Anda di halaman 1dari 20

MAKALAH BIOTEKNOLOGI

BIOTEKNOLOGI KEDOKTERAN (PRINSIP-PRINSIP, PERANAN


BIOTEKNOLOGI DALAM KESEJAHTERAAN MANUSIA DAN DAMPAK YANG
DIHASILKAN)

Dosen Pengampuh : Nurul Asikin, S.Pd., M.Pd.

Disusun oleh :

KELOMPOK 2

1. ROBIANSYAH 1703842050
2. KURROTUL AINI 170384205034
3. TIA HUSNA 1703842050
4. ANI SYAHURI 1703842050
5. FANI LESTARI 1703842050

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BIOLOGI


FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS MARITIM RAJA ALI HAJI
TANJUNGPINANG
2019/2020
KATA PENGANTAR
DAFTAR ISI
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Bioteknologi adalah cabang ilmu yang mempelajari pemanfaatan makhluk hidup
(bakteri,fungi, virus, dan lain-lain) maupun produk dari makhluk hidup (enzim, alkohol)
dalam proses produksi untuk menghasilkan barang dan jasa.  Dewasa ini, perkembangan
bioteknologi tidak hanya didasari pada biologi semata, tetapi juga pada ilmu-ilmu
terapan dan murni lain, seperti biokimia, biologi molekular, mikrobiologi,  genetika, dan
lain sebagainya. Dengan kata lain, bioteknologi adalah ilmu terapan yang
menggabungkan berbagai cabang ilmu dalam proses produksi barang dan jasa.
Bioteknologi secara sederhana sudah dikenal oleh manusia sejak ribuan tahun yang
lalu. Di bidang medis, penerapan bioteknologi di masa lalu dibuktikan antara lain dengan
penemuan vaksin, antibiotik, dan insulin walaupun masih dalam jumlah yang terbatas
akibat proses fermentasi yang tidak sempurna. Perubahan signifikan terjadi setelah
penemuan bioreaktor oleh Louis Pasteur. Dengan alat ini, produksi antibiotik maupun
vaksin dapat dilakukan secara massal.
Pada masa ini, bioteknologi berkembang sangat pesat, terutama di negara negara
maju. Kemajuan ini ditandai dengan ditemukannya berbagai macam teknologi
semisal rekayasa genetika, kultur jaringan, DNA rekombinan, pengembangbiakan sel
induk, kloning, dan lain-lain. Teknologi ini memungkinkan kita untuk memperoleh
penyembuhan penyakit-penyakit genetik maupun kronis yang belum dapat disembuhkan,
seperti kanker ataupun AIDS. Penelitian di bidang pengembangan sel induk juga
memungkinkan para penderita stroke ataupun penyakit lain yang mengakibatkan
kehilangan atau kerusakan pada jaringan tubuh dapat sembuh seperti sediakala. Di
bidang pangan, dengan menggunakan teknologi rekayasa genetika, kultur jaringan dan
DNA rekombinan, dapat dihasilkan tanaman dengan sifat dan produk unggul karena
mengandung zat gizi yang lebih jika dibandingkan tanaman biasa, serta juga lebih tahan
terhadap hama maupun tekanan lingkungan.Penerapan bioteknologi di masa ini juga
dapat dijumpai pada pelestarian lingkungan hidup daripolusi. Sebagai contoh, pada
penguraian minyak bumi yang tertumpah ke laut oleh bakteri, dan penguraian zat-zat
yang bersifat toksik (racun) di sungai atau laut dengan menggunakan bakteri jenis baru.
Kemajuan ini ditandai dengan ditemukannya berbagai macam teknologi misalnya
rekayasa genetika, kultur jaringan, rekombinan DNA, pengembangbiakan sel induk,
kloning, dan lain-lain. Teknologi ini memungkinkan kita untuk memperoleh
penyembuhan penyakit-penyakit genetik maupun kronis yang belum dapat disembuhkan,
seperti kanker ataupun AIDS. Mengetahui perkembangan bioteknologi merupakan hal
yang sangat menarik untuk di bahas dan di ketahui terlebih bila kita dapat
mengembangkan suatu bioteknologi dan dapat bermanfaat bagi mahluk lain.

1.2 Rumusan Masalah

1.3 Tujuan Penulisan

1.4 Manfaat Penulisan


BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Pengertian

Bioteknologi adalah cabang ilmu yang mempelajari pemanfaatan makhluk hidup


(bakteri, fungi, virus, dan lain-lain) maupun produk dari makhluk hidup (enzim, alkohol)
dalam proses produksi untuk menghasilkan barang dan jasa. Dewasa ini, perkembangan
bioteknologi tidak hanya didasari pada biologi semata, tetapi juga pada ilmu-ilmu
terapan dan murni lain, seperti biokimia, komputer, biologi molekular, mikrobiologi,
genetika, kimia, matematika, dan lain sebagainya. Dengan kata lain, bioteknologi adalah
ilmu terapan yang menggabungkan berbagai cabang ilmu dalam proses produksi barang
dan jasa.
Bioteknologi secara sederhana sudah dikenal oleh manusia sejak ribuan tahun
yang lalu. Sebagai contoh, di bidang teknologi pangan adalah pembuatan bir, roti,
maupun keju yang sudah dikenal sejak abad ke-19, pemuliaan tanaman untuk
menghasilkan varietas-varietas baru di bidang pertanian, serta pemuliaan dan reproduksi
hewan. Di bidang medis, penerapan bioteknologi pada masa lalu dibuktikan antara lain
dengan penemuan vaksin, antibiotik, dan insulin walaupun masih dalam jumlah yang
terbatas akibat proses fermentasi yang tidak sempurna. Perubahan signifikan terjadi
setelah penemuan bioreaktor oleh Louis Pasteur. Dengan alat ini, produksi antibiotik
maupun vaksin dapat dilakukan secara massal.
Bioteknologi secara sederhana sudah dikenal oleh manusia sejak ribuan tahun
yang lalu. Sebagai contoh, di bidang teknologi pangan adalah pembuatan bir, roti,
maupun keju yang sudah dikenal sejak abad ke-19, pemuliaan tanaman untuk
menghasilkan varietas-varietas baru di bidang pertanian, serta pemuliaan dan reproduksi
hewan. Di bidang medis, penerapan bioteknologi pada masa lalu dibuktikan antara lain
dengan penemuan vaksin, antibiotik, dan insulin walaupun masih dalam jumlah yang
terbatas akibat proses fermentasi yang tidak sempurna. Perubahan signifikan terjadi
setelah penemuan bioreaktor oleh Louis Pasteur. Dengan alat ini, produksi antibiotik
maupun vaksin dapat dilakukan secara massal.
Pada masa ini, bioteknologi berkembang sangat pesat, terutama di negara negara
maju. Kemajuan ini ditandai dengan ditemukannya berbagai macam teknologi semisal
rekayasa genetika, kultur jaringan, DNA rekombinan, pengembangbiakan sel induk,
kloning, dan lain-lain. Teknologi ini memungkinkan kita untuk memperoleh
penyembuhan penyakit-penyakit genetik maupun kronis yang belum dapat disembuhkan,
seperti kanker ataupun AIDS. Penelitian di bidang pengembangan sel induk juga
memungkinkan para penderita stroke ataupun penyakit lain yang mengakibatkan
kehilangan atau kerusakan pada jaringan tubuh dapat sembuh seperti sediakala. Di
bidang pangan, dengan menggunakan teknologi rekayasa genetika, kultur jaringan dan
DNA rekombinan, dapat dihasilkan tanaman dengan sifat dan produk unggul karena
mengandung zat gizi yang lebih jika dibandingkan tanaman biasa, serta juga lebih tahan
terhadap hama maupun tekanan lingkungan. Penerapan bioteknologi pada masa ini juga
dapat dijumpai pada pelestarian lingkungan hidup dari polusi. Sebagai contoh, pada
penguraianminyak bumi yang tertumpah ke laut oleh bakteri, dan penguraian zat-zat
yang bersifat toksik (racun) di sungai atau laut dengan menggunakan bakteri jenis baru.

2.2 Bioteknologi Kedokteran

Bioteknologi memiliki manfaat yang cukup besar di bidang kesehatan antara lain
dengan ditemukannya antibiotic dan vaksin.Antibiotik penisilin yang dihasilkan oleh
jamur Penicillium notatum telah ditemukan oleh Alexander Fleming pada tahun 1929.
Adapun pada tahun 1939 oleh Rene Dubois mengisolasi dua antibiotic gramisidin dan
tirosidin modern yang pertama dan tergolong luas penggunaannya. Penisilin dihasilkan
selama pertumbuhan dan metabolism cendawan tertentu, yaitu Penicillium notatum
danPenicillium Chrysogenum. Senyawa antibiotic yang dihasilkan jamur ini sangat
efektif terhadap bekteri gram positif, khususnya pneumokokus dan beberapa
stafilokokus. Beberapa bakteri gram negative,spiroketa yang merupakanpenyebab sifilis.
Setelah antibiotic penisilin ditemukan, banyak penyakit yang disebabkan oleh
infeksi kuman yang dapat disembuhkan.Namun, beberapa jenis bakteri lain
menghasilkan enzim yang dapat menghambat kerja penisilin sehingga tahan terhadap
penisilin. Akibatnya, beberapa penyakit yang disebabkan oleh bakteri tersebut tidak
dapat sembuh. Kerena itu, para ahli berusaha menemukan obat lain pembasmi bakteri
yang kebal terhadap penisilin. Jenis antibiotic lain yang dihasilkan oleh jamur/cendawan,
antara lain: sefalosporin dan streptomisin.
Sefalosporin merupakan sekelompok antibiotic yang dihasilkan oleh suatu spesies
cendawan laut, Cephalosporium Acremonium. Antibiotik ini aktif tehadap banyak bakteri
gram positif dan negative serta tidak dapat dirusak oleh penisilinase. Yaitu enzim yang
terdapat dalam bakteri yang mampu merusak penisilin. Streptomisin dihasilkan oleh
Streptomyces Griseus, yaitu bakteri tanah yang diisolasikan oleh Walksman dan teman-
temannya. Antibiotikini efektif terhadap banyak bakteri gram positif dan gram negative
yang pathogen dan Mycobacterium Tuberculosis. Oleh karena itu, Streptomisin menjadi
antibiotic untama untuk penderita TBC seebagai komoterapI. Akan tetapi, beberapa
bakteri dapat dengan cepat menjadi resistan dan meningkat toksisitasnya jika
penggunaan antibiotic berlangsung dalam waktu lama. Meskipun demikian, streptomisin
tetap dianggap sebagai obat utama dalam penggobatan tuberculosis.
Sebelum rekayasa genetika dikembangkan untuk memerangi diabetes dilakukan
ekstraksi insulin dari pankreas babi atau lembu. Hal ini akan memakan banyak sekali
biaya dan insulin yang dihasilkan dapat mengakibatkan hipersensitivitas maupun
resistensi. Setelah teknik rekayasa genetika dikembangkan, maka sekarang telah dapat
dibuat insulin manusia oleh bakteri. Ini dilakukan dengan jalan menyematkan gen
pengkode pembentukan insulin manusia pada bakteri. Bioteknologi di bidang kesehatan
dewasa ini difokuskan untuk penemuan obat-obatan dalam hal-hal seperti tersebut di
bawah ini:
 Memerangi penyakit jantung dan saluran darah, kanker dan kencing manis.
 Mendapatkan antibiotika yang lebih baik dan lebih murah untuk melawan
penyebaran mikroorganisme menular yang resisten.
 Menemukan vaksin untuk melawan virus (hepatitis, influenza, rabies) dan
penyakit malaria serta penyakit tidur.
 Dapat melakukan uji diagnosis yang cepat dan tepat untuk membantu dokter
dalam menentukan diagnosis berbagai penyakit.
 Penyempurnaan metode pencangkokan organ yang sesuai agar tidak terjadi
proses penolakan.
 Penyempurnaan teknik perbaikan kimia tubuh untuk menyembuhkan penyakit
keturunan, misalnya hemofilia.
A. Penerapan Bioteknologi Dalam Bidang Kesehatan

1) Hormon Insulin
Insulin (bahasa Latin insula, "pulau", karena diproduksi di Pulau-pulau
Langerhans di pankreas) adalah sebuah hormon polipeptida yang mengatur
metabolisme karbohidrat. Selain merupakan "efektor" utama dalam homeostasis
karbohidrat, hormon ini juga ambil bagian dalam metabolisme lemak
(trigliserida) dan protein – hormon ini memiliki properti anabolik. Hormon
tersebut juga memengaruhi jaringan tubuh lainnya. Insulin menyebabkan sel
(biologi) pada otot dan adiposit menyerap glukosa dari sirkulasi darah melalui
transporter glukosa GLUT1 dan GLUT4 dan menyimpannya sebagai glikogen
di dalam hati dan otot sebagai sumber energi.
Pembuatan hormon insulin dilakukan dengan rekayasa genetika. Insulin
merupakan hasil recombinasi DNA yang digunakan secara genetis dengan
memodifikasi Escchereia Coli. Organisme ini mensintese setiap rantai insulin
menjadi seperti asam amino yang sama seperti insulin manusia. Ikatan-ikatan
kimia ini yang akhirnya menghasilkan human insulin. Melalui rakayasa
genetika, manusia berhasil menyisipi bakteri Escherichia coli dengan gen
pembentuk insulin pada manusia. Gen penghasil insulin manusia tersebut dapat
mengarahkan sel E.coli untuk menghasilkan insulin. Dengan demikian bakteri
ini mampu membentuk insulin yang mirip dengan insulin manusia. Insulin yang
diperoleh dapat digunakan untuk mengobati penderita diabetes. Insulin yang
dibentuk bakteri ini terbukti lebih baik daripada insulin hewani dan tidak
menimbulkan dampak negatif pada tubuh manusia.
Insulin merupakan sejenis hormon jenis polipeptida yang dihasilkan oleh
kelenjar pankreas. Sel yang menghasilkan hormon insulin dalam kelenjar
pankreas dikenali sebagai sel beta, yaitu sejenis sel yang terdapat dalam
kelompokan sel yang digelar pepulau (islet of) Langerhans dalam pankreas.
Fungsi utama insulin ialah pengawalan keseimbangan tahap glukosa dalam
darah dan bertindak meningkatkan pengambilan glukosa oleh sel badan.
Kegagalan badan untuk menghasilkan insulin, atau jumlah insulin yang tidak
mencukupi akan menyebabkan glukos tidak dapat masuk ke dalam dan
digunakan oleh sel-sel badan
Untuk membuat insulin, mula-mula membuat rancangan urutan ADN
yang mengode asam amino insulin yang telah diketahui. Kemudian diikuti
dengan sintesis kimiawi gen rantai A dan gen rantai B insulin, tetapi
pembuatannya dilakukan secara terpisah. Masing-masing mengandung kodon
metionin pada ujung 5’ (yang tentunya menjadi ujung amino protein yang
ditranslasikan) dan menghentikan urutan pada ujung 3’. Masing-masing gen
disisipkan ke dalam gen β-galaktosidase plasmid. Kemudian dimasukkan ke
dalam E. coli. E. Coli dibiakkan dalam medium yang mengandung galaktosa
sebagai sumber C dan sumber energi dan bukan glukosa. Sebab itu bakteri akan
mensintesis β-galaktosidase. Bersamaan dengan ini disintesis pula rantai A dan
rantai B insulin, yang dilekatkan oleh sisa metionin. Setelah pelarutan bakteri,
maka perlakuan dengan sianogen bromida akan memecah protein pada
metionin. Dengan demikian rantai insulin akan terpisah dari β-galaktosidase.
Rantai-rantai dimurnikan dan digabungkan, maka terjadilah insulin asli
manusia.

2) Antibodi Monoklonal
Antibodi merupakan protein yang dihasilkan oleh sistem kekebalan
tubuh yang berfungsi melawan dan melindungi tubuh dari infeksi bakteri.
Melalui rekayasa genetika, manusia dapat membentuk antibodi monoklonal.
Antibodi monoklonal adalah antibodi monospesifik yang dapat mengikat satu
epitop saja. Antibodi monoklonal ini dapat dihasilkan dengan teknik hibridoma.
Sel hibridoma merupakan fusi sel dan sel. Antibodi monoklonal yaitu antibodi
yang diperoleh dari penggabungan sel penghasil antibodi dengan sel yang
terkena penyakit. Pada teknologi antibodi monoklonal digunakan sel-sel tumor
dan sel-sel limpa manusia. Sel-sel tumor dapat memperbanyak diri tanpa henti,
sedangkan sel limpa sebagai antigen yang menghasilkan antibodi. Hasil
penggabungan kedua sel tersebut dinamakan sel hibridoma. Sel hibridoma dapat
memproduksi antibodi secara kontinyu. Antibodi yang dihasilkan dapat
digunakan untuk mengobati penyakit kanker atau tumor. Antibodi ini akan
menyerang sel-sel kanker tanpa merusak sel-sel yang sehat.
Pembuatan sel hibridoma terdiri dari tiga tahap utama yaitu imunisasi,
fusi, dan kloning. Imunisasi dapat dilakukan dengan imunisasi konvensional,
imunisasi sekali suntik intralimpa, maupun imunisasi in vitro. Fusi sel ini
menghasilkan sel hibrid yang mampu menghasilkan antibodi seperti pada sel
limpa dan dapat terus menerus dibiakan seperti sel myeloma. Frekuensi
terjadinya fusi sel ini relatif rendah sehingga sel induk yang tidak mengalami
fusi dihilangkan agar sel hasil fusi dapat tumbuh. Antibody Monoclonal drug
adalah sebuah obat inovasi baru dalam usaha manusia melawan kanker. Namun
cara penggunaan obat ini agar memberikan hasil yang terbaik sampai saat ini
belumlah diketahui secara pasti. Cara kerja antibody monoclonal dalam
melawan sel kanker sebagai berikut:
 Membuat Sel Kanker Lebih dikenali Oleh Sistem Immun.
 Menghambat Faktor-Faktor Pertumbuhan Sel Kanker.
 Menghantarkan Radiasi ke Sel Kanker.
o Efek samping Antibody Monoklonal
Seperti semua obat, antibodi monoklonal dapat menyebabkan efek samping,
antara lain sebagai berikut:
 Efek samping umum misalnya demam, menggigil dan gejala mirip flu
lainnya, seperti nyeri otot, nyeri kepala dan rasa letih.
 Beberapa pasien mengalami mual (mual) atau muntah. Antibody
monoclonal Rituximab dapat menyebabkan reaksi alergi. Gejalanya
dapat berupa: Gatal atau mendadak muncul warna kemerahan, Batuk,
mengi atau sesak napas, Lidah bengkak atau rasa bengkak di
tenggorokan, Edema, atau pembengkakan karena kelebihan cairan
dalam jaringan tubuh.
 Antibody monoclonal sebagai terapi kanker juga mampu
menimbulkan efek samping, mulai efek samping yang ringan sampai
efek samping yang menjadikan pasien dalam kondisi gawat darurat.
o Efek Samping Umum:
 Reaksi alergi seperti gatal dan bengkak.
 Gejala seperti flu, padahal bukan flu.
 Nausea
 Diare
 Pengeringan Kulit
o Efek Samping yang jarang terjadi:
 Perdarahan hebat
 Gangguan jantung
 Reaksi anafilaksis (hipersensitif)
 Penurunan jumlah hitung darah

3) Interferon
Interferon merupakan sel-sel tubuh yang mampu menghasilkan senyawa
kimia. Senyawa kimia tersebut dapat membunuh virus. Interferon berguna untuk
melawan infeksi dan meningkatkan sistem kekebalan tubuh. Produksi interferon
dilakukan melalui rekayasa genetika.
4) Pembuatan Vaksin

Pembuatan vaksin dilakukan melalui rekayasa genetika. Vaksin dibuat


dengan mengisolasi gen yang mengkode antigen dari mikrobia yang
bersangkutan. Gen tersebut disisipkan pada plasmid yang sama tetapi telah
dilemahkan. Mikrobia yang telah disisipi gen tersebut akan membentuk antigen
murni. Jika antigen ini disuntikkan pada tubuh manusia, sistem kekebalan tubuh
akan membentuk antibodi yang berfungsi melawan antigen yang masuk ke
dalam tubuh.
Selain itu, ada juga vaksin yang dibuat dengan menerapkan bioteknologi
konvensional. Pembuatan vaksin jenis ini tidak melalui rekayasa genetika.
Vaksin ini berasal dari mikroorganisme yang telah dilemahkan. Vaksin
dimasukkan ke dalam tubuh manusia dengan suntikan atau oral. Dengan
demikian, sistem kekebalan tubuh manusia aktif melawan mikroorganisme
tersebut.

5) Antibiotik
Antibiotika adalah segolongan senyawa, baik alami maupun sintetik,
yang mempunyai efek menekan atau menghentikan suatu proses biokimia di
dalam organisme, khususnya dalam proses infeksi oleh bakteri. Antibiotika
merupakan zat yang dihasilkan oleh suatu mikroba, terutama jamur, yang dapat
menghambat atau dapat membasmi mikroba jenis lain. Banyak antibiotika saat
ini dibuat secara semisintetik atau sintetik penuh.
Antibiotik merupakan zat kimia yang dihasilkan oleh mikroorganisme
terutama bakteri dan jamur yang dapat menghambat pertumbuhan atau
membunuh bakteri atau mikroorganisme yang lain. Dengan demikian, antibiotik
digunakan untuk melawan infeksi bakteri atau jamur. Selain itu, ada juga vaksin
yang dibuat dengan menerapkan bioteknologi konvensional. Pembuatan vaksin
jenis ini tidak melalui rekayasa genetika. Vaksin ini berasal dari
mikroorganisme yang telah dilemahkan. Vaksin dimasukkan ke dalam tubuh
manusia dengan suntikan atau oral. Dengan demikian, sistem kekebalan tubuh
manusia aktif melawan mikroorganisme tersebut.

Penggunaan antibiotika khususnya berkaitan dengan pengobatan penyakit


infeksi, meskipun dalam bioteknologi dan rekayasa genetika juga digunakan
sebagai alat seleksi terhadap mutan atau transforman. Antibiotika bekerja seperti
pestisida dengan menekan atau memutus satu mata rantai metabolisme, hanya
saja targetnya adalah bakteri. Antibiotika berbeda dengan desinfektan karena
cara kerjanya. Desifektan membunuh kuman dengan menciptakan lingkungan
yang tidak wajar bagi kuman untuk hidup.

Penemuan antibiotika terjadi secara ‘tidak sengaja’ ketika Alexander


Fleming, pada tahun 1928, lupa membersihkan sediaan bakteri pada cawan petri
dan meninggalkannya di rak cuci sepanjang akhir pekan. Pada hari Senin, ketika
cawan petri tersebut akan dibersihkan, ia melihat sebagian kapang telah tumbuh
di media dan bagian di sekitar kapang ‘bersih’ dari bakteri yang sebelumnya
memenuhi media. Karena tertarik dengan kenyataan ini, ia melakukan penelitian
lebih lanjut terhadap kapang tersebut, yang ternyata adalah Penicillium
chrysogenum syn. P. notatum (kapang berwarna biru muda ini mudah
ditemukan pada roti yang dibiarkan lembab beberapa hari). Ia lalu mendapat
hasil positif dalam pengujian pengaruh ekstrak kapang itu terhadap bakteri
koleksinya. Dari ekstrak itu ia diakui menemukan antibiotik alami pertama:
penicillin G. Penemuan efek antibakteri dari Penicillium sebelumnya sudah
diketahui oleh peneliti-peneliti dari Institut Pasteur di Perancis pada akhir abad
ke-19 namun hasilnya tidak diakui oleh lembaganya sendiri dan tidak
dipublikasi.

Antibiotika dapat digolongkan berdasarkan sasaran kerja senyawa tersebut


dan susunan kimiawinya. Ada enam kelompok antibiotika dilihat dari target
atau sasaran kerjanya :

a) Inhibitor sintesis dinding sel bakteri, mencakup golongan Penicillin,


Polypeptide dan Cephalosporin, misalnya ampicillin, penicillin G.
b) Inhibitor transkripsi dan replikasi, mencakup golongan Quinolone,
misalnya rifampicin, actinomycin D, nalidixic acid.
c) Inhibitor sintesis protein, mencakup banyak jenis antibiotik, terutama dari
golongan Macrolide, Aminoglycoside, dan Tetracycline, misalnya
gentamycin, chloramphenicol, kanamycin, streptomycin, tetracycline,
oxytetracycline.
d) Inhibitor fungsi membran sel, misalnya ionomycin, valinomycin.
e) Inhibitor fungsi sel lainnya, seperti golongan sulfa atau sulfonamida,
misalnya oligomycin, tunicamycin; dan.
f) Antimetabolit, misalnya azaserine.

Berdasarkan sifatnya (daya hancurnya) antibiotik dibagi menjadi dua.

 Antibiotik yang bersifat bakterisidal, yaitu antibiotik yang bersifat


destruktif terhadap bakteri.
 Antibiotik yang bersifat bakteriostatik, yaitu antibiotik yang bekerja
menghambat pertumbuhan atau multiplikasi bakteri.

6) Terapi Gen
Terapi gen adalah suatu teknik terapi yang digunakan untuk
memperbaiki gen-gen mutan (abnormal/cacat) yang bertanggung jawab terhadap
terjadinya suatu penyakit. Pada awalnya, terapi gen diciptakan untuk mengobati
penyakit keturunan (genetik) yang terjadi karena mutasi pada satu gen, seperti
penyakit fibrosis sistik. Penggunaan terapi gen pada penyakit tersebut dilakukan
dengan memasukkan gen normal yang spesifik ke dalam sel yang memiliki gen
mutan. Terapi gen kemudian berkembang untuk mengobati penyakit yang
terjadi karena mutasi di banyak gen, seperti kanker. Selain memasukkan gen
normal ke dalam sel mutan, mekanisme terapi gen lain yang dapat digunakan
adalah melakukan rekombinasi homolog untuk melenyapkan gen abnormal
dengan gen normal, mencegah ekspresi gen abnormal melalui teknik peredaman
gen, dan melakukan mutasi balik selektif sehingga gen abnormal dapat
berfungsi normal kembali. Adapun cara dalam melakukan terapi gen yaitu :
 Menambahkan gen sehat pada sel yang memiliki gen cacat atau tidak
lengkap.
 Menghentikan aktivitas “gen kanker” (oncogenes ).
 Menambahkan gen tertentu pada sel kanker sehingga lebih peka
terhadap kemoterapi maupun radiasi, atau menghalangi kerja gen yang
dapat membuat sel kanker kebal terhadap obat-obat kemoterapi.
 Menambahkan gen tertentu sehingga sel-sel tumor/kanker lebih mudah
dikenali dan dihancurkan oleh sistem kekebalan tubuh.
 Menghentikan gen yang berperan dalam pembentukan jaringan
pembuluh darah baru (angiogenesis) atau menambahkan gen yang bisa
mencegah angiogenesis.
 Memberikan gen yang mengaktifkan protein toksik tertentu pada sel
kanker, sehingga sel tersebut melakukan aksi “bunuh diri” (apoptosis).

B. Keamanan Bioteknologi Dalam Bidang Kesehatan

Beberapa hal yang dapat menimbulkan rasa aman tersebut antara lain adalah
digunakannya prosedur standar labotarium (Good Laboratary practice), terdapat
regulasi untuk penggunaan mikroorganisme tertentu maupun standar produk yang
dihasilkan terutama yang diperuntukkan untuk pangan dan kesehatan manisia.
Standar keamanan dan regulasi tersebut sudah ada dan diterapkan dengan ketat pada
beberapa negara.
Keamanan dari suatu produk bioteknologi sangat berkaitan dengan kualitas
dari produk yang dihasilkan. Masing-masing produk bioteknologi baik itu dibidang
farmasi, pertanian, pangan dan kimia mempunyai kekurangan dan berbahaya bila
peraturan penggunaan yang tidak baik. Misalnya produk bioteknologi dibidang
pangan yang menggunakan teknik bantuan mikroba dalam membantu proses
pembuatan produk, seperti yoghurt, sosis, wine dan lain sebagainya. Proses
pembuatan produk memerlukan terapan sanitasi dan pemilihan mikroba yang baik
sesuai kebutuhan, karena dengan tidak adanya penerapan sistem tersebut tidak akan
menghasilkan suatu produk yang baik untuk dikonsumsi melainkan membawa
penyakit terhadap manusia.
Setiap produk yang menggunakan bantuan mikroba atau stater dalam proses
pembuatannya, perlu diperhatikan tingkat keasaman atau pH produk. Setiap
mikroorganisme memiliki tingkat pH, water activity (Aw) dan suhu untuk tetap
hidup serta nutrisi. Mikroba patogen merupakan musuh terbesar dari suatu produk
pangan, mikroba ini dapat mengakibatkan produk membusuk dan membawa
penyakit serta membuat ketahanan (shelf live) produk menurun. Untuk mengatasi
terjadinya kontaminan mikroba patogen perlu dilakukan tahap penyimpanan yang
baik, baik itu suhu dan kadar Aw produk.
Sistem ketahanan produk pangan sangat tergantung jenis kemasan (packing)
yang digunakan. Fungsi dari kemasan adalah menjaga produk tetap bersih dan
melindungi dari terjadi kontaminan, sehingga produk bisa tahan lebih lama. Setiap
produk berbeda bahan baku yang dipakai untuk kemasan, baik kemasan plastik,
gelas dan kaleng (logam). Untuk menjaga keamanan suatu produk, diberi label yang
berfungsi sebagai informasi kepada konsumen.
Peraturan pemerintah tentang kelayakan suatu produk dipasarkan dapat
menjamin keamanan dan ketahanan produk. Banyak produk bioteknologi yang
memasuki pasaran menggantikan produk sebelumnya, seperti pada produk obat,
diagnosa dan pertanian. Perubahan yang sangat besar memungkinkan akan terjadi
pada bidang diagnosa, suatu saat akan banyak penyakit yang dapat didiagnosa dini
menggunakan kit diagnosa dan dapat dilakukan sendiri.
Cukup banyak riset yang bisa membawa dampak kurang menguntungkan bagi
manusia. Apakah riset dilakukan terhadap mikroorganisme lain, apalagi yang
berkaitan dengan manusia. Untk menjaga kemungkinan penyalah gunaan riset ini,
perlu adanya suatu regulasi dan etika menyangkut penelitian bioteknologi yang
dikenal sebagai bioetika. Bioetika merupakan studi interdisiplineer tentang masalah
yang ditimbilkan oleh penelitian biologi dan kedokeran baik pada skala mikro
maupun makro serta dampaknya pada masyarakat luas dan sistem tata nilainya saat
ini dan masa datang.oleh karena itu bioetika sangat perlu diterapkan dan
penerapannya memerlukan kajian yang tuntas dari segala disiplin ilmu.

C. Dampak Bioteknologi Dalam Bidang Kesehatan

a. Dampak Positif
 Sebagai cikal bakal pengembangan medis modern.
 Membantu kemajuan teknologi pengobatan.
 Terciptanya produk hormon yang murah dan terjangkau.
 Terciptanya sistem kekebalan yang melindungi tubuh dari infeksi bakteri dan
menyembuhkan tumor/kanker.

b. Dampak Negatif
 Menyebabkan alergi.
 Dapat menyerang sistem imunitas manusia.
 Dapat mengakibatkan kekebalan terhadap obat antibiotik.
 Keracunan.
 Munculnya penyakit baru dan kerentanan terhadap penyakit tertentu.

(teman-teman tinggal tambahkan materi dan


yang masih kosong ya)
BAB III
PENUTUP
DAFTAR PUSTAKA