Anda di halaman 1dari 18

KONTRAK BELAJAR PATOLOGI

Nama Peserta Didik : Erdawati


NIM : PO.71241190070
Unit Kompetensi : Asuhan Kebidanan Kehamilan Patologi
Sub Kompetensi :Asuhan Kebidanan Kehamilan Dengan penyakit hepatitis

Sumber Strategi Pencapaian Kriteria


Tujuan Umum Tujuan Khusus
Pembelajaran Pembelajaran Tujuan Penilaian
1. Saya 2. Menjelaskan 1. Fadlan,ahmad. 1. Study Dapat 1. Pengertian
mampu Pengertian 2012.asuhan Literature menjelaskan kehamilan
menjelaskan Kehamilan kebidanan pengertian patologi
pengertian, patologi patologis.jakarta: kehamilan dengan
tanda dan dengan salemba medika patologi dengan penyakit
gejala serta penyakit hal: 29-30 penyakit hepatitis
fase-fase hepatitis puncak
hepatitis dapat
Persalinan kepala dijelaskan
Kehamilan dengan benar
Dengan
penyakit
hepatitis
2. Menjelaskan 2. Fadlan,ahmad. 2. Study Dapat 2. Tanda dan
tanda dan 2012.asuhan Literature menjelaskan gejala
gejala kebidanan tanda dan kehamilan
kehamilan patologis.jakarta: gejala patologi
patologi salemba medika kehamilan dengan
dengan hal: 29-30 patologi penyakit
penyakit dengan hepatitis
hepatitis penyakit
hepatitis
3. Menjelaskan 3. Fadlan,ahmad. 3. Study 3. Dapat 3. Fase-fase
fase-fase 2012.asuhan Literature menjelaskan kehamilan
kehamilan kebidanan fase-fase patologi
patologi patologis.jakarta: kehamilan dengan
dengan salemba medika patologi penyakit
penyakit hal: 29-30 dengan penyakit
hepatitis penyakit hepatitis
hepatitis dapat
dijelaskan
dengan benar

2. Saya mampu 1. Melakukan 1. Fadlan,ahmad. 1. StudyLiter 1. Dapat 1. Pengkajian


melakukan pengkajian 2012.asuhan ature melakukan melalui
asuhan melalui kebidanan pengkajian data Anamnesa
kehamilan anamnesa patologis.jakarta: subjektif : dapat
patologi salemba medika  Biodata dilakukan
dengan hal: 29-30  Keluhan dengan benar
2. Varney secara
penyakit utama sistematis
hepatitis  Riwayat
kebidanan
 riwayat
kehamilan,
persalinan,
nifas yang
lalu
 riwayat
kehamilan
sekarang
 riwayat
kesehatan
sekarang dan
lalu
 riwayat
psikososial

2. Dapat 2. Pengkajian
2. Melakukan 2. StudyKasu melalui
melakukan
pengkajian s dan pemeriksaan
pengkajian
melalui Literature fisik dapat
data objektif :
pemeriksaan dilakukan
 TTV dengan benar
fisik
 Palpasi sesuai SOP
 Autkultasi
 Vagina
Toucher
 Pemeriksa-
an
penunjang

3. Dapat meng- 3. Diagnosa


3. Saya dapat 3. Study interpretasi kebidanan
membuat Kasus dan dapat dibuat
data untuk
diagnosa Literature sesuai dengan
menetapkan
kebidanan nomenklatur
diagnosa
kebidanan

4. Dapat meng- 4. Diagnosa


4. Saya dapat 4. Study interpretasi potensial
membuat data untuk dapat dibuat
Kasus dan
diagnosa menetapkan sesuai dengan
Literature
potensial diagnose nomenklatur
potensial bila kebidanan
terdeteksi

5. Dapat 5. Tindakan
5. Saya dapat 5. Study melakukan segera dapat
melakukan Kasus dan tindakan dilakukan
tindakan segera Literature segera bila ada sesuai SOP
indikasi

6. Rencana
6. Melakukan 6. Study 6. Dapat asuhan dapat
perencanaan / Kasus dan melakukan : dilakukan:
pelaksanaan Literature  informed  Informed
dengan : consent consent
 Informed  persiapan dapat
consent persalinan dilakukan
 Persiapan  asuhan dengan
persalinan sayang ibu tepat
 Asuhan  Persiapan
sayang ibu persalinan
dapat
dilakukan
dengan
lengkap
 Asuhan
sayang ibu
dapat
dilakukan
dengan
benar

7. Evaluasi
7. Study 7. Dapat dapat
7. Melakukan Kasus dan melakukan dilakukan
evaluasi Literature evaluasi dengan benar
sesuai
perencanaan /
pelaksanaan

Diketahui, Jambi, 2020


Pembimbing Praktik Mahasiswa
( Rosmaria M. Keb ) ( Erdawati )

Pembimbing Lahan 1 :( ) ( )
Tanggal :
Tempat :

Pembimbing Lahan 2 :( ) ( )
Tanggal :
Tempat :

Pembimbing Lahan 3 :( ) ( )
Tanggal :
Tempat :

Pembimbing Lahan 4 :( ) ( )
Tanggal :
Tempat :
A.     Virus Hepatitis A
1.      Definisi
Hepatitis A yang dahulu disebut hepatitis infeksius ditularkan secara fekal oral.Orang-orang
yang mengidap penyakit ini mengeluarkan virus dalam fesesnya dan selama periode viremia
yang berlangsung singkat, darah mereka juga menular.Masa inkunbasi adalah sekitar 2 sampai 7
minggu.
Berkat program vaksinasi, insiden hepatitis A berkurang 88% sejak tahun 1995.Pikornavirus
RNA 27 nm ini ditularkan melalui rute feses-oral, biasanya melalui ingesti makanan dan
minuman yang tercemar. Masa tunas adalah 4 minggu.  Pasien mengeluarkan virus dalam tinja
mereka dan, selama periode viremia yang relative singkat, darah mereka juga menular.Gejala
dan tanda bersifat non spesifik, dan sebagian besar kasus tidak memperlihatkan ikterus serta
biasanya ringan.Deteksi serologis dini adalah dengan mengindentifikasi antibody IgM anti HAV
yang mungkin menetap berapa bulan.Selama masa pemulihan.Antibody IgG mendominasi, dan
antibody ini menetap serta menghasilkan imunitas. (William, 2012)
      Pada sekitar 10-20 tahun yang lalu sebagian besar orang dewasa yang hidup di daerah yang
sanitasinya kurang baik telah pernah terinfeksi VHA. Penelitian 1985 di Pulau air Lombok
92,8% antibody VHA positif, di jayapura anak lebih besar dari 15 tahun 100% positif di tahun
1990, di Sumbawa besar 93,2% pada anak umur 10-14 tahun.
Sekitar 50% populasi di inggris memiliki anti bodi akibat terjangkit infeksi di masa kanak-
kanak.Sebagian besar di Negara berkembang mendapat infeksi semasa kanak-kanak terkadang
pada ibu hamil juga menderita hepatitis fulminan.

2.      Etiologi
Hepatitis A disebabkan oleh virus RNA yang menyebar melalui rute oral fecal.Penderita
hepatitis tidak ada hubunganya dengan abnormalitas congenital.
Yang menjadi masalah adalah pada golongan social ekonomi relative tinggi, dimana hygiene dan
sanitasi baik, antibody orang dewasa terhadap VHA rendah sehingga jika terjadi wabah, sangat
mudah tertular.Pada kehamilan masalah yang bisa terjadi perdarahan karena gangguan
pembekuan darah.
Virus hepatitis ini menular melalui kontak langsung dengan kotoran, urin, dan saliva serta
cairan tubuh lainya.  Masa inkubasinya sekitar 15-50 hari dengan rata-rata 20-30 hari.
Tanda dan gejala tidak terlalu spesifik, dan infeksi dapat tidak terdiagnosis, dan kebanyakan
kasus tidak mengalami ikterus.Yang mengalami ikterus pada penderita gangguan fungsi hati
yang parah.

3.      Gejala klinis
1)      lemas, cepat lelah dan kurang nafsu makan
2)      mual muntah
3)      di daerah hatinya:
 nyeri tegang
 nyeri tekan
 hati membesar
4)  Gangguan fungsi hati yang berat

4.      Diagnosis
Diagnosisnya yaitu:
1)      Memerhatikan gejala klinisnya
2)      Pemeriksaan laboratorium
 IgM positif setelah masa inkubasi 25-30 hari
 Terdapat gangguan fungsi hati yaitu SGOT – SGPT dan billirubin meningkat
3)   Kesembuhan dapat terjadi dalam waktu 6-8 minggu
4)   Pengobatan tidak banyak
a.      Meningkatkan nilai makanan atau vitamin
b.      Istirahat cukup baik
Deteksi dini hepatitis A adalah dengan menemukan antibody IgM pada table di atas.Selama
masa pemulihan, antibody IgG bersifat dominan, antibody ini menetap dan bertanggung jawab
menimbulkan imunitas terhadap infeksi hepatitis A di kemudian hari.Centers of Disease Control
and Prevention (CDC) menganjrkan pertimbangan untuk vaksinasi pada orang rentan yang
berpergian ke negara beresiko tinggi, pemakai obat terlarang, mereka yang mengidap penyakit
hati kronik atau gangguan pembekuan darah, dan para pengolah makanan.Vaksin dilaporkan
memiliki efektivitas 90%.
Di Negara-negara maju, efek hepatitis A pada kehamilan tidak dramatis. Kita telah lama
menjalankan kebijakan merawat inap semua wanita hamil dengan hepatitis sampai mereka
mampu makan  dan minum, dan fungsi hati membaik, atau minimal tidak terus memburuk.
Terapi berupa diet seimbang dan pengurangan aktivitas.Wanita dengan penyakit yang tidak
terlalu parah dapat ditangani secara rawat jalan.
Tidak terdapat bukti bahwa virus Hepatitis A bersifat teratogenik, dan risiko penularan ke
janin dapat diabaikan.Risiko persalinan premature tampaknya sedikit meningkat pada kehamilan
dengan penyulit Hepatitis A.
Wanita hamil yang baru berkontak erat atau hubungan kelamin dengan pengidap Hepatitis A
harus diberi profilaksis dengan 1 mL immunoglobin dalam 2 minggu pajanan.

5.      Pengaruh terhadap kehamilan dan janin


Pengaruh terhadap kehamilan yaitu terjadi abortus, partus prematurus, dan kematian janin dalam
kandungan. Sedangkan pengaruhnya terhadap janin yaitu;
a.       Tidak ada
b.      Antibody menuju janin sehingga mempunyai kekebalan
c.       Dapat pula diberikan Immunoglobulin pada umur 12 minggu

6.      Penatalaksanaan
a.       Kehamilan
Penatalaksanaan hepatitis A pada wanita hamil berupa diet seimbang dan pengurangan aktifitas
fisik.Wanita dengan penyakit yang kurang parah dapat ditangani sebagai pasien rawat jalan. Di
Negara maju, efek hepatitis A pada hasil akhir kehamilan tidak dramatic (American College of
Obstetricans and Gynecologis, 2006,2007). Namun, angka kematian ibu dan perinatal secara
substansial meningkat di dunia ketiga.Tidak terdapat bukti bahwa virus hepatitis A bersifat
tetragenik, dan penularan ke janin dapat diabaikan. Persalinan premature mungkin meningkat,
dan kolestasis neonates pernah dilaporkan. (William, 2012)
b.      Imunisasi dan profilaksis pascapajanan
Imunisasi pada masa anak dengan vaksin virus yang diinaktifkan oleh formalin memiliki
efektifitas lebih dari 90%. Vaksinasi HAV dianjurkan oleh American College of Obstetricans
and Gynecologist (2007) bagi orang dewasa beresiko tinggi, suatu kategori yang mencakup
populasi beresiko Karena perilaku dan pekerjaan serta pelancong ke Negara-negara beresiko
tinggi. Negara- Negara ini dicantumkan oleh Cebters og Disease control and Prevention (2008a)
di www.cdc.gov/travel /contentdisease.aspx. imunisasi pasif untuk wanita hamil yang baru-baru
ini terpajan Karena kontak pribadi yang erat atau kontak seksual dengan penderita hepatitis A
adalah dengan pemberian 0,02 mL/kg globulin imun (Centers for Disease Control and
Prevention, 2006b).baru – baru ini Voctor, dkk (2007) melaporkan bahwa vaksin HAV yang
diberian dalam dosis lazim ke orang yang terpajan sama efektifnya dengan globulin serum imun
untuk mencegah HAV. Pada kedua kelompok, HAV terjadi 3 sampai 4 persen. (William,2012)

B.     Virus hepatitis B
1.   Definisi
Hepatitis B adalah infeksi yang lebih berat.Selanjutnya individu menjadi pembawa kronis
penyakit ini, dan akhir memanifestasikan dengan sirosis.
Hepatitis B yang dahulu disebut hepatitis serum adalah kausa utama hepatitis , yaitu hepatitis
kronik, sirosis, dan karsinoma hepatoselular. Infeksi hepatitis B paling sering di jumpai  pada pra
pemakai obat terlarang intravena, homoseksual, petugas kesehatan, dan pasien yang sering
mendapat produk darah (hemofilia).
Infeksi ini di jumpai di seluruh dunia tetapi endemic di beberapa daerah, terutama di Asia dan
Afrika. Insiden di Amerika Serikat telah sekitar 80 persen sejak diperkenlakannya vakisnasi pada
tahun 1980-an (Centers of Disease Control and prevention, 2008c) meskipun demikian,
pembawa kronik virus ini, diperkirakan terdapat sekitar 1,2 juta di Amerika Serikat dan 400 juta
di seluruh dunia. World health Organization menganggap hepatitis B sebagai karsinogen
manusia nomor dua, hanya satu peringkat di bawah tembakau. Infeksi kronik terjadi pada 5
sampai 10 persen orang dewasa yang terinfeksi secara akut dan pada 70 sampai 90 persen bayi.
(Wiliam, 2012)

2. Etiologi
Cara penularannya :
a.  Suntikan paranteral
b. Akibat hubungan seksual
c. Infeksi vertical saat perinatal pada bayinya sekitar 75%

Infeksi hepatitis B paling sering di jumpai  pada pra pemakai obat terlarang intravena,
homoseksual, petugas kesehatan, dan pasien yang sering mendapat produk darah (hemofilia).
Virus di tularkan melalui darah atau produk darah yang terinfeksi, dan melalui air liur, sekresi
vagina, dan semen.Karena itu, penyakit ini merupakan penyakit menular seksual.VHB mudah
menimbulkan infeksi nosokomial pada tenaga medik dan paramedik melalui pertolongan
persalinan atau operasi, karena tertusuk jarum suntik atau luka lecet, VHB lebih besar berpotensi
menimbulkan infeksi nosokomial di rumah sakit di bandingkan HIV.
Kehamilan tidak memperberat infeksi virus hepatitis , akan tetapi jika terjadi infeksi akut
pada kehamilan dapat mengakibatkan terjadinya hepatitis fulminan yang dapat menimbulkan
mortalitas tinggi pada ibu dan janin. Pada ibu dapat menimbulkan abortus dan perdarahan pasca
persalinan karena adanya gangguan pembekuan darah akibat gangguan fungsi hati.Pada masa
neonatus umumnya tidak terjadi masalah serius, sering terjadi pada masa dewasa. Jika terjadi
penularan vertikal, VHB 60-90% akan mengidap penyakit kronik VHB dan 30% kemungkinan
akan menderita kanker hati atau sirosis hati sekitar 40 tahun kemudian .
Beberapa faktor predisposisi terjadinya penularan vertikal antara lain titer DNA-VHB tinggi
pada ibu (makin tinggi titer makintinggi kemungkinan janin tertular), terjadinya infeksi akut
pada kehamilan trimester ketiga, persalinan lama dan mutasi VHB.Kegagalan vaksinasi yang
menyebabkan bayi tertular 10-20% di sebabkan oleh mutasi VHB.
Pada infeksi virus hepatitis B, penanda virologi pertama adalah antigen permukaan hepatitis
B atau HBSAg.Antigen e terdapat selama awal hepatitis akut.Antigen ini berkaitan daya tular dan
adanya partikel virus yang utuh, dan persistensinya menunjukkan infeksi kronik.Sekitar 90%
pasien dengan hepatitis B pulih sempurna.Dari 10% yang mengalami infeksi kronik, sekitar
seperempat mengalami penyakit hati kronik.
            Menurut American College of Obstettricans and Gynecologist (2006), penularan ibu
kejanin adalah cara utama transmisi di seluruh dunia. Kelompok lain yang beresiko tinggi untuk
infeksi hepatitis B adalah:
a.       Pemakai obat terlarang intra vena
b.      Pasangan dari orang yang terinfeksi akut
c.       Orang dengan banyak mitra seksual-khususnya pria homoseks
d.      Hubungan seksual
e.       Melalui air liur
f.       Sekresi vagina
g.      Semen
Ye dkk., (2006) menyajikan bukti bahwa virus menginfeksi ovum dan mungkin ditularkan ke
janin melalui rute ini. Karena cara penularan yang serupa, maka ko-infeksi dengan virus
imunodefisensi manusia tipe l (HIV-1) sering terjadi dan telah meningkatkan morbiditas terkait
penyakit hati (Thio dkk., 2002). (William, 2012)

3. Gejala klinis
Paling tidak separuh dari infeksi HBV awal tidak menimbulkan gejala.Berbagai penanda serum
immunologis dapat disentifikasi pada mereka yang mengidap hepatitis B akut atau kronik, dan
pada mereka yang pernah terinfeksi tetapi sekarang imun, serta pada pembawa kronik.(William,
2012).
Infeksi hepatitis B kadang tidak disadari karena hanya menimbulkan demam ringan.Hanya 30%
penderita yang mengalami gejala.
Tanda dan gejala yang mungkin muncul pada penderita hepatitis B adalah sebagai berikut:
 Kuning, mual, muntah, dan nyeri perut kanan atas
 Diagnosis ditegakkan dengan mengandalkan pemeriksaan darah spesifik (HbsAg, anti HBs)
dan fungsi hati yaitu enzim SGOT dan SGPT

4. Pengaruh terhadap kehamilan dan janin


a.Pengaruh pada kehamilan
Dapat menyebabkan BBLR dan premature.Penularan ke bayi jika ibu terinfeksi pada trimester III
adalah sebesar 60-90% sedangkan pada trimester I hanya 10%.
Saat nifas dan menyusui, ibu dengan hepatitis B tetap boleh menyusui bayinya setelah bayinya
sudah mendapatkan imunisasi HBIG dan vaksin hepatitis B selama 12 pertama kelahiran.Belum
pernah dilaporkan ada penularan infeksi hepatitis B melalui ASI. Dalam ASI justru terdapat zat
protektif yang dapat membunuh virus hepatitis B. awasi putting susu jangan sampai terluka atau
lecet. Setiap selesai menyusui bersihkan dengan air hangat, tanpa sabun, Karena sabun membuat
mudah luka.

b.Pengaruh terhadap janin


1)      Tidak menimbulkan kelainan congenital
2)      15% akan menimbulkan komplikasi usia muda dalam bentuk
a)      Hepatoma
b)      Sirosis hepatis
Di Negara – Negara maju, perjalanan klinis HBV akut serupa dengan HAV dan tidak
berubah oleh kehamilan. Tetapi bersifat suportif, dan kemungkinan persalinan premature
meningkat.Sebagian besar infeksi HBV yang teridentifikasi selama kehamilan bersifat kronik
asimptomatik dan terdiagnosis oleh penapisan serologis prenatal rutin sesuai anjuran American
College of obstetrican and gynecologist (2007).Meskipun para wanita hamil ini mengidap
hepatitis kronik, sebagian besar asimptomatik, dan terapi antivirus biasanya tidak diberikan
sampai setelah persalinan.prevelensi seropositive prenatal pada populasi perkotan adalah sekita 1
persen. Angka ini sedikit lebih rendah untuk populasi militer dan pasien swasta.
Infeksi virus transplasenta jarang terjadi dan Towers dkk., (2001) melaporkan bahwa
DNA virus jarang di temukan di cairan amnion atau darah tali pusat, karena itu sebagian besar
infeksi neonates ditularkan secara vertical melalui pajanan peripartum. Namun, belum ada bukti
bahwa pelahiran cesar menurunkan resiko (American College of obstetrican and gynecologist
(2007). Meskipun virus terdapat di air susu, insiden penularan tidak berkurang dengan pemberian
susu formula. Ibu dengan antigen permukaan dan antigen e hepatitis B lebih besar kemungkinan
menularkan infeksi ke bayinya, sementara mereka yang positif untuk antibody anti – Hbe
biasanya tidak menular.Bayi yang terinfeksi oleh hepatitis B umumnya asimptomatik, tetapi 85
persen kemudian mengalami infeksi kronik. (William, 2012)
Pencegahan
1)      Kewaspadaan universal (universal precaution)
Hindari hubungan seksual dan pemakaian alat atau bahan dari pengidap. Vaksinasi HB bagi
seluruh tenaga kesehatan  sangat penting, terutama yang sering terdapat dengan darah.
2)      Skrining HBsAg pada ibu hamil
Skrining HBsAg pada ibu hamil terutama pada daerah di mana terdapat prevalensi tinggi.
3)      Imunisasi
Penularan dari ibu ke bayi sebagian besar dapat dicegah dengan imunisasi. Pemerintah telah
menaruh perhatian besar terhadap vertical VHB dengan membuat program pemberian vaksinasi
HB bagi semua bayi yang lahir di fasilitas pemerintah dengan dosis 5 mikrogram pada hari ke 0,
umur 1, dan 6 bulan, tanpa mengetahui bayi tersebut lahir dari ibu dengan HbsAg positif atau
tidak . Disamping global imunisasi seperti disampaikan sebelumnya, selektif imunisasi dilakukan
pada bayi yang lahir dari ibu dengan HbsAg positif, yaitu dengan pemberian hepatitis B
immunoglobulin (HBIG)+ vaksin HB, vaksin mengandung pre S2, atau pemakaian vaksin
dengan dosis dewasa pada hari ke 0, 1 bulan, dan 2 bulan.

5. Penatalaksanaan
Persalinan pengidap VHB tanpa infeksi akut tidak  berbeda dengan penanganan persalinan
umumnya.
a)    Pada infeksi akut VHB dan adanya hepatitis fulminan persalinan pervaginam usahakan dengan
trauma sekecil mungkin dan rawat bersama dengan spesialis penyakit Dalam (Spesialis
Hepatologi). Gejala hepatitis fulminan antara lain sangat ikterik, nyeri perut kanan atas ,
kesadaran menurun dan hasil periksaan urin warna seperti the pekat, urobilin dan bilirubin
positif, pada pemeriksaan darah selain urobilin dan bilirubin positif SGOT dan SGPT sangat
tinggi biasanya di atas 1.000
b)   Pada ibu hamil dangan Viral Load tinggi dapat dipertimbangkan pemberian HBIG atau
Lamivudin ada 1-2 bulan sebelum persalinan. Mengenai hal ini masih ada beberapa pendapat
yang menyatakan lamivudin tidak ada pengaruh pada bayi, tetapi ada yang masih
mengkhawatirkan pengaruh teratogenik obat tersebut.
c)    Persalinan sebaiknya jangan dibiarkan berlangsung lama, khususnya pada ibu dengan HBsAg
positif. Wong menyatakan persalianan berlangsung lebih dari 9 jam, sedangkan Surya
menyatakan persalinan berlangsung lebih dari 16 jam sudah meningkatkan kemungkinan
penularan VHB intrauterine. Persalinan pada ibu hamil dengan titer VHB tinggi( 3,5pg/ml) atau
HBsAg positif, lebih baik seksio sesaria. Demikian juga jika persalinan yang lebih dari 16 jam
pada pasien pengidap HBsAg positif.
d)  Menyusui bayi, tidak merupakan masalah. Pada penelitian telah di buktikan bahwa bahwa
penularan melalui saluran-cerna membutuh kan titer virus yang jauh lebih tinggi dari pada
penularan parenteral.
Bersama dengan keberhasilan program vaksinasi yang mulai sejak tahun 1982, infeksi perinatal
telah menurun drastic. Sebagai contoh, dari tahun 1990 sampai 2005, insiden HBV di Amerika
Serikat pada anak berusia kurang dari 15 tahun telah turun sebesar 98 persen (Centers of Disease
Control and Prevention 2006a). imunisasi pasif tiga dosis dengan globulin imun hepatitis tidak
dapat mengurangi angka ini lebih lanjut (Yuan dkk 2006). Infeksi neonates biasanya dapat
dicegah dengan penapisan prenatal, dengan imunisasi aktif dan pasif untuk neonates dari ibu
seropositif, dan dengan vaksinasi aktif selama kehamilan pada wanita serogenatif. Hasil – hasil
dari sebuah enelitian di Cina menunjukkan bahwa lamivudin yang ditambahkan ke
imunoprofilaksis neonates akan menurunkan angka infeksi lebih jauh. Xu dkk (2009)
menurunkan angka infeksi perinatal dari 40 menjadi 20 persen pada wanita yang sangat viremik
dengan memberikan lamivudin dari usia gestasi 32 minggu sampai 4 minggu pascapartum.
(William, 2012)
Bayi yang lahir dari ibu seropositif diberi globulin imun hepatitis B-HBIG segera setelah
lahir. Hal ini disertai dengan dosis pertama dengan tiga dosis vaksin rekombinasi hepatitis B.
Hill dkk (2002) menerapkan strategi ini terhadap 369 bayi dan melaprkan bahwa angka
penularan 2,4 persen tidak meningkat dengan pemberian ASI , jika vaksinasinya telah lengkap.
Untuk itu beresiko tinggi ibu yang seronegatif vaksin dapat diberikan selama kehamilan.Ingardia
dkk, (2004) melaporkan bahwa wanita yang diimunisasi selama satu kehamilan memperlihatkan
angka seropositif 85 persen pada kehamulan berikutnya. Setelah dosis pertama, vaksinasi diulang
pada 1 dan 6 bulan, pada 1 dan 4 bulan, atau pada 2 dan 4 bullan. Shaffield dkk (2006)
melaporkan bahwa regimen 3 dosis yang diberikan prenatal pada awalnya dan pada, 1 dan 4
bulan menghasilkan angka serokonversi masing-masing 56, 77 dan 90 persen. Hal ini
dibandingkan dengan angka 96 persen yang dilaporkan oleh jurnal dkk (2001) untuk wanita
pascapartu yang diberikan 3 dosis lengkap. (William, 2012)

C. VIRUS HEPATITIS C
            1. Definisi
Ini adalah virus RNA until-tunggal dari family Flaviviridae.Penularannya serupa dengan
penularan hepatitis B, kecuali bahwa penularan virus ini melalui hubungan seksual kurang
efisien. Sepertiga dari orang yang positif HCV tidak memiliki factor resiko (Dienstag, 2008a),
infeksi HCV akut biasanya asimptomatik atau bergejala ringan, dan infeksi kronik ditemukan
melalui berbagai penapisan. Penapisan prenatal telah direkomendasikan bagi wanita dalam
kategori resiko tinggi oleh American College of Obstetricans and Gynecologist (2007). (William,
2012)
2. Etiologi
Hepatitis C adalah virus RNA lainnya yang menyebabkan hepatitis kronis. Infeksi akut
sering terjadi tanpa gejala, namun lebih dari 50% individu yang terinfeksi mengalami hepatitis
aktif, yang akan berkembang menjadi sirosis dan mungkin karsinoma hepatoselular. Di Inggris
Raya infeksi sangat sering terjadi pada mereka yang memiliki pengalaman pemberian obat
intravena.Hepatitis C dapat ditularkan melalui hubungan seksual, namun transmisinya tidak
begitu efisien dengan hanya 1-2% pasangan jangka panjang yang terinfeksi.

Masa inkunbasinya 5-10 minggu. Penularannya pada:


a)      Kecanduan obat
b)      Transfuse darah
c)      Secara paranteral
d)     Dapat terjadi bersama virus AIDS
Bentuk Asimptomatisnya adalah:
a)      Hanya harus dijumpai inti virus hepatitis C
b)      65-75%
c)      Ikterus 25%
d)     Tampak sakit hanya 10%

3. Gejala klinis
Jika terjadi infeksi akut atau awal, maka antinbodi anti HCV belum terdeteksi sampai 15 minggu
dan pada sebagian kasus hingga selama setahun.Antibody biasanya tidak mencegah penularan
jiak terdapat RNA virus seperti yang terjadi pada 75 sampai 85 persen orang positif anti HCV
(Mast dkk 2005).Setelah infeksi awal hampir 75 persen pasien mengalami viremia kronik, dan
separuh dari jumlah ini memperlihatkan ganguan uji fungsi hati selama lebih dari setahun (lauer
dan Walker, 2001). Pada dua pertiga dari pasien dengan peningkatan kadar transminase, biopsy
hati memperlihatkan hepatitis aktif kronik. Sekitar sepertiga dari jumlah ini berkembang menjadi
sirosis dalam 20 sampai 30 tahun.Meskipun demikian, angka kematian jangka panjang tidak
banyak meningkat (Dienstag, 2008b).hepatitis C kronik tidak memperburuk prognosis pasien
yang juga terinfeksi HIV (Sulkwoksi dkk 2002) (William, 2012)
3. Pengaruh terhadap kehamilan dan janin
a)      Kehamilan
Insiden keseropositifan anti HCV pada kehamilan berariasi sesuai populasi yang diteliti.
American College of obstetricians and Gynecologist (2006) mengutip seropravelansi 0,14
sampai 2,4 persen. Seropravelansi lebih tinggi pada wanita yang positif HIV, serta Santiago-
Munoz dkk (2005) mendapatlan bahwa 6,3 persen wanita hamil yag terinfeksi HIV di Parkland
Hospital juga terinfeksi oleh hepatitis B atau C.
Hampir 80 persen wanita seropositif akan mengalami hepatitis kronik. Meskipun demikian,
infeksi hepatitis C akut atau kronik tidak menimbulkan efek yang nyata pada kehamilan. Sebagai
contoh, kadar transminase serum tidak berbeda dari individu tak hamil yang terinfeksi. Terdapat
laporan yang bertentangan mengenai perubahan jumlah virus dalam kehamilan. (William,2012)
b)      Penularan perinatal
Gangguan utama terhadap hasil akhir perinatal adalah penularan vertical infeksi HCV ke janin-
bayi.Penularan vertical lebih tinggi pada ibu dengan viremia. Dari ulasan mereka, Airoldi dan
Berghella (2006)mengutip angka 1 smapi 3 persen pada wanita positif HCV negative RNA
dibandingkan dengan 4 sampai 6 persen pada mereka yang positif RNA. Dalam laporan yang
lebih baru dan Dublin, McMenamin dkk, (2008) menjelaskan angka penularan pada 545 wanita
positif C. beberapa peniliti lain mendapatkan resiko yang lebih besar jika ibu juga terinfeksi oleh
HIV (Ferarro, dkk) Pergam, dkk melaporkan baru-baru ini adanya keterkaitan wanita yang
terinfeksi HCV dengan bayi berat lahir rendah yang beresiko tinggi untuk ventilasi.
(William,2012)

4. Penatalaksanaan
Pada saat ini belum ada metode untuk mencegah penularan perinatal, termasuk pelahiran cesar
(American College of Obstetricans and Gynecologist,2006). Karena itu, Centers of Disease
Control and Prevention, 2006 tidak menganjurkan penapisan prenatal rutin.Bayi yang dilahirkan
dari ibu positif HCV perlu diperiksa dan diikuti secara klinis. (William, 2012)
Hasil akhir peinatal tidak terganggu pada wanita positif anti HCV dibandingkan dengan
kelompok kontro yang serogenatif.Akan tetapi, yang terpenting, infeksi hepatitis C ditularkan
secara vertical ke janin-bayi, dengan angka bervariasi dari 3 sampai 6 persen.Seperti ada
penularan antara orang dewasa (horizontal), antibody tidak bersifat protektif.Saat ini belum ada
metode untuk mencegah penularan saat persalinan.oleh karena itu, CDC tidak memganjurkan
skrining pada wanita hamil, namun, neonates dari ibu yang diketahui positif anti HCV positif
harus diberikan penyuluhan kesehatan dan diidentifiasi untuk tindak lanjut jangka panjang.
Pengobatannya konservatif:
a)      Istirahat
b)      Obat suportif

D.Virus Hepatitis D
  1. Definisi
Virus ini juga disebut hepatitis delta harus menimbulkan infeksi bersama (ko-infeksi) dengan
hepatitis B dan tidak menetap di serum lebih lama daripada virus hepatitis B.
VHD memerlukan HBsAg untuk replikasi.Jadi baru bisa menyebabkan infeksi jika terdapat
infeksi VHB. Ada 2 tipe infeksi VHD berikut ini:
a)    Super infeksi, di mana pada alwalnya terdapat infeksi VHB, kemudian baru terinfeksi oleh
VHD
b)    Ko-infeksi; VHB dan VHD menginfeksi bersama-sama
Prevalensi tinggi virus ini terdapat di Negara-negara Timur Tengah (seperti di Saudi Arabia, dan
mesir), Kenya Amerika Selatan seperti Venezuela. (Sarwono, 2010)
Hepatitis D yang dinamai juga hepatitis delta, adalah suatu virus RNA cacar yang merupakan
partikel hybrid dengan selubung HBsAg dan inti delta. Virus harus menginfeksi
bersama  hepatitis B (ko-infeksi)baik secara bersamaan maupun secara sekunder.virus ini tidak
dapat menetap lebih lama dalam serum dari pada virus hepatitis B. penularan sama dengan
penularan hepatitis B. ko infeksi kronik hepatitis B dan D berlangsung lebih parah dan lebih
cepat dari pada HBV saja, dan hampir 75 persen pasien terkena mengalami sirosis. Penularan
neonates yang jarang terjadi karena vaksinasi HBV neonates biasanya mencegah hepatitis delta.
(William, 2012)

2. Etiologi
Virus ini ditularkan secara seksual atau melalui jarum suntik.Penularan vertical sangat jarang.
Pasien yang terinfeksi ko-infeksi akan berakhir dengan kesembuhan, tetapi yang terinfeksi
dengan super infeksi akan berakhir seperti halnya pada infeksi VHB, di mana 90% akan menjadi
pengidap kronik dan jika terjadi hepatitis fulminan akan menyebabkan kematian sebsar 5-20%.

3. Gejala klinis
a)      75% pasien terkena sirosis

4. Penatalaksanaan
Pengobatannya konservatif:
a)      Istirahat
b)      Obat suportif
Penularan neonates pernah dilaporkan, tetapi vaksinasi hepatitis B biasanya mencegah
hepatitis delta. (Kesembuhan baik, jika mendapatkan vaksinasi hepatitis B berarti bayi juga
mempunyai antibody untuk hepatitis D. (Manuaba, 2007)