Anda di halaman 1dari 42

PELAYANAN KEPERAWATAN JIWA PADA SITUASI BENCANA, PMR, TOUGHT

STOPPING, HIPNOTIS 5 JARI

Makalah disusun guna memenuhi tugas


mata kuliah Keperawatan Kesehatan Jiwa I

Dosen Pengampu: Ns. Evin S.Kep M.Kep Sp.Jiwa

Disusun oleh:

Rizcha 1810711049
Fitria Magfiroh 1810711055
Kania Cherrymoon 1810711067

UNIVERSITAS PEMBANGUNAN NASIONAL “VETERAN” JAKARTA


FAKULTAS ILMU KESEHATAN
PROGRAM STUDI S-1 KEPERAWATAN
2020
2
KATA PENGANTAR

Dengan menyebut nama Allah SWT yang Maha Pengasih lagi Maha Panyayang, kami
panjatkan puja dan puji syukur atas kehadirat-Nya, yang telah melimpahkan rahmat, hidayah,
dan inayah-Nya kepada kami, sehingga kami dapat menyelesaikan makalah yang membahas
tentang “Pelayanan Keperawatan Jiwa Pada Situasi Bencana, PMR, Tought Stopping, Hipnotis
5 Jari”.

Makalah ini telah kami susun dengan maksimal dan mendapatkan bantuan dari berbagai
pihak sehingga dapat memperlancar pembuatan makalah ini. Untuk itu kami menyampaikan
banyak terima kasih kepada semua pihak yang telah berkontribusi dalam pembuatan makalah
ini.

Terlepas dari semua itu, Kami menyadari sepenuhnya bahwa masih ada kekurangan baik
dari segi susunan kalimat maupun tata bahasanya. Oleh karena itu dengan tangan terbuka kami
menerima segala saran dan kritik dari pembaca agar kami dapat memperbaiki makalah ini.

Akhir kata kami berharap semoga makalah ini dapat memberikan manfaat maupun
inpirasi terhadap pembaca.

Depok, 18 Februari 2020

Penulis

i
DAFTAR ISI

Kata Pengantar ……………………………………………………………………………… i

Daftar Isi …………………………………………………………………………………… ii

BAB I : Pendahuluan

A. Latar Belakang……………………………………………………………………... 4

B. Rumusan Masalah …………………………………………………………………. 4

C. Tujuan ……………………………………………………………………………… 4

BAB II : Pembahasan

A. Pelayanan Dalam Situasi Bencana …………………………………………………. 6


A.1 Definisi Bencana .………………………………………………………… 6
A.2 Tahapan Bencana ……..………………………………………………….. 6
A.3 Respon Tiap Tahap Bencana……………………………………………... 9
A.4 Dampak Psikososial Pada Kelompok Rentan ……………………………. 10
A.5 Dampak Bencana Pada Komunitas ………………………………………. 11
A.6 Masalah Kesehatan Jiwa Segera Dan Sampai 6 Bulan Setelah Bencana … 12
A.7 Depresi, Ansietas Disorder, PTSD, Psychosis, Schizophrenia, Adjustment
Disorder, Relaps ………………………………………………………….. 14
A.8 Masalah Kesehatan Jiwa 12 Bulan Setelah Bencana ………….…………. 15
A.9 Dukungan Kesehatan Jiwa Dan Psikososial: Keperawatan Jiwa ………… 15
A.10 Strategi Dukungan Kesehatan Jiwa Dan Psikososial Pada Bencana …….. 19
A.11 Pertolongan Pertama Psikologis (Psychologicol First Aid/PFA)………… 20
A.12 Pertolongan Pertama Kesehatan Jiwa……………………………………. 25
A.13 Kegiatan Dukungan Kesehatan Jiwa Dan Psikososial Pada Bencana……. 26
A.14 Teknik Penanggulangan Masalah Psikososial Pada Bencana……………. 28

B. Tought Stopping …………………………………………………………………… 30

C. PMR (Progressive Muscle Relaxation) ……………………………………………. 35

ii
D. Hipnotis 5 Jari ……………………………………………………………………. 38

BAB III : Penutup

A. Simpulan ………………………………………………………………………….. 40

B. Saran ………………………………………………………………………………. 40

iii
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Masalah lingkungan secara nasional tidak jauh berbeda dengan masalah lingkungan
secara global. Bedanya terletak pada corak,bobot besaran masalahnya. Keadaan dan masalah
lingkungan pada tingkat nasional di dahului oleh uraian mengenai masalah kependudukan
yang global merupakan penyebab utama dari munculnya masalah lingkungan tersebut
sehingga terjadinya bencana alam. Bencana alam apapun bentuknya memang tidak
diinginkan. Sayangnya kejadian pun terus saja ada. Berbagai usaha tidak jarang dianggap
maksimal tetapi kenyataan sering tidak terelakkan. Masih untung bagi kita yang
mengagungkan Tuhan sehingga segala kehendak-Nya bisa dimengerti, meski itu berarti
derita. Banyak masalah yang berkaitan dengan bencana alam. Kehilangan dan kerusakan
termasuk yang paling sering harus dialami bersama datangnya bencana itu. Harta benda dan
manusia terpaksa harus direlakan, dan itu semua bukan masalah yang mudah. Dalam arti
mudah difahami dan mudah diterima oleh mereka yang mengalami.

Profesi keperawatan bersifat luwes dan mencakup segala kondisi, dimana perawat
tidak hanya terbatas pada pemberian asuhan dirumah sakit saja melainkan juga dituntut
mampu bekerja dalam kondisi siaga tanggap bencana. Situasi penanganan antara keadaan
siaga dan keadaan normal memang sangat berbeda, sehingga perawat harus mampu secara
skill dan teknik dalam menghadapi kondisi seperti ini. Kegiatan pertolongan medis dan
perawatan dalam keadaan siaga bencana dapat dilakukan oleh proesi keperawatan. Berbekal
pengetahuan dan kemampuan yang dimiliki seorang perawat bisa melakukan pertolongan
siaga bencana dalam berbagai bentuk.

B. Rumusan Masalah
1. Bagaimana pelayanan keperawatan dalam kondisi bencana ?
2. Apa yang dimaksud teknik tought stopping?
3. Apa yang dimaksud dengan teknik hipnotis 5 jari?

C. Tujuan

4
1. Mengetahui pelayanan keperawatan saat dalam kondisi bencana
2. Mengetahui teknik tought stopping
3. Mengetahui teknik hipnotis 5 jari

5
BAB II
PEMBAHASAN
A. Pelayanan Keperawatan Dalam Situasi Bencana

A.1 Definisi Bencana


Bencana adalah peristiwa atau rangkaian peristiwa yang mengancam dan
mengganggu kehidupan dan penghidupan masyarakat yang disebabkan baik oleh alam
dan/ atau non alam maupun faktor manusia sehingga mengakibatkan timbulnya korban
jiwa manusia, kerusakan lingkungan, kerugian harta benda dan dampak psikologis
(Undang – Undang Nomor 24 Tahun 2007).
Bencana adalah kejadian yang menyebabkan kerusakan fungsi masyarakat yang
meliputi kerusakan pada tubuh manusia (luka, patah tulang dll) sampai hilangnya nyawa
manusia, kerusakan sarana dan prasarana (tempat tinggal, kantor dan tempat bekerja),
terganggunya perekonomian masyarakat (tidak dapat bekerja atau hilangnya pekerjaan dan
transportasi), gangguan ekologi kehidupan, dan segala dampaknya yang menyebabkan
masyarakat yang terkena tidak sanggup mengatasinya sendiri.
Bencana dapat dibagi tiga yaitu bencana alam, bencana non alam, bencana sosial.
Bencana alam berupa bencana yang diakibatkan oleh peristiwa alam seperti gempa bumi,
banjir bandang, tsunami, gunung Meletus, angin puting beliung, dan tanah longsor.
Bencana non alam adalah bencana yang diakibatkan oleh peristiwa non alam seperti
kegagalan teknologi, epidemi, dan wabah penyakit, contohnya : ledaknya pabrik pupuk
Petro Widada Gresik pada tahun 2004 dan lumpur panas Lapindo di Jawa Timur pada
tahun 2006. Bencana sosial adalah bencana yang diakibatkan oleh ulah manusia seperti
konflik sosial dan terror, contohnya : konflik vertical dan konflik horizontal yang
menimbulkan kerusuhan di Sampit Sambas, Poso, Ambon, Papua, dan bencana sosial
ledakan bom Bali dan bom Jakarta.

A.2 Tahapan Bencana


Kejadian bencana sekitar kehidupan manusia selalu berada dalam empat kondisi
meliputi kondisi stabil, pra bencana, kondisi bencana, dan kondisi pasca bencana yang
masing-masing memiliki dampak yang berbeda terhadap kondisi manusia. Kondisi
tersebut digambarkan dalam diagram berikut ini:

Pra Bencana Bencana Pasca Bencana

Pencegahan Tanggap darurat: Trauma Rehabilitasi


Mitigasi
 Impact
kesiapsiagaan
 Rescue
 recovery

6
a. Pra Bencana (preparedness)
Kondisi non bencana adalah kondisi tidak ada bencana pada lokasi rawan bencana
seperti daerah pantai atau pegunungan, daerah jalur gempa, daerah pinggiran sungai,
lokasi pemukiman padat, Gedung-gedung tinggi dan lain-lain. Upaya yang dilakukan
selama pra bencana adalah : pencegahan, mitigasi, dan kesiapsiagaan.
 Tujuan : persiapan menghadapi bencana, meningkatkan koping bagaimana
menanggapi bencana.
 Perilaku yang muncul : menerima vs menyangkal
 Peran dari relawan : persiapan, melatih masyarakat, meningkatkan pengetahuan
masyarakat
 Peran tenaga kesehatan jiwa professional : merencanakan kesiagaan, latihan simulasi
keadaan darurat bencana, melatih tenaga kesehatan setempat, meningkatkan
pengetahuan mitigasi, kolaborasi dengan pemerintahan setempat yang berwenang,
menginformasikan kebijakan yang dapat dipertanggungjawabkan, menyusun tim
pertolongan pertama dengan terstruktur, membangun sistem peringatan dini bencana.

b. Saat bencana (emergency)


Kondisi bencana ketika bencana benar-benar terjadi. Lama waktu kondisi ini
berbeda-beda. Beberapa kondisi yang biasanya menyertai bencana antara lain adalah
kematian, kerusakan dan kehilangan harta benda, serta perpisahan dengan orang yang
dicintai. Tahapan saat bencana ini terbagi menjadi 3 :
I. Tahapan impact (0-48 jam setelah kejadian bencana)
 Tujuan : bertahan dalam kondisi bencana, komunikasi intesif
 Perilaku yang muncul : agresif/ pasif, pasrah, menyerah, dll
 Peran dari relawan : memberikan pertolongan, melindungi, evakuasi dan
penanggulangan
 Peran tenaga kesehatan jiwa professional :
 Pemenuhan kebutuhan dasar
o Menjamin keamanan, keselamatan
o Memastikan keterseidaan makanan dan pengungsian
o Memberikan pendampingan orientasi kejadian
o Memfasilitasi komunikasi dengan keluarga, teman, maupun komunitas
o Mengkaji lingkungan dari kemungkinan ancaman bahaya
 Melakukan pertolongan pertama pada psikologis (Psychological First Aid/
PFA)
o Mempertahankan dukungan dan menunjukkan kehadiran bagi mereka
yang mengalami distress
o Menjaga agar keluarga dapat tetap bersama
o Memberikan informasi adekuat yang dibutuhkan penyintas
o Melindungi penyintas dari kemungkinan bahaya
o Mengurangi damapak perubahan fisiologis

7
o Monitor dampak bencana terhadap lingkungan
o Mengobservasi dan mendengarkan korban yang paling terpengaruh
o Pantau lingkungan yang dapat mencetuskan stress
o Memberikan bantuan teknis, konsultasi, dan pelatihan
o Meningkatkan kapasitas organisasi dan caregiver untuk menyediakan apa
yang diperlukan untuk membangun kembali struktur komunitas,
mendorong pemulihan/ ketahanan keluarga, dan menjaga masyrakat.
II. Tahap rescue ( 0-1 minggu setelah trjadi bencana)
 Tujuan : Penyesuaian diri
 Perilaku yang muncul : Resiliensi VS Kelelahan
 Peran dari relawan : Orientasi, Penyediaan kebutuhan, pencarian dan
penyelamatan
 Peran tenaga kesehatan jiwa professional :
 Pengkajian kebutuhan lanjutan
o Mengkaji status terkini, seberapa baik kebutuhan di tangani, perbaikan
lingkungan, intervensi yambahan apa yng diperlukan untuk individu,
keluarga maupun kelompok
 Trise bencana
o Pengkajian status klinis
o Rujukan kasus bila dibutuhkan
o Mengidentifikasi kelompok rentan maupun individu yang beresiko
tinggi
o Pemberian asuhan keperawatan dalam rumah sakit darurat maupun
rawat jalan
 Sosialisasi dan penyebaran informasi
o Melakukan kontak dan identifikasi penyintas yang belum terjangkau
o Menginformasikan secara adekuat mengenai pelayanan yang lain,
koping, proses recovery melalui pembentukan struktur komunitas
sementara di pengungsian, flyer maupun website
 Meningkatkan kemampuan bertahan
o Memotivasi interaksi social
o Melatih kemampuan menyelesaikan masalah
o Penyuluhan mengenai : respon stress, trauma, koping, respon normal
versus bnormal dalam situasi abnormal, factor resiko, pelayanan yang
tersedia
o Dukungan keluarga dan sosial
o Merawat yang berduka
o Dukungn spiritual
III. Tahapan Recovery (1-4 minggu setelah terjadi bencana)
 Tujuan : Menilai kejadian yang telah dilalui dan merencanakan keberlanjutan
 Perilaku yang muncul : Berduka, penilaian kembali, muncul kenangan buruk
 Peran dari relawan : Responsif dan sensitive dengn respon penyintas

8
 Peran tenaga kesehatan jiwa professional :
 Monitor lingkungan yang mendukung untuk pemulihan
o Observasi dan mendengarkan lebih dalam penyintas yang terkena
dampak lebih berat
o Monitor ancaman lingkungan
o Monitor ancaman yang pernah muncul maupun yang masih terjadi
o Monitor pelayanan yang tersedia untuk keberlanjutan
c. Pasca Bencana (Rehabilitasi)
Pasca bencana dihitung mulai empat minggu setelah bencana sampai dengan
pemulihan telah terjadi. Individu yang mengalami bencana dapat dipastikan akan
mengalami trauma baik fisik maupun psikologis. Perubahan yang terjadi secara tiba-tiba
akibat sesuatu kejadian akan menimbulkan ketidakseimbangan emosi, pikiran dan
perilaku yang dapat mengarah pada kesehatan jiwa.

 Tujuan : Re - Integritas
 Perilaku yang muncul : Penyesuaian VS Pobia, PTSD, penghindaran, depresi
 Peran dari relawan : Bantuan kesinambungan
 Peran tenaga kesehatan jiwa professional :
 Terapi secara langsung khususnya bagi yang mengalami dampak lebih berat
 Mengurangi atau memperbaiki gejala atau meningkatkan fungsi melalui
pendekatan : individual, keluarga, dan komunitas
 Farmakoterapi
 Perawatan jangka pendek maupun jangka panjang

A.3 Respon Tiap Tahap Bencana


a. Reaksi individu segera setelah bencana (24 jam setelah bencana)
- Tegang, cemas, panic
- Terpaku, linglung, syok, tidak percaya
- Gembira atau eforia, tidak terlalu merasa menderita
- Lelah, bingung
- Gelisah, menangis, menarik diri
- Merasa bersalah
Tindakan yang tepat pada tahap ini diantaranya : pertolongan kedaruratan untuk
masalah-masalah fisik, memenuhi kebutuhan dasar, membantu indibidu melalui fase
krisisnya maka perawat perlu memfasilitasi kondisi yang dapat menyeimbangkan
krisis seperti menjadi sumber koping bagi klien.
b. Reaksi individu minggu pertama – ketiga setelah bencana :
- Ketakutan, waspada, sensitif, mudah marah, sulit tidur
- Khawatir, sangat sedih
- Mengulang-ulang kembali (flashback) kejadian
- Bersedih

9
- Reaksi positif yang masih dimiliki : berharap atau berpikir tentang masa depan,
terlibat dalam kegiatan menolong dan menyelamatkan
- Menerima bencana sebagai takdir
Tindakan yang dapat dilakukan pada tahap ini antara lain : berikan informasi yang
sederhana dan mudah diakses tentang lokasi jenazah, dukung keluarga jika jenazah
dimakamkan tanpa upacara tertentu, bantu mencari anggota keluarga yang terpisah pada
individu yang beresiko (lansia, ibu hamil, anak, remaja), anjurkan pasien dan keluarga
untuk melakukan aktivitas kelompok yang terorganisir seperti ibadah bersama, motivasi
anggota tim lapangan untuk terlibat dalam proses berkabung (tahlilan, takziah), lakukan
aktivitas rekreasi bagi anak-anak, informasikan pada korban tentang reaksi psikologis
normal yang terjadi setelah bencana, yakinkan mereka bahwa hal tersebut normal dan
berlangsung sementara; akan hilang dengan sendirinya dan dialami oleh semua orang,
informasikan tentang reaksi stres yang normal pada masyarakat secara masal (libatkan
ulama, guru dan pemimpin sosial lainnya.
c. Reaksi individu lebih dari minggu ketiga setelah bencana :
- Kelelahan
- Merasa panik
- Kesedihan terus berlanjut, pesimis dan berpikir tidak realistis
- Tidak beraktivitas, isolasi dan menarik diri
- Kecemasan, yang dimanifestasikan dengan : palpitasi, pusing, letih, mual, sakit
kepala, dll
Tindakan pada tahap ini yaitu mobilisasi dukungan sosial (tapi jangan memaksa),
cegah timbulnya bahaya lain (seperti terjangkitnya penyakit menular), tetap
mensupervisis perawatan sampai reaksi berlalu.
A.4 Dampak psikososial pada kelompok rentan
a. Reaksi umum pada anak dalam bencana
 Sulit mengungkapkan apa yang dirasakan/ dipikirkan secara lisan.
 Masih tergantung pada orangtua.
 Terkadang belum paham apa yang akan terjadi (yang mati tidak akan kembali,
tidak punya rumah lagi).
 Sangat terpengaruh oleh reaksi orang yang lebih dewasa.
 Takut ditinggal sendirian.
 Magical thinking, Untuk mengukur kekuatan dan kesulitan pada anak dapat
menggunakan Kuesioner Strength and Difficulties Questionnaire (SDQ). SDQ
adalah sebuah instrumen skrinning perilaku singkat untuk anak yang memberikan
gambaran singkat dari perilaku yang berfokus pada kkuatan dan juga kesulitan
mereka (Black, Pulford< Christie, dan Wheeler, 2010). Kuesioner SDQ untuk anak
4-10 tahun diisi oleh orangtua.
b. Reaksi umum pada remaja dalam bencana
 Perubahan fisik menyebabkan rasa tidak nyaman dengan diri sendiri sehingga
remaja perlu dilatih untuk mampu beradaptasi.

10
 Reaksi mirip dengan orang dewasa.
 Mampu berpikir logis, memecahkan masalah, melihat sebab- akibat, membuat
rencana, melakukan analisa, remaja sudah memahami apa yang terjadi, paham
mengenai konsep “permanent lost”.
 Tema sentral kehidupan pada remaja adalah teman- teman. Pengukuran kekuatan
dan kesulitan menggunakan SDQ remaja 11-17 tahun dapat diisi langsung oleh
remaja.
c. Reaksi umum pada perempuan dalam bencana
 Perempuan cenderung lebih rentan terhadap depresi, kecemasan, dan gejala
psikosomatis. Tingkat stress pada perempuan dewasa merupakan hasil penilaian
terhadap berat ringannya dampak kejadian bencana yang dialami. Pengukuran
tingkat stress pada dewasa menggunakan instrument self reporting questionnaire
(srq).
d. Reaksi umum pada lansia dalam bencana
 Perasaan takut yang diikuti dengan rasa marah dan frustasi
 Merasa gelisah, sendiri dan putus asa
 Meningkatnya ketergantungan pada keluarga dan menolak bantuan dari pihak yang
yang berwenang
 Menarik diri, sering menangis, depresi Instrument yang digunakan untuk
mengetahui depresi yang mungkin muncul pada lansia yaitu geriatric depression
scale (GDS).
e. Reaksi umum pada penyandang disabilitas dalam bencana
 Memiliki kebutuhan yang berbeda dari orang normal
 Akibat bencana menyebabkan penyandang disabilitas kehilangan perawatan dan
pelayanan yang biasa diperoleh ; lebih diacuhkan oleh orang lain
 Tidak berdaya, tidak bisa minta tolong
 Terpinggirkan, terisolasi, menjadi korban untuk kedua kalinya
 Berisiko besar mengalami kekurangan nutrisi, tertular penyakit, dan kekurangan
perawatan kesehatan
A.5 Dampak Bencana Pada Komunitas
Bencana tidak hanya berdampak pada pribadi tapi juga pada komunitas. Pasca
bencana dapat saja tercipta masyarakat yang mudah meminta (padahal sebelumnya adalah
pekerja yang tangguh), masyarakat yang saling curiga (padahal sebelumnya saling peduli),
masyarakat yang mudah melakukan kekerasan ( padahal sebelumnya cinta damai). Bencana
yang tidak ditangani dengan baik mampu merusak nilai-nilasi luhur yang sudah dimiliki
masyarakat.
Bantuan yang tidak terorganisir dan menempatkan penyintas sebagai objek pada
akhirnya, sama menghancurkannya dengan efek psikologis. Pemberian bantuan yang tidak
terpola menempatkan penyintas sebagai objek yang tidak berdaya, pada akhirnya merusak
etos kerja mereka dan terjadi ketergantungan pada pemeberi bantuan.

11
Potensi perubahan komunitas akibat dampak bencana, seyogyanya perawat juga
tidak hanya memberikan pelayanan individu namun juga rekontruksi komunitas. Salah
satunya yang telah dikembangkan oleh perawat jiwa adalah pembentukan desa siaga sehat
jiwa. Desa siaga sehat jiwa merupakan pengembangan kesehatan mental berbasis
masyarakat yang bertujuan agar masyarakat di desa binaan tanggap terhadap masalah
kesehatan jiwa masyarakat, dapat mecegah timbulnya masalah kesehatan jiwa yang lebih
berat setelah kejadian bencana. Pendekatan yang sudah dilakukan adalah kegiatan
musyawarah masyarakat desa untuk persamaan persepsi perihal penanganan masalah
kesehatan jiwa, rekrutmen kader kesehatan jiwa untuk kemudian dibekali pelatihan deteksi
dini kesehatan jiwa, kunjungan rumah, dan rujukan kasus. Begitu juga tenaga kesehatan
yang berada di tingkat puskesmas dilatih untuk mampu melakukan deteksi dini, kunjungan
rumah, terapi aktivitas kelompok, dan rujukan ke RS.
Implementasi pengembangan desa siaga sehat jiwa dapat dimulai sejak penyintas
berada di pengungsian atau barak, sehingga setiap barak memiliki struktur organisasi
masyarakat yang menyerupai tempat tinggalnya kelak. Dengan demikian perasaan
kekeluargaan dalam satu barak sudah terbina. Setelah mereka kembali ke tempat tinggal
permanen hal tersebut tinggal dilanjutkan. Hal ini juga merupakan salah satu mitigasi
bencana yang , kunjungan rumah, terapi aktivitas kelompok, dan rujukan ke RS.
Implementasi pengembangan desa siaga sehat jiwa dapat dimulai sejak penyintas
berada di pengungsian atau barak, sehingga setiap barak memiliki struktur organisasi
masyarakat yang menyerupai tempat tinggalnya kelak. Dengan demikian perasaan
kekeluargaan dalam satu barak sudah terbina. Setelah mereka kembali ke tempat tinggal
permanen hal tersebut tinggal dilanjutkan. Hal ini juga merupakan salah satu mitigasi
bencana yang dapat dijadikan sebagai kekuatan masyarakat untuk menghadapi bencana
lainnya yandapi bencana lainnya yang tidak dapatg tidak dapat diperkirakan.

A.6 Masalah Kesehatan Jiwa Segera Dan Sampai Enam Bulan Setelah Bencana
Stresor yang terjadi pada bencana meliputi tiga stressor :
 Stresor fisik adalah cedera fisik yang diakibatkan oleh bencana dari tingkat ringan
sampai berat, dan dapat pula mengakibatkan korban meninggal. Masyarakat yang
tinggal di pengungsian juga rentan mengalami gangguan kesehatan fisik.
 Stresor lingkungan adalah rusak atau hilangnya harta bneda (rumah, sawah, ladang,
dll).
 Stresor pikiran adalah persepsi terhadap kejadian yang dapat realistis dapat pula
tidak realistis. Kehilangan orang yang dicintai merupakan stressor yang sangat berat,
terlebih kejadian ini tidak terduga sebelumnya.

Respon individu terhadap bencana dan stressor tersebut sangat bervariasi sesuai
dengan kemampuan dalam melakukan adaptasi dengan kondisi kehidupan yang berubah.
Ansietas dan Distress merupakan respon yang palimg sering ditemukan sejalan dengan

12
proses kehilangan yang terjadi. Kondisi ini dapat cepat pulih atau mungkin juga pada
individu tertentu dapat berakibat lanjut. Untuk itu diperlukan penanganan yang segera
agar ketahanan mental dan pemulihan kondisi kejiwaan dapat terjadi sehingga
masyarakat dapat membangun kembali kehidupan dengan semangat baru dan penuh
semangat.

Pada situasi telah stabil, perhatian beralih ke solusi jangka panjang. Disisi lain, euphoria
bantuan mulai menurun, sebagian sukarelawan sudah tidak datang lagi dan bantuan dari luar
secara bertahap berkurang. Para penyintas mulai menghadapi realitas. Mereka harus
membuat penilaian yang lebih realistis tentang hidup mereka. Pada fase ini kekecewaan dan
kemarahan sering menjadi gejala dominan yang sangat terasa.
Masalah kesehatan jiwa terjadi sejak awal terjadinya bencana, yang dapat
diidentifikasikan sebagai berikut :
1. Reaksi Stres Akut terjadi sejak awal sampai satu bulan stressor utama adalah
kehilangan yang berkaitan dengan biologis yaitu cedera, yang berkaitan dengan
psikologis adalah situasi yang tidak terduga dan tidak menyenangkan, yang berkaitan
social adalah perubahan hubungan social dengan adanya keluarga yang cedera, yang
hilang dan meninggal, sedangkan yang berkaitan dengan lingkungan adalah rusaknya
tempat tinggal, tempat bekerja, tempat ibadah, tempat sekolah dll. Gejala dibawah ini
adalah normal, sebagai reaksi atas kejadian yang tidak normal (traumatic). Biasanya
gejala-gejala dibawah ini akan menghilang seiring berjalannya waktu.
a. Emosi. Mudah menangis ataupun kebalikannya yakni mudah marah, emosinya labil,
mati rasa dan kehilangan minat untuk melakukan aktivitas, gelisah, perasaan ketidak
efektifan, malu dan putus asa.
b. Pikiran. Mimpi buruk, mengalami halusinasi ataupun disasosiasi, mudah curiga
(pada penyintas kasus bencana karena manusia), sulit konsentrasi, menghindari
tempat, gambar, suara yang mengingatkan penyintas bencana, menghindari
pembicaraan tentang hal itu
c. Tubuh. Sakit kepala, perubahan siklus menstrusi, sakit punggung, sariawan atau sakit
magh yang terus menerus sakit kepala, berkeringat dan menggigil, tremor, kelelahan,
rambut rontok, perubahan pada siklus haid, hilangnya gairah seksual, peubahan
pendengaran atau nyeri otot.
d. Perilaku. Menarik diri, sulit tidur, putus asa, ketergantungan, perilaku lekat yang
berlebihan atau penarikan social, sikap permusuhan, kemarahan, merusak diri
sendiri, perilau impulsive dan mencoba bunuh diri.
2. Berduka (Grieving/Bereavement) adalah reaksi berduka yang terjadi sejak awal sampai
enam bulan. Respon awal terhadap kehilangan adalah berduka. Berdasarkan konsep
kehilangan maka respon yang muncul dimulai dengan mengingkari keadaan dan merasa
tak mungkin terjadi yang dapat ditunjukkan kepada diri sendiri, ataupun orang lain yang
menganggap kurang responsive terhadap kejadian. Respon selanjutnya adalah tawar

13
menawar, seandainya rumah saya …. Tentunya kejadian ini tidak akan terjadi,
seandainya ….tentu …. Respon ini akan diikuti dengan perasaan sedih, murung dan
berduka. Diakhir respon adalah menerima, kejadian dianggap sesuatu yang realistis
yang harus diatasi dan dihadapi. Pada situasi ini individu telah bangkit semangatnya dan
bergerak mengatasi masalah yang terjadi.
Berdasarkan teori Kubler Ross’s terdapat 5 respon pada tahap berduka yaitu:
a. Mengingkari : mengingkari kenyataan yang ada
b. Marah : mencari orang yang salah dalam peristiwa kematian
c. Tawar menawar : keinginan menunda realitas kematian
d. Depressi : kenyataan yang tidak dapat dipungkiri
e. Penerimaan : berusaha menerima dan beradaptasi

A.7 Depresi, Ansietas Disorder, Ptsd, Psychosis, Schizophrenia, Adjustment Disorder,


Relaps

Depresi dapat terjadi setelah dua minggu bencana, lalu diikuti oleh ansietas dan
PTSD setelah empat minggu bencana psikositasdan skizofrenia dapat terjadi sejak
bencana, gangguan penyesuain dapat terjadi mulai satu minggu setelah bencana. Respon
individu terhadap bencana dan stressor tersebut sangat bervariasi sesuai dengan
kemampuan dalam melakukan adaptasi dengan kondisi kehidupan yang berubah. Ansietas
dan Depressi merupakan respon yang palimg sering ditemukan sejalan dengan proses
kehilangan yang terjadi.

Kondisi ini dapat cepat pulih atau mungkin juga pada individu tertentu dapat
berakibat lanjut. Untuk itu diperlukan penanganan yang segera agar ketahanan mental dan
pemulihan kondisi kejiwaan dapat terjadi sehingga masyarakat dapat membangun kembali
kehidupan dengan semangat baru dan penuh semangat. Post traumatic stress disorder
(PTSD) merupakan salah satu masalah kejiwaan yang dapat terjadi pada penyintas. PTSD
adalah gangguan ansietas yang terjadi akibat peristiwa traumatic/bencana yang
mengancam keselamatan dan membuat individu merasa tidak berdaya.

Terdapat tiga tipe dari PTSD :


1. PTSD akut, terjadi 1-3 bulan setelah bencana
2. PTSD kronik terjadi setelah tiga bulan
3. PTSD dengan onset yang memanjang (with delayed onset)

Tanda dan gejala PTSD dapat dikelompokkan menjadi tiga, yaitu:


1. Merasakan kembali peristiwa traumatic (re-experiencing symptom), merasakan
kejadian kembali, muncul dalam bentuk bayangan, mimpi buruk, bertindak seakan
peristiwa terulang kembali, merasa sangat menderita jika mengingatnya dan disertai
detak jantung yang hebat dan berkeringat.
14
2. Menghindar (avoidance symptom), yaitu menghindar terhadap hal yang
mengingatkan terhadap peristiwa trauma. Hal ini dapat distimulus dari pikiran sendiri
atau lingkungan yang menimbulkan perasaan yang tidak menyenangkan.
Tanda gejala yang muncul adalah usaha keras menghindari pikiran, perasaan atau
perbincangan tentang peristiwa traumatic, menghindari orang atau tempat yang
mengingatkan peristiwa traumatic, kehilangan minat untuk melakukan hal-hal positif,
merasa jauh dari orang lain, sulit merasakan kesenangan, tidak punya harapan dan
merasa kehidupan terputus.
3. Waspada (hyperorousal symptom), mengalami peningkatan mekanisme fisiologik
tubuh pada saat tubuh istirahat. Tanda dan gejala yang muncul seperti sulit tidur, tidur
tetapi gelisah, mudah dan lekas marah dan meledak-ledak,sulit berkonsentrasi, selalu
awas seakan bahaya mengincar, gelisah, tidak tenang dan mudah terpicu/waspada.

A.8 Masalah Kesehatan Jiwa Dua Belas Bulan Setelah Bencana


Masalah kesehatan jiwa telah diteliti oleh WHO (2005) setelah 12 bulan dari
terjadinya bencana. Pada saat ini prevalensi orang dengan gangguan jiwa berat
(psikosis/skizofrenia) sebesar 1.7 permil (Riskesdas, 2013) pada kondisi biasa atau tanpa
bencana, kondisi ini akan meningkat 3-4 persen (WHO, 2005) pada 12 bulan cetelah
bencana. Demikian pula dengan gangguan mental emosional saat ini (Riskesdas 2013)
sebesar 6 persen, dan akan meningkat menjadi 15 sampai 20 persen yang disebut sebagai
mild to moderate mental disorder (WHO, 2005) pada 12 bulan setelah bencana.
WHO (2005) juga menyebutkan bahwa pada situasi bencana akan ditemukan
distres psikososial ringan atau berat sebesar 30-50 persen dan distres psikososial ringan 20
- 40 persen.
Penanganan masalah kesehatan jiwa berkaitan dengan faktor risiko dan resiliensi
pada tiap individu mempengaruhi terjadinya masalah kejiwaan.
Faktor risiko adalah faktor yang sudah ada sebelum terjadi bencana seperti
pengalaman traumatis yang lalu, riwayat masalah kesehatan jwa, kehilangan anggota
keluarga, kehilangan pekerjaan, kehilangan harta benda, dan beberapa faktor penyerta lain
seperti kemiskinan, pendidikan rendah.
Faktor resiliensi merupakan faktor yang memperkuat kemampuan individu
mengatasi masalah yang dihadapi.
Resolusi krisis yang sukses terjadi jika individu memiliki pandangan yang realistis
terhadap kejadian, situasi pendukung yang siap untuk menolong menyelesaikan masałah,
dan mekanisme koping yang efektif (Aguilera, 1998, dalam Stuart, Keliat. Pasaribu, 2016)
dapat mencegah masalah kesehatan jiwa yang berlanjut.
A.9 Dukungan Kesehatan Jiwa dan Psikososial: Keperawatan Jiwa

15
1. Keperawatan Jiwa
Keperawatan jiwa adalah suatu proses interpersonal yang meningkatkan dan
mempertahankan perilaku yang mengkontribusi pada sistem klien. Sistem klien yang
dimaksud adalah indvidu, keluarga, ketompok Khusus atau komunitas (Stuart, kellat,
Pasaribu, 2016). Definisi keperawatan kesehatan jiwa menurut ANA (Amerikca Nurses
Assocoation) adalah "Suatu bidang spesialisasi praktik keperawatan yong menerapkon
teori perilaku manusia sebagai ilmunya dan penggunaan dirí sendiri secara terapeutik
sebagai kiatnya”
Perawat jiwa menerapkan melakukan asuhan keperawatan secara komprehensif yaitu
promosi kesehatan jiwa, pencegahan terjadinya masalah kesehatan pada situasi telah
ditemukan stresor yang dapat mengakibatkan masalah kesehatan jiwa, kuratif dan
rehabilitatif pada orang dengan gangguan jiwa melalui asuhan keperawatan generalis
(ners) dan asuhan keperawatan spesialis (ners spesialis).
Promosi kesehatan jiwa dilakukan untuk mempertahankan kesehatan jiwa pada
kondisi yang sehat dengan melakukan stimulasi perkembangan pada tiap tahap
perkembangan dari sejak dalam kandungan sampaí dengan lanjut usia.
Pencegahan kesehatan jiwa dilakukan pada kelompok yang mengalamai masalah
kesehatan jiwa artinya telah terjadi stresor atau faktor risiko, sehingga asuhan
keperawatan ditujukan kepada pengembangan kemampuan individu agar tidak terjadi
gangguan jiwa Hal ini sesuai dengan kondisi bencana, dimana stresor atau faktor risiko
terjadi pada banyak hal kehidupan.
Kuratif dan rehabilitatif ditujukan pada orang dengan gangguan jiwa dengan
tujuan asuhan keperawatan adalah :
1) Memberi kemampuan mengendalikan tanda dan gejpla yang dialami,

2) Memberi kemampuan merawat diri sendiri (self care),

3) Memberi kemampuan bersosialisasi

4) Memberi kemampuan mełakukan kegiatan hidup sehari-hari (octivity daily living)


yang sering disebut sebagai life skill,

5) Memberi kemampuan bekerja agar dapat produktif kembali.

2. Keperawatan Kesehatan Jiwa Bencana


Salah satu peran penting perawat jika dalam kondisi bencana adalah melakukan
intervensi psikososial. Intervensi psikososial merupakan pemberian layanan kesehatan
mental tidak hanya berbasis pada layanan yang diberikan di rumah sakit jiwa, namun
lebih mengarah pada layanan yang diberikan di area komunitas yang sifatnya lebih
informal. Intervensi ini berupaya untuk mendekatkan psikologi dan psikiatri ke dalam
kehidupan sehari-hari dan memberikan layanan kepada kelompok-kelompok yang ada di
16
masyarakat baik yang mengalami masalah psikiatri (gangguan jiwa berat), yang
beresiko, maupun yang sehat.
Intervensi psikososial yang diberikan diharapkan dapat meningkatkan
kemampuan dan kemandirian penyintas dengan gangguan jiwa berat. Bagi kelompok
yang beresiko tidak menjadi gangguan jiwa, dan bagi kelompok sehat tidak menjadi
beresiko mengalami masalah mental (CMHN, 2005). Intervensi psikososial selain
diberikan kepada masyarakat yang menjadi penyintas, namun juga diberikan kepada
relawan atau tenaga kesehatan yang memberikan pertolongan kepada penyintas. Dalam
situasi bencana keterampilan mengenai intervensi krisis juga menjadi hal penting yang
harus dikuasai oleh perawat. Intervensi krisis merupakan terapi jangka pendek yang
berfokus pada penyelesaian masalah segera. Biasanya dibatasi menjadi 6 minggu.
Tujuan dari intervensi krisis adalah mengembalikan seseorang kepada level fungsi pra
krisis. Bagi seorang perawat penting untuk diingat bahwa budaya mempengaruhi proses
intervensi krisis dengan kuat, termasuk gaya komunikasi dan respon perkerja krisis.
Langkah pertama dari intervensi krisis adalah pengkajian. Pada saat pengkajian,
data tentang terjadinya bencana dan efeknya pada klien harus dikumpulkan. Data
tersebut dapat digunakan untuk mengembangkan tindakan keperawatan. Walaupun
situasi krisis merupakan focus dari suatu pengkajian, perawat dapat mengidentifikasi
masalah yang lebih bermakna dan sangat lama. Individu dengan masalah psikologis
yang telah ada sebelumnya dapat memiliki masalah kesehatan yang lebih berat pada
pasca bencana. Sebagai contoh, seseorang dengan gangguan jiwa berat akan
membutuhkan pertolongan untuk meyakinkan akses terhadap pengobatan dan sabilitas
perawatan mereka (Milligan dan McGuinness, 2009). Utnuk mengidentifikasi kejadian
presipitasi, perawat harus mengeksplorasi kebutuhan klien, kejadian yang mengancam
kebutuhan tersebut, dan waktu saat gejala muncul.
Langkah selanjutnya dari intervensi krisis adalah perencanaan dan implementasi.
Alternative penyelesaian masalah dieksplorasi dan langkah-langkah untuk pencapaian
penyelesaian diidentifikasi. Adapun secara umum implementasi yang diberikan pada
intervensi yaitu: manipulasi lingkungan, dukungan umum, pendekatan kelompok besar,
pendekatan individu. Perawat jiwa harus kreatif dan fleksibel mencoba berbagai teknik
yang berbeda. Teknik ini haruslah aktif, focus dan eksploratif yang dapat mencapai
target intervensi. Beberapa dari teknik ini mencakup katarsis, klarifikasi, memberikan
saran, penguatan perilaku, dukungan terhadap sikap defensive, peningkatan harga diri
dan mengeksplorasi penyelesaian masalah.
 Katarsis
Merupakan pelepasan perasaan yang terjadi ketika klien berbicara tentang area
emosional.
 Klarifikasi
Digunakan ketika perawat membantu mengidentifikasi hubungan antara
kejadian, perilaku dan perasaan.
 Pemberian saran

17
Dapat mempengaruhi seseorang untuk menerima suatu ide atau keyakinan.
Dalam intervensi krisis klien dipengaruhi perawat sebagai seseorang yang percaya
diri, tenang, berpengharapan, empati yang dapat menolong, dengan mempercayai
perawat dapat menolong klien akan merasa lebih optimis dan tidak ansietas.
 Penguatan perilaku
Terjadi ketika kesehatan, perilaku adaptif klien dikuatkan oleh perawat, dengan
menguatkan respons positif klien tersebut.
 Dukungan defensive
Terjadi ketika perawat mendorong menggunakan defensive yang sehat dan
mngabaikan yang bersifat maladaptive.
 Meningkatkan harga diri
Merupakan teknik yang penting. Perawat harus menyatakan bahwa klien
merupakan menusia yang berharga melalui mendengarkan dan menerima prasaan
klien, menghargai klien, dan memuji usaha klien dalam mencari pertolongan.
 Eksplorasi solusi
Merupakan tindakan mengkaji alternative cara untuk menyelesaikan masalah
dengan segera.

18
A.10 Strategi Dukungan Kesehatan Jiwa dan Psikososial Pada Dencana
Dukungan Kesehatan Jiwa dan Psiko Sosial pada bencana didasari pada
Pertolongan Pertama Psikologis dan Pertolongan Pertana Kesehatan Jiwa yang
dicanangkan pada Hari Kesehatan liwa Sedunia 2016 (World Mental liealth Day 2016).
Menurut Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorder edisi empat dan PPDGI,
Post Traumatic Disorder pada korban bencana muncul setelah enam bulan kejadian.
Sebelum enam bulan, yang muncul adalah Acute Stress Disorder. Sehingga kondisi
yang dialami oleh penyintas pada masa sebelum enam bulan bukan merupkan trauma
Oleh karena itu, istilah intervensi yang tepat adalah dukungan psikososial.
Dukungan Psikososial merupakan dukungan terhadap individu dan masyarakat
yang terkena bencana yang bertujuan untuk memulihkan kesejahteraan psikologis dan
sosial masyarakat yang terdampak bencana. Merupakan suatu pendekatan kepada para
korhan bencana (alam atau kekerasan) yang bertujuan mendorong ketahanan individu
dan masyarakat. Dukungan psikososial dibutuhkan oleh semua orang yang mengalami
bencana dalam derajat yang berbeda-beda.
Harapan dari strategi dukungan kesehatan jiwa dan psikososial yang diberikan
bukan hanya sekedar penyintas mendapatkan ketahanan diri namun juga memiliki
kehidupan yang lebih baik (growth). Ketika individu merasakan pertumbuhan setelah
mengatasi stres dan trauma akibat bencana, ia juga melihat dirinya sebagai orang kuat
yang telah melampaui kesulitan dan penderitaan (Ford, Tennen, & Albert, 2008).
Karakteristik kehidupan yang lebih baik setelah masa krisis (Post Troumatic Growth)
meliputi lima domain.
1) Apresiasi terhadap hidup yang sangat besar sebagai hasil dari rekonstruksi kognitif
karena konfrontasi dengan trauma, survivor memiliki rasa kerentanan individu dan
memahami bahwa dia tidak dapat memprediksi atau mengendalikan peristiwa
tertentu (Calhoun & Tedeschi, 2001).
2) Hubungan hangat, lebih intim dengan orang lain, setelah teradinya krisis,
penyintas mungkin mencari bantuan dan dukungan dari keluargaa dan teman-teman
mereka, sebagai hasil dari menerima bantuan yang diberikan oleh orang lain,
individu tersebut dapat merasakan hubungan emosional yang lebin tinggi dengan
orang lain, serta perassan kedekatan dan keintiman. Dalam hubungan interpersonal
3) Kekuatan persona individu yang lebih besar terkait dengan pengakuan
kemampuan lebih unt menghadopi tantangon dan kesulitan dimasa depan dan
bahkan untuk mengubah situasi yang perlu di rubsh
4) Pengembangan Spiritual, sebagai hasil dari uk kekuatan individu dalam
konfrontasi dengan kondisi yang penuh tekanan, iman da entitas keagamaan yang
lebih tinggi dapat meningkat setelah trauma dan lam berkontribusi sebagai koping
dalam proses kognitif menemukan makna.
5) Peluang baru dalam keberlanjutan hidup yang lebih positif, selama proses
perjuangan bertahan dengan kesulitan, penyintas menemukan kemungkinan baru

19
untuk hidup mereka yang tidak ada sebelum bencana datang. Gambar di bawah ini
menjelaskan mengenai konsep Post TraUmatic Growth(PTG).
A.11 Pertolongan Pertama Psikologis(Psychologicol First Aid/PFA)
Pertolongan pertama psikologis merupakan bantuan yang manusiawi, suportif
dan praktis kepada sesama manusia yang telah mengalami peristiwa knis yang serius
eperti bencana. Pertolongan psikologis dapat dilakukan oleh saudara yang mungkin
terpanggil sebagai sukarelawan untuk membantu dalam bencana besar, atau saudara
sedang berada ditempat kejadian dimana ada orang terluka, atau pada kejadian bencana
yang lairn, maka saudara dapat melakukannya.
Prinsip utama dalam pertolongan psikologis adalah 1). Menyediakan pertolongan
dan bantuan (Providing practical core and support, which does not intrude), 2)
Mengkaji kebutuhan dan hal yang penting (Assessing needs and concerns), 3)
Membantu memenuhi kebutuhan dasar(helping people to oddress bosic needs, eg, food
and water, information), 4) Mendengarkan tanpa memaksa untuk bicara (Listening to
people, but not pressuring them to talk, 5) Memberi rasa nyarman dan menolongnya
untuk merasa tenang (Comforting people and helping them to feel calm), 6) Menolong
menghubungkan dengan informasi, pelayanan dan dukungan sosial (Helping people
connect to infornation, services and social supports), 7) Melindungi dari bahaya yang
lebih lanjut (Protecting people from further horm). Secara singkat dikenal dengan 3L:
 LOOK : Observasi, Perhatikan, Lihat Tanda Tanda
 LISTEN : Dangarkan Curhatannya dan keluhannya
 LINK: Rujuk, Hubungkan dengan pendukung yang dapat menolong
PFA merupakan serangkaian keterampilan yang bertujuan mengurangi dampak
negatif stres dan mencegah timbulnya gangguan kesehatan mental yang lebih buruk
yang disebabkan oleh bencana atau situasi kritis yang dihadapi individu (Everly,
Phillips, Kane& Feldman, 2006) PFA juga merupakan perawatan dasar yang bersifat
praktis dan non-intrusive (pendekatan yang tidak memaksa). Fokus pada
mendengarkanan, mengenali dan memenuhi kebutuhan dasar, mendorong
pendampingan dari orang.orang yang signifikan di sekitar penyintas, dan melindungi
dari dampak negatif lebih lanjut(Sphere, 2004)
Langkah 1: Persiapan
Dalam proses pemberian bantuan pada komunitas yang terkena dampak bencana.
penyedia layanan PFA harus memiliki pengetahuan awal tentang bencana apa yang terjadi.
Pengetahuan ini meliputi jenis bencana, pada tahap apa penanganan yang dilakukan tahap
kedaruratan atau pemulihan, kebutuhan penyintas serta bantuan apa yang dibutuhkan.
Selain itu menjadi penting juga untuk mengintegrasikan layanan PFA ini kedalam
struktur pemberian bantuan yang sudah ada, misalnya melakui posko penanganan atau
puskesmas. Hal ini akan lebih mempermudah kontak awal yang dibangun dan
mempermudah kita sebagai pemberi layanan mendapatkan informasi yang terpercaya
20
tentang apa yang sedang terjadi. Informasi ini akan berguna ketika kita memberikan
layanan PFA nantinya.
Penyedia layanan PFA perlu memperhatikan keberadaan kkelompok rentan dalam
sebuah situasi bencana. Kelompok rentan ini adalah kelompok dengan potensi mengalami
gangguan lebih daripada kelompok yang lain. Kelompok ini misalnya adalah:
 Mereka yang mengalami kehilangan anggota keluarga atau anggota keluarganya
meninggal
 Anak terutama di dalamnya adalah: anak yang terpisah dari orang tua atau keluarganya,
anak yang anggota keluarganya hilang atau meninggal, dan anak yang sedang dalam
perawatan karena mengalami cedera atau luka yang serius.
 Mereka yang terluka atau sedang menjalani perawatan.
 Perempuan harnil
 lbu dengan bayi atau anak kecil.
 Orang lanjut usia.
 Orang atau anak dengan kebutuhan khusus.

Langkah 2: Memperkenalkan Diri dan Memulai Kontak


Tujuan: Memperkenalkan diri dengan cara yang membuat penyintas nyaman dan
mendukung proses pemulihan.
Cara memperkenalkan diri dan memulai kontak awal dengan penyintas menjadi
sesuatu yang penting untuk proses selanjutnya. Jika kita sebagai penyedia layanan berhasil
menjalin hubungan yang penuh pengertian dan hangat maka hubungan yang mendukung
proses pemulihan akan terbangun dan rasa percaya penyintas kepada penyedia layanan akan
meningkat.
Lakukan:
1. Perkenalkan nama, pekerjaan, dan tugas anda di daerah bencana kepada penyintas
2. Mintalah ijjn untuk melakukan pembicara
3. Sampaikan tentang tujuan keberadan anda di sana
4. Tanyakan apa yang bisa anda lakukan untuk dapat membantu.
5. Jaga kerahasiaan informasi pribadi dari penvintas. Jika anda ingin meneruskan
informasi kepada pihak lain, mintalah persetujuan dari penyintas tersebut terlebih
dahulu.
Jangan Lakukan:
1. Memotong pembicaraan lawan bicara saat sedang memulai kontak awal Biarkan
penyintas menyampaikan eksperesi perasaannya
2. Jangan memaksa penyintas menceritakan informasi yang tidak ingin diceritakan atau
cerita yang memicu pengalaman traumatis.

21
Langkah 3 - Memberikan Rasa Aman
Tujuan mengembalikan rasa aman dan menyediakan kebutuhan dasar penyintas
Mengembalikan rasa aman menjadi tujuan penting pada saat setelah terjadinya
bencana. Hal ini dapat mengurangi stress dan kekhawatiran yang dirasakan penyintas.
Membantu penyintas mengatasi situasi sulit seperti kehilangan orang yang dicintai,
mendapat kabar bahwa ada anggota keluarga yang meninggal, mendampingi penyitas yang
anggota keluarganya sedang mendapatkan perawatan serius merupakan gambaran situasi
yang akan dijumpai seorang penyedia layanan PFA.
Hal-hal yang bisa dilakukan antara lain:
Pastikan keamanan penyintas dengan membawanya ke tempat yang aman, hal ini akan
meningkatakan kondisi fisik maupun emosional dari para penyintas. Adapun tindakan yang
bisa dilakukan adalah sebagai berikut
 koordinasikan dengan posko atau aparat terkait tentang tempat-tempat aman yang dapat
digunakan menampung para penyintas.
 Ketika penyintas sudah berada di tempat tersebut, jauhkan benda-benda yang berbahaya
yang ada di sekitar tempat itu. Misalnya. perabotan yang tajam, pecahan gelas,
potongan seng dan lain-lain
 Pastikan anak mendapatkan ruang yang aman, di mana mereka dapat bermain dan
mendapatkan pengawasan dari orang tuanya
 Tanyakan kebutuhan dasar para penyintas yang bisa dipenuhi. Kebutuhan ini bisa
berupa pakaian, alas tidur, keperluan mandi, maupun bahan makanan dan alat
memasakya.
 Tanyakan apakah ada diantara penyintas yang memerlukan pertolongan medis atau
pengobatan.
 Identifikasi penyintas yang merniliki kebutuhan khusus,
 Pastikan koordinasi dengan aparat terkait untuk pemennuhan kebutuhan dari para
penyintas.
Sediakan informasi tentang kegiatan respons bencana yang ada beserta layanan -
layanan yang tersedia. Informasi yang terpercaya akan menghindarkan penyintas akan
paparan informasi yang menyesatkan. Informasi ini dapat berupa:
 Bencana apa yang sedang terjadi dan infomasi terakhir situasi dari sumber yang
terpercaya.
 Kegiatan dan rencana apa saja yang akan dilakukan dari pihak pemerintah atau pihak –
pihak penyedia layanan. Hal ini akan memberikan dampak positif kepada para
penyintas karena mereka tidak akan merasa sendiri di saat bencana.
 Layanan-layanan apa yang tersedia dan dapat diakses oleh para penyintas
 Reaksi-reaksi psikologis pasca bencana. Tekankan bahwa yang mereka alami
merupakan reaksi normal dalam situasi yang tidak normal. Dengan memahami reaksi-
22
reaksi ini para penyintas tidak akan merasa aneh atau hanya dirilah yang merasakan
situasi sulit ini.
 Informasi tentang cara-cara yang dapat dilakukan untuk mengatasinya maupun
kegiatan kegiatan self-core yang bisa dilakukan.
Memfasilitasi kegiatan-kegiatan yang mempromosikan kedekatan sosial. Pada saat
bencana biasanya kedekatan sosial ini terganggu karena penyintas terpisah dari keluarga,
tetangga, atau orang orang yang dikenalnya. Tidak jarang mereka harus tinggal di tempat
penampungan sementara dengan orang orang yang tidak mereka kenal sebelumnya.
Kegjatan ini misalnya, membuat kegiatan bermain anak yang difasilitasi orang orang tua
atau remaja dari tempat tersebut, membuat kelompok pengajian atau kelompok ibadah
bersama, membuat kelompok piket memasak atau piket kebersihan
Memberikan perhatian pada anak yang terpisah dari orang tuanya. Bantu orang tua
yang kehilangan anak untuk dapat mengakses layanan pencarian yang ada atau
menginformasikan kehilangan anakanya kepada para pihak yang terkait.
Hindarkan penyintas dari situasi yang menyebabkan atau mengingatkan akan
pengalarnan traumatic. Dalam situasi bencana seperti ini, kita akan banyak menjumpai
orang-orang dengan niat baik yang mungkin tidak mengetahui atau menyadari bahwa apa
yang mereka lakukan dapat merugikan atau melukai orang yane ingin mereka bantu. Hal
hal itu antara lain seperti menyarankan pada penyintas untuk menolak wawancara atau
pembicaraan dengan orang-orang tersebut mereka memang tidak ingin bercerita.
Sampaikan pada penyintas bahwa mereka berhak melakukan itu.
Selain itu sebagai peryedia layanan PFA kita perlu mengingat hal-hal sebagai
berikut:
 Berikan layanan dengan penuh rasa hormat, kepedulian yang tinggi dan respek
 Reaksi duka cita atau kesedihan antara satu orang dan orang lainnya mungkin saja
berbeda.
 Tidak ada satu resep manjur yang bisa diterapkan untuk berbagai macam reaksi
bencana.
 Kehilangan dan duka cita akan sangat mungkin membuat konsumsi zat adiktif dan
berbahaya meningkat (rokok, minuman keras, dan obat terlarang). Sampaikan pada
penyintas bahwa hal-hal tersebut merupakan bentuk adaptasi yang merugikan.
Ada beberapa kalinat yang perlu dihindari para penyedia layanan PFA saat menjalin
komunikasi dengan penyintas
 Saya tahu bagaimana mana perasanmu
 Mungkin inilah yang terbaik untuk anda semua
 Kamu menjadi lebih baik sekarang
 Inilah cara yang terbaik untuk dia (istri/suami/anak) untuk pergi
 Kamu harus bisa bangkit dengan cepat
 Kamu tidak perlu bersedih lagi

23
 Kamu harus bisa menghibur diri
Langkah 4- Mendorong Keberfungsian
Tujuan: memberikan kenyamanan, menenangkan, mengupayakan kondisi yang lebih
stabis pada penyintas jika diperlukan)
Tidak semua orang yang terkena bencana akan mengembangkan gangguan psikologis.
Oleh sebab itu tidak semua orang yang terkena bencana membutuhkan upaya stabilisasi baik
secara medis(dengan memberikan obat atau suntikan) maupun psikologis(konseling dan
terapi)
Akan tetapi ketika reaksi itu muncul dengan kuat penyedia layanan PFA jika
memungkinkan melakukan stabilisasl secara langsung atau dapat juga melakukan proses
rujukan pada profesional kesehatan jiwa atau paikolog yang ada. Berikut adalah tanda-tanda
yang bisa mengindikasikan adanya gangguan yang terjadi pada penyintas:
 Mengalami disorientasi tempat dan waktu.
 Mengalami penurunan kapasitas berpikir atau konsentrasi.
 Tidak responsif terhadap pertanyaan lisan atau perintah yang diberikan.
 Menunjukan reaksi sedih yang berlebihan dan tak terkontrol.
 Tidak dapat mengontrol reaksi fisik seperti anggota tubuh bergetar terus menerus
 Merasa tidak mampu melakukan apapun lagi
Adapun hal-hal yang bisa dilakukan dalam rangka mendorong keberfungsian
penyintas adalah sebagai berikut:
 Berikan rasa nyaman melalui perilaku verbal dan non-verbal pada penyintas, terutama
jika penyintas yang tampak sangat emosional, penyintas yang berduka karena
kehilangan anggota keluarga, penyintas yang sangat terpapar dengan pengalaman
traumatis
 Mengajarkan keterampilan mengelola stres yang sederhana, misalnya: mengatur
nafas, relaksasi.
 Jaga keluarga penyintas agar tetap bersama dan berhubungan satu sama lain.
 Pertemukan kembali penyintas yang terpisah dengan keluarganya.
 Tanyakan pada penyintas adakah pihak lain yang ingin diberitahu penyintas
sehubungan dengan bencana yang baru saja terjadi
 Hubungkan penyintas kepada sumber bantuan yang tersedia dan penyintas lain
Langkah 5 -Memfasilitasi Penyintas Untuk Pemulíhan
Tujuan: Mendorong penyintas untuk berpartisipasi dalam proses pemulihan pasca
bencana dan membantu penyintas menyusun rencana tindak lanjut
Kehilangan merupakan tema besar yang dirasakan penyintas dalam berbagai bencana.
Kehilangan menjadi benang merah antara bencana yang satu dengan lainnya. Kehilangan bisa
berdampak pada terganggunya keseimbangan kondisi psikologis seseorang,

24
Ketidakseimbangan kondisi psikologis dapat dirasakan dalarn bentuk terganggunya fungsi
psikologis seseorang seperti fungsi pikiran, perasaan, dan tingkah laku.
Ada beberapa hal yang bisa dilakukan dalam rangka menfasilitasi proses pemulihan,
antara lain adalah:
 Mendorong penyintas untuk kembali pada rutinitasnya
 Libatkan penyintas secara aktif dalarn tugas-tugas pemulihan dan perilaku bantu diri
 Berikan kesempatan pada penyintas untuk saling menolong.

Adapun tahapan-tahapan yang bisa dilakukan adalah sebagai berikut:


 Identifikasi kebutuhan yang mendesak. Dalam situasi bencana kita akan dihadapkan
dengan berbagai keterbatasan Jika penyintas menyebutkan banyak daftar kebutuhan,
perlu dilakukan penentuan skala prioritas berdasarkan ketersedian surnber daya dan
mana yang paling periu untuk segera dipenuhi. .
 Klarifikasi kebutuhan tersebut.
 Mendiskusikan rencana tindak lanjut
 Fasilitasi rencana tindak lanjut tersebut.
Perlu disadari bahwa PFA adalah layanan awal dimana tidak semua masalah bisa
diselesaikan oleh seorang penyedia layanan. Oleh karena itu menjadi penting untuk
menghubungkannya ke delam lav.nan yang lebih kolaboratif. Dalam situasi bencana,
penyintas akan dihadapkan pada situasi situasi yang membust dia memerlukan layanan lebih
lanjut. Layanan layanan yang diperlukan antara lain:
 Layanan medis.
 Layanan kesehatan mental.
 Layanan sosial.
 Layanan perlindungan anak dan perempuan
 Layanan pendidikan.
Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam melakukan rujukan:
 Rujuk penyintas pada penyedia layanan pemulihan dan dukungan berdasarkan
kebutuhan.
 Sampaikan kepada penyintas tentang berbagai pilihan layanan rujukan yang ada.
 Libatkan penyintas dalam menentukan layanan mana yang akan dipilih.
 Jangan lupa membuat catatan tertulis tentang rujukan yang dilakukan kepada pihak yang
menerima rujukan.
A.12 Pertolongan Pertama Kesehatan Jiwa
Pertolongan pertama kesehatan jiwa adalah bantuan yang ditawarkan kepada
seseorang yang mengalami risiko masalah kesehatan mental, memburuknya masalah

25
kesehatan jiwa ada atau dalam krisis kesehatan jiwa atau bahkan mengalami gangguan
jiwa. Ketrampilan dasar pertolongan pertama kesehatan mental yang dapat dipelajari oleh
siapa pun di masyarakat dan harus dilihat sebagai bagian dari tanggung jawab setiap
orang untuk merawat orang lain di komunitas mereka. Secara singkat dikenal dengan
ALGEE:
 A: approoch, assess and assist with any crisis dengan cara
1. Dekati dan sampaikan kepedulian saudara (Approach the person about your
concerns),
2. Temukan waktu dan tempat yang tepat bagi anda berdua (Find suitable time and
space where you both feel comfortable),
3. Jika pasien tidak mau memulai percakapan dengan anda tentang perasaannya,
saudara harus mengucapkan sesuatu tetapi tidak memaksa (If the person does not
initiate a conversotion with you about how they ore feeling, you should soy
something to them),
4. Hargai privasi dan kerahaslaan indrvidu(Respect 3.3.2 the person's privacy and
confidentiolity).

Kondisi krisis mungkin terjadi, maka perlu menidentifikasi individu yang


membahayakan dirinya (the person may harm themselves), individu yang sangat
stress (the person experiences extreme distres), individu yang sangat
mengganggu orang lain (the person's behoviour is very disturbing to others)
 L: listen non-judgement, dengarkan, kebanyakan individu ingin didengar dengan
empati saat mereka mengexpresikan emosi dan pikirannya, gunakan ketrampilan
verbal dan non-verbal, ciptakan suasana pada individu agar bebas berbicara, dan
jangan menghakimi/menduga/menilai/menuduh
 G: give support and information. Berikan dukungan emosional, harapan untuk
pulih dan praktik"Self Care". Berikan informasi yang terkini dan akurat, tanyakan
apakah mereka memerlukan informasi tertentu, edukasi individu dan keluarga
atau"Care giver"
 E: encourage oppropriate professional help. Sampaikan tenaga Profesional yang
tersedia, pelayanan dan tenaga kesehatan yang tersedia, Pengobatan, Perawatan,
konseling, terapi psikosos, dukungan pada keluarga, dukungan vocational and
educational dill (any options available to them for help and support).
 E: encourage other support, dapat berupa kelompok swabantu (self help group),
dapat pula dibentuk kelompok swabantu antara individu yang mengalami bencana
A.13 Kegiatan Dukungan Kesehatan Jiwa dan Psikososial pada Bencana

a. Kegiatan di tempat pengungsian


Kegiatan di tempat pengungsian dibagi dalam tiga yaitu:
1. Kelompok besar
diikuti oleh semua pengungsi yang menempati tempat pengungsian dengan fokus
utama manajemen stress dan adaptasi dengan kegiatan di pengungsian.

26
2. Kelompok kecil
Yaitu semua pengungsi yang tinggal di suatu pengungsian dibagi dalam
kelompok kecil berdasarkan kelompok usia dengan fokus utama bercakap-cakap
(let’s talk), memberi kesempatan mengungkapkan perasaan dan membangun
harapan dengan berpikir secara positif.
3. Keluarga dan atau individu
Yaitu individu dan keluarga yang teridentifikasi mengalami masalah kesehatan
jiwa. Asuhan keperawatan yang diberikan berdasarkan diagnosis keperawatan
yang ditemukan. Perawat harus dapat memutuskan apakah individu memerlukan
rujukan ke pelayanan kesehatan sekunder.
b. Kegiatan di barak pengungsian pengganti rumah tempat tinggal
Kegiatan yang dilakukan pada tahap pertama dapat didelegasikan kepada
tokoh masyarakat (community leader) yang berada pada kelompok besar dan
kelompok kecil, yang menyerupai ketua RW atau RT. Kegiatan psikososial yang
dilakukan menyyerupai pengembangan DESA SIAGA SEHAT JIWA, dimana tokoh
masyarakat berperan sebagai kader kesehatan jiwa (KKJ). KKJ dilatih mendeteksi
kelompok sehat sesuai dengan usia (bayi, kanak-kanak, anak pra-sekolah, anak
sekolah, remaja, dewasa, dan lansia). KKJ juga mendeteksi kelompok risiko yaitu
yang menderita penyakit kronis, cacat fisik akibat bencana, kehilangan anggota
keluarga, kehilangan tempat tinggal, kehilangan harta benda, kehilangan pekerjaan,
putus sekolah, dan jenis kehilangan yang lain. KKJ juga mendata apakah ada
gangguan jiwa.
Berdasarkan pengelompokan tersebut maka perawat akan menyiapkan
program sebagai berikut:
 Kelompok sehat : stimulasi perkembangan
 Kelompok risiko : penjelasan perawatan penyakit atau penyelesaian masalah,
memberikan perawtan psikososial sebagai akibat faktor risiko.
 Kelompok gangguan : memberikan perawatan sesuai dengan kondisi kesehatan
jiwanya dengan prinsip sedpatnya dirawat di masyarakat dan jika perlu lakukan
rujukan ke puskesmas atau rumah sakit.
c. Kegiatan di rumah atau kembali ke desa
Kegiatan pelayanan kesehatan jiwa setelah kembali ke desa perlu dilanjutkan
untuk terus melanjutkan melakukan pencegahan masalah kesehatan jiwa yang dapat
berlanjut. Kegiatan di barak pengungsian dilanjutkan ke desa yaitu:
1. Pembentukan Desa Siaga Sehat Jiwa disertai kader kesehatan jiwa yang
dibimbing oleh perawat kesehatan jiwa dari puskesmas.
2. Perawat dan dokter puskesmas dilatih tentang pelayanan kesehatan jiwa di
masyarakat.

27
A.14 Teknik Penanggulangan Masalah Psikososial pada Bencana
Teknik penanggulangan dan pencegahan masalah psikososial pada bencana,
pelaksanaannya disesuaikan dengan strategi yang telah ditetapkan. Strategi tersebut
dilakukan berdasarkan kelompok yaitu:
a. Teknik pada kelompok besar
Kegiatan dilakukan pada seluruh penghuni tempat pengungsian yang mungkin antara
100 sampai ribuan orang. Jumlah anggota tim relawan disesuaikan dengan jumlah
pengungsi dengan rasio1: 50-100 orang pengungsi, dan tetapkan satu orang sebagai
leader.
Strategi pelaksanaan teknik komunikasi (SP) pada kelompok besar
1) Pra interaksi
Pada saat mengunjungi tempat pengungsian lakukan koordinasi dengan
koordinator lapangan pada tempat pengungsian dan menjelaskan tujuan kegiatan
yang akan dilakukan. Tujuannya adalah membantu pengungsi mengatasi
pikirannya yang susah agar tetap semangat menghadapi kehidupan. Upayakan
melakukan kegiatan diantara waktu makan misalnya antara pukul 09.00-12.00 dan
15.00-17.00. Lakukan juga koordinasi dengan tim kesehatan yang ada di tempat
pengungsian tentang kegiatan yang akan dilakukan. Selain itu tanyakan keluhan
sakit para pengungsi untuk mendapatkan gambaran kondisi kesehatan para
pengungsi. penting pula menanyakan apakah ada pasien gangguan jiwa, jika ada
lakukan pendekatan individu atau keluarga dengan kebutuhan khusus.
2) Orientasi
Salam: beri salam, perkenalkan diri leader dan anggota tim yang menyebar
diantara pengungsi. sampaikan pula tujuan yaitu : menolong mengatasi pikiran
yang susah akibat bencana dan mengungsi.
Evaluasi : tanyakan sudah berapa lama di pengungsian, apakah sering sakit kepala,
apakah sudah minta obat ke petugas kesehatan, apakah ada aperbaikan. tanyakan
pula apakah badan pegal-pegal, katakan hal itu karena biasa bekerja tetapi di
tempat pengungsian tidak ada kegiatan. Tanyakan pula tentang makan dan tidur
apakah terganggu.
Validasi : katakan bahwa pikiran susah dapat disebabkan tiga hal yaitu kondisi
kesehatan fisik seperti sakit kepala, sakit perut, kelelahan, sesak napas dan
sebagainya, lingkungan yang berubah yang biasa tinggal di rumah sendiri sekarang
beramai-ramai, biasa bekerja sekarang diam saja dan sebagainya, pikiran yang
tertuju pada kondisi yang terjadi.
Kontrak : tanyakan apa setuju melakukan kegiatan agar pikiran yang susah kita
atasi dengan kegiatan yang akan dilakukan yaitu membuat badan tetap segar,
mengatur pikiran agar tidak susah dan menata lingkungan agar nyaman.
Waktu : katakan waktunya kira-kira satu jam.
Posisi : ajak untuk mengatur duduk, boleh kakinya diluruskan atau bersimpuh.

3) Kerja

28
Mulai dengan slogan yaitu BOLEH TINGGAL DI PENGUNGSIAN TAPI
TETAP SEHAT dengan memperagakan semangat. Kita mulai latihan
mengembalikan dan menjaga kesehatan fisik, kemudian mengelola pikiran, dan
mengelola lingkungan.
 Asesmen umum tentang masalah fisik, lingungan dan pikiran yang membuat
pikiran menjadi susah.
 Latihan napas dalam : (1) jelaskan dan beri contoh, (2) peragakan bersama,
(3) evaluasi tanyakan perasaan pasien.
 Latihan relaksasi progresif dengan memperhatikan pengencangan dan
pengenduran otot sambil napas dalam .(1) latihan mata, (2) latihan pipi dan
mulut, (3) latihan tengkuk, (4) latihan bahu, (5) latihan kedua tangan, (6)
latihan meregangkan otot punggung, (7) latihan meregangkan otot perut,
(8) latihan otot kaki.
 Latihan berfokus pada lima jari sambil mengingat kondisi tubuh yang
segar, orang-orang yang dekat dan peduli, pujian/ penghargaan/
keberhasilan yang pernah didapat, tempat indah yang pernah dikunjungi,
lalu jelaskan dan beri contoh, setelah itu peragakan bersama dan evaluasi
perasaan pasien.
 Latihan menghentikan pikiran yang susah dengan mengatakan stop setiap
kali pikiran susah muncul dan pikirkanlah hal positif yang masih dimiliki.
 Latihan membangun hubungan sosial dalam keluarga (suami, istri, anak),
teman sekampung yang sama-sama tinggal di pengungsian, saudara lain
yang tinggal di pengungsian. Cara-cara yang bisa dilakukan adalah : (1)
bercakap-cakap, (2) ibadah bersama, (3) peran serta kegiatan sosial.

b. Teknik pada kelompok kecil


Setelah selesai kegiatan kelompok besar maka dilanjutkan dengan kegiatan
kelompok kecil yang dibagi sesuai dengan kelompok usia. Fokus utama pada
kelompok kecil adalah membekali kemampuan pada kelompok usia untuk dapat
bercakap-cakap, memberi kesempatan mengungkapkan perasaan, dan membangun
harapan dengan berfikir positif.
1) Kelompok dewasa
Kegitan yang dapat dilakukan adalah bercakap-cakap tentang perasaan,
harapan, keinginan, hal positif yang masih dapat disyukuri. Kelompok menjadi
dukungan sosial bagi para anggota kelompok, dan membangun harapan masa
depan yang realistis. Perawat dapat melatih bagaimana klien dapat memulai
komunikasi antar suami-istri, saling curhat antar kakak-adik dalam extended
family.
2) Kelompok remaja
Kegiatan yang dapat dilakukan adalah olahraga, musik, tari, bernyanyi,
menulis, aktivitas sosial. Dapat pula latihan membangun percaya diri dan harga
diri. Perawat dapat menstimulasi remaja untuk saling curhat tentang sahabat,
hobby/kegemaran, pengalaman sekolah.

29
3) Kelompok anak
Kegiatan yang dapat dilakukan adalah bermain, menggambar, bernyanyi,
menari, musik, bercerita dan olahraga. Dapat pula memutar film kartun atau film
anak-anak. Pada kelompok ini anak-anak diberikan stimulasi untuk dapat
mengungkapkan perasaannya melalui menggambar, bermain, dan bercerita.
4) Kelompok lansia
Kegiatan yang dapat dilakukan adalah bercakap-cakap tentang perasaan,
berikan informasi tentang kegiatan yang dilakukan pendampingan untuk masalah
dan kebutuhan lansia. Lansia merupakan kelompok yang butuh perhatian dan
rentan. Lansia harus di stimulasi dengan mengenang semua keberhasilan dan
pengalaman masa lalu yang menyenangkan.

B. TEKNIK THOUGHT STOPPING


B.1 Pengertian Teknik Thought Stopping
Konsep tentang terapi thought stopping bukan hal yang baru tapi suah dikenal sejak
zaman Yunani Kuno. Thought stopping pertama kali dikenalkan oleh Bain pada tahun 1928
dalam bukunya yang berjudu “Thought Control In Everyday Live” yang kemudian pada akhir
tahun 1950an dikembangkan oleh Joseph Wolpe dan ahli terapis perilaku lain.
Menurut Bakker teknik Thought Stopping merujuk pada sekelompok prosedur yang
digunakan untuk meningkatkan kemampuan seseorang agar seseorang bisa memblokir secara
kognitif serangkaian tanggapan yang diterima. Stuart dan Laraia (2005) menjelaskan Thought
Stopping sebagai suatu proses menghentikan pikiran yang tinggal dan mengganggu. Sedangkan
Joseph Wolpe menjelaskan bahwa thought stopping adalah suatu teknik rahasia untuk mengatur
pikiran negative atau menghilangkan pikiran negative dalam diri. Penghentian Pikiran (Thought
Stopping) merupakan salah satu contoh dari teknik psikoterapeutik kognitif-behavior yang dapat
digunakan untuk membantu konseli mengubah proses berpikir. Mengubah proses berpikir
merupakan hal penting bagi seorang konselor mempertahankan perasaan konseli dapat
berpengaruh kuat dengan pola dan proses berpikir.

B.2 Konsep Tentang Teknik Thought Stopping


Konsep tentang teknik Thought Stopping bukan hal yang baru, akan tetapi sudah dikenal
sejak jaman Yunani kuno. Stuart dan Laraia menjelaskan thought stopping sebagai suatu proses
menghentikan pikiran yang mengganggu.
Thought Stopping merupakan salah satu contoh dari Teknik psikoterapi CBT (Cognitif
Behavior Therapy) yang digunakan untuk membantu konseli mengubah proses berfikir.
Kebiasaan berfikir dapat membentuk perubahan perilaku. Penggunaan Teknik ini dimaksudkan
karena pikiran yang negatif dapat menyebabkan adanya perilaku yang negatif sehingga perlu

30
adanya penghentian pikiran negatif untuk menghindari akibat yang negatif dari pikiran buruk
tersebut.
Klien yang terikat oleh fikiran negatif yang selalu berulang-ulang dan sangat tidak
produktif atau gambaran-gambaran yang selalu memaksa diri sendiri. Berhenti berpikir
(Thought Stopping) memiliki beberapa kelebihan diantaranya adalah mudah dikelola, mudah
dimengerti oleh konseli dan siap digunakan oleh konseli dalam sikap pengaturan diri sendiri.
Thought Stopping digunakan dengan berbagai variasi cara untuk menolong klien yang
mencoba untuk tenang dan berhenti memikirkan pikiran yang tidak menyenangkan dan sifatnya
mengancam. Tehnik ini sebagian besar digunakan dalam studi penyelidikan dengan
memodifikasi pada orang-orang tertentu seperti ansietas, depresi dan ketakutan atau kecurigaan
yag berlebihan. Terapi thought stopping direkomedasikan ketika masalah yang terjadi lebih
kearah kognitif yang secara berulang diekspresikan sebagai sesuatu yang menyakitkan atau
memicu kondisi emosi yang tidak menyenangkan (Gardner, 2002).

B.3 Kegunaan Dan Tujuan Teknik Thought Stopping


Terapi thought stopping merupakan teknik yang efektf dan cepat untuk membantu
idividu yang sedang terganggu pikiran negative dan kekuatiran yang sering menyertai gangguan
pnik, kecemasan dan agoraphobia. Menurut Ankrom (1998), dasar dari teknik ini adalah
individu secara sadar memerintahkan pada diri sendiri “Berhenti”, saat mengalami pemikiran
negatif berulang, tidak penting, dan distorted. Kemudian mengganti pikiran negative tersebut
denga pikiran lain yang lebih positif dan realistis.
Thought Stopping sering digunakan untuk masalah obsesi, dan pikiran-pikiran fobik,
termasuk preokupasi seksual, hipokondriasis, pikiran gagal, pikiran ketidakmampuan seksual,
ingatan obsesif. Selain itu tehnik ini juga digunakan mengurangi pikiran negatif diantaranya
mengurangi pikiran negatif tentang diri sendiri, merokok, NAPZA, dan halusinasi visual dan
auditorik, dan imsonia. Teknik Thought Stopping sangat cocok bagi klien yang mempunyai
pikiran yang merusak diri (self-defeating).
Tujuan terapi thought stopping adalah membantu indvidu dalam mengatasi ansietas yang
mengganggu dan membantu mengatasi pikiran yang mengancam atau “stressfull” yang sering
muncul serta membantu klien mengatasi pikiran obsesif dan phobia. Terapi thought stopping
sangat tepat diberikan pada pasien dengan gangguan ansietas menyeluruh, gangguan ansietas
akibat sebagian tubuh lumpuh dan tidak bisa sembuh, depresi ringan, percobaan bunuh diri.
Selain itu terapi thought stopping juga tepat untuk isolasi social (Donald, 2006) dan perilaku
kekerasan (Boyd, 1998). Penelitian yang dilakukan oleh Agustarika (2009) meyatakan bahwa
terapi thought stopping efektif dalam menurunkan ansietas pada klien dengan gangguan fisik.

31
B.4 Prinsip-prinsip Thought Stoping
Thought stopping merupakan suatu terapi yang memerlukan komitmen dan praktek,
untuk itu dapat dilakukan oleh perawat klinik yang memiliki keahlian khusus (perawat
spesialis). Sekalipun terapi ini tampaknya sederhana dan mudah untuk dipraktekkan, namun
untuk mendapatkan hasil yang maksimal, terapi ini diperlukan keahlian khusus seorang terapis
dan perlu terus-menerus dipraktekkan, baik bagi terapis itu sendiri maupun klien (Agustarika,
2009).
Dalam pelaksanaannya, Teknik ini menggunakan berbagai variasi dalam membantu
seseorang yang sedang mencoba dan menghentikan pikiran yang tidak menyenangkan atau
memutuskan pikiran atau obsesi yang mengancam dengan penuh pertimbangan. Klien
diintruksikan mengatakan “berhenti” ketika pikiran dan perasaan yang mengancam muncul dan
memberi isyarat pada konseli untuk menggantikan pikiran tersebut dengan memilih alternatif
pikiran yang positif.
B.5 Sesi – sesi dalam terapi thought stopping
Pembagian sesi dalam melakukan terapi thought stopping berbeda-beda dan sifatnya
bervariasi. Beberapa pendapat tentang pembagian sesi berdasarkan ahli yaitu Gardner (2002)
membagi menjadi 6 langkah; Ankrom (1998) membagi 4 sesi; Patricia Miller (2001) membagi 5
langkah sesi pelaksanaan terapi thought stopping sebagai berikut.
 Langkah terapi thought stopping menurut Gardner (2002), yaitu :
1. Langkah pertama : Identifikasi pikiran yang tidak diharapkan.

Pada langkah ini klien mulai menuliskan dalam kertas sebanyak tiga atau empat tentang
pikiran yang tidak diharapkan yang sering muncul dan klien tidak bisa menghentikan
pikiran mengganggu tersebut.

2. Langkah kedua : Identifikasi pikiran yang menyenangkan.

Pada langkah ini, klien mencatat tiga atau empat topik tentang pikiran yang
menyenangkan seperti olahraga yang digemari, hobby yang menyenangkan, sedang
rekreasi, mendapat penghargaan atau keberhasilan, tempat atau sesuatu yang
menyenangkan dalam hidup. Langkah ini bukan bertujuan untuk mengganti pikiran yang
tidak diharapkan tersebut, akan tetapi langkah ini bertujuan agar klien membayangkan
bagaimana kalau pikiran menyenangkan dilakukan pada saat pikiran yang tidak
diharapkan.

3. Langkah ketiga : Fokus pada pikiran yang tidak menyenangkan.

Pada langkah ini klien disuruh untuk memfokuskan pada pikiran yang tidak
menyenangkan. Klien menutup mata dan berkosentrasi penuh pada pikiran yang tidak
menyenangkan tersebut.

32
4. Langkah keempat: Putuskan pikiran yang tidak menyenangkan. Pada tahap ini klien
mengatakan kata “STOP” dengan suara yang keras ketika sudah tidak nyaman lagi
dengan pikiran yang tidak menyenangkan tersebut. Hal ini dilakukan untuk
menghentikan konsentrasi terhadap pikiran yang menganggu.
5. Langkah kelima: Ganti dengan pikiran yang menyenangkan.

Tahap ini klien disuruh untuk mengosongkan pikiran dari pikiran yang mengganggu dan
mengantinya dengan memikirkan sesuatu yang menyenangkan selama kurang lebih 30
detik. Jika pikiran yang tidak menyenangkan kembali muncul sebelum 30 detik, klien
disuruh mengatakan kata “stop” lagi.

6. Langkah keenam : Ulangi dengan variasi.

Pada langkah ini, klien mencoba untuk mengulangi menghentikan pikiran yang tidak
menyenangkan dengan berbagai variasi. Ketika klien sudah berhasil memutus dengan
mengatakan kata “STOP” dengan keras maka klien mencoba mengulangi dengan nada
suara normal dan dengan bisikan. Kemudian jika sudah berhasil dengan bisikan , maka
dilanjutkan dengan mengatakan dalam hati dengan membayangkan seakan-akan ada
tanda “STOP” secara otomatis dalam pikiran klien.
 Empat sesi terapi thought stopping menurut Ankrom (1998), yaitu
1. Sesi pertama : Identifikasi piikiran yang membuat stress.

Pada sesi ini klien memulai dengan memonitor pikiran yang mengganggu dan
mencemaskan klien, kemudian tuliskan pikiran tersebut dan pilih salah satu yang akan
diatasi terlebih dahulu.

2. Sesi kedua : Buatlah pernyataan positif dan penuh keyakinan di sebelah pikiran yang
membuat ansietas tersebut. Misalnya : “saya sangat cemas , mungkin saya akan mulai
panik dan mempermalukan diri saya sendiri jika menerima undangan konser”. Buat
pernyataan positif seperti : “Saya pernah berada dalam kondisi cemas sebelumnya dan
saya tetap berhasil” atau “saya percaya bahwa saya dapat mengontrol ansietas saya
dengan menggunakan teknik yang sudah saya pelajari”.
3. Sesi ketiga :Ulangi lalu ganti. Instruksikan klien tutup mata dan pikirkan tentang pikiran
yang membuat stres. Usahakan untuk membayangkan diri klien berada dalam situasi di
mana pikiran tersebut mungkin muncul. Ulangi hal itu dalam pikiran klien selama kira-
kira 3 (tiga) menit kemudian hardik dengan mengatakan “stop!”. Ucapkan pikiran positif
yang telah diidentifikasi di sesi 2 tadi dengan penuh keyakinan.
4. Sesi keempat :Membuat keputusan yang penting. Agar teknik menghentikan pikiran
menjadi lebih efektif, klien memerlukan latihan setiap hari. Pikiran yang membuat stress
akan sering muncul di awal-awal latihan, namun secara perlahan akan menghilang.

 Lima langkah terapi thought stopping menurut Patricia Miller (2001):

33
1. Langkah pertama
Tanyakan pada diri hal-hal yang terkait dengan pikiran yang membuat stres.
Bentuk pertanyaan adalah apakah pikiran itu realistis atau tidak, membuat anda
produktif atau tidak, bersifat netral atau justru membuat tidak percaya diri, dapat
dikontrol dengan mudah atau tidak. Putuskan jika anda ingin menghilangkan pikiran
yang membuat stress,pilih salah satu pikiran yang sangat anda ingin hilangkan dan ikuti
langkah berikutnya.
2. Langkah kedua
Bayangkan pikiran yang membuat stres lalu tutup mata dan bawa diri ke situasi
imaginasi di mana pikiran tersebut biasa muncul. Usahakan untuk melibatkan pikiran
normal dan bersifat netral. Cara ini memungkinkan untuk menghentikan pikiran yang
membuat stres dengan tetap melanjutkan pikiran sehat yang lain muncul.
3. Langkah ketiga
Atur alarm atau timer selama 3 menit. Alihkan pandangan, tutup mata dan
fokuskan pada pikiran yang membuat stres tersebut. Ketika mendengar alarm atau timer
teriakan kata “stop!” sambil mengangkat tangan, menjentikkan jari anda atau berdiri.
Biarkan pikiran kosong dari semua pikiran yang membuat stres. Lakukan selam 30 detik
sejak meneriakkan kata “stop!”. Jika pikiran tersebut muncul kembali dalam rentang
waktu 30 detik, teriakkan “stop!” kembali.
4. Langkah keempat
Memutuskan pikiran yang membuat stres tanpa bantuan alarm atau timer. Saat
anda sedang memfokuskan diri pada pikiran yang tidak diinginkan tersebut, teriakkan
“stop!” Ketika anda berhasil untuk menghilangkan pikiran tersebut dalam beberapa
situasi berbeda, mulailah untuk mengucapkan dengan kata “stop” dengan nada biasa.
Setelah berhasil, cobalah dengan membisikkan “stop”, kemudian mengucapkan tanpa
suara, hanya dalam pikiran anda.
5. Langkah kelima
Buat pikiran pengganti sebagai ganti dari pikiran yang membuat anda stres.
Caranya adalah dengan membuat beberapa pernyataan yang positif dan bersifat asertif
yang sesuai dengan situasi yang anda hadapi. Kembangkan beberapa pernyataan asertif
tersebut untuk anda katakan pada diri sendiri. Selain itu, pikiran yang membuat stres
dapat juga diganti dengan membayangkan pemandangan yang sangat indah dan
mengagumkan.

Berdasarkan beberapa langkah atau sesi dalam terapi thought stopping menurut beberapa
ahhli diatas maka dapat dinalisa bahwa prinsip sesi pertama Ankrom (1998) sama dengan
langkah pertama dari Miller (2001) yaitu sama-sama mengidentifikasi pikiran yang membuat
stres. Sedangkan langkah kedua Gardner (2002) sama prinsipnya dengan Ankrom (1998),
langkah ketiga Gardner (2002) sama dengan sesi ketiga Miller (2001) yaitu memfokuskan pada
pikiran yang membuat stress. Langkah keempat dan kelima Gardner (2002) sama prinsinya

34
dengan langkah ketiga Ankom (1998) dan Miller (2001). Langkah keenam Gardner (2002)
sama prinsipnya dengan langkah keempat Miller (2001). Penelitian ini menggunakan prinsip
pelaksanaan thought stopping yang dikembangkan oleh Agustarika (2009) yang terdiri dari 3
sesi yaitu sesi 1: Identifikasi dan putuskan pikiran yang mengancam atau membuat stres; sesi 2
Berlatih pemutusan pikiran dengan menggunakan rekaman; sesi 3 Berlatih pemutusan pikiran
secara otomatis. Sesi 1 dari Agustarika (2009) prinsipnya sama dengan sesi 1 Ankrom (1998)
dan sesi 1 Miller (2002) yaitu sama- sama mengidentifikasi pikiran yang membuat stres, hal ini
menurut peneliti sesuai dengan kondisi pasien gangguan fisik yang dirawat di RS mempunyai
kemungkinan terhadap stres yang menimbulkan kecemasan pada pasien. Sesi 2 Agustarika
(2009) prinsipnya sama dengan langkah keenam Gadner (2002) dan langkah ketiga Ankrom
(1998) dan Miller (2001) yaitu klien secara bertahap meneriakkan kata ”STOP” dengan
menggunakan rekaman waktu. Dan sesi 3 Agustarika sama prinsipnya dengan langkah keempat
Miller (2001).

C. Progressive Muscle Relaxation


Menurut Wang et all (2014), Proggresive Muscle Relaxation merupakan salah satu
terapi yang membantu teknik pengelolaan diri yang didasarkan pada cara kerja system saraf
simpatis dan parasimpatis. Relaksasi otot akan menghambat jalur yang memicu ansietas denga
cara mengaktivasi system saraf parasimpatis dan manipulasi hipotalamus melalui pemusatan
pemikiran atau memperkuat sikap positif sehingga rangsangan stressor terhadap hipotalamus
menjadi minimal.
Asesmen umum tentang masalah fisik, lingkungan dan pikiran yang membuat pikiran menjadi
susah
a) Latihan nafas dalam dengan menghela nafas dari hidung dan mengeluarkannya dari mulut
(kedua bibir menyatu) dan memperhatikan mengembang dan mengempisnya perut
Jelaskan dan beri contoh : Posisi tegak, Tarik nafas dari hidung tahan lalu tiup dari mulut
pelan-pelan. Dilakukan 4 kali
Peragakan bersama yang dibantu oleh anggota tim yang menyebar di antara para
pengungsi : Mari kita lakukan bersama-sama, bisa kita mulai : Tarik nafas dari hidung,
Oke tahan, tiup atau lepaskan dari mulut pelan-pelan sampai habis. Ulangi sampai 4 kali.
Evaluasi : tanyakan perasaan pengungsi bagaimana, ada perasaan lega di dada. Beri pujian.
Mari kita lanjutkan kegiatan berikut

b) Latihan relaksasi progresif dengan memperhatikan pengencangan dan pengenduran otot


sambil nafas dalam : mata, mulut, tengkuk, bahu, tangan, punggung, perut, bokong atau
pervis, kaki dan telapak kaki.
Jelaskan : latihan seluruh badan agar peredaran darah lancar dan tidak ada kaku dan pegal,
dimulai dari mata, mulut, tengku, bahu, tangan, punggung, perut, bokong dan kaki dengan
cara mengencangkan dan mengendurkan.

35
c) Latihan mata
Jelaskan dan beri contoh : Tarik nafas dalam sambil mengencangkan atau mengerutkan
mata dan dahi sekencang-kencangnya, lalu tahan dan kendurkan pelan-pelan sambil
mengeluarkan nafas, dilakukan empat kali.
Peragaan bersama : Mari kita lakukan bersama, bisa kita mulai titik 2 Tarik nafas dalam
lemas dan kendur. Bagus, kita lakukan lagi, sampai empat kali.
Evaluasi : Tanyakan perasaan pada mata, agak enak karena juga kena debu dan tidur
terganggu.

d) Latihan pipi dan mulut


Ada tiga latihan untuk mulut yaitu pipi digembungkan, di monyong kan atau mencucu, dan
lidah ke langit-langit.
- Pipi di gembung
Jelaskan dan beri contoh: Tarik nafas dalam, gembungkan pipi, tahan, tiup pelan-
pelan.
Peragaan bersama: Mari kita lakukan bersama-sama bisa kita mulai: Tarik nafas
dalam, gembungkan mulut, tahan, tiup pelan-pelan. Ulangi sampai 4 kali.
Evaluasi: Tanyakan perasaan pada pipi, katakan nanti tambah muda pada saat kembali
ke kampung. Minta mengangkat tangan semua dan tepuk tangan.
- Mulut di monyongkan atau mencucu
Jelaskan dan beri contoh: Tarik nafas dalam, tahan, sambil mulut di monyong, kan,
keluarkan nafas pelan-pelan.
Peragaan bersama: Mari kita lakukan bersama, bisa kita mulai: Tarik nafas dalam,
tahan, Mulut di monyong kan atau mencucu, keluarkan nafas pelan-pelan. Ayo kita
lakukan sampai 4 kali.
Evaluasi : tanyakan perasaannya, agak lemas, dan rileks
- Lidah ditarik ke belakang atau nyengir
Jelaskan dan beri contoh: Tarik nafas dalam sambil menaruh lidah di langit-langit dan
tarik ke belakang sekuatnya, tahan lalu lepaskan pelan-pelan sambil mengeluarkan
nafas.
Peragaan bersama: Mari kita lakukan bersama, bisa kita mulai: Tarik nafas dalam
sambil tarik lidah ke belakang, tahan, keluarkan nafas pelan-pelan, dan lidah dilepaskan.
Ayo kita lakukan lagi sampai 4 kali.
Evaluasi: tanyakan perasaannya, katakan sudah selesai latihan untuk muka. Minta
angkat tangan semua dan tepuk tangan.

e) Latihan tengkuk

36
Jelaskan dan beri contoh: dagu ditempelkan ke dada, lalu tarik nafas dalam sampai
menengadah sejauh-jauhnya ke belakang, tahan sebentar lalu keluarkan nafas pelan-pelan
sambil mengembalikan posisi dagu menempel ke dada. Lakukan sampai 4 kali.
Peragakan bersama: Mari kita lakukan bersama-sama bisa kita mulai: tempelkan dagu di
dada, tarik nafas dalam sambil pelan-pelan menengadah sejauh-jauhnya ke belakang, tahan
sebentar, keluarkan nafas sambil mengembalikan posisi dagu menempel ke dada. Ayo kita
lakukan 4 kali.
Evaluasi: Tanyakan perasaannya, apakah terasa tengkuk rileks.

f) Latihan bahu
Jelaskan dan beri contoh: Tarik nafas dalam sambil mengangkat bahu sampai menyentuh
telinga, tahan sebentar lalu keluarkan nafas sambil menurunkan bahu ke posisi semula.
Lakukan sampai empat kali.
Peragaan bersama: Mari kita lakukan bersama, bisa kita mulai: Tarik nafas dalam sambil
menaikkan bahu sampai menyentuh telinga, tahan sebentar lalu keluarkan nafas sambil
menurunkan bahu sampai posisi semula. Ayo kita lakukan sampai 4 kali.
Evaluasi: Bagaimana perasaannya, rasa enakan bahunya. Mari angkat tangan semua.

g) Latihan kedua tangan


Jelaskan dan beri contoh: kedua tangan letakkan di atas pangkuan, Tarik nafas dalam
sambil mengepalkan telapak tangan dan mengencangkan kedua tangan, tahan sebentar lalu
Keluarkan nafas sambil mengendurkan tangan dan membuka telapak tangan dan
meletakkannya diatas pangkuan.
Peragaan bersama: Mari kita lakukan bersama, bisa kita mulai: Letakkan kedua tangan di
atas pangkuan, Tarik nafas dalam sambil mengepalkan telapak tangan dan mengencangkan
kedua tangan, tahan sebentar habiskan nafas sambil mengulurkan tangan dan membuka
kepala dan meletakkannya diatas pangkuan. Ayo kita lakukan 4 kali.
Evaluasi: Bagaimana perasaannya, terasa rileks tangannya? Mari angkat kedua tangan
semua.

h) Latihan meregangkan otot punggung


Jelaskan dan beri contoh: Tarik nafas dalam sambil membusungkan dada dan
melengkungkan punggung ke belakang, tahan sebentar kemudian keluarkan nafas pelan
pelan sambil mengendurkan punggung.
Peragaan bersama: Mari kita lakukan bersama, bisa kita mulai: Tarik nafas dalam sambil
membusungkan dada dan melengkungkan punggung ke belakang, tahan sebentar kemudian
keluarkan nafas pelan pelan sambil mengendurkan punggung. Ayo kita lakukan 4 kali.
Evaluasi: Bagaimana perasaannya? Terasa enak punggungnya?
37
i) Latihan meregangkan otot perut
Jelaskan dan beri contoh: Tarik nafas dalam sambil mengempiskan perut kempes kempes
nya, tahan sebentar kemudian keluarkan nafas sambil mengendurkan perut kembali. Tarik
nafas dalam sambil mengempiskan perut kempes kempes nya, tahan sebentar kemudian
keluarkan nafas sambil mengendurkan perut kembali.
Peragaan bersama: Mari kita lakukan bersama-sama bisa kita mulai: Tarik nafas dalam
sambil mengempiskan perut seperti sempitnya, tahan sebentar kemudian keluarkan nafas
sambil mengendurkan perut kembali. Ayo kita lakukan sebanyak 4 kali.
Evaluasi: Bagaimana perasaannya? Mari angkat tangan semua.

j) Latihan otot kaki


Jelaskan dan beri contoh: luruskan kedua kaki sambil duduk, tarik nafas dalam sambil
menarik telapak kaki ke arah perut dan kedua tangan berusaha menggapai ibu jari kaki,
tahan sebentar kemudian keluarkan nafas pelan pelan sambil mengendurkan kaki dan
telapak kaki.
Peragaan bersama: Mari kita lakukan bersama-sama bisa kita mulai: meluruskan kedua
kaki sambil duduk, Tarik nafas dalam sambil menarik telapak kaki ke arah perut dan kedua
tangan berusaha menggapai ibu jari kaki, tahan sebentar kemudian keluarkan nafas pelan-
pelan sambil mengendurkan kaki dan telapak tangan. Ayo kita lakukan 4 kali.
Evaluasi: Bagaimana perasaannya? Angkat tangan semua, dan tepuk tangan.
Seluruh latihan otot badan telah selesai, bagaimana perasaannya? Jangan lupa dimuka
ada latihan mata, latihan mulu tiga macam, tengkuk, bahu, kedua tangan, punggung, perut dan
kedua kaki. Diharapkan dapat di lakukan 3 kali sehari secara bersama-sama atau sendiri-sendiri.

D. Hipnotis 5 Jari atau Latihan berfokus pada 5 jari


Sambil mengingst kondisi tubuh ysng segar, orang-orang yang memperhatikan dan
peduli; pujian/penghargaan/keberhasilan yang pernah dirasakan; tempat indah yang pernah
dikunjungi.
Jelaskan dan beri contoh:
 Tarik nafas dalam, pejamkan mata, kosongkan pikiran, angkat tangan kanan
 Pertemukan ibu jari dengan telunjuk kemudian bayangkan saat tubuh sangat segar pada
masa muda, atau pulang dari ladang kemudian mandi dan terasa segar sekali
 Pertemukan ibu jari dengan jari tengah kemudian bayangkan semua orang yang
memperhatikan saudara dan peduli pada saudara, mereka sangat baik sekali
 Pertemukan ibu jari dengan jari manis kemudian bayangkan pujian yang pernah saudara
dapatkan karena perilaku saudara yang baik atau keberhasilan saudara, bayangkan betapa
senangnya saudara saat itu

38
 Pertemukan ibu jari dengan kelingking kemudian bayangkan tempat-tempat indah yang
pernah saudara kunjungi, ladang saudara yang menguning siap dipanen, dipantai, dll.
 Tarik nafas dalam dan buka mata.

39
BAB III
PENUTUP
A. Simpulan
Bencana adalah peristiwa atau rangkaian peristiwa yang mengancam dan
mengganggu kehidupan dan penghidupan masyarakat yang disebabkan baik oleh alam dan/
atau non alam maupun faktor manusia sehingga mengakibatkan timbulnya korban jiwa
manusia, kerusakan lingkungan, kerugian harta benda dan dampak psikologis. Bencana
dibagi tiga yaiitu bencana alam, bencana non-alam, dan bencana social. Tahapan bencana
juga dibagi tiga yaitu pra bencana (preparedness) yang bertujuan untuk meningkatkan
koping bagaimana menanggapi bencana, saat bencana (emergency) yang dibagi menjadi
tahap impact 0-48 jam setelah bencana, tahap rescue 0-1 minggu setelah bencana, dan tahap
recovery 1-4 minggu setelah bencana, dan pasca bencana (rehabilitasi) yang dihitung mulai
4 minggu setelah bencana. Strategi dukungan kesehatan jiwa saat bencana meliputi apresiasi
terhadap hidup, hubungan hangat, kekuatan persona individu, penngembangan spiritual,
peluang baru dalam keberlanjutan hidup yang lebih positif. Pertolongan pertama psikologis
biasa disebut 3L yaitu Look (observasi, perhatikan, lihat tanda-tanda), Listen (dengarkan
curhatannya tanpa berasumsi terlebih dahulu), dan Link (rujuk, hubungkan dengan
pendukung yang dapat menolong).
Teknik tought stopping suatu teknik yang dapat digunakan untuk membantu klien
mengubah proses berpikir. Teknik ini haru sering dilatih agar mendapatkan hasil yang
efektif. Beberapa ahli mengemukakan beberapa sesi dalam thought stopping yaitu Gardner
membagi ada 6 langkah, Ankrom membagi 4 sesi, dan Patricia Miler membagi menjadi 5
langkah sesi.
Progresive Muscle Relaxation (PMR) meliputi latihan nafas dalam, latihan relaksasi
progresif, latihan mata, latihan pipi dan mulut, latihan tengkuk, latihan bahu, latihan kedua
tangan, latihan meregangkan otot pinggang, latihan meregangkan otot perut, latihan otot
kaki.

B. Saran
Sebagai seorang calon perawat diharapkan bisa turut andil dalam melakukan kegiatan
tanggap bencana. Sekarang tidak hanya dituntut mampu memiliki kemampuan intelektual
namun harus memilki jiwa kemanusiaan melalui aksi siaga bencana.

40