Anda di halaman 1dari 14

TUGAS MAKALAH MANFAAT KANDUNGAN TANAMAN

TERHADAP COVID-19
PRAKTIKUM FARMAKONOSI

DOSEN PEMBIMBING
NURIZA RAHMADINI. M,SC

DIBUAT OLEH

SRI WULANDARI SUSANTI


1804015077/F1

PROGRAM STUDI FARMASI


FAKULTAS FARMASI DAN SAINS
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH PROF.DR.HAMKA
BAB I
PENDAHULUAN

Coronavirus adalah virus RNA dengan ukuran partikel 120-160 nm. Virus ini utamanya
menginfeksi hewan, termasuk di antaranya adalah kelelawar dan unta. Sebelum terjadinya
wabah COVID-19, ada 6 jenis coronavirus yang dapat menginfeksi manusia, yaitu
alphacoronavirus 229E, alphacoronavirus NL63, betacoronavirus OC43, betacoronavirus
HKU1, Severe Acute Respiratory Illness Coronavirus (SARS-CoV), dan Middle East
Respiratory Syndrome Coronavirus (MERS-CoV). Coronavirus yang menjadi etiologi
COVID-19 termasuk dalam genus betacoronavirus. Hasil analisis filogenetik menunjukkan
bahwa virus ini masuk dalam subgenus yang sama dengan coronavirus yang menyebabkan
wabah Severe Acute Respiratory Illness (SARS) pada 2002-2004 silam, yaitu Sarbecovirus.
Atas dasar ini, International Committee on Taxonomy of Viruses mengajukan nama SARS-
CoV-2. Struktur genom virus ini memiliki pola seperti coronavirus pada umumnya (Gambar
1). Sekuens SARSCoV-2 memiliki kemiripan dengan coronavirus yang diisolasi pada
kelelawar, sehingga muncul hipotesis bahwa SARS-CoV-2 berasal dari kelelawar yang
kemudian bermutasi dan menginfeksi manusia. Mamalia dan burung diduga sebagai reservoir
perantara.1 Pada kasus COVID-19, trenggiling diduga sebagai reservoir perantara. Strain
coronavirus pada trenggiling adalah yang mirip genomnya dengan coronavirus kelelawar
(90,5%) dan SARS-CoV-2 (91%). Genom SARS-CoV-2 sendiri memiliki homologi 89%
terhadap coronavirus kelelawar ZXC21 dan 82% terhadap SARS-CoV. Hasil pemodelan
melalui komputer menunjukkan bahwa SARS-CoV-2 memiliki struktur tiga dimensi pada
protein spike domain receptor-binding yang hampir identik dengan SARS-CoV. Pada SARS-
CoV, protein ini memiliki afinitas yang kuat terhadap angiotensinconverting-enzyme 2
(ACE2). Pada SARS-CoV-2, data in vitro mendukung kemungkinan virus mampu masuk ke
dalam sel menggunakan reseptor ACE2. Studi tersebut juga menemukan bahwa SARS-CoV-
2 tidak menggunakan reseptor coronavirus lainnya seperti Aminopeptidase N (APN) dan
Dipeptidyl peptidase-4 (DPP-4)
Daftar Isi

BAB I ....................................................................................................................................................... 2
Daftar Isi .................................................................................................................................................. 3
BAB II ....................................................................................................................................................... 4
A. JAHE ................................................................................................................................................ 4
B. TEMULAWAK ................................................................................................................................... 5
C. KUNYIT ............................................................................................................................................ 7
D. SEREH .............................................................................................................................................. 9
BAB III .................................................................................................................................................... 10
1) JAHE .............................................................................................................................................. 10
2) KUNYIT DAN TEMULAWAK ........................................................................................................... 10
3) SEREH ............................................................................................................................................ 11
BAB IV.................................................................................................................................................... 12
BAB V..................................................................................................................................................... 13
BAB II
TINJUAN PUSTAKA

A. JAHE
Tanaman jahe (Zingiber officinale Rosc.) merupakan salah satu tanaman yang mempunyai
banyak kegunaan antara lain sebagai ramuan, rempah - rempah, bahan minyak atsiri, bahkan
akhir - akhir ini menjadi fitofarmaka. Salah satu khasiat jahe yang paling sering dibicarakan
adalah untuk meningkatkan kekebalan tubuh atau penangkal masuk angin, sehingga jahe
sering dimasukkan dalam ramuan jamu atau obat-obatan tradisional (Januwati, 1999).
Jahe merah sudah lama dikenal dapat menyembuhkan berbagai macam penyakit,
dibandingkan dengan jahe gajah dan jahe empirit. Meskipun demikian, kebanyakan orang
umumnya lebih mengenal jahe gajah, yakni sebagai bumbu dapur, rempah-rempah, dan
bahan obat-obatan. Dari ketiga jenis jahe yang ada, jahe merah yang lebih banyak digunakan
sebagai obat, karena kandungan minyak atsiri dan oleoresinnya paling tinggi dibandingkan
dengan jenis jahe yang lain sehingga lebih ampuh menyembuhkan berbagai macam penyakit.
Karena kadar minyak atsiri dan oleoresin jahe merah lebih tinggi dibandingkan kedua tipe
jahe lainnya maka tanaman ini sangat cocok digunakan sebagai bahan baku obatobatan atau
jamu.
Menurut Rostiana dkk. (2005), di Indonesia dikenal 3 tipe jahe, yaitu jahe putih besar, jahe
emprit dan jahe merah. Jahe putih besar mempunyai rimpang besar berbuku, berwarna putih
kekuningan dengan diameter 8,47-8,50 cm, aroma kurang tajam, tinggi dan panjang rimpang
6,20-11,30 cm dan 15,83-32,75 cm, warna daun hijau muda, batang hijau muda dengan kadar
minyak atsiri di dalam rimpang 0,82-2,8%. Jahe putih kecil mempunyai rimpang kecil
berlapis-lapis, aroma tajam, berwarna putih kekuningan dengan diameter 3,27-4,05 cm, tinggi
dan panjang rimpang 6,38-11,10 cm dan 6,13-31,70 cm, warna daun hijau muda, batang hijau
muda dengan kadar minyak atsiri 1,50-3,50%. Jahe merah mempunyai rimpang kecil, aroma
sangat tajam, berwarna jingga muda sampai merah dengan diameter 4,20-4,26 cm, tinggi dan
panjang rimpang 5,26-10,40 cm dan 12,33-12,60 cm, warna daun hijau muda, batang hijau
kemerahan dengan kadar minyak atsiri 2,58-3,90%.
Menurut analisis Pribadi (2013) dari Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Obat
menyatakan bahwa permintaan dan produksi jahe terus meningkat, jahe gajah merupakan
varietas jahe yang banyak di ekspor sedangkan jahe emprit dan jahe merah menjadi penguasa
di negeri sendiri yang dimanfaatkan oleh berbagai industri. Rimpang jahe dimanfaatkan
sebagai rempah-rempah dan minuman penghangat badan. Rimpang jahe merupakan bagian
yang sering dimanfaatkan karena banyak mengandung minyak atsiri dan oleoresin yang
bermanfaat bagi kesehatan sehingga rimpang memiliki nilai ekonomi yang tinggi. Dari ketiga
jenis varietas jahe, jahe merah adalah jahe yang paling banyak mengandung minyak atsiri dan
oleoresin (Setyawan, 2002).
Sementara itu, daun jahe yang merupakan limbah agroindustri perkebunan jahe yang
pemanfaatannya masih kurang. Biasanya daun jahe hanya dimanfaatkan sebagai campuran
pupuk organik dan pakan ternak. Padahal, daun jahe kaya akan antioksidan dan antibakteri
(Sivasothy et al., 2011). Berdasarkan penelitian sebelumnya daun jahe memiliki antioksidan
yang cukup tinggi yaitu sebesar 291 ± 18 mg GAE/100 g wet base (Chan et al., 2008).
Namun demikian belum ada pemanfaatan lebih jauh pada daun jahe merah padahal jahe
merah memiliki antioksidan yang paling tinggi dan ketersediaan daun jahe cukup melimpah.
Antioksidan merupakan senyawa aktif yang bermanfaat sebagai antibakteri (Darsana et
al., 2012). Fenol merupakan salah satu antioksidan yang terdapat pada daun jahe (Daghigh,
2011). Daun jahe merah kaya akan senyawa monoterpenoid dan sesquisterpenoid (Mei,
2015). Senyawa monoterpenoid dan sesquisterpenoid dapat dikategorikan senyawa
antioksidan sekaligus antibakteri. Antioksidan berfungsi sebagai penghambat reaksi oksidasi
sehingga dapat mencegah kerusakan pangan akibat reaksi oksidasi. Antioksidan dalam
pangan juga berfungsi sebagai antibakteri yaitu bekerja dengan cara menghambat
pertumbuhan bakteri yang terdapat dalam pangan (Prakash et al., 2012), sehingga antioksidan
dapat memperpanjang masa simpan pangan. Salah satu pengaplikasiannya pada produk susu
pasteurisasi komersial. Berdasarkan penelitian dilakukan sebelumnya, antioksidan yang
berasal dari daun aileru dapat menghambat pertumbuhan bakteri pada susu pasteurisasi
(Maitimu et al., 2012). Berdasar fakta tersebut telah dicoba upaya penghambatan
pertumbuhan bakteri dengan menggunakan ekstrak daun lain yaitu daun jahe merah.

B. TEMULAWAK
Temulawak (Curcuma xanthorrhiza Roxb.) merupakan salah satu tanaman obat unggulan
yang memiliki khasiat multifungsi. Rimpang induk temulawak berbentuk bulat seperti telur
dan berwarna kuning tua atau cokelat kemerahan dimana bagian dalamnya berwarna jingga
kecokelatan (AFIFAH dan LENTERA, 2003).
Rimpang tersebut berkhasiat obat yang mampu mengobati berbagai penyakit kelainan
pada hati (lever), kantong empedu dan pankreas. Di samping itu, temulawak juga dapat
menambah nafsu makan, menurunkan kadar kolesterol dalam darah, meningkatkan sistem
imunitas dalam tubuh, berkhasiat antibakteri, anti diabetik, anti hepatotoksik, anti inflamasi,
anti oksidan, anti tumor, diuretika, depresan, dan hipolipidemik (Raharjo dan Rostiana,
2003), dan juga anti mikroba, anti hiperlipidemia dan pencegah kolera (HWANG, 2006).
Khasiat lainnya yang dimiliki oleh komponen kimia adalah anti bakteri (DARUSMAN et al.,
2006, Hwang et al., 2000).
Rimpang temulawak mengandung berbagai komponen kimia temulawak di antaranya
protein, pati, zat warna kuning kurkuminoid, dan minyak atsiri. Sedangkan kandungan kimia
dari minyak atsirinya adalah xanthorhizol (40%), kamfer, turmerol, felandren,
tolilmetilkarbinol, arkurkumen, zingiberen kuzerenon, germakron dan b-tumeron (Raharjo
dan Rostiana, 2003).
Senyawa xanthorhizol dan kurkumin dalam temulawak inilah yang menyebabkan tanaman
ini menjadi sangat berkhasiat sebagai obat, karena kurkuminoid dapat digunakan sebagai
anti-oksidan, antiinflamasi dan anti-hiperkolesterolemia (Peschel et al.,2006).
Benzyl Adenin (BA) merupakan salah satu jenis ZPT dari golongan sitokinin yang
berperan dalam proses pembelahan sel. Peran utamanya adalah dalam pemben-tukan benang
gelondong pada proses metafase (George dan Sherington, 1984). Aplikasi sitokinin dalam
perbanyakan tanaman in vitro dapat berasal dari bahan kimia sintetik maupun bahan alami
seperti air kelapa.
Bagian yang berkhasiat dari temu lawak adalah rimpangnya yang mengandung berbagai
komponen kimia di antaranya zat kuning kurkumin, protein, pati dan minyak atsiri. Pati,
salah satu komponen terbesar temu lawak sering disebut sebagai pati yang mudah dicerna
sehingga disarankan digunakan sebagai makanan bayi. Minyak atsirinya mengandung
senyawa phelandren,kamfer, borneol, sineal, xanthorhizol. Kandungan xanthorizol dan
kurkumin ini yang menyebabkan temulawak sangat berkhasiat (Taryono et al., 1987).
Kurkumin merupakan salah satu produk senyawa metabolit sekunder dari tanaman
Zingiberaceae, khususnya kunyit dan temulawak. Yang telah di-manfaatkan dalam industri
farmasi, makanan, parfum, dan lain-lain. Ada banyak data dan literatur yang menun-jukkan
bahwa kunyit dan temulawak berpotensi besar dalam aktifitas farma-kologi yaitu anti
imflamatori, anti imunodefisiensi, anti virus (virus flu burung), anti bakteri, anti jamur, anti
oksidan, anti karsinogenik dan anti infeksi (Joe et al., 2004; Chattopadhyay et al., 2004;
Araujo dan Leon, 2001). Senyawa kurkumin ini, seperti juga senyawa kimia lain seperti anti-
biotik, alkaloid, steroid, minyak atsiri, resin, fenol dan lain-lain merupakan hasil metabolit
sekunder suatu tanaman (Indrayanto, 1987). Tanaman obat dan aromatik dapat menghasilkan
senyawa metabolit sekunder bernilai ekonomi tinggi, seperti vinblastina/vinkristina pada
tanaman tapak dara (Vinca rosea), ajmalisina, digitalis (Dioscorea sp), kinina pada tanaman
kina (Cinchoa sp.), kodeina, yasmin pada tanaman melati (Jasminum sambac), piretrin pada
tanaman Piretrum (Pyrethrum pe-largonium) dan spearmint pada tanam-an mentha (Mentha
sp.) (Harris, 1989).
Dalam kenyataannya, produksi kurkumin untuk pabrik-pabrik industri sangat dipengaruhi
oleh keberadaan dan pertumbuhan tanaman di lapang yang ditentukan oleh berbagai faktor
lingkungan seperti tanah, nutrisi, iklim serta hama dan penyakit. Salah satu upaya untuk
menghasilkan kurkumin dengan jumlah yang banyak adalah dengan teknologi kultur jaringan
seperti kultur kalus. Ada peluang untuk meningkatkan kadar kurkumin dalam kultur kalus
tanaman kunyit dan temu-lawak dengan in duksi elisitor. Dilain pihak, masyarakat dunia
membutuhkan kurkumin untuk obat flu burung sebagai pengganti Tamiflu. Tetapi Tamiflu
terbukti tidak efektif pada suatu kasus di Vietnam dan men-jadi tidak berguna selain karena
mahal juga terjadi resistensi akibat sebuah mutasi yang sederhana.
Tamiflu adalah salah satu jenis antibiotik yang digunakan untuk meng-atasi penyakit flu
burung merupakan neuraminidase inhibitor sebuah enzim pada membran virus yang
memotong partikel virus yang menyebabkan sel membran terinfeksi, sehingga virus tidak
dapat berkembang biak di dalam sel atau tubuh manusia yang sudah terinfeksi virus tersebut.

C. KUNYIT
Kunyit (Curcuma domestica Val.) merupakan salah satu tanaman yang banyak di
budidayakan di Indonesia. Tanaman kunyit merupakan tanaman yang banyak manfaatnya
dalam kehidupan sehari-hari, selain sebagai bumbu, obat-obatan dan kosmetik juga sebagai
bahan industri. Kunyit telah digunakan selama lebih dari 2500 tahun di India, kemungkinan
pertama kali digunakan sebagai pewarna dan obat. Kunyit banyak digunakan dalam
pengobatan Ayurveda, karena memiliki kualitas antiseptik dan antibakteri, memiliki efek
yang sama dengan fluoride untuk gigi, menyembuhkan peradangan sendi, serta membantu
masalah pencernaan dan depresi.
Senyawa kimia utama yang terkandung di dalam rimpang kunyit adalah minyak atsiri dan
kurkumi-noid. Minyak atsiri mengandung senyawa seskuiterpen alkohol, tur-meron dan
zingiberen, sedangkan kurkuminoid mengandung senyawa kurkumin dan turunannya
(berwarna kuning) yang meliputi desmetoksi-kurkumin dan bidesmetoksikurku-min. Selain
itu rimpang juga mengandung senyawa gom, lemak, protein, kalsium, fosfor dan besi.
Zat warna curcuminoid suatu senyawa Diarylheptanoide 3- 4% terdiri dari Curcumin,
Dihydrocurcumin, Desmethoxy curcumin dan Bisdesmethoxy-curcumin. Minyak atsiri 2-5%
terdiri dari seskuiterpen dan turunan Phenylpropane (I) yang meliputi Turmeron, ar-
Turmeron, a- dan b-Turmeron, Curlon, Curcumol, Atlanton, Turmerol, b-Bis-abolen, b-
Sesquiphellandren, Zingiberen, ar-Curcumene, Humulen, A-rabinosa, Fruktosa, Glukosa,
Pati, Tanin dan Damar.4, 7 serta mineral yaitu Mg, Mn, Fe, Cu, Ca, Na, K, Pb, Zn, Co, Al
dan Bi.
Rimpang muda kulitnya kuning muda dan dan berdaging kuning, setelah tua kulit rimpang
menjadi jingga kecoklatan dan dagingnya jingga terang agak kuning. Rimpang kunyit
mengandung bahan-bahan seperti minyak atsiri, phelkandere, sabinene, cineol, zingeberence,
turmeron, champene, camphor, sesquiterpene, caprilic acid, methoxinnamic acid, thelomethy
carbinol, curcumene, dan zat pewarna yang mengandung alkaloid curcumin. Curcumin
adalah zat warna kuning yang dikandung oleh kunyit, rata-rata 10,29%, memiliki aktifitas
biologis berspektrum luas antara lain antihepototoksik, antibakteri, dan antioksidan. Rimpang
kunyit terutama digunakan untuk keperluan dapur (bumbu, zat warna makanan), kosmetika
maupun dalam pengobatan tradisional.
Kurkumin tidak beracun dan memiliki berbagai sifat farmakologis positif. Beberapa
peneliti telah melaporkan efek anti-oksidatif, anti-inflamasi dan antiseptik dari kurkumin
(Nishino et al., 2004; Bengmark, 2006 dan Maheshwari et al., 2006 ). Kurkumin juga
memiliki beberapa aktivitas biologis yang akhirnya membuat molekul ini memungkinkan
sebagai obat anti-kanker, baik sebagai kemopreventif dan kemoterapi. Banyak bukti
menunjukkan bahwa kurkumin memberikan kontribusi untuk penghambatan pembentukan
tumor, promosi, kemajuan dan penyebaran dalam banyak model hewan (Duvoix et al., 2005).
Kurkumin memiliki tiga bagian fungsional reaktif: satu bagian diketon, dan dua bagian
fenolik (Priyadarsini, 2014). Reaksi kimia penting yang terkait dengan aktivitas biologis
kurkumin adalah sebagai donor hidrogen mengarah ke oksidasi kurkumin baik secara
reversibel dan ireversibel. Reaktifitas kurkumin yang lain adalah pada reaksi nukleofilik,
hidrolisis, degradasi dan reaksi enzimatik (Priyadarsini, 2014). Kurkumin sebagai senyawa
penangkal radikal (radical scavenger) dan antioksidan telah dikenal memiliki aktivitas
antioksidan dan sebagai penangkal radikal (Sharma, 1976). Disamping manfaat tersebut itu
kurkumin juga bertindak sebagai katalisator pembentukan radikal hidroksil.
Kurkumin diperoleh dari ekstraksi rimpang kunyit dengan pelarut organik seperti etanol
atau aseton. Untuk mendapatkan senyawa kurkumin murni, kurkumin harus dipisahkan dari
kandungan ekstrak kunyit lain dengan cara kromatografi. Kurkumin murni juga dapat
diperoleh dari pabrik serta sering digunakan dalam penelitian merupakan senyawa kurkumin
I (Liu et al., 2008).
Ekstrak etanol kunyit mengandung kurkuminoid yang terdiri dari kurkumin I, kurkumin II,
dan kurkumin III serta minyak atsiri yang juga berperan penting dalam reaksi selanjutnya.
Kurang lebih 25 senyawa minyak atsiri yang telah ditemukan dalam ekstrak kunyit. Terdapat
variasi kuantitatif dari masingmasing komponen kimiawi minyak atsiri tergantung dari
tempat ditumbuhkannya tanaman kunyit (Jayaprakasha et al., 2005).
Kurkumin memiliki daya larut air yang sangat rendah, sehingga membatasi kegunaannya
sebagai obat oral. Kurkumin dalam bentuk ekstrak kunyit memiliki efek antiangiogenik lima
kali lebih tinggi daripada kurkumin murni. Hal ini dikarenakan adanya komponen derivatif
kurkumin lainnya serta komponen-komponen lain yang terkadung dalam ekstrak kunyit.
Sehingga ekstrak kunyit dinyatakan lebih potensial secara farmakologis daripada kurkumin
murni (Liu et al., 2008).
D. SEREH
Sereh (Cymbopogon citratus), disebut juga lemon grass, citronella grass atau fever grass
merupakan salah satu tanaman obat. Sebagai tanaman obat, khasiat sereh sudah banyak
diketahui oleh masyarakat. Sereh dimanfaatkan sebagai penghangat badan, peluruh keringat,
obat kumur, anti demam, pencegah muntah, mengobati sakit gigi, gangguan berkemih, radang
lambung, radang usus (Arief, 2006)
Mengandung minyak atsiri yang terdiri dari citronellal, citral, geraniol, methylheptenone,
eugenol-methyleter, dipenten, eugenol, kadinen, kadinol, limonen dan juga mengandung
saponin, flavonoid, polifenol, alkaloid.
Serai mengandung minyak esensial yang dapat bermanfaat untuk memperkuat dan
meningkatkan fungsi sistem saraf. Minyak tersebut akan memberikan efek yang
menghangatkan, melemaskan otot, dan meredakan kejangkejang. Serai juga berfungsi sebagai
analgesik yang dapat meringankan semua jenis peradangan dan iribilitas yang berhubungan
dengan rasa sakit dan nyeri, seperti nyeri sendi, nyeri otot, dan sakit gigi.
BAB III
HASIL DAN PEMBAHASAN
Coronaviruses (CoVs) adalah agen etiologic dari infeksi parah pada kedua manusia dan
hewan, yang dapat menyebabkan gangguan tidak hanya dalam saluran pernapasan tapi juga
dalam saluran pencernaan dan sistemik. Faktor lingkungan dapat sangat mempengaruhi
sekresi dari metabolisme sekunder dari tropis tanaman. Oleh karena itu, perhatian yang besar
telah dibayar untuk metabolisme sekunder yang disembunyikan oleh tanaman di daerah tropis
yang dapat dikembangkan sebagai obat-obatan. Banyak senyawa, seperti flavonoid, dari
tanaman obat-obatan, telah dilaporkan memiliki sebuah bio organik.
Ada beberapa tanaman yang berpengaruh untuk coronavirus memiliki senyawa- senyawa dan
khasit masing-masing :

1) JAHE
Jahe merah mengandung antioksidan yang tinggi karena terdapat senyawa aktif fenolik
seperti, gingerol, shagaol, zingeron, ginggerdiol, dan zingibren yang terbukti mampu
melindungi sel tubuh dari kerusakan akibat serangan ROS ( reactive oxygen species). Eksrak
jahe merah memiliki kandungan aktivitas antioksidan dan androgenik, serta mampu
meningkatkan daya tahan tubuh yang direfleksikan dalam sistem kekebalan inang terhadap
mikroba yang masuk ke dalam tubuh, hal ini diakibatkan karena ekstrak jahe dapat memacu
proliferasi limfosit dan menekan limfosit yang mati serta meningkatkan aktivitas makrofag,
selain itu jahe mampu menaikkan salah satu aktifitas sel darah putih dalam melisiskan sel
targetnya yang berupa sel tumor dan sel yang terinfeksi virus.

2) KUNYIT DAN TEMULAWAK


Curcumin adalah senyawa tunggal termasuk golongan polifenol yang merupakan hasil
isolasi dari rimpang empon-empon. Sebagai senyawa tunggal tentu tidak bisa disetarakan
dengan minum rebusan kunyit dan temulawak. Pada rebusan kunyit dan temulawak masih
mengandung puluhan bahkan ratusan senyawa kimia dengan efek yang sangat beragam, tak
hanya polifenol dan polisakarida, ada juga flavonoida dan alkaloida. Sejak ditemukan lebih
dari 200 tahun yang lalu, curcumin juga telah diteliti di seluruh dunia. Berbagai penelitian
menunjukkan curcumin memiliki bermacam khasiat mulai dari antibakteri, antioksidan,
antiinflamasi, antikanker, penurun gula darah dan juga sebagai immunomodulator.
Curcumin mampu berikatan dengan reseptor protein SARS-CoV 2 yaitu melalui ikatan
dengan domain protease dan spike glikoprotein. Ikatan ini berpotensi untuk menghambat
aktivitas Covid-19. Selain itu curcumin diketahui menghambat pelepasan senyawa tubuh
penyebab peradangan atau sitokin proinflamasi seperti interleukin-1, interleukin-6 dan tumor
necrosis factor-α. Pelepasan sitokin dalam jumlah banyak, disebut badai sitokin yang dapat
menumpuk pada organ paru-paru kemudian menimbulkan sesak. Dengan terhambatnya
pengeluaran sitokin, maka tidak akan terjadi badai sitokin yang berdampak pada gangguan
pernafasan. Mekanisme ini menjelaskan peran curcumin dalam mencegah terjadinya badai
sitokin pada infeksi virus (Sordillo and Helson, 2015).
Curcumin juga memiliki efek menghambat proses pertumbuhan virus, baik secara
langsung dengan cara merusak fisik virus maupun melalui penekanan jalur pensinyalan
seluler yang penting dalam proses replikasi virus. (Mathieu and Hsu, 2018).

3) SEREH
Anti Peradangan manfaat sereh bagi kesehatan yang selanjutnya adalah dapat mengatasi
peradangan. Dua senyawa yang ada di dalam serai yaitu citral dan geranial merupakan
senyawa yang dianggap bertanggung jawab atas manfaat anti-peradangan.
Senyawa-senyawa tersebut dikatakan dapat membantu menghentikan pelepasan penyebab
peradangan tertentu yang ada di dalam tubuh. Dengan sifat anti peradangan tersebut, serai
dapat mencegah berbagai peradangan seperti flu, sakit tenggorokan, hingga masalah
pencernaan akibat peradangan.
BAB IV
KESIMPULAN

Salah satu cara untuk mencegah terinfeksi virus corona adalah dengan meningkatkan daya
tahan tubuh atau sistem imun tubuh. Pada dasarnya, tubuh manusia memiliki sistem imun
untuk melawan virus dan bakteri penyebab penyakit. Namun, ada hal-hal yang dapat
melemahkan sistem imun atau daya tahan tubuh seseorang seperti penuaan, kurang gizi,
penyakit, bahkan obat-obatan tertentu. Oleh karena itu, fungsi sistem imun perlu senantiasa
dijaga agar daya tahan tubuh kuat. Beberapa cara yang dapat dilakukan untuk meningkatkan
imun tubuh adalah mengonsumsi makanan bergizi, berolahraga dengan rutin, mengelola stres
dengan baik, beristirahat yang cukup, meongonsumsi suplemen penunjang daya tahan tubuh.
BAB V
DAFTAR PUSTAKA

Chen, Z. (n.d.). Metabolomic analysis of bioactive compounds in mature rhizomes and


daughter rhizomes in ginger ( Zingiber officinale ).
https://doi.org/10.21203/rs.2.17463/v1

Khaerunnisa, S., Kurniawan, H., Awaluddin, R., & Suhartati, S. (2020). Potential Inhibitor of
COVID-19 Main Protease ( M pro ) from Several Medicinal Plant Compounds by
Molecular Docking Study. Preprints, (March), 1–14.
https://doi.org/10.20944/preprints202003.0226.v1

Education, J. (2020). GERAKAN MENCEGAH DARIPADA MENGOBATI TERHADAP


PANDEMI COVID-19, 8(2), 242–248.

Susilo, A., Rumende, C. M., Pitoyo, C. W., Santoso, W. D., Yulianti, M., Sinto, R., … Cipto,
R. (2020). Coronavirus Disease 2019 : Tinjauan Literatur Terkini Coronavirus Disease
2019 : Review of Current Literatures. Jurnal Penyakit Dalam Indonesia, 7(1), 45–67.

Setiawan Rifqi, A. (2020). Lembar Kegiatan Literasi Saintik untuk Pembelajaran Jarak Jauh
Topik Penyakit Coronavirus 2019 (COVID-19). Jurnal Ilmu Pendidikan, 2(1), 28–37.
Retrieved from https://edukatif.org/index.php/edukatif/index

Moghbelli, H., Ellithy, K., Eslami, Z., Vartanian, R., Wannous, D., El Ghamrawy, A., …
Nathan, G. J. (2020). No 主観的健康感を中心とした在宅高齢者における 健康関連
指標に関する共分散構造分析Title. Block Caving – A Viable Alternative?, 21(1), 1–9.
https://doi.org/10.1016/j.solener.2019.02.027

DHARMENDRA, M., & Deepak, S. (2020). Evaluation of Traditional Ayurvedic Preparation


for Prevention and Management of the Novel Coronavirus (SARS-CoV-2) Using
Molecular Docking Approach. ChemRxiv.
https://doi.org/10.26434/chemrxiv.12110214.v1

Ibnu, Y., & Setiawan, S. (2018). Penetapan Karantina Wilayah Menurut Pandangan Legal
Positivisme Dalam Rangka Pencegahan dan Pemberantasan Pandemi Coronavirus
Disease ( Covid ) -19, 1–16.

Amorim, G., Ramos, A. S. L., de Castro Junior, G., Afonso, L. de S., & Castro, H. C. (2020).
Coronavirus, Deafness and the Use of Different Signs of the Area in Health during a
Period of Pandemic Time: Is That the Best Option to Do? Creative Education, 11(04),
573–580. https://doi.org/10.4236/ce.2020.114042

Mona, N. (2020). Konsep Isolasi Dalam Jaringan Sosial Untuk Meminimalisasi Efek
Contagious ( Kasus Penyebaran Virus Corona Di Indonesia). Jurnal Sosial Humaniora
Terapan, 2(2), 117–125.

Beras, D. C., Untuk, J., & Bakar, L. (n.d.). Pembuatan sediaan parem dari daun mengkudu
(morinda citrifolia) dengan campuran beras, kencur, jahe untuk luka bakar 1,2,3, 145–
149.
Oleoresin, M., Jahe, A., Pulp, M., Zingiber, G., Oleoresin, R., Nurlaili, F. A., … Pranoto, Y.
(2014). Mikroenkapsulasi Oleoresin Ampas Jahe (Zingiber officinale var.Rubrum)
dengan Penyalut Maltodekstrin, 34(1), 22–28. https://doi.org/10.22146/agritech.9518

Anggraini, M. D., & Anas, Y. (n.d.). Daun Alpukat Dan Rimpang Temulawak Pada Tikus
Dm Tipe-2 Yang Mengalami Resistensi Insulin, 1–9.

Fahma, F., Damayanti, R., & Fulani, D. (2014). Pengembangan Alat Pemotong Kunyit untuk
Simplisia di Klaster Biofarmaka Karanaganyar. Seminar Nasional IENACO, 55–63.
Retrieved from https://publikasiilmiah.ums.ac.id/handle/11617/4698

Dasa, P., & Unpad, L. (2007). Zea mays saccharata ), 2(NOVEMBER), 1058–1064.

Dewi, Z. Y., Nur, A., & Hertriani, T. (2015). Efek antibakteri dan penghambatan biofilm
ekstrak sereh (Cymbopogon nardus L.) terhadap bakteri Streptococcus mutans. Majalah
Kedokteran Gigi Indonesia, 20(2), 136. https://doi.org/10.22146/majkedgiind.9120

Rahayu, S. P., & Naimah, S. (2010). Pembuatan Formulasi Krim Anti Nyamuk dari Fraksi
Minyak Sereh. Jurnal Kimia Dan Kemasan, 32(2), 53.
https://doi.org/10.24817/jkk.v32i2.2730

Kiky, A. (2020). Manajemen Resiko Terhadap Black Swan Event Maret 2020 di Indonesia.
Studi Kasus Efek Covid-19 Terhadap Pasar Modal Indonesia. Jurnal Bina Manajemen,
8(2), 90–105.

Nurfauzi, I., & Astri, N. (n.d.). Peran Pustakawan Perguruan Tinggi Dalam Masa Work From
Home Pandemi Covid 19.

Abdillah, L. A. (2020). Stigma Terhadap Orang Positif COVID-19. Pandemik COVID-19:


Antara Persoalan Dan Refleksi Di Indonesia, 2.