Anda di halaman 1dari 6

Tatalaksana Syok Kardiogenik

Syok kardiogenik adalah suatu keadaan emergensi yang membutuhkan


penatalaksanaan segera sebelum terjadi kerusakan ireversibel pada organ vital.
 Tatalaksana Awal Syok Kardiogenik
Penatalaksanaan awal mencakup pemberian oksigen, resusitasi cairan
untuk koreksi hipovolemia dan hipotensi, kecuali adanya edema paru, diikuti
dengan pemberian segera medikamentosa seperti vasopresor dan inotropik untuk
mempertahankan tekanan darah dan curah jantung. Tata laksana awal ini dapat
diingat dengan singkatan VIP:
 V (ventilasi): pemberian oksigen
 I (infus): terapi cairan
 P (pompa): pemberian obat vasoaktif
Pasien harus dirawat di ruang intensif (seperti ICU, bangsal katerisasi
jantung, atau transfer ke rumah sakit tersier). Cari dan atasi penyebab syok. Jika
syok diakibatkan oleh infark miokard, lakukan revaskularisasi awal pada pasien
dengan syok kardiogenik akibat infark miokard.
Pasien syok kardiogenik juga memerlukan koreksi elektrolit, hipoglikemia
dan gangguan asam-basa. Pemasangan akses sentral dapat diperlukan untuk
resusitasi cairan, mendapatkan akses vaskular untuk infus berulang, dan
pemantauan tekanan vena sentral. Pemasangan arterial line digunakan untuk
memantau tekanan darah secara kontinu, terutama pada pasien yang mendapatkan
obat inotropik.

 Tatalaksana Sebelum di Rumah Sakit / Pre-hospital


Tata laksana sebelum mencapai rumah sakit bertujuan untuk menghindari
terjadinya iskemia dan syok lebih lanjut. Lakukan pemasangan jalur intravena
disertai dengan pemberian oksigen aliran tinggi dengan menggunakan masker.
Perlu juga dilakukan pemantauan kardiak pada pasien. Lakukan EKG 12 sadapan
untuk menilai adanya STEMI sehingga bisa menurunkan waktu pintu ke PCI
dan/atau pemberian trombolitik saat di rumah sakit. Berikan ventilasi tekanan
positif jika diperlukan.

 Tatalaksana di Rumah Sakit


1. Resusitasi Cairan dan Ventilasi
Semua pasien dengan syok kardiogenik perlu resusitasi cairan untuk
memastikan adanya beban awal yang cukup, bantuan ventilasi dan pemantauan
ketat hemodinamik. Resusitasi cairan untuk koreksi hipovolemia dan hipotensi,
kecuali jika ada edema paru. Berikan infus cairan normal saline (NS) 20 – 30
mL/kg selama 30 menit dengan target tekanan vena sentral 8 – 12 mmg atau
perfusi membaik. Pertimbangkan pemasangan jalur vena sentral dan jalur di arteri
jika diperlukan.
Oksigenasi dan proteksi jalur nafas. Apabila perlu, lakukan intubasi dan
ventilasi mekanik. Ventilasi tekanan positif dapat memperbaik oksigenasi, namun
dapat mengganggu beban awal dan aliran balik vena. Berikan oksigen aliran
tinggi.

2. Medikamentosa pada Sindrom Koroner Akut


Pasien dengan sindrom koroner akut atau infark miokard diberikan aspirin
dan heparin. Berikan klopidogrel hanya setelah melakukan angiografi. Inhibitor
glikoprotein IIb/IIIa diberikan pada syok kardiogenik jika terdapat NSTEMI.

3. Mengamati Sirkulasi Hemodinamik dan Mekanik


Obat-obatan inotropik dan/atau vasopresor berguna pada pasien dengan
perfusi jaringan dan volume intravaskular yang tidak adekuat, dengan
tujuan mean arterial pressure (MAP) dipertahankan pada 60-65 mmHg (tekanan
yang diperlukan untuk mempertahankan perfusi renal dan splanchnic).
Parameter hemodinamik dapat diperbaiki menggunakan bantuan dari
sirkluasi mekanik. Beberapa alat yang dapat digunakan:
 Pompa balon intraaorta / intra-aortic balloon pump (IABP)
 Veno-arterial extracorporeal membrane oxygenation (ECMO)
 Pompa Impella
 Alat Tandem Heart
Perbedaan dari alat-alat ini adalah rute insersi (perkutan atau
pembedahan), efek pada bilik jantung (menyokong ventrikel kanan, kiri atau
keduanya) dan kemampuan untuk dikombinasikan dengan ECMO.

4. Pemberian Obat-obatan Vasopresor


Penggunaan vasopresor sebaiknya dengan dosis serendah dan durasi
sesingkat mungkin karena vasopresor meningkatkan kebutuhan oksigen jantung
dan menyebabkan vasokonstriksi yang dapat menganggu mikrosirkulasi dan
perfusi jaringan.
1. Dopamin
Dopamin adalah prekursor dari norepinefrin dan epinefrin. Efek yang
ditimbulkan tergantung dari dosis:
 Dosis < 5 mcg/kg/min menyebabkan vasodilatasi pembuluh darah ginjal,
mesentrik dan koroner
 Dosis 5 – 10 mcg/kg/min menyebabkan efek beta adrenergik: peningkatan
kontraktilitas jantung dan laju nadi
 Dosis > 10 mcg/kg/min menyebabkan efek alfa adrenergik: vasokonstriksi
arteri dan peningkatan tekanan darah
Dopamin dianjurkan jika tekanan darah sistolik >80 mmHg, umumnya
diberikan pada dosis 5-10 mcg/kg/min kemudian dititrasi sesuai tekanan darah
dan parameter hemodinamik lainnya. Sering kali pasien membutuhkan dosis
tinggi mencapai 20 mcg/kg/min.
Hati-hati dengan risiko efek samping berupa takikardia,
peningkatan shunting di paru, penurunan perfusi splanchnic dan peningkatan
tekanan PCWP. Jika hipotensi menetap, berikan vasokonstriktor direk seperti
norepinefrin.
2. Norepinefrin
Norepinefrin adalah agonis alfa-adrenergik yang poten, dengan efek
agonis beta-adrenergik yang sedikit. Norepinefrin adalah drug of choice untuk
memperbaiki kontraktilitas jantung pada pasien dengan hipotensi.
Norepinefrin dapat meningkatkan tekanan darah pada pasien dengan
hipotensi menetap walaupun sudah diberikan dopamin. Berikan norepinefrin
dengan dosis awal 0,5 mcg/kg/min dan titrasi untuk mempertahankan tekanan
darah rerata 60 mmHg. Dosis norepinefrin: 0,2 – 1,5 mcg/kg/min.

3. Epinefrin
Epinefrin adalah agonis dari reseptor alfa-1, beta-1 dan beta-2 yang
bekerja meningkatkan MAP dengan meningkatkan indeks kardiak, isi sekuncup,
laju nadi dan tahanan vaskular sistemik. Walau demikian, obat ini berpotensi
menyebabkan efek samping berupa penurunan aliran darah splanchnic,
peningkatan kebutuhan oksigen, peningkatan kadar laktat, serta aritmia dan
iskemia miokard. Penggunaan epinefrin hanya direkomendasikan untuk pasien
yang tidak responsif terhadap agen lainnya.

4. Obat Inotropik: Dobutamin


Dobutamin adalah agonis reseptor beta-1 (agen simpatomimetik) dan
mempunyai efek kecil terhadap reseptor beta-2 dan reseptor alfa, dapat diberikan
bersamaan dengan norepinefrin untuk memperbaiki kontraktilitas jantung. Dosis:
2 – 20 mcg/kg/min.
Dobutamin menurunkan curah jantung karena ada efek inotropik dan
menyebabkan vasodilatasi perifer (beban akhir menurun). Pada infark miokard,
dobutamin dapat meningkatkan area infark karena meningkatkan kebutuhan
oksigen. Penggunaan dobutamin tidak disarankan pada hipotensi berat (tekanan
darah sistolik > 80 mmHg) akibat efek vasodilatasi perifer yang dapat
memperparah hipotensi. Dobutamin juga berpotensi menyebabkan terjadinya
takikardia.
5. Revaskularisasi
Pada pasien dengan syok kardiogenik dan infark miokard, revaskularisasi
harus dilakukan sedini mungkin. Pasien dengan infark miokard akut dan usia < 75
tahun harus ditransfer ke pusat kesehatan yang dapat melakukan angiografi dan
revaskularisasi.
American Heart Association (AHA) dan European Society of
Cardiology (ESC) merekomendasikan revaskularisasi sedini mungkin dengan
intervensi korner perkutan (PCI) atau bypass arteri koroner (CABG), tergantung
dari anatomi pembuluh koroner dan respon terhadap PCI. Belum ada cukup
penelitian mengenai PCI vs CABG, sampai saat ini hasil penelitian menemukan
angka mortalitas yang hampir sama. Namun praktik standar adalah dengan PCI.
1. Terapi Fibrinolitik
Menurut AHA, pasien syok kardiogenik dengan STEMI dapat diberikan
terapi fibrinolitik jika tidak bisa dilakukan revaskularisasi invasif. Pertimbangkan
keuntungan dari reperfusi, risiko perdarahan dan antisipasi waktu menunda
angiografi.
2. Revaskularisasi Invasif
AHA dan ESC merekomendasikan revaskularisasi invasif pada pasien
dengan syok kardiogenik akibat sindrom koroner akut, termasuk pasien dengan
perubahan status mental atau dengan riwayat fibrinolisis sebelumnya dan tidak
mempertimbangkan waktu dari onset infark miokard. Pada syok kardiogenik dan
infark miokard dengan gangguan pada pembuluh darah multipel atau gangguan
pada arteri koroner kiri, revaskularisasi dengan PCI atau CABG. AHA
merekomendasikan PCI jika memungkinkan.
3. Medikamentosa Antitrombotik dan Antiplatelet
Pemberian terapi antitrombotik (meliputi antiplatelet dan antikoagulan)
adalah penting pada PCI. Ventilasi mekanik dan ketidakmampuan untuk menelan
berperan dalam bioavibilitas obat antitrombotik. Pada pasien dengan syok
kardiogenik tanpa adanya komplikasi pendarahan yang serius dapat melanjutkan
terapi dual antiplatelet (aspirin & ticagrelor atau klopidogrel) setelah PCI. Saat
PCI, pemberian antikoagulan adjuvan seperti unfractioned heparin, low-
molecular-weight heparin, inhibitor trombin direk sebaiknya diberikan bersamaan
dengan antiplatelet.

6. Melakukan Perawatan Pada Pasien dengan Sindrom Koroner Akut


Penggunaan penghambat beta dan inhibitor enzim angiotensin-
converting (ACE) harus lebih hati-hati untuk mencegah terjadinya hipotensi yang
dapat menyebabkan syok kardiogenik. Penghambat beta dapat mulai diberikan
jika pasien sudah euvolemik, tidak menggunakan vasopresor selama 24 jam dan
fungsi ginjal sudah kembali normal. Penggunaan inhibitor ACE bersamaan
dengan vasodilator dapat digunakan pada pasien dengan edema paru. AHA
merekomendasikan pemberian statin pada pasien dengan syok kardiogenik akibat
infark miokard.

DAPUS
Medscape. reference.medscape.com. [Online]. Available from:
https://emedicine.medscape.com/article/152191-overview (diakses tanggal 13
Mei 2020).
Thiele H, Ohman EM, Desch S, Eitel I, de Waha S. Management of cardiogenic
shock. Eur Heart J. 2015;36(20):1223–30.
Van Diepen S, Katz JN, Albert NM, Henry TD, Jacobs AK, Kapur NK, et al.
Contemporary management of cardiogenic shock: a scientific statement from
the American Heart Association. Circulation. 2017;136(16):e232–68.
Szymanski FM, Filipiak KJ. Cardiogenic shock – diagnostic and therapeutic
options in the light of new scientific data. Anaesthesiol Intensive Ther.
2014;46(4):301-6.