Anda di halaman 1dari 7

Nilai Konstitusi UUD 1945 (Normatif , Nominal dan Semantik)

Suatu konstitusi memiliki 3 nilai , yaitu :

1. Normatif , suatu konstitusi dapat dikatakan memiliki nilai normatif apabila konstitusi
tersebut tidak hanya tertulis didalam hukum melainkan dilakukan juga oleh seluruh
rakyat dan ditaati
2. Nominal , suatu konstitusi dapat dikatakan memiliki nilai nominal apabila konstitusi
tersebut hanya dijalankan oleh para penguasa
3. Semantik , suatu konstitusi dapat dikatakan memiliki nilai semantik apabila konstitusi
tersebut hanya menjadi jargon para penguasa untuk mempertahankan kekuasaannya

UUD 1945

 Pasal 1 ayat 1 sampai 3 bersifat Normatif


 Pasal 2 ayat 1 sampai 3 bersifat Nominal
 Pasal 3 ayat 1 sampai 3 bersifat Nominal
 Pasal 4 ayat 1 sampai 2 bersifat Nominal
 Pasal 5 ayat 1 sampai 2 bersifat Nominal
 Pasal 6 ayat 1 sampai 2 bersifat Nominal
 Pasal 6A ayat 1 sampai 5 bersifat Nominal
 Pasal 7 bersifat Nominal
 Pasal 7A bersifat Nominal
 Pasal 7B ayat 1 sampai 7 bersifat Nominal
 Pasal 7C bersifat Nominal
 Pasal 8 ayat 1 sampai 3 bersifat Nominal
 Pasal 9 ayat 1 sampai 2 bersifat Nominal
 Pasal 10 bersifat Semantik
 Pasal 11 ayat 1 sampai ayat 3 bersifat Nominal
 Pasal 12 bersifat Nominal
 Pasal 13 ayat 1 sampai 3 bersifat Nominal
 Pasal 14 ayat 1 sampai 2 bersifat Nominal
 Pasal 15 bersifat Nominal
 Pasal 16 bersifat Nominal
 Pasal 17 ayat 1 sampai 4 bersifat Nominal
 Pasal 18 ayat 1 sampai 7 bersifat Normatif
 Pasal 18A ayat 1 sampai 2 bersifat Normatif
 Pasal 18B ayat 1 sampai 2 bersifat Normatif
 Pasal 19 ayat 1 sampai 3 bersifat Nominal
 Pasal 20 ayat 1 sampai 5 bersifat Nominal
 Pasal 20A ayat 1 sampai 4 bersifat Nominal
 Pasal 21 bersifat Nominal
 Pasal 22 ayat 1 sampai 3 bersifat Nominal
 Pasal 22A bersifat Nominal
 Pasal 22B bersifat Nominal
 Pasal 22C ayat 1 sampai 4 bersifat Nominal
 Pasal 22D ayat 1 sampai 4 bersifat Nominal
 Pasal 22E ayat 1 sampai 6 bersifat Normatif 
 Pasal 23 ayat 1 sampai 3 bersifat Nominal
 Pasal 23A bersifat Normatif
 Pasal 23B bersifat Normatif
 Pasal 23C bersifat Normatif
 Pasal 23D bersifat Normatif
 Pasal 23E ayat 1 sampai 3 bersifat Nominal
 Pasal 23F ayat 1 sampai 2 bersifat Nominal
 Pasal 23G ayat 1 sampai 2 bersifat Nominal
 Pasal 24 ayat 1 sampai 3 bersifat Nominal
 Pasal 24A ayat 1 sampai 5 bersifat Nominal
 Pasal 24B ayat 1 sampai 4 bersifat Nominal
 Pasal 24C ayat 1 sampai 6 bersifat Nominal
 Pasal 25 bersifat Normatif
 Pasal 25A bersifat Normatif
 Pasal 26 ayat 1 sampai 3 bersifat Normatif
 Pasal 27 ayat 1 sampai 3 bersifat Normatif
 Pasal 28 bersifat Normatif
 Pasal 28A - J tentang HAM bersifat Normatif karena mencangkup semua orang
 Pasal 29 ayat 1 sampai 2 bersifat Normatif
 Pasal 30 ayat 1 sampai 5 bersifat Normatif
 Pasal 31 ayat 1 sampai 5 bersifat Normatif
 Pasal 32 ayat 1 sampai 2 bersifat Normatif
 Pasal 33 ayat 1 sampai 5 bersifat Normatif , kecuali ayat 2 yang bersifat Semantik
 Pasal 34 ayat 1 sampai 4 bersifat Normatif
 Pasak 35 sampai 36C bersifat Normatif (Bendera, Bahasa, dan Lambang Negara , serta
lagu kebangsaan)
 Pasal 37 ayat 1 sampai 5 bersifat Nominal

PENERAPAN NILAI-NILAI KONSTITUSI DALAM UNDANG-UNDANG DASAR 1945

Menurut Karl Lowenstein setiap konstitusi selalu terdapat dua aspek penting, yaitu sifat idealnya sebagai
teori (das sollen)dan sifat nyatanya sebagai praktik (das sein). Suatu konstitusi yang mengikat itu bila
dipahami, diakui, diterima, dan dipatuhi oleh masyarakat bukan hanya berlaku dalam arti hukum, akan
tetapi juga merupakan suatu kenyataan yang hidup dalam arti sepenuhnya diperlukan dan efektif, maka
konstitusi tersebut dinamakan konstitusi yang mempunyai nilai normatif. Namun bila suatu konstitusi
sebagian atau seluruh materi muatannya, dalam kenyataannya tidak dipakai atau pemakaiannya kurang
sempurna dalam kenyataan. Dan tidak dipergunakan sebagai rujukan atau pedoman dalam pengambilan
keputusan dalam penyelenggaraan kegiatan bernegara,  maka dapat dikatakan konstitusi tersebut
bernilai nominal.

Salahsatu contoh penerapan nilai normatif dalam undang-undang dasar 1945 terdapat dalam pasal 7B.
Pasal 7B mengatur mengenai pemberhatian presiden dan/atau wakil presiden yang dapat diajukan oleh
dewan perwakilan rakyat kepada majelis permusyawaratan rakyat hanya dengan terlebih dahulu
mengajukan permintaan kepada mahkamah konstitusi untuk memeriksa, mengadili dan memutus
pendapat dewan perwakilan rakyat bahwa presiden dan/atau wakil presiden telah melakukan
pelanggaran hukum berupa pengkhianatan terhadap Negara, korupsi, penyuapan, tindak pidana berat
lainnya, atau perbuatan tercela; dan/atau pendapat bahwa presiden dan/atau wakil presiden tidak lagi
memenuhi syarat sebagai presiden dan/atau wakil presiden.

Berbicara konstitusi Indonesia tidak terlepas dari konstitusi tertulisnya yakni, Undang-Undang Dasar
(UUD) 1945. UUD 1945 sebelum amandemen memiliki kecenderungan bersifat konstitusi yang bernilai
semantik. Contohnya UUD 1945 pada zaman Orde baru dan Orde lama pada waktu itu berlaku secara
hukum, tetapi dalam praktiknya keberlakuan itu semata-mata hanya untuk kepentingan penguasa saja
dengan dalih untuk melaksanakan Undang-Undang dasar 1945. Kenyataan itu dapat kita lihat dalam
masa Orde Lama ikut campur penguasa dalam hal ini esekutif (Presiden)  dalam bidang peradilan, yang
sebenarnya dalam pasal 24 dan 25 Undang-Undang dasar 1945 harus bebas dan tidak memihak, hal
tersebut dapat terlihat dengan adanya Undang-undang No. 19 tahun 1965.

Pada masa Orde Baru konstitusi pun menjadi arena pelanggengan kekuasaan hal tersebut terlihat
dengan rigidnya sifat konstitusi yang “sengaja” dibuat dengan membuat peraturan atau prosedur
perubahan demikian sulit, padahal Undang-Undang Dasar pada saat itu dibentuk dengan tujuan sebagai
Undang-Undang Dasar sementara, mengingat kondisi negara yang pada waktu itu telah
memproklamirkan kemerdekaan maka diperlukanlah suatu Undang-Undang dasar sebagai dasar hukum
tertinggi. Namun dikarenakan konstitusi tersebut masih dimungkinkan untuk melanggengakan
kekuasaan, maka konstitusi tersebut dipertahankan. Maka timbulah adigium negatif “Konstitusi akan
dipertahankan sepanjang dapat melanggengkan kekuasaan”.

Pasca perubahan Undang-Undang Dasar 1945 amandemen ke-4, memberikan nilai lain pada konstitusi
kita. Dalam beberapa pasal konstitusi kita memiliki nilai nominal, namun untuk beberapa pasal memiliki
nilai normatif. Misal pada pasal 28 A-J UUD 1945 tentang Hak Asasi manusia, namun pada kenyataan
masih banyak pelanggaran atas pemenuhan hak asasi tersebut, katakanlah dalam pasal 28B ayat (2),
yang berbunyi “Setiap orang berhak atas kekeluargaan hidup, tumbuh, dan berkembang serta berhak
atas perlindungan dari kekerasan dan diskriminasi (penebalan tulisan oleh penulis). Walaupun dalam
ayat tersebut terdapat hak atas perlindungan dari kekerasan dan diskriminasi namun kenyataannya
masih banyak diskriminasi-diskriminasi penduduk pribumi keturunan. Terlebih pada era orde baru.
Kemudian pasal 29 ayat (2), yang berbunyi “ Negara menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduk untuk
memeluk agamanya masing-masing dan untuk beribadat menurut agamanya dan kepercayaannya itu”.
Perkataan Negara menjamin kemerdekaan menjadi sia-sia kalau agama yang diakui di Indonesia hanya
5 dan 1 kepercayaan. Hal tersebut menjadi delematis dan tidak konsekuen, bila memang kenyataan
demikian, mengapa tidak dituliskan secara eksplisit dalam ayat tersebut. Hal lain adalah dalam pasal 31
ayat (2), yang berbunyi “ Setiap warga negara wajib mengikuti pendidikan dasar dan pemerintah wajib
membiayainya” . Kata-kata wajib membiayainya seharusnya pemerintah membiayai seluruh pendidikan
dasar tanpa terdikotomi dengan apakah sekolah tersebut swasta atau negeri, karena kata wajib disana
tidak merujuk pada sekolah dasar negeri saja, seperti yang dilaksanakan pemerintah tahun ini, tetapi
seluruh sekolah dasar. Pasal selanjutnya adalah pasal 33 ayat (3), yang berbunyi “Bumi dan air dan
kekayaan alam yang terkandung didalamnya dikuasai oleh negara dan dipergunakan untuk sebesar-
besarnya kemakmuran rakyat”.

Kata dipergunakan dalam ayat tersebut tampaknya masih jauh dari kenyataan, betapa tidak banyak
eskploitasi sumber daya alam bangsa ini yang dikuras habis oleh perusahaan asing yang sebagian besar
keuntungannya di bawa pulang ke negara asal mereka. Kondisi demikian masih jauh dari tujuan pasal
tersebut yakni kemakmuran rakyat bukan kemakmuran investor. Selanjutnya pasal 34 ayat (1), yang
berbunyi “ fakir miskin dan anak-anak yang terlantar dipelihara oleh negara”. Kata dipelihara disini
bukan berarti fakir miskin dan anak-anak terlantar dibiarkan “berpesta ngemis” atau bergelandang
tanpa dicari solusi dan menjamin jaminan sosial dimana sesuai dengan tujuan awal, yakni
kesemakmuran seluruh rakyat Indonesia.

Kesimpulan dari pemaparan diatas tampaknya UUD kita mempunyai nilai nominal. Sebab walaupun
secara hukum konstitusi ini berlaku dan mengikat peraturan dibawahnya, akan tetapi dalam kenyataan
tidak semua pasal dalam konstitusi berlaku secara menyeluruh, yang hidup dalam arti sepenuhnya
diperlukan dan efektif dan dijalankan secara murni dan konsekuen.

Konstitusi (bahasa Latin: constitutio) dalam negara adalah sebuah norma sistem politik dan hukum
bentukan pada pemerintahan negara - biasanya dikodifikasikan sebagai dokumen tertulis - Dalam kasus
bentukan negara, konstitusi memuat aturan dan prinsip-prinsip entitas politik dan hukum, istilah ini
merujuk secara khusus untuk menetapkan konstitusi nasional sebagai prinsip-prinsip dasar politik,
prinsip-prinsip dasar hukum termasuk dalam bentukan struktur, prosedur, wewenang dan kewajiban
pemerintahan negara pada umumnya, Konstitusi umumnya merujuk pada penjaminan hak kepada
warga masyarakatnya. Istilah konstitusi dapat diterapkan kepada seluruh hukum yang mendefinisikan
fungsi pemerintahan negara. Untuk melihat konstitusi pemerintahan negara tertentu, lihat daftar
konstitusi nasional.
Dalam bentukan organisasi konstitusi menjelaskan bentuk, struktur, aktivitas, karakter, dan aturan dasar
organisasi tersebut.
Jenis organisasi yang menggunakan konsep Konstitusi termasuk:

 Organisasi pemerintahan (transnasional, nasional atau regional)


 organisasi sukarela
 persatuan dagang
 partai politik
 perusahaan
Pengertian KONSTITUSI Konstitusi pada umumnya bersifat kodifikasi yaitu sebuah dokumen yang
berisian aturan-aturan untuk menjalankan suatu organisasi pemerintahan negara, namun dalam
pengertian ini, konstitusi harus diartikan dalam artian tidak semuanya berupa dokumen tertulis (formal).
namun menurut para ahli ilmu hukum maupun ilmu politik konstitusi harus diterjemahkan termasuk
kesepakatan politik, negara, kekuasaan, pengambilan keputusan, kebijakan dan distibusi maupun alokasi
[1]
, Konstitusi bagi organisasi pemerintahan negara yang dimaksud terdapat beragam bentuk dan
kompleksitas strukturnya, terdapat konstitusi politik atau hukum akan tetapi mengandung pula arti
konstitusi ekonomi [2]
Dewasa ini, istilah konstitusi sering di identikkan dengan suatu kodifikasi atas dokumen yang tertulis dan
di Inggris memiliki konstitusi tidak dalam bentuk kodifikasi akan tetapi berdasarkan pada yurisprudensi
dalam ketatanegaraan negara Inggris dan mana pula juga Konstitusi Istilah konstitusi berasal dari bahasa
inggris yaitu “Constitution” dan berasal dari bahasa belanda “constitue” dalam bahasa latin
(contitutio,constituere) dalam bahasa prancis yaitu “constiture” dalam bahsa jerman “vertassung”
dalam ketatanegaraan RI diartikan sama dengan Undang – undang dasar. Konstitusi / UUD dapat
diartikan peraturan dasar dan yang memuat ketentuan – ketentuan pokok dan menjadi satu sumber
perundang- undangan. Konstitusi adalah keseluruhan peraturan baik yang tertulis maupun tidak tertulis
yang mengatur secara mengikat cara suatu pemerintahan diselenggarakan dalam suatu masyarakata
negara
A. pengertian konstitusi menurut para ahli 1) K. C. Wheare, konstitusi adalah keseluruhan sistem
ketaatanegaraaan suatu negara yang berupa kumpulan peraturan yang membentuk mengatur
/memerintah dalam pemerintahan suatu negara. 2) Herman heller, konstitusi mempunyai arti luas
daripada UUD. Konstitusi tidak hanya bersifat yuridis tetapi juga sosiologis dan politis 3) Lasalle,
konstitusi adalah hubungan antara kekuasaaan yang terdapat di dalam masyarakat seperti golongan
yang mempunyai kedudukan nyata di dalam masyarakat misalnya kepala negara angkatan perang, partai
politik dsb 4) L.j Van Apeldoorn, konstitusi memuat baik peraturan tertulis maupun peraturan tak
tertulis 5) Koernimanto soetopawiro, istilah konstitusi berasal dari bahasa latin cisme yang berarati
bewrsama dengan dan statute yang berarti membuat sesuatu agar berdiri. Jadi konstitusi berarti
menetapkan secara bersama. 6) Carl schmitt membagi konstitusi dalam 4 pengertian yaitu: a) Konstitusi
dalam arti absolut mempunyai 4 sub pengertian yaitu; o Konstitusi sebagai kesatuan organisasi yang
mencakup hukum dan semua organisasi yang ada di dalam negara. o Konstitusi sebagai bentuk negara o
Konstitusi sebagai faktor integrasi o Konstitusi sebagai sistem tertutup dari norma hukum yang tertinggi
di dalam negara b) Konstitusi dalam artoi relatif dibagi menjadi 2 pengertian yaitu konstitusi sebagai
tuntyutan dari golongan borjuis agar haknya dapat dijamin oleh penguasa dan konstitusi sebagai sebuah
konstitusi dalam arti formil (konstitrusi dapat berupa terttulis) dan konstitusi dalam arti materiil
(konstitusi yang dilihat dari segi isinya) c) konstitusi dalam arti positif adalah sebagai sebuah keputusan
politik yang tertinggi sehingga mampu mengubah tatanan kehidupan kenegaraan d) konstitusi dalam arti
ideal yaitu konstitusi yang memuat adanya jaminan atas hak asasi serta perlindungannya
B. tujuan konstitusi yaitu: 1) Membatasi kekuasaan penguasa agar tidak bertindak sewenang – wenang
maksudnya tanpa membatasi kekuasaan penguasa, konstitusi tidak akan berjalan dengan baik dan bisa
saja kekuasaan penguasa akan merajalela Dan bisa merugikan rakyat banyak 2) Melindungi Ham
maksudnya setiap penguasa berhak menghormati Ham orang lain dan hak memperoleh perlindungan
hukum dalam hal melaksanakan haknya. 3) Pedoman penyelengaraan negara maksudnya tanpa adanya
pedoman konstitusi negara kita tidak akan berdiri dengan kokoh.
C. Nilai konstitusi yaitu: 1. Nilai normatif adalah suatu konstitusi yang resmi diterima oleh suatu bangsa
dan bagi mereka konstitusi itu tidak hanya berlaku dalam arti hukum (legal), tetapi juga nyata berlaku
dalam masyarakat dalam arti berlaku efgektif dan dilaksanakan secara murni dan konsekuen. 2. Nilai
nominal adalah suatu konstitusi yang menurut hukum berlaku, tetrapi tidak sempurna. Ketidak
sempurnaan itu disebabkan pasal – pasal tertentu tidak berlaku / tidsak seluruh pasal – pasal yang
terdapat dalam UUD itu berlaku bagi seluruh wilayah negara. 3. Nilai semantik adalah suatu konstitusi
yang berlaku hanya untuk kepentingan penguasa saja. Dalam memobilisasi kekuasaan, penguasa
menggunakan konstitusi sebagai alat untuk melaksanakan kekuasaan politik.
D. Macam – macam konstitusi 1) Menurut CF. Strong konstitusi terdiri Konstitusi tertulis (dokumentary
constiutution / writendari: constitution) adalah aturan – aturan pokok dasar negara , bangunan
negara dan tata negara, demikian juga aturan dasar lainnya yang mengatur perikehidupan suatu
bangsa di dalam persekutuan hukum negara. Konstitusi tidak tertulis / konvensi(nondokumentary
constitution) adalah berupa kebiasaan ketatanegaraan yang sering timbul. Adapun syarat – syarat
konvensi adalah: 1) Diakui dan dipergunakan berulang – ulang dalam praktik penyelenggaraan negara. 2)
Tidak bertentangan dengan UUD 1945 3) Memperhatikan pelaksanaan UUD 1945. 2) secara teoritis
konstitusi dibedakan menjadi: a) konstitusi politik adalah berisi tentang norma- norma dalam
penyelenggaraan negara, hubungan rakyat dengan pemerintah, hubuyngan antar lembaga negara. b)
Konstitusi sosial adalah konstitusi yang mengandung cita – cita sosial bangsa, rumusan filosofis negara,
sistem sosial, sistem ekonomi, dan sistem politik yang ingin dikembangkan bangsa itu. 3) bedasarkan
sifat dari konstitusi yaitu: 1) Flexible / luwes apabila konstitusi / undang undang dasar memungkinkan
untuk berubah sesuai dengan perkembangan. 2) Rigid / kaku apabila konstitusi / undang undang dasar
jika sulit untuk diubah. 4) unsur /substansi sebuah konstitusi yaitu: a) Menurut sri sumantri konstitusi
berisi 3 hal pokok yaitu: 1) Jaminan terhadap Ham dan warga negara 2) Susunan ketatanegaraan yang
bersdifat fundamental 3) Pembagian dan poembatasan tugas ketatanegaraan b) Menurut Miriam
budiarjo, konstitusi memuat tentang: Organisasi negara HAM Prosedur penyelesaian masalah
pelanggaran hukum Cara perubahan konstitusi. c) Menurut koerniatmanto soetopawiro, konstitusi berisi
tentang: 1) Pernyataan ideologis 2) Pembagian kekuasaan negara 3) Jaminan HAM (hak asasi manusia)
4) Perubahan konstitusi 5) Larangan perubahan konstitusi
E. Syarat terjadinya konstitusi yaitu: Agar suatu bentuk pemerintahan dapat dijalankan secara demokrasi
dengan memperhatikan kepentingan rakyat. Melinmdungi asas demokrasi Menciptakan kedaulatan
tertinggi yang berada ditangan rakyat Untuk melaksanakan dasar negara Menentukan suatu hukum
yang bersifat adil
F. Kedudukan konstitusi (UUD) Dengan adanya UUD baik penguasa dapat mengetahui aturan /
ketentuan pokok mendasar mengenai ketatanegaraan . Sebagai hukum dasar Sebagai hukum yang
tertinggi
G. perubahan konstitusi / UUD yaitu: Secara revolusi, pemerintahan baru terbentuk sebagai hasil
revolusi ini yang kadang – kadang membuat sesuatu UUD yang kemudian mendapat persetujuan rakyat.
Secara evolusi, UUD/konstitusi berubah secara berangsur – angsur yang dapat menimbulkan suatu UUD,
secara otomatis UUD yang sama tidak berlaku lagi.
H. keterkaitan antara dasar negara dengan konstitusi yaitu: keterkaitan antara dasar negara dengan
konstitusi nampak pada gagasan dasar, cita – cita dan tujuan negara yang tertuang dalam pembukaan
UUD suatu negara. Dasar negara sebagai pedoaman penyelenggaraan negara secara tertulis termuat
dalam konstitusi suatu negara
I. Keterkaitan konstitusi dengan UUD yaitu: Konstitusi adalah hukum dasar tertulis dan tidak ter tulis
sedangkan UUD adalah hukum dasar tertulis. Uud memiliki sifat mengikat oleh karenanya makin elastik
sifatnya aturan itui makin baik, konstitusi menyangkut cara suatu pemeritahan diselenggarakan

Anda mungkin juga menyukai