Anda di halaman 1dari 14

PEMICU 2

BLOK 14
“Pak Andi Sakit Gigi”

Disusun Oleh:
Steela Anggriani
180600189

Fasilitator:
Ahyar Riza, drg., Sp. BM(K)

FAKULTAS KEDOKTERAN GIGI


UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
2020
Pemicu 2
Nama Pemicu: Pak Andi sakit gigi
Penyusun: drg. Abdullah Oes, drg.Hendry Rusdy.,Sp.BM,., M.Kes, dr. Katherine,
M.Ked(PD), Sp.PD
Hari/ Tanggal:
Waktu :
Kasus :
Seorang laki-laki berusia 59 tahun datang ke RSGM keluhan nyeri pada geraham
pertama kanan rahang atas sejak 2 minggu yang lalu. Anamnesis ditemukan rasa nyeri
bila bersentuhan dengan makanan atau pada saat menggigit dan mengunyah makanan.
Pada pemeriksaan klinis demam (+) dengan riwayat hipertensi dan diabetes melitus
tidak terkontrol. Pasien membawa hasil laboratorium HbA1c : 8,5 yang diperiksa 2
tahun yang lalu dan pasien tidak rutin kontrol ke dokter. Pemeriksaan intraoral
ditemukan gigi 16 karies mencapai pulpa, warna mahkota kehitaman, perkusi (+).
Pasien merasakan nyeri bila bersentuhan dengan makan atau dalam keadaan mengigit.
Pasien direncanakan akan dilakukan ekstraksi gigi.
Pertanyaan :
1. Apakah tindakan awal pada pasien tersebut?
2. Jelaskan informed consent yang harus dilakukan pada pasien tersebut?
3. Jelaskan perawatan yang harus dilakukan terhadap keluhan sistemik yang
diderita pasien ?
4. Jelaskan alat dan teknik pencabutan/teknik anestesi yang digunakan pada kasus
pasien tersebut!
5. Jelaskan instruksi pasca pencabutan gigi pada pasien tersebut!
6. Tuliskan resep yang rasional yang dapat diberikan pada pasien tersebut
7. Jelaskan alasan pemilihan obat pada pasien tersebut!
More Info :
Setelah 3 hari pasca pencabutan gigi, pasien masih mengeluh nyeri pada daerah bekas
pencabutan gigi. Pada pemeriksaan intraoral didapatkan soket gigi 36 jaringan nekrotik
berwarna keabuan, gingival hiperemis (+) dan berbau .
8. Jelaskan diagnosis dan patofisiologi pada soket gigi tersebut!
9. Jelaskan algoritma rencana perawatan yang dibutuhkan!
10. Jelaskan perawatan yang paling tepat!
Jawaban:
1. Apakah tindakan awal pada pasien tersebut?
- Pada kasus diatas, dari hasil anamnesa pasien, didapati riwayat hipertensi dan diabetes
melitus yang tidak terkontrol. Diketahui pasien tidak rutin kontrol ke dokter dan
pemeriksaan kadar gula darah HbA1C terakhir adalah 2 tahun yang lalu. Diketahui juga
bahwa tekanan darah pasien pada saat datang ke praktek adalah 180/100 mmHg dan
KGD sewaktu 305. Dari hasil tekanan darah dan KGD diketahui bahwa pasien masih
memiliki hipertensi dan diabetes melitus karena TD normal adalah 120/80 mmHg dan
KGD normal adalah dibawah 200 md/dl. Maka, dokter gigi harus mempertimbangkan
tindakan yang akan dilakukan sebelum mengekstraksi gigi karena penyakit sistemik
tersebut dalam menyebabkan komplikasi.
- Tindakan awal yang harus dilakukan oleh dokter gigi adalah untuk mengukur dan
mencatat tekanan darah dan kadar gula darah pasien. Setelah itu, dokter gigi harus
merujuk pasien untuk melakukan pemeriksaan laboratorium untuk mengetahui kadar gula
darah yang lebih akurat. HbA1C juga harus diperiksa untuk mengetahui apabila pasien
memiliki diabetes yang terkontrol atau tidak. Jika pasien memiliki nilai HbA1C > 65
maka ini mengindikasikan pasien memiliki diabetes tidak terkontrol. Kadar gula darah
yang sebaiknya dimiliki pasien diabetes mellitus saat pencabutan gigi akan dilakukan
yaitu tidak kurang dari 70 mg/dL dan tidak lebih dari 150 mg/dL. Melakukan
proses pencabutan gigi pada pasien diabetes dapat menimbulkan komplikasi seperti
luka infeksi yang sukar sembuh dan perdarahan yang sulit dihentikan. Komplikasi ini
dapat mengancam nyawa pada pasien diabetes apabila kadar gulanya tidak terkontrol.
Oleh karena itu, sangat penting bagi dokter gigi untuk mengetahui KGD pasien untuk
mencegah terjadinya komplikasi tersebut.
- Selain itu, dokter juga harus merujuk pasien ke dokter spesialis penyakit dalam untuk
mengkonsultasikan dan mengontrol kondisi penyakit sistemik pasien tersebut karena
sebelum melakukan tindakan ekstraksi gigi, pasien harus memiliki tekanan darah dan
kadar gula darah yang normal. Peningkatan tekanan darah pasien dental memerlukan
pertimbangan secara hati-hati di dalam hal rencana perawatan seleksi anestesi.
Pencabutan gigi pada pasien hipertensi yang tidak terkendali dapat menyebabkan
perdarahan. Jika tekanan darah dan kadar gula darah pasien sudah stabil, maka dapat
dilakukan pencabutan gigi.
- Pada kasus pasien yang mengalami keluhan nyeri dan demam, dokter gigi dapat
memberikan obat analgesik - antipiretik seperti paracetamol untuk manajemen rasa nyeri
dan menurunkan demam pasien.
(Sumber:
o Vitria EE. Evaluasi & penatalaksanaan pasien medically compromised di tempat
praktek gigi. Dentofasial 2011; 10(1): 47-54.
o Sarsito AS. Management of oral & dental diseases in medically compromised
patients. JKGUI 2000; 7(edisi khusus): 224-9.)
2. Jelaskan informed consent yang harus dilakukan pada pasien tersebut?
Informed consent adalah suatu persetujuan mengenai akan dilakukannya tindakan
kedokteran oleh dokter terhadap pasiennya. Persetujuan ini bisa dalam bentuk lisan
maupun tertulis. Pada dasarnya Informed consent merupakan suatu proses komunikasi
antara dokter dan pasien mengenai kesepakatan tindakan medis yang akan dilakukan
dokter terhadap pasien. Informasi yang harus diberikan oleh dokter dengan lengkap
kepada pasien menurut UU Nomor 29 Tahun 2004 tentang Praktik Kedokteran, Pasal 45,
ayat (3) sekurang-kurangnya mencakup:
a) Diagnosis dan tata cara tindakan medis;
b) Tujuan tindakan medis yang dilakukan;
c) Alternatif tindakan lain dan risikonya;
d) Risiko dan komplikasi yang mungkin terjadi;
e) Prognosis (kemungkinan hasil perawatan) terhadap tindakan yang dilakukan.
Informed consent terdiri dari dua bentuk yaitu implied consent dan expressed consent.
Umumnya implied consent diberikan dalam keadaan normal, artinya dokter dapat
mengerti persetujuan tindakan medis tersebut dari isyarat yang diberikan atau dilakukan
pasien. Expressed Consent (dinyatakan) merupakan pernyataan secara lisan maupun
tertulis. Dalam tindakan medis yang bersifat invasif dan memiliki resiko, dokter
sebaiknya mendapatkan persetujuan secara tertulis, atau yang secara umum dikenal di
rumah sakit sebagai surat izin operasi. Expressed consent meliputi :
a. Verbal consent adalah persetujuan secara lisan yaitu pasien setuju menggunakan kata –
kata dan tidak melibatkan fomulir informed consent. Biasanya digunakan terhadap
tindakan medis yang tidak invasif dan tidak memiliki resiko besar maka persetujuan dari
pasien dapat disampaikan secara lisan kepada dokter.
b. Written consent adalah persetujuan secara tertulis yaitu pasien atau orang lain yang
berhak menandatangani sebuah fomulir informed consent. Biasanya digunakan untuk
tindakan medis dengan risiko tinggi seperti pembedahan atau tindakan invasif.
Pada kasus ini, sebaiknya informed consent yang diberikan adalah expressed consent /
written consent karena akan dilakukan ekstraksi gigi yang termasuk dalam pembedahan
atau tindakan invasif. Selain itu, tindakan ini juga memiliki risiko tinggi karena pasien
memiliki penyakit sistemik.
(Sumber: Juliawati. Pentingnya surat persetujuan tindakan medik ( informed consent).
Jurnal PDGI 2014; 63(2): 46-53.)
3. Jelaskan perawatan yang harus dilakukan terhadap keluhan sistemik yang diderita pasien
?
- Menurut Perkeni (2011) dalam pengelolaan/tata laksana diabetes melitus tipe 2,
terdapat 4 pilar yang harus dilakukan dengan tepat yaitu:
1) Edukasi
Edukasi yang diberikan adalah pemahaman tentang perjalanan penyakit, pentingnya
pengendalian penyakit, komplikasi yang timbul dan resikonya, pentingnya intervensi
obat dan pemantauan glukosa darah, cara mengatasi hipoglikemia, perlunya latihan
fisik yang teratur, dan cara mempergunakan fasilitas kesehatan. Mendidik pasien
bertujuan agar pasien dapat mengontrol gula darah, mengurangi komplikasi dan
meningkatkan kemampuan merawat diri sendiri
2) terapi gizi medis (perencanaan makan)
Pengelolaan diet pada penderita diabetes melitus sangat penting. Tujuan dari
pengelolaan diet ini adalah untuk membantu penderita memperbaiki gizi dan untuk
mendapatkan kontrol metabolik yang lebih baik yaitu ditunjukkan pada pengendalian
glukosa, lipid dan tekanan darah. Penatalaksanaan diet bagi penderita diabetes melitus
tipe 2 ini merupakan bagian dari penatalaksanaan diabetes melitus secara total.
Menurut Smeltzer et al; (2008) yang mengutip dari ADA (2008) bahwa perencanaan
makan pada penderita diabetes melitus meliputi : 1) memenuhi kebutuhan energi pada
penderita diabetes melitus, 2) terpenuhinya nutrisi yang optimal pada makanan yang
disajikan seperti vitamin dan mineral, 3) mencapai dan memelihara berat badan yang
stabil, 4) menghindari makan-makanan yang mengandung lemak, karena pada pasien
diabetes melitus jika serum lipid menurun maka resiko komplikasi penyakit
makrovaskuler akan menurun, 5) Mencegah level glukosa darah naik, karena dapat
mengurangi komplikasi yang dapat ditimbulkan dari diabetes melitus.
3) latihan jasmani
Kegiatan jasmani sehari-hari yang dilakukan secara teratur (3-4 kali seminggu selama
kurang lebih 30 menit) merupakan salah satu pilar dalam pengelolaan diabetes tipe 2.
Latihan jasmani dapat menurunkan berat badan dan memperbaiki sensitifitas terhadap
insulin, sehingga akan memperbaiki kendali glukosa darah. Latihan jasmani yang
teratur dapat menyebabkan kontraksi otot meningkat, sehingga permeabilitas
membran sel terhadap glukosa meningkat dan resistensi insulin berkurang. Ada 43
beberapa latihan jasmani yang disarankan bagi penderita diabetes melitus,
diantaranya: jalan, bersepeda santai, jogging dan berenang. Latihan jasmani
sebaiknya disesuaikan dengan umur dan status kesegaran jasmani (Klein, 2004).
4) intervensi farmakologis (pengobatan)
Penderita diabetes melitus tipe 1 mutlak diperlukan suntikan insulin setiap hari.
Penderita diabetes melitus tipe 2, umumnya perlu minum obat antidiabetes secara oral
atau tablet. Penderita diabetes memerlukan suntikan insulin pada kondisi tertentu,
atau bahkan kombinasi suntikan insulin dan tablet.
- Perawatan hipertensi dibagi menjadi dua yaitu
a. Non Farmakologi
Pengendalian faktor risiko.
Promosi kesehatan dalam rangka pengendalian faktor risiko, yaitu :
1) Turunkan berat badan pada obesitas.
2) Pembatasan konsumsi garam dapur (kecuali mendapat HCT).
3) Hentikan konsumsi alkohol.
4) Hentikan merokok dan olahraga teratur.
5) Pola makan yang sehat.
6) Istirahat cukup dan hindari stress.
7) Pemberian kalium dalam bentuk makanan (sayur dan buah) diet hipertensi.
b. Farmakologi
Terapi farmakologis yaitu obat hipertensi yang dianjurkan adalah
1) Diuretika
2) Beta blocker
3) Antagonis calcium dihidropiridin
4) Antagonis calcium non-dihidropiridin
5) Angiontensin converting enzyme inhibitor
6) Angiotensin II receptor blocker atau ATI receptor antagonist/blocker
( Sumber:
o Ardana IW, Berawi KN. Empat pilar penatalaksanaan pasien DM tipe II.
Majority 2015; 4(9): 8-10.
o Nurani A, Miawanti R, Anna A. Upaya pencegahan & perawtan hipertensi di
rumah melalui media pembelajaran bagi masyarakat di kabupaten
pangandaran. J pengabdian kepada masyarakat 2017. 1(3); 174-8.)
4. Jelaskan alat dan teknik pencabutan/teknik anestesi yang digunakan pada kasus
pasien tersebut!
- Alat dan bahan yang diperlukan untuk anestesi infiltrasi
• Tiga serangkai : kaca mulut, sonde, pinset
• Kain kassa steril
• Syringe 3 cc dan needle 27 gauge
• Povidon iodin
• Lidocaine HCI + epinephrine
- Teknik pleksus anestesi
1) Keringkan area mukosa yang akan dianestesi dengan kassa steril
2) Angkat bibir/mukosa pipi dengan kaca mulut
3) Pegang syringe sejajar dengan aksis gizi, bevel menghadap ke tulang
4) Instruksikan pasien untuk tetap rileks dan menarik nafas panjang dari hidung
5) Masukkan needle pada lipatan mukosa bukal di atas gigi yang akan dianestesi
6) Aspirasi, bila negatif. deponir lebilh kurang 0.6 ml secara perlahan selama 20 detik
7) Keluarkan needle secara perlahan, tunggu 3-5 menit sebelum melakukan tindakan
- Teknik submukosa infiltrasi:
1) Instruksikan pasien untuk membuka mulut
2) Posisikan needle 45° pada gingiva cekat lebih kurang 5-10 mm dari gingiva, bevel
menghadap tulang
3) Instruksikan pasien menarik nafas paniang dari hidung
4) Masukkan needle 3-5mm, deponir 0.2 – 0.3 ml
5) Keluarkan needle secara perlahan
- Evaluasi setelah anestesi
• Subjektif pasien merasa kebas pada daerah anestesi
• Objektif mukosa terlihat pucat, sonderan pada area yang dianestesi tidak terasa
sakit, selama proses pencabutan pasien tidak merasa nyeri
- Alat untuk ekstraksi gigi
• Forsep No. 53R
• Periosteal elevator
• Straight elevator ukuran besar dan kecil
• Austin/ Mınnesota retractor
• Kassa steril
- Prosedur ekstraksi gigi 16:
• Posisikan dental chair sekitar 60 derajat dari lantai
• Posisi operator pada sisi kanan pasien (diantara jam 6-9). Fiksasi jari (tangan
kiri) dengan jari telunjuk berada di daerah palatal dan ibu jari di daerah bukal.
• Longgarkan perlekatan jaringan lunak dengan periosteal elevator agar elevator
dan forsep dapat diposisikan lebih apikal.

• Luksasi gigi dengan elevator dimana straight elevator dimasukkan tegak lurus di
daerah interdental, lalu blade elevator diarahkan ke apikal. Elevator dirotasikan
sambil memberi tekanan apikal agar blade melepaskan perlekatan ligament
periodontal. Diawali dengan elevator berukuran kecil dan dilanjutkan dengan
elevator yang berukuran lebih besar jika operator merasa elevator kecil menjadi
lebih mudah dirotasikan.

• Adaptasikan forsep No. 53R ke gigi 16. Ujung paruh yang memiliki tip projection
diletakkan pada bifurkasi arah bukal. Gunakan gerakan ke bukal dan palatal dengan
penekanan yang lebih kuat ke bukal daripada ke palatal. Hal ini untuk
meminimalisasi fraktur akar palatal. Penekanan ke bukal yang kuat, perlahan, dan
stabil akan mengekspansi buccocortical plate dan merobek ligament periodontal
pada akar palatal.

• Kemudian gigi dikeluarkan dari soket kearah buko-oklusal.

(Sumber: Hupp JR, Ellis E, Tucker MR. Contemporary Oral & Maxillofacial
Surgery. 7th ed. Philadelphia: Elsevier; 2019: 121-8.)
5. Jelaskan instruksi pasca pencabutan gigi pada pasien tersebut!
- Perawatan post operatif dan instruksi pada pasien:
a. Mengontrol perdarahan dengan meletakkan kasa lembab di atas socket. Pasien
diinstruksikan menggigit kain kasa yang ditempatkan pada socket selama 30 – 45 menit
dan tidak mengunyahnya untuk membantu menghentikan perdarahan. Informasikan
kepada pasien bahwa lokasi ekstraksi bisa mengalami sedikit perdarahan sampai 24 jam
pertama setelah pencabutan. Jika perdarahan cukup banyak, pasien diinstruksikan
kembali meletakkan kasa pada soket selama 1 jam.
b. Manajemen nyeri dengan meresepkan analgesik pada 45 menit setelah pencabutan gigi
untuk mencegah atau mengurangi rasa nyeri.
c. Menjaga higienitas dengan berkumur cairan saline hangat setelah 24 jam pasca
pencabutan gigi, tetapi tidak terlalu sering atau terlalu banyak karena kan mengganggu
terjadinya jendalan darah. Berkumur-kumur cairan tersebut sangat berguna terutama bila
dilakukan segera setelah makan dan sebelum tidur.
d. Pasien diinstruksikan agar tidak kumur-kumur terlalu kuat, berolahraga berat,
memberikan rangsangan atau makan minum yang sangat panas sepanjang hari setelah
pencabutan untuk mengurangi risiko perdarahan setelah pencabutan.
e. Instruksikan pasien untuk menyikat gigi secara perlahan dan menghindari daerah yang
dekat dengan lokasi pencabutan. Dental floss dapat dilakukan seperti biasa.
f. Apabila terjadi pembengkakan pasca pencabutan, pasien dapat diberikan ice pack untuk
mengompres pada wajah secara intermiten pada hari pertama agar meminimalisasi edema
dan ketidaknyamanan. Kompres diletakkan selama 20 menit dengan selang waktu 12 –
24 jam.
g. Pada 24 jam pertama, diet yang baik adalah makanan yang lunak/lembut yang tinggi
kalori dan dingin serta mengunyah pada sisi yang berlawanan dengan tempat pencabutan
gigi.
(Sumber: Hupp JR, Ellis E, Tucker MR. Contemporary oral & maxillofacial surgery. 7th
ed. Philadelphia: Elsevier; 2019: 185-8.)
6. Tuliskan resep yang rasional yang dapat diberikan pada pasien tersebut
- Resep obat yang diberikan kepada pasien adalah
R/Amoxicillin 500 mg tab No.XV
S 3 dd tab 1
R/ Paracetamol 500 mg tab no XII
S 3 dd tab 1 p.c

Pro: Andi
Umur : 59 tahun
( Sumber: Gazal G. Management of an emergency tooth extraction in diabetic patients
on the dental chair. Saudi Dent J 2020;32: 1-6.)
7. Jelaskan alasan pemilihan obat pada pasien tersebut!
- Pada penderita diabetes melitus, biasa analgesik yang diberikan adalah analgesik
dosis rendah dan sedatif yang mengandung acetaminophen. Kortikosteroid harus
dihindari karena adanya reaksi glukogenolitik, begitu pula analgesik jenis salisilat
(aspirin) karena berpotensi menimbulkan reaksi hipoglikemia pada tablet antidiabetik.
Oleh karena itu, diberikan obat analgesik-antipiretik jenis paracetamol seperti panadol
karena efektif untuk manejemen nyeri ringan pasca pencabutan. Selain itu, panadol
juga efektif untuk menurunkan demam pasien. Antibiotik diberikan karena pasien
diabetes melitus rentan terhadap infeksi.
( Sumber: Gazal G. Management of an emergency tooth extraction in diabetic
patients on the dental chair. Saudi Dent J 2020;32: 1-6.)
8. Jelaskan diagnosis dan patofisiologi pada soket gigi tersebut!
- Diagnosis pada kasus di atas adalah dry socket atau alveolitis. Dry socket dapat
dikarakteristikan sebagai rasa sakit pasca pencabutan dan adanya soket yang terbuka
selama 2-7 hari pasca pencabutan. Soket kadang-kadang tertutup oleh jaringan flap
yang menyulitkan pendeteksi masalah yang sebenarnya. Pada tahap awal, soket dapat
terisi oleh jaringan granulasi yang nekrotik. Nyeri dry socket dapat berakhir selama
berapa hari hingga beberapa minggu dan kadang-kadang memerlukan perawatan
ulang. Rasa sakit pada telinga dan/atau leher pada sisi yang sama tidak jarang terjadi.
Hal tersebut dapat menimbulkan bau yang tidak sedap tetapi umumnya tidak terdapat
suppurasi. Dry socket biasanya akan muncul pada hari ke 3-5 sesudah tindakan bedah
atau pencabutan gigi. Keluhan utamanya adalah timbulnya rasa sakit yang hebat.
Pada pemeriksaan terlihat alveolus terekspos dan sensitif, terselimuti kotoran dan
disertai dengan munculnya peradangan gingiva. Pada dry socket, akan terlihat adanya
sisa clot yang berwarna abu-abu, mukosa sekitar dan alveolus akan berwarna merah
dan bengkak. Inflamasi akan menyebar secara mesiodistal melalui alveolus,
menyebabkan timbulnya rasa empuk pada gigi disebelahnya jika dilakukan
penekanan. Biasanya jika hal ini terjadi pasien akan merasa bahwa telah terjadi salah
pencabutan gigi karena akan muncul rasa sakit pada gigi sebelahnya. Selain itu juga
akan timbul bau mulut dan terdapat local lymphadenitis. Etiologi yang diketahui
adalah terjadinya peningkatan aktivitas fibrinolisis sehingga melarutkan bekuan darah
yang sudah terbentuk. Birn mengungkapkan dua teori terjadinya dry socket, yaitu:
1. Teori fibrinolitik
Studi klinis dan eksperimental Birn telah menjelasakan mengenai peningkatan
aktivitas lokal fibrinolitik sebagai faktor terjadinya dry socket. Birn mengamati
terjadinya peningkatan aktivitas fibrinolitik pada alveolus dengan dry socket
dibandingkan dengan alveolus normal. Birn memperkuat pernyataannya bahwa
lisis total atau sebagian dan hancurnya bekuan darah disebabkan oleh pelepasan
mediator selama inflamasi oleh aktivasi plasminogen direct atau indirect ke dalam
darah. Ketika mediator dilepaskan oleh sel-sel pada tulang alveolar pasca trauma,
plasminogen akan berubah menjadi plasmin yang menyebabkan pecahnya bekuan
darah oleh disintegrasi fibrin. Perubahan ini terjadi oleh adanya proaktivator
selular atau plasmatik atau aktivator lainnya. Aktivator-aktivator tersebut
diklasifikasikan menjadi direct (fisiologik) dan indirect (nonfisiologik) aktivator
dan juga telah dibagi ke dalam subklasifikasi berdasarkan sumbernya, yaitu
aktivator intrinsik dan ekstrinsik. Aktivator direct intrinsik berasal dari komponen
plasma seperti aktivator faktor XII dan urokinase. Direct aktivator ekstrinsik
berasal dari luar plasma dan termasuk aktivator jaringan dan plasminogen
endothelial. Indirect aktivator termasuk streptokinase dan stafilokinase. Substansi-
substansinya dihasilkan dari interaksi antara bakteri dengan plasminogen dan
bentuk aktivator kompleks tersebut yang mengubah plasminogen menjadi
plasmin. Rasa sakit yang khas pada dry socket berhubungan dengan pembentukan
senyawa kinin di dalam alveolus. Kinin mengaktifkan terminal nervus primer
afferen yang peka terhadap mediator inflamasi dan substansi allogenik lainnya
yang pada konsentrasi 1ng/ml dapat menyebabkan rasa sakit yang hebat. Plasmin
juga menyebabkan perubahan kallikrein menjadi kinin di dalam sumsum tulang
alveolar. Sehingga, adanya plasmin dapat menjelaskan kemungkinan terjadinya
dry socket dari berbagai aspek.
2. Teori bakterial
Teori ini didukung dengan adanya jumlah yang tinggi dari bakteri disekitar lokasi
pencabutan gigi pada pasien yang menderita dry socket dibandingkan dengan
yang tidak menderita dry socket. Mikroorganisme anaerob umumnya ditemukan
dan nyeri alveolar adalah karena efek dari racun bakteri pada ujung syaraf
alveolar. Dry socket juga lebih sering terjadi pada pasien dengan oral hygiene
yang buruk. Sebuah penelitian mengemukakan bahwa bakteri anaerob penyebab
terjadinya dry socket yang dilihat dari aktivitas fibrinolitik dari bakteri treponema
denticola. Actinomyces viscous dan streptococcus mutans dapat memperlambat
penyembuhan pasca pencabutan gigi
( Sumber:
9. Jelaskan algoritma rencana perawatan yang dibutuhkan!
- Perawatan yang dilakukan bertujuan untuk menghilangkan rasa sakit yang timbul
akibat dari soket. Perawatan yang dilakukan dengan dua cara, yaitu:
1. Pertama dengan terapi lokal berupa irigasi soket gigi dengan sterile isotonic saline
solution atau dilute solution dari hidrogen peroksida untuk menghilangkan material
nekrotik dan debris. Lalu diikuti dengan pemberian dressing dengan menggunakan
eugenol atau Guaiacol anestesi topikal (butacaine) yang diletakkan pada gauze
2. Kedua sebagai tambahan dari terapi lokal adalah dengan pemberian analgesik seperti
codeine sulfate (1/2 gram) atau meperidine (50 gram) setiap 3-4 jam sekali. Pasien harus
selalu di evaluasi.
3. Jika rasa sakitnya telah hilang, maka pemberian medikasi di dalam soket tidak harus
diganti.
4. Jika rasa sakitnya masih muncul, maka irigasi dan dressing di dalam soket harus di
ganti. Pemberian analgesik dapat diberikan secara oral maupun parenteral. Tindakan
kuretase tidak boleh dilakukan sebagai perawatan dry socket. Karena tindakan ini dapat
menjadi faktor predisposisi terjadinya penyebaran infeksi.
Pada kasus diatas, pasien memilik riwayat diabetes melitus, oleh karena itu, sebelum
melakukan perawatan sebaiknya kadar gula darah dan tekanan darah pasien dicek terlebih
dahulu. Jika stabil, maka perawatan dilakukan.
(Sumber: Anonymous. Pencabutan gigi. http://lib.ui.ac.id/file?file=digital/126373-
R19-BM-148%20Frekuensi%20distribusi-Literatur.pdf ( 25 Mei 2020).)
10. Jelaskan perawatan paling tepat!
- Perawatan dry socket mengarah pada pengurangan rasa sakit dan mempercepat
penyembuhan. Terapi lokal terdiri dari irigasi soket dengan larutan salin isotonic
steril yang hangat, larutan garam normal yang hangat atau larutan hydrogen peroksida
yang dicairkan untuk membuang material nekrotik dan debris lainnya yang diikuti
oleh aplikasi obtudent (eugenol) atau anestesi topikal. Sebagai tambahan terapi lokal,
analgesik-antipiretik harus diberikan setiap 3-4 jam kepada pasien. Pemilihan obat
bergantung keparahan rasa nyeri. Lalu diperiksa dan dipalpasi dengan hati-hati
menggunakan aplikator kapas yang membantu dalam menentukan sensitivitas.
Apabila pasien tidak tahan terhadap hal tersebut, maka dilakukan anestesi topikal atau
lokal sebelum melakukan packing. Packing ini dilakukan dengan memasukkan
pembalut obat-obatan ke dalam alveolus. Pembalut diganti sesudah 24-48 jam
kemudian diirigasi dan diperiksa lagi. Analgesik biasa diresepkan kepada pasien dan
pasien diinstruksikan untuk berkumur-kumur dengan larutan garam hangat dan
buatlah janji agar pasien kembali dalam waktu 3 hari. Jika pasien tidak merasakan
nyeri, maka medikasi dalam soket tidak diperlukan lagi tetapi jika pasien masih
merasakan nyeri maka irigasi dan dressing soket harus diulangi jika perlu.
(Sumber: Anonymous. Pencabutan gigi. http://lib.ui.ac.id/file?file=digital/126373-
R19-BM-148%20Frekuensi%20distribusi-Literatur.pdf ( 25 Mei 2020).)
-