Anda di halaman 1dari 5

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Gaya hidup telah berubah sebagian besar penduduk di dunia sehingga

mempengaruhi pergeseran masalah penyakit dari Penyakit Menular (PM)

menja ke Penyakit Tidak Menular (PTM) baik secara global, regional maupun

nasional. Salah satu PTM yang mengalami peningkatan salah satunya yaitu

Diabetes Melitus (DM). Lewis et al (2014) menyatakan bahwa penyakit DM

merupakan masalah kesehatan serius di dunia dan terjadi peningkatan yang

signifikan. Didukung oleh (Whiting et al, 2011) perkembangan ekonomi

menyebabkan perubahan gaya hidup, aktivitas fisik yang kurang dan

meningkatnya obesitas.

World Health Organization (WHO, 2019) memperkirakan pada 2014 ada

422 juta jiwa orang dewasa mengalami diabetes di seluruh dunia. Menurut

International Diabetes Federation (IDF, 2017) menyebutkan sebanyak 424,9

juta jiwa pada umur 20-79 tahun di dunia menderita diabetes dan menyebabkan

sebanyak 4 juta jiwa meninggal akibat diabetes. IDF juga memprediksi bahwa

penderita diabetes pada tahun 2045 meningkat menjadi 628,6 juta jiwa di dunia.

Di Wilayah Pasifik Barat (termasuk Asia Tenggara) pada tahun 2017 sebanyak

9,5% pada usia 20-79 tahun diperkirakan menderita diabetes.


Penderita diabetes di Indonesia sebanyak 10,3 juta jiwa dan menempati

posisi ke-6 di dunia pada tahun 2017. IDF memprekdisikan pada tahun 2045

penderita diabetes di Indonesia mengalami peningkatan menjadi 16,7 juta jiwa

(IDF, 2017). Berdasarkan data dari Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas)

menunjukkan peningkatan angka prevalensi diabetes yang cukup signifikan

yaitu dari 6,9% pada tahun 2013 menjadi 8,5% pada tahun 2018 (Kementrian

Kesehatan Republik Indonesia, 2018).

DM terjadi ketika ada peningkatan kadar glukosa dalam darah karena

tubuh tidak bisa menghasilkan atau tidak mampu menggunakan insulin secara

efektif. Hal tersebut menyebabkan kadar glukosa dalam darah meningkat tak

terkendali (IDF, 2017). Kadar glukosa dalam darah yang tinggi berpengaruh

pada kerusakan organ-organ tubuh seperti jantung, pembuluh darah, mata,

ginjal, saraf, dan meningkatkan resiko terjadinya penyakit jantung dan stroke.

Kerusakan pada organ tersebut mengakibatkan berkurangnya aliran darah yang

dikombinasikan dengan kerusakan saraf (neuropati) di kaki, infeksi dan

amputasi kaki (WHO, 2016).Didukung oleh Brunner dan Suddarth (2018)

komplikasi DM diantaranya hipoglikemi, ketoasidosis diabetic, HHNK, PAD

(Peripheral Aterial Disease, gangguan pada jantung, penyakit neuropatik dan

kaki diabetik. Penyakit ekstermitas bawah seperti PAD, neuropati perifer, kaki

diabetik lebih sering terjadi pada pasien diabetes dan dua kali lebih sering

terjadi dibandingkan dengan pasien yang tidak diabetes. Terlambatnya


diagnostik awal dapat meningkatkan risiko komplikasi yang serius termasuk

kecacatan (Shrikhande & Mc Kinsey, 2012).

Risiko komplikasi dapat dilakukan dengan cara kontrol diet dan

manajemen stres. Selain itu, dapat melakukan pemeksaan vaskuler non-invasif

yaitu dengan pemeriksaan ankle brachial index (ABI) untuk mendeteksi dini

PAD. PAD ditandai dengan nilai ABI yang rendah (Xu et al, 2010). Nilai ABI

dapat meningkat dengan memperlancar peredaran darah. Latihan merupakan

salah satu cara untuk memperlancar peredaran darah sehingga nilai ABI dapat

meningkat. Latihan dapat berupa jalan sehat, senam aerobik, cardio, renang dan

senam kaki diabetik (Arisman, 2011). Hal ini didukung oleh penelitian dari

Wahyu dan Arisfa (2016) menyebutkan aktivitas fisik melalui senam kaki

mampu meningkatkan perfusi ke perifer serta mencegah komplikasi DM tipe 2.

Senam kaki dapat memperlancar perdaran darah di kaki, memperbaiki sirkulasi

darah, memperkuat otot kaki dan mempermudah gerakan sendi kaki (Setyoadi

& Kushariyadi, 2011). Senam kaki gerakan yang dilakukan oleh kedua kaki

secara bergantian atau bersamaan untuk memperkuat atau melenturkan otot-otot

didaerah tungkai bawah terutama pada kedua pergelangan kaki dan jari-jari kaki

(Damayanti. 2015).

Berdasarkan latar belakang tersebut, penulis tertarik melakukan review

jurnal tentang pengaruh senam kaki terhadap nilai ABI pada penderita DM tipe

2.
B. Pembatasan dan Rumusan Masalah

Pada penelitian ini mereview jurnal-jurnal tentang senam kaki, nilai ABI dan

DM tipe 2. Jurnal yang dipakai yaitu 5 tahun terakhir.

Rumusan masalah pada literatur review ini adalah, “Bagaimana pengaruh

senam kaki terhadap nilai ankle brachial index (ABI) pada diabetes melitus

tipe 2?”

C. Tujuan Penelitian

Tujuan dari literatur review ini untuk menguraikan pengaruh senam kaki

terhadap nilai ankle brachial index (ABI) pada diabetes melitus tipe 2

D. Manfaat Penelitian

1. Manfaat Praktis

Diharapkan dapat dijadikan sebagai landasan teori yang dapat

dikembangkan untuk melaksanakan proses asuhan keperawatan di

Rumah Sakit.

2. Manfaat Teoritis
Diharapkan literatur review ini dapat dijadikan sebagai acuan dan

perkembangan teori yang dapat diterapkan dalam teori tambahan dan

diaplikasikan dalam asuhan keperawatan