Anda di halaman 1dari 15

LAPORAN PENDAHULUAN ASUHAN KEPERAWATAN

PADA PASIEN DENGAN PNEUMONIA

A. PENGERTIAN
Pneumonia adalah peradangan yang mengenai parenkim paru, distal dari bronkiolus terminalis
yang mencakup bronkiolus respiratorius, dan alveoli, serta menimbulkan konsolidasi jaringan paru
dan gangguan pertukaran gas setempat. Pneumonia adalah proses infeksi akut yang mengenai
jaringan paru-paru atau alveoli (Nurarif dan Kusuma, 2016).
Pneumonia adalah penyakit inflamasi pada paru yang dicirikan dengan adanya konsolidasi akibat
eksudat yang masuk dalam area alveoli. Pneumonia adalah proses inflamasi dari parenkim paru yang
umumnya disebabkan oleh terpapar infeksius. Pneumonia adalah keadaan akut pada paru yang
disebabkan oleh karena infeksi atau iritasi sihingga alveoli terisi oleh eksudat peradangan (Riyandi,
2010).
Jadi, dapat disimpulkan bahwa pneumonia adalah salah satu penyakit peradangan akut
parenkim paru yang biasanya dari suatu infeksi saluran pernafasan bawah akut (ISNBA)
dengan gejala batuk dan disertai dengan sesak nafas yang disebabkan agen infeksius seperti
virus, bakteri, mycoplasma (fungi), dan aspirasi substansi asing, berupa radang paru-paru
disertai eksudasi dan konsolidasi dan dapat dilihat melalui gambaran radiologis.

B. TANDA DAN GEJALA


Menurut Misnadiarly 2008, tanda dan gejala pneumonia secara umum dapat dibagi
menjadi:
1. Manifestasi nonspesifik infeksi dan toksisitas berupa demam, sakit kepala, iritabel,
gelisah, malaise, nafsu makan kurang, keluhan gastrointestinal.
2. Gejala umum : demam, sesak napas, nadi berdenyut lebih cepat, dan dahak berwarna
kehijauan seperti karet.
3. Tanda pneumonia berupa retraksi (penarikan dinding dada bagian bawah ke dalam saat
bernapas bersama dengan peningkatan frekuensi napas), perkusi pekak, fremitus
melemah, suara napas melemah, dan ronchi
4. Tanda efusi pleura atau empiema berupa gerak ekskursi dada tertinggal di daerah efusi,
perkusi pekak, fremitus melemah, suara napas melemah, suara napas tubuler tepat di atas
batas cairan, friction rub, nyeri dada karena iritasi pleura (nyeri berkurang bila efusi
bertambah dan berubah menjadi nyeri tumpul), kaku kuduk/meningismus (iritasi
meningen tanpa inflamasi) bila terdapat iritasi pleura lobus atas, nyeri abdomen (kadang
terjadi bila iritasi mengenai diafragma pada pneumonia lobus kanan bawah).
5. Tanda infeksi ekstrapulmonal
C. POHON MASALAH
Jamur
Virus Bakteri

Masuk saluran
pernafasan

Paru-paru

Bronkus dan Alveoli

Menganggu kerja
makrofag

Resiko penyebaran Infeksi


infeksi
Peradangan atau
Reseptor nyeri: inflamasi
Histamine,
Prostaglandin,
Bradikinin Difusi gas antara
Odema Produksi secret
O2 dan CO2 di
meningkat
alveoli
Nyeri Akut Dispnea terganggu
Batuk
Kapasitas
Kelelahan transportasi
Pola Napas Penekanan O2 menurun
Nadi lemah Tidak Efektif diagfragma
Gangguan
Bersihan Jalan Napas Peningkatan Pertukaran
Defisit Perawatan Diri Penurunan
tekanan intra Gas
aktivitas Tidak Efektif
abdomen

Nutrisi Sesak nafas


Peningkatan Anureksia Saraf pusat
berkurang
metabolisme
Gelisah

Defisit Nutrisi Gangguan Istirahat Sulit tidur


Pola Tidur terganggu
D. PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK
1. Sinar X : mengidentifikasi distribusi structural (missal : lobar, bronchial) dapat juga
menyatakan abses
2. Biopsi paru : untuk menetapkan diagnosis
3. Pemeriksaan gram/kultur, sputum dan darah : untuk dapat mengidentifikasi semua
organism yang ada
4. Pemeriksaan serologi : membantu dalam membedakan diagnosis organism khusus
5. Pemeriksaan fungsi paru : untuk mengetahui paru – paru, menetapkan luas berat penyakit
dan membantu diagnosis keadaan
6. Spirometrik static : untuk mengkaji jumlah udara yang diaspirasi
7. Bronkostopsi : untuk menetapkan diagnosis dan mengangkat benda asing

E. PENATALAKSANAAN MEDIS
Klien diposisikan dalam keadaan semi fowler dengan sudut 45o. Kematian sering kali
berhubungan dengan hipotensi, hipoksia, aritmia kordis, dan penekanan susunan saraf pusat,
maka penting untuk dilakukan pengaturan keseimbangan cairan elektrolit dan asam-basa
dengan baik, pemberian O2 yang adekuat untuk menurunkan perbedaan O2 di alveoli-arteri,
dan mencegah hipoksia seluler. Pemberian O2 sebaiknya dalam konsentrasi yang tidak
beracun untuk mempertahankan PO2 arteri sekitar 60-70 mmHg dan juga penting mengawasi
pemeriksaan analisa gas darah.
Pemberian cairan intravena IV line dan pemenuhan hidrasi tubuh untuk mencegah
penurunan dan volume cairan tubuh secara umum. Bronkodilator seperti aminofilin dapat
diberikan untuk memperbaiki drainase secret dan distribusi ventilasi. Kadang-kadang
mungkin timbul dilatasi lambung mendadak, terutama jika pneumonia mengenai lobus
bawah yang dapat menyebabkan hipotensi. Jika hipotensi terjadi, segera atasi hiposekmia
arteri dengan cara memperbaiki volume intravascular dan melakukan dekompresi lambung.
Kalau hipotensi tidak dapat diatasi, dapat dipasang kateter Swan-Ganz dan infus Dopamin.
Bila perlu dapat diberikan analgesic untuk menyatasi nyeri pleura.
Pemberian antibiotic terpilih seperti Penisilin diberikan secara intramuscular 2 x 600.000
unit sehari. Penisilin diberikan selama sekurang-kurangnya seminggu sampai klien tidak
mengalami sesak napas lagi selama tiga hari dan tidak ada komplikasi lain. Klien dengan
abses paru dan empyema memerlukan antibiotic lebih lama. Untuk klien yang alergi terhadap
penisilin dapat diberikan eritromisin. Tetrasiklin jarang digunakan untuk pneumonia karena
banyak yang resisten.
Pemberian sefalosporin harus hati-hati untuk klien yang alergi terhadap penisilin karena
dapat menyebabkan alergi hipersensitif silang terutama dari tipe alafilaksis. Dalam 12-36
jam, setelah pemberian penisilin, suhu, denyut nadi, frekuensi pernapasan menurun serta
nyeri pleura menghilang.

F. PENGKAJIAN KEPERAWATAN
1. Identitas
Identitas pasien meliputi nama, umur, agama, jenis kelamin, status, pendidikan,
pekerjaan, suku bangsa, alamat, tanggal masuk, tanggal pengkajian, nomor register dan
dx.medis.
Identitas penanggung jawab meliputi nama, umur, hubungan dengan pasien, pekerjaan
dan alamat.
2. Keadaan Umum
Meliputi kondisi seperti tingkat ketegangan/kelelahan, warna kulit, tingkat kesadaran
kualitatif atau GCS, pola nafas, posisi klien dan respon verbal klien.
3. Keluhan utama
Keluhan utama yang sering menjadi alasan klien dengan pneumonia untuk meminta
pertolongan kesehatan adalah sesak napas, batuk, dan peningkatan suhu tubuh/demam.
4. Riwayat penyakit saat ini
Apabila keluhan utama adalah batuk, maka perawat harus menanyakan sudah berapa
lama keluhan batuk muncul. Pada klien dengan pneumonia, keluhan batuk biasanya
timbul medadak dan tidak berkurang setelah meminum obat batuk yang biasa ada
dipasaran. Pada awalnya keluhan batuk tidak produktif, tapi selanjutnya akan
berkembang menjadi batuk produktif dengan mucus purulent kekuning-kuningan,
kehijau-hijauan, kecokelatan atau kemerahan, dan sering kali berbau busuk. Klien
biasanya mengeluh mengalami demam tinggi dan menggigil. Adanya keluhan nyeri dada
pleuritis, sesak napas, peningkatan frekuensi pernapasan, lemas, dan nyeri kepala.
5. Riwayat penyakit dahulu
Pengkajian diarahkan pada waktu sebelumnya, apakah klien pernah mengalami infeksi
saluran pernapasan atas (ISPA) dengan gejala seperti luka tenggorok, kongesti nasal,
bersin, dan demam ringan.
6. Psiko-sosio-spiritual
Pada konsidi klinis, klien dengan pneumonia sering mengalami kecemasan bertingkat
sesuai dengan keluhan yang dialaminya. Hal lain yang perlu ditanyakan adalah kondisi
pemukiman di mana klien bertempat tinggal, klien dengan pneumonia sering dijumpai
bila bertempat tinggal di lingkungan dengan sanitasi buruk.
7. Tanda-tanda Vital
Meliputi pemeriksaan :
a. Tekanan darah
b. Pulse rate
c. Respiratory rate
d. Suhu
Hasil pemeriksaan tanda-tanda vital pada klien dengan pneumonia biasanya didapatkan
peningkatan suhu tubuh lebih dari 40oC, frekuensi pernapasan meningkat dari frekuensi
normal, denyut nadi biasanya meningkat seirama dengan peningkatan suhu dan frekuensi
pernapasan, dan apabila tidak melibatkan infeksi sistemis yang berpengaruh pada
hemodinamika kardiovaskuler tekanan darah biasanya tidak masalah.
8. Pemeriksaan Fisik
a. B1 (Breathing)
Pemeriksaan fisik pada klien dengan pneumonia merupakan pemeriksaan fokus,
berurutan pemeriksaan ini terdiri atas inspeksi, palpasi, perkusi dan auskultasi.
1) Inspeksi
Gerakan pernapasan simetris. Pada klien denga pneumonia sering ditemukan
peningkatan frekuensi napas cepat dan dangkal, serta adanya retraksi sternum dan
intercostal space (ISC). Napas vuping hidung pada sesak berat dialami. Saat
dilakukan pengkajian batuk pada klien dengan pneumonia, biasanya didapatkan
batuk produktif disertai adanya peningkatan produksi secret dan sekresi sputum
yang purulen.
2) Palpasi
Pada palpasi klien dengan pneumonia, gerakan dada saat bernapas biasanya
normal dan seimbang antara bagian kanan dan kiri. Taktil fremitus pada klien
dengan pneumonia biasanya normal
3) Perkusi
Klien dengan pneumonia tanpa disertai komplikasi, biasanya didapatkan bunyi
resonan atau sonor pada seluruh lapang paru. Bunyi redup perkusi pada klien
dengan pneumonia didapatkan apabila bronchopneumonia menjadi satu sarang
(kunfluens).
4) Auskultasi
Pada klien dengan pneumonia, didapatkan bunyi napas melemah dan bunyi napas
tambahan ronkhi basah pada sisi yang sakit. Penting bagi perawat pemeriksa
untuk mendokumentasikan hasil auskultasi di daerah mana didapatkan adanya
ronkhi.
b. B2 (Blood)
Pada klien dengan pneumonia pengkajian yang didapat meliputi:
Inspeksi : didapatkan adanya kelemahan fisik secara umum
Palpasi : denyut nadi perifer melemah
Perkusi : batas jantung tidak mengalami pergeseran
Auskultasi : tekanan darah biasanya normal. Bunyi jantung tambahan
biasanya tidak didapatkan.
c. B3 (Brain)
Klien dengan pneumonia yang berat sering terjadi penurunan kesadaran, didapatkan
sianosis perifer apabila gangguan perfusi jaringan berat. Pada pengkajian objektif,
wajah klien tampak meringis, menangis, merintih, meregang, dan menggeliat.
d. B4 (Bladder)
Pengukuran volume output urine berhubungan dengan intake cairan. Oleh karena itu,
perawat perlu memonitor adanya oliguria karena hal tersebut merupakan tanda awal
dari syok
e. B5 (Bowel)
Klien biasanya mengalami mual, muntah, penurunan nafsu makan, dan penuruna
berat badan.
f. B6 (Bone)
Kelemahan dan kelelahan fisik secara umum sering menyebabkan ketergantungan
klien terhadap bantuan orang lain dalam melakukan aktivitas sehari-hari.

G. DIAGNOSA KEPERAWATAN
1. Nyeri akut berhubungan dengan agen cedera fisiologis (inflamasi, iskemia, neoplasma)
2. Pola napas tidak efektif berhubungan dengan hambatan upaya napas (nyeri saat bernapas,
kelemahan otot pernapasan)
3. Bersihan jalan napas tidak efektif berhungan dengan sekresi yang tertahan
4. Gangguan pertukaran gas berhubungan dengan ketidakseimbangan ventilasi, perfusi
5. Defisit nutrisi berhubungan dengan faktor psikologis (stres, keengganan untuk makan)
6. Defisit perawatan diri berhubungan dengan kelemahan
7. Gangguan pola tidur behubungan dengan sesak nafas

H. RENCANA KEPERAWATAN
Diagnosa Tujuan dan Kriteria Hasil Intervensi Rasional

Nyeri akut Setelah dilakukan tindakan Manajemen nyeri a. Untuk


berhubungan dengan asuhan keperawatan selama a. Identifikasi mengetahui
agen cedera …x24 jam, diharapkan lokasi, lokasi,
fisiologis (inflamasi, tingkat nyeri menurun dengan karakteristik, karakteristik,
iskemia, neoplasma) kriteria hasil: durasi, durasi,
a. Keluhan nyeri frekuensi, frekuensi,
menurun kualitas dan kualitas dan
b. Meringis menurun intensitas intensitas
c. Gelisah menurun nyeri nyeri
d. Kesulitan tidur b. Identifikasi b. Untuk
menurun skala nyeri mengetahui
c. Kontrol skala nyeri
lingkungan c. Untuk
yang meringankan
memperberat rasa nyeri
rasa nyeri d. Untuk
d. Fasilitasi memberikan
istirahat dan rasa nyaman
tidur e. Agar mampu
e. Ajarkan mengontrol
teknik nyeri yang
nonfarmakol timbul
ogi untuk f. Untuk terapi
mengurangi medis
rasa nyeri
f. Kolaborasi
pemberian
analgetik
Pola napas tidak Setelah dilakukan tindakan Manajemen jalan a. Untuk
efektif berhubungan asuhan keperawatan selama napas menngetahui
dengan hambatan …x24 jam, diharapkan pola a) Monitor pola pola napas
upaya napas (nyeri napas membaik dengan napas b. Untuk
saat bernapas, kriteria hasil: b) Monitor mengetahui
kelemahan otot a. Dispnea menurun bunyi napas adanya bunyi
pernapasan) b. Penggunaan otot tambahan napas
bantu napas menurun c) Posisikan tambahan
c. Frekuensi napas semi fowler c. Untuk
membaik d) Ajarkan memperkuat
d. Kedalaman napas teknik batuk ventilasi
membaik efektif d. Untuk
e) Kolaborasi pengeluaran
pemberian sputum
bronkodilato e. Untuk terapi
r medis

Bersihan jalan napas Setelah dilakukan tindakan Pemantauan a. Untuk


tidak efektif asuhan keperawatan selama respirasi mengetahui
berhungan dengan …x24 jam, diharapkan a. Monitor frekuensi,
sekresi yang bersihan jalan napas frekuensi, irama,
tertahan meningkat dengan kriteria irama, kedalaman dan
hasil: kedalaman upaya napas
a. Produksi sputum dan upaya b. Untuk
menurun napas mengetahui
b. Ronchii menurun b. Monitor pola pola napas
c. Frekuensi nafas napas c. Untuk
membaik c. Auskultasi mengetahui
bunyi napas adanya bunyi
d. Atur interval napas
pemantauan tambahan
respirasi d. Untuk
sesuai mengetahui
kondisi kondisi pasien
pasien e. Untuk
e. Dokumentasi mengetahui
hasil hasil
pemantauan pemantauan
f. Jelaskan f. Agar pasien
tujuan dan keluarga
pemantauan mengerti
tujuan
pemantauan
Gangguan Setelah dilakukan tindakan Terapi oksigen a. Untuk
pertukaran gas asuhan keperawatan selama a. Monitor mengetahui
berhubungan dengan …x24 jam, diharapkan kecepatan kecepatan
ketidakseimbangan pertukaran gas meningkat aliran ksigen aliran oksigen
ventilasi, perfusi dengan kriteria hasil: b. Monitor b. Untuk
a. Tingkat kesadaran tanda-tanda mengetahui
meningkat hipoventilasi tanda-tanda
b. Bunyi napas c. Pertahankan hipoventilasi
tambahan menurun kepatenan c. Untuk
c. PCO2 membaik jalan napas mempertahank
d. PO2 membaik d. Ajarkan an kondisi
pasien dan pasien
keluarga cara d. Agar pasien
menggunaka dan keluarga
n oksigen mengerti cara
dirumah penggunaan
e. Kolaborasi oksigen
penentuan e. Untuk
dosis penentuan
oksigen dosis oksigen
Defisit nutrisi Setelah dilakukan tindakan Manajemen nutrisi a. Untuk
berhubungan dengan asuhan keperawatan selama a. Identifikasi mengetahui
faktor psikologis …x24 jam, diharapkan status status nutrisi status nutrisi
(stres, keengganan nutrisi membaik dengan b. Monitor pasien
untuk makan) kriteria hasil: asupan b. Untuk
a. Porsi makan yang makanan mengetahui
dihabiskan meningkat c. Berikan asupan
b. Bising usus membaik makanan makanan
c. Membran mukosa tinggi serat c. Untuk
membaik untuk mencegah
mencegah konstipasi
konstipasi d. Agar status
d. Ajarkan diet nutrisi pasien
yang di membaik
programkan e. Untuk
e. Kolaborasi menentukan
dengan ahli jumlah kalori
gizi dan jenis
nutrisi yang
dibutuhkan
Defisit perawatan Setelah dilakukan tindakan Dukungan a) Untuk
diri berhubungan asuhan keperawatan selama Perawatan diri mengetahui
dengan kelemahan …x24 jam, diharapkan pasien a. Identifikasi kebiasaan
mampu melakukan perawatan kebiasaan aktivitas
diri secara mandiri dengan aktivitas perawatan diri
perawatan diri pasien
kriteria hasil: sesuai usia. b) Untuk
a. Kemampuan mandi b. Monitor tingkat mengetahui
meningkat kemandirian. tingkat
b. Kemampuan c. Dampingi kemandirian
mengenakan pakaian dalam pasien,
meningkat melakukan c) Untuk
c. Kemampuan makan perawatan diri mengetahui
meningkat sampai mandiri. sampai mana
d. Kemampuan ke toilet d. Ajarkan kemandirian
meningkat melakukan pasien dalam
e. Mempertahankan perawatan diri perawatan
kebersihan diri secara konsisten diri.
meningkat sesuai d) Untuk melatih
f. Mempertahankan kemampuan. perawatan diri
kebersihan mulut mandiri sesuai
cukup meningkat kemampuan
pasien.
Gangguan pola tidur Setelah dilakukan tindakan a) Identifikasi pola a. Untuk
berhubungan dengan asuhan keperawatan selama aktivitas dan mengetahui pola
sesak nafas …x24 jam, diharapkan pasien tidur aktivitas dan
dapat istirahat dan tidur b) Identifikasi tidur pasien.
cukup dengan kriteria hasil: faktor b. Untuk
a. Sulit tidur menurun pengganggu mengetahui
b. Sering terjaga tidur (fisik atau faktor yang
menurun psikologis) menggangu
c. Pola tidur membaik c) Lakukan tidur pasien.
d. Istirahat cukup prosedur untuk c. Untuk

meningkatkan memberikan

kenyamanan tindakan

tidur, seperti kenyamanan

akupresure dan saat tidur

pengaturan d. Agar pasien

posisi paham

d) Jelaskan pentingnya
pentingnya tidur istirahat tidur
cukup selama saat sakit.
sakit

DAFTAR PUSTAKA

Bennete, M.J. 2016. Pneumonia. http://Medicine.medcare.com/967822-overview

Corwin, J.E. 2011. Buku Saku Patofisiologi. Penerbit Buku Kedokteran. Jakarta: EGC.
Misnadiarly. 2008. Penyakit Infeksi Saluran Napas Pneumonia pada Anak, Orang Dewasa, Usia
Lanjut Edisi 1. Jakarta: Pustaka Obor Populer.

Muttaqin, Arif. 2008. Buku Ajar Asuhan Keperawatan Klien dengan Gangguan Sistem
Pernapasan. Jakarta: Salemba Medika.

Burns, S.M.(2014).AACN Esentials of Critical Care Nursing (3th ed). New York: McGraw-Hill
Education

LAPORAN PENDAHULUAN ASUHAN KEPERAWATAN


PADA PASIEN PNEUMONIA

DI RUANG CERMAI RSUD KLUNGKUNG


OLEH

NAMA : NI MADE DEWI AYU VIRGAYATI


NIM : P07120218 023
PRODI : S.Tr KEPERAWATAN

KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA


POLITEKNIK KESEHATAN DENPASAR
JURUSAN KEPERAWATAN PRODI S.Tr
2020