Anda di halaman 1dari 13

PENERAPAN METODE PELEG MODEL PADA PERPINDAHAN MASSA SELAMA

PERENDAMAN KEDELAI KUNING DALAM LARUTAN GARAM 5%, LARUTAN


GARAM 10%, DAN LARUTAN GARAM 15% SELAMA 30 MENIT

ABSTRACT

Mass transfer is the migration of a constituent of a fluid or a component of a mixture, while


diffusion is one of mass transfer application. Diffusion is the migration of solute from the higher to the
lower concentration. Driving force of diffusion is concentration differences. This experiment is conducted
to study water absorption and mass transfer of soybean during 30 minutes soaking. The object of this
experiment are differences of mass diffusivity and water absorption rate of soybeans that was soaked in
5% concentration NaCl solution, 10% concentration NaCl solution, 15% concentration NaCl solution, and
equilibrium water content of soybeans.
The method was used in this experiment was Peleg Model. First, 10 grams of soybeans were
soaked in 5% NaCl solution, 10% NaCl solution, and 15% NaCl solution which each solution was
repeated twice. Soybean’s weight was measured every 5 minutes during 30 minutes. There was change
of soybean’s weight in every measurement.
The result showed that K1 values were 3,4353 x 10-3 h/% (15% NaCl solution) ; 2,7739 x 10-3 h/
%(5% NaCl solution) ; 1,0988 x 10-3 h /% (10% Nacl solution) ; K2 values were 0,0277 /% (10% NaCl
solution) ;0,0192 /% (5% NaCl solution) ; 0,0220 /% (15% NaCl solution) ; Ro values were 910,0837
%/hour (10% NaCl solution) ; 360,5033 %/hour ( 5% NaCl solution) ; 291,0954 %/hour (15% NaCl
solution) ;
Keyword : soybean , peleg model, mass transfer, diffusion, NaCl solution

PENDAHULUAN
Transfer massa merupakan migrasi suatu komponen dari campuran yang terjadi karena
adanya perubahan dalam keseimbangan sistemnya yang disebabkan karena adanya
perbedaan konsentrasi. Adanya perbedaan konsentrasi zat kimia antara bahan dan lingkungan
disebut sebagai Driving force atau gaya penggerak dari proses transfer massa. Perpindahan
tersebut dapat terjadi dalam satu fase maupun antara satu fase dengan fase lainnya (Singh,
2001). Transfer massa menyangkut difusi massa keseluruhan yang terjadi pada tingkat molekul
dan pengangkutan bagian terbesar (bulk) dari massa dengan aliran konveksi.
Difusi adalah proses perpindahan zat terlarut dari daerah dengan konsentrasi zat
terlarut lebih tinggi ke daerah dengan konsentrasi zat terlarut lebih rendah. Difusi terjadi apabila
fasa-fasa yang ada tidak berada dalam kesetimbangan, dan akan berakhir saat kesetimbangan
sudah tercapai. Hampir semua proses pemisahan dengan difusi terjadi melalui kesetimbangan
antara dua fasa yang tidak saling melarutkan yang mempunyai perbedaan komposisi pada saat
kesetimbangan. Rumus yang umumnya digunakan dalam ilmu keteknikan dalam bidang
transfer massa:
Dimana kc adalah koefisien transfer massa [mol/(s·m2)/(mol/m3), atau m/s]; adalah
kecepatan transfer massa (mol/s); A adalah daerah transfer massa efektif; dan ΔCA adalah
perbedaan konsentrasi (driving force). (Singh, 2001).
Koefisien difusi bahan adalah kemampuan bahan untuk melakukan difusi. Kecepatan
difusi air atau transfer massa dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti :
- Luas permukaan kontak bahan dengan air perendam
Semakin besar luas permukaan kontak bahan dengan air perendam maka transfer massa
yang terjadi semakin banyak.
- Kadar air di dalam bahan
Makin tinggi kadar air bahan, makin lambat kecepatan difusinya
- Konsentrasi
Semakin besar perbedaan konsentrasi, maka transfer massa semakin cepat
- Jarak dari permukaan ke pusat bahan
Semakin besar jarak dari permukaan ke pusat bahan maka transfer massa terjadi semakin
lama karena untuk mencapai kesetimbangan yang merata dibutuhkan waktu yang lama
untuk mencapainya.
- Waktu
Semakin lama waktu perendaman, laju pergerakan transfer massa semakin lambat karena
perbedaan konsentrasi semakin kecil (hampir mencapai kesetimbangan)
- Karakteristik bahan (hubungannya dengan koefisien difusi bahan)
Semakin besar difusivitas maka transfer massa semakin cepat
- Suhu
Semakin tinggi suhu maka pori-pori semakin besar karena protein pada membran rusak
(terdenaturasi) dan proses difusivitas semakin cepat.
- Tekanan osmosis
Semakin tinggi tekanan osmosis maka transfer massa semakin cepat
- Porositas
Semakin besar/semakin banyak pori pada bahan maka semakin cepat transfer massa
(Singh, 2001)

Proses difusi itu terbagi ke dalam 3 jenis yaitu :


1. Difusi cair
Dikatakan difusi cair jika terjadi perpindahan molekul cairan dari konsentrasi
tinggi ke konsentrasi rendah.
2. Difusi padat
Dikatakan difusi padat jika terjadi perpindahan molekul padatan dari konsentrasi
tinggi ke konsentrasi rendah.
3. Difusi gas
Dikatakan difusi gas jika terjadi perpindahan molekul gas dari konsentrasi tinggi
ke konsentrasi rendah.
(Singh, 2001)

Bahan yang digunakan dalam percobaan adalah kedelai kuning dan natrium klorida.
Kedelai adalah salah satu tanaman polong-polongan yang menjadi bahan dasar banyak
makanan dari. Kedelai putih (Glycine max) bijinya bisa berwarna kuning, agak putih, atau
hijau). Kedelai adalah tanaman biji berkeping dua, terbungkus kulit biji dan tidak mengandung
jaringan endospperma. Embrio terletak diantara keping biji. Kedelai merupakan salah satu
sumber bahan pangan terutama sebagai sumber protein (Anonim a,2010 ).
Natrium klorida, juga dikenal dengan garam dapur, atau halit, adalah senyawa kimia dengan
rumus molekul NaCl. Senyawa ini adalah garam yang paling mempengaruhi salinitas laut dan
cairan ekstraselular pada banyak organisme multiselular. Sebagai komponen utama pada
garam dapur, natrium klorida sering digunakan sebagai bumbu dan pengawet makanan. Sifat
dari NaCl yaitu memiliki massa molar 58.44 g/mol, kenampakan tidak berwarna, berbentuk
kristal putih, densitas 2.16 g/cm3, titik leleh 801 °C (1074 K), titik didih 1465 °C (1738 K) dan
kelarutan dalam air sebesar 35.9 g/100 mL (25 °C). ( Anonim b,2010)
Peleg model merupakan salah satu metode yang digunakan untuk memprediksi absorpsi air
pada suatu bahan. Pada persamaan ini mengandung 2 unsur utama, yaitu nilai K1 dan K2 . Nilai
K2 merupakan konstanta yang berkaitan dengan kapasitas maksimum penyerapan air, di mana
semakin rendah nilai K2 maka semakin tinggi pula kapasitas penyerapan air bahan. Nilai K1
menunjukkan besarnya konstanta laju Peleg (%) atau besarnya penyerapan air awal dibanding
penyerapan akhirnya. Semakin rendah nilai K1 maka kecepatan absorbsi semakin tinggi
(Turhan, Sayar, dan Gunasekaran 2002).
Perendaman bertujuan untuk memberi waktu agar terjadi transfer massa antara kedelai kuning
dengan larutan NaCl 5%,10%,dan 15% dan member waktu larutan NaCl untuk berdifusi ke
dalam kedelai kuning.

METODE PERCOBAAN
Bahan
Bahan yang digunakan pada percobaan ini adalah kedelai kuning dan larutan NaCl 5%,
10%, dan 15%. Kadar air awal kedelai kuning adalah 16,83 % (wb).
Alat
Alat yang digunakan pada percobaan ini adalah timbangan analit (1 buah), jar kaca (6
buah), sendok (1 buah), gelas ukur (1 buah), kertas label (secukupnya), saringan (2 buah),
grain moisture meter (1 buah ), tissue (secukupnya), dan alat tulis (secukupnya). Timbangan
analit berfungsi untuk menimbang berat NaCl, berat awal kedelai kuning, dan berat kedelai
kuning setiap 5 menit untuk mengetahui perubahan beratnya. Toples kaca digunakan sebagai
wadah larutan NaCl yang kemudian untuk merendam kedelai kuning. Sendok berfungsi
sebagai pengaduk untuk melarutkan NaCl. Gelas ukur (400ml) digunakan untuk mengukur
jumlah air yang digunakan untuk perendaman serta mengaduk serbuk NaCl dengan akuades
sebelum dipindahkan ke toples kaca. Tissue digunakan untuk menghilangkan air yang ada di
permukaan bahan agar tidak mempengaruhi berat kedelai kuning yang terukur selama
penimbangan. Saringan untuk menyaring kedelai kuning pada waktu akan ditimbang. Grain
moisture meter digunakan untuk mengukur kadar air awal kedelai kuning sebelum
perendaman.
Cara Kerja
Kedelai kuning disiapkan. Setelah itu ditimbang berat awal tiap kedelai kuning sebanyak
10 gram untuk tiap konsentrasi dan dilakukan sebanyak 2 kali ulangan. Setelah itu dilakukan
penyiapan larutan perendam, yaitu larutan NaCl 5%, larutan NaCl 10%, dan larutan NaCl 15%.
Volume larutan yang digunakan untuk merendam bahan pada tiap konsentrasi larutan adalah
400 ml. Larutan NaCl 5% dibuat dengan melarutkan 20,20 gram NaCl ke dalam 50 ml air,
larutan NaCl 10% dibuat dengan cara melarutkan 40,20 gram NaCl ke dalam 400 ml air, dan
untuk larutan NaCl 15% yaitu dilarutkan 60,07 gram NaCl ke dalam 400 ml air. Kemudian
kedelai kuning yang sudah ditimbang direndam dalam jar kaca sesuai dengan variasi
konsentrasi larutan NaCl yang ada kemudian ditimbang beratnya setiap 5 menit. Pengamatan
dilakukan selama 30 menit.
Prinsip Kerja
Prinsip dari percobaan ini adalah difusi air dari luar ke dalam sel kedelai kuning dan
difusi air dari dalam sel ke luar sel (lingkungan). Difusi adalah perpindahan zat terlarut dari
daerah dengan konsentrasi zat terlarut tinggi ke daerah dengan konsentrasi zat terlarut yang
lebih rendah. Karena konsentrasi air pada kedelai kuning lebih rendah dari pada konsentrasi
larutan NaCl maka terjadi perpindahan air dari larutan NaCl ke dalam sel kedelai kuning.
Selain itu, karena tekanan osmosis larutan NaCl lebih besar daripada kedelai kuning, maka
terjadi perpindahan air dari dalam sel kedelai kuning ke luar. Adanya variasi konsentrasi larutan
NaCl pada percobaan ini untuk mengetahui perbedaan kecepatan transfer massa air yang
terjadi. Jadi driving force pada percobaan ini adalah perbedaan konsentrasi antara bagian
dalam dan bagian luar sel kedelai kuning.

Skema Alat

Analisis Data
1. Kadar air rata-rata
Kadar air rata-rata = kadar air ulangan 1 + kadar air ulangan 2 + kadar air ulangan 3
3
2. Berat air awal (m air)
Berat air awal = Ka rata-rata kedelai kuning x berat awal kedelai kuning

3. Berat kedelai kuning (m solid)


Berat kedelai kuning = berat awal kedelai kuning-berat air awal

4. Kadar air dry basis


Mo = Berat air awal x 100%
Total solid
Mt = (Berat kedelai kuning saat waktu tertentu – total solid) x 100%
Total solid (m solid)

Turhan Mahir., Sedat Sayar.,& Gunasekaran Sundaran. (2002).

Mo = Ka (db) awal kedelai kuning


Mt = Ka (db) kedelai kuning pada saat t menit

5. Yt
Yt = t (jam)
Mt rata-rata – Mo

6. Perhitungan k1 dan k2
Diperoleh dari grafik t (dalam jam) vs t/Mt-Mo. dari grafik tersebut diperoleh persamaan regresi
linier:
y = bx + a
(t/Mt-Mo) = k2.t + k1
k1 = Konstanta laju Peleg (jam/%)
k2 = Konstanta kapasitas Peleg (%-1)

Turhan Mahir., Sedat Sayar.,& Gunasekaran Sundaran. (2002).

7. Kecepatan penyerapan (R)

Ro = ± 1
k1
Rt = ± k1
(k1+k2t)2
Turhan Mahir., Sedat Sayar.,& Gunasekaran Sundaran. (2002).
8. Kadar air equilibrium (Me)
Me = Mo ± 1
k2
Turhan Mahir., Sedat Sayar.,& Gunasekaran Sundaran. (2002).

HASIL DAN PEMBAHASAN


Tujuan dari pecobaan ini adalah mengetahui perbedaan kemampuan difusi dan
besarnya transfer massa pada kedelai kuning setelah direndam larutan NaCl konsentrasi 5%,
10%, dan 15% pada jangka waktu tertentu. Variasi konsentrasi larutan NaCl ini digunakan
untuk mengetahui pengaruh konsentrasi terhadap kecepatan transfer massa. Dalam
menganalisis data, digunakan Peleg Model. Keuntungan utama dari penggunaan Peleg model
yaitu dapat menghemat waktu karena laju penyerapan air dan kandungan maksimum air dalam
bahan sudah dapat dihitung hanya dengan menggunakan data pengamatan yang dilakukan
dalam waktu yang tidak lama (short-time experimental data), karena tidak ada kriteria tertentu
kapan pengamatan harus dihentikan (Turhan, Sayar, dan Gunasekaran 2002). Jika kita
menggunakan metode lain, kemungkinan kita harus melakukan pengamatan dengan waktu
lama baru bisa memperoleh data yang mencukupi untuk bisa dianalisis.

Data yang diperoleh berdasarkan percobaan ditunjukkan oleh tabel di bawah ini.

Waktu Berat kedelai kuning (gram)


(menit) 5% (1) 5% (2) 10% (1) 10% (2) 15% (1) 15% (2)
0 10 10,03 10,03 10,05 10,01 10,06
5 12,44 11,27 12,82 12,98 12,02 11,08
10 12,9 11,27 13,54 11,44 12,81 11,28
15 14,01 11,49 13,45 12,58 12,36 11,95
20 13,69 12,62 14,59 11,57 12,71 12,27
25 14,04 11,99 13,81 12,02 12,77 12,62
30 13,7 13,38 13,76 12,84 13,41 12,86

Dari tabel tersebut diketahui bahwa selama perendaman, kedelai kuning mengalami perubahan
berat. Perubahan berat yang terjadi cukup fluktuatif namun secara umum diketahui bahwa
terjadi peningkatan berat kedelai kuning setelah mengalami perendaman dalam larutan NaCl
5%, 10%, dan 15% selama kurang lebih 30 menit. Hal ini mengindikasikan bahwa proses difusi
dan transfer massa sudah berlangsung pada kedelai kuning. Difusi merupakan perpindahan
massa dari larutan konsentrasi tinggi ke konsentrasi rendah. Dalam hal ini, konsentrasi cairan
dalam kedelai kuning lebih rendah dibandingkan larutan NaCl. Maka selama perendaman,
larutan NaCl akan berdifusi ke dalam kedelai kuning. Hal ini mengakibatkan kedelai kuning
mengalami kenaikan berat setelah perendaman.

Konsentrasi
Menit
Ke 5% 10% 15%
Yt Mt Yt Mt Yt Mt
0  0 20.24%  0 20.24%  0 20.24%
5 3.7605 x 10-3 42.34% 2.7376 x 10-3 54.48% 4.5863 x 10-3 38.41%
-3 -3 -3
10 6.7042 x 10 45.10% 6.5257 x 10 49.58% 6.9156 x 10 44.34%
-3 -3 -3
15 7.6080 x 10 53.10% 7.8567 x 10 55.86% 9.8452 x 10 45.64%
20 8.8417 x 10-3 57.94% 0.0102 56.66% 11.3302 x 10-3 49.66%
-3
25 0.0116 56.27% 0.0136 54.68% 13.0739 x 10 52.11%
-3
30 0.0118 62.56% 0.0142 59.28% 13.4590 x 10 57.39%

Data percobaan yang ada pada tabel di atas menunjukan perbandingan nilai Mt dan Yt pada
masing-masing konsentrasi selama waktu pengamatan ( total 30 menit ), di mana pengamatan
dilakukan setiap 5 menit. Mt menunjukkan kadar air (db) sampel pada menit t , sedangkan Yt
menunjukkan waktu yang dibutuhkan untuk peningkatan kadar air (db) setiap %-nya. Dari
ketiga variasi konsentrasi larutan NaCl yang digunakan, diketahui bahwa nilai Mt dan Yt
berbanding lurus dengan waktu pengamatan.
Dari hasil percobaan diketahui bahwa intensitas nilai Mt pada larutan NaCl 5% (62.56%) >
larutan NaCl 10% (59.28% ) >larutan NaCl 15% (57.39%) dan intensitas nilai Yt pada larutan
NaCl 10% (0.0142 jam /%) > larutan NaCl 5% (0.0118 jam / %) > larutan NaCl 15% (13.4590 x
10-3 jam / %). Seharusnya, urutan intensitas, baik nilai Mt maupun Yt pada larutan NaCl 15 % >
larutan NaCl 10% > larutan NaCl 5%. Hal ini dikarenakan larutan NaCl 15% memiliki perbedaan
konsentrasi dengan kedelai kuning yang paling besar dibandingkan dua variasi konsentrasi
lainnya sehingga transfer massa yang terjadi juga seharusnya lebih cepat. Hal ini mengingat
driving force dari transfer massa adalah perbedaan konsentrasi.
Karena percobaan ini menggunakan Peleg Model maka perlu dicari k1 (konstanta kecepatan
Peleg) dan k2 (konstanta kapasitas Peleg). Untuk mencari nilai k1 dan k2 maka perlu dibuat
grafik yang membandingkan antara Yt dengan t.
Grafik t vs Yt
0.02

0.01 f(x) = 0.03 x + 0


f(x)
R² ==0.97
0.02 x + 0
R² = 0.95
0.01 f(x) = 0.02 x + 0 Konsentrasi 5%
R² = 0.96 Linear (Konsentrasi 5%)
0.01
Yt ( % / jam)

Linear (Konsentrasi 5%)


0.01 Konsentrasi 10%
Linear (Konsentrasi 10%)
0.01 Konsentrasi 15%
0 Linear (Konsentrasi 15%)

0
0.05 0.1 0.15 0.2 0.25 0.3 0.35 0.4 0.45 0.5 0.55
waktu (jam)

Dari grafik antara t vs Yt tersebut kemudian dicari regresi liniernya sehingga dapat
diperoleh persamaan y = bx + a. Dimana b adalah K2 dan a adalah K1. Persamaan regresi
linear yang diperoleh dari plot grafik Yt vs t ditunjukkan pada tabel di bawah ini.

Persamaan regresi linear larutan NaCl


Konsentra
Persamaan regresi linear
si
5% y = 0,0192x + 0,0028
10% y = 0,0277x + 0,001
15% y = 0,022x + 0,0034

Hasil perhitungan
Larutan NaCl K1 (jam%-1) K2 (%-1) Ro (%jam-1) Rt (%jam-1) Me (%)
5% 2,7739 x 10-3 0,0192 360,5033 57,6753 72,32
10% 1,0988 x 10-3 0,0277 910,0837 27,9074 60,14
15% 3,4353 x 10-3 0,0220 291,0954 50,4392 65,69

Nilai K1 menunjukkan besarnya konstanta laju Peleg (%) atau besarnya penyerapan air
awal dibanding penyerapan akhirnya. Semakin rendah nilai K1 maka kecepatan absorbsi
semakin tinggi (Turhan, Sayar, dan Gunasekaran 2002). Dari percobaan diperoleh nilai K1 pada
larutan NaCl 15% (3,4353 x 10-3 jam/%) > larutan NaCl 5% (2,7739 x 10-3 jam/%) > larutan
NaCl 10% (1,0988 x 10-3 jam /%). Menurut teori, seharusnya nilai K 1 berbanding terbalik
dengan konsentrasi. Maka, hasil percobaan belum sesuai dengan teori.
Nilai K2 merupakan konstanta yang berkaitan dengan kapasitas maksimum penyerapan
air, di mana semakin rendah nilai K2 maka semakin tinggi pula kapasitas penyerapan air bahan.
Nilai K2 pada larutan NaCl 10% (0,0277 /% )> larutan NaCl 5%(0,0192 /% ) > larutan NaCl
15%(0,0220 /%). Hal ini tidak sesuai dengan teori. Seharusnya semakin tinggi konsentrasi,
semakin tinggi pula kapasitas penyerapan airnya (K2 menurun). Efek konsentrasi terhadap nilai
K2 dari suatu bahan makanan bervariasi tergantung dari jenis bahan makanannya dan
pertimbangan yang digunakan (apakah padatan terlarut yang hilang selama perendaman juga
ikut diperhitungkan dalam menentukan kadar air sampel ) (Turhan, Sayar, dan Gunasekaran
2002).
Nilai Ro adalah besarnya kecepatan penyerapan air awal. Dari percobaan diperoleh
nilai Ro pada larutan NaCl 10% (910,0837 %/jam) > larutan NaCl 5% (360,5033 %/jam) >
larutan NaCl 15% (291,0954 %/jam). Menurut teori, kecepatan penyerapan air awal
berbanding terbalik dengan K1, sehingga semakin tinggi konsentrasinya semakin besar nilai Ro
(Turhan, Sayar, dan Gunasekaran 2002). Maka, hasil percobaan belum sesuai dengan teori.
Nilai Rt adalah besarnya kecepatan penyerapan air pada waktu tertentu kemudian
nilainya dirata-rata. Dari percobaan diperoleh nilai Rt pada larutan NaCl 5% (57,6753 %/jam) >
larutan NaCl 15% (50,4392 %/jam) > larutan NaCl 10% (27,9074 %/jam). Driving force dari
transfer massa adalah perbedaan konsentrasi. Semakin tinggi konsentrasi semakin besar
penyerapan air tiap jamnya(%/jam) sehingga seharusnya nilai Rt berbanding lurus dengan
konsentrasi. Maka, hasil percobaan belum sesuai dengan teori.
Nilai Me adalah jumlah air maksimum yang dapat diserap oleh bahan yang ditunjukkan
dengan kadar air equilibrium kedelai kuning. Kadar air equilibrium adalah kadar air pada saat
kedelai kuning sudah tidak bisa menyerap air lagi karena adanya keseimbangan antara
konsentrasi air di dalam dan di luar kedelai kuning. Dari percobaan diperoleh nilai Me pada
larutan NaCl 5% (72,32%) > dalam larutan NaCl 15% (65,69%) > dalam larutan NaCl 10%
(60,14%). Seharusnya, peningkatan besarnya kadar air equilibrium seiring dengan peningkatan
konsentrasi larutan NaCl sebab semakin tinggi konsentrasi NaCl maka perbedaan konsentrasi
antara lingkungan dengan kedelai kuning semakin besar. Hal ini menyebabkan kadar air yang
harus dicapai oleh kedelai kuning agar terjadi keseimbangan dengan lingkungan juga semakin
besar. Maka, hasil percobaan belum sesuai dengan teori.
Penyimpangan-penyimpangan yang terjadi pada percobaan dapat dikarenakan jarak
waktu pengamatan antar variasi konsentrasi sangat dekat, sehingga tidak tepat 5 menit.
Kemudian dapat pula dikarenakan pada saat penimbangan banyak terdapat kedelai yang jatuh
dan air yang masih ikut tertimbang. Hal ini menyebabkan hasil timbangan yang tidak akurat dan
menyebabkan hasil perhitungan menunjukkan nilai yang menyimpang.

KESIMPULAN
Percobaan ini bertujuan membandingkan kemampuan berdifusi antara kedelai kuning
yang direndam dalam larutan NaCl 5%, larutan NaCl 10%, dan NaCl 15%. Pada percobaan
pengamatan proses penyerapan air menggunakan Peleg Model pada kedelai kuning dengan
selang waktu 30 menit diperoleh nilai K1 pada larutan NaCl 15% (3,4353 x 10-3 jam/%) >
larutan NaCl 5% (2,7739 x 10-3 jam/%) > larutan NaCl 10% (1,0988 x 10-3 jam /%) ; nilai K2
pada larutan NaCl 10% (0,0277 /% ) > larutan NaCl 5%(0,0192 /% ) > larutan NaCl 15%(0,0220
/%) ; nilai Ro pada larutan NaCl 10% (910,0837 %/jam) > larutan NaCl 5% (360,5033 %/jam) >
larutan NaCl 15% (291,0954 %/jam) ; nilai Rt pada larutan NaCl 5% (57,6753 %/jam) > larutan
NaCl 15% (50,4392 %/jam) > larutan NaCl 10% (27,9074 %/jam) ; nilai Me pada larutan NaCl
5% (72,32%) > dalam larutan NaCl 15% (65,69%) > dalam larutan NaCl 10% (60,14%).

DAFTAR PUSTAKA
Anonim a. 2010. Kedelai. http//:www.wikipedia.org/wiki/kedelai. Diakses pada 22 Desember
2010
Anonim b. 2010. Natrium Klorida. http://id.wikipedia.org/wiki/Natrium_klorida. Diakses pada 22
Desember 2010Singh, Paul. R,. 2001. Introduction to Food Engineering. Departement of Food
Science. Rutgers, The State University of New Jersey.
Turhan Mahir., Sedat Sayar.,& Gunasekaran Sundaran. (2002). Application of Peleg model to
study water absorpstion in chikpea during soaking. Journal of Food Engineering,
53.153-159

Lembar Pengesahan

Yogyakarta, 23 Desember 2010


Asisten, Praktikan,

Selvia Dewartsi Lana Santika Nadia Garnetta Mustikaningrum

LAMPIRAN
Konsentrasi
t 5% 10% 15%
Yt Yt Yt
0.0833 0.0038 0.0027 0.0046
0.1667 0.0067 0.0065 0.0069
0.25 0.0076 0.0078 0.0098
0.3333 0.0088 0.0102 0.0113
0.4167 0.0116 0.0136 0.0131
0.5 0.0118 0.0142 0.0134

Grafik t vs Yt
0.01
0.01
f(x) = 0.02 x + 0
0.01 R² = 0.96
Yt ( %/jam)

0.01 Konsentrasi 5%
0.01 Linear (Konsentrasi 5%)

0
0
0
0.05 0.1 0.15 0.2 0.25 0.3 0.35 0.4 0.45 0.5 0.55
waktu (jam)

Grafik t vs Yt
0.02
0.01 f(x) = 0.03 x + 0
R² = 0.97
0.01
0.01
Yt ( %/jam)

Konsentrasi 10%
0.01
Linear (Konsentrasi 10%)
0.01
0
0
0
0.05 0.1 0.15 0.2 0.25 0.3 0.35 0.4 0.45 0.5 0.55
waktu (jam)
Grafik t vs Yt
0.02
0.01 f(x) = 0.02 x + 0
0.01 R² = 0.95
0.01
Yt ( %/jam)

Konsentrasi 15%
0.01
Linear (Konsentrasi 15%)
0.01
0
0
0
0.05 0.1 0.15 0.2 0.25 0.3 0.35 0.4 0.45 0.5 0.55
waktu (jam)

Aplikasi Industri

1. Industri Ikan Asin


Transfer massa ini pada industri kecil ikan asin dilakukan pada saat perendaman
ikan pada larutan garamnya. Ikan diiris membentuk lembaran kemudian dimasukkan
ke dalam larutan dengan kadar garam yang telah ditentukan sehingga nantinya ikan
asin tersebut dapat dikonsumsi oleh konsumen. Besarnya penyerapan larutan
garam dalam hal ini dapat dipengaruhi oleh konsentrasi garam pada larutan maupun
suhu larutannya.

2. Pabrik Teh
Proses pelayuan daun teh pada pabrik teh menerapkan prinsip transfer massa.
Dalam hal ini, terjadi desorpsi air pada daun the. Hal tersebut akan menyebabkan
kadar air pada daun teh segar yang berkisar pada 74-77% berkurang menjadi 50-
60%. Peristiwa tersebut mengindikasikan bahwa telah terjadi transfer massa uap air
yang keluar dair daun teh.