Anda di halaman 1dari 8

1.

Tatalaksana farmako dan non farmako pada kasus


 Instabilitas, Jatuh, Fraktur
Prinsip dasar tatalaksana usia lanjut dengan masalah instabilitas dan riwayat jatuh
adalah mengkaji dan mengobati trauma fisik akibat jatuh; mengobati berbagai kondisi
yang mendasari instabilitas dan jatuh; memberikan terapi fisik dan penyuluhan berupa
latihan cara berjalan, penguatan otot, alat bantu, dan sepatu yang sesuai; mengubah
lingkungan agar lebih aman seperti pencahayaan yang cukup, pegangan, lantai yang
tidak licin, dsb.
Latihan fisik (penguatan otot, fleksibilitas sendi, dan keseimbangan), adaptasi
perilaku (bangun dari duduk perlahan-lahan, menggunakan pegangan atau perabot
untuk keseimbangan, dan teknik bangun setelah jatuh) perlu dilakukan untuk
mencegah morbiditas akibat instabilitas dan jatuh berikutnya.
Penatalaksanaan bersifat individual, artinya berbeda untuk tiap kasus karena
perbedaan faktor-faktor yang bekerjasama mengakibatkan jatuh. Lebih banyak pasien
jatuh karena kondisi kronik, multifaktorial sehingga diperlukan terapi gabungan
antara obat, rehabilitasi, perbaikan lingkungan, dan perbaikan kebiasaan lanjut usia
itu.
Jatuh
 Pengelolaan gangguan pengelihatan
 Pengelolaan gangguan keseimbangan
 Intervensi lingkungan
Modifikasi lingkungan akan meningkatkan keamanan namun tidak menurunkan
risiko jatuh
Fraktur
 Tindakan operatif
Perlu dikaji lebih lanjut apakah psaien memerlukan tindaka operatif atau karena
suatu sebab tidak bisa dioperasi dan hanya akan dilakuan tindakan konvensional
 Tindakan terhadap kerapuhan tulang
Tidak dapat mengembalikan tulang sepertu semula tetapi bisa membantu
mengurangi nyeri dan mempercepat penyembuhan fraktur
 Keperawatan dan rehabilitasi saat penderita imobil
 PPOK
Prinsip penatalaksanaan PPOK diantaranya adalah sebagai berikut :
• Berhenti Merokok
• Terapi farmakologis dapat mengurangi gejala, mengurangi frekuensi dan beratnya
eksaserbasi dan memperbaiki status kesehatan dan toleransi aktivitas.
• Regimen terapi farmakologis sesuai dengan pasien spesifik, tergantung beratnya
gejala, risiko eksaserbasi, availabilitas obat dan respon pasien.
• Vaksinasi Influenza dan Pneumococcal
• Semua pasien dengan napas pendek ketika berjalan harus diberikan rehabilitasi
yang akan memperbaiki gejala, kualitas hidup, kualitas fisik dan emosional pasien
dalam kehidupannya sehari-hari.
Terapi Farmakologi
 Bronkodilator
Bronkodilator adalah pengobatan yang berguna untuk meningkatkan
FEV1 atau mengubah variable spirometri dengan cara mempengaruhi tonus otot
polos pada jalan napas.
 β2 Agonist (short-acting dan long-acting)
Prinsip kerja dari β2 agonis adalah relaksasi otot polos jalan napas
dengan menstimulasi reseptor β2 adrenergik dengan meningkatkan C-AMP
dan menghasilkan antagonisme fungsional terhadap bronkokontriksi. Long
acting β2 agonist inhalasi memiliki waktu kerja 12 jam atau lebih. Formoterol
dan salmeterol memperbaiki FEV1 dan volume paru, sesak napas, health
related quality of life dan frekuensi eksaserbasi secara signifikan, tapi tidak
mempunyai efek dalam penurunan mortalitas dan fungsi paru. Efek samping
adanya stimulasi reseptor β2 adrenergik dapat menimbulkan sinus takikardia
saat istirahat dan mempunyai potensi untuk mencetuskan aritmia. Tremor
somatic merupakan masalah pada pasien lansia yang diobati obat golongan
ini.
 Antikolinergik
Obat yang termasuk pada golongan ini adalah ipratropium, oxitropium
dan tiopropium bromide. Efek utamanya adalah memblokade efek asetilkolin
pada reseptor muskarinik. Efek bronkodilator dari short acting
anticholinergic inhalasi lebih lama dibanding short acting β2 agonist.
Tiopropium memiliki waktu kerja lebih dari 24 jam. Aksi kerjanya dapat
mengurangi eksaserbasi dan hospitalisasi, memperbaiki gejala dan status
kesehatan, serta memperbaiki efektivitas rehabilitasi pulmonal. Efek samping
yang bisa timbul akibat penggunaan antikolinergik adalah mulut kering.
 Methylxanthine
Contoh obat yang tergolong methylxanthine adalah teofilin. Obat ini
dilaporkan berperan dalam perubahan otot-otot inspirasi. Namun obat ini tidak
direkomendasikan jika obat lain tersedia.
 Kortikosteroid
Kortikosteroid inhalasi yang diberikan secara regular dapat memperbaiki
gejala, fungsi paru, kualitas hidup serta mengurangi frekuensi eksaserbasi pada
pasien dengan FEV1 <60% prediksi.
 Phosphodiesterase-4 inhibitor
Mekanisme dari obat ini adalah untuk mengurangi inflamasi dengan
menghambat pemecahan intraselular C-AMP. Tetapi, penggunaan obat ini
memiliki efek samping seperti mual, menurunnya nafsu makan, sakit perut, diare,
gangguan tidur dan sakit kepala.
 Sepsis
1. Stabilisasi Pasien Langsung
Pemberian resusitasi awal sangat penting, dapat diberikan kristaloid atau
koloid untuk mempertahankan stabilitas hemodinamik. Intubasi diperlukan
juga untuk memberikan kadar oksigen lebih 65tinggi. Ventilasi mekanis
dapat membantuk menurunkan konsumsi oksigen oleh otot pernapasan dan
peningkatan ketersediaan oksigen untuk jaringan lain. Penurunan tekanan
darah memerlukan terapi empiric gabungan cairan (kristaloid atau koloid) dan
inotrope/vasopressor (dopamine, dobutamin, fenilefrin, epinefrin, atau
norepinephrine)
Target resusitasi awal 6 jam pertama adalah CVP 8-12 mmHg; MAP ≥ 65
mmHg; urine output ≥ 0,5 ml/kg/jam; central cenous (superior vena cava)
oxygen saturation ≥ 70% atau mixed venous ≥ 65%.
2. Pemberian Antibiotik yang Adekuat
Obat yang digunakan tergantung sumber sepsis :
- Untuk pneumonia dapatan komunitas biasanya digunakan 2 regimen
obat. Biasanya sefalosporin generasi tiga (ceftriaxone) atau empat
(cefipine) diberikan dengan aminoglikosida (gentamisin)
- Pneumonia nosocomial : cefipime atau iminemsilastatin dan
aminoglikosida
- Infeksi abdomen : imipenem-silastatin atau pipersilin-tazobaktam dan
amioglikosida
- Infeksi abdomen nosocomial : imipenem-silastatin dan aminoglikosida
- Kulit/jaringan lunak : vankomisin dan imipenem-silastatin atau
piperasilin-tazobaktam
- Kulit/jaringan lunak nosocomial : vankomisin dan sefipim
- Infeksi traktus urinarius : ciprofloxacin dan aminoglikosida
- Infeksi traktus urinarius nosocomial : vankomisin dan sefipim
- Infeksi CNS : vankomisin dan sefalosporin generasi ketiga atau
meropenem
- Infeksi CNS nosocomial : meropenem dan vankomisin
3. Fokus Infeksi Awal Harus Dieliminasi
Hilangkan benda asing, salurkan eksudat purulent khususnya untuk infeksi
anaerobik. Angkat organ yang terinfeksi, hilangkan atau potong jatingan yang
gangrene.
4. Pemberian Nutrisi yang Adekuat
Pemberian nutrisi berupa makronutrient (omega-3 dan golongan
nukleotida seperti glutamin) dan micronutrient (vitamin) merupakan terapi
tambahan yang sangat penting.
5. Terapi Suportif
 Pencegahan infeksi (cuci tangan, cegah ventilaror associated pneumonia)
 Kontrol glukosa
Pada penderita sepsis sering terjadi peningkatan gula darah.
Sebaiknya kadar glukosa darah dipertahankan sampai dengan < 150
mg/dL. Dengan monitoring setiap 1-2 jam dan dipertahankan minimal
sampai dengan 4 hari.
 Inkontinensia Urin
Keberhasilan penanganan pasien tergantung pada keberhasilan proses diagnosis
dalam menentukan tipe inkontinensia, faktor-faktor kontribusi reversible, dan
problem medic akut.
- Modalitas suportif non spesifik (edukasi, manipulasi lingkungan, pakaian dan
pads tertentu)
- Intervensi behavioral
 Bergantung pasien
 Latihan otot dasar panggul
Merupakan terapi yang efektif untuk inkontinensia urin tipe stress
dan tipe urgensi. Latihan dilakukan tiga sampai lima kali sehari dengan
15 kontraksi dan menahan hingga 10 detik. Latihan dilakukan dengan
membuat kontraksi berulang-ulang pada otot dasar panggul. Dengan
memperkuat otot tersebut diharapkan dapat meningkatkan kekuatan
uretra untuk menutup sempurna. Sebelum pasien menjalani latihan,
harus dilakukan pemeriksaan vagina atau rectum terlebih dahulu untuk
menetapkan apakah mereka dapat mengkontraksikan otot dasar
panggulnya.
 Bladder training
Terapi ini bertujuan untuk memperpanjang interval berkemih yang
normal dengan teknik distraksi atau relaksasi sehingga frekuensi
berkemih hanya 6-7 kali per hari atau 3-4 jam sekali. Pasien diharapkan
dapat menahan sensasi untuk berkemih. Pasien diinstruksikan untuk
berkemih pada interval waktu tertentu, mula-mula setiap jam,
selanjutnya interval berkemih diperpanjang secara bertahap sampai
pasien ingin berkemih tiap 2-3 jam. Teknik ini terbukti bermanfaat pada
tipe stress dan urgensi.
 Bergantung caregiver
 Habit training
Latihan ini memerlukan penjadwalan waktu berkemih. Diupayakan
agar jadwal berkemih sesuai dengan pola berkemih pasien sendiri.
Teknik ini sebaiknya digunakan pada inkontinensia urin tipe fungsional
dan membutuhkan keterlibatan pengasuh.
 Prompted voiding
Dilakukan dengan cara mengajari pasien mengenali kondisi atau
status inkontinensia mereka serta dapat memberitahukan pengasuh bila
ingin berkemih. Teknik ini digunakan pasien dengan gangguan fungsi
kognitif.
- Terapi farmakologis
 Pseudoefedrin 3 x 30-60 mg dapat digunakan untuk inkontinensia tipe stress
karena meningkatkan tekanan sphincter uretra sehingga menghambat
pengeluaran urin. Efek samping : sakit kepala, insomnia, dan gugup/gelisah.
Penggunaan harus hati-hati pada pasien dengan hipertensi, aritmia jantung,
dan angina.
 Tolterodin 2 x 4 mg dapat digunakan pada tipe urgensi. Efek samping : mulut
kering, konstipasi, delirium, hipotensi ortostatik.
 Hyoscamin 3 x 0,125 mg dapat digunakan pada tipe urgensi atau campuran.
Efek samping : mulut kering, mata kabur, glaucoma, delirium, konstipasi.
- Terapi operatif
Dilakukan atas pertimbangan yang matang dan didahului dengan evaluasi
urodinamik. Pada perempuan dengan prolaps pelvik yang signifikan dan
inkontinensia tipe strs yang tidak membaik dengan penanganan konservatif harus
dilakukan upaya operatif. Pada laki-laki dengan tanda obstruksi saluran kemih
akibat hipertrofi prostat dapat dilakukan operasi sebagai upaya pencegahan
inkontinensia tipe overflow di kemudian hari.
Teknik pembedahan yang paling sering digunakan adalah ileosistoplasti dan
miektomi detrusor. Teknik pembedahan untuk inkontinensia tipe stress :
injectable intraurethral slings, dan artificial urinarysphincters. Teknik
pembedahan untuk tipe urgensi : augmentation cystoplasty, dan stimulasi elektrik.
- Pemakaian kateter
Terdapat 3 prosedur pemakaian kateter yaitu kateter eksternal, kateterisasi
intermitten, dan kateterisasi kronik atau menetap.
 Inkontinensia Alvi
Tujuan terapi untuk penderita-penderita dengan inkontinensia alvi adalah untuk
mengembalikan kontinensia dan untuk memperbaiki kualitas hidup.
 Upaya-Upaya Suportif
Upaya-upaya suportif seperti menghindari makanan yang iritatif,
membiasakan buang air besar pada waktu tertentu, memperbaiki higiene kulit, dan
melakukan perubahan gaya hidup dapat bermanfaat dalam penatalaksanaan
inkontinensia alvi.
 Terapi Spesifik
Beberapa terapi dapat dipertimbangkan, antara lain beberapa kategori
sebagai berikut:
 Terapi farmakologis
Loperamide atau diphenoxylate/atropine dapat memberikan perbaikan
sedang pada gejala-gejala inkontinensia alvi. Beberapa obat, masing-masing
dengan mekanisme kerja yang berbeda, telah diajukan untuk memperbaiki
inkontinensia alvi. Agen-agen antidiare misalnya loperamide hydrochloride
(Imodium®—Janssen Pharmaceuticals: Titusville, NJ) atau
diphenoxylate/atropine sulphate (Lomotil®, Searle, Chicago, IL) tetap
menjadi obat pilihan yang utama. Meskipun sebagian besar penderita
mendapat manfaat sementara, setelah beberapa hari, banyak yang melaporkan
nyeri perut bawah seperti kram, atau kesulitan evakuasi akibat antidiare.
 Terapi biofeedback
Tujuan terapi biofeedback pada penderita dengan inkontinensia alvi
adalah: untuk memperbaiki kekuatan otot sfingter ani; untuk memperbaiki
koordinasi antara otot abdomen, gluteal, dan sfingter ani selama berkontraksi
secara volunter dan setelah persepsi rektum; untuk meningkatkan persepsi
sensorik anorektal. Pelatihan biofeedback sering dilakukan menggunakan
teknik umpan balik visual, auditorik, atau verbal. Instrumen yang digunakan
untuk memberi umpan balik terdiri atas manometri atau probe EMG yang
dimasukkan ke anorektum dan suatu monitor atau pencatat grafik untuk
menunjukkan perubahan-perubahan manometri. Ketika seorang penderita
diminta untuk mengerutkan anus dan mempertahankannya selama mungkin,
otot sfingter ani berkontraksi. Peningkatan tekanan anus atau aktivitas EMG
ini dapat ditampilkan pada suatu monitor dan dapat berfungsi sebagai
petunjuk visual yang memberikan umpan balik instan pada penderita terkait
kinerja mereka.

Referensi :

1. Pranarka K, Andayani R. Konstipasi dan Inkontinensia Alvi. Dalam : Alwi I, Setiati S,


Sudoyo A. Editor. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam Jilid III Edisi VI. Jakarta : Interna
Publishing; 2017:3789-3791.
2. Setiati S, Laksmi W. Gangguan Keseimbangan, Jatuh, dan Fraktur. Dalam : Alwi I,
Setiati S, Sudoyo A. Editor. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam Jilid III Edisi VI. Jakarta :
Interna Publishing; 2017:3756-3759.
3. Setiati S, Putu Dewa. Inkontinensia Urin dan Kandung Kemih Hiperaktif. Dalam : Alwi
I, Setiati S, Sudoyo A. Editor. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam Jilid III Edisi VI. Jakarta :
Interna Publishing; 2017:3774-3778.
4. Yuwono A, Suryadinata H. Penyakit Paru Obstruktif. Ina J Chest Crit and Emerg Med.
2014;1(2):84.
5. Guntur A. Sepsis. Dalam : Alwi I, Setiati S, Sudoyo A. Editor. Buku Ajar Ilmu Penyakit
Dalam Jilid III Edisi VI. Jakarta : Interna Publishing; 2017:4114-4115.