Anda di halaman 1dari 18

LAPORAN KASUS

PERAWATAN SPACE MAINTAINER


PADA PREMATURE LOSS
GIGI MOLAR SULUNG RAHANG BAWAH BILATERAL
Disusun oleh Annisa Permatasari
Pembimbing Novita Sukma, drg., Sp.KGA

Abstrak

PENDAHULUAN

Kehilangan gigi sulung secara dini dapat menimbulkan anomali pada lengkung rahang oleh

karena adanya pergeseran gigi tetangga dan gigi antagonis ke arah ruangan yang kosong sehingga

menyebabkan terjadinya kehilangan lebar lengkung rahang. Selain itu kehilangan gigi molar

sulung sebelum waktunya seringkali menyebabkan maloklusi, sehingga jika gigi sulung hilang

lebih cepat dan tidak dilakukan perawatan maka semakin berpengaruh terhadap maloklusi. 1,2

Pengaruh tersebut dapat dihindari dengan melakukan rencana perawatan yang dilakukan

setelah ekstraksi gigi sulung. Salah satu jenis rencana perawatan yang dapat dilakukan berupa

tindakan preventif, tindakan ini dilakukan sebelum terjadi gangguan oklusi untuk memperbaiki

proses perkembangan oklusi.1,3,

Gigi sulung yang mengalami premature loss harus segera ditangani dengan

space management agar tidak menyebabkan kehilangan ruangan. Space

management terdiri dari space maintainer dan space regainer, secara garis besar

dapat dibedakan menjadi tipe cekat dan lepasan yang sering digunakan dalam

bidang kedokteran gigi.3,4

Dalam laporan kasus ini menjelaskan mengenai penggunaan space

maintainer lepasan dalam satu rahang untuk mengkoreksi premature loss pada

regio posterior dextra dan sinistra. Disamping itu dijelaskan secara singkat

1
mengenai pertimbangan, indikasi, dan kontra indikasi space management lepasan

dengan kasus kehilangan gigi molar sulung bilateral.

LAPORAN KASUS

Anak perempuan berusia 7 tahun pada tanggal 23 September 2016

ditemani orang tuanya datang ke RSGMP UNJANI dengan keluhan gigi belakang

bawah dan atas sudah dicabut dan ompong, sehingga merasa tidak nyaman

apabila sedang mengunyah makanan. Sebelumnya pada daerah tersebut terdapat

gigi yang telah dilakukan pencabutan sekitar beberapa minggu yang lalu dan

belum muncul gigi penggantinya. Pola menyikat gigi dua kali sehari, pagi

sebelum saat mandi dan sore hari.

Riwayat kesehatan umum dan penyakit keluarga pasien disangkal. Riwayat

penyakit gigi dan mulut, pasien pernah dilakukan penambalan pada gigi depan

rahang atas dan gigi belakang kiri rahang bawah sekitar 2 bulan yang lalu, dan

pasien juga pernah dilakukan perawatan saluran akar dan menggunakan mahkota

logam pada gigi belakang kanan dan kiri rahang atas. Kondisi umum pasien dalam

keadaan compos mentis dan kesan sakit disangkal.

Pada pemeriksaan ekstra oral tipe wajah pasien mesoprosopik, profil wajah

cembung, bibir competen, dan relasi bibir yang simetris. Pemeriksaan intra oral

didapatkan kebersihan mulut pasien sedang, tahapan perkembangan gigi sulung

campuran awal dengan perkembangan erupsi normal, oklusi cusp to fossa, overjet

0,5 mm, overbite 0,5 mm, garis median sesuai. Terdapat premature loss pada gigi

75 dan 84, 85.

2
A A B
a

Gambar 1.Foto ekstra oral; A wajah bagian depan; B wajah bagian samping

B C

Gambar 2. Foto intra oral; A.Dilihat dari depan saat oklusi,


B.Dilihat dari samping kanan saat oklusi, C.Dilihat dari samping kiri saat oklusi

A B

3
Gambar 3. Foto intra oral ; A.Rahang atas, B.Rahang bawah

UE UE UE UE UE UE UE UE UE IE UE UE

UE UE UE UE UE UE UE UE UE UE UE UE

Gambar 4. Odontogram

Tabel 1. Perhitungan ruangan sebelum dilakukan perawatan dengan space maintainer


dengan analisis metode Huckaba
Gigi Ruangan yang Lebar mesio-distal gigi P2 Kelebihan ruangan
tersedia (mm) (mm) (mm)
35 10 mm 8,3 mm + 1,7 mm
44,45 20 mm 18,5 mm + 1,5 mm

Diagnosis kerja pada kasus ini adalah premature loss gigi 74, 75 dan 84, 85.

Rencana perawatan yang akan dilakukan adalah dengan mengaplikasikan space

maintainer lepasan at regio dextra dan sinistra.

Desain space management pada kasus ini berupa; C clasp pada gigi 33, 43,

36 dan 46 untuk retensi, gigi tiruan untuk fungsi dan sebagai space maintainer

pada gigi 75, 84, 85.

4
Gambar 5. Desain space management

Kunjungan pertama pada tanggal 23 September 2016 dilakukan Oral

Hygiene Instructions (OHI) dan Komunikasi Informasi Edukasi (KIE) kepada

orang tua dan anak mengenai kebersihan gigi-mulut. Pasien diinstruksikan agar

menyikat gigi dua kali sehari, pagi setelah sarapan dan malam sebelum tidur.

Dilakukan mouth preparation gigi yang berlubang hingga selesai semua

penambalan.

Insersi alat space management (11 Oktober 2016) berupa space maintainner

pada gigi 75, 84, 85. Hal yang harus diperhatikan saat insersi yaitu, pengecekan

plat yang akan diinsersikan harus bersih dan terbebas dari sisa gips yang

menempel pada saat packing, plat harus mengkilap, tidak ada bagian yang tajam

pada bagian anatomis dan kawat. Plat yang diinsersikan harus beradaptasi,

mempunyai retensi, stabil terhadap tekanan, dan tidak mengganggu oklusi.

Gambar 6. Alat space maintainer

5
Cara memasang, melepaskan, dan memelihara space maintainer harus

diajarkan kepada anak dan orangtua. Pemasangan alat dilakukan di depan cermin,

sehingga pasien dapat melihatnya, kemudian pasien diminta untuk mencoba

memasang sendiri di depan operator dan orangtuanya.

Gambar 7. Insersi alat space maintainer

Pasien dan orang tua diinstruksikan untuk memakai alat secara rutin, setiap

hari alat ini harus dibersihkan. Orang tua harus memastikan alat space maintainer

dalam keadaan baik dan tidak patah atau rusak. Kebersihan gigi dan mulut harus

tetap dijaga dan menghindari makanan yang keras dan lengket agar tidak mudah

menempel pada basis akrilik.

Pasien dianjurkan untuk berkumur dengan larutan yang mengandung

fluoride agar mencegah terjadinya dekalsifikasi gigi di sekitar klamer. Alat space

maintainer lepasan harus digunakan setiap hari kecuali pada saat makan (minimal

12 jam/hari). Kontrol dilakukan setiap satu minggu sekali untuk mengontrol

erupsi dari gigi pengganti.

Kunjungan berikutnya pada tanggal 21 Oktober 2016 dilakukan kontrol

pada space maintainer. Kontrol rutin harus dilakukan setiap 1-2 minggu sekali

dan operator harus menjelaskan kepada orang tua untuk memperhatikan gigi yang

akan erupsi. Pemeriksaan keutuhan space maintainer, retensi, stabilisasi, adaptasi,

6
kondisi gigi penyangga, dan gingivanya dilakukan pada setiap kontrol. Pasien

diinstruksikan untuk terus menjaga kebersihan mulutnya dan dibantu operator

untuk melakukan oral profilaksis.

Gambar 8. Foto intra oral saat kontrol

Setelah dilakukan dua kali kunjungan setelah insersi pada tanggal 11

Oktober 2016 belum terlihat adanya perubahan yang signifikan pada gigi 35, 44,

45 yang akan erupsi. Perawatan yang dilakukan pada kasus ini masih terus

berlanjut hingga gigi 35,44 dan 45 dapat erupsi dengan sempurna.

DISKUSI

Tahapan periode geligi ada tiga, yaitu periode geligi desidui, periode geligi

campuran dan periode geligi permanen. Erupsi geligi desidui pertama yang

muncul dalam mulut adalah dua gigi bawah bagian depan atau insisif satu. Waktu

erupsi geligi desidui umumnya bervariasi, begitu juga dengan lebar mesio distal

dari geligi desidui.4,5

7
Space management terdiri dari space maintainer dan space regainer. Space

maintainer merupakan suatu alat yang digunakan untuk mempertahankan lebar

mesio-distal akibat kehilangan gigi sulung secara dini dan mempertahankan

kontak oklusal yang cukup untuk gigi antagonisnya yang diperlukan sampai gigi

permanen erupsi sempurna. 1-3,5,7

Space maintaner adalah alat yang dipasang untuk mempertahankan ruang

bekas gigi desidui yang mengalami premature loss atau premature extraction.

Pemasangan alat ini bertujuan agar tidak terjadi penyempitan ruang akibat

bergesernya gigi tetangga dan juga ekstrusi/elongasi dari gigi antagonisnya.2-4,6

Ada berbagai macam tipe space maintaner yang sering digunakan, secara

umum bisa dikelompokan menjadi dua kategori yaitu cekat dan lepasan. Tipe

lepasan dapat digunakan untuk periode relatif singkat yaitu kurang lebih satu

8
tahun sedangkan tipe sekat didesain dengan lebih baik dan tidak menggangu

jaringan rongga mulut agar dapat dipakai dalam janga waktu yang lama yaitu

kurang lebih dua tahun.4-6,7

Fungsi dari space maintainer ini adalah untuk mencegah pergeseran pada

gigi ke ruangan kosong yang terjadi akibat dari pencabutan secara dini, mencegah

ekstrusi gigi antagonis dari gigi yang dicabut secara dini, meminimalisasi

maloklusi, memperbaiki fungsi pengunyahan anak dan mengembalikan kesehatan

gigi yang optimal, memperbaiki fungsi estetik dan fonetik.7,8

Berikut ini merupakan indikasi yang perlu diperhatikan dalam penggunaan

space maintainer, diantaranya:2,5,8,12

1. Kehilangan gigi molar pertama sulung secara dini

2. Kehilangan gigi molar kedua sulung secara dini

3. Kehilangan gigi anterior sulung secara dini

4. Setelah dilakukan pencabutan gigi molar pertama

5. Kehilangan gigi secara kongenital

6. Setelah dilakukan pencabutan gigi molar pertama permanen

7. Apabila terjadi kehilangan gigi sulung dan gigi penggantinya belum siap erupsi

menggantikan posisi gigi sulung tersebut dan analisa ruang menyatakan masih

terdapat ruang yang memungkinkan untuk gigi permanennya

8. Jika terdapat kebiasaan yang buruk pada anak, misalnya menempatkan lidah di

tempat yang kosong atau menghisap bibir maka pemasangan space maintainer

ini dapat diinstruksikan sambil memberi efek menghilangkan kebiasaan buruk

9
9. Adanya tanda-tanda penyempitan ruangan

Sementara kontra indikasi yang perlu diperhatikan dalam penggunaan space

maintainer, diantaranya:

1. Kekurangan ruang untuk erupsi gigi permanen

2. Terdapat ruang yang berlebihan untuk erupsi gigi permanen

3. Gigi permanen penggantinya tidak ada (agenesis)

4. Kekurangan ruang yang banyak sehingga memerlukan tindakan pencabutan

dan perawatan ortodontik

5. Pada pasien yang tidak kooperatif

6. Bila gigi pengganti diharapkan akan erupsi setelah 6 bulan kehilangan gigi

sulung

7. Pada pasien dengan oral higiene yang buruk dan kurang motivasi

Untuk pengunaan space maintainer harus memenuhi syarat, diantaranya tidak

menggangu erupsi gigi antagonis dan erupsi gigi permanen, tidak mempengaruhi

fungsi bicara, pengunyahan, dan fungsi pergerakan mandibula. Selain itu space

maintainer harus dapat mencegah ekstrusi gigi lawan tetapi tidak menyebabkan

traumatik oklusi, serta tidak mengganggu jaringan lunak. Desain dari space

maintainer sesederhana mungkin, ekonomis, dan mudah untuk dibersihkan. 1,7,8

Terdapat beberapa jenis space maintainer yang dapat digunakan dalam bidang

kedokteran gigi, klasifikasi space maintainer dibawah ini berdasarkan adanya

anchorage dan support, diantaranya:

10
1. Semi-fixed space maintainer

a. Crown-distal shoe space maintainer

Space maintainer ini diindikasikan untuk menjaga kehilangan gigi molar

kedua sulung. Sementara itu, crown diindikasikan untuk gigi dengan

karies yang luas.

A
Gambar 13. A.Space maintainer crown distal shoe dilihat pada foto rontgen; B.Space
maintainer crown-distal shoe

b. Crown-loop space maintainer

Space maintainer crown-loop dapat digunakan pada gigi maksila maupun

mandibula dengan gigi penyangga dalam keadaan karies yang luas

sehingga dibutuhkan restorasi (crown). Space maintainer ini biasanya

digunakan untuk menjaga kehilangan satu gigi.

Gambar 14. Crown- loop space maintainer

c. Band-loop space maintainer

Space maintainer band-loop dapat digunakan pada gigi maksila maupun

mandibula dengan gigi penyangga dalam keadaan sehat. Space maintainer

ini biasanya digunakan untuk menjaga kehilangan satu gigi.

11
Gambar 15. Space maintainer band-loop;

2. Fixed space maintainer

a. Lingual-holding-arch space maintainer

Space maintainer ini diidikasikan untuk kehilangan gigi sulung posterior

dan dapat menghilangkan kebiasaan buruk. Estetika dari space maintainer

ini sangat baik karena wire berada pada lingual.

Gambar 16. Space maintainer lingual arch

b. Nance’s holding arch

Space maintainer ini hanya digunakan pada maksila dengan kehilangan

gigi posterior yang multipel pada kedua sisi dan dapat digunakan untuk

menghilangkan kebiasaan buruk. Space maintainer Nance’s holding arch

dibuat dengan menggunakan wire yang dihubungkan dengan akrilik dan

band pada M1 permanen.

12
Gambar 17. Space maintainer nance palatal arch;

Removable space maintainer


a. Functional space maintainer

Alat ini digunakan khusus bila gigi hilang dalam satu kuadran atau lebih

pada rahang atas maupun rahang bawah. Alat ini dapat ditambahkan gigi

artifisial untuk mengembalikan fungsi estetik.

b. Non-functional space maintainer

Space maintainer non-fungsional ini mempunyai fungsi sama dengan

space maintainer fungsional. Daerah edentulous pada space maintainer ini

tidak ditambahkan gigi artifisial melainkan diisi dengan akrilik.

Gambar 18. A.Space maintainer bilateral lepasan pasif non-fungsional; B.Space maintainer
bilateral lepasan pasif fungsional

Premature loss gigi sulung akan mengakibatkan migrasi dari gigi yang

berdekatan ke ruang edentulous dan mengganggu erupsi gigi permanen. Karena

13
adanya hal tersebut maka dibutuhkan ruangan untuk erupsi gigi permanen.

Kebutuhan untuk menciptakan ruangan kembali sekitar 3 mm atau kurang dapat

menggunakan space regainer.10,11

PEMBAHASAN

Erupsi dan tanggalnya gigi sulung tetap sangat bervariasi. Variasi ini masih

dianggap normal jika erupsi dan tanggalnya gigi tersebut berkisar 6 bulan sebelum

atau sesudah waktu erupsi. Secara kronologis sedangkan premolar kedua rahang

bawah erupsi pada usia 11-12 tahun dan pembentukan akar lengkap pada usia 13-

14 tahun. 8

Salah satu faktor yang sering mempengaruhi perkembangan oklusi dan

merupakan masalah umum di kedokteran gigi anak adalah premature loss,

terutama pada gigi molar satu sulung. Premature loss dapat menyebabkan

berbagai bentuk maloklusi serta efek buruk lainnya terhadap pertumbuhan dan

perkembangan gigi anak. Premature loss gigi sulung adalah hilangnya gigi dari

lengkung gigi sebelum gigi permanen penggantinya tumbuh mendekati erupsi,

sehingga mengakibatkan gigi tetangganya bergeser dan menutupi ruang yang

tersedia. 8,9

Premature loss gigi sulung adalah permasalahan gigi yang umum terjadi,

terutama gigi molar sulung yang dapat mempengaruhi maloklusi. Premature loss

gigi sulung posterior terutama gigi molar satu sulung berhubungan dengan karies,

jarang sekali gigi molar satu sulung hilang karena trauma dan desakan dari gigi

14
premolar satu karena gigi premolar satu erupsinya lebih lambat dan ukuran mesio

distalnya lebih kecil daripada gigi molar satu sulung.8-10

Pada kasus ini premature loss terjadi pada gigi 75 dan 84, 85. Premature loss

pada gigi tersebut disebabkan karena dilakukan pencabutan gigi adanya sisa akar

gigi. Dampak yang ditimbulkan dari premature loss berupa perubahan panjang

lengkung gigi dan oklusal. Besar dan kecepatan pergeseran gigi berhubungan

langsung dengan derajat crowding pada lengkung gigi.

Premature loss molar dua sulung menimbulkan masalah yang sangat serius

karena dapat mengakibatkan terjadinya pergerakan gigi molar satu permanen ke

mesial dengan mudah. Migrasi ke mesial gigi molar pertama permanen, jika tidak

dicegah, akan menahan gigi premolar kedua sehingga akan keluar dari lengkung

dan biasanya ke arah lingual. Namun pergeseran median line hanya terjadi pada

lengkung gigi yang sangat crowding. Premature loss gigi molar satu sulung

memungkinkan terjadinya pergerakan gigi tetangga ke mesial dan distal.

Sebaliknya premature loss pada gigi kaninus sulung memungkinkan terjadinya

pergerakan gigi insisif permanen ke distal, tetapi pergeseran ke arah mesial dari

gigi gigi tersebut sangat sedikit.9,10

Maloklusi dapat terjadi setelah premature loss karena kebiasaan anak

menempatkan rahangnya pada posisi yang abnormal untuk mendapatkan fungsi

oklusi dan pengunyahan yang baik. Gigi-geligi tersebut mungkin akhirnya

menjadi abnormal secara tetap baik dalam hubungan kedepan maupun ke lateral.10

Selain itu dampak yang ditimbulkan pada premature loss adalah gangguan

artikulasi pada pengucapan huruf konsonan s,z,v,f. Premature loss gigi sulung

15
baik di regio anterior maupun posterior sangat memungkinkan terjadinya

pergerakan oleh lidah ke tempat ruangan kosong. Kebiasaan yang terus-menerus

ini dapat menyebabkan malposisi pada gigi pengganti tergantung pada banyaknya

tekanan dari lidah. 10

Terdapat banyak jenis space maintainer dan regainer yang digunakan dalam

perawatan premature loss pada gigi sulung. Mulai dari konstruksi yang ringan

sampai berupa removable partial denture, loop, dan wire sampai dengan

konstruksi yang masuk ke dalam jaringan. Perawatan dan waktu yang tepat dalam

menangani masalah prematur gigi sulung dan mendapatkan kesehatan gigi yang

optimal dari seorang anak.10-12

Premature loss bilateral pada kasus ini perlu dilakukan koreksi dengan

menggunakan alat space management. Space management yang dilakukan pada

kasus ini berupa space maintainer bilateral rahang bawah. Pada kasus ini space

maintainer fungsional.

Space maintainer fungsional berfungsi sebagai pengganti fungsi dari gigi

75,84,85 dan sebagai maintainer. Pemilihan rencana perawatan space management

didasarkan pada pasien yang kooperatif, keadaan OH baik, terdapat benih gigi

permanen pengganti yang terlihat pada foto rontgen.

Kontrol yang dilakukan setiap satu minggu sekali untuk melihat erupsi dari

gigi pengganti dan apabila sudah mulai erupsi maka dilakukan pengurangan pada

space maintainer fungsional sedikit demi sedikit hingga gigi permanen dapat

erupsi dengan sempurna. Perawatan yang dilakukan pada kasus ini masih terus

berlanjut hingga gigi 34,35 dan 44,45 dapat erupsi dengan sempurna, sehingga

16
dapat mengembalikan masalah fungsional, estetis, dan stabilitas di dalam rongga

mulut.

SIMPULAN

Gangguan perkembangan erupsi akibat kehilangan pada gigi sulung secara

dini dapat menimbulkan masalah di dalam rongga mulut. Gangguan tersebut dapat

dihindari dengan mencegah mesial drifting pada gigi dengan mengaplikasikan alat

space management berupa space maintainer dan space regainer. Pada kasus ini di

aplikasikan space maintainer lepasan dalam satu rahang untuk mengkoreksi

dampak yang ditimbulkan oleh pemature loss.

DAFTAR PUSTAKA

1. Mc Donald RE, Hennon DK, Avery DR. Managing space problem: In Dentistry for
the children and adolescent. 5th Ed. Maw Chang Book. 1987. p.721-726.

2. Sigh G. Textbook of orthodontics. 2nd Edition. New Delhi: Jaypee Brothers Medical
Publishers. 2015. p.563-571.

3. Suwendra VS. Principlces and practice of pedodontics. 3 rd Edition. New Delhi:


Jaypee Brothers Medical Publishers. 2012. p.156-159.

4. Kennedy DB. Konservasi gigi anak. Translate: Narlan S, Sri HS. Edisi 3. Jakarta.
1992. hal.1-10.

5. Sweet CA. Pedodontics in grossman LI. Handbook of dental practice. 3 th Ed.


Philadelphia: JB Lippincott. 2009. p.379-421.

6. Snawder KD. Handbook of clinical pedodontics. London: The CV Mosby. 1980.


p.259-75.

7. Welbury R R, Duggal M S, Hosey M T. Paediatric dentistry. 3 rd Edition. New


York: Oxford Univesity Press; 2005.

8. Behrman RE, dkk. Nelson ilmu kesehatan anak: translation of nelson textbook of
pediatrics. Alih Bahasa: Prof.DR.dr.A.Samik Wahab,SpA(K). Jakarta: EGC; 2000.

17
9. Cameron AC, Widmer RP. Handbook of pediatric dentistry. Third Edition.
London: Mosby Company; 2008.

10. Heasman P. Restorative dentistry: paediatric dentistry and orthodontics. Second


Edition. New York: Churchill Livingstone Elsevier; 2008.

11. Muthu MS, Sirakumar N. Pediatric dentistry: principle and practice. 1 st Edition.
New Delhi: Mosby Saunders, Churchill Livingstone. 2009. p.315-317.

12. Hprimaywati. 2008. Laporan kasus space maintainer. Available at


http://hprimaywati.multiply.com/journal/item/1/Laporan_Kasus_Space_Maintainer
[5 Oktober 2015].

18