Anda di halaman 1dari 7

Tujuan Kegiatan :

Upacara Kasada merupakan salah satu ritual meminta pengampunan dari


Brahma. Dalam upacara ini, masyarakat Suku Tengger melakukan pengorbanan
dengan membuang pengorbanannya ke kawah Gunung Tengger. Pengorbanan
tersebut bisa berupa makanan, uang, dan pakaian. Pada zaman dahulu sebelum
mengenal pengorbanan dalam bentuk barang, dimungkinkan orang Tengger
melakukan pengorbanan dalam bentuk manusia

Upacara Kasada erat dengan cerita Roro Anteng dan Joko Seger yang sangat ingin
memiliki keturunan. Merekapun akhirnya memohon kepada Dewata agar bisa
memiliki 25 orang anak. Permohonan mereka dikabulkan tetapi dengan syarat
anak yang ke-25 harus dipersembahkan untuk Dewa Bromo. Ketika dewasa,
Kusuma anak dari Roro Anteng dan Joko Seger menceburkan diri ke kawah
Gunung Bromo dan meminta saudara-saudaranya agar pada bulan kesepuluh
tepat pada bulan purnama memberikan kurban ke kawah Gunung Bromo,
upacara ini kemudian menjadi awal mula dilaksanakannya upacara Kasada.

Proses Kegiatan :
Pengambilan air tirta atau air suci

Air suci ini dipergunakan untuk nglukat umat atau penyucian jiwa
masyarakat Tengger di Poten (lautan pasir). Tirta itu diambil oleh para dukun dari
setiap desa di kawasan Tengger 2 atau 3 hari sebelum acara pembukaan
diselenggarakan;

• Upacara pembukaan

Upacara ini dilakukan oleh ketua panitia yang dihadiri oleh pimpinan
parisada lainnya serta para dukun dari seluruh desa di kawasan Tengger tersebut.
Upacara ini dipusatkan di Balai Desa Ngadisari, setelah resmi dibuka dilanjutkan
dengan acara inti, yaitu pementasan sendratari Rara Anteng dan Jaka Seger yang
kemudian diikuti dengan acara hiburan lainnya.
• Pelaksanaan upacara ritual Kasada

Upacara ritual Kasada ini pada dilaksanakan mulai jam 23.00 sampai jam 07.00
wib dengan serangkaian acara sebagai berikut:

1) Persiapan upacara

Dilakukan oleh para dukun, legen dan pini sepuh adat Tengger
dengan mengatur tempat-tempat penting, seperti tempat padmasana,
mandala utama, kursi-kursi para dukun, dan mengatur kesempurnaan
dwipa, wewangen, bija, yang akan dibagikan kepada peserta upacara.

2) Pelaksanaan upacara

a. Pembukaan oleh Panitia Pelaksana ( hasil musyawarah)

Dalam acara pembukaan yang dipusatkan di Balai Desa Ngadisari tersebut


sekaligus digelar Sendratari Rara Anteng dan Jaka Seger yang merupakan acara
inti yang dilanjutkan dengan hiburan lainnya yang dipentaskan dari berbagai
daerah.

b. Kidung-kidung religius, semacam uyon-uyon yang diiringi dengan gamelan.

c. Pembacaan Kitab Suci Weda

Lazimnya pembacaan ini dilakukan secara bergantian oleh pembaca-


pembaca yang memiliki suara yang bagus dan indah, termasuk yang baik
bacaannya. Salah satu doa yang dibaca ialah doa syukur, seperti:

Om Dewa Suksama pomama acintyaya Nama Swaha sarwa karya


prasidhantan Om santhi, santhi, santhi, om (Ya Tuhan dalam wujud Prama
Acintyaya Yang Mahagaib, atas anugerah-Mu lah maka pekerjaan ini berhasil
dengan baik,damai, damai di dunia damai selamanya).

d. Pembacaan sejarah Kasada


e. Nglukat umat

Upacara ini dimaksudkan untuk menyucikan atau membersihkan jiwa umat


(suku Tengger) dari jiwa yang kotor dengan; a) pembagian bija yang
ditempelkan di bagian muka, jika berlebihan bija sebaiknya jangan dibuang
tetapi akan lebih baik jika dimakan, b) pemberian wewangian atau bunga yang
diletakkan di telinga sebelah kanan, c) membakar dwipa di perapen, serta d)
memercikkan tirta suci di kepala dan wajah umat. Setelah semua peserta
upacara mendapatkan itu semua baru diadakan persembahyangan.

f. Muspa atau persembahyangan

Upacara ini dipimpin oleh panandita dan dibantu oleh para pendeta dengan
mengapitkan kedua tangannya yang di tengahnya diletakkan bunga kemudian
diangkat dengan membaca doa sesuai dengan maksud masing-masing, baik
sebagai dukun maupun sebagai masyarakat biasa. Jenis atau macam doa yang
dibaca dalam persembahyangan tersebut yang paling penting dan sering
dibaca adalah doa untuk tiga waktu yaitu waktu pukul 06.00 pagi hari, waktu
pukul ; 12.00 siang hari dan waktu pukul 18.00 petang hari.

g. Doa pascasembah

Doa ini sangat penting dibacakan pada Hari Raya Kasada yang biasanya
dinamakan juga karamaning sembah yang terdiri dari 5 mantra.

h. Pemilihan calon dukun

Pemilihan atau penetapan seseorang menjadi dukun di masyarakat Tengger


harus memenuhi syarat sebagai berikut :

1) Pernah menjadi legen atau sesepuh adat selama beberapa tahun.

2) Hafal sebagian mantra-mantra yang dibaca pada bermacam-macam upacara


adat.

3) Telah memenuhi sebagian persyaratan yang lain yang harus dipenuhi oleh
pemangku adat Tengger.
4) Jika di tahun sebelumnya (dalam 44 hari sebelum Kasada) di desa tempat
tinggal calon tersebut | tidak ada orang meninggal dunia. Calon dukun yang
akan ! dilantik menjadi dukun harus memakai pakaian adat yang berupa hem
putih, jas hitam, udeng coklat, selempang kuning yang dipasang di bagian dada
sebaagi tanda menjadi dukun j resmi.

i. Acara Lelabuh Sesajen di kawasan Gunung Bromo

Acara ini dilaksanakan pada pukul 06.00 pagi hari di Pura Agung yang
terletak di tengah lautan pasir di kaki i Gunung Bromo. Acara lelabuh sesajen
ini diatur dengan cara j berkelompok sesuai dengan rombongannya masing-
masing dari setiap desa dan berjalan kaki menuju kawah Gunung Bromo.
Dengan posisi barisan sebagai berikut; Pertama, \ rombongan para pejabat
pemerintah bersama rombongan pejabat parisada Hindu Dharma. Kedua,
rombongan para dukunyang datang dari 4 kabupaten (Malang, Pasuruan, j
Lumajang, dan Probolinggo). Ketiga, pembawa ongkek, yang dibawa oleh para
legen dan sebagian peserta upacara. Keempat, rombongan dari tiap-tiap desa
dari 4 Kabupaten tersebut. Mereka semua berjalan secara teratur menuju ke
mulut kawah Gunung Bromo, selanjutnya membuang sesajen yang dibawa
dengan mengucapkan mantra atau doa sesuai dengan niatnya.

j. Upacara Selamatan (Pepujan) Desa

Upacara ini merupakan kegiatan terakhir dari serangkaian kegiatan upacara


ritual Kasada, yaitu dengan upacara selamatan desa masing-masing sehari
sesudah upacara di Poten. Upacara ini diikuti oleh seluruh warga masyarakat
dengan pelaksanaannya di Sanggar atau Pura masing-masing desa atau bahkan
di Balai Desa.

Peraturan dari Kegiatan:


Hari Raya Kasada diperingati setiap tanggal 15 bulan purnama pada bulan
ke kedua belas Kasada (menurut perhitungan kalender masyarakat Tengger).
Walaupun tata cara ritual Kasada tersebut mirip seperti upacara keagamaan
Hindu, namun pelaksanaan ritual masyarakat Tengger ini tidak berlaku pada
masyarakat Hindu pada umumnya.

Kelakuan keagamaan (religious behaviour) yang dilaksanakan menurut tata


kelakuan yang baku lazim disebut dengan upacara keagamaan (religious
ceremonies atau rites), dengan 4 komponen utamanya, yaitu (1) tempat upacara,
(2) saat upacara, (3) benda- benda dan alat-alat upacara, serta (4) orang-orang
yang melakukan dan memimpin upacara. Karena upacara-upacara keagamaan
selalu merupakan suatu perbuatan yang keramat, maka secara otomatis tempat-
tempat di mana upacara dilakukan, saat waktu pelaksanaan upacara, benda-
benda yang merupakan alat-alat dalam upacara, serta orang-orang yang
menjalankan upacara juga dianggap "keramat" oleh masyarakat setempat.

Sebelum melarung aneka macam sesaji, digelar acara pengambilan air suci
Widodaren, pembacaan sejarah suku Tengger, dan pembacaan doa atau mantra
oleh pemangku adat.

Makna :
Ritual Kasada dimaknai berbeda-beda oleh setiap kalangan. Pemaknaan ritual
Kasada juga tergantung dari sudut pandang pemaknaannya. Ritual Kasada
dimaknai sebagai peneguhan kosmologi komunitas Tengger, bahwa Gunung
Bromo merupakan pusat dunia. Hal ini terungkap pada zaman dahulu
pembangunan rumah maupun sanggar menghadap ke arah Gunung Bromo. Ritual
Kasada juga dimaknai sebagai identitas komunitas Tengger sebagai anak
keturunan Majapahit.

Pada masa sekarang yang mengikuti upacara Kasada tidak hanya suku Tengger
yang beragama Hindu saja namun juga warga Tengger yang beragama Islam
maupun Kristen yang sudah keluar daerah datang dan berkumpul kembali.