Anda di halaman 1dari 13

MAKALAH IBADAH -AKHLAK

“ TAJHIZ JENAZAH’’

MAKALAH INI MERUPAKAN TUGAS MATAKULIAH


IBADAH- AKHLAK

DOSEN PENGAMPU : ANANG ROHWIYONO

DISUSUN OLEH :
DIYAN SEFTI G. NIM 1804015
EUIS RATNASARI NIM 1804015226
FADHIL NIM 1804015
WAHYU NIM 1804015
WULAN NIM 1804015

PROGRAM STUDI FARMASI


FAKULTAS FARMASI DAN SAINS
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH PROF.DR. HAMKA
JAKARTA
2019
KATA PENGANTAR

Dengan memanjatkan puji syukur kehadirat Allah SWT dan dengan rahmat dan karunia-
Nya, Makalah Ibadah- Akhlak ini dapat kami buat sebagai tugas kami. Sebagai bahan
pembelajaran kami dengan harapan dapat diterima dan dipahami secara bersama.

Dalam batas- batas tertentu Makalah ini memuat tentang Tajhiz Jenazah. Makalah ini di
ajukan guna memenuhi tugas matakuliah Ibadah-Akhlak. Kami mengucapkan terima kasih
kepada semua pihak yang telah membantu sehingga makalah ini dapat di selesaikan tepat pada
waktunya. Makalah ini masih jauh dari sempurna, oleh karena itu kami mengharapkan kritik dan
saran yang bersifat membangun demi kesempurnaan makalah ini.

Akhirnya kami dengan kerendahan hati meminta maaf jika terdapat kesalahan dalam
penulisan ataun penguraian Makalah kami dengan harapan dapat diterima oleh ibu dan dapat
dijadikan sebagai acuan dalam proses pembelajaran kami.

Jakarta, Oktober 2019

Penulis
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Syariat Islam mengajarkan bahwa manusia pasti akan mati, namun tidak akan
pernah diketahui kapan kematian itu tiba. Karena manusia adalah makhluk sebaik-baik
ciptaan Allah swt dan ditempatkan pada derajat yang tinggi, Islam sangat memperhatikan
dan menghormati orang-orang yang meninggal dunia.Orang yang meninggal dunia perlu
dihormati karena orang yang meninggal adalah makhluk Allah swt yang sangat mulia.
Oleh sebab itu, menjelang menghadap ke haribaan Allah swt, orang meninggal perlu
mendapat perhatian khusus dari yang masih hidup.
Pengurus jenazah termasuk syariat Islam yang perlu diketahui oleh seluruh umat
Islam. Hal itu dimaksudkan agar dalam penyelenggaraan atau pengurusan jenazah sesuai
dengan tuntunan syariat Islam. Akan tetapi masih banyak masyarakat islam yang masih
belum mengerti tentang apa-apa yang harus dilakukan ketika ada ada saudara kita yang
muslim meninggal dunia. Oleh karena itu penting sekali mengetahui tentang
penyelenggaraan jenazah.

B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, penulis mengajukan rumusan masalah sebagai
berikut :
1. Apa definisi dan hukum merawat jenazah?
2. Bagaimana problematika kematian?
3. Bagaimana bimbingan kematian?
4. Bagaimana peringatan setelah kematian?
5. Bagaimana proses perawatan jenazah?
6. Bagaimana ziarah kubur?

C. Tujuan Penulisan
Berdasarkan rumusan masalah di atas, penulis mengajukan tujuan penulisan sebagai
berikut :
1. Untuk mengetahui definisi dan hukum merawat jenazah
2. Untuk mengetahui problematika kematian
3. Untuk mengetahui bimbingan kematian
4. Untuk mengetahui peringatan setelah kematian
5. Untuk mengetahui proses perawatan jenazah
6. Untuk mengetahui ziarah kubur
BAB II
PEMBAHASAN

A. Definisi dan Hukum Merawat Jenazah


Tahjiz secara etimologis berarti persiapan atau perlengkapan. Dalam
penggunaannya, Tajhiz jenazah didefinisikan sebagai pelaksanaan pengurusan jenazah
seorang muslim, mulai memandikan, ,mengkafankan, menshalatkan, sampai
menguburkannya dengan tata cara tertentu yang diatur syariat islam.
Adapun hukum pelaksanaanya bagi yang ditinggalkan atau yang masih hidup
adalah fardhu kifayah cukup dikerjakan oleh sebagian masyarakat, bila seluruh
masyarakat tidak ada yang merawat maka seluruh masyarakat akan dituntut dihadapan
Allah Swt, sedang bagi orang yang mengerjakannya, mendapat pahala banyak di sisi
Allah Swt.

B. Problematika Kematian
Allah Swt berfirman : QS. (3) Ali Imran 185 yang artinya : “ Tiap- tiap yang
bernyawa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah
disempurnakan pahalamu. Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan kedalam
surga, maka sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia tidak lain hanyalah
kesenangan yang memperdayakan.”
Demikian pula Nabi bersabda yang artinya :” Dari Abu Hurairah, berkata Nabi
Saw : Hendaklah kamu memperbanyak mengingat mati.”(HR. Tarmidzi). Juga sabdanya
yang artinya : Nabi Muhammad saw bersabda : “ Sepandai-pandainya manusia ialah
yang lebih banyak mengingat kematian dan sangat cukup persiapannya untuk menemui
kematian itu, itulah yang sebenar-benarnya disebut orang pandai, mereka pergi kealam
Baqa dengan membawa kemuliaan dunia dan akhirat”. (HR.Ibnu Majah).
Nabi Muhammad memberikan ilustrasi kepada setiap muslim, agar melaksanakan
hak muslim terhadap muslim lainnya, sebagaimana sabda-Nya : “ Dari Abu Hurairah ia
berkata : telah bersabda Rasullulah Saw : Hak muslim terhadap muslim itu ada lima :
menjawab salam, mengunjungi orang sakit, mengiring jenazah, mendatangi undangan,
dan mendoakan orang bersin”. (HR. Mutafaq ‘ Alaih).

C. Proses Merawat Jenazah


1. Memandikan Jenazah

Dalam memandikan perlu dilakukan beberapa hal berikut :


a. Mempersiapkan lokasi pemandian
b. Tempat memandikan
c. Siapkan ember , diisi air bersih secukupnya sekaligus gayung
d. Air dicampur kamper dan air dan air mawar serta air sabun
e. Tutup lokasi pemandian dengan hordeng
f. Dalam mengkafankan dilakukan hal-hal berikut :
g. Siapkan kain kafan, kapas, kamper tumbuk, cendana dan tikar
h. Potong kain kafan sebanyak 3 lembar sepanjang jenazah ditambah secukupnya untuk
ikatan di atas kepala dan di bawah kaki
i. Buatlah basahan, baju jenazah, cancut, kerudung dan tali 5 sampai 7 ikatan
j. Tiriskan kapas di atas Koran dan ditaburi cendana serta kamper tumbuk
k. Gelar Kapas di atas kain kafan sebagian, serta lipatlah kain kafan.

Adapun proses memandikannya adalah :

a. Diawali dari istinja’, yaitu : Angkat Punggung dan kepala, tekan perut dari rongga
dada sampai kebawah sambil disiram air yang telah dicampur dengan air mawar, baru
disucikan (diceboki)

b. Mendahulukan anggota wudhu

Sebagaimana sabda Nabi Saw yang artinya : “ Sesungguhnya segala amal itu
hendaklah dengan niat “. (HR. Bukhari dan Muslim). Juga Sabda Nabi : “
Memandikan Jenazah diawali dari anggota wudhu serta anggota badan sebelah
kanan, dan madikanlah dalam jumlah gasal. Basuhan penghabisan hendaklah
dicampur kapur barus. Bagi Wanita Pintal-lah rambutnya, tiga pintalan.”

c. Menyiram tiga kali dari kepala sampai ke kaki


d. Sabunilah seluruh tubuh, sambil disiram dan perlakukanlah mayat ini sebagaimana
layaknya orang hidup
e. Wudhukanlah kemudian disiram tiga kali seperti No. 3
f. Siramlah dengan air kamper atau air bidara
g. Tutup dubur dengan kapas yang rapat
h. Kemudian dihanduki tutup dengan kain yang rapat serta diangkat untuk dikafani
i. Khusus bagi perempuan, pintal rambutnya tiga pintalan, bagi yang memiliki rambut
panjang
j. Sebelum jenazah diangkat untuk dikafani dari pemandian, siapkanlah serta gelar kain

2. Mengkafankan Jenazah
Adapun proses mengkafankan adalah sebagaimana riwayat dari Aisyah yang
Artinya : “ Rasulullah Saw dikafani dengan tiga lapis kain putih bersih yang terbuat
dari kapas (katun) , tanpa memakai gamis dan sorban. (HR.Bukhari dab Muslim).
Adapun untuk jenazah perempuan sebagaimana riwayat dari Laila Binti Qanif ia
berkata : “ Saya salah seorang yang turut memandikan mayat Ummi Kulsum, anak
Rasulullah saw yang mula-mula Rasulullah saw berikan kepada kami kain basahan,
kemudian baju, tutup kepala, lalu kerudung, sesudah itu dimasukkan dia di satu kain
lain ( Yang menutupi seluruh badannya)” (HR. Ahmad dan Abu Dawud).
Mengenai kain kafan, Rasulullah bersabda : “Pakailah olehmu kain kamu yang
putih, karena sesungguhnya kain putih itu sebaik-baik kainmu, dan kafanlah mayat
kamu dengan kain – kain putih itu.” ( HR. Tirmidzi).
Secara lebih lengkap mengkafankan jenazah adalah sebagai berikut :
a. Hamparkan tikar sebagai alas serta kain kafan yang telah dilipat
b. Letakan mayat diatas kain kafan yang telah digelar paskan kepala ke lubang
baju
c. Pasang pembalut dan cancut kemudian ikat tali cancut-nya
d. Tutup dengan kapas yang telah ditiriskan dari bawah tangan sampai ke lutut,
kemudian balurkan basahan, baru kain penutup dilepas
e. Tutuplah lubang hidung dan telinga dengan kapas
f. Masukan lubang baju ke kepala serta luruskan sisa kain ke bawah dan rapikan
g. Pasang tutup kepala dan ikatan ke bawah dagu
h. Kemudian balurkan kain kafan yang tiga lembar satu persatu dari arah kanan
sambil dilipat dan ditarik dari arah kiri sambil diputar baru diikat
i. Ikatan pertama kaki dan kepala kemudian berurutan leher, bawah tangan, paha
kalau tali lima, kalau tali tujuh ditambahkan ke perut dibawah lutut
j. Terakhir, buka ikatan kepala rapikan tutup kepala dan sisipkan kapas
disampingnya, hamparkan kapas di mukanya, baru ditutup dan diikat kembali

3. Menshalatkan jenazah
Dalam mensalatkan jenazah, terdapat beberapa perbedaan dengan salat- salat pada
umumnya karena ada rukun yang sama dan adapula yang berbeda dengan rukun salat pada
umumnya.
Ada beberapa hal yang harus diperhatikan dalam melaksanakan salat jenazah, yaitu:
a. Jenazah diletakkan di arah kiblat (di depan imam apabila berjama’ah atau di depan
orang yang mensalatkannya apabila sendiri). Posisi jenazah, kepalanya sebelah
kanan dan kaki sebelah kiri imam.
b. Pada jenazah laki- laki imamnya berdiri sejajar dengan dada jenazah, sedangkan
apabila jenazahnya perempuan, maka imam berdiri sejajar dengan pinggang
jenazah.
c. Setelah jama’ah salat jenazah siap untuk melaksanakan salat jenazah tersebut,
kemudian berniatlah di dalam hati untuk melaksanakan salat jenazah.

Adapun rukun salat jenazah adalah sebagai berikut :

1) Niat dengan lafaz


‫ هذا\ هذه الميت \ميتة اربع تكبيرات فرض كفا ية‬ ‫ا صلى على‬
‫اما ما\ ما موما هلل تعلى‬
2) Berdiri bagi yang kuasa tanpa rukuk dan sujud.
3) Takbir empat kali dengan urutan sebagai berikut :
Setelah berniat sebagaimana tersebut di atas, lalu bertakbir dengan mengangkat kedua
tangan sejajar dengan kedua telinga atau sejajar kedua bahu dan diletakkan di dada.
 Sesudah takbir pertama, dibaca surat Al- Fatihah.
 Sesudah takbir kedua, dibaca salawat atas nabi.
 Sesudah takbir ketiga, dibaca do’a. Antara lain do’a yang dibaca Rasulullah Saw
sebagaimana hadis riwayat Muslim dan Nasa’i dari Auf bin Malik, Rasulullah
membaca :

‫ف َع ْنهُ َو اَ ْك ِر ْم نُ ُز لَهُ َو َو س ْع‬ ُ ‫اَللهُم ا ْغفِرْ لَهُ ورْ َح ْمهُ َو َعا فِ ِه َوا ْع‬
‫الثلج َو ْالبَ َر ِد َونَق ِه ِم َن ْال َخطَا يَا َك َما يُنَقى‬
ِ ‫ب ْال َما ِء َو‬ ِ ُ‫َم ْد َخلَهُ َو ا ْغ ِس ْله‬
ِ ‫س َواَ ْب ِد ْلهُ َدا َرا َخ ْيرًا ِم ْن َد‬
‫ار ِه َواَ ْهالً َخ ْيرًا‬ ِ َ‫الثو بُ االَ بْييَضُ ِم َن الدن‬ ْ
ِ ‫بر َو َع َذا‬
‫ب‬ ِ َ‫ب ْالق‬ ِ ‫ِم ْن اَ ْهلِ ِه َو َز ْوجا ً َخيْراً ِمن َز ْو ِج ِه َو قِ ِه ِم ْن فِ ْتنَ ِة َع َذا‬
)‫النار (متفقعليه‬                                                                            
 Sesudah takbir ke empat sesuai hadis riwayat Al- Hakim dibaca:

‫ ( َر َواه ُال َحا ِكم‬ ‫اَللهُم الَ تَحْ ِر ْمنا َ أَجْ َره ُ َوالَ تَ ْفتِنا َ َوا ْغفِرْ لنَا َو لَه‬
Apabila jenazahnya anak- anak, maka do’anya sesudah takbir ketiga diganti dengan do’a
berikut sebagaimana hadis riwayat Al-Bukhori dan Al- Baihaqy :

) ‫ (رواه البخارى و البيه‬ ‫اَللهُم اج َعله لَنا َسلَفًا َو ُزخْرًا َوفَ َرطًا‬


Kemudian  yang terakhir adalah mengucap salam ke kanan dan kiri :
‫السال م عليكم ورحمة هللا وبركا ته‬
4. Menguburkan jenazah
Kewajiban yang ke empat terhadap jenazah ialah menguburkannya. hukum menguburkan
jenazah adalah fardu kipayah atas orang  yang masih hidup. Dalamnya kuburan sekurang
kurangnya kira-kira tidak tercium  bau busuk mayat  itu dari  atas kubur dan tidak dapat
dibongkar oleh  binatang  buas,sebab maksud menguburkan mayat ialah untuk menjaga
kehormatan mayat itu dan menjaga  kesehatan orang-orang yang ada di sekitar tempat itu.
Sedangkan waktu penguburan secara normal dapat dilakukan pada siang
hari.Namun,penguburan dapat dilakukan juga pada malam hari sebab rasulullah saw pernah
menguburkan seseorang pada malam hari ,Ali r.a. menguburkan Fatimah binti Muhammad, Abu
bakar, Usman, Aisyah, dan Ibnu Mas’ud juga dikuburkan pada malam hari sebagaimana sabda
rasulullah SAW.dari jabir r.a yang diriwayatkan ibnu m

‫ حد ثنا وكيع عن ابرهيم بن يذيد‬ ‫حد ثنا عمرو بن عبدهللا الءودي‬


‫ قا ل رسوهللا صلى‬ ‫ قال‬ ‫المكي عن ابي الز بير عن جا بر بن عبدهللا‬
‫هللا عليه و سلم الل تد فنوا مو تا كم با ليل اال ان‬
                                                            ‫تضطروا‬
Artinya’’:janganlah kamu menguburkan jenazah pada malam hari kecuali dalam keadaan
terpaksa’’(H.R.Sunan Ibnu Majah no.1510 kitab ja’a fi al-janaiz)
Hal – hal yang perlu diperhatikan dalam penguburan jenazah ini antara lain adalah:
1) Ketika memasukkan mayat ke liang kubur hendaknya pekerja jenazah untuk
membaca’’

ِ ‫اهلل وعلَى سن َِّة رسو ِل‬


ِ ِ
2) ‫اهلل‬ ْ ُ َ ُ َ َ ‫ب ْس ِم‬
Khusus ketika memasukkan jenazah perempuan hendaklah di bentangkan kain di
atas liang kuburnya.
3) Dua  atau tiga  orang dari keluarga terdekat jenazah  dan di utamakan yang tidak
junub pada malam hari sebelumnya, masuk kedalam liang kubur dengan berdiri
untuk menerima jenazah.
4) Adapun melepas tali-talinya dan membuka kain yang menutupi dan jari-jari
kakinya sehingga menempel ke tanah serta memasang bantalan tidak ada tuntunan
dari rasulullah SAW.
5) Bagi pengiring jenazah yang tiba di kuburan ketika kubur bekum selesai  digali
hendaklah duduk menghadap kiblat dan jangan duduk di atas kuburan.
6) Memintakan ampunan  dan keteguhan dalam jawaban bagi jenazah dan
mendo’akannya sambil berdiri
7) Jenazah diperbolehkan untuk di masukkan ke dalam peti  jika tanahnya berair atau
jenazah dalam keadaan mudorat.
8) Dalam kondisi darurat boleh menguburkan dalam satu lubang dua mayat atau lebih,
dan yang lebih didahulukan adalah yang lebih afdhal di antara mereka.
9) Yang menurunkan mayat adalah kaum laki-laki meskipun mayatnya perempuan.
10) Menurut sunnah: memasukkan mayat dari arah belakang liang kubur.
11) Meletakkan mayat di atas sebelah kanannya, wajahnya menghadap kiblat.

D. Hal-hal yang harus dilakukan sesudah meninggal


apabila seseorang meninggal, maka ada beberapa hal yang harus dilakukan:
1. Hendaklah dipejamkan (ditutupkan) matanya, menyebut kebaikan, mendoakan, meminta
ampun atas dosanya.
2. Hendakalh ditutup seluruh badannya dengan kain sebagai penghormatan kepadanya dan
supaya tidak terbuka ‘auratnya.
3. Tidak ada halangan untuk mencium mayat bagi keluarganya atau sahabat-sahabatnya
yang sangat sayang dan berdukacita sebab matinya.
4. Ahli mayat yang mampu hendaklah dengan segera membayar utang si mayat jika ia
berutang, baik dibayar dari harta peninggalannya atau dari pertolongan keluarga sendiri.

E. Ziarah Kubur
Mengenai ziarah kubur , tuntunannya dapat diketahui dari hadis Nabi saw seperti
riwayat dari Abu Hurairah bahwa Nabi saw pernah berziarah kubur ibunya lalu ia
menangis sehingga sahabat- sahabatnya turut menangis. Kemudian Rasulullah berkata :
Aku minta izin kepada tuhanku buat aku mintakan ampun bagi ibuku tetapi tidak
diizinkan bagiku, dan aku minta izin kepada-Nya buat ziarah kuburnya, maka ia izinkan
bagiku. Lantaran demikian ziarahlah kubur, karena ziarah kubur itu mengingatkan mati.
(HR. Jama’ah)
Juga riwayat dari Buraidah katanya : Rasulullah saw mengajarkan mereka
bilamana mereka pergi ke kuburan, agar supaya membaca : “ Assalamu’alaikum Ya
ahlad-diyaari minal mukminiina wal muslimiina wa-inna insya Allahu bikumu laahiquun
nasaalullaaha lana walakumul ‘aafiyah’’. Artinya : Mudah-mudahan selamat dan
sejahtera kepadamu penghuni perumahan orang – orang mukmin dan orang-orang muslin
dan kamipun akan menyusul insyaallah. Kami memohon kepada Allah ‘ Afiyah
(kebaikan) bagi kami dan bagi kamu. (HR. Ahmad, Muslim, dan Ibnu Majah).

BAB III
PENUTUP

A.KESIMPULAN

Adapun hikmah yang dapat diambil dari tata cara pengurusan jenazah, antara lain:
a. Memperoleh pahala yang besar.
b. Menunjukkan rasa solidaritas yang tinggi diantara sesame muslim.
c. Membantu meringankan beban kelurga jenazah dan sebagai ungkapan belasungkawa atas
musibah yang dideritanya.
d. Mengingatkan dan menyadarkan manusia bahwa setiap manusia akan mati dan masing-
masing supaya mempersiapkan bekal untuk hidup setelah mati.
e. Sebagai bukti bahwa manusia adalah makhluk yang paling mulia, sehingga apabila salah
seorang manusia meninggal dihormati dan diurus dengan sebaik-baiknya menurut aturan Allah
SWT dan RasulNya.
f.

DAFTAR PUSTAKA

Mas’ud, Ibnu & Abidin, Zainal S. 2000. fiqh mazhab syafi’i, Bandung: Pustaka Setia
Nawawi, Imam, al-jana’iz, Beirut: Dar al-fikr,tt
Rasyid, sulaiman. 1987. Fiqih islam. Bandung: Sinar Baru
DAFTAR PUSTAKA