Anda di halaman 1dari 25

TUGAS PENILAIAN KELAYAKAN

TERHADAP PERSIAPAN PENDIDIKAN KESEHATAN


KMB 2 REGULER

Di bawah ini terlampir SAP, Materi Penyuluhan, Metode dan Media


Pendidikan Kesehatan.

Tugas Kelompok :
Saudara diminta melakukan penilaian kelayakan tentang SAP, Materi,
Metode dan Media Pendidikan Kesehatan

Tuangkan hasil penilaian kelayakan persiapan penkes dengan ketentuan


minimal 600 kata maksimal 800 kata, dengan ketentuan huruf TNR font
12, jarak baris 1.5, menggunakan kertas A4 batas pinggir 3, 3, 3, 3.

Tugas dibuat dalam bentuk pdf, dengan penamaan file:


Nama Mahasiswa_NIM_KMB 2_Kelas_Kritik Penkes

Tugas Individu :
Saudara diminta membuat Persiapan Pendidikan Kesehatan dengan tema
sesuai pembagian dari Siepen KMB 2.
Persiapan meliputi: SAP, Materi, Metode dan Media Penkes.

Tuangkan penyusunan persiapan penkes dengan ketentuan menggunakan


huruf TNR font 12, jarak baris 1.5, menggunakan kertas A4 batas pinggir
3, 3, 3, 3.

Tugas dibuat dalam bentuk pdf, dengan penamaan file:


Nama Mahasiswa_NIM_KMB 2_Kelas_Persiapan Penkes.

Tugas Kelompok dan Individu dipresentasikan dan diperagakan dan dinilai


pada saat pertemuan materi tentang pendidikan kesehatan.
SATUAN ACARA PENYULUHAN

MULTIPLE SCLEROSIS

Dosen Pengampu : Ns. Priyanto, S.Kp., M.Kep., Sp.KMB.

DISUSUN OLEH

GIYASTUTI DEWI APRIYANTI

010115A047

PROGRAM STUDI S1 KEPERAWATAN

FAKULTAS KEPERAWATAN

UNIVERSITAS NGUDI WALUYO

UNGARAN

2017
SATUAN ACARA PENYULUHAN (SAP)

PENYULUHAN TENTANG PENYAKIT

MULTIPLE SCLEROSIS

Pokok Bahasan : Multiple Sclerosis

Sub Pokok Bahasan : Penatalaksanaan dan Pencegahan MS

Penyaji : Giyastuti Dewi Apriyanti

Hari dan tanggal Pelaksanaan : Jumat, 28 April 2017

Waktu : 13.00 WIB - Selesai

Tempat : Rumah Keluarga Tn. A

A. TUJUAN INTRUKSIONAL UMUM


Setelah dilakukan pendidikan kesehatan selama 1x25 menit , audien dapat
mengetauhi tentang penyakit Multiple Sclerosis.

B. TUJUAN INTRUKSIONAL KHUSUS


Setelah mengikuti pendidikan kesehatan selama 1x25 menit audien dapat :
1. Menjelaskan kembali pengertian Multiple Sclerosis.
2. Menyebutkan etiologi atau penyebab penyakit Multiple Sclerosis.
3. Menyebutkan manifestasi klinis atau tanda dan gejala penyakit
Multiple Sclerosis.
4. Menyebutkan pemeriksaan untuk mengetauhi penyakit Multiple
Sclerosis.
5. Menyebutkan penatalaksanaan medis untuk penyakit Multiple
Sclerosis.
C. SASARAN DAN TARGET
Sasaran ditujukan kepada keluarga Tn.A
Target ditujukan kepada Ny.A

D. STRATEGI PELAKSANAAN
Hari dan Tanggal pelaksanaan : Jumat, 31 Maret 2017
Waktu : 08:00 WIB - Selesai
Tempat : Rumah Keluarga Tn.A

E. KEGIATAN BELAJAR MENGAJAR

tan

Pembukaan 5 menit ● Salam perkenalan


● Menjelaskan kontrak dan
tujuan pertemuan

Pelaksanaan 15 menit Menjelaskan tentang : ● Leafleat


● Pengertian Multiple ● Lembar
Sclerosis balik
● Etiologi atau penyebab
Multiple Sclerosis
● Manifestasi klinis atau
tanda gejala Multiple
Sclerosis
● Pemeriksaan pada Multiple
sclerosis
● Penatalaksanaan medis pada
Multiple Sclerosis

Penutup 5 menit ● Memberikan pertanyaan


kepada audien
● Memberi kesempatan untuk
audien untuk bertanya
● Menutup
pembelajaran/penyuluhan
dengan salam

F. METODE
Metode yang digunakan dalam pendidikan kesehatan adalah :
● Ceramah
● Diskusi/tanya jawab

G. MEDIA
Media yang digunakan dalam pendidikan kesehatan adalah dengan leafleat dan
lembar balik. (Terlampir)

H. MATERI
(Terlampir)

I. SETTING TEMPAT

: penyaji

: Penguji

: Peserta

J. DAFTAR PERTANYAAN
Setelah diberikan penyuluhan tentang penyakit Multiple Sclerosis diharapkan
audien dapat menjawab pertanyaan :
1. Jelaskan kembali pengertian Multiple Sclerosis
2. Menyebutkan etiologi atau penyebab Multiple Sclerosis
3. Menyebutkan manifestasi klinis atau tanda dan gejala Multiple
Sclerosis
4. Menyebutkan pemeriksaan untuk Multiple Sclerosis
5. Menyebutkan penatalaksanaan media pada Multiple Sclerosis

K. JAWABAN PERTANYAAN
1. Pengertian Multiple Sclerosis
Sklerosis Multipel atau Multiple Sclerosis (MS) adalah penyakit
autoimun kronik yang menyerang mielin otak dan medula spinalis.
Penyakit ini menyebabkan kerusakan mielin dan juga akson yang
mengakibatkan gangguan transmisi konduksi saraf.
2. Penyebab Multiple Sclerosis
a) Virus : infeksi retrovirus akan menyebabkan kerusakan
oligodendroglia.
b) Bakteri : reaksi silang sebagai respon perangsangan heat shock
protein sehingga menyebabkan pelepasan sitokin Defek pada
oligodendroglia.
c) Diet : berhubungan dengan komposisi membran, fungsi
makrofag, sintesa prostaglandin.
d) Genetika : penurunan kontrol respon immun.
e) Mekanisme lain : toksin, endokrin, stress.
3. Tanda dan gejala Multiple Sclerosis
a) Gejala primer : keletihan, depresi, kelemahan, kebas, kesulitan
dalam koordinasi, kehilangan keseimbangan, dan nyeri.
b) Gangguan visual : pandangan kabur, diplopia ( pandangan
ganda ), kebutaan dalam bentuk bercak ( skotoma ), dan
kebutaan total.
c) Kelemahan spastik pada ekstremitas dan kehilangan refleks
abdomen ; ataksia dan tremor.
d) Masalah kognitif dan psikososial ; depresi, labilitas emosional,
dan euforia.
e) Masalah kandung kemih, usus, seksual mungkin terjadi.
4. Pemeriksaan Multiple Sclerosis
a) MRI
b) CSF : Pemeriksaan elektroforesis pada cairan serebrospinal
c) Pemeriksaan isoelektrik oligoclonal IgG bands
d) Deteksi gangguan blood brain barrier (BBB)
e) Pemeriksaan protein
f) Pemeriksaan evoked potensial
i. Visual evoked respon sangat sensitif untuk menentukan
adanya plak pada N optikus, kiasma, traktus, respon
abnormal terdapat pada clinically definite MS (85%).
ii. Brainstem auditory: digunakan untuk menentukan lesi
di pons. Respon abnormal didapati pada 64% definite
MS dan 41% probable MS.
iii. Somatosensory: digunakan untuk mengetahui gangguan
sensoria pada pasien MS yang pada pemeriksaan klinik
normal. Respon abnormal terdapat pada 77% definite
MS, 67% probable MS.
5. Penatalaksanaan medis Multiple Sclerosis
Terapi farmakologis
a) Interferon beta-1a (Rebif) dan interferon beta-1b (Betaseron)
diberikan per sub kutan. Sediaan lain berupa interferon beta 1a,
Avonex, diberikan per intramuskular satu kali seminggu.
b) Glatiramer asetat (compaxone) untuk mengurangi laju kekambuhan
pada proses penyakit RR (kambuh-sembuh) diberikan per sub
kutan setiap hari.
c) Metilprednisolon IV untuk mengatasi kekambuhan akut pada
proses penyakit kambuh-sembuh.
d) Mitoksantron (novantrone) diberikan via infus IV setiap 3 bulan
untuk pasien MS progresif sekunder atau pasien yang mengalami
perburukan MS kambuh-sembuh.
e) Baklofen (lioresal) adalah obat pilihan untuk mengatasi
spastisitas;benzodiazepin (valium), tizanidin (zanaflek), dan
dantrolen (dantrium) dapat juga untuk mengatasi spastisitas.
f) Amantadin (symmetrel), pemolin (cylert), atau fluoksetin (prozae)
untuk mengatasi keletihan.
g) Penyekat beta andrenergik (inderal), obat anti kejang (neurontin),
dan benzodiazepin ( klonopin) untuk mengatasi ataksia.

L. EVALUASI
1. Evaluasi Struktur
− Kesepakatan dengan pihak keluarga Tn.A (waktu dan tempat).
− Kesiapan materi penyaji.
− Tempat yang digunakan nyaman dan mendukung.
2. Evaluasi Proses
− Peserta/keluarga bersedia di rumah keluarga Tn.A sesuai
dengan kesepakatan yang ditentukan.
− Peserta penyuluhan/keluarga antusias untuk bertanya dan
menjawab semua pertanyaan dari penyuluh.
3. Mahasiswa
− Dapat memfasilitasi jalannya penyuluhan.
− Dapat menjalankan peranannya sesuai dengan tugas.
4. Evaluasi Hasil
− Kegiatan penyuluhan berjalan sesuai dengan waktu yang
ditentukan.
− Peranan peserta/keluarga sesuai perencanaan.
DAFTAR PUSTAKA

Smeltzer, Susan C. 2012. Keperawatan Medikal-Bedah edisi 12. Jakarta: EGC

http://www.google.co.id/url?q=https:id.m.wikipedia.org/wiki/sklerosis_multiple.
MULTIPLE SCLEROSIS

1. LATAR BELAKANG
Sklerosis Multipel atau Multiple Sclerosis (MS) adalah penyakit
autoimun kronik yang menyerang mielin otak dan medula spinalis
Penyakit ini menyebabkan kerusakan mielin dan juga akson yang
mengakibatkan gangguan transmisi konduksi saraf.
Di Indonesia penyakit ini tergolong jarang jika dibandingkan
dengan penyakit neurologis lainnya. MS lebih sering menyerang
perempuan dibandingkan laki-laki dengan rasio 2:1. Umumnya penyakit
ini diderita oleh mereka yang berusia 20-50 tahun. MS bersifat progresif
dan dapat mengakibatkan kecacatan. Sekitar 50% penderita MS akan
membutuhkan bantuan untuk berjalan dalam 15 tahun setelah onset
penyakit.
Penyebab MS sampai saat ini tidak diketahui. Keterlibatan faktor
genetik dan non-genetik seperti infeksi virus, metabolisme dan faktor
lingkungan diduga berperan dalam mencetuskan respons imun yang
merusak susunan saraf pusat ini.

2. PENGERTIAN MULTIPLE SCLEROSIS


Sklerosis Multipel (MS) adalah penyakit kronis, degeneratif,
progresif pada sistem syaraf pusat (SPP) yang dicirikan oleh bercak kecil
demielinasi di otak dan sumsum tulang belakang (medulla spinalis).
Demielinasi (penghancuran mielin) menyebabkan gangguan transmisi
impuls syaraf. (Susan C. Smeltzer, 2012)
Sklerosis Multipel atau Multiple Sclerosis (MS) adalah penyakit
autoimun kronik yang menyerang mielin otak dan medula spinalis.
Penyakit ini menyebabkan kerusakan mielin dan juga akson yang
mengakibatkan gangguan transmisi konduksi saraf.
3. ETIOLOGI MULTIPLE SCLEROSIS
Penyebab MS tidak diketauhi , tetapi respon imun defektif
kemungkinan memainkan peran utama. Suatu auto immun yang
menyerang myelin dan myelin forming sel pada otak dan medula spinalis,
akan tetapi pada MS sebenarnya bukan suatu autoimmun murni oleh
karena tidak adanya antigen respon immun yang abnormal. Kausa MS
terdiri dari:
1. Virus : infeksi retrovirus akan menyebabkan kerusakan
oligodendroglia.
2. Bakteri : reaksi silang sebagai respon perangsangan heat shock protein
sehingga menyebabkan pelepasan sitokin Defek pada oligodendroglia.
3. Diet : berhubungan dengan komposisi membran, fungsi makrofag,
sintesa prostaglandin.
4. Genetika : penurunan kontrol respon immun.
5. Mekanisme lain : toksin, endokrin, stress.

4. MANIFESTASI KLINIS MULTIPLE SCLEROSIS


Gejala klinis yang timbul pada Multiple Sclerosis :
1. Gejala primer : keletihan, depresi, kelemahan, kebas, kesulitan dalam
koordinasi, kehilangan keseimbangan, dan nyeri.
2. Gangguan visual : pandangan kabur, diplopia ( pandangan ganda ),
kebutaan dalam bentuk bercak ( skotoma ), dan kebutaan total.
3. Kelemahan spastik pada ekstremitas dan kehilangan refleks abdomen ;
ataksia dan tremor.
4. Masalah kognitif dan psikososial ; depresi, labilitas emosional, dan
euforia.
5. Masalah kandung kemih, usus, seksual mungkin terjadi.

Manifestasi sekunder yang berhubungan dengan komplikasi :

1. Infeksi saluran kemih, konstipasi.


2. Ulkus tekan, deformitas kontraktur, edema pada kaki yang
menggantung.
3. Pneumonia.
4. Depresi reaktif dan osteoporosis.
5. Masalah emosional, sosial, pernikahan, ekonomi dan pekerjaan.
(Susan C. Smeltzer, 2012)

5. PEMERIKSAAN MULTIPLE SCLEROSIS


1. MRI
Merupakan pemeriksaan diagnostik utama, untuk
memperlihatkan plak kecil. Pada pemeriksaan MRI terjadi peningkatan
low intensitas signal T2- weighted, hal ini disebabkan oleh karena
reaksasi molekul air yang di fasilitasi dengan berbagai protein pada
selubung myelin. Pada MS terjadi kerusakan myelin sehingga molekul
air terbebas dari komperment, dengan ada air bebas maka relaksasi
time lebih lama sehingga menyebabkan peningkatan signal T2-
weighted. Sayangnya pemeriksaan MRI tidak spesifik untuk MS oleh
karena proses lain seperti edema, gliosis, inflamasi juga meningkatkan
signal T2 Weighted. Gambaran lesi biasanya berbentuk ovoid, elipsoid
oleh karena infiltrasi peri venuler yang kemudian menyebar sekitarnya,
yang dikenal sebagai Dawson finger. Untuk pemeriksaan MRI dikenal
kriteria dari Paty dimana MRI scan sangat membantu diagnosa MS.
Kriteria Paty:
a. 4 lesi ditemukan.
b. atau 3 lesi ditemukan dengan 1 bagian perivemtrikuler.

Paty kriteria memiliki sensivitas sekitar 94% dan spesivitas jauh lebih
rendah <57%.

2. CSF
Pemeriksaan elektroforesis pada cairan serebrospinal (CSF).
a. Jumlah sel :
● Pada keadaan normal jumlah sel <5/mm3, pada 50%
clinically MS dengan jumlah sel >5mm3
● Jumlah sel 5-35/mm3
● Jumlah sel > 25/ mm3 sangat jarang untuk MS (1%)
b. Pemeriksaan isoelektrik oligoclonal IgG bands
Pemeriksaan ini sangat membantu diagnosa,akan tetapi
pemeriksaan ini tidak spesifik untuk MS oleh karena kadarnya juga
meningkat pada 1/3 kasus dengan penyakit inflamasi susunan saraf
pusat, infeksi susunan saraf pusat.
c. Deteksi gangguan blood brain barrier (BBB)
Study tentang CSF dapat menerangkan gangguan BBB
berupa adanya peningkatan immunoglobulin G abnormal antara
CSF-SSP dapat menunjang diagnosa MS.
3. Pemeriksaan protein
Peningkatan albumin quosien (CSF albumin/serum albumin)
ditemukan pada 10-15 % pasien clinically definite MS. Jumlah protein
dapat normal atau meningkat (jarang>100 mg/dl).
4. Pemeriksaan evoked potensial
a. Visual evoked respon sangat sensitif untuk menentukan adanya
plak pada N optikus, kiasma, traktus, respon abnormal terdapat
pada clinically definite MS (85%).
b. Brainstem auditory: digunakan untuk menentukan lesi di pons.
Respon abnormal didapati pada 64% definite MS dan 41%
probable MS.
c. Somatosensory: digunakan untuk mengetahui gangguan sensoria
pada pasien MS yang pada pemeriksaan klinik normal. Respon
abnormal terdapat pada 77% definite MS, 67% probable MS.
6. PENATALAKSANAAN MEDIS MULTIPLE SCLEROSIS
Terapi farmakologis
a) Interferon beta-1a (Rebif) dan interferon beta-1b (Betaseron)
diberikan per sub kutan. Sediaan lain berupa interferon beta 1a,
Avonex, diberikan per intramuskular satu kali seminggu.
b) Glatiramer asetat (compaxone) untuk mengurangi laju kekambuhan
pada proses penyakit RR (kambuh-sembuh) diberikan per sub
kutan setiap hari.
c) Metilprednisolon IV untuk mengatasi kekambuhan akut pada
proses penyakit kambuh-sembuh.
d) Mitoksantron (novantrone) diberikan via infus IV setiap 3 bulan
untuk pasien MS progresif sekunder atau pasien yang mengalami
perburukan MS kambuh-sembuh.
e) Baklofen (lioresal) adalah obat pilihan untuk mengatasi
spastisitas;benzodiazepin (valium), tizanidin (zanaflek), dan
dantrolen (dantrium) dapat juga untuk mengatasi spastisitas.
f) Amantadin (symmetrel), pemolin (cylert), atau fluoksetin (prozae)
untuk mengatasi keletihan.
g) Penyekat beta andrenergik (inderal), obat anti kejang (neurontin),
dan benzodiazepin ( klonopin) untuk mengatasi ataksia.

Penatalaksanaan masalah usus dan kandung kemih terkait

Antikolinergik, penyekat alfa-andregenik, aau agens antispasmodik


dapat digunakan untuk mengatasi masalah eliminasi, dan pasien juga dapat
diajarkan untuk melakukan kateterisasi mandiri. Upaya tambahan
mencakup pengkajian infeksi saluran kemih; pemberian asam askorbat
untuk mengasamkan urine;antibiotik jika perlu.

7. PENCEGAHAN
a. Tingkatkan asupan vitamin D.
b. Tingkatkan asupan lemak esensial, baik yang hewani maupun nabati.
c. Kurangi gula, khususnya fruktosa.
d. Kurangi susu dan produk susu hasil pasteurisasi.
e. Hindari aspartam dan jus buah kalengan atau botolan yang artifisial.
f. Kontrol kadar zat besi
MULTIPLE SCLEROSIS

OLEH
GIYASTUTI DEWI APRIYANTI
010115A047

PROGRAM STUDI S1 KEPERAWATAN UNIVERSITAS NGUDI WALUYO


APA ITU MULTILPLE
SCLEROSIS ?
PENGERTIAN MULTIPLE
SCLEROSIS

Sklerosis Multipel atau


Multiple Sclerosis (MS) adalah
penyakit autoimun kronik yang
menyerang mielin otak dan
medula spinalis. Penyakit ini
menyebabkan kerusakan mielin
dan juga akson yang
mengakibatkan gangguan
transmisi konduksi saraf.
ETIOLOGI (PENYEBAB)
MULTIPLE SCLEROSIS

Penyebab tidak
Genetik
diketauhi

Virus Bakteri

Kekurangan Pengaruh
vitamin D imun
TANDA DAN GEJALA

Gejala Primer Gangguan Visual


(keletihan, depresi, (Pandangan mata kabur,
kebas) diplopia, kebutaan)

Kelemahan Spastik Masalah Kognitif & Psikososial


(Ataksia) (depresi, euforia, emosional labil)
PEMERIKSAAN

MRI (Magnetic Resonance


Imaging)

Pemeriksaan Cairan Serebrospinal


(CSF)

Pemeriksaan protein

Pemeriksaan Evoked Potensial


PENATALAKSANAAN MEDIS

Interferon beta-1a
Glatiramer asetat
(Rebif) dan interferon Metilprednisolon IV
(compaxone)
beta-1b (Betaseron)

Amantadin (symmetrel),
Mitoksantron
Baklofen (lioresal) pemolin (cylert), atau
(novantrone)
fluoksetin (prozae)

Penyekat beta andrenergik (inderal), obat anti


kejang (neurontin), dan benzodiazepin ( klonopin)
untuk mengatasi ataksia
PENCEGAHAN

Tingkatkan asupan lemak


Tingkatkan asupan Kurangi gula,
esensial, baik yang hewani
vitamin D. maupun nabati. khususnya fruktosa.

Kurangi produk susu hasil Hindari aspartam dan Kontrol kadar zat
jus buah kalengan atau besi
pasteurisasi.
botolan yang artifisial.
TERIMA
KASIH