Anda di halaman 1dari 12

LAPORAN PENDAHULUAN

KEBUTUHAN CAIRAN DAN ELEKTROLIT

Oleh :
YUDA PUSPITA NINGRUM
NPM: 1814401110023

PROGRAM STUDI D3 KEPERAWATAN


FAKULTAS JKEPERAWATAN DAN ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH BANJARMASIN
TAHUN AKADEMIK 2019/2020
LAPORAN PENDAHULUAN
KEBUTUHAN CAIRAN DAN ELEKTROLIT

A. Konsep Penyakit

1. Anatomi dan Fisiologi

cairan tubuh terdiri dari 3 bagian, yaitu intrasel (CIS) dan ekstrasel (plasma darah,
intertisial) untuk memahami, cairan intrasel berada didalam sel dan ekstrasel berada di
luar sel. Cairan ekstrasel (CES) dibagi dua yaitu cairan intravaskuler (berada dalam
pembuluh darah) dan cairan intertisial berada diluar sel dan diluar pembuluh darah.

2. Definisi Penyakit
Kebutuhan cairan dan elektrolit merupakan kebutuhan fisiologis yang digunakan
untuk alat transportasi zat nutrisi, elektrolit dan sisa metabolisme, sebagai komponen
pembentuk sel, plasma, darah, dan komponen tubuh yang lainnya sebagai pengatur
suhu tubuh dan seluler. (Maryunani, Anik. (2015). Kebutuhan Dasar Manusia.
Bogor: In Media).

3. Etiologi
Faktor-faktor yang berpengaruh pada keseimbangan cairan dan elektrolit tubuh antara
lain :

 Umur
Kebutuhan intake cairan bervariasi tergantung dari usia, karena usia akan
berpengaruh pada luas permukaan tubuh, metabolisme, dan berat badan. Infant dan
anak-anak lebih mudah mengalami gangguan keseimbangan cairan dibanding usia
dewasa. Pada usia lanjut sering terjadi gangguan keseimbangan cairan dikarenakan
gangguan fungsi ginjal atau jantung.
 Iklim
Orang yang tinggal di daerah yang panas (suhu tinggi) dan kelembaban udaranya
rendah memiliki peningkatan kehilangan cairan tubuh dan elektrolit melalui keringat.
Sedangkan seseorang yang beraktifitas di lingkungan yang panas dapat kehilangan
cairan sampai dengan 5 L per hari.
 Diet
Diet seseorang berpengaruh terhadap intakecairan dan elektrolit. Ketika intake nutrisi
tidak adekuat maka tubuh akan membakar protein dan lemak sehingga akan serum
albumin dan cadangan protein akan menurun padahal keduanya sangat diperlukan
dalam proses keseimbangan cairan sehingga hal ini akan menyebabkan edema.
 Stress
Stress dapat meningkatkan metabolisme sel, glukosa darah, dan pemecahan glikogen
otot. Mekanisme ini dapat meningkatkan natrium dan retensi air sehingga bila
berkepanjangan dapat meningkatkan volume darah.
 Kondisi Sakit
Kondisi sakit sangat berpengaruh terhadap kondisi keseimbangan cairan dan
elektrolit tubuh Misalnya :
a.Trauma seperti luka bakar akan meningkatkan kehilangan air melalui IWL.
b. Penyakit ginjal dan kardiovaskuler sangat mempengaruhi proses Pasien dengan
penurunan tingkat kesadaran.
c.Pasien dengan penurunan tingkat kesadaran akan mengalami gangguan pemenuhan
intake cairan karena kehilangan kemampuan untuk memenuhinya secara mandiri.

4. Patofisiologi dan Pathway


Kekurangan volume cairan terjadi ketika tubuh kehilangan cairan dan elektrolit
ekstraseluler dalam jumlah yang proporsional (isotonik0. Kondisi seperti ini disebut
juga hipovolemia. Umumnya, gangguan ini diawali dengan kehilangan cairan
intravaskuler, lalu diikuti dengan perpindahan cairan intraseluler menuju
intravaskuler sehingga menyebabkan penurunan cairan ekstraseluler. Untuk
mengkompensasi kondisi ini, tubuh melakukan pemoindahan cairan intraseluler.
Secara umum, deficit volume cairan disebabkan oleh beberapa hal, yaitu kehilangan
cairan abnormal melalui kulit, penurunan asupan cairan, perdarahan dan pergerakan
cairan ke lokasi ketiga (lokasi tempat cairan berpindah dan tidak mudah untuk
mengembalikannya ke lokasi semula dalam kondisi cairan ekstraseluler istirahat).
Cairan dapat berpindah dari lokasi intravaskuler menuju lokasi pootensial seperti
pleura, peritoneum, pericardium, atau rongga sendi,. Selain itu, kondisi tertentu
seperti terperangkapnya cairan dalam saluran pencernaan, dapat terjadi akibat
obstruksi saluran pencernaan.
5. Manisfestasi Klinis
1. Kelelahan
2. Kram otot dan kejang
3. Mual
4. Pusing
5. Pingsan
6. Lekas marah
7. Muntah
8. Mulut kering
9. Denyut jantung lambat
10. Palpitasi
11. Tekanan darah naik turun
12. Kurangnya koordinasi
13. Sembelit
14. Kekakuan sendi
15. Rasa haus
16. Suhu naik
17. Anoreksia
18. Berat badan menurun

6. Pemeriksaan Penunjang
 Pemeriksaan darah lengkap
 PH dan berat jenis urine
 Pemeriksaan elektrolit serum
 Analisa gas darah (astrup)

7. Penatalaksanaan
a. Penatalaksanaan Medis
 Terapi cairan IV
 Pemeriksaan penunjang seperti pemeriksaan darah lengkap
 Terapi obat-obatan
 Tranfusi darah (jika diperlukan)
b. Penatalksanaan Keperawatan
 Menghitung tetesan infus
 Rehidrasi oral
 Menghitung keseimbangan cairan

8. Komplikasi
1. Dehidrasi (ringan, sedang, berat)
2. Renjatan hipovolemik
3. Kejang pada dehidrasi hipertonik

9. Prognosis
Bisa menyebabkan kejang, koma dan gagal jantung.

10. Rencana Asuhan Keperawatan


1. Pengkajian
a. Riwayat Keperawatan
 Pemasukan dan pengeluaran cairan dan makanan (oral, parenteral)
 Tanda umum masalah elektrolit
 Tanda kekurangan dan kelebihan cairan
 Proses penyakit yang menyebabkan gangguan homeostatis cairan dan
elektrolit
 Pengobatan tertentu yang sedang dijalani dapat mengganggu minus status
cairan
 Status perkembangan seperti usia atau status sosial
 Factor psikologis seperti perilaku emosional yang mengganggu
pengobatan
c. Pemeriksaan Fisik
 Integument: keadaan turgor kulit, edema, kelelahan, kelemahan otot, tetani,
dan sensasi rasa.
 Kardiovaskuler: tekanan darah, hemoglobin, dan bunyi jantung.
 Mata: cekung, air mata kering.
 neurologiL: reflex, gangguan motoric dan sensorik, tingkat kesadaran
 gastrointestinal: keadaan mukosa mulut, mulut dan lidah, muntah-muntah dan
bising usus.
d. Pemeriksaan Penunjang
 Pemeriksaan darah lengkap
 PH dan berat jenis urine
 Pemeriksaan elektrolit serum
 Analisa gas darah (astrup)

2. Diagnosa Keperawatan
1. Kekurangan Volume Cairan
Definisi :
kondisi ketika individu, yang tidak menjalani puasa, mengalami atau resiko
memgalami resiko dehidrasi vascular, interstisial, atau intravascular.
2. Kelebihan Volume Cairan
Definisi :
Kondisi ketika individu mengalami atau beresiko mengalami kelebihan beban
cairan intraseluler atau interstisial.
3. Gangguan keseimbangan Elektrolit(kalium)

3. Intervensi Keperawatan
NOC NIC
1. Kekurangan volume - Kaji cairan yang disukai klien dalam
cairan batas diet.
Tujuan : - Rencanakan target pemberian asupan
Menyeimbangkan volume cairan untuk setiap sif, mis : siang
cairan sesuai dengan 1000 ml, sore 800 ml dan malam 200
kebutuhan tubuh ml.
Kriteria Hasil : - Kaji pemahaman klien tentang alasan
- Terjdi peningkatan asupan mempertahankan hidrasi yg adekuat.
cairan min. 2000ml/hari - Catat asupan dan haluaran.
(kecuali terjadi - Pantau asupan per oral, min. 1500 ml/
kontraindikasi). 24 jam.
- Menjelaskan perlu-nya - Pantau haluaran cairan 1000-1500ml /
meningkatkan asupan cairan 24jam. Pantau berat jenis urine.
pada saat stress/cuaca
panas.
- Mempertahankan berat jenis
urine dalm batas normal.
- Tidak menunjukan tanda-
tanda dehidrasi.
2. Kelebihan volume - Kaji asupan diet dan kebiasaan yg
cairan mendorong terjadi-nya retensi cairan.
Tujuan : - Anjurkan klien untuk menurunkan
Kebutuhan cairan klien konsumsi garam.
dapat terpenuhi sesuai - Anjurkan klien untuk:
dengan kebutuhan tubuh 1. Menghindari makanan gurih,
klien makanan kaleng & makanan beku.
Kriteria Hasil : 2. Mengkonsumsi mkann tnpa garam
- Klien akan menyebutkan dan menambahkan bumbu aroma.
faktor penyebab & metode 3. Mggunakan cuka pengganti garam
pencegahan edema. utk penyedap rasa sop, rebusan dll.
- Klien mperlihatkan - Kaji adanya tanda venostasis dan
penurunan edema bendungan vena pada bagian tubuh
yang mengantung.
- Untuk drainase limfatik yang tidak
adekuat:
1. Tinggikan ekstremitas dengan
mnggunakn bantal, imobilitas,
bidai/ balutan yang kuat, serta
berdiri/duduk dlm waktu yg lama
2. Jngn memberikan suntikan/infuse
pd lengan yang sakit.
3. Ingatkan klien untuk menghindari
detergen yang keras, membawa
beban berat, memegang rokok,
mencabut kutikula/ bintil kuku,
me-nyentuh kompor gas,
memgenakan perhiasan atau jam
tangan.
4. Lindungi kulit yg edema dari
cidera.

3. Ganguan Penurunan kadar kalium


keseimbangan elektrolit - Observasi tanda dan gejala
(kalium) hipokalemia (vertigo, hipotensi
Tujuan : ariotmia, mual, muntah, diare,
Klien memiliki distensi abdomen ,pnurunn peristaltis,
keseimbangan cairan, kelemahan otot, dan kram tungkai).
elektrolit dan asam- basa - Catat asupan dan haluaran.
dalam 48 jam. - Tentukan status hidrasi klien bila
Kriteria Hasil : terjadi hipokalemia.
- Klien menjelaskan diet yang - Kenali perubahan tingkah laku yang
sesuai utk mmpertahnkan merupakan tanda- tanda hipokalemia.
kadar kalium dlam batas - Anjurkan klien dan keluarga untuk
normal. mngkonsmsi makan-an tinggi kalium
- Klien berpartipasi untuk (mis. Buah-buahan, sari buah, buah
melaporkan tanda – tanda kering, syur, daging, kacang-
klinis hipokalemia/hiper- kacangan, teh, kopi, dan kola).
kaenia. - Laporkan perubahan EKG; segmen
- Kadar kalium dlam batas ST yg memanjang, depresi.
normal/dapat ditoleransi. - Encerkan suplemen kalium per oral
sedikitnya dalam 113,2 gram air/sari
buah utk mngurangi resiko iritasi
mukosa lambung.
- Pantau nilai kalium serum pada klien
yang mendapat obat diuretic dan
steroid.
- Kaji tanda dan gejala toksisitas
digitalis jika klien tengah mendapat
obat golongan digitalis dan diuretik
atau steroid.
Peningkatan Kadar Kalium
- Observasi tanda dan gejala
hiperkalemia (mis.Bradikardia, kram
abdomen, oliguria, ksemutan& kebas
pd ekstremtas)
- Kaji haluaran urin. Sedikitnya
25ml/jam atau 600 ml/ hari.
- Laporkan nilai kalium serum yang
melebihi 5mEq/l batasi asupan kalium
jika perlu.
- Pantau EKG

DAFTAR PUSTAKA
Nurarif .A.H. dan Kusuma. H. (2015). APLIKASI Asuhan Keperawatan Berdasarkan.
Diagnosa Medis & NANDA NIC-NOC. Jogjakarta: MediAction.
Saputra, Lyndon. (2013). Catatan Ringkasan Kebutuhan Dasar Manusia. Jakarta: Binarupa
Aksara Publisher