Anda di halaman 1dari 18

LAPORAN PRAKTIKUM

BLOK 13 FARMAKO, FARMASI DAN OBAT ALAMI


PERCOBAAN ANASTESI LOKAL

TYASNO ZUFAR INDRA PURWITA


181610101129

PRAKTIKUM B3
FAKULTAS KEDOKTERAN GIGI
UNIVERSITAS JEMBER
TAHUN 2019/2020
Kata pengantar
Puji dan syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas segala rahmat dan karunia-Nya
sehingga saya dapat menyelesaikan laporan praktikum pada kali ini. laporan ini disusun
untuk memenuhi hasil pembelajaran secara online untuk praktikum blok farmakologi. Dalam
laporan ini tidak lepas dari kesalahandan kekurangan, oleh karena itu, keritik dan saran yang
membangun, saya mengharapkan perbaikan-perbaikan agar terjadi penulisan yang sempurna
demi kesuksesan laporan inidan masa mendatang. Semogoga laporan ini bagi siapapun.

Jember, 24 mei 2020

Tyasno Zufar Indra P.


PERCOBAAN ANASTESI LOKAL

TUJUAN
Untuk membandingkan efek farmakologis dari infiltrasi anestesi lokal dengan dan tanpa
adrenalin di kaki belakang tikus.

Alat yang digunakan


1. Alat dasar
2. Syringe
3. Kapas
4. Stopwatch

Bahan yang digunakan


1. Tikus wistar
2. Lidocaine dan Pehacain
3. Caragenan
4. NaCl 0.9%

METODE PADA TIKUS A DAN B :


1. Tempatkan model hewan di kandang terbatas.
2. Tusukan sonde, dengan interval 3-5 detik, ke kaki belakang kanan dan kiri.
3. Catat responsnya. Respons normal yang diamati ketika menerapkan stimulus yang
ditunjukkan, adalah kontraksi kulit di sekitar area yang disuntikkan.
4. Suntikkan 0,1 ml 0,9 % NaCl secara intradermal ke kaki belakang kanan (control).
5. Suntikkan 0,1 ml lidokain (tikus A) atau lidokain + epinefrin (tikus B) secara
intradermal ke kaki belakang kiri untuk menginduksi anestesi lokal.
6. Tusukan sonde, dengan interval 3-5 detik. ke kaki belakang kiri (bandingkan dengan
kaki belakang kanan) setiap menit hingga 5 menit, lalu setiap 5 menit hingga 30 menit, lalu
setiap 10 menit hingga 60 menit.
7. Catat respons serta onset dan durasi kerja obat.
PERCOBAAN: EFEK ANESTHETIK LOKAL TERHADAP DAERAH YANG
MENGALAMI RADANG
Tikus C:
1. Tempatkan model hewan di kandang terbatas.
2. Tusukan sonde, pada interval 3-5 detik, ke kanan dan kiri kaki belakang. Catat
responsnya.
3. Suntikkan 0,1 ml 0,9 % NaCl secara intradermal ke kaki belakang kanan (control).
4. Suntikkan 0,1 ml suspensi 5 % ragi (caragenan) secara intradermal ke kaki belakang
kiri. Tunggu 30 menit.
5. Tusukan sonde, pada interval 3-5 detik, ke kaki belakang kiri (bandingkan dengan kaki
belakang kanan).
6. Catat responsnya.
7. Suntikkan 0,1 ml lidokain + epinefrin secara intradermal ke daerah yang meradang.
8. Tusukan sonde, pada interval 3-5 detik, ke pusat kaki belakang kiri (bandingkan dengan
kaki belakang kanan) setiap menit hingga 5 menit, lalu setiap 5 menit hingga 30 menit, lalu
setiap 10 menit hingga 60 menit.
9. Catat responsnya.
Tabel Pengamatan
Catatan :
- : tidak sakit
+ : sedikit sakit
++ : sakit
+++ : sangat sakit
PEMBAHASAN
Pada pembahsan kali ini, saya mengambil dari hasil table pengamatan yang sudah
didapat dengan 5 kelompok, dan akan membahas 5 kelompok dengan onset, duration act
yang berbeda-beda pada setiap kelompok.
Kelompok 1 dapat melihat disni, pada pemberian lidokain atau tikus A, menit ke 5
tikus mendapati rasa sakit sampai menit ke 110, kemudian menit 15 sampai menit 25 tidak
ada rasa sakit, kemudian menit 30 terasa sakit kembali tapi tidak sesakit pada menit ke 5
sampe menit ke 10. Kemudian pada tikus B atau pemberian obat pehcain (lidokain +
epinefrin), pada menit ke 5 tikus mendapat rasa yang sangat sakit kemudian pada menit ke 10
dengan penurunan 1 tingkast yaitu sakit, kemudian pada mmenit ke 15 sampai 30 tidak
terdapoat rasa sakit. Kemudian pada tikus C untuk melihat reaksi dari obat pada daerah yang
terjadi inflamasi atau peradangan, kita lita terjadi penurunan setiap menitnya setelah
diberikan pehacain. Yang dimana kita simpulkan bahwa onset dari perbandingan tikus A dan
B adalah untuk tikus A dengan pemberian lidokain, onset sudah muncul dari menit awal,
tetapi dengan perlahan dan pada aklhirnya hilang atau tidak rasa sakit lagi dan duration act
nya atau sampai kapan efek obat, efek obat lidokain setelah menit ke 30, yang dimana menit
ke 30 terjadi lagi rasa sakit pada tikus jika ditusukkan dengan sonde.
Kelompok 2 dapat melihat disini, pada pemberian lidokain atau tikus A, menit ke 5
tikus mendapati rasa sakit dan pada menit ke 10 tikus tidak ada rasa sakit, kemudian rasa
sakit itu itmbulk lagi dari menit ke 15 sampai menit ke 20 tapi menurun dengan sedikit sakit,
kemudian turun lagi menjadi tidak ada rasa sakit dari menit ke 25 sampai menit ke 30. Pada
tius B obat langsuyng bereaksi dari menit ke 5 sampai menit ke 30 yang dimana tidak ada
rasa sakit pada tikus. Kemudian pada tikus C untuk melihat reaksi dari obat pada daerah
yang terjadi inflamasi atau peradangan, kita lita terjadi penurunan setiap menitnya setelah
diberikan pehacain. Yang dimanan kita simpulkan bahwa onset dari perbandingan tikus A
dan B adalah untuk tikus A dengan pemberian lidokain, onset sudah muncul dari menit ke 10
kemudian onset hilang lagi atau efek obat itu hilang pada menit ke 15, kemudian pada menit
ke 20 sampai menit ke 30 onset terjadi lagi dan langsung menurun sampai tidak rasa sakit
pada tikus, sedangkan untuk durasi efek dari obat sendiri adalah kurang stabil pad akelompok
ini yaitu naik dan menurn, dan pada akhrinya menurun dengan konsesiten sampai tidak ada
rasa sakit lagi dari menit ke 20 sampai menit ke 30.
Kelmpok 3 dapat melihat disini, pada pemberian lidokain atau tikus A, menit ke 5
sudah terjadi penurunan dan pada menti 10 rasa sakit teteap dengan pemberian control yaitu
NaCL kemudian pada menit jke 15 sampai menit 30 terjadi penurunan secara konsisten atau
stabil. Pada tikus B terlihat terjadi penurunan dari menit awal sampasi menit ke 30 tapi
terjadi timbul sakit lagi pada menit ke 20 dan dilanjutrasa tidak sakit pada mencit sampai
menit ke 30. Kemudian pada tikus C untuk melihat reaksi dari obat pada daerah yang terjadi
inflamasi atau peradangan, kita lita terjadi penurunan setiap menitnya setelah diberikan
pehacain. Yang dimana dapat disimpulkan bahwa onset pada kelompok 3, tikus A terjadi
onset sejak awal sampai akhir yang sampai tidak ada rasa sakit yang ditimbulkan oleh tikus,
kemudian diikuti oleh tikus B dengan pemberian pehacain, sama seperti tikus A terjadi onset
sejak awal dengan tidask ada rasa sakit yang ditimbulkan oleh tikus walaupun muncul
kembaliu rasa sakit pada menit ke 20.
Kelompok 4 dapat melihat disini, pada pemberian lidokain atau tikus A , menit ke 5
tidak ada respon dari obat sampai menit 15, kemudian pada menit ke 15 rasa sakit yang
ditimbulkan oleh tikus A naik, setelah itu pada menit ke 20 sampai ke 30, tikus tidak
menimbulkjanrasa sakit, yang dimaan dapat disimpulkan onset terjadi pada menit ke 20
sampai menit ke 30 dan durasi efek dari obat adalah sampaiu menit ke 30 dari menit ke 20,
terjadi hanya 10 menit jika diitung sampai menit ke 30. Sedangkan tikus B sama persis
dengan tikus A. Kemudian pada tikus C untuk melihat reaksi dari obat pada daerah yang
terjadi inflamasi atau peradangan, kita lita terjadi penurunan setiap menitnya setelah
diberikan pehacain
Kelompok 5 dapat melihat disini, pada pemberian lidokain tikus A, menit ke 5 sampai
menit ke 30 terjadi penurunna dan reaksi efek obat atau onset itu, teteapi terjadi tidak
konsisten efek obat seperti pada menit ke 20 sampai menit ke 30 tetapi jika dibandingkasn
dengan NaCL terjadi penurunnan, dan durasi efek dari obat lidokain sendiri terjadi sekitar 15
menit jika dihitung dari menit ke 15 sampai menit ke 30, sedangkan tikus B mengalami onset
sejak awal pada menit sampai menit ke 30, dengan efek stabil dari menit ke 15 sampai menit
ke 30, dengan durasi efek obat terjadi sampai menit ke 30.
Bisa disimpulkan dari data yang diperoleh saat in, bisa saya simpulkan adalah lidokain
+ epinefrin atau pehacain lebih efek efektif untuk digunakan anastesi loka, terlihat dari onset
dan durasi obatnya terjadi pada tikus B, yang dimana onset yang dihasilkan lebih cepat
bereaksi pada tubuh tikus atau langsung bereaksi kemudian durasi efek obatnya stabil sampai
30 menit. Kemudian pehacain juga ampuh untuk digunakan pad adaerah yang mengalami
peradangan yaitu caragenan. Yang dimana pehcain digunakan untuk anastesi lokal atau
regional, memblok saraf, dan anastesi epidural dan kaudal.
Berdasarkan tabel pengamatan, terdapat perbedaan duration of action pada kaki kiri
belakang tikus A (tanpa adrenalin) dan tikus B (dengan adrenalin), rata-rata dari kelima
kelompok percobaaan, pada menit ke 30, tikus B masih tidak memberikan respon terhadap
nyeri. Sedangkan pada tikus A sudah memerikan respon nyeri kembali, hal ini menunjukkan
bahwa duration of action pehacain lebih lama dibanding lidokain. Hasil pengamatan ini sama
dengan apa yang ada di teori, pada teori mengatakan bahwa penambahan epinefrin dapat
memperpanjang duration of action karena adanya vasokontriksi pembuluh darah dengan
menstimulasi alfa-adrenergik reseptor yang menyebabkan blood flow pada jaringan yang
dianastesi menurun sehingga berdampak pada absorbsi anastesi lokal ke sistem
kardiovaskular juga menjadi lebih lambat, obat anastesi yang ditambah epinefrin yang masuk
kedalam aliran darah hanya 1/3 nya obat, 2/3 dari obat masih bertahan di jaringan tempat
disuntikkannya obat. Semakin banyak anastesi lokal yang diinjeksikan, semakin panjang
durasi kerja yang didapatkan.
Berdasarkan teori yang ada, larutan anastetikum yang tidak mengandung
vasokonstriktor, cairan anastetikumnya lebih cepat terdistribusi ke sistem sirkulasi
dibandingkan larutan anastetikum yang mengandung vasokonstriktor. Anastetikum yang
tidak mengandung vasokonstriktor, memiliki masa kerja yang lebih singkat sehingga
menyebabkan terjadinya peningkatan tekanan darah lebih cepat, begitupun sebaliknya apabila
obat anastesi ditambah vasokonstriktor (menyempitkan pembuluh darah) akan menurunkan
perfusi darah ke daerah kerja karena distribusi ke sistem sirkulasinya yang melambat,
akibatnya obat akan semakin lama menuju reseptor, semakin lama obat menuju reseptor
semakin lama pula terjadi efeknya. Selain itu pada obat anastesi lokal yang diberi tambahan
vaskonstriktor seperti epinefrin memilik pH yang rendah, larutan asam tersebut tidak hanya
lebih menyakitkan saat injeksi tetapi juga memperlambat timbulnya efek anestesi (onset of
duration)
Hal ini berbeda dengan hasil tabel yang didapat, pada kelompok 2 dan 3 menunjukkan
bahwa pada menit ke 5 dan ke 10 tikus B sudah tidak menunjukkan adanya respon nyeri dan
di lain kelompok juga menunjukkan pada menit awal bahwa rasa sakit pada tikus B tidak se
nyeri tikus A. perbedan ini mungkin disebabkan karena beberapa faktor seperti dosis yang
diberikan dan sifat fisiologis (kepekaan terhadap obat) yang berbeda setiap tikus
PERTANYAAN DAN JAWABAN

1. Apakah ada perbedaan onset dan durasi aksi antara anestesi lokal dengan dan
tanpa epinefrin? Jelaskan perbedaannya.
Iya terdapat perbedaan yang dimana tikus A hanya lidokain dan tikus B terdapat
lidokain dan epinefrin yang dimana dari hasil pengamatan pada table tersebut terdapat
perbedaan dalamm jangka waktu yang berbeda, saya disini hanya mengambil 1 kelompok
yaitu kelompok 5, yang dimana kelompok 5 setiap 5 menit dalam 30 menit terdapat rasa sakit
pada tikus A dan setiap 5 menit rasa sakit itu bertambah, berkurang, dan tetap sedangkan
pada tikus B setiap 5 menit dalam 30 menit, hanya 10 menit awal tikus B mengalami rasa
sakit, kemudian setelah itu tikus tidak menimbulkan rasa sakit, yang dimana kita ketahui
juiga di kelompok lain, sama seperti itu. Tikus yang diberikan campuran epinefrin itu lebih
tidak ada menimbulkan rasa sakit atau rasa sakit itu hanya timbul di menit-menit awal,
setelah itu menghilang dan tidak menimbulkan lagi.
Epinephrine atau adrenalin merupakan obat yang digunakan untuk mengobati
reaksi alergi yang dapat membahayakan nyawa, yaitu syok anafilaktik. Alergi yang dapat
menyebabkan syok anafilaktik dapat disebabkan oleh berbagai hal, seperti gigitan serangga,
kutu, lateks, obat-obatan, dan makanan. Epinephrine akan meredakan reaksi alergi tersebut
dengan melemaskan otot-otot saluran pernapasan dan mempersempit pembuluh darah,
sehingga napas menjadi lega dan aliran darah ke sel tetap terjaga. Maka dari itu epinefrin
sendiri lebih tidak menimbulkan rasa sakit pada tikus B.
Pada penelitian di kelompok B terdapat mencit yang diberi anastesi lokal lidokain
ditambah epinefrin, epinefrin ini hanya stabil untuk jangka waktu yang lama dalam
lingkungan asam, pH lidokain premixed dengan epinefrin yang tersedia secara komersial
lebih rendah dibandingkan dengan lidokain (pH 3,3-5,5) dan karena itu lebih menyakitkan
pada infiltrasi. Larutan asam tersebut tidak hanya lebih menyakitkan saat injeksi tetapi
memperlambat timbulnya efek anestesi (onset of duration)

2. Jelaskan mekanisme anestesi lokal. Buat skema!


Mekanisme kerja obat anestesi local mencegah transmisi impuls saraf (blockade
konduksi) dengan menghambat pengiriman ion natrium melalui gerbang ion natrium selektif
pada membrane saraf. Kegagalan permeabilitas gerbang ion natrium untuk meningkatkan
perlambatan kecepatan depolarisasi seperti ambang batas potensial tidak tercapai sehingga
potensial aksi tidak disebarkan. Obat anestesi lokal tidak mengubah potensial istirahat
transmembran atau ambang batas potensial.
Obat anestesi lokal mencegah proses terjadinya depolarisasi (keadaan dimana saraf
sedang menjalankan rangsang) membrane saraf pada tempat suntikan obat, selanjutnya
membrane akson tidak dapat bereaksi dengan asetilkolin sehingga membrane akan tetap
dalam keadaan semipermbeabel dan tidak terjadi perubahan potensial. Keadaan ini
menyebabkan aliran impuls yang melewati saraf tersebut terhenti, sehingga segala macam
rangsang atau sensasi tidak sampai ke SSP.
Hambatan depolarisasi dilakukan memlalui mekanisme : penggantian ion kalsium
pada membrane dengan struktur dari obat anastesia lokal, mengurangi permeabilitas
membrane sel terhadap Na, menurunkan laju depolarisasi aksi potensial membrane,
menurunkan derajat depolarisasi sampai ambang potensial, menggagalkan perkembangan
penyebaran aksi potensial.
Ion Na merupakan ion ekstraselular utama sedangan ion K merupakan ion intraselular
utama. Dinding sel lebih permeable terhadap ion K sehingga K lebih bebas melewati
dinding sel, sedangkan ion Na bersifat semipermeable dan diatur oleh kanal ion Na
Saat terjadi konduksi impuls, kanal ion Na terbuka dan ion Na bergerak ke dalam sel
sehingga terjadi depolarisasi sel, adanya obat anastesi lokal akan memblok konduksi saraf
dengan cara menghambat masuknya ion Na
Setelah obat diinjeksikan terjadi peningkatan pH larutan oleh proses penyangga
jaringan yang akan mengubahnya menjadi bentuk non ion sehingga lebih mudah larut dalam
lemak. Dalam bentuk ini obat anastesi lokal lebih mudah menembus membrane lipid untuk
masuk kedalam sel. Di dalam sel sebagian obat akan mengalami ionisasi kembali. Obat akan
masuk kedalam kanal Na sehingga terjadi blok pada konduksi impuls
Mekanisme kerja obat anestesi local mencegah transmisi impuls saraf (blockade
konduksi) dengan menghambat pengiriman ion natrium melalui gerbang ion natrium selektif
pada membrane saraf. Kegagalan permeabilitas gerbang ion natrium untuk meningkatkan
perlambatan kecepatan depolarisasi seperti ambang batas potensial tidak tercapai sehingga
potensial aksi tidak disebarkan. Obat anestesi lokal tidak mengubah potensial istirahat
transmembran atau ambang batas potensial.
Secara umum mekanisme anastesi lokal dapat disimpulkan dalam algoritma berikut ini :

Anastesi Lokal

Berikatan dengan reseptor

Kanal Na+ terblok

Perpindahan Sodium (menurun)

Kecepatan depolarisasi membrane (turun)

Potensial Aksi tidak terjadi

Konduksi diblok
3. Jelaskan keuntungan dan kerugian pemberian epinefrin pada anestesi lokal!
Keuntungan
 Dapat meredakan reaksi alergi
 Mempersempit pembuluh darah
 Mengatasi reaksi hipersensitivitas
 Mengurangi nyeri dengan pH yang rendah
 Stabil dalam ajngka waktu yang lama dalam lingkungan asam

Kerugian
Terdapat efek samping pada obat epinefrin sendiri, seperti :
 Berkeringat
 Mual dan muntah
 Pusing
 Gelisah
 Gangguan irama jantung
 Gangguan pernafasan
 Lemas
 Kulit pucat
 Gangguan hemostasis
 Toksisitas lidokain
 Efek kardio

4. Apa efek yang Anda amati setelah pemberian lidocaine + epinefrin di area yang
meradang? Jelaskan mengapa itu terjadi!
Lauratan lidokain + epinefrin atau pehacain yang di berikan pada tikus C yang dimana
tikus ini mengalami peradangan, pada table hasil pengamatan diatas, menyatakan bahwa
masih merasakann nyeri, terdapat reaksi dari pehacain yang disuntikkan untuk
menyembuhkan atau menghambat reaksi dari caragenan, yang dimana caragenan berfungsi
sebagai inflamasi atauy menimbulkan peradangan. Kadang-kadang tidak muncul atau
mengurang rasa sakit yang disuntikkan pehacain tapi terkadang juga kembali lagi rasa sakit
tersebut.
Larutan lidokain dan epinefrin di buat dalam suasana asam agar meningkatkan
kelarutan dan stabilisasinya (Shahwan, 2012). Mengurangi nyeri saat ini ltrasi anestesi jelas
memberikan keuntungan mengurangi ketidaknyamanan pasien (Bartield et al, 1995).
.Anestesi lokal bekerja dengan menghalangi pembukaan saluran natrium dalam membran
sel akson. Hal ini mencegah natrium memasuki sel saraf. Sel saraf tidak mengalami
depolarisasi dan akibatnya potensial aksi diblokir. Bentuk kationik dari anestesi akan
mengikat reseptor dalam saluran natrium (Hruza, 2008). Kebanyakan dermatologist
menggunakan lidokain yang ditambahan dengan epinefrin (Burns et al, 2005). Penambahan
epinefrin memiliki efek menguntungkan yaitu vasokonstriksi pembuluh darah yang dapat
memperpanjang durasi anestesi, megurangi toksisitas, dan mengurangi perdarahan
intraoperatif karena vasokonstriksi (Burns et al, 2005 and Hruza, 2008). Karena epinefrin
hanya stabil untuk jangka waktu yang lama dalam lingkungan asam, pH lidokain
premixeddengan epinefrin yang tersedia secara komersial lebih rendah dibandingkan dengan
lidokain (pH 3,3-5,5) dan karena itu lebih menyakitkan pada infiltrasi (Burns et al, 2005).
Karagenin merupakan senyawa yang dapat menginduksi cedera sel dengan
melepaskan mediator yang mengawali proses inflamasi. Karagenin merupakan seyawa
iritan yang dipilih, meskipun senyawa iritan lain seperti formalin, mustard, kaolin, racun
ular, polivinilpirolidin, yeast, ovalbumin, dan mediator kimia inflamasi seperti histamin,
serotonin, atau bradikinin serta enzim hidrolitik seperti kolagenase, tripsin, lipase,
fosofolipase, A2, elastase, dan hyaluronidase juga dapat menimbulakan udema ketika
disuntikkan secara subplantar pada telapak kaki tikus, namun karagenin merupakan seyawa
yang paling banyak digunakan untuk memprediksi efek terapeutik obat antinflamasi steroid
maupun nonsteroid (Gryglewski, 1997). Di samping itu karagenin tidak meimbulkan
kerusakan jaringan, tidak menimbulkan bekas, serta menimbulkan respon yang paling peka
terhadap obat antiflamasi dibandingkan senyawa iritan lainnya. Pada proses pembentukan
udema, karagenin akan menginduksi cedera sel denagan dilepaskannya mediator yang
mengawali proses inflamasi. Udema yang disebabkan induksi karagenin dapat bertahan
selama 6 jam dan berangsur-angsur berkurang dalam waktu 24 jam (Sumarny dan Rahayu,
cit Mukhlisoh, 1998).
Karagenin merupakan senyawa yang dapat menginduksi cedera sel dengan
melepaskan mediator yang mengawali proses inflamasi. Udema yang terjadi akibat
terlepasnya mediator inflamasi seperti: histamin, serotin, bradikinin, dan
prostagladin. Udem yang disebabkan oleh injeksi karagenin diperkuat oleh mediator
inflamasi terutama PGE1 dan PGE2 dengan cara menurunkan permeabilitas
vaskuler. Apabila permeabilitas vaskuler turun maka protein-protein plasma dapat menuju
ke jaringan yang luka sehingga terjadi udema.
Dari uraian ini dapat disimpulkan bahwa obat yang paling poten untuk menghambat
peradangan karena pemberian karagenin adalah pehacain. Karena pehacain mampu
menghambat prostagladin dan sebagian besar terikat dengan protein plasma. Terikatnya
protein plasma dengan pehacain akan protein plasma tersebut tidak dapat menuju ke
jaringan luka. Sehingga lama-kelamaan udema yang terjadi akan menurun.

DASAR TEORI

ANESTESI LOKAL
5.1.PENDAHULUAN
Anastesi dari Bahasa yunani artinya tidak atau tanpa kemampuan untuk merasa,
secara umum berarti suatu tindakan menghilangkan rasa sakit ketika melakukan pmebedahan
dan berbagai prosedur lainnnya yang menimbulkan rasa sakit pada tubuh. Obat anestetik
lokal digunakan secara lokal dan menghambat implus konduksi saraf sensorik dari perifer ke
SSP. Anestetik lokal menghilangkan sensasi (dan pada konsentrasi tinggi, aktivitas motor)
pada daerah tubuh terbatas tanpa menghasilkan ketidaksadaran. Obat ini menghambat saluran
natrium membran saraf. Serabut saraf tak bermielin yang kecil, yang memacu implus untuk
sakit, temperatur, dan aktivitas autonomik, sangat sensitif terhadap kerja obat anestetik lokal.
Semua obat anestetik lokal terdiri dari grup rantai amino hidrofilik melalui suatu grup
penghubung yang panjangnya bervariasi ke suatu residu lipofilik aromatik. Baik potensi
maupun stoksisitas anestetik lokal meningkat sesuai dengan panjangnya grup penghubung.
Efek samping adalah akibat dari absorpsi sistemik sejumlah toksik anestetik lokal
yang dipakai. Efek sistemik yang paling jelas adalah bangkitan kejang. Penambahan
vasokonstriktor epinefrin pada anestetik lokal, tingkat absorpsi menurun. Hal ini dapat
mengurangi toksisitas sistemik dan meningkatkan masa kerjanya.

5.2. Definisi
Anestesi lokal adalah obat yang digunakan untuk mencegah terjadinya rasa nyeri
(persepsi sensoris) dengan cara menghambat konduksi impuls pada saraf secara reversibel
pada daerah terbatas, tanpa menghilangkan kesadaran. Pada dosis besar selain hambatan
sensoris, anestesi lokal juga dapat menghambat saraf motorik dan otonom.
Salah satu beda anestesi lokal dan anestesi umum, ialah bahwa anestesi umum
hilangnya rasa pada daerah tidak terbatas dan disertai hilangnya kesadaran.
5.3. Mekanisme kerja Anestesi Lokal
Anestesi lokal menurunkan permeabilitas membran sel saraf terhadap ionNa, sehingga
depolarisasi dihambat, dengan akibat tidak terjadi konduksi implus. Terdapat beberapa teori
tentang mekanisme anestesi lokal untuk menurunkan permeabilitas membran sel saraf
terhadap ion Na ini, antara lain:
1. Teori Expansi Membran
2. Teori Hipotesa Reseptor Spesifik

5.4. Syarat-syaratAnestesi Lokal yang Ideal:


1. Toksisitas rendah
2. Tidak menimbulkan reaksi alergi
3. Efektif pada pemakaian secara suntikan maupun topikal
4. Dapat dikombinasikan dengan vasokonstriktor
5. Dapat larut dalam air dan stabil dalam penyimpanan dan sterilisasi

5.5. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kerja Anestesi Lokal


1. Anatomi Serat saraf
2. Sifat Anestesi Lokal, misalnya :
a. Daya larut dalam lemak
b. Efek Vasodilatasi
c. Sifat ikatan protein
3. Pengaruh pH – pKa

5.6. Bentuk Aktif Anestesi Lokal


Bentuk basa non-ionik dari anestesi lokal mempunyai sifat larut dalam lemak
(lipofilik) sehingga dapat menembus sel membran saraf.
Kemudian di dalam saraf bentuk basa bebas non-ionik ini mengalami disosiasi lagi
menjadi bentuk ion (kation), dan bentuk ion inilah yang aktif yang mencegah terjadinya
depolarirasi, karena bentuk ion inilah akan berikatan dengan reseptor pada kanal Na (teori
reseptor spesifik). Mekanisme ini tidak berlaku bagi Benzokain karena benzokain adalah
suatu anestesi lokal berbentuk molekul yang tidak bermuatan.

5.7. Anestesi Lokal pada Daerah Beradang


Khasiat anestesi lokal pada daerah beradang akan menurun. Hal ini kemungkinan karena:
1. pH asam daripada metabolit keradangan mencegah/mengurangi terbentuknya basa
bebas non-ionik.
2. Adanya peningkatan vaskularisasi pada daerah beradang.
3. Adanya penurunan nilai ambang reseptor sensoris pada daerah keradangan
menyebabkan terjadinya hiperalgesia.

5.8. Penambahan vasokonstriktor pada Anestesi Lokal


Vasokonstriktor adalah obat-obatan yang dapat menyempitkan pembuluh darah.
Vasokonstriktor yang ditambahkan pada anestesi lokal digunakan macam-macam obat
simpatomimetik (adrenergik):
1. Epinefrin
2. Noe- epinefrin
3. Fenilefrin
4. Levonordefrin
Tujuan pemberian vasokonstriktor pada anestesi lokal adalah:
1. Memperpanjang masa kerja anestesi lokal
2. Mencegah/mengurangi terjadinya toksisitas sistemik oleh anestesi lokal
3. Mengurangi perdarahan
Kontra Indikasi pemberian Vasokonstriktor:
Pada pemberian anestesi lokal di daerah extremitas, misalnya: jari, hidung, penis untuk
menghindari ‘ischaemia’ setempat dan nekrosa

5.9. Penggolongan Anestesi Lokal Menurut Struktur Kimia


1. Golongan Ester:
a. Ester asam benzoat : kokain, nuperkain
b. Ester asam para amino benzoat: prokain, tetrakain, dll
2. Golongan Amida:
a. Silidin : lidokain, mepivakain, bupivakain,etidokain
b. Toluidin : prilokain
3. Golongan Keton : Diklonin
4. Lain-lain
5.10. Efek Farmakologi Anestesi Lokal
Anestesi lokal selain menunjukkan efek pada saraf perifer, setelah diabsorpsi ke
sirkulasi darah akan memberi efek pada organ-organ tertentu:
1. Efek pada saraf perifer
2. Efek pada SSP
3. Efek pada kardiovaskular
4. Efek pada sambungan saraf-otot
5. Efek pada darah
6. Efek pada mata

5.11. Reaksi-Reaksi Yang Merugikan


1. Gejala Toksisitas
2. Reaksi Alergi
5.12. Macam-macam Obat Anastesi Lokal
1. Kokain
2. Prokain
3. Tetrakain
4. Propoksikain
5. Lidokain
6. Mepivakain
7. Prilokain
8. Benzokain
9. Diklonin
10. Bupivakain

5.13. Macam-macam Cara Pemberian Anestesi Lokal


1. Anestesi permukaan
2.Anestesi Infiltrasi
3. Anestesi Blok saraf ( saraf tunggal dan lebih dari satu saraf)
5.14. DAFTAR PUSTAKA
Cawson, R.A. R.G.Spector. A.M. Skelly. 1995. Basic Pharmacology and Clinical Drug
Use in Dentistry. Sixth edition. Churchill Livingstone.
Ganiswara, S.G. 1995. Farmakologi dan Terapi. Ed.4. Bag. Farmakologi Fak.
Kedokteran Universitas Indonesia. Jakarta: Gaya Baru.
Mycek, Mary J. R.A.Harvey. P.C.Champe. 2001. Farmakologi: Ulasan Bergambar.
Alih Bahasa Azwar Agoes. Ed.2. Jakarta: Widya Medika.
Neal, M.J. 1992. Medical Pharmacology at a Glance. Second edition. Blackwell
Science.
Shahwan MA,.Prospective comparison between buffered 1% lidocaineepinephrine and
skin cooling in reducing the pain of local anesthetic infiltration. Dermatologic Surgery. 2012;
38:16549
Burns CA, Ferris G, Feng C, Cooper JZ, Brown MD,. Decreasing the pain of local
anesthesia: A prospective, double-blind comparison of buffered, premixed 1% lidocaine with
epinephrine versus 1% lidocaine freshly mixed with epinephrine. Journal of The American
Academy of Dermatology. 2005; 54: 128-31
Bartfield JM, Kathleen M, Crisafulli, Robak RR, Salluzzo RF,. The effects of warming
and buffering on pain of infiltration of lidocaine. Academic Emergency Medicine. 1995; 2:
254-8
Hruza GJ. Anesthesia. In : Bolognia JL, Jorizzo JL, Rapini RP,. Dermatology. 2nd
edition. New York. Mosby Elsiever. 2008 : 2173-81