Anda di halaman 1dari 38

UJIAN AKHIR SEMESTER

ANALISIS PROGRAM KPLDH


(KETUK PINTU LAYANI DENGAN HATI)
DENGAN
TEORI PERENCANAAN MAP-IT

Oleh:
KELOMPOK 3

Arya Dwicahyani Armain 1706004000


Dian Priharja Putri 1706093731
Nia Pratiwi 1706094324
Pahmi Leni 1706094394
Silva Dwi Rahmizani 1706094545

PROGRAM PASCASARJANA ILMU KESEHATAN MASYARAKAT


FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT
UNIVERSITAS INDONESIA

DEPOK
2019
KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas segala limpahan rahmat dan
berkat-Nya sehingga Kelompok 3 dapat menyelesaikan tugas akhir mata kuliah
Rencana dan Evaluasi Promosi Kesehatan.

Selama proses penulisan lapaoran kunjungan ini kebijakan ini penulis banyak
mendapatkan bantuan dari berbagai pihak, oleh karena itu pada kesempatan ini
penulis menyampaikan rasa terimakasih yang tulus kepada Yth. Prof. dr. Hadi
Pratomo, MPH. Dr. Ph selaku Dosen Pengampu Mata Kuliah Rencana dan Evaluasi
Promosi Kesehatan.

Kelompok menyadari keterbatasan makalah hasil analisis ini, sehinga


kelompok berharap kritik dan saran demi perbaikan.

Depok, Mei 2019

Kelompok 3
HALAMAN PERNYATAAN KERJA DAN BEBAS PLAGIAT
KELOMPOK 3

Sebagai civitas akademika Universitas Indonesia, kami yang bertanda tangan di


bawah ini:
No
Nama NPM Tanda Tangan
.

1 Arya Dwicahyani Armain 1706004000

2 Dian Priharja Putri 1706093731

3 Nia Pratiwi 1706094324

4 Pahmi Leni 1706094394

5 Silva Dwi Rahmizani 1706094545

Menyatakan bahwa kami tidak melakukan kegiatan plagiat dalam penulisan tugas
kelompok sebagai syarat Ujian Akhir Semester Mata Kuliah Pengorganisasian dan
Pengembangan Masyarakat, Program Pascasarjana, Universitas Indonesia. Selain itu,
kami menyatakan bahwa tugas ini merupakan hasil kerja bersama. Apabila suatu saat
nanti terbukti kami melakukan plagiat, maka akan menerima sanksi yang telah
ditetapkan.

Demikian pernyataan ini kami buat dengan sebenarnya.

Depok, 18 Mei 2019

Kelompok 3
DAFTAR ISI

DAFTAR ISI
BAB I PENDAHULUAN.........................................................................................................1
1.1 Latar Belakang...............................................................................................................1
1.2 Pembagian Tugas Kelompok/ Komite Perencanaan......................................................4
BAB II MODEL PERENCANAAN MAP-IT........................................................................5
BAB III RENCANA NEED ASSASMENT.........................................................................15
3.1 Tujuan Assasment........................................................................................................15
3.2 Kerangka Konsep.........................................................................................................15
3.3 Matriks data..................................................................................................................15
3.4 Pengukuran dan Alat Ukur...........................................................................................16
3.5 Peningkatan Upaya Validitas Data...............................................................................17
3.6 Rencana Uji Coba Instrumen dan Metode...................................................................18
3.7 Jadwal Presentasi dan Pengumpulan Data...................................................................18
BAB IV HASIL, PEMBAHASAN, KESIMPULAN DAN SARAN...................................19
4.1 Hasil..............................................................................................................................19
4.2 Pembahasan..................................................................................................................23
4.3 Kesimpulan dan Saran..................................................................................................25

DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN
1

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Promosi kesehatan adalah upaya untuk meningkatkan kemampuan masyarakat melalui
pembelajaran dari, oleh, untuk dan bersama masyarakat, agar mereka dapat menolong diri
sendiri, serta mengembangkan kegiatan yang bersumber daya masyarakat, sesuai sosial
budaya setempat dan didukung kebijakan publik yang berwawasan kesehatan (Kemenkes RI,
2011).
Dalam pelaksanaan program promosi kesehatan agar dapat berjalan sesuai dengan
tujuan maka harus dirancang dengan tepat baik dari awal proses perencanaan maupun hingga
proses evaluasinya. Menurut Mineli & Breckon (2009), perencanaan program promosi
kesehatan adalah multistep proses yang dimulai setelah melakukan pra-perencanaan.
“perencanaan adalah suatu proses atau prosedur dalam mengembangkan metode untuk
mencapai tujuan” (McKenzie, Neiger & Thackeray, 2013).
Perencanaan sebagai bagian dari siklus administrasi yang terdiri dari tiga fase yaitu:
perencanaan , implementasi dan evaluasi. Dimana ketiga fase tersebut akan mempengaruhi
hasil . Perencanaan promosi kesehatan adalah suatu fase dimana secara rinci direncanakan
jawaban atas pertanyaan – pertanyaan yang muncul, sedangkan implementasi adalah suatu
waktu dimana perencanaan dilaksanakan. Kesalahan – kesalahan sewaktu membuat
perencanaaan akan terlihat selama proses implementasi, demikian pula halnya dengan
kekuatan dan kelemahan yang muncul selama periode implementasi merupakan refleksi dari
proses pencernaan . Fase evaluasi adalah suatu masa dimana dilakukan pengukuran hasil
(outcome) dari promosi kesehatan. Pada fase ini juga dilihat apakah perencanaan dan
implementasi yang telah dilakukan dapat dilanjutkan. Selain itu evaluasi diperlukan untuk
pemantauan efficacy dari promosi kesehatan dan sebagai alat bantu untuk membuat
perencanaan selanjutnya.
Evaluasi program bertujuan untuk menghasilkan data dan wawasan tentang kualitas
yang memadai untuk menginformasikan pengambilan keputusan tentang program promosi
kesehatan dan kebijakan kesehatan terkait. Sayangnya, sebagian besar evaluasi tidak
mencapai tujuan ini (McKenzie, Neiger & Thackeray, 2013).
2

Guna meningkatkan derajat kesehatan masyarakat, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta


melalui Dinas Kesehatan terus berupaya meningkatkan pelayanan kesehatan bagi warganya,
salah satunya dengan membentuk sebuah program yang dapat mengurangi permasalahan
kesehatan yang kompleks di Jakarta, yaitu Ketuk Pintu Layani Dengan Hati (KPLDH) yang
dibentuk berdasarkan Peraturan Gubernur Provinsi Daerah Khusus Ibu Kota Jakarta nomor
115 tahun 2016 tentang Program Ketuk Pintu Layani dengan Hati.
Ketuk Pintu Layani Dengan Hati yang selanjutnya disingkat KPLDH adalah pendekatan
pelayanan kesehatan yang mengutamakan upaya promotif dan preventif yang diawali dengan
pendataan setiap rumah dan/atau pintu rumah sampai dengan pemenuhan hak-hak kesehatan
dasarnya, pemantauan status kesehatan keluarga hingga evaluasi hasilnya, termasuk
kewajiban keluarga menjalankan perilaku hidup bersih dan sehat. Program ini diharapkan
dapat menjangkau warga DKI Jakarta yang membutuhkan pertolongan pertama, penanganan
berkelanjutan, dan perubahan perilaku menjadi lebih sehat dan mandiri. Tugas utama dari
KPLDH ialah melakukan tindakan pencegahan penyakit dan promosi kesehatan dengan tetap
melakukan tindakan pengobatan dan rehabilitatif bila diperlukan sebagai tindakan awal.
Dalam menjalankan programnya, KPLDH melakukan tujuh kegiatan implementasi yang
meliputi home visit (mengunjungi keluarga rawan kesehatan, termasuk keluarga pasca rawat
dari rumah sakit), home health promotion (memberikan informasi agar keluarga selalu
menjalankan perilaku hidup bersih dan sehat), home education (memberikan pendidikan
kesehatan, konseling dan pendampingan pada anggota keluarga pasca rawat), home care
(merawat anggota keluarga yang sakit termasuk dengan terapi komplementer/pemanfaatan
keanekaragaman hayati, termasuk paliative care), health environment (menjaga kesehatan
lingkungan sekitar), home surveillance (memantau penyakit menular & tidak menular pada
keluarga dan kelompok khusus di masyarakat), dan referral (melakukan rujukan kasus sesuai
standar operasional prosedur). Masing-masing tim KPLDH terdiri dari satu orang dokter, satu
orang bidan dan satu orang perawat. Tim KPLDH bertugas dengan mengedepankan upaya
promosi dan preventif kesehatan yang memfokuskan pada perubahan paradigma dan perilaku
hidup sehat di masyarakat.
Program Ketuk Pintu Layani dengan Hati memiliki strategi pendekatan continuum of
care yang bermakna bahwa bentuk pelayanan yang diberikan meliputi seluruh golongan
umur dan mencakup siklus kehidupan manusia, yang berpedoman pada prinsip program
ketuk pintu layani dengan hati adalah sebagai berikut : a). Promotif ; b). Preventif ; c).
Paradigma sehat; d). Pertanggungjawaban wilayah; e). Kerjasama; f). Dokter keluarga; g).
Berbasis domisili; h. Kemandirian masyarakat; i. Pemerataan.
3

Berdasarkan prinsip preventif diselenggarakan kegiatan preventif yang berguna


menemukan secara dini penyakit agar segera dilakukan tindakan dan/atau pengobatan/perawatan.
Berdasarkan prinsip paradigma sehat kegiatan penguatan pelayanan kesehatan diarahkan pada
peningkatan, pemeliharaan dan perlindungan kesehatan serta mampu mendorong masyarakat
untuk bersikap mandiri dalam menjaga kesehatan mereka sendiri melalui kesadaran yang lebih
tinggi pada pentingnya pelayanan kesehatan yang bersifat promotif dan preventif. Berdasarkan
prinsip pertanggungjawaban wilayah penguatan pelayanan kesehatan digerakkan oleh Puskesmas
yang bertanggung jawab terhadap pembangunan kesehatan di wilayah. Berdasarkan prinsip
kerjasama dalam penggerakkan penguatan pelayanan kesehatan, Puskesmas Kecamatan sebagai
koordinator menjalin kerjasama dengan organisasi profesi kesehatan dan masyarakat.
Berdasarkan prinsip dokter keluarga, dalam kegiatan penguatan pelayanan kesehatan,
tenaga kesehatan pembina menerapkan prinsip dokter keluarga yang mendorong keluarga tetap
sehat, tidak jatuh sakit dan melaksanakan diagnosa awal dengan baik. Berdasarkan prinsip
berbasis domisili, kerjasama yang dilakukan dalam pengelolaan kegiatan penguatan pelayanan
kesehatan lebih diutamakanberdasarkan domisili tenaga kesehatan. Berdasarkan prinsip
kemandirian masyarakat, kegiatan penguatan pelayanan kesehatan melalui perubahan perilaku
dan sikap yang mendorong kemandirian hidup sehat bagi individu, keluarga, kelompok, dan
masyarakat. Berdasarkan prinsip pemerataan, kegiatan penguatan pelayanan kesehatan program
KPLDH diselenggarakan secara adil tanpa membedakan status sosial, ekonomi, agama, budaya
dan kepercayaan.
Dengan kebijakan Ketuk Pintu Layani Dengan Hati ini diharapkan Dinas Kesehatan
khususnya Suku Dinas Kesehatan Jakarta Timur dapat mengumpulkan data yang akurat, dapat
memetakan masalah kesehatan, mendapatkan prioritas masalah dan pemecahan masalah serta
adanya perbaikan terhadap berbagai masalah kesehatan di Provinsi DKI Jakarta khususnya
Jakarta Timur. Adapun dalam pelaksanaannya Suku Dinas Kesehatan Jakarta Timur melakukan
monitoring dan evaluasi terhadap pelaksanaan Program KPLDH oleh seluruh Puskesmas di
wilayah Jakarta Timur.
Model MAP-IT (Mobilize, Asses, Plan, Implement, Track) digunakan untuk merencanakan
dan mengevaluasi intervensi kesehatan masyarakat untuk mencapai tujuan kesehatan masyarakat
dan terlaksananya program dengan efektif dan berkelanjutan (Buns, Pettitt and Blanton, 2017).
Tahapan dalam model MAP-IT mulai dari melibatkan semua pemangku kepentingan, membuat
upaya yang didukung secara luas dan dimiliki masyarakat, adanya penilaian terhadap aset serta
kebutuhan, dan mencari cara untuk menggunakannya. Pelaksanaan berdasarkan hasil penilaian
dari realitas di masyarakat sehingga bukan berasal dari gagasan yang sudah terbentuk
4

sebelumnya tentang apa yang perlu atau sumber daya apa yang tersedia sehingga menghasilkan
rencana yang komprehensif dan spesifik, dengan jadwal yang masuk akal, tanggung jawab yang
ditetapkan, tujuan yang jelas, dan langkah-langkah tindakan yang jelas terkait dengan strategi
keseluruhan. Dalam tahap ini juga menggabungkan evaluasi dari awal sehingga memungkinkan
dilakukannya penyesuaian dengan kondisi di masyarakat. Oleh karena itu, kami menggunakan
Model MAP-IT karena dipandang sesuai digunakan untuk analisis program KPLDH mulai dari
tahap perencanaan hingga tahap evaluasi.

1.2 Pembagian Tugas Kelompok/ Komite Perencanaan


Pembagian tugas kelompok dalam tugas ini dilakukan secara adil dan merata agar
setiap anggota kelompok terlibat dalam proses perencanaan, turun lapangan dan pembuatan
laporan hasil turun lapangan (wawancara ) promkes Suku Dinas Kesehatan Kota Jakarta
Timur.
Perencanaan program melibatkan semua anggota kelompok dengan pembagian tugas
yang sama/adil sehingga terbentuk kerjasama yang baik. Adapun rincian pembagian tugas
adalah sebagai berikut :
1) Pemilihan teori : semua anggota kelompok
2) Penentuan program yang dipilih (program ketuk pintu layani dengan hati/ KPLDH) sesuai
tempat yang sudah ditentukan yaitu suku Dinas Kesehatan Kota Jakarta Timur : semua
anggota kelompok
3) Pembuatan makalah : semua anggota kelompok
4) Koordinasi lapangan : 1 orang
5) Pembuatan instrumen wawancara : semua anggota kelompok
6) Wawancara di Suku Dinas Kesehatan Kota Jakarta Timur :
a. Pewawancara : 1 orang
b. Notulen : 1 orang
c. Perekam : 1 orang
d. Dokumentasi : 1 orang
e. Rangkuman hasil wawancara : 1 orang
7) Pembuatan laporan : semua anggota kelompok
5

BAB II
MODEL PERENCANAAN MAP IT

2.1 Pengertian
MAP-IT (Mobilize, Asses, Plan, Implement,Track) adalah suatu kerangka kerja yang
dapat digunakan untuk merencanakan dan mengevaluasi intervensi kesehatan masyarakat
dalam suatu komunitas. MAP-IT dapat membantu profesional kesehatan masyarakat dan
pembuat perubahan masyarakat menerapkan rencana yang disesuaikan dengan kebutuhan dan
aset masyarakat Baik profesional kesehatan masyarakat yang berpengalaman maupun yang
baru dapat memanfaatkan langkah-langkah dalam MAP-IT untuk menciptakan komunitas
yang sehat. Proses ini melibatkan waktu, upaya, dan serangkaian langkah untuk 'memetakan'
jalan menuju perubahan yang diinginkan dalam suatu komunitas. Dengan menggunakan
MAP-IT, rencana terstruktur selangkah demi selangkah dapat dikembangkan oleh koalisi
yang disesuaikan dengan kebutuhan komunitas tertentu.

2.2 Tujuan Pendekatan


 Untuk melibatkan semua pemangku kepentingan, membuat upaya yang didukung secara
luas dan dimiliki masyarakat.
 Menilai aset serta kebutuhan, dan mencari cara untuk menggunakannya.
 Penilaian berarti bahwa upaya akan dimulai dari realitas masyarakat, dan bukan dari
beberapa gagasan yang sudah terbentuk sebelumnya tentang apa yang perlu atau sumber
daya apa yang tersedia.
 Menghasilkan rencana yang komprehensif dan spesifik, dengan jadwal yang masuk akal,
tanggung jawab yang ditetapkan, tujuan yang jelas, dan langkah-langkah tindakan yang
jelas terkait dengan strategi keseluruhan.
 Menggabungkan evaluasi dari awal, memungkinkan penyesuaian.

2.3 Langkah Perencanaan


Mobilize : Memobilisasi individu dan organisasi yang peduli dengan kesehatan
komunitas untuk menjadi koalisi.
Asses : Nilai bidang-bidang yang paling dibutuhkan oleh komunitas, serta
sumber daya dan kekuatan lain yang dapat dimanfaatkan untuk
mengatasi bidang-bidang tersebut.
6

Plan : Merencanakan pendekatan: mulai dengan visi komunitas; kemudian


tambahkan strategi dan langkah-langkah tindakan untuk membantu
mencapai visi itu.
Implement : Melaksanakan rencana dengan menggunakan langkah-langkah tindakan
nyata yang dapat dipantau dan akan membuat perbedaan.
Track : Lacak kemajuan seiring waktu.

Langkah 1: Memobilisasi (Mobilize)


Langkah pertama dalam proses MAP-IT adalah memobilisasi individu dan organisasi
kunci ke dalam koalisi. Carilah mitra yang memiliki kepentingan dalam menciptakan
komunitas sehat dan yang akan berkontribusi pada proses.
Sebagian besar masyarakat sudah memiliki departemen kesehatan dan lembaga
pemerintah lainnya yang bertanggung jawab atas layanan kesehatan masyarakat. Banyak
komunitas juga memiliki koalisi individu dan organisasi kunci yang telah berkumpul untuk
mengatasi masalah tertentu, seperti kelompok pengamat lingkungan. Kelompok-kelompok ini
sering mewakili beragam minat dan sumber daya untuk menangani masalah-masalah yang
vital untuk membangun dan menjaga kesehatan seluruh masyarakat. Koalisi akan sering
bekerja dengan departemen kesehatan dan organisasi kesehatan lainnya di masyarakat.
Namun, ini juga dapat membantu memobilisasi sumber daya yang lebih luas untuk mengatasi
masalah kesehatan. Biasanya lebih mudah untuk melibatkan anggota koalisi potensial di
sekitar masalah yang sudah menjadi perhatian khusus bagi masyarakat
Setelah anggota koalisi diidentifikasi, peran mitra harus ditentukan dan tanggung jawab
diberikan. Ini akan membantu mitra tetap berinvestasi dalam koalisi. Mitra dapat membantu
memfasilitasi masukan masyarakat melalui pertemuan, acara, atau kelompok penasihat.
Mereka juga dapat mengembangkan dan menyajikan program pendidikan dan pelatihan,
memimpin penggalangan dana dan inisiatif kebijakan, dan memberikan bantuan teknis dalam
perencanaan atau evaluasi. Pada tahap ini, hal yang perlu di identifikasi:
 Visi dan misi koalisi.
 Alasan mengumpulkan orang.
 Individu yang harus diwakili
 Mitra potensial dalam komunitas, seperti organisasi dan pelaku bisnis.
7

Salah satu tantangan terbesar dalam menciptakan koalisi masyarakat yang sehat adalah
untuk mempertahankan keterlibatan anggota dalam proses tersebut. Tantangan ini dapat
diatasi sebagian dengan menyetujui sedini mungkin pada visi untuk masyarakat.
Menciptakan visi:
Visi harus berasal dari kebutuhan, nilai, dan tujuan terpenting masyarakat. Ini harus menjadi
deskripsi arah ideal koalisi untuk masyarakat, dan harus mencerminkan tujuan anggota
koalisi. Membuat visi sejak dini memungkinkan semua anggota koalisi merasa berkomitmen
pada proses jangka panjang, dan akan memungkinkan kelompok untuk masuk ke tahap
selanjutnya dari proses dengan misi bersama.
Mengorganisir Koalisi:
Sebelum mulai menghubungi calon mitra, penting untuk mengetahui apa yang diminta dari
mereka.
Pemikiran Calon Mitra:
Siapa sasaran pemangku kepentingan? Anda akan ingin kelompok seluas mungkin, mewakili
semua orang di komunitas dengan minat baik dalam masalah itu sendiri atau dalam
membangun komunitas yang sehat. Biasanya merupakan keuntungan untuk melibatkan
sebanyak mungkin kelompok dan sektor komunitas yang berbeda. Semakin banyak
partisipasi yang Anda miliki dalam merencanakan dan menangani masalah ini, semakin
banyak ide yang akan muncul, dan semakin banyak dukungan komunitas yang akan dimiliki.
Contoh Mobilisasi:
Minnesota membentuk Kemitraan Peningkatan Kesehatan Minnesota, sekelompok individu
yang mewakili sektor luas baik organisasi publik maupun swasta, termasuk anggota dari
departemen kesehatan setempat. Kelompok ini diberi tanggung jawab untuk mengembangkan
Minnesotans Sehat: Tujuan Peningkatan Kesehatan Masyarakat untuk 2004.

Langkah 2: Nilai (Assess)


Langkah selanjutnya dalam pendekatan MAP-IT adalah menilai kebutuhan masyarakat
dan aset (sumber daya). Ini akan mengidentifikasi apa kebutuhan yang sebenarnya (berbeda
dengan apa yang dipikirkan oleh kebanyakan orang), dan memberikan gambaran tentang apa
yang secara realistis dapat dilakukan, dibandingkan dengan apa yang orang ingin lakukan.
Rencanakan untuk menjawab pertanyaan tentang siapa yang terkena dampak dan bagaimana,
sumber daya apa yang tersedia, dan sumber daya apa yang dibutuhkan. Ketika anggota
koalisi bekerja bersama untuk menetapkan prioritas dan mengalokasikan sumber daya untuk
8

prioritas tersebut, mereka jauh lebih mungkin untuk terus berpartisipasi dalam proses dan
mencapai hasil yang terukur.
Koalisi harus menetapkan prioritas dengan mengidentifikasi apa yang dilihat oleh
anggota masyarakat dan pemangku kepentingan utama sebagai masalah yang paling penting.
Pertimbangkan kelayakan, keefektifan, dan kemampuan mengukur dalam menentukan
prioritas. Menetapkan prioritas adalah masalah konsensus: semua anggota koalisi harus
menyepakati masalah mana yang perlu ditangani segera dan yang dapat ditunda sampai
tanggal yang ditentukan kemudian.
Kapan pun memungkinkan, kumpulkan dan evaluasi informasi yang tersedia tentang
masalah kesehatan utama dalam suatu komunitas. Ketika tidak ada data yang tersedia, koalisi
mungkin perlu mengumpulkan data negara dan lokal untuk melukiskan gambaran realistis
kebutuhan masyarakat. Data yang dikumpulkan selama fase penilaian akan berfungsi sebagai
data dasar, yang menyediakan informasi sebelum dimulainya program atau intervensi baru.
Data dasar juga akan memungkinkan pelacakan kemajuan untuk menentukan seberapa sukses
tindakan koalisi dengan membandingkannya dengan data yang dikumpulkan kemudian,
setelah upaya masyarakat berjalan beberapa saat. Dokumentasi kemajuan dapat menjadi alat
yang kuat untuk meningkatkan tindakan koalisi. Evaluator dari universitas atau lembaga
pemerintah mungkin dapat membantu dengan analisis dan pengukuran data.
Sumber daya: Setelah kebutuhan komunitas dinilai, kembangkan daftar kekuatan dan sumber
daya dalam komunitas itu. Sumberdaya melampaui finansial — setiap komunitas memiliki
kekayaan sumber daya non-moneter yang dapat digunakan untuk menangani bidang-bidang
yang menjadi perhatian, termasuk:
 Teknologi
 Komunikasi
 Infrastruktur, seperti supermarket, jalan, taman, jalur bus, perumahan, dan ruang
kantor
 Keahlian profesional
 Data
 Organisasi berbasis komunitas, seperti bisnis lokal, organisasi layanan, komunitas
berbasis agama, dan tokoh masyarakat
 Lembaga masyarakat - sekolah, perguruan tinggi dan universitas, perpustakaan,
lembaga seni, fasilitas olahraga dan latihanN
9

Contoh Penilaian:
Kansas menentukan masalah kesehatan prioritas melalui Komite Pengarah Sehat Kansas
2000, yang mengevaluasi data kesehatan, mencari pendapat ahli, mengundang komentar
publik, dan melakukan survei pendapat penduduk. Kansas menggunakan metode konsensus
untuk membatasi ruang lingkup tujuannya hingga 7 bidang kesehatan prioritas dan 4 faktor
risiko penyakit. 7 bidang kesehatan prioritas termasuk alkohol dan penyalahgunaan obat-
obatan, kanker, penyakit jantung, HIV dan penyakit menular seksual lainnya, penyakit
menular dan imunisasi, cedera dan kekerasan, dan kesehatan ibu dan bayi. Faktor risiko
utama adalah kurangnya akses ke perawatan pencegahan, penggunaan tembakau, gizi buruk,
dan kurangnya aktivitas fisik.

Langkah 3: Rencanakan (Plan)


Begitu prioritas telah ditetapkan dan data telah dikumpulkan, sebuah rencana tindakan
memerlukan langkah-langkah dan tenggat waktu yang konkret. Tujuan harus spesifik untuk
setiap masalah atau komunitas, dan harus membahas tujuan program, apa yang dibutuhkan
untuk mencapai tujuan, dan cara mengukur kemajuan untuk mengetahui kapan tujuan telah
tercapai. Rencana tindakan harus mencakup:
 Langkah tindakan.
 Penugasan tanggung jawab.
 Pengumpulan informasi.
 Garis waktu yang layak.
Saat menetapkan tujuan, perlu menyatakan apa yang harus dicapai: apa yang
diharapkan berubah, seberapa banyak, dan kapan. Tujuannya harus menantang, namun
realistis. Ingatlah untuk memasukkan target, yang merupakan jumlah perubahan yang
diinginkan dalam jumlah waktu tertentu (tercermin oleh angka atau persentase). Setiap target
membutuhkan garis dasar (di mana Anda berada sekarang — titik data pertama). Strategi
untuk bagaimana setiap tujuan akan tercapai. Langkah-langkah tindakan dapat dikembangkan
secara mandiri atau sebagai bagian dari strategi keseluruhan. Strategi dapat berfungsi sebagai
payung di mana semua anggota koalisi dapat berkontribusi dalam beberapa cara untuk target
yang diberikan. Rencana tindakan juga perlu menunjukkan siapa yang akan bertanggung
jawab untuk mengawasi dan menindaklanjuti langkah-langkah tindakan tertentu.
Menugaskan individu tertentu ke peran yang didefinisikan dengan baik dan disepakati akan
memfasilitasi rencana aksi. Ini juga akan membantu anggota koalisi merasa seperti anggota
10

tim yang penting, dengan tanggung jawab untuk memenuhi peran mereka dan membantu
mewujudkan visi keseluruhan untuk masyarakat.

Contoh Perencanaan:
Untuk mencapai tujuan tahun 2000, Departemen Kesehatan Rhode Island memprakarsai
Worksite Wellness Council of Rhode Island. Rhode Island berfokus pada peningkatan
promosi kesehatan dan kegiatan pencegahan penyakit di lokasi kerja, di mana sebagian besar
orang dewasa menghabiskan sebagian besar waktu mereka. Dewan Kesehatan Negara
mengadakan perjanjian dengan Dewan Kesehatan Amerika (WELCOA) untuk menjadikan
Rhode Island sebagai Negara Sumur pertama di Amerika Serikat. Melalui perjanjian ini,
Rhode Island bertujuan memiliki 20 persen dari tenaga kerjanya di Work Well Sites yang
tersertifikasi WELCOA.

Langkah 4: Terapkan (Implement)


Setelah rencana aksi ditetapkan, anggota koalisi dapat mulai mengimplementasikan
strategi dan langkah-langkah tindakan yang diidentifikasi dalam rencana tersebut. Anggota
koalisi harus bekerja menyelesaikan tugas yang telah ditugaskan kepada mereka sesuai
dengan jangka waktu yang ditetapkan. Pemantauan atau pelacakan acara secara rutin adalah
kunci implementasi. Misalnya, jika rencana tindakan meminta laporan mingguan tentang
topik tertentu, pemantauan akan menunjukkan apakah ini terjadi sesuai rencana.
Untuk memantau kemajuan dengan benar, perlu adanya identifikasi indikator yang
tepat. Hal-hal yang akan di ukur untuk memeriksa proses, kinerja, dan hasil. Ini akan
menunjukkan apakah telah melakukan apa yang di rencanakan, dan seberapa baik kerjanya.
Memperhatikan indikator juga akan membantu memahami mengapa sesuatu mungkin tidak
berhasil, dan memberi informasi untuk membuat perubahan yang akan meningkatkan
efektivitas.
Pastikan untuk berbagi tanggung jawab antar anggota koalisi. Rencanakan untuk secara
berkala membawa mitra baru untuk meningkatkan energi dan ide-ide segar, dan memeriksa
secara teratur dengan mitra yang ada untuk melihat apakah mereka memiliki saran atau
masalah. Komunikasi antara mitra dan staf yang terlibat adalah salah satu kunci implementasi
yang efektif. Sadarilah bahwa implementasi sebagian besar rencana tindakan untuk
meningkatkan kesehatan masyarakat mungkin membutuhkan waktu lebih lama dari yang
diharapkan. Kesabaran dan pandangan positif dapat membantu anggota koalisi tetap
diinvestasikan sepanjang proses.
11

Contoh Implementasi:
North Carolina telah mendirikan Kantor Carolinian Sehat yang bertanggung jawab untuk
menjaga inisiatif Orang Sehat mereka di jalur. Staf tersedia di kabupaten North Carolina
untuk dukungan dan pelatihan, khususnya pembangunan koalisi. Ada juga satuan tugas
gubernur yang mengesahkan kabupaten dalam proyek Healthy Carolinians. Kabupaten
melakukan penilaian dan kemudian mengimplementasikan rencana aksi

Langkah 5: Lacak (Track)


Pada fase terakhir proses MAP-IT, rencanakan evaluasi berkala untuk mengukur dan
melacak kemajuan Anda seiring waktu. Pelacakan adalah langkah dua bagian yang
melibatkan menganalisis data dan melaporkan kemajuan. Pastikan untuk mencatat sejauh
mana rencana itu diikuti, setiap perubahan yang dilakukan, dan apakah tujuan itu tercapai.
Evaluasi dan pelacakan sangat penting untuk keberhasilan jangka panjang upaya koalisi.
Pertimbangkan bermitra dengan universitas atau pusat negara bagian untuk statistik kesehatan
untuk membantu pelacakan data. Beberapa hal yang perlu dipikirkan ketika Anda
mengevaluasi data dari waktu ke waktu:
 Kualitas Data: Pastikan untuk memeriksa standarisasi pengumpulan data, analisis, dan
struktur pertanyaan.
 Keterbatasan Data yang Dilaporkan Sendiri: Ketika Anda mengandalkan data yang
dilaporkan sendiri (seperti frekuensi latihan atau pendapatan), waspadai bias
pelaporan diri.
 Validitas dan Keandalan Data: Berhati-hatilah terhadap revisi pertanyaan survei dan /
atau pengembangan sistem pengumpulan data baru. Ini dapat memengaruhi validitas
respons Anda dari waktu ke waktu. (Daftarkan ahli statistik untuk membantu
pengujian validitas dan reliabilitas.)
 Ketersediaan Data: Upaya pengumpulan data tidak selalu dilakukan secara teratur.

Contoh Pelacakan:
Untuk pembaruan tahun 1996 dan 1999 untuk tujuan tahun 2000 Negara Bagian, staf
statistik dan program New Jersey menilai kemajuan dan menganalisis tren. Berdasarkan
analisis tren mereka, staf mengategorikan masing-masing tujuan dan sub-tujuan sebagai
"kemungkinan untuk dicapai," "tidak mungkin untuk dicapai," atau "tidak pasti."
12

Deskripsi MAP-IT
MAP IT Pertanyaan yang Perlu Dijawab Deskripsi

Mobilize  Apa visi dan misi koalisi?  Mulailah dengan memobilisasi individu dan
 Mengapa saya ingin menyatukan organisasi kunci ke dalam koalisi.
orang?  Selanjutnya, identifikasi peran untuk mitra
 Siapa yang harus diwakili? dan tetapkan tanggung jawab.
 Siapa mitra potensial (organisasi
dan bisnis) di komunitas saya?

Asses  Siapa yang terpengaruh dan  Nilai kebutuhan dan aset (sumber daya) di
bagaimana? komunitas Anda.
 Sumber daya apa yang kita  Bekerja bersama sebagai koalisi untuk
miliki? menetapkan prioritas.
 Sumber daya apa yang kita  Mulai kumpulkan data negara dan lokal
butuhkan? untuk melukiskan gambaran realistis
kebutuhan masyarakat.

Plan  Apa tujuan kami?  Rencana yang baik mencakup tujuan yang
 Apa yang perlu kita lakukan jelas dan langkah konkret untuk
untuk mencapai tujuan kita? mencapainya.
Siapa yang akan melakukannya?  Pertimbangkan poin intervensi Anda.
 Bagaimana kita tahu kapan kita  Pikirkan tentang bagaimana Anda akan
telah mencapai tujuan kita? mengukur kemajuan Anda.

Implement  apakah kita mengikuti rencana  Buat rencana kerja terperinci yang
kita? menjabarkan langkah-langkah tindakan
 Apa yang bisa kita lakukan lebih nyata, mengidentifikasi siapa yang
baik? bertanggung jawab untuk menyelesaikannya,
dan menetapkan batas waktu dan / atau
tenggat waktu.
 Pertimbangkan untuk mengidentifikasi satu
titik kontak untuk mengelola proses dan
memastikan bahwa segala sesuatunya selesai.
 Dapatkan kata-kata: kembangkan rencana
komunikasi.

Track  Apakah kita mengevaluasi  Pertimbangkan bermitra dengan universitas


13

pekerjaan kita? atau pusat negara untuk statistik kesehatan


 Apakah kita mengikuti untuk membantu pelacakan data.
rencananya?  hal yang perlu dipikirkan ketika
 Apa yang kita ubah? mengevaluasi data dari waktu ke waktu:
 Apakah kita mencapai tujuan - Kualitas Data
kita? - Keterbatasan Data yang Dilaporkan
Sendiri
- Validitas dan Keandalan Data
- Ketersediaan Data
 Membagikan kemajuan dan kesuksesan
dengan komunitas Anda.

2.4 Kerangka Intervensi MAP-IT

Note : BCW=Behavior Change Wheel, IM=Intervention Mapping, ANGELO=Analysis Grid for


Environments linked to Obesity.
14

Kerangka kerja terbaru yang mendukung intervensi yang ditujukan untuk perubahan
perilaku adalah Behavior Change Wheel (BCW; Michie, van Stralen, & West, 2011). BCW
adalah alat yang berguna untuk menyusun elemen-elemen penting dari rencana intervensi.
Alat lain yang mendukung praktisi untuk merencanakan dan mengevaluasi intervensi
peningkatan kesehatan adalah Intervention Mapping (IM) (Bartholomew et al., 2011). IM
mencakup proses bertahap bertahap terstruktur yang iteratif dan kumulatif daripada linier,
menyediakan elemen yang tepat untuk memandu masing-masing dari enam langkah. Pertama,
perencana intervensi melakukan penilaian kebutuhan dan mengidentifikasi penentu pribadi
dan lingkungan yang penting untuk perilaku target yang harus diubah. Dalam langkah-
langkah selanjutnya, intervensi, adopsi, dan rencana implementasi dikembangkan dengan
cara menangani tujuan dengan metode dan strategi tertentu. IM mencakup semua langkah,
strategi, dan alat yang relevan untuk merancang dan mengevaluasi intervensi. Namun,
kelengkapannya mengurangi kelayakannya, karena membutuhkan waktu dan sumber daya
pribadi dan keuangan yang signifikan.
ANGELO (Analysis Grid for Environments linked to Obesity) memberikan indikasi
lebih lanjut tentang hambatan lingkungan penting atau pemungkin perilaku yang
berhubungan dengan kesehatan. Lingkungan dipandang sebagai pengatur risiko, yang
menentukan kemungkinan individu berpartisipasi dalam perilaku sehat (lihat Glass &
McAtee, 2006). Kerangka kerja ANGELO memisahkan lingkungan menjadi empat jenis
(fisik, ekonomi, politik, dan sosial budaya) dan dua ukuran (makro dan mikro).
MAP-IT mendukung praktisi kesehatan dalam merancang intervensi sistematis
(berbasis teori dan berbasis bukti), yang biasanya merupakan tugas yang kompleks. MAP-IT
hemat waktu dan mudah digunakan (Hansen, 2017).
15

BAB III
RENCANA NEED ASSESSMENT

3.1 Tujuan Assessment

Untuk mengetahui proses perencanaan dan evaluasi program promosi kesehatan,


permasalahan, hambatan dan faktor yang mendukung di Suku Dinas Kesehatan Jakarta
Timur. Program promosi kesehatan yang dilihat yaitu program Ketuk Pintu Layani Dengan
Hati (KPLDH).

3.2 Kerangka Konsep

Fungsi intervensi,
dan kategori
kebijakan

Proses bertahap
terstruktur untuk
merancang dan MAP-IT
mengevaluasi
intervensi

Membantu
terutama dalam fase
"Need Assessment"
dari pengembangan
intervensi

3.3 Matriks Data

Metode Pengumpulan
Informasi yang dicari Informan Jumlah
Data
Penilaian kebutuhan Pengelola sie kesmas 1 (satu) orang Wawancara mendalam
dan mitra, (promkes &
pengembangan tujuan pemberdayaan
dan sasaran program, masyarakat)
pengembangan
program intervensi,
implementasi,
monitoring dan
evaluasi program.
16

3.4 Pengukuran dan Alat Ukur

Dalam pelaksanaan penelitian ini, instrumen penelitian adalah yang digunakan untuk
pengumpulan data dalam penelitian. Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan beberapa
instrumen, yaitu :
1) Peneliti sebagai instrumen utama, peranan penelitilah yang menentukan keseluruhan apa
yang dirancangnya.
2) Pedoman wawancara mendalam.
3) Alat perekam suara.
Wawancara mendalam (indepth interview) adalah satu jenis wawancara yang dilakukan
oleh seorang pewawancara untuk menggali informasi, memahami pandangan, kepercayaan,
pengalaman, pengetahuan informan mengenai sesuatu hal secara utuh (Martha, 2016).
Menurut Mack (2005) dalam Martha (2016), dalam mempersiapkan wawancara ada
beberapa hal yang harus dilakukan yaitu :
1) Mempersiapkan rekaman dan tempat dilangsungkannya wawancara.
2) Menguasai tujuan penelitian dan siap untuk menjawab pertanyaan informan yang
berhubungan dengan penelitian.
3) Peneliti harus disiplin yaitu datang tepat waktu ke tempat penelitian, mempersiapkan
tempat duduk, menyiapkan alat perekam, panduan pertanyaan, catatan, dan siap untuk
dapat menjawab pertanyaan yang diajukan informan.
4) Siap untuk melakukan wawancara dan memenuhi semua janji yang disampaikan kepada
informan.
5) Mengajukan semua pertanyaan yang tercantum dalam panduan pertanyaan, menggali
(probing) jawaban informan untuk mendalami jawaban informan.
6) Mendapatkan dokumen persetujuan informasi (inform consent) sebelum melakukan
wawancara.
7) Merekam hasil wawancara dengan rekaman, dan membuat copy catatan hasil wawancara.
8) Melakukan observasi dan mencatat perilaku informan pada saat wawancara dan hal-hal
yang berhubungan dengan wawancara.
9) Mengembangkan segera catatan singkat hasil wawancara setelah selesainya wawancara,
sebaiknya dalam jangka waktu 24 jam.
17

3.5 Peningkatan Upaya Validitas Data

Menurut WHO (1990) evaluasi program adalah langkah sistematis untuk mempelajari
sesuatu berdasarakan pengalaman dan menggunakan teori yang telah dipelajari untuk
meningkatkan perencanaan yang lebih baik dengan seleksi yang seksama untuk kegiatan
dimasa yang akan datang. Tujuan evaluasi program adalah mendapatkan sejumlah informasi
yang dapat digunakan dalam pengambilan keputusan. Setelah diketahui objek-objek evaluasi
program maka bisa ditentukan aspek dari objek yang dievaluasi.
Informan dalam kegiatan evaluasi perencanaan program promkes khususnya KPLDH
ini adalah seorang tenaga promkes di Suku Dinas Kesehatan Kota Jakarta Timur yang sudah
berpengalaman dan cukup lama berkecimpung di program promkes. Data yang digunakan
adalah data primer dan data sekunder. Data primer diperoleh langsung dari informan dalam
metode wawancara mendalam. Sedangkan data sekunder diperoleh dari data dasar, dokumen
perencanaan, serta pencatatan dan pelaporan Suku Dinas Kesehatan Kota Jakarta Timur.
Pada kegiatan ini digunakan tiga metode yaitu telaah dokumen, wawancara dan metode
kepustakaan. Data yang didapat kemudian dilakukan pengolahan dan analisis data. Untuk
menjamin kualitas data maka dilakukan uji validitas data dengan melakukan triangulasi
sumber, triangulasi data dan triangulasi metode sehingga pengolahan dan analisa data yang
dilakukan menghasilkan saran yang berguna untuk penyelesaian masalah.

3.6 Uji Coba Instrumen dan Metode

Dalam kegiatan evaluasi perencanaan program KPLDH ini digunakan metode


wawancara dengan menggunakan pedoman wawancara mendalam yang disusun oleh
kelompok serta sudah diujicobakan sebelum digunakan pada wawancara mendalam di suku
Dinas Kesehatan Kota Jakarta Timur. Metode yang digunakan adalah metode wawancara
mendalam karena keterbatasan waktu dari sumber informasi setelah dilakukan konfirmasi dan
kontrak waktu maka ditentukan metode yang dipilih adalah wawancara mendalam terhadap 1
informan kunci yang memahami segala proses kegiatan KPLDH mulai dari proses
perencanaan sampai dengan evaluasi. Untuk mendapatkan data yang benar-benar lengkap
dilakukan pembagian tugas yang merata dalam tim pengumpul data mulai dari pewawancara,
notulen, perekam, dokumentasi dan pengumpul data/kesimpulan dengan menggunakan sarana
dan prasarana yang memadai seperti alat tulis, lembar pedoman wawancara,dan alat bantu
perekam serta foto untuk menjaga keakuratan informasi yang didapatkan.
18

3.7 Jadwal Presentasi dan Pengumpulan data


3.7.1 Tempat dan Waktu Pengumpulan Data
Pengumpulan data dilakukan dengan teknik wawancara mendalam terhadap pengelola
sie kesmas (Promkes dan pemberdayaan masyarakat) dilakukan pada hari Jumat 26 April
2019 di Suku Dinas Kesehatan Kota Jakarta Timur.
3.7.2 Jadwal Presentasi
Presentasi akan dilakukan pada tanggal 23 Mei 2019
19

BAB IV
HASIL, PEMBAHASAN, KESIMPULAN DAN SARAN

4.1 Hasil Assesment


4.1.1 Mobillize
Dalam menciptakan dan memelihara kemitraan sebelum menyusun perencanaan
program Ketuk Pintu Layani Dengan Hati (KPLDH), Suku Dinas Kesehatan Kota Jakarta
Timur (Sudinkes Kota Jaktim) terlebih dahulu mengidentifikasi mitra baik lintas program,
seperti promosi kesehatan dan gizi maupun lintas sektoral yaitu Kepala Seksi Kesejateraan
Rakyat (Kesra) yang ada dikantor kecamatan dan kelurahan. Mitra lintas program dan lintas
sektoral dilibatkan dalam perencanaan program KPLDH yang sebelumnya telah diadakan
pertemuan dengan mitra tersebut. Walapun ada beberapa organisasi atau Lembaga Swadaya
Masyarakat (LSM) di Kota Jakarat Timur, diantarnya dalah Wahana Visi Indonesia (WVI),
Yayasan Pelita Ilmu (YKP), Kharisma, PKPU, dan Globalfun, tetapi mereka tidak dilibatkan
secara lansung dalam perencanaan program KPLDH.

“Kan KPLDH itu kan sifatnya hanya pendataan, jadi ya hanya mitra litas sektoral dan
program saja, itu yang organisasi tadi ngga ikut terlibat”

Organisasi masyarakat yang nantinya banyak terlibat dalam pelaksanaan KPLDH


adalah Rukun Tetangga (RT), Rukun Warga (RW) dan kader kesehatan sebagai mendamping
pelaksanaan team KPLDH di lapangan.

4.1.2 Asses
A. Menilai kebutuhan dan menetukan prioritas masalah
Saat menilai kebutuhan, data kesehatan yang digunakan untuk menilai kebutuhan
program KPLDH adalah data angka kesakitan, standar pelayanan minimal bidang
kesehatan, data Survei Mawas Diri (SMD), dan indikator capaian masing-masing
program yang ada di Sudinkes Kota Jaktim. Selain data kesehatan, juga dibutuhkan
data determinan sosial. Data tersebut berupa data Kampung Kumuh dan Miskin
(Kumis) yang sebagian besar masyarakatnya hidup miskin dan lingkungannya kumuh.

“Iya yang namnya KUMIS, kampung kumuh dan miskin, yang warga-warganya kumuh
dan miskin”
20

Selain itu, juga dibutuhkan dari kecamatan kecamatan, Badan Pusat Statistik (BPS),
maupun Dukcapil untuk melengkapi data dalam menilai kebutuhan. Kedepannya DKI
Jakarta akan menggunakan satu jenis data yaitu Data Dasawisma yang mampu
menampung infomasi yang berkaitan dengan penduduk.
Setelah data berhasil dikumpulkan, langkah selanjutnya adalah melakukan analisi data.
Analisis data dilakukan oleh Sudinkes Kota Jaktim dengan mengurukan data indikator
capaian program mulai dari yang tertinggi sampai terendah dan dibandingkan dengan
target yang ada. Data diperoleh dari tingkah bawah (data perorangan) hingga tingkat
atas (data kelurahan). Hasil analisi data tersebut disajikan dalam bentuk laporan (grafik,
tabel) dan diseminasi informasi hasil capaian program dengan mengadaan rapat
koordinasi lintas program. Dalam rapat itulah akan ditentukan prioritas masalah oleh
tim Sudinkes Kota Jakbar dengan menggunakan matrix USG yaitu dengan melihat
urgensi, keseriusan, dan kemungkinan perkembangan masalah.
B. Menentukan tujuan dan analisis target
Tujuan KPLDH adalah meningkatkan derajat kesehatan keluarga dengan target sasaran
program adalah keluarga yang terdiri dari pelayanan kesehatan ibu hamil,bersalin,
bayi, balita, usia sekolah dan remaja, pasangan usia subur, dan lansia dengan prinsip
continum of care (perawatan berkelanjutan) dengan target sasaran program adalah
seluruh anggota keluarga yang ada di wilayah binaan puskesmas Kota Jakarta Timur.
Hasil yang diharapkan dapat tercapai setelah program KPLD ini terlaksana adalah
tercapainya derajat kesehatan yang optimal dari masyarakat yang ada di wilayah kerja
puskemas dan dapat menjaring kasus resiko sehingga dapat dilakukan tindak lanjut
dengan rujukan berjengjang. Disamping itu, manfaat yang dapat dirasakan target
setelah implentasi program KPLDH adalah masyarakat mengetahui status kesehatan
seluruh anggota keluarga karena dalam datu tim KPLDH terdiri dari satu dokter, satu
bidan, dan satu perawat sehingga permasalahn kesehatan yang terjadi dapat
ditindaklanjuti.

“Masyarakat jadi tau tuh kesehatannya gimana, kan langsung turun ke lapangan jadi
kalau ada masalaha kita cepat tau. Kan itu satu tim ada doketer, bidan, perawat jadi
masalah-masalah lansia atau ibu hamil juga tau kan?”

Untuk mencapai tujuan tersebut dilakukan monitoring dan evaluasi Ya yang dilakukan
tiap bulan maupun tiap triwulan. Untuk monitoring tiap bulan berupa laporan masing-
21

masing puskemas, sedangkan monitoring triwulan berupa paparan mengenai capaian,


masalah, maupun kendala masing-masing puskemas selama pelaksanaan KPLDH.
Sedangkan indikator keberhasilan program KPLD adalah tercapainya target program
kesehatan kelaurga mulai dari capaian program ibu hamil sampai lansia yang akhitnya
akan mnurunkan angka kematian ibu, bayi dan balita, serta menurunya angka kesakitan
pada kelompok rentan.

4.1.3 Plan
A. Mengembangkan rencana strategis dan tindakan
Yang terlibat dalam pengembangan program KPLD adalah lintas sektor seperti kader,
PKK, RT, RW, lurah, camat dan instansi terkait seperti dasawisma, pertamanan, dan
pendidikan karena dalam program juga memperhatikan berbagai aspek seperti
lingkungan dan pengembangan kualitas keluarga. Permasalahan dalam pelaksanaan
program KPLDH adalah adanya tim yang rangkap tugas meskipun tupoksi tim tersebut
melakukan pengmbilan data di lapangan namun karena kekurangan tenaga didalam
pelayanan di puskesmas sehingga tim seringkali tidak bisa turun ke lapangan dan
kurangnya koordinasi antar program di puskesmas. Cara Sudinkes Kota Jaktim dalam
mengatasi masalah terebut adalah dengan meningkatan tupoksi tim dengan pembagian
tim perkelurahan, melakukan pengawasan dan pengaturan oleh kepala puskesmas dan
Sudinkes Kota Jaktim. Dengan adanya pembagian tugas (tim), adanya SK tim, ada juknis
program, dana, ada dukungan lintas program dan lintas sektor, serta ada indikator
capaian program maka program KPLDH ini siap untuk diimplementasikan.

“Ya karena ada SK Gubernur, juknis sudah ada, dana ADPD untuk keberlangsungan
program em..dengan bantuan lintas sektor dan program tadi juga ”

B. Mengembangkan kerangka kerja


Pembuatan jadwal kegiatan KPLDH disusun oleh puskesmas. Di wilayah Suku Dinas
kesehatan Kota Jakarta Timur terdiri dari 10 puskesmas kecamatan, 79 puskesmas
kelurahan dan 4 RS Umum Kecamatan. Sebelumnya dilakukan koordinasi jadwal
tersebut dengan mitra dengan RT, RW, atau kader sehingga mempermudah pelaksanaan
dilapangan dan menghindari penolakan warga.

“Iya pasti, kan mereka yang tau di lapangan seperti apa”


22

C. Penyusunan anggaran program


Anggaran program KPLDH Sudinkes Kota Jaktim pada tahun 2019 sebesar
Rp.10.000.000,- yang bersumber APBD dimana kegiatannya berbentuk evaluasi
program. Sedangkan untuk pelatihan tenaga tim KPLDH di puskesmas dibiayai oleh
dana APBN. Untuk dana pelaksanaan program di puskesmas (operasional) dibiayai oleh
dana BLUD puskesmas, sedangkan tidak honor tim KPLDH karena sudah menjadi
tupoksi dari dokter, bidan dan perawat.

“Kita pakai tiga dana, ABPD, APBN, sama BLUD”

4.1.4 Implement
A. Mengembangkan intervensi
Implementasi program KPLDH dilakukan secara berjenjang mulai dari tingkat Sudinkes
sampai puskesmas dan pelaksanaan sesuai tupoksi masing-masing.

“Ini berjenjang dari dinas ke puskes-puskemas.kan sudah ada tugas masing-masing”

Implementasi program KPLDH sudah sesuai dengan rencana meskipun ada beberapa
kendala (rangkap tugas tim KPLDH dan kurangnya koordinasi lintas program sehingga
terkadang pelaksanaan tidak sesuai jadwal dan target tidak tercapai ) sehingga Sudinkes
Kota jaktim memberikan keleluasaan bagi puskesmas membuat rencana dan target
pelaksanaan program sehingga sesuai dengan kondisi dan kemampuan puskesmas
tersebut. Selain itu untuk mengatasi kendala tersebut, Sudinkes Kota jaktim akan
menginstruksikan agar pengaturan jadwal lebih konsisten oleh tim dan diawasi oleh
kepala puskesmas dan dengan menambah jumlah tim perkelurahan yaitu jadi 2-3 tim
/kelurahan.
Komitmen dalam pelaksanaan program KPLDH pada Sudinkes Kota Jaktim sangat
bagus karena program KPLDH leading sectornya adalah program promkes.
B. Menerapkan pemasaran sosial
Tidak dilakukan pemasaran sosial pada program KPLDH ini. Pemasaran dilakukan
hanya melalui lintas sektor yang turut memperkenalkan program ini dengan tetap
dilakukan pendampingan oleh Sudinkes Kota jaktim.
23

“Nggak, kita hanya lintas sektor, biasanya dia yang memperkenalkan, dengan
pendampingan kita”

4.1.5 Track
Terdapat dua jenis monitoring dan evaluasi dalam KPLDH ini, yaitu monitoring
bulanan (berupa laporan ttiap-tiap puskemas) dan tiap triwulan yang melibatkan semua
program yang ada di Sudinkes Kota jaktim. Indikator keberhasilan program KPLD ini sudah
tercapai sesuai perencanaan dengan sistem pelaporan program berbasis elektronik, yaitu e-
puskemas. Pelaksanaan program sudah berjalan sesuai prosedur dengan jumlah data yang
telah masuk sebanyak 70-80 %. Pelaksaan program juga tetap sasaran karena program
dilaksanakan dengan cara door to door. Monitoring dan evaluasi juga dilakukan dengan
respon masyarakat setelah program berajalan. Hal ini dilakukan dengan menilai kepuasan
masyarakat pada program KPLD yang diletakkan di puskesmas-puskesmas se Kota jakarta
Timur. Formulir kepuasan didapatkan dari dinas kesehatan yang dimodifikasi oleh masing-
masing puskemas sesuai dengan kebutuhan puskemas tersebut.

“Ya karena kan kita door to door pasti tepat sasaran”

4.2 Pembahasan
Program Ketuk Pintu Layani dengan Hati dalam penyelenggaraannya menggunakan
pendekatan continuum of care, dengan prinsip mengutamakan upaya promotif dan preventif,
paradigma sehat, pertanggungjawaban wilayah, kemandirian masyarakat, dokter keluarga dan
berbasis komunitas serta kerjasama dengan lintas sektor dan lintas program di wilayah kerja.
Ketuk Pintu Layani dengan Hati yang selanjutnya disingkat KPLDH adalah pendekatan
pelayanan kesehatan yang mengutamakan upaya promotif dan preventif yang diawali dengan
pendataan setiap rumah dan/atau pintu rumah sampai dengan pemenuhan hak-hak kesehatan
dasarnya, pemantauan status kesehatan keluarga hingga evaluasi hasilnya, termasuk
kewajiban keluarga menjalankan perilaku hidup bersih dan sehat (Dinkes DKI Jakarta, 2017)
4.2.1 Mobilize
Berdasarkan hasil wawancara mendalam, Suku Dinas Kesehatan Kota Jakarta Timur
(Sudinkes Kota Jaktim) sudah menciptakan kemitraan dengan baik, hal ini terlihat dari
kerjasama mitra lintas program dan lintas sektoral saling bekerja sama dalam melaksanakan
program KPLDH.
24

Hal ini sejalan dengan penelitian Arifada (2015), yaitu dalam aspek input dan process
sistem kemitraan yang baik dapat menghasilkan hasil yang baik untuk mencapai hasil sesuai
dengan target yang ditetapkan pemerintah.

4.2.2 Asses
Berdasarkan hasil wawancara mendalam, Suku Dinas Kesehatan Kota Jakarta Timur
(Sudinkes Kota Jaktim) sudah menilai kebutuhan program KPLDH yang sudah ditentukan
indikator capaian masing-masing program. Dalam menentukan prioritas masalah, Sudinkes
Kota Jaktim melihat data indikator capaian program mulai dari yang tertinggi sampai
terendah. Untuk mencapai tujuan, Sudinkes Kota Jaktim melakukan monitoring dan evaluasi
selama pelaksanaan KPLDH.
Hal ini sejalan dengan penelitian Symond (2013) , yaitu dalam penetapan prioritas
masalah kesehatan berdasarkan pencapaian program tahunan yang dilakukan adalah dengan
membandingkan antara target yang ditetapkan dari setiap program dengan hasil pencapaian
dalam kurun waktu 1 tahun. Dalam penetapan prioritas alternatif pemecahan masalah untuk
intervensi harus dilihat juga efektifitas dan efisiensinya.

4.2.3 Plan
Berdasarkan hasil wawancara mendalam, Suku Dinas Kesehatan Kota Jakarta Timur
(Sudinkes Kota Jaktim) dalam pengembangan program KPLDH memperhatikan berbagai
aspek seperti lingkungan dan pengembangan kualitas keluarga. Dalam pelaksanaan KPLDH
juga terdapat permasalahan yaitu adanya tim yang melakukan tugas rangkap karena
kekurangan tenaga di dalam pelayanan puskesmas dan kurangnya koordinasi antar program
di puskesmas. Dalam mengatasi masalah tersebut, Sudinkes Kota Jaktim meningkatkan
tupoksi, melakukan pengawasan dan pengaturan oleh kepala puskesmas dan Sudinkes Kota
Jaktim.
Hal ini sejalan dengan penelitian Kawulur (2014), yaitu dalam perencanaan promosi
kesehatan masih terdapat masalah-masalah seperti kurangnya tenaga kesehatan, keterbatasan
dana yang mengakibatkan program-program promosi kesehatan tidak berjalan dengan baik,
petugas yang mempunyai tugas rangkap, dan ketersediaan sarana dan prasarana juga menjadi
kendala dalam melaksanakan program promosi kesehatan.
4.2.4 Implement
Berdasarkan hasil wawancara mendalam, Suku Dinas Kesehatan Kota Jakarta Timur
(Sudinkes Kota Jaktim) dalam implementasi program KPLDH dilakukan secara berjenjang
25

mulai dari tingkat Sudinkes sampai puskesmas dan pelaksanaannya sudah sesuai dengan
tupoksi masing-masing. Implementasi program sudah berjalan sesuai dengan rencana namun
ada beberapa kendala yang dihadapi seperti tim yang memiliki tugas rangkap dan kurangnya
koordinasi lintas program.
Hal ini sejalan dengan penelitian Sari (2017), yaitu pendukung promosi kesehatan yang
utama adalah sumber daya manusia namun di puskesmas petugas promosi kesehatan
memegang tugas rangkap. Tenaga kesehatan yang bukan tenaga khusus promosi kesehatan
harus memiliki kemampuan berupa pengetahuan dan keterampilan dalam menyampaikan
informasi maupun konseling serta harus melakukan pelatihan di bidang promosi kesehatan.
Hal ini penting karena tenaga promosi kesehatan harus memiliki kapasitas di bidang promosi
kesehatan. Sehingga petugas dapat melaksanakan program promosi kesehatan sesuai dengan
prinsip promosi kesehatan.
4.2.5 Track
Berdasarkan hasil wawancara mendalam, Suku Dinas Kesehatan Kota Jakarta Timur
(Sudinkes Kota Jaktim) dalam pelaksanaan monitoring dan evaluasi dilakukan monitoring
bulanan dan tiap triwulan yang melibatkan semua program yang ada. Indikator program
sudah tercapai sesuai perencanaan dan pelaksanaaan program juga tepat sasaran karena
program dilaksanakan dengan cara door to door.
Hal ini sejalan dengan penelitian Yulianti (2018), yaitu manajemen promosi kesehatan
yang dilaksanakan secara lengkap meliputi penilaian kebutuhan, pelaksanaan, serta evaluasi
menjamin perbaikan secara berkelanjutan.

4.3 Kesimpulan dan Saran


4.3.1 Kesimpulan
Program Ketuk Pintu Layani dengan Hati dalam penyelenggaraannya menggunakan
pendekatan continuum of care, dengan prinsip mengutamakan upaya promotif dan preventif,
paradigma sehat, pertanggungjawaban wilayah, kemandirian masyarakat, dokter keluarga dan
berbasis komunitas serta kerjasama dengan lintas sektor dan lintas program di wilayah kerja.
Sesuai dengan konsep perencanaan MAP-IT untuk program KPLDH didapatkan
kesimpulan sebagai berikut.
Mobilize : Adanya kemitraan yang baik, terlihat dari kerjasama mitra lintas
program dan lintas sektoral saling bekerja sama dalam melaksanakan
program KPLDH.
26

Asses : Menilai kebutuhan sudah ditentukan indikator capaian masing-masing


program juga adanya penentuan prioritas masalah
Plan : Pengembangan program KPLDH memperhatikan berbagai aspek.
Adanya pengawasan dan pengaturan oleh kepala puskesmas dan
Sudinkes Kota Jaktim
Implement : Program dilakukan secara berjenjang mulai dari tingkat Sudinkes
sampai puskesmas dan pelaksanaannya sudah sesuai dengan tupoksi
masing-masing
Track : Pelaksanaan monitoring dan evaluasi dilakukan monitoring bulanan
dan tiap triwulan

4.3.2 Saran
Mengupayakan agar tim yang ada tidak memiliki tugas rangkap sehingga tim lebih
fokus dalam melaksanakan tugas masing-masing dan meningkatkan koordinasi lintas
program untuk memaksimalkan program KPLDH yang merupakan program dari suku dinas
kesehatan Jakarta Timur.
27

DAFTAR PUSTAKA

Arifada, Aqsha Yuldan., Rochmah, Thini Nurul. 2015. Analisis Sistem Kemitraan dalam
Program Imunisasi berdasarkan Peran Perangkat Desa, Bidan Desa, dan Masyarakat.
Jurnal Administrasi Kesehatan Indonesia Volume 3 Nomor 2
Buns, M. T., Pettitt, C. and Blanton, J. (2017) ‘Using the MAP-IT framework for
implementing a home-school physical education program at a university campus’, 4(3),
pp. 84–88.
Dinkes DKI Jakarta. 2017. Pedoman KPLDH diakses pada tanggal 13 Mei 2019 di
https://kupdf.net/download/pedoman-kpldh-2_5962d599dc0d6096362be319_pdf
Hansen, Sylvia.,etc. 2017. MAP-IT: A Pratical Tool for Planning Complex Behavior
Modification Interventions. Health Promotion Practice
Kawulur, Miryam Grace.,etc. 2014. Analisis Pelaksanaan Program Promosi Kesehatan di
Puskesmas Teling Atas Kecamatan Wanea Kota Manado. Fakultas Kesehatan
Masyarakat, Universitas Sam Ratulangi. Manado
Kemenkes RI (2011) Promosi kesehatan di daerah bermaslaah Kesehatan: Panduan bagi
Petugas kesehatan di Puskesmas. Jakarta: Kementerian Kesehatan Republik Indonesia.
Martha, Evi. Kresno, Sudarti. 2016. Metodologi Penelitian Kualitatif Untuk Bidang
Kesehatan. Jakarta : PT RajaGrafindo Persada
McKenzie, Neiger, T. (2013) Planning, implementing, and evaluating health promotion
programs : a primer. 6th ed. United States of America: Pearson Education, Inc.
Pebrina Anita, Adisasmito Wiku B.W. Evaluasi Pelaksanaan Program Promosi Kesehatan
Tentang PHBS Dalam Tatanan Rumah Tangga di Kotamadya Jakarta Timur Tahun
2013. http://www.digilib.ui.ac.id/naskahringkas/2016-06/S55587-Anita%20Pebrina
Sari, Intan Indah Kartika., Sulistyowati, Muji. 2017. Analisis Promosi Kesehatan di
Puskesmas Kalijudan terhadap PHBS Rumah Tangga Ibu Hamil. Fakultas Kesehatan
Masyarakat, Universitas Airlangga. Surabaya
Symond, Denas. 2013. Penentuan Prioritas Masalah Kesehatan dan Prioritas Jenis Intervensi
Kegiatan dalam Pelayanan Kesehatan di Suatu Wilayah. Jurnal Kesehatan Masyarakat
Vol. 7 No. 2
Yulianti, Suryani.,etc. Peran Dokter pada Program Promosi Kesehatan di Fasilitas Kesehatan
Tingkat Pertama. Bagian Ilmu Kesehatan Masyarakat. Fakultas Kedokteran,
Universitas Islam Sultan Agung. Semarang
28

Lampiran 1 Matriks

No Langkah Komponen Pertanyaan Jawaban


perencanaan
1. Mobillize Menciptakan dan memelihara Apakah sebelum menyusun perencanaan program, Ya, lintas program itu dengan promkes ya kan, gizi, ya
kemitraan Bapak terlebih dahulu mengidentifikasi mitra baik semua sektor ayanga da di dinas itu telibat, turun ke
lintas program maupun lintas sektoral? bawah jadi mereka lebih tau kondisi keluarga langsung,
kalau di Puskemas kan ngga tau keadaan keluarganya
langsung
Kalu lintas sektor kita ke Kasi Kesra (Kejejahteraan
Rakyat) itu adanya di kanor kecamatan dan kelurahan.
Organisasi apa saja yang ada di masyarakat? Ketua RT/Rw, kader ya ikut membantu sebagai
pendamping kan yang tau wilayah itu kader.
Kalau organisasi yang ada di Jaktim ada Organisasi WVI
(Wahana Visi Indonesia), YPI (Yayasan Pelita Ilmu),
Karisma, PKPU untuk TBC, ada juga ini apa namanya
Globalfun.
Apakah ada mitra yang dilibatkan dalam Ngga ada sih. Kan KPLDH itu kan sifatnya hanya
perencanaan program? pendataan, jadi ya hanya mitra litas sektoral dan program
saja, itu yang organisasi tadi ngga ikut terlibat.
Apakah sebelum menyusun perencanaan, terlebih Iya semua lintas program ikut rapat
dahulu diadakan pertemuan dengan mitra?
2. Asses Menilai kebutuhan dan Dalam penilaian kebutuhan, data kesehatan apa saja Data SPM, SMD, Angka kesakitan
menetukan prioritas masalah yang dikumpulkan? Indikator-indikator capaian per masing-masing program
kaya KIA nanti dijadiin satu.
Selain data kesehatan apakah dilakukan Ya ada
pengumpulan data determinan sosial dalam rangka
penilaian kebutuhan?
Data determinan sosial apa saja yang kumpulkan Iya yang namnya KUMIS (kampung kumuh dan Iskin)
untuk penilaian kebutuhan? yang warga-warga kumuh dan miskin.
Darimana saja sumber data yang dikumpulkan Bisa data dari kecamatan, bisa dinas kesehatan, BPS,
tersebut? Dukcapil. Nah untuk kedepannya data DKI hanya satu
yaitu data Dasawisma, adanya di PKK. Dia selalu didata,
di update setiap bulannya, 1 kader DASAWISMA
menguasai 10 KK, nanti dia akan dibayar, per bulannya
300 ribu
Bagaiamana analisa yang dilakukan pada data yang Sama kaya bikin tabel-tabel kaya PIS PK. Per kelurga
sudah dikumpulkan? dulu, lanjut ke RT, RW, baru ke seluruh kabupaten.
29

Bagaimana hasil analisa data tersebut disajikan Ya dalam bentuk laporan


(apakah dalam bentuk laporan atau presentasi atau Ya dibikin kaya yang urgent, per kelurahan. Permasalah
bentuk lainnya)? di keluaran. Tapi biasanya dari RT dibawa ke RW baru
dibawa ke kelurahan
Jika ditemukan beberapa masalah, bagaimana cara Semua lintas program rapat, ditentukan oleh semua
menetukan prioritasnya? Pakai USG, dilihat urgentnya, keseriusan, sam aitu apa
perkebangan masalahnya biar ngga memepengaruhi
program lain
Menentukan tujuan dan analisi Bisa dijelaskan tujuan umum dari perencanaan Ya..untuk ini meningkatkan derajat kesehatan anggota
target program? keluarga. Sebetulnya sama dengan PIS PK, tujuannya
sama, tapi dia lahir duluan yang itu kan baru mucul.
KPLDH tetap jalan, ada laporan indikatornya, PIS PK
kan hanya 12 indikator, KPLDH ini lebih lengkap ada
banyak itu kan
Siapa saja target sasaran dari program? Ya keluarga itu
Apakah ada pertimbangan lain di luar bagian Ya ada
perencanaan dalam merumuskan tujuan dan target
sasaran?
Jika ya, apa kah bisa dijelaskan bagaimana Ada sih, ini kalau teritergrasi DASAWISMA itu dari
mekanismenya? Petamanan, KPKP kehutanan perikanan kelautan, ya
Jika tidak, apakah bisa dijelaskan alasannya semua pendidikan, laut kan masih berhubungan dengan
mengapa? kesehatan kan, masalah kependudukan juga terintegrasi.
Bagaimana mengembangkan target sasaran (sasaran Nggak ada, hanya keluarga aja
primer, sekunder, tersier) agar dapat mencapai
tujuan awal?
Hasil apa yang diharapkan akan tercapai setelah Sebetulnya sama sih dengan indikatornya PIS PK, coba
program terlaksana? lihat di situ
Manfaat apa yang akan dirasakan target sasaran Masyarakat jadi tau tuh kesehatannya gimana, kan
setelah pengimplementasian program? langsung turun ke lapangan jadi kalau ada masalaha
dapat cepat diketahui. Kan itu 1 team ada doketer, bidan,
perawat jadi masalah-masalah lansia atau ibu hamil juga
bisa diketahui.
Upaya apa yang akan dilakukan untuk memenuhi Ya dengan monev, ada tiap bulan dan tiap triwulan.
tujuan akhir? Yang bulanan itu hanya dilaporkan, kalau triwulan,
mereka karus mepaparkan. Waktu pemaparan semua
hadir disitu
Apa saja indikator keberhasilan dari program ini? Ini nih indikatornya, tiap pukesmasmas melaporkan, ada
30

10 puskesmas kecamatan dan 79 Pukesmas kelurahan,


datanya tiap bualan ada juga tiap tahun. Tiap bulan nanti
yang kita evaluasi
Jadwal KPLDH disusun puskemas sendiri
3. Plan Mengembangkan Rencana Siapa saja yang perlu terlibat dalam pengembangan Ya semua orang tadi yang dari lintas program
Strategis dan Tindakan program ?
Apa permasalahan yang biasanya terjadi saat 1 tim 1 kelurahan, masalahnya itu tadi ada rangkap tugas.
melakukan pengembangan program ? Kadang ngga tercapai tuh. Dia ngga bisa diganti
masalahnya. Jadi tenaganya kurang. Jadi kalau dapat data
tidak pernah koordinasi dengan lintas programnya.
Bagaimana cara mengatasi permasalahan tersebut ? Ya peningkatan tupoksi team ya, dibagi team
perkelurahan, 1 kelurahan biasanya 1 team. Baru dinas
atur, melakukan pengawasan.
Bagaimana cara bapak/ibu mengetahui suatu Ya itu tadi ada masalah-maslah penyakit tadi yang ngga
program telah siap untuk diimplementasikan ? bisa kita pegang, makanya kita butuh tenaga KPLDH.
Kalau kita turun ke kelurga kan kita bisa tau, oh..dari
segi kesehatan, keungan, atau apa gitu
Ada juknis dalam bentuk buku, SK dari gubernur
Mengembangkan kerangka Bagaimana pembuatan jadwal pelaksanaan pada Jadwal yang nentuin itu puskemas sendiri, jadi terserah
kerja program yang telah dilaksanakan? mereka sesuai kemampuan, yang penting program jalan.
Apakah jadwal perencanan dikomunikasikan Iya iya
dengan mitra?
Penyusunan anggaran program Bagaimana proses menyusun anggaran dana pada Dinas kan sifatnya hanya mengawasi dan membimbing
pengembangan program ? ya.., jadi kita cuma hanya pengendalian dan evaluasi tiap
triwulan. Kalo kegiatan hari-harinya meraka misalkan
mau ngadain sosialis, mau ngadai apa..itu puskesmas
sendiri.
Dari dinas sendiri ada setiap tahun anggaran untuk
KPLDH, besarnya emmm...berapa ya. KPLDH itu 10jtan
dari APBD untuk monev aja itu. Untuk yang tenaga itu
pakai APBN. Untuk penyuluhan Puskesmas pakainya
dana BLUD, BOK ngga bisa untuk KPLDH karena dia
khusus promkes, karena ngga ada indikator KPLDH
disitu.
Apa saja hal yang perlu diperhatikan dalam Sesuai aja , misal APBD untuk monev jadi ngga bisa
menyusun anggaran dana untuk pengembangan untuk pelatihan Cuma rapat koordinasi. Kalau BLUD ini
program ? bikin sosialisasi di Puskesmas
Dari mana saja sumber dana yang diperoleh untuk ABPD, APBN, ya sama BLUD
31

pelaksanaan program? Sebutkan


4. Implement Mengembangkan Intervensi Bagaimana mekanisme implementasi program? Berjenjang ya dari dinas ke puskesmas, sesuai tugasnya
masing-masing
Apakah dilakukan koordinasi implementasi ya
program ?
Bagaimana kesesuaian implementasi dengan Sudah sesuai, kan ini program turunan. Kita tinggal
perencanaan program ? jalankan ya tapi masih ada maaslah-malasah, kita beri
kekuasaan puskesmas untuk buat perencanaanya sesuai
kemampuan mereka.
Apa kendala dan hambatan yang dihadapi dalam Permasalahnnya ya itu tenaganya harusnya mendata tapi
implementasi program ? malah suruh membantu orang yang di dalam, makanya
terbengkalai, jadi ada rangkap tugas. Karena itu team
ngga bisa diganti yang lain
Kenadala lagi karena kurang orang. Jadi kalau dapat data
ngga bisa koordinasi dengan lintas programnya.
Kalau di dinas sih ngga da kendala
Bagaimana mengatasi kendala dan hambatan yang Biasanya sih kita kasih himbauan untuk pengaturan
muncul ? jadwal mereka lebih knsisten, diawasi kepala puskemas.
Rencananya ini akan dimabah timnya, 2-3 team per
kelurahan
Bagaimana komitmen dari para pelaksana program Sangat bagus menurut saya ya, kan ini leading sectornya
promkes? program promkes
Menerapkan Pemasaran Sosial Apakah Bapak menggunakan media social dalam Nggak, kita e... hanya lintas sektor biasanya yang
implementasi program? memperkenalkan, dengan pendampingan kita.
5. Track Monitoring dan evaluasi Apakah program yang sudah dilaksanakan , Ya ada ada
dilakukan monitoring?
Jika Ya, berapa kali monitoring dilakukan pada Semua puskes harus memaparkan per triwulan,
program yang sudah direncanakan? kegiatannya apa, kesulitannya apa, hasilnya gimana
Jika Tidak, apa alasanya?
Siapa saja yang dilibatkan dalam monitoring? Ini melibatkan semua sektor, karana kan terkait dengan
program program sesuai masalahnya. Misalnya kaya PIS
PK ada hipertensi, diabetes, nanti kita panggil semua
Bagaimana proses perbaikan atau perubahan yang Yang dilakukan ya kita tetep aja ngasih tau jangan kerja
dilakukan ketika pelaksanaan tidak sesuai rencana di dalam, dian kan kerja di lapangan.
awal?
Apakah pelaksanaan program sudah berjalan sesuai Iya ini lagi berjalan dan belum selesai datanya masuk.
prosedur? Masuk 70-80 % lah datanya. Ini program lagi dieveluasi
lagi mau lanjut atau ngga. Kalau dihapus sih ngga
32

mungkin programnya, mungkin timnya akan ditambah.


Nanti 2-3 tema, kan realnya masih banak yang 1 tteam.
Apakah pelaksanaan program sudah tepat sasaran? Ya karena kan kita door to door pasti tepat
Apakah indicator keberhasilan program sudah Ya sudah tercapai
tercapai sesuai perencanaan?
Bagaimana sistem pelaporan dari program yang Kita pakai e-puskesmas
telah dilakukan?
Apa saja kendala yang ditemukan setelah Tidak ada kendala di dinas, RT RW mendukung malah
dilaksanakan program tersebut? seneng. Mereka ada kesempatan untuk mengobrol
dengan petugas kesehatan banyak-banyak. Kan jarang-
jarang ada petugas kerumah gitu kan
Bagaimana tanggapan masyarakat setelah Kita ada kepuasan pelanggan di puskes-puskes,
pelaksanaan program? tergantung puskesmas ya, biasanya kita taroh ke kotak-
kotan, suruh milih bentuk koin atau kotak atau warna
apa, pelayanan kesehatan seperti apa puas, ngga puas,
cukup, nanti tiap minggu atau bulan kita ambil.
SOP form kepuasan pelanggan itu dari dinas nanti
ditambah dikit-dikit oleh puskemas sesuai dengan
kebutuhan meraka. Yang ngolah itu puskesmas, dan itu
hasilnya harus ada.
1

Formulir Persetujuan Wawancara


Pegawai Suku Dinas Kesehatan Kota Jakarta Timur

Judul Penelitian : Rencana Dan Evaluasi Program Promosi


Kesehatan Di Suku Dinas Kesehatan Kota
Jakarta Timur

Institusi Pelaksana Penelitian : Universitas Indonesia (Fakultas kesehatan


masyarakat)

Alamat Institusi : Kampus Baru UI Depok 16424,

Kontak Institusi : Telp.(021)7864975 Fax. (021) 7863472

Anda telah diundang untuk berpartisipasi sebagai informan pada wawancara yang
dilakukan oleh Universitas Indonesia untuk menunjang kajian mendalam mengenai
rencana dan evaluasi program promosi kesehatan sub program ketuk pintu layani
dengan hati (KPLDH) di suku dinas kesehatan Kota Jakarta Timur. tujuan utama dari
penelitian ini meliputi:

1. Menghasilkan kajian komprehensif mengenai faktor-faktor yang


mempengaruhi program ketuk pintu layani dengan hati di suku dinas
kesehatan Kota Jakarta Timur.
2. Menghasilkan kajian komprehensif mengenai capaian program ketuk pintu
layani dengan hati di suku dinas kesehatan Kota Jakarta Timur
3. Menghasilkan rekomendasi terkait pengembangan kebijakan dan sistem
pelayanan kesehatan berbasis hasil kajian di suku dinas kesehatan Kota
Jakarta Timur berdasarkan SPM.
4. Menghasilkan rekomendasi terkait pengembangan dan pemberdayaan Sumber
Daya Kesehatan
5. Menghasilkan rekomendasi pada pengembangan program program ketuk pintu
layani dengan hati di suku dinas kesehatan Kota Jakarta Timur
6. Menghasilkan rekomendasi pada pengembangan perencanaan dan pembiayaan
kesehatan

Informasi yang Anda berikan akan membantu kami dalam melakukan kajian guna
membuat rekomendasi yang akan mendukung perencanaan program promkes.

Berdasarkan penjelasan di atas, Anda memiliki hak untuk berpartisipasi atau tidak
berpartisipasi pada wawancara ini dan meninggalkan wawancara kapan saja. Selama
wawancara ini, akan dilakukan perekaman, pendokumentasian dan pencatatan manual
atas jawaban-jawaban yang Anda berikan. Terkait informasi yang Anda berikan,
nama Anda tidak akan disebutkan dalam laporan penelitian.
2