Anda di halaman 1dari 21

KLASIFIKASI JALAN DAN JEMBATAN

A. Kegiatan Belajar Ke-1 : Klasifikasi Jalan dan Jembatan


1. Tujuan Pembelajaran :
a. Peserta didik dapat menjelaskan pengertian jalan dan jembatan
b. Peserta didik dapat memahami klasifikasi jalan dan jembatan
c. Peserta didik dapat mempresentasikan definisi dan klasifikasi jalan dan jembatan
2. Uraian Materi :
a. Pengertian Jalan
b. Klasifikasi Jalan
c. Klasifikasi Jembatan

Referensi :

1. Republik Indonesia. 2011. Peraturan Menteri Pekerjaan Umum No. 19/PRT/M/2011


tentang Persyaratan Teknis Jalan dan Kriteria Perencanaan Teknis Jalan. Jakarta :
Kementerian Pekerjaan Umum.
2. Irawan, Redrik.dkk. 2011. Perencanaan Teknis Jembatan Cable Stayed. Bandung :
Kementerian Pekerjaan Umum.
3. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia. 2006. PP No. 34 Tahun 2006 Tentang
Jalan. Jakarta : Sekretariat Negara Republik Indonesia.
4. Saodang, Hamirhan, Ir. 2010. “Konstruksi Jalan Raya (Buku I : Geometrik Jalan}”.
Bandung : Penerbit Nova.
5. Departemen Pemukiman dan Prasarana Wilayah. 2004. Penentuan Klasifikasi Fungsi
Jalan di Kawasan Perkotaan Pd-T-18-2004-B. Jakarta : Badan Penerbit Pekerjaan
Umum.
6. Buku Analisis Perancangan Jembatan
7. Ma’arif, Faqih. 2012. Analisis Struktur Jembatan. Yogyakarta : Universitas Negeri
Yogyakarta.
8. Balitbang (Badan Penelitian dan Pengembangan) Kementerian Pekerjaan Umum.
2005. Modul Pelatihan Pemberdayaan Masyarakat Bidang Pekerjaan Umum
“Penanganan Jalan dan Drainase. Jakarta : Pusat Litbang Sosial Ekonomi Budaya
dan Peran Masyarakat.
9. Murfihenni, Weni. 2018. Suplemen Bahan Ajar Menggambar Jalan dan Jembatan.
Jakarta : Pusat Pengembangan dan Pemberdayaan Pendidik dan Tenaga Kependidikan
Bidang Mesin dan Teknik Industri
10. Manu, Agus Iqbal. 1995. Dasar-dasar Perencanaan Jembatan Beton Bertulang.
Jakarta : Mediatama Saptakarya.
11. Supriyadi, Bambang dan Agus Muntohar. 2007. Jembatan. Yogyakarta : Beta Offset.
12. Republik Indonesia. 2004. Undang-Undang No. 38 tahun 2004 tentang Jalan.
Jakarta : Sekretariat Negara Republik Indonesia.
13. Surat Edaran Menteri Pekerjaan Umum No. 02/SE/M/2010. 2010. Pemberlakuan
Pedoman Perencanaan dan Pelaksanaan Konstruksi Jembatan Gantung Untuk
Pejalan Kaki. Jakarta : Kementerian Pekerjaan Umum.

KLASIFIKASI JALAN

Jalan merupakan salah satu prasarana lingkungan atau kawasan yang sangat penting
bagi pelayanan umum di dalam maupun antar lingkungan dan kawasan. Jalan direncanakan
atau digunakan untuk lalu lintas kendaraan dan orang. Jalan secara umum, mempunyai
pengaruh pada pengembangan suatu wilayah, tumbuhnya kegiatan sosial budaya masyarakat
dan juga tumbuhnya sosial ekonomi masyarakat.

Sesuai dengan peruntukannya jalan terdiri atas jalan umum dan khusus. Jalan umum
dikelompokkan menurut fungsi/ peranan, status, kelas jalan dan spesifikasi penyedia
prasarana jalan. Jalan khusus bukan di peruntukkan bagi lalu lintas umum dalam rangka
distribusi barang dan jasa yang dibutuhkan.

Berikut adalah beberapa klasifikasi jalan :

1. Berdasarkan fungsi/ peranan:


Dalam buku Pedoman Konstruksi dan Bangunan Pd. T-18-2004-B, klasifikasi fungsi
jalan adalah sebagai berikut :
a. Sistem Jaringan Jalan Primer
1) Jalan Arteri Primer
Berfungsi untuk menghubungkan secara berdaya guna antarpusat kegiatan
nasional atau antara pusat kegiatan nasional dengan pusat kegiatan wilayah.
a) Kriteria- kriteria jalan arteri primer terdiri atas :
- Didesain paling rendah dengan kecepatan 60 km/jam
- Lebar badan jalan paling sedikit 11 (sebelas) meter
- Mempunyai kapasitas yang lebih besar dari volume lalu lintas rata-rata
- Jumlah jalan masuk ke jalan arteri primer dibatasi secara efisien; jarak
antar jalan masuk/akses langsung tidak boleh lebih pendek dari 500 meter.
- Persimpangan pada jalan arteri primer diatur dengan pengaturan tertentu
yang sesuai dengan volume lalu lintasnya
- Besarnya volume lalu lintas harian rata-rata pada umumnya lebih besar
dari fungsi jalan yang lain
- Harus mempunyai perlengkapan jalan yang cukup seperti rambu, marka,
lamu pengatur lalu lintas, lampu penerangan jalan dan lain-lain.
- Jalur khusus seharusnya disediakan, yang dapat digunakan untuk sepeda
dan kendaraan lambat lainnya
- Jalan arteri primer seharusnya dilengkapi dengan median jalan
b) Ciri-ciri jalan arteri :
- Jalan arteri primer dalam kota merupakan terusan jalan arteri primer luar
kota
- Jalan arteri primer melalui atau menuju kawasan primer
- Lalu lintas jarak jauh pada jalan arteri primer adalah lalu lintas regional,
untuk itu lalu lintas tersebut tidak boleh terganggu oleh lalu lintas ulang
alik, dan lalu lintas lokal, dari kegiatan lokal
- Kendaraan angkutan barang berat dan kendaraan umum bus dapat
diijinkan melalui jalan ini
- Lokasi berhenti dan parkir pada badan jalan tidak diijinkan
- Jalan arteri primer dilengkapi dengan tempat istirahat pada setiap jarak 25
km.
Gambar 1. Tipikal Penampang Melintang Jalan Arteri Primer

(Sumber : Departemen Pemukiman dan Prasarana Wilayah, 2004)

2) Jalan Kolektor Primer


Berfungsi untuk menghubungkan secara berdaya guna antara pusat kegiatan
nasional dengan pusat kegiatan lokal, antarpusat kegiatan wilayah, atau antara
pusat kegiatan wilayah dengan pusat kegiatan lokal.
a) Kriteria-kriteria jalan kolektor primer terdiri atas :
- Didesain untuk kecepatan rencana paling rendah 40 km/jam
- Lebar badan jalan paling sedikit 9 (sembilan) meter
- Kapasitas lebih besar dari volume lalu lintas rata-rata
- Jumlah jalan masuk ke jalan kolektor primer dibatasi secara efisien; jarak
antar jalan masuk/akses langsung tidak boleh lebih pendek dari 400 meter
- Persimpangan pada jalan kolektor primer diatur dengan pengaturan
tertentu yang sesuai dengan volume lalu lintasnya
- Harus mempunyai perlengkapan jalan yang cukup seperti rambu, marka,
lampu pengatur lalu lintas da lampu penerangan jalan
- Besarnya lalu lintas harian rata-rata pada umumnya lebih rendah dari jalan
arteri primer
- Dianjurkan tersedianya jalur khusus yang dapat digunakan untuk sepeda
dan kendaraan lambat lainnya
b) Ciri-ciri jalan kolektor primer terdiri atas:
- Jalan kolektor primer dalam kota merupakan terusan jalan kolektor primer
luar kota
- Jalan kolektor primer melalui atau menuju kawasan primer atau jalan arteri
primer
- Kendaraan angkutan barang berat dan bus dapat diijinkan melalui jalan ini
- Lokasi parkir pada badan jalan sangat dibatasi dan seharusnya tidak
diijinkan pada jam sibuk
Gambar 2. Tipikal Penampang Melintang Jalan Kolektor Primer

(Sumber : Pedoman Konstruksi dan Bangunan Pd. T-18-2004-B, 2004)

3) Jalan Lokal Primer


Berfungsi untuk menghubungkan secara berdaya guna pusat kegiatan nasional
dengan pust kegiatan lingkungan, antarpusat kegiatan lokal, atau pusat
kegiatan lokal dengan pusat kegiatan lingkungan, serta antarpusat kegiatan
lingkungan.
a) Kriteria-kriteria jalan lokal primer terdiri atas :
- Didesain berdasarkan kecepatan rencana paling rendah 20 km/jam
- Lebar badan jalan paling sedikit 6,5 (enam koma lima) meter
- Jalan lokal primer yang memasuki kawasan perdesaan tidak boleh
terputus.
- Besarnya lalu lintas harian rata-rata pada umumnya paling rendah pada
sistem primer
b) Ciri-ciri jalan lokal primer terdiri atas :
- Jalan lokal primer dalam kota merupakan terusan jalan lokal primer luar
kota
- Jalan lokal primer melalui atau menuju kawasan primer atau jalan primer
lainnya
- Kendaraan angkutan barang dan bus dapat diijinkan melalui jalan ini
Gambar 3. Tipikal Penampang Melintang Jalan Lokal Primer

(Sumber : Pedoman Konstruksi dan Bangunan Pd. T-18-2004-B)

4) Jalan lingkungan primer


Berfungsi untuk menghubungkan antarpusat kegiatan di dalam kawasan
perdesaan dan jalan di dalam lingkungan kawasan perdesaan
a) Kriteria-kriteria jalan lingkungan primer terdiri atas :
- Didesain berdasarkan kecepatan rencana paling rendah 15 (lima belas)
km/jam
- Lebar badan jalan paling sedikit 6,5 (enam koma lima) meter
- Diperuntukkan bagi kendaraan bermotor beroda tiga atau lebih
- Jalan lingkungan primer yang tidak diperuntukkan bagi kendaraan
bermotor beroda tiga atau lebih harus mempunyai lebar badan jalan paling
sedikit 3,5 (tiga koma lima) meter.
b. Sistem Jaringan Jalan Sekunder
1) Jaringan Arteri Sekunder
Berfungsi untuk menghubungkan kawasan primer dengan kawasan sekunder
kesatu, kawasan sekunder kesatu dengan kawasan sekunder kesatu, atau
kawasan sekunder kesatu dengan kawasan sekunder kedua.
a) Kriteria-kriteria jalan arteri sekunder terdiri atas :
- Didesain berdasarkan kecepatan paling rendah 30 km/jam
- Kapasitas lebih besar dari volume lalu lintas rata-rata
- Lebar badan jalan paling sedikit 11 (sebelas) meter
- Lalu lintas cepat tidak boleh terganggu oleh lalu lintas lambat
- Akses langsung dibatasi tidak boleh lebih pendek dari 250 meter
- Persimpangan pada jalan arteri sekunder diatur dengan pengaturan tertentu
yang sesuai dengan volume lalu lintasnya.
- Harus mempunyai perlengkapan jalan yang cukup seperti rambu, marka,
lampu pengatur lalu lintas, lampu jalan dan lain-lain.
- Besarnya lalu lintas harian rata-rata pada umumnya paling besar dari
sistem sekunder yang lain.
- Dianjurkan tersedianya jalur khusus yang dapat digunakan untuk sepeda
dan kendaraan lambat lainnya.
- Jarak selang dengan kelas jalan ang sejenis lebih besar dari jarak selang
dengan kelas jalan yang lebih rendah.
b) Ciri-ciri jalan arteri sekunder terdiri atas :
- Jalan arteri sekunder menghubungkan :
i. Kawasan primer dengan kawasan sekunder kesatu
ii. Antar kawasan sekunder kesatu
iii. Kawasan sekunder kesatu dengan kawasan sekunder kedua
iv. Jalan arteri/kolektor primer dengan kawasan sekunder kesatu
- Lalu lintas cepat pada jalan arteri sekunder tidak boleh terganggu oleh lalu
lintas lambat
- Kendaraan angkutan barang ringan dan bus untuk pelayanan kota dapat
diijinkan melalui jalan ini
- Lokasi berhenti dan parkir pada badan jalan sangat dibatasi dan seharusnya
tidak diijinkan pada jam sibuk
Gambar : Tipikal Penampang Melintang Jalan Arteri Sekunder

2) Jalan Kolektor Sekunder


Berfungsi untuk menghubungkan kawasan sekunder kedua dengan kawasan
sekunder kedua atau kawasan sekunder kedua dengan kawasan sekunder
ketiga.
a) Kriteria-kriteria jalan kolektor sekunder terdiri atas :
- Didesain berdasarkan kecepatan paling rendah 20 km/jam
- Lebar badan jalan paling sedikit 9 (sembilan) meter
- Kapasitas lebih besar daripada volume lalu lintas rata-rata
- Lalu lintas cepat tidak boleh terganggu oleh lalu lintas lambat
- Harus mempunyai perlengkapan jalan yang cukup
- Besarnya lalu lintas harian rata-rata pada umumnya lebih rendah dari
sistem primer dan arteri sekunder
b) Ciri-ciri jalan kolektor sekunder terdiri atas :
- Jalan kolektor sekunder menghubungkan :
i. Antar kawasan sekunder kedua
ii. Kawasan sekunder kedua dengan kawasan sekunder ketiga
- Kendaraan angkutan barang berat tidak diijinkan melalui fungsi jalan ini di
daerah pemukiman
- Lokasi parkir pada badan jalan dibatasi

Gambar : Tipikal Penampang Melintang Jalan Kolektor Sekunder


3) Jalan Lokal Sekunder
Berfungsi untuk menghubungkan kawasan sekunder kesatu dengan
perumahan, kawasan sekunder kedua dengan perumahan, kawasan sekunder
ketiga dan seterusnya sampai ke perumahan.
a) Kriteria-kriteria jalan lokal sekunder terdiri atas :
- Didesain berdasarkan kecepatan paling rendah 10 km/jam
- Lebar badan jalan paling sedikit 6,5 (enam koma lima) meter
- Besarnya lalu lintas harian rata-rata pada umumnya paling rendah
dibandingkan dengan fungsi jalan lain
b) Ciri-ciri jalan lokal sekunder terdiri atas :
- Jalan lokal sekunder menghubungkan :
i. Antar kawasan sekunder ketiga atau di bawahnya
ii. Kawasan sekunder dengan perumahan
- Kendaraan angkutan barang berat dan bus tidak diijinkan melalui fungsi
jalan ini di daerah pemukiman

Gambar Tipikal Penampang Melintang Jalan Lokal Sekunder

4) Jalan lingkungan sekunder


Berfungsi untuk menghubungkan antarpersil dalam kawasan perkotaan.
a) Kriteria-kriteria jalan lingkungan sekunder terdiri atas :
- Didesain berdasarkan kecepatan rencana paling rendah 10 km/jam
- Lebar badan jalan paling sedikit 6,5 (enam koma lima) meter
- Diperuntukkan bagi kendaraan bermotor beroda 3 (tiga) atau lebih
- Jalan lingkungan sekunder yang tidak diperuntukkan bagi kendaraan
bermotor beroda 3 (tiga) atau lebih harus mempunyai lebar badan jalan
paling sedikit 3,5 (tiga koma lima) meter.

Gambar : Sketsa Hipotesis Hirarki Jalan Perkotaan


Sumber : Penentuan Klasifikasi Fungsi Jalan Di Kawasan Perkotaan
Gambar : Konsep Klasifikasi Fungsi Jalan Dalam Hubungannya Dengan Tingkat
Akses
Sumber : Penentuan Klasifikasi Fungsi Jalan Di Kawasan Perkotaan

2. Berdasarkan Status :
Dalam UU 38 tahun 2004 tentang Jalan, menurut statusnya jalan dikelompokkan
menjadi :
a. Jalan Nasional
Terdiri atas :
1) Jalan arteri primer
2) Jalan kolektor primer yang menghubungkan antaribukota provinsi
3) Jalan tol
4) Jalan strategis nasional
b. Jalan Provinsi
Terdiri atas :
1) Jalan kolektor primer yang menghubungkan ibukota provinsi dengan ibukota
kabupaten atau kota
2) Jalan kolektor primer yang menghubungkan antaribukota kabupaten atau kota
3) Jalan strategis provinsi
4) Jalan di Daerah Khusus Ibukota Jakarta, kecuali jalan yang termasuk jalan
nasional
c. Jalan Kabupaten
Terdiri atas :
1) Jalan kolektor primer selain jalan yang menghubungkan antaribukota provinsi dan
yang termasuk jalan provinsi
2) Jalan lokal primer yang menghubungkan ibukota kabupaten dengan ibukota
kecamatan, ibukota kabupaten dengan pusat desa, antaribukota kecamatan,
ibukota kecamatan dengan desa, dan antardesa
3) Jalan sekunder yang tidak termasuk jalan provinsi (jalan di Daerah Khusus
Ibukota Jakarta, kecuali jalan yang termasuk jalan nasional)
4) Jalan strategis kabupaten
d. Jalan Kota
Jalan umum dalam sistem jaringan jalan sekunder yang menghubungkan
antarpusat pelayanan dalam kota, menghubungkan pusat pelayanan dengan persil,
menghubungkan antarpersil, serta menghubungkan antarpusat permukiman yang
berada di dalam kota.
e. Jalan Desa
Jalan umum yang menghubungkan kawasan dan/atau antarpermukiman di dalam
desa, serta jalan lingkungan.

3. Berdasarkan Kelas Jalan


Kelas jalan dikelompokkan berdasarkan :
a. Penggunaan Jalan
Pengaturan kelas jalan berdasarkan penggunaan jalan, terdiri atas : jalan kelas
I, kelas II, kelas III, dan jalan kelas khusus (Permen PU No. 19/PRT/M/2011).
Klasifikasi menurut kelas jalan dan ketentuannya serta kaitannya dengan klasifikasi
menurut fungsi jalan dapat dilihat dalam Tabel di bawah ini :
Tabel Klasifikasi Jalan Secara Umum Menurut Kelas, Fungsi, Dimensi Kendaraan
Maksimum dan Muatan Sumbu Terberat (Pasal 46, Permen PU No. 19/2011).

b. Spesifikasi Penyediaan Prasarana Jalan


Pengaturan kelas jalan berdasarkan spesifikasi penyediaan prasarana jalan
dikelompokkan atas jalan bebas hambatan, jalan raya, jalan sedang, dan jalan kecil.
Tabel (Pasal 32 PP Nomer 34/2006) Klasifikasi dan spesifikasi Jalan berdasarkan
Penyediaan Prasarana Jalan

KLASIFKASI JEMBATAN (Buku Analisis Perancangan Jembatan)

Jembatan adalah suatu struktur yang memungkinkan route transportasi melintasi


sungai, danau, kali, jalan raya, jalan Kereta Api dan lain-lain. (Dasar-dasar Perencanaan
Jembatan Beton Bertulang, Agus Iqbal Manu, 1995).

Jembatan pada zaman dahulu hanya digunakan untuk menyeberangi sungai-sungai


kecil (kali) dengan menggunakan batang pohon besar dan kuat, atau hanya menggunakan
balok-balok kayu. Dengan berkembangnya teknologi dan pengetahuan di bidang jembatan,
perkembangan jembatan menjadi sangat pesat. Jembatan dibedakan ke dalam beberapa
klasifikasi, mulai dari klasifikasi menurut kegunaannya, jenis material yang digunakan, letak
lantai kendaraan, maupun dari bentuk strukturnya.

Berikut beberapa klasifikasi jembatan :

1. Klasifikasi menurut kegunaannya :


a. Jembatan Jalan Raya
b. Jembatan Kereta Api
c. Jembatan Jalan Air
d. Jembatan Jalan Pipa
e. Jembatan Militer
f. Jembatan Penyeberangan
2. Klasifikasi menurut jenis material :
a. Jembatan Kayu
Jembatan kayu adalah jembatan yang berbahan dasar kayu, bentuk sederhana dan
mempunyai panjang relatif pendek dengan beban yang diterima relatif ringan.
Proses pembuatan struktur jembatan kayu harus mempertimbangkan ilmu gaya
(mekanika) agar jembatan yang dibuat lebih kokoh.

Gambar Jembatan Kayu


b. Jembatan Baja
Jembatan baja biasanya digunakan untuk jembatan dengan bentang yang panjang
dengan beban yang cukup besar. Menurut (Asiyanto, 2008) jembatan rangka baja
adalah struktur jembatan yang terdiri dari rangkaian batang-batang baja yang
dihubungkan satu dengan yang lain. Beban atau muatan yang dipikul oleh struktur
ini akan diuraikan dan disalurkan kepada batang-batang baja struktur tersebut,
sebagai gaya-gaya tekan dan tarik, melalui titik-titik pertemuan batang (titik
buhul).
Gambar Jembatan Baja
c. Jembatan Beton Bertulang
Jembatan beton bertulang adalah jembatan yang konstruksinya menggunakan
material beton. Beton bertulang merupakan beton yang ditulani dengan luas dan
jumlah tulangan tidak kurang dari nilai minimumnya. Jembatan beton bertulang
ini biasanya digunakan untuk panjang 15-25 meter.

Gambar Jembatan Beton Bertulang


d. Jembatan Beton Pratekan/ Prategang
Beton prategang adalah jenis beton dimana tulangan bajanya ditarik/ ditegangkan
terhadap betonnya. Penarikan ini menghasilkan sistem kesetimbangan pada
tegangan dalam (tarik pada baja dan tekan pada beton) yang akan meningkatkan
kemampuan beton menahan beban luar. (Bambang & Agus, 2007). Jembatan jenis
ini digunakan untuk variasi bentang jembatan 20-40 meter.
Gambar Jembatan Beton Prategang
3. Klasifikasi menurut letak lantai jembatan :
a. Jembatan lantai kendaraan di bawah
Jembatan dimana posisi lantai jembatannya (sebagai lalu lintas kendaraan) berada
di bawah struktur utama jembatan.

Gambar Jembatan Lantai Kendaraan di Bawah


b. Jembatan lantai kendaraan di atas
Jembatan dimana posisi lantai jembatannya (sebagai lalu lintas kendaraan) berada
di atas struktur utama jembatan.

Gambar Jembatan Lantai Kendaraan di Atas


c. Jembatan lantai kendaraan di tengah
Jembatan dimana posisi lantai jembatannya (sebagai lalu lintas kendaraan) berada
di tengah struktur utama jembatan.

Gambar Jembatan Lantai Kendaraan di Tengah


d. Jembatan lantai kendaraan di atas dan di bawah (double deck bridge)
Jembatan dimana posisi lantai jembatannya (sebagai lalu lintas kendaraan) berada
di bawah dan di atas.

Gambar Jembatan Lantai Kendaraan di Atas dan di Bawah (double deck bridge)
4. Klasifikasi menurut bentuk struktur secara umum :
a. Jembatan gelagar (girder bridge)
Jembatan yang memiliki gelagar utama dihubungkan secara melintang dengan
balok lantai membentuk pola grid dan akan menyalurkan beban bersama-sama.
Jembatan tipe ini dibagi menjadi 2 macam yakni I-girder dan box girder.
Gambar Jembatan Gelagar (Girder Bridge)
b. Jembatan pelengkung/busur (arch bridge)
Jembatan pelengkung adalah struktur setengah lingkaran dengan abutmen di
kedua sisinya. Desain pelengkung (setengah lingkaran) secara alami akan
mengalihkan beban yang diterima lantai kendaraan jembatan menuju ke abutmen
yang menjaga kedua sisi jembatan agar tidak bergerak kesamping. Ketika
menahan beban akibat berat sendiri dan beban lalu lintas, setiap bagian
pelengkung menerima gaya tekan, karena alasan itulah jembatan pelengkung
harus terdiri dari material yang tahan terhadap gaya tekan.

Gambar Jembatan Pelengkung/Busur (Arch Bridge)


c. Jembatan rangka (truss bridge)
Jembatan rangka dibuat dengan menyusun tiang-tiang jembatan membentuk kisi-
kisi agar setiap tiang hanya menampung sebagian berat struktur jembatan tersebut.
Kelebihan sebuah jembatan rangka dibandingkan dengan jembatan lain adalah
nilai ekonomisnya karena penggunaan bahan yang lebih efisien.

Gambar Jembatan Rangka (Truss Bridge)


d. Jembatan portal ( rigid frame bridge)
Jembatan portal merupakan jembatan rangka baja yang sisi kiri kanan dan atasnya
memiliki konstruksi yang menyambung dari batang satu ke batang yang lain.
Struktur portal merupakan suatu sistem yang terdiri dari bagian-bagian struktur
yang saling berhubungan yang berfungsi menahan beban sebagai suatu kesatuan
lengkap yang berdiri sendiri dengan atau tanpa dibantu oleh diafragma-diafragma
horisontal atau sistem-sistem lantai.

Gambar Jembatan Portal ( Rigid Frame Bridge)


e. Jembatan gantung (suspension bridge)
Jembatan gantung terdiri dari lantai jembatan, gelagar pengaku, batang
penggantung, kabel pemikul dan pagar pengaman. Keuntungan jembatan ini dapat
dibuat panjang tanpa pilar ditengah, tetapi struktur jembatan ini mempunyai
kelemahan rentan/sensitif terhadap getaran, goyangan akibat beban lalu lintas dan
angin.

Gambar Jembatan Gantung (Suspension Bridge)


f. Jembatan kabel (cable stayed bridge)
Jembatan cable stayed mengalami banyak perkembangan mulai dari segi
bentuk maupun material yang digunakan. Jembatan ini menjadi pencetus
pembangunan jembatan bentang panjang. Jembatan cable stayed kuat terhadap
gempa karena letak pusat massa yang rendah, tetapi peka terhadap penurunan
differensial. Pada dasarnya komponen utama jembatan cable stayed terdiri dari
gelagar, sistem kabel dan menara atau pylon. Kabel stay adalah kabel eksternal
dengan dwi fungsi. Pertama sebagai perancah dalam pemasangan gelagar lantai
dengan sistem kantilever bertahap, dan kedua sebagai perletakan elastis atau pegas
atau pilar antara dalam struktur akhir. Pemilihan bentuk menara sangat
dipengaruhi oleh konfigurasi kabel, estetika dan kebutuhan perencanaan serta
pertimbangan biaya.
Gambar Jembatan Kabel (Cable Stayed Bridge)