Anda di halaman 1dari 3

KURVA PEMBELAJARAN

Kurva pembelajaran (learning curve) didasarkan pada pemikiran yang menyatakan bahwa
organisasi dan orang-orang akan mengerjakan tugas mereka dengan lebih baik ketika tugas-tugas
tersebut diulang-ulang. Kurva pembelajaran didasarkan pada penggandaan produksi: artinya,
ketika produksi dilipatgandakan, maka penurunan waktu setiap unit memengaruhi tingkat kurva
pembelajaran. Jadi, jika tingkat kurva pembelajaran adalah 80%, maka unit kedua membutuhkan
80% waktu unit pertama, unit keempat membutuhkan 80% waktu unit kedua, unit kedelapan
membutuhkan 80% waktu unit keempat, dan sebagainya. Prinsip ini dinyatakan sebagai:
T × Ln = Waktu yang dibutuhkan untuk unit ke-n (E-1)
T = biaya atau waktu per unit bagi unit pertama,
L = tingkat kurva pembelajaran,
n = banyaknya T dilipatgandakan.
KURVA PEMBELAJARAN PADA BIDANG MANUFAKTUR DAN JASA
Kurva pembelajaran industri sangat bervariasi. Semakin rendah nilai, maka semakin curam kurva
dan biaya lebih cepat menurun. Secara tradisi, kurva pembelajaran dikatakan sebagai pelengkap
tingkat perbaikan. Produk dan proses yang stabil dan terstandardisasi cenderung memiliki biaya
yang dapat merosot lebih tajam daripada produk dan proses lainnya. Sebagai contoh, di antara
tahun 1920 dan 1955, industri baja dapat mengurangi biaya jam kerja untuk setiap unitnya
hingga 79% secara kumulatif untuk setiap kali penggandaan produksinya. Selain digunakan pada
bidang jasa dan manufaktur, kurva pembelajaran juga bermanfaat untuk berbagai tujuan berikut:
1. Internal: peramalan tenaga kerja, penjadwalan, penetapan biaya, dan anggaran.
2. Eksternal: negosiasi rantai pasokan (lihat studi kasus SMT pada akhir modul ini).
3. Strategis: evaluasi kinerja industri dan perusahaan, termasuk biaya dan penetapan harga.
PENERAPAN KURVA PEMBELAJARAN
Terdapat sebuah hubungan matematis yang memungkinkan untuk menyatakan waktu yang
diperlukan untuk menghasilkan sebuah unit tertentu. Hubungan ini merupakan sebuah fungsi
banyaknya unit yang telah diproduksi sebelum unit yang dipertanyakan tersebut dan berapa lama
waktu yang diperlukan untuk menghasilkannya. Sebagai contoh, jika peningkatan kurva
pembelajaran tidak dipertimbangkan ketika melakukan penjadwalan, hal ini dapat menghasilkan
tenaga kerja dan fasilitas produksi menjadi kosong pada sebagian waktu. Lebih lanjut,
perusahaan dapat menolak pekerjaan tambahan sebab mereka tidak mempertimbangkan
peningkatan efisiensi mereka sendiri yang diakibatkan oleh adanya proses pembelajaran. Dari
sisi rantai pasokan, yang menjadi perhatian adalah dalam menegosiasikan banyaknya biaya
pemasok untuk produksi lebih lanjut berdasarkan ukuran pesanan. Hal-hal tersebut merupakan
sedikit pembahasan pada efek kurva pembelajaran.

Prinsip ini ada tiga jalan pendekatan kurva pembelajaran secara matematis: analisis aritmatika,
analisis logaritma, dan koefisien kurva pembelajaran.

 PENDEKATAN ARITMATIKA

Pendekatan aritmatika (arithmetic approach) adalah pendekatan yang paling sederhana pada
permasalahan kurva pembelajaran. Setiap kali produksi berlipat dua, maka tenaga kerja per unit
menurun dengan sebuah faktor konstan yang dikenal sebagai tingkat pembelajaran. Analisis ini
tidak memerlukan lamanya waktu yang diperlukan untuk menghasilkan unit lain,

 PENDEKTAN LOGARITMA

Pendekatan ini dapat menentukan tenaga kerja untuk setiap unit, dengan rumus:

Pendekatan logaritma memungkinkan kita untuk menentukan berapa jam yang diperlukan untuk
menghasilkan setiap unit, tetapi ada metode lain yang lebih sederhana
 PENDEKATAN KOEFISIEN KURVA PEMBELAJARAN

Memiliki persamaan:

IMPLIKASI STRATEGIS KURVA PEMBELAJARAN


Penerapan penting kurva pembelajaran lainnya berhubungan dengan perencanaan strategis.
perusahaan dapat melakukan hal ini dengan cara-cara berikut jika terjadi penurunan biaya dan
jika strategi perusahaan adalah mencapai kurva yang lebih curam dibandingkan dengan industry
rata-rata:
1. Menerapkan kebijakan harga yang agresif.
2. Berfokus pada peningkatan produktivitas dan pengurangan biaya yang berkelanjutan.
3. Membagi pengalaman.
4. Menjaga kapasitas dapat tumbuh di atas permintaan.
KETERBATASAN KURVA PEMBELAJARAN
• Karena kurva pembelajaran berbeda pada setiap perusahaan dan industri, maka perkiraan untuk
setiap organisasi harus dibuat, bukannya menerapkan kurva pembelajaran perusahaan atau
industri lain.
• Kurva pembelajaran sering berdasarkan pada waktu diperlukan untuk memproduksi unit-unit
awal; karena itu, waktu tersebut harus akurat. Setelah informasinya tersedia, perlu dilakukan
evaluasi ulang.
• Segala perubahan pada karyawan, desain, atau prosedur dapat mengubah kurva pembelajaran.
Bentuk kurva dapat tetap sepanjang suatu periode waktu yang pendek, sekalipun akan jatuh pada
jangka panjang.
• Sementara para pekerja dan proses membaik, kurva pembelajaran yang sama tidak selalu dapat
diterapkan bagi tenaga kerja tidak langsung dan bahan mentah.
• Budaya kerja, begitu juga ketersediaan sumber daya dan perubahan dalam proses, bisa
mengubah kurva pembelajaran. Sebagai contoh, ketika sebuah proyek hamper selesai, upaya dan
minat para pekerjanya mungkin menurun dan membatasi kemajuan kurva.