasi pemerintahan Kota Bandung yang bertanggung jawab kepada
Walikota Bandung. Dinas kesehatan Kota Bandung dipimpin oleh seorang Kepala
Dinas yang dibantu oleh bagian kesekretariatan yang terbagi menjadi 3 sub bagian
yaitu sub bagian umum dan kepegawaian, sub bagian keuangan, dan sub bagian
program, data dan informasi.
Kepala Dinas Kesehatan Kota Bandung membawahi 4 bidang yaitu bidang
kesehatan masyarakat, bidang pencegahaan dan pengendalian penyakit, bidang
pelayanan kesehatan, dan bidang sumber daya kesehatan. Bidang kesehatan
masyarakat membawahi 3 seksi yaitu seksi kesehatan keluarga dan gizi, seksi
promosi dan pemberdayaan masyarakat, dan seksi kesehatan lingkungan, kesehatan
kerja dan olah raga. Bidang pencegahan dan pengendalian penyakit membawahi 3
seksi yaitu seksi pencegahan dan pengendalian penyakit menular, seksi surveilans
dan imunisasi, dan seksi pencegahan dan pengendalian penyakit tidak menular dan
kesehatan jiwa.
Bidang pelayanan kesehatan membawahi 3 seksi yaitu seksi pelayanan kesehatan
primer dan tradisional, seksi pelayanan kesehatan rujukan, dan seksi mutu
pelayanan kesehatan. Bidang sumber daya kesehatan membawahi 3 seksi yaitu
seksi farmasi dan alat kesehatan, seksi jaminan pembiayaan dan regulasi kesehatan,
seksi sumber daya manusia kesehatan.
Berdasarkan Perwal Nomor 199 tahun 2018, Dinkes Kota Bandung terdiri dari 80
UPT Puskesmas, 3 UPT Rumah Sakit, 1 UPT P2KT, dan 1 UPT Laboratorium
Kesehatan.

2.1.3 Visi dan Misi Dinas Kesehatan Kota Bandung


Dengan memperhatikan perkembangan pembangunan kesehatan keinginan,
harapan serta tujuan pembangunan kesehatan di kota Bandung telah ditetapkan visi
yaitu: “Mewujudkan Bandung Kota Sehat yang Mandiri dan Berkeadilan”, yang

4
mempunyai makna, pertama suatu kota yang secara terus menerus berupaya
meningkatkan kualitas lingkungan fisik dan sosial melalui pemberdayaan potensi
masyarakat dengan memaksimalkan seluruh potensi kehidupan baik secara
bersama-sama maupun mandiri, sehingga mewujudkan masyarakat yang
berperilaku sehat, hidup di lingkungan yang aman, nyaman dan sehat yang diawali
dari terwujudnya kelurahan sehat dan kecamatan sehat. Kedua, mandiri adalah
masyarakat berupaya berperan serta secara aktif dalam mencegah, melindungi dan
memelihara dirinya, keluarga, masyarakat dan lingkungannya agar terhindar dari
resiko gangguan kesehatan.
Untuk merealisasikan visi “Bandung Kota Sehat yang Mandiri”, maka Dinas
Kesehatan Kota Bandung telah menetapkan, “Misi Pembangunan Kesehatan”
sebagai berikut :
Untuk mencapai masyarakat yang sehat, cerdas dan mandiri ditempuh melalui misi
sebagai berikut:
1. Meningkatkan pelayanan kesehatan masyarakat yang paripurna, merata
bermutu, dan terjangkau.
2. Mewujudkan pembangunan berwawasan kesehatan dan menggerakkan
masyarakat berperilaku hidup sehat.
3. Meningkatkan tata kelola manajemen pembangunan kesehatan.

2.1.4 Gambaran Umum Gudang Farmasi Dinas Kesehatan Kota Bandung


Gudang Farmasi merupakan bagian dari Seksi Farmasi dan Alat Kesehatan,
sehingga dalam melaksanakan tugasnya harus berdasarkan pada wewenang dan
tanggung jawab yang diberikan oleh Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota
melalui Kepala Bidang SDK dan Seksi Farmasi dan Alat Kesehatan. Gudang
Farmasi Kota Bandung mempunyai tugas melaksanakan sebagian tugas dinas
kesehatan di bidang perencanaan, pangadaan, penerimaan, penyimpanan,
pemeliharaan, pengelolaan dan pendistribusian obat dan alat kesehatan yang
diperlukan dalam pelayanan kesehatan, pencegahan, pemberantasan penyakit serta
melaksanakan monitoring dan evaluasi.Untuk menyelenggarakan tugas tersebut,
Gudang Farmasi mempunyai fungsi sebagai berikut:
1. Melaksanakan penerimaan, penyimpanan, pemeliharaan, pengelolaan,
pencatatan dan pendistribusian obat dan alat kesehatan.

5
2. Menyiapkan penyusunan rencana kebutuhan, pengadaan, pencatatan dan
pelaporan mengenai persediaan dan mutasi obat dan alat kesehatan.
3. Mengamati kualitas/mutu obat dan alat kesehatan secara umum baik yang ada
dalam persediaan maupun yang akan didistribusikan.
4. Melaksanakan monitoring dan evaluasi penggunaan obat dan alat kesehatan
serta melakukan pembinaan pada unit pelayanan kesehatan.
5. Menyusun rencana kebutuhan obat dan alat kesehatan Dinas Kesehatan Kota
Bandung.
6. Menyusun format perencanaan obat dan alat kesehatan.
7. Merekap kebutuhan obat puskesmas.
8. Melaksanakan pengawasan pengelolaan obat pelayanan kesehatan dasar, alat
kesehatan, regensia dan vaksin.
9. Mengumpulkan dan menganalisa data farmasi dan alat kesehatan.
10. Melaksanakan pengawasan dan pengendalian kefarmasian dan alat kesehatan.
Gudang Farmasi dalam pelayanan kefarmasian meliputi pelayanan non klinik yaitu,
pengelolaan obat dan alat kesehatan untuk memenuhi kebutuhan dari unit
pelayanan kesehatan dan UPK lainnya dibawah Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota.
Sedangkan pelayanan kliniknya adalah informasi obat, konseling dan evaluasi
penggunaan obat dilaksanakan di puskesmas.

2.1.5 Tugas Pokok dan Fungsi Dinas Kesehatan Kota Bandung


Tugas pokok yakni melaksanakan sebagian urusan pemerintahan daerah di bidang
kesehatan berdasarkan asas otonomi dan pembantuan.
Fungsi:
a. Melaksanakan tugas teknis operasional di bidang kesehatan yang meliputi
pengembangan dan pembinaan pelayanan kesehatan, pencegahan
pemberantasan penyakit menular dan penyehatan lingkungan, kesehatan
keluarga, pelayanan kefarmasian dan pengawasan makanan dan minuman serta
pembinaan program berdasarkan kebijakan walikota Bandung.
b. Pelaksanaan tugas teknis fungsional di bidang kesehatan berdasarkan kebijakan
Gubernur Provinsi Jawa Barat.
c. Pelaksanaan pelayanan teknis administrasi ketatausahaan yang meliputi
kepegawaian, keuangan, umum dan perlengkapan.

6
2.2 Struktur Organisasi dan Personalia Dinas Kesehatan Kota Bandung

Gambar 2.1 Struktur Organisasi Dinas Kesehatan Kota Bandung

Struktur organisasi Dinkes Kota Bandung dipimpin oleh seorang Kepala Dinas
Kesehatan yang membawahi beberapa bagian salah satunya bidang sumber daya
kesehatan. Bidang sumber daya kesehatan (SDK) membawahi 3 seksi yaitu seksi
Farmasi dan Alat Kesehatan (Farmalkes), seksi Jaminan Pembiayaan dan Regulasi
Kesehatan (JPRK), dan seksi Sumber Daya Kesehatan Manusia (SDMK). Seksi
Farmalkes dikepalai oleh seorang kepala seksi yang mempunyai tugas pokok
melaksanakan sebagian tugas kepala bidang sumber daya kesehatan lingkup
farmasi dan alat kesehatan. Adapun uraian tugas Kepala Seksi Farmasi dan Alat
Kesehatan sebagai berikut:
1. Mengkaji dan merumuskan data dan informasi lingkup farmasi dan alat
kesehatan;
2. Menyusun rencana dan program kerja lingkup farmasi dan alat kesehatan;
3. Menjelaskan dan membagi tugas kepada bawahan agar pekerjaan dapat
dilaksanakan secara efektif dan efisien;

7
4. Mengarahkan tugas kepada bawahan berdasarkan arah kebijakan umum Kepala
Dinas agar tujuan dan sasaran tercapai;
5. Membina bawahan dengan memotivasi untuk meningkatkan produktivitas kerja
dan pengembangan karir bawahan lingkup farmasi dan alkes;
6. Melaksanakan program pengadaan dan pengawasan obat, perbekalan
kesehatan, pangan dan bahan berbahaya meliputi pengadaan obat, perbekalan
kesehatan dan pengawasan obat, pangan dan bahan berbahaya serta kegiatan
peningkatan pengawasan obat, keamanan pangan dan bahan berbahaya;
7. Mengidentifikasi data penyediaan dan pengelolaan obat pelayanan kesehatan
dasar, alat kesehatan, reagensia dan vaksin;
8. Menyiapkan dan menyusun bahan pengelolaan pengendalian manajemen
pengelolaan kefarmasian, kosmetik, obat, obat tradisional, makanan minuman,
produk komplemen/suplemen, dan Perbekalan Kesehatan Rumah Tangga
(PKRT) yang diselenggarakan oleh swasta, pemerintah dan masyarakat;
9. Memelihara dan mengawasi kualitas penyimpanan dan distribusi bahan farmasi
dan alat kesehatan sesuai aturan di lingkungan Dinas;
10. Mengawasi proses perencanaan, pengadaan, penyimpanan, pendistribusian, dan
penggunaan obat dan alat kesehatan di lingkungan Dinas;
11. Menyusun dan menyiapkan bahan pengawasan dan pengendalian kefarmasian
dan alat kesehatan serta peredaran obat yang mengandung bahan narkotika atau
bahan berbahaya serta pangan;
12. Memeriksa, memaraf dan/atau menandatangani konsep naskah dinas lingkup
farmasi dan alat kesehatan;
13. Membuat telaahan staf sebagai bahan kajian kebijakan umum lingkup farmasi
dan alat kesehatan;
14. Melakukan koordinasi dan konsultasi dengan Perangkat Daerah, Pemerintah
Provinsi, Pemerintah Pusat dan instansi terkait sesuai dengan tugas dan
fungsinya;
15. Melaksanakan monitoring, evaluasi dan pelaporan pelaksanaan tugas; dan
16. Melaksanakan tugas lain dari atasan terkait dengan tugas dan fungsinya.
Terkait pengawasan dan pembinaan yang menjadi tugas pokok dari seksi farmasi
dan alat kesehatan, sarana-sarana yang harus diawasi dan dibina antara lain

8
puskesmas, rumah sakit, klinik, PBF, Apotek, Industri Rumah Tangga Pangan
(IRTP), toko obat, UMOT, dan UKOT.

2.3 Pengelolaan Obat dan Alat Kesehatan di Dinas Kesehatan


2.3.1 Perencanaan
Perencanaan obat dan alat kesehatan merupakan awal yang amat menentukan dalam
pengadaan obat. Tujuan perencanaan obat dan alat kesehatan yaitu untuk
menetapkan jenis serta jumlah obat dan alat kesehatan yang tepat, sesuai dengan
kebutuhan pelayanan kesehatan dasar termasuk obat program kesehatan yang telah
ditetapkan. Berkaitan dengan hal tersebut, diperlukan koordinasi dan keterpaduan
dalam hal perencanaan kebutuhan obat dan alat kesehatan sehingga pembentukan
tim perencanaan obat terpadu merupakan suatu kebutuhan dalam rangka
meningkatkan efisiensi dan efektivitas penggunaan dana melalui koordinasi,
integrasi dan sinkronisasi antar instansi yang terkait dengan perencanaan obat di
setiap kabupaten/kota.
Manfaat perencanaan obat terpadu:
1. Menghindari tumpang tindih penggunaan anggaran
2. Keterpaduan dalam evaluasi, penggunaan dan perencanaan
3. Kesamaan persepsi antara pemakai obat dan penyedia anggaran
4. Estimasi kebutuhan obat lebih tepat
5. Koordinasi antara penyedia anggaran dan pemakai obat
6. Pemanfaatan dana pengadaan obat dapat lebih optimal

Proses perencanaan obat dan alat kesehatan melalui beberapa tahap sebagai berikut:
1. Tahap Perencanaan Kebutuhan Obat, yaitu pengadaan obat diawali dengan
perencanaan kebutuhan dimana kegiatan yang dilakukan adalah:
a. Tahap Pemilihan Obat
Pemilihan obat berdasarkan pada Obat Generik terutama yang tercantum
dalam Daftar Obat Pelayanan Kesehatan Dasar (PKD) dan Daftar Obat
Essensial Nasional (DOEN) yang masih berlaku dengan patokan harga
sesuai dengan Keputusan Menteri Kesehatan tentang Daftar Harga Obat
untuk Obat Pelayanan Kesehatan Dasar (PKD) dan Obat Program

9
Kesehatan. Fungsi pemilihan obat adalah untuk menentukan apakah obat
benar-benar diperlukan sesuai dengan pola penyakit yang ada. Pada
perencanaan kebutuhan obat, apabila dana tidak mencukupi, perlu
dilakukan analisa kebutuhan sesuai anggaran yang ada (dengan
menggunakan metode perhitungan ABC) dan untuk seleksi obat perlu
dilakukan analisa VEN. Untuk mendapatkan perencanaan obat yang tepat,
seleksi kebutuhan obat harus mempertimbangkan beberapa hal berikut:
1) Obat dipilih berdasarkan seleksi ilmiah, medik dan statistik yang
memberikan efek terapi jauh lebih baik dibandingkan resiko efek
samping yang akan ditimbulkan,
2) Jenis obat yang dipilih seminimal mungkin, hal ini untuk menghindari
duplikasi dan kesamaan jenis,
3) Hindari penggunaan obat kombinasi kecuali jika obat tersebut
mempunyai efek yang lebih baik dibandingkan obat tunggal,
4) Memiliki rasio manfaat/biaya yang paling menguntungkan.

b. Tahap Kompilasi Pemakaian Obat


Kompilasi pemakaian obat berfungsi untuk mengetahui pemakaian setiap
bulan dari masing-masing jenis obat di Unit Pelayanan Kesehatan/
Puskesmas selama setahun, serta untuk menentukan stok optimum (stok
kerja ditambah stok pengaman = stok optimum). Informasi yang didapat
dari kompilasi pemakaian obat adalah:
1) Jumlah pemakaian tiap jenis obat pada masing-masing Unit Pelayanan
Kesehatan/ Puskesmas.
2) Persentase pemakaian tiap jenis obat terhadap total pemakaian setahun
seluruh Unit Pelayanan Kesehatan/ Puskesmas.
3) Pemakaian rata-rata untuk setiap jenis obat untuk tingkat Kabupaten/
Kota.
4) Pola penyakit yang ada.

10
c. Tahap Perhitungan Kebutuhan Obat
Menentukan kebutuhan obat merupakan salah satu pekerjaan kefarmasian
yang harus dilakukan oleh Apoteker di Instalasi Farmasi Kabupaten/Kota.
Dengan koordinasi dan proses perencanaan untuk pengadaan obat secara
terpadu (termasuk obat program), maka diharapkan obat yang direncanakan
dapat tepat jenis, jumlah dan waktu serta mutu yang terjamin. Untuk
menentukan kebutuhan obat dilakukan pendekatan perhitungan melalui
metode konsumsi dan atau morbiditas.
1) Metode Konsumsi.
Didasarkan atas analisa data konsumsi obat tahun sebelumnya. Untuk
menghitung jumlah obat yang dibutuhkan berdasarkan metoda konsumsi
perlu diperhatikan hal-hal pengumpulan dan pengolahan data, analisa
data untuk informasi dan evaluasi, perhitungan perkiraan kebutuhan obat,
dan penyesuaian jumlah kebutuhan obat dengan alokasi dana. Untuk
Metode ini dapat menggunakan rumus:
A = (B + C + D) – E
Keterangan:
A = rencana pengadaan
B = pemakaian rata-rata x 12 bulan
C = buffer stock (10-20%)
D = lead time (3- 6 bulan)
E = sisa stok
Data yang perlu dipersiapkan untuk perhitungan dengan metode
konsumsi:
a) Daftar obat
b) Stok awal
c) Penerimaan
d) Pengeluaran
e) Sisa stok
f) Obat hilang/rusak, kadaluarsa
g) Kekosongan obat
h) Pemakaian rata-rata/pergerakan obat pertahun

11
i) Waktu tunggu
j) Stok pengaman
k) pola kunjungan

2) Metode Morbiditas
Metode morbiditas adalah perhitungan kebutuhan obat berdasarkan pola
penyakit. Adapun faktor yang perlu diperhatikan adalah perkembangan
pola penyakit dan lead time. Langkah-langkah dalam metode ini adalah:
a) Memanfaatkan pedoman pengobatan.
b) Menentukan jumlah penduduk yang akan dilayani.
c) Menentukan jumlah kunjungan kasus berdasarkan frekuensi penyakit.
d) Menghitung jumlah kebutuhan obat.
Data yang perlu dipersiapkan untuk perhitungan metode morbiditas:
a) Perkiraan jumlah populasi.
Komposisi demografi dari populasi yang akan diklasifikasikan
berdasarkan jenis kelamin untuk umur antara:
 0 – 4 tahun,
 5 – 14 tahun,
 15 – 44 tahun,
 45 tahun (disesuaikan dengan LB-1),
 atau ditetapkan berdasarkan kelompok dewasa (> 12 tahun) dan
anak (1 – 12 tahun).
b) Menetapkan pola morbiditas penyakit.
c) Masing-masing penyakit pertahun untuk seluruh populasi pada
kelompok umur yang ada.
d) Menghitung perkiraan jenis dan jumlah obat sesuai dengan
pedoman pengobatan dasar di puskesmas.
e) Frekuensi kejadian masing-masing penyakit pertahun untuk
seluruh populasi pada kelompok umur yang ada.
f) Menghitung kebutuhan jumlah obat, dengan cara jumlah kasus
dikali jumlah obat sesuai pedoman pengobatan dasar di puskesmas.

12
g) Untuk menghitung jenis, jumlah, dosis, frekuensi dan lama
pemberian obat dapat menggunakan pedoman pengobatan yang
ada.
h) Menghitung jumlah kebutuhan obat yang akan datang dengan
mempertimbangkan faktor antara lain pola penyakit, Lead time,
Buffer stock.
i) Menghitung kebutuhan obat tahun anggaran yang akan datang.
Manfaat informasi yang didapat adalah sebagai sumber data dalam
menghitung kebutuhan obat untuk pemakaian tahun mendatang dengan
menggunakan metodamorbiditas.

d. Tahap Proyeksi Kebutuhan Obat


Pada tahap ini kegiatan yang dilakukan adalah:
1) Menetapkan rancangan stok akhir periode yang akan datang.
Rancangan stok akhir diperkirakan sama dengan hasil perkalian antara
waktu tunggu (lead time) dengan estimasi pemakaian rata - rata/bulan
ditambah stok pengaman (buffer stock).

d = (Lt x R ) + sp

Keterangan :
d = Rancangan stok akhir
Lt = Waktu tunggu (Lead Time)
R = Estimasi pemakaian rata-rata perbulan
sp = Stok pengaman (Buffer stock)

2) Menghitung rancangan pengadaan obat periode tahun yang akan datang.


Perencanaan pengadaan obat tahun yang akan datang dapat dirumuskan
sebagai berikut:
a=b+c+d-e–f
Keterangan:
a = Rancangan kebutuhan obat tahun yang akan datang

13
b = Kebutuhan obat untuk sisa periode berjalan (sesuai tahun
anggaran yang bersangkutan)
c = Kebutuhan obat untuk tahun yang akan datang
d = Rancangan stok akhir (jumlah obat yang dibutuhkan pada periode
lead time dan buffer stok tahun yang akan datang)
e = Perkiraan sisa stok akhir periode berjalan/ Stok awal periode yang
akan datang di IFK
f = Rencana penerimaan obat pada periode berjalan (Januari–
Desember)
3) Menghitung rancangan anggaran untuk total kebutuhan obat, dengan
cara:
a) Melakukan analisis ABC – VEN.
b) Menyusun prioritas kebutuhan dan penyesuaian kebutuhan dengan
anggaran yang tersedia.
c) Menyusun prioritas kebutuhan dan penyesuaian kebutuhan
berdasarkan data 10 penyakit terbesar.
4) Pengalokasian kebutuhan obat per sumber anggaran, dengan melakukan
kegiatan:
a) Menetapkan kebutuhan anggaran untuk masing-masing obat
persumber anggaran.
b) Menghitung persentase belanja untuk masing-masing obat terhadap
sumber anggaran.
c) Menghitung persentase anggaran masing-masing obat terhadap total
anggaran dari semua sumber.

e. Tahap Penyesuaian Rencana Pengadaan Obat


Dengan melaksanakan penyesuaian perencanaan obat dengan jumlah dana
yang tersedia, maka informasi yang didapat adalah jumlah rencana
pengadaan, skala prioritas masing-masing jenis obat dan jumlah kemasan
untuk rencana pengadaan obat tahun yang akan datang.Beberapa metoda
untuk meningkatkan efektifitas dan efisiensi anggaran pengadaan obat:

14
1) Analisa ABC
Berdasarkan berbagai observasi dalam inventori manajemen, yang paling
banyak ditemukan adalah tingkat konsumsi pertahun hanya diwakili oleh
relatif sejumlah kecil item. Sebagai contoh, dari pengamatan terhadap
pengadaan obat dijumpai bahwa sebagian besar dana obat (70%)
digunakan untuk pengadaan 10% dari jenis/ item obat yang paling
banyak digunakan, sedangkan sisanya sekitar 90% jenis/ item obat
menggunakan dana sebesar 30%. Oleh karena itu analisa ABC
mengelompokkan item obat berdasarkan kebutuhan dananya, yaitu:
a) Kelompok A adalah kelompok jenis obat yang jumlah nilai rencana
pengadaannya menunjukkan penyerapan dana sekitar 70% dari
jumlah dana obat keseluruhan.
b) Kelompok B adalah kelompok jenis obat yang jumlah nilai rencana
pengadaannya menunjukkan penyerapan dana sekitar 20%.
c) Kelompok C adalahkelompok jenis obat yang jumlah nilai rencana
pengadaannya menunjukkan penyerapan dana sekitar 10% dari
jumlah dana obat keseluruhan.
Langkah-langkah menentukan Kelompok A, B dan C:
a) Hitung jumlah dana yang dibutuhkan untuk masing-masing obat
dengan cara mengalikan kuantum obat dengan harga obat.
b) Tentukan peringkat mulai dari yang terbesar dananya sampai yang
terkecil.
c) Hitung persentasenya terhadap total dana yang dibutuhkan.
d) Hitung akumulasi persennya.
e) Obat kelompok A termasuk dalam akumulasi 70%
f) Obat kelompok B termasuk dalam akumulasi >70% s/d 90%
(menyerap dana ± 20%)
g) Obat kelompok C termasuk dalam akumulasi > 90% s/d 100%
(menyerap dana ± 10%)
2) Analisa VEN
Salah satu cara untuk meningkatkan efisiensi penggunaan dana obat yang
terbatas dengan mengelompokkan obat berdasarkan manfaat tiap jenis

15
obat terhadap kesehatan. Semua jenis obat yang tercantum dalam daftar
obat dikelompokkan kedalam tiga kelompok berikut:
a) Kelompok V adalah kelompok obat-obatan yang sangat esensial
(vital), yang termasuk dalam kelompok ini antara lain:
 Obat penyelamat (life saving drugs)
 Obat untuk pelayanan kesehatan pokok (obat anti diabetes, vaksin
dan lain-lain)
 Obat untuk mengatasi penyakit penyebab kematian terbesar.
b) Kelompok E adalah kelompok obat yang bekerja kausal yaitu obat
yang bekerja pada sumber penyebab penyakit.
c) Kelompok N adalah obat penunjang yaitu obat yang kerjanya ringan
dan biasa dipergunakan untuk menimbulkan kenyamanan atau untuk
mengatasi keluhan ringan.
Penggolongan obat sistem VEN dapat digunakan untuk:
a) Penyesuaian rencana kebutuhan obat dengan alokasi dana yang
tersedia. Obat yang perlu ditambah atau dikurangi dapat didasarkan
atas pengelompokan obat menurut VEN.
b) Penyusunan rencana kebutuhan obat yang masuk kelompok V agar
diusahakan tidak terjadi kekosongan obat.
Untuk menyusun daftar VEN perlu ditentukan lebih dahulu kriteria
penentuan VEN yang sebaiknya disusun oleh suatu Tim.Dalam
menentukan kriteria perlu dipertimbangkan kondisi dan kebutuhan
masing-masing wilayah.
Kriteria yang disusun dapat mencakup berbagai aspek antara lain:
a) klinis
b) konsumsi
c) target kondisi
d) biaya
Langkah-langkah menentukan VEN:
a) Menyusun analisa VEN
b) Menyediakan data pola penyakit
c) Merujuk pada pedoman pengobatan.

16
f. Alur Perencanaan Obat di Gudang Farmasi Dinas Kesehatan Kota Bandung
1. Pengelola obat membuat format RKO (rencana kebutuhan obat) yang
diserahkan ke 80 UPT puskesmas.
2. Setelah RKO diisi, masing-masing puskesmas jejaring menyerahkan
kembali RKO tersebut ke UPT puskesmas, yang kemudian masing-masing
UPT puskesmas menyerahkan seluruh RKO dari jejaringnya termasuk
RKO dari UPT puskesmas tersebut ke pengelola obat di Dinas Kesehatan.
RKO = (Rata-rata Pemakaian Obat x 18) – Sisa Stok
3. Pengelola obat di Dinas Kesehatan melakukan perekapan menjadi RKO
sementara.
4. RKO sementara dirapatkan dalam Tim Perencanaan Obat Terpadu, untuk
menentukan item yg akan diadakan berdasarkan analisa VEN dan ABC.
Kecuali untuk obat-obat program yang merencanakan adalah pemegang
program dengan menggunakan metode sasaran, yang akan disampaikan
kebutuhannya ke pengelola obat di Dinas Kesehatan.
5. RKO sementara dikembalikan ke bagian pengelola obat di Dinas
Kesehatan yang akan membagi-bagi obat tersebut ke dalam kategori obat
DAK, obat pendamping DAK, obat Yandas sesuai dengan yang tercantum
dalam FORNAS dan e-cataloge.
6. RKO yang sudah final diserahkan ke PPK (Pejabat Pembuat Komitmen)
untuk dilakukan pengadaan.
Berbagai sumber anggaran yang membiayai pengadaan obat dan perbekalan
kesehatan antara lain:
a. APBN bersumber dari pusat dalam bentuk Dana Alokasi Khusus (DAK).
b. APBD I bersumber dari Dinkes Provinsi dalam bentuk obat (obat program).
c. APBD II bersumber dari Dinkes Kabupaten/Kota dalam bentuk anggaran.
d. Sumber-sumber lain, seperti dana BLUD.
2.3.2 Pengadaan
Pengadaan obat dan alat kesehatan merupakan proses untuk penyediaan obat yang
dibutuhkan di UPT. Pengadaan obat dan alat kesehatan dilaksanakan oleh Dinkes
Provinsi dan Kabupaten/Kota sesuai dengan ketentuan-ketentuan dalam

17
Pelaksanaan Pengadaan Barang/Jasa Instansi Pemerintah dan Pelaksanaan
Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara. Pengadaan obat DAK dan pendamping
DAK harus sesuai Formularium Nasional (FORNAS) dan E-cataloge. Untuk
pengadaan obat-obat yang tidak tercantum dalam FORNAS atau obat-obat yang
tercantum dalam FORNAS tapi tidak tercantum di e-cataloge maka digunakan
sistem pengadaan lelang dengan syarat untuk pengadaan obat dengan anggaran
lebih dari 200 juta. Untuk pengadaan obat dengan anggaran kurang dari 200 juta
digunakan sistem pengadaan penunjukkan langsung.
Untuk barang yang tidak ada di e-catalog dilakukan sistem lelang atau tender. PPK
harus membuat HPS (Harga Perkiraan Sendiri), kemudian diserahkan ke KPA
(Kuasa Pengguna Anggaran. Jika telah disetujui KPA, PPK menugaskan PBPBJ
(Pejabat Penerima Hasil Pekerjaan Barang dan Jasa) untuk melakukan sistem lelang
sampai diperoleh pemenang tender. PBJB melakukan konfirmasi ke pemenang
tender untuk kesanggupan menyediakan obat dan alat kesehatan. Jika pemenang
tender menyanggupi kemudian PPK membuat kontrak kerjasama/SP dengan
pemenang tender. Selanjutnya pemenang tender akan mengirimkan obat yang akan
diterima secara fisik oleh PPK bekerjasama dengan PPHP (Panitia Penerima Hasil
Pekerjaan) yang mengurus dokumennya. Pemeriksaan barang meliputi, kesesuaian
faktur dengan surat pesanan (SP), kesesuaian faktur dengan barang yang diterima,
dan permeriksaan secara organoleptis (seperti kemasan, label, nomor batch, tanggal
kadaluarsa, kesesuaian isi dalam dengan kemasan, dan lain-lain) dan jika ada
keraguan bisa dilakukan pengujian mutu di laboratorium.
Tujuan pengadaan obat adalah:
1. Tersedianya obat dengan jenis dan jumlah yang cukup sesuai kebutuhan
pelayanan kesehatan.
2. Mutu obat terjamin.
3. Obat dapat diperoleh pada saat diperlukan.

Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam pengadaan obat adalah:


1. Kriteria Obat dan Alat Kesehatan
a. Kriteria umum

18
1) Obat yang tercantum dalam daftar obat Generik, Daftar Obat,
Pelayanan Kesehatan Dasar (PKD), daftar Obat Program Kesehatan,
berdasarkan Daftar Obat Esensial Nasional (DOEN) yang masih
berlaku.
2) Obat telah memiliki Izin Edar atau Nomor Registrasi dari Kementerian
Kesehatan R.I cq. Badan POM.
3) Batas kadaluarsa obat pada saat pengadaan minimal 2 tahun. Khusus
untuk vaksin dan preparat biologis ketentuan kadaluwarsa diatur
tersendiri.
4) Obat memiliki Sertifikat Analisa dan uji mutu yang sesuai dengan
nomor batch masing-masing produk.
5) Obat diproduksi oleh Industri Farmasi yang memiliki Sertifikat CPOB.
b. Kriteria mutu obat
Mutu dari obat dan alat kesehatan harus dapat dipertanggungjawabkan.
Kriteria mutu obat dan alat kesehatan adalah sebagai berikut:
a. Persyaratan mutu obat harus sesuai dengan persyaratan mutu yang
tercantum dalam Farmakope Indonesia edisi terakhir.
b. Industri Farmasi yang memproduksi obat bertanggung jawab terhadap
mutu obat melalui pemeriksaan mutu (Quality Control) yang dilakukan
oleh Industri Farmasi.
c. Pemeriksaan mutu secara organoleptik dilakukan oleh Apoteker
penanggung jawab Instalasi Farmasi Propinsi, Kabupaten/ Kota. Bila
terjadi keraguan terhadap mutu obat dapat dilakukan pemeriksaan mutu
di Laboratorium yang ditunjuk pada saat pengadaan dan merupakan
tanggung jawab distributor yang menyediakan.
2. Persyaratan Pemasok
Pemilihan pemasok adalah penting karena dapat mempengaruhi kualitas dan
kuantitas obat. Persyaratan pemasok sebagai berikut :
a. Memiliki izin Pedagang Besar Farmasi / Industri Farmasi yang masih
berlaku.

19
b. Pedagang Besar Farmasi (PBF) harus ada dukungan dari Industri Farmasi
yang memiliki Sertifikat CPOB (Cara Pembuatan Obat yang Baik) bagi
tiap bentuk sediaan obat yang dibutuhkan untuk pengadaan.
c. Industri Farmasi harus memiliki Sertifikat CPOB bagi tiap bentuk sediaan
obat yang dibutuhkan untuk pengadaan.
d. Pedagang Besar Farmasi atau Industri Farmasi harus memiliki reputas
yang baik dalam bidang pengadaan obat.
e. Pemilik dan atau Apoteker penanggung jawab Pedagang Besar Farmasi,
Apoteker penanggung jawab produksi dan quality controllIndustri Farmasi
tidak sedang dalam proses pengadilan atau tindakan yang berkaitan dengan
profesi kefarmasian.
f. Mampu menjamin kesinambungan ketersediaan obat sesuai dengan masa
kontrak.
3. Penentuan Waktu Pengadaan dan Kedatangan Obat
Waktu pengadaan dan waktu kedatangan obat dari berbagai sumber anggaran
perlu ditetapkan berdasarkan hasil analisis data:
a. Sisa stok dengan memperhatikan waktu
b. Jumlah obat yang akan diterima sampai dengan akhir tahun anggaran
c. Rata-rata pemakaian
d. Waktu tunggu/lead time.
Berdasarkan data tersebut dapat dibuat:
a. Profil pemakaian obat.
b. Penetapan waktu pesan.
c. Waktu kedatangan obat.
4. Penerimaan dan Pemeriksaan Obat
Penerimaan dan pemeriksaan merupakan salah satu kegiatan pengadaan agar
obat yang diterima sesuai dengan jenis dan jumlah serta sesuai dengan
dokumen yang menyertainya.
5. Pemantauan Status Pesanan

20
Pemantauan status pesanan bertujuan untuk:
a. Mempercepat pengiriman sehingga efisiensi dapat ditingkatkan
b. Pemantauan dapat didasarkan kepada sistem VEN.
c. Petugas Instalasi Farmasi Kabupaten/ Kota memantau status pesanan
secara berkala.
d. Pemantauan dan evaluasi pesanan harus dilakukan dengan
memperhatikan:
 Nama obat
 Satuan kemasan
 Jumlah obat diadakan
 Obat yang sudah diterima dan yang belum diterima

2.3.3 Penyimpanan
Penyimpanan adalah suatu kegiatan menyimpan dan memelihara dengan cara
menempatkan obat dan alat kesehatan yang diterima pada tempat yang dinilai aman
dari pencurian serta gangguan fisik yang dapat merusak mutu obat dan alat
kesehatan. Tujuan penyimpanan obat dan alat kesehatan adalah untuk :
1. Memelihara mutu obat
2. Menghindari penyalahgunaan dan penggunaan yang salah
3. Menjaga kelangsungan persediaan
4. Memudahkan pencarian dan pengawasan
Kegiatan penyimpanan obat meliputi:
1. Penyiapan Sarana Penyimpanan
Ketersediaan sarana yang ada di unit pengelola obat dan alat kesehatan
bertujuan untuk mendukung jalannya organisasi. Adapun sarana yang minimal
sebaiknya tersedia adalah sebagai berikut:

1. Gedung dengan luas 300 m2 – 600 m2.


2. Kendaraan roda dua dan roda empat, dengan jumlah 1 – 3 unit.
3. Komputer + Printer dengan jumlah 1 – 3 unit.
4. Telepon & Faximile dengan jumlah 1 unit.
5. Sarana penyimpanan:

21
a. Rak : 10 - 15 unit
b. Pallet : 40 - 60 unit
c. Lemari : 5 - 7 unit
d. Lemari Khusus : 1 unit
e. Cold chain (medical refrigerator)
f. Cold Box
g. Cold Pack
h. Generator
6. Sarana Administrasi Umum:
a. Brankas : 1 Unit
b. Mesin Tik : 1 – 2 unit
c. Lemari arsip : 1 – 2 unit
7. Sarana Administrasi Obat dan Alat Kesehatan:
a. Kartu Stok
b. Kartu Persediaan Obat
c. Kartu Induk Persediaan Obat
d. Buku Harian Pengeluaran Barang
e. SBBK (Surat Bukti Barang Keluar)
f. LPLPO (Laporan Pemakaian dan Laporan Permintaan Obat)
g. Kartu Rencana Distribusi

2. Pengaturan Tata Ruang


Untuk mendapatkan kemudahan dalam penyimpanan, penyusunan, pencarian dan
pengawasan obat, maka diperlukan pengaturan tata ruang gudang dengan baik.
Pengaturan tata ruang selain harus memperhatikan kebersihan dan menjaga gudang
dari kebocoran dan hewan pengerat juga harus diperhatikan ergonominya.Faktor-
faktor yang perlu dipertimbangkan dalam merancang gudang adalah sebagai
berikut:
1) Kemudahan bergerak, maka gudang perlu ditata sebagai berikut:
a. Gudang jangan menggunakan sekat-sekat karena akan membatasi
pengaturan ruangan. Jika digunakan sekat, perhatikan posisi dinding dan
pintu untuk mempermudah gerakan.

22
b. Berdasarkan arah arus penerimaan dan pengeluaran obat, ruang gudang
dapat ditata berdasarkan sistem :
a) Arus garis lurus
b) Arus U
c) Arus L
c. Sirkulasi udara yang baik
Salah satu faktor penting dalam merancang gudang adalah adanya
sirkulasi udara yang cukup di dalam ruangan gudang. Sirkulasi yang baik
akan memaksimalkan stabilitas obat sekaligus bermanfaat dalam
memperbaiki kondisi kerja petugas. Idealnya dalam gudang terdapat AC,
namun biayanya akan menjadi mahal untuk ruang gudang yang luas.
Alternatif lain adalah menggunakan kipas angin/ventilator/rotator. Perlu
adanya pengukur suhu di ruangan penyimpanan obat dan dilakukan
pencatatan suhu.

2) Rak dan Pallet


Penempatan rak yang tepat dan penggunaan pallet akan dapat meningkatkan
sirkulasi udara dan pemindahan obat. Penggunaan pallet memberikan
keuntungan:
a. Sirkulasi udara dari bawah dan perlindungan terhadap banjir, serangan
serangga (rayap)
b. Melindungi sediaan dari kelembaban
c. Memudahkan penanganan stok
d. Dapat menampung obat lebih banyak
e. Pallet lebih murah dari pada rak

3) Kondisi penyimpanan khusus


a. Vaksin dan serum memerlukan Cold Chain khusus dan harus dilindungi
dari kemungkinan putusnya aliran listrik (harus tersedianya generator).
b. Narkotika dan bahan berbahaya harus disimpan dalam lemari khusus dan
selalu terkunci (double lock) sesuai dengan peraturan yang berlaku.

23
c. Bahan-bahan mudah terbakar seperti alkohol, eter dan pestisida harus
disimpan dalam ruangan khusus, sebaiknya disimpan di bangunan
khusus terpisah dari gudang induk.
d. Pencegahan kebakaran
Perlu dihindari adanya penumpukan bahan-bahan yang mudah terbakar
seperti dus, karton dan lain-lain.Alat pemadam kebakaran harus diletakkan
pada tempat yang mudah dijangkau dan dalam jumlah yang cukup.Contohnya
tersedia bak pasir, tabung pemadam kebakaran, karung goni, galah berpengait
besi.
4) Penyusunan Stok Obat
Obat disusun menurut bentuk sediaan dan alfabetis. Untuk memudahkan
pengendalian stok maka dilakukan langkah-langkah sebagai berikut :
a. Gunakan prinsip First Expired date First Out (FEFO) dan First In First
Out (FIFO) dalam penyusunan obat yaitu obat yang masa
kadaluwarsanya lebih awal atau yang diterima lebih awal harus
digunakan lebih awal sebab umumnya obat yang datang lebih awal
biasanya juga diproduksi lebih awal dan umurnya relatif lebih tua dan
masa kadaluwarsanya mungkin lebih awal.
b. Susun obat dalam kemasan besar di atas pallet secara rapi dan teratur.
Untuk obat kemasan kecil dan jumlahnya sedikit disimpan dalam rak dan
pisahkan antara obat dalam dan obat untuk pemakaian luar dengan
memperhatikan keseragaman nomor batch.
c. Gunakan lemari khusus untuk menyimpan narkotika dan psikotropika.
Simpan obat yang stabilitasnya dapat dipengaruhi oleh temperatur, udara,
cahaya dan kontaminasi bakteri pada tempat yang sesuai.
d. Perhatikan untuk obat yang perlu penyimpanan khusus.
e. Cantumkan nama masing-masing obat pada rak dengan rapi.
f. Apabila persediaan obat cukup banyak, maka biarkan obat tetap dalam
box masing-masing.

24
5) Pengamatan mutu obat
Mutu obat yang disimpan di ruang penyimpanan dapat mengalami perubahan
baik karena faktor fisik maupun kimiawi yang dapat diamati secara visual.
Jika dari pengamatan visual diduga ada kerusakan yang tidak dapat ditetapkan
dengan cara organoleptik, harus dilakukan sampling untuk pengujian
laboratorium.

2.3.4 Distribusi
Distribusi adalah suatu rangkaian kegiatan dalam rangka pengeluaran dan
pengiriman obat, terjamin keabsahan, tepat jenis dan jumlah secara merata dan
teratur untuk memenuhi kebutuhan unit-unit pelayanan kesehatan.Distribusi obat
dilakukan agar persediaan jenis dan jumlah yang cukup sekaligus menghindari
kekosongan dan menumpuknya persediaan serta mempertahankan tingkat
persediaan obat.
Tujuan distribusi adalah:
1. Terlaksananya pengiriman obat secara merata dan teratur sehingga dapat
diperoleh pada saat dibutuhkan.
2. Terjaminnya mutu obat dan alat kesehatan pada saat pendistribusian
3. Terjaminnya kecukupan dan terpeliharanya penggunaan obat di unit pelayanan
kesehatan.
4. Terlaksananya pemerataan kecukupan obat sesuai kebutuhan pelayanan dan
program kesehatan.
Kegiatan distribusi obat di Kabupaten/Kota terdiri dari:
Distribusi adalah suatu rangkaian kegiatan dalam rangka pengeluaran dan
pengiriman obat, terjamin keabsahan, tepat jenis dan jumlah secara merata dan
teratur untuk memenuhi kebutuhan unit-unit pelayanan kesehatan. Distribusi obat
dilakukan agar persediaan jenis dan jumlah obat dan perbekalan kesehatan cukup
sekaligus menghindari kekosongan dan menumpuknya persediaan serta
mempertahankan tingkat persediaan obat. Kegiatan distribusi obat di gudang
farmasi Dinkes Kota Bandung terdiri dari:
1. Kegiatan Distribusi Rutin
Kegiatan distribusi rutin mencakup distribusi untuk kebutuhan pelayanan
umum di unit pelayanan kesehatan. Alur distribusi rutin terbagi 2 yaitu:

25
a. Rutin aktif yaitu gudang farmasi mendistibusikan ke UPT Puskesmas.
b. Rutin aktif yaitu UPT Puskesmas mengambil barang ke gudang farmasi.
Alur distribusi obat rutin di Dinkes Kota Bandung:
a) UPT puskesmas mengirimkan LPLPO tiap awal bulan (maksimal tanggal
5) ke Dinas Kesehatan.
b) LPLPO diterima oleh petugas gudang di Dinas Kesehatan dan dibuat jadwal
pendistribusian berdasarkan LPLPO yang pertama kali diterima dan arah
lokasi pengiriman.
c) LPLPO dieveluasi oleh petugas pengelola obat seperti jumlah pemakaian,
stok optimum, sisa akhir dan permintaan untuk menentukan jumlah
pendistribusian ke UPT puskesmas.
d) Jumlah pendistribusian ke UPT puskesmas direkap, dimasukkan dalam
Bend 29, 35, dan berita acara serah terima barang.
e) Mempacking obat dan alat kesehatan.
f) Mendistribusikan ke masing-masing UPT puskesmas jika menggunakan
distribusi aktif dan menunggu UPT puskesmas mengambil ke gudang
Dinkes jika menggunakan sistem distribusi pasif.

2. Kegiatan distribusi khusus yang mencakup distribusi obat untuk:


a. Program kesehatan
b. Kejadian Luar Biasa (KLB)
c. Bencana (alam dan sosial)
Kegiatan distribusi khusus di Instalasi Farmasi Kabupaten/Kota
dilakukansebagai berikut:
a) Instalasi Farmasi Kabupaten/ Kota dan pengelola program Kabupaten/
Kota, bekerjasama untuk mendistribusikan masing-masing obat program
yang diterima dari propinsi, kabupaten/ kota.
b) Distribusi obat program ke Puskesmas dilakukan oleh IFK atas permintaan
penanggung jawab program, misalnya pelaksanaan program
penanggulangan penyakit tertentu seperti Malaria, Frambusia dan penyakit
kelamin, bilamana obatnya diminta langsung oleh petugas program kepada
IFK Kabupaten/ Kota tanpa melalui Puskesmas, maka petugas yang

26
bersangkutan harus membuat permintaan dan laporan pemakaian obat
yang diketahui oleh Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota.
c) Obat program yang diberikan langsung oleh petugas program kepada
penderita di lokasi sasaran, diperoleh/diminta dari Puskesmas yang
membawahi lokasi sasaran. Setelah selesai pelaksanaan pemberian obat,
bilamana ada sisa obat harus dikembalikan ke Puskesmas yang
bersangkutan. Khusus untuk Program Diare diusahakan ada sejumlah
persediaan obat di Posyandu yang penyediaannya diatur oleh Puskesmas.
d) Untuk KLB dan bencana alam, distribusi dapat dilakukan melalui
permintaan maupun tanpa permintaan oleh Puskesmas. Apabila
diperlukan, Puskesmas yang wilayah kerjanya terkena KLB/Bencana
dapat meminta bantuan obat kepada Puskesmas terdekat
Tata Cara Pendistribusian Obat :
IFK Kabupaten/Kota melaksanakan distribusi obat ke UPT Puskesmas dan di
wilayah kerjanya sesuai kebutuhan masing-masing Unit Pelayanan Kesehatan.

2.3.5 Pencatatan dan Pelaporan


Kegiatan pencatatan dan pelaporan di Gudang Farmasi Dinas Kesehatan Kota
Bandung meliputi:
1. Pencatatan dan pengelolaan data untuk mendukung perencanaan pengadaan
obat melalui kegiatan perhitungan tingkat kecukupan obat per unit pelayanan
kesehatan.
2. Kegiatan ini perlu dilakukan untuk memastikan bahwa rencana disrtibusi akan
dapat didukung sepenuhnya oleh sisa stok obat di Gudang Farmasi.
3. Perhitungan dilakukan langsung pada Kartu Rencana Distribusi Obat.
4. Tingkat kecukupan dihitung dari sisa stok obat di Gudang Farmasi di bagi
dengan Pemakain rata-rata obat di Unit Pelayanan Kesehatan.
Pelaporan yang disusun oleh Gudang Farmasi Dinkes Kota Bandung meliputi:
1. Laporan dinamika logistik dilakukan oleh Dinkes Kota ke Walikota/Bupati
dengan tembusan kepada Kepala Dinkes Provinsi setiap 3 bulan sekali dan dari
provinsi ke Kementrian Kesehatan melalui Ditjen Kefarmasian dan Alkes 3
bulan sekali.

27
2. Laporan tahunan/profil pengelolaan obat kab/kota dikirim kepada Dinkes
Provinsi dan setelah dikompilasi oleh Dinkes Provinsi dikirimkan kepada
kemenkes melalui Ditjen Kefarmasian dan Alkes.
3. Laporan ketersediaan obat per bulan puskesmas dan gudang farmasi Dinkes
Kota Bandung
4. Laporan sisa stok per 31 Desember puskesmas dan gudang farmasi Dinas
Kesehatan Kota Bandung
5. Laporan Penggunaan Obat Rasional (POR)
6. Laporan Pelayanan Informasi Obat (PIO) dan KONSELING
7. Laporan Monitoring Efek Samping Obat (MESO)
8. Laporan Narkotika, Psikotropika, dan Zat Adiktif lain (NAPZA)
9. Laporan Gema Cermat
Semua laporan dari UPT puskesmas dikirimkan ke Dinkes Kota Bandung sebagai
pelaporan rutin seluruh kegiatan yang dilakukan.

2.4 Gambaran Umum Puskesmas


2.4.1 Pengertian Puskesmas
Berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No. 75 tahun 2014,
Puskemas atau Pusat Kesehatan Masyarakat adalah fasilitas pelayanan kesehatan
yang menyelenggarakan upaya kesehatan masyarakat dan upaya kesehatan
perorangan tingkat pertama, dengan lebih mengutamakan upaya promotif dan
preventif, untuk mencapai derajat kesehatan yang setinggi-tingginya di wilayah
kerjanya.
Upaya Kesehatan Masyarakat yang selanjutnya disingkat UKM adalah setiap
kegiatan untuk memelihara dan meningkatkan kesehatan serta mencegah dan
menanggulangi timbulnya masalah kesehatan dengan sasaran keluarga, kelompok,
dan masyarakat. Sedangkan Upaya Kesehatan Perseorangan yang selanjutnya
disingkat UKP adalah suatu kegiatan dan/atau serangkaian kegiatan pelayanan
kesehatan yang ditujukan untuk peningkatan, pencegahan, penyembuhan penyakit,
pengurangan penderitaan akibat penyakit dan memulihkan kesehatan perseorangan.

28
2.4.2 Prinsip Penyelenggaraan, Tugas, dan Fungsi Puskesmas
Berdasarkan Permenkes No 75 Tahun 2014 tentang Puskesmas prinsip
penyelenggaraan Puskesmas meliputi:
1. Paradigma sehat;
2. Pertanggungjawaban wilayah;
3. Kemandirian masyarakat;
4. Pemerataan;
5. Teknologi tepat guna; dan
6. Keterpaduan dan kesinambungan.
Berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No. 75 tahun 2014
pasal 4 5, dan 6, Puskesmas mempunyai tugas melaksanakan kebijakan kesehatan
untuk mencapai tujuan pembangunan kesehatan di wilayah kerjanya dalam rangka
mendukung terwujudnya kecamatan sehat. Dalam melaksanakan tugas tersebut,
Puskesmas menyelenggarakan fungsi:
1. Penyelenggaraan UKM tingkat pertama di wilayah kerjanya.
2. Penyelenggaraan UKP tingkat pertama di wilayah kerjanya.
3. Wahana pendidikan Tenaga Kesehatan.
Dalam menyelenggarakan fungsinya seperti pada huruf a, Puskesmas Berwenang
untuk:
1. Melaksanakan perencanaan berdasarkan analisis masalah kesehatan masyarakat
dan analisis kebutuhan pelayanan yang diperlukan.
2. Melakukan advokasi dan sosialisasi kebijakan kesehatan.
3. Melaksanakan komunikasi, informasi, edukasi, dan pemberdayaan masyarakat
dalam bidang kesehatan.
4. Menggerakkan masyarakat untuk mengidentifikasi dan menyelesaikan masalah
kesehatan pada setiap tingkat perkembangan masyarakat yang bekerjasama
dengan sektor lain terkait.
5. Melaksanakan pembinaan teknis terhadap jaringan pelayanan dan upaya
kesehatan berbasis masyarakat.
6. Melaksanakan peningkatan kompetensi sumber daya manusia Puskesmas.
7. Memantau pelaksanaan pembangunan agar berwawasan kesehatan.

29
8. Melaksanakan pencatatan, pelaporan, dan evaluasi terhadap akses, mutu, dan
cakupan Pelayana Kesehatan.
9. Memberikan rekomendasi terkait masalah kesehatan masyarakat, termasuk
dukungan terhadap sistem kewaspadaan diri dan respon penanggulangan
penyakit.

Dalam menyelenggarakan dungsinya seperti pada huruf b, Puskesmas berwenang


untuk:
1. Menyelenggarakan Pelayanan Kesehatan dasar secara komprehensif,
berkesinambungan dan bermutu;
2. Menyelenggarakan Pelayanan Kesehatan yang mengutamakan upaya promotif
dan preventif;
3. Menyelenggarakan Pelayanan Kesehatan yang berorientasi pada individu,
keluarga, kelompok dan masyarakat;
4. Menyelenggarakan Pelayanan Kesehatan yang mengutamakan keamanan dan
keselamatan pasien, petugas dan pengunjung;
5. Menyelenggarakan Pelayanan Kesehatan dengan prinsip koordinatif dan kerja
sama inter dan antar profesi;
6. Melaksanakan rekam medis;
7. Melaksanakan pencatatan, pelaporan, dan evaluasi terhadap mutu dan akses
Pelayanan Kesehatan;
8. Melaksanakan peningkatan kompetensi Tenaga Kesehatan;
9. Mengoordinasikan dan melaksanakan pembinaan fasilitas pelayanan kesehatan
tingkat pertama di wilayah kerjanya; dan
10. Melaksanakan penapisan rujukan sesuai dengan indikasi medis dan Sistem
Rujukan.

2.4.3 Persyaratan Puskesmas


Berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No. 75 tahun 2014
pasal 9, persyaratan Puskesmas adalah sebagai berikut:
1. Puskesmas harus didirikan pada setiap kecamatan.
2. Dalam kondisi tertentu, pada 1 (satu) kecamatan dapat didirikan lebih dari 1
(satu) Puskesmas.

30
3. Kondisi tertentu sebagaimana dimaksud pada ayat (2) ditetapkan berdasarkan
pertimbangan kebutuhan pelayanan, jumlah penduduk dan aksesibilitas.
4. Pendirian Puskesmas harus memenuhi persyaratan lokasi, bangunan, prasarana,
peralatan kesehatan, ketenagaan, kefarmasian dan laboratorium.
A. Lokasi
Lokasi pendirian Puskesmas harus memenuhi persyaratan:
a. geografis;
b. aksesibilitas untuk jalur transportasi;
c. kontur tanah;
d. fasilitas parkir;
e. fasilitas keamanan;
f. ketersediaan utilitas publik;
g. pengelolaan kesehatan lingkungan; dan
h. kondisi lainnya.
Pendirian Puskesmas harus memperhatikan ketentuan teknis pembangunan
bangunan gedung negara.
B. Bangunan
Bangunan Puskesmas harus memenuhi persyaratan yang meliputi:
a. persyaratan administratif, persyaratan keselamatan dan kesehatan kerja, serta
persyaratan teknis bangunan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-
undangan;
b. bersifat permanen dan terpisah dengan bangunan lain; dan
c. menyediakan fungsi, keamanan, kenyamanan, perlindungan
d. keselamatan dan kesehatan serta kemudahan dalam memberi pelayanan bagi
semua orang termasuk yang berkebutuhan khusus, anak-anak dan lanjut usia.
C. Prasarana
Puskesmas harus memiliki prasarana yang berfungsi paling sedikit terdiri atas:
sistem penghawaan (ventilasi); sistem pencahayaan; sistem sanitasi; sistem
kelistrikan; sistem komunikasi; sistem gas medik; sistem proteksi petir; sistem
proteksi kebakaran; sistem pengendalian kebisingan; sistem transportasi vertikal
untuk bangunan lebih dari 1 (satu) lantai; kendaraan Puskesmas keliling; dan
kendaraan ambulans.

31
D. Sumber Daya Manusia
Sumber daya manusia Puskesmas terdiri atas tenaga kesehatan dan tenaga non
kesehatan. Jenis dan jumlah tenaga kesehatan dan tenaga non kesehatan tersebut
dihitung berdasarkan analisis beban kerja, dengan mempertimbangkan jumlah
pelayanan yang diselenggarakan, jumlah penduduk dan persebarannya,
karakteristik wilayah kerja, luas wilayah kerja, ketersediaan fasilitas pelayanan
kesehatan tingkat pertama lainnya di wilayah kerja, dan pembagian waktu kerja.
Jenis Tenaga Kesehatan di Puskesmas paling sedikit terdiri atas:
1. dokter atau dokter layanan primer;
2. dokter gigi;
3. perawat;
4. bidan;
5. tenaga kesehatan masyarakat;
6. tenaga kesehatan lingkungan;
7. ahli teknologi laboratorium medik;
8. tenaga gizi; dan
9. tenaga kefarmasian.
Tenaga Kesehatan di Puskesmas harus bekerja sesuai dengan standar profesi,
standar pelayanan, standar prosedur operasional, etika profesi, menghormati hak
pasien, serta mengutamakan kepentingan dan keselamatan pasien dengan
memperhatikan keselamatan dan kesehatan dirinya dalam bekerja. Setiap
Tenaga Kesehatan yang bekerja di Puskesmas harus memiliki surat izin praktek
sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan. Sedangkan tenaga non
kesehatan di Puskesmas harus dapat mendukung kegiatan ketatausahaan,
administrasi keuangan, sistem informasi, dan kegiatan operasional lain di
Puskesmas.

2.4.4 Pelayanan Kefarmasian Di Puskesmas


Berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No. 30 tahun 2014,
standar pelayanan kefarmasian d Puskesmas meliputi standar:
1. Pengelolaan obat dan bahan medis habis pakai yang meliputi: perencanaan
kebutuhan; permintaan; penerimaan; penyimpanan; pendistribusian;

32
pengendalian; pencatatan, pelaporan, dan pengarsipan; dan pemantauan dan
evaluasi pengelolaan.
2. Pelayanan farmasi klinik yang meliputi:
a. Pengkajian resep, penyerahan obat, dan pemberian informasi obat.
b. Pelayanan Informasi Obat (PIO).
c. Konseling.
d. Ronde/visite pasien (khusus Puskesmas rawat inap).
e. Pemantauan Terapi Obat (PTO).
f. Evaluasi penggunaan obat.
Penyelenggaraan pelayanan kefarmasian di Puskesmas dilaksanakan pada unit
pelayanan berupa ruang farmasi. Penyelenggaraan standar pelayanan kefarmasian
di Puskesmas harus didukung oleh ketersediaan sumber daya kefarmasian,
pengorganisasian yang berorientasi kepada keselamatan pasien, dan standar
prosedur operasional sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.
Sumber daya kefarmasian di Puskesmas meliputi:
1. Sumber Daya Manusia
Penyelengaraan Pelayanan Kefarmasian di Puskesmas minimal harus
dilaksanakan oleh 1 (satu) orang tenaga Apoteker sebagai penanggung jawab,
yang dapat dibantu oleh Tenaga Teknis Kefarmasian sesuai kebutuhan.
Jumlah kebutuhan Apoteker di Puskesmas dihitung berdasarkan rasio kunjungan
pasien, baik rawat inap maupun rawat jalan serta memperhatikan pengembangan
Puskesmas. Rasio untuk menentukan jumlah Apoteker di Puskesmas adalah 1
(satu) Apoteker untuk 50 (lima puluh) pasien perhari.
Semua tenaga kefarmasian harus memiliki surat tanda registrasi dan surat izin
praktek untuk melaksanakan Pelayanan Kefarmasian di fasilitas pelayanan
kesehatan termasuk Puskesmas, sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-
undangan.
Setiap tahun dapat dilakukan penilaian kinerja tenaga kefarmasian yang
disampaikan kepada yang bersangkutan dan didokumentasikan secara rahasia.
Hasil penilaian kinerja ini akan digunakan sebagai pertimbangan untuk
memberikan penghargaan dan sanksi (reward and punishment).
a. Kompetensi Apoteker

33
1) Sebagai Penanggung Jawab
a) Mempunyai kemampuan untuk memimpin.
b) Mempunyai kemampuan dan kemauan untuk mengelola dan
mengembangkan pelayanan kefarmasian.
c) Mempunyai kemampuan untuk mengembangkan diri.
d) Mempunyai kemampuan untuk bekerja sama dengan pihak lain.
e) Mempunyai kemampuan untuk mengidentifikasi, mencegah,
menganalisis dan memecahkan masalah.
2) Sebagai Tenaga Fungsional
a) Mampu memberikan pelayanan kefarmasian.
b) Mampu melakukan akuntabilitas praktek kefarmasian.
c) Mampu mengelola manajemen praktis farmasi.
d) Mampu melaksanakan pendidikan dan pelatihan.
e) Mampu melaksanakan penelitian dan pengembangan.
Semua tenaga kefarmasian di Puskesmas harus selalu meningkatkan
pengetahuan, keterampilan dan perilaku dalam rangka menjaga dan
meningkatkan kompetensinya. Upaya peningkatan kompetensi tenaga
kefarmasian dapat dilakukan melalui pengembangan profesional
berkelanjutan.
Semua tenaga kefarmasian di Puskesmas melaksanakan Pelayanan
Kefarmasian berdasarkan Standar Prosedur Operasional (SPO) yang dibuat
secara tertulis, disusun oleh Kepala Ruang Farmasi, dan ditetapkan oleh
Kepala Puskesmas. SPO tersebut diletakkan di tempat yang mudah dilihat.
Jenis SPO dibuat sesuai kebutuhan pelayanan yang dilakukan pada
Puskesmas yang bersangkutan.
b. Pendidikan dan Pelatihan
Pendidikan dan pelatihan adalah salah suatu proses atau upaya peningkatan
pengetahuan dan keterampilan di bidang kefarmasian atau bidang yang
berkaitan dengan kefarmasian secara berkesinambungan untuk
mengembangkan potensi dan produktivitas tenaga kefarmasian secara
optimal. Puskesmas dapat menjadi tempat pelaksanaan program pendidikan,

34
pelatihan serta penelitian dan pengembangan bagi calon tenaga kefarmasian
dan tenaga kefarmasian unit lain.
Tujuan Umum:
1) Tersedianya tenaga kefarmasian di Puskesmas yang mampu melaksanakan
rencana strategi Puskesmas.
2) Terfasilitasinya program pendidikan dan pelatihan bagi calon tenaga
kefarmasian dan tenaga kefarmasian unit lain.
3) Terfasilitasinya program penelitian dan pengembangan bagi calon tenaga
kefarmasian dan tenaga kefarmasian unit lain.
Tujuan Khusus:
1) Tersedianya tenaga kefarmasian yang mampu melakukan pengelolaan
obat dan Bahan Medis Habis Pakai.
2) Tersedianya tenaga kefarmasian mampu melakukan Pelayanan
Kefarmasian.
3) Terfasilitasinya studi banding, praktik dan magang bagi calon tenaga
kefarmasian internal maupun eksternal.
4) Tersedianya data Pelayanan Informasi Obat (PIO) dan konseling tentang
obat dan Bahan Medis Habis Pakai.
5) Tersedianya data penggunaan antibiotika dan injeksi.
6) Terwujudnya Pelayanan Kefarmasian di Puskesmas yang optimal.
7) Tersedianya Pelayanan Kefarmasian di Puskesmas.
8) Terkembangnya kualitas dan jenis pelayanan ruang farmasi Puskesmas.
c. Pengembangan Tenaga Kefarmasian dan Program Pendidikan
Dalam rangka penyiapan dan pengembangan pengetahuan dan keterampilan
tenaga kefarmasian maka Puskesmas menyelenggarakan aktivitas sebagai
berikut:
1) Setiap tenaga kefarmasian di Puskesmas mempunyai kesempatan yang
sama untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilannya.
2) Apoteker dan/atau Tenaga Teknis Kefarmasian harus memberikan
masukan kepada pimpinan dalam menyusun program pengembangan staf.
3) Staf baru mengikuti orientasi untuk mengetahui tugas, fungsi, wewenang
dan tanggung jawabnya.

35
4) Melakukan analisis kebutuhan peningkatan pengetahuan dan keterampilan
bagi tenaga kefarmasian.
5) Tenaga kefarmasian difasilitasi untuk mengikuti program yang diadakan
oleh organisasi profesi dan institusi pengembangan pendidikan
berkelanjutan terkait.
6) Memberikan kesempatan bagi institusi lain untuk melakukan praktik,
magang, dan penelitian tentang pelayanan kefarmasian di Puskesmas.
Pimpinan dan tenaga kefarmasian di ruang farmasi Puskesmas berupaya
berkomunikasi efektif dengan semua pihak dalam rangka optimalisasi dan
pengembangan fungsi ruang farmasi Puskesmas.

2. Sarana dan Prasarana


Sarana yang diperlukan untuk menunjang pelayanan kefarmasian di Puskesmas
meliputi sarana yang memiliki fungsi:
a. Ruang penerimaan resep
Ruang penerimaan resep meliputi tempat penerimaan resep, 1 (satu) set meja
dan kursi, serta 1 (satu) set komPasundan, jika memungkinkan. Ruang
penerimaan resep ditempatkan pada bagian paling depan dan mudah terlihat
oleh pasien.
b. Ruang pelayanan resep dan peracikan (produksi sediaan secara terbatas)
Ruang pelayanan resep dan peracikan atau produksi sediaan secara terbatas
meliputi rak obat sesuai kebutuhan dan meja peracikan. Di ruang peracikan
disediakan peralatan peracikan, timbangan obat, air minum (air mineral)
untuk pengencer, sendok obat, bahan pengemas obat, lemari pendingin,
termometer ruangan, blanko salinan resep, etiket dan label obat, buku catatan
pelayanan resep, buku-buku referensi/standar sesuai kebutuhan, serta alat
tulis secukupnya. Ruang ini diatur agar mendapatkan cahaya dan sirkulasi
udara yang cukup. Jika memungkinkan disediakan pendingin ruangan (air
conditioner) sesuai kebutuhan.
c. Ruang penyerahan obat

36
Ruang penyerahan obat meliputi konter penyerahan obat, buku pencatatan
penyerahan dan pengeluaran obat. Ruang penyerahan obat dapat digabungkan
dengan ruang penerimaan resep.
d. Ruang konseling
Ruang konseling meliputi satu set meja dan kursi konseling, lemari buku,
buku-buku referensi sesuai kebutuhan, leaflet, poster, alat bantu konseling,
buku catatan konseling, formulir jadwal konsumsi obat (lampiran), formulir
catatan pengobatan pasien (lampiran), dan lemari arsip (filling cabinet), serta
1 (satu) set komPasundan, jika memungkinkan.
e. Ruang penyimpanan obat dan Bahan Medis Habis Pakai
Ruang penyimpanan harus memperhatikan kondisi sanitasi, temperatur,
kelembaban, ventilasi, pemisahan untuk menjamin mutu produk dan
keamanan petugas. Selain itu juga memungkinkan masuknya cahaya yang
cukup. Ruang penyimpanan yang baik perlu dilengkapi dengan rak/lemari
obat, pallet, pendingin ruangan (AC), lemari pendingin, lemari penyimpanan
khusus narkotika dan psikotropika, lemari penyimpanan obat khusus,
pengukur suhu, dan kartu suhu.
f. Ruang arsip
Ruang arsip dibutuhkan untuk menyimpan dokumen yang berkaitan dengan
pengelolaan obat dan Bahan Medis Habis Pakai dan Pelayanan Kefarmasian
dalam jangka waktu tertentu. Ruang arsip memerlukan ruangan khusus yang
memadai dan aman untuk memelihara dan menyimpan dokumen dalam
rangka untuk menjamin penyimpanan sesuai hukum, aturan, persyaratan, dan
teknik manajemen yang baik.

37
2.5 Organisasi dan Personalia
Struktur organisasi Dinas Kesehatan Kota Bandung bedasarkan Peraturan Daerah
Kota Bandung Nomor 13 Tahun 2007, Tanggal 4 Desember 2007 dapat dilihat pada
Lampiran.

2.6 Pengelolaan Obat dan Bahan Medis Habis Pakai (BMHP)


Pengelolaan Obat dan Bahan Medis Habis Pakai merupanan salah satu kegiatan
pelayanan kefarmasian, yang dimulai dari perencanaan, permintaan, penerimaan,
penyimpanan, pendistribusian, pengendalian, pencatatan dan pelaporan serta
pemantauan dan evaluasi. Tujuannya adalah untuk menjamin kelangsungan
ketersediaan dan keterjangkauan Obat dan Bahan Medis Habis Pakai yang efisien,
efektif dan rasional, meningkatkan kompetensi/kemampuan tenaga kefarmasian,
mewujudkan sistem informasi manajemen, dan melaksanakan pengendalian mutu
pelayanan.
Kegiatan pengelolaan obat dan BMHP meliputi:
1. Perencanaan Kebutuhan Obat dan Bahan Medis Habis Pakai
Perencanaan merupakan proses kegiatan seleksi Obat dan Bahan Medis Habis
Pakai untuk menentukan jenis dan jumlah Obat dalam rangka pemenuhan
kebutuhan Puskesmas. Tujuan perencanaan adalah untuk mendapatkan:
a. Perkiraan jenis dan jumlah Obat dan Bahan Medis Habis Pakai yang
mendekati kebutuhan.
b. Meningkatkan penggunaan obat secara rasional.
c. Meningkatkan efisiensi penggunaan obat.
Perencanaan kebutuhan obat dan bahan medis habis pakai di Puskesmas setiap
periode dilaksanakan oleh Ruang Farmasi di Puskesmas. Proses seleksi obat dan
bahan medis habis pakai dilakukan dengan mempertimbangkan pola penyakit,
pola konsumsi obat periode sebelumnya, data mutasi obat, dan rencana
pengembangan. Proses seleksi obat dan bahan medis habis pakai juga mengacu
pada Daftar Obat Esensial Nasional (DOEN) dan Formularium Nasional. Proses
seleksi ini harus melibatkan tenaga kesehatan yang ada di Puskesmas seperti
dokter, dokter gigi, bidan, dan perawat, serta pengelola program yang berkaitan
dengan pengobatan.

38
Proses perencanaan kebutuhan Obat per tahun dilakukan secara berjenjang
(bottom-up). Puskesmas diminta menyediakan data pemakaian Obat dengan
menggunakan Laporan Pemakaian dan Lembar Permintaan Obat (LPLPO).
Selanjutnya Instalasi Farmasi Kabupaten/Kota akan melakukan kompilasi dan
analisa terhadap kebutuhan obat Puskesmas di wilayah kerjanya, menyesuaikan
pada anggaran yang tersedia dan memperhitungkan waktu kekosongan obat,
buffer stock, serta menghindari stok berlebih.
2. Permintaan Obat dan Bahan Medis Habis Pakai
Tujuan permintaan obat dan bahan medis habis pakai adalah memenuhi
kebutuhan Obat dan Bahan Medis Habis Pakai di Puskesmas, sesuai dengan
perencanaan kebutuhan yang telah dibuat. Permintaan diajukan kepada Dinas
Kesehatan Kabupaten/Kota, sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-
undangan dan kebijakan pemerintah daerah setempat.
3. Penerimaan Obat dan Bahan Medis Habis Pakai
Penerimaan obat dan bahan medis habis pakai adalah suatu kegiatan dalam
menerima Obat dan Bahan Medis Habis Pakai dari Instalasi Farmasi
Kabupaten/Kota sesuai dengan permintaan yang telah diajukan. Tujuannya
adalah agar obat yang diterima sesuai dengan kebutuhan berdasarkan permintaan
yang diajukan oleh Puskesmas.
Semua petugas yang terlibat dalam kegiatan pengelolaan bertanggung jawab atas
ketertiban penyimpanan, pemindahan, pemeliharaan dan penggunaan obat dan
Bahan Medis Habis Pakai berikut kelengkapan catatan yang menyertainya.
Petugas penerimaan wajib melakukan pengecekan terhadap obat dan Bahan
Medis Habis Pakai yang diserahkan, mencakup jumlah kemasan/peti, jenis dan
jumlah obat, bentuk obat sesuai dengan isi dokumen (LPLPO), ditandatangani
oleh petugas penerima, dan diketahui oleh Kepala Puskesmas. Bila tidak
memenuhi syarat, maka petugas penerima dapat mengajukan keberatan. Masa
kedaluwarsa minimal dari obat yang diterima disesuaikan dengan periode
pengelolaan di Puskesmas ditambah satu bulan.
4. Penyimpanan Obat dan Bahan Medis Habis Pakai
Penyimpanan obat dan bahan medis habis pakai merupakan suatu kegiatan
pengaturan terhadap obat yang diterima agar aman (tidak hilang), terhindar dari

39
kerusakan fisik maupun kimia dan mutunya tetap terjamin, sesuai dengan
persyaratan yang ditetapkan. Tujuannya adalah agar mutu obat yang tersedia di
puskesmas dapat dipertahankan sesuai dengan persyaratan yang ditetapkan.
Penyimpanan obat dan Bahan Medis Habis Pakai dengan mempertimbangkan
hal-hal sebagai berikut:
a. bentuk dan jenis sediaan;
b. stabilitas (suhu, cahaya, kelembaban);
c. mudah atau tidaknya meledak/terbakar; dan
d. narkotika dan psikotropika disimpan dalam lemari khusus.

5. Pendistribusian Obat dan Bahan Medis Habis Pakai


Pengeluaran dan penyerahan obat dan Bahan Medis Habis Pakai secara merata
dan teratur untuk memenuhi kebutuhan sub unit/satelit farmasi Puskesmas dan
jaringannya. Tujuannya adalah untuk memenuhi kebutuhan obat sub unit
pelayanan kesehatan yang ada di wilayah kerja Puskesmas dengan jenis, mutu,
jumlah dan waktu yang tepat.
Sub-sub unit di Puskesmas dan jaringannya antara lain:
a. Sub unit pelayanan kesehatan di dalam lingkungan Puskesmas;
b. Puskesmas Pembantu;
c. Puskesmas Keliling;
d. Posyandu; dan
e. Polindes.
Pendistribusian ke sub unit (Poli Umum, Poli KIA/KB, Poli MTDS, Poli Lansia,
UGD, dan lain-lain) dilakukan dengan cara pemberian obat sesuai resep yang
diterima (floor stock), pemberian obat per sekali minum (dispensing dosis unit)
atau kombinasi, sedangkan pendistribusian ke jaringan Puskesmas dilakukan
dengan cara penyerahan obat sesuai dengan kebutuhan (floor stock).

6. Pengendalian Obat dan Bahan Medis Habis Pakai


Pengendalian obat dan Bahan Medis Habis Pakai adalah suatu kegiatan untuk
memastikan tercapainya sasaran yang diinginkan sesuai dengan strategi dan
program yang telah ditetapkan sehingga tidak terjadi kelebihan dan

40
kekurangan/kekosongan obat di unit pelayanan kesehatan dasar. Tujuannya
adalah agar tidak terjadi kelebihan dan kekosongan obat di unit pelayanan
kesehatan dasar. Pengendalian obat terdiri dari:
a. Pengendalian persediaan.
b. Pengendalian penggunaan, dan
c. Penanganan obat hilang, rusak, dan kadaluarsa.

7. Pencatatan, Pelaporan dan Pengarsipan


Pencatatan, pelporan, dan pengarsipan merupakan rangkaian kegiatan dalam
rangka penatalaksannan obat dan Bahan Medis Habis Pakai secara tertib, baik
obat dan bahan medis habis pakai yang diterima, disimpan, didistribusikan dan
digunakan di Puskesmas atau unit pelayanan lainnya.
Tujuan pencatatan, pelaporan, dan pengarsipan adalah:
a. Bukti bahwa pengelolaan obat dan bahan medis habis pakai telah dilakukan.
b. Sumber data untuk melakukan pengaturan dan pengendalian, dan
c. Sumber data untuk pembuatan laporan.

8. Pemantauan dan Evaluasi Pengelolaan Obat dan Bahan Medis Habis Pakai
Pemantauan dan evaluasi pengelolaan obat dan Bahan Medis Habis Pakai
dilakukan secara periodik dengan tujuan untuk :
a. Mengendalikan dan menghindari terjadinya kesalahan dalam pengelolaan
obat dan Bahan Medis Habis Pakai sehingga dapat menjaga kualitas maupun
pemerataan pelayanan.
b. Memperbaiki secara terus-menerus pengelolaan obat dan bahan medis habis
pakai, dan
c. Memberikan penilaian terhadap capaian kinerja pengelolaan.

2.7 Pembinaan dan Pengawasan


Berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No. 30 tahun 2014
pasal 8, pembinaan dan pengawasan terhadap pelaksanaan Peraturan Menteri ini
dilakukan oleh Menteri, Kepala Dinas Kesehatan Provinsi, dan Kepala Dinas

41
Kesehatan Kabupaten/Kota sesuai tugas dan fungsi masing-masing. Pelaksanaan
pembinaan dan pengawasan tersebut dapat melibatkan organisasi profesi.

2.8 Regulasi Kefarmasian


1. Undang-undang Republik Indonesia No.36 tahun 2009 tentang Kesehatan.
2. Undang-undang Republik Indonesia No.36 tahun 2014 tentang Tenaga
Kesehatan
3. Peraturan Pemerintah No.51 tahun 2009 tentang Pekerjaan Kefarmasian.
4. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No.74 tahun 2016 tentang
Standar Pelayanan Kefarmasian di Puskesmas.
5. Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No.
163/Menkes/SK/III/2006 tentang Pedoman Umum Pengadaan Obat Program
Kesehatan.
6. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No.3 tahun 2015 tentang
Peredaran, Penyimpanan, Pemusnahan, dan Pelaporan Narkotika,
Psikotropika, dan Prekursor Farmasi.
7. Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No.
HK.02.02/Menkes/137/2016 tentang Perubahan atas Keputusan Menteri
Kesehatan No. HK.02.02/Menkes/523/2015 tentang Formularium Nasional.
8. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No. 9 tahun 2014 tentang
Klinik.
9. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No.73 tahun 2016 tentang
Standar Pelayanan Kefarmasian di Apotek.
10. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No.72 tahun 2016 tentang
Standar Pelayanan Kefarmasian di Rumah sakit.
11. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No.34 tahun 2014 tentang
Pedagang Besar Farmasi.
12. Undang-Undang Republik Indonesia No.18 tahun 2012 tentang pangan.
13. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No.9 tahun 2017 Tentang
Apotek.

42
14. Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor:
1331/Menkes/SK/X/2002. Tentang Perubahan atas Peraturan Menteri
Kesehatan RI Nomor.167/KAB/B.VIII/1972. Tentang Pedagang Eceran Obat.
15. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 31 Tahun 2016
Tentang Perubahan Atas Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia
Nomor 889/Menkes/Per/V/2011. Tentang Registrasi, Izin Praktik, dan Izin
Kerja, Tenaga Kefarmasian.
16. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 006 Tahun 2012,
tentang Industri Obat Tradisional dan Obat Tradisional
17. Peraturan Menteri Kesehahatan Republik Indonesia Nomor 007 tahun 2012,
tentang Registrasi Obat Tradisional.
18. Peraturan BPOM No. 22 Tahun 2018 tentang Pedoman Pemberian Sertifikat
Produksi Pangan Industri Rumah Tangga
19. Undang-undang Republik Indonesia No.419 tahun 1949 tentang Obat Keras.
20. Undang-undang Republik Indonesia No.5 tahun 1997 tentang Psikotropik.
21. Undang-undang Republik Indonesia No.35 tahun 2009 tentang Narkotika.
22. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 72 Tahun 1998,
tentang Pengamanan Sediaan Farmasi.

43
BAB III TINJAUAN KHUSUS DINAS KESEHATAN DAN UPT
PUSKESMAS PASUNDAN

3.1 Dinas Kesehatan Kota Bandung


3.1.1 Lokasi
Gudang Farmasi Dinas kesehatan Kota Bandung terletak di Kantor Dinas
Kesehatan Kota Bandung yaitu di jalan Supratman No. 73 Bandung.

3.1.2 Struktur Organisasi


Kepala Seksi Farmasi dan Alat Kesehatan (Farmalkes) Dinas Kesehatan Kota
Bandung, memiliki wewenang dan tanggung jawab membina dan mengawasi
gudang farmasi, pengawasan obat, makanan dan minuman, kosmetik serta sarana
pelayanan kesehatan lingkup farmasi. Sumber daya manusia di seksi Farmalkes
Dinas Kesehatan Kota Bandung terdiri dari Apoteker, Asisten Apoteker, Analis
Obat dan Makanan, Pengadministrasi Barang, dan Tenaga operasional gudang
dengan pendidikan SMA.

3.1.3 Pengelolaan Obat dan Perbekalan Kesehatan


Pengelolaan obat di Gudang Farmasi Dinas Kesehatan Kota Bandung mempunyai
tugas dan tanggung jawab sebagai berikut:
1. Menyusun format perencanaan obat dan alat kesehatan.
2. Merekap kebutuhan obat puskesmas
3. Merekap kebutuhan alat kesehatan dan obat gigi puskesmas
4. Menyusun rencana kebutuhan obat dan alat kesehatan Dinas Kesehatan Kota
Bandung
5. Memeriksa pengeluaran dan penerimaan obat bulanan
6. Melaksanakan pengawasan pengelolaan obat pelayanan kesehatan dasar, alat
kesehatan, reagensia dan vaksin
7. Melaksanakan pengawasan dan pengendalian obat dan alat kesehatan, obat
yang mengandung bahan narkotika dan sejenisnya
8. Memeriksa penerimaan dan pengeluaran gudang penyimpanan
9. Membuat laporan rekapitulasi stok opname
10. Membuat laporan penerimaan obat

44
11. Membuat laporan penerimaan alat kesehatan
12. Membuat laporan penerimaan obat program
13. Membuat laporan penerimaan obat APBN
Pengelolaan Obat Dinas Kesehatan Kota Bandung meliputi :
a. Perencanaan Obat
Perencanaan obat di Gudang Farmasi Dinas Kesehatan Kota Bandung
menggunakan metoda konsumsi. Metoda konsumsi adalah metoda perhitungan
kebutuhan obat yang didasarkan atas analisa data konsumsi obat tahun sebelumnya.
Untuk memperoleh data kebutuhan obat yang mendekati ketepatan, perlu dilakukan
analisa trend pemakaian obat 3 (tiga) tahun sebelumnya atau lebih. Dalam proses
perhitungan perencanaan kebutuhan obat gudang Farmasi Dinas Kesehatan Kota
Bandung menggunakan metoda konsumsi dengan menghitung berapa rata-rata
pemakaian pada periode tertentu, buffer stock dan lead time dikurangi sisa stock
akhir. Buffer stock dihitung 10-20% dari total pemakaian obat dalam satu tahun,
sedangkan lead time merupakan waktu tunggu antara pemesanan obat sampai
diterima obat tersebut. Lead time dihitung dari pemakaian rata-rata dikalikan
dengan waktu tunggu, di Gudang Farmasi Dinas Kesehatan Kota Bandung lead
timenya berkisar 3 sampai 6 bulan.

b. Pengadaan Obat
Pengadaan di Gudang Farmasi Dinas Kesehatan Kota Bandung dilakukan satu
tahun sekali melalui sistem lelang atau tender dan e-purchasing melalui e-
catalogue. Pengadaan obat dan alat kesehatan untuk pelayanan kesehatan dasar
(PKD) dibiayai melalui berbagai sumber anggaran. Berbagai sumber anggaran yang
membiayai pengadaan obat dan alat kesehatan tersebut antara lain:
1. APBN bersumber dari pusat dalam bentuk Dana Alokasi Khusus (DAK).
2. APBD I bersumber dari Dinkes Provinsi dalam bentuk obat (obat program).
3. APBD II bersumber dari Dinkes Kabupaten/Kota dalam bentuk anggaran.
4. Sumber-sumber lain, seperti dana BLUD.

c. Penerimaan dan Pemeriksaan


Penerimaan dan pemeriksaan bertujuan agar obat yang diterima sesuai dengan
jumlah dan jenis serta sesuai dengan dokumen yang menyertainya. Penerimaan dan

45
pemeriksaan dilakukan oleh PPK dan pejabat penerima hasil pekerjaan (PJBPHP).
Pemeriksaan ini dilakukan secara organoleptik, dan khusus untuk pemeriksaan
label dan kemasan perlu dilakukan pencatatan terhadap tanggal kadaluwarsa,
nomor registrasi, dan nomor batch terhadap obat yang diterima. Dilakukan juga
pemeriksaan kesesuaian antara surat pesanan dengan fisik obat, setelah obat
diterima dan diperiksa 100%. PPK menyerahkan ke KPA dan selanjutnya
diserahkan ke petugas pengelola obat. Setelah obat diterima oleh pengelola obat,
kemudian disimpan digudang farmasi.

d. Penyimpanan Obat
Penyimpanan obat di Gudang Farmasi Dinas Kesehatan Kota Bandung disusun
berdasarkan prinsip First Expired First Out (FEFO) dan First In First Out (FIFO),
kelas terapi dan bentuk sediaan. Untuk obat khusus seperti vaksin disimpan di unit
pelaksana program Dinas Kesehatan Kota Bandung. Sedangkan untuk
peniyimpanan narkotika dan psikotropika disimpan di tampat khusus. Sarana
penyimpanan di Gudang Farmasi Kota Bandung meliputi Gudang terdiri dari 446.5
m2 di jalan Supratman No. 73 Bandung dan di jalan Bapak Husein Bandung.
1. Pallet, terdiri dari pallet kayu dan pallet plastik
2. Rak sebanyak 3 (tiga) buah
3. Kulkas, sebanyak 1 (satu) buah
4. Alat penunjang keamanan, alarm sebanyak 2 (dua) buah
5. Alat pemadam kebakaran, sebanyak 4 (empat) buah
6. Troli, sebanyak 4 (empat) buah

e. Distribusi Obat
Kegiatan distribusi obat di Gudang Farmasi Dinas Kesehatan Kota Bandung terdiri
dari:
1. Kegiatan distribusi rutin yang mencakup distribusi untuk kebutuhan pelayanan
umum di unit pelayanan kesehatan. Sistem distribusi rutin di Gudang Farmasi
Dinas Kesehatan Kota Bandung melaksanakan distribusi obat ke puskesmas
induk sesuai kebutuhan masing-masing unit pelayanan kesehatan.

46
2. Kegiatan distribusi khusus yang mencakup distribusi obat untuk:
 Program kesehatan
 Kejadian luar biasa (KLB)
 Bencana (alam dan sosial)

Alur Distribusi Obat di Dinas Kesehatan Kota Bandung:


1. UPT puskesmas mengirimkan LPLPO tiap awal bulan (maksimal tanggal 5) ke
Dinas Kesehatan.
2. LPLPO diterima oleh petugas gudang di Dinas Kesehatan dan dibuat jadwal
pendistribusian berdasarkan LPLPO yang pertama kali diterima dan arah lokasi
pengiriman.
3. LPLPO dieveluasi oleh petugas pengelola obat seperti jumlah pemakaian, stok
optimum (pemakaian + buffer stock + lead time), sisa akhir dan permintaan (stok
optimum – sisa stok) untuk menentukan jumlah pendistribusian ke UPT
Puskesmas.
4. Jumlah pendistribusian ke UPT puskesmas direkap, dimasukkan dalam Bend 29,
35, dan berita acara serah terima barang.
5. Mempacking obat dan alat kesehatan.

f. Pencatatan dan Pelaporan


Kegiatan pencatatan dan pelaporan di Gudang Farmasi Dinas Kota Bandung
meliputi:
1) Pencatatan dan pengelolaan data untuk mendukung perencanaan pengadaan obat
melalui kegiatan perhitungan tingkat kecukupan obat per UPK
2) Kegiatan ini perlu dilakukan untuk memastikan bahwa rencana distribusi akan
dapat didukung sepenuhnya oleh sisa stok obat di Gudang Farmasi Dinas
Kesehatan Kota Bandung
3) Tingkat kecukupan dihitung dari sisa stok obat di Gudang Farmasi dibagi dengan
pemakaian rata-rata obat di Unit Pelayanan Kesehatan.
Pelaporan yang disusun oleh Gudang Farmasi Dinas Kesehatan Kota Bandung
meliputi:
1) Laporan dinamika logistik dilakukan oleh Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota ke
Walikota/Bupati dengan tembusan kepada Kadinkes provinsi 3 bulan sekali

47
dan dari provinsi kementrian kesehatan Cq. Ditjen Bina Kefarmasian dan Alkes
3 bulan sekali
2) Laporan tahunan/profil pengelolaan obat kab/kota dikirim ke Dinkes Provinsi
dan setelah dikompilasi oleh Dinkes Provinsi dikirimkan kepada kemenkes Cq.
Ditjen Bina Kefarmasian dan Alkes.
3) Laporan ketersediaan obat perbulan Puskesmas dan Gudang Farmasi Dinas
Kesehatan Kota Bandung.
4) Laporan sisa stok per 31 Desember Puskesmas dan Gudang Farmasi Dinas
Kesehatan Kota Bandung.
5) Laporan Gema Cermat
6) Laporan Ketersediaan Vaksin
7) Laporan Pemantauan Terapi Obat (PTO)
8) Laporan penggunaan obat rasional (POR)
9) Laporan monitoring efek samping obat (MESO)
10) Laporan narkotika dan psikotropika (NAPZA)

g. Pengawasan dan Pembinaan


Seksi farmalkes bidang sumber daya kesehatan bertugas melaksanakan pengawasan
dan pembinaan terhadap sarana kesehatan, sarana makanan minuman, kosmetik,
dan sediaan farmasi serta NAPZA. Bagian pengawasan akan melakukan
pengawasan untuk memeriksa sarana-sarana kesehatan. Dimana pemeriksaan
dilakukan oleh minimal 3 orang.
Prioritas sarana yang akan diperiksa:
- Sarana kesehatan yang sudah ada temuan dari BPOM.
- Adanya pengaduan dari puskesmas dan masyarakat terhadap suatu sarana.
- Sarana yang belum di bina (dilihat dari rekapan sarana yang telah dibina tahun
sebelumnya).
Sarana yang perizinan/rekomendasinya dikeluarkan oleh Dinas Kesehatan Kota
Bandung:
1) Toko Obat
Toko obat adalah sarana yang memiliki izin untuk menyimpan obat-obat bebas
dan obat-obat bebas terbatas untuk dijual secara eceran. Untuk mendirikan
Toko obat harus ada izin Kepala Dinas Kesehatan Kota.

48
2) Apotek
Apotek adalah sarana pelayanan kefarmasian tempat dilakukan praktik
kefarmasian oleh Apoteker. Adapun tata cara memperoleh izin apotek adalah
sebagai berikut:
a) Untuk memperoleh SIA, Apoteker harus mengajukan permohonan tertulis
kepada Pemerintah Daerah Kabupaten / Kota
b) Dengan Permohonan sebagaimana dimaksud pada nomor (1) harus
ditandatangani oleh Apoteker disertai dengan kelengkapan dokumen
administratif meliputi:
1. fotokopi STRA dengan menunjukan STRA asli;
2. fotokopi Kartu Tanda Penduduk (KTP);
3. fotokopi Nomor Pokok Wajib Pajak Apoteker;
4. fotokopi peta lokasi dan denah bangunan; dan
5. daftar prasarana, sarana, dan peralatan.
c) Paling lama dalam waktu 6 (enam) hari kerja sejak menerima permohonan
dan dinyatakan telah memenuhi kelengkapan dokumen administratif
sebagaimana dimaksud pada nomor (2), Pemerintah daerah Kabupaten/Kota
menugaskan tim pemeriksa untuk melakukan pemeriksaan setempat
terhadap kesiapan Apotek.
d) Tim pemeriksa sebagaimana dimaksud pada nomor (3) harus melibatkan
unsur dinas kesehatan kabupaten/kota yang terdiri atas:
1. tenaga kefarmasian; dan
2. tenaga lainnya yang menangani bidang sarana dan prasarana.
e) Paling lama dalam waktu 6 (enam) hari kerja sejak tim pemeriksa
ditugaskan, tim pemeriksa harus melaporkan hasil pemeriksaan setempat
yang dilengkapi Berita Acara Pemeriksaan (BAP) kepada Pemerintah
Daerah Kabupaten/.
f) Paling lama dalam waktu 12 (dua belas) hari kerja sejak Pemerintah Daerah
Kabupaten/Kota menerima laporan sebagaimana dimaksud pada nomor (5)
dan dinyatakan memenuhi persyaratan, Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota
menerbitkan SIA dengan tembusan kepada Direktur Jenderal, Kepala Dinas

49
Kesehatan Provinsi, Kepala Balai POM, Kepala Dinas Kesehatan
Kabupaten/Kota, dan Organisasi Profesi.
g) Dalam hal hasil pemeriksaan sebagaimana dimaksud pada nomor (5)
dinyatakan masih belum memenuhi persyaratan, Pemerintah Daerah
Kabupaten/Kota harus mengeluarkan surat penundaan paling lama dalam
waktu 12 (dua belas) hari.
h) Terhadap permohonan yang dinyatakan belum memenuhi persyaratan
sebagaimana dimaksud pada nomor (7), pemohon dapat melengkapi
persyaratan paling lambat dalam waktu 1 (satu) bulan sejak surat penundaan
diterima.
i) Apabila pemohon tidak dapat memenuhi kelengkapan persyaratan
sebagaimana dimaksud pada nomor (8), maka Pemerintah Daerah
Kabupaten/Kota mengeluarkan Surat Penolakan.
j) Apabila Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota dalam menerbitkan SIA
melebihi jangka waktu sebagaimana dimaksud pada nomor (6), Apoteker
pemohon dapat menyelenggarakan Apotek dengan menggunakan BAP
sebagai pengganti SIA
k) Dalam hal pemerintah daerah menerbitkan SIA sebagaimana dimaksud
dalam nomor (6), maka penerbitanya bersama dengan penerbitan SIPA
untuk Apoteker pemegang SIA.
l) Masa berlaku SIA mengikuti berlaku SIPA
3) Klinik
Klinik adalah fasilitas pelayanan kesehatan yang menyelenggarakan pelayanan
kesehatan perorangan yang menyediakan pelayanan medis dasar dan/atau
spesialistik. Berdasarkan jenis pelayanan, klinik dibagi menjadi dua yaitu:
a. Klinik pratama adalah klinik yang menyelenggarakan pelayanan medik dasar
baik umum maupun khusus.
b. Klinik utama adalah klinik yang menyelenggarakan pelayanan medik
spesialistik atau pelayanan medik dasar dan spesialistik.
Setiap penyelenggaraan klinik wajib memiliki izin mendirikan yang diberikan oleh
pemerintah daerah kota/kabupaten dan izin operasional yang diberikan oleh
pemerintah daerah kota/kabupaten atau Kepala Dinas kesehatan kabupaten/kota.

50
Instalasi Farmasi Klinik adalah bagian dari klinik yang bertugas
menyelenggarakan, mengkoordinasikan, mengatur, dan mengawasi seluruh
kegiatan pelayanan farmasi serta melaksanakan pembinaan teknis kefarmasian di
klinik. Instalasi yang dimaksud adalah melayani resep dari dokter klinik yang
bersangkutan, serta dapat melayani resep dari dokter praktik perorangan maupun
klinik lain. Jenis klinik yang harus memiliki instalasi farmasi yaitu klinik rawat inap
dan klinik rehabilitasi medik yang diselenggarakan apoteker.

4) Rumah sakit kelas B, C, dan D.


Rumah Sakit adalah institusi pelayanan kesehatan yang menyelenggarakan
pelayanan kesehatan perorangan secara paripurna yang menyediakan pelayanan
rawat inap, rawat jalan, dan gawat darurat. Rumah Sakit harus memenuhi
persyaratan lokasi, bangunan, prasarana, sumber daya manusia, kefarmasian, dan
peralatan. Persyaratan kefarmasian sebagaimana dimaksud harus menjamin
ketersediaan sediaan farmasi dan alat kesehatan yang bermutu, bermanfaat, aman
dan terjangkau. Instalasi Farmasi adalah unit pelaksana fungsional yang
menyelenggarakan seluruh kegiatan pelayanan kefarmasian di Rumah Sakit.
Pengelolaan alat kesehatan, sediaan farmasi, dan bahan habis pakai di Rumah Sakit
harus dilakukan oleh Instalasi farmasi sistem satu pintu. Berdasarkan pelayanan,
sumber daya manusia, peralatan dan bangunan serta prasarana rumah sakit
dibedakan menjadi beberapa kelas :
a. Rumah sakit kelas A yaitu rumah sakit yang terdiri dari 4 spesialis dasar, 4
spesialis penunjang medis, 13 spesialis lain dan 4 subspesialis dasar.
b. Rumah sakit kelas B yaitu rumah sakit yang terdiri dari 4 spesialis dasar, 4
spesialis penunjang medis, 8 spesialis lain dan 2 subspesialis dasar.
c. Rumah sakit kelas C yaitu rumah sakit yang terdiri dari 4 spesialis dasar dan 4
spesialis penunjang medis.
d. Rumah sakit kelas D yaitu rumah sakit yang terdiri dari 2 spesialis dasar.
Izin mendirikan dan izin operasional Rumah Sakit kelas B diberikan oleh
Pemerintah Daerah Provinsi setelah mendapatkan rekomendasi dari pejabat yang
berwenang di bidang kesehatan pada Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota. Izin
mendirikan dan izin operasional Rumah Sakit kelas C dan kelas D diberikan oleh

51
Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota setelah mendapat rekomendasi dari pejabat
yang berwenang di bidang kesehatan pada Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota.

5) P-IRT (Pangan Industri Rumah Tangga)


Sertifikat Produksi Pangan Industri Rumah Tangga, yang selanjutnya disingkat
SPP-IRT, adalah jaminan tertulis yang diberikan oleh Bupati/Walikota terhadap
pangan produksi IRTP di wilayah kerjanya yang telah memenuhi persyaratan
pemberian SPP-IRT dalam rangka peredaran Pangan Produksi IRTP. Berdasarkan
Peraturan BPOM No. 22 Tahun 2018 tentang Pedoman Pemberian Sertifikat
Produksi Pangan Industri Rumah Tangga, SPP-IRT diberikan IRTP yang telah
memiliki sertifikat Penyuluhan Keamanan Pangan, hasil pemeriksaan sarana
produksi Pangan Produksi IRTP memenuhi syarat, dan label pangan memenuhi
ketentuan peraturan perundang-undangan.
Alur atau tata cara memperoleh S-PIRT:
a. Sertifikat Penyuluhan Keamanan Pangan
1. Pemohon mengambil formulir persayaratan ke Seksi JPRK.
2. Seksi JPRK menjelaskan persyaratan ke pemohon.
3. Pemohon melengkapi dan mengaembalikan berkas persyaratan ke Seksi
JPRK.
4. Seksi JPRK memeriksa kelengkapan persyaratan, mencatat ke dalam buku
register, mengirim daftar nama pemohon ke Seksi Farmalkes untuk
mengikuti penyuluhan.
5. Seksi Farmalkes mengirim surat undangan kegiatan prnyuluhan ke
pemohon.Pemohon mengikuti kegiatan penyuluhan dari bulan januari-
oktober minimal 50 peserta.
6. Seksi Farmalkes memberi no sertifikat SPKP untuk penerbitan sertifikat.
7. Seksi JPRK mengetik sertifikat PKP, memeriksa dan memaraf sertifikat
PKP.
8. Bidang SDK dan sub bagian umum memeriksa dan memaraf sertifikat.
9. Kepala Dinas menandatangani sertifikat.
10. Sub bagian umum dan kepegawaian mengarsip sertifikat dan menyerahkan
sertifikat ke IRTP.

52
b. Sertifikat PIRT
1. Pemohon telah mengikuti penyuluhan keamanan pangan dan dinyatakan
lulus.
2. Seksi Farmalkes mengumumkan nama peserta dan jadwal pemeriksaan ke
sarana PIRT, melaksanakan kunjungan ke pemohon, dan menyusun berita
acara.
3. Pemohon melengkapi syarat sesuai berita acara.
4. Seksi Farmalkes memberi no PIRT dan mengirim ke Seksi JPRK, Seksi JPRK
mengetik, dan memeriksa data, memparaf PIRT.
5. Bidang SDK dan sub bagian umum dan kepegawaian memeriksa dan
memaraf sertifikat.
6. Kepala Dinas menandatangani sertifikat.

Jenis jenis pangan yang diizinkan mendapat sertifikat P-IRT adalah: hasil olahan
daging kering (abon, dendeng, kerupuk kulit, paru goreng kering), hasil olahan ikan
kering (abon ikan, cumi kering, kerupuk, petis, pempek pempek, presto ikan), hasil
olahan unggas kering (usus goreng, ceker goreng, telur asin), sayur asin dan sayur
kering (acar, asinan/manisan sayur, keripik), hasil olahan kelapa (kelapa parut
kering, nata de coco, geplak), tepung dan hasil olahannya, minyak dan lemak, selai,
jeli dan sejenisnya, gula, kembang gula, madu, kopi, teh, coklat kering atau
campurannya, bumbu, rempah-rempah, minuman rigan dan minuman serbuk, hasil
olahan buah, hasil olahan biji bijian dan umbi, lain lain es (es mambo, es lilin, es
puter). Jenis produk pangan yang tidak boleh izin sertifikat PIRT atau harus berizin
ke POM MD adalah produk olahan susu (es krim), produk daging (kornet), ikan
(sarden), bahan tambahan pangan/BTP (pengawet, pewarna, pemanis, flavour,
pengempal, dan lain lain) dan produk pangan yang memerlukan penyimpanan
khusus pada suhu rendah seperti nugget, baso, sosis.
6) UKOT (Usaha Kecil Obat Tradisional)
UKOT (Usaha Kecil Obat Tradisional) adalah usaha yang dapat membuat semua
bentuk obat tradisional kecuali tablet dan effervesent. UKOT harus mendapat
rekomendasi dari kepala balai setempat dan rekomendasi dari Kepala Dinas
Kesehatan Kabupaten/Kota. Permohonan izin UKOT diajukan oleh pemohon

53
kepada Kepala Dinas Kesehatan Provinsi. Setiap UKOT wajib memiliki sekurang-
kurangnya 1 (satu) orang Tenaga Teknis Kefarmasian Warga Negara Indonesia
sebagai Penanggung Jawab yang memiliki sertifikat pelatihan CPOTB. Dalam hal
UKOT memproduksi bentuk sediaan kapsul dan/atau cairan obat dalam, harus
memenuhi ketentuan:
a. Memiliki Apoteker sebagai penanggung jawab yang bekerja penuh; dan
b. Memenuhi persyaratan CPOTB
7) UMOT (Usaha Mikro Obat Tradisional)
UMOT adalah usaha yng hanya membuat sediaan obat tradisional dalam bentuk
param, tapel, pilis, cairan obat luar dan rajangan. Permohonan izin UMOT diajukan
pemohon kepada Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota

h. Supervisi dan Evaluasi


Supervisi dan evaluasi pengelolaan dan penggunaan obat di Gudang Farmasi Dinas
Kota Bandung telah dilakukan terutama sarana penyimpanan gudang farmasi, mulai
dari kapasitas gudang dan fasilitas penyimpanan (Intern). Sedangkan supervisi
yang dilakukan ke unit lebih rendah.

3.1.4 Pelayanan Kefarmasian


Pelayanan kefarmasian di Dinas Kesehatan Kota Bandung terdiri dari 2 aspek
pelayanan yaitu aspek manajerial (non klinik) dan aspek profesional (farmasi
klinik).Pelayanan farmasi non klinik meliputi pengelolaan sediaan farmasi dan alat
farmasi seperti perencanaan, pengadaan, penyimpanan, distribusi, pencatatan dan
pelaporan serta supervisi dan evaluasi. Pelayanan farmasi klinik yang dilakukan
oleh puskesmas meliputi :
1. Pengkajian Resep, Penyerahan Obat, dan Pemberian Informasi Obat
2. Pelayanan Informasi Obat
3. Konseling
4. Pemantauan dan Pelaporan Efek Samping Obat (ESO)
5. Pemantauan Terapi Obat (PTO)
6. Evaluasi penggunaan obat

54
3.1.5 Administrasi dan Keuangan
1. Administrasi
Administrasi adalah rangkaian aktivitas pencatatan, pelaporan, pengarsipan
dalam rangka penatalaksanaan pelayanan kefarmasian yang tertib baik untuk
sediaan farmasi dan bahan medis habis pakai maupun pengelolaan resep supaya
lebih mudah dimonitor dan dievaluasi. Administrasi untuk sediaan farmasi dan
bahan medis habis pakai meliputi semua tahap pengelolaan dan pelayanan
kefarmasian, yaitu:
a. Perencanaan
b. Permintaan obat ke instalasi farmasi kabupaten/ kota
c. Penerimaan
d. Penyimpanan mengunakan kartu stok
e. Pendistribusian dan pelaporan menggunakan form LPLPO.
Administrasi untuk resep meliputi pencatatan jumlah resep berdasarkan
pasien (umum, BPJS/JKN, dan UGD), penyimpanan bendel resep harian
secara teratur selama 3 tahun dan pemusnahan resep yang dilengkapi dengan
berita acara. Pengadministrasian termasuk juga untuk: Kesalahan pengobatan
(medication error); Monitoring Efek Samping Obat (MESO); Medication
Record.
2. Keuangan
Laporan keuangan merupakan hasil akhir dari proses akuntansi, yaitu proses
aktivitas pengumpulan dan pengolahan data keuangan untuk disajikan dalam
bentuk laporan keuangan. Proses akuntansi di puskesmas dilakukan sebagai
pencatatan untuk pertanggungjawaban atas penggunaan dana di puskesmas.
Pencatatan transaksi keuangan puskesmas dibuat dan disajikan sesuai dengan
format. Subbagian Tata Usaha dan Keuangan dipimpin satu orang Kepala
Subbagian yang dalam melaksanakan tugasnya berada di bawah dan
bertanggung jawab kepada Kepala Puskesmas. Sub bagian Tata Usaha dan
keuangan mempunyai tugas:
a. Menyusun rencana kerja dan anggaran Subbagian Tata Usaha dan
Keuangan
b. Melaksanakan rencana kerja dan anggaran yang telah ditetapkan

55
c. Menghimpun rencana kerja dan anggaran Seksi dan mengintegrasikannya
dengan rencana kerja dan anggaran Sub bagian Tata Usaha dan Keuangan
menjadi rencana kerja dan anggaran Puskesmas;
d. Melaksanakan pengelolaan kepegawaian, keuangan, perlengkapan,
upacara dinas, surat menyurat dan kearsipan serta keamanan, ketertiban,
kebersihan, pemeliharaan, perawatan dan keindahan Puskesmas;
e. Melaksanakan kegiatan kehumasan dan pemasaran;
f. Melaksanakan monitoring pelaksanaan rencana kerja dan anggaran
Puskesmas;
g. Menghimpun laporan dari Seksi serta Subbagian Tata Usaha dan Keuangan
termasuk laporan keuangan ( realisasi anggaran, neraca, arus kas, catatan
atas laporan keuangan) untuk disusun menjadi laporan Puskesmas;
h. Mengkoordinasikan penyusunan formula pemberian imbalan jasa kepada
pegawai Puskemas;
i. Menghimpun rencana kerja dan anggaran Puskesmas;
j. Melaporkan dan mempertanggungjawabkan pelaksanaan tugas Sub bagian
Tata Usaha dan Keuangan

3.2 UPT Puskesmas Pasundan

3.2.1 Profil UPT Puskesmas Pasundan


UPT Puskesmas Pasundan berlokasi di Jl.Pasundan No.99, Regol, Kota Bandung,
Jawa Barat. UPT Puskesmas Pasundan terletak di Kelurahan Balonggede,
Kecamatan Regol. Luas wilayah 84 Ha (93 RT dan 13 RW) meliputi 2 Kelurahan
yaitu Kelurahan Balonggede dan Kelurahan Pungkur. Jumlah penduduk 19.163
jiwa dengan jumlah KK sebanyak 4.463 dengan masyarakat miskin yang memiliki
BPJS sebanyak 1.756 jiwa. UPT Puskesmas Pasundan memiliki 13 Posbindu dan
16 Posyandu.

3.2.2 Visi dan Misi UPT Puskesmas Pasundan


a. Visi dari UPT Puskesmas Pasundan „Terwujudnya Kota Bandung yang
Unggul, Nyaman, Sejahtera dan Agamis‟.

56
b. Misi dari UPT Puskesmas Pasundan “Membangun Masyarakat yang Humanis,
Agamis, Berkualitas dan Berdaya saing”.

3.2.3 Tujuan UPT Puskesmas Pasundan


Meningkatkan derajat kesehatan masyarakat

3.2.4 Struktur Organisasi UPT Puskesmas Pasundan


Struktur organisasi di UPT Puskesmas Pasundan Kota Bandung terdiri atas:
1. Unsur Pimpinan : Kepala UPT
2. Unsur Pembantu Pimpinan : Kepala Sub Bagian Tata Usaha
3. Pelaksana Tata Usaha : Kepegawaian, Umum dan Rumah Tangga,
Bendahara, Sistem Informasi Kesehatan
4. Kelompok jabatan fungsional : Dokter, Bidan, Perawat, Fungsional Umum,
Farmasi, Kesling, Gizi, Laboratorium.
5. Penatalaksanaan dibagi dalam : Penanggung Jawab Pelayanan Esensial dan
Perkesmas (Promkes, Kesling, KIA, KB,
Kesehatan Anak, Gizi, dan P2P), Penanggung
Jawab Pelayanan UKM Pengembangan
(Kesehatan LANSIA, UKGM, Kesehatan Jiwa,
Kesehatan Kerja, Kesehatan Indera, UKS dan
PKPR), Penanggung Jawab Pelayanan UKP
Kefarmasian dan Lab Klinis, Penanggung
Jawab Pelayanan Puskesmas dan Jaringan
Faskes (Posyandu, Posbindu, Pusling), dan
Farmasi
6. Jumlah Staf di UPT UPT Puskesmas Pasundan
a. Kepala UPT : 1 orang
b. Kepala TU : 1 orang
c. Dokter Umum : 5 orang
d. Dokter Gigi : 3 orang
e. Bidan : 5 orang
f. Perawat : 13 orang
g. Perawat gigi : 3 orang

57
h. Apoteker : 2 orang
i. TTK/Asisten Apoteker : 3 orang
j. Analis : 2 orang
k. Tata Usaha : 7 orang
l. Kesehatan Lingkungan : 1 orang
m. Kesehatan Masyarakat : 1 orang
n. Ahli Gizi : 1 orang
o. Administrasi keuangan : 1 orang
p. Rekam Medis : 2 orang
q. SKM : 3 orang
r. Akuntan : 1 orang
s. Driver ambulance : 1 orang
t. Petugas Kebersihan : 4 orang
u. Satpam : 4 orang

3.2.5 Struktur Organisasi Ruang Pelayanan Kefarmasian


UPT Puskesmas pasundan mempunyai Struktur Organisasi Ruang Pelayanan
Kefarmasian yang dapat dilihat pada (lampiran 1).

3.2.6 Tugas dan Fungsi UPT UPT Puskesmas Pasundan


Puskesmas mempunyai kewajiban untuk mempertanggung jawabkan dan
melaporkan kegiatan yang dilaksanakan dalam kurun waktu satu tahun. Petugas
Puskesmas dalam pelayanan senantiasa berpegang teguh pada Tugas Pokok, Fungsi
dan Kewenangannya sebagaimana diatur dalam Perundang-undangan maupun
Peraturan Pemerintah.

3.2.7 Pelayanan UPT Puskesmas Pasundan


UPT Puskesmas Pasundan memiliki beberapa pelayanan, yaitu:
1. Upaya Pelayanan Kesehatan Perorangan
a) Pelayanan Umum
b) Pelayanan Gigi dan Mulut
c) Pelayanan KIA/KB
d) Pelayanan MTBS
e) Pelayanan Konseling Terpadu

58
f) Pelayanan Farmasi
g) Pelayanan Tuberkulosis
h) Pelayanan Laboratorium
2. Pelayanan Esensial
a) Pelayanan Promosi Kesehatan dan UKS
b) Pelayanan Kesehatan Lingkungan
c) Pelayanan Gigi
d) Pelayanan Gizi
e) Pelayanan Pencegahan dan Pengendalian Penyakit
f) Pelayanan Kesehatan Masyarakat
3. Pelayanan Pengembangan
a) Kesehatan Jiwa
b) Gigi Masyarakat
c) Kesehatan Tradisional Komplementer
d) Kesehatan Olahraga
e) Kesehatan Indera
f) Kesehatan Lansia
g) Kesehatan Kerja
h) Posyandu dan Posbindu
4. Rencana Inovasi Pelayanan di UPT Puskesmas Pasundan
a) SMS PELANGI : Inovasi Pelayanan KIA/KB
b) DEDE SIAGA : Inovasi Pelayanan Gigi dan Mulut
c) SAHABAT COKLAT : Inovasi Pelayanan Farmasi
d) KILAT : Inovasi bagian pendaftaran

3.2.8 Tugas Kerja Tenaga Kefarmasian di UPT Puskesmas Pasundan


1. Apoteker
a. Penyiapan rencana kerja kefarmasian
Menyiapkan rencana kegiatan, membuat kerangka acuan
b. Pengelolaan Sediaan Farmasi dan Bahan Medis Habis Pakai (BMHP)
1) Perencanaan : Mengolah data dan menyusun rencana kebutuhan
jenis sediaan farmasi dan BMHP.

59
2) Permintaan : Melakukan permintaan berdasarkan perencanaan
kebutuhan yang telah ditentukan.
3) Penerimaan : Menerima sediaan farmasi dan BMHP sesuai
dengan bukti fisik dan faktur/LPLPO.
4) Penyimpanan : Mengelompokkan, menyusun dan memeriksa
sediaan farmasi dan bahan medis habis pakai.
5) Pendistribusian : Mengkaji permintaan sediaan farmasi dan bahan
medis habai pakai.
6) Pengendalian : Mengendalikan sediaan farmasi dan bahan medis
habis pakai.
7) Pencatatan dan pelaporan: Membuat laporan internal/eksternal dan
pencatatan sediaan farmasi dan bahan medis habis pakai.
8) Monitoring dan evaluasi: Mengevaluasi dan memonitoring sediaan
farmasi dan bahan medis habis pakai.
c. Pelayanan farmasi/ klinik
1) Dispensing : resep individual
a) Mengkaji resep
b) Meracik obat
c) Memeriksa perbekalan farmasi
d) Menyerahkan perbekalan farmasi
2) Pelayanan informasi obat
3) Konseling obat
4) Konsultasi dengan dokter, perawat dan tenaga kesehatan lainnya,
5) Evaluasi penggunaan obat
6) Pemantauan penggunaan obat
7) Monitoring efek samping obat
8) Menyusun laporan kegiatan farmasi klinik
d. Program khusus sarana pelayanan kesehatan
1) Melakukan penyuluhan dibidang kefarmasian/ kesehatan
2) Mengajar/ melatih/ membimbing yang berkaitan dengan kefarmasian/
kesehatan
2. Tenaga Teknis Kefarmasian

60
a. Penyiapan rencana kerja kefarmasian
Menyiapkan rencana kegiatan, mengumpulkan bahan/data dari berbagai
sumber/acuan
b. Penyiapan pengelolaan alat farmasi
1) Perencanaan : TTK membantu dalam melakukan perencanaan
sediaan farmasi dan BMHP.
2) Permintaan : mengumpulkan data, merekapitulasi data
3) Penerimaan : menerima dan memeriksa sediaan farmasi dan
BMHP
4) Penyimpanan : menyimpan sediaan farmasi dan BMHP
5) Pendistribusian : mendisribusikan sediaan farmasi dan BMHP
6) Pengendalian : mengendalikan sediaan farmasi dan bahan medis
habis pakai.
7) Pencatatan dan pelaporan: membantu apoteker dalam membuat laporan
internal/eksternal dan pencatatan sediaan farmasi dan bahan medis habis
pakai.
8) Monitoring dan evaluasi: mengevaluasi dan memonitoring sediaan farmasi
dan bahan medis habis pakai.

c. Penyiapan pelayanan farmasi/ klinik


1) Dispensing resep individual
 Menerima dan menyeleksi persyaratan administrasi resep
 Menyiapkan obat dan membuat etiket
 Program khusus sarana pelayanan kesehatan
2) Melakukan penyuluhan dibidang kefarmasian/ kesehatan
3) Mengajar/melatih/membimbing yang berkaitan dengan kefarmasian/
kesehatan.

3.2.9 Standar Pelayanan Kefarmasian di UPT Puskesmas Pasundan


Standar Pelayanan Kefarmasian di Puskesmas meliputi :
1. Pengelolaan Sediaan Farmasi dan Bahan Medis Habis Pakai (BMHP)
UPT Puskesmas Pasundan mempunyai tugas pokok melaksanakan pengelolaan
sediaan farmasi dan bahan medis habis pakai (BMHP) yang meliputi:

61
a. Perencanaan
Perencanaan sediaan farmasi dan bahan medis habis pakai (BMHP) di UPT
Puskesmas Pasundan disusun oleh bagian Farmasi. Perencanaan merupakan suatu
kegiatan dalam menseleksi obat dan BMHP untuk menentukan jenis dan jumlah
obat dalam rangka pemenuhan kebutuhan puskesmas.
Tujuan perencanaan:
1. Mendapatkan jenis dan jumlah obat dan BMHP yang mendekati kebutuhan
2. Meningkatkan penggunaan obat secara rasional
3. Meningkatkan efisiensi penggunaan obat
Perencanaan yang dilakukan harus mengacu pada Formularium Nasional (Fornas)
dan Daftar Obat Esensial Nasional (DOEN) berdasarkan Keputusan Menteri
Kesehatan Republik Indonesia No. HK.01.07/MENKES/659/2017.
Perencanaan dibuat dalam bentuk laporan Rencana Kebutuhan Obat (RKO)
tahunan. Perencanaan dilakukan tiap tahuanan atau bulanan.
1. Tahunan
 Instrumen : RKO (Rencanan Kebutuhan Obat)
 Metode : Konsumsi
 Sumber anggaran : Dinas Kesehatan Kota (DAK, APBD 1, APBD 2),
BLUD (Kapitasi, Retribusi, Haji, dll)
2. Bulanan
 Instrumen : Dinas Kesehatan Kota (LPLPO), BLUD (LPLPO
subunit terverifikasi:
 Metode : Konsumsi
 Sumber anggaran : Dinas Kesehatan Kota (DAK, APBD 1, APBD 2),
BLUD (Kapitasi, Retribusi, Haji, dll)
Perencanaan dilakukan dengan menghitung berdasarkan metode konsumsi, yaitu
didasarkan atas analisa data konsumsi obat tahun sebelumnya. Untuk menghitung
jumlah obat yang dibutuhkan UPT Farmasi, dilakukan hal-hal sebagai berikut:
1) Analisa pemakaian obat tahun lalu berdasarkan data penerimaan dan
pengeluaran bulanan, LPLPO, jumlah kunjungan pasien, data penyakit
terbanyak dan stok akhir tahun
2) Menghitung rata-rata pemakaian setiap jenis obat

62
3) Menyususn perkiraan kebutuhan obat disetiap awal pelayanan kesehatan
menggunakan metode konsumsi
4) Penyesuaian jumlah kebutuhan obat dengan alokasi dana
5) Formulir perencanaan yang telah disusun kemudian disahkan oleh kepala
puskesmas dilanjutkan dengan pengajuan ke Dinas Kesehatan Kota melalui
seksi farmasi dan bahan medis habis pakai.
b. Permintaan/Pengadaan
Tujuan dilakukan permintaan/pengadaan sediaan farmasi dan bahan medis habis
pakai untuk memenuhi kebutuhan pengadaan sediaan farmasi dan bahan medis
habis pakai di Puskesmas, sesuai dengan perencanaan kebutuhan yang telah
dibuat. Permintaan/pengadaan diajukan/dilakukan ke Dinas Kesehatan Kota
menggunakan LPLPO dan ke PBF menggunakan Surat Pesanan (SP) dari dana
BLUD.
c. Penerimaan
Kegiatan dalam menerima obat dan BMHP dari Dinas Kesehatan Kota atau PBF
sesuai dengan permintaan yang diajukan atau sesuai dengan surat pesnanan.
1) Penerimaan dari Dinas Kesehatan Kota
 Dokumen Bend 35 : perintah Kepala Dinas → Farmalkes →
Puskesmas yang telah ditantadangani oleh kepala dinas.
 Dokumen Bend 29 : bukti barang keluar gudang → puskesmas dengan
tanda tangan Kepala Dinas, Bagian Gudang Farmasi Dinas kesehatan, dan
pihak puskesmas.
 Berita acara : bukti serah terima barang dari farmalkes →
puskesmas.
 Pemeriksaan : Cek kesesuaian obat (nama, kekuatan, bentuk
sediaan, jumlah, ED, BN).
2) Penerimaan dari PBF dengan dana BLUD
 Dokumen : berita serah terima barang/faktur/surat jalan.
 Pemeriksaan : cek kesesuaian obat (nama, kekuatan, bentuk
sediaan, jumlah, ED, BN).
d. penyimpanan

63
Penyimpanan adalah suatu kegiatan pengaturan terhadap obat obatan yang diterima
agar aman (tidak hilang), terhindar dari kerusakan fisik dan kimia serta tetap
terjamin mutunya. Langkah-langkah penyimpanan yaitu:
1) Periksa dan teliti bentuk kemasan, nomor batch dan kadaluarsa obat dan bahan
medis habis pakai yang diterima dari gudang farmasi Dinas Kesehatan
2) Menyesuaikan jumlah dan jenis bahan medis habis pakai dengan jumlah yang
tertera dalam kolom pemberian LPLPO
3) Apabila pada obat dan bahan medis habis pakai ditemukan kerusakan,
ketidaksesuaian jumlah dan jenis barang, serta telah kadaluarsa, maka petugas
pengelola obat harus mengembalikan barang ke petugas gudang untuk diganti
dengan yang baru.
4) Tulis no batch, tanggal kadaluarsa dan jumlah dari setiap obat dan bahan medis
habis pakai dalam buku penerimaan obat dan kartu stock
5) Sistem penyimpanan sediaan farmasi dan bahan medih habis pakai digudang
farmasi UPT Puskesmas Pasundan dengan cara :
a) Alfabetis, menggunakan sistem first exfired first out (FEFO) dan first in first
out (FIFO)
b) Bentuk sediaan dan jenis sediaan
c) Stabilitas (suhu, cahaya, kelembaban)
d) Farmakologi/kelas terapi
e) LASA (Look a Like Sound a Like): diberikan sekat 1 tempat obat dan diberi
tanda LASA berwarna kuning dan Tall man lettering
f) High Allert (dipisahkan dalam lemari khusus) dan double checking.
g) Mudah tidaknya terbakar/meledak: tempat terpisah
h) Sumber dana: Dinas Kesehatan Kota dan BLUD
i) Simpan obat Narkotika dan Psikotropika dilemari khusus
6) Lengkapi setiap obat dengan kartu stock sebagai kendali
7) Simpan terpisah obat yang sudah rusak dan kadaluarsa
e. Distribusi
Distribusi adalah kegiatan pengeluaran dan penyerahan obat dan bahan medis habis
pakai secara merata dan teratur untuk memenuhi kebutuhan sub unit pelayanan
kesehatan. Langkah-langkah distribusi, meliputi:

64
1) Analisa permintaan obat dan bahan medis habis pakai yang dibutuhkan setiap
sub unit.
a) Untuk loket pelayanan, posyandu, posbindu dan analisa dibuat
berdasarkan data pemakaian sebelumnya dalam buku pengeluaran obat.
b) Untuk loket BP kebutuhan disusun berdasarkan pemakaian harian obat dan
bahan medis habis pakai dalam buku pemakaian harian resep BP
2) Sesuaikan pemberian obat dan bahan medis habis pakai dengan persediaan
yang ada
3) Siapkan obat dan bahan medis habis pakai yang ditentukan
4) Berikan obat dan bahan medis habis pakai
5) Petugas pengelola obat UPT Puskesmas Pasundan dan masing-masing petugas
sub unit saling memeriksa jumlah, jenis, bentuk kemasan, nomor batch, dan
tanggal kadaluarsa obat dan bahan medis habis pakai yang diberikan
6) Catat jumlah obat dan bahan medis habis pakai yang diberikan dibuku
pengeluaran obat atau lembar distribusi obat
7) Simpan obat dan bahan medis habis pakai di masing-masing sub unit.

Pendistribusian di UPT Puskesmas Pasundan dilakukan untuk:


 Loket farmasi ke pasien
 Ruang tindakan
 Sub unit
 Laboratorium
 Posyandu
 Posbindu
 Pusling
 Bakti sosial
f. Pengendalian Obat dan BMHP
Kegiatan untuk memastikan tercapainya sasaran yang diinginkan sesuai dengan
strategi dan program yang telah ditetapkan sehingga tidak terjadi kelebihan dan
kekurangan/kekosongan obat dan bahan medis habis pakai di puskesmas.
Pengendalian obat terdiri dari:
 Pengendalian persediaan

65
 Pengendalian penggunaan
 Penanganan obat hilang, rusak, dan kadaluwarsa.
Pengendalian dapat dilakukan dengan menulis kartu stok setiap dilakukan
penerimaan atau pengeluaran obat dan BMHP serta dilakukan stok opname setiap
bulan.
g. Pencatatan dan Pelaporan
Pencatatan untuk penerimaan dan pengeluaran obat di Puskesmas Pasundan dicatat
di kartu stok. Tujuan pencatatan dan pelaporan adalah tersedianya data mengenai
jenis dan jumlah penerimaan, persediaan, dan pengeluaran. Jenis pencatatan dan
pelaporan dibagian farmasi UPT Puskesmas Pasundan, yaitu:
 LPLPO
 Laporan Narkotika dan Psikotropika
 Persen kinerja POR
 Laporan PIO
 Laporan indikator mutu pelayanan
 MESO
 Ketersediaan obat dan vaksin
 Laporan KPC, KNC, KTD
 Laporan sasaran keselamtan pasien
 FMEA
 Laporan kegiatan farmasi klinik
 Berita acara serah terima kadaluwarsa
 Berita acara pemusnahan resep

2. Pemantauan dan evaluasi yang dilakukan di UPT Puskesmas yaitu


melalui:
a. Laporan Penggunaan Obat Rasional (POR).
Penggunaan obat rasional dapat dilihat dari ICD-10 (International Classification
of Deases), namun di Puskesmas hanya dipilih 3 jenis penyakit yang dilakukan
evaluasi seperti ISPA non-pneumonia (J00, J01, J04, J06, J10, J11), diare
nonspesifik (A09/K52), dan myalgia (M791). Indikator yang digunakan sebagai
evaluasi pengobatan ISPA non-pneumonia dengan penggunaan antibiotik

66
kurang dari 20%, diare nonspesifik penggunaan antibiotik kurang dari 8%,
sedangkan untuk mialgia di evaluasi penggunaan injeksi 0%.
b. Stock Opname
Stoke opname dilakukan untuk emmastikan kebenaran atau kesesuaian bukti
fisik dan catatan/kartu stok. Stoke opname di UPT Puskesmas Pasundan
dilakukan setiap akhir bulan baik pada loket maupun pada gudang farmasi.

3. Pelayanan farmasi klinik


Pelayanan farmasi klinik meliputi :
a. Pengkajian dan Pelayanan Resep
Obat yang telah diserahkan pasien ke bagian farmasi kemudian dilakukan
pengkajian resep. Kegiatan pengkajian resep dimulai dari seleksi persyaratan
administrasi, persyaratan farmasetik dan persyaratan klinis baik untuk pasien
rawat inap maupun rawat jalan.
Persyaratan administrasi meliputi:
1. Nama, umur, jenis kelamin dan berat badan pasien.
2. Nama, dan paraf dokter.
3. Tanggal resep.
4. Ruangan/unit asal resep.
Persyaratan farmasetik meliputi:
1. Bentuk dan kekuatan sediaan.
2. Dosis dan jumlah Obat.
3. Stabilitas dan ketersediaan.
4. Aturan dan cara penggunaan.
5. Inkompatibilitas (ketidakcampuran Obat).
Persyaratan klinis meliputi:
1. Ketepatan indikasi, dosis dan waktu penggunaan Obat.
2. Duplikasi pengobatan.
3. Alergi, interaksi dan efek samping Obat.
4. Kontra indikasi.
5. Efek adiktif.

67
Setelah pengkajian dilakukan kemudian dibuat etiket dan disiapkan obat sesuai
dengan resep. Jika ada ketidaksesuaian resep dengan aturan pakai ataupun
dosis, maka dilakukan konfirmasi ke dokter. Konfirmasi dilakukan oleh
Apoteker atau TTK. Obat yang telah disiapkan kemudian diserahkan ke pasien.
Kegiatan Penyerahan (Dispensing) dan Pemberian Informasi Obat merupakan
kegiatan pelayanan yang dimulai dari tahap menyiapkan/meracik Obat,
memberikan label/etiket, menyerahan sediaan farmasi dengan informasi yang
memadai disertai pendokumentasian.
Cara penyerahan obat di bagian pelayanan farmasi UPT Puskesmas Pasundan,
yaitu:
 Proses mengidentifikasi pasien dengan cara memanggil nama pasien,
konfirmasi dengan menanyakan tanggal lahir pasien, untuk memastikan
apakah resep tersebut memang milik pasien yang dipanggil.
 Tanyakan apakah pasien menggunakan BPJS atau umum saat pendaftaran,
hal itu dilakukan untuk memudahkan perekapan resep.
 Beri informasi obat kepada pasien/keluarga pasien
b. Pelayanan Informasi Obat
Pelayanan informasi obat (PIO) adalah kegiatan penyediaan dan pemberian
informasi, rekomendasi obat independent, akurat, komperehensif, terkini oleh
apoteker kepada pasien, tenaga kesehatan, masyarakat maupun pihak yang
memerlukan. Tujuan dari PIO adalah menyediakan dan memberikan obat kepada
pasien, tenaga kesehatan dan pihak lain utnuk meningkatkan mutu pelayanan
kefarmasian, sasaran informasi obat.
Informasi obat yang disampaikan saat penyerahan, yaitu:
 Jumlah obat yang didapatkan pasien.
 Nama obat, dosis obat, dan indikasi obat yang didapatkan pasien.
 Aturan pakai obat, missal 3 x sehari maka disampaikan bahwa obat harus
diminum setiap 8 jam. Obat harus diminum sebelum/sesudah makan.
Antibiotic harus diminum sampai habis.
 Terapi non farmakologi
 Penyimpanan obat.

68
 Pengulangan resep atau jika keluhan belum sembuh maka dapat kembali
menghubungi dokter.
Metode PIO yang dilakukan di UPT Puskesmas Pasundan, yaitu:
a. Metode langsung: berhadapan langsung dengan pasien individual/kelompok.
b. Metode Tidak Langsung: Media cetak (brosur, leaflet, pamphlet, banner),
audio (pengeras suara, radio), visual (tv,video).
Kegiatan nyata yang dilakukan di UPT Puksesmas Pasundan: PIO, Penyuluhan
kelompok luar ataupun dalam gedung, pembagian media cetak, penayangan
video DAGUSIBU, dll. Hal tersebut merupakan salah satu inovasi SAHABAT
(Sampaikan Informasi Obat).
c. Konseling
Konseling merupakan suatu proses untuk mengidentifikasi dan penyelesaian
masalah pasien yang berkaitan dengan penggunaan obat pasien rawat jalan
ataupun rawat inap, serta keluarga pasien. Untuk mengawali konseling, apoteker
menggunakan sistem three prime questions. Dan apoteker harus melakukan
verifikasi bahwa pasien atau keluarga pasien sudah memahami obat yang
digunakan. Tahap kegiatan konseling :
1) Membuka komunikasi antara apoteker dengan pasien
2) Menilai pemahaman pasien tentang penggunaan obat melalui thrree prime
questions.
3) Menggali informasi lebih lanjut dengan memberi kesempatan kepada pasien
untuk mengeksplorasi masalah penggunaan obat.
4) Memberikan penjelasan kepada pasien untuk menyelesaikan masalah
penggunaan obat.
5) Melakukan verifikasi akhir untuk memastikan pemahaman pasien.
Konseling dibagian farmasi sering dilakukan oleh Apoteker diruang khsuus
konseling, setiap konseling kepada pasien maka semua data dicatat dan
didokumentasikan.
d. Monitoring Efek Samping Obat (MESO)
MESO merupakan kegiatan pemantauan setiap respon terhadap obat yang
merugikan atau tidak diharapkan yang terjadi pada dosis normal yang digunakan

69
pada manusia untuk tujuan profilaksis, diagnosis dan terapi atau memodifikasi
fungsi fisiologis. Kegiatan:
1) Mengidentifikasi obat dengan pasien yang mempunyai resiko tinggi
mengalami efek samping obat.
2) Mengisi formulir monitoring efek samping obat (MESO).
3) Melaporkan ke pusat monitoring efek samping obat nasional.
e. Evaluasi Penggunaan Obat
Evaluasi Penggunaan Obat (EPO) adalah suatu proses jaminan mutu yang
terstruktur, dilaksanakan terus-menerus, ditujukan untuk memastikan bahwa
obat-obatan digunakan dengan tepat, aman, dan efektif. Dalam lingkungan
pelayanan kesehatan, penggunaan obat yang ekonomis harus juga diberikan
prioritas tinggi dan karena itu, menjadi suatu komponen dari definisi ini, definisi
EPO diatas difokuskan pada penggunaan obat secara kualitatif. Sasaran EPO
secara umum adalah sebagai berikut:
1) Mengadakan Pengkajian penggunaan obat yang efisien dan terus menerus
2) Meningkatkan pengembangan standar penggunaan terapi obat
3) Mengidentifikasi bidang yang perlu untuk materi edukasi berkelanjutan
4) Meningkatkan kemitraan antarpribadi professional pelayanan kesehatan
5) Menyempurnakan pelayanan pasien yang diberikan
6) Mengurangi resiko tuntutan hukum pada rumah sakit
7) Mengurangi biaya perawatan pasien sebagai akibat dosis akurat, efek
samping yang lebih sedikit, dan waktu hospitalisasi yang lebih singkat.
Jaminan mutu mendorong suatu perspektif solusi masalah untuk meningkatkan
pelayanan pasien. Untuk solusi permasalahan yang dihadapi sangatlah penting,
unsur-unsur dasar berikut yang harus diperhatikan:
1) Kriteria / standar penggunaan obat, dalam penggunaan obat harus yang dapat
diukur (standar) yang menguraikan penggunan obat yang tepat.
2) Mengidentifikasi masalah penting dan yang mungkin, memantau dan
menganalisis penggunaan obat secara terus menerus, direncanakan secara
sistematik untuk mengidentifikasi masalah nyata atau masalah yang mungkin.
Secara ideal, kegiatan ini sebaiknya diadakan secara prospektif
3) Menetapkan prioritas untuk menginvestigasi dan solusi masalah.

70
4) Mengkaji secara objektif, penyebab, dan lingkup masalah dengan
menggunakan kriteria yang absah secara klinik
5) Solusi masalah.
6) Mencanangkan dan menerapkan tindakan untuk memperbaiki atau meniadakan
masalah.
7) Memantau solusi masalah dan keefektifan.
8) Mendokumentasi serta melaporkan secara terjadwal temuan, rekomendasi,
tindakan yang diambil, dan hasilnya. Tindakan yang diambil dapat berupa
pengaturan atau edukasi yang cocok dengan keadaan dan kebijakan
Puskesmas.
Antara Apoteker dan Dokter diperlukan kerjasama untuk memastikan penggunaan
obat yang optimal, tanggung jawab melaksanakan proses EPO secara khas
didelegasikan pada suatu komite dari staf medik. UPT Puskesmas Pasundan
melaksanakan Evaluasi Penggunaan Obat, penyakit yang dimonitoring evaluasi
penggunaan obatnya terdiri dari tiga diagnosa, yaitu: Diare non spesifik (A09),
Myalgia (M791), ISPA non pneumonia (J06).

71
BAB IV TUGAS KHUSUS

4.1 Tugas Khusus 1 “Penyuluhan”

Menurut permenkes nomor 74 tahun 2016 tentang standar pelayanan di puskesmas


upaya kesehatan adalah setiap kegiatan untuk memelihara dan meningkatkan
kesehatan, bertujuan untuk mewujudkan derajat kesehatan yang optimal bagi
masyarakat. Puskesmas merupakan fasilitas pelayanan kesehatan dasar yang
menyelenggarakan upaya kesehatan pemeliharaan, peningkatan kesehatan
(promotif), pencegahan penyakit (preventif), penyembuhan penyakit (kuratif), dan
pemulihan kesehatan (rehabilitatif), yang dilaksanakan secara menyeluruh, terpadu,
dan berkesinambungan. Konsep kesatuan upaya kesehatan ini menjadi pedoman
dan pegangan bagi semua fasilitas pelayanan kesehatan di Indonesia termasuk
Puskesmas.
Salah satu upaya kesehatan masyarakat di puskesmas yaitu dilakukannya
penyulahan kepada pasien dengan memberikan informasi guna meningkatkan
kesejahteraan kesehatan masyarakat dalam bentuk pencegahan, pengobatan
ataupun upaya pemeliharaan kesehatan.
Penyuluhan yang disampaikan pada kesempatan ini yaitu mengenai mitos dan
fakta Bakteri dengan Virus yang menjelaskan kepada masyarakat mitos apa saja
yang beredar mengenai infeksi virus, infeksi bakteri, bagaimana cara pengobatan
bila terinfeksi virus dan terinfeksi bakteri agar tidak terjadi kesalahan pengobatan
yang dilakukan oleh masyarakat itu sendiri dan germas agar masyarakat dapat
terhindar dari infeksi bakteri/virus

72
73
Diharapkan pelaksanaan upaya kesehatan penyuluhan ini berperan penting dalam
meningkatkan mutu dan kesadaran kesehatan bagi masyarakat. Pelayanan
Kefarmasian di Puskesmas harus mendukung tiga fungsi pokok Puskesmas, yaitu
sebagai pusat penggerak pembangunan berwawasan kesehatan, pusat
pemberdayaan masyarakat, dan pusat pelayanan kesehatan strata pertama yang
meliputi pelayanan kesehatan perorangan dan pelayanan kesehatan masyarakat.

74
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN

1.1. Kesimpulan
Dari hasil praktek kerja profesi apoteker (PKPA) di dinas kesehatan kota Bandung
dan UPT Puskesmas Pasundan dapat disimpulkan bahwa:
1. Peran, fungsi dan tanggung jawab apoteker dalam praktek pelayanan
kefarmasian di Dinas Kesehatan, meliputi: aspek pelayanan yaitu aspek
manajerial, teknik kefarmasian serta pembinaan dan pengawasan.
2. Apoteker di Puskesmas melaksanakan peran dan tanggung jawab sesuai dengan
standar pelayanan kefarmasian yaitu meliputi pengelolaan perbekalan farmasi
dan BMHP, pelayanan farmasi klinis terhadap pasien, serta pengawasan dan
pembinaan sarana kesehatan.
3. Setelah melakukan Praktek Kerja Profesi Apoteker di Dinas Kesehatan Kota
Bandung dan UPT Puskesmas Pasundan calon apoteker mendapatkan
pengalaman dan ilmu dalam pelayanan farmasi (pelayanan produk, farmasi
klinik/komunitas, pendidikan).

1.2. Saran

1. Penyimpanan dokumen disimpan lebih terstruktur dan ditempatkan pada tempat

khusus agar tertata dan memudahkan pada saat pencarian

2. Kartu stock pada obat blud/dkk dibedakan untuk meminimalisir kesalahan pada

saat pencatatan dan Penyimpanan obat blud dan dkk dipisahkan

3. Pemasangan alat komunikasi (telepon) diruang farmasi untuk memudahkan

komunikasi dengan dokter terkait pengobatan pada pasien pada resep

4. Terdapat loker untuk penyimpanan barang khusus pegawai

5. Memiliki data resistensi/alergi obat pada pasien

6. Ruang konseling hendaknya dipisahkan dengan ruang lainnya

75
DAFTAR PUSTAKA

Bagian Organisasi dan Pemberdayaan Aparatur Daerah Setda Kota Bandung, 2016,
Peraturan Walikota Bandung Nomor 1381 tahun 2016.Tentang Kedudukan,
susunan organisasi, tugas dan Fungsi serta tata kerja dinas kesehatan kota
bandung, Bandung.
Departemen Kesehatan Republik Indonesia, 2009, Undang-Undang Republik
Indonesia No. 35 tentang Narkotika, Jakarta.
Departemen Kesehatan Republik Indonesia, 2009. Peraturan Pemerintah Republik
Indonesia Nomor 51 Tahun 2009 tentang Pekerjaan Kefarmasian, Jakarta.
Departemen Kesehatan Republik Indonesia, 2009. Undang-Undang Republik
Indonesia Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan, Jakarta.
Kementrian Kesehatan Republik Indonesia, 2012, Peratuaran Kepala Badan
Pengawas Obat dan Makanan Republik Indonesia No HK.
03.1.23.04.12.2205 tentang Pedoman Pemberian Sertifikat Produksi Pangan
Industri Rumah Tangga.
Kementrian Kesehatan Republik Indonesia, 2014. Peraturan Menteri Kesehatan
Republik Indonesia Nomor 74 Tahun 2016. Tentang Standar Pelayanan
Kefarmasian di Puskesmas, Jakarta.
Kementrian Kesehatan Republik Indonesia, 2014. Peraturan Menteri Kesehatan
Republik Indonesia No. 30 Tahun 2014 tentang Standar Pelayanan
Kefarmasian di Puskesmas. Jakarta.
Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor
HK.01.07/Menkes/659/2017 Tentang Formularium Nasional
Peraturan BPOM No. 22 Tahun 2018 tentang Pedoman Pemberian Sertifikat
Produksi Pangan Industri Rumah Tangga
Peraturan Daerah Kota Bandung Nomor 13 Tahun 2007 tentang Pembentukan dan
Susunan Organisasi Dinas Daerah Kota Bandung.
Peraturan Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan No. 4 tahun 2018. Tentang
Pengelolaan Obat, Bahan Obat, Narkotik, Psikotropik dan Prekursor
Farmasi di Fasilitas Pelayanan Kefarmasian. Jakarta.
Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No. 75 tahun 2014 tentang Pusat
Kesehatan Masyarakat. Jakarta.
Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 3 Tahun 2015 Tentang
Peredaran, Penyimpanan, Pemusnahan dan Pelaporan Narkotik, Psikotropik
dan Prekursor Farmasi. Jakarta.
Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 73 Tahun 2016 Tentang
Standar Pelayanan Kefarmasian di Apotek. Jakarta.
Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No. 38 tahun 2007 tentang Pembagian
Urusan Pemerintahan antara Pemerintah, Pemerintah Daerah Propinsi dan
Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota. Jakarta.
Peraturan Presiden Republik Indonesia No. 16 tahun 2018 tentang Pengadaan
Barang/jasa Pemerintah. Jakarta.

76
LAMPIRAN

Lampiran 1 Struktur Organisasi Ruang Pelayanan Kefarmasian

Penanggung Jawab
Dr. Siti Nurhasijati Ningsih

Apoteker Penanggung Jawab Apoteker Pendamping


Sani Nuraeni, S. Farm., Apt Khairunnisa Fadhilah, S. Farm., apt

Tenaga Teknis Kefarmasian


1. Gina Nurhadijah, S. Farm
2. Dini Nupia Fitriani, A. Md. Farm
3. Leni Komala Awalina, S. Si

77
Lampiran 2 Denah/Lokasi Puskesmas Pasundan

78
Lampiran 3 Contoh Kartu Stok Gudang

79
Lampiran 4 Contoh Kartu Stok Ruangan/Rak Obat

80
Lampiran 5 Lembar Rekap Penggunaan Obat Harian

81
Lampiran 6 Alur Pelayanan di UPT Puskesmas Pasundan

82
Lampiran 7 Contoh LPLPO

83
Lampiran 8 Contoh Bend 35

84
Lampiran 9 Contoh Bend 29

85
Lampiran 10 Contoh Berita Acara

86
87