Anda di halaman 1dari 20

BAB I

PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG

Tonsil atau yang lebih sering dikenal dengan amandel adalah massa yang
terdiri dari jaringan limfoid dan ditunjang oleh jaringan ikat dengan kriptus
didalamnya, bagian organ tubuh yang berbentuk bulat lonjong melekat pada
kanan dan kiri tenggorok. Terdapat 3 macam tonsil yaitu tonsil faringal (adenoid),
tonsil palatina, dan tonsil faringal yang membentuk lingkaran yang disebut cincin
Waldeyer. Tonsil terletak dalam sinus tonsilaris diantara kedua pilar fausium dan
berasal dari invaginasi hipoblas di tempat ini.

Tonsillitis sendiri adalah inflamasi pada tonsila palatine yang disebabkan oleh
infeki virus atau bakteri. Saat bakteri dan virus masuk ke dalam tubuh melalui
hidung atau mulut, tonsil berfungsi sebagai filter/ penyaring menyelimuti
organisme yang berbahaya tersebut dengan sel-sel darah putih. Hal ini akan
memicu sistem kekebalan tubuh untuk membentuk antibody terhadap infeksi
yang akan datang. Tetapi bila tonsil sudah tidak dapat menahan infeksi dari
bakteri atau virus tersebut maka akan timbul tonsillitis. Dalam beberapa kasus
ditemukan 3 macam tonsillitis, yaitu tonsillitis akut, tonsillitis membranosa, dan
tonsillitis kronis. Oleh karena itu penting bagi perawat untuk mempelajari
patofisiologi, manifestasi klinis, prosedur diagnostik dan asuhan keperawatan
yang komprehensif pada klien tonsilitis beserta keluarganya.

B. TUJUAN

1. Tujuan Umum
Setelah menyelesaikn laporan tonsilitis diharapkan mengetahui gambaran
pengelolaan pasien dengan tonsilitis
2. Tujuan khusus
a. Mampu menjelaskan definisi tonsillitis
b. Mampu menjelaskan anatomi-fisiologi tonsil
c. Mampu menjelaskan etiologi dan komplikasi dari tonsillitis
e. Mampu melaksanakan pengkajian secara menyeluruh pada klien tonsilitis
f. Mampu mengelompkkan data dan menganalisa data yang didapat dari
pengkajian
g. Mampu menganalisa dan menentukan masalah keperawatan pada klien
tonsilitis
h. Mampu menyusun perencanaan, intervensi dan implementasi untuk mengatasi
masalah keperawatan yang timbul pada klien tonsilitis
e. Mampu mengevaluasi tindakan keperawatan yang telah dilaksanakan pada
klien dengan Tonsilitis

B. RUANG LINGKUP
1.BagiPenulis
Setelah menyelesaikan makalah ini diharapkan kami sebagai mahasiswa dapat
meningkatkan pengetahuan dan wawasan mengenai penyebab serta upaya
pencegahan penyakit tonsilitis agar terciptanya kesehatan masyarakat yang lebih
baik.
2.BagiPembaca
Diharapkan agar pembaca dapat mengetahui tentang penyakit tonsilitis lebih
dalam sehingga dapat mencegah serta mengantisipasi diri dari penyakit tonsilitis
3.BagiPetugasKesehatan
Diharapkan dapat menambah wawasan dan informasi dalam penanganan
penyakit tonsilitis sehingga dapat meningkatkan pelayanan keperawatan yang
baik
4.BagiInstitusiPendidikan
Dapat menambah informasi tentang penyakit tonsilitis serta dapat
meningkatkan kewaspadaan terhadap penyakit ini.
D. SISTEMATIKA PENULISAN
Dalam makalah ini sistematika penulisan terdiri dari beberapa bab,masing-masing
bab terdiri dari item-item:
BAB I : Pendahuluan berisi tentang latar belakang,tujun,metode penulisan dan
sistematika penulisan.
BAB II:Pembahasan berisi tentang pengertian,respon pasien,tanda dan
gejala,penyebab,akibat,asuhan keperawatan,pohon masalah,diagnosa
keperawatan,intervensi dan rasional.
BAB III : Penutup berisi tentang kesimpulan dan saran.

BAB II
TINJAUAN TEORI

A. PENGERTIAN
1. Tonsil adalah jaringan limfoid yg membantu menyaring limfe yang
bersirkulsi dari bakteri atau benda-benda asing lainnya yang memasuki
tubuh khusunya yang masuk melalui hidung atau mulut.(BARBARA
C.LONG 1996).
2. Tonsilitis fokularis akut adalah suatu peradangan akut pada tonsil dan
biasanya disebabkan oleh streptokokus. Penyakit ini sering terjadi pada
saat pertahanan tubuh melemah,dan sering kali pada anak-anak.
3. Tonsillitis kronik pembesaran tonsil karena hipertropi disertai perlengketan
kejaringan sekitar,kripta melebar datasnya tertutup oleh eksudat yang
purulen atau tonsil tetap kecil biasanya mengeriput kadang-kadang seperti
terpendam dalam tonsil bed,dengan bagan tepinya hiperemis,kripta
melebar dan diatasnya tampak eksudat dan pereulen.(Fakultas kedokteran
unifersitas Indonesia 1985)
Bahwa kesimpulan dari penulis, tonsiltis adalah suatu infeksi pada tonsil yang
disebabkan oleh baktri atau firus yang disertai disfagia dan demam yang
sering terjadi pada anak-anak.

B. ANATOMI FISIOLOGI TONSIL


Kedua tonsil terdiri juga atas jaringan limfe, letaknya di antara lengkung
langit- langit dan mendapat persediaan limfosit yang melimpah di dalam cairan
yang ada pada permukaan dalam sel-sel tonsil. Tonsil terdiri atas:
1. Tonsil fariengalis, agak menonjol keluar dari atas faring dan terletak di
belakang koana
2. Tonsil palatina, dilapisi oleh epitel berlapis gepeng tanpa lapisan tanduk.
3. Tonsil linguais, epitel berlapis gepeng tanpa lapisan tanduk

Amandel atau tonsil merupakan kumpulan jaringan limfoid yang terletak


pada kerongkongan di belakang kedua ujung lipatan belakang mulut. Tonsil
berfungsi mencegah agar infeksi tidak menyebar ke seluruh tubuh dengan cara
menahan kuman memasuki tubuh melalui mulut, hidung, dan kerongkongan,
oleh karena itu tidak jarang tonsil mengalami peradangan. Peradangan pada
tonsil disebut dengan tonsilitis, penyakit ini merupakan salah satu gangguan
THT (Telinga Hidung & Tenggorokan).

Tonsilitis dapat bersifat akut atau kronis. Bentuk akut yang tidak parah
biasanya berlangsung sekitar 4-6 hari, dan umumnya menyerang anak-anak
pada usia 5-10 tahun. Sedangkan radang amandel/tonsil yang kronis terjadi
secara berulang-ulang dan berlangsung lama.Gejala Anak yang mengalami
radang amandel antara lain sering batuk - pilek, tenggorokan sakit dan susah
menelan. Nafsu makan kurang, sehingga sering badannya menjadi kurus.
Meskipun tidak berarti anak yang gemuk akan terbebas dari radang amandel.

Radang amandel yang terjadi menyebabkan elastisitas otot sekitar


kerongkongan berkurang, sehingga dapat menyebabkan amandel membesar
walau tidak radang. Pembesaran ini menyebabkan saluran nafas tertekan
sehingga mendengkur saat tidur.

Konsentrasi anak yang menderita radang amandel dapat menurun karena


aliran oksigen ke otak kurang baik, dan cenderung bernafas menggunakan
mulut untuk melegakan pernafasannya.

Penyebab amandel antara lain adalah daya tahan tubuh yang rendah
kerena gizi makanan yang kurang seimbang, serta zat aditif malanan yang
menekan daya tahan tubuh. Seperti kita ketahui bersama saat ini jajanan yang
beredar disekolah tidak lepas dari bahan pengawet, pewarna, dan penyedap.
Selain itu radang amandel/tonsil (tonsilitis) disebabkan oleh infeksi bakteri
kelompok A streptokokus beta hemolitik, namun dapat juga disebabkan oleh
bakteri jenis lain atau oleh infeksi virus. Pada radang amandel yang akut
biasanya dimulai dengan gejala sakit tenggorokan yang ringan hingga menjadi
parah, sakit saat menelan makanan, kadang-kadang muntah.
Tonsilitis dapat menyebabkan amandel menjadi bengkak, panas, gatal,
sakit pada otot dan sendi, nyeri pada seluruh badan, kedinginan, sakit kepala,
dan sakit pada telinga. Kelenjar getah bening melemah di dalam daerah
submandibuler. Bagian belakang tenggorokan akan terasa mengerut sehingga
sukar menelan.Pada tonsilitis kronis dapat mengakibatkan kekambuhan sakit
tenggorokan dan keluar nanah pada lekukan tonsil. Serangan terjadi secara
berulang-ulang, tonsil kelihatan membesar, merah, dan terjadi abses (berbintik-
C. JENIS – JENIS TONSILITIS
Macam-macam tonsillitis menurut Imam Megantara (2006).
1. Tonsillitis akut
Disebabkan oleh streptococcus pada hemoliticus, streptococcus viridians, dan
streptococcus piogynes, dapat juga disebabkan oleh virus.
2. Tonsilitis falikularis
Tonsil membengkak dan hiperemis, permukaannya diliputi eksudat diliputi
bercak putih yang mengisi kipti tonsil yang disebut detritus.
Detritus ini terdapat leukosit, epitel yang terlepas akibat peradangan dan sisa-
sisa makanan yang tersangkut.
3. Tonsilitis Lakunaris
Bila bercak yang berdekatan bersatu dan mengisi lacuna (lekuk-lekuk)
permukaan tonsil.
4. Tonsilitis Membranosa (Septis Sore Throat)
Bila eksudat yang menutupi permukaan tonsil yang membengkak tersebut
menyerupai membran. Membran ini biasanya mudah diangkat atau dibuang
dan berwarna putih kekuning-kuningan.
5. Tonsilitis Kronik
Tonsillitis yang berluang, faktor predisposisi : rangsangan kronik (rokok,
makanan) pengaruh cuaca, pengobatan radang akut yang tidak adekuat dan
hygiene mulut yang buruk.
D. ETIOLOGI
1. Menurut Adams George (1999), tonsilitis bakterialis supuralis akut paling
sering disebabkan oleh streptokokus beta hemolitikus grup A.
Misalnya:Pneumococcus, Staphilococcus, Haemalphilus influenza, kadang
streptococcus non hemoliticus atau streptococcus viridens.
2. Menurut Iskandar N (1993). Bakteri merupakan penyebab pada 50 % kasus.
Contoh,
Streptococcus B hemoliticus grup A, Streptococcus viridens, Streptococcus
pyogenes, Staphilococcus, Pneumococcus, Virus, Adenovirus, ECHO, Virus
influenza serta herpes
3. Menurut Firman S (2006), penyebabnya adalah infeksi bakteri streptococcus
atau infeksi virus. Tonsil berfungsi membantu menyerang bakteri dan
mikroorganisme lainnya sebagai tindakan pencegahan terhadap infeksi.
Tonsil bisa dikalahkan oleh bakteri maupun virus, sehingga membengkak dan
meradang, menyebabkan tonsillitis.

E. PATOFISIOLOGI
Menurut Iskandar N (1993), patofisiologi tonsillitis yaitu :
Kuman menginfiltrasi lapisan epitel, bila epitel terkikis maka jaringan
limfoid superficial mengadakan reaksi. Terdapat pembendungan radang dengan
infiltrasi leukosit poli morfonuklear. Proses ini secara klinik tampak pada korpus
tonsil yang berisi bercak kuning yang disebut detritus. Detritus merupakan
kumpulan leukosit, bakteri dan epitel yang terlepas, suatu tonsillitis akut dengan
detritus disebut tonsillitis lakunaris, bila bercak detritus berdekatan menjadi satu
maka terjadi tonsillitis lakonaris.
Bila bercak melebar, lebih besar lagi sehingga terbentuk membran semu
(Pseudomembran), sedangkan pada tonsillitis kronik terjadi karena proses radang
berulang maka epitel mukosa dan jaringan limfoid terkikis. Sehingga pada proses
penyembuhan, jaringan limfoid diganti jaringan parut. Jaringan ini akan
mengkerut sehingga ruang antara kelompok melebar (kriptus) yang akan diisi oleh
detritus, proses ini meluas sehingga menembus kapsul dan akhirnya timbul
perlengkapan dengan jaringan sekitar fosa tonsilaris. Pada anak proses ini disertai
dengan pembesaran kelenjar limfe submandibula.

F. MANIFESTASI KLINIK
1. Menurut Megantara, Imam 2006
Gejalanya berupa nyeri tenggorokan (yang semakin parah jika penderita
menelan) nyeri seringkali dirasakan ditelinga (karena tenggorokan dan telinga
memiliki persyarafan yang sama).
Gejala lain :
a. Demam
b. Tidak enak badan
c. Sakit kepala
d. Muntah
2. Menurut Mansjoer, A (1999) gejala tonsilitis antara lain :
Pasien mengeluh ada penghalang di tenggorokan, tenggorokan terasa kering
persarafan bau, pada pemeriksaan tonsil membesar dengan permukaan tidak
rata, kriptus membesar dan terisi detritus, tidak nafsu makan, mudah lelah,
nyeri abdomen, pucat, letargi, nyeri kepala, disfagia (sakit saat menelan), mual
dan muntah
Gejala pada tonsillitis akut :
Rasa gatal / kering di tenggorokan, lesu, nyeri sendi, odinafagia, anoreksia
otalgia, suara serak (bila laring terkena), tonsil membengkak
3. Menurut Smelizer, Suzanne (2000)
Gejala yang timbul sakit tenggorokan, demam, ngorok, dan kesulitan menelan.
4. Menurut Hembing, (2002) :
Dimulai dengan sakit tenggorokan yang ringan hingga menjadi parah, sakit
saat menelan, kadang-kadang muntah, tonsil bengkak, panas, gatal, sakit pada
otot dan sendi, nyeri pada seluruh badan, kedinginan, sakit kepala dan sakit
pada telinga.
Pada tonsilitis dapat mengakibatkan kekambuhan sakit tenggorokan dan keluar
nanah pada lekukan tonsil.

G. PEMERIKSAAN PENUNJANG
Menurut Firman S (2006), yaitu :
1. Tes Laboratorium
Tes laboratorium ini digunakan untuk menentukan apakah bakteri yang ada
dalam tubuh pasien merupkan akteri gru A, karena grup ini disertai dengan
demam renmatik, glomerulnefritis, dan demam jengkering.
2. Pemeriksaan penunjang
Kultur dan uji resistensi bila diperlukan.
3. Terapi
Dengan menggunakan antibiotic spectrum lebar dan sulfonamide, antipiretik,
dan obat kumur yang mengandung desinfektan.

H. KOMPLIKASI
Komplikasi tonsilitis akut dan kronik menurut Mansjoer, A (1999), yaitu :
Abses pertonsil
Terjadi diatas tonsil dalam jaringan pilar anterior dan palatum mole, abses ini
terjadi beberapa hari setelah infeksi akut dan biasanya disebabkan oleh
streptococcus group A.
1. Otitis media akut
Infeksi dapat menyebar ke telinga tengah melalui tuba auditorius (eustochi)
dan dapat mengakibatkan otitis media yang dapat mengarah pada ruptur
spontan gendang telinga.
2. Mastoiditis akut
Ruptur spontan gendang telinga lebih jauh menyebarkan infeksi ke dalam sel-
sel mastoid.
a. Laringitis
b. Sinusitis
c. Rhinitis

I. PENATALAKSANAAN/PENGOBATAN
1. Penatalaksanaan tonsilitis secara umum, menurut Firman S, 2006 :
Jika penyebabnya bakteri, diberikan antibiotik peroral (melalui mulut) selama
10 hari, jika mengalami kesulitan menelan, bisa diberikan dalam bentuk
suntikan.
2. Pengangkatan tonsil (tonsilektomi) dilakukan jika :
Tonsilitis terjadi sebanyak 7 kali atau lebih / tahun.
Tonsilitis terjadi sebanyak 5 kali atau lebih / tahun dalam kurun waktu 2 tahun.
Tonsilitis terjadi sebanyak 3 kali atau lebih / tahun dalam kurun waktu 3 tahun.
Tonsilitis tidak memberikan respon terhadap pemberian antibiotik.
Menurut Mansjoer, A (1999) penatalaksanan tonsillitis adalah :
a. Penatalaksanaan tonsilitis akut
Antibiotik golongan penicilin atau sulfanamid selama 5 hari dan obat
kumur atau obat isap dengan desinfektan, bila alergi dengan diberikan
eritromisin atau klindomisin.
Antibiotik yang adekuat untuk mencegah infeksi sekunder, kortikosteroid
untuk mengurangi edema pada laring dan obat simptomatik.
Pasien diisolasi karena menular, tirah baring, untuk menghindari
komplikasi kantung selama 2-3 minggu atau sampai hasil usapan
tenggorok 3x negatif.
Pemberian antipiretik.
b. Penatalaksanaan tonsilitis kronik
Terapi lokal untuk hygiene mulut dengan obat kumur / hisap.
Terapi radikal dengan tonsilektomi bila terapi medikamentosa atau terapi
konservatif tidak berhasil.
1) Tonsilektomi menurut Firman S (2006), yaitu :
a) Perawatan Prabedah
Diberikan sedasi dan premedikasi, selain itu pasien juga harus
dipuasakan, membebaskan anak dari infeksi pernafasan bagian
atas.

Teknik Pembedahan
Anestesi umum selalu diberikan sebelum pembedahan, pasien
diposisikan terlentang dengan kepala sedikit direndahkan dan leher
dalam keadaan ekstensi mulut ditahan terbuka dengan suatu
penutup dan lidah didorong keluar dari jalan. Penyedotan harus
dapat diperoleh untuk mencegah inflamasi dari darah. Tonsil
diangkat dengan diseksi / quillotine.
Metode apapun yang digunakan penting untuk mengangkat tonsil
secara lengkap. Perdarahan dikendalikan dengan menginsersi suatu
pak kasa ke dalam ruang post nasal yang harus diangkat setelah
pembedahan. Perdarahan yang berlanjut dapat ditangani dengan
mengadakan ligasi pembuluh darah pada dasar tonsil.
b) Perawatan Paska-bedah
 Berbaring ke samping sampai bangun kemudian posisi mid
fowler.
 Memantau tanda-tanda perdarahan
 Menelan berulang
 Muntah darah segar
 Peningkatan denyut nadi pada saat tidur
 Diet
 Memberikan cairan bila muntah telah reda
 Mendukung posisi untuk menelan potongan makanan yang
besar (lebih nyaman dari ada kepingan kecil).
 Hindari pemakaian sedotan (suction dapat menyebabkan
perdarahan).
 Menawarkan makanan
 Es crem, crustard dingin, sup krim, dan jus.
 Refined sereal dan telur setengah matang biasanya lebih dapat
dinikmati pada pagi hari setelah perdarahan.
 Hindari jus jeruk, minuman panas, makanan kasar, atau
banyak bumbu selama 1 minggu.
 Mengatasi ketidaknyamanan pada tenggorokan
 Menggunakan ice color (kompres es) bila mau
 Memberikan anakgesik (hindari aspirin)
 Melaporkan segera tanda-tanda perdarahan.
 Minum 2-3 liter/hari sampai bau mulut hilang.
 Mengajari pasien mengenal hal berikut
 Hindari latihan berlebihan, batuk, bersin, berdahak dan
menyisi hidung segera selama 1-2 minggu.
 Tinja mungkin seperti teh dalam beberapa hari karena darah
yang tertelan.
 Tenggorokan tidak nyaman dapat sedikit bertambah antara
hari ke-4 dan ke-8 setelah operasi.

J. PENGKAJIAN FOKUS
Focus pengkajian menurut Firman S (2006), yaitu :
• Wawancara
1. Kaji adanya riwayat penyakit sebelumnya (tonsillitis)
2. Apakah pengobatan adekuat
3. Kapan gejala itu muncul
4. Apakah mempunyai kebiasaan merokok
5. Bagaimana pola makannya
6. Apakah rutin / rajin membersihkan mulut
• Pemeriksaan fisik
1. Data dasar pengkajian menurut Doengoes, (1999), yaitu :
a. Intergritas Ego
Gejala : Perasaan takut, khawatir bila pembedahan mempengaruhi
hubungan keluarga, kemampuan kerja, dan keuangan.
Tanda : ansietas, depresi, menolak.
b. Makanan / Cairan
Gejala : Kesulitan menelan
Tanda : Kesulitan menelan, mudah terdesak, inflamasi, kebersihan gigi
buruk.
c. Hygiene
Tanda : Kesulitan menelan
d. Nyeri / Keamanan
Tanda : Gelisah, perilaku berhati-bati
Gejala : Sakit tenggorokan kronis, penyebaran nyeri ke telinga
e. Pernapasan
Gejala : Riwayat merokok / mengunyah tembakau, bekerja dengan
serbuk kayu, debu.
2. Hasil pemerisaan fisik secara umum di dapat :
a. Pembesaran tonsil dan hiperemis,
b. letargi,
c. kesulitan menelan,
d. demam,
e. nyeri tenggorokan,
f. kebersihan mulut buruk.
3. Pemeriksaan diagnostik
4. Pemeriksaan usap tenggorok
Pemeriksaan ini sebaiknya dilakukan sebelum memberikan pengobatan,
terutama bila keadaan memungkinkan. Dengan melakukan pemeriksaan
ini kita dapat mengetahui kuman penyebab dan obat yang masih sensitif
terhadapnya.
K. PATHWAYS KEPERAWATAN

Bakteri Virus
(dalam udara & makanan) (dalam udara & makanan)

Peradangan tonsil Prod. Secret berlebih

Tonsilitis
Bersihan jln nafas tidak
efektif
Pembesaran tonsil Peningkatan suhu tubuh

Benda asing di jln nafas Diprose

Kekurangan volume
Obst jalan nafas Obst mekanik
cairan

Bersihan jln nafas


Resiko kerusakan menelan
tidak efektif Gangguan rasa nyaman
(nyeri)
Tonsilektomi Anoreksia

Kurang Resiko Resiko perubahan


pemahaman perdarahan nutrisi kurang
dari kebutuhan

Kurang Darah dari


pengetahua saluran nafas

Bersihan jln
nafas
L. DIAGNOSA KEPERAWATAN
Diagnosa keperawatan yang mungkin muncul :
1. Pre Operasi
a. Kerusakan menelan berhubungan dengan proses inflamasi.
b. Nyeri akut berhubungan dengan pembengkakan jaringan tonsil.
c. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan
dengan intake yang tidak adekuat.
2. Post Operasi
a. Nyeri akut berhubungan dengan insisi bedah, diskontinuitas jaringan.
b. Resiko tinggi terhadap infeksi berhubungan dengan prosedur invasif.
c.Kurang pengetahuan tentang diet berhubungan dengan kurang informasi.

M. INTERVENSI
1. Pre Operasi
Dx 1 : Kerusakan menelan berhubungan dengan proses inflamasi.
Tujuan : Setelah dlakukan tindakan keperawatan terapi menelan selama 3x24
jam diharapkan tidak ada masalah dalam makan sehingga kerusakan menelan
dapat diatasi
Kriteria hasil :
1. Reflek makan normal
2. Tidak tersedak saat makan
3. Tidak batuk saat menelan
4. Usaha menelan secara normal
5. Menelan dengan nyaman
Intervensi :
1. Pantau gerakan lidah klien saat menelan
2. Hindari penggunaan sedotan minuman
3. Bantu pasien untuk memposisikan kepala fleksi ke depan untuk
menyiapkan menelan.
4. Libatkan keluarga untuk memberikan dukungan dan penenangan pasien
selama makan / minum obat.
Dx 2 : Nyeri akut berhubungan dengan pembengkakan jaringan tonsil.
Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan manejemen nyeri selama 3 x 24
jam diharapkan tidak ada masalah dalam nyeri dengan skala 4 sehingga
nyeri dapat berkurang
Kriteria hasil :
1. Wajah pasien tidak meringis
2. Skala nyeri 4-5
Intervensi :
1. Lakukan pengkajian nyeri secara komprehensif termasuk lokasi, karakteristik,
durasi, frekuensi, kualitas dan faktor presipitasi.
2. Ajarkan teknik non farmakologi dengan distraksi / latihan nafas dalam.
3. Observasi reaksi non verbal dari ketidanyamanan.
4. Anjurkan pasien untuk istirahat
5. Kolaborasi dengan dokter pemberikan analgesik yang sesuai.

Dx 3: Nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan anoreksia.


Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan manejemen nutrisi selama 3 x 24
jam diharapkan tidak ada masalah nutrisi dengan skala 4 sehingga ketidak
seimbangan nutrisi dapat teratasi
Kriteria hasil :
1. Adanya peningkatan BB
2. BB ideal sesuai tinggi badan
3. Mampu mengidentifikasi kebutuhan nutrisi
4. Tidak ada tanda-tanda malnutrisi.
5. Konjungtiva tidak anemis
6. Wajah tidak pucat
Intervensi
1. Berikan makanan yang bergisi
2. Kaji kemampuan klien untuk mendapatkan nutrisi yang dibutuhkan
3. Berikan makanan sedikit tapi sering
4. Berikan makanan selagi hangat dan dalam bentuk menarik.
BAB III

PENUTUP

A. KESIMPULAN

Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa tonsillitis adalah suatu


infeksi pada tonsil yang disebabkan oleh bakteri atau virus disertai disfagia
dan demam yang sering terjadi pada anak-anak, bakteri dan virus yang
menyerang tonsil, sehingga membengkak dan meradang menyebabkan
tonsillitis. Biasanya disertai demam,muntah tidak enak badan,sakit kepala,
mudah lelah dan lain lain, Tonsilitis juga dapat menimbulkan penyakit lain,
seperti otitis media, dan mastoiditis.

B. SARAN

Dari hasil pengamatan penulis ada masalah yang belum


teratasi,maka adapun saran yang disampaikan adalah sebagai berikut :

1. Kepada Penulis

a. Perlunya pendokumentasian Asuhan Keperawatan Kesehatan sehingga


kasus – kasus dengan tonsillitis dapat dipantau dan diamati
perkembangannya serta lebih ditingkatkan dalam pemberian pelayanan
yang terpadu dan menyeluruh pada masyarakat.

b. Lebih meningkatkan kerja operasionalnya melalui kegiatan pendidikan


atau penyuluhan kesehatan.

2. Kepada Keluarga

a. Hendaknya keluarga memanfaatkan sebaik mungkin penkes yang


dilakukan oleh petugas kesehatan.

b. Pasien pergi berobat kesarana kesehatan secara teratur.

3. Kepada pasien
a. Pasien tonsillitis sebaiknya menjaga pola makan dan memakan
makanan yang sehat ( tidak terkontaminasi oleh bakteri dan virus )
b. Pasien pergi berobat kesarana kesehatan secara teratur.

4. Kepada masyarakat

a. Dalam kehidupan sehari- hari biasakanlah pola hidup bersih dan sehat
contohnya cuci tangan sebelum dan sesudah makan, sehingga
meminimalkan bakteri dan virus yang masuk dalam tubuh kita

b. Makan makanan yang sehat

c. Apabila ada keluhan dalam menelan segera konsultasikan kepada


dokter dan lakukan cek up secara berkala
DAFTAR PUSTAKA

1. Long C. Barbara. 1996. Keperawatan Medikal Bedah. Edisi. 2. Bandung

2. Doengoes, Marilynn D. 1999. Rencana Asuhan Keparawatan. Jakarta:EGC.

3. Mansjoer, Arif. 2000. Kapita Selekta Kedokteran. Jakarta:Media Aeus


Calpius.

4. Ngastiyah. 1997. Perawatan anak Sakit. Jakarta:EGC.

5. Pracy R, dkk.1985. Pelajaran Ringkasan Telinga hidung Tenggorokan.


aJakarta:Gramedia.

6. Price, Silvia.1995.Patofisiologi Konsep Klinis Proses PenyakitJakarta:EGC.

7. Wilkinson, Judith.2000.Buku Saku Diagnosis Keperawatan dengan Intervensi


NIC dan Kriteria hasil NOC Edisi 7.Jakarta:EGC.
ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN DENGAN TONSILITIS

Disusun Oleh:
1. Slamet riyadi (GOA008111) 11. U. Wahyu K (GOA008122)
2. Sri wulansari (GOA008112) 12. Vika Ari W (GOA008123)
3. Sri Zaeniati N. W (GOA008113) 13. Wahyu Novia (GOA008124)
4. Sukmawati N (GOA008114) 14. Wahyuni Utami (GOA008126)
5. Sukma A. W (GOA008115) 15. Widyaningsih M (GOA008127)
6. Susi H (GOA008116) 16. Yeki Hasan A. (GOA008128)
7. Totok Antono (GOA008118) 17. Yulekha (GOA008129)
8. Tri Hendriyani (GOA008119) 18. Yuli Nur S (GOA008130)
9. Tri Sarwo I (GOA008120) 19. Yudana Arguna (GOA008131)
10. Umaroh C (GOA008121) 20. Yuta S (GOA008132)

PROGRAM STUDI DIII KEPERAWATAN


FAKULTAS ILMU KEPERAWATAN DAN KESEHATAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SEMARANG
2010