Anda di halaman 1dari 6

PENGARUH PRODUKSI AIR MATA TERHADAP DRY EYE SYNDROME PADA PASIEN

DI POLIKLINIK MATA RUMAH SAKIT PERTAMINA BINTANG AMIN BANDAR


LAMPUNG TAHUN 2018

Rahmat Syuhada1, Muhammad Wahid Syahputra2

Departemen Penyakit Mata, Rumah Sakit Pertamina Bintang Amin


1

Prodi Pendidikan Dokter Fakultas Kedokteran, Universitas Malahayati


2

ABSTRAK

Sindrom mata kering atau dry eye syndrome adalah penyakit multifaktorial dari air mata
dan permukaan okuler yang mengakibatkan gejala ketidaknyamanan, gangguan visual,
dan ketidakstabilan film air mata dengan potensi kerusakan pada permukaan
mata.Beberapa faktor lingkungan diyakini mempengaruhi kejadian dry eye syndrome,
termasuk produksi air mata dan evaporasi yang disebabkan oleh polusi, ketinggian,
angin, dan udara. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh produksi air
mata terhadap dry eye syndrome.Analitik melalui studi observasi dengan pendekatan
cross sectional. Jumlah sampel 30 orang dan diambil dengan purposive sampling. Data
penelitian diperoleh dari hasil uji Schirmer pada responden. Analisis data univariat dan
bivariat dilakukan dengan uji chi-square.Distribusi frekuensi responden paling banyak
pada kategori berikut; usia 26-35 tahun (22 orang, 73,3%), jenis kelamin perempuan
(20 orang, 66,7%), produksi air mata normal (20 orang, 66,7%), dan dry eye syndrome
(19 orang, 63,3%). Terdapat hubungan bermakna antara produksi air mata dengan dry
eye syndrome (p=0,032, OR= 9,00).Terdapat hubungan bermakna antara produksi air
mata dengan dry eye syndrome.

Kata kunci :Produksi Air Mata, Schirmer, Mata Kering

Latar Belakang Sindrom mata kering adalah


Sindrom mata kering atau dry eye kondisi umum yang secara negatif
syndrome adalah penyakit multifaktorial mempengaruhi fungsi fisik dan mental.
dari air mata dan permukaan okuler Beberapa faktor lingkungan diyakini
yang mengakibatkan gejala mempengaruhi kejadian dry eye
ketidaknyamanan, gangguan visual, dan syndrome, termasuk polusi ketinggian,
ketidakstabilan film air mata dengan angin, dan udara(Galor et al.,
potensi kerusakan pada permukaan 2014).Berdasarkan literatur yang ada,
mata. Penyakit ini disertai dengan disebutkan bahwa kejadian sindroma
peningkatan osmolaritas air mata dan mata kering di Amerika dan sekitarnya
peradangan permukaan okuler (Craig et berkisar 7,8% dari total populasi,
al., 2017). Dry eye bisa memberikan sedangkan di Asia mencapai 93,2% dari
keluhan ringan sampai berat. Beberapa total populasi. Hal ini dapat terjadi
studi menunjukkan bahwa sindrom mata karena dua hal: pertama, secara lokasi
kering dapat memiliki dampak besar geografi dan populasi yang didapatkan,
terhadap fungsi visual, aktivitas sehari- kedua, tidak ada standarisasi dari tiap
hari, fungsi sosial dan fisik, produktivitas populasi dalam pengukuran sindrom
kerja, biaya langsung dan tidak langsung mata kering baik itu berdasarkan
dari penyakit, dan kualitas hidup. kuesioner, tes, dan pengetahuan
Komplikasi tahap lanjut dari dry eye tentang kriteria diagnostik sindroma
adalah keratitis, ulkus dan selanjutnya mata kering (Basak et al., 2012).
dapat menimbulkan kebutaan (Riordan- Sistem sekresi air mata atau
Eva dan Augsburger, 2017). lakrimal terletak di daerah temporal bola

Jurnal Ilmu Kedokteran Dan Kesehatan, Volume 5, Nomor 3, Juli 2018 218
mata. Sistem eksresi mulai pada saraf kornea, menyebabkan gejala
pungtum lakrimal, kanalikuli lakrimal, ketidaknyamanan dan peningkatan
sakus lakrimal, duktus nasolakrimal, berkedip (American Academy of
meatus inferior. Sistem lakrimal terdiri Ophtalmology, 2018).
atas 2 bagian, yaitu: Sistem produksi Sindrom mata kering dapat didiagnosis
atau glandula lakrimal yang terletak di melalui pemeriksaan mata yang
temporo antero superior rongga orbita, komprehensif. Pengujian, dengan
dan sistem eksresi yang terdiri dari penekanan khusus pada evaluasi
pungtum lakrimal, kanalikuli lakrimal, kelopak mata dan permukaan depan
sakus lakrimal, dan duktus nasolakrimal. bola mata, termasuk pengukuran dan
Film air mata sangat berguna untuk evaluasi produksi air mata.
kesehatan mata (Ilyas dan Yulianti,
2014). Metodologi
Mekanisme inti mata kering Analitik melalui studi observasi dengan
diyakini karena hiperosmolaritas air pendekatan cross sectional. Jumlah
mata dan ketidakstabilan film air mata. sampel 30 orang dan diambil dengan
Hiperosmolaritas air mata menyebabkan purposive sampling. Data penelitian
kerusakan pada epitel permukaan diperoleh dari hasil uji Schirmer pada
dengan mengaktifkan kaskade kejadian responden. Analisis data univariat dan
inflamasi pada permukaan mata dan bivariat dilakukan dengan uji chi-square.
pelepasan mediator inflamasi ke dalam Dengan kriteria inklusi yaitu:Bersedia
air mata. Kerusakan epitel melibatkan menjadi sampel penelitian dan dilakukan
kematian sel oleh apoptosis, hilangnya pemeriksaan Uji Schirmer, Dilakukan uji
sel goblet, dan gangguan musin yang untuk mengetahui kuantitas produksi air
mngakibatkan ketidakstabilan lapisan air mata pada kedua mata, baik yang
mata. Ketidakstabilan ini memperparah terkena dan tidak.Kriteria Ekslusi yaitu:
hiperosmolaritas permukaan mata dan Pasien tidak kooperatif, Pasien yang
dapat juga diprakarsai oleh beberapa menggunakan obat yang bisa
etiologi, termasuk obat-obatan xerosis, mempengaruhi produksi air mata (terapi
xeroftalmia, alergi mata, penggunaan estrogen, penggunaan anti histamin),
pengawet topikal, dan memakai lensa Sedang menderita penyakit mata lain
kontak. Cedera epitel yang disebabkan (contoh: keratitis, konjungtivitis,
oleh mata kering merangsang ujung glaukoma).

Hasil Penelitian

Tabel 1. Karakteristik Responden


Kategori Jumlah Persentase
Usia
<25 Tahun 3 10,0
26 – 35 Tahun 22 73,3
36 – 45 Tahun 5 16,7
Jenis Kelamin
Perempuan 20 66,7
Laki-laki 10 33,3
Total 30 100

Berdasarkan tabel 1. dapat adalah sebagai berikut; usia 26 – 35


diketahui analisis univariat pada masing- tahun (22 orang, 73,3%), dan jenis
masing variabel.Frekuensi terbanyak kelamin perempuan (20 orang, 66,7%).

Jurnal Ilmu Kedokteran Dan Kesehatan, Volume 5, Nomor 3, Juli 2018 219
Tabel 2. Distribusi Frekuensi Produksi Air Mata Pada Responden
Produksi Air Mata Jumlah Persentase
Normal 20 66,7
Terganggu 10 33,7
Total 30 100

Berdasarkan tabel 2. dapat pada kategori bukan normal sebanyak


dapat diketahui bahwa distribusi 20 orang (66,7%), dan pada kategori
frekuensi responden berdasarkan terganggu sebanyak 10 orang (33,7%).
produksi air mata secara berturut-turut

Tabel 3. Distribusi Frekuensi Dry Eye Syndrome Pada Responden


Dry Eye Syndrome Jumlah Persentase
Bukan Dry Eye Syndrome 11 36,7
Dry Eye Syndrome 19 63,3
Total 30 100
pada kategori bukan dry eye syndrome
Berdasarkan tabel 3. dapat sebanyak 11 orang (36,7%), dan pada
dapat diketahui bahwa distribusi kategori dry eye syndrome sebanyak 19
frekuensi responden berdasarkan dry orang (63,3%).
eye syndrome secara berturut-turut

Tabel 4. Distribusi Responden Menurut Produksi Air Mata dan Dry Eye
Syndrome Pada Responden
Dry Eye Syndrome
Bukan dry eye Dry eye Total
Produksi Air
syndrome syndrome p value OR
Mata
n % n % n %
Normal 10 90,9 1 9,1 11 100 0,032
9,00
Terganggu 10 52,6 9 47,6 19 100 (0,95 –
84,89)
Total 20 66,7 10 33,7 30 100

Hasil analisis hubungan antara OR=9,00 artinya responden yang


produksi air mata dengan dry eye mengalami penurunan produksi air mata
syndrome diperoleh bahwa di antara 11 mempunyai resiko 9,00 kali lebih besar
responden yang mengalami produksi air untuk terkena dry eye syndrome
mata normal, ada sebanyak 10 orang dibandingkan dengan responden yang
(90,9%) yang bukan pasien dry eye tidak mengalami penurunan produksi air
syndrome dan 1 orang (9,1%) yang mata. Nilai confidence interval yang
menderita dry eye syndrome. Sementara didapat adalah 0,95-84,89.
di antara 19 responden yang mengalami
penurunan produksi air mata, ada Pembahasan
sebanyak 10 orang (52,6%) yang bukan
pasien dry eye syndrome dan 9 orang Kejadian dry eye syndrome
(47,6%) yang menderita dry eye menurut penelitian yang dilakukan di
syndrome. Hasil uji statistik chi-square United States oleh Women’s Health
diperoleh nilai p=0,032 (<0,05), maka Study (WHS) dan Physician’s Health
Ho ditolak dan dapat disimpulkan bahwa Study (PHS) didapatkan bahwa 4,8 juta
terdapat hubungan antara produksi air penduduk Amerika berusia di atas 50
matadengan dry eye syndrome. Dari tahun menderita dry eye syndrome(Tear
hasil analisis diperoleh pula nilai Film and Ocular Surface Society,

Jurnal Ilmu Kedokteran Dan Kesehatan, Volume 5, Nomor 3, Juli 2018 220
2007).Hasil yang tidak jauh berbeda syndrome pada pasien di poliklinik mata
juga ditemukan bahwa pada penelitian Rumah Sakit Pertamina Bintang Amin
yang menunjukkan bahwa prevalensi dry Bandar Lampung.
eye syndrome tertinggi berada pada Dari hasil penelitian, didapatkan
rentang usia 60-69 tahun sebesar produksi air mata normal pada
51,4% (Kasetsuwan et al., 2012). responden sebanyak 20 orang (66,7%),
Penelitian lain juga menyatakan jumlah dan produksi air mata terganggu
pasien dry eye syndrome tertinggi sebanyak 10 orang (33,7%). Penurunan
berada pada rentang umur 31-40 tahun produksi air mata adalah salah satu
sebesar 20% (Sahai dan Malik, 2005). penyebab dari dry eye syndrome, di
Sedangkan pada penelitian ini samping peningkatan evaporasi.
didapatkan pasien dry eye syndrome Penurunan produksi cairan aqueus dapat
dengan jumlah terbanyak berada pada disebabkan oleh Sindroma Sjogren dan
rentang usia 26-35 tahun, sebanyak 22 bukan Sindroma Sjogren. Pada
orang (73,3%). Hasil distribusi pasien penyebab bukan Sindroma Sjogren,
dry eye syndrome pada rentang umur terjadinya penurunan cairan akuos
bisa saja bervariasi, hal ini disebabkan disebabkan oleh karena gangguan
oleh faktor lain seperti demografis, jenis produksi lakrimalis, obstruksi saluran
pekerjaan, atau paparan terhadap lakrimalis, hambatan reflek kelenjar, dan
lingkungan seperti paparan terhadap penggunaan obat-obatan sistemik(Tear
matahari, angin, ataupun temperatur Film and Ocular Surface Society, 2007).
yang tinggi (Sahai dan Malik, 2005).
Pada penelitian ini didapatkan
prevalensi jenis kelamin terbanyak Hasil analisis hubungan antara
adalah perempuan (20 orang, 66,7%). produksi air mata dengan dry eye
Prevalensi dry eye syndrome syndrome diperoleh bahwa di antara 11
berdasarkan jenis kelamin dapat terjadi responden yang mengalami produksi air
pada siapa saja, baik pada laki-laki mata normal, ada sebanyak 10 orang
maupun perempuan.Akan tetapi pada (90,9%) yang bukan pasien dry eye
beberapa penelitian epidemiologi syndrome dan 1 orang (9,1%) yang
menunjukkan adanya prevalensi yang menderita dry eye syndrome. Sementara
lebih tinggi pada perempuan di antara 19 responden yang mengalami
dibandingkan laki-laki(Chaironika, penurunan produksi air mata, ada
2011). Hasil sebuah studi didapatkan sebanyak 10 orang (52,6%) yang bukan
lebih banyak pasien dry eye syndrome pasien dry eye syndrome dan 9 orang
yang berjenis kelamin perempuan (25%) (47,6%) yang menderita dry eye
daripada laki-laki (17,2%).Hal ini dapat syndrome. Hasil uji statistik chi-square
dijelaskan berdasarkan hipotesis diperoleh nilai p=0,032 (<0,05), maka
penurunan sekresi air mata akibat Ho ditolak dan dapat disimpulkan bahwa
rendahnya estrogen pada wanita terdapat hubungan antara produksi air
menopause, meskipun pada beberapa matadengan dry eye syndrome. Dari
studi menyatakan bahwa wanita yang hasil analisis diperoleh pula nilai
menjalani terapi pengganti hormone OR=9,00 artinya responden yang
memiliki faktor risiko lebih tinggi untuk mengalami penurunan produksi air mata
terkena dry eye(Moss, Klein dan Klein, mempunyai resiko 9,00 kali lebih besar
2008). untuk terkena dry eye syndrome
Pada penelitian ini didapatkan dibandingkan dengan responden yang
jumlah responden yang bukan pasien tidak mengalami penurunan produksi air
dry eye syndrome sebanyak 11 orang mata. Nilai confidence interval yang
(36,7%), dan pasien penderita dry eye didapat adalah 0,95-84,89. Hal tersebut
syndrome sebanyak 19 orang (63,3%). karena banyak faktor-faktor dari
Pengambilan sampel ini bertujuan untuk variabel yang tidak diteliti seperti
melihat produksi air mata pada masing- jumlah sampel yang kurang. Sampel
masing kelompok dan yang diteliti kabanyakan pada umur 26 -
membandingkannya, sehingga dapat 35 tahun, sebaiknya sampel yang usia
ditentukan korelasi antara variabel menopause (46-65 tahun) juga ikut diuji
produksi air mata dengan dry eye dan juga uji yang dilakukan hanya uji

Jurnal Ilmu Kedokteran Dan Kesehatan, Volume 5, Nomor 3, Juli 2018 221
schirmer yaitu uji produksi air mata Kesimpulan
saja.
Hasil ini sesuai dengan teori 1. Distribusi frekuensi produksi air mata
yang menyebutkan bahwa pada dry eye pada pasien di Poliklinik Mata Rumah
syndrome, salah satu penyebab Sakit Pertamina Bintang Amin Bandar
utamanya adalah produksi air mata. Lampung paling banyak pada kategori
Penurunan produksi air mata ini dapat normal (20 orang, 66,7%).
disebabkan oleh Sindroma Sjogren dan 2. Distribusi frekuensi penderita dry eye
bukan Sindroma Sjogren. Pada syndrome pada pasien di Poliklinik
penyebab bukan Sindroma Sjogren, Mata Rumah Sakit Pertamina Bintang
terjadinya penurunan cairan akuos Amin Bandar Lampung paling banyak
disebabkan oleh karena gangguan pada kategori dry eye syndrome (10
produksi lakrimalis, obstruksi saluran orang, 52,6%).
lakrimalis, hambatan reflek kelenjar, dan 3. Ada pengaruh yang bermakna antara
penggunaan obat-obatan sistemik(Tear produksi air mata dengan kejadian
Film and Ocular Surface Society, 2007). dry eye syndrome (p=0,032).
Hasil penelitian ini sejalan
dengan penelitian yang dilakukan oleh
Han et al. (2011) yang menunjukkan DAFTAR PUSTAKA
bahwa penurunan produksi air mata
yang dinilai dengan menggunakan uji American Academy of Ophtalmology
Schirmer berhubungan dengan kejadian (2014) ‘Orbit, Eyelids, and Lacrimal
dry eye syndrome (p=0,04). Namun System’, Basic and Clinical Science
demikian, hasil penelitian ini tidak sesuai Course.
dengan penelitian yang dilakukan oleh
Sullivan et al. (2014) yang menunjukkan American Academy of Ophtalmology
bahwa penilaian produksi air mata (2018) What Is Dry Eye? Available
dengan menggunakan uji Schirmer tidak at: https://www.aao.org/eye-
berhubungan dengan dry eye syndrome health/diseases/what-is-dry-eye
(p=0,09). Dalam kesimpulannya ia (Accessed: 31 July 2018).
menyebutkan bahwa penegakan
diagnosa dry eye dengan hanya Basak, S. K. et al. (2012) ‘Prevalence of
menggunakan gejala klinis tidaklah Dry Eye Diseases in Hospital-based
tepat, karena membutuhkan evaluasi Population in West Bengal ,
lebih lanjut melalui pemeriksaan lebih Eastern India’, J Indian Med
lanjut. Association, 110(11).
Dalam penelitian ini didapatkan
responden yang terdiagnosa dry eye Chaironika, N. (2011) Insidensi dan
syndrome tetapi memiliki produksi air Derajat Dry Eye Pada Menopause
mata yang normal (1 orang, 9,1%). Hal di RSU. H. Adam Malik Medan.
ini dapat disebabkan karena dry eye Skripsi. Tidak Diterbitkan. Fakultas
syndrome yang diderita oleh pasien Kedokteran. Universitas Sumatera
disebabkan oleh faktor lain, yaitu Utara: Medan.
peningkatan evaporasi air mata. Pada
penelitian ini juga didapatkan responden Craig, J. P. et al. (2017) ‘TFOS DEWS II
yang tidak terdiagnosa dry eye Definition and Classification
syndrome tetapi mengalami penurunan Report’, The Ocular Surface, 15(3),
produksi air mata sebanyak 10 orang pp. 276–283. doi:
(52,6%). Hal ini dapat disebabkan 10.1016/j.jtos.2017.05.008.
karena penurunan produksi air mata
yang dialami oleh responden belum Dahlan, M. S. (2016) Statistik Untuk
sampai ke tahap yang akan Kedokteran dan Kesehatan. 6th
menimbulkan gejala, atau dapat edn. Jakarta: Salemba Empat.
disebabkan produksi air mata yang
memang secara fisiologis lebih sedikit Elvira, V. N. W. (2018) ‘Penyakit Mata
pada beberapa orang. Kering’, Continuing Medical
Education, Suplemen, pp. 192–

Jurnal Ilmu Kedokteran Dan Kesehatan, Volume 5, Nomor 3, Juli 2018 222
196. 85(8), pp. 668–674. doi:
10.1097/OPX.0b013e318181a947.
Firestein, G. S. (2013) Kelley’s Textbook
of Rheumatology. 9th edn. Notoatmodjo, S. (2012) Metodologi
Philadelphia: Elsevier. Penelitian Kesehatan. Jakarta:
Rineka Cipta.
Galor, A. et al. (2014) ‘Environmental
Factors Affect the Risk of Dry Eye Riordan-Eva, P. dan Augsburger, J. J.
Syndrome in a United States (2017) Vaughan & Asbury’s
Veteran Population’, General Ophtalmology. 19th edn.
Ophthalmology, 121(4), pp. 972– New York: Mc Graw-Hill Education.
974. doi: doi:
10.1016/j.ophtha.2013.11.036. 10.1017/CBO9781107415324.004.

Han, S. B. et al. (2011) ‘Prevalence of Sahai, A. dan Malik, P. (2005) ‘Dry Eye:
Dry Eye Disease in an Elderly Prevalence and Attributable Risk
Korean Population.’, Archives of Factors in a Hospital-Based
ophthalmology (Chicago, Ill. : Population’, Indian journal of
1960), 129(5), pp. 633–8. doi: ophthalmology, 53(2), pp. 87–91.
10.1001/archophthalmol.2011.78. Available at:
http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubm
Ilyas, S. dan Yulianti, S. R. (2014) Ilmu ed/15976462 (Accessed: 11
Penyakit Mata. 5th edn. Jakarta: August 2018).
Badan Penerbit Fakultas
Kedokteran Universitas Indonesia. Sullivan, B. D. et al. (2014) ‘Correlations
Between Commonly Used Objective
Kanski, J. J. (2011) Clinical Signs and Symptoms for The
Ophtalmology: A Systematic Diagnosis of Dry Eye Disease:
Approach. 7th edn. Edinburgh: Clinical Implications’, Acta
Elsevier Butterworth-Heinemann. Ophthalmologica. Wiley/Blackwell
(10.1111), 92(2), pp. 161–166.
Kasetsuwan, N. et al. (2012) ‘Prevalence doi: 10.1111/aos.12012.
of Dry Eyes in Elderly Thai
Population (The Romklao Eye Tear Film and Ocular Surface Society
Etudy)’, Asian Biomedicine, 6(6), (2007) ‘2007 Report of The
pp. 875–882. doi: 10.5372/1905- International Dry Eye Workshop
7415.0606.134. (DEWS)’, The Ocular Surface, 5(2),
pp. 377–381. doi: 10.1590/S0004-
Kasetsuwan, N. et al. (2013) ‘Incidence 27492011000500016.
and Pattern of Dry Eye after
Cataract Surgery’, PLoS ONE. Vision Optique (2015) Layers of The
Edited by A. Wedrich, 8(11), p. Tear Film. Available at:
e78657. doi: https://www.visionoptique.com/dry
10.1371/journal.pone.0078657. -eye/layers-of-the-tear-film/.

Moss, S. E., Klein, R. dan Klein, B. E. K. Wagner, P. dan Lang, G. K. (2007)


(2008) ‘Long-term Incidence of Dry Ophtalmology: A Pocket Textbook
Eye in an Older Population’, Atlas. 2nd edn. New York: Thieme.
Optometry and Vision Science,

Jurnal Ilmu Kedokteran Dan Kesehatan, Volume 5, Nomor 3, Juli 2018 223