Anda di halaman 1dari 32

LAPORAN PENDAHULUAN

FRAKTUR FEMUR

Disusun untuk memenuhi Tugas Praktek Keperawatan


Prodi Ners Jurusan Keperawatan
Poltekkes Kemenkes Mataram

Muhammad Arif Hidayatullah

P07120419010

KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA

POLITEKNIK KESEHATAN MATARAM

JURUSAN KEPERAWATAN

PROGRAM PENDIDIKAN PROFESI NERS

TAHUN 2020
LAPORAN PENDAHULUAN PADA PASIEN DENGAN FRAKTUR
FEMUR
1. Definisi
a. Fraktur adalah gangguan pada kontinuitas tulang normal yang terjadi karena adanya tekanan
yang besar, dimana tulang tidak dapat menahan tekanan tersebut dan disertai dengan
perlukaan jaringan sekitarnya (Brunner dan Suddrat).
b. Fraktur adalah terputusnya kontinuitas jaringan tulang atau tulang rawan yang umumnya
disebabkan oleh cedera (Masjoer 2000)
c. Fraktur femur adalah terputusnya kontinuitas batang femur yang bias terjadi akibat trauma
langsung  (kecelakaan dll) dan biasanya lebih banyak dialami oleh laki laki dewasa. Patah
pada daerah ini menimbulkan perdarahan yang cukup banyak menyebabkan penderitaan
(FKUI,1995 : 543)
2. Etiologi
a. Fraktur akibat peristiwa trauma
Sebagian fraktur disebabkanoleh kekuatan yang tiba-tiba berlebihan yang dapat berupa
pemukulan, penghancuran, perubahan tempat. Bila tekanan kekuatan langsungan, tulang
dapat pada tempat yang terkena dan jaringan lunak juga pasti akan ikut rusak serta kerusakan
pada kulit.
b. Akibat kelelahan atau tekanan.
Retak dapat terjadi pada tulang seperti halnya pada logam dan benda lain akibat tekanan
berulang. Hal ini sering terjadi pada atlet, penari atau calon tentara yang berbaris atau
berjalan dalam jarak jauh.
c. Fraktur patologik karena kelemahan pada tulang
Fraktur dapat terjadi oleh tekanan yang normal bila tulang tersebut lunak (misalnya oleh
tumor) atau tulang-tulang sangat rapuh.
3. Manifestasi Klinis
a. Nyeri
Terjadi karena adanya spasme otot tekanan dari patahan tulang atu kerusakan jaringan
sekitarnya.
b. Bengkak
Bengkak muncul dikarenakan cairan serosa yang terlokalisir pada daerah fraktur dan
ekstravasi daerah jaringan sekitarnya.
c. Memar
Terjadi karena adanya ekstravasi jaringan sekitar fraktur.
d. Spasme otot
Merupakan kontraksi involunter yang terjadi disekitar fraktur.
e. Gangguan fungsi
Terjadi karena ketidakstabilan tulang yang fraktur,nyeri atau spasme otot, paralysis dapat
terjadi karena kerusakan syaraf. 
f. Mobilisasi abnormal
Adalah pergerakan yang terjadi pada bagian yang pada kondisi normalnya tidak terjadi
pergerakan.
g. Krepitasi
Merupakan rasa gemeretak yang terjadi saat tulang digerakkan.
h. Deformitas
Abnormal posisi tulang sebagai hasil dari kecelakaan atau trauma dan pergerakan otot yang
mendorong fragmen tulang ke posisi abnormal, dan menyebabkan tulang kehilangan bentuk
normalnya.
4. Patofisiologi
Tulang bersifat rapuh namun cukup mempunyai kekeuatan dan gaya pegas untuk menahan
tekanan (Apley, A. Graham, 1993). Tapi apabila tekanan eksternal yang datang lebih besar dari
yang dapat diserap tulang, maka terjadilah trauma pada tulang yang mengakibatkan rusaknya
atau terputusnya kontinuitas tulang (Carpnito, Lynda Juall, 1995). Setelah terjadi fraktur,
periosteum dan pembuluh darah serta saraf dalam korteks, marrow, dan jaringan lunak yang
membungkus tulang rusak. Perdarahan terjadi karena kerusakan tersebut dan terbentuklah
hematoma di rongga medula tulang. Jaringan tulang segera berdekatan ke bagian tulang yang
patah. Jaringan yang mengalami nekrosis ini menstimulasi terjadinya respon inflamasi yang
ditandai denagn vasodilatasi, eksudasi plasma dan leukosit, dan infiltrasi sel darah putih. ini
merupakan dasar penyembuhan tulang (Black, J.M, et al, 1993).
Trauma merupakan penyebab mayoritas dari fraktur baik trauma karena kecelakaan
bermotor maupun jatuh dari ketinggian menyebabkan rusak atau putusnya kontinuitas jaringan
tulang. Selain itu keadaan patologik tulang seperti Osteoporosis yang menyebabkan densitas
tulang menurun, tulang rapuh akibat ketidakseimbangan homeostasis pergantian tulang dan
kedua penyebab di atas dapat mengakibatkan diskontinuitas jaringan tulang yang dapat merobek
periosteum dimana pada dinding kompartemen tulang tersebut terdapat saraf-saraf sehingga
dapat timbul rasa nyeri yang bertambah bila digerakkan. Fraktur dibagi 3 grade menurut
kerusakan jaringan tulang. Grade I menyebabkan kerusakan kulit, Grade II fraktur terbuka yang
disertai dengan kontusio kulit dan otot terjadi edema pada jaringan. Grade III kerusakan pada
kulit, otot, jaringan saraf dan pembuluh darah.
Pada grade I dan II kerusakan pada otot/jaringan lunak dapat menimbulkan nyeri yang
hebat karena ada spasme otot. Pada kerusakan jaringan yang luas pada kulit otot periosteum dan
sumsum tulang yang menyebabkan keluarnya sumsum kuning yang dapat masuk ke dalam
pembuluh darah sehingga mengakibatkan emboli lemak yang kemudian dapat menyumbat
pembuluh darah kecil dan dapat berakibat fatal apabila mengenai organ-organ vital seperti otak
jantung dan paru-paru, ginjal dan dapat menyebabkan infeksi. Gejala sangat cepat biasanya
terjadi 24 sampai 72 jam. Setelah cidera gambaran khas berupa hipoksia, takipnea, takikardi.
Peningkatan isi kompartemen otot karena edema atau perdarahan, mengakibatkan kehilangan
fungsi permanen, iskemik dan nekrosis otot saraf sehingga menimbulkan kesemutan (baal), kulit
pucat, nyeri dan kelumpuhan. Bila terjadi perdarahan dalam jumlah besar dapat mengakibatkan
syok hipovolemik. Tindakan pembedahan penting untuk mengembalikan fragmen yang hilang
kembali ke posisi semula dan mencegah komplikasi lebih lanjut. Selain itu bila perubahan
susunan tulang dalam keadaan stabil atau beraturan maka akan lebih cepat terjadi proses
penyembuhan fraktur dapat dikembalikan sesuai letak anatominya dengan gips.
Trauma pada tulang yang mengakibatkan rusaknya atau terputusnya kontinuitas tulang.
Setelah terjadi fraktur, periosteum dan pembuluh darah serta saraf dalam korteks, marrow, dan
jaringan lunak yang membungkus tulang rusak. Perdarahan terjadi karena kerusakan tersebut dan
terbentuklah hematoma di rongga medula tulang. Jaringan tulang segera berdekatan ke bagian
tulang yang patah. Jaringan yang mengalami nekrosis ini menstimulasi terjadinya respon
inflamasi yang ditandai dengan vasodilatasi, eksudasi plasma dan leukosit, dan infiltrasi sel darah
putih. Kejadian inilah yang merupakan dasar dari proses penyembuhan tulang nantinya. Faktor-
faktor yang mempengaruhi fraktur :
1.    Faktor Ekstrinsik
Adanya tekanan dari luar yang bereaksi pada tulang yang tergantung terhadap besar,
waktu, dan arah tekanan yang dapat menyebabkan fraktur.
2.    Faktor Intrinsik
Beberapa sifat yang terpenting dari tulang yang menentukan daya tahan untuk timbulnya
fraktur seperti kapasitas absorbsi dari tekanan, elastisitas, kelelahan, dan kepadatan atau
kekerasan tulang.
5. Klasifikasi fraktur Femur
a. Fraktur collum femur:
Fraktur collum femur dapat disebabkan oleh trauma langsung yaitu misalnya penderita jatuh
dengan posisi miring dimana daerah trochanter mayor langsung terbentur dengan benda keras
(jalanan) ataupun disebabkan oleh trauma tidak langsung yaitu karena gerakan exorotasi yang
mendadak dari tungkai bawah, dibagi dalam :
1) Fraktur intrakapsuler (Fraktur collum femur)
2) Fraktur extrakapsuler (Fraktur intertrochanter femur)
b. Fraktur subtrochanter femur
Fraktur supracondyler fragment bagian distal selalu terjadi dislokasi ke posterior, hal ini
biasanya disebabkan karena adanya tarikan dari otot – otot gastrocnemius, biasanya fraktur
supracondyler ini disebabkan oleh trauma langsung karena kecepatan tinggi sehingga terjadi
gaya axial dan stress valgus atau varus dan disertai gaya rotasi. fraktur dimana garis patahnya
berada 5 cm distal dari trochanter minor, dibagi dalam beberapa klasifikasi tetapi yang lebih
sederhana dan mudah dipahami adalah klasifikasi Fielding & Magliato, yaitu :
1) tipe 1 : garis fraktur satu level dengan trochanter minor
2) tipe 2 : garis patah berada 1 -2 inch di bawah dari batas atas trochanter minor
3) tipe 3 : garis patah berada 2 -3 inch di distal dari batas atas trochanterminor
c.  Fraktur batang femur (dewasa)
Fraktur batang femur biasanya terjadi karena trauma langsung akibat kecelakaan lalu lintas
dikota kota besar atau jatuh dari ketinggian, patah pada daerah ini dapat menimbulkan
perdarahan yang cukup banyak, mengakibatkan penderita jatuh dalam shock, salah satu
klasifikasi fraktur batang femur dibagi berdasarkan adanya luka yang berhubungan dengan
daerah yang patah. Dibagi menjadi :
– tertutup
– terbuka, ketentuan fraktur femur terbuka bila terdapat hubungan antara tulang patah
dengan dunia luar dibagi dalam tiga derajat, yaitu ;
1) Derajat I : Bila terdapat hubungan dengan dunia luar timbul luka kecil, biasanya
diakibatkan tusukan fragmen tulang dari dalam menembus keluar.
2) Derajat II : Lukanya lebih besar (>1cm) luka ini disebabkan karena benturan dari luar.
3) Derajat III : Lukanya lebih luas dari derajat II, lebih kotor, jaringan lunak banyak yang
ikut rusak (otot, saraf, pembuluh darah)
d. Fraktur batang femur (anak – anak)
e. Fraktur supracondyler femur
Fraktur supracondyler fragment bagian distal selalu terjadi dislokasi ke posterior, hal ini
biasanya disebabkan karena adanya tarikan dari otot – otot gastrocnemius, biasanya fraktur
6
STASE GADAR DAN KRITIS PROFESI NERS POLTEKKES KEMENKES MATARAM
supracondyler ini disebabkan oleh trauma langsung karena kecepatan tinggi sehingga terjadi
gaya axial dan stress valgus atau varus dan disertai gaya rotasi.
f. Fraktur intercondylair
Biasanya fraktur intercondular diikuti oleh fraktur supracondular, sehingga umumnya terjadi
bentuk T fraktur atau Y fraktur.
g. Fraktur condyler femur
Mekanisme traumanya biasa kombinasi dari gaya hiperabduksi dan adduksi disertai dengan
tekanan pada sumbu femur keatas.
Ada 2 type dari fraktur femur, yaitu :
1. Fraktur Intrakapsuler femur yang terjadi di dalam tulang sendi, panggul dan Melalui kepala
femur (capital fraktur)
a. Hanya di bawah kepala femur
b. Melalui leher dari femur
2. Fraktur Ekstrakapsuler;
a. Terjadi di luar sendi dan kapsul, melalui trokhanter femur yang lebih besar/yang lebih
kecil /pada daerah intertrokhanter.
b. Terjadi di bagian distal menuju leher femur tetapi tidak lebih dari 2 inci di bawah
trokhanter kecil.
6. Gambaran Klinis
Bagian paha yang patah lebih pendek dan lebih besar dibanding dengan normal serta fragmen
distal dalam posisi eksorotasi dan aduksi karena empat penyebab:
1) Tanpa stabilitas longitudinal femur, otot yang melekat pada fragmen atas dan bawah
berkontraksi dan paha memendek, yang menyebabkan bagian paha yang patah membengkak.
2) Aduktor melekat pada fragmen distal dan abduktor pada fragmen atas. Fraktur memisahkan
dua kelompok otot tersebut, yang selanjutnya bekerja tanpa ada aksi antagonis.
3) Beban berat kaki memutarkan fragmen distal ke rotasi eksterna.
4) Femur dikelilingi oleh otot yang mengalami laserasi oleh ujung tulang fraktur yang tajam
dan paha terisi dengan darah, sehingga terjadi pembengkakan (1,2,3).
Selain itu, adapun tanda dan gejalanya adalah :
a. Nyeri hebat di tempat fraktur
b. Tak mampu menggerakkan ekstremitas bawah
c. Rotasi luar dari kaki lebih pendek
d. Diikuti tanda gejala fraktur secara umum, seperti : fungsi berubah, bengkak, kripitasi,
sepsis pada fraktur terbuka, deformitas.
7. Komplikasi
Menurut Sylvia and Price (2001), komplikasi yang biasanya ditemukan antara lain :
7
STASE GADAR DAN KRITIS PROFESI NERS POLTEKKES KEMENKES MATARAM
1. Komplikasi Awal
a. Kerusakan Arteri
Pecahnya arteri karena trauma bisa ditandai dengan tidak adanya nadi, CRT menurun,
cyanosis bagian distal, hematoma yang lebar, dan dingin pada ekstrimitas yang
disebabkan oleh tindakan emergensi splinting, perubahan posisi pada yang sakit, tindakan
reduksi, dan pembedahan.
b. Kompartement Syndrom
Kompartement Syndrom merupakan komplikasi serius yang terjadi karena terjebaknya
otot, tulang, saraf, dan pembuluh darah dalam jaringan parut. Ini disebabkan oleh oedema
atau perdarahan yang menekan otot, saraf, dan pembuluh darah. Selain itu karena tekanan
dari luar seperti gips dan embebatan yang terlalu kuat.
c.  Fat Embolism Syndrom
Fat Embolism Syndrom (FES) adalah komplikasi serius yang sering terjadi pada kasus
fraktur tulang panjang. FES terjadi karena sel-sel lemak yang dihasilkan bone marrow
kuning masuk ke aliran darah dan menyebabkan tingkat oksigen dalam darah rendah yang
ditandai dengan gangguan pernafasan, tachykardi, hypertensi, tachypnea, demam.
d.   Infeksi
System pertahanan tubuh rusak bila ada trauma pada jaringan. Pada trauma orthopedic
infeksi dimulai pada kulit (superficial) dan masuk ke dalam. Ini biasanya terjadi pada
kasus fraktur terbuka, tapi bisa juga karena penggunaan bahan lain dalam pembedahan
seperti pin dan plat.
e.  Avaskuler Nekrosis
Avaskuler Nekrosis (AVN) terjadi karena aliran darah ke tulang rusak atau terganggu
yang bisa menyebabkan  nekrosis tulang dan diawali dengan adanya Volkman’s Ischemia.
f.  Shock
Shock terjadi karena kehilangan banyak darah dan meningkatnya permeabilitas kapiler
yang bisa menyebabkan menurunnya oksigenasi. Ini biasanya terjadi pada fraktur.
2. Komplikasi Dalam Waktu Lama
a. Delayed Union
Delayed Union merupakan kegagalan fraktur berkonsolidasi sesuai dengan waktu yang
dibutuhkan tulang untuk menyambung. Ini disebabkan karena penurunan supai darah ke
tulang.
b. Nonunion
Nonunion merupakan kegagalan fraktur berkkonsolidasi dan memproduksi sambungan
yang lengkap, kuat, dan stabil setelah 6-9 bulan. Nonunion ditandai dengan adanya
pergerakan yang berlebih pada sisi fraktur yang membentuk sendi palsu atau
8
STASE GADAR DAN KRITIS PROFESI NERS POLTEKKES KEMENKES MATARAM
pseudoarthrosis. Ini juga disebabkan karena aliran darah yang kurang.
c.  Malunion
Malunion merupakan penyembuhan tulang ditandai dengan meningkatnya tingkat
kekuatan dan perubahan bentuk (deformitas). Malunion dilakukan dengan pembedahan
dan reimobilisasi yang baik.
8. Pemeriksaan penunjang
Menurut Doenges dalam Jitowiyono (2010:21). Beberapa pemeriksaan yang dapat dilakukan pada
klien dengan fraktur, diantranya:
a. Pemeriksaan rontgen : menetukan lokasi/luasnya fraktur/trauma
b. Scan tulang, scan CT/MRI: memperlihatkan fraktur, juga dapat digunakan untuk
mengidentifikasi kerusakan jaringan lunak.
c. Arteriogram : dilakukan bila kerusakan vaskuler dicurigai.
d. Hitung darah lengkap: HT mungkin meningkat (hemokonsentrasi) atau menurun (perdarahan
bermakna pada sisi fraktur) perdarahan bermakna pada sisi fraktur atau organ jauh pada
trauma multipel.
e. Kreatinin : trauma otot meningkatkan beban kreatinin untuk klirens ginjal.
f. Profil koagulasi : perubahan dapat terjadi pada kehilangan darah, transfusi multipel, atau
cidera hati. Golongan darah, dilakukan sebagai persiapan transfusi darah jika ada kehilangan
darah yang   bermakna akibat cedera atau tindakan pembedahan.
9. Penatalaksanaan Medis
Penatalaksanaan yang dilakukan adalah :
1. Fraktur Terbuka
Merupakan kasus emergensi karena dapat terjadi kontaminasi oleh bakteri dan disertai
perdarahan yang hebat dalam waktu 6-8 jam (golden period). Kuman belum terlalu jauh
meresap dilakukan:
a. Pembersihan luka
b. Exici
c. Hecting situasi
d. Antibiotik
Ada bebearapa prinsipnya yaitu :
a. Harus ditegakkan dan ditangani dahulu akibat trauma yang membahayakan jiwa airway,
breathing, circulation.
b. Semua patah tulang terbuka adalah kasus gawat darurat yang memerlukan penanganan
segera yang meliputi pembidaian, menghentikan perdarahan dengan perban tekan,
menghentikan perdarahan besar dengan klem.
c. Pemberian antibiotika.
9
STASE GADAR DAN KRITIS PROFESI NERS POLTEKKES KEMENKES MATARAM
d. Debridement dan irigasi sempurna.
e. Stabilisasi.
f. Penutup luka.
g. Rehabilitasi.
h. Life Saving
i. Semua penderita patah tulang terbuka harus di ingat sebagai penderita dengan
kemungkinan besar mengalami cidera ditempat lain yang serius. Hal ini perlu
ditekankan mengingat bahwa untuk terjadinya patah tulang diperlukan suatu gaya yang
cukup kuat yang sering kali tidak hanya berakibat total, tetapi berakibat multi organ.
Untuk life saving prinsip dasar yaitu : airway, breath and circulation.
j.  Semua patah tulang terbuka dalam kasus gawat darurat.
Dengan terbukanya barier jaringan lunak maka patah tulang tersebut terancam untuk
terjadinya infeksi seperti kita ketahui bahwa periode 6 jam sejak patah tulang tebuka
luka yang terjadi masih dalam stadium kontaminsi (golden periode) dan setelah waktu
tersebut luka berubah menjadi luka infeksi. Oleh karena itu penanganan patuah tulang
terbuka harus dilakukan sebelum golden periode terlampaui agar sasaran akhir
penanganan patah tulang terbuka, tercapai walaupun ditinjau dari segi prioritas
penanganannya. Tulang secara primer menempati urutan prioritas ke 6. Sasaran akhir di
maksud adalah mencegah sepsis, penyembuhan tulang, pulihnya fungsi.
k. Pemberian antibiotika
Mikroba yang ada dalam luka patah tulang terbuka sangat bervariasi tergantung dimana
patah tulang ini terjadi. Pemberian antibiotika yang tepat sukar untuk ditentukan hany
saja sebagai pemikiran dasar. Sebaliklnya antibiotika dengan spektrum luas untuk
kuman gram positif maupun negatif.
l. Debridemen dan irigasi
Debridemen untuk membuang semua jaringan mati pada darah patah terbuka baik
berupa benda asing maupun jaringan lokal yang mati. Irigasi untuk mengurangi
kepadatan kuman dengan cara mencuci luka dengan larutan fisiologis dalam jumlah
banyak baik dengan tekanan maupun tanpa tekanan.
m. Stabilisasi.
Untuk penyembuhan luka dan tulang sangat diperlukan stabilisasi fragmen tulang, cara
stabilisasi tulang tergantung pada derajat patah tulang terbukanya dan fasilitas yang ada.
Pada derajat 1 dan 2 dapat dipertimbangkan pemasangan fiksasi dalam secara primer.
Untuk derajat 3 dianjurkan pemasangan fiksasi luar. Stabilisasi ini harus sempurna agar
dapat segera dilakukan langkah awal dari rahabilitasi penderita.    (Pedoman diagnosis
dan terapi, UPF, 1994: 133)
10
STASE GADAR DAN KRITIS PROFESI NERS POLTEKKES KEMENKES MATARAM
2. Seluruh Fraktur
a. Rekognisis/Pengenalan
 Riwayat kejadian harus jelas untuk mentukan diagnosa dan tindakan selanjutnya.
b. Reduksi/Manipulasi/Reposisi
 Upaya untuk memanipulasi fragmen tulang sehingga kembali seperti semula secara
optimun. Dapat juga diartikan Reduksi fraktur (setting tulang) adalah mengembalikan
fragmen tulang pada kesejajarannya dan rotasfanatomis (brunner, 2001).
Reduksi tertutup, traksi, atau reduksi terbuka dapat dilakukan untuk mereduksi fraktur.
Metode tertentu yang dipilih bergantung sifat fraktur, namun prinsip yang mendasarinya
tetap, sama. Biasanya dokter melakukan reduksi fraktur sesegera mungkin untuk mencegah
jaringan lunak kehilaugan elastisitasnya akibat infiltrasi karena edema dan perdarahan.
Pada kebanyakan kasus, roduksi fraktur menjadi semakin sulit bila cedera sudah mulai
mengalami penyembuhan.
          Sebelum reduksi dan imobilisasi fraktur, pasien harus dipersiapkan
untuk  menjalani prosedur; harus diperoleh izin untuk melakukan prosedur, dan analgetika
diberikan sesuai ketentuan. Mungkin perlu dilakukan anastesia. Ekstremitas yang akan
dimanipulasi harus ditangani dengan lembut untuk mencegah kerusakan lebih lanjut.
          Reduksi tertutup.  Pada kebanyakan kasus, reduksi tertutup dilakukan dengan
mengembalikan fragmen tulang keposisinya (ujung-ujungnya saling berhubungan) dengan
manipulasi dan traksi manual.
          Ekstremitas dipertahankan dalam posisi yang diinginkan, sementara gips, biadi
dan alat lain dipasang oleh dokter. Alat immobilisasi akan menjaga reduksi dan
menstabilkan ekstremitas untuk penyembuhan tulang. Sinar-x harus dilakukan untuk
mengetahui apakah fragmen tulang telah dalam kesejajaran yang benar.
          Traksi. Traksi dapat digunakan untuk mendapatkan efek reduksi dan imoblisasi.
Beratnya traksi disesuaikan dengan spasme otot yang terjadi. Sinar-x digunakan untuk
memantau reduksi fraktur dan aproksimasi fragmen tulang. Ketika tulang sembuh, akan
terlihat pembentukan kalus pada sinar-x. Ketika kalus telah kuat dapat dipasang gips atau
bidai untuk melanjutkan imobilisasi.
          Reduksi Terbuka. Pada fraktur tertentu memerlukan reduksi terbuka. Dengan
pendekatan bedah, fragmen tulang direduksi. Alat fiksasi interna dalam bentuk pin, kawat,
sekrup, plat paku, atau batangan logam digunakan untuk mempertahankan fragmen tulang
dalam posisnya sampai penyembuhan tulang yang solid terjadi. Alat ini dapat diletakkan di
sisi tulang atau langsung ke rongga sumsum tulang, alat tersebut menjaga aproksimasi dan
fiksasi yang kuat bagi fragmen tulang.
11
STASE GADAR DAN KRITIS PROFESI NERS POLTEKKES KEMENKES MATARAM
c. OREF
Penanganan intraoperatif pada fraktur terbuka derajat III yaitu dengan cara reduksi terbuka
diikuti fiksasi eksternal (open reduction and external fixation=OREF) sehingga diperoleh
stabilisasi fraktur yang baik. Keuntungan fiksasi eksternal adalah memungkinkan stabilisasi
fraktur sekaligus menilai jaringan lunak sekitar dalam masa penyembuhan fraktur.
Penanganan pascaoperatif yaitu perawatan luka dan pemberian antibiotik untuk mengurangi
risiko infeksi, pemeriksaan radiologik serial, darah lengkap, serta rehabilitasi berupa
latihan-latihan secara teratur dan bertahap sehingga ketiga tujuan utama penanganan fraktur
bisa tercapai, yakni union (penyambungan tulang secara sempurna), sembuh secara
anatomis (penampakan fisik organ anggota gerak; baik, proporsional), dan sembuh secara
fungsional (tidak ada kekakuan dan hambatan lain dalam melakukan gerakan).
d.  ORIF
ORIF adalah suatu bentuk pembedahan dengan pemasangan internal fiksasi pada tulang
yang mengalami fraktur. Fungsi ORIF untuk mempertahankan posisi fragmen tulang agar
tetap menyatu dan tidak mengalami pergeseran. Internal fiksasi ini berupa Intra Medullary
Nail biasanya digunakan untuk fraktur tulang panjang dengan tipe fraktur tranvers.
Reduksi terbuka dengan fiksasi interna (ORIF=open reduction and internal fixation)
diindikasikan pada kegagalan reduksi tertutup, bila dibutuhkan reduksi dan fiksasi yang
lebih baik dibanding yang bisa dicapai dengan reduksi tertutup misalnya pada fraktur intra-
artikuler, pada fraktur terbuka, keadaan yang membutuhkan mobilisasi cepat, bila
diperlukan fiksasi rigid, dan sebagainya. Sedangkan reduksi terbuka dengan fiksasi eksterna
(OREF=open reduction and external fixation) dilakukan pada fraktur terbuka dengan
kerusakan jaringan lunak yang membutuhkan perbaikan vaskuler, fasiotomi, flap jaringan
lunak, atau debridemen ulang. Fiksasi eksternal juga dilakukan pada politrauma, fraktur
pada anak untuk menghindari fiksasi pin pada daerah lempeng pertumbuhan, fraktur
dengan infeksi atau pseudoarthrosis, fraktur kominutif yang hebat, fraktur yang disertai
defisit tulang, prosedur pemanjangan ekstremitas, dan pada keadaan malunion dan
nonunion setelah fiksasi internal. Alat-alat yang digunakan berupa pin dan wire (Schanz
screw, Steinman pin, Kirschner wire) yang kemudian dihubungkan dengan batang untuk
fiksasi. Ada 3 macam fiksasi eksternal yaitu monolateral/standar uniplanar, sirkuler/ring
(Ilizarov dan Taylor Spatial Frame), dan fiksator hybrid. Keuntungan fiksasi eksternal
adalah memberi fiksasi yang rigid sehingga tindakan seperti skin graft/flap, bone graft, dan
irigasi dapat dilakukan tanpa mengganggu posisi fraktur. Selain itu, memungkinkan
pengamatan langsung mengenai kondisi luka, status neurovaskular, dan viabilitas flap
dalam masa penyembuhan fraktur. Kerugian tindakan ini adalah mudah terjadi infeksi,
dapat terjadi fraktur saat melepas fiksator, dan kurang baik dari segi estetikPenanganan
12
STASE GADAR DAN KRITIS PROFESI NERS POLTEKKES KEMENKES MATARAM
pascaoperatif meliputi perawatan luka dan pemberian antibiotik untuk mengurangi risiko
infeksi, pemeriksaan radiologik serial, darah lengkap, serta rehabilitasi. Penderita diberi
antibiotik spektrum luas untuk mencegah infeksi dan dilakukan kultur pus dan tes
sensitivitas. Diet yang dianjurkan tinggi kalori tinggi protein untuk menunjang proses
penyembuhan.Rawat luka dilakukan setiap hari disertai nekrotomi untuk membuang
jaringan nekrotik yang dapat menjadi sumber infeksi. Pada kasus ini selama follow-up
ditemukan tanda-tanda infeksi jaringan lunak dan tampak nekrosis pada tibia sehingga
direncanakan untuk debridemen ulang dan osteotomi. Untuk pemantauan selanjutnya
dilakukan pemeriksaan radiologis foto femur dan cruris setelah reduksi dan imobilisasi
untuk menilai reposisi yang dilakukan berhasil atau tidak. Pemeriksaan radiologis serial
sebaiknya dilakukan 6 minggu, 3 bulan, 6 bulan, dan 12 bulan sesudah operasi untuk
melihat perkembangan fraktur. Selain itu dilakukan pemeriksaan darah lengkap rutin.
e. Retensi/Immobilisasi
Upaya yang dilakukan untuk menahan fragmen tulang sehingga kembali seperti semula
secara optimun. Imobilisasi fraktur. Setelah fraktur direduksi, fragmen tulang harus
diimobilisasi, atau dipertahankan dalam posisi kesejajaran yang benar sampai terjadi
penyatuan. Imobilisasi dapat dilakukan dengan fiksasi eksterna atau interna. Metode fiksasi
eksterna meliputi pembalutan, gips, bidai, traksi kontinu, pin dan teknik gips, atau fiksator
eksterna. Implan logam dapat digunakan untuk fiksasi interna yang berperan sebagai bidai
interna untuk mengimobilisasi fraktur.
f. Rehabilitasi
Menghindari atropi dan kontraktur dengan fisioterapi.  Segala upaya diarahkan pada
penyembuhan tulang dan jaringan lunak. Reduksi dan imobilisasi harus dipertahankan
sesuai kebutuhan. Status neurovaskuler (mis. pengkajian peredaran darah, nyeri, perabaan,
gerakan) dipantau, dan ahli bedah ortopedi diberitahu segera bila ada tanda gangguan
neurovaskuler.
Kegelisahan, ansietas dan ketidaknyamanan dikontrol dengan berbagai pendekatan (mis.
meyakinkan, perubahan posisi, strategi peredaan nyeri, termasuk analgetika). Latihan
isometrik dan setting otot diusahakan untuk meminimalkan atrofi disuse dan meningkatkan
peredaran darah. Partisipasi dalam aktivitas hidup sehari-hari diusahakan untuk
memperbaiki kemandirian fungsi dan harga-diri. Pengembalian bertahap pada aktivitas
semula diusahakan sesuai batasan terapeutika. Biasanya, fiksasi interna memungkinkan
mobilisasi lebih awal. Ahli bedah yang memperkirakan stabilitas fiksasi fraktur,
menentukan luasnya gerakan dan stres pada ekstrermitas yang diperbolehkan, dan
menentukan tingkat aktivitas dan beban berat badan.

13
STASE GADAR DAN KRITIS PROFESI NERS POLTEKKES KEMENKES MATARAM
ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN FRAKTUR
1. Pengkajian
Menurut hidayat (2004:98), pengkajian merupakan langkah pertama dari proses keperawatan
dengan mengumpulkan data-data yang akurat dari klien sehingga akan diketahui berbagai
permasalahan yang ada. Adapun pengkajian pada pasien post operasi menurut Suratun (2008:66)
adalah :
a. Lanjutkan perawatan pra operatif
b. Kaji ulang kebutuhan pasien berkaitan dengan kebutuhan rasa nyeri, perfusi jaringan,
promosi kesehatan, mobilitas dan konsep diri
c. Kaji dan pantau potensial masalah yang berkaitan dengan pembedahan: tanda vital, derajat
kesadaran, cairan yang keluar dari luka, suara nafas, bising usus, keseimbangan cairan, dan
nyeri.
d. Observasi resiko syok hipovolemia akibat kehilangan darah akibat pembedahan mayor
(frekuensi nadi meningkat, tekanan darah turun, konfusi dan gelisah).
e. Kaji peningkatan komplikasi paru dan jantung: observasi perubahan frekuensi nadi,
pernafasan, warna kulit, suhu tubuh, riwayat penyakit paru, dan jantung sebelumnya.
f. Sistem perkemihan: pantau pengeluaran urin, apakah terjadi retensi urin. Retensi dapat
disebabkan oleh posisi berkemih tidak alamiah, pembesaran prostat, dan adanya infeksi
saluran kemih.
g. Observasi tanda infeksi ( infeksi luka terjadi 5-9 hari, flebitis biasanya timbul selama
minggu kedua), dan tanda vital.
h. Kaji komplikasi tromboembolik: kaji tungkai untuk tandai nyeri tekan, panas, kemerahan,
dan edema pada betis.
i. Kaji komplikasi embolik lemak: perubahan pola panas, tingkah laku dan perubahan
kesadaran.
14
STASE GADAR DAN KRITIS PROFESI NERS POLTEKKES KEMENKES MATARAM
Sedangkan menurut Doenges (2000:761), data dasar pengkajian pada pasien dengan post op
fraktur femur berhubungan dengan intervensi bedah umum yang mengacu pada pengkajian fraktur,
yaitu:
a. Aktivitas/istirahat:keterbatasan/kehilangan fungsi pada bagian yang terkena.
b. Sirkulasi: hipertensi, hipotensi, takikardia, pengisian kapiler lambat, pucat pada bagian yang
tekena, pembengkakan jaringan.
c. Neurosensori: hilang gerakan/sensasi, spasme otot, kebas, deformitas local.
d. Nyeri/kenyamanan: nyeri berat tiba-tiba pada saat cedera, spasme/keram otot.
e. Keamanan: laserasi kulit, avulsi jaringan, perdarahan, perubahan warna, pembengkakan
local.
2. Diagnosa Keperawatan
Menurut Sumijantun (2010:189), diagnosa keperawatan merupakan langkah kedua dari proses
keperawatan yang menggambarkan penilaian klinis tentang respon individu, keluarga, kelompok,
maupun masyarakat terhadap permasalahan kesehatan baik aktual maupun potensial. Adapun diagnosa
keperawatan pada kasus post op fraktur menurut Suratun (2008:67) adalah :
a. Nyeri berhubungan dengan prosedur pembedahan, pembengkakan dan imobilisasi.
b. Potensi perubahan perfusi jaringan perifer berhubungan dengan pembengkakan, alat yang
mengikat, dan ganguan peredaran darah.
c. Defisit perawatan diri berhubungan dengan kehilangan kemandirian.
d. Hambatan mobilitas fisik berhubungan dengan nyeri, pembengkakan, prosedur pembedahan,
serta adanya imobilisasi, bidai, traksi, gips.
e. Perubahan citra diri dan harga diri berhubungan dengan dampak muskuloskeletal.
f. Resiko tinggi syok hipovolemik.
g. Resiko tinggi infeksi
Sedangkan menurut Wilkinson dalam jitowiyono (2010:24), Diagnosa keperawatan yang
muncul pada pasien dengan post op fraktur meliputi:
a. Nyeri berhubungan dengan terputusnya jaringan tulang, gerakan fragmen tulang, edema dan
cedera pada jaringan, alat traksi/immobilisasi, stress, ansietas.
b. Intoleran aktivitas berhubungan dengan dispnea, kelemahan/keletihan, ketidak adekuatan
oksigenisasi.
c. Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan tekanan, perubahan status metabolik,
kerusakan sirkulasi, dan penurunan sirkulasi, dibuktikan oleh terdapat luka/ ulserasi,
kelemahan, penurunan berat badan, turgor kulit buruk, tyerdapat jaringan nekrotik.
d. Hambatan mobilitas fisik berhubungan dengan nyeri/ketidaknyamanan, kerusakan
muskuloskletal, terapi pembatasan aktivitas, dan penurunan kekuatan/tahanan.
e. Resiko infeksi berhubungan dengan statis cairan tubuh, respon inflamasi tertekan, prosedur
15
STASE GADAR DAN KRITIS PROFESI NERS POLTEKKES KEMENKES MATARAM
invasif dan jalur penusukan, luka/kerusakan kulit, insisi pembedahan.
f. Kurang pengetahuan tentang kondisi, prognosis dan kebutuhan pengobatan berhubungan
dengan keterbatasan kognitif, kurang terpajan/mengingat, salah interpretasi informasi.
3. Intervensi Keperawatan
Menurut Sumijantun (2010:203), perencanaan adalah fase proses keperawatan yang sistematik
mencakup pembuatan keputusan dan pemecahan masalah. Adapun perencanaan keperawatan pada
klien dengan post op fraktur femur menurut Suratun dkk, (2008:66) adalah :
1. Nyeri berhubungan dengan prosedur pembedahan, pembengkakan dan imobilisasi.
Tujuan : Nyeri berkurang atau hilang
Kriteria Hasil :
-       Nyeri berkurang/hilang
-       Klien tampak tenang
Intervensi :
a. Kaji tingkat nyeri pasien.
b. Tinggikan ekstremitas yang dioperasi.
c. Kompres dingin bila perlu.
d. Ajarkan teknik relaksasi dan distraksi.
e. Kolaborasi dalam pemberian obat analgesic.
Rasional :
a. Mengetahui skala nyeri pada pasien.
b. Membantu mengontrol edema agar nyeri berkurang.
c. Untuk mengontrol nyeri dan edema.
d. Hal ini dapat mengurangi dan mengontrol nyeri.
e. Untuk mengontrol nyeri.
2.  Perubahan perfusi jaringan  perifer berhubungan dengan pembengkakan, alat yang mengikat,
gangguan peredaran darah.
Tujuan : Memelihara perfusi jaringan adekuat
Kriteria Hasil :Tidak ada sianosis
Intervensi :
a. Rencana pra operatif dilanjutkan.
b. Pantau status neurovaskular, warna kulit, suhu, pengisian kapiler, denyut nadi, nyeri, edema.
c. Anjurkan latihan otot.
d. Anjurkan latihan pergelangan kaki dan otot betis setiap jam.
Rasional :
a. Meneruskan tindakan keperawatan.
b. parastesi pada bagian yang dioperasi, dan laporkan segera pada dokter bila ada temuan yang
16
STASE GADAR DAN KRITIS PROFESI NERS POLTEKKES KEMENKES MATARAM
mengarah pada gangguan.
c. untuk mencegah atrofi otot.
d. untuk memperbaiki peredaran darah.
3. Defisit perawatan diri berhubungan dengan kehilangan kemandirian.
Tujuan : Memelihara kesehatan
Kriteria Hasil: Klien mampu merawat diri sendiri
Intervensi :
a.    Rencana pra operatif dilanjutkan.
b.    Anjurkan pasien berpartisipasi dalam program penanganan pasca operatif.
c.    Diet seimbang dengan protein dan vitamin adekuat sangat diperlukan.
d.   Anjurkan banyak minum minimal 2 sampai 3 liter perhari.
e.    Observasi adanya  gangguan integritas kulit pada daerah yang tertekan.
f.     Ubah posisi tidur dalam setiap 2-3 jam sekali.
g.    Bantu klien dalam pelaksanaan hyegien personal.
h.    Libatkan keluarga dalam pemeliharaan kesehatan.
Rasional :
a. Melanjutkan tindakan keperawatan.
b. Membantu dalam proses keperawatan.
c. Untuk keshatan jaringan dan penyembuhan luka.
d. Memenuhi kebutuhan cairan.
e. Untuk mengetahui sedini mungkin adanya gangguan.
f. Untuk mencegah adanya penekanan pada kulit.
g. Untuk menghindari adanya kerusakan pada kulit.
h. Membantu dalam pemeliharaan kesehatan pasien.
4.  Hambatan mobilitas fisik yang berhubungan dengan nyeri, pembengkakan, prosedur pembedahan,
adanya imobilisasi, (bidai, gips, traksi).
Tujuan : Memperbaiki mobilitas fisik normal
Kriteria Hasil: Melakukan pergerakan dan pemindahan
Intervensi :
a. Kaji tingkat kemampuan mobilitas fisik.
b. Bantu pasien melakukan aktivitas selama pasien mengalami ketidaknyamanan.
c. Tinggikan ektremitas yang bengkakanjurka latihan ROM sesuai kemampuan.
d. Anjurkan pasien berpartisipasi dalam aktivitas sesuai kemampuan.
e. Pantau daerah yang terpasang pen, skrup batang dan logam yang digunakan sebagai fiksasi interna.
f. Anjurkan menggunakan alat bantu saat sedang pasca operasi, sebagai tongkat.
g. Pantau cara berjalan pasien. Perhatikan apakah benar-benar aman.
17
STASE GADAR DAN KRITIS PROFESI NERS POLTEKKES KEMENKES MATARAM
Rasional :
a. Mengetahui tingkat kemampuan mobilitas klien.
b. Menambah kemampuan klien dalam melakukan aktivitas.
c. Untuk memperlancar peredaran darah sehingga mengurangi pembengkakan.
d. Untuk mencegah kekakuan sendi.
e. Untuk memperbaiki tingkat mobilitas fisik.
f. Ini dilakukan untuk mempertahankan posisi tulang sampai terjadi penulangan, tetapi tidak
dirancang untuk mempertahankan berat badan.
g. Untuk mengurangi stres yang berlebihan pada tulang.
Perubahan citra diri dan harga diri berhubungan dengan dampak masalah musculoskeletal.
Tujuan : Terjadi peningkatan konsep diri
Kriteria Hasil: Klien dapat bersosialisasi
Intervensi :
a. Rencana perawatan pra operatif dilanjutkan.
b. Libatkan pasien dalam menyusun rencana kegiatan yang dilakukan.
c. Bantu pasien menerima citra dirinya serta beri dukungan, baik dari perawat, keluarga maupun
teman dekat.
Rasional :
a.    Melanjutkan rencana tindakan keperawatan.
b.    Mempercepat rencana tindakan keperawatan.
c.    Stres,dan menarik diri akan mengurangi motivasi untuk proses penyembuhan.
6. Resiko tinggi komplikasi (syok hipovolemik)
Tujuan : Tidak terjadi syok hipovolemik
Kriteria Hasil : Klien tampak tenang
Intervensi :
a. Pantau dan catat kehilangan darah pada pasien ( jumlah,warna).
b. Pantau adanya peningkatan denyut nadi dan penurunan tekanan darah.
c. Pantau jumlah urin.
d. Pantau terjadinya gelisah, penurunan kesadaran dan haus.
e.   Pantau pemeriksaan laboratorium, terutama penutunan HB dan HT. Segera lapor ke ahli bedah
ortopedi untuk penanganan selanjutnya.
Rasional :
a. Memantau jumlah kehilangan cairan.
b. Ini merupakan tanda awal syok.
c. Jika urin kurang dari 30 cc/ jam, itu merupakan tanda syok.
d. Rasa haus merupakan tanda awal syok.
18
STASE GADAR DAN KRITIS PROFESI NERS POLTEKKES KEMENKES MATARAM
e. Mengetahui terjadinya hemokosentrasi dan terjadinya syok hipovolemik.
7. Resiko tinggi infeksi
Tujuan : Tidak terjadi infeksi
Kriteria Hasil: Tidak ada tanda-tanda infeksi seperti pus
Intervensi :
a. Pemberian antibiotik intra vena jangka panjang.
b. Kaji respon pasien terhadap pemberian antibiotic.
c. Ganti balutan luka dengan teknik aseptik, sesuai dengan program.
d. Pantau tanda vital.
e. Pantau luka operasi dan catat cairan yang keluar.
f. Pantau adanya infeksi saluran kemih.
Rasional :
a. Untuk mencegah osteomielitis.
b. Menilai adanya alegi dengan pemberian antibiotic.
c. Mencegah kontaminasi dan infeksi nasokomial.
d. Peningkatan suhu tubuh diatas normal menunjukan adanya tanda infeksi.
e. Adanya cairan yang keluar dari luka menunjukan adanya infeksi pada luka.
f. Laporkan ke dokter bila ada infeksi yang ditemukan, hal ini sering terjadi setelah pembedahan
ortopedik.
Perencanaan keperawatan menurut wilkinson dalam jitowiyono (2010:25) pada klien dengan
post op fraktur femur meliputi :
1. Nyeri berhubungan dengan terputusnya jaringan tulang, gerakan fragmen tulang, edema dan cedera
pada jaringan, alat traksi/immobilisasi, stress, ansietas.
Tujuan : Nyeri dapat berkurang atau hilang
Kriteria Hasil:
1.   Nyeri berkurang atau hilang
2.   Klien tampak tenang
Intervensi :
a. Lakukan pendekatan pada klien dan keluarga.
b. Kaji tingkat intensitas dan frekuensi nyeri.
c. Jelaskan pada klien penyebab nyeri.
d. Observasi tanda-tanda vital.
e. Lakukan kolaborasi dengan tim medis dalm pemberian analgesic.
Rasional :
a. Hubungan yang baik membuat klien dan keluarga kooperatif.
b. Tingkat intensitas nyeri dan frekuensi menunjukan nyeri.
19
STASE GADAR DAN KRITIS PROFESI NERS POLTEKKES KEMENKES MATARAM
c. Memberikan penjelasan akan menambah pengetahuan klien tentang nyeri.
d. Untuk mengetahui perkembangan klien.
e. Merupakan tindakan dependent perawat. Dimana analgesik berfungsi untuk memblok stimulasi
nyeri.
2. Intoleran aktivitas berhubungan dengan dispnea, kelemahan/keletihan, ketidak adekuatan
oksigenisasi.
Tujuan : Pasien memiliki cukup energi untuk beraktivitas
Kriteria Hasil :
a. Prilaku merupakan kemampuan untuk memenuhi kebutuhan diri
b. Pasien mengungkapkan mampu untuk melakukan beberapa aktivitas tanpa dibantu
c. Koordinasi otot,tulang dan anggota gerak lainya baik
Intervensi:
a. Rencanakan periode istirahat yang cukup.
b. Berikan latihan aktivitas secara bertahap.
c. Bantu pasien dalam memenuhi kebutuhan sesuai kebutuhan.
d. Setelah latihan dan aktivitas kaji respon pasien.
Rasional :
a. Mengurangi aktivitas yang tidak diperlukan, dan energi terkumpul dapat digunakan untuk aktivitas
seperlunya secara optimal.
b. Tahapan-tahapan yang diberikan membantu proses aktivitas secar perlahan dapat menghemat
tenaga namun tujuan yang tepat, mbilisasi dini.
c. Mengurangi pemakaian energi sampai kekuatan pasien pulih kembali.
d. Menjaga kemungkinan adanya respon abnormal dari tubuh sebagai akibat dari latihan.
3. Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan tekanan, perubahan status metabolik, kerusakan
sirkulasi, dan penurunan sirkulasi, dibuktikan oleh terdapat luka/ ulserasi, kelemahan, penurunan
berat badan, turgor kulit buruk, terdapat jaringan nekrotik.
Tujuan : Mencapai penyembuhan luka pada waktu yang sesuai
Kriteria Hasil :
1. Tidak ada tanda-tanda infeksi seperti pus
2. Luka bersih tidak lembab dan tidak kotor
3. Tanda-tanda vital dalam batas normal atau dapat ditoleransi
Intervensi :
a. Kaji kulit dan identifikasi pada tahap perkembangan luka.
b. Kaji lokasi, ukuran, warna, bau, serta jumlah dan tipe cairan luka.
c. Pantau peningkatan suhu tubuh.
d. Berikan perawatan luka dengan tehnik aseptik. Balut luka dengan kassa kering dan steril, gunakan
20
STASE GADAR DAN KRITIS PROFESI NERS POLTEKKES KEMENKES MATARAM
plester kertas.
e. Jika pemulihan tidak terjadi kolaborasi tindakan lanjutan, misalnya debridement.
f. Setelah debridement, ganti baluta sesuai kebutuhan.
g. Kolaborasi pemberian antibiotic.
Rasional :
a. Mengetahui sejauh mana perkembangan luka mempermudah dalam meltindakan yang tepat.
b. Mengidentifikasi tingkat keparahan akan mempermudah intervensi
c. Suhu tubuh yang meningkat dapat diidentifikasi sebagai adanya proses peradangan.
d. Tehnik aseptik membantu mempercepat penyembuhan luka dan mencegah terjadinya infeksi.
e. Agar benda asing atau jaringan yang teriinfeksi tidak menyebar luas pada area kulit normal
lainya.
f. Balutan dapat diganti satu atau dua kali sehari tergantung pada kondisi parah/tidaknya luka, agar
tidak terjadi infeksi.
g. Antibiotik berguna untuk memetikan mikroorganisme pathogen pada daerah yang terjadi infeksi.
4. Hambatan mobilitas fisik berhubungan dengan nyeri/ketidaknyamanan, kerusakan muskuloskletal,
terapi pembatasan aktivitas, dan penurunan kekuatan/tahanan.
Tujuan : Pasien akan menunjukan tingkat mobilitas optimal
Kriteria Hasil :
1. Penampilan yang seimbang
2. Melakukan pergerakan dan pemindahan
3. Mempertahankan mobilitas optimal yang dapat ditoleransi dengan karakteristik :
0 = mandiri penuh
1 = memerlukan alat bantu
2 = memerlukan bantuan darinorang lain untuk bantuan, pengawasan, dan pengajaran
3 = membutuhkan bantuan dari orang lain dan alat bantu
4 = ketergantungan tidak berpartisipasi dalam aktivitas
Intervensi :
a. Kaji kebutuhan akan pelayanan kesehatan dan kebutuhan akan peralatan.
b. Tentukan tingkat motivasi pasien dalam melakukan aktivitas.
c. Ajarkan dan pantau dalam hal pengguanaan alat bantu.
d. Ajarkan dan dukung pasien dalam latihan ROM aktif dan pasif.
e. Kolaborasi dalam hal ahli terapi fisik.
Rasional :
a. Mengidentifikasi masalah, memudahkan intervensi.
b. Mempengaruhi penilaian terhadap kemampuan aktivitas apakah karena ketidakmampuan ataukah
ketidakmauan.
21
STASE GADAR DAN KRITIS PROFESI NERS POLTEKKES KEMENKES MATARAM
c. Menilai batasan kemempuan aktivitas optimal.
d. Mempertahankan/keningkatkan kekuatan dan ketahanan otot.
e. Sebagai suatu sumber untuk mengembangkan perencanaan dan mempertahankan/ meningkatkan
mobilitas pasien.
5. Resiko infeksi berhubungan dengan statis cairan tubuh, respon inflamasi tertekan, prosedur invasif
dan jalur penusukan, luka/kerusakan kulit, insisi pembedahan.
Tujuan : Infeksi tidak terjaadi/ terkontrol
Kriteria Hasil :
1. Tidak ada tanda-tanda infeksi seperti pus.
2. Luka bersih tidak lembab dan tidak kotor.
3. Tanda-tanda vital dalam batas normal atau dapat ditoleransi.
Intervensi :
a. Pantau tanda-tanda vital.
b. Lakukan perawatan luka dengan tehnik aseptic.
c. Lakukan perawatan terhadap prosedur invasif seperti infus, kateter, drainase luka, dll.
d. Jika ditemukan tanda-tanda infeksi kolaborasi untuk pemeriksaan darah, seperti Hb dan leukosit.
e. Kolaborasi untuk pemberian antibiotic.
Rasional :
a.    Mengidentifikasi tanda-tanda peradangan terutama bila suhu tubuh meningkat.
b.    Mengendalikan penyebaran mikroorganisme pathogen.
c.    Untuk mengurangi resiko infeksi nasokomial.
d.   Panurunan Hb dan peningkatan leukosit dari normal bisa terjadi akibat terjadinya proses infeksi.
e.    Antibiotik mencegah perkembangan mikroorganisme pathogen.
6. Kurang pengetahuan tentang kondisi, prognosis dan kebutuhan pengobatan berhubungan dengan
keterbatasan kognitif, kurang terpajan/mengingat, salah interpretasi informasi.
Tujuan : Pasien mengutarakan pemahaman tentang kondisi, efek prosedur dan proses pengobatan.
Kriteria Hasil :
1. Melakukan prosedur yang diperlukan dan menjelaskan alasan dari suatu tindakan.
2. Memulai perubahan gaya hidup yang diperlukan dan kut serta dalam regimen perawatan.
Intervensi :
a. Kaji tingkat pengetahuan klien dan keluarga tentang penyakitnya.
b. Berika penjelasan pada klien tentang penyakitnya dan kondisinya sekarang.
c. Anjurkan klien dan keluarga untuk memperhatikan diet makananya
d. Minta klien dan keluarga mengulangi kembali tentang materi yang dilakukan.
Rasional :
a. Mengetahui seberapa jauh penglaman dan pengetahuan klien dan keluarga tentang penyakitnya.
22
STASE GADAR DAN KRITIS PROFESI NERS POLTEKKES KEMENKES MATARAM
b. Dengan mengetahui penyakit dan kondisinya sekarang, klien dan keluarganya akan merasa tenang
dan mengurangi cemas.
c. Diet dan pola  makan yang tepat membantu proses penyembuhan.
d. Mengetahui seberapa jauh pemahaman klien dan keluarga serta menilai keberhasilan dari tindakan
yang dilakukan.
4. Implementasi Keperawatan
Pelaksanaan adalah inisiatif dari rencana tindakan untuk mencapai tujuan spesifik. Tahap
pelaksanaan dimulai setelah rencana tindakan disusun dan ditujukan pada nursing orders untuk
membantu klien mencapai tujuan yang diharapkan (Nursalam, 2001:63).
Pelaksanaan tindakan kepewaratan pada klien fraktur femur dilakukan sesuai dengan
perencanaan keperawatan yang letah ditentukan, dengan tujuan unutk memenuhi kebutuhan pasien
secara optimal.
5. Evaluasi Keperawatan
Evaluasi adalah intelektual untuk melengkapi proses asuhan keperawatan yang menandakan
seberapa jauh diagnosa keperawatan, rencana tindakan, dan pelaksanaanya yang berhasil dicapai.
Meskipun evaluasi diletakkan pada akhir asuhan keperawatan, evaluasi merupakan bagian integral pada
setiap tahap asuhan keperawatan (Nursalam, 2001:71).
Setelah data dikumpulkan tentang status keadaan klien maka perawat memebandingkan data
dengan outcomes. Tahap selanjutnya adalah membuat keputusan tentang pencapaian klien outcomes,
ada 3 kemungkinan keputusan tahap ini :
1)        Klien telah mencapai hasil yang ditentukan dalam tujuan.
2)        Klien masih dalam catatan hasil yang ditentukan.
3)        Klien tidak dapat mencapai hasil yang ditentukan (Nursalam, 2001:73)

23
STASE GADAR DAN KRITIS PROFESI NERS POLTEKKES KEMENKES MATARAM
DAFTAR PUSTAKA

Brunner & Suddarth, 2002, Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah, edisi 8 volume 2, EGC, Jakarta.

Budiyanto, Aris. 2009. Penatalaksanaan Terapi Latihan Pasca Operasi Pemasangan Orif Pada Fraktur.
Skripsi. Universitas Muhammadiyah Surakarta. Retrived
from :http://www.scribd.com/doc/20058202/fraktur. Diakses pada 06 Februari 2012.

Johnson, M. Maas, M and Moorhead, S. 2007. Nursing Outcomes Classifications (NOC).Second


Edition. IOWA Outcomes Project. Mosby-Year Book, Inc. St.Louis, Missouri.

North American Nursing Diagnosis Association. 2012. Nursing Diagnosis : Definition and


Classification 2012-2014. NANDA International. Philadelphia.

McCloskey, J.C and Bulechek, G.M. 2007. Nursing Intervention Classifications (NIC). Second Edition.
IOWA Interventions Project. Mosby-Year Book, Inc. St.Louis, Missouri.

24
STASE GADAR DAN KRITIS PROFESI NERS POLTEKKES KEMENKES MATARAM
ASUHAN KEPERAWATAN KEGAWATDARURATAN PADA Ny.F
DENGAN DIAGNOSA MEDIS CHRONIC KIDNEY DISEASE/ GAGAL GINJAL KRONIK
DI RUANG IRNA II RSUD KOTA MATARAM
TANGGAL 9-12 MEI 2020

Nama Pasien : Tn “D”


Umur : 20 Thaun
Jenis Kelamin : Laki-Laki
No Rekam Medik : 3434 34
Diagnosa Medis : Fraktur Femur Dextra
Tgl Pengkajian : 9 Mei 2020
Jam : 08.00 Wita
Tgl MRS : 9 Mei 2020

Riwayat Keperawatan
Keluhan Utama Kaki kanan tidak bisa digerakkan
Riwayat Saat dilakukan pengkajian, pasien mengatakan dirinya jatuh pada tanggal 7
kejadian Mei 2020 karena dirinya terserempet mobil dan kaki pasien tertimpa motor.
Setelah itu pasien dilarikan ke rumah sakit (UGD) dan langsung digips dan setelah
dilakukan rontgen, dokter mengatakan pasien menderita fraktur kominutif pada
1/3 distal os. Femur dextra. Pasien mengatakan dirinya dilakukan operasi
pemasangan pen pada area frakturnya tanggal 7 Mei 2020, dan jenis operasinya
tertutup (close-surgery).

Riwayat Pasien mengatakan sebelumnya tidak permah memiliki riwayat penyakit \


penyakit dahulu
Riwayat Allergi Pasien mengatakan tidak memiliki riwayat allergi obat maupun makanan.
Riwayat Pasien mengatakan belum pernah dirawat dirumah sakit sebelumnya.
medikasi
Keadaan umum : ( ) Baik ( )Sedang (v)Lemah
PENGKAJIAN PIMER
General Assessment : Pediatric Assesment Triangle
Appearance Mental status : Compos mentis
Muscle tone : lemah
Body position : Semi Fowler
AIRWAY 1. Paten: (v) obstruksi jalan nafas (jelaskan) :-
Masalah Keperawatan: -
Tindakan
1. Berikan posisi yang tepat agar jalan nafas tetap paten
2. Lindungi tulang servikalis

25
STASE GADAR DAN KRITIS PROFESI NERS POLTEKKES KEMENKES MATARAM
BREATHING ⮚ Respiratory Rate : 20 x/menit
⮚ Pergerakan dada : simetris
⮚ Penggunaan otot bantu napas : tidak ada
⮚ Suara napas : vesikuler
⮚ Suara napas tambahan : Tidak ada
⮚ Batuk : Tidak ada
⮚ Irama pernapasan : Reguler
⮚ Masalah Keperawatan: -
Rencnana Tindakan :
1. Auskultasi bunyi pernafasan
2. Posisikan pasien untuk dapat melakukan ventilasi maksimal s
SIRKULASI ⮚ TD ; 130/80
⮚ Nadi : 90x/mnt kualitas/karakter(jelaskan) : kuat/reguler
⮚ Akral : Hangat
⮚ Warna Kulit : Normal
⮚ Temperatur : 37’C
⮚ CRT :≤ 2 Dtk
⮚ Turgor kulit : Baik
⮚ Edema : tidak ada
⮚ Irama jantung : reguler Hasil EKG : Normal
⮚ Perdarahan : tidak ada
Masalah Keperawatan : -

Tindakan

⮚ Berikan iV line
⮚ Terapi cairan dengan cairan isotonis ataupuan tranfusi.
PENGKAJIAN SEKUNDER
General observation
1. Keadaan umum pasien, catat posisi & postur tubuh
K/u sedang. Pasien berbaring dengan posisi semi fowler

2. Pasien tampak menjaga/aktifitas yang melindungi diri


Pasien tampak meringis

3. Masalah yang tampak terlihat


Terdapat gips di kaki kanan

4. Perilaku pasien, tampak tenang, agitasi, letargi, kooperatif, gelisah

26
STASE GADAR DAN KRITIS PROFESI NERS POLTEKKES KEMENKES MATARAM
Pasien menunjukkan ika kooperatif kepada perawat. Pasien bersedia mengikuti semua
pemerikasaaan

5. Pasien dapat melakukan ambulasi, tampak kuat/tegap dalam posisi kuat


Pasien dibantu keluarga dan perawat dalam melakukan aktivitas sehari-hari

6. Pasien dapat melakukan komunikasi verbal, berbicara dengan jelas, konsisten, kebingungan,
cadel, aphasic
Oriantasi baik, pasien mampu menjawa pertanyaan perawat dengan baik

7. Tanda luka baru ataupun lama akibat injury


Tampak luka post operasi di paha kanan

PENGKAJIAN PER SISTEM/HEAD to TOE


NEUROLOGI Pupil : isokor anisokor Reflek cahaya : +/+
Ukuran Pupil : (v)Normal Midriasis pin point Meiosis Lain2
Jelaskan : Penglihatan dalam keadaan normal
Nyeri : ada, Jelaskan (PQRST): Pasien mengatakan nyeri pada paha kanan, nyeri
dirasakan terus menerus, nyeri seperti terrtekan beban berat, skala nyeri 5/10, nyeri
semakin terasa saat malam hari.
Gangguan Neurologi lain :
Masalah Keperawatan : - Nyeri Akut
INTEGUMEN
Luka Bakar : tidak ada

Abdomen Frekuensi Peristaltik usus : normal


Mual : tidak ada
Gangguan Eliminasi : tidak ada
Masalah Kep :
Perkemihan ⮚ Terpasang kateter : tidak
⮚ Produksi urin : normal
⮚ Masalah Perkemihan : Tidak ada

Ekstramitas ⮚ Tampak luka post operasi pemasangan pen di kaki kanan warna kemerahan
tidak tampak adanya pus.
⮚ Terpasang gist di kaki kanan
Masalah Kep : -
Tindak lanjut MRS

Data Penunjang
1. Hasil Pemeriksaan Penunjang (Hasil rontgen)
27
STASE GADAR DAN KRITIS PROFESI NERS POLTEKKES KEMENKES MATARAM
Hasil rontgen di daerah femur dextra ap-lat menunjukkan tampak fraktur kominutif pada 1/3
distal os. Femur dextra dengan aposisi dan aligment kurang baik, tak tampak lusensi soft tisue,
tampak soft tisue swelling
2. Diit yang diperoleh : TKTP, tiga kali sehari satu porsi

28
STASE GADAR DAN KRITIS PROFESI NERS POLTEKKES KEMENKES MATARAM
TINDAKAN KEPERAWATAN

Waktu Analisa Data Kriteria Hasil Tindakan Evaluasi


9 Mei DS Tujuan :  1. Kaji tingkat nyeri pasien. S
2020 a. Pasien mengatakan dirinya Setelah dilakukan tindakan 2. Tinggikan ekstremitas yang Pasien mengatakan
dilakukan operasi keperawatan selama 2x24 jam dioperasi. nyerinya berkurang
pemasangan pen pada area diharapkan nyeri berkurang atau 3. Kompres dingin bila perlu. Skala nyeri
frakturnya hilang 4. Ajarkan teknik relaksasi dan berkurang dari 5 ke
b. Pasien mengatakan nyeri Kriteria Hasil : distraksi. 4
pada paha kanan, nyeri 1. Nyeri berkurang/hilang 5. Kolaborasi dalam pemberian
dirasakan terus menerus, 2. Klien tampak tenang obat analgesic. O
nyeri seperti terrtekan  TD ; 130/80
beban berat, skala nyeri RR : 20 x/m
5/10, nyeri semakin terasa
Nadi : 84x/mnt
saat malam hari.
Temperatur : 37’C
DO
⮚ TD ; 130/80 A
⮚ RR : 20 x/m Masalah Teratasi
⮚ Nadi : 90x/mnt sebagian
reguler
⮚ Akral : Hangat P
⮚ Warna Kulit : Normal Intervensi
⮚ Temperatur : 37’C dilanjutkan
⮚ CRT :≤ 2 Dtk

DX: Nyeri Akut

29
STASE GADAR DAN KRITIS PROFESI NERS POLTEKKES KEMENKES MATARAM
Waktu Analisa Data Kriteria Hasil Tindakan Evaluasi
9 Mei DS Tujuan :  3. Kaji tingkat kemampuan S
2020 a. Klien mengatakan sulit Setelah dilakukan tindakan mobilitas fisik. Pasien mengatakan
bergerak karena keadaan keperawatan selama 2x24 jam 4. Bantu pasien melakukan selama di rumah
kakinya yang fraktur diharapkan pasien dapat memperbaiki aktivitas selama pasien sakit aktivitas
mobilitas fisik.
b. Klien mengatakan tidak mengalami sehari-hari di bantu
Kriteria Hasil: 
bisa beraktivitas normal ketidaknyamanan. oleh keluarga
 Melakukan pergerakan dan
seperti biasanya karena pemindahan
5. Tinggikan ektremitas yang
fraktur tersebut bengkak, anjurka latihan O
DO ROM sesuai kemampuan. TD ; 130/80
 Hasil rontgen di daerah 6. Anjurkan pasien RR : 20 x/m
femur dextra ap-lat berpartisipasi dalam aktivitas Nadi : 84x/mnt
menunjukkan tampak sesuai kemampuan. Temperatur : 37’C
fraktur kominutif pada 1/3 7. Pantau daerah yang Keluarga mampu
distal os. Femur dextra terpasang pen, skrup batang mendemonstrasikan
 Terpasang gips di kaki dan logam yang digunakan rom pasif pada
kanan sebagai fiksasi interna. ekstramitas atas dan
 Tampakluka post operasi 8. Anjurkan menggunakan alat kaki kiri pasien
pemasangan pen di kaki bantu saat sedang pasca
kanan operasi, sebagai tongkat. A
9. Pantau cara berjalan pasien. Masalah teratasi
DX: Hambatan mobilitas fisik Perhatikan apakah benar- sebagian
benar aman.
P
Intervensi
dilanjutkan
10 Mei DS Tujuan :  6. Kaji tingkat nyeri pasien. S
2020 c. Pasien mengatakan dirinya Setelah dilakukan tindakan 7. Tinggikan ekstremitas yang Pasien mengatakan
dilakukan operasi keperawatan selama 2x24 jam dioperasi. nyerinya berkurang
pemasangan pen pada area diharapkan nyeri berkurang atau 8. Kompres dingin bila perlu. Skala nyeri
frakturnya hilang 9. Ajarkan teknik relaksasi dan berkurang dari 4 ke
d. Pasien mengatakan nyeri Kriteria Hasil : distraksi. 3

30
STASE GADAR DAN KRITIS PROFESI NERS POLTEKKES KEMENKES MATARAM
Waktu Analisa Data Kriteria Hasil Tindakan Evaluasi
pada paha kanan, nyeri 3. Nyeri berkurang/hilang 10. Kolaborasi dalam pemberian
dirasakan terus menerus, 4. Klien tampak tenang obat analgesic. O
nyeri seperti terrtekan  TD ; 120/80
beban berat, skala nyeri RR : 20 x/m
5/10, nyeri semakin terasa Nadi : 80x/mnt
saat malam hari.
Temperatur : 36,5’C
DO Pasien tampak
⮚ TD ; 130/80 tenang
⮚ RR : 20 x/m A
⮚ Nadi : 90x/mnt Masalah Teratasi
reguler
⮚ Akral : Hangat P
⮚ Warna Kulit : Normal Intervensi
⮚ Temperatur : 37’C dihentikan
⮚ CRT :≤ 2 Dtk

DX: Nyeri Akut

10 Mei DS Tujuan :  10. Kaji tingkat kemampuan S


2020 a. Klien mengatakan sulit Setelah dilakukan tindakan mobilitas fisik. Pasieen mengatakan
bergerak karena keadaan keperawatan selama 2x24 jam 11. Bantu pasien melakukan mengerti manfaat
kakinya yang fraktur diharapkan pasien dapat memperbaiki aktivitas selama pasien menggerakkan sendi
mobilitas fisik.
b. Klien mengatakan tidak mengalami yang sehat selama di
Kriteria Hasil: 
bisa beraktivitas normal ketidaknyamanan. rumah sakit
 Melakukan pergerakan dan
seperti biasanya karena pemindahan
12. Tinggikan ektremitas yang
fraktur tersebut bengkakanjurka latihan ROM O
DO sesuai kemampuan. TD ; 120/80
 Hasil rontgen di daerah 13. Anjurkan pasien RR : 20 x/m
femur dextra ap-lat berpartisipasi dalam aktivitas Nadi : 80x/mnt
menunjukkan tampak sesuai kemampuan. Temperatur : 36,5’C
fraktur kominutif pada 1/3 14. Pantau daerah yang Keluarga mampu

31
STASE GADAR DAN KRITIS PROFESI NERS POLTEKKES KEMENKES MATARAM
Waktu Analisa Data Kriteria Hasil Tindakan Evaluasi
distal os. Femur dextra terpasang pen, skrup batang mendemonstrasikan
 Terpasang gips di kaki dan logam yang digunakan rom pasif pada
kanan sebagai fiksasi interna. ekstramitas atas dan
 Tampakluka post operasi 15. Anjurkan menggunakan alat kaki kiri pasien
pemasangan pen di kaki bantu saat sedang pasca
kanan operasi, sebagai tongkat. A
16. Pantau cara berjalan pasien. Masalah teratasi
DX: Hambatan mobilitas fisik Perhatikan apakah benar- sebagian
benar aman.
1. P
Intervensi
dilanjutkan

32
STASE GADAR DAN KRITIS PROFESI NERS POLTEKKES KEMENKES MATARAM