Anda di halaman 1dari 11

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Aeromodeling adalah pesawat udara yang lebih berat dari udara dengan ukuran
ukuran terbatas, bermotor maupun tidak bermotor dan tidak dapat membawa manusia. Dunia
aeromodeling memang menarik, kegiatan ini dapat dinikmati sebagai hobi yang
merupakan komposisi dari berbagai disiplin ilmu utamanya dalam pembelajaran IPA. Kita
dapat menemui penggabungan masalah Aerodinamika, pekerjaan kayu, material
komposit, elektronik, mekanik, motor-motor kecil, menggambar, seni, olahraga dan
rekreasi di luar ruangan. Pada pembelajaran IPA utamanya kurikulum 2013 disamping guru
menyampaikan Teori juga disampaikan kegiatan praktik. Aplikasi dari pembelajaran IPA
siswa diajak melakukan kegiatan Aeromodeling untuk membuat pesawat dari bahan
Styrofoam. Bahan Styrofoam dipilih karena mudah didapat dan sifatnya ringan sehingga
sangat cocok untuk dibuat pesawat Tiruan.

Pada umumnya kegiatan Aeromodeling meliputi 2 kegiatan besar yaitu :

1. Membuat,merakit atau memperbaiki pesawat model. Tantangan dalam kegiatan ini


yaitu bagaimana membuat dan merakit pesawat model tertentu sehingga layak dan
siap terbang.
2. Menerbangkan pesawat Model. Tantangannya bagaimana menerbangkan pesawat
model tertentu dengan baik dan benar.

1
Pada makalah ini penulis tertarik untuk membuat pesawat Aeromodeling dari
bahan Styrofoam untuk mendalami bagaimana cara pembuatan pesawat yang baik dan
benar sehingga layak untuk diterbangkan.

B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang penulisan makalah tersebut maka rumusan masalah pada
makalah ini adalah :
1. Bagaimana cara pembuatan pesawat Aeromodeling dengan bahan Styrofoam
2. Mengapa pesawat Aeromodeling bisa terbang dengan baik dan stabil

2
BAB II
KAJIAN PUSTAKA

A. Styrofoam
Styrofoam atau expanded polystrine sering disebut juga dengan gabus adalah
bahan yang didominasi oleh udara didalamnya, sehingga sangat ringan dan mudah
dibentuk. Tidak seperti polyfoam, styrofoam tersedia dalam ketebalan dalam orde
sentimeter sehingga dalam desainya sering digunakan tumpukan styrofoam yang
diamplas hingga terbentuk kurva yang diinginkan. Dengan proses pengamplasan
tersebut, bahan ini dapat menghasilkan hasil akhir dengan lekukan yang sangat baik
dan kontinyu kemudian mudah diberi warna dengan ditempeli kertas minyak yang
tipis maupun dicat dengan campuran cat kayu.

Material styrofoam cukup diminati karena kemudahanya dalam menemukan material


tersebut di toko alat tulis biasa ataupun toko khusus yang menjual styrofoam dengan
spesifikasi tertentu. Namun karena sifat bahan ini tidak sekaku dan sekeras polyfoam,
sehingga kerusakan saat terjadi crash dapat sangat fatal dan bisa hancur menjadi
bagian-bagian kecil. serta permukaanya mudah rusak saat dibawa mobilitas ataupun
dilapangan, hanya dapat dilem dengan lem tertentu karena mudah leleh, serta bahan
ini umumnya hanya dibuat sebagai fuselage karena dengan desain yang salah, jika
digunakan pada sayap sangat beresiko patah saat terbang.

3
B. Cara Membuat Pesawat Aeromodeling dari Styrofoam
Untuk membuat pesawat Aeromodeling dapat dilakukan langkah-langkah sebagai
berikut :
1. Membuat templet (Desain gambar)

Pesawat memiliki 3 bagian: tubuh, sayap dan spoiler. Bentuk pesawat dapat
bervariasi sesuai selera, namun Anda juga dapat mencetak desain ini dan
menyesuaikan tindakan mereka untuk mereka di sini dinyatakan.       * Tubuh pesawat
memiliki panjang 50 cm.       * Sayap memiliki panjang 60 cm dan lebar 12 cm. Pojok
atas mereka bulat, ini bisa dilakukan freehand atau bantuan kompas.       * Spoiler
adalah sepotong yang lebih rendah adalah 20 cm tepi, memiliki lebar 8 cm dan 3 cm
setiap sisi, diagonal dari mana mereka bergabung dengan tepi atas berukuran 10 cm.
* Potong template dengan gunting.
2. Membuat pola atau garis tiruan model

3. Potong pola yang sudah digaris

4
4. Pembuatan Sayap
Pertama kita mengambil kayu kemudian dengan cuter dibuat rib rib sayap.
Untuk tepi yang rib nya mengecil linier kita membentuk dengan cara membentuk
keseluruhan rib secara bersamaan.Untuk itu rib sayap tepi tadi kita apit dengan rip
sayap tengah di suatu sisinya dan rip tepian sayap sisi lainnya.

5. Pembuatan badan pesawat dengan kayu yang dirangkai dengan tail boom (ekor
pesawat)
6. Merakit Komponen

Pola bagian sayap yang sudah dipotong disatukan dengan badan yang
sudah terangkai oleh ekor pesawat. Kemudian diberi baling-baling pada bagian depan
pesawat sebagai tenaga penggerak pesawat ketika terbang. Baling-baling
dihubungkan dengan karet pada bagian bawah badan untuk menggerakkan pesawat
setelah karet diputar. Setelah badan, sayap, ekor dan penggerak baling-baling
terangkai maka pesawat dapat diterbangkan.

5
C. Alat dan Bahan
Untuk membuat pesawat Aeromodeling Type Glider A2 dari
Styrofoam diperlukan alat dan bahan sebagai berikut :
1. Pisau cutter
2. Amplas kasar dan halus
3. Jarum pentul dan penjepit kertas
4. Alat-alat tulis
5. Peralatan proses finishing
6. Kayu ringan
7. Triplek
8. Baja 3mm dan 1 mm
9. Mur dan baut kecil
10. Karet
11. Lem epoxy
12. Baling-baling
D. Mengapa Pesawat Bisa Terbang
Pesawat terbang dapat terangkat ke udara yang melalui sayap pesawat,
tidak seperti roket yang terangkat ke atas karena aksi-reaksi antara gas yang
disemburkan roket dengan roket itu sendiri. Roket yang menyemburkan gas ke
belakang dan sebagai reaksi gas mendorong roket maju. Jadi, roket tetap dapat
terangkat ke atas walaupun tidak ada udara, tetapi pesawat tidak dapat terangkat
jika tidak ada udara.
Penampang sayap pesawat terbang mempunyai bagian belakang yang
lebih tajam dan sisi bagian atas yang lebih melengkung daripada sisi bagian
bawahnya. Bentuk sayap seperti ini dinamakan aerofoil. Bentuk ini menyebabkan
garis arus seperti arus. Garis arus pada sisi bagian atas lebih rapat darpada sisi
bagian bawahnya, yang berarti kelajuan udara pada sisi bagian atas pesawat (V2)
lebih besar daripada sisi bagian bawah pesawat (V1). Sesuai dengan asas
Bernoulli “ Tekanan pada sisi bagian atas (P2) lebih kecil daripada sisi bagian
bawah (P1) karena kelajuan udaranya lebih besar. Beda tekanan P1-P2
menghasilkan gaya angkat sebesar F1-F2 = (P1-P2) A. Dengan A adalah luas
penampang total sayap.
Pesawat terbang dapat terangkat ke atas jika gaya angkat lebih besar
daripada berat pesawat. Beberapa faktor yang mempengaruhi pesawat dapat

6
terbang atau tidak adalah berat pesawat, kelajuan pesawat dan ukuran sayapnya.
Makin besar kecepatan pesawat maka makin besar kecepatan udaranya dan ini
berarti V2^2-V1^2 bertambah besar sehingga gaya angkat F1-F2 makin besar.
Makin besar ukuran sayap (A) makin besar gaya angkatnya. Supaya pesawat dapat
terangkat keatas gaya angkat harus lebih besar daripada berat pesawat (F1-F2) >
m.g. Jika pesawat telah berada pada ketinggian tertentu dan pilot ingin
mempertahankan ketinggiannya (melayang diudara) maka kelajuan pesawat harus
diatur sedemikian rupa sehingga gaya angkat sama dengan berat pesawat (F1 –
F2 = m.g).
Pada dasarnya ada 4 buah gaya yang bekerja pada sebuah pesawat
terbang yang sedang mengangkasa : 1. Berat pesawat yang disebabkan oleh gaya
gravitasi bumi. 2. Gaya angkat yang disebabkan oleh bentuk pesawat 3. Gaya
kedepan yang disebabkan oleh gesekan udara. 4. Gaya hambatan yang disebabkan
oleh gesekan udara.
Jika pesawat hendak bergerak mendatar dengan suatu percepatan maka
gaya hambatan dan gaya angkat harus sama dengan berat pesawat. Jika pesawat
hendak menambah ketinggian yang tetap, maka resultan gaya mendatar dan gaya
vertikal harus sama dengan nol.

7
BAB III
PEMBAHASAN

Untuk membuat pesawat Aeromodeling dapat dilakukan langkah-langkah


sebagai berikut :Membuat templet (Desain gambar), Membuat pola atau garis tiruan
model, Potong pola yang sudah digaris, Pembuatan Sayap, Pembuatan badan pesawat
dengan kayu yang dirangkai dengan tail boom (ekor pesawat) dan Merakit
Komponen.
Untuk membuat pesawat Aeromodeling Type Glider A2 dari Styrofoam
diperlukan alat dan bahan sebagai berikut :Pisau cutter,Amplas kasar dan halus,Jarum
pentul dan penjepit kertas,Alat-alat tulis,Peralatan proses finishing,Kayu
ringan,Triplek,Baja 3mm dan 1 mm,Mur dan baut kecil,Karet,Lem epoxy,Baling-
baling.
Pesawat terbang dapat terangkat ke udara yang melalui sayap pesawat, tidak
seperti roket yang terangkat ke atas karena aksi-reaksi antara gas yang disemburkan
roket dengan roket itu sendiri. Roket yang menyemburkan gas ke belakang dan
sebagai reaksi gas mendorong roket maju. Jadi, roket tetap dapat terangkat ke atas
walaupun tidak ada udara, tetapi pesawat tidak dapat terangkat jika tidak ada udara.
Penampang sayap pesawat terbang mempunyai bagian belakang yang lebih
tajam dan sisi bagian atas yang lebih melengkung daripada sisi bagian bawahnya.
Bentuk sayap seperti ini dinamakan aerofoil. Bentuk ini menyebabkan garis arus
seperti arus. Garis arus pada sisi bagian atas lebih rapat darpada sisi bagian bawahnya,
yang berarti kelajuan udara pada sisi bagian atas pesawat (V2) lebih besar daripada
sisi bagian bawah pesawat (V1). Sesuai dengan asas Bernoulli “ Tekanan pada sisi
bagian atas (P2) lebih kecil daripada sisi bagian bawah (P1) karena kelajuan udaranya
lebih besar. Beda tekanan P1-P2 menghasilkan gaya angkat sebesar F1-F2 = (P1-P2)
A. Dengan A adalah luas penampang total sayap.
Pesawat terbang dapat terangkat ke atas jika gaya angkat lebih besar daripada
berat pesawat. Beberapa faktor yang mempengaruhi pesawat dapat terbang atau tidak
adalah berat pesawat, kelajuan pesawat dan ukuran sayapnya. Makin besar kecepatan
pesawat maka makin besar kecepatan udaranya dan ini berarti V2^2-V1^2 bertambah
besar sehingga gaya angkat F1-F2 makin besar. Makin besar ukuran sayap (A) makin
besar gaya angkatnya. Supaya pesawat dapat terangkat keatas gaya angkat harus lebih
besar daripada berat pesawat (F1-F2) > m.g. Jika pesawat telah berada pada

8
ketinggian tertentu dan pilot ingin mempertahankan ketinggiannya (melayang
diudara) maka kelajuan pesawat harus diatur sedemikian rupa sehingga gaya angkat
sama dengan berat pesawat (F1 – F2 = m.g).
Pada dasarnya ada 4 buah gaya yang bekerja pada sebuah pesawat terbang
yang sedang mengangkasa : 1. Berat pesawat yang disebabkan oleh gaya gravitasi
bumi. 2. Gaya angkat yang disebabkan oleh bentuk pesawat 3. Gaya kedepan yang
disebabkan oleh gesekan udara. 4. Gaya hambatan yang disebabkan oleh gesekan
udara.
Jika pesawat hendak bergerak mendatar dengan suatu percepatan maka gaya
hambatan dan gaya angkat harus sama dengan berat pesawat. Jika pesawat hendak
menambah ketinggian yang tetap, maka resultan gaya mendatar dan gaya vertikal
harus sama dengan nol.
Demikian paparan makalah tentang Aeromodeling pesawat dari bahan
Styrofoam semoga bermanfaat sebagai panduan untuk membuat pesawat
Aeromodeling yang merupakan Aplikasi dari pembelajaran Fisika didalam kelas,
khususnya pada materi Keseimbangan, kecepatan dan Hukum Bernoulli.

9
BAB IV

KESIMPULAN

Berdasarkan pembahasan tersebut maka dapat disimpulkan bahwa :

1. Untuk membuat pesawat Aeromodeling dapat dilakukan langkah-langkah sebagai


berikut :Membuat templet (Desain gambar), Membuat pola atau garis tiruan model,
Potong pola yang sudah digaris, Pembuatan Sayap, Pembuatan badan pesawat
dengan kayu yang dirangkai dengan tail boom (ekor pesawat) dan Merakit
Komponen.
2. Pesawat terbang dapat terangkat ke atas jika gaya angkat lebih besar daripada berat
pesawat. Beberapa faktor yang mempengaruhi pesawat dapat terbang atau tidak
adalah berat pesawat, kelajuan pesawat dan ukuran sayapnya.

10
Daftar Pustaka
Sugiarto, Gatot. 2015. Modul Aeromodeling SMA Angkasa Adisutjipto : Yogyakarta
Wikipedia.2014. Aeromodeling.(Online).http://id.wikipedia.org//pesawat
aeromodeling(Diakses pada tanggal 27 April 2018)

11