Anda di halaman 1dari 10

PEMICU 3

Nama Pemicu: Lidah yang terluka


Penyusun : Aida Fadhilla Darwis, drg.,MDSc; Irma Ervina, drg.,Sp.Perio (K) ; R.
Dwi Pujiastuti,dr.,M.Ked(Neu).,Sp.S
Hari/ Tanggal : Jumat / 17 April 2020
Jam: 07.30 – 09.30
Pasien laki-laki berusia 19 tahun datang ke praktek dokter gigi dengan keluhan luka pada lidah
yang sangat sakit sehingga pasien kesulitan dalam berbicara dan makan. Luka terjadi sejak 2
hari yang lalu dan belum dilakukan perawatan. Berdasarkan anamnesis kepada ibu pasien
diketahui luka tersebut terjadi karena tergigit saat serangan kejang 2 hari yang lalu. Kejang
bersifat menyeluruh, kaki menyentak-nyentak, berlangsung beberapa menit dan hilang
kesadaran, pasien sadar kembali setelah 1 jam kemudian dan tidak mengetahui apa yang baru
saja terjadi. Serangan kejang ini sering terjadi 2 tahun terakhir, frekuensi +/- 6 kali dalam 1
tahun. Pasien rutin mengonsumsi obat kejang fenitoin (Dilantin) dalam 1 tahun terakhir.
Pemeriksaan ekstra oral tidak ditemukan kelainan. Pemeriksaan intra oral diketahui bahwa
terdapat ulser dengan bentuk tidak beraturan diameter 1,5 cm, tepi tidak rata dikelilingi
eritematous dan pada bagian tengah ulser berwarna kuning kelabu pada lateral kanan lidah.
Seluruh gingiva terlihat membesar, warna normal, ketika dipalpasi konsistensi keras, terlihat
paling besar pada sisi labial interdental gigi- gigi anterior. Skor OHIS 2,3.

Produk :
Diskusikan kasus diatas dan buat laporan kelompok mengenai :
1. Apakah diagnosis dan jelaskan prosedur penegakkan diagnosis penyakit sistemik yang
diderita oleh pasien tersebut?
2. Bentuk kejang apakah yang baru saja dialami oleh pasien tersebut? Jelaskan
perbedaannya dengan bentuk kejang lainnya!
3. Apakah diagnosis dan jelaskan prosedur penegakkan diagnosis lesi pada lidah pasien
tersebut?
4. Jelaskan pertimbangan dental pada pasien dengan penyakit sistemik tersebut!
5. Jelaskan penatalaksanaan lesi pada lidah pasien tersebut!
6. Apakah diagnosis kelainan periodontal pada pasien tersebut?
7. Jelaskan pengaruh obat yang dikonsumsi pasien terhadap kelainan periodontal pasien
tersebut (Jelaskan patogenesisnya)!
8. Jelaskan penatalaksanaan kelainan periodontal pada pasien tersebut!
Jawaban:

1. Apakah diagnosis dan jelaskan prosedur penegakkan diagnosis penyakit sistemik


yang diderita oleh pasien tersebut?
 Diagnosis dari kasus di atas adalah epilepsi. Epilepsi merupakan penyakit saraf
yang ditandai dengan episode kejang berulang yang dapat disertai hilangnya kesadaran
penderita. Seperti pada kasus di atas, pasien kehilangan kesadaran selama satu jam dan
kejang ini sering terjadi. Tanda dan gejala epilepsi bervariasi. Gejala dan tanda epilepsi
yang didapat pada kasus di atas adalah kaki menyentak-nyentak, kehilangan kesadaran
dan amnesia atau tidak mengetahui apa yang baru terjadi dan mengigit-gigit lidah.
Diagnosis epilepsi didasarkan atas anamnesis, pemeriksaan klinis dan pemeriksaan
penunjang.
A.) Anamnesis
Anamnesis adalah langkah terpenting dalam menegakkan diagnosis epilepsi. Dalam
melakukan anamnesis, harus dilakukan secara cermat, rinci, dan menyeluruh karena
pemeriksa hampir tidak pernah menyaksikan serangan yang dialami penderita.
Anamnesis dapat memunculkan informasi tentang trauma kepala dengan kehilangan
kesadaran, ensefalitis, malformasi vaskuler, meningitis, gangguan metabolik dan
obat-obatan tertentu. Penjelasan dari pasien mengenai segala sesuatu yang terjadi
sebelum, selama, dan sesudah serangan (meliputi gejala dan lamanya serangan)
merupakan informasi yang sangat penting dan merupakan kunci diagnosis.
Anamnesis meliputi :
a. Pola / bentuk serangan
b. Lama serangan
c. Gejala sebelum, selama, dan sesudah serangan
d. Frekuensi serangan
e. Faktor pencetus
f. Ada / tidaknya penyakit lain yang diderita sekarang
g. Usia saat terjadinya serangan pertama
h. Riwayat penyakit, penyebab, dan terapi sebelumnya
i. Riwayat penyakit epilepsi dalam keluarga
B.) Pemeriksaan fisik umum dan neurologis
Pemeriksaan fisik harus menepis sebab-sebab terjadinya serangan dengan
menggunakan umur dan riwayat penyakit sebagai pegangan. Seperti dapat dilihat
adanya tanda-tanda dari gangguan yang berhubungan dengan epilepsi seperti trauma
kepala, gangguan kongenital, gangguan neurologik fokal atau difus, infeksi telinga
atau sinus.
C. ) Pemeriksaan penunjang
Ada dua pemeriksaan penunjang yang dapat dilakukan untuk membantu menegakkan
diagnosis epilepsy yaitu elektroensefalografi (EEG) dan pencitraan.
a. Elektroensefalografi (EEG)
Pemeriksaan EEG merupakan pemeriksaan penunjang yang paling sering
dilakukan dan harus dilakukan pada semua pasien epilepsi untuk menegakkan
diagnosis epilepsi. Terdapat dua bentuk kelaianan pada EEG. Kelainan fokal pada
EEG menunjukkan kemungkinan adanya lesi struktural di otak. Sedangkan
adanya kelainan umum pada EEG menunjukkan kemungkinan adanya kelainan
genetik atau metabolik.
b. Pencitraan
Pemeriksaan MRI kepala merupakan pencitraan pilihan terbaik pada epilepsi.
Pada keadaan fasilitas MRI tidak tersedia, pemeriksaan CT scan kepala tanpa atau
dengan kontras dapat dilakukan, meskipun memberikan hasil tidak sebaik MRI
kepala. Magnetic resonance imaging kepala dengan atau tanpa kontras dapat
menemukan etiologi epilepsi seperti neoplasma otak, ensefalitis autoimun, dan
leukomalasia serebral

2. Bentuk kejang apakah yang baru saja dialami oleh pasien tersebut? Jelaskan
perbedaannya dengan bentuk kejang lainnya!
 Kejang yang dialami pasien adalah tipe kejang umum tonik klonik atau grand
mal. Ciri-ciri dari kejang tonik klonik adalah kehilangannya kesadaran , menggigit lidah,
inkontinensia (tidak dapat menahan buang air kecil dan berlangsung lebih dari 5 menit.
Tipe kejang yang lain berupa kejang umum absence atau petit mal. Ciri –ciri dari kejang
ini adalah tidak responsif dalam waktu singkat dan durasi kejang biasanya lebih dari 30
detik. Ada juga kejang parsial sederhana yang memiliki ciri-ciri tidak kehilangan
kesadaran, gangguan motorik, sensoris atau otonomik, hanya terbatas pada bagian
tertentu, adanya kontraksi otot yang berdekatan pada sisi tubuh yang sama. Kejang
parsial kompleks memiliki ciri-ciri gerakan otomatis yang berulang, merasakan emosi
masa lalu, kebingungan, amnesia, hilang kesadaraan dan terkadang ada halusinasi
gustatori atau olfaktori.
(Sumber: Scully C. Scully’s medical problems in dentistry. 7 ed. Churchill:
Elsevier,2014:384.)
3. Apakah diagnosis dan jelaskan prosedur penegakkan diagnosis lesi pada lidah
pasien tersebut?
 Prosedur diagnosis dapat dilakukan dengan pemeriksaan subjektif atau anamnesis,
pemeriksaan objektif dan pemeriksaan penunjang.
a. Pemeriksaan subjektif atau anamnesis
Anamnesis merupakan kumpulan informasi subjektif yang diperoleh dari apa yang
dipaparkan oleh pasien terkait keluhan utamanya. Dokter gigi sebaiknya melakukan
anamnesis yang meliputi : Keluhan pasien, keluhan-keluhan gigi sebelumnya, riwayat
medis umum yang lalu dan sekarang, gaya hidup dan kebiasaan, riwayat keluarga,
status sosioekonomi dan pekerjaan .Tujuan dari anamnesis adalah untuk memulai
hubungan yang baik antar dokter dan pasien dan mendapatkan informasi yang cukup
untuk mendapatkan diagnosa sementara.
b. Pemeriksaan objektif
Pemeriksaan objektif meliputi pemeriksaan intra oral dan ekstra oral.
i. Pemeriksaan ekstraoral
Pemeriksaan ekstraoral merupakan pemeriksaan yang dilakukan di daerah
sekitar mulut bagian bibir. Meliputi bibir, bentuk wajah, TMJ, dan kelenjar
limfe.
ii. Pemeriksaan intraoral
Pemeriksaan intraoral meliputi pemeriksaan terhadap kebersihan mulut, gigi
geligi, gingiva, mukosa bukal dan labial, palatum durum dan molle, lidah dan
dasar mulut.
Jika terdapat lesi, maka kita harus mengidentifikasi tipe lesi, ukuran,jumlah,
bentuk, batas, warna, dan konsistensi
c. Pemeriksaan penunjang
Pemeriksaan penunjang membantu dokter gigi untuk memastikan diagnosa.
Pemeriksaan penunjang bisa berupa sitologi, biopsi maupun radiografi.
(Sumber: Soetjiningsih. Modul komunikasi oasien-dokter: suatu pendektan holistic.
Jakarta: EGC, 2008:46-7)
4. Jelaskan pertimbangan dental pada pasien dengan penyakit sistemik tersebut!
 Pertimbangan dental pada pasien epilepsi adalah sebagai berikut:
i. Pastikan pasien aman pada dosis terapi lokal dan tidak mengandung adrenalin
karena dapat memicu kejang
ii. Pada pasien epilepsi yang memilki manifestasi oral hiperplasia gingiva, bisa
dilakukan tindakan gingivektomi dengan prosedur elektrokauterisasi atau laser
juga bisa dengan instrument bedah.
iii. Jika terdapat gigi yang avulsi akibat kejang, maka pegang mahkotanya secara
hati-hati, simpan dalam susu atau didalam saliva pasien.
iv. Faktor-faktor seperti sakit gigi dan infeksi mulut, yang menyebabkan rasa sakit
dan membuat pasien tidak nyaman, dapat memicu kejang epilepsi. Dimungkinkan
untuk mengobati dan menghilangkan faktor-faktor ini selama penunjukan dokter
gigi secara berkala, sebelum komplikasi muncul
v. Pada perawatan restoratif, gunakan mahkota logam sementara, lebih dianjurkan
penggunaan implant dan bridge, gunakan rubber dam selama prosedur
berlangsung.
vi. Perawtan ortodonti cekat lebih dianjurkan kepada pasien daripada lepasan
vii. Jika ingin membuat gigi tiruan, disarankan gigi tiruan cekat. Hal ini disebabkan
oleh pengunaan gigi tiruan lepas dapat tertelan dan menghambat jalannya nafas
jika kejang terjadi.
viii. Saat meresepkan obat kepada pasien epilepsy, interaksi obat yang akan diberikan
dan obat epilepsy pasien harus dipertimbangkan. Metronidazole, obat anti-jamur
seperti fluconazole dan antibiotik seperti erythromycin bisa menghambat
metabolisme obat antiepileptik.
(Sumber: Mehmet y, Senem O Sulun T dan Humeyra K, Management of
Epileptic Patients in Dentistry, Surgical Science 2012;Vol 3(1):47-5
Peter LJ, Oleksandara E. Epilepsy and the dental management of the epileptic
patient. J Contemp Dent Pract 2008; 9(1):10-1.)
5. Jelaskan penatalaksanaan lesi pada lidah pasien tersebut!
 Terapi traumatik ulser berupa terapi kausatif dengan menghilangkan faktor
etiologi atau penyebab (trauma). Terapi simptomatik pasien dengan traumatik ulser yaitu
dengan pemberian obat kumur antiseptik seperti khlorheksidin 0.2% dengan analgesik
dan biasa dengan topikal anatesi. Terapi paliatif pada pasien ini dapat dilakukan dengan
pemberian antibiotik. Terapi suportif dapat berupa dengan mengkonsumsi makanan
lunak. Jika lesi benar-benar trauma, maka ulser akan sembuh dalam waktu 7-10 hari.
Pada pasien di atas, etiologi dari ulser tersebut adalah mengigit lidah saat kejang. Oleh
karena itu, untuk mencegah lesi menjadi lebih parah saat proses penyembuhan karena
serangan kejang bisa datang kapan saja, maka pasien dianjurkan menggunkan
mouthgard. Mouthgard juga dapat mencegah kambuhnya lesi tersebut.
https://www.dentistryiq.com/dental-hygiene/clinical-hygiene/article/16363654/nocturnal-
epileptic-seizures-and-their-oral-complications
6. Apakah diagnosis kelainan periodontal pada pasien tersebut?
 Diagnosis pasien tersebut adalah gingival enlargement atau pembesaran gingiva
atau hyperplasia gingiva. Pembesaran gingiva atau yang sering dikenal dengan istilah
gingiva enlargement adalah jaringan gusi membesar secara berlebihan di antara gigi dan
atau pada daerah leher gigi. Etiologi dari gingival enlargement dapat dibagi menjadi dua
yaitu faktor lokal dan faktor sistemik. Faktor lokal meliputi kesehatan mulut yang buruk,
malposisi gigi, trauma oklusi dan lain-lain. Faktor sistemik meliputi kelainan hormonal,
malnutrisi dan obat-obatan. Klasifikasi gingival enlargement dapat dibagi menjadi 5 yaitu
enlargement karena inflmasi, enlargement karena obat-obatan, enlargement yang
berkaitan dengan penyakit sistemik, enlargement neoplastic dan false enlargement.
Pada kasus ini, gingival enlargement yang diderita pasien termasuk dalam
klasifikasi gingival enlargement karena obat-obatan . Obat yang diminum oleh pasien
untuk mengatasi epilepsy yang dideritanya yaitu fenitoin (dilantin) dapat memicu
pembesaran gingiva. Gambaran klinis dari pembesaran gingiva karena obat-obatan adalah
pembesaran papilla interdental yang diikuti dengan pembentukan lobul-lobul yang
meluas kearah labial, warna merah muda, dan berkonsistensi keras. Gambaran klinis
tersebut sama dengan gambaran klinis pada pasien di atas.
Skor pembesaran gingiva:
0 : Tidak ada pembesaran gingiva
1 : Pembesaran gingiva terjadi pada papilla interdental.
2 : Pembesaran gingiva meliputi papilla interdental dan tepi gingiva
3 : Pembesaran gingiva menutupi ¾ mahkota gigi atau lebih.
( Sumber: Takei N, Carranza K. Carranza’s clinical periodontology. 12th ed. California:
Elsevier Saunders. 2015: 234.)
7. Jelaskan pengaruh obat yang dikonsumsi pasien terhadap kelainan periodontal
pasien tersebut (Jelaskan patogenesisnya)!
 Fenitoin merupakan calcium chanel blocker (CCB) yang banyak diresepkan untuk
pengobatan epilepsi umum maupun parsial. Fenitoin juga merupakan terapi lini pertama
untuk pengobatan epilepsi karena sifatnya yang amat potensial dan ekonomis.
Fenitoin sebagai pemblokir kanal kalsium memiliki kemampuan untuk
mempengaruhi metabolisme kalsium. Pemblokir kanal kalsium memiliki pengaruh
terhadap influx kalsium, dan fenitoin dapat menstabilkan membrane-membran neuronal
dengan cara mempengaruhi aliran Ca dan Na dan mengurangi penyerapan kalsium
intraselular. Pemblokir kanal kalsium memiliki kemampuan untuk menghambat
proliferasi sel T yang tergantung interleukin-2 dengan cara mencegah perubahan
penyerapan intraselular ion-ion kalsium. Pengurangan kalsium sitosolik bebas ini bisa
menganggu resorpsi kolagen dengan cara menganggu proliferasi sel T dan sintesis
kolagenase pada fibroblast sehingga gangguan homeostasis kolagen bisa secara
signifikan mempengaruhi perkembangan drug induced gingiva hyperplasia.
(Sumber: Utomo TY, Husni A, Hanum F. Pemberian fenitoin oral dan timbulnya
hiperplasia gingiva pada pasien epilepsi. M Med Indonesia 2011; 45(3):200-205.)
8. Jelaskan penatalaksanaan kelainan periodontal pada pasien tersebut!
 Perawatan dari pembesaran gingiva karena pengaruh obat-obatan harus
didasarkan pada obat yang digunakan dan sifat klinis dari kasus tersebut. Pertama, perlu
dipertimbangkan mengenai kemungkinan pemberhentian pemberian obat atau mengganti
medikasi. Kemungkinan ini harus dipertimbangkan bersama dengan dokter yang
menangani epilepsi pasien tersebut. Hanya dengan pemberhentian pemberian obat yang
menjadi penyebab biasanya tidak praktis, tetapi substitusi dengan medikasi lain mungkin
menjadi pilihan. Jika substitusi dengan medikasi lain dilakukan, diperlukan untuk
memberikan jangka waktu 6 sampai 12 bulan antara pemberhentian obat yang menjadi
penyebab dan kemungkinan pemulihan dari pembesaran gingiva sebelum keputusan
untuk melaksanakan perawatan pembedahan dibuat. Medikasi lain dari antikonvulsan
fenitoin termasuk karbamazepin dan asam valproat, yang mana keduanya dilaporkan
menyebabkan pembesaran gingiva dalam derajat yang lebih rendah.
Perawatan penyakit periodontal terdiri dari 5 fase yaitu fase perawatan
periodontitis yaitu fase emerjensi atau preliminary, fase satu atau etiotropik, fase kedua
atau fase bedah, fase ketiga atau restoratif dan yang terakhir fase keempat atau fase
pemeliharaan. Pada kasus ini, fase yang akan dilakukan adalah fase satu atau fase
etiotropik yang meliputi skeling dan root planing dan kontrol plak untung menghilangkan
plak dan kalkulus. OH yang baik dan pembersihan plak secara teratur dapat
meminimalkan pembesaran gingiva. Setelah fase pertama, dilakukan evaluasi terlebih
dahulu setelah pergantian obat dan dilakukannya skeling dan root planing. Jika
pembesaran gingiva mengurang atau membaik, maka fase selanjutnya adalah fase
keempat yaitu fase pemeliharaan. Pada fase ini, pasien harus rajin kontrol ke dokter gigi
untuk mencegah kambuhnya penyakit periodontal.
Namun, jika kondisi gingiva pasien tidak kunjung membaik, maka fase
selanjutnya adalah fase kedua yaitu fase bedah. Pada fase ini dapat dilakukan bedah
gingiva yaitu gingivektomi atau dengan teknik flap.
(Sumber: Greenberg MS. Glick M. Burket’s oral medicine diagnosis and treatment.
10th ed. Ontario: BC Decker Inc , 2003 : 603-4.
Utomo TY, Husni A, Hanum F. Pemberian fenitoin oral dan timbulnya hiperplasia
gingiva pada pasien epilepsy. M Med Indonesia 2011; 45(3):200-205.)