Anda di halaman 1dari 20

KARYA ILMIAH AKHIR

PENERAPAN DIABETES SELF MANAGEMENT EDUCATION


(DSME) PADA PENDERITA DIABETES MELLITUS TIPE 2
DENGAN MASALAH KEPERAWATAN KESIAPAN
PENINGKATAN MANAJEMEN KESEHATAN
DI RT 05 RW 04 DUSUN. TINARO
KEC. TIKUNG KAB. LAMONGAN

MALIHATUS SYARIFAH
1120019171

DOSEN PEMBIMBING:
NETY MAWARDA HATMANTI, S.Kep.Ns., M.Kep.

PROGRAM STUDI PROFESI NERS


FAKULTAS KEPERAWATAN DAN KEBIDANAN
UNIVERSITAS NAHDLATUL ULAMA SURABAYA
2020

i
BAB 1

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Diabetes Mellitus (DM) merupakan penyakit menahun yang akan diderita

seumur hidup oleh penderita dan keluarga. Salah satu masalah utama dalam

pelayanan kesehatan bagi penyandang DM di Indonesia adalah belum

optimalnya penanganan kasus DM dan belum adanya budaya memandirikan

pasien secara optimal (PERKENI, 2015). Fenomena ini membuat para

penyandang DM yang pulang kerumah masih memerlukan peningkatan

pengetahuan dalam mencegah komplikasi penyakit baik akut maupun kronis.

Sehingga kesiapan peningkatan manajemen kesehatan setiap keluarga harus

ditingkatkan (Indaryati, 2018). Kurangnya kesiapan dalam manajemen

kesehatan akan menyebabkan kondisi penderita dan keluarga jatuh pada kondisi

stres dan menyebabkan penurunan kualitas hidup penderita. Oleh karena itu

penyakit ini membutuhkan perawatan medis dan pendidikan pengelolaan mandiri

untuk mencegah komplikasi akut dan resiko komplikasi jangka panjang (ADA,

2010).

Penelitian yang telah dilakukan oleh Wiji, dkk (2018) di kecamatan Genuk

Kota Semarang menyatakan bahwa dari 4.097 orang yang ada di kecamatan ini

terdapat banyak diabetisi yang melakukan perawatan mandiri dirumah selama

bertahun-tahun. Banyak diantara keluarga dan diabetesi mengeluh stres dalam

melakukan perawatan pada anggota keluarganya yang terkena DM dan mengeluh

karena pengetahuan dan keterampilan yang terbatas untuk melakukan perawatan

dirumah secara optimal. Dari hasil survey The Diabetes Attitudes, Wishes, and

1
2

Needs (DAWN) study dalam Hafan (2014) menunjukkan 16,2% pasien DM tipe 2

sudah mampu mengelolah diabetes secara mandiri. Hal ini sangat tergantung pada

kemampuan pasien dalam mengelola gaya hidup sehari-hari (Hafan, 2014).

Berdasarkan hasil pengumpulan data yang dilakukan oleh Ridwan (2017)

di Babat Lamongan menunjukkan bahwa dari 5 orang penderita diabetes yang

mengikuti penyuluhan diabetes mellitus dan senam kaki diabetic sebelumnya

didapatkan bahwa mayoritas penderita sudah mengetahui terkait diabetes mellitus

dan mengetahui juga terkait latihan senam kaki yang pernah diajarkan saat

penyuluhan, namun terkait penerapannya mayoritas penderita diabetes melitus

mengatakan jarang melakukannya dikarenakan tidak adanya waktu khusus dan

persepsi mereka bahwa pergi ke sawah sudah lebih dari melakukan latihan senam

kaki tersebut.

Diabetes Mellitus (DM) merupakan suatu kondisi kronis meningkatnya

kadar glukosa dalam darah dimana tubuh tidak dapat memproduksi insulin atau

tidak dapat menggunakan insulin secara efektif (IDF, 2017). Penyakit Diabetes

Mellitus (DM) memiliki beberapa tipe, tipe yang terbanyak adalah Diabetes

Mellitus (DM) tipe 2 (85-95%) (Black & Hawks,2014). Penyakit DM tipe 2 tidak

dapat disembuhkan, melainkan dapat dikendalikan dengan pengontrolan glukosa

darah. Salah satu faktor yang turut mempengaruhi pengendalian kadar glukosa

darah pada penderita DM tipe 2 adalah pengetahuan. Penelitian yang dilakukan

oleh Utomo (2011) membuktikan bahwa pengetahuan tentang pengelolaan DM

berhubungan secara signifikan dengan keberhasilan pengelolaan DM tipe 2. Hal

ini menunjukkan bahwa orang yang mempunyai pengetahuan baik mempunyai


3

resiko 4 kali untuk berhasil dalam pengelolaan DM tipe 2 dibandingkan dengan

orang yang berpengetahuan kurang secara statistik bermakna.

Pendidikan dan pedoman dalam perawatan diri akan meningkatkan pola

hidup penderita DM sehingga dapat mengontrol gula darah dengan baik. Selain itu

pendidikan kesehatan yang diberikan akan berdampak positif terhadap kondisi

penyakit dan kepatuhan pasien dalam melakukan tatalaksana diabetes. Hail itu

akan berdampak pada kesiapan peningkatan manajemen kesehatan dalam

keluarga. SDKI (2017) menjelaskan masalah kesiapan peningkatan manajemen

kesehatan merupakan pola pengaturan dan pengintegrasian program kesehatan

kedalam kehudupan sehari-hari yang cukup untuk memenuhi tujuan kesehatan

dan dapat ditingkatkan. Banyaknya faktor yang berhubungan dengan

pengendalian kadar glukosa darah penderita DM tipe 2 tentunya membuat

pengelolaan penyakit hendaknya dilakukan dengan cermat, untuk mencegah

maupun memperlambat terjadinya berbagai komplikasi (Astuti, 2013).

Pilar penatalaksanaan DM tipe 2 menurut PERKENI (2011) salah satunya

adalah edukasi. Dijelaskan pula dalam Standart Intervensi Keperawatan Indonesia

(2018) bahwa salah satu intervensi yang bisa diterapkan untuk meningkatkan

masalah kesiapan peningkatan manajemen kesehatan yaitu dengan edukasi

kesehatan. Beberapa penelitian untuk mengatasi masalah keperawatan

kesiapan peningkatan manajemen kesehatan telah dilakukan dan

memberikan hasil yang berbeda. Penelitian yang dilakukan oleh Aini (2017)

mengenai penerapan senam kaki pada pasien diabetes mellitus dengan

masalah keperawatan kesiapan meningkatkan manajemen kesehatan

memberikan hasil bahwa tujuan dari penelitian tercapai. Penelitian lain


4

mengenai penerapan progresive muscle relaxation pada klien diabetes

mellitus dengan masalah keperawatan kesiapan meningkatkan manajemen

kesehatan juga dilakukan oleh Stetiowati (2017) yang menunjukkan

pengaruh yang signifikan terhadap pasien DM.

Selain dua cara diatas bentuk edukasi yang dapat memperbaiki hasil klinis

dan kualitas hidup pasien DM adalah Diabetes Self Management Education

(DSME) (McGowan, 2011). Diabetes Self Management Education (DSME)

merupakan suatu proses berkelanjutan untuk menfasilitasi pengetahuan,

keterampilan, dan kemampuan pasien diabetes mellitus untuk melakukan

perawatan diri. DSME adalah komponen penting yang dapat memberikan

kemampuan pada individu untuk melakukan tindakan menejemen diri dalam

mengelola penyakit diabetes mellitus dalam mengatasi masalah kesehatan

yang mengancam status kesehatan (Soegondo, 2013).

Berdasarkan uraian data dan latar belakang diatas, maka peneliti

tertarik untuk melakukan penelitian dengan judul “Penerapan Diabetes Self

Management Education (DSME) Pada Penderita Diabetes Mellitus Tipe 2

Dengan Masalah Keperawatan Kesiapan Peningkatan Manajemen Kesehatan

Di RT 05 RW 04 Dusun. Tinaro Kec. Tikung Kab. Lamongan”.

B. Rumusan Masalah

Bagaimana Penerapan Diabetes Self Management Education (DSME)

Pada Penderita Diabetes Mellitus Tipe 2 Dengan Masalah Keperawatan

Kesiapan Peningkatan Manajemen Kesehatan Di RT 05 RW 04 Dusun.

Tinaro Kec. Tikung Kab. Lamongan?


5

C. Tujuan Penulisan

1. Tujuan Umum.

Mengetahui Penerapan Diabetes Self Management Education (DSME)

Pada Penderita Diabetes Mellitus Tipe 2 Dengan Masalah Keperawatan

Kesiapan Peningkatan Manajemen Kesehatan Di RT 05 RW 04 Dusun.

Tinaro Kec. Tikung Kab. Lamongan.

2. Tujuan Khusus.

a. Melaksanakan pengkajian pada penderita Diabetes Mellitus Tipe 2 Dengan

Masalah Keperawatan Kesiapan Peningkatan Manajemen Kesehatan Di

RT 05 RW 04 Dusun. Tinaro Kec. Tikung Kab. Lamongan.

b. Menetapkan diagnosa pada penderita Diabetes Mellitus Tipe 2 Dengan

Masalah Kesiapan Peningkatan Manajemen Kesehatan Di RT 05 RW 04

Dusun. Tinaro Kec. Tikung Kab. Lamongan.

c. Menyusun intervensi Diabetes Self Management Education (DSME) Pada

Penderita Diabetes Mellitus Tipe 2 Dengan Masalah Keperawatan

Kesiapan Peningkatan Manajemen Kesehatan Di RT 05 RW 04 Dusun.

Tinaro Kec. Tikung Kab. Lamongan.

d. Melakukan implementasi Diabetes Self Management Education (DSME)

Pada Penderita Diabetes Mellitus Tipe 2 Dengan Masalah Keperawatan

Kesiapan Peningkatan Manajemen Kesehatan Di RT 05 RW 04 Dusun.

Tinaro Kec. Tikung Kab. Lamongan.

e. Melakukan evaluasi Diabetes Self Management Education (DSME) Pada

Penderita Diabetes Mellitus Tipe 2 Dengan Masalah Keperawatan


6

Kesiapan Peningkatan Manajemen Kesehatan Di RT 05 RW 04 Dusun.

Tinaro Kec. Tikung Kab. Lamongan.

D. Manfaat Penulisan

1. Manfaat Teoritis.

a. Bagi Pendidikan.

Melalui hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi

dalam pengembangan kurikulum pembelajaran, khususnya dalam

mengembangkan intervensi keperawatan mandiri untuk meningkatkan asuhan

keperawatan pada pasien dengan gangguan endokrin berdasarkan evidence based

in nursing.

b. Bagi Perkembangan Ilmu Keperawatan.

Melalui hasil penelitian ini diharapkan dapat menambah khasanah

keilmuan medikal bedah tentang aktualisasi peran perawat sebagai pemberi

layanan, manajer asuhan, pendidik, konselor, agen perubahan, penasehat, dan

peneliti, khususnya dalam bidang keperawatan endokrin.

2. Manfaat Praktis.

a. Bagi Pelayanan Asuhan Keperawatan.

Hasil penelitian ini diharapkan bermanfaat bagi pelayanan keperawatan

sebagai acuan dan pertimbangan dalam memberikan asuhan keperawatan yang

komprehensif dengan gangguan sistem endokrin khususnya Diabetes Mellitus

dengan pendekatan Diabetes Self Management Education (DSME).


BAB 2

TINJAUAN PUSTAKA

A. Konsep Dasar

1. Dewasa Sebagai Agregat Beresiko

Usia dewasa merupakan usia yang berkisar antara 26-45 tahun (Depkes

RI, 2009). Menurut penelitian yang dilakukan oleh Rahmawati (2016) kategori

usia mayoritas yang menderita DM adalah 36-45. Hasil penelitian ini dapat

menjelaskan bahwa dengan peningkatan usia maka resiko menderita diabetes akan

semakin meningkat. Penelitian ini didukung dengan teori dalam fisiologi

kedokteran yang menjelaskan bahwa dimulainya sakit DM tipe 2 terjadi pada usia

30 tahun, tetapi sering pada usia 50-60 tahun (Guyton & Hall, 2008 dalam

Indaryati, 2018). Sedangkan American Diabetes Association (2015) mengatakan

bahwa kelompok usia 40 tahun keatas merupakan kelompok usia yang berisiko

tinggi mengalami DM dan penyakit jantung.

2. Faktor Penyebab Agregat Dewasa Beresiko

Usia sangat erat kaitannya dengan DM tipe 2 dimana pada usia dewasa

terjadi kenaikan kadar gula darah akibat resistensi insulin yang disebabkan karena

menurunnya aktifitas, perubahan pola makan, penurunan fungsi neurohormonal,

diet yang buruk, peningkatan berat badan, dan kebiasaan merokok merupakan

faktor resiko DM yang banyak terjadi pada kelompok tersebut (Rahmawati,

2016). Berdasarkan teori didapatkan bahwa semakin meningkatnya usia seseorang

maka gangguan toleransi glukosa akan semakin meningkat. Proses menua akan

menyebabkan adanya perubahan fungsi sel beta pankreas sebagai hormon

penghasil insulin, sehingga insulin kurang mencukupi untuk metabolisme

8
9

karbohidrat ataupun dapat disebabkan karena adanya resistensi insulin sehingga

sel tidak dapat terbuka untuk pintu masuk insulin/tetap tertutup akibatnya glukosa

tidak dapat masuk sel untuk keperluan metabolisme, sehingga glukosa darah

meningkat (Suyono, 2011).

3. Nutrisi Pada Agregat Dewasa

Pada usia dewasa kebutuhan nutrien sangat diperlukan untuk energi,

pemeliharaan dan perbaikan tubuh. Perubahan fisiologi pada usia dewasa

berkaitan dengan kebutuhan gizi yang meliputi: pola pertumbuhan berhenti ke

tingkat homeostatis (contoh, keseimbangan metabolisme karbohidrat, lemak,

terutama protein) dan tingkat stabilitas metabolik tubuh hingga hasil

keseimbangan antara tingkat pemecahan protein tubuh dan sintesis jaringan

(contoh, komposisi tubuh, pematangan fisiologi/tingkat pemeliharaan) (Harwina,

2011). Gizi dan faktor-faktor lain yang berperan dalam pertumbuhan seperti

pengetahuan gizi kesehatan dan pola pengasuhan gizi kesehatan yang dilakukan

sangat berpengaruh terhadap perkembangan tubuh. Pertumbuhan dan

perkembangan merupakan proses perubahan yang terjadi pada setiap makhluk

hidup. Perubahan yang terjadi tidak hanya yang kelihatan seperti perubahan fisik

dengan bertambahnya berat badan dan tinggi badan, tetapi juga perubahan dalam

segi lain seperti berfikir, emosi, dan berperilaku.

Pengaturan makan pada penderita diabetes bertujuan untuk mengendalikan

gula darah, tekanan darah, kadar lemak darah, serta berat badan ideal. Dengan

demikian komplikasi diabetes dapat dihindari. Pada prinsipnya makanan perlu

dikonsumsi teratur dan disebarkan merata dalam sehari. Seperti halnya prinsip

sehat umum, makanan untuk penderita diabetes sebaiknya rendah lemak terutama
10

lemak jenuh, kaya akan karbohidrat kompleks yang berserat termasuk sayur dan

buah dalam porsi yang secukupnya, serta seimbang dengan kalori yang

dibutuhkan untuk aktivitas sehari-hari penderita (PERKENI, 2015).

B. Konsep Dasar Asuhan Keperawatan

1. Pengkajian

Pengkajian keluarga menurut friedman (2010) yaitu:

a. Mengidentifikasi data meliputi: nama keluarga, alamat, telepon, komposisi

keluarga (genogram), tipe bentuk keluarga, latar belakang kebudayaan (etnik)

(termasuk luasnya akulturasi), identitas religius, status kelas sosial

(berdasarkan pekerjaan, pendidikan dan pendapatan), dan mobilitas kelas

sosial.

b. Tahap dan riwayat perkembangan meliputi: tahap perkembangan keluarga

saat ini, identifikasi pemenuhan tugas sesuai tahap ini, riwayat keluarga dari

lahir hingga saat ini, dan keluarga asal keua orang tua.

c. Data lingkungan meliputi: karakteristik rumah, Karakteristik lingkungan

sekitar dan komunitas yang lebih besar dan mobilitas geografi keluarga.

d. Struktur keluarga meliputi: pola komunikasi, struktur kekuasaan, struktur

peran dan nilai keluarga.

e. Fungsi keluarga melipiti: fungsi afektif (saling asuh, keakraban dan

identifikasi satu sama lain, keterpisahan dan keterkaitan, pola kebutuhan

respon keluarga), fungsi sosial, fungsi perawatan kesehatan (keyakinan, nilai

dan perilaku kesehatan, pengetahuan keluarga tentang sehat sakit, status

kesehatan, praktik diet keluarga, kebiasaan tidur dan beristirahat, aktivitas

fisik dan rekreasi, penggunaan obat terapeutik dan penenang, perawatan diri,
11

pencegahan secara medis, terapi komplementer dan alternatif, layanan

perawatan kesehatan yang di terima, perasaan dan presepsi mengenai

pelayanan kesehatan, pelayanan kesehatan darurat, sumber pembayaran, ),

f. Stres, koping, dan adaptasi keluarga

2. Diagnosa Keperawatan

Diagnosa diarahkan pada individu atau keluarga. Komponennya meliputi:

a. Problem (masalah) adalah suatu pernyataan tidak terpenuhinya kebutuhan

dasar manusia yang dialami oleh keluarga atau anggota keluarga.

b. Etiologi (penyebab) adalah suatu pernyataan yang dapat menyebabkan

masalah dengan mengacu kepada 5 tugas keluarga, yaitu: Mengenal masalah

kesehatan, mengambil keputusan, merawat anggota keluarga yang sakit,

memodifikasi lingkungan dan memanfaatkan pelayanan kesehatan

c. Sign (tanda) adalah tanda subjektif dan objektif yang diperoleh dari keluarga

secara langsung atau tidak langsung dapat mendukung masalah dan

penyebab.

Penyusunan prioritas masalah: Tentukan skor sesuai dengan kriteria, Skor yang

diperoleh dibagi dengan skor tertinggi dan dikalikan dengan bobot dan Jumlahkan

skor untuk semua kriteria (skor maksimum sama dengan jumlah bobot yaitu 5).

Kriteria prioritas masalah:

a. Sifat masalah (bobot 1): Tidak/kurang sehat (skor 3), Ancaman kesehatan

(skor 2), Krisis (skor 1)

b. Kemungkinan masalah dapat diubah (bobot 2): Mudah (skor 2), Sebagian

(skor 1), Tidak dapat (skor 0)


12

c. Potensi masalah untuk dicegah (bobot 1): Tinggi (skor 3), Cukup (skor 2),

Rendah (skor 1)

d. Menonjolnya masalah (bobot 1): Masalah berat, harus segera ditangani (skor

2), Ada masalah, tetapi tidak perlu ditangani (skor 1), Masalah tidak

dirasakan (skor 0)

3. Intervensi Keperawatan

a. Mengenal Masalah Kesehatan

1) Standar Luaran Keperawatan Indonesia

(Tingkat pengetahuan) (L.12111) yaitu kecukupan informasi kognitif yang

berkaitan dengan topik tertentu. Ekspektasi: Meningkat

Kriteria Hasil:

a) Perilaku sesuai anjuran, b) Verbalisasi minat dalam belajar, c) Kemampuan

menjelaskan pengetahuan tentang suatu topik, d) Kemampuan menggambarkan

pengalaman sebelumnya yang sesuai dengan topik, e) Perilaku sesuai dengan

pengetahuan

Keterangan: Menurun (1), Cukup Menurun (2), Sedang (3), Cukup Meningkat (4),

Meningkat (5)

f) Pertanyaan tentang masalah yang dihadapi, g) Persepsi yang keliru terhadap

masalah, h) Menjalani pemeriksaan yang tidak tepat

Keterangan: Meningkat (1), Cukup Meningkat (2), Sedang (3), Cukup Menurun

(4), Menurun (5)

i) Perilaku

Keterangan: Memburuk (1), Cukup Memburuk (2), Sedang (3), Cukup Membaik

(4), Membaik (5)


13

2) Standar Intervensi Keperawatan Indonesia

Edukasi kesehatan (I.12383) yaitu mengajarkan pengelolaan faktor resiko

penyakit dan perilaku hidup bersih dan sehat.

Observasi: a) Identifikasi kesiapan dan kemampuan menerima informasi, b)

Identifikasi faktor-faktor yang dapat meningkatkan dan menurunkan motivasi

perilaku hidup bersih dan sehat

Terapeutik: a) Sediakan materi dan mdia pendidikan kesehatan, b) Jadwalkan

pendidikan kesehatan, c) Berikan kesempatan untuk bertanya

Edukasi: a) Jelaskan faktor resiko yang dapat mempengaruhi kesehatan, b)

Ajarkan perilaku hidup bersih dan sehat, c) Ajarkan strategi yang dapat digunakan

untuk meningkatkan perilaku hidup bersih dan sehat.

b. Mengambil Keputusan

1) Standar Luaran Keperawatan Indonesia

Manajemen kesehatan (L.12104) yaitu kemampuan mengatur dan

mengintegrasikan penanganan masalah kesehatan dalam kehidupan sehari-hari

untuk mencapai status kesehatan optimal. Ekspektasi: Meningkat.

Kriteria Hasil:

a) Melakukan tindakan untuk mengurangi faktor resiko, b) Menerapkan program

perawatan, c) Aktivitas hidup sehari-hari efektif memenuhi tujuan kesehatan

Keterangan: Menurun (1), Cukup Menurun (2), Sedang (3), Cukup Meningkat (4),

Meningkat (5)

d) Verbalisasi kesulitan dalam menjalankan program perawatan/pengobatan

Keterangan: Meningkat (1), Cukup Meningkat (2), Sedang (3), Cukup Menurun

(4), Menurun (5)


14

2) Standar Intervensi Keperawatan Indonesia

Bimbingan antisipatif (I.12359) yaitu mempersiapkan pasien dan keluarga untuk

mengantisipasi perkembangan atau krisis situasional.

Observasi: a) Identifikasi metode penyelesaian masalah, b) Identifikasi

kemungkinan perkembangan atau krisis situasional yang akan terjadi serta

dampaknya pada individu atau keluarga

Terapeutik: a) Fasilitasi memutuskan bagaimana masalah akan diselesaikan, b)

Fasilitasi siapa yang akan dilibatkan dalam menyelesaikan masalah, c) Gunakan

contoh kasus untuk meningkatkan keterampilan menyelesaikan masalah, d)

Fasilitasi mengidentifikasi sumber daya yang tersedia, e) Fasilitasi menyesuaikan

diri dengan perubahan peran, f) Jadwalkan kunjungan pada setiap tahap

perkembangan atau sesuai kebutuhan, g) Jadwalkan tindak lanjut untuk memantau

atau memberi dukungan, h) Libatkan keluarga dan pihak terkait, jika perlu, i)

Berikan referensi baik cetak maupun elektronik (mis. materi pendidikan, pamflet)

Edukasi: a) Jelaskan perkembangan dan perilaku normal, b) Informasikan harapan

yang realistis terkait perilaku pasien, c) Latih tehnik koping yang dibutuhkan

untuk mengatasi perkembangan atau krisis situasional

Kolaborasi: Rujuk ke lembaga pelayanan masyarakat

c. Merawat Anggota Keluarga yang Sakit

1) Standar Luaran Keperawatan Indonesia

Manajemen kesehatan keluarga (L.12105) yaitu kemampuan menangani masalah

kesehatan keluarga secara optimal untuk memulihkan kondisi kesehatan anggota

keluarga. Ekspektasi: Meningkat


15

Kriteria Hasil:

a) Kemampuan menjelaskan masalah kesehatan yang dialami, b) Aktivitas

keluarga mengatasi masalah kesehatan tepat, c) Tindakan untuk mengurangi

faktor resiko.

Keterangan: Menurun (1), Cukup Menurun (2), Sedang (3), Cukup Meningkat (4),

Meningkat (5)

d) Verbalisasi kesulitan menjalankan perawatan yang ditetapkan, e) Gejala

penyakit anggota keluarga

Keterangan: Meningkat (1), Cukup Meningkat (2), Sedang (3), Cukup Menurun

(4), Menurun (5)

2) Standar Luaran Keperawatan Indonesia

Promosi dukungan keluarga (I.13488) yaitu meningkatkan partisipasi anggota

keluarga dalam perawatan emosional dan fisik.

Observasi: a) Identifikasi sumberdaya fisik, emosional dan pendidikan keluarga,

b) Identifikasi kebutuhan dan harapan anggota keluarga, c) Identifikasi persepsi

tentang situasi, pemicu kejadian, perasaan dan perilaku pasien, d) Identifikasi

stresor situasional anggota keluarga lainnya, e) Identifikasi gejala fisik akibat stres

(mis, mual, muntah, ketidakmampuan)

Terapeutik: a) Sediakan lingkungan yang nyaman, b) Fasilitasi program

perawatan dan pengobatan yang dijalani anggota keluarga, c) Diskusikan anggota

keluarga yang akan dilibatkan dalam perawatan, d) Diskusikan kemampuan dan

perencanaan keluarga dalam perawatan, e) Diskusikan jenis perawatan dirumah, f)

Diskusikan cara mengatasi kesulitan dalam perawatan, g) Dukung anggota

keluarga untuk menjaga atau mempertahankan hubungan keluarga, h) Hargai


16

keputusan yang dibutuhkan keluarga, i) Hargai mekanisme perawatan yang

digunakan keluarga

Edukasi: a) Jelaskan kepada keluarga tentang perawatan dan pengobatan yang

dijalani pasien, b) Anjurkan keluarga bersifat asertif, c) Anjurkan meningkatkan

aspek positif dari situasi yang dijalani pasien

d. Modifikasi Lingkungan

1) Standar Luaran Keperawatan Indonesia

Perilaku kesehatan (L.12107) yaitu kemampuan dalam mengubah gaya

hidup/perilaku untuk memperbaiki status kesehatan. Ekspektasi: Membaik.

Kriteria Hasil:

a) Penerimaan terhadap perubahan status kesehatan, b) Kemampuan melakukan

tindakan pencegahan masalah kesehatan, c) Kemampuan peningkatan kesehatan,

d) Pencapaian pengendalian kesehatan

Keterangan: Menurun (1), Cukup Menurun (2), Sedang (3), Cukup Meningkat (4),

Meningkat (5)

2) Standar Intervensi Keperawatan Indonesia

Manajemen perilaku (I.12463) yaitu mengidentifikasi dan mengelola perilaku

negatif.

Observasi: a) Identifikasi harapan untuk mengendalikan perilaku

Terapeutik: a) Diskusikan tanggungjawab terhadap perilaku, b) Jadwalkan

kegiatan terstruktur, c) Ciptakan dan pertahankan lingkungan dan kegiatan

perawatan konsisten setiap dinas, d) Tingkatkan aktivitas fisik sesuai kemampuan,

e) Batasi jumlah pengunjung, f) Bicara dengan nada rendah dan tenang, g)

Lakukan kegiatan pengalihan terhadap sumber agitasi, h) Cegah perilaku pasif


17

dan agresif, i) Beri penguatan positif terhadap keberhasilan mengendalikan

perilaku, j) Lakukan pengekangan fisik sesuai indikasi, k) Hindari bersikap

menyudutkan dan menghentikan pembicaraan, l) Hindari sikap mengancam dan

berdebat, m) Hindari berdebat atau menawar batas perilaku yang telah ditetapkan

Edukasi: a) Informasikan keluarga bahwa keluarga sebagai dasar pembentukan

kognitif

e. Memanfaatkan Pelayanan Kesehatan

1) Standar Luaran Keperawatan Indonesia

Pemeliharaan kesehatan (L.12106) yaitu kemampuan mengidentifikasi,

mengelola, atau menemukan bantuan untuk mempertahankan kesehatan.

Ekspektasi: Meningkat

Kriteria Hasil:

a) Menunjukkan perilaku yang adaptif, b) Menunjukkan pemahaman perilaku

sehat, c) Kemampuan menjalankan perilaku sehat, d) Perilaku mencari bantuan, e)

Menunjukkan minat meningkatkan perilaku sehat, f) Memiliki sistem pendukung

Keterangan: Menurun (1), Cukup Menurun (2), Sedang (3), Cukup Meningkat (4),

Meningkat (5)

2) Standar Intervensi Keperawatan Indonesia

Penentuan tujuan bersama (I.12464) yaitu mengidentifikasi, menyusun dan

mempriotaskan tujuan perawatan bersama dengan pasien sebagai dasar untuk

mengembangkan rencana keperawatan.

Observasi: a) Identifikasi tujuan-tujuan yang ingin dicapai, b) Identifikasi cara

mencapai tujuan secara konstruktif


18

Terapeutik: a) Nyatakan tujuan dengan kalimat positif dan jelas, b) Tetapkan skala

pencapaian tujuan jika perlu, c) Fasilitasi memecah tujuan kompleks menjadi

langkah kecil yang mudah dilakukan, d) Berikan batasan pada peran perawat dan

pasien secara jelas, e) Diskusikan sumberdaya yang ada untuk memenuhi tujuan,

f) Diskusikan pengembangan rencana untuk memenuhi tujuan, g) Prioritaskan

aktivitas yang dapat membantu pencapaian tujuan, h) Fasilitasi dalam

mengidentifikasi hasil yang diharapkan untuk setiap tujuan, i) Tetapkan batas

waktu yang realistis, j) Diskusikan indikator pengukuran untuk setiap tujuan (mis,

perilaku), k) Tetapkan evaluasi secara periodik untuk menilai kemajuan sesuai

tujuan, l) Hitung skor pencapaian tujuan, m) Modifikasi rencana jika tujuan tidak

tercapai

Edukasi: a) Anjurkan mengenal masalah yang dialami, b) Anjurkan

mengembangkan harapan realistis, c) Anjurkan mengidentifikasi kekuatan dan

kemampuan sendiri, d) Anjurkan mengidentifikasi nilai dan sistem kepercayaan

saat menetapkan tujuan, e) Anjurkan mengidentifikasi tujuan realistis dan dapat

dicapai

4. Implementasi Keperawatan

Implementasi keperawatan merupakan tahap proses keperawatan dimana

perawat memberikan intervensi keperawatan langsung atau tidak langsung

terhadap klien (Potter & Perry, 2016).

5. Evaluasi

Evaluasi merupakan langka proses keperawatan yang memungkinkan

perawat untuk menentukan apakah intervensi keperawatan telah berhasil

meningkatkan kondisi klien (Potter & Perry, 2016).


19

C. Peran Perawat

Perawatan kesehatan keluarga adalah pelayanan kesehatan yang ditujukan

pada keluarga sebagai inti pelayanan untuk mewujudkan keluarga sehat. Peran

perawat dalam melakukan keperawatan keluarga untuk mengatasi masalah

keperawatan kesiapan peningkatan manajemen kesehatan pada pasien DM tipe 2

dengan memberikan edukasi mengenai teknik non farmakologi yang bisa

dilakukan salah satunya dengan menerapkan Diabetes Self Management

Education (DSME) yang berfokus pada pengaturan pola makan dan diet.

D. Evidence Based in Nursing

1. Evidence Based in Nursing 1

Penelitian Trina Kurniawati, dkk. 2019. Yang berjudul Pengaruh Diabetes

Self Management Education (DSME) terhadap Self Management pada Pasien

Diabetes Mellitus yang menggunakan metode quasi experimental dengan control

group pre test post test design dengan 46 responden dan dilaksanakan selama 1

bulan menunjukkan hasil bahwa ρ dengan uji wilcoxon sebesar 0,000 dan hasil uji

mann whitney sebesar 0,000, yang menunjukkan bahwa terdapat perbedaan nilai

secara signifikan.

2. Evidence Based in Nursing 2

Penelitian Aini, 2017. Mengenai penerapan senam kaki pada pasien

diabetes mellitus dengan masalah keperawatan kesiapan meningkatkan

manajemen kesehatan. Penelitian menggunakan rancangan deskriptif studi

kasus dengan meneliti masalah melalui satu kasus yang terdiri dari unit

tunggal memberikan hasil bahwa tujuan dari penelitian tercapai.


20

3. Evidence Based in Nursing 3

Penelitian Sri Indaryati, 2018. Tentang Pengaruh Diabetes Self

Management Education (DSME) terhadap Self Care Pasien Diabetes Mellitus di

Rumah Sakit Kota Palembang dengan desain quasi experiment post test pada 44

responden dalam waktu 3 bulan (Mei-Juli) menunjukkan hasil penelitian bahwa

ada pengaruh implementasi DSME terhadap self care pasien DM dengan nilai ρ =

0,000.

4. Evidence Based in Nursing 4

Penelitian Siti Damawiyah & Yurike Septianingrum, 2019. Tentang

Efektivitas Penerapan Diabetes Self Management Education (DSME) terhadap

Motivasi Penderita dalam Mencegah Kekambuhan dan Komplikasi Penyakit

Diabetes Mellitus Dengan desain penelitian menggunakan quasy experimental,

control group pre test post test design pada 20 responden dengan lama penelitian

3 bulan (April-Juni) menunjukkan hasil bahwa ada peningkatan motivasi

penderita setelah diberikan penerapan DSME dari 0% menjadi 60%.

5. Evidence Based in Nursing 4

Penelitian yang dilakukan oleh Stetiowati (2017) mengenai

penerapan progresive muscle relaxation pada klien diabetes mellitus dengan

masalah keperawatan kesiapan meningkatkan manajemen kesehatan.

Penelitian menggunakan rancangan deskriptif studi kasus dengan menelit i

masalah melalui satu kasus yang terdiri dari unit tunggal menunjukkan

pengaruh yang signifikan terhadap pasien DM.