Anda di halaman 1dari 11

PEMICU 1

BLOK 14

“Deni Pingsan”

Disusun Oleh:

Steela Anggriani
180600189

Fasilitator:

Abdullah Oes, drg

FAKULTAS KEDOKTERAN GIGI

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

2020
Nama Pemicu : Deni pingsan
Penyusun :Ahyar Riza,drg.,Sp.BM, dr. Desire,Sp.B , dr. Wulan Fadinie, M.Ked(An).,Sp.An.
Tanggal : Rabu / 27 Mei 2020
Waktu :
Kasus :
Pasien laki-laki berusia 20 tahun datang ke RSGMP USU dengan keluhan nyeri gigi geraham
belakang kiri. Pada pemeriksaan intraoral ditemukan gigi 36 karies profunda pulpa terbuka yang
didiagnosis pulpitis. Sesaat setelah pemberian anestesi lokal, pasien merasa tingling,
mengeluhkan gatal, bibir dan lidah terasa bengkak, sesak, suara serak kemudian terjatuh dari
dental unit. Lalu pasien ditidurkan dan dilakukan pemeriksaan fisik dan hemodinamik ditemukan
tekanan darah 90/60 mmHg, Nadi 120 x/menit, pernafasan 34x/menit, akral pucat dan basah
serta pasien tampak seperti orang kebingungan.
More Info :
Setelah pasien sadar ditemukan luka di lengan kanan bawah dengan ukuran 5x1x1,5 cm dasar
otot dan ditemukan rembesan darah dari luka tersebut.
Pertanyaan :
1. Jelaskan tindakan awal pada kasus diatas? (Anestesi)
2. Jelaskan tanda-tanda adanya sumbatan jalan nafas dan penatalaksanaanya ? (Anestesi)
3. Tentukan diagnosa pada kasus diatas! (Anestesi, BU, BM)
4. Jelaskam prosedur yang harus dilakukan pada luka di tangan tersebut?(BU)
5. Jelaskan perawatan post Op pada tangan pasien tersebut? (BU)
6. Jelaskan prosedur kerja yang harus dilakukan pada kondisi oral diatas? (BM)
7. Jelaskan perawatan post op serta instruksi pada pasien tersebut! (BM)
JAWABAN:

1. Jelaskan tindakan awal pada kasus diatas? (Anestesi)


- Tindakan pertama yang paling penting dilakukan menghadapi pasien dengan syok
anafilaktik adalah mengidentifikasi dan menghentikan kontak dengan alergen yang
diduga menyebabkan reaksi anafilaksis. Pada kasus ini, allergen yang memicu reaksi
anafilaksis adalah anestesi lokal. Segera baringkan penderita pada alas yang keras.
Kaki diangkat lebih tinggi dari kepala untuk meningkatkan aliran darah balik vena,
dalam usaha memperbaiki curah jantung dan menaikkan tekanan darah. Selanjutnya
dilakukan penilaian airway, breathing dan circulation. Airway, penilaian jalan napas.
Jalan napas harus dijaga teap bebas agar tidak ada sumbatan sama sekali. Untuk
penderita yang tidak sadar, posisi kepala dan leher diatur agar lidah tidak jatuh ke
belakang menutupi jalan napas, yaitu dengan melakukan triple airway maneuver
yaitu ekstensi kepala, tarik mandibula ke depan, dan buka mulut. Penderita dengan
sumbatan jalan napas total, harus segera ditolong dengan lebih aktif, melalui intubasi.
Breathing support, segera memberikan bantuan napas buatan bila tidak ada tanda-
tanda bernapas spontan, baik melalui mulut ke mulut atau mulut ke hidung. Penderita
yang mengalami sumbatan jalan napas parsial, selain ditolong dengan obatobatan,
juga harus diberikan bantuan napas dan oksigen 5-10 liter/menit. Circulation support,
yaitu bila tidak teraba nadi pada arteri besar (a. karotis atau a. femoralis), segera
lakukan kompresi jantung luar. Segera cari bantuan atau telepon ambulans dan
dokter spesialis THT ( jika diperlukan suatu intubasi/ tracheostomy)/ Obat pilihan
pertama untuk mengobati syok anafilaktik adalah adrenalin. Obat ini berpengaruh
untuk meningkatkan tekanan darah, menyempitkan pembuluh darah, melebarkan
bronkus dan meningkatkan aktivitas otot jantung. Adrenalin bekerja pda reseptor
adrenergik di seluruh tubuh sehingga mempunyai kemampuan memperbaiki
kontraktilitas otot jantung, tonus pembuluh darah perifer dan otot polos bronkus.
Adrenalin selalu akan dapat menimbulkan vasokonstriksi pembuluh darah arteri dan
memicu denyut dan kontraksi jantung sehingga menimbulkan tekanan darah naik
seketika dan berakhir dalam waktu pendek. Cara pemberian adrenalin secara
intramuskuler pada lengan atas atau paha merupakan pilihan pertama pada
penatalaksanaan syok anafilaktik. Adrenalin memiliki onset yang cepat setelah
pemberian intramuskuler. Pada pasien dalam keadaan syok, absorbsi intramuskuler
lebih cepat dan lebih baik dari pada pemberian subkutan. Berikan 0.5 ml larutan
1:1000 (0.3-0.5 mg) untuk orang dewasa. Dosis diatas dapat diulang beberapa kali
tiap 5-15 menit, sampai tekanan darah dan nadi menunjukkan perbaikan.
(Sumber : Vitria EE. Penatalaksanaan kegawat daruratan di tempat prakter gigi.
Indonesian Journal of Dentistry 2006; Edisi Khusus KPPIKG XIV: 169-173.)
2. Jelaskan tanda-tanda adanya sumbatan jalan nafas dan penatalaksanaanya?
(Anestesi)
- Beberapa gejala umum terjadi pada penyumbatan saluran napas antara lain:
 Agitasi atau gelisah
 Warna kebiru-biruan pada kulit (sianosis)
 Perubahan kesadaran (kehilangan kesadaran)
 Tersedak
 Kebingungan (linglung)
 Kesulitan bernafas (bernafas terengah-engah)
 Wheezing atau suara pernapasan tidak biasa lainnya yang menunjukkan
kesulitan bernapas
- Tanda penyumbatan saluran napas yang dialami pasien adalah sesak, suara serak,
serta kebingungan. Respiratory rate pasien (pernafasan) bernilai 34x/ menit juga
menandakan pasien kesulitan dalam bernafas, sebab nilai RR normal pada orang
dewasa adalah 12-16x/ menit.
- Tahapan untuk mengembalikan jalan napas agar kembali normal dapat dilakukan
dengan melakukan ABC:
1) Airway (membuka jalan napas)
Jalan napas harus dijaga tetap bebas, tidak ada sumbatan sama sekali. Tindakan
manual yang dilakukan untuk melapangkan atau membuka jalan napas pada
pasien non trauma adalah maneuver chin lift ( tindakan mengangkat dagu) ,
maneuver jaw thrust ( tindakan mengangkat sudut rahang bawah), maneuver head
tilt (tindakan menekan dahi). Letakkan pasien pada posisi terlentang pada alas
keras. Jika kemungkinan terdapat trauma pada pasien, tindakan hanya dilakukan
gerakan terbatas seperti chin lift dan jaw thrust. Tindakan dilakukan dengan
immobilisasi manual agar kepala tidak bergerak atau pasang bidai leher. Tindakan
untuk membuka jalan napas dengan bantuan alat adalah dengan pemasangan pipi
orofaring atau nasofaring.
2) Breathing support
Dilakukan dengan memberikan bantuan napas buatan bila tidak ada tanda-tanda
pernapasan, baik melalui mulut ke mulut atau mulut ke hidung. Pada syok
anafilaktik yang disertai udem laring, dapat mengakibatkan terjadinya obstruksi
jalan napas total atau parsial. Penderita yang mengalami sumbatan jalan napas
parsial, selain ditolong dengan obat-obatan, juga harus diberikan bantuan napas
dan oksigen. Penderita dengan sumbatan jalan napas total, harus segera ditolong
dengan lebih aktif, melalui intubasi endotrakea, krikotirotomi, atau trakeotomi.
3) Circulation support
Dilakukan apabila tidak teraba nadi pada arteri besar (a. karotis, atau a.
femoralis). Kompresi jantung dari luar segera dilakukan.
(Sumber: Fitria CN. Syok dan Penanganannya. GASTER. 2010; 7(2): 598-9.)
3. Tentukan diagnosa pada kasus diatas! (Anestesi, BU, BM)
- Pada kasus ini, pasien menderita syok anafilaktik. Syok anafilaktik adalah suatu
keadaan yang dipicu oleh respon hipersensitivitas generalisata yang diperantai oleh
IgE yang menyebabkan vasodilatasi sistemik dan peningkatan permeabilitas vascular.
Gejala dapat terjadi pada satu atau lebih organ target, antara lain kardiovaskuler,
respirasi, gastrointestinal, kulit, mata, susunan saraf pusat dan sistem saluran kencing.
Keluhan yang sering dijumpai adalah perih dalam mulut, gatal pada mata dan kulit,
panas dan kesemutan pada tungkai, sesak, suara serak, mual, pusing, lemas dan sakit
perut. Pada kulit terdapat eritema, odema, gatal, dan kulit terasa hangat/dingin dan
basah/lembab. Pada sistem respirasi, terjadi hiperventilasi, penurunan saturasi
oksigen, dan gagal nafas. Keadaan bingung dan gelisah diikuti oleh penurunan
kesadaran sampai terjadi koma merupakan gangguan sistem saraf pusat. Pada sistem
kardiovaskuler terjadi hipotensi, takikardia, pucat, keringat dingin, dan tanda – tanda
iskemia otot jantung/ angina. Pada kasus di atas, setelah diberikan anestesi lokal,
pasien mengeluhkan gatal, bibir dan lidah bengkak, sesak, suara serak, lalu terjatuh
dari dental unit. Keluhan pasien tersebut biasanya dijumpai pada pasien yang
menderita syok anafilaksis. Selain itu, setelah diberikan pemeriksaan fisik dan
hemodinamik, ditemukan tekanan darah 90/60 mmHg yang menandakan hipotensi,
nadi 120x/ menit yang menandakan takikardia, dan pernafasan 34x/menit yang
menandakan hiperventilasi. Pasien juga merasa kebingungan yang menandakan
adanya gangguan pada sistem saraf pusat. Keluhan pasien pada kasus di atas cocok
dengan tanda dan gejala syok anafilaktik. Anestesi lokal yang diberikan kepada
pasien memicu terjadinya reaksi hipersensitivitas yang mengakibatkan syok
anafilaktik pada pasien tersebut.
- Diagnosis untuk keluhan nyeri gigi geraham belakang kiri pasien adalah pulpitis
dimana ditemukan gigi 36 karies profunda pulpa terbuka. Jenis pulpitis yang dialami
pasien adalah pupitis ireversibel yang dilihat dari kerusakan pulpa yang parah.
Pulpitis ireversibel adalah suatu keadaan klinis yang berdasarkan pemeriksaan
subjektif dan objektif mengindikasikan suatu inflamasi yang parah pada jaringan
pulpa yang menetap sekalipun penyebabnya dihilangkan. Jenis pulpitis ini ditandai
dengan nyeri akut dengan gejala nyeri spontan mulai dari beberapa detik hingga
beberapa jam serta rasa sakit yang dapat timbul oleh aplikasi panas atau dingin.
- Diagnosis untuk luka yang ditemukan pada lengan kanan bawah pasien adalah vulnus
laceratum. Vulnus laceratum adalah luka yang terjadi akibat kekerasan benda tumpul
yang kuat sehingga melampaui elastisitas kulit atau otot. Bentuk luka tidak beraturan,
tepi tidak rata dan kadang tampak luka lecet atau hematoma di sekitar luka. Pada
kasus di atas, luka pada lengan kanan bawah pasien berukuran 5x1x1.5cm dasar otot
dan ditemukannya rembesan darah dari luka tersebut. Gambaran klinis tersebut
menunjukkan bahwa luka pasien adalah vulnus laceratum dari kedalaman luka yang
sampai dasar otot. Vulnus laceratum yang didapat pasien disebabkan oleh terjatuhnya
pasien dari dental unit dan terbentur di lantai
- (Sumber: Ningsih DK. Penatalaksanaan Kegawatdaruratan Syok dengan Pendekatan
Proses Keperawatan. Malang: UB Press, 2015: 83-4.
- Zuhan A, Rahman H, Januarman. Profil Penanganan Luka pada Pasien Trauma di
Instalasi Gawat Darurat Rumah Sakit Umum Provinsi Nusa Tenggara Barat. Jurnal
Kedokteran 2016; 5(3): 23.
- Santa M, Trilaksana AC. Penanganan kedaruratan endodontik pada pulpitis
ireversibel (Emergency endodontic treatment of irreversible pulpitis). Makassar Dent
J 2015; 4(5): 172-3.)

4. Jelaskam prosedur yang harus dilakukan pada luka di tangan tersebut?(BU)


- Dalam manajemen perawatan luka ada beberapa tahap yang dilakukan yaitu evaluasi
luka, tindakan antiseptik, pembersihan luka, penjahitan luka, penutupan luka,
pembalutan, pemberian antiboitik dan pengangkatan jahitan.
a. Evaluasi luka
meliputi anamnesis dan pemeriksaan fisik (lokasi dan eksplorasi).
b. Tindakan Antiseptik
Prinsipnya untuk mensucihamakan kulit. Tujuan untuk melakukan pencucian /
pembersihan luka biasanya digunakan cairan atau larutan antiseptik.
c. Pembersihan Luka
Tujuan dilakukannya pembersihan luka adalah meningkatkan, memperbaiki dan
mempercepat proses penyembuhan luka serta menghindari terjadinya infeksi.
Beberapa langkah yang harus diperhatikan dalam pembersihan luka yaitu :
1) Irigasi dengan sebanyak-banyaknya dengan tujuan untuk membuang jaringan
mati dan benda asing
2) Hilangkan semua benda asing dan eksisi semua jaringan mati.
3) Berikan antiseptik.
4) Bila diperlukan tindakan ini dapat dilakukan dengan pemberian anastesi lokal.
5) Bila perlu lakukan penutupan luka.
d. Penjahitan luka
Luka bersih dan diyakini tidak mengalami infeksi serta berumur kurang dari 8 jam
boleh dijahit primer, sedangkan luka yang terkontaminasi berat dan atau tidak
berbatas tegas sebaiknya dibiarkan sembuh.
e. Penutupan luka
Penutupan luka adalah mengupayakan kondisi lingkungan yang baik pada luka
sehingga proses penyembuhan berlangsung optimal.
f. Pembalutan
Pertimbangan dalam menutup dan membalut luka sangat tergantung pada penilaian
kondisi luka. Pembalutan berfungsi sebagai pelindung terhadap penguapan, infeksi,
mengupayakan lingkungan yang baik bagi luka dalam proses penyembuhan, sebagai
fiksasi dan efek penekanan yang mencegah berkumpulnya rembesan darah yang
menyebabkan hematom.
g. Pemberian Antibiotik
Prinsipnya pada luka bersih tidak perlu diberikan antibiotik dan pada luka
terkontaminasi atau kotor maka perlu diberikan antibiotik.
h. Pengangkatan Jahitan
Jahitan diangkat bila fungsinya sudah tidak diperlukan lagi. Waktu pengangkatan
jahitan tergantung dari berbagai faktor seperti, lokasi, jenis pengangkatan luka, usia,
kesehatan, sikap penderita dan adanya infeksi.
(Sumber: Suryadi IA, Asmarajaya AAGN, Maliawan S. Proses penyembuhan dan
penanganan luka. J Medika Udayana. 2013; 2(2): 13-4.)
5. Jelaskan perawatan post Op pada tangan pasien tersebut? (BU)
- Perawatan post operasi pada tangan pasien yaitu:
a. Memberi edukasi kepada pasien agar luka dijaga tetap bersih dan kering.
b. Pada luka di ujung-ujung ekstremitas, mintalah pasien untuk melakukan elevasi kaki
dan tangan secara berkala untuk mengurangi oedema jaringan, sehingga membantu
penyembuhan luka.
c. Mengganti balutan dengan cara melepas balutan, membersihkan luka, mengaplikasikan
obat-obat topical, dan memasang perban baru.
d. Jahitan diangkat setelah 5-7 hari (luka di wajah), 10-14 hari (luka di tangan atau di
tempat-tempat lain dengan regangan tinggi, misalnya di atas persendian) atau 7-10 hari
(di tempat lain). Pada kasus, luka ditangan : 10-14 hari.
e. Instruksikan pasien untuk datang kembali jika terlihat tanda-tanda infeksi lokal pada
luka.
f. Melakukan Re-assessment luka. Saat pasien datang kembali kepada dokter, dokter
harus melakukan re-assessment luka untuk memastikan manajemen luka yang diberikan
efektif dalam membantu penyembuhan luka, dengan cara:
• Menilai status kesehatan pasien secara umum. Memastikan status kesehatan tetap
optimal untuk penyembuhan luka.
• Memastikan vaskularisasi ke area luka tetap baik.
• Memeriksa perubahan ukuran luka.
• Mengamati perubahan pada luka (dasar luka, tepi luka, jaringan di sekitar luka).
• Mengamati produksi discharge (berkurang atau bertambah).
• Menilai apakah manajemen yang diberikan masih efektif untuk penyembuhan luka.
• Mendokumentasikan perubahan yang terjadi tiap kali penggantian balutan.
(Sumber: Ariningrum D, Subandono J. Buku Pedoman Keterampilan Klinis Manajemen
Luka. Surakarta: FK UNS. 2018; 37-44.)
6. Jelaskan prosedur kerja yang harus dilakukan pada kondisi oral diatas? (BM)
- Pada gigi 36 yang didiagnosis pulpitis, prosedur kerja yang akan dilakukan adalah
ekstraksi gigi. Prosedur ekstraksi gigi 36 sebagai berikut:
1. Posisi pasien di dental chair, untuk ekstraksi gigi mandibula, pasien lebih baik
berada pada posisi lebih tegak. Oklusal plane pararel dengan lantai. Ketinggian dental
chair seharus nya lebih rendah daripada ekstraksi gigi maksila.
2. Posisi operator, untuk gigi posterior mandibula posisi dokter gigi berada di depan
atau belakang dari kanan pasien (atau dari kiri untuk operator yang kidal). 
3. Pemberian informed consent untuk pencabutan gigi posterior mandibula,untuk
menyampaikan informasi atau penjelasan kepada pasien/keluarga diminta atau tidak
diminta oleh pasien. Berisi tentang penjelasan lengkap prosedur yang dilakukan
tindakan medis, gambaran tindakan medis, penjelasan resiko yang dapat terjadi,
tindakan medis apa yang dilakukan serta akibat jika tindakan medis tersebut tidak
dilakukan Bentuk informed consent yaitu written consent atau secara tertulis dengan
pasien atau orang lain yang berhak menandatangani sebuah formulir informed
consent. Biasanya digunakan untuk tindakan medis risiko tinggi seperti pembedahan
atau tindakan invasif. 
4. Pemberian anastesi lokal blok mandibula, pada bagian mandibula posterior yaitu
syaraf alveolaris inferior merupakan cabang terbesar mandibula. Daerah yang
dianastesi adalah jaringan lunak dan periosteum bagian bukal sampai gigi molar
mandibula. Anastesi ini sering digunakan pada perawatan yang melibatkan daerah
gigi molar. Indikasi Inferior Alveolar Nervus Block dengan metode indirect IANB
(Fischer) adalah untuk prosedur pencabutan beberapa gigi mandibula yang
melibatkan jaringan lunak bagian bukal anterior sampai molar satu serta jaringan
lunak bagian lingual. Dengan jarum 25 gauge untuk pasien dewasa sekitar 42 mm
dengan bahan anastetikum golongan lidokain ditambah dengan adrenalin merupakan
gold standard untuk tindakan anastesi lokal. 
5. Persiapan operator dan pasien, operator menggunakan masker bedah, handscoon
bedah untuk mencegah transmisi infeksi kepada pasien atau kepada diri sendiri.
Pasien menggunakan handuk steril disposable yang dijepitkan dan diletakkan di dada
pasien serta kebersihan mulut pasien. 
6. Instrumen untuk pemisahan gigi dari jaringan lunak yang mengelilingi gigi, dengan
dua instrument yang diperlukan yaitu curved desmotomes (untuk gigi posterior
maksilla dan semua gigi mandibula).  
7. Instrumen nya adalah tang cabut jenis lower permanent molar forceps, untuk
ekstraksi gigi permanen mandibular dan dapat digunakan mandibular sebelah kiri atau
kanan
8. Jika anastesi sudah bereaksi maka dilakukan ekstraksi. Untuk mengekstraksi gigi
36, dilakukan gerakan luksasi dari arah bukal ke labial lalu lakukan gerakan round &
round yang menyerupai angka delapan. Setelah itu, lakukan ekstraksi. Ibu jari di
fiksasi pada tulang alveolar lingual. Jari telujuk difiksasi pada labial/bukal dan 3 jari
lainnya difiksasi pada basis mandibula. Apabila gigi sudah tercabut maka periksa
sokter untuk memastikan tidak ada sisa gigi/ fragmen tulang. Kemudian kompres
soket, lalu instruksikan pasien untuk mengigit tampon kurang lebih 30 menit s/d 1
jam.
(Sumber: Peterson, L.J. Contemporary Oral and Maxillofacial Surgery, 4th ed.
Amsterdam Elsevier Science. 2002. Ch.7)
7. Jelaskan perawatan post op serta instruksi pada pasien tersebut! (BM)
- Perawatan post operative dan instruksi pada pasien:
a. Mengontrol perdarahan dengan meletakkan kasa lembab di atas socket. Pasien
diinstruksikan menggigit kain kasa yang ditempatkan pada socket selama 30 – 45 menit
dan tidak mengunyahnya untuk membantu menghentikan perdarahan. Informasikan
kepada pasien bahwa lokasi ekstraksi bisa mengalmai sedikit perdarahan sampai 24 jam
pertama setelah pencabutan. Jika perdarahan cukup banyak, pasien diinstruksikan
kembali meletakkan kasa pada soket selama 1 jam.
b. Manajemen nyeri dengan meresepkan analgesic (ibuprofen 400 mg) pada 45 menit
setelah pencabutan gigi untuk mencegah atau mengurangi rasa nyeri.
c. Menjaga higienitas dengan berkumur cairan saline hangat setelah 24 jam pasca
pencabutan gigi, tetapi tidak terlalu sering atau terlalu banyak karena kan mengganggu
terjadinya jendalan darah. Berkumur-kumur cairan tersebut sangat berguna terutama bila
dilakukan segera setelah makan dan sebelum tidur.
d. Pasien diinstruksikan agar tidak kumur-kumur terlalu kuat, berolahraga berat,
memberikan rangsangan atau makan minum yang sangat panas sepanjang hari setelah
pencabutan untuk mengurangi risiko perdarahan setelah pencabutan.
e. Instruksikan pasien untuk menyikat gigi secara perlahan dan menghindari daerah yang
dekat dengan lokasi pencabutan. Dental floss dapat dilakukan seperti biasa.
f. Apabila terjadi pembengkakan pasca pencabutan, pasien dapat diberikan ice pack untuk
mengompres pada wajah secara intermiten pada hari pertama agar meminimalisasi edema
dan ketidaknyamanan. Kompres diletakkan selama 20 menit dengan selang waktu 12 –
24 jam.
g. Pada 24 jam pertama, diet yang baik adalah makanan yanh lunak/lembut yang tinggi
kalori dan dingin serta mengunyah pada sisi yang berlawanan dengan tempat pencabutan
gigi.
(Sumber: Hupp JR, Ellis E, Tucker MR. Contemporary oral & maxillofacial surgery. 7th
ed. Philadelphia: Elsevier; 2019: 185-8.)