Anda di halaman 1dari 24

MAKALAH KEPERAWATAN ANAK

Disusun Oleh:

Adinda Fajar
Afra mudhia kirana
Annisa Ismayanti
Annisa solihah
Assyfa Maharani
Aisyah Pangestu
Aura novyanti
Baby Tania

PROGRAM STUDI D-III KEPERAWATAN

FAKULTAS ILMU KESEHATAN

UNIVERSITAS MH.THAMRIN

TAHUN 2019-2020
A.      Konsep Nenotal Asensial
1. Definisi Adaptasi
Adaptasi neonatal (bayi baru lahir) adalah proses penyesuaian fungsional neonatus
dari kehidupan di dalam uterus ke kehidupan di luar uterus. Kemampuan adaptasi
fisiologis ini disebut juga homeostatis. Homeostatis adalah kemampuan mempertahankan
fungsi-fungsi vital, bersifat dinamis, dipengaruhi oleh tahap pertumbuhan dan
perkembangan, termasuk masa pertumbuhan dan perkembangan intrauterin. Bila terdapat
gangguan pada adaptasi maka bayi akan sakit. Sedangkan pada bayi yang kurang bulan
terdapat gangguan mekanisme adaptasi. Adaptasi segera adalah pada fungsi-fungsi vital
yaitu sirkulasi, respirasi, SSP (Sistem Saraf Pusat), pencernaan dan metabolisme.
Proses adaptasi bayi yang paling cepat dan dramatis terjadi pada 4 aspek yaitu
pada sistem pernapasan, sistem sirkulasi, kemampuan termoregulasi dan kemampuan
menghasilkan glukosa.

2. Adaptasi / Perubahan Fisiologi Pada Bayi Baru Lahir


Menurut Pusdiknakes (2003) perubahan fisiologis pada bayi baru lahir meliputi :
a.       Perubahan Sistem Respirasi / Pernapasan
Selama dalam uterus, janin mendapat oksigen dari pertukaran gas melalui
plasenta dan setelah bayi lahir, pertukaran gas harus melalui paru-paru bayi. Organ
yang bertanggung jawab untuk oksigensi janin sebelum bayi lahir adalah plasenta.
Selama masa kehamilan bayi mengalami banyak perkembangan yang menyediakan
infrastruktur untuk mulainya proses pernapasan. Pada masa kehamilan di trimester II
atau III janin sudah mengembangkan otot-otot yang diperlukan untuk bernapas,
alveoli juga berkembang dan sudah mampu menghasilkan surfaktan, fosfolipid yang
mengurangi tegangan permukaan pada tempat pertemuan antara udara – alveoli.
Ruang interstitial antara alveoli sangat tipis sehinga memungkinkan kontak
maksimum antara kapiler dan alveoli untuk pertukaran udara.
Pada saat bayi lahir, dinding alveoli disatukan oleh tegangan permukaan cairan
kental yang melapisinya. Diperlukan lebih dari 25 mmHg tekanan negatif untuk
melawan pengaruh tegangan permukaan tersebut dan untuk membuka alveoli untuk
pertama kalinya. Tetapi sekali membuka alveoli, pernapasan selanjutnya dapat di
pengaruhi pergerakan pernapasan yang relatif lemah. Untungnya pernapasan bayi baru
lahir yang pertamakali sangat kuat, biasanya mampu menimbulkan tekanan negatif
sebesar 50 mmHg dalam ruang intrapleura.
Pada bayi baru lahir, kekuatan otot-otot pernapasan dan kemampuan diafragma
untuk bergerak, secara langsung mempengaruhi kekuatan setiap inspirasi dan ekpirasi.
Bayi yang baru lahir yang sehat mengatur sendiri usaha bernapas sehingga mencapai
keseimbangan yang tepat antar-oksigen, karbon dioksida, dan kapasitas residu
fungsional. Frekuensi napas pada bayi baru lahir yang normal adalah 40 kali permenit
dengan rentang 30 – 60 kali permenit (pernapasan diafragma dan abdomen) apabila
frekuensi secara konsisten lebih dari 60 kali permenit, dengan atau tanpa cuping
hidung, suara dengkur atau retraksi dinding dada, jelas merupakan respon abnormal
pada 2 jam setelah kelahiran.
Rangsangan gerakan pernapasan pertama terjadi karena beberapa hal berikut :
1)Tekanan mekanik dari torak sewaktu melalui jalan lahir (stimulasi mekanik)
2) Penurunan PaO2 (konsentrasi oksigen dalam darah arteri) dan peningkatan PaO2
merangsang kemoreseptor yang terletak di sinus karotikus (stimulasi mekanik).
3) Rangsangan dingin di daerah muka dan perubahan suhu di dalam uterus (stimulasi
sensorik).
4)  Reflekss deflasi Hering Breur :Memendekkan pernapasan (Hering-Breuer
reflekss). HB reflekss inflasi : ekspirasi meningkat ; HB reflekss deflasi :
ekspirasi menurun.
Pernapasan pertama pada bayi normal terjadi dalam waktu 30 menit pertama
sesudah lahir. Usaha bayi pertama kali untuk mempertahankan tekanan alveoli, selain
karena adanya surfaktan, juga karena adanya tarikan nafas dan pengeluaran napas
dengan merintih sehingga udara bisa tertahan di dalam. Cara neonatus bernapas
dengan cara bernapas difragmatik dan abdominal, sedangkan untuk frekuensi dan
dalamnya bernapas belum teratur. Apabila surfaktan berkurang, maka alveoli akan
kolaps dan paru-paru kaku, sehingga terjadi atelektasis. Dalam kondisi seperti ini
(anoksia), neonatus masih mempertahankan hidupnya karena adanya kelanjutan
metabolisme anaerobik.
Proses perubahan sistem respirasi
1)      Perkembangan paru-paru
Paru-paru berasal dari titik tumbuh yang muncul dari pharynx yang bercabang
dan kemudian bercabang kembali membentuk struktur percabangan bronkus proses
ini terus berlanjut sampai sekitar usia 8 tahun, sampai jumlah bronkus dan alveolus
akan sepenuhnya berkembang, walaupun janin memperlihatkan adanya gerakan
napas sepanjang trimester II dan III. Paru-paru yang tidak matang akan mengurangi
kelangsungan hidup BBL sebelum usia 24 minggu. Hal ini disebabkan karena
keterbatasan permukaan alveolus, ketidakmatangan sistem kapiler paru-paru dan
tidak tercukupinya jumlah surfaktan.
2)      Awal adanya napas
Faktor-faktor yang berperan pada rangsangan nafas pertama bayi adalah (Varney, :
a)      Hipoksia pada akhir persalinan dan rangsangan fisik lingkungan luar rahim
yang merangsang pusat pernafasan di otak.
b)      Tekanan terhadap rongga dada, yang terjadi karena kompresi paru-paru selama
persalinan, yang merangsang masuknya udara ke dalam paru-paru secara
mekanis. Interaksi antara sistem pernapasan, kardiovaskuler dan susunan saraf
pusat menimbulkan pernapasan yang teratur dan berkesinambungan serta denyut
yang diperlukan untuk kehidupan.
c)      Penimbunan karbondioksida (CO2)
Setelah bayi lahir, kadar CO2 meningkat dalam darah dan akan merangsang
pernafasan. Berkurangnya O2 akan mengurangi gerakan pernafasan janin, tetapi
sebaliknya kenaikan CO2 akan menambah frekuensi dan tingkat gerakan
pernapasan janin.
d)     Perubahan suhu. Keadaan dingin akan merangsang pernapasan.
3)      Surfaktan dan upaya respirasi untuk bernapas
Upaya pernapasan pertama seorang bayi berfungsi untuk :
a)      Mengeluarkan cairan dalam paru-paru
b)      Mengembangkan jaringan alveolus dalam paru-paru untuk pertama kali
Agar alveolus dapat berfungsi, harus terdapat survaktan (lemak lesitin
/sfingomielin) yang cukup dan aliran darah ke paru-paru. Produksi surfaktan
dimulai pada 20 minggu kehamilan, dan jumlahnya meningkat sampai paru-paru
matang (sekitar 30 – 34 minggu kehamilan). Fungsi surfaktan adalah untuk
mengurangi tekanan permukaan paru dan membantu untuk menstabilkan
dinding alveolus sehingga tidak kolaps pada akhir pernapasan.
Tidak adanya surfaktan menyebabkan alveoli kolaps setiap saat akhir
pernapasan, yang menyebabkan sulit bernafas. Peningkatan kebutuhan ini
memerlukan penggunaan lebih banyak oksigen dan glukosa. Berbagai
peningkatan ini menyebabkan stres pada bayi yang sebelumnya sudah
terganggu.
4)      Dari cairan menuju udara
Bayi cukup bulan mempunyai cairan di paru-parunya. Pada saat bayi melewati
jalan lahir selama persalinan, sekitar sepertiga cairan ini diperas keluar dari paru-
paru. Seorang bayi yang dilahirkan secara sectio cesaria kehilangan keuntungan
dari kompresi rongga dada dan dapat menderita paru-paru basah dalam jangka
waktu lebih lama. Dengan beberapa kali tarikan napas yang pertama udara
memenuhi ruangan trakea dan bronkus BBL. Sisa cairan di paru-paru dikeluarkan
dari paru-paru dan diserap oleh pembuluh limfe dan darah.
5)      Fungsi sistem pernapasan dan kaitannya dengan fungsi kardivaskuler
Oksigenasi yang memadai merupakan faktor yang sangat penting dalam
mempertahankan kecukupan pertukaran udara. Jika terdapat hipoksia, pembuluh
darah paru-paru akan mengalami vasokontriksi. Jika hal ini terjadi, berarti tidak
ada pembuluh darah yang terbuka guna menerima oksigen yang berada dalam
alveoli, sehingga menyebabkan penurunan oksigen jaringan, yang akan
memperburuk hipoksia.
Peningkatan aliran darah paru-paru akan memperlancar pertukaran gas dalam
alveolus dan akan membantu menghilangkan cairan paru-paru dan merangsang
perubahan sirkulasi janin menjadi sirkulasi luar rahim.
b.      Perubahan Sistem Sirkulasi / Peredaran Darah
Setelah lahir darah BBL harus melewati paru untuk mengambil oksigen dan
mengadakan sirkulasi melalui tubuh guna mengantarkan oksigen ke jaringan. Untuk
membuat sirkulasi yang baik, kehidupan di luar rahim harus terjadi 2 perubahan
besar :
1)      Penutupan foramen ovale pada atrium jantung
2)      Perubahan duktus arteriousus antara paru-paru dan aorta.
Perubahan sirkulasi ini terjadi akibat perubahan tekanan pada seluruh sistem
pembuluh. Oksigen menyebabkan sistem pembuluh mengubah tekanan dengan
cara mengurangi /meningkatkan resistensinya, sehingga mengubah aliran darah.
Dua peristiwa yang merubah tekanan dalam sistem pembuluh darah :
1)      Pada saat tali pusat dipotong resistensi pembuluh sistemik meningkat dan
tekanan atrium kanan menurun, tekanan atrium menurun karena berkurangnya
aliran darah ke atrium kanan tersebut. Hal ini menyebabkan penurunan volume dan
tekanan atrium kanan itu sendiri. Kedua kejadian ini membantu darah dengan
kandungan oksigen sedikit mengalir ke paru-paru untuk menjalani proses
oksigenasi ulang.
Pada saat tali pusat janin dipotong dan dijepit menyebabkan terjadinya sirkulasi
transisi yaitu proses dimana aliran darah di suktus arteiosus bottali berbalik dari
kiri ke kanan.
c.       Perubahan Sistem Termoregulasi / Pengaturan Suhu
Bayi baru lahir belum dapat mengatur suhu tubuhnya, sehingga akan mengalami
stress dengan adanya perubahan-perubahan lingkungan. Pada saat bayi meninggalkan
lingkungan rahim ibu yang hangat, bayi tersebut kemudian masuk ke dalam
lingkungan ruang bersalin yang jauh lebih dingin. Suhu dingin ini menyebabkan air
ketuban menguap lewat kulit, sehingga mendinginkan darah bayi. Pada lingkungan
yang dingin, pembentukan suhu tanpa mekanisme menggigil merupakan usaha utama
seorang bayi yang kedinginan untuk mendapatkan kembali panas tubuhnya.
Pembentukan suhu tanpa menggigil ini merupakan hasil penggunaan lemak coklat
terdapat di seluruh tubuh, dan mampu meningkatkan panas tubuh sampai 100%.
Untuk membakar lemak coklat, seorang bayi harus menggunakan glukosa guna
mendapatkan energi yang akan mengubah lemak menjadi panas. Lemak coklat tidak
dapat diproduksi ulang oleh bayi baru lahir dan cadangan lemak coklat ini akan habis
dalam waktu singkat dengan adanya stress dingin. Semakin lama usia kehamilan,
semakin banyak persediaan lemak coklat bayi. Jika seorang bayi kedinginan, dia akan
mulai mengalami hipoglikemia, hipoksia dan asidosis. Oleh karena itu, upaya
pencegahan kehilangan panas merupakan prioritas utama dan bidan berkewajiban
untuk meminimalkan kehilangan panas pada bayi baru lahir.
Terdapat empat mekanisme kemungkinan hilangnya panas tubuh dari bayi baru
lahir kelingkunganya :
1)      Konduksi
Panas dihantarkan dari tubuh bayi ke tubuh benda di sekitarnya yang kontak langsung
dengan tubuh bayi (pemindahan panas dari tubuh bayi ke objek lain melalui kontak
langsung). Contoh hilangnya panas tubuh bayi secara konduksi, ialah menimbang
bayi tanpa alas timbangan, tangan penolong yang dingin memegang bayi baru lahir, 
menggunakan stetoskop dingin untuk pemeriksaan bayi baru lahir.
2)      Konveksi
Panas hilang dari bayi ke udara sekitanya yang sedang bergerak (jumlah panas yang
hilang tergantung pada kecepatan dan suhu udara). Contoh hilangnya panas tubuh
bayi secara konveksi, ialah membiarkan atau menempatkan bayi baru lahir dekat
jendela, membiarkan bayi baru lahir di ruangan yang terpasang kipas angin.
3)      Radiasi
Panas di pancarkan dari bayi baru lahir, keluar tubuhnya ke lingkungan yang lebih
dingin (pemindahan panas antar dua objek yang mempunyai suhu berbeda). Contoh
bayi mengalami kehilangan panas tubuh secara radiasi, ialah bayi baru lahir di
biarkan dalam ruangan dengan Air onditioner (AC)  tanpa diberikan pemanas
(Radiant Warmer), bayi baru lahir dibiarkan keadaan telanjang, bayi baru lahir
ditidurkan berdekatan dengan ruangan yang dingin, misalnya dekat tembok.
4)      Evaporasi
Panas hilang melalui proses penguapan tergantung kepada kecepatan dan
kelembapan udara (perpindahan panas dengan cara merubah cairan menjadi uap).
Evaporasi dipengaruhi oleh jumlah panas yang dipakai tingkat kelembapan udara,
aliran udara yang melewati apabila bayi baru lahir dibiarkan suhu kamar 250C, maka
bayi akan kehilangan panas melalui konveksi, radiasi dan evaporasi 200 perkilogram
berat badan (Per kg BB), sedangkan yang dibentuk hanya satu persepuluhnya.
Untuk mencegah kehilangan panas pada bayi baru lahir, antara lain mengeringkan
bayi secara seksama, menyelimuti bayi dengan selimut atau kain bersih, kering dan
hangat, menutup bagian kepala bayi, menganjurkan ibu untuk memeluk dan
menyusukan bayinya.
d.      Perubahan Sistem Metabolisme Glukosa
Agar berfungsi dengan baik, otak memerlukan glukosa dalam jumlah tertentu.
Pada saat kelahiran, begitu tali pusat di klem, seorang bayi harus mulai
mempertahankan kadar glukosa darahnya sendiri. Pada setiap bayi baru lahir, kadar
glukosa darah akan turun dalam waktu cepat (1-2 jam). Koreksi penurunan kadar gula
darah dapat dilakukan dengan 3 cara :
1)     Melalui pemberian air susu ibu (bayi baru lahir yang sehat harus didorong untuk
menyusu ASI secepat mungkin setelah lahir).
2)      Melalui penggunaan cadangan glikogen (glikogenesis)
3)      Melalui pembentukan glukosa dari sumber lain, terutama lemak (glukoneogenesis)
Bayi baru lahir yang tidak dapat mencerna makanan dalam jumlah yang cukup
akan membuat glukosa dari glikogen. Hal ini hanya terjadi jika bayi mempunyai
persediaan glikogen yang cukup. Seorang bayi yang sehat akan menyimpan glukosa
sebagai glikogen, terutama dalam hati, selama bulan-bulan terakhir kehidupan dalam
rahim. Bayi yang mengalami hipotermia pada saat lahir, yang kemudian
mengakibatkan hipoksia, akan menggunakan persediaan glikogen dalam satu jam
pertama kelahiran. Keseimbangan glukosa tidak sepenuhnya tercapai dalam 3-4 jam
pertama kelahiran pada bayi cukup bulan. Jika semua persediaan glikogen digunakan
pada jam pertama, maka otak dalam keadaan berisiko. Bayi yang lahir kurang bulan
(prematur), lewat bulan (post matur), bayi yang mengalami hambatan pertumbuhan
dalam rahim dan stres janin merpakan risiko utama, karena simpanan energi
berkurang (digunakan sebelum lahir).
e.       Perubahan Sistem Gastrointestinal
Secara fungsional, saluran gastrointestinal bayi belum matur dibandingkan
orang dewasa. Membran mukosa pada mulut berwarna merah jambu basah. Gigi
tertanam di dalam gusi dan sekresi ptyalin sedikit. Sebelum lahir, janin cukup bulan
akan mulai menghisap dan menelan. Refleks gumoh dan refleks batuk yang matang
sudah terbentuk baik pada saat lahir.
Kemampuan bayi baru lahir cukup bulan untuk menelan dan mencerna makanan
(selain susu) masih terbatas. Hubungan antara esofagus bawah dan lambung masih
belum sempurna yang mengakibatkan gumoh pada bayi baru lahir dan neonatus.
Kapasitas lambung masih terbatas < 30 ml (15 – 30 ml) untuk bayi baru lahir cukup
bulan. Kapasitas lambung ini akan bertambah secara lambat bersamaan dengan
tumbuhnya bayi baru lahir. Pengaturan makanan yang sering oleh bayi sendiri penting
contohnya memberi ASI on demand (sesuai kebutuhan).
f.       Perubahan Sistem Imunitas / Kekebalan Tubuh
Sistem imun bayi baru lahir masih belum matur sehingga neonatus rentan
mengalami infeksi dan alergi. Sistem imun yang matur akan memberikan kekebalan
alami maupun kekebalan dapatan. Kekebalan alami terdiri dari struktur pertahanan
tubuh yang mencegah atau meminimalkan infeksi. Kekebalan alami juga disediakan
pada tingkat sel yaitu oleh sel darah yang membantu BBL membunuh
mikroorganisme asing. Tetapi pada BBL sel-sel darah ini masih belum matang,
artinya BBL tersebut belum mampu melokalisasi dan memerangi infeksi secara
efisien. Beberapa contoh kekebalan alami meliputi :
1)      Perlindungan oleh membran mukosa
2)      Fungsi saringan saluran nafas
3)      Pembentukan koloni mikroba oleh kulit dan usus
4)      Perlindungan kimia oleh lingkungan asam lambung

Kekebalan dapatan akan muncul kemudian. Bayi baru lahir yang lahir dengan
kekebalan pasif mendapat antibodi dari tubuh ibunya. Reaksi antibodi keseluruhan
terhadap antigen asing masih belum muncul sampai awal kehidupan anak. Salah satu
tugas utama selama masa bayi dan balita adalah pembentukan sistem kekebalan tubuh.
Defisiensi kekebalan alami bayi menyebabkan bayi rentan sekali terjadi infeksi dan
reaksi bayi terhadap infeksi masih lemah. Oleh karena itu, pencegahan terhadap
mikroba (seperti pada praktek persalinan yang aman dan menyusui ASI dini terutama
kolostrum) dan deteksi dini serta pengobatan dini infeksi menjadi sangat penting.
g.      Perubahan Sistem Neurologi
Setelah bayi lahir, pertumbuhan otak memerlukan persediaan oksigen dan
glukosa yang tetap memadai. Otak yang masih muda rentan terhadap hipoksia,
ketidakseimbangan biokimia, infeksi dan pendarahan. Bayi baru lahir memperlihatkan
sejumlah aktivitas refleks pada usia yang berbeda beda, yang menunjukkan normalitas
dan perpaduan antara sistem neuorogi dan muskuluskletal. Beberapa refleks tersebut:
1)      Reflekss moro, refleks ini terjadi karena adanya reaksi miring terhadap
rangsangan mendadak. Refleks ini dapat di munculkan dengan cara menggendong
bayi dengan sudut 45o, lalu biarkan kepalanya turun sekitar 1-2 cm. Refleks ini
simetris dan terjadi pada 8 minggu pertama setelah lahir.
2)Reflekss rooting, dalam memberikan reaksi terhadap belaian di pipi atau sisi mulut,
bayi menoleh kearah sumber rangsangan dan membuka mulutnya siap untuk
mengisap.
3)      Reflekss mengedip atau reflekss mata, melindungi mata dari trauma.
4)    Reflekss menggenggam, refleks ini di munculkan dengan menempatkan jari atau
pensil atau pensil di dalam telapak tangan bayi, dan bayi akan menggenggamnya
dengan erat.
5)      Reflekss berjalan dan melangkah. Jika bayi di sangga pada posisi tegap dan
kakinya mennyentuh permukaan yang rata, bayi akan terangsang untuk berjalan.
6)      Reflekss leher tonik asimetris. pada posisi terlentang, jika kepala bayi menoleh ke
satu arah, lengan di sisi tersebut akan ekstensi sedangkan lengan sebelahnya fleksi.
Jika di dudukkan tegak, kepala bayi pada awalnya akan terkulai ke belakang lalu
bergerak ke kanan sesaat sebelum akhirnya menunduk ke depan.
3.      Pencegahan Infeksi
Pencegahan Infeksi merupakan penatalaksanaan awal yang harus dilakukan pada bayi
baru lahir karena bayi baru lahir sangat rentan terhadap infeksi. Pada saat penanganan
bayi baru lahir, pastikan penolong untuk melakukan tindakan pencegahan infeksi.
Tindakan Pencegahan Infeksi pada bayi baru lahir meliputi :
a.       Mencuci tangan secara sekasama sebelum dan sesudah melakukan kontak dengan
bayi
b.      Memakai sarung tangan bersih saat melayani bayi yang belum dimandikan
c.       Memastikan semua peralatan telah disterilkan
d.      Memastikan semua perlengkapan bayi dalam keadaan bersih,
e.       Memastikan semua alat-alat yang bersentuhan dengan bayi dalam keadaan bersih,
f.       Menganjurkan ibu menjaga kebersihan diri, terutama payudara
g.      Membersihkan muka, pantat,dan tali pusat bayi dengan air bersih hangat dan sabun
setiap hari
h.      Menjaga bayi dari orang-orang yang menderita infeksi.

1)      Prinsip Dasar Pencegahan Infeksi


Prinsip dasar dalam pencegahan infeksi adalah sebagai berikut :
a.       Setiap orang (pasien dan petugas pelayanan kesehatan) harus dianggap
berpotensi menularkan infeksi.
b.      Cuci tangan adalah prosedur yang paling praktis dalam mencegah kontaminasi
silang.
c.       Pakailah sarung tangan sebelum menyentuh setiap kulit yang luka, selaput lendir
(mukosa), darah, dan cairan tubuh lainnya (sekret atau ekskret).
d.      Gunakanlah pelindung (barier) seperti kacamata (goggles), masker, celemek
(apron) pada setiap kali melakukan kegiatan pelayanan yang diantisipasi dapat
terkena percikan atau terkena darah dan cairan tubuh pasien.
e.       Selalu melakukan tindakan/prosedur menurut langkah yang aman, seperti tidak
memebengkokan jarum dengan tangan, memegang alat medik dan memprosesnya
dengan benar, membuang dan memproses sampah medik dengan benar.
2)      Upaya Pencegahan Infeksi
a.       Pencegahan infeksi pada tali pusat
Upaya ini dilakukan dengan cara merawat tali pusat yang berarti menjaga
agar luka tersebut tetap bersih, tidak terkena air kencing, kotoran bayi atau
tanah. Pemakaian popok bayi diletakkan disebelah bawah tali pusat. Apabila tali
pusat kotor, cuci luka tali pusat dengan air bersih yang mengalir dan sabun,
segera keringkan dengan kain kasa kering dan dibungkus dengan kasa tipis yang
steril dan kering. Dilarang membubuhkan atau mengoleskan ramuan, abu dapur
dan sebagainya pada luka tali pusat, sebab akan menyebabkan infeksi dan
tetanus yang dapat berakhir dengan kematian. Tanda-tanda infeksi tali pusat
yang harus diwaspadai, antara lain kulit sekitar tali pusat berwarna kemerahan,
ada pus/nanah dan bau busuk. Mengawasi dan segera melaporkan ke dokter jika
pada tali pusat ditemukan perdarahan, pembengkakan, keluar cairan, tampak
merah atau berbau busuk.
Langkah-langkah perawatan tali pusat :
1)      Cuci tangan dengan sabun dan air
2)      Membuka pakaian bayi
3)      Membersihkan tali pusat dengan kassa dan air DTT dari ujung ke pangkal
4)      Mengeringkan tali pusat dengan kassa kering
5)      Pertahankan sisa tali pusat dalam keadaan terbuka agar terkena udara tanpa
di tutupi kassa
6)      Lipatlah popok di bawah sisa tali pusat
7)      Mengenakan pakaian bayi
8)      Membereskan alat-alat
9)      Menucuci tangan dengan sabun
10)  Menginformasikan hasil tindakan
b.      Pencegahan infeksi pada kulit
Beberapa cara yang diketahui dapat mencegah terjadinya infeksi pada kulit
bayi baru lahir atau penyakit infeksi lain adalah meletakkan bayi didada ibu agar
terjadi kontak langsung ibu dan bayi, sehingga menyebabkan terjadinya
kolonisasi mikroorganisme yang ada di kulit dan saluran pencernaan bayi
dengan mikroorganisme ibu yang cenderung bersifat nonpatogen, serta adanya
zat antibodi bayi yang sudah terbentuk dan terkandung dalam air susu ibu.
Langkah-langkah memandikan bayi :
1)      Cuci tangan dengan sabun dan air
2)      Siapkan keperluan mandi: seperti pakaian bayi lengkap, minyak telon,
bedak, sabun, handuk dan waslap, selimut, perlak, dan tempat pakaian kotor,
bak mandi, air hangat dan dingin.
3)      Pastikan ruangan dalam keadaan hangat
4)      Siapkan air hangat, tapi tidak terlalu panas dalam bak mandi
5)      Lepas pakaian bayi
6)      Bersihkan tinja dari daerah pantat sebelum memandikan agar air mandi tetap
segar
7)      Sanggalah kepala bayi sambil mengusapkan air ke muka, tali pusat, dan
tubuh bayi
8)      Letakkan bayi pada selembar handuk
9)      Sabuni seluruh badan bayi (jangan memberi sabun pada muka dan cuci
mukanya dahulu sampai bersih)
10)  Cuci tali pusat dengan air bersih dan sabun, bersihkan dan
keringkanseluruhnya
11)  Jika bayi laki-laki tarik katup (prepusium) ke belakang dan bersihkan dan
bila bayi perempuan bersihkan labia mayora dan minora
12)  Tempatkan bayi kedalam bak mandi sambil menyangga kepala ke
punggungnya, bilaslah dengan sabun dengan cepat, (tidak perlu
menghilangkan verniks)
13)  Keringkan betul-betul bayi dengan sebuah handuk yang hangat dan kering
14)  Tempatkan bayi pada alas dan popok yang hangat dan kering (singkirkan
handuk basah kepinggir)
15)  Perawatan tali pusat
16)  Kenakan pakaian yang bersih dan kering
17)  Bungkuslah bayi dengan selimut yang bersih dan kering
18)  Cuci tangan

c.       Pencegahan infeksi pada mata


Cara mencegah infeksi pada mata bayi baru lahir adalah dengan merawat
mata bayi baru lahir dengan mencuci tangan terlebih dahulu, membersihkan
kedua mata bayi segera setelah lahir dengan kapas atau sapu tangan halus dan
bersih yang telah dibersihkan dengan air hangat. Dalam waktu 1 jam setelah bayi
lahir, berikan salep/obat tetes mata untuk mencegah oftalmia neonatorum
(Tetrasiklin 1%, Eritromisin 0,5% atau Nitras Argensi 1%), biarkan obat tetap
pada mata bayi dan obat yang ada di sekitar mata jangan dibersihkan.
Keterlambatan memberikan salep mata, misalnya bayi baru lahir diberi salep
mata setelah lewat 1 jam setelah lahir, merupakan sebab tersering kegagalan
upaya pencegahan infeksi pada mata bayi baru lahir.
Langkah-langkah pemberian obat tetes mata :
1)      Memeriksa catatan riwayat kesehatan bayi
2)      Menyiapkan alat: Bak instrumen berisi: tetes mata dalam tube, kom berisi
kapas air hangat, sarung tangan, bengkok.
3)      Mendekatkan alat
4)      Mencuci tangan dan mengenakan sarung tangan
5)      Mengatur posisi bayi : bayi telentang, leher sedikit ekstensi
6)      Membersihkan mata dari dalam ke arah luar dengan kapas air hangat
7)      Memegang tetes mata dan memposisikan tangan di atas pinggir kelopak
mata. Menarik kelopak mata bawah dan meneteskan obat sesuai dosis dalam
sacus konjungtiva bawah. Bila saat obat diteteskan bayi berkedip, mata terpejam
atau tetesan jatuh di luar sacus konjungtiva, ulangi prosedur
8)      Menarik kelopak mata atas dan meneteskan obat sesuai dosis dalam sacus
konjungtiva atas
9)      Memejamkan mata bayi. Bila efek obat sistemik, berikan tekanan lembut
pada duktus nasolakrimalis 30-60 detik
10)  Mengamati kondisi umum bayi
11)  Merapikan bayi dan menyerahkan kembali kepada orangtua
12)  Merapikan alat
13)  Mencuci tangan
d.      Imunisasi
Pada daerah risiko tinggi infeksi tuberkulosis, imunisasi BCG harus
diberikan pada bayi segera setelah lahir. Pemberian dosis pertama tetesan polio
dianjurkan pada bayi segera setelah lahir atau pada umur 2 minggu. Maksud
pemberian imunisasi polio secara dini adalah untuk meningkatkan perlindungan
awal. Imunisasi Hepatitis B sudah merupakan program nasional, meskipun
pelaksanaannya dilakukan secara bertahap. Pada daerah risiko tinggi, pemberian
imunisasi Hepatitis B dianjurkan pada bayi segera setelah lahir.
4.      Rawat Gabung (Rooming in / Bedding In)Pada Neonatus
1.      Definisi Rawat Gabung
Rawat gabung (rooming in) ialah suatu sistem perawatan di mana bayi serta
ibu dirawat dalam satu unit. Rawat gabung merupakan sistem perawatan dimana ibu
dan bayi bersama-sama pada tempat yang berdekatan sehingga memungkinkan
sewaktu-waktu, setiap saat ibu dapat menyusui bayinya. Rawat gabung adalah satu
cara perawatan dimana ibu dan bayi yang baru dilahirkan tidak dipisahkan,
melainkan ditempatkan dalam sebuah ruangan, kamar atau tempat bersama-sama
selama 24 jam penuh, dimana merupakan waktu yang baik bagi ibu dan bayi saling
berhubungan dan dapat memberikan kesempatan bagi keduanya untuk pemberian
ASI.
Ada 2 jenis rawat gabung, yaitu :
a.       Rooming in continue : dimana bayi tetap berada di samping ibu selama 24 jam
b.      Rooming in partial : dimana ibu dan bayi bersama-sama hanya dalam beberapa
jam seharinya. Misalnya pagi bersama iu sementara malam hari dirawat di
kamar bayi. Rawat gabung ini sudah tidak dipakai lagi dan tidak dibenarkan
lagi.
Bedding in adalah perawatan dimana ibu dan bayi berada dalam satu ranjang /
tempat tidur dengan memberikan keuntungan khusus untuk menyusui sehingga
dapat memudahkan ibu untuk beristirahat dan menyusui bayi di malam hari atau
kapan saja.
2.      Tujuan Rawat Gabung
Ada beberapa tujuan dari rawat gabung antara lain :
a.       Bantuan emosional
Setelah menunggu selama 9 bulan dan setelah lelah dalam proses
persalinan si ibu akan sangat senang bahagia bila dekat dengan bayi. Si ibu
dapat membelai-belai si bayi, mendengar tangis bayi, mencium-cium dan
memperhatikan bayinya yang tidur disampingnya. Hubungan kedua makhluk
ini, sangat penting untuk saling mengenal terutama pada hari-hari pertama
setelah persalinan. Bayi akan memperoleh kehangatan tubuh ibu, suara ibu,
kelembutan dan kasih sayang ibu (bonding effect).
b.      Penggunaan ASI
ASI adalah makanan bayi yang terbaik. Produksi ASI akan lebih cepat dan
lebih banyak bila dirangsang sedini mungkin dengan cara menetekkan sejak
bayi lahir hingga selama mungkin. Pada hari-hari pertama, yang keluar adalah
kolostrum yang jumlahnya sedikit. Tidak perlu khawatir bahwa bayi akan
kurang minum, karena bayi harus kehilangan cairan pada hari-hari pertama dan
absorpsi usus juga sangat terbatas.
c.       Pencegahan infeksi
Pada tempat perawatan bayi di mana banyak bayi disatukan, infeksi silang
sulit dihindari. Dengan rawat gabung, lebih mudah mencegah infeksi silang.
Bayi yang melekat pada kulit si ibu akan memperoleh transfer antibodi dari si
ibu. Kolostrum yang mengandung antibodi dalam jumlah tinggi, akan melapisi
seluruh permukaan kulit dan saluran pencernaan bayi, dan diserap oleh bayi
sehingga bayi akan mempunyai kekebalan yang tinggi. Kekebalan ini akan
mencegah infeksi, terutama pada diare.
d.      Pendidikan kesehatan
Kesempatan melaksanakan rawat gabung dapat dimanfaatkan untuk
memberikan pendidikan kesehatan kepada ibu, terutama primipara. Bagaimana
teknik menyusui, memandikan bayi,merawat tali pusat, perawatan payudara dan
nasihat makanan yang baik, merupakan bahan-bahan yang diperlukan si ibu.
Keinginan ibu untuk bangun dari tempat tidur, menggendong bayi dan merawat
sendiri akan mempercepat mobilisasi, sehingga si ibu akan lebih cepat pulih dari
persalinan
3.      Manfaat Rawat Gabung
Manfaat dan keuntungan rawat gabung ditinjau dari berbagai aspek dan sesuai
tujuanya adalah sebagai berikut :
a.       Bagi ibu
1)      Aspek psikologis
a)      Antara ibu dan bayi akan segera terjalin proses lekat (early infant –
mother bonding) darn lebih akrab akrab akibat sentuhan badan antara ibu
dan bayi
b)      Dapat memberikan kesempatan pada ibu untuk belajar merawat bayinya
c)      Memberikan rasa percaya kepada ibu untuk merawat bayinya. Ibu dpaat
memberikan ASI kapan saja bayi membutukannya, sehingga akan
memberikan rasa kepuasan pada ibu bahwa ia dapat berfungsi dengan baik
sebagaimana seorang ibu memenuhi kebutuhan nutrisi bagi bayinya. Ibu
juga akan merasa sangat dibutuhkan oleh bayinya dan tidak dapat
digantikan oleh orang lain. Hal ini akan memperlancar produksi ASI.

2)      Aspek fisik


a)      Involusi uteri akan terjadi dengan baik karena dengan menyusui akan
terjadi kontraksi rahim yang baik
b)      Ibu dapat merawat sendiri bayinya sehingga dapat mempercepat
mobilisasi
b.      Bagi bayi
1)      Aspek psikologi
a).   Sentuhan badan antara ibudan bayi akan berpengaruh terhadap
perkembangan psikologi bayi selanjutnya, karena kehangatan tubuh ibu
merupakan stimulasi mental yang mutlak dibutuhkan oleh bayi
b). Bayi akan mendapatkan rasa aman dan terlindung, ini merupakan dasar bagi
terbentuknya rasa percaya diri anak.
2)      Aspek fisik
a)      Bayi segera mendapatkan kolostrum atau ASI jolong yang dapat
memeberikan kekebalan / antibodi
b)      Bayi segera mendapatkan makanan sesuai pertumbuhannya
c)      Kemungkinan terjadi infeksi nasokomial kecil
d)     Bahaya aspirasi akibat susu botol berkurang
e)      Penyakit sariaqwan pada bayi dapat dihindari / dikurangi
f)       Alergi terhadap susu buatan berkurang
c.       Bagi keluarga
1)      Aspek psikologis
Rawat gabung memberikan peluang bagi keluarga untuk memberikan support
pada ibu untuk memberikan ASI pada bayi
2)      Aspek fisik
Lama perawatan lebih pendek karena ibu cepat pulih kembali dan bayi tidak
menjadi sakit sehingga biaya perawatan sedikit
d.      Bagi petugas
1)      Aspek psikologis
Bayi jarang menangis sehingga petugas di ruang perawatan tenang dan dapat
melakukan pekerjaan lainnya
2)      Aspek fisik
Pekerjaan petugas akan berkurang karena sebagian besar tugasnya diambil oleh
ibu dan tidak perlu repot menyediakan dan memberikan susu buatan.

4.      Pelaksanaan Rawat Gabung


Sebagai pedoman penatalaksanaan rawat gabung telah disusun tata kerja
sebagai berikut :
a.       Di Poliklinik Kebidanan
1)      Memberikan penyuluhan mengenai kebaikan ASI dan rawat gabung.
2)      Memberikan penyuluhan mengenai perawatan payudara, makanan ibu hamil,
nifas, perawatan bayi, dan lain-lain.
3) Mendemonstrasikan pemutaran film, slide mengenai cara-cara merawat
payudara, memandikan bayi, merawat tali pusat, Keluarga Berencana, dan
sebagainya.
4)      Mengadakan ceramah, tanya jawab dan motivasi Keluarga Berencana.
5)      Menyelenggarakan senam hamil dan nifas.
6)      Membantu ibu-ibu yang mempunyai masalah-masalah dalam hal kesehatan
ibu dan anak sesuai dengan kemampuan.
7)      Membuat laporan bulanan mengenai jumlah pengunjung, aktivitas,
hambatan dan lain-lain.
b.      Di Kamar Bersalin
1)      Bayi yang memenuhi syarat perawatan gabung dilakukan perawatan bayi
baru lahir seperti biasa. Kriteria yang diambil sebagai syarat untuk dirawat
bersama ibunya adalah :
a)      Nilai APGAR lebih dari 7
b)      Berat badan lebih dari 2500 gr, kurang dari 4000 gr
c)      Kehamilan lebih dari 36 minggu, kurang dari 42 minggu
d)     Lahir spontan, presentasi kepala
e)      Tanpa infeksi intrapartum
f)       Ibu sehat
2)      Dalam jam pertama setelah lahir, bayi segera disusukan kepada ibunya untuk
merangsang pengeluaran ASI.
3)      Memberikan penyuluhan mengenai ASI dan perawatan gabung terutama
bagi yang belum mendapat penyuluhan di poliklinik.
4)      Mengisi status P3-ASI secara lengkap dan benar.
5)      Catat pada lembaran pengawasan, jam berapa bayi baru lahir dan jam berapa
bayi disusukan kepada ibunya.
6)      Persiapan agar bayi dan ibunya dapat bersama-sama ke ruangan
c.       Di Ruangan Perawatan.
1)  Bayi diletakkan di dalam tempat tidur bayi yang ditempatkan di samping
tempat tidur ibu
2)  Waktu berkunjung bayi dan tempat tidurnya dipindahkan ke ruangan lain.
3)    Perawat harus memperhatikan keadaan umum bayi dan dapat dikenali
keadaan-keadaan yang tidak normal serta kemudian melaporkan kepada
dokter jaga
4)   Bayi boleh menyusu sewaktu bayi menginginkan
5) Bayi tidak boleh diberi susu dari botol. Bila ASI masih kurang, boleh
ditambahkan air putih atau susu formula dengan sendok. Ibu harus dibantu
untuk dapat menyusui bayinya dengan baik, juga untuk merawat
payudaranya
6)   Keadaan bayi sehari-hari dicatat dalam status P3 – ASI
7)  Bila bayi sakit atau perlu diobservasi lebih teliti, bayi dipindahkan ke ruang
perawatan bayi baru lahir
8)      Bila ibu dan bayi boleh pulang, sekali lagi diberi penerangan tentang cara-
cara merawat bayi dan pemberian ASI serta perawatan payudara dan
makanan ibu menyusui
9) Kepada ibu diberikan leaflet mengenai hal tersebut dan dipesan untuk
memeriksakan bayinya 2 minggu kemudian.
10)  Status P3 – ASI setelah dilengkapi, dikembalikan ke ruangan follow up
d.      Di Ruang follow up
Pemeriksaan di ruang follow up meliputi pemeriksaan bayi dan keadaan ASI.
Aktivitas di ruang follow upmeliputi :
1)      Menimbang berat bayi
2)      Anamnesis makanan bayi dan keluhan yang timbul
3)      Mengecek keadaan ASI
4)      Memberi nasihat mengeni makanan bayi, cara menyusukan bayi dan
makanan ibu yang menyusukan
5)      Memberikan peraturan makanan bayi
6)      Pemeriksaan bayi oleh dokter anak
7)      Pemberian imunisasi menurut instruksi dokter.
5.      Syarat-syarat Rawat Gabung
Kegiatan rawat gabung dimulai sejak ibu bersalin di kamar bersalin dan di
bangsal perawatan pasca persalinan. Meskipun demikian penyuluhan tentang
manfaat dan pentingnya rawat gabung sudah dimulai sejak ibu pertama kali
memeriksakan kehamilannya di poliklinik asuhan antenatal.
Tidak semua bayi atau ibu dapat segera dirawat gabung. Bayi dan ibu yang dapat
dirawat gabung harus memenuhi syarat / kriteria sebagai berikut :
a.       Lahir spontan dengan presentasi kepala
b.      Berat badan bayi saat lahir 2500 - 4000 gram.
c.       Umur kehamilan 36 - 42 minggu.
d.      Bayi tidak asfiksia setelah lima menit pertama (nilai Apgar minimal 7).
e.       Tidak terdapat tanda-tanda infeksi intrapartum.
f.       Bila lahir dengan tindakan, maka rawat gabung dilakukan setelah bayi cukup
sehat, refleks mengisap baik, tidak ada tanda infeksi dan sebagainya.
g.      Bayi yang lahir dengan sectio caesarea dengan anestesia umum, rawat gabung
dilakukan segera setelah ibu dan bayi sadar penuh (bayi tidak mengantuk),
misalnya 4-6 jam setelah operasi selesai. Bayi tetap disusukan meskipun
mungkin ibu masih mendapat infus.
h.      Ibu dalam keadaan sehat jasmani dan rohani.
6.      Persyaratan Ruang Rawat Gabung Yang Ideal
a.       Untuk bayi
1)      Ranjang bayi tersendiri yang mudah terjangkau dan dilihat oleh ibu
2)      Bagi yang memerlukan tersedia rak bayi
3)      Ukuran tempat tidur anak 40 x 60 cm
b.      Untuk ibu
1)      Ukuran tempat tidur 90 x 200 cm.
2)      Tinggi 90 cm
c.       Untuk Ruang
1)      Ukuran ruang untuk satu tempat tidur 1,5 x 3 m
2)      Ruang dekat dengan ruang petugas (bagi yang masih memerlukan
perawatan
d.      Untuk Sarana
1)      Lemari pakaian
2)      Tempat mandi bayi dan perlengkapannya
3)      Tempat cuci tangan ibu
4)      Setiap kamar mempunyai kamar mandi ibu sendiri
5)      Ada sarana penghubung
6)      Petunjuk/sarana perawatan payudara, bayi dan nifas, pemberian makanan
pada bayi dengan bahasa yang sederhana
7)      Perlengkapan perawatan bayi
e.       Untuk Petugas
1)      Rasio petugas dengan pasien 1 : 6
2)      Mempunyai kemampuan dan ketrampilan dalam pelaksanaan rawat gabung
f.       Model pengaturan ruangan rawat gabung
1)      1 kamar dengan 1 ibu dan bayinya
2)      4 – 5 orang ibu dalam 1 kamar dengan bayi pada kamar yang lain
bersebelahan dan bayi dapat diambil tanpa ibu harus meninggalkan tempat
tidurnya
3)      Beberapa ibu dalam 1 kamar dan bayi dipisahkan dalam 1 ruangan kaca
yang kedap udara
4)      Model diman ibu dan bayi tidur di atas tempat tidur yang sama (bedding in)
5)      Bayi di tempat tidur yang letaknya di samping ibu

7.      Kontra Indikasi Rawat Gabung


a.       Bagi ibu
1)      Fungsi kardiorspiratorik yang tidak baik
Pasien penyakit jantung kelas II dianjurkan untuk sementara tidak menyusui
sampai keadaan jantung cukup baik. Bagi pasien jantung klasifikasi III tidak
dibenarkan menyusui. Penilaian akan hal ini harus dilakukan dengan hati-
hati.
2)      Eklampsia dan pre eklampsia berat
Keadaan ibu biasanya tidak baik dan pengaruh obat-obatan untuk mengatasi
penyakit biasanya menyebabkan kesadaran menurun sehingga sementara ibu
belum sadar betul. Tidak diperbolehkan ASI dipompa dan diberikan pada
bayi.
3)      Penyakit infeksi akut dan aktif
Bahaya penularan pada bayi yang dikhawatirkan. Tuberkolosis paru yang
aktif dan terbuka merupakan kontra indikasi mutlak. Pada sepsis keadaan ibu
biasanya buruk dan tidak akan mampu menyusui. Banyak perdebatan
mengenai penyakit infeksi apakah dibenarkan menyusui atau tidak
4)      Karsinoma payudara
Pasien dengan karsinoma payudara harus dicegah jangan sampai ASInya
keluar karena mempersulit penilaian penyakitnya. Apabila menyusui
ditakutkan adanya sel-sel karsinoma yang terminum si bayi.
5)      Psikosis
Tidak dapat dikontrol keadaan jiwa si ibu bila menderita psikosis. Meskipun
pada dasarnya ibu sayang pada bayinya, tetapi selalu ada kemungkinan
penderita psikosis membuat cedera pada bayi
b.      Bagi bayi
1)      Bayi kejang
Kejang-kejang pada bayi akibat cedera persalinan atau infeksi tidak
memungkinkan untuk menyusui. Ada bahaya aspirasi, bila kejang timbul saat
bayi menyusui. Keadaan bayi yang menurun juga tidak memungkinkan bayi
untuk menyusui.
2)      Bayi yang sakit berat
Bayi dengan penyakit jantung atau paru-paru atau peyakit lain yang
memerlukan perawatan intensif tentu tidak meyusu dan dirawat gabung.
3)      Bayi yang memerlukan observsi / terapi khusus
Selama observasi rawat gabung tidak dapat dilaksanakan. Setelah keadaan
membaik tentu dapat dirawat gabung. Ini yang disebut rawat gabung tidak
langsung.
4)      Very low birth weight / Berat Badan Lahir Sangat Rendah (BBLSR)
Refleks menghisap dan refleks lain pada BBLSR belum baik sehingga tidak
mungkin menyusu dan di rawat gabung.
5)      Cacat bawaan / kelainan kongenital
Diperlukan persiapan mental ibu untuk menerima keadaan bayinya yang
cacat. Cacat bawaan yang mengancam jiwa si bayi merupakan kontra
indikasi mutlak. Cacat ringan seperti labiaskizis, palatoskizis bahkan
labiognatopalatoskizis masih memungkinkan untuk meyusui.
6)      Kelainan metabolik dimana bayi tidak dapat menerima ASI
8.      Kesulitan Rawat Gabung
Walaupun telah digalakkan rawat gabung di setiap tempat persalinan, ternyata masih
terdapat kesulitan dalam pelaksanaannya yaitu :
a.Kasus tidak terdaftar belum memperoleh penyuluhan sehingga masih takut
menerima rawat gabung.
b.Kekurangan tenaga pelaksana untuk penyuluhan dan pendidikan kesehatan untuk
mencapai tujuan yang maksimal.
c.Secara terpaksa masih digunakan susu formula untuk keadaan-keadaan dimana ASI
sangat sedikit, yaitu ibu yang mengalami tindakan operatif dan belum pulih
kesadarannya.

9.      Keuntungan Dan Kerugian


a.       Keuntungan
1)      Menggalakan penggunaan ASI
2)      Kontak emosi ibu dan bayi lebih dini dan lebih erat
3)      Ibu segera dapat melaporkan keadaan-keadaan bayi yang jika ada masalah
4)      Ibu dapat belajar merawat bayi
5)      Mengurangi ketergantungan ibu pada tenaga kesehatan
6)      Membangkitkan kepercayaan diri yang lebih besar dalam merawat bayi
7)      Berkurangnya infeksi silang
8)      Mengurangi beban perawatan terutama dalam pengawasan
b.      Kerugian
1)      Ibu kurang istirahat
2)     Dapat terjadi kesalahan dalam pemberian makanan karena pengaruh orang
lain
3)      Bayi bisa mendapatkan infeksi dari pengunjung
4)      Pada pelaksanaan ada hambatan teknis
KESIMPULAN

Neonatal adalah fase kehidupan pertama kali yang dialami oleh bayi setelah
keluar dari kandungan sampai berumur 28 hari, masa ini merupakan periode yang
paling bahaya, baik secara fisik maupun psikologis.
Ciri-ciri bayi neonatal diantaranya masih adanya tali pusat pada bayi, kulit bayi
keriput, lebih banyak tidur,dan badan masih lemah amatrentan.
Penyesuaian pokok yang dilakukan bayi neonatal yaitu, perubahan suhu.
Dimana ketika di dalam rahim suhu berkisar 100F, namun suhu diluar bekisar 600
sampai 700 F saja.
DAFTAR PUSTAKA

https://www.academia .edu/38440581/makalah_bayi_neonatal
https://asmiranthycollage.blogspot,com/2014/03/makalah-tentang-bayi-neonatal.html?m=1
http://intanchiechielita.blogspot.com/2016/01/makalah-bayi-baru-lahir-neonatus.html?m=1