Anda di halaman 1dari 50

MANAJEMEN ASUHAN KEPERAWATAN KRITIS PADA TN.

F,
DENGAN SYOK SPINAL & S NEUROGENIK
DI RUANG ICU RS STELLA MARIS MAKASSAR

OLEH :
AGUSTINA TALU, S. KEP.

(NIM : NS 191 490 1006)

PROGRAM PROFESI NERS


SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN
STELLA MARIS MAKASSAR
2020

1
PENDAHULUAN

I.Latar Belakang

Semakin banyaknya angka kejadian kecelakaan lalu lintas maka trauma medulla
spinalis kerap terjadi.Trauma medulla spinalis adalah trauma seringkali mengenai daerah
sevikal C1 – C7 dan L1 - L2 dan/atau di bawahnya, trauma ini mengakibatkan kerusakan
fungsi neurologis, hilangnya fungsi motorik dan sensorik serta kehilangan fungsi defekasi dan
berkemih.(Marilynn E. Doenges,1999;338). Karena kondisi trauma pada medulla spinalis
serta persyarafan akan mencetuskan kejadian syok spinal, dimana syok spinal yaitu suatu
keadaan kehilangan aktifitas otonom, reflek motorik, dan sensorik pada daerah dibawah
tingkat terjadinya medulla spinalis (Kowalak, 2011).

Kejadian trauma medulla spinalis lebih dominan terjadi pada pria usia muda sekitar lebih
dari 75% dari seluruh cedera. Pada usia sekitar 45 tahunlebih fraktur banyak terjadi pada pria
di bandingkan pada wanita karena olahraga, pekerjaan, dan kecelakaan bermotor.
Tetapiwanita juga sangat memungkinkan terkena penyakit ini karena faktor osteoporosis yang
di asosiasikan dengan perubahan hormonal (menopause) (Reevs, Charlene J.,1999).
Sedangkan syok spinal terjadi sekunder akibat kerusakan pada medula spinalis (Kowalak,
2011).Syok pada medula spinalis adalah keadaan disorganisasi fungsi medula spinalis yang
fisiologis dan berlangsung untuk sementara waktu, keadaan ini timbul segera setelah cedera
dan berlangsung dari beberapa jam hingga beberapa minggu. Syok spinal juga diketahui
sebagai syok neurogenik adalah akibat dari kehilangan tonus vasomotor yang mengakibatkan
dilatasi vena dan arteriol umum. Syok ini menimbulkan hipotensi, dengan penumpukan darah
pada pembuluh penyimpan atau penampung dan kapiler organ splanknik(Tambayong, 2000).

Klien yang mengalami trauma medulla spinalis membutuhkan perhatian lebih diantaranya
dalam pemenuhan kebutuhan ADL danmobilisasi. Begitu juga dengan spinal shock dimana
membutuhkan terapi fisik dan kolaborasi pembedahan. Maka dari itu sebagai perawat merasa
perlu untuk dapat membantu dalam memberikan asuhan keperawatan pada klien dengan

2
trauma medulla spinalis dan spinal syok dengan cara promotif, preventif, kuratif, dan
rehabilitative.

Spinal Cord Injury (SCI) adalah kerusakan atau trauma pada sumsum tulang belakang
y ang mengakibatkan kerugian atau gangguan fungsi menyebabkan mobilitas dikurangi atau
terbatas. Penyebab umum dari kerusakan adalah trauma (kecelakaan mobil, tembak, jatuh,
cedera olahraga, dll) atau penyakit (myelitis melintang, Polio, spina bifida, Ataksia Friedreich,
dll). Sumsum tulang belakang tidak harus dipotong agar hilangnya fungsi terjadi. Pada
kebanyakan orang dengan SCI, sumsum tulang belakang masih utuh, tetapi kerusakan selular
untuk itu mengakibatkan hilangnya fungsi. SCI sangat berbeda dari cedera punggung seperti
disk pecah, stenosis tulang belakang atau saraf terjepit.
Cedera tulang belakang yang paling sering traumatis, disebabkan oleh lateral yang lentur,
rotasi dislokasi, pemuatan aksial, dan hyperflexion atau hiperekstensi dari kabel atau cauda
equina. Kecelakaan kendaraan bermotor adalah penyebab paling umum dari SCI, sedangkan
penyebab lain meliputi jatuh, kecelakaan kerja, cedera olahraga (menyelam, judo dll), dan
penetrasi seperti luka tusuk atau tembak, kecelakaan di rumah (jatuh dr ketinggian, bunuh diri
dll), dan bencana alam, misal gempa. SCI juga dapat menjadi asal non-traumatik,. Seperti
dalam kasus kanker, infeksi, penyakit cakram intervertebralis, cedera tulang belakang, penyakit
sumsum tulang belakang vascular, transverse myelitis, tumor dan multiple scleros.

3
KONSEP DASAR MEDIK TRAUMA MEDULLA SPINALIS/ SYOK SPINAL
4
A. Definisi.
Trauma medula spinalis merupakan keadaan patologi akut pada medula spinalis yang di
akibatkan terputusnya komunikasi sensori dan motorik dengan susunan saraf pusat dan saraf
parifer. Tingkat kerusakan pada medula spinalis tergantung dari keadaan atau inkomplet
(Tarwato, 2007).
Trauma medulla spinalis merupakan kerusakan pada medulla spinalis yang disebabkan
oleh trauma langsung atau tidak langsung pada medulla spinalis. Gangguan-gangguan yang
terjadi akibat trauma medulla spinalis berupa gangguan fungsi-fungsi utama dari medulla
spinalis, yaitu fungsi motorik, sensorik, autonom, dan reflek. Gangguan fungsi-fungsi utama
medulla spinalis dapat terjadi komplet atau parsial (Jasajurnal, 2017).
Trauma medula spinalis adalah suatu kerusakan fungsi neurologis yang disebabkan oleh
benturan pada daerah medula spinalis (Brunner & Suddaerth, 2008). Trauma medula
spinalis dapat bervariasi dari trauma ekstensi fiksasi ringan yang terjadi akibat benturan
secara mendadak sampai yang menyebabkan transeksi lengkap dari medula spinalis dengan
quadriplegia (Fransiska B. Batticaca, 2008).
Pada trauma medula spinalis timbul perlukaan pada sumsum tulang belakang yang
mengakibatkan perubahan, baik sementara atau permanen, perubahan fungsi motorik,
sensorik, atau otonom. Pasien dengan cedera tulang belakang biasanya memiliki defisit
neurologis permanen dan sering mengalami kecacatan (Lawrence, 2014).
Trauma medula spinalis bisa meliputi fraktur, kontusio, dan kompresi kolumna vertebra
yang biasa terjadi karena trauma pada kepala atau leher. Kerusakan dapat mengenai seluruh
medula spinalis atau terbatas pada salah satu belahan dan bisa terjadi pada setiap level
(Kowalak, 2011).

Jadi, trauma medulla spinalis adalah kerusakan fungsi neurologis akibat trauma langsung
atau tidak langsung pada medulla spinalis sehingga mengakibatkan gangguan fungsi
sensorik, motorik, autonomi dan reflek.

Syok neurogenik disebut juga syok spinal merupakan keadaan yang terjadi karena reaksi
vasovagal berlebihan yang mengakibatkan terjadinya vasodilatasi menyeluruh di daerah
splangnikus sehingga aliran darah ke otak berkurang. Reaksi vasovagal umumnya

5
disebabkan oleh suhu lingkungan yang panas, terkejut, takut, atau nyeri hebat. Pasien
merasa pusing dan biasanya jatuh pingsan. Setelah pasien dibaringkan, umumnya keadaan
berubah menjadi baik kembali secara spontan. Gambaran klasik dari syok neurogenik adalah
hipotensi tanpa takikardi atau vasokonstriksi perifer (Prince, 2006).

Klasifikasi Trauma medulla Spinalis:


Menurut Batticaca (2008) trauma medula spinalis dapat diklasifikasi menjadi 2 macam,
yaitu:
1. Cedera tulang
a. Stabil, bila kemapuan fragmen tulang tidak mempengaruhi kemapuan tulang untuk
bergeser lebih jauh selain yang terjadi saat cedera. Komponen arkus neural intak serta
ligamen yang menghubungkan ruas tulang belakang, terutama ligamen longitudinal
posterior tidak robek.
b. Tidak Stabil, kondisi trauma menyebabkan adanya pergeseran tulang yang terlalu
jauh sehingga cukup mapu untuk merobek ligamen longitudinal posterior serta
merusak keutuhan arkus neural.
2. Cedera neurologis
a. Tanpa defisit neurologis
b. Disertai defisit neurologis

American Spinal Injury Association (ASIA) bekerjasama dengan Internasional Medical Society
Of Paraplegia (IMSOP) telah mengembangkan dan mempublikasikan standart Internasional untuk
klasifikasi fungsional dan neurologis cedera medula spinalis. Klasifikasi berdasarkan pada Frankel
pada tahun 1969. Klasifikasi ASIA/IMSOP dipakai dibanyak negara karena sistem tersebut
dipandang akurat dan komperhensif. Skala kerusakan menurut ASIA/IMSOP adalah sebagai berikut:
1. FRANKEL SCORE A: kehilangan fungsi motorik dan sensorik lengkap (complete loss).
2. FRANKEL SCORE B: fungsi motorik hilang, fungsi sensorik utuh.
3. FRANKEL SCORE C: fungsi motorik ada tetapi secara praktis tidak berguna (dapat
menggerakkan tungkai tetapi tidak dapat berjalan).
4. FRANKEL SCORE D: fungsi motorik terganggu (dapat berjalan tetapi tidak dengan nomal
"gait").
5. FRANKEL SCORE E: tidak terdapat gangguan neurologik.

6
Cedera umum medula spinalis dapat dibagi menjadi komplit dan Inkomplit berdasarkan
ada/tidaknya fungsi yang dipertahankan dibawah lesi. Terdapat 5 sindrom utama cedera medula
spinalis inkomplit menurut American Spinal Cord Injury Association yaitu:
Nama Pola dari Lesi saraf Kerusakan
Sindroma

Central Cord Cedera pada posisi central dan Menyebar ke daerah sacral.
syndrome sebagian daerah lateral.
Kelemahan otot ekstremitas
Sering terjadi pada trauma atas lebih berat dari
daerah servikal ekstermitas bawah.

Anterior Cord Cedera pada sisi anterior dan Kehilangan perioperatif dan
Syndrome posterior dari medula spinalis. kehilangan fungsi motorik
secara ipsilateral
Cedera akan menghasilkan
gangguan medula spinalis
unilateral

Brown Sequard Kerusakan pada anterior dari Kehilangan fungsi motorik dan
Syndrome daerah putih dan abu-abu sensorik secara komplit.
medula spinalis.

Cauda Equina Kerusakan pada posterior dari Kerusakan proprioseptif


Syndrome daerah putih dan abu-abu diskriminasi dan getaran.
medula spinalis
Fungsi motorik juga terganggu

Posterior Cord Kerusakan pada saraf lumbal Kerusakan sensori dan lumpuh
Syndrome atau sacral sampai ujung flaccid pada ekstremitas bawah
medulla spinalis dan kontrol berkemih dan
defekasi

Cedera medulla spinalis dapat diklasifikasikan sebagai berikut:


1. Complete injury

7
Complete injury atau cedera penuh mengakibatkan hilangnya fungsi sensorik dan
motorik secara total dibawah level cedera. Terlepas dari mekanisme cedera, jenis cedera
secara penuh ini bisa berupa diseksi atau robekan lengkap pada sumsum tulang belakang
yang menghasilkan dua kondisi:
a. Tetraplegia
Cedera terjadi pada level C1 sampai dengan T1. Fungsi otot residual tergantung
pada segmen servikal yang terpengaruh.
b. Paraplegia
Dikatakan paraplegia apabila terdapat kerusakan ataupun hilangnya fungsi sensorik
dan motoric pada segmen thorakal, lumbar ataupun sacral (Kirshblum dkk, 2011).

B. Etiologi
Trauma Medula Spinalis bisa disebabkan oleh beberapa hal, salah satunya adalah akibat
trauma langsung yang mengenai tulang belakang dan melampaui batas kemampuan tulang
belakang dala melindungi saraf-saraf yang ada di dalamnya. Trauma tersebut meliputi
kecelakaan lalu lintas, kecelakaan industri, jatuh dari bangunan, pohon, luka tusuk, luka
tembak dan terbentur benda keras (Muttaqin, 2008).
Trauma Medula Spinalis dibedakan menjadi 2 macam:
1. Cedera medula spinalis traumatik
Terjadi ketika benturan fisik eksternal seperti yang diakibatkan oleh kecelakaan
kendaraan bermotor, jatuh atau kekerasan, merusak medula spinalis. Cedera medula
spinalis traumatic ditandai sebagai lesi traumatik pada medula spinalis dengan beragam
defisit motorik dan sensorik atau paralisis.
2. Cedera medula spinalis non traumatik
Terjadi ketika kondisi kesehatan seperti penyakit, infeksi atau tumor mengakibatkan
kerusakan pada medula spinalis, atau kerusakan yang terjadi pada medula spinalis yang
bukan disebabkan oleh gaya fisik eksternal. Faktor penyebab dari cedera medula spinalis
mencakup penyakit motor neuron, myelopati spondilotik, penyakit infeksius dan
inflamatori, penyakit neoplastik, penyakit vaskuler, kondisi toksik dan metabolik dan
gangguan kongenital dan perkembangan.

8
Sedangkan menurut Baticaca, 2008 penyebab terjadinya trauma medula spinalis adalah
sebagai berikut:
1. Kecelakaan di jalan raya (penyebab paling sering)
2. Olahraga
3. Menyelam pada air dangkal
4. Luka tembak atau luka tikam
Gangguan lain yang dapat menyebabkan cedera medula spinalis seperti spondiliosis
servikal dengan mielopati, yang menghasilkan saluran sempit yang mengakibatkan cedera
progresif terhadap medula spinalis dan akar; mielitis akibat inflamasi infeksi maupun non-
infeksi; osteoporosis yang disebabkan oleh fraktur kompresi pada vertebra; siringmielia;
tumor infiltrasi maupun kompresi; dan penyakit vaskuler.

Faktor Resiko Trauma Medula Spinalis


Menurut Aryani (2008) dan Tarwoto (2007) faktor resiko yang menyebabkan terjadinya
trauma medula spinalis adalah sebagai berikut:
1. Faktor Usia
Usia yang sudah memasuki masa lansia atau di atas 60 tahun akan cenderung mengalami
proses penuaan, sehingga fungsi tulangnya juga menurun, hal ini dapat mengakibatkan
trauma patologis pada medula spinalis.
2. Jenis Kelamin
Laki-laki lebih cenderung banyak yang terkena trauma medula spinalis karena faktor
pekerjaan dan gaya hidup.
3. Alkohol
Alkohol dapat mengurangi kepadatan tulang dan mengakibatkan peningkatan fraktur,
atau gangguan tulang lainnya yang akhirnya menyebabkan tulang belakang rentang
terhadap trauma pada medula spinalis.
4. Merokok
Pada orang yang merokok proses pengeropoasan tulang tulang lebih cepat, dan tingkat
fraktur vertebra pinggul dan lebih tinggi, di antara orang-orang yang merokok.
Tembakau, nikotin, dan bahan kimia lain yang ditemukan dalam rokok mungkin
langsung beracun ke tulang, atau mereka menghalangi penyerapan kalsium dan lain gizi

9
yang diperlukan untuk kesehatan tulang. Sehingga tulang belakang juga sangat rentan
terkena penyakit dan mudah terjadi trauma ketika mendapat benturan atau kecelakaan.
5. Minum Obat saat Berkendara
Kecelakaan kendaraan bermotor merupakan penyebab utama cedera tulang belakang
untuk orang dewasa, sementara jatuh adalah penyebab paling tinggi cedera pada orang
dewasa yang sudah tua. Dengan meminum obat obatan dengan efek samping
mengantuk, maka kesadaran seseorang akan menurun dan akan mengganggu konsentrasi
dalam berkendara.
6. Penyakit Osteomyelitis dan Spondilitis TB
Pada penyakit osteomielitis dan spondilitis TB bisa terjadi komplikasi fraktur patologis.
Hal ini terjadi pada keadaan osteomielitis vertebra yang akan menyebabkan kolaps
vertebra dan kompresi medula spinalis. Keadaan ini dapat menyebabkan terjadinya
cedera pada tulang belakang.

C. Patofisiologi.
Kerusakan yang dialami medula spinalis dapat bersifat sementara atau menetap akibat
trauma terhadap tulang belakang. Medula spinalis dapat tidak berfungsi untuk sementara
(komosio medula spinalis), tetapi dapat sembuh kembali dalam beberapa hari. Gejala yang
ditimbulkan adalah berupa edema, perdarahan perivaskuler dan infark di sekitar pembuluh
darah. Pada kerusakan medula spinalis yang menetap, secara makroskopis, kelainannya dapat
terlihat dan terjadi lesi, kontusio, laserasi dan pembengkakan daerah tertentu di medula
spinalis.
Segera setelah terjadi kontusio atau robekan akibat cedera, serabut-serabut saraf mulai
membengkak dan hancur. Sirkulasi darah ke substansi grisea medulla spinalis menjadi
terganggu. Tidak hanya hal ini saja yang terjadi pada cedera pembuluh darah medula
spinalis, tetapi proses patogenik dianggap menyebabkan kerusakan yang terjadi pada cedera
medula spinalis akut. Suatu rantai sekunder kejadian-kejadian yang menimbulkan iskemia,
hipoksia, edema, dan lesi-lesi hemoragi, yang pada gilirannya mengakibatkan kerusakan
mielin dan akson. Reaksi sekunder ini, diyakini menjadi penyebab prinsip degenerasi medula
spinalis pada tingkat cedera, sekarang dianggap reversibel 4 sampai 6 jam setelah cedera.
Untuk itu jika kerusakan medula tidak dapat diperbaiki, maka beberapa metode mengawali

10
pengobatan dengan menggunakan kortikosteroid dan obat-obat anti-inflamasi lainnya yang
dibutuhkan untuk mencegah kerusakan sebagian dari perkembangannya,masuk kedalam
kerusakan total dan menetap.
Penyebab tersering terjadinya cedera tulang belakang dan cervical adalah kecelakaan
mobil, kecelakaan motor, jatuh, cedera olah raga, dan luka akibat tembakan atau pisau.
Menurut mekanisme terjadinya cidera, cidera servikal di bagi atas fleksi, fleksi rotasi,
ekstensi, kompresi aksial. Cidera cervical atas adalah fraktura atau dislokasi yang mengenai
Basis Occiput-C2. Cidera tulang belakang cervical bawah termasuk fraktura dan dislokasi
ruas tulang belakang C3-C7. Ruas tulang belakang C5 adalah yang tersering mengalami
fraktur.
C1 hanya berupa cincin tulang yang terdiri atas arcus anterior yang tebal dan arcus
posterior yang tipis, serta masa lateralis pada masing-masing sisinya. Tulang ini berartikulasi
dengan kondilus occipitalis membentuk articulatio atlanto-occipitalis, tempat
berlangsungnya gerakan mengangguk. Dibawah, tulang ini beratikulasi dengan C2,
membentuk articulasio atlanto-axialis, tempat berlangsungnya gerakan memutar kepala.
Ketika cidera terjadi fraktur tunggal atau multiple pada cincin C1 dan dislokasi atlanto-
occipitalis sehingga menyebabkan ketidakmampuan menggerakkan kepala dan kerusakan
pada batang otak. Cedera pada C1 dan C2 menyebabkan ventilasi spontan tidak efektif.
Pada C3-C5 dapat terjadi kerusakan nervus frenikus sehingga dapat terjadi hilangnya
inervasi otot pernafasan aksesori dan otot interkostal yang dapat menyebabkan komplience
paru menurun. Pada C4-C7 dapat terjadi kerusakan tulang sehingga terjadi penjepitan medula
spinalis oleh ligamentum flavum di posterior dan kompresi osteosif/material diskus dari
anterior yang bisa menyebabkan nekrosis dan menstimulasi pelepasan mediator kimia yang
menyebabkan kerusakan myelin dan akson, sehingga terjadi gangguan sensorik motorik. Lesi
pada C5-C7 dapat mempengaruhi intercostal, parasternal, scalenus, otot2 abdominal. Intak
pada diafragma, otot trapezius, dan sebagian pectoralis mayor.
Cedera pada tulang servikal dapat menimbulkan lesi atau cedera pada medulla
spinalis yang dapat terjadi beberapa menit setelah adanya benturang keras mengenai medulla
spinalis. Saat ini, secara histologis medulla spinalis masih normal. Dalam waktu 24-48 jam
kemudian terjadi nekrosis fokal dan inflamasi. Pada waktu cedera terjadi disrupsi mekanik

11
akson dan neuron. Ini disebut cedera neural primer. Disamping itu juga terjadi perubahan
fisiologis dan patologis progresif akibat cedera neural sekunder.
Beberapa saat setelah terjadi kecelakaan atau trauma pada servikal maka akan terjadi
kerusakan secara struktural yang mengakibatkan gangguan pada saraf spinal dan pembuluh
darah disekitarnya yang akan menghambat suplai O2 ke medulla spinalis atau akan terjadi
ischemik pada jaringan tersebut. Karena terjadi ischemik pada jaringan tersebut, dalam
beberapa menit atau jam kemudian akan ada pelepasan vasoactive agent dan cellular enzym
yang menyebabkan konstriksi kapiler pada pusat substansi abu-abu medula spinalis. Ini
merupakan permulaan dari cedera neural sekunder pada cedera medula spinalis. Selanjutnya
adalah peningkatan level Ca pada intraselular yang mengakibatkan kerusakan pada endotel
pembuluh darah yang dalam beberapa jam kemudian dapat menimbulakan aneurisma dan
ruptur pada pembuluh darah di medula spinal. Peningkatan potasium pada ekstraseluler yang
mengakibatkan terjadinya depolarisasi pada sel (Conduction Block). Hipoxia akan
merangsang pelepasan katekolamin sehingga terjadi perdarahan dan nekrosis pada sel.
Di tingkat selular, adnya kerusakan mitokondria akibat defisit suplai O2 dapat
merangsang pelepasan superoksid (radikal bebas), disertai terjadinya ketidakseimbangan
elektrolit, dan pelepasan mediator inflamasi dapat mengakibatkan terjadinya kematian
sel (apoptosis) dengan manifestasi sel mengkerut dan kromatin nuclear yang padat.

D. Manifestasi Klinis syok spinal:.


Hilangnya sensasi,control motorik, dan reflek dibawah cedera. Suhu didalam tubuh akan
menggambarkan suhu yang ada di lingkungan, kemudian tekanan darah akan menurun.
Sedangkan frekuensi denyut nadi sering normal akan tetapi tetap disertai tekanan darah yang
selalu rendah (Corwin, 2009).

Menurut Towarto (2007) tanda dan gejala dari cedera medulla spinalis, yaitu:
1. Tergantung tingkat dan lokasi kerusakan
Hilangnya gerakan volunter, hilangnya sensasi nyeri, temperature, tekanan dan prospriosepsi,
hilangnya fungsi bowel dan bladder dan hilangnya fungsi spinal dan reflex autonom. Batas
cedera medulla spinalis, tanda dan gejala :

12
Tabel Manifestasi klinis sesaui radiks yang mengalami gangguan
Level Fungsi Motorik Refleks Fungsi Fungsi Pernapasan Fungsi Usus
Cedera Tendon Sensorik dan Kandung
Spinal Profunda Kemih
Volunter
C1-C4 Kuadriplegia: Semuanya Hilangnya Hilangnya fungsi Tidak ada
Hilangnya hilang semua fungsi pernapasan kendali usus
semua fungsi sensorik pada volunter atau kandung
motorik dari leher ke bawah (interkostal) dan kemih
leher ke bawah (C4 involunter (frenik);
mempersarafi dukungan ventilasi
klavikula) dan trakeostomi
dibutuhkan
C5 Kuadriplegia: C5, C6 Hilangnya Saraf frenik utuh, Tidak ada
Hilangnya sensasi di tetapi otot kontrol usus
semua fungsi bawah interkostal tidak atau kandung
di bawah bahu klavikula dan utuh kemih
atas sebagaan besar
bagian lengan,
tangan, dada,
abdomen dan
ekstrimitas
bawah.

C6 Kuadriplegia: C5, C6 Hilangnya Saraf frenik utuh, Tidak ada


Hilangnya brakioradi semua aspek tetapi otot kontrol usus
semua fungsi alis pada lesi C5 interkostal tidak atau kandung
di bawah bahu tetapi sensasi utuh kemih
dan lengan lengan dan ibu
atas; jari lebih terasa
penurunan
kontrol siku,
lengan bawah,
dan tangan
C7 Kuadriplegia: C7, C8 Hilangnya Saraf frenik utuh, Tidak ada
hilangnya trisep sensasi di tetapi otot fungsi usus
kontrol bawah interkostal tidak atau kandung
motorik pada klavikula dan utuh kemih
bagian lengan bagian lengan
dan tangan serta tangan

13
C8 Kuadriplegia: Hilangnya Saraf frenik utuh, Tidak ada
hilangnya sensasi di tetapi otot fungsi usus
kontrol bawah dada interkostal tidak atau kandung
motorik pada dan bagain utuh kemih
lengan dan tangan
tangan
T1-T6 Paraplegia: Hilangnya Saraf frenik Defekasi atau
hilangnya sensasi di berfungsi mandiri. berkemih tidak
setiap sensasi bawah area beberapa berfungsi
di bawah area dada tengah gangguan otot
dada, termasuk intercostal
otot di batang
tubuh
T6- Paraplegia: Hilangnya Fungsi pernapasan Kontrol
T12 kehilangan setiap sensasi tidak terganggu defekasi atau
kontrol di bawah berkemih tidak
motorik di pinggang berfungsi
bawah
pinggang
L1-L3 Paraplegia: L2-L4 Hilangnya Fungsi pernapasan Kontrol
hilangnya (sentakan sensasi tidak terganggu defekasi atau
sebagian besar lutut) abdomen baah berkemih tidak
kontrol tungkai dan tungkai ada
dan pelvis
L3-S5 Paraplegia: S1-S2 Saraf sensori Fungsi pernapasan Kontrol
inkomplet (sentakan lumbal tidak terganggu defekasi atau
Kontrol pergelanga menginervasi berkemih
motorik n kaki) tungkai atas mungkin
segmental dan bawah terganggu
L4-S1: abduksi L5: aspek Segmen S2-S4
dan rotasi medial kaki mengendalikan
internal S1: aspek kontinensia
pinggul, lateral kaki urin
dorsifleksi S2: aspek Segmen S3-S5
pergelangan posterior mengendalikan
kaki dan betis/paha kontinensia
inversi kaki Saraf sensori feses (otot
L5-S1: eversi sakral perianal)
kaki menginervasi
L4-S2: fleksi tungkai bawah,
lutut kaki dan

14
S1-S2: fleksi perineum
plantar S1-S2:
(sentakan
pergelangan
kaki)
S2-S5: kontrol
usus/kandung
kemih

Sumber: Patricia G. Morton. Keperawatan Kritis Vol. 2 Hal 1089-1093

Lokasi Fungsi Motorik dan Sensorik


Funsi Motorik Funsi Sensorik
Lokasi Fungsi Lokasi Area Sensasi
C1-C6 Fleksor Leher C5 Deltoid
C1-T1 Ekstensor Leher C6 Ibu jari
C3-C5 Diafragma C7 Jari tengah
C5 Fleksor Siku C8 Jari-jari
C6 Ekstensor pergelangan tangan T4 Batas putting susu
C7 Ekstensor siku T10 Umbilikus
C8 Fleksi pergelangan tangan L5 Empu kaki
T1-T6 Interkosta otot dada S1 Little toe
T7-L1 Otot abdomen S2-S5 Perineum
L1-L4 Fleksi pinggul
L2-L4 Adduksi pinggul ekstensi lutu
L4-S1 Abduksi pinggul
Dorsofleksi kaki
L5-S2 Ekstensi pinggul
Plantar Fleksi kaki
L4-S2 Fleksi Lutut

a. Perubahan reflex
Setelah cedera medulla spinalis terjadi edema medulla spinalis sehingga stimulus reflex
juga terganggu misalnya reflex pada bladder, aktivitas visceral, reflex ejakulasi.
b. Spasme otot
Gangguan spasme otot terutama terjadi pada trauma komplit transversal, dimana pasien
terjadi ketidakmampuan melakukan pergerakan.
c. Spinal shock

15
Tanda dan gejala spinal shock meliputi flaccid paralisis dibawah garis kerusakan,
hilangnya sensasi, hilangnya refleks-refleks spinal, hilangnya tonus vasomotor yang
mengakibatkan tidak stabilnya tekanan darah, tidak adanya keringat dibawah garis
kerusakan dan inkontinensia urin dan retensi feses.
d. Autonomic dysreflexia
Autonomic dysreflexia terjadi pada cidera thorakal enam ke atas, dimana pasien
mengalami gangguan refleks autonom seperti terjadinya bradikardi, hipertensi
paroksimal, distensi bladder.
e. Gangguan fungsi seksual
Banyak kasus memperlihatkan pada laki-laki adanya impotensi, menurunnya sensasi
dan kesulitan ejakulasi. Pasien dapat ereksi tetapi tidak dapat ejakulasi.

E. Pemeriksaan Diagnostik.

1. Pemeriksaan neurologis lengkap secara teliti segera setelah pasien tiba di rumah sakit
2. Pemeriksaan tulang belakang: deformasi, pembengkakan, nyeri tekan, gangguan
gerakan(terutama leher)
3. Pemerikaan radiologis: foto polos vertebra AP dan lateral. Pada servikal diperlukan
proyeksi khusus mulut terbuka (odontoid).
a. Sinar X spinal
Menentukan lokasi dan jenis Trauma tulan (fraktur, dislokasi), untuk kesejajaran,
reduksi setelah dilakukan traksi atau operasi.
b. Foto rontgen thorak, memperlihatkan keadan paru (contoh: perubahan pada
diafragma, atelektasis)
4. Bila hasil meragukan lakukan CT-Scan,bila terdapat defisit neurologi harus dilakukan
MRI atau mielografi.
a. CT-Scan
Menentukan tempat luka / jejas, mengevaluasi ganggaun struktural
c. MRI
Mengidentifikasi adanya kerusakan saraf spinal, edema dan kompresi
d. Mielografi

16
Untuk memperlihatkan kolumna spinalis (kanal vertebral) jika faktor putologisnya
tidak jelas atau dicurigai adannya dilusi pada ruang sub anakhnoid medulla spinalis
(biasanya tidak akan dilakukan setelah mengalami luka penetrasi).
5. Pemeriksaan fungsi paru (kapasitas vital, volume tidal): mengukur volume inspirasi
maksimal khususnya pada pasien dengan trauma servikat bagian bawah atau pada
trauma torakal dengan gangguan pada saraf frenikus /otot interkostal).
6. GDA: Menunjukan kefektifan penukaran gas atau upaya ventilasi
7. Serum kimia, adanya hiperglikemia atau hipoglikemia, ketidakseimbangan elektrolit,
kemungkinan menurunnya Hb dan Hmt.
8. Urodinamik, proses pengosongan bladder.

F. Penatalaksanaan.

Penatalaksanaan yang dapat diberikan pada pasien dengan kondisi shock spinal adalah
sebagai berikut:
1. Imobilisasi pasien untuk mencegah semakin beratnya cedera medulla spinalis atau
kerusakan tambahan
2. Kolaborasi tindakan pembedahan untuk mengurangi tekanan pada medulla spinalis akibat
terjadinya trauma yang dapat mengurangi disabilitas jangka  panjang.
3. Pemberian steroid dosis tinggi secara cepat (satu jam pertama) untuk mengurangi
pembengkakan dan inflamasi medulla spinalis serta mengurangi luas kerusakan
permanen.
4. Fiksasi kolumna vertebralis melalui tindakan pembedahan untuk mempercepat dan
mendukung proses pemulihan.
5. Terapi fisik diberikan setelah kondisi pasien stabil.

Prinsip penatalaksanaan medik trauma medula spinalis adalah sebagai berikut:


1. Segera dilakukan imobilisasi.
2. Stabilisasi daerah tulang yang mengalami cedera seperti dilakukan pemasangan collar
servical, atau dengan menggunakan bantalan pasir.
3. Mencegah progresivitas gangguan medula spinalis misalnya dengan pemberian
oksigen, cairan intravena, pemasangan NGT.

17
4. Terapi pengobatan:
a. Kortikosteroid seperti dexametason untuk mengontrol edema.
b. Antihipertensi seperti diazolxide untuk mengontrol tekanan darah akibat
autonomic hiperrefleksia akut.
c. Kolinergik seperti bethanechol chloride untuk menurunkan aktifitas bladder.
d. Anti depresan seperti imipramine hyidro chklorida untuk meningkatkan tonus
leher bradder.
e. Antihistamin untuk menstimulus beta – reseptor dari bladder dan uretra.
f. Agen antiulcer seperti ranitidine
g. Pelunak fases seperti docusate sodium.
5.    Tindakan operasi, di lakukan dengan indikasi tertentu seperti adanya fraktur dengan
fragmen yang menekan lengkung saraf.
6.     Rehabilisasi di lakukan untuk mencegah komplikasi, mengurangi cacat dan
mempersiapkan pasien untuk hidup di masyarakat.

Pemeriksaan fisik utama:.


Konsep dasar untuk syok distributif adalah dengan pemberian vasopressor seperti fenilefrin
dan efedrin, untuk mengurangi daerah vaskuler dengan penyempitan sfingter prekapiler dan
vena kapasitan untuk mendorong keluar darah yang berkumpul ditempat tersebut.
B1 (Breating): takipnea, pernapasan cepat dan dangkal.
B2 (Blood) : tekanan darah menurun/hipotensi, nadi lemah/bradikardi, vena perifer kolaps,
CVP rendah.
B3 (Brain) : gangguan status mental, devisit neurologisnberupa quadriplegia/paraplegi,
kesadaran menuru dan sinkop.
B4 (Bladder): terjadinya oliguri, anuria/pengeluran berkurang.
B5 (Bowel) : mual dan muntah, anoreksia, membrane mukosa kering
B6 (Bone): letargi, kulit kering,terasa hangat dan berwarna kemerahan dan turgor buruk.

Pemeriksaan kegawatan ABCD:

18
Kemudian konsep dasar berikutnya adalah dengan penggunaan prinsip A(airway) - B(breathing)
- C(circulation) dan untuk selanjutnya dapat diikuti dengan beberapa tindakan berikut yang
dapat membantu untuk menjaga keadaan tetap baik (life support), diantaranya:
1. Baringkan pasien dengan posisi kepala lebih rendah dari kaki (posisi Trendelenburg).
2. Pertahankan jalan nafas dengan memberikan oksigen, sebaiknya dengan menggunakan
masker. Pada pasien dengan distress respirasi dan hipotensi yang berat, penggunaan
endotracheal tube dan ventilator mekanik sangat dianjurkan. Langkah ini untuk menghindari
pemasangan endotracheal yang darurat jika terjadi distres respirasi yang berulang. Ventilator
mekanik juga dapat menolong menstabilkan hemodinamik dengan menurunkan penggunaan
oksigen dari otot-otot respirasi.
3. Untuk keseimbangan hemodinamik, sebaiknya ditunjang dengan resusitasi cairan. Cairan
kristaloid seperti NaCl 0,9% atau Ringer Laktat sebaiknya diberikan per infus secara cepat
250-500 cc bolus dengan pengawasan yang cermat terhadap tekanan darah, akral, turgor kulit,
dan urin output untuk menilai respon terhadap terapi.
4. Bila tekanan darah dan perfusi perifer tidak segera pulih, berikan obat-obat vasoaktif
(adrenergik, agonis alfa yang kontraindikasi bila ada perdarahan seperti ruptur lien) :
 Dopamin: merupakan obat pilihan pertama. Pada dosis > 10 mcg/kg/menit, berefek serupa
dengan norepinefrin. Dan jarang terjadi takikardi.
 Norepinefrin : efektif jika dopamin tidak adekuat dalam menaikkan tekanan darah. Monitor
terjadinya hipovolemi atau cardiac output yang rendah jika norepinefrin gagal dalam
menaikkan tekanan darah secara adekuat. Pada pemberian subkutan, diserap tidak sempurna
jadi sebaiknya diberikan per infus. Obat ini merupakan obat yang terbaik karena pengaruh
vasokonstriksi perifernya lebih besar dari pengaruh terhadap jantung (palpitasi). Pemberian
obat ini dihentikan bila tekanan darah sudah normal kembali. Awasi pemberian obat ini pada
wanita hamil, karena dapat menimbulkan kontraksi otot-otot uterus.
 Epinefrin : pada pemberian subkutan atau im, diserap dengan sempurna dan dimetabolisme
cepat dalam badan. Efek vasokonstriksi perifer sama kuat dengan pengaruhnya terhadap
jantung, sebelum pemberian obat ini harus diperhatikan dulu bahwa pasien tidak mengalami
syok hipovolemik. Perlu diingat obat yang dapat menyebabkan vasodilatasi perifer tidak boleh
diberikan pada pasien syok neurogenik.

19
 Dobutamin Berguna jika tekanan darah rendah yang diakibatkan oleh menurunnya cardiac
output. Dobutamin dapat menurunkan tekanan darah melalui vasodilatasi perifer. Pasien-
pasien yang diketahui/diduga mengalami syok neurogenik harus diterapi sebagai hipovolemia.
Pemasangan kateter untuk mengukur tekanan vena sentral akan sangat membantu pada kasus
kasus syok yang meragukan.
Menurut  Brunner & Suddarth (2001) penatalaksanaan pada pasien syok truama
servikal yaitu :
a.  Mempertahankan ABC (Airway, Breathing, Circulation)Mengatur posisi kepala dan

leher untuk mendukung airway : headtil, chin lift, jaw thrust. Jangan memutar atau

menarik leher ke belakang (hiperekstensi), mempertimbangkan pemasangan intubasi

nasofaring.

b.  Stabilisasi tulang servikal dengan manual support, gunakan servikal collar, imobilisasi

lateral kepala, meletakkan papan di bawah tulang belakang.

c.  Stabililisasi tulang servikal sampai ada hasil pemeriksaan rontgen (C1 - C7) dengan

menggunakan collar (mencegah hiperekstensi, fleksi dan rotasi), member lipatan selimut

di bawah pelvis kemudian mengikatnya.

d. Menyediakan oksigen tambahan.

e.  Memonitor tanda-tanda vital meliputi RR, AGD (PaCO2), dan pulse oksimetri.

f. Menyediakan ventilasi mekanik jika diperlukan.

g.  Memonitor tingkat kesadaran dan output urin untuk menentukan pengaruh dari hipotensi

dan bradikardi.

h. Berikan atropine sebagai indikasi untuk meningkatkan denyut nadi jika terjadi gejala

bradikardi.

i.  Mengetur suhu ruangan untuk menurunkan keparahan dari poikilothermy.

20
j. Memberikan obat-obatan untuk menjaga, melindungi dan memulihkan spinal cord :

steroid dengan dosis tinggi diberikan dalam periode lebih dari 24 jam, dimulai dari 8 jam

setelah kejadian.

1) Memantau status neurologi pasien untuk mengetahui tingkat kesadaran pasien.

2) Memasang kateter urin untuk pengosongan kandung kemih.

3) Mengubah posisi pasien untuk menghindari terjadinya dekubitus.

4)  Mengupayakan pemenuhan kebutuhan pasien yang teridentifikasi secara konsisten

untuk menumbuhkan kepercayaan pasien pada tenaga kesehatan.

5)  Melibatkan orang terdekat untuk mendukung proses penyembuhan.

H. Komplikasi

Komplikasi Syok Spinal:

1. Henti nafas karena kompresi saraf frenikus diantara C3 dan C5 akibat kerusakan
dan pembengkakan pada area cedera.
2. Hiperrefleksia otonom ditandai dengan tekanan darah yang tinggi disertai
bradikardi, serta berkeringat dan kemerahan pada kulit wajah.
3. Cedera yang lebih berat akan mempengaruhi system tubuh, hal ini dapat
mengakibatkan terjadinya infeksi pada ginjal dan saluran kemih, kerusakan kulit
hingga terjadi dekubitus, danterjadi atrofi pada otot.
4. Depresi, stress pada keluarga dan pernikahan, kehilangan pendapatan, serta biaya
medis yang besar sebagai respon dari psikososial (Corwin, 2009).

Menurut Emma (2011), komplikasi pada trauma servikal adalah:

a. Syok neurogenic

21
Syok neurogenik merupakan hasil dari kerusakan jalur simpatik yang desending pada

medulla spinalis. Kondisi ini mengakibatkan kehilangan tonus vasomotor dan kehilangan

persarafan simpatis pada jantung sehingga menyebabkan vasodilatasi pembuluh darah

visceral serta ekstremitas bawah maka terjadi penumpukan darah dan konsekuensinya terjadi

hipotensi.

b. Syok spinal

Syok spinal adalah keadaan flasid dan hilangnya refleks, terlihat setelah terjadinya cedera

medulla spinalis. Pada syok spinal mungkin akan tampak seperti lesi komplit walaupun tidak

seluruh bagian rusak.

c.  Hipoventilasi

Hal ini disebabkan karena paralisis otot interkostal yang merupakan hasil dari cedera yang

mengenai medulla spinalis bagian di daerah servikal bawah atau torakal atas.

d. Hiperfleksia autonomic

Dikarakteristikkan oleh sakit kepala berdenyut, keringat banyak, kongesti nasal, bradikardi

dan hipertensi.

Komplikasi yang dapat terjadi pasca cedera medula spinalis antara lain yaitu instabilitas dan
deformitas tulang vertebra, fraktur patologis, syringomyelia pasca trauma, nyeri dan gangguan
fungsi seksual. Komplikasi lain yang bisa terjadi yaitu:
1. Neurogenik shock
2. Hipoksia
3. Instabilitas spinal
4. Ileus paralitik
5. Infeksi saluran kemih
6. Kontraktur
7. Dekubitus
8. Konstipas

22
I. Diagnosa yang muncul pada Asuhan keperawatan syok neorogenik:

1. Pola napas tidak efektif berhubungan dengan/b.d kelumpuhan otot bantu napas

(diafragma), kompresi medulla spinalis.

2. Gangguan pertukaran gas b.d kekurangan oksigen.

3. Nyeri akut berhubungan dengan kompresi saraf.

4. Gangguanperfusi jaringan b.d penurunan aliran balik vena dan penurunan curah jantung.

5. Kerusakan mobilitas fisik b.d kerusakan fungsi motorik dan sensori.

6. Gangguan BAK b.d penurunan isyarat kandung kemih atau kerusakan kemampuan

untuk mengenali isyarat kandung kemih sekunder terhadap cedera medulla spinalis.

7. Gangguan eliminasi alvi:konstipasi b.d penurunan peristaltic usus akibat kerusakan

persyarafan usus dan rectum.

J. Intervensi yang dapat dilakukan oleh perawat menurut Kenneth dkk (2007):

1. Mengelola jalan nafas


2. Pemantauan urin yang keluar
3. Menilai jika terjadi distensi pada kandung kemih
4. Mengajarkan batuk efektif dan cara nafas yang baik
5. Melakukan perawatan kulit
6. Melakukan ROM
7. Memantau nutrisi yang masuk pada klien
8. Pastikan klien diberikan dukungan psikologi dan pendidikan kesehatan bagi keluarga
pasien

K. Patoflowdiagram Syok Neorogenik (terlampir).

23
PEMBAHSAN KASUS

KONSEP ASUHAN MANAJEMEN KEPERAWATAN KRITIS

Kasus :

Klien berinisial Tn. F. berjenis kelamin laki-laki, berusia 50 tahun. Berat badan 60 kg, tinggi

badan 162 kg. Klien berasal dari suku Bugis beragama Islam. Pendidikan terakhir klien adalah

perguruan tinggi, saat ini klien bekerja sebagai pegawai swasta. Status pernikahan pasien saat ini

sudah menikah. Klien masuk rumah sakit pada 02 Mei 2020. Informasi yang didapatkan terkait

identitas pasien merupakan data valid karena informasi didapatkan dari pasein, keluarga, dan

data yang telah terkumpul sebelumnya di medical record rumah sakit. Diagnosa medis klien

adalah syok neurogenik (fraktur kompresi Cervikal / C5 – C7), terdapat Intruksi dokter IGD

konsul pasien ke dokter anastesi selanjutnya rawat di ICU, untuk pememantau status

hemodinamiknya dan rencana penggunaan alat bantu napas ( ETT dan ventilator).

Anamnesis :
1. Keluhan saat ini
Pengkajian dilakukan pada tanggal 02 Mei 2020. Pada saat pengkajian tampak pasien
menggunakan collar naec /cervical collar,kesadaran sangat apatis namun bisa mengikuti
perintah, ekspresi wajah tampak meringis dan meremas jari-jari tangannya karena merasa
nyeri berlebih dan gelisah. Pasien mengatakan nyeri punggung terutama area injuri lalu
menyebar ke sekitar pinggang bawah dan susah bernapas. Saat dikaji pasien mengatakan
nyerinya skala 8 (rentang scala 0 - 10). Rasa nyeri punggung membuat klien takut
menggerakan tubuhnya karena takut terjadi masalah lebih lanjut pada tulang yang tertabrak
dileher. Rasa nyeri punggungnya mengganggu klien saat tidur di malam hari, sehingga sulit
tidur nyenyak. Dan pasien tidak mampu mengangkat kedua kakinya (paraplegi). Hasil EKG
kesan bradikardi, tampak; terpasang NGT pada hitung kiri, terpasang infus Na Cl ),9% 16
tpm(8jam) pada punggung tangan kiri, terpasang kateter dan urin 150 ml. Hasil pemeriksaan
tanda-tanda vital, GCS 12, (E=3, M=5, V=4), tekanan darah 80/60 mmHg, Nadi 58 x/menit,
frekuensi pernapasan 24 x/mnt, dan suhu 360C, SpO2 88 %, capillary refill time ≥ 2 detik

24
x/mnt, AGD (dalam batas normal),GDS 62 mg/dl(70 - 200), WBC 13,2 gr/dl(5,0 – 10,0), Hb
9 g/dl(13,0 – 16,0), ureum 8 mg/dl (10 – 50 ), creatinin 60 u/l(70 -160) atau 6,0 mg/dl ( < 1,
4 ).. Pasien menggunakan oksigen nasal 3 liter/menit. Pasien tidak dapat menggerakkan
kakinya. Hasil X-ray menunjukkan ada fraktur di C5 – C7. Penalaksanaan medis ICU:
ketorolac 30 mg 2 x 1,metilprednison 30 mg/kgBB(1500 mg dalam 15 menit dan dilanjutkan
setelah 45 mnt selama 47 jam), mecobalamin 500 mg tiap 12 jam i.v., Ranitidin 50 mg 12
jam i.v, ciprofloxcacin 3 x 1000 gr, Dobutamin 3 MCG/kgBB/menit/syeringpump, kobinasi
vascon 0,1 mcg / kgBB/menit, omeprazole 40 mg/24jam/i.v, Asamtranexit 1 amp/12 jam/i.v.
Ekstra Dextrose 40% 1 flcn dan ciprofloxacin 1 gr/24 jam.

2. Riwayat kejadian
Keluarga mengatakan setelah kejadian pada tanggal 03 Mei 2020 pada pukul 21.00 WIB
klien langsung dihantar ke unit gawat darurat RS. Keluarga mengatakan bahwa mobil
Avanza yang dikendara pasien menabrak batu dan pohon besar hingga mobil tersebut
terbalik. Dalam posisi terbalik tersebut datanglah bus parawisata dengan kecepatan tinggi
menghantam mobil klien dengan tumbukan yang sangat kuat hingga bodi sebagian penyet,
klien terdorong kearah depan namun kepalanya terapit dengan pintu depan mobil
didepannya. Setelah kejadian itu, keluarga mengatakan klien tidak dapat bangun lagi dan
mulai mengalami penurunan kesadaran. Menurut penuturan orang disekitar klien ditransfer
ke unit emergency di ruamha sakit Siloam Makassar, di hari yang sama klien segera di rujuk
ke RS Stella Maris.

3. Riwayat Penyakit Terdahulu


Keluarga mengatakan klien memiliki penyakit serius dan kronik seperti penyakit jantung
yaitu hipertensi, diabetes dank klien sudah sering dirawat karena penyakit tersebut.
Keluarga juga mengaku memiliki riwayat penyakit tersebut dalam keluarga. Keluarga tidak
mengetahui kelengkapan imunisasi yang dijalankan. Pasien tidak memiliki alergi terhadapa
makanan, dan cuaca tertentu, namun klien diketahui memiliki alergi terhadap obat dari hasil
skin test yang dilakukan pada tanggal 02 Mei 2020. Hasil skin test antibiotika cefriaxone
hasilnya adalah positif ditandai dengan warna kemerahan di area yang disuntikkan.
Keyakinan ini didapatkan setelah melakukan validasi skin test sebanyak empat kali. Hal
temuan ini dilaporkan kepada dokter yang bertanggungjawab, maka antibiotika cefriaxone

25
dihentikan, diganti dengan ciprofloxacin. Pada tanggal 03 Mei 2020 kembali dilakukan
Skin test dengan kandungan medikasi ciprofloxacin didalamnya, hasilnya adalah negative.

Hasil Wawancara Perawat ICU RS Stella Maris, sbb:

26
27
LAPORAN ANALISIS KASUS
DI RUANG INTENSIVE CARE UNIT RS STELLA MARIS MAKASSAR

Tanggal Pengkajian : 03 Mei 2020


Nama Pasien/Usia : Tn. F
Diagnose Medis : Syok Neurogenik.

A. Pengkajian Primer
Pergerakan dada - Tidak simetris (tampak tenang)

Pemakaian otot bantu - Tidak ada


Breath (B1) / napas - Jenis : sangat lemah.intercostal, substernal
Pernapasan
Palpasi - Vocal premitus : tidak dilakukan
- Nyeri tekan : ada
- Krepitasi : -

28
Perkusi - Redup
- Sonor
- Pekak √
- Lokasi : kedua lapang paru bagian basal
Suara nafas - Vesikuler
- Wheezing
- Ronchi
- Rales
- Froction rub
- Lokasi : kedua lapang paru bagian basal
Batuk - tidak ada

Tidak ada
Sputum - Coklat
- Kental
- Berdarah
- Encer
- Warna lain : Putih

Alat bantu napas - Ada (nasal canul)


- Jenis : ventilator ,gudel
Lain – lain

Suara jantung S1 S2 S3 S4
Blood (B2) / - Tunggal √
- Gallop

29
Kardiovaskuler - Murmur
Irama jantung - Ireguler √
- Regular
CRT - < 3 detik √
- > 3 detik
JPV - Tidak dikaji
- Normal
- Meningkat
CVP

- Tidak ada
- Nilai :
Edema - ada
- Lokasi : leher

EKG
Hasil : bradicardi dan hipotensi

Lain – lain

Tingkat kesadaran - Kualitatif : apatis →somnolen


Brain (B3) / - Kuantitatif = 12
Persarafan E:3

V:4

M:5

Reaksi pupil : - Ada, diameter 3 mm


- Kanan - Tidak ada
- Kiri - Ada, diameter 3 mm
- Tidak ada
Refleks fisiologis - Ada : Tricep (+), Bicept (+), Patella (+),
Achiles (+)

Refleks patologis - Tidak ada : Babinsky (-)

Meningeal sign - Tidak dilakukan

30
- Tidak ada √
Lain – lain Nyeri berlebih. Scala 8 (s:0-10)

Urin - Jumlah : 150 ml


- Warna : kuning pekat
Kateter - Ada √
Bladder (B4) /
- Jenis :
Pencernaan
- Tidak ada
Kesulitan BAK - Ya
- Tidak
Lain – lain

Mukosa bibir - Lembab


Bowel (B5) / - Kering √
Lidah - Tidak dikaji
Perkemihan
- Bersih
Keadaan gigi - Tidak dikaji
- Gigi palsu
Nyeri tekan - Ya
- Tidak ada √ (terpasang kateter)
Abdomen - Distensi
- Tidak distensi √
Peristaltik usus - Normal √ (n= 5-35 x/mnt)
- Menurun
- Meningkat
- Nilai : 4 x/mnt
Mual - Ya
- Tidak √
Muntah - Ya
- Tidak √
- Jumlah
- Frekuesnsi
Hematemesis - Ya
- Tidak ada √
- Jumlah

31
- Frekuensi
Melena - Ya √
- Tidak ada
- Jumlah
- Frekuensi
Terpasang NGT - Ya √
- Tidak
Terpasang Colostomi - Ya
Bag - Tidak √
- Lokasi
Diare - Ya
- Tidak √
- Jumlah
- Frekuensi
Konstipasi - Ya
- Tidak √
- Sejak
Asites - Ya
- Tidak √
Lain – lain

Turgor - Baik √
- Jelek
Perdarahan kulit - Ada
- Tidak ada √
Bone (B6) /
- Jenis :
Muskuloskeletal
&
Integument Icterus - Ya
- Tidak ada √
Akral - Hangat
- Kering
- Merah
- Dingin √
- Pucat

32
- Basah
Pergerakan sendi - Bebas
- Terbatas √ (ke-2 kaki & tangan)
- Skala = 0
Fraktur - Ada
- Tidak ada
- Jenis
- Lokasi : C5 – C7

- Gambar :
- Ada
Luka - Tidak ada √
- Jenis
- Lokasi
- Gambar :
Lain – lain

B. Diagnosa Keperawatan : (Berdasarkan data yang diperoleh saat pengkajian primer)


a. B-1 /Breath / Pernapasan:
1. Ketidakefektifan pola nafas b.d gangguan neurologis (cidera cervical)

Data :

 Pasien mengatakan merasa sulit bernapas

 Tampak ada penggunaan otot bantu napas & frekuensi pernapasan 24 x/mnt

 Hasil X-Ray : fratur servikal (C5 – C7)

 Menggunakan oksigen nasal 4 litr/mnt

 SpO2 88 %, & capillary refill time ≥ 2 detik x/mnt

 Hb 9 g/dl(13,0 – 16,0)

 Rencana penggunaan alat bantu napas (ETT dan Ventilator)

33
b. B-2/Blood/Kardiovaskuler :
2. Gangguan perfusi jaringan b.d penurunan aliran balik vena dan penurunan
curang jantung.
Data :
 tekanan darah 80/60 mmHg & nadi 58 x / mnt
 hasil EKG: Bradikardi &
 terpasang infus Na CL 0,9%
c. B-3 / Brain / Persarafan :
3. 1.Nyeri akut berhubungan dengan kompresi saraf.

 Keluarga mengatakan sulit tidur Karen merasa nyeri dan gelisah

 Kesadaran pasien apatis menuju somnolen, GCS 12 (E=3, V=3, M=4)

 Hasil X-ray : kesan fraktur C5-C7

4. 2.Gangguan pola tidur berhubungan dengan gangguan neurologis.

Data :

- Pasien mengatakan tidak bisa tidur nyenyak karena nyeri.

- Skala nyeri = 9 (rentang normal 0 - 10)

- Adanya fraktur servikal (hasil X - ray)

d. B-4/Bladder / Percernaan : -
5. Resiko hipoglikemia berhubungan dengan intake kurang adekuat (stress
neurologis dan penyakit penyerta)
Data :
 Keluarga mengatakan pasien mempunyai riwayat DM tipe I
 GDS =62 mg /dl

e. B-5 / Bowel / Perkemihan : -
6. Resiko infeksi berhubungan dengan prosedur tindakan invasive
Data :

34
 Terpasang kateter interna
 Terpasang infus
 Terpasang NGT
 Rencana penggunaan alat bantu napas (ETT dan Ventilator)
7. Resiko gagal ginjal berhubugan dengan penurunan fungsi ginjal.
Data :
 Ureum 8 mg/dl
 Creatinin
f. B-6 / Bone / musculoskeletal & integumen: -

8. Keterbatasan mobilitas fisik b.d kerusakan fungsi motorik dan sensori.

Data :

 Pasien mengatakan merasa berat mengangkat ke -2 kaki

 Pasien mengatakan sulit menggerakan kaki

 Hasil X-Ray kesan : fraktur C5 – C7

C. Tindakan Keperawatan Yang Dilakukan : (Berdasarkan Data yang ditemukan)

1. DX 1 Gangguan perfusi jaringan perifer tidak efektif b.d penurunan aliran balik
vena ( peningkatan vasodilatasi perifer).
NOC : setelah dilakukan tindakan keperawatan dalam 3 x 24 jam,pasien diharapkan
perfusi jaringan kembali adekuat.
Kriteria hasil:
a. Mengidentifikasi factor yang menghambat sirkulasi (Hb dalam batas
normal).
b. Irama jantung/frekuensi nadi perifer normal(60 – 100 x/mnt)
c. Tekanan darah(systole/diastole) dalam batas normal, tidak ada sianosis.
d. Mengidentifikasi cara medis,diet, pengobatan dan aktivitas yang
meningkatkan vasodilatasi.

35
NIC : Manajemen syok perfusi.
a. Pertahankan ekstremitas dengan posisi tergatung.
R/ mempermudah aliran darah turun ke perifer.
b. Mempertahankan ekstremitas tetap hangat.
R/menghindari hipotermi pada pasien akibat ketidakcukupan sirkulasi perifer.
c. Auskultasi frekuensi dan irama jantung.mencatat dan melaporkan terjadinya
bunyi jatung tambahan.
R/ menghindari / factor lain penyebab penurunan perfusi jaringan.
d. Observasi perubahan status mental pasien.
R/ menghindari pasien jatuh kedalam kondisi koma.
e. Observasi warna dan suhu kulit, / membrane mukosa.
R/ menentukan apakah perfusi jaringan kembali adekuat atau tidak.
f. Kolaborasi pemberian cairan sesuai indikasi.
R/ rehidrasi membantu memenuhi/mencukupi kebutuhan perifer.

2. DX. 2.Kep: Ketidakefektifan pola nafas berhubungan gangguan neurologis


(kerusakan otot pernapasan)
NOC : setelah dilakukan tindakan keperawatan 3 x 24 jam, pasien diharapkan dapat
menunjukkan status pernapasan ventilasi tidak terganggu.
Kriteria Hasil :
a. Menunjukkan jalan napas yang paten(freksuen napas dalam batas normal: 12-
20 x/mnt)
b. Ventilasi adekuat; PaCO2 < 45, PaO2 >80, CRT < 2 detik.
c. Klien tidak merasa sesak napas/tercekik
d. Irama napas teratur dan tidak ada suara napas abnormal/tambahan.

NIC : Airway manajement


a. Monitor respirasi dan status oksigen/O2
R/ mencegah terjadinya syok
b. Berikan oksigen masker

36
R/ menyediakan supply oksigen yang adekuat.meminimalkan resiko
kelelahan dan mencegah ARDS.
c. Kelola oksigen dengan metode yang sesuai (kanul,intubasi).
R/metode ditentukan oleh tingkat cedera, tingkat insufisiensi respirasi dan
jumlah pemulihan fungsi otot pernapasan setelah fase syok spinal.
d. Memelihara kepatenan jalan napas: menjaga kepala dalam posisi yang tepat.
R/pasien dengan cedera leher sangat tinggi gangguan reflex muntah/batuk.
Mencegah aspirasi/mempertahankan kepatenan jalan napas.
e. Mengobservasi serangan tiba-tiba dari dispnea, sianosis dan atau tanda lain
yang mengarah pada distress pernapasan.
R/perkembangan emboli paru dapat disilent karena persepsi nyeri mengalami
perubahan atau terjadi thrombosis vena dalam tidak dikenal.
f. Auskultasi bunyi napas
R/ hiperventilasi secara umum dapat terjadi.
g. Berikan pelembab udara pada kassa basah (Na Cl 0,9%)
h. Kolaborasi pemberian alat bantu napas (ventilator),jika perlu
3. DX. Kep.3.Nyeri akut b.d kerusakan kompresi saraf.

NOC :setelah dilakukan tindakan keperawatan dalam waktu 3 x 24 jam, rasa nyeri
berkurang.
Kriteia hasil :
a. Pasien melaporkan penurunan rasa nyeri
b. mengidentifikasi cara-cara mengatasi rasa nyeri,
c. pasien dapat mendemonstrasikan teknik relaksasi dan distraksi.
NIC : manajemen Nyeri
a. Kaji tanda – tanda vital(TD,N. P, S)
b. Kaji status nyeri secara komprehensif
R/ pengkajian yang optimal akan memberikan data yang obyektif untuk
mencegah kemungkinan komplikasi dan melakukan intervensi yang tepat.
c. Jelaskan dan bantu pasien dengan tindakan pereda rasa nyeri (nonfarmakologi
& faramkologi).

37
R/ pendekatan menggunakan relaksasi dan nonfermakologi lainnya telah
menunjukkan keefektifan dalam mengurangi rasa nyeri.
d. Ajarkan teknik relaksasi dan massage menurunkan ketegangan otot.
R/ akan melancarkan peredaran darah sehingga kebutuhan O2 oleh jaringan akan
terpenuhi dan akan mengurangi rasa nyeri.
e. Ajarkan metode distraksi selama nyeri akut.
R/mengalihkan perhatian nyerinya ke hal-hal yang menyenangkan.
f. Kolaborasi pemberian terapi analgetik.
R/ analgetik memblok lintasan rasa nyeri melalui saraf sensori sehingga nyeri
akan berkurang.

D. Evaluasi Hasil Tindakan : (Kondisi Yang Didapatkan Setelah Tindakan Yang Dilakukan
Untuk Mengatasi Masalah Keperawatan)

E. Pengkajian Sekunder : (Meliputi Pengkajian Riwayat Keperawatan dan Head To Toe)


a. Pola Persepsi dan Pemeliharaan Kesehatan
1) Sebelum sakit:
Keluarga pasien mengatakan jarang memeriksakan kesehatannya ke
puskemas atau ke dokter. Pasien memiliki riwayat hipertensi dan diabetes tipe I
dan mengkonsumsi obat hipertensi namun tidak teratur. Keluarga pasien juga
mengatakan pasien suka menkonsumsi makanan yang berminyak dan tinggi
garam.
2) Sejak sakit:
Keluarga mengatakan setelah kejadian pada tanggal 03 Mei 2020 pada pukul
21.00 WIB klien langsung dihantar ke unit gawat darurat RS. Keluarga
mengatakan bahwa mobil Avanza yang dikendara pasien menabrak batu dan
pohon besar hingga mobil tersebut terbalik. Dalam posisi terbalik tersebut
datanglah bus parawisata dengan kecepatan tinggi menghantam mobil klien
dengan tumbukan yang sangat kuat hingga bodi sebagian penyet, klien

38
terdorong kearah depan namun kepalanya terapit dengan pintu depan mobil
didepannya. Setelah kejadian itu, keluarga mengatakan klien tidak dapat
bangun lagi dan mulai mengalami penurunan kesadaran. Menurut penuturan
orang disekitar klien ditransfer ke unit emergency di ruamha sakit Siloam
Makassar, di hari yang sama klien segera di rujuk ke RS Stella Maris.

3) Riwayat penyakit sebelumnya:


Keluarga mengatakan klien memiliki penyakit serius dan kronik seperti penyakit
jantung yaitu hipertensi, diabetes dank klien sudah sering dirawat karena penyakit
tersebut. Keluarga juga mengaku memiliki riwayat penyakit tersebut dalam keluarga.
Keluarga tidak mengetahui kelengkapan imunisasi yang dijalankan. Pasien tidak
memiliki alergi terhadapa makanan, dan cuaca tertentu, namun klien diketahui
memiliki alergi terhadap obat dari hasil skin test yang dilakukan pada tanggal 02 Mei
2020. Hasil skin test antibiotika cefriaxone hasilnya adalah positif ditandai dengan
warna kemerahan di area yang disuntikkan

b. Pola Nutrisi dan Metabolik


1) Sebelum sakit:
Keluarga pasien mengatakan sebelum sakit pasien makan dengan teratur.
Keluarga pasien juga mengatakan pasien suka makan makanan yang
berminyak dan tinggi garam. Pasien mengatakan jarang mengkonsumsi air <
4-5 gelas sehari. Berat badan
2) Sejak sakit:
Keluarga pasien mengatakan sejak sakit pasien makan melalui slang yang
dipasang pada hidung. BB: 60 kg TB: 162 cm, IMT pasien 23 (berat badan
batas normal).
c. Pola Aktivitas dan Latihan
1) Sebelum sakit:
Keluarga mengatakan pasien bekerja sebagai karyawan swasta, pasien
jarang berolahraga.
2) Sejak sakit:

39
Keluarga mengatakan pasien hanya berbaring di tempat tidur, karena
merasa sesak napas dan menggunakan alat dileher , pergerakan pasien
dibatasi karena gangguan dileher, dan pasien berbicara sambil mata tertutup.
Pasien juga susah bergerak tidak dapat mengangkat kakinya, sehingga
aktivitas pasien dibantu sepenuhnya oleh keluarga dan perawat.
3) Observasi:
Tampak pasien lemas,sangat apatis dan dalam posisi terlentang ditempat
tidur dan menggunakan collar naec.
Aktivitas Harian:
a. Makan :2
b. Mandi :2
c. Pakaian :2
d. Kerapihan :2
e. Buang air besar :2
f. Buang air kecil :2
g. Mobilisasi di tempat tidur :2

Uji kekuatan otot:

Tangan 1 1

Kaki 0 0

F. Pemeriksaan Penunjang : (Meliputi Pemeriksaan Lab, Rontgen, CT Scan, dll)


a. Laboratorium :
1) HGB 9 g/dL (13,0 – 16, 0)
2) HCT 25,9 %
3) WBC 13, 2 gr/dl ( 5,0 – 10,0)
4) GDS 62 mg/dl (70 - 200)
5) Ureum 8 mg/dL (10 - 50)

40
6) Creatinine 60 mg/dL ( 70 - 160 atau < 1,4)

b. Pemeriksaan penunjang :
 Hasil X-ray menunjukkan ada fraktur di C5 – C7
 EKG : Bradikardi dan hipotensi
 SpO2 88 %, capillary refill time ≥ 2 detik x/mnt,
 GDS 62 mg/dl(70 - 200)
c. Terapi yang diberikan :
1) ketorolac 30 mg /12 jam
2) ,metilprednison 30 mg/kgBB(1500 mg dalam 15 menit dan dilanjutkan
setelah 45 mnt selama 47 jam),
3) mecobalamin 500 mg tiap 12 jam i.v.,
4) Ranitidin 50 mg 12 jam i.v,
5) Dobutamin 3 MCG/kgBB/menit/syeringpump,
6) vascon 0,1 mcg / kgBB/menit,
7) omeprazole 40 mg/24jam/i.v,
8) Asamtranexit 1 amp/12 jam/i.v.
9) ciprofloxacin 1 gr/24 jam

G. Diagnosa Keperawatan : (2 Diagnosa Utama Data Yang didapat dari Pengkajian Sekunder)
1) Intoleransi mobilitas fisik berhubungan dengan kerusakan funsgsi saraf motorik dan

sensorik.

NOC : Setelah dilakukan tindakan keperawatan dalam waktu 3 x 24 jam dapat

memperbaiki mobilitas fisik pasien.

Kriteria hasil:

 Pasien dapat mempertahankan fungsi dibuktikan dengan tidak adanya

kontraktur dan footdrop.

41
 Meningkatkan kekuatan bagian tubuh yang sakit/kompensasi.

 Mendemonstrasikan tehnik/perilaku yang memungkinkan melakukan kembali

aktivitas.

NIC : Manajemen mobilitas.

Intervensi:

1. Kaj fungsi – fungsi sensori dan motorik pasien setiap 4 jam.

R/ mengetahui dan menetapkan kemampuan serta keterbatasan pasien setiap 4

jam.

2. Ganti posisi pasien setiap 2 jam dengan memperhatikan kestabilan tubuh dan

kenyamanan.

R/mencegah terjadinya luka tekan / dekubitus.

3. Berikan papan penahan pada kaki.

R/ Mencegah terjadinya komplikasi lanjut (footdrop)

4. Kolaborasi melibatkan ahli fisiterapy.

R/ mempercepat proses pemulihan pasien.

5. Lakukan ROOM pasif setelah 48 – 72 jam setelah cedera (4-5 x/hr).

R/meningkatkan stimulasi dan mencegah kontraktur.

6. Monitor adany rasa nyeri dan kelelahan pada pasien.

R/ menunjukkan adanya aktifitas yang berlebihan.

7. Kolaborasi dokter untuk pemberian vitamin dan ahli gizi untuk kecukupan

gizi pasien.

R/gizi yang baik mempercepat proses penyembuhan pasien.

42
8. Kolaborasi dokter untuk melibatkan tim orthopedi untuk kemungkinan

tindakan operasi fraktur servikal.

H. Prinsip-prinsip Tindakan : (Meliputi Tindakan Mandiri, dan Kolaborasi)


I. Monitor Klien : (Monitor/ Pengkajian berkelanjutan dan Hasil yang Didapatkan)
J. Evaluasi Diri : (Selama Merawat Pasien)

43
K. PATOFLOW DIAGRAM SYOK SPINAL & NEUROGENIK
Definisi :

1) Spinal Shock (syok spinal) merupakan kehilangan aktifitas otonom, refleks, motorik, dan sensorik pada daerah di
bawah tingkat terjadinya cedera medula spinalis. Syok Spinal terjadi sekunder akibat kerusakan pada medula spinalis
(Kowalak, 2011).
2) Trauma medula spinalis merupakan keadaan patologi akut pada medula spinalis yang di akibatkan terputusnya
komunikasi sensori dan motorik dengan susunan saraf pusat dan saraf parifer. Tingkat kerusakan pada medula spinalis
tergantung dari keadaan atau inkomplet (Tarwato, 2007).

ETIOLOGI

F.Predisposisi F.Presipitasi

Usia /jenis kelamin system hormone Trauma lansung tidak langsung


suhu lingkungan
Proses degerasi menopause KLL, luka tusuk,luka Psikologis, proses
tembak, jatuh. penyakit:osteoporosis
, tumor,obat, dll

44
Multi Fraktur

Spinal cord injuri kelumpuhan


Blok saraf simpatais

Fraktur servikal & anastesi


Kelumpuhan saraf lumbal
pernapasan

Pelepasan mediator Paraplegia ekterimitas


Iskemia & hipoksia
kimia atas bwh
jaringan

Nyeri hebat (gangguan MK: 3. intoleransi


Gangguan kebutuhan fgs saraf) Gangguan pola BAK &
mobilitas fisik.
oksigen / O2 BAB
NOC : mobilisasi

MK: 2. ketidakefektifan Vasokonstriksi drh tdk


NIC :bantuan
pola napas. efektif
mobilisasi
Inkontinensia urine &
NOC : Ventilasi
Hipotensi & bradikardi inkontinensia alvi
NIC: manajemen ventilasi
45
Hipotermi/Hipertermi

MK: gangguan pola tidur.

NOC : pola tidur teratur. Syok spinal


NIC : atasi pemicu Resiko Ulkus dekubitus
gangguan tidur Penurunan kesadaran

Infeksi berat/syok sepsis


Syok Neurogenik

Deficit neurologi Hilangnya control Hilangnya tonus Akumulasi darah dlm


saraf simpatis arteriol,vena &
Srf simpatis kapiler

Respon saraf
sensitif Dilatasi vena Dilatasi arteri Vasodilatasi periver
Kulit hangat &
kemerahan.
Respon nyeri Hambatan respon
>>/akut Akumulasi darah barorseptor
Penurunan tonus pblh
berlebih dlm jrgn MK: resiko
darah perifer hipertermi
Stress jaringan Kegagalan termoregulasi
NOC:
Penurunan stroke
volum NIC:manajemen
hipertermi
46
Hipoksia + hipotensi
hipotermi

Penurunan cardiac ouput

MK: 3.Nyeri akut b.d


kompresi saraf.

NOC : atasi nyeri


Penurunan MAP
NIC : manajemen nyeri
MK : 1.gangguan perfusi
jaringan perifer.

Hipotensi & bradikardi NOC:

NIC:manajemen perfusi perifer


MK : penuruan curah jantung.

NOC :

NIC : Kematian

47
1. Gangguan perfusi jaringan perifer
2. Ketidakefektifan pola nafas .
tidak efektif .
NOC : respiratory status: ventilation, 3. Nyeri akut b.d kerusakan
a. Pertahankan ekstremitas dengan posisi
airway patency. /kompresi saraf.
tergatung.
NIC : airway manajement. Intervensi:manajemen nyeri.
R/ mempermudah aliran darah turun ke
perifer. Intervensi : a.Kaji status nyeri secara

b. Mempertahankan ekstremitas tetap a. Monitor respirasi dan status komprehensif

hangat. oksigen/O2 b. Jelaskan dan bantu pasien dgan

R/menghindari hipotermi pada pasien akibat b. Buka jalan napas, gunakan tehnik chin tindakan pereda rasa nyeri

ketidakcukupan sirkulasi perifer. lift atau jawthrust bila perlu c.Ajarkan teknik relaksasi dan

c. Auskultasi frekuensi dan irama c. Posisikan pasien untuk massage menurunkan

jantung.mencatat dan melaporkan memaksimalkan ventilasi (hati-hati ketegangan otot.

terjadinya bunyi jatung tambhn. fraktur C5-C7)

d. Observasi perubahan status mental pasien. d. Identifikasi pasien perlunya d. Ajarkan metode distraksi

R/ menghindari pasien jatuh kedalam kondisi pemasangan bantuan alat jalan napas selama nyeri akut.

koma. (ETT/ventilator) e. Kolaborasi pemberian terapi

e. Observasi warna dan suhu kulit, / e. Auskultasi adanya suara napas analgetik.

membrane mukosa. tambahan f. Kolaborasi pemberian terapi

f. Kolaborasi pemberian cairan sesuai f. Pasang mayo / OPA bila perlu analgetik.

indikasi. g. Berikan pelembab udara pada kassa R/ analgetik memblok lintasan

R/ rehidrasi membantu basah (Na Cl 0,9%) rasa nyeri melalui saraf sensori

memenuhi/mencukupi kebutuhan perifer. h. Kolaborasi pemberian alat bantu napas sehingga nyeri akan
(ventilator),jika perlu berkurang.

48
PENUTUP

Kesimpulan
Syok spinal adalah kerusakan medulla spinalis sekunder yang menyebabkan
kehilangan aktifitas otonom, reflex, motoric, dan sensorik pada daerah di bawah tingkat
terjadinya medulla spinalis. Sedangkan trauma Medulla Spinalis adalah kerusakan fungsi
neurologis akibat trauma langsung atau tidak langsung pada medulla spinalis sehingga
mengakibatkan gangguan fungsi sensorik, motorik, autonomi dan reflek. Baik trauma
medulla spinal dan syok spinal keduanya membutuhkan penanganan yang tepat. Perawat
mempunyai peran penting dalam tindakan promotif, preventif, kuratif, dan rehabilitatif
dalam kasus trauma medulla spinalis dan syok spinal.

49
DAFTAR PUSTAKA

Arrynugrah Sartono, 2014. Anatomi dan fisiologi tubuh Manusia. Cetakan I. sleman

Yogyakarta.

Anna Keliat,dkk.2018 – 2020. NANDA –I. Diagnosis Keperawtan Keperawatan. Definisi dan

Klasifikasi. Edisi XI. EGC

Kusuma Hardi & Nurarif, 2015. Aplikasi Asuhan Keprawatan Berdasarkan Diagnosa Medis

& NANDA, NOC-NIC. Edisi Revisi.Jilid 3.

Dr.Badrul Munir Sp.S. 2017. Diagnosis dan Terapi Penyakit Neurologi. Edisi ke-2. Sagung

Seto.

Swanson Elisabeth, dkk,2016. Nursing Outcomes Classification (NOC). Edisi ke-5. Edisi

bahasa Indinesia.

Wagner M,dkk.2016. Nursing Interventions Classification (NIC). Edisi ke-6. Edisi bahasa

Indonesia.

Wilkinson M, 2017. Diagnosa Keperawatan. Edisi 10. EGC

50