Anda di halaman 1dari 14

MODULPERKULIAHAN

BUSINESS ETHIC
AND GOOD
GOVERNANCE

Etika dan Bisnis

Fakultas ProgramStudi TatapMuka Kode MK


Dosen
Ekonomi dan Bisnis Pascasarjana S2 Kode MK
01 r
Dr.Syafrizal Chan, SE, M.Si

Abstract Kompetensi

▪ Mempelajari dan diskusi Mahasiswa dapat memahami dan


mengenai konsep etika bisnis menjelaskan mengapa etika
sebagai sebuah proses dalam penting dalam lingkungan bisnis
pengambilan keputusan. dan mampu membedakan
pengambilan keputusan etis dari
▪ Mendeskripsikan dan
pengambilan keputusan praktis
menspesifikasi teori etika dan
yang lain.
prinsip etis dalam bisnis.
Bab ini akan memperkenalkan etika bisnis sebagai sebuah proses dalam pengambilan
keputusan yang dapat dipertanggungjawabkan. Secara sederhana dapat dijelaskan bahwa:
skandal-skandal dan penyimpangan yang dialami oleh setiap institusi dan individu dalam
sebuah kasus-kasus etika bisnis merupakan akibat dari adanya kegagalan etis (ethical
failures).
Pengambilan keputusan yang etis tidak terbatas pada jenis keputusan-keputusan penting
bagi perusahaan yang mempunyai dampak social yang cukup luas. Pada suatu saat
tertentu, setiap pekerja (dan semua orang dalam posisi manajerial) akan menghadapi
masalah yang mengharuskan adanya pengambilan keputusan yang etis. Tidak semua
keputusan dapat diselesaikan secara ekonomi, hukum, ataupun melalui peraturan-peraturan
perusahaan. Kejadian yang lebih sering terjadi, pengambilan keputusan yang
bertanggungjawab harus bergantung pada nilai dan prinsip pribadi dari individu yang terlibat.
Setiap individu harus memutuskan sendiri, ingin menjadi tipe orang seperti apa.

I. PENGERTIAN ETIKA
1. Definisi Etika
Istilah Etika berasal dari bahasa Yunani kuno. Bentuk tunggal kata 'etika' yaitu ethos
sedangkan bentuk jamaknya yaitu ta etha. Ethos mempunyai banyak arti yaitu: tempat
tinggal yang biasa, padang rumput, kandang, kebiasaan/adat, akhlak,watak, perasaan,
sikap, cara berpikir. Sedangkan arti ta etha yaitu adat kebiasaan. Arti dari bentuk jamak
inilah yang melatar-belakangi terbentuknya istilah Etika dan oleh Aristoteles dipakai untuk
menunjukkan filsafat moral. Jadi, secara etimologis (asal usul kata), etika mempunyai arti
yaitu ilmu tentang apa yang biasa dilakukan atau ilmu tentang adat kebiasaan (Bertens, 2000).

▪ Ethics: Is the discipline that deals with what is good and bad and with moral duty
and obligation, can also be regarded as a set of moral principles or values. (Etika:
Apakah disiplin yang berurusan dengan apa yang baik dan buruk dan dengan
kewajiban moral dan kewajiban, juga dapat dianggap sebagai seperangkat prinsip
moral atau nilai-nilai).
▪ Ethical behavior: Is that which isaccepted as morally “good” and “right” as
opposed to “bad” or “wrong” in a particular setting. (Perilaku Etis: Apakah sesuatu
yang secara moral "baik" dan "kanan" sebagai lawan "buruk" atau "salah" dalam
pengaturan tertentu).

Biasanya bila kita mengalami kesulitan untuk memahami arti sebuah kata maka kita
akan mencari arti kata tersebut dalam kamus. Tetapi ternyata tidak semua kamus
mencantumkan arti dari sebuah kata secara lengkap. Hal tersebut dapat kita lihat dari
perbandingan yang dilakukan oleh Bertens terhadap arti kata 'etika' yang terdapat dalam
Kamus Bahasa Indonesia yang lama dengan Kamus Bahasa Indonesia yang baru.

2014 Business Ethic and Good Governance Pusat Bahan Ajar dan eLearning
2 Dr. Suharno Pawirosumarto, S.Kom, MM http://www.mercubuana.ac.id
Dalam Kamus Bahasa Indonesia yang lama (Poerwadarminta, sejak 1953 - mengutip dari
Bertens, 2000), etika mempunyai arti sebagai: "ilmu pengetahuan tentang asas- asas akhlak
(moral)". Sedangkan kata ‘etika’ dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia yang baru
(Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1988 - mengutip dari Bertens 2000), mempunyai
arti:
1) Ilmu tentang apa yang baik dan apa yang buruk dan tentang hak dan kewajiban moral
(akhlak);
2) Kumpulan asas atau nilai yang berkenaan dengan akhlak;
3) Nilai mengenai benar dan salah yang dianut suatu golongan atau masyarakat.

2. Definisi Moral
Moralitas berasal dari bahasa latin “MOS” (tunggal) atau jamak “MORES” artinya adat
istiadat atau kebiasaan. Sehingga MORAL adalah tingkah laku manusia sejajar dengan
ajaran, peraturan, adat dan agama yang ditetapkan oleh masyarakat.Ajaran, peraturan, adat
dan agama ini menentukan bagaimana manusia harus hidup dan bertindak agar menjadi
manusia baik.
▪ Morality: A system or doctrine of moral conduct which refers to principles of right
and wrong in behavior. (Moralitas: Sebuah sistem atau doktrin perilaku moral yang
mengacu pada prinsip-prinsip benar dan salah dalam perilaku).
Dalam falsafah, etika merujuk kepada pengajian moral yang tertumpu kepada nilai dan
kelakuan manusia. Apabila kita mengatakan seseorang bermoral atau tidak bermoral,
maksudnya bahwa orang tersebut orang yang baik atau tidak baik. Apabila kita merujuk
kepada tindakan manusia sebagi bermoral atau tidak bermoral, maksudnya bahwa tindakan
manusia tersebut betul atau salah.
Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa ETIKA dan moralitas mempunyai arti yang
sama sebagai suatu sistem nilai tentang bagaimana manusia harus hidup baik, terwujud
dalam pola perilaku yang konstan dan terulang dalam kurun waktu sehingga menjadi
kebiasaan. Pengertian kedua etika tidak sama dengan moralitas karena tidak berisikan nilai
dan norma konkrit yang menjadi pedoman hidup manusia. Moralitas adalah pedoman yang
dimiliki individu atau kelompok tentang apa yang benar dan salah berdasarkan standar
moral. Standar moral ialah persoalan yang dianggap memiliki konsekuensi serius didasarkan
pada penalaran yang baik.
Moral melibatkan manusia dan hubungannya dengan manusia, alam, dan makhluk
lain, bukan manusia. Dalam aplikasi kemoralan, terdapat 4 aspek, yakni (a) Kemoralan
agama, (b) Kemoralan sosial, (c) Kemoralan individu dan (d) Kemoralan alam.
1) KEMORALAN AGAMA
Merujuk kepada perhubungan antara manusia dengan Tuhan atau Kuasa Luar Biasa.
Keimanan dan kepercayaan kepada Tuhan, membuat apa yang diperintah-

2014 Business Ethic and Good Governance Pusat Bahan Ajar dan eLearning
2 Dr. Suharno Pawirosumarto, S.Kom, MM http://www.mercubuana.ac.id
Nya dan menghindari apa yang dilarang-Nya merupakan asas kehidupan moral
manusia.
2) KEMORALAN SOSIAL
Merujuk kepada hubungan sesama manusia. Aspek ini merupakan aspek
terpenting dalam hidup manusia dan melibatkan semua aspek lain dan dibincangkan
dalam kebanyakan sistem etika.

3) KEMORALAN INDIVIDU
Merujuk kepada hubungan manusia dengan dirinya atau kawalan diri
berdasarkan kod moral sendiri yang mungkin diterima atau tidak oleh
masyarakat atau agama. Sesuatu perlakuan dinilai berdasarkan penilaian sendiri oleh
individu. Juga merujuk kepada tanggungjawab individu kepada diri sendiri untuk
mengembangkan kepentingan, bakat dan kepercayaannya.
4) KEMORALAN ALAM
Merujuk kepada perhubungan manusia dengan alam. Setiap benda di alam ini
mempunyai nilai dan faedah. Manusia bertanggungjawab mengurus alam untuk
menjamin keselesaan hidup. Pencemaran alam adalah kesan kurangnya kesedaran
kemoralan manusia terhadap alam sekitar. Kesedaran moral terhadap alam
menekankan alam merupakan sebahagian dari kehidupan manusia.

II. PENTINGNYA TEORI ETIKA


Etika merupakan suatu hal yang diupayakan untuk disepakati bersama. Suatu hal akan
dianggap etis dan diterima secara umum apabila terdapat toleransi antara manusia yang
satu dengan manusia lainnya. Etika dapat juga dikatakan sebagai suatu pedoman nilai yang
digunakan untuk membedakan baik atau buruk, benar atau salah. Etika dapat menjadi “self-
control” dimana segala sesuatu dibuat, ditetapkan, dan diterapkan untuk kepentingan
kelompok, misalnya suatu profesi tertentu.
Kata etika memiliki beberapa makna, Webster’s Collegiate Dictionary yang dikutip oleh
Ronald Duska dalam buku Accounting Ethics memberi empat makna dasar dari kata etika,
yaitu:
1) Suatu disiplin terhadap apa yang baik dan buruk dan dengan tugas moral serta
kewajiban.
2) Seperangkat prinsip-prinsip moral atau nilai-nilai
3) Sebuah teori atau sistem atas nilai-nilai moral
4) Prinsip atas pengaturan prilaku suatu individu atau kelompok

Pengertian etika menurut Bertens (2000) didefinisikan sebagai nilai-nilai dan norma-
norma yang menjadi pegangan bagi seseorang atau suatu kelompok dalam

2014 Business Ethic and Good Governance Pusat Bahan Ajar dan eLearning
2 Dr. Suharno Pawirosumarto, S.Kom, MM http://www.mercubuana.ac.id
mengatur tingkah lakunya. Dari pengertian diatas mengisyaratkan bahwa etika memiliki
peranan penting dalam melegitimasi segala perbuatan dan tindakan yang dilihat dari sudut
pandang moralitas yang telah disepakati oleh masyarakat. Dalam praktiknya, terkadang
penerapan nilai etika hanya dilakukan sebatas persetujuan atas standar moral yang telah
disepakati untuk tidak dilanggar. Norma moral yang menjadi standar masyarakat untuk
menentukan baik buruknya perilaku dan tindakan seseorang, terkadang hanya dianggap
suatu aturan yang disetujui bersama tanpa dipertimbangkan mengapa aturan-aturan moral
tersebut harus kita patuhi. Untuk itu, pemikiran-pemikiran yang lebih mendalam mengenai
alasan-alasan mengapa kita perlu berperilaku yang etis sesuai dengan norma-norma moral
yang telah disepakati, melahirkan suatu bentuk teori etika yang menyediakan kerangka
untuk memastikan benar tidaknya keputusan moral kita.
Beberapa alasan mempelajari etika menurut Ronald Duska:
1) Beberapa kepercayaan moral yang dipegang mungkin tidak cukup karena itu hanya
kepercayaan sederhana tentang isu-isu komplek. Pelajaran etika dapat membantu
seseorang memecahkan isu yang komplek tersebut, dengan melihat apa yang prinsip-
prinsip katakan tentang kasus itu.
2) Etika dapat menyediakan pengertian yang mendalam bagaimana menimbang dan
memutuskan terhadap konflik prinsip dan menunjukan mengapa tindakan tertentu lebih
dibutuhkan dari pada yang lain.
3) Cerminan etika dapat membuat kita lebih berpengetahuan dan teliti dalam masalah-
masalah moral.
4) Alasan yang penting untuk mempelajari etika adalah untuk mengerti keadaan dan
mengapa opini-opini kita berharga. Contohnya ketika tanggung jawab ke keluarga
berbenturan dengan tanggung jawab kita terhadap pekerjaan dan bagaimana jalan
keluarnya.
5) Alasan terakhir dalam mempelajari etika adalah untuk belajar mengidentifikasi prinsip-
prinsip dasar etika yang dapat diaplikasikan pada tindakan.

III. PERKEMBANGAN TEORI ETIKA


Perkembangan wacana etika, sampai saat ini, tidak dapat dilepaskan dari berbagai
pemikiran atas etika yang telah berlangsung berpuluh-puluh abad lalu di Yunani. Pemikiran
awal tentang etika dapat ditelusuri dari:

▪ Murid-Murid Pytagoras (570-496 SM)


Badan merupakan kubur jiwa, sehinggan jika manusia menginginkan jiwanya bebas
dari badan maka perlu menumpuh jalan pembersihan. Jalan ini adalah bertapa dan
bekerja secara rohani, terutama dengan berfilsafat dan bermatematika serta
menyertakan musik dan gimnastik sebagai penertib dan penyelarasnya.

2014 Business Ethic and Good Governance Pusat Bahan Ajar dan eLearning
2 Dr. Suharno Pawirosumarto, S.Kom, MM http://www.mercubuana.ac.id
▪ Democritus (460-371 SM)
Aturan kehidupan bahwa manusia hendaknya mengusahakan keadilan. Menurut
Democritus nilai tertinggi dalam kehidupan adalah pencapaian pada apa yang enak
(yang kemudian menjadi sebuah kerangka untuk berkembangnya hedonisme)
▪ Kaum sofis (kaum bijak tetapi dikenal kurang baik pada jaman Yunani Klasik)
Baik dan buruk lebih merupakan masalah keputusan masing-masing atau
kesepakatan bersama daripada suatu aturan abadi. Sampai-sampai salah satu dari
mereka, Antiphon menyatakan bahwa hukum boleh dilanggar dengan tenang asal
tidak ada yang melihatnya. Namun pandangan ini kemudian dipatahkan oleh
Socrates.

▪ Socrates (469-399 SM)


Socrates yakin bahwa orang akan berbuat benar apabila ia mengetahui apa yang baik
baginya. Perbuatan salah akibat kurang cerahnya pengertian diri manusian. Ia mau
mengantar orang agar mengerti diri sendiri dan dengan demikian lepas dari
kedangkalannya.

▪ Plato (427-348 SM)


Realitas yang sebenarnya bersifat rohani (jiwa) dan disebutnya idea. Puncak
kesadaran filosofis tertinggi dalam idea ini adalah idea yang baik. Idea yang baik
adalah Sang Baik itu sendiri dan Sang Baik ini adalah tujuan dari segala yang ada, yaitu
Yang Ilahi.
▪ Aristoteles (384-322 SM)
Hidup yang baik bagi manusia adalah apabila ia mencapai apa yang menjadi
tujuannya. Dengan mencapai tujuannya, maka manusia telah mencapai dirinya
dengan sepenuhnya. Apapun tujuana hidup manusia adalah demi sesuatu yang baik
dan bernilai.
Teori etika dapat disebut sebagai gambaran rasional mengenai hakekat dan dasar
perbuatan dan keputusan yang benar serta prinsip-prinsip yang menentukan klaim bahwa
perbuatan dan keputusan tersebut secara moral diperintahkan dan dilarang. Dalam hal ini
teori etika lahir dari berbagai aliran pemikiran etika dalam rangka mengkaji moralitas suatu
tindakan yang berkembang sedemikian luasnya. Pencarian teori etika yang sepenuhnya
memuaskan merupakan usaha yang tidak akan pernah selesai, karena tidak akan pernah ada
suatu teori etika yang dapat sepenuhnya disepakati oleh semua orang. Sejak awal
perkembangan filsafat etika, maka dua pendekatan dasar moral etika telah timbul. Satu
pendekatan mendasarkan argumentasi pada akhir yang terjadi. Pendekatan ini disebut
teleological approach, dimana yang paling menonjol adalah versi consequentialsm, yang
berpendapat bahwa apakah suatu

2014 Business Ethic and Good Governance Pusat Bahan Ajar dan eLearning
2 Dr. Suharno Pawirosumarto, S.Kom, MM http://www.mercubuana.ac.id
tindakan benar ataupun salah tergantung pada konsekuensi yang ditimbulkan. Bentuk yang
umum dari versi consequentialism adalah utilitarianisme. Pendekatan yang lain disebut
deontological approach, yang berpendapat bahwa tugas atau kewajiban (duty) adalah
kategori moral dasar dan bahwa kewajiban tidak tergantung pada konsekuensi yang
ditimbulkannya. Termasuk dalam pertimbangan pendekatan ini adalah pertimbangan akan
kewajiban moral, hak (rights), dan keadilan (justice). Selain itu dalam perkembangannya
muncul teori etika keutamaan (virtue ethics) dengan pendekatan yang tidak melihat sisi
moral suatu tindakan, tetapi memfokuskan pada manusia sebagai pelaku moral yang
memiliki keutamaan-keutamaan (virtue) yang membedakan manusia dengan makhluk hidup
lainnya yang memungkinkan manusia untuk bertindak sesuai dengan tujuan spesifik sebagai
manusia. Penjelasan mendalam mengenai teori-teori etika, adalah sebagai berikut:
1) Teori Utilitarianisme
Kemunculan teori utilitarianisme merupakan pengembangan dari pemahaman etika
teleologi yang dikembangkan terutama oleh tokoh-tokoh besar pemikiran etika dari
Eropa seperti Jeremy Bentham (1748-1832) dan John Stuart Mill (1806-1873) (Ludigdo,
2007). Etika teleologi ini, juga dikenal sebagai etika konsekuensialisme, yang memiliki
pandangan mendasar bahwa suatu tindakan dinilai baik atau buruk berdasarkan tujuan
atau akibat dilakukannya tindakan tersebut. Namun dalam pemahamannya tidak mudah
untuk menilai baik buruknya tujuan atau akibat dari suatu tindakan dalam kerangka etika,
sehingga muncullah varian darinya yaitu egoisme dan utilitarianisme. Etika egoisme
menilai baik buruknya tindakan dari tujuan dan manfaat tindakan tersebut bagi pribadi-
pribadi. Pada akhirnya egoisme cenderung menjadi hedonisme, karena setiap manfaat
atas suatu tindakan pribadi- pribadi yang berdasarkan kebahagian dan kesenangan demi
memajukan dirinya sendiri tersebut biasanya bersifat lahriah dan diiukur berdasarkan
materi.
Sementara itu utilitarianisme berkebalikan dengan dari egoisme. Utilitarianisme atau
utilitarisme yang berasal dari kata Latin utilis yang berarti “bermanfaat”, berpandangan
bahwa suatu perbuatan atau tindakan adalah baik jika membawa manfaat, tapi manfaat
itu harus menyangkut bukan saja satu dua orang melainkan masyarakat sebagai
keseluruhan. Jadi utilitarianisme ini tidak boleh dimengerti dengan cara egoistis. Konsep
dasar moral untuk menentukan baik buruknya suatu perbuatan menurut pemikiran
utilitarianisme adalah the greatest happiness of the greatest number, kebahagian
terbesar dari jumlah orang terbesar. Sehingga perbuatan yang mengakibatkan paling
banyak orang merasa senang dan puas adalah perbuatan yang terbaik.
Beberapa pandangan yang mendukung teori ini, menyatakan bahwa daya tarik
pendekatan utilitarian terutama didasarkan pada nilai-nilai positif dari etika ini, yaitu
rasionalitas, kebebasan, dan universalitas. Pertama, prinsip moral dari etika
utilitarianisme yang didasarkan pada kriteria yang rasional, memungkinkan dasar

2014 Business Ethic and Good Governance Pusat Bahan Ajar dan eLearning
2 Dr. Suharno Pawirosumarto, S.Kom, MM http://www.mercubuana.ac.id
yang jelas dan langsung untuk formulasi maupun menguji kebijakan atau tindakan. Dalam
hal ini utilitarian tidak meminta kita untuk menerima aturan, kebijakan, atau prinsip
tanpa alasan. Tetapi, meminta kita untuk menguji nilainya secara rasional terhadap
standar manfaat. Kedua, utilitarianisme mengasumsikan kebebasan setiap orang dalam
berperilaku dan bertindak. Kebebasan yang dimaksud dalam hal ini kebebasan memilih
alternative tindakan yang dirasa memberikan manfaat sesuai dengan konsep the greatest
happiness of the greatest number. Setiap orang bebas dalam berperilaku dan bertindak
sesuai dengan pemikirannya sendiri, yang dilandasi dengan dasar kriteria yang rasional –
dalam hal ini standar manfaat. Keistimewaan yang ketiga adalah universalitasnya. Etika
utilitarianisme mengutamakan manfaat atau akibat dari suatu tindakan bagi banyak
orang, dan kriteria ini dapat diterima dimana saja dan kapan saja.
Terlepas dari daya tariknya, teori utilitarianisme juga mempunyai kelemahan, antara lain:
✓ Manfaat merupakan konsep yang kompleks sehingga penggunaannya sering
menimbulkan kesulitan. Masalah konsep manfaat ini dapat mencakup persepsi dari
manfaat itu sendiri yang berbeda-beda bagi tiap orang dan tidak semua manfaat yang
dinilai dapat dikuantifikasi yang berujung pada persoalan pengukuran manfaat itu
sendiri.
✓ Utilitarianisme tidak mempertimbangkan nilai suatu tindakan itu sendiri, dan hanya
memperhatikan akibat dari tindakan itu. Dalam hal ini utilitarianisme dianggap tidak
memfokuskan pemberian nilai moral dari suatu tindakan, melainkan hanya terfokus
aspek nilai konsekuensi yang ditimbulkan dari tindakan tersebut. Sehingga dapat
dikatakan bahwa utilitarianisme tidak mempertimbangkan motivasi seseorang
melakukan suatu tindakan.
✓ Kesulitan untuk menentukan prioritas dari kriteria etika utilitarianisme itu sendiri,
apakah lebih mementingkan perolehan manfaat terbanyak bagi sejumlah orang atau
jumlah terbanyak dari orang-orang yang memperoleh manfaat itu walaupun
manfaatnya lebih kecil.
✓ Utilitarianisme hanya menguntungkan mayoritas. Dalam hal ini suatu tindakan dapat
dibenarkan secara moral sejauh tindakan tersebut menguntungkan sebagian besar
orang, walaupun mungkin merugikan sekelompok minoritas. Dengan demikian,
utilitarianisme dapat dikatakan membenarkan ketidakadilan, yaitu bagi kelompok
yang tidak memperoleh manfaat.
Mengingat disatu pihak utilitarianisme memiliki keunggulan dan nilai positif yang sangat
jelas, tetapi di pihak lain punya kelemahan-kelemahan tertentu yang sangat jelas pula,
karena hal inilah muncul berbagai perdebatan atas kelemahan tersebut, maka diusulkan
utililtarsime dibedakan menjadi dua macam Salah satu pendekatan untuk menyelesaikan
permasalahan tersebut adalah dikenalkannya pembedaan

2014 Business Ethic and Good Governance Pusat Bahan Ajar dan eLearning
2 Dr. Suharno Pawirosumarto, S.Kom, MM http://www.mercubuana.ac.id
antara utilitarianisme-aturan (rule-utilitarian), dan utilitarianisme-tindakan (act-
utilitarian) (Bertens, 2000).
Utilitarian-tindakan berpendapat bahwa prinsip dasar utilitarianisme (manfaat terbesar
bagi jumlah orang terbesar) diterapkan dalam perbuatan. Prinsip dasar tersebut dipakai
untuk menilai kualitas moral suatu perbuatan. Sedangkan utilitarian-aturan berpendapat
bahwa suatu aturan moral umum lebih layak digunakan untuk menilai suatu tindakan. Ini
berarti yang utama bukanlah apakah suatu tindakan mendatangkan manfaat terbesar
bagi banyak orang, melainkan yang pertama-tama ditanyakan apakah tindakan itu
memang sesuai dengan aturan moral yang harus diikuti oleh semua orang. Jadi manfaat
terbesar bagi banyak orang merupakan kriteria yang berlaku setelah suatu tindakan
dibenarkan menurut kaidah moral yang ada. Oleh karena itu, dalam situasi dimana kita
perlu mengambil kebijakan atau tindakan berdasarkan teori etika utilitarianisme, perlu
menggunakan perasaan atau intuisi moral kita untuk mempertimbangkan secara jujur
apakah tindakan yang kita ambil memang manusiawi atau tidak terlepas dari perbedaan
persepsi akan konsep manfaat itu sendiri, apakah kita membenarkan tindakan dengan
manfaat yang telah kita perkirakan itu.

2) Teori Deontologi – Kewajiban Moral


Aliran besar pemikiran etika kedua adalah deontologi. Tokoh besar aliran ini adalah
Immanuel Kant (1724-1804) (Ludigdo, 2007), sehingga disebut juga sebagai Kantianisme.
Istilah deontogi sendiri berasal dari kata Yunani “deon” yang berarti kewajiban (Bertens,
2000). Pandangan dasar dari pemikiran etika deontologi ini adalah bahwa penilaian baik
atau buruknya suatu tindakan didasarkan pada penilaian apakah tindakan itu sendiri
sebagai baik atau buruk. Sehingga dapat dikatakan bahwa pendekatan deontologi ini
berbeda dalam prinsipnya dengan utilitarianisme yang berpendapat bahwa moralitas
suatu tindakan tergantung pada konsekuensinya.
Immanuel Kant sebagai filsofis penting dalam memperkenalkan pendekatan deontologi
ini, mengemukakan pandangannya bahwa suatu perilaku atau tindakan yang benar, bila
dilakukan berdasarkan “imperatif kategoris” (Bertens,2000). Imperatif kategoris berarti
mewajibkan yang tidak tergantung pada kondisi atau syarat apapun. Dari pernyataan
tersebut, secara sepintas dapat disimpulkan bahwa konsep dasar imperatif kategoris yang
dikemukakan oleh Kant yang menjadi landasan pendekatan deontologi, memiliki
penilaian moral yang berbeda dengan konsep dasar utilitarianisme yang lebih
memfokuskan konsep nilai-nilai moral pada pencapaian manfaat.
Selain itu Kant juga mengatakan, bagi hukum yang terpenting adalah legalitas perbuatan,
artinya segi lahiriah perbuatan. Di dalam hukum yang dinilai adalah apakah suatu
perbuatan bertentangan dengan hukum atau tidak. Sedangkan dalam

2014 Business Ethic and Good Governance Pusat Bahan Ajar dan eLearning
2 Dr. Suharno Pawirosumarto, S.Kom, MM http://www.mercubuana.ac.id
konteks etika, legalitas suatu perbuatan tidak cukup, tapi harus diperhatikan juga
moralitas perbuatan. Moralitas tidak terbatas dari segi lahiriah perbuatan tapi meliputi
juga segi batinnya, artinya motif mengapa perbuatan itu dilakukan.

3) Teori Hak dan Keadilan


Teori hak ini memiliki kaitan erat dengan teori deontologi, karena hak berkaitan dengan
kewajiban. Kewajiban seseorang biasanya diikuti juga dengan hak dari orang lain. Hak
didasarkan atas martabat manusia dan martabat semua manusia itu sama. Maka, teori
hak pun cocok diterapkan dengan suasana demokratis. Dalam arti, semua manusia dari
berbagai lapisan kehidupan harus mendapat perlakuan yang sama. Seperti yang
diungkapkan Immanuel Kant, bahwa manusia meruapakan suatu tujuan pada dirirnya (an
end in itself). Karena itu manusia harus selalu dihormati sebagai suatu tujuan sendiri dan
tidak pernah boleh diperlakukan semata-mata sebagai sarana demi tercapainya suatu
tujuan lain (Bertens, 2000).

4) Teori Etika Keutamaan


Pendekatan-pendekatan yang telah dibahas, baik utilitarian ataupun deontologi
kewajiban, hak, keadilan semuanya memfokuskan terutama pada suatu prinsip atau
norma. Kalau sesuai dengan norma, suatu tindakan adalah baik, kalau tidak sesuai,
tindakan itu buruk, terlepas dari fokus norma yang melandasinya. Disamping teori- teori
ini, ada suatu pendekatan lain yang tidak melihat tindakan, akan tetapi memfokuskan
pada manusia sebagai pelaku moral. Teori ini adalah teori keutamaan (virtue) yang
memandang karakter moral orang (Satyanugraha, 2003).
Keutamaan berasal dari terjemahan kata virtue yang sebenarnya berarti kebajikan,
namun terjemahan yang paling dekat dengan kata arete yang dipakai Aristoteles maka
berarti keutamaan. Menurut Aristoteles, keutamaan moral adalah kebiasaan yang
memungkinkan manusia untuk bertindak yang sesuai dengan tujuan spesfiknya sebagai
manusia. Agar manusia dapat bertindak sesuai dengan tujuan spesifiknya sebagai
manusia, tentunya manusia dibekali dengan akal yang membedakan manusia dengan
makhluk lain. Dengan menggunakan akal ini, manusia dapat berpikir secara rasional
untuk mempertimbangkan segala sifat-sifat keutamaannya sebagai seorang manusia
dalam menjalani hidup. Oleh karena itu, keutamaan (virtue) dapat didefinisikan sebagai
watak yang telah dimiliki seseorang dan memungkinkannya untuk bertingkah laku baik
secara moral (Bertens, 2000 dalam Satyanugraha, 2003) Seseorang yang baik adalah
hidup menurut keutamaan. Hidup yang baik adalah virtous of life (hidup keutamaan).
5) Teori Etika Religius
Pemikir besar Eropa dari kalangan Kristen adalah Thomas Aquinas (1225-1274). Menurut
aquinas, Tuhan adalah tujuan akhir manusia, karena Ia adalah nilai tertinggi dan
universal, dan karenanya kebahagiaan manusia tercapai apabila ia memandang Tuhan.

2014 Business Ethic and Good Governance Pusat Bahan Ajar dan eLearning
2 Dr. Suharno Pawirosumarto, S.Kom, MM http://www.mercubuana.ac.id
Dalam perspektif religius pemikiran etika cenderung melepaskan kepelikan dialektika
atau metodologis dan memusatkan pada usaha untuk mengeluarkan spirit moralitas
islam denga cara lebih langsung berakar pada AL-Qur’an dan Sunnah. Dalam diskusi ini
pengetahuan dan perbuatan menjadi unsur pencapain kebahagiaan. Sumber utama
pengetahuan adalah Tuhan yang telah menganugerahkannya kepada manusia melalui
berbagai cara.

IV. PRINSIP ETIS DALAM BISNIS


Bisnis dapat diartikan sebagai kegiatan memproduksi dan menjual barang dan jasa
untuk memenuhi kebutuhan masyarakat. Kegiatan bisnis terjadi karena keinginan untuk
saling memenuhi kebutuhan hidup masing-masing manusia, dan masing-masing pihak
tentunya memperoleh keuntungan dari proses tersebut. Tidak dapat disangkal bahwa pada
umumnya orang berpendapat bahwa bisnis adalah untuk mencari keuntungan sebesar-
besarnya. Untuk memaksimumkan keuntungan tersebut, maka tidak dapat dihindari sikap
dan perilaku yang menghalalkan segala cara yang sering tidak dibenarkan oleh norma moral.
Apabila memaksimalkan keuntungan menjadi satu-satunya tujuan perusahaan, dengan
sendirinya akan timbul keadaan yang tidak etis. Mengapa begitu? Jika keuntungan menjadi
satu-satunya tujuan, semuanya dikerahkan dan dimanfaatkan demi tercapainya tujuan itu,
termasuk juga karyawan yang bekerja dalam perusahaan. Akan tetapi, memperalat
karyawan karena alasan apa saja berarti tidak menghormati mereka sebagai manusia.
Dengan itu dilanggar suatu prinsip etis yang paling mendasar kita selalu harus menghormati
martabat manusia. Immanuel Kant, filsuf Jerman abad ke-18, menurutnya prinsip etis yang
paling mendasar dapat dirumuskan sebagai berikut: “hendaklah memperlakukan manusia
selalu juga sebagai tujuan pada dirinya dan tidak pernah sebagai sarana belaka”. Mereka
tidak boleh dimanfaatkan semata- mata untuk mencapai tujuan. Misalnya, mereka harus
dipekerjakan dalam kondisi kerja yang aman dan sehat dan harus diberikan gaji yang pantas.
Sejarah mencatat Revolusi Industri yang terjadi dari 1760 sampai 1830 dengan tujuan
untuk memaksimalisasi keuntungan, menyebabkan tenaga buruh dihisap begitu saja,
sungguh diperalat. Upah yang diberikan sangat rendah, hari kerja panjang sekali, tidak ada
jaminan kesehatan. Jika buruh jatuh sakit ia sering diberhentikan dan dalam keadaan lain
pun buruh bisa diberhentikan dengan semena-mena. Lebih parahnya, banyak dipakai tenaga
wanita dan anak dibawah umur, karena kepada mereka bisa diberikan upah lebih rendah lagi
dan mereka tidak mudah memberontak. Hal ini menunjukkan bahwa maksimalisasi
keuntungan sebagai tujuan usaha ekonomis bisa membawa akibat kurang etis.

Di satu pihak perlu diakui, bisnis tanpa tujuan profit bukan bisnis lagi. Di lain

2014 Business Ethic and Good Governance Pusat Bahan Ajar dan eLearning
2 http://www.mercubuana.ac.id
pihak keuntungan tidak boleh dimutlakkan. Keuntungan dalam bisnis merupakan suatu
pengertian yang relatif. Ronald Duska (1997) dalam Bertens (2000), mencoba untuk
merumuskan relativitas tersebut dengan menegaskan bahwa kita harus membedakan antara
purpose (maksud) dan motive. Maksud bersifat obyektif, sedangkan motivasi bersifat
subyektif. Keuntungan tidak merupakan maksud bisnis. Maksud bisnis adalah menyediakan
produk atau jasa yang bermanfaat untuk masyarakat. Keuntungan hanya sekadar motivasi
untuk mengadakan bisnis. Oleh karena itu, bisnis menjadi tidak etis, kalau perolehan untung
dimutlakkan dan segi moral dikesampingkan.
Keuntungan memungkinkan bisnis hidup terus, tetapi tidak menjadi tujuan terakhir
bisnis itu sendiri. Oleh karenanya tidak bisa dikatakan lagi bahwa profit merupakan satu-
satunya tujuan bagi bisnis. Beberapa cara untuk melukiskan relativitas keuntungan dalam
bisnis, dengan tidak mengabaikan perlunya (Bertens, 2000), adalah sebagai berikut:

▪ keuntungan merupakan tolak ukur untuk menilai kesehatan perusahaan atau efisiensi
manajemen dalam perusahaan;
▪ keuntungan adalah pertanda yang menunjukkan bahwa produk atau jasanya dihargai
oleh masyarakat;
▪ keuntungan adalah cambuk untuk meningkatkan usaha;
▪ keuntungan merupakan syarat kelangsungan perusahaan;
▪ keuntungan mengimbangi resiko dalam usaha.

Dari konsep relativitas keuntungan diatas, mengisyaratkan bahwa keuntungan bukan


yang utama dalam bisnis. Persepsi manfaat dari pencapaian keuntungan harus dirubah,
karena bisnis bukan semata-mata untuk memperoleh keuntungan materiil. Untuk itu
prinsip-prinsip etika yang diterapkan dalam kegiatan bisnis pada perusahaan-perusahaan
bisnis, haruslah mengacu pada stakeholders benefit. Stakeholders adalah semua pihak yang
berkepentingan dengan kegiatan suatu perusahaan. Pihak berkepentingan internal adalah
“orang dalam” dari suatu perusahaan: orang atau instansi yang secara langsung terlibat
dalam kegiatan perusahaan, seperti pemegang saham, manajer, dan karyawan. Pihak
berkepentingan eksternal adalah “orang luar” dari suatu perusahaan: orang atau instansi
yang tidak secara langsung terlibat dalam kegiatan perusahaan, seperti para konsumen,
masyarakat, pemerintah, lingkungan hidup. Kita bisa mengatakan bahwa tujuan perusahaan
adalah manfaat semua stakeholders. Misalnya, tidak etis kalau dalam suatu keputusan bisnis
hanya kepentingan para pemegang saham dipertimbangkan. Bukan saja kepentingan para
pemegang saham harus dipertimbangkan tapi juga kepentingan semua pihak lain,
khususnya para karyawan dan masyarakat di sekitar pabrik.
Beberapa prinsip etis dalam bisnis telah dikemukakan oleh Robert C.Solomon (1993)
dalam Bertens (2000), yang memfokuskan pada keutamaan pelaku bisnis

2014 Business Ethic and Good Governance Pusat Bahan Ajar dan eLearning
2 Dr. Suharno Pawirosumarto, S.Kom, MM http://www.mercubuana.ac.id
individual dan keutamaan pelaku bisnis pada taraf perusahaan. Berikut dijelaskan
keutamaan pelaku bisnis individual, yaitu:

1) Kejujuran
Kejujuran secara umum diakui sebagai keutamaan pertama dan paling penting yang
harus dimiliki pelaku bisnis. Orang yang memiliki keutamaan kejujuran tidak akan
berbohong atau menipu dalam transaksi bisnis. Pepatah kuno caveat emptor yaitu
hendaklah pembeli berhati-hati. Pepatah ini mengajak pembeli untuk bersikap kritis
untuk menghindarkan diri dari pelaku bisnis yang tidak jujur. Kejujuran memang
menuntut adanya keterbukaan dan kebenaran, namun dalam dunia bisnis terdapat
aspek-aspek tertentu yang tetap harus menjadi rahasia. Dalam hal ini perlu dicatat
bahwa setiap informasi yang tidak benar belum tentu menyesatkan juga.

2) Fairness
Fairness adalah kesediaan untuk memberikan apa yang wajar kepada semua orang
dan dengan ”wajar” yang dimaksudkan apa yang bisa disetujui oleh semua pihak
yang terlibat dalam suatu transaksi.

3) Kepercayaan
Kepercayaan adalah keutamaan yang penting dalam konteks bisnis. Kepercayaan
harus ditempatkan dalam relasi timbal-balik. Pebisnis yang memiliki keutamaan ini
boleh mengandaikan bahwa mitranya memiliki keutamaan yang sama. Pebisnis yang
memiliki kepercayaan bersedia untuk menerima mitranya sebagai orang yang bisa
diandalkan. Catatan penting yang harus dipegang adalah tidak semua orang dapat
diberi kepercayaan dan dalam memberikan kepercayaan kita harus bersikap kritis.
Kadang kala juga kita harus selektif memilih mitra bisnis. Dalam setiap perusahaan
hendaknya terdapat sistem pengawasan yang efektif bagi semua karyawan, tetapi
bagaimanapun juga, bisnis tidak akan berjalan tanpa ada kepercayaan.

4) Keuletan
Keutamaan keempat adalah keuletan, yang berarti pebisnis harus bertahan dalam
banyak situasi yang sulit. Ia harus sanggup mengadakan negosiasi yang terkadang
seru tentang proyek atau transaksi yang bernilai besar. Ia juga harus berani
mengambil risiko kecil ataupun besar, karena perkembangan banyak faktor tidak
diramalkan sebelumnya. Ada kalanya ia juga tidak luput dari gejolak besar dalam
usahanya.Keuletan dalam bisnis itu cukup dekat dengan keutamaan keberanian
moral.

2014 Business Ethic and Good Governance Pusat Bahan Ajar dan eLearning
2 Dr. Suharno Pawirosumarto, S.Kom, MM http://www.mercubuana.ac.id
Selanjutnya, empat keutamaan yang dimiliki orang bisnis pada taraf perusahaan,
yaitu:

1) Keramahan
Keramahan tidak merupakan taktik bergitu saja untuk memikat para pelanggan, tapi
menyangkut inti kehidupan bisnis itu sendiri, karena keramahan itu hakiki untuk
setiap hubungan antar-manusia. Bagaimanapun juga bisnis mempunyai segi melayani
sesama manusia.

2) Loyalitas
Loyalitas berarti bahwa karyawan tidak bekerja semata-mata untuk mendapat gaji,
tetapi juga mempunyai komitmen yang tulus dengan perusahaan. Ia adalah bagian
dari perusahaan yang memiliki rasa ikut memiliki perusahaan tempat ia bekerja.

3) Kehormatan
Kehormatan adalah keutamaan yang membuat karyawan menjadi peka terhadap
suka dan duka serta sukses dan kegagalan perusahaan. Nasib perusahaan dirasakan
sebagai sebagian dari nasibnya sendiri. Ia merasa bangga bila kinerjanya bagus.

4) Rasa Malu
Rasa malu membuat karyawan solider dengan kesalahan perusahaan. Walaupun ia
sendiri barang kali tidak salah, ia merasa malu karena perusahaannya salah.

Daftar Pustaka

2014 Business Ethic and Good Governance Pusat Bahan Ajar dan eLearning
2 Dr. Suharno Pawirosumarto, S.Kom, MM http://www.mercubuana.ac.id