Anda di halaman 1dari 45

BAB I

PENDAHULUAN

Organisasi privat dan publik sekarang mendapatkan tekanan untuk


membangun keunggulan bersaing. Ketidakpastian lingkungan eksternal yang
ditandai dengan perubahan yang cepat di bidang teknologi, kelangkaan resources,
dan ekspektasi masyarakat yang semakin meningkat telah memaksa organisasi
melakukan pengorganisasian pengetahuan agar terus menerus dapat melakukan
inovasi yang berkesinambungan sehingga selalu beberapa langkah di depan.
Perbaikan transparansi dan akuntabilitas fiskal adalah merupakan salah satu kunci
bagi keberhasilan perombakan sistem sosial yang kita lakukan selama era
reformasi, sejak krisis ekonomi tahun 1997-1998. Dalam rangka perombakan itu,
kita ingin menggantikan sistem politik otoriter Orde Baru dengan demokrasi.
Sistem politik demokratis yang digunakan saat ini memberikan jaminan
kebebasan berserikat dan bersuara termasuk mendirikan partai politik. TNI dan
POLRI tidak lagi memiliki wakil di DPR dan menduduki jabatan sipil. Presiden
dan wakil presiden serta kepala-kepala daerah kini dipilih langsung oleh Rakyat
berdasarkan platform atau janji politiknya dan tidak lagi dipilih oleh MPR atau
DPRD. Di masa lalu, MPR sekaligus menyusun GBHN.
Pengelolaan keuangan negara atau daerah adalah salah satu aspek yang
harus diatur secara hati-hati dan merupakan instrumen kebijakan yang utama bagi
pemerintah. Dalam upaya perwujudan reformasi pengelolaan keuangan
pemerintah yang baik terdapat pula tuntutan yang semakin besar untuk
mengakomodasi, menginkorporasi serta mengedepankan nilai-nilai good
governance. Hal ini ditandai dengan terbitnya 3 (tiga) paket perundangan-
undangan di bidang keuangan negara. Sejalan dengan hal tersebut pemerintah
pusat kembali melakukan revisi kebijakan otonomi daerah melalui UU No. 32
Tahun 2004 dan UU No. 33 Tahun 2004 yang juga mengatur hal yang berkaitan
dengan keuangan daerah seperti yang diatur dalam paket perundang-undangan di
bidang keuangan negara. Hal ini tidak menutup kemungkinan timbulnya multi
interpretasi dalam implementasinya mengingat undang-undang yang memiliki

Pengelolaan Keuangan Negara dan Daerah 1


kekuatan hukum yang sama ini mengatur substansi yang saling terkait.
Dalam pengelolaan keuangan Negara dan daerha tersebut, perlu diketahui
beberapa tahap dalam pelaksanaannya agar sesuai dengan jalur dan akan berjalan
dengan efisien. Beberapa tahap tersebut antara lain proses perencanaan,
pelaksanaan perencanaan, pelaporan keuangan dan evaluasi serta pengawasan.
Untuk mengetahui bagaimana pengelolaan keuangan Negara dan daerah, serta
hubungannya antara kedua hal tersebut, maka kami menyusun makalah yang
berjudul “Pengelolaan Keuangan Negara dan Daerah”.

BAB II
PENGELOLAAN KEUANGAN NEGARA DAN DAERAH

A. Pengelolaan Keuangan Negara


1. Pengertian Keuangan Negara
Definisi keuangan negara adalah semua hak dan kewajiban negara yang
dapat dinilai dengan uang, serta segala sesuatu baik berupa uang maupun berupa
barang yang dapat dijadikan milik negara berhubung dengan pelaksanaan hak dan
kewajiban tersebut. Dalam penjelasan Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003
tentang Keuangan Negara dinyatakan bahwa pendekatan yang digunakan dalam
merumuskan Keuangan Negara adalah dari sisi objek, subjek, proses, dan tujuan.
Dari sisi objek, yang dimaksud dengan Keuangan Negara meliputi semua
hak dan kewajiban negara yang dapat dinilai dengan uang, termasuk kebijakan
dan kegiatan dalam bidang fiskal, moneter dan pengelolaan kekayaan negara yang
dipisahkan, serta segala sesuatu baik berupa uang, maupun berupa barang yang
dapat dijadikan milik negara berhubung dengan pelaksanaan hak dan kewajiban
tersebut. Dari sisi subjek, yang dimaksud dengan Keuangan Negara meliputi
seluruh subjek yang memiliki/menguasai objek sebagaimana tersebut di atas,
yaitu: pemerintah pusat, pemerintah daerah, perusahaan negara/daerah, dan badan
lain yang ada kaitannya dengan keuangan negara. Dari sisi proses, Keuangan
Negara mencakup seluruh rangkaian kegiatan yang berkaitan dengan pengelolaan
objek sebagaimana tersebut di atas mulai dari perumusan kebijakan dan
pengambilan keputusan sampai dengan pertanggunggjawaban. Dari sisi tujuan,
Keuangan Negara meliputi seluruh kebijakan, kegiatan dan hubungan hukum
yang berkaitan dengan pemilikan dan/atau penguasaan objek sebagaimana
tersebut di atas dalam rangka penyelenggaraan pemerintahan negara.
Keuangan negara yang dimaksud adalah seluruh kekayaan negara dalam
bentuk apapun, yang dipisahkan atau yang tidak dipisahkan, termasuk didalamnya
segala bagian kekayaan negara dan segala hak dan kewajiban yang timbul karena :
a. berada dalam penguasaan, pengurusan, dan pertanggungjawaban pejabat
lembaga Negara, baik ditingkat pusat maupun di daerah;
b. berada dalam penguasaan, pengurusan, dan pertanggungjawaban Badan

Pengelolaan Keuangan Negara dan Daerah 3


Usaha Milik Negara/Badan Usaha Milik Daerah, yayasan, badan hukum
dan perusahaan yang menyertakan modal negara, atau perusahaan yang
menyertakan modal pihak ketiga berdasarkan perjanjian dengan Negara.
Berdasarkan uraian di atas, pengertian keuangan negara dapat dibedakan
antara: pengertian keuangan negara dalam arti luas, dan pengertian keuangan
negara dalam arti sempit. Pengertian keuangan negara dalam arti luas
pendekatannya adalah dari sisi objek yang cakupannya sangat luas, dimana
keuangan negara mencakup kebijakan dan kegiatan dalam bidang fiskal, moneter
dan pengelolaan kekayaan negara yang dipisahkan. Sedangkan pengertian
keuangan negara dalam arti sempit hanya mencakup pengelolaan keuangan negara
subbidang pengelolaan fiskal saja.

Pengelompokkan Keuangan Negara


Berdasarkan pengertian keuangan negara dengan pendekatan objek,
terlihat bahwa hak dan kewajiban negara yang dapat dinilai dengan uang diperluas
cakupannya, yaitu termasuk kebijakan dan kegiatan dalam bidang fiskal, moneter
dan pengelolaan kekayaan negara yang dipisahkan. Dengan demikian, bidang
pengelolaan keuangan negara dapat dikelompokkan dalam:
a. Sub Bidang Pengelolaan Fiskal
Pengelolaan keuangan negara sub bidang pengelolaan fiskal meliputi
kebijakan dan kegiatan yang berkaitan dengan pengelolaan Anggaran
Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) mulai dari penetapan Arah dan
Kebijakan Umum (AKU), penetapan strategi dan prioritas pengelolaan
APBN, penyusunan anggaran oleh pemerintah, pengesahan anggaran oleh
DPR, pelaksanaan anggaran, pengawasan anggaran, penyusunan perhitungan
anggaran negara (PAN) sampai dengan pengesahan PAN menjadi undang-
undang.
Sub bidang pengelolaan fiskal meliputi enam fungsi, yaitu:

1) Fungsi pengelolaan kebijakan ekonomi makro dan fiskal.


Fungsi pengelolaan kebijakan ekonomi makro dan fiskal ini meliputi
penyusunan Nota Keuangan dan RAPBN, serta perkembangan dan
perubahannya, analisis kebijakan, evaluasi dan perkiraan perkembangan
ekonomi makro, pendapatan negara, belanja negara, pembiayaan,
analisis kebijakan, evaluasi dan perkiraan perkembangan fiskal dalam
rangka kerjasama internasional dan regional, penyusunan rencana
pendapatan negara, hibah, belanja negara dan pembiayaan jangka
menengah, penyusunan statistik, penelitian dan rekomendasi kebijakan
di bidang fiskal, keuangan, dan ekonomi.
2) Fungsi penganggaran.
Fungsi ini meliputi penyiapan, perumusan, dan pelaksanaan kebijakan,
serta perumusan standar, norma, pedoman, kriteria, prosedur dan
pemberian bimbingan teknis dan evaluasi di bidang APBN.
3) Fungsi administrasi perpajakan.
4) Fungsi administrasi kepabeanan.
5) Fungsi perbendaharaan.
Fungsi perbendaharaan meliputi perumusan kebijakan, standard, sistem
dan prosedur di bidang pelaksanaan penerimaan dan pengeluaran negara,
pengadaan barang dan jasa instansi pemerintah serta akuntansi
pemerintah pusat dan daerah, pelaksanaan penerimaan dan pengeluaran
negara, pengelolaan kas negara dan perencanaan penerimaan dan
pengeluaran, pengelolaan utang dalam negeri dan luar negeri,
pengelolaan piutang, pengelolaan barang milik/kekayaan negara
(BM/KN), penyelenggaraan akuntansi, pelaporan keuangan dan sistem
informasi manajemen keuangan pemerintah.
6) Fungsi pengawasan keuangan.
b. Sub Bidang Pengelolaan Moneter
Pengelolaan keuangan negara sub bidang pengelolaan moneter
berkaitan dengan kebijakan dan pelaksanaan kegiatan sector perbankan dan
lalu lintas moneter baik dalam maupun luar negeri.
c. Sub Bidang Pengelolaan Kekayaan Negara Yang Dipisahkan

Pengelolaan Keuangan Negara dan Daerah 5


Pengelolaan keuangan negara sub bidang kekayaan Negara yang
dipisahkan berkaitan dengan kebijakan dan pelaksanaan kegiatan di sektor
Badan Usaha Milik Negara/Daerah (BUMN/BUMD) yang orientasinya
mencari keuntungan (profit motive).
Dalam rangka mendukung terwujudnya good governance dalam
penyelenggaraan negara, pengelolaan keuangan negara perlu diselenggarakan
secara profesional, terbuka, dan bertanggung jawab sesuai dengan aturan pokok
yang telah ditetapkan dalam Undang-Undang Dasar 1945.
Aturan pokok Keuangan Negara telah dijabarkan ke dalam asas-asas
umum, yang meliputi baik asas-asas yang telah lama dikenal dalam pengelolaan
keuangan negara, seperti asas tahunan, asas universalitas, asas kesatuan, dan asas
spesialitas maupun asas-asas baru sebagai pencerminan penerapan kaidah-kaidah
yang baik (best practices) dalam pengelolaan keuangan negara.
Penjelasan dari masing-masing asas tersebut adalah sebagai berikut. :
a. Asas Tahunan, memberikan persyaratan bahwa anggaran negara dibuat
secara tahunan yang harus mendapat persetujuan dari badan legislatif
(DPR).
b. Asas Universalitas (kelengkapan), memberikan batasan bahwa tidak
diperkenankan terjadinya percampuran antara penerimaan negara dengan
pengeluaran negara.
c. Asas Kesatuan, mempertahankan hak budget dari dewan secara lengkap,
berarti semua pengeluaran harus tercantum dalam anggaran. Oleh karena
itu, anggaran merupakan anggaran bruto, dimana yang dibukukan dalam
anggaran adalah jumlah brutonya.
d. Asas Spesialitas mensyaratkan bahwa jenis pengeluaran dimuat dalam
mata anggaran tertentu/tersendiri dan diselenggarakan secara konsisten
baik secara kualitatif maupun kuantitatif. Secara kuantitatif artinya
jumlah yang telah ditetapkan dalam mata sistem anggaran tertentu
merupakan batas tertinggi dan tidak boleh dilampaui. Secara kualitatif
berarti penggunaan anggaran hanya dibenarkan untuk mata anggaran yang
telah ditentukan.
e. Asas Akuntabilitas berorientasi pada hasil, mengandung makna bahwa
setiap pengguna anggaran wajib menjawab dan menerangkan kinerja
organisasi atas keberhasilan atau kegagalan suatu program yang menjadi
tanggung jawabnya.
f. Asas Profesionalitas mengharuskan pengelolaan keuangan negara
ditangani oleh tenaga yang profesional.
g. Asas Proporsionalitas; pengalokasian anggaran dilaksanakan secara
proporsional pada fungsi-fungsi kementerian/lembaga sesuai dengan
tingkat prioritas dan tujuan yang ingin dicapai.
h. Asas Keterbukaan dalam pengelolaan keuangan negara, mewajibkan
adanya keterbukaan dalam pembahasan, penetapan, dan perhitungan
anggaran serta atas hasil pengawasan oleh lembaga audit yang independen.
i. Asas Pemeriksaan Keuangan oleh badan pemeriksa yang bebas dan
mandiri, memberi kewenangan lebih besar pada Badan Pemeriksa
Keuangan untuk melaksanakan pemeriksaan atas pengelolaan keuangan
negara secara objektif dan independen.
Dengan dianutnya asas-asas umum tersebut di dalam undang-undang
tentang Keuangan Negara, pelaksanaan undang-undang ini selain menjadi acuan
dalam reformasi manajemen keuangan negara, sekaligus dimaksudkan untuk
memperkokoh landasan pelaksanaan desentralisasi dan otonomi daerah di
Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Ruang Lingkup Keuangan Negara


Ruang lingkup keuangan negara sesuai dengan pengertian tersebut
diuraikan dalam Pasal 2 UU No. 17/2003 meliputi:
a. Hak negara untuk memungut pajak, mengeluarkan dan mengedarkan uang,
dan melakukan pinjaman;
b. Kewajiban negara untuk menyelenggarakan tugas layanan umum
pemerintahan negara dan membayar tagihan pihak ketiga;
c. Penerimaan negara;
d. Pengeluaran negara;

Pengelolaan Keuangan Negara dan Daerah 7


e. Penerimaan daerah;
f. Pengeluaran daerah;
g. Kekayaan negara/kekayaan daerah yang dikelola sendiri atau oleh pihak
lain berupa uang, surat berharga, piutang, barang, serta hak-hak lain yang
dapat dinilai dengan uang, termasuk kekayaan yang dipisahkan pada
perusahaan negara/perusahaan daerah
h. Kekayaan pihak lain yang dikuasai oleh pemerintah dalam rangka
penyelenggaraan tugas pemerintahan dan/atau kepentingan umum;
i. Kekayaan pihak lain yang diperoleh dengan menggunakan fasilitas yang
diberikan pemerintah; dan
j. Kekayaan pihak lain sebagaimana dimaksud meliputi kekayaan yang
dikelola oleh orang atau badan lain berdasarkan kebijakan pemerintah,
yayasan-yayasan di lingkungan kementerian negara/lembaga, atau
perusahaan negara/daerah.

2. Proses Perencanaan Keuangan Negara


Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), yang dalam
pembahasan berbagai literatur sering disebut anggaran negara atau anggaran
sektor publik, dalam perkembangannya telah menjadi instrumen kebijakan multi-
fungsi yang digunakan sebagai alat untuk mencapai tujuan bernegara. Hal tersebut
terutama terlihat dari komposisi dan besarnya anggaran yang secara langsung
merefleksikan arah dan tujuan pelayanan kepada masyarakat yang diharapkan.
Anggaran negara sebagai alat perencanaan kegiatan publik yang
dinyatakan dalam satuan mata uang (rupiah) sekaligus dapat digunakan sebagai
alat pengendalian. Agar fungsi perencanaan dan pengawasan dapat berjalan
dengan baik, maka sistem anggaran dan pencatatan atas penerimaan dan
pengeluaran harus dilakukan dengan cermat dan sistematis.
Sebagai sebuah sistem, perencanaan anggaran negara telah mengalami
banyak perkembangan. Sistem perencanaan anggaran negara pada saat ini telah
mengalami perkembangan dan perubahan sesuai dengan dinamika manajemen
sektor publik dan tuntutan yang muncul di masyarakat, yaitu sistem penganggaran
dengan pendekatan New Public Management (NPM).
• Anggaran dengan Pendekatan New Public Management (NPM)
Sejak pertengahan tahun 1980-an, telah terjadi perubahan manajemen sektor
publik yang cukup drastis dari sistem manajemen tradisional yang terkesan kaku,
birokratis, dan hierarkis menjadi model manajemen sektor publik yang fleksibel
dan lebih mengakomodasi pasar. Perubahan tersebut bukan sekedar perubahan
kecil dan sederhana, tetapi perubahan besar yang telah mengubah peran
pemerintah terutama dalam hal hubungan antara pemerintah dan masyarakat.
Paradigma baru yang muncul dalam manajemen sektor publik tersebut adalah
pendekatan New Public Management (NPM).
Model NPM berfokus pada manajemen sektor publik yang berorientasi pada
kinerja, bukan pada kebijakan. Penggunaan paradigma baru tersebut menimbulkan
beberapa konsekuensi pada pemerintah, diantaranya adalah tuntutan untuk
melakukan efisiensi, pemangkasan biaya (cost cutting), dan kompetisi tender.
Salah satu model pemerintahan di era NPM adalah model pemerintahan yang
diajukan oleh Osborne dan Gaebler (1992) yang tertuang dalam pandangannya
yang dikenal dengan konsep “Reinventing Government”.
Perspektif baru pemerintah menurut Osborne dan Gaebler tersebut adalah:
1. Pemerintahan katalis (fokus pada pemberian arahan bukan produksi
layanan publik),
2. Pemerintah milik masyarakat (lebih memberdayakan masyarakat dari pada
melayani),
3. Pemerintah yang kompetitif (mendorong semangat kompetisi dalam
pemberian pelayanan publik),
4. Pemerintah yang digerakkan oleh misi (mengubah organisasi yang
digerakkan oleh peraturan menjadi digerakkan oleh misi),
5. Pemerintah yang berorientasi hasil (membiayai hasil bukan masukan),
6. Pemerintah berorientasi pada pelanggan (memenuhi kebutuhan
pelanggan, bukan birokrasi),
7. Pemerintah wirausaha (mampu menciptakan pendapatan dan tidak sekedar
membelanjakan),

Pengelolaan Keuangan Negara dan Daerah 9


8. Pemerintah yang antisipatif (berupaya mencegah daripada mengobati),
9. Pemerintah desentralisasi (dari hierarki menuju partisipasi dan tim kerja),
dan
10. Pemerintah berorientasi pada mekanisme pasar (mengadakan perubahan
dengan mekanisme pasar/sistem insentif dan bukan mekanisme
administratif/sistem prosedur dan pemaksaan).

Munculnya konsep New Public Management (NPM) berpengaruh langsung


terhadap konsep anggaran negara pada umumnya. Salah satu pengaruh itu adalah
terjadinya perubahan sistem anggaran dari model anggaran tradisional menjadi
anggaran yang lebih berorientasi pada kinerja.

• Perubahan Pendekatan Anggaran Negara


Reformasi sektor publik yang salah satunya ditandai dengan munculnya era
New Public Management telah mendorong upaya di berbagai negara untuk
mengembangkan pendekatan yang lebih sistematis dalam perencanaan anggaran
negara. Seiring dengan perkembangan tersebut, muncul beberapa teknik
penganggaran sektor publik, antara lain:
a. Teknik Anggaran Kinerja (Performance Budgeting)
Pendekatan kinerja disusun untuk mengatasi berbagai kelemahan yang
terdapat dalam anggaran tradisional, khususnya kelemahan karena tidak
adanya tolok ukur yang dapat digunakan untuk mengukur kinerja dalam
pencapaian tujuan dan sasaran pelayanan publik. Pendekatan ini sangat
menekankan pada konsep value for money dan pengawasan atas kinerja
output. Pendekatan ini juga mengutamakan mekanisme penentuan prioritas
tujuan serta pendekatan yang sistematik dan rasional dalam proses
pengambilan keputusan. Untuk mengimplementasikan hal-hal tersebut,
anggaran kinerja dilengkapi dengan teknik analisis antara biaya dan manfaat.
Sistem penganggaran kinerja pada dasarnya merupakan sistem yang
mencakup kegiatan penyusunan program dan tolok ukur kinerja sebagai
instrumen untuk mencapai tujuan dan sasaran program. Penerapan sistem
anggaran kinerja dalam penyusunan anggaran dimulai dengan perumusan
program dan penyusunan struktur organisasi pemerintah yang sesuai dengan
program tersebut. Kegiatan tersebut mencakup pula penentuan unit kerja yang
bertanggung jawab atas pelaksanaan program, serta penentuan indikator
kinerja yang digunakan sebagai tolok ukur dalam mencapai tujuan program
yang telah ditetapkan.
b. Zero Based Budgeting ( ZBB )
Konsep Zero Based Budgeting dimaksudkan untuk mengatasi
kelemahan yang ada pada sistem anggaran tradisional. Penyusunan anggaran
dengan menggunakan konsep ZBB dapat menghilangkan kelemahan pada
konsep incrementalism dan line item karena anggaran diasumsikan mulai
dari nol (zero base).
Penyusunan anggaran yang bersifat incremental mendasarkan
besarnya realisasi anggaran tahun ini untuk menetapkan anggaran tahun
depan, yaitu dengan menyesuaikan tingkat inflasi atau jumlah penduduk.
ZBB tidak berpatokan pada anggaran tahun lalu untuk menyusun anggaran
tahun ini, namun didasarkan pada kebutuhan saat ini. Dengan ZBB, seolah-
olah proses anggaran dimulai dari hal-hal yang baru sama sekali. Item
anggaran yang sudah tidak relevan dan tidak mendukung pencapaian tujuan
organisasi dapat hilang dari struktur anggaran, atau mungkin juga muncul
item baru.
c. Planning, Programming, and Budgeting System (PPBS)
PPBS merupakan teknik penganggaran yang didasarkan pada teori
sistem yang berorientasi pada output dan tujuan dengan penekanan
utamanya pada alokasi sumber daya berdasarkan analisis ekonomi. Sistem
anggaran PPBS tidak mendasarkan pada struktur organisasi tradisional yang
terdiri dari divisi-divisi, namun berdasarkan program, yaitu pengelompokan
aktivitas untuk mencapai tujuan tertentu.
PPBS adalah salah satu model penganggaran yang ditujukan untuk
membantu manajemen pemerintah dalam membuat keputusan alokasi sumber
daya secara lebih baik. Hal tersebut disebabkan sumber daya yang dimiliki

Pengelolaan Keuangan Negara dan Daerah 11


pemerintah sangat terbatas jumlahnya, sedangkan tuntutan masyarakat tidak
terbatas jumlahnya. Dalam keadaan tersebut pemerintah dihadapkan pada
pilihan alternatif keputusan yang memberikan manfaat paling besar dalam
pencapaian tujuan bernegara secara keseluruhan. PPBS memberikan kerangka
untuk membuat pilihan tersebut.

Pendekatan baru dalam sistem anggaran negara tersebut menurut Mardiasmo,


dalam bukunya Akuntansi Sektor Publik cenderung memiliki karakteristik sebagai
berikut:
a) komprehensif/komparatif,
b) terintegrasi dan lintas departemen,
c) proses pengambilan keputusan yang rasional,
d) berjangka panjang,
e) spesifikasi tujuan dan urutan prioritas,
f) analisis total cost and benefit (termasuk opportunity cost),
g) berorientasi pada input, output, dan outcome, bukan sekedar
input,
h) adanya pengawasan kinerja.

3. Pengelolaan dan Pengawasan Keuangan Negara


Landasan pengelolaan keuangan negara adalah Pasal 23C Undang-Undang
Dasar 1945 Perubahan Ketiga: “hal-hal lain mengenai keuangan Negara
ditetapkan melalui undang-undang”. Tahun 2003 yang lalu, sebelum UU
No.17/2003 diundangkan, aturan yang berlaku untuk pengelolaan Keuangan
Negara masih menggunakan peraturan peninggalan pemerintahan kolonial
Belanda seperti Indische Comptabiliteitswet yang lebih dikenal dengan nama ICW
stbl. 1925 No.488 yang ditetapkan pertama kali pada tahun 1864 dan mulai
berlaku tahun 1867. Selain ICW ada juga Indische Bedrijvenwet (IBW) stbl. 1927
No. 419 jo. Stbl. 1936 No.445 dan Reglement voor het Administratief Beheer
(RAB) stbl. 1933 No.381.
Sementara itu untuk pelaksanaan pemeriksaan pertanggungjawaban
pengelolaan keuangan negara digunakan Insctructie en verdere bapelingen voor
Algemeene Rekenkamer (IAR) stbl. 1933 No.320. Peraturan-peraturan seperti
ICW, IAR, IBW, dan RAB, sengaja diciptakan dan dibuat oleh pemerintahan
Kolonial Belanda sebagai penguasa yang menjajah Indonesia saat itu dengan
pendekatan untuk menjaga kepentingan negara Belanda atas Indonesia. Paradigma
negeri jajahan itulah yang sangat kental mewarnai peraturan-peraturan itu.
Ketika diterapkan kepada sebuah negara yang berdaulat dan merdeka
seperti Indonesia saat ini, peraturan-peraturan itu sudah tidak lagi relevan dan
layak dijadikan pedoman pengelolaan keuangan negara. Mengubah seluruh
peraturan di atas dengan peraturan yang bersemangat independensi dan
menjunjung tinggi kedaulatan sebuah Negara yang merdeka dan berdaulat,
tentunya harus dilakukan. Ke empat belas tim diatas menyadari itu, tetapi upaya
yang sangat panjang itu baru dapat mencapai hasil pada tahun 2003, yaitu 58
tahun setelah masa kemerdekaan. Selain itu, muatan yang terdapat di dalam
aturan-aturan kolonial itu sudah out of date dan tidak relevan lagi dengan kondisi
saat ini, apalagi tingkat kompleksitas permasalahan saat ini jauh lebih tinggi dari
masa dulu. Oleh karena itu, walaupun masih berlaku sebagai sebuah aturan
perundang-undangan tetapi secara materil sudah tidak dapat dilaksanakan.
Kekosongan perundang-undangan ini membuat lemahnya sistem
pengelolaan Keuangan Negara. Selama ini, kekosongan itu hanya dilengkapi
dengan Keputusan Presiden, yang terakhir diantaranya di atur oleh Keppres No.42
Tahun 2000 tentang Pedoman Pelaksanaan APBN dan Keppres 80 tahun 2003
tentang Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah.
Sebagaimana kita ketahui bahwa Keputusan Presiden di dalam tata hukum
tidak terlalu mengikat sebagaimana sebuah undang-undang. Dari kelemahan tata
hukum itulah kemudian menjadi salah satu penyebab banyaknya praktik
penyimpangan dan KKN di dalam pengelolaan Keuangan negara selama ini.
Puncaknya dengan terjadi krisis moneter pertengahan 1997 yang telah memporak-
porandakan tatanan ekonomi yang telah dibangun dengan susah payah oleh
pemerintahan era orde baru, ditandai dengan anjloknya rupiah hingga menembus
level Rp 17.000 per satu USD. Krisis berlanjut hingga menjadi krisis

Pengelolaan Keuangan Negara dan Daerah 13


multidimensional yang kemudian melahirkan era reformasi. Era reformasi inilah
yang memberikan momentum terciptanya tata aturan baru dalam pengelolaan
keuangan negara.
Paket UU Keuangan Negara tersebut (yang terdiri dari dua UU yang sudah
diundangkan, yaitu UU No.17 tahun 2003 tentang Keuangan Negara dan UU No.1
tahun 2004 tentang Perbendaharaan negara, serta satu RUU, yaitu RUU
Pemeriksaan pengelolaan Keuangan Negara yang masih dibahas di DPR)
merumuskan empat prinsip dasar pengelolaan keuangan negara, yaitu:
1. Akuntabilitas berdasarkan hasil atau kinerja;
2. Keterbukaan dalam setiap transaksi pemerintah;
3. Pemberdayaan manajer professional; dan
4. Adanya lembaga pemeriksa eksternal yang kuat, professional dan mandiri
serta dihindarinya duplikasi dalam pelaksanaan pemeriksaan.
Perubahan mendasar yang diatur oleh Undang-undang No.17 tahun 2003
yaitu:
a. Tentang pengertian dan ruang lingkup dari keuangan negara;
b. Azas-azas umum pengelolaan keuangan negara;
c. Kedudukan presiden sebagai pemegang kekuasaan pengelolaan keuangan
negara;
d. Pendelegasian kekuasaan presiden kepada menteri Keuangan dan
Menteri/Pimpinan Lembaga;
e. Susunan APBN dan APBD;
f. Ketentuan mengenai penyusunan dan penetapan APBN dan APBD;
g. Pengaturan Hubungan keuangan antara pemerintah pusat dengan bank
sentral, pemerintah daerah dan pemerintah/lembaga asing;
h. Pengaturan hubungan keuangan antara pemerintah dengan perusahaan
daerah dan perusahaan swasta;
i. Badan pengelola dana masyarakat; dan
j. Penetapan bentuk dan batas waktu penyampaian laporan
pertanggungjawaban pelaksanaan APBN dan APBD.
k. Penggunaan Medium Term Expenditure Framework (MTEF) sebagai
pengganti Propenas dan Repeta.
Sedangkan perubahan mendasar dalam pengelolaan perbendaharaan
negara yang tercantum dalam UU No.1 tahun 2004 yaitu:
1. Penerapan anggaran berbasis kinerja;
2. Pemberlakuan pengakuan dan pengukuran pendapatan dan belanja negara
berbasis akrual;
3. Munculnya jabatan fungsional Perbendaharaan Negara;
4. Pemberian jasa giro atau bunga atas dana pemerintah yang disimpan pada
bank sentral;
5. Sertifikan Bank Indonesia yang selama ini menjadi instrumen moneter
akan digantikan oleh Surat Utang Negara; dll.

4. Sistem Akuntansi Pemerintah Pusat


Sistem akuntansi pemerintah pusat (SAPP) adalah serangkaian prosedur,
baik manual maupun terkomputerisasi, mulai dari pengumpulan data, pencatatan,
pengikhtisaran, sampai dengan pelaporan posisi keuangan dan operasi keuangan
pemerintah pusat.
Ruang lingkup SAPP adalah pemerintah pusat (dalam hal ini lembaga
tinggi Negara dan lembaga eksekutif) serta pemda yang mendapatkan dana dari
APBN (terkait dana dekonsentrasi dan tugas pembantuan) sehingga tidak dapat
diterapkan untuk lingkungan pemda atau lembaga keuangan Negara.
Tujuan dari SAPP adalah :
1. Menjaga asset (safe guarding asset), agar asset pemerintah dapat terjaga
melalui serangkaian proses pencatatan, pengolahan dan pelaporan
keuangan yang konsisten sesuai dengan standar.
2. Memberikan informasi yang relevan, menyediakan informasi ayng akurat
dan tepat waktu tentang anggaran dan kegiatan keuangan pemerintah
pusat.
3. Memberikan informasi yang dapat dipercaya tentang posisi keuangan
suatu instansi dan pemerintah pusat secara keseluruhan.
4. Menyediakan informasi keuangan yang berguna untuk perencanaan,

Pengelolaan Keuangan Negara dan Daerah 15


pengelolaan, dan pengendalian kegiatan dan keuangan pemerintah secara
efisien.
Untuk mencapai tujuan tersebut, SAPP memiliki karakteristik sebagai
berikut :
1. Basis akuntansi.
SAPP menggunakan basis kas untuk Laporan Realisasi Anggaran
(LRA) dan basis akrual untuk neraca.
2. Sistem Pembukuan Berpasangan
Sistem pembukuan berpasangan didasarkan atas persamaan dasar
akuntansi, yaitu asset utang +ekuitas dana.
3. Sistem yang terpadu dan terkomputerisasi
SAPP terdiri atas subsistem-subsistem yang saling berhubungan dan
merupakan satu kesatuan yang tidak terpisahkan.
4. Desentralisasi Pelaksanaan Akuntansi
Dalam pelaksanaannya kegiatan akuntansi dan pelaporan dilakukan
secara berjenjang oleh unit-unit akuntansi, baik pusat maupun daerah.
5. Badan Perkiraan Standar
SAPP menggunakan perkiraan standar yang ditetapkan oleh menteri
keuangan yang berlaku.
SAPP terbagi menjadi 2 subsistem, yaitu :
1. Sistem akuntansi Pusat (SiAP) merupakan bagian SAPP yang
dilaksanakan oleh Direktorat Informasi dan Akuntansi (DIA) yang
akan menghasilkan laporan keuangan pemerintah pusat untuk
pertanggungjawaban pelaksanaan APBN. SiAP sendiri terbagi
menjadi 2 subsistem, yaitu Sistem Akuntansi Kas Umum Negara
(SAKUN) dan Sistem Akuntansi Umum (SAU).
2. Sistem akuntansi Instansi (SAI) merupakan bagian SAPP yang
akan menghasilkan laporan keuangan untuk pertanggungjawaban
pelaksanaan anggaran instansi. SAI sendiri terbagi menjadi 2
subsistem, yaitu sistem Akuntansi keuangan (SAK) dan Sistem
Akuntansi Barang Milik Negara (SABMN).
B. Sistem Pengelolaan Keuangan Daerah
1. Pengertian Pemerintahan Daerah
Menurut UU no 22 tahun 1999 yang telah diganti dengan UU no 32 tahun
2004 tentang pemerintahan daerah merupakan landasan yuridis bagi
pengembangan otonomi daerah di Indonesia. Dalam UU ini disebutkan bahwa
pengembangan otonomi pada daerah kabupaten dan kota diselenggarakan dengan
memperhatikan prinsip-prinsip demokrasi, peran serta masyarakat, pemerataan,
dan keadilan, serta memperhatikan potensi dan keanekaragaam daerah.
Otonomi yang diberikan kepada daerah kabupaten dan kota dilaksanakan
dengan memberikan kewenangan yang luas, nyata dan bertanggung jawab kepada
pemerintah daerah secara proporsional. Artinya, pelimpahan wewenang dari
pemerintah pusat kepada pemrintah daerah akan diikuti oleh pengaturan
pembagian, dan pemanfaatan sumber daya nasional yang berkeadilan serta
perimbangan keuangan pusat dan daerah.
Satu hal yang paling mendasar dalam UU ini adalah adanya komitmen
untuk mendorong pemberdayaan masyarakat, pengembangan prakarsa dan
kreativitas, peningkatan peran serta masyarakat, dan pengembangan peran dan
fungsi DPRD. UU ini memberikan otonomi secara utuh kepada daerah kabupaten
dan kota untuk membentuk dan melaksanakan kebijakan menurut prakarsa dan
aspirasi rakyatnya. Artinya, saat sekarang daerah sudah diberi kewenangan yang
utuh dan bulat untuk merencanakan, melaksanakan, mengawasi, mengendalikan,
dan mengevalusi kebijakan-kebijakan daerah. Melalui kebijakan ini diharapkan
partisipasi masyarakat akan semakin besar karena masyarakat daerah dalam UU
ini lebih diposisikan sebagai subjek bukan sebagai obyek pembangunan. Dengan
semakin besarnya partisipasi masyarakat daerah, selanjutnya desentralisasi
diharapkan akan mempengaruhi komponen kualitas pemerintahan lainnya. Salah

Pengelolaan Keuangan Negara dan Daerah 17


satunya berkaitan dengan pergeseran orientasi pemerintah, dari command and
control menjadi berorientasi pada tuntutan dan kebutuhan publik. Orientasi seperti
ini kemudian akan menjadi dasar bagi pelaksanaan peran pemerintah sebagai
stimulator, fasilitator, koordinator, dan entrepreneur (wirausaha) dalam proses
pembangunan.
Salah satu aspek dari pemerintahan daerah yang harus diatur secara hati-
hati adalah masalah pengelolaan keuangan daerah dan anggaran daerah.
Sebagaimana diketahui, bahwa anggaran daerah adalah rencana kerja pemerintah
daerah yang dituangkan dalam bentuk satuan mata uang (rupiah) dalam satu
periode tertentu (satu tahun). Anggaran daerah atau anggaran pendapatan dan
belanja daerah merupakan instrumen utama bagi pemerintah daerah. Sebagai
insrtumen kebijakan, anggaran daerah menduduki posisi sentral dalam upaya
pengembangan kapabilitas dan efektivitas pemerintah daerah. Sebagai instrumen,
anggaran daerah digunakan untuk menentukan besar/kecilnya pendapatan atau
pengeluaran, membantu pengambilan keputusan, dan perencanaan pembangunan,
otorisasi pengeluaran di masa-masa yang akan datang, sumber pengembangan
ukuran-ukuran standar untuk mengevaluasi kinerja, alat untuk memotivasi para
pegawai, dan alat kordinasi bagi semua aktivitas dari berbagai unit kerja. Dalam
kaitan ini, proses penyusuan dan pelaksanaan anggaran hendaknya difokuskan
pada upaya untuk mendukung pelaksanaan aktivitas atau program yang menjadi
prioritas dan preferensi daerah yang bersangkutan.

2. Sumber Anggaran Pendapatan Dan Belanja Daerah


1. Sumber Anggaran Pendapatan Daerah Dan Pengelolaannya
Berdasarkan UU no 33 tahun 2004 tentang perimbangan keuangan antara
pemerintah pusat dan daerah, sumber-sumber penerimaan terdisi atas: 1)
pendapatan Asli Daearah (PAD), 2) dana perimbangan, 3) Pinjaman daerah, dan
4) lain-lain penerimaan yang syah.
1. Pendapatan asli daerah (PAD)
Sumber pendapatan asli daerah terdiri dari:
a. Hasil pajak daerah
b. Hasil retribusi daerah
c. Hasil perusahaan milik daerah dan hasil pengelolaan kekayaan
darah lainnya yang dipisahkan,
d. Lain-lain PAD yang syah.
Dalam struktur APBD baru dengan anggaran kinerja, jenis PAD yang
berasal dari pajak daerah dan retribusi daerah sesuai dengan UU no 34 tahun
2000 perubahan atas UU no 18 tahun 1997 tentang pajak daerah dan retribusi
daerah, dirinci menjadi:
a) Pajak provinsi terdiri atas: i) Pajak Kendaraan Bermotor
(PKB) dan Kendaraan di Atas Air, ii) bea balik nama
kendaraan bermotor (BBNKB) dan kendaraan di atas asli, iii)
pajak bahan bakar kendaraan bermotor ( PBBKB), dan iv)
pajak pengambilan pemanfaatan air bawah tanah dan air
permukaan (P3ABTAP).
b) Jenis pajak kabupaten/kota terdiri atas: i) pajak hotel, ii) pajak
restoran, iii) pajak hiburan, iv) pajak reklame, v) pajak
penerangan jalan, vi) pajak pengambilan bahan galian
golongan C, dan vii) pajak parkir.
c) Retribusi dirinci menjadi: i) retribusi jalan umum, ii) retribusi
jasa usaha, iii) retribusi perijinan tertentu.

2. Dana perimbangan
Dana perimbangan terdiri atas:
a. Bagian daerah dari penerimaan pajak pengahsilan
perseorangan, pajak bumi dan bangunan, bea perolehan hak
atas tanah dan bangunan, dan penerimaan dari sumber daya
alam (SDM),
b. Dana alokasi umum, dan
c. Dana alokasi khusus.

3. Pinjaman daerah

Pengelolaan Keuangan Negara dan Daerah 19


Berdasarkan UU no 33 tahun 2004 pemerintah daerah dapat melakukan
pinjaman dari sumber dalam negeri atau sumber luar negeri dengan persetujuan
pemerintah pusat untuk membiayai sebagian anggarannya. Pinjaman dalam negeri
dapat bersumber dari pemerintah pusat dan atau lembaga komersial, atau dengan
penerbitan obligasi daerah. Sedangkan pinjaman luar negeri dimungkinkan
dilakukan daerah, namun mekanismenya harus melalui pemerintah pusat. Untuk
mengetahui syarat-syarat yang diperlukan bagi daerah yang bermaksud
melakukan pinjaman daearah dapat membaca peraturan paemerintah no 54 tahun
2005 tentang pinjaman daerah.
Pinjaman daerah hendaknya hanya bersifat pelengkap dan dipergunakan
untuk membiayai kegiatan-kegiatan yang bersifat produktif sehingga tidak
membiayai rakyat dikemudian hari.

4. Lain-lain penerimaan yang syah


Penerimaan daerah dari lain-lain pendapatan daerah yang syah relatif sulit
diprediksi besarannya mengingat adanya faktor ketidakpastian seperti misalnya
pendapatan yang berasal dari hibah, hadiah bunga tabungan, dan bagian laba dari
perusahaan daerah.
Dalam pengelolaannya, penerimaan daerah harus dilakukan secara cermat,
tepat dan hati-hati. Pemerintah daerah hendaknya dapat menjamin bahwa semua
potensi penerimaan telah terkumpul dan dicatat ke dalam sistem akuntansi
pemerintah daerah. Selain itu, perlu dilakukan penyederhanaan prosedur
administrasi dan dalam waktu yang bersamaan ditingkatkan prosedur
pengendaliannya. Penyederhanaan prosedur administrasi ini dimaksudkan untuk
memberi kemudahan bagi masyarakat pembayar pajak dan distribusi daerah
sehingga diharapkan dapat meningkatkan kepatuhan membayar pajak. Sementara
itu, peningkatan prosedur pengendalian dimaksudkan untuk pengendalian intern
pemerintah daerh agar terpenuhi prinsip stewardship dan accountability.

2. Sumber Belanja Pemerintah Daerah dan Pengelolaannya


a. Belanja Tidak Langsung
Merupakan belanja yang tidak dipengaruhi oleh ada atau tidaknya
program atau kegiatan seperti: belanja pegawai yang bersifat mengikat,
belanja bunga, belanja subsidi, belanja hibah, belanja bantuan sosial,
belanja bagi hasil, belanja bantuan keuangan, dan belanja tidak terduga.

b. Belanja Langsung
Merupakan belanja yang dipengaruhi oleh adanya program atau
kegiatan seperti: belanja pegawai (berupa honorarium, upah, uang lembur),
belanja barang dan jasa, dan belanja modal.
Dalam pengelolaan belanja daerah mencakup perencanaan dan
pengendalian belanja daerah. Pengendalian dan perencanaan dalam perspektif
umum merupakan dua sisi dari mata uang yang sama, sehingga meskipun
keduanya mempunyai pengertian dan fungsi yang berbeda tetapi merupakan satu
kesatuan yang saling terkait dan tidak terpisahkan. Perencanaan dan pengendalian
dapat dilihat dari serangkaian aktivitas pengelolaan yang berkesinambungan
sehingga membentk suatu siklus. Siklus tersebut dapat digambarkan seperti di
bawah ini :
Siklus Perencanaan Dan Pengendalian Belanja Daerah

Revisi perencanaan operasional

Revisi anggaran

Aksi

Pengelolaan Keuangan Negara dan Daerah 21


1) Perencanaan tujuan dasar dan sasaran

Siklus perencanaan dan pengendalian dimulai dengan tahapan aktivitas


perncanaan tujuan dasar dan sasaran. Pemerintah daerah pada umumnya
menetapkan tujuan dasar dalam rumusan yang luas dan jangika panjang,
yaitu berkaitan dengan pemenuhan kebutuhan dan peningkatan
kesejahteraan masyarakat. Sedangkan sasaran dirumuskan dalam format
yang lebih focus dan mengarah pada bidang-bidang pemerintahan dan
masyarakat, seperti kesehatan, pendidikan, dan pembangunan
infrastruktur.

Tujuan dan sasaran merupakan hal yang penting yang harus ditetapkan
terlebih dahulu sebagai perencanaan strategic dan fungsinya sebagai
pedoman untuk menyusun perencanaan yang bersifat teknis untuk
mencapainya (perencanaan operasional).

2) Perencanaan operasional

Perencanaan operasional pada dasarnya merupakan penjabaran operasional


dari tujuan dasar dan sasara yang telah ditetapkan dalam perencanaan
strategic/RPJMD untuk pemerintah daerah atau Renstra Unit KErja untuk
organisasi perangkat daerah. Perencanaan operasional pada umumnya
berupa program dan perencanaan yang akan dilaksanakan berikut target-
target kinerja yang akan dicapai. Perencanaan operasional memuat
alternatif program dan kegiatan dan dipertimbangkan dan cara-cara untuk
mencapia tujuan dasar dan sasaran yang diinginkan.

3) Penganggaran

Penganggaran pada organisasi pemerintahan daerah, merupakan tahapan


aktivitas yang mempunyai arti dan peran penting dalam siklus perencanaan
dan pengendalian. Penganggaran adalah proses untuk mempersiapkan
suatu anggaran yang berisi pernyataan dalam bentuk satuan mata uang
yang merupakan reflex dan aktivitas dan target kinerja yang hendak
dicapai selama periode satu tahun. Pada dasarnya penganggaran
merupakan suatu proses penentuan jumalh alokasi sumber-sumber daya
ekonomi untuk setiap program dan aktivitas dalam bentuk satuan uang.
Tahap penganggaran sangat penting karena anggaran yang tidak efektif
dan berorientasi pada kinerja akan dapat menggagalkan perencanaan yang
telah ditetapkan. Anggaran merupakan managerial plan for action untuk
memfasilitasi trcapainya tujuan organisasi.

4) Pengendalian dan pengukuran

Salah satu fungsi penganggaran adalah sebagai alat untuk mengukur


efisiendsi dan efektivitas suatu organisasi yang menunjukkan hubungan
input dan atau output. Input dinyatakan dalam bentuk pengeluaran atau
belanja yang menunjukkan batas maksimum jumlah uang yang telah
diperkenankan untuk dikeluarkan pada setiap tingkat kegiatan yang akan
dilaksanakan. Pengendalian dilakukan dengan cara membandingkan antara
anggaran dengan realisasinya.

5) Pelaporan, analisis dan umpan balik

Tahapan berikutnya salam siklus perencanaan dan pengendalian terdiri


atas: pelaopran, analisis dan umpan balik. Penyusunan laporan memuat
jumlah pendapatan dan belanja yang diangarkan dan realisasinya, serta
selisih atau perbedaan antara yang direncanakan dengan yang
direalisaikan. Selisih tersebut selanjutnya dianalisis untuk mengetahui alas
an atau penyebab terjabinya selisih atau perbedaan tersebut. Hasil analisis
selisih menjadi dasar untuk memberikan alternative umpan bali (feedback)
untuk tahapan-tahapan aktivitas sebelumnyadalam siklus perencanaan dan
pengendalian, meliputi revisi perencanaan opersional, revisi anggaran, dan
atau aksi. Umpan balik dapat berupa revisi atau modifikasi terhadap tujuan
dasar dan sasaran.

Pengelolaan Keuangan Negara dan Daerah 23


3. Prinsip-Prinsip Penyususunan Anggaran Pendapatan Dan Belanja Daerah
Menurut world Bank dalam Mardiasmo menyatakan bahwa prinsip-prinsip
penganggaran dan manajemen keuangan aerah antara lain sebagai berikut:
1. Komprehensif dan disiplin
Maksudnya anggaran harus disusun dengan menggunakan pendekatan yang
holistik dalam mendiagnosa masalah yang dihadapi, analisis keterkaitan antar
masalah yang mungkin muncul, evaluasi kapasitas kelembagaan yang
dipunyai, dan mencari cara-cara terbaik untuk memecahkannya.
2. Fleksibilitas
Sampai tingkat tertentu, pemerintah daerah harus diberi keleluasaan yang
memadai sesuai dengan ketersediaan informasi-informasi yang relevan yang
dimilikinya. Arahan dari pusat memang harus ada tetapi harus ditetapkan
secara hati-hati, dalam arti tidak sampai mematikan inisiatif dan prakarsa
daerah.
3. Terprediksi
Kebijakan yang terprediksi adalah faktor yang penting dalam peningkatan
kualitas implementasi anggaran daeah. Sebaliknya, bila kebijakan sering
berubah-ubah maka daerah akan menghadapi ketidakpastian (uncertainty)
yang sangat besar hingga prinsip efisiensi dan efektivitas pelaksanaan suatu
program yang didanai oleh anggaran daerag cenderung terabaikan.
4. Kejujuran
Kejujuran tidak hanya menyangkut moral dan etika manusianya tetapi juga
menyangkut bias proyeksi penerimaan dan pengeluaran. Sumber bias yang
memunculkan ketidakjujuran ini dapat berasal dari aspek teksin dan politis.
Proyeksi yang teralalu optimis akan mengurangi kendala anggaran sehingga
memnungkinkan munculnya inefisiensi dan inefektivitas pelaksanaan
kebijakan-kebijakan yang sangat diprioritaskan.
5. Informasi
Informasi adalah basis kejujuran dan proses pengambilan keputusan yang
baik. Karenanya, pelaporan yang teratur tentang biaya, output, dan dampak
suatu kebijakan adalah sangat penting.
6. Transparansi dan akuntabilitas
Transparansi masyarakat bahwa perumusan kebijakan memiliki pengetahuan
tentang permasalahan dan informasi yang relevan sebelum kebijakan
dijalankan. Akuntabilitas mensyaratkan bahwa pengambilan keputusan
berperilaku sesuai dengan mandat yang diterimanya. Untuk ini, perumusan
kebijakan, bersama-sama dengan cara dan hasil kebijakan tersebut harus
dapat diakses dan dikomunikasikan secara vertikal maupun horizontal dengan
baik.

4. Fungsi Utama Anggaran Daerah


a. Anggaran sebagai alat perencanaan (planning tool)
Anggaran daerah merupakan alat perencanaan menejemen pemerintah
daerah untuk mencapai tujuan organisasi. Anggaran daerah dibuat untuk
merencanakan tindakan apa yang akan dilakukan oleh pemerintah, berapa
biaya yang dibutuhkan, dan erapa hasil yang akan diperoleh serta siapa
yang akan menikmat dari belanja pemerintah daerah tersebut.
Anggaran daerah sebagai aklat perencanaan digunakan untuk:
 merumuskan tujuan serta sasaran kebijakan agar sesuai
dengan visi dan misi daerah yang telah ditetapkan.
 Merencanakan berbagai program dan kegiatan untuk
mencapai tujuan orgasisasi serta merencanakan alternative
sumber pembiayaannya.
 Mengalokasikan dana pada berbagai program dan kegiatan
yang telah disusun,
 Menentukan indicator kinerja dan tingkat pencapaian
strategi.
b. Anggaran daerah sebagai alat pengendalian (control tool)
Anggaran daerah merupakan suatu alat yang esensial untuk

Pengelolaan Keuangan Negara dan Daerah 25


menghubungkan antara proses perencanaan dan proses pengendalian.
Sebagai alat pengendalian, anggaran daerah memberikan rencana detail
atas penerimaan dan pengeluaran pemerintah daerah agar pembelanjaan
yang dilakukan dapat dipertanggungjawabkan kepada public.
Anggaran sebagai instrument pengendalian digunakan untuk menghindari
adanya overspending, underspendig dan salah sasaran (misapropriaton)
dalam pengealokasina anggaran pada bidang lain yang bukan merupakan
prioritas. Anggaran merupakan alat untuk memonitor kondisi keuangan
dan pelaksanaan operasional program atau kegiatan pemerintah. Sebagai
alat pengendalian manajerial, anggaran daerah digunakan untuk
meyakinkan bahwa pemerintah daerah mempunyai uang yang cukup untuk
memenuhi kewajibannya. Selain itu, anggaran daerah digunakan untuk
memberikan informasi dan meyakinkan legislative daerah bahwa
pemerintah daerah telah bekerja secara efisien, tanpa ada korupsi dan
pemborosan.
c. Anggaaran daerah sebagai alat kebijakan fiscal (fiscal tool)
Anggaran daerah sebagai alat kebijakan fiscal pemerintah daerah
digunakan untuk menstabilkan perekomonian dan mendorong
pertumbuhan ekonomi daerah. Anggaran dapat digunakan untuk
mendorong, memfasilitasi dan mengkoordinasikan kegiatan ekonomi
masyarakat sehingga dapat mempercepat pertumbuhan ekonomi.
d. Anggaran daerah sebagai alat politik (political tool)
Anggaran daerah digunakan untuk memutuskan prioritas-prioritas dan
kebutuhan keuangan terhadap prioritas tersebut. Dalam perspektif politik,
anggaran daerah merupakan political tool sebagai bentuk komitmen
eksekutif darah dengan legislative darah atas penggunaan dana public.
Pihak yang mengelola keuangan daerah membutuhkan political skill,
coalition building, keahlian bernegosiasi, dan pemahaman tentang prinsip
manajemen keuangan public.
e. Anggaran daerah sebagai alat komunikasi dan kordinasi (communication
dan coordination tool)
Anggaran daerah merupakan alat koordinsai antar bagian dalam
pemerintahan daerah. Anggaran daerah yang disusun dengan baik akan
mampu mendeteksi terjadinya inkoneksi suatu unit kerja dalam pencapaian
tujuan organisasi. Di samping itu, anggaran daerah juga berfungsi sebagai
alat komunikasi antar unit kerja dalam lingkungan legislative. Anggaran
hasur dikomunikasikan ke seluruh bagian organisasi untuk dilaksanakan.
f. Anggaran daerah sebagai alat penilaian kinerja (performance
measurement tool)
Anggaran daerah merupakan wujud komitmen dari budget holder
(pemegang kekuasaan anggaran daerah) kepada pemberi wewenang yaitu
masyarakat yang telah memilihnya serta lembaga legislative daerah
sebagai wakil rakyat. Kinerja kepada daerah beserta jajarannya dinilai
berdasarkan pencapaian target anggaran dengan anggaran yang telah
ditetapkan.
g. Anggaran daerah sebagai alat motivasi (motivation tool)
Anggaran daerah dapat digunakan sebagai alat untuk memotivasi kepala
unit kerja pemerintah daerah dan stafnya agar bekerja secara ekonomis,
efisien, dan efektif dalam mencapai target dan tujuan organisasi yang telah
ditetapkan. Agar dapat memotivasi pegawai, anggaran daerah hendaknya
bersifat callencing but attainable atau demanding but acheveable.
Maksudnya adalah target anggaran hendaknya jangan terlalu tinggi
sehingga tidak dapat dipenuhi, namun juga jangan terlalu rendah sehingga
terlalu mudah untuk dicapai.

5. Siklus Anggaran Daerah


Menurut Sadu Wasistiono 2010:24 menyatakan bahwa Prinsip-prinsip
pengelolaan keuangan daerah yang dijelaskan di atas harus diterapkan pada setiap
siklus anggaran daerah. Hal ini perlu dilakukan agar anggaran daerah benar-benar
dapat menjadi instrumen pencapaian visi dan misi kepala daerah pada saat
kampanye pemilihan kepala daerah. Siklus anggaran daerah akan meliputi empat
tahap, yaitu:

Pengelolaan Keuangan Negara dan Daerah 27


1. Perencanaan anggaran
Tahap perencanaan anggaran adalah suatu tahapan dimana berbagai aktivitas
dalam rangka penyusunan anggaran daerah (RAPBD) dilakukan. Untuk dapat
menyusun RAPBD yang aspiratif/akomodatif terhadap harapan masyarakat,
realistis dlam arti dapat dilaksanakan berdasarkan sumber daya yang tersedia
guna memecahkan masalah kekinian (saat ini) dan antisipatif dalam arti
memiliki kontribusi yang besar terhadap pemecahan masalah yang bakal
timbul (mencegah timbulnya masalah) perlu dilakukan analisis terhadap
berbagai hal yang didasarkan atas sejumlah asumsi.
2. Pembahasan dan penetapan anggaran
Tahap pembahasan anggaran dilakukan oleh DPRD untuk mengkaji 1)
apakah program/kegiatan yang terdapat dalam RAPBD yang diusulkan telah
sesuai dengan kebijakan umum APBD yang telah disepakati bersama antar
kepala daerah dengan DPRD pada tahapan awal penyusunan RAPBD, 2)
apakah program dan kegiatanyang tertuang dalam RAPBD benar-benar
merupakan program dan kegiatan yang strategis dan merupakan prioritas
sebagaimana tredapat dalam nota kesepakatan tentang prioritas dan plafon
anggaran sementara antara kepala daerah dan DPRD, 3)apaka alokasi
anggaran untuk setiap program/kegiatan sudah memenuhi prinsip ekonomis,
efisiensi dan efektivitas, 4) apakah proses penyusunan RAPBD tersebut telah
dilakukan sesuai dengan prosedur yang berlaku dan tidak bertentangan
dengan peraturan perundang-undangan serta tidak berdampak negatif
terhadap perkembangan perekonomian secara nasoinal.
Hal lain yang perlu diperhatikan sebelum pembahasan dilakukan
adalah bahwa rincian proses penganggaran dapat berbeda-beda baik antara
pemerintah daerah maupun dalam unit-unit yang ada pada pemerintahan
daerah, setiap generalisasi dapat membahayakan. Selain itu, hal lain yang
perlu diperhatikan oleh kepala daerah pada tahapan yang bisa disebut a
comlicative political process ini adalah kemampuan untuk menjawab dan
memberikan argumentasi yanga rasional dan ilmiah atas segala pertanyaan-
pertanyaan dan bantahan-bantahan dari pihak legislatif.
3. Pelaksanaan anggaran
Tahap ini dilakukan oleh kepala daerah dan perangkatnya setelah APBD dan
peraturan pemerintah daerah tentang pelaksanaan APBD dievaluasi oleh
gubernur untuk daerah kabupaten/kota dan oleh mendagri untuk daerah
provinsi. Hasil evalusi tersebut kepala daerah mensyahkan RAPBD menjadi
APBD. Untuk pelaksanaan anggaran pendapatan, kepala daerah berpegang
pada target pendapatan yang akan dicapai dan untuk melaksanakan anggaran
belanja daerah berpegang pada target kinerja yang akan dicapai atas alokasi
anggaran yang telah ditentukan dalam APBD tersebut. Dalam pelaksanaan
aggaran ini faktor pengendalian tidak kalah penting utnuk diperhatikan. Hal
penting yang harus diperhatikan adalah dimilikinya sistem informasi
akuntansi dan sistem pengendalian manajemen. Dengan sistem akuntansi
yang memadai diharapkan diharapkan akan terciptanya sistem pengendalian
yang mumpini atas pelaksanaan anggaran yang telah disepakati, dan bahkan
dapat diandalkan untuk tahap penyusunan anggaran periode berikutnya.
Apabila sistem akuntansi dan sistem pengendalian manajemen dapat
mendisiplinkan tahapan implementasi, maka secara otomatis tahap pelaporan
dan evaluasi anggaran tidak akan menghadapi banyak masalah karena akan
menjamin dihasilkannya laporan keuangan yang dapat dipertangungjawabkan
secara tepat waktu sehingga kegiatan evaluasi pun akan mudah untuk
dilaksanakan.
4. Pertanggungjawaban pelaksanaan anggaran
Tahap ini merupakan tahap akhir dari siklus anggaran daerah. Tahap ini
dimulai dengan kegiatan pelaporan dari setiap pengguna anggaran atas
realisaisi pendapatan, belanja berikut target kinerja yang dicapainya. Laporan
tersebut disampaikan kepada kepala daerah secara berkala melalui kepala
badan pengelola keuangan daerah untuk selanjutnya dievaluasi dan menjadi
bahan penyusunan pertanggungjawaban kepala daerah atas pelaksanaan
anggran yang menjadi tanggung jawabnya.
Menurut UU No 32 tahun 2004 setidaknya ada 3 jenis pertanggung jawaban
yang harus disampaikan oleh kepala daeah yaitu:

Pengelolaan Keuangan Negara dan Daerah 29


1. laporan keteangan pertanggung jawaban kepala daerah (LKPJ)
kepada DPRD
2. laporan penyelenggaran pemerintahan daerah (LPPD) kepada
pemerintah pusat, dan
3. informasi penyelenggaraan pemerintahan daerah (IPPD) kepada
masyarakat.

6. Perubahan Pendekatan Penganggaran


Sistem penganggaran di lingkungan organisasi pemerintahan dalam
perkembangannya telah menjadi instrumen multifungsi yang digunakan sebagai
alat untuk mencapai tujuan organisasi. Hal tersebut tercermin pada komposisi dan
besarnya anggaran yang secara langsung merefleksikan arah dan tujuan pelayanan
dasar masyarakat sebagai dasar konsekuensi dari pelaksanaan urusan wajib dan
peningkatan daya saing sebagai konsekuensi dari pelaksanaan urusan pilihan.
Sebagai sebuah sistem, perencanaan anggaran daerah telah mengalami
banyak perkembangan. Sistem perencanaan anggaran daerah berkembang dan
berubah sesuai dinamika perkembngan manajemen pemerintahan daerah dan
berkembangnya tuntutan yang muncul dari masyarakat. Menurut Sadu Wasistiono
2010:50 terdapat dua pendekatan penganggaran utama yang memiliki perbedan
mendasar, yaitu (a) Anggaran Tradisional atau Traditional Budget; dan (b)
Anggaran Berbasis Kinerja atau Performance Budget.
Perbedaan Anggaran Tradisional Dan Anngaran Kinerja
ANGGARAN TRADISIONAL ANGGARAN KINERJA
1. Sentralistis 1. desentralistis
2. Berorientasi pada input 2. Berorientasi pada output dan
outcome
3. Tidak terkait dengan 3. Utuh dan komprehensif
perencanaan jangka panjang dengan perencanaan jangka
panjang
4. Line-item dan bersifat 4. berdasarkan sasaran kinerja
incremental
5. Fragmented 5. Komprehensif
6. Ciri lainnya: 6. Ciri lainnya:
Prinsip anggaran bruto Sistematik dan rasional
Bersifat tahunan Bottom-up budgeting
Spesifik Spesifik

7. Pengawasan Keuangan Daerah


Pengawasan merupakan seperangkat kegiatan atau tindakan untuk
menjamin agar penyelenggaraan suatu kegiatan tidak menyimpang dari tujuan
serta rencana yang telah ditetapkan. (Sadu wasistiono, 2010:128). Jadi,
pengawasan merupakan suatu usaha untuk memperoleh kepastian apakah suatu
pelaksanaan pekerjaan atau kegiatan tidak menyimpang dari rencana, aturan-
aturan dan tujuan yang telah ditetapkan.
Menurut Revrisond Baswir : 2000 dalam Sadu Wasistono mengemukakan
bahwa pengawasan keuangan daerah adalah segala tindakan untuk menjamin agar
pengelolaan keuangan daerah berjalan sesuai dengan tujuan, rencana dan aturan-
aturan yang telah digariskan. Yang menjadi objek dalam pengawasan keuangan
daerah adalah anggaran daerah (APBD) maka pengertian keuangan derah dapat
dilihat dari struktur anggaran dapat dinyatakan sebagai tindakan untuk menjamin
agar pengumpulan penerimaan-penerimaan daerah dan pengeluaran-pengeluaran
daerah tidak menyimpang dari rencana yang telah ditetapkan dalam anggaran
(APBD).
Tujuan pengawasan keuangan daerah adalah:
a. Untuk menjamin agar anggran (APBD) yang telah disusun benar-benar
dapat dijalankan,
b. Untuk menjamin agar kegiatan pengumpulan penerimaan dan pengeluaran
daerah sesuai dengan anggaran yang telah ditetapkan,
c. Untuk menjamin agar pelaksanaan APBD benar-benar dapat
dipertanggungjawabkan.
Jenis-jenis pengawasan keuangan daerah dapat dibedakan berdasarkan
objek, sifat, ruang lingkup dan berdasarkan metode pengawasannya.

Pengelolaan Keuangan Negara dan Daerah 31


Objek Penerimaan Non
Pajak
pajak

Pengeluaran

Preventif

Sifat Dari jauh

Detektif

Dari dekat
Pengawasan

Sempit

Intern

Luas
Lingkup

Ekstern

Melekat

Metode

Fungsional
1. Pengawasan berdasarkan Objek

Sesuai dengan struktur APBD, berdasarkan objeknya, pengawasan


keuangan daerah dapat digolongkan menjadi:

• Pengawasan terhadap penerimaan-penerimaan daerah

Meliputi penerimaan yang bersumber dari pendapatan asli daerah


(PAD), dana perimbangan antara pemerintah pusat dan daerah, serta
dari-dari penerimaan daerah yang lain.

Pengawasan ini dilakukan dengan membandingkan antara target


penerimaan daerah yang tercantum dalam APBD dengan realisasi
penerimaannya. Jumlah penerimaan daerah merupakan batas minimal
yang dicapai sehingga dalam menetapkannya khususnya yang berasal
dari PAD, tim anggaran seringkali menetapkan target yang aman
yakni target penerimaan dibawah potensi PAD yang sesungguhnya.

• Pengawasan terhadap pengeluaran-pengeluaran daerah

Meliputi pengeluaran daerah yang bersifat tidak langsung seperti


belanja pegawai, belanja bunga, belanja subsidi, belanja bantuan
sosial, belanja bantuan keuangan,dll. Maupun pengeluaran daerah
yang bersifat langsung seperti belanja pegawai, belanja barang dan

Pengelolaan Keuangan Negara dan Daerah 33


jasa dan belanja modal

Pengawasan terhadap pengeluaran daerah lebih kompleks dibanding


daripada pengawasan terhadap penerimaan daerah. Hal ini karena
pengawasan dan pengeluaran daerah tidak hanya dilakukan pada
waktu kegiatan/sedang berjalan atau sesudah berlangsungnya kegiatan
tetapi juga dilakukan pada waktu sebelum dilakukan kegiatan.

2. Pengawasan menurut sifatnya

Menurut sifatnya, pengawasan keuangan daerah dapat dikelompokkan


menjadi:

• Pengawasan preventif

Merupakan pengawasan yang dilakukan sebelum dimulainya


pelaksanaan suatu kegiatan atau sebelum terjadinya pengeluaran
keuangan. Pengawasan ini dilakukan untuk mencegah terjadinya
penyimpangan-penyimpangan dalam pelaksanaan kegiatan, membri
pedoman bagi terselenggaranya pelaksanaan kegiatan secara efektif
dan efisien, menentukan sasaran dan tujuan yang akan dicapai serta
menentukan kewenangan dan tanggung jawab kepada unit kerja
pemerintah daerah sehubungan dengan tugas yang harus dilaksanakan.

• Pengawasan detektif

Merupakan suatu bentuk pengawasan yang dilakukan dengan meneliti


dan mengevaluasi dokumen-dokumen laporan pertanggung-jawaban
bendaharawan. Pengawasan ini dilakukan setelah dilakukannya
tindakan yaitu dengan membandingkan antara hal yang telah terjadi
dengan hal yang seharusnya terjadi.

Pengawasan detektif dibedakan menjadi dua, yaitu:


a) Pengawasan jauh adalah pengawasan yang
dilakukan dengan cara menguji dan meneliti
laporan pertanggung jawaban bendaharawan
beserta bukti-bukti pendukungnya.
Pengawasan ini bersifat pasif karena
pengawasan tidak berhubungan secara
langsung dengan objek yang diperiksa.

b) Pengawasan dari dekat adalah pengawasan


yang dilakukan di tempat berlangsungnya
pekerjaan atau di tempat diselenggarakannya
kegiatan administrasi.

3. Pengawasan menurut ruang lingkupnya

Berdasarkan ruang lingkupnya, pengawasan keuangan daerah dapat


dibedakan menjadi:

• Pengawasan internal

Merupakan pengawasan yang dilakukan oleh aparat pengawasan yang


berasal dari lingkungan internal organisasi pemerintah. Pengawasan
ini dibedakan menjadi

a) pengawasan internal dalam arti sempit adalah


pengawasan internal yang dilakukan oleh
aparat fungsional/pengawas inspektorat dari
lingkungan internal pemerintah daerah sendiri .
dalam hal ini baik aparat pengawas maupun
pihak ang diawasi sama-sama bernaung
dibawah kepala daerah.

b) pengawasan internal dalam arti luas adalah

Pengelolaan Keuangan Negara dan Daerah 35


pengawasan internal yang dilakukan oleh
aparat pengawasan yang berasal dari lembaga
khusus pengawasan yang dibentuk secara
internal oleh pemerintah adatu lembaga
eksekutif.

• Pengawasan eksternal

Merupakan suatu bentuk pengawasan yang dilakukan oleh suatu unit


pengawasan yang sama sekali berasal dari luar lingkungan organisasi
pemerintah. Sehingga antara pengawas dengan pihak yang diawasi
tidak lagi terdapat hubungan kedinasan.

4. Pengawasan menurut metodenya

Menurut metodenya, pengawasan keuangan daerah dapat dibedakan


menjadi:

• Pengawasan melekat/ sistem pengendalian manajemen

Merupakan pengawasan yang dilakukan oleh pemimpin atau atasan


langsung suatu organisasi atau unit kerja terhadap bawahan dengan
tujuan untuk mengetahui atau menliai apakah [program kerja yang
ditetapkan telah dilaksanakan sesuai dengan ketentuan dan perundang-
undangan yang berlaku.

• Pengawasan fungsional

Merupakan pengawasn yang dilakukan oleh aparat pengawasan


fungsional baik yang berasal dari lingkungan internal pemerintah
daerah maupun yang berasal dari lingkungan eksternal pemerintah
daerah.
8. Mekanisme Penyusunan APBD
Mekanisme penyusunan APBD terdiri dari serangkaian tahap aktivitas
sebagai berikut:
1. penyusunan arah dan kebijakan umum APBD
2. penyusunan prioritas dan plafon anggaran sementara,
3. penyusunan rencana program dan kegiatan,
4. penerbitan surat edaran,
5. penyusunan pernyataan anggran atau rencana kerja dan anggarn satuan
kerja perangkat daerah (RKA-SKPD),
6. penyusunan rancangan APBD.

Pengelolaan Keuangan Negara dan Daerah 37


TIM AHLI
PEMDA DPRD
TIM AHLI

TIM ANGGARAN EKSKEKUTIF PANITIA Adhok

MASYARAKAT
Forum Profesi,
Tokoh Masyarakat, LSM,Ormas,Asosiasi Warga Perguruan Tinggi dll

-Juklah dan Juknis


-Platon Anggaran
-Tolak ukur unit kerja
-Formulir RKA-SKPD
-ASB dan Standar Mekanisme
Biaya penyusunan APBD ini dapat diilustrasikan
sebagai
UNIT KERJA
berikut :

PANITIA ANGGARAN LEGISLATIF


9. Sistem Akuntansi Pemerintah Daerah

Reformasi politik di Indonesia telah mengubah sistem kehidupan negara.


Selain dipenuhi dengan tuntutan untuk menciptakan good governance yang
terbebas dari tindakan Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme, penciptaan sistem
pemerintahan yang lebih berimbang di antara eksekutif, judikatif, dan legislatif.
Partisipasi itu mewujud dalam tuntutan akan Akuntabilitas Publik dan Otonomi
Daerah. Undang-undang Nomor 22 Tahun 1999 tentang Otonomi Daerah dan
Undang-undang Nomor 25 Tahun 1999 tentang Perimbangan Keuangan Pusat dan
Daerah adalah 2 (dua) undang-undang yang berupaya mewujudkan otonomi
daerah yang lebih luas. Sebagai penjabaran otonomi tersebut di bidang
administrasi keuangan daerah, berbagai peraturan perundangan yang lebih
operasional pun telah dikeluarkan. Beberapa peraturan yang relevan disebut di sini
adalah sebagai berikut:
• Peraturan Pemerintah Nomor 104 Tahun 2000 tentang Dana
Perimbangan
• Peraturan Pemerintah Nomor 105 Tahun 2000 tentang Pengelolaan
dan Pertanggungjawaban Keuangan Daerah
• Peraturan Pemerintah Nomor 106 Tahun 2000 tentang Pengelolaan
dan Pertanggungjawaban Keuangan Daerah dalam rangka
Pelaksanaan Dekonsentrasi dan Tugas Pembantuan dan Peraturan
Pemerintah Nomor 107 Tahun 2000 tentang Pinjaman Daerah.
Peraturan Pemerintah Nomor 108 Tahun 2000 tentang Tatacara
Pertanggungjawaban Kepala Daerah.

Pengelolaan Keuangan Negara dan Daerah 39


• Peraturan Pemerintah Nomor 109 Tahun 2000 tentang Kedudukan
Keuangan Daerah,
• Peraturan Pemerintah Nomor 110 Tahun 2000 tentang Kedudukan
Keuangan DPRD.
Arti penting akuntabilitas dalam good governance ini tampaknya sudah
sangat disadari sebagaimana terlihat dari aturan yang dituangkan dalam peraturan
pemerintah tersebut diatas. Laporan pertanggungjawaban Kepala Daerah pun
tampaknya menjadi sangat strategis, lebih-lebih karena Dewan Perwakilan Rakyat
Daerah yang sudah semakin sadar akan hak konstitusionalnya. Akan tetapi,
penyajian Laporan Pertanggungjawaban kepala daerah yang antara lain berisikan
Neraca, Laporan Perhitungan Anggaran dan Laporan Arus Kas masih sangat sulit
disusun.
Sistem akuntansi keuangan daerah (SAPD) ini disusun dengan tujuan
sebagai berikut:
• Menyediakan bagi pemerintah daerah suatu pedoman akuntansi
yang diharapkan dapat diterapkan bagi pencatatan transaksi
keuangan pemerintah daerah yang berlaku dewasa ini, terutama
dengan diberlakukannya otonomi daerah yang baru.
• Menyediakan bagi pemerintah suatu pedoman akuntansi yang
dilengkapi dengan klasifikasi rekening dan prosedur pencatatan
serta jurnal standar yang telah disesuaikan dengan siklus kegiatan
pemerintah daerah yang mencakup penganggaran, perbendaharaan,
dan pelaporannya
Pedoman ini memerlukan penyempurnaan secara terus menerus sesuai
kebutuhan penyelenggaraan pemerintahan dan pembangunan yang baik.
SAPD tentunya memiliki pedoman dalam penyusunannya. Sistematika
pedoman penyusunan SAPD ini adalah sebagai berikut :
BUKU 1 Pendahuluan
BAB I. Laporan Pertanggungjawaban Keuangan
BAB II. Kebijakan Umum
BAB III. Bagan Perkiraan Standar
BAB IV. Jurnal Standar

BUKU 2 POS POS NERACA


BAB I. Pedoman Akuntansi Aset Lancar
BAB II. Pedoman Akuntansi Investasi Permanen
BAB III. Pedoman Akuntansi Aktiva Tetap
BAB IV. Pedoman Akuntansi Aktiva Lainnya
BAB V. Pedoman Akuntansi Kewajiban Jangka Pendek
BAB VI. Pedoman Akuntansi Kewajiban Jangka Panjang
BAB VII. Pedoman Akuntansi Ekuitas Dana
BUKU 3 POS POS PERHITUNGAN ANGGARAN
BAB I. Pedoman Akuntansi APBD
BAB II. Pedoman Akuntansi Pendapatan
BAB III. Pedoman Akuntansi Belanja
BAB IV. Pedoman Akuntansi Bagi Hasil Ke Kab/Kota/Desa
BAB V. Pedoman Akuntansi Dana Cadangan
BAB VI. Pedoman Akuntansi Pembiayaan
BAB VII. Akuntansi Transaksi Non Anggaran

BUKU 4 PROSEDUR AKUNTANSI


BUKU 5 SIMULASI SAPD
Untuk memastikan prosedur penuntasan akuntabilitas (accountability
discharge), perlu ditetapkan entitas pelaporan keuangan untuk menunjukkan
entitas akuntansi yang menjadi pusat-pusat pertanggungjawaban keuangan
pemerintah. Entitas pelaporan keuangan mengacu pada konsep bahwa setiap pusat
pertanggungjawaban harus bertanggungjawab atas pelaksanaan tugasnya sesuai
dengan peraturan. Entitas pelaporan keuangan pemerintah daerah terdiri atas :
a. Pemerintah Daerah secara keseluruhan
b. DPRD, Pemerintah Tingkat Propinsi/Kabupaten/Kota, Dinas pemerintah
tingkat propinsi / kabupaten / kota dan Lembaga Teknis DaerahPropinsi /
Kabupaten / Kota

Pengelolaan Keuangan Negara dan Daerah 41


Penetapan Dinas sebagai entitas akuntansi pemerintah daerah didasarkan
pada pengertian bahwa pengukuran kinerja akan lebih tepat jika dilakukan atas
suatu fungsi. Dalam struktur pemerintah daerah, dinas merupakan suatu unit kerja
yang paling mendekati gambaran suatu fungsi pemerintah daerah.

BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Dari uraian-uraian yanh telah dijelaskan di atas, dapat ditarik kesimpulan
sebagai berikut :
1. Keuangan negara adalah semua hak dan kewajiban negara yang dapat
dinilai dengan uang, serta segala sesuatu baik berupa uang maupun
berupa barang yang dapat dijadikan milik negara berhubung dengan
pelaksanaan hak dan kewajiban tersebut.
2. Bidang pengelolaan keuangan negara dapat dikelompokkan dalam sub
bidang pengelolaan fiskal, sub bidang pengelolaan moneter dan sub
bidang pengelolaan kekayaan negara yang dipisahkan.
3. Teknik penganggaran sektor publik, antara lain teknik anggaran kinerja
(performance budgeting), zero based budgeting ( ZBB ) dan planning,
programming, and budgeting system (PPBS)
4. Sistem akuntansi pemerintah pusat (SAPP) adalah serangkaian
prosedur, baik manual maupun terkomputerisasi, mulai dari
pengumpulan data, pencatatan, pengikhtisaran, sampai dengan
pelaporan posisi keuangan dan operasi keuangan pemerintah pusat.
5. Berdasarkan UU no 33 tahun 2004 tentang perimbangan keuangan
antara pemerintah pusat dan daerah, sumber-sumber penerimaan terdisi
atas: 1) pendapatan Asli Daearah (PAD), 2) dana perimbangan, 3)
Pinjaman daerah, dan 4) lain-lain penerimaan yang syah.
6. Prinsip-prinsip penganggaran dan manajemen keuangan daerah antara
lain komprehensif dan disiplin, fleksibilitas, terprediksi, kejujuran,
informasi, transparansi dan akuntabilitas.
7. Siklus anggaran daerah akan meliputi empat tahap, yaitu perencanaan
anggaran, pembahasan dan penetapan anggaran, pelaksanaan anggaran
dan pertanggungjawaban pelaksanaan anggaran.

8. Tujuan pengawasan keuangan daerah adalah:


a. Untuk menjamin agar anggran (APBD) yang telah disusun benar-benar
dapat dijalankan,
b. Untuk menjamin agar kegiatan pengumpulan penerimaan dan pengeluaran
daerah sesuai dengan anggaran yang telah ditetapkan,
c. Untuk menjamin agar pelaksanaan APBD benar-benar dapat
dipertanggungjawabkan.
9. Mekanisme penyusunan APBD terdiri dari serangkaian tahap aktivitas
sebagai berikut:
a. penyusunan arah dan kebijakan umum APBD
b. penyusunan prioritas dan plafon anggaran sementara,
c. penyusunan rencana program dan kegiatan,
d. penerbitan surat edaran,
e. penyusunan pernyataan anggran atau rencana kerja dan anggarn satuan
kerja perangkat daerah (RKA-SKPD),
f. penyusunan rancangan APBD.
10. Sistem akuntansi keuangan daerah (SAPD) ini disusun dengan tujuan
sebagai berikut:
a. Menyediakan bagi pemerintah daerah suatu pedoman akuntansi yang
diharapkan dapat diterapkan bagi pencatatan transaksi keuangan
pemerintah daerah yang berlaku dewasa ini, terutama dengan

Pengelolaan Keuangan Negara dan Daerah 43


diberlakukannya otonomi daerah yang baru.
b. Menyediakan bagi pemerintah suatu pedoman akuntansi yang dilengkapi
dengan klasifikasi rekening dan prosedur pencatatan serta jurnal standar
yang telah disesuaikan dengan siklus kegiatan pemerintah daerah yang
mencakup penganggaran, perbendaharaan, dan pelaporannya

DAFTAR PUSTAKA

Darise, Nurlan. Akuntansi Keuangan Daerah. 2008. Jakarta : PT. Indeks

pusdiklatwas.bpkp.go.id/filenya/namafile/280/SAKN_1.pdf
www.bookmarks2.com/.../mekanisme-pelaksanaan-belanja-negara-di-dalam-
apbn.html –

http://www.bpkp.go.id/unit/sakd/bk1sakd.pdf

www.bpkp.go.id/unit/sakd/

http://www.bppk.depkeu.go.id/index.php/2008050578/jurnal-akuntansi-
pemerintah/penyusunan-laporan-keuangan-pemerintah-daerah-dalam-
masa-transisi.html

http://syukriy.wordpress.com/2010/01/08/pengendalian-intern-atas-pelaporan-
aset-negara/

http://www.djkn.depkeu.go.id/?
mod=artikel&read=48&PHPSESSID=3c35df386629f404e9c1c453792b8c
fd

http://bataviase.co.id/node/313251
Pengelolaan Keuangan Negara dan Daerah 45