Anda di halaman 1dari 10

PEMICU 1

BLOK 13

“Gigi Belum Tumbuh”

Disusun Oleh :
Steela Anggriani
180600189

Fasilitator :
Sayuti Hasibuan, drg., Sp.PM

FAKULTAS KEDOKTERAN GIGI


UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
2020
PEMICU 1
Nama pemicu : Gigi belum tumbuh
Penyusun : Dr. Wilda Hafny Lubis, drg.,M.Si; Erna Sulistyawati,drg.,Sp.Ort(K);
Karina Sugih Arto, dr.,M.Ked(Ped) Sp.A(K)
Hari/ Tanggal: Jumat/ 03 April 2020
Waktu : 07.30 – 09.30 WIB

Seorang ibu membawa 2 orang anaknya berobat ke dokter gigi. Anak pertama perempuan 4
tahun dengan keluhan gigi 11 dan 21 berlubang, ingin ditambal. Ibu juga menanyakan pada
dokter tentang gigi anak keduanya yang laki-laki berusia 3 tahun yang giginya belum tumbuh
juga. Pada pemeriksaan klinis, stunting terlihat pada anak kedua. Pemeriksaan intra oral
ditemukan gigi 51, 52, 53, 61, 62, 63, 71,72, 73, 81, 82, dan 83 belum tumbuh. Pada lidah
terlihat atropi papilla.

Produk :
Diskusikan kasus diatas dan buat laporan kelompok mengenai:
1. Apakah kasus ini bersifat lokal atau sistemik?
2. Jelaskan gambaran klinis stunting pada anak!
3. Gigi apa sajakah yang seharusnya sudah tumbuh pada usia 3 tahun?
4. Jelaskan data apa saja yang mendukung faktor lokal!
5. Jelaskan data apa saja yang mendukung faktor sistemik yang berperan!
6. Pemeriksaan apa saja yang dilakukan dokter gigi untuk kasus tersebut?
7. Faktor apa sajakah yang dapat menyebabkan pertumbuhan gigi terlambat
tumbuh?
8. Manajemen dental apakah yang dilakukan oleh dokter gigi?

Jawaban:

1. Apakah kasus ini bersifat lokal atau sistemik?


 Berdasarkan skenario, kasus pada anak pertama bersifat lokal karena keluhannya hanya
terjadi di rongga mulut yaitu terdapat karies yang mengakibatkan gigi 11 dan 12
berulubang yang terjadi akibat kebiasaan buruk anak saat mengonsumsi makanan dan
minuman susu yang membuat oral hygiene anak tersebut buruk.
Kasus anak kedua tersebut bersifat sistemik. Stunting adalah kondisi gagal tumbuh pada
anak balita yang diakibatkan kekurangan gizi kronis sehingga anak terlalu pendek untuk
usianya. Stunting pada umumnya dikarenakan oleh malnutrisi. Namun, bisa juga terjadi
karena infeksi kronis, dan defisiensi hormon. Pada kasus, anak tersebut kemungkinan
mengalami hipotiroidisme atau kekurangan hormone tiroid yang mengindikasikan bahwa
adanya kelainan atau gangguan pada sistem endokrinologi anak tersebut. Hipotiroid dapat
dibagi menjadi dua yaitu hipotiroid kongenital dan hipotiroid juvenile. Pada kasus ini,
hiportiroid yang diderita anak kedua adalah hipotiroid kongenital. Hipotiroid kongenital
adalah suatu kelainan bawaan bayi baru lahir dengan kadar hormon tiroid (T3, T4) yang
rendah. Hal ini dapat terjadi karena kelainan anatomi kelenjar tiroid, gangguan metabolisme
pembentukan hormon tiroid, atau kekurangan iodium (Kemenkes RI, 2014). Hormon tiroid
mempunyai peran yang sangat penting dalam berbagai proses metabolisme (protein,
karbohidrat,lemak) dan aktivitas biologik pada hampir semua organ tubuh manusia,
kekurangan hormon tiroid akan mengganggu berbagai proses metabolisme dan aktivitas
fisiologi serta mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan berbagai jaringan termasuk
sistem saraf dan otak. Hipotiroid kongenital menyebabkan bayi memiliki kelainan
neurologis, stunting atau masalah pertumbuhan dan kelainan atau kecacatan fisik.
Hipotiroid kongenital dapat menyebabkan stunting dan pertumbuhan gigi lambat karena
hormon tiroid menstimulasi metabolisme yang penting dalam pertumbuhan tulang, gigi dan
otak. Oleh karena itu, penyebab pertumbuhan gigi anak yang lambat pada kasus ini dapat
disebabkan oleh gangguan hormone tiroid. Pada individu dengan hipotiroid proses pergantian
tulang menjadi terlambat, baik proses pembentukan dan resorpsi tulang alveolar sehingga
menganggu proses erupsi gigi. (Menurut Almonaitieni, et al. (2010), terdapat bukti bahwa
malnutrisi kronik yang berkepanjangan pada awal masa kanak-kanak berhubungan dengan
keterlambatan erupsi gigi.
Jurnal Kesehatan Metro Sai Wawai Volume VIII No 2 Edisi Desember 2015 “ Hipotiroid
Kongenital” oleh Prasetyowati dan M. Ridwan

2. Jelaskan gambaran klinis stunting pada anak!


 Stunting adalah kondisi gagal tumbuh pada anak balita akibat dari kekurangan gizi kornis
sehingga anak terlalu pendek untuk seusianya. Stunting menggambarkan status gizi
kurang yang bersifat kronis pada masa pertumbuhan dan perkembangan sejak awal
kehidupan (dari kehamilan sampai usia 24 bulan). Indikator yang digunakan untuk
mengidentifikasi balita stunting adalah berdasarkan indeks tinggi badan menurut umur
(TB/U) menurut standar WHO Child Growth Standart. Penilaian status gizi berdasarkan
indikator panjang badan menurut umur (PB/U) atau tinggi badan menurut umur (TB/U)
di mana hasil pengukuran antropometri menunjukkan Z-Score <-2 SD sampai dengan -3
SD (pendek/stunted) dan <-3 SD (sangat pendek/severe stunted).
 Gambaran klinisnya, pertumbuhan gigi terlambat, penurunan kemampuan fokus dan
memori belajar, pertumbuhan melambat sehingga tumbuh terlihat pendek, wajah terlihat
lebih muda dari anak seusianya, pubertas terlambat, usia 8-10 tahun anak menjadi
pendiam, tidak banyak melakukan kontak mata, gangguan bicara, Anak yang menderita
stunting akan lebih rentan terhadap penyakit dan ketika dewasa berisiko untuk mengidap
penyakit degeneratif.
(J Kesehatan komunitas vol 2(6), Permasalahan anak pendek (stunting) dan intervensi
untuk mencegah terjadinya stunting)
3. Gigi apa sajakah yang seharusnya sudah tumbuh pada usia 3 tahun?
 Erupsi gigi susu pada anak mulai berlangsung pada usia enam bulan. Umumnya,
erupsi gigi susu diawali oleh gigi susu insisivus sentral mandibula. Pertumbuhan gigi
susu yang normal pada maksila maupun mandibula baik kanan maupun kiri, pada
anak umur 6-16 bulan adalah berjumlah 12 sampai 16 gigi susu yaitu gigi insisivus
sentral, insisivus lateral, kaninus, serta molar pertama. Sedangkan pada umur 16-30
bulan terdapat sekitar 4 sampai 8 gigi susu yang tumbuh yakni gigi kaninus dan molar
pertama. Gigi kaninus tumbuh sekitar umur 16-20 bulan sehingga dapat tumbuh
diantara umur 6-16 bulan atau 16-30 bulan. Pada umur 3 tahun , gigi susu anak akan
lengkap erupsi dan total gigi susu pada anak berjumlah 20.

 (AAPD (American Academy of Pediatric Dentistry). Dental Growth and Development.


https://aapd.org. (10 Mei 2020).
4. Jelaskan data apa saja yang mendukung faktor lokal!
 Pada kasus diatas, data – data yang mendukung faktor lokal adalah karies gigi 11 dan
21 pada anak pertama karena keluhannya hanya berada pada di rongga mulut.
Penyebab karies adalah adanya kumpulan mikroorganisme yang berkembang biak di
suatu matriks yang terbentuk dan melekat erat pada permukaan gigi yang tidak
dibersihkan. Pengalaman karies ini berhubungan dengan faktor sosial dan perilaku
orang tua karena kurang pengetahuan tentang kebersihan mulut. Kebiasaan memberi
makanan manis dan lengket, pemberian makanan dan minuman sebelum tidur malam,
pemberian susu (ASI atau formula) di malam hari, penambahan gula pada minuman
anak, kebiasaan orang tua memberikan makanan berserat, dan pemberian makanan
selingan diantara akan menghasilkan asam yang lebih banyak sehingga mempertinggi
risiko terkena karies gigi. Pada anak yang minum susu botol dalam waktu relatif lama
dan minum susu menjelang tidur umumnya sangat berisiko mengalami rampan karies.
Umumnya gigi yang terkena kerusakan adalah gigi pada rahang atas bagian depan
seperti pada kasus diatas karena pada saat tidur, gigi-gigi rahang bawah akan tertutup
oleh lidah sehingga genangan air susu akan lebih menyerang gigi atas.
 Selain itu, pengetahuan sang ibu berhubungan dengan risiko anak tersebut terkena
karies. Menurut penelitian, ibu dengan pendidikan yang rendah cenderung tidak
mementingkan dan acuh terhadap pelayanan kesehatan rongga mulut. Pengetahuan
sang ibu memiliki peranan besar dalam mengubah tingkah laku sang anak seperti jika
ibu tidak mengajarkan cara menyikat gigi dengan baik, maka sang anak pun tidak
akan tahu pentingnya menyikat gigi. Ini akan meningkatkan risiko anak terkena
karies.
 (Jurnal Berkala Epidemiologi, Vol. 2, No. 2 Mei 2014: 196–205 berjudul “ Faktor
yang berhubungan dengan karies gigi anak umur 4 – 6 tahun” oleh Nur Widayati)
5. Jelaskan data apa saja yang mendukung faktor sistemik?
 Pada kasus diatas data-data yang mendukung faktor sistemik adalah stunting dan
terlambatnya pertumbuhan gigi. Stunting umumnya disebabkan oleh kekurangan gizi
kronis / malnutrisi yang dapat menganggu pertumbuhan anak karena protein sangat
essensial dalam pertumbuhan dan tidak adanya salah satu asam amino menyebabkan
retardasi pertumbuhan, kematangan skeletal dan menghambat pubertas. Selain
stunting, atrofi lidah yang diderita anak pun dapat disebabkan oleh kurangnya nutrisi
yaitu vitamin B dan Fe.
 Selain malnutrisi, stunting juga dapat disebabkan oleh gangguan hormon yang
menandakan bahwa adanya gangguan pada sistem endokrinologi. Defisiensi growth
hormone dan tiroid dapat menyebabkan stunting. GH memiliki efek metabolik yang
merangsang aktivitas osteoklas dan osteoblas yang dapat berefek pada pertumbuhan
tulang.
 Hormon tiroid juga bermanfaat pada pertumbuhan linier setelah lahir. Hormon ini
menstimulasi metabolisme yang penting dalam pertumbuhan tulang, gigi dan otak .
Defisiensi hormone tiroid dapat menyebabkan keterlambatan mental dan perawakan
pendek. Selain itu, pertumbuhan gigi yang lambat juga dapat disebabkan oleh
hormone tiroid. Orang yang menderita hipotiroidisme memiliki proses pergantian
tulang yang lambat, baik proses pembentukan dan resorpsi tulang alveolar sehingga
dapat menganggu proses erupsi gigi
 (Media Gizi Indonesia, Vol. 10, No. 1 Januari–Juni 2015: hlm. 13–19 berjudul “
Faktor yang berhubungan dengan kejadian stunting pada balita” oleh Khoirun Ni’mah
dan Siti Rahayu Nadhiroh)
6. Pemeriksaan apa saja yang dilakukan dokter gigi untuk kasus tersebut?
 Pemeriksaan yang dilakukan adalah dapat dibagi menjadi tiga yaitu pemeriksaan
subjektif (anamnesis) , pemeriksaan objektif dan pemeriksaan penunjang.
A. Pemeriksaan subjektif atau anamnesis.
Anamnesis merupakan kumpulan informasi subjektif yang diperoleh dari apa yang
dipaparkan oleh pasien terkait dengan keluhan utama yang menyebabkan pasien
mengadakan kunjungkan ke dokter. Anamnesis diperoleh dari komunikasi aktif antara
dokter dan pasien atau keluarga pasien. Anamnesis meliputi :
a. identitas pasien
b. keluhan utama
c. riwayat dental
d. riwayat medis ( penyakit sistemik, obat-obatan)
e. riwayat keluarga
f. riwayat sosial
Pada kasus ini, dokter gigi harus melakukan alloanamnesis karena usia anak yang
masih kecil.
B. . Pemeriksaan objektif atau pemeriksaan klinis
Pemeriksaan klinis dibagi menjadi dua: pemeriksaan ekstraoral dan intraoral pasien.
i. Pemeriksaan Ekstraoral
Setiap kelainan ekstraoral yang nampak dicatat seperti penampilan umum : berat dan
besar, simetri wajah, bibir , circum oral, kelenjar limfe dan TMJ
ii. Pemeriksaan Intraoral
Pemeriksaan kondisi mukosa, gigi, gingiva , dan lidah.
C. . Pemeriksaan penunjang
Pemeriksaan penunjang membantu dokter gigi untuk memastikan diagnosa. Pada
kasus ini dapat dilakukan pemeriksaan penunjang seperti pemeriksaan radiologi untuk
melihat benih gigi yang belum tumbuh dan dapat dilakukan pemeriksaan laboratorum
untuk mengetahui apakah anak tersebut memiliki gangguan endokrinologi.
(Maulida S, Siska G, Oktiawati A. Faktor-faktor yang berhubungan dengan
kejadian karies gigi pada anak di TK Aisyiyah bunstanul atfal desa lebaksi lor.
Jurnal keperawatan anak. 2014;2(2):108-15).

7. Faktor apa sajakah yang dapat menyebabkan pertumbuhan gigi terlambat tumbuh?
 Faktor – faktor yang mempengaruhi keterlambatan erupsi gigi antara lain :
a. Genetik - Terdapat kelainan genetik tertentu yang dapat mempengaruhi erupsi gigi.
Kelainan genetik tersebut dapat dibagi menjadi kelainan pada pembentukan email
dan/atau kelainan pada pembentukan folikel email seperti amelogenesis imperfecta,
Hurler’s Syndrome, mucopolysaccharidosis VI dan kelainan pada aktivitas osteoclastik
seperti cleidocranial dysplasia, osteopetrosis.
b. Nutrisi - Kekurangan gizi kronis pada anak-anak dalam waktu yang lama dapat
menyebabkan erupsi gigi tertunda. Pertumbuhan dan perkembangan gigi dan mulut
dipengaruhi zat gizi. Tahap dini pertumbuhan gigi dipengaruhi oleh sejumlah faktor,
yaitu Ca, P, F, dan vitamin dalam diet. Peran protein dalam menunjang pertumbuhan
tubuh dan berbagai jaringan termasuk pertumbuhan jaringarn tulang seperti mandibula
sangat penting. Kekurangan protein atau yang biasa disebut defisiensi protein juga dapat
mempengaruhi dimensi panjang mandibular.
c. . Hormon - Gangguan kelenjar endokrin biasanya memiliki efek yang mendalam pada
tubuh, termasuk gigi. Pertumbuhan gigi yang cepat telah diteliti dan berkaitan dengan
sekresi androgen adrenal yang meningkat. Kekurangan hormone tiroid dapat
menyebabkan keterlambatan dalam pertumbuhan gigi anak karena pada individu dengan
hipotiroid proses pergantian tulang menjadi terlambat, baik proses pembentukan dan
resorpsi tulang alveolar sehingga menganggu proses erupsi gigi. (
d. Faktor Sosial-Ekonomi - keadaan sosioekonomi memiliki pengaruh pada erupsi gigi.
Anak-anak dengan latar belakang sosioekonomi yang lebih tinggi, kemunculan giginya
lebih cepat dibandingkan anak-anak dengan latar belakang sosioekonomi yang rendah.
Hal ini dikarenakan oleh anak yang memiliki latar belakang sosioekonomi lebih tinggi
mendapatkan pelayanan kesehatan dan nutrisi yang lebih baik sehingga mempengaruhi
perkembangan gigi yang terjadi lebih awal.
Pada kasus ini, faktor yang mempengaruhi lambatnya pertumbuhan gigi pada anak
tersebut adalah faktor nutrisi dan hormon.
(Novita I. Manifestasi hipertiroidisme dalam rongga mulut dan penanggulannya.
FKG USU.Medan.2002:9-14).
8. Manajemen dental apakah yang dilakukan oleh dokter gigi?
 Anak pertama : karies, dapat dilakukan perawatan. Perawatan yang dilakukan harus disesuaikan
dengan kondisi dan keluhan pasien anak. Dokter gigi dapat melakukan restorasi pada gigi 11 dan
21 yang berlubang. Setelah dilakukan restorasi, dokter gigi juga dapat memberikan edukasi pada
ibu anak dengan menggunakan kata sederhana apa yang menyebabkan gigi anak bisa berlubang,
bagaimana prosesnya, serta cara menghindarinya yaitu dengan menjaga agar oral hygiene anak
tetap dalam keadaan baik.
 Anak kedua :
a. Melakukan radiografi panoramik untuk melihat apakah terdapat benih gigi pada rahang.
b. Merujuk pasien ke dokter spesialis anak untuk menangani penyakit sistemiknya.
c. Menginstruksikan kepada ibu untuk menjaga kesehatan rongga mulut anak dengan cara
menyikat gigi dua kali sehari setelah sarapan dan sebelum tidur serta melakukan
pembersihan sela-sela gigi menggunakan benang gigi setidaknya sekali dalam sehari.
d. Perubahan pola makan untuk mengatasi permasalahan nutrisi yang dapat menjadi
penyebab terjadinya glossitis yang dapat menyebabkan lidah menjadi atrofi. Suplemen
juga dapat dikonsumsi apabila tubuh memerlukan tambahan nutrisi.
e. Penggunaan antibiotik, anti-virus, anti-jamur, ataupun obat-obatan lain yang sesuai
dengan penyebab terjadinya peradangan pada lidah.
(Fajrani, Handayani H. Penatalaksanaan early childhood caries. Dentofasial, 2011; 10(3):
179-183).