Anda di halaman 1dari 7

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Menurut John Peter Sarchio psikologi transpersonal adalah cabang psikologi yang
memberi perhatian pada studi terhadap keadaan dan proses pengalaman manusia yang lebih
mendalam dan luas, atau suatu sensasi yang lebih besar dari koneksitas terhadap orang lain
dan alam semesta, atau merupakan dimensi spiritual. Manusia memiliki tiga tingkat
kesadaran, yang pertama adalah tingkat kesadaran ego; pada tingkat kesadaran ini manusia
tidak dapat melihat organisme sebagai system yang utuh karena hanya mencerminkan
perwujudan mental organisme yang dikenal dengan citra diri ego. Tingkat kesadaran yang
kedua yaitu kesadaran biososial yaitu melihat individu atau manusia sebagai bagian dari
lingkungan sosialnya.dan tingkat kesadaran yang ketiga adalah tingkat eksistensial yang
merupakan tingkat organisme yang utuh dan ditandai dengan rasa identitas yang melibatkan
kesadaran seluruh system jiwa tubuh sebagai keseluruhan yang mengatur dirinya sendiri dan
terintegrasi. Pada akhir spectrum kesadaran, berkas-berkas transpersonal, masuk ke dalam
jiwa. Tingkat ini merupakan tingkat kesdaran kosmik yaitu ketika orang menenggelamkan
diri dan menyatu ke dalam jiwa.
B. Rumusan Masalah
1. Apa pengertian psikologi transpersonal?
2. Apa latar belakang munculnya psikologi transpersonal?
3. Apa saja pengaruh India terhadap psikologi transpersonal?
4. Bagaimana Filsafat India: Pencerahan yang membebaskan?
C. Tujuan
1. Memahami pengertian psikologi transpersonal.
2. Memahami latar belakang munculnya psikologi transpersonal.
3. Memahami berbagai pengaruh India terhadap psikologi transpersonal.
4. Memahami filsafat India.

1
BAB II

PEMBAHASAN

A. Pengertian Psikologi Transpersonal


Noesjirwan (2000) mendefinisikan Psikologi Transpersonal diartikan sebagai suatu
studi terhadap potensi tertinggi umat manusia dan dengan pengakuan, pemahaman dan
perealisasian keadaan-keadaan kesadaran yang memepersatukan antara spiritual dan
transenden.
Sutich (dalam Noesjirwan, 2000) mengartikan psikologi transpersonal adalah nama
yang diberikan kepada kekuatan yang baru timbul dalam bidang psikologi, dibentuk oleh
sejumlah psikolog, ahli-ahli pria dan wanita dari bidang lain yang mempunyai perhatian
terhadap kemampuan-kemampuan dan kesanggupan-kesanggupan tertinggi manusia yang
selama ini tidak dipelajari secara sistematis oleh psikologi perilaku atau teori-teori
psikoanalisis yang klasik maupun yang oleh psikologi humanistik. Psikologi transpersonal
secara khusus memberikan perhatian kepada studi ilmiah yang empiris dan kepada
implementasi yang bertanggung jawab dari penemuan-penemuan yang relevan bagi
pengaktualisasian diri, transendentasi diri, kesadaran kosmis, fenomena-fenomena
transendental yang terjadi pada (atau dialami oleh) perorangan-perorangan atau sekelompok
orang.
Psikologi transpersonal didefinisikan sebagai ungkapan pengalaman penelitian
teoritis dan terpakai, pengkajian tentang proses transpersonal, nilai dan keadaan, kesadaran
kesatuan, yang di balik kebutuhan pengalaman puncak, ekstase, pengalaman mistik, ada,
hakekat, kesenangan, kehormatan, keterkejutan, transendensi diri, tentang teori dan praktek
meditasi, tentang jalannya spiritual, rasa bersama, kooperasi transpersonal pengetahuan dan
perwujudan transpersonal dan konsep, pengalaman dan kegiatan yang serupa.
B. Latar Belakang Munculnya Psikologi Transpersonal
Psikologi transpersonal merupakan bentuk psikologi yang timbul dengan
memadukan kebijaksanaan psikologi (dari India, Cina, Jepang dan Tibet) dan ahli mistik ke
dalam tinjauan psikologi. Hal ini disebabkan karena di Amerika Serikat sebanyak enam juta
orang lebih mendalami ajaran-ajaran Hindu, Budisme Zen dari Jepang, Budhisme dari Tibet
dan melakukan mistik/semedi (meditasi). Semedi inilah yang dipandang menjadi pintu
gerbang bagi psikologi ini, karena semedi menimbulkan perubahan dalam kesadaran
manusia dan meningkatkan perkembangan psikis.

2
Perhatian psikologi transpersonal yang besar terhadap kebijaksanaan Timur ada
kaitannya dengan perubahan citra jagad klasik yang mekanistik, yang terdiri dari benda
dengan atom-atom sebagai bahan terkecil, dan digerakkan oleh tenaga dari luar. Menurut
pandangan teori quantum, partikel-partikel atom tidak dapat dipastikan pada tempat tertentu,
tetapi hanya sebagai suatu kecenderungan. Begitu pula ruang dan waktu yang dahulu berdiri
sendiri-sendiri dan masing-masing tiga dan satu dimensi, sekarang oleh pandangan teori
relativitas telah dipandang sebagai sesuatu yang merupakan gabungan “ruang dan waktu”
yang mempunyai empat dimensi. Penjungkirbalikan citra jagad klasik ini oleh teori quantum
dan teori relativitas telah mendapat tempat dalam pandangan ahli-ahli ketimuran.4
Dari perpaduan kebijaksanaan Timur dan keilmiahan Barat inilah, terjadi psikologi
transpersonal. Ini sebagai reaksi terhadap pandangan yang tidak memuaskan yang telah
dicapai oleh tiga aliran besar dari psikologi barat yaitu psikoanalisa, behaviorisme, dan
psikologi humanistik. Behaviorisme dan psikologi analisis dipandang terarah pada gejala-
gejala patologis.
Pada tahun 1960-an timbul reaksi terhadap keterbatasan aliran psikologi humanistik.
Pusat perhatiannya adalah segala yang khusus manusiawi dengan perhatian-perhatian dari
patologis kepada yang sehat. Dalam hal ini yang menjadi pusat perhatian adalah perwujudan
diri sendiri dan orang orang yang telah maju. Dalam upaya tersebut dicarilah jalan untuk
melaksanakan perwujudan diri sendiri, potensi-potensi manusia sambil meninggalkan
pengertian mekanistik dari pengalaman manusia.
Tetapi dalam perkembangan selanjutnya, perwujudan diri sendiri untuk jangkauan
pengalaman yang paling jauh tidak akan tercapai. Pendiri psikologi humanistik, Abraham
Maslow5 pada tahun 1960 telah menulis kemungkinan timbulnya aliran psikologi keempat,
yaitu aliran yang bersifat transpersonal, transhuman, dengan titik pusat terletak dalam jagad,
tidak dalam kebutuhan dan perhatian manusia dan melampaui identitas dan perwujudan diri
sendiri dan manusia. Dari sinilah timbulnya nama aliran transpersonal yang artinya “di balik
kepribadian”.
C. Pengaruh India Terhadap Psikologi Transpersonal
1. Abhidamma: teori kepribadian timur
Abhidamma berkembang di India pada 15 abad yang lalu dan sampai kini masih
diterapkan oleh pnganut Buddhis dalam berbagai bentuk sebagai penuntun olah pikir dan
diturunkan langsung oleh dari wawasan Buddha Gautama pada abad ke lima sebelum
masehi. Dalam Abhidamma kata “kepribadian” serupa dengan konsep atta atau diri
(self). Perbedaannya adalah menurut asumsi dasar abhidamma tidak ada diri yang benar-

3
benar kekal yang ada hanyalah sekumpulan proses yang impersonal yang timbul dan
menghilang. Menurut Abhidamma kepribadian manusia sama seperti sungai yang
memilki bentuk yang tetap, seolah-olah satu identitas, walaupun tidak setetes air pun
tidak berubah seperti pada momen sebelumnya. Untuk meneliti perubahan dalam jiwa,
metode dasar yang digunakan Abhidamma adalah intospeksi.
2. Makna emptiness di dalam Buddhisme
Kekosongan (emptiness) atau sunyata merupakan realitas tertinggi dan terakhir di
dalam Buddhisme. Dan sunyata sendiri merupakan kondisi yang setiap konsep kedirian
menjadi hilang. Menurut Masao Abe terdapat tiga hal yang dapat disimpulkan mengenai
konsep kekosongan dalam Buddhisme:
a. Di dalam Buddhisme kekosongan adalah konsep yang paling ultim yang tidak dapat
direifikasi dalam konsep-konsep buatan manusia. Dalam hal ini, Buddhisme
berusaha melampaui semua dualitas yang ada pada manusia seperti baik-buruk, jiwa-
badan dan sebagainya.
b. Realitas tertinggi dalam Buddhisme adalah kekosongan, sehingga orang bisa
terbebas dari semua bentuk reifikasi konseptual.
c. Sebagai realitas ultim, kekosongan harus dikosongkan dari semua bentuk keterikatan
terhadap konsep kekosongan.
Jadi, di dalam Buddhisme yang menjadi titik utama dari konsep kekosongan
adalah penolakan terhadap diri (self) dan semua bentuk entitas yang memiliki
substansi.
3. Mengejar kesempurnaan hidup
Dalam Buddhisme kekosongan adalah kemampuan tertinggi yang dapat dicapai oleh
manusia ketika manusia mampu menegasi secara total dirinya sendiri dan segala sesuatu
yang memiliki substansi. Kesempurnaan hidup adalah nirvana yaitu ketika setiap bentuk
sasmara telah dilampaui. Di dalam kekosongan, manusia mencapai kebebasan dan
kebahagiaan sepenuh-penuhnya. Dengan mencapai kekosongan juga manusia dapat tetap
berjuang melawan ketidakadilan dan penderitaan tanpa harus terikat pada perjuangan.
D. Filsafat India: Pencerahan yang membebaskan
Filsafat Buddha berkembang dari ajaran Buddhisme yang dikenal sebagai agama
Buddha. Siddharta Gautama adalah tokoh awal Buddhisme yang juga merupakan seorang
pangeran dari keluarga istana di Nepal. Pengalaman sentral dalam hidup Siddharta
disebabkan oleh situasi keadaan sekitar yang mengejutkan. Dalam ajaran Buddha
pencerahan pencerahan merupakan dasar yang penting. Buddha yang berarti “yang sudah

4
dicerahi” dan pencerahan adalah Bodhi. Ajaran Buddha didasarkan pada pencerahan dan
tujuannya adalah membimbing orang menuju kelepasan seperti yang diperoleh oleh Sang
Buddha.
1. Jalan menuju keselamatan
Untuk mengetahui jalan menuju keselamatan, terlebih dahulu kita perlu mengetahui
konsep kebenaran menurut Buddha yang terdiri atas:
a. Kebenaran mulia tentang penderitaan: dalam Budhha penderitaan diwakili dengan
istilah “dukkha” yang berarti penderitaan.
b. Kebenaran mulai tentang sebab penderitaan: penyebab penderitaan adalah keinginan.
Keinginan penyebab penderitaan disebut dengan tanha.
c. Kebenaran mulia tentang melenyapkan penderitaan
d. Kebenaran mulia tentang jalan menuju pelenyapan penderitaan: jalan yang
sebenarnya untuk menghilangkan penderitaan adalah menghapus keinginan secara
sempurna.
Terdapat 8 langkah besar untuk sampai pada pelenyapan penderitaan, diantaranya
adalah: pengetahuan yang benar (right view), kehendak yang benar (right intention),
pembicaraan yang benar (right speech), perilaku yang benar (right action), pekerjaan
yang benar (right livelihood), usaha yang benar (right effort), pikiran yang benar
(right mindfulness) dan konsentrasi yang benar (right concentration).
2. Tiga ciri pokok benda-benda
a. Segala sesuatu bersifat fana: segala sesuatu berubah dan menurut Buddha perubahan
inilah yang menyebabkan ketidakbahagiaan pada manusia karena manusia
menginginkan sesuatu yang tetap.
b. Segala sesuatu mengandung penderitaan: benda-benda memiliki potensi untuk
menimbulkan penderitaan.
c. Segala sesuatu adalah tanpa ego
3. Karma dan jalan hidup manusia
Pandangan tentang karma dipengaruhi oleh Hindu. Karma adalah hukum sebab
akibat dimana setiap tindakan akan mendapatkan ganjaran. Di dalam hidupnya, manusia
harus menyadari bahwa dirinya memiliki kesamaan dengan makhluk lain dan alam.
Apabila manusia memiliki kesadaran tentang kesamaannya dengan makhluk lain maka ia
akan terbebas dari karma dan keterbatasan dan begitupun sebaliknya.

5
BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan
Psikologi transpersonal didefinisikan sebagai ungkapan pengalaman penelitian
teoritis dan terpakai, pengkajian tentang proses transpersonal, nilai dan keadaan, kesadaran
kesatuan, yang di balik kebutuhan pengalaman puncak, ekstase, pengalaman mistik, ada,
hakekat, kesenangan, kehormatan, keterkejutan, transendensi diri, tentang teori dan praktek
meditasi, tentang jalannya spiritual, rasa bersama, kooperasi transpersonal pengetahuan dan
perwujudan transpersonal dan konsep, pengalaman dan kegiatan yang serupa.
Psikologi transpersonal merupakan bentuk psikologi yang timbul dengan
memadukan kebijaksanaan psikologi (dari India, Cina, Jepang dan Tibet) dan ahli mistik ke
dalam tinjauan psikologi.
Pengaruh India terhadap psikologi transpersonal yaitu ada Abhidamma (konsep diri),
emptiness (kekosongan), dan mengejar kesempurnaan hidup.
Filsafat India/Buddha berkembang dari ajaran Buddhisme yang dikenal sebagai
agama Buddha. Siddharta Gautama adalah tokoh awal Buddhisme yang juga merupakan
seorang pangeran dari keluarga istana di Nepal. Pengalaman sentral dalam hidup Siddharta
disebabkan oleh situasi keadaan sekitar yang mengejutkan. Dalam ajaran Buddha
pencerahan pencerahan merupakan dasar yang penting. Buddha yang berarti “yang sudah
dicerahi” dan pencerahan adalah Bodhi. Ajaran Buddha didasarkan pada pencerahan dan
tujuannya adalah membimbing orang menuju kelepasan seperti yang diperoleh oleh Sang
Buddha.

6
DAFTAR PUSTAKA

Haryu. 2007. PENDIDIKAN AGAMA ISLAM BERBASIS TRANSPERSONAL (Suatu Pendekatan


Psikologi Transpersonal). Tadris. Jurnal.

Muhammad Ali Syahbana. 2017. PENGARUH PSIKOLOGI TRANSPERSONAL TERHADAP


KREATIVITAS. Al-Tazkiah. Jurnal.

Mujidin. GARIS BESAR PSIKOLOGI TRANSPERSONAL: PANDANGAN TENTANG


MANUSIA DAN METODE PENGGALIAN TRANSPERSONAL SERTA APLIKASINYA
DALAM DUNIA PENDIDIKAN. Humanitas : Indonesian Psychological Journal Vol. 2 No.1
Januari 2005 : 54- 64.

http://afikarohmatillah.blogspot.com/2017/03/pengaruh-timur-pada-psikologi.html