Anda di halaman 1dari 28

KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN INTRANATAL

Oleh :

Yuda Puspita Ningrum

1814401110023

PROGRAM STUDI D3 KEPERAWATAN


FAKULTAS KEPERAWATAN DAN ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH BANJARMASIN
TAHUN AKADEMIK 2019/2020
KATA PENGANTAR

Puji dan Syukur Penulis Panjatkan ke Hadirat Tuhan Yang Maha Esa karena

berkat limpahan Rahmat dan Karunia-Nya sehingga penulis dapat menyusun

makalah ini tepat pada waktunya. Makalah ini membahas tentang Konsep Asuhan

Keperawatan Intranatal”. Dalam penyusunan makalah ini, penulis banyak

mendapat tantangan dan hambatan akan tetapi dengan bantuan dari berbagai

pihak, tantangan itu bisa teratasi. Oleh karena itu, penulis mengucapkan terima

kasih yang sebesar-besarnya kepada semua pihak yang telah membantu dalam

penyusunan makalah ini, semoga bantuannya mendapat balasan yang setimpal

dari Tuhan Yang Maha Esa.

Penulis menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari kesempurnaan baik

dari bentuk penyusunan maupun materinya. Kritik konstruktif dari pembaca

sangat penulis harapkan untuk penyempurnaan makalah selanjutnya.

Akhir kata semoga makalah ini dapat memberikan manfaat kepada kita

sekalian.

Banjarmasin, 23 Maret 2020


BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Menurut WHO, persalinan normal adalah persalinan yang dimulai secara
spontan (dengan kekuatan ibu sendiri dan melalui jalan lahir), beresiko
rendah pada awal persalinan dan presentasi belakang kepala pada usia
kehamilan antara 37-42 minggu setelah persalinan ibu maupun bayi berada
pada kondisi yang baik.
Persalinan atau partus adalah adalah proses dimana bayi, plasenta dan
selaput ketuban keluar dari uterus ibu. Persalinan dianggap normal jika
prosesnya terjadi pada usia kehamilan yang cukup (setelah 37 minggu)
tanpa disertai adanya penyulit. Persalinan dimulai (inpartu) sejak uterus
berkontraksi dan menyebabkan perubahan pada serviks (membuka,
menepis dan berakhir dengan lahirnya plasenta secara lengkap). Ibu
dikatakan belum inpartu jika kontraksi uterus tidak mengakibatkan
perubahan serviks (Damayanti, dkk, 2015).
Persalinan adalah serangkaian kejadian yang berakhir dengan pengeluaran
bayi disusul dengan pengeluaran plasenta dan selaput janin dari tubuh ibu
(Harianto,2010).

1.2 Rumusan Masalah


1.3
BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Pengkajian
2.1.1 Anamnesa pada ibu intranatal
2.1.1.1 Riwayat Keperawatan Secara Komprehensif
a. Keluhan
Klien diminta menjelaskan kembali peristiwa yang
dialaminya antara lain: frekuensi dan lama kontraksi, lokasi
dan karakteristik rasa tidak nyaman (sakit pinggang, rasa
tidak enak pada suprapubis), rembesan cairan apabila diduga
cairan amnion telah keluar dinyatakan tanggal dan jam
pertama kali cairan keluar dan warna cairan. Informasi yang
diperoleh dari keluhan utama klien saat masuk rumah sakit
sebagai bahan pertimbangan bagi petugas kesehatan.
b. Riwayat Penyakit yang Diderita Saat Ini
Penyakit paru (TB, asma, batuk-flu), penyakit jantung,
penyakit endokrin (D.M, tiroid), riwayat penyakit gangguan
syaraf dan pembedahan yang dialami. Data yang
dieksplorasi dapat memberikan gambaran kondisi janin dan
maternal.
c. Riwayat Penyakit Keluarga
Adanya penyakit jantung, hipertensi, DM, keturunan hamil
kembar pada klien, TBC, hepatitis, penyakit kelamin.
Penyakit yang diderita keluarga memungkinkan akan
diturunkan pada klien atau terjadi penularan penyakit.
Kondisi tersebut dapat mempersulit proses persalinan dan
pengeluaran janin.
d. Respon Psikososial
Kebutuhan support system (pendamping dikamar bersalin),
kebutuhan praktek budaya dalam menyambut kelahiran bayi,
interaksi sosial dengan lingkungan sekitarnya, perubahan
rasa nyaman nyeri dan kebutuhan informasi terhadap proses
kelahiran dan persalinan.
e. Pola Kebiasaan Sehari-hari
Pola makan, pola elininasi bladder dan bowel, pola istirahat
dan tidur, pola aktivitas dan gaya hidup.
f. Kebutuhan Belajar Ibu dalam Menghadapi Proses Persalinan
Upaya mengurangi nyeri persalinan, proses persalinan,
tekhnik mengejan dan posisi ibu melahirkan.

2.1.1.2 Penggkajian Riwayat Obstetric


a. Riwayat Kehamilan Saat ini
Review catatan perkembangan kehamilan saat ini (HPHT,
tafsiran persalinan, usia kehamilan saat ini dan masalah
kehamilan saat ini: ketuban pecah dini, hipertensi,
preeklamsia-eklamsia, DM gastasional, perdarahan
pervaginam.
b. Riwayat Kehamilan, Persalinan dan Nifas Masa Lalu.
Review riwayat persalinan masa lalu : jenis persalinan,
masalah yang dialami saat persalinan, penolong saat
persalinan, kondisi bayi saat lahir. Review riwayat nifas
masa lalu: masalah yang dialami setelah selesai melahirkan,
pemberian ASI, penggunaan alat kontrasepsi.
2.1.1.3 Pemeriksaan Fisik
Sebelum melakukan pemeriksaan fisik , anda sebagai perawat
dianjurkan untuk mengukur tanda-tanda vital (TTV) meliputi
tekanan darah , nadi, respirasi dan suhu. Pemeriksaan fisik pada
ibu hamil yang dilakukan meliputi ( Reeder, martin, Griffin,
2011) pemeriksaan:
a. Kepala dan Leher
Lakukan inspeksi (observasi daerah konjungtiva dan mulut.
Lalu palpasi apakah terjadi pembesaran tiroid atau tidak?
b. Dada dan Jantung
Lakukan auskultasi menggnakan stetoskop daerah jantung
dan paru-paru
c. Payudara
Inspeksi putting susu apakah menonjol keluar atau tidak,
palpasi area payudara dan axilla di seluruh kuadran
d. Kulit
Inspeksi adanya linea nigra, striage gravidarum
e. Ekstremitas
Lakukan pemeriksaan reflex patella dengan menggunakan
reflex hammer
f. Abdomen
Lakukan pengukuran tinggi fundus uterus (TFU), lakukan
palpasi abdomen, auskultasi denyut jantung janin. Denyut
jantung yang diasukultasi dengan USG doopler dalam
trimester pertama, biasanya antara kehamilan sekitar 10 dan
12 minggu. Denyut jantung janin normal berada antara
120x/menit sampai 160x/menit
g. Vagina vulva
Lakukan pemeriksaan area vulva apakah tampak warna
kebiruan pada mukosa vagina, terjadi peningkatan
leukorhea/keputihan.
h. Panggul
Komponen bimanual pemeriksaan panggul memungkinkan
pemeriksa untuk meraba dimensi pembesaran Rahim
internal. Informasi ini membantu memperkirakan usia
kehamilan, baik mengkonfirmasikan taksiran persalinan
(TP) berdasar HPHT atau menyediakan informasi dalam
HPHT tertentu. Hal ini penting untuk menentukan TP akurat
sedini mungkin dalam kehamilan karena banyak keputusan
intervensi yang berkaitan dengan waktu dan pengelolaan
kehamilan didasarkan pada usia kehamilan yang ditentukan
oleh TP tersebut.
Pelvimetri klinis (pengukuran dimensi dari tulang panggul
melalui palpasi selama pemeriksaan panggul internal) dapat
dilakukan selama pemeriksaan awal panggul. Tujuannya
adalah untuk mengidentifikasi setiap variasi dalam struktur
panggul yang mungkin menghambat atau menghalangi janin
melewati panggul tulang selama kelahiran vagina.

2.1.1.4 Pemeriksaan Penunjang


Pemeriksaan penunjang yang dilakukan untuk mendeteksi
adanya penyimpangan pada fisik ibu selama periode persalinan
antara lain: pemeriksaan darah perifer lengkap (DPL),
ultrasonografi, fetal monitoring yakni KTG.

2.2 Masalah Keperawatan pada Ibu Intranatal


2.2.1 Kala I
2.2.1.1 Perubahan Perfusi jaringan intrauterine b.d peningkatan tahanan
intravaskuler sekunder terhadap mekanisme kontraksi, posisi ibu
selama proses persalinan dan stress yang berlebihan
Karakteristik
Mayor: gambaran KTG Djj mengalami deselerasi dini, gerakan
janin berkurang, janin tidak reaktif.
Minor: ditemukan adanya salah satu gejala tersebut pada klien
antara lain: klien menyatakan gerakan bayi kurang reaktif, klien
mengalami cemas, perubahan pola pernafasan, gerakan janin <
2x/jam.
2.2.1.2 Defisit volume cairan b.d penurunan intakae cairan peroral,
peningkatan metabolism sekunder kontraksi yang sedang
berlangsung dan output cairan yang berlebihan.
Karakteristik:
Mayor: ditemukan balans yang tidak seimbang antara intake dan
output
Minor: ditemukan adanya salah satu gejala tersebut pada klien
antara lain: keringat banyak, perasaan haus, kontraksi yang
terus-menerus bertambah kuat, pengeluaran cairan pervaginam:
cairan air ketuban, slem dan darah, mual dan muntah, intake
peroral tidak seimbang dengan output.
2.2.1.3 Gangguan rasa nyaman nyeri b.d peningkatan intensitas
kontraksi, penurunan kepala ke rongga panggul, effacement dan
dilatasi serviks.
Karakteristi
Mayor: individual mengungkapkan ambang skala nyeri yang
hebat
Minor: ditemukan adanya salah satu gejala tersebut pada klien
antara lain: klien tampak meringis dan kesakitan, frekuensi his
terus meningkat, ditemukannya presentasi telah masuk ke
rongga panggul (sebutkan station penurunan kepala), dilatasi
serviks semakin luas.
2.2.1.4 Resiko nutrisi kurang dari kebutuhan b.d intake nutrisi selama
proses persalinan tidak adekuat, mual dan muntah.
karakteristik
Mayor: perhitungan intake kalori tidak sesuai dengan intake
yang seharusnya dubutuhkan selama periode persalinan
Minor: jika masalah telah berkembang menjadi actual maka
dapat ditemukan adanya salah satu gejala tersebut pada klien
antara lain: klien tampak lesu, mual dan muntah, porsi makan
tidak habis, pucat.
2.2.2 Kala II
2.2.2.1 Koping individu tidak efektif b.d kurangnya informasi terhadap
mekanisme proses pengeluaran bayi, perubahan intensitas dan
frekuensi kontraksi.
Karakteristik
Mayor: individual tampak tidak kooperatif saat berlangsungnya
persalinan
Minor: ditemukan adanya salah satu gejala tersebut pada klien
antara lain: klien menangis, meronta, cemas dan stress yang
berlebihan.
2.2.2.2 Gangguan rasa nyaman: nyeri b.d intensitas kontraksi uterus,
penekanan syaraf pudendal sekunder penurunan presentasi,
mekanisme pengeluaran janin.
Karakteristik
Mayor: individual mengungkapkan ambang skala nyeri yang
hebat
Minor: ditemukan adanya salah satu gejala tersebut pada klien
antara lain: klien tampak meringis dan kesakitan, his yang
berlangsung frekuensi 4-5x/10 menit, intensitas kuat, durasi
maksimal 40-50 detik, ditemukannya presentasi telah masuk ke
hodge IV.
2.2.3 Kala III
2.2.3.1 Nyeri b.d proses pengeluaran plasenta, luka/episiotomy/rupture
perineum.
Karakteristik
Mayor: individual mengungkapkan ambang skala nyeri yang
hebat
Minor: ditemukan adanya salah satu gejala tersebut pada klien
antara lain: klien tampak meringis dan kesakitan, his yang
berlangsung disaat pengeluaran plasenta.
2.2.3.2 Resiko tinggi infeksi jalan lahir b.d terputusnya jaringan
plasental bed pada dinding endometrium, terputusnya jaringan
perineal sekunder episiotomy/rupture, ketuban pecah dini.
Karakteristik
Mayor: ditemukan adanya faktor-faktor resiko yang dapat
membuat ibu mengalami infeksi
Minor: belum ditemukan gejala-gejala kearah infeksi
2.2.3.3 Gangguan-gangguan bonding attachment b.d kurangnya
fasilitasi dari petugas kesehatan selama kala III.
Karakteristik
Mayor:
Individual mengungkapkan ketidaksiapan bonding attachment
yang dimulai dari akhir kala II.
Minor: ditemukan adanya salah satu gejala tersebut pada klien
antara lain: klien tampak menolak pelaksanaan IMD, klien lebih
terfokus kepada nyeri yang dialami , klien tidak memahami
manfaat pelaksanaan bonding attachment, kurangnya support
dari petugas kesehatan dan keluarga.
2.2.4 Kala IV
2.2.4.1 Resiko deficit volume cairan dan elektrolit b.d terputusnya
kontinuitas jaringan sekunder luka rupture atau episiotomy
perineal, tidak adekuatnya kontraksi uterus sekunder dengan
tertahannya urine didalam vesika urinaria, retensi selaput
amnion.
Karakteristik
Mayor: ditemukan adanya faktor-faktor resiko yang dapat
membuat ibu mengalami perdarahan pervaginam yang
berdampak kearah deficit volume cairan dan elektrolit
Minor: belum ditemukan gejala-gejala kearah deficit volume
cairan dan elektrolit.
2.2.4.2 Perubahan pola eliminasi b.d perlukaan daerah perineal, laserasi
daerah spinter vesika urinaria eksternal sekunder tertahannya
bagian presentasi akibat kejadian partus lama.
Karakteristik
Mayor:ditemukan adanya faktor-faktor yang dapat membuat ibu
mengalami perubahan pola miksi.
Minor: ditemukan adanya salah satu gejala terebut pada klien
antara lain: klien mengatakan miksi tetapi tidak bisa spontan,
tampak rasa takut terhadap luka di daerah perineal, vesika
urinaria penuh.

2.3 Rencana Keperawatan


2.4 Implementasi Keperawatan
2.4.1 Kala I
2.4.1.1 Diagnosa 1
Terapeutik
1. Bina hubungan terapeutik pada awal interaksi
2. Pertahankan komunikasi terapeutik setiap berinteraksi
3. Berikan lingkungan yang aman dan nyaman bagi ibu
4. Atur posisi ibu saat melahirkan kearah kiri
5. Anjurkan klien merubah posisi yang tepat untuk
meningkatkan sirkulasi uteroplasenta
6. Ajarkan teknik relaksasi dan managemen nyeri non
farmakologi lainnya
Diagnostik
1. Kaji respon klien terhadap his
2. Evaluasi kemampuan klien untuk posisi yang tepat dalam
memperbaiki sirkulasi uteroplasenta
3. Kaji Djj secara regular 30 menit sekali
Edukasi
1. Berikan edukasi tentang mekanisme persalinan yang akan
dijalani saat ini
2. Ajarkan modalitas teknik relaksasi sesuai dengan fasilitas
yang tersedia
Kolaborasi
1. Lakukan monitoring KTG sesuai protap dokter
2. Berikan oksigen nasal kateter sesuai indikasi berdasarkan
protap dokter
2.4.1.2 Diagnose 2
Terapeutik
1. Berikan cairan oral yang dapat ditoleransi oleh klien untuk
memenuhi hidrasi yang adekuat
2. Anjurkan klien untuk mengosongkan kandung kemih 1,5-2
jam sekali selama proses persalinan.
Diagnostic
1. Pantau masukan/keluaran, berat jenis urine
2. Pantau suhu setiap 2 jam, lakukan lebih sering bila hasil observasi
suhu mengalami peningkatan serta observasi TTV ibu dan DJJ
sesuai indikasi.
3. Kaji praktik budaya mengenai masukan oral yang membantu
hidrasi yang adekuat
Edukasi
1. Ajarkan klien/keluarga tentang perlunya memenuhi kebutuhan
cairan selama proses persalinan
Kolaborasi
1. Berikan cairan parentral, sesuai indikasi

2.4.1.3 Diagnose 3
Terapeutik
1. Bantu dalam penggunaan modalitas teknik relaksasi yakni
teknik pernafasan (Lamaze), teknik rubbing, effleurage dan
counter pressure disesuaikan dengan dilatasi serviks.
2. Berikan rasa nyaman selama dikamar bersalin
3. Fasilitas klien dengan pendamping selama dikamar bersalin
Diagnostik
1. Kaji derajat ketidaknyamanan melalui isyarat verbal dan non
verbal; perhatikan pengaruh budaya terhadap respon nyeri
2. Anjurkan klien untuk berkemih setiap 1-2 jam. Palpasi di
atas simfisis pubis untuk menentukan adanya distensiu
vesika urinaria
3. Observasi kemajuan persalinan: his, dilatasi, dan effacement
serta penurunan presentasi.
Edukasi
1. Berikan edukasi kepada keluarga/suami sebagai pendamping
tentang proses persalinan
2. Fasilioitasi pendamping terhadap hak dan tanggungjawab
selama mendampingi istri dikamar bersalin misalnya :
memenuhi kebutuhan dasar klien, melaksanakan modalits
teknik relaksasi .
Kolaborasi
1. Pemberian analgesic jika klien tidak dapat beradaptasi
dengan intensitas his yang semakin kuat

2.4.1.4 Diagnosa 4
Terapeutik
1. Berikan nutrisi sedikit demi sedikit selagi hangat
2. Anjurkan pasangan/keluarga untuk memotivasi klien dalam
mengkonsumsi nutrisi
Diagnostic
1. Kaji adanya perubahan tanda-tanda kekurangan nutrisi:
pusing, akral dingin, nadi lemah
2. Evaluasi intake kalori nutrisi peroral selama periode
melahirkan dalam 24 jam
Edukasi
1. Berikan informasi kepada ibu/keluarga tentang kebutuhan
kalori bagi ibu selama melahirkan dan manfaat nutrisi
tersebut
Kolaborasi
1. Berikan cairan nutrisi parenteral sesuai indikasi
2. Berikan obat antiemetic jika dibutuhkan
2.4.2 Kala II
2.4.2.1 Diagnosa 1
Terapeutik
1. Bina hubungan terapeutik pada awal interaksi
2. Pertahankan komunikasi terapeutik setiap berinteraksi
3. Berikan lingkungan yang aman dan nyaman bagi ibu
Diagnostic
1. Kaji ulang tingkat kecemasan ibu
2. Kaji ulang informasi yang diperoleh oleh ibu sehubungan
dengan proses persalinan
Edukasi
1. Berikan informasi terhadap tentang proses persalinan dan
kemajuan persalinan secara adekuat

2.4.2.2 Diagnosa 2
Terapeutik
1. Berikan tindakan kenyamanan seperti masase daerah
punggung, pertahankan kebersihan parineal, linen kering,
lingkungan sejuk.
2. Anjurkan klien/pasangan untuk mengatur upaya mengejan
dengan spontan, selama adanya kontraksi. Tekankan
pentingnya merelaksasikan dasar pelviks
3. Bantu klien dalam memilih posisi optimal untuk mengejan
Diagnostic
1. Identifikasi derajat ketidaknyamanan dan penyebab
ketidaknyamanan
2. Kaji kepenuhan kandung kemih. Katerisasi diantara
kontraksi bila distensi terlihat dank lien tidak mampu
berkemih
3. Pantau dan catat aktivitas uterus pada setiap kontraksi,
kemajuan persalinan
4. Pantau penonjolan perineal dan rektal, pembukaan muara
vagina
5. Pantau tekanan darah dan nadi ibu, dan DJJ
Edukasi
1. Berikan informasi dan dukungan yang berhubungan dengan
kemajuan persalinan terhadap klien/keluarga
Kolaborasi
1. Dukung dan posisikan blok sedal atau anastesi spinal, local,
pudendal sesuai indikasi rasional
2. Bantu sesuai kebutuhan klien dalam pemberian anastesi
local sebelum episiotomy
2.4.3 Kala III
2.4.3.1 Diagnose 1
Terapeutik
1. Fasilitasi keluarga selama berada di kamar bersalin
2. Berikan inform consent terhadap keluarga dan ibu,
kesediaan penerapan bonding attachment dikala III
3. Berikan penghargaan terhadap ibu dan keluarga yang telah
dapat menerapkan IMD selama 2 jam sebagai awal dari
bonding attachment.
Diagnostic
1. Kaji kesiapan mental dan fisik ibu untuk pelaksanaan
bonding attachment
2. Kaji kondisi fisik bayi baru lahir untuk pelaksanaan bonding
attachment
3. Kaji support system yang dapat memfasilitasi pelaksanaan
bonding attachment dikamar bersalin
Edukasi
1. Berikan informasi tentang manfaat dan keuntungan dari
bonding attachment terhadap ibu dan keluarga
2. Berikan informasi tentang prosedur pelaksanaan bonding
attachment terhadap ibu dan keluarga
kolaborasi
1. Rujuk ibu ke dokter jika menemukan kondisi fisik dan
mental yang menyimpang dari normal

2.4.4 Kala IV
2.4.4.1 Diagnose 1
Terapeutik
1. Lakukan prinsip asepsis dan antisepsis dalam tindakan
keperawatan
2. Anjurkan ibu mengganti pembalut dan pakaian dalam 3x
sehari atau jika basah/lembab.
3. Berikan nutrisi TKTP untuk mempercepat proses
penyembuhan
Diagnostic
1. Observasi perubahan suhu/8 jam
2. Observasi hasil laboratorium terhadap peningkatan leukosit
3. Observasi pengeluaran cairan pervaginam/24 jam
4. Evaluasi involusi uteri dengan mengukur TFU/24 jam
5. Monitoring penyembuhan luka perineum/24 jam
Edukasi
1. Berikan informasi cara pencegahan infeksi puerperium bagi
ibu dan keluarga
2. Berikan informasi kebutuhan nutrisi untuk proses
penyembuhan luka
Kolaborasi
1. Rujuk ibu ke dokter untuk mendaparkan terapi obat-obat
dalam upaya mengatasi atau mencegah infeksi yakni:
antibiotic, dan vitamin
2.4.4.2 Diagnosa 2
Terapeutik
1. Lakukan masase abdomen dan stimulasi putting susu jika
menemukan kontraksi tidak adekuat
2. Motivasi ibu untuk mengkonsumsi cairan yang adekuat
sesuai dengan kebutuhan
3. Berikan kebutuhan cairan peroral dengan perhitungan
kebutuhan cairan/24 jam
Diagnostic
1. Ukur intake dan output/24 jam
2. Monitoring perubahan tanda-tanda vital dan sirkulasi
vaskuler
3. Kaji ulang kondisi vesika urinaria setiap 4 jam sekali selama
24 jam pertama setelah proses kelahiran
4. Nilai keadekuatan kontraksi uterus
Edukatif
1. Berikan informasi tentang kebutuhan cairan yang harus
dipenuhi
2. Anjurkan ibu mengenal resiko terjadinya deficit volume
cairan dan cara mengatasinya
Kolaborasi
3 Kolaborasi pemberian cairan parenteral jika ditemukan ada
tanda-tanda periubahan resiko deficit volume cairan dan
elektrolit kearah actual
4 Kolaborasui pemeriksaan hematocrit (Ht), elektrolit darah.

2.5 Evaluasi
2.5.1 Kala 1
2.5.1.1 Ibu tampak lebih tenang
2.5.1.2 Hasil KTG menunjukkan janin reaktif, akselerasi
2.5.1.3 DJJ frekuyensi 120-160x/menit, regular
2.5.1.4 Mukosa bibir tidak kering
2.5.1.5 Klien tidak merasa haus
2.5.1.6 Ttv: TD: 120/80
Nadi:80-88x/menit
RR: 18-20x/menit
T: 36,5-37 Derajat C.
2.5.1.7 Intake output balance 200cc-300cc
2.5.1.8 Mual dan muntah tidak ditemukan
2.5.1.9 Ibu tampak tenang diantara kontraksi
2.5.1.10 Ekspresi wajah rileks
2.5.1.11 Ibu mampu mengontrol nyeri
2.5.1.12 Skala nyeri menurun
2.5.1.13 Tidak terdapat kelemahan saat mengedan
2.5.2 Kala 2
2.5.2.1 Ibu tampak tidak cemas, skala cemas menurun
2.5.2.2 Proses bonding attachment dapat berjalan dengan baik
2.5.2.3 Ibu berpartisispasi selama proses pengeluaran bayi
2.5.2.4 Aktivitas meneran dapat dilakukan anjuran
2.5.2.5 Ibu dapat beristirahat diantara kontraksi
2.5.2.6 Persalinan kala II berlangsung dengan normal
2.5.3 Kala 3
2.5.3.1 Inisiasi menyusui dini berlangsung selama 2 jam
2.5.3.2 Ibu memberikan respon pada bayinya
2.5.3.3 Adanya support dari keluarga dan petugas kesehatan
2.5.4 Kala 4
2.5.4.1 Lokhea secara berangsur-angsur berubah dari rubra-serosa-
albican
2.5.4.2 Fundus uteri mengalami involusi secara progresif 1cm/hari
2.5.4.3 Cairan pervaginam tidak berbau
2.5.4.4 Suhu normal 36,5-37 derajat celcius
2.5.4.5 Luka perineum kering tidak ditemukan tanda-tanda REEDA
(redness, ekimosis, edema, approximately setelah hari ketiga.
2.5.4.6 Intake-outpute balace
2.5.4.7 Kebutuhan intake sesuai dengan perhitungan 50cc/kg BB+12,5
untuk peningkatan suhu 1 derajat.
2.5.4.8 Sirkulasi darah perifer ditemukan HKM (hangat, kering, merah),
capillary refill kurang dari 3 detik.

2.6 Dokumentasi Asuhan Keperawatan pada Ibu Intranatal

2.7 Prosedur Anamnesa pada Ibu Intranatal


2.8 Prosedur Pemeriksaan Fisik pada Ibu Intrapartum
2.8.1 Pemeriksaan Keadaan Umum

2.8.2 Pemeriksaan His dan Skala Nyeri


Cara mengukur His :
1) Partograf
a. Pengertian
Pengertian : adalah alat bantu untuk memantau kemajuan kala satu

persalinan dan imformasi untuk membuat keputusan klinik.

b. Tujuan

Tujuan utama dari penggunaan partograf adalah untuk:

 Mencatat hasil observasi dan kemajuan persalinan dengan

menilai pembukaan serviks melalui periksa dalam.


 Mendeteksi apakah proses persalinan berjalan secara

normal. Dengan demikian juga dapat mendeteksi secara

dini kemungkinan terjadinya partus lama.

 Data pelengkap yang terkait dengan pemantauan kondisi

ibu, kondisi bayi, grafik kemajuan proses persalinan, bahan

dan medikamentosa yang diberikan, pemeriksaan

laboratorium, membuat keputusan klinik dan asuhan atau

tindakan yang diberikan dimana semua itu dicatat secara

rinci pada status atau rekam medik ibu bersalin dan bayi

baru lahir

 jika digunakan dengan tepat dan konsisten, partograf akan

membantu penolong persalinan untuk:

 Mencatat kemajuan persalinan

 Mencatat kondisi ibu dan janinnya

 Mencatat asuhan yang diberikan selama persalinan dan

kelahiran

 Menggunakan informasi yang tercatat untuk identifikasi

dini penyulit persalinan

 Menggunakan informasi yang tersedia untuk membuat

keputusan klinik yang sesuai dan tepat waktu

 penggunaan partograf secara rutin dapat memastikan

bahwa ibu dan bayinya mendapatkan asuhan yang

aman,adekuat dan tepat waktu serta membantu mencegah


terjadinya penyulit yang dapat mengacam keselamatan jiwa

mereka.

 kondisi ibu dan bayi juga harus dinilai dan dicatat dengan

seksama yaitu:

 Denyut jantung janin:setiap ½ jam

 Frekuensi dan lamanya kontraksi uterus: setiap ½ jam

 Nadi :setiap ½ jam

 Pembukaan serviks:setiap 4 jam

 Penurunan bagian terbawah janin: setiap 4 jam

 Tekanan darah dan temperatur tubuh: setiap 4 jam

 Produksi urin, aseton dan protein: setiap 2 sampai 4 jam

Jika ditemui gejala dan tanda penyulit, penilaian kondisi

ibu dan bayi harus lebih sering dilakukan. Lakukan

tindakan yang sesuai apabila pada diagnosis disebutkan

adanya penyulit dalam persalinan. jika frekuensi kontraksi

berkurang dalam satu atau dua jam pertama, nilai ulang

kesehatan dan kondisi aktual ibu dan bayinya. bila tidak

ada tanda-tanda kegawatan atau penyulit, ibu boleh pulang

dengan instruksi untuk kembali jika kontraksinya menjadi

teratur, intensitasnya makin kuat dan frekuensinya

meningkat. Apabila asuhan persalinan dilakukan dirumah,

penolong persalinan hanya boleh meninggalkan ibu setelah

dipastikan bahwa ibu dan bayinya dalam kondisi baik.


Pesankan pada ibu dan keluarganya untuk menghubungi

kembali penolong persalinan jika terjadi peningkatan

frekuensi kontraksi.

 Rujuk ibu kefasilitas kesehatan yang sesuai jika fase laten

berlangsung lebih dari 8 jam.

 Kontraksi Uterus

Dibawah lajur waktu partograf, terdapat lima kotak dengan

tulisan “kontraksi per 10 menit” disebelah luar kolom

paling kiri. Setiap kotak menyatakan satu kontraksi. setiap

30 menit, raba dan catat jumlah kontraksi dalam 10 menit

dan lamanya kontraksi dalam satuan detik. Nyatakan

jumlah kontraksi yang terjadi dalam waktu 10 menit

dengan cara mengisi kotak kontraksi yang tersedia dan

disesuaikan dengan angka yang mencerminkan temuan dari

hasil pemeriksaan kontraksi yang tersedia dan disesuaikan

dengan angka yang mencerminkan temuan dari hasil

pemeriksaan kontraksi

 Periksa frekuensi dan lama kontraksi uterus setiap jam

selama fase laten dan setiap 30 menit selama fase aktif.

 Nilai frekuensi dan lama kontraksi yang terjadi dalam 10

menit observasi.

 catat lamanya kontraksi menggunakan lambang yang

sesuai:
   Catat temuan-temuan di kotak yang sesuai dengan waktu

penilaian. Sebagai contoh jika ibu mengalami 3 kontraksi

dalam waktu satu kali 10 menit , maka lakukan pengisian

pada 3 kotak kontraksi.