Anda di halaman 1dari 4

KORTEX SEREBRI

-Lesi area 4B
Terjadi kelumpuhan/paralise kontralateral, ditandai dengan :
• Hipertoni
• Hiperefleksi
• Klonus
• Refleks patologis
• Tidak ada atrofi

-Lesi area 4s : gerakan spastis kontralateral.


-Lesi area 6B : terjadi gerakan spastic (kehilangan gerakan keahlian) tanpa terjadi
paralise.
-Lesi daerah motorik suplementer : manusia menghitung dalam hati tanpa bersuara, atau
manusia menyebutkan angka dengan keras sewaktu menghitung.
-Lesi 44B : tidak dapat berbicara karena otot lidah lumpuh walaupun ia dapat berbicara
sendiri. Atau tidak dapat menyebutkan nama benda yang diperlihatkannya.
-Lesi area prefrontal :
• Pembicaraannya mudah berpindah dari satu judul kejudul yang lain tanpa ada
hubungannya.
• Sukar untuk menetapkan perhatiannya pada satu pokok pembicaraan
• Kehilangan memahami ingatan jangka pendek, karena ketidakmampuan otak
untuk mengklasifikasi informasi yang masuk dan membentuk kode (perekaman)
untuk penyimpanan dalam daerah ingatan.
• Selalu bertindak tergesa-gesa.

-Lesi area 3.2.1 B : terjadi penurunan kemampuan sensasi.


-Lesi 5 dan 7B : menyebabkan defek pada kinerja motorik yang ditandai tidak adanya
kemampuan melakukan rangkaian gerakan yang dipelajari, misalnya makan dengan pisau
dan garpu.
-Lesi area 41 dan 42 B : terjadi ketulian/tidak mendengar dan tidak memahami
suara/bunyi yang didengarnya.

-Lesi 20,21,22B : terjadi halusinasi suara/ilusi.


-Lesi area wernicke : mendengar dengan sempurna dan melihat/mengenal berbagai kata,
tetapi tidak mempu menyusun kata-kata.
-Lesi area planum temporale : tidak mampu memvisualisasikan kata-kata dan gambar
(alexia dan agraphia) dan hilang kemampuan mengutarakan maksud diri sendiri dan
apraxia ideomotor.
-Lesi area 17,18,19B : terjadi hemianopsia homonym pada kerusakan unilateral dan
kebutaan pada kerusakan bilateral, serta terjadi hilangnya kemampuan gerakan mata
untuk mengikuti benda yang bergerak ke sisi kontralateral dan kemampuan focus, serta
terjadi agnosia visualis.
-Lesi area gyrus angularis : tidak mampu memvisualisasikan kata-kata dan gambar
(alexia dan agraphia)
-Lesi area 40, 41 dan 42B : hilang kemampuan mengutarakan maksud diri sendiri dan
apraxia ideomotor serta terjadi ketulian/tidak mendengar dan tidak memahami
suara/bunyi yang didengarnya.

BATANG OTAK
Ganglia Basalis
Penyakit ganglia basalis :
- hiperkinetik  korea, atetosis, balismus
- hipokinesia  akinesia, bradikinesia
Korea : gerakan menari involunter dan cepat
Atetosis : gerakan menggeliat terus menerus yang lambat
Balismus : gerakan involunter yang menyentak, lambat, kasar
Akinesia : kesulitan dalam memulai gerakan dan pemurunan gerakan spontan
Bradikinesia : lambatnya gerakan
Ganglia basalis terdapat tiga jalur :
- sistem dopaminergik negostriatum
- sistem kolinergik intrastriatum
- sistem GABA ergik : stritum --- globus palidus dan substansia nigra
Penyakit Huntington : kehilangan GABA ergik dan kolinergik intrastriatum
Penyakit Parkinson : degenerasi sistem dopaminergik nigrostriatum
Pons
- Lesi fascialis (N.VII)
- Lesi traktus piramidalis
Medulla Oblongata
- Lesi hipoglossus (N.XII)
- Lesi traktus piramidalis
Diencephalon
● Lesi thalamus
Sindroma thalamik :
- emosi abnormal (berlebihan)
- sisi homolateral: stimuli ringan sudah sebabkan R/ sangat berlebihan
- sisi kontralateral: sensoris umum berkurang,ambang rangsang nyeri dan suhu
meninggi
Lesi hypothalamus
- Bisa hipothermia/hiperthermia
- Nucl supraopticus sangat sensitif thd tek osmotik darah. Bila tek >> ADH akan
dikeluarkan
- Bl nucl ini rusak akan terjadi Polyuria,polydipsia(Diabetes Insipidus)
- Pubertas precox & hipergonadisme
- Gangguan sistim otonom
- Sham rage (marah hebat)
- Gangguan ritme circadian (sleep-wake)
- Hyperphagia/hipophagiaobesitas/kurus
Lesi subthalamus
Gangguan motorik pd daerah kontralateral yang bersifat involunter, tiba-tiba, sangat
kuat, cepat seperti melempar lengan (hemiballismus)