Anda di halaman 1dari 19

TUGAS KEPERAWATAN MEDIKAL BEDAH II

ASUHAN KEPERAWATAN PADA Tn.A DENGAN


BATU BULI-BULI

Oleh :

Ni Putu Ayu Dina Febriani


(18101110003)

PROGRAM STUDI S1 KEPERAWATAN


SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN
ADVAITA MEDIKA TABANAN
2020
ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN DENGAN BATU BULI- BULI

A. Definisi
Batu buli buli atau vesikolitiasis adalah penyumbatan saluran kemih khususnya pada
vesika urinaria atau kandung kemih oleh batu penyakit ini juga disebut batu kandung
kemih.( Smeltzer and Bare, 2005).
Vesikolitiasis adalah batu yang terjebak di vesika urinaria yang menyebabkan
gelombang nyeri yang luar biasa sakitnya yang menyebar ke paha, abdomen dan daerah
genetalia. Medikasi yang diketahui menyebabkan pada banyak klien mencakup
penggunaan antasid, diamox, vitamin D, laksatif dan aspirin dosis tinggi yang berlebihan.
Batu vesika urinaria terutama mengandung kalsium atau magnesium dalam kombinasinya
dengan fosfat, oksalat, dan zat-zat lainnya. (Brunner and Suddarth, 2007)
Batu buli-buli disebut juga batu vesica adalah masa yang berbentuk kristal yang
terbentuk atas material-material dan protein yang terdapat pada urin. Batu saluran kemih
pada dasarnya dapat terbuntuk pada setiap bagian tetapi lebih banyak pada saluran
penampung terakhir.Pada orang dewasa batu saluran kencing banyak mengenai sistem
bagian atas (ginjal,pyelum) sedangkan pada anak-anak sering terjadi pada sistem bagian
bawah (buli-buli).
B. Patofisiologi
Batu dalam perkemihan berasal dari obstruksi saluran kemih, baik parsial maupun
total. Obstruksi total dapat berakibat menjadi hidronefrosis. Batu saluran kemih
merupakan kristalisasi dari mineral dari matriks seputar, seperti pus, darah, tumor dan
urat. Komposisi mineral dari batu bervariasi, kira-kira 3/2 bagian dari batu adalah kalsium
fosfat, asam,urine dan custine.
Peningkatan konsentrasi larutan urine akibat intake cairan yang rendah dan juga
peningkatan bahan organic akibat ISK atau urine statis, menjadikan sarang untuk
pembentukan batu, ditambah adanya infeksi, meningkatkan lapisan urine yang berakibat
presipitasi kalsium fosfat dan magnesium ammonium fosfat.
Teori menurut Nursalam( 2006) antara lain :
a. Teori matriks
Terbentuknya batu saluran kemih memerlukan adnay substansia organic
sebagai inti, terutama dari mukopolisakarida dan mukoprotein yang akan
memepermudah kristalisasi dan agregasi substansu pembentukan batu.
b. Teori supersaturasi
Terjadinya kejenuhan substansi pembentuk dalam urine seperti sistin, asam
urat, kalsium oksalat akan mempermudah terbentuknya batu.
c. Teori berkurangnya factor penghambat
Berkurangnya factor penghambat seperti peptid, fosfat, pirofosfat, polifosfat,
sitrat, magnesium, asam mukopolisakarida akan mempermudah terbentuknya
batu saluran kencing.
ASUHAN KEPERAWATAN GANGGUAN PEMENUHAN KEBUTUHAN RASA
NYAMAN PADA Tn.A DENGAN DIAGNOSA BATU BULI-BULI

PENGKAJIAN
A. IDENTITAS
Nama : Tn.A
No.rekam medis :-
Usia : 46 Tahun
Jenis kelamin : Laki-laki
Alamat : Denpasar
Status perkawinan : kawin
Agama : Hindu
Pendidikan : SMA
Pekerjaan : Wirasuasta
Diagnosa medis : Batu buli-buli
Tgl masuk :-
Tgl pengkajian : 13 mei 2020
B. KELUHAN UTAMA
Pasien mengeluh nyeri pada perut bagian bawah disertai nyeri saat buang air kecil
sejak lama dan memberat sejak 1 bulan. Keluhan dirasakan setiap berkemih.
C. RIWAYAT PENYAKIT (KELUHAN) SEKARANG
Pasien mengeluh nyeri saat BAK sejak lama dan memberat 1 bulan yang lalu. Nyeri
dirasakan terutama diakhir kencing, nyeri menjalar ke penis dan ke pinggang.
Pancaran kencing lancar tetapi secara tiba-tiba terhenti kemudian menjadi lancar
kembali jika pasien berubah posisi. Kencing kadang-kadang sulit dikeluarkan
sehingga pasien harus mengedan dan terputus-putus. Pasien juga kadang-kadang
mengeluh nyeri pinggang. Kencing berwarna kuning jernih.
D. RIWAYAT PENYAKIT DAHULU
Klien tidak memiliki riwayat penyakit DM, klien tidak menderita Hipertensi, asma,
kencing manis, Riwayat ISK (Infeksi saluran kencing).

E. RIWAYAT PENYAKIT KELUARGA


Anggota keluarga klien tidak ada yang menderita penyakit serupa
dan tidak ada yang menderita penyakit hipertensi, asma dll.
Genogram :

Keterangan :

: Laki –laki

: Perempuan

: Laki- laki yang sudah meninggal

: Perempuan yang sudah meninggal

: Pasien

: Tinggal satu rumah


F. PENGKAJIAN

1. Persepsi terhadap kesehatan

Sebelum sakit : pasien mengatakan jika sakit biasanya pergi ke dokter

Pribadi.

Saat sakit : pasien mengatakan saat sakit dan jika terasa nyeri saat berkemih
langsung dibawa ke IGD oleh kelurga.

2. Pola aktivitas dan latihan

Sebelum sakit : pasien mengatakan sebelum sakit melakukan aktivitas dan latihan
biasa dan mampu melakukan sendiri.

Saat sakit : pasien mengatakan merasa lemas dan melakukan aktivitas dibantu
oleh keluarga.

3. Pola istirahat dan tidur

Sebelum sakit : pasien mengatakan tidak memiliki gangguan tidur, pasien biasa
tidur dari pukul 21.00 Wita sampai pukul 04.00 Wita.

Saat sakit : pasien mengatakan sering tidur selama dirawat dirumah sakit.

4. Pola nutrisi – metabolik

Sebelum sakit : pasien mengatakan di rumah biasa makan 3 x sehari dengan


makan nasi, lauk, sayur dan makanan habis 1 porsi, pasien minum ± 1600 ml.

Saat sakit : pasien mengatakan makan sedikit- sedikit hanya habis ½ porsi dengan
nasi bubur, lauk dan sayur dirumah sakit minum ± 1200 ml.

5. Pola eliminasi

Sebelum sakit : pasien mengatakan BAB 1 x/ hari pada pagi hari dengan warna
kecoklatan, BAK 3-5x/ hari warna kekuningan dan tidak terdapat gangguan saat
BAK dan BAB.

Saat sakit : pasien mengatakan nyeri saat berkemih, BAK 3-5 x/hari keluar
sedikit-sedikit, urinne berwarna kuning jernih.

P : Pasien mengatakan nyeri bertambah saat pasien berkebih dan mengedan.

Q : nyeri senut-senut

R : nyeri menjalar ke penis dan ke pinggang

S : skala nyeri 7
T : nyeri timbul kurang lebih 5 menit.

6. Pola kognitif – perseptual

Sebelum sakit : pasien mengatakan mengetahui dirinya memiliki penyakit batu


buli-buli.

Saat sakit : keluarga pasien merasa cemas dengan keadaan pasien sat ini.

7. Pola konsep diri

Sebelum sakit

Identitas pasien : pasien mengatakan sebagai wiraswasta.

Citra diri : pasien mengatakan selalu bersyukur dengan tubuh dan kekuatan yang
dimiliki.

Harga diri : pasien mengatakan anak-anaknya menghormati dirinya sebagai


seorang ayah.

Ideal diri : pasien mengatakan pasien selalu ingin hidup dengan baik, sehat dan
pasien mengtakan ingin agar keluarganya tetap utuh dan harmonis.

Peran aktivitas : pasien mengatakan perannya sebagai tulang punggung kelurga.

Saat sakit :

Idetitas diri : pasien mengatakan sangan membutuhkan bantuan dari kelurga, istri
dan anak-anaknya.

Citra diri : pasien mengatakan selalu bersyukur dengan tubuh dan kekuatan yang
dimiliki, walaupun saat sakit dirinya sengat terpukul.

Harga diri : pasien mengatakan walupun saat sakit kelurganya tetap menghormati,
mau mengurus segala keperluannya dan selalu meberikan apapun terkait
keputusan untuk pengobatannya.

Ideal diri : pasien mengatakan ingin segera sembuh dan berkumpul dengan
kelurganya .

Peran aktivitas : pasien mengatakan perannya sebagai tulang punggung kelurga.

8. Pola koping

Sebelum sakit : pasien mengtakan selalu menceritakan masalah dan keluhannya


yang dialami dengan istir dan anak-anaknya.

Saat sakit : pasien mengatakan selalu mengungkapkan sakit yang dialami kepada
kelurganya, pasien mengatakan untuk sakitnya lebih banyak memilih mencoba
untuk lebih banyak beristirahat dan melakukan kegitan apapun yang mampu
dilakukan.
9. Pola seksual dan reproduksi
Pasien mengatakan berhubungan sekseal sudah jarang dilakukan mengingat umur
yang sudah tua.
10. Pola peran – berhubungan
Sebelum sakit : pasien mengatakan memiliki hubungan baik dengan seluruh
keluarganya, dan tetangganya.
Saat sakit : pasien mengatakan saat sakit pasien masih tetap berhubungan baik
dengan kelurga maupun tetangganya.
11. Pola nilai dan kepercayaan
Sebelum sakit : pasien mengatakan beragama hindu dan taat melakukan kegiatan
keagamaan setiap harinya.
Saat sakit : pasien mengatakan bisa berdoa untuk kesembuhannya.
G. Pemeriksaat fisik
1. Kepala
I : bentuk kepala simetris, distribusi rambut baik, warna rambut hitam dengan
sedikit uban, rambut sedikit kering, kulit kepala tidak tampak berketombe.
Pa : terdapat lesi di bagian kepala, teradapat nyeri tekan
2. Kulit
I : Warna kulit sawo mateng, turgor kulit elastis.
Pa : Akral teraba dingin, tidak ada nyeri tekan
Kuku
I : Warna kuku merah muda, kuku tampak bersih, tidak ada lesi.
Pa : tidak ada nyeri tekan pada kuku dan tidak ada sianosis.
3. Mata
I : Warna sklera tidak ikterik, tidak ada kebiruan,warna kornea hitam
konjungtiva tidak anemis, gerakan Mata normal, keadaan kelopak mata
normal, reaksi pupil reaksi + ka/ki.
Pa : tidak ada nyeri tekan pada mata.
4. Telinga
I : Kebersihan ada sedikit serumen, kemampuan pendengaran baik, bentuk
telinga tampak simetris.
Pa : tidak ada nyeri tekan pada telinga dan tidak terdapat masa.
5. Hidung
I : bentuk hidung simetris, warna kulit hidung sama dengan warna disekitarnya,
lubang hidung simetris, tampak nafas cuping hidung.
Pa : tidak ada nyeri tekan pada daerah hidung.
6. Mulut
I : Warna bibir merah muda ,mukosa bibir kering, gusi merah muda, warna
lidah merah muda, gerakan lidah elastis
7. Leher
I : Bentuk leher normal, warna kulit leher sama dengan warna sekitarnya.
Pa : tidak terdapat pembesaran kelenjar limfe, tidak terdapat pembesaran
kelenjar tiroid.
8. Paru – paru
I : bentuk dada simetris, pergerakan dada saat inspirasi dan ekspirasi normal,
warna kulit dada sama dengan warna sekitarnya, tidak ada lebam, tampak
retraksi otot dada.
Pa : tidak ada nyeri tekan, tidak teraba massa.
Pe : sonor
A : suara nafas ronki, bunyi jantung s1s2
9. Jantung
I : denyutan jantung tidak tampak ke permukaan (normal)
Pa : tidak terdapat nyeri tekan.
Pe : terdengar dullness
A : S1 S2 tunggal regular, tidak terdapat murmur.
10. Abdomen
I : bentuk abdomen simetris, warna kulit sama dengan sekitarnya, gerakan
dinding perut simetris, tidak terdapat lesi, tidak terdapat sianosis
A : suara bising usus 11 x /menit.
Pe : tympani
Pa : tidak terdapat nyeri tekan.
11. Genitalia
Terpasang kateter.
12. Urogenital
Tidak terdapat hemoroid
13. Ekstermitas
A. Superior : Terpasang infus di tangan kanan, tangan kiri terasa lemas
B. Inferior : kaki kanan dan kiri mampu digerakkan dengan normal, tidak ada
edema.
C. Kekuatan otot
555 555

444 444
H. Pemeriksaan Penunjamg
HEMATOLOGI HASIL NILAI RUJUKAN
Hemoglobin 12,2 Pria : 13-17 gr/dl
Wanita : 12-15 gr/dl
Jumlah Leukosit 8300 4-11 ribu/mm3
Jumlah Eritrosit 4,05 Pria : 4,5-5 juta/mm3
Wanita : 4-5,5 juta/mm3
Jumlah Trombosit 253000 150-400 ribu/mm3
Hematokrit 17 Pria : 40-54 %
Wanita : 35-43 %
LED/KED Pria : < 10 mm/jam
Wanita : < 15 mm/jam
Masa peradarahan 1 menit 20 detik 2-3 menit
Masa Pembekuan 7 menit 35 detik 5-15 menit
Hitung Jumlah Leukosit
Basofil 0 0-1 %
Eosonofil 0 1-3 %
Stab 0 2-5%
Segmen 39 30-70 %
Limfosit 10 20-40 %
Monosit 11 2-8 %
MCV 91 80-100
MCH 30 27-34
MCHC 33 32-36 gr/dl
RDW-CH 15 11-14 %
Golongan Darah
Catatan

KIMIA KLINIK HASIL NILAI RUJUKAN


Ureum 34 Pria : 10-30 mg/dl
Wanita : 8-20 mg/dl
Kreatinin 0,5 Pria : 0,5-1,1 mg/dl
Wanita : 0,5-0,9 mg/dl
Kalium 2,3 2,5-3,5
Natrium 149 235-155
Kalsium 8,0 8,2-10,4

Program dan Rencana Pengobatan


- IUFD RL 20 tpm
- Ceftriaxon 1 gr/12 jam (IV)
- Ketorolac 1 amp/12 jam (IV)
- Ranitidin 1 amp/12 jam (IV)
I. Analisa Data
No Hari /Tgl Data fokus Etiologi Masalah Ttd

1. Rabu, 13 DS : Pasien Penimbunan Nyeri Akut


mei 2020 air kemih
mengeluh nyeri pada
perut bagian bawah
pembentukan
disertai nyeri saat
batu saluran
buang air kecil kemih
DO : pasien tampak
meringis menahan cedera jaringan
sakit.
P : Pasien mengatakan Nyeri saat
nyeri bertambah saat berkemih
pasien berkebih dan
mengedan.

Q : nyeri senut-senut Nyeri akut

R : nyeri menjalar ke
penis dan ke pinggang

S : skala nyeri 7

T : nyeri timbul
kurang lebih 5 menit.

2. Rabu, 13 DS: Pasien mengeluh Batu saluran Gangguan


mei 2020 kemih eliminasi urine
kadang-kadang menyumbat
kencing sulit aliran kemih
dikeluarkan sehingga
harus mengedan dan Bakteri
terperangkap
terputus-putus. dalam aliran
DS : Pasien tampak kemih
lemas dan urine
pasien berwarna Terjadi infeksi
kuning keruh.
Retensi urine

Gangguan
eliminasi urine
II. Diagnosa Keperawatan
1. Nyeri akut berhubungan dengan agen pecedera fisiologis ditandai dengan pasien
mengeluh nyeri, tampak meringis, gelisah, tekanan darah meningkat.
2. Gangguan eliminasi urine berhubungan dengan penurunan kapasitas kadung kemih
ditandai dengan desakan berkemih, berkemih tidak tuntas.
III. Intervensi
N Hari / Diagnosa Tujuan dan kriteria haril Intervensi Rasional
o tgl
1 Rabu Nyeri akut Setelah dilakukan tindakan SIKI : Menajemen
13 berhubungan asuhan keperawatan selama nyeri
mei dengan agen 2x24 jam diharapkan masalah 1.Identifikasi 1.Untuk
2020 pecedera nyeri menurun. lokasi, mengetahui
fisiologis Dengan kriteria hasil : karakteristik, kualitas nyeri
ditandai dengan SLKI : tingkat nyeri durasi, ferkuensi, yang
pasien mengeluh 1. Keluhan nyeri kualitas, itensitas dirasakan
nyeri, tampak menurun. nyeri. 2.Untuk
meringis, 2. Meringis menurun 2.Identifikasi mengevaluasi
gelisah, tekanan 3. Gelisah menurun. skala nyeri derajat nyeri.
darah 4. Tekanan darah 3.Berikan tehnik 3. untuk
meningkat. membaik. nonfarmakologi mengurangi
untuk mengurangi rasa nyeri
rasa nyeri. pasien.
4. jelaskan strategi 4. pasien
meredakan nyeri. mengetahui
cara
meredakan
rasa nyeri
yang dialami.
5.kolaborasikan 5. meredaka
pemberian rasa nyeri
analgesik jika pasien.
perlu.

2. Rabu Gangguan Setelah dilakukan tindakan SIKI : Menajemen


13 eliminasi urine asuhan keperawatan selama eliminasi urine
mei berhubungan 2x24 jam diharapkan masalah 1. identifikasi 1.untuk
2020 dengan gangguan eliminasi urine faktor yang mengetahui
penurunan membaik. menyebabkan faktor
kapasitas Dengan kriteria hasil : retensi atau penyebab
kadung kemih SLKI : Eliminasi Urine inkontinensia. retensi urine
ditandai dengan 1. Desakan berkemih menurun 2. monitor 2. mengetahui
desakan 2. Berkemih tidak tuntas eliminasi dan
berkemih, 3. Sensasi berkemih memantau
berkemih tidak meningkat. pola eliminasi
tuntas. pasien.
3. catat waktu- 3.mengetahi
waktu dan pengeluaran
haluaran urine apakah
berkemih. dalam batas
normal.
4. kolaborasikan 4. mengurangi
pemberian obat rasa nyeri saat
supositoria uretra, berkemih.
jika perlu.
IV. Implementasi
No Hari/ Diagnosa Implementasi Respon Ttd
tgl/jam
1 Rabu, 13 1 1. Mengidentifikasi lokasi, S : Pasien mengatakan nyeri
mei 2020 karakteristik, durasi, dirasakan terutama saat diakhir
08.17 ferkuensi, kualitas, kencing, nyeri menjalar ke
itensitas nyeri. penis dan ke pinggang.
O : pasien tampak meringis
08.20 menahan sakit.
1 2.Mengidentifikasi skala S: Pasien mengatakan masih
nyeri merasa nyeri
O : Pasien tampak meringis,
skalanya nyeri yang di rasa 6

08.45 2 S : Pasien mengatakan kencing


1. Mengidentifikasi faktor sulit dikeluarkan sehingga
yang menyebabkan retensi harus mengedan dan terputus-
atau inkontinensia. putus.
O: Pasien tampak lemas

08.50 1 S: Pasien mengatakan


2. Memonitor eliminasi kencingnya sulit dan sedikit-
sedikit.
O: Pasien tampak terpasang
kateter dan urine keluar 600cc
2 Kamis, 14 1 S : Pasien mengatakan nyeri
mei 2020 3.Memberikan tehnik sudah berkurang.
09.15 nonfarmakologi untuk O : Pasien tampak tenang dan
mengurangi rasa nyeri. lemas, skala nyeri 4
09.25 1 S : Pasien mengatakan
4. Menjelaskan strategi mengerti cara meredakan jika
meredakan nyeri. nyeri timbul.
O : Pasien tampak mengerti
apa yang dijelaskan oleh
perawat.
10.00 2 S : Pasien mengatakan nyeri
5.Mekolaborasikan sudah berkurang setelah
pemberian analgesik jika minum obat.
perlu. O : Pasien tampak tenang dan
tidak gelisah, skala nyeri 4.

10.05 2 3. Mencatat waktu-waktu S : Pasien mengatakan


dan haluaran berkemih. berkemih masih terasa
terputus-putus dan tidak tuntas.
O : Pasien tampak lemas, urine
keluar 700cc
10.10 2 4. Mekolaborasikan S : Pasien mengatakan nyeri
pemberian obat supositoria berkurang setelah berkemih.
uretra, jika perlu. O : Pasien tampak lemas,
tenang dan berbaring ditempat
tidur
V. Evaluasi

No Hari /tgl Diagnosa Evaluasi ttd


1 Kamis, 14 Nyeri akut berhubungan S : Pasien mengatakan nyeri
mei 2020
dengan agen pecedera sudah berkurang dari
fisiologis ditandai sebelumnya.
dengan pasien mengeluh O : Pasien tampak nyaman,
nyeri, tampak meringis, skala nyeri 4
gelisah, tekanan darah A : Nyeri akut
meningkat. P : Lanjutkan Intervensi
1. Identivikasi skala nyeri.
2. Pemebrian analgesik,
bila perlu
S : Pasien mengatakan
Gangguan eliminasi
2 Kamis, 14
berkemih masih sedikit-sedikit
mei 2020 urine berhubungan
dan tidak tuntas.
dengan penurunan
O : Pasien tampak tenang,tidak
kapasitas kadung kemih
gelisah, urine keluar 700cc
ditandai dengan desakan
A : gangguan eliminasi urine
berkemih, berkemih tidak
P : Lanjutkan Intervensi
tuntas
1. Monitor eliminasi
urine.
2. Pemebrian obat
supositoria uretra, bila
perlu